Anda di halaman 1dari 24

LAPORAN PENDAHULUAN

ASUHAN KEPERAWATAN PADA KEGAWATDARURATAN SISTEM


PENCERNAAN : HEMATEMESIS MELENA

Disusun Oleh :

Lia Anis Syafa’ah

G3A020069

PROGRAM STUDI PROFESI NERS

FAKULTAS ILMU KEPERAWATAN DAN KESEHATAN

UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH SEMARANG

TAHUN 2020
A. Konsep Dasar
1. Anatomi Prostat
Menurut Wibowo dan Paryana (2009). Kelenjar prostat terletak
dibawah kandung kemih, mengelilingi uretra posterior dan disebelah
proksimalnya berhubungan dengan buli-buli, sedangkan bagian distalnya
kelenjar prostat ini menempel pada diafragma urogenital yang sering
disebut sebagai otot dasar panggul. Letak prostat dijelaskan gambar
dibawah.

Prostat terdiri atas kelenjar majemuk, saluran-saluran, dan otot


polos Prostat dibentuk oleh jaringan kelenjar dan jaringan fibromuskular.
Prostat dibungkus oleh capsula fibrosa dan bagian lebih luar oleh fascia
prostatica yang tebal. Diantara fascia prostatica dan capsula fibrosa
terdapat bagian yang berisi anyaman vena yang disebut plexus
prostaticus. Fascia prostatica berasal dari fascia pelvic yang melanjutkan
diri ke fascia superior diaphragmatic urogenital, dan melekat pada os
pubis dengan diperkuat oleh ligamentum puboprostaticum. Bagian
posterior fascia prostatica membentuk lapisan lebar dan tebal yang
disebut fascia Denonvilliers. Fascia ini sudah dilepas dari fascia rectalis
dibelakangnya. Hal ini penting bagi tindakan operasi prostat ( Purnomo,
2011).
Kelenjar prostat merupakan suatu kelenjar yang terdiri dari 30- 50
kelenjar yang terbagi atas empat lobus, lobus posterior, lobus lateral,
lobus anterior, dan lobus medial. Lobus posterior yang terletak di
belakang uretra dan dibawah duktus ejakulatorius, lobus lateral yang
terletak dikanan uretra, lobus anterior atau isthmus yang terletak di depan
uretra dan menghubungkan lobus dekstra dan lobus sinistra, bagian ini
tidak mengandung kelenjar dan hanya berisi otot polos, selanjutnya lobus
medial yang terletak diantara uretra dan duktus ejakulatorius, banyak
mengandung kelenjar dan merupakan bagian yang menyebabkan
terbentuknya uvula vesicae yang menonjol kedalam vesica urinaria bila
lobus medial ini membesar. Sebagai akibatnya dapat terjadi bendungan
aliran urin pada waktu berkemih (Wibowo dan Paryana, 2009).
Kelenjar ini pada laki-laki dewasa kurang lebih sebesar buah
walnut atau buah kenari besar. Ukuran, panjangnya sekitar 4 - 6 cm, lebar
3 - 4 cm, dan tebalnya kurang lebih 2 - 3 cm dengan berat sekitar 20
gram. Bagian- bagian prostat terdiri dari 50 – 70 % jaringan kelenjar, 30
– 50 % adalah jaringan stroma (penyangga) dan kapsul/muskuler. Bagian
prostat terlihat gambar dibawah.
Prostat merupakan inervasi otonomik simpatik dan parasimpatik
dari pleksus prostatikus atau pleksus pelvikus yang menerima masukan
serabut parasimpatik dari korda spinalis dan simpatik dari nervus
hipogastrikus. Rangsangan parasimpatik meningkatkan sekresi kelenjar
pada epitel prostat, sedangkan rangsangan simpatik menyebabkan
pengeluaran cairan prostat kedalam uretra posterior, seperti pada saat
ejakulasi. System simpatik memberikan inervasi pada otot polos prostat,
kapsula prostat, dan leher buli-buli. Ditempat itu terdapat banyak reseptor
adrenergic. Rangsangan simpatik menyebabkan dipertahankan tonus otot
tersebut. Pada usia lanjut sebagian pria akan mengalami pembesaran
kelenjar prostat akibat hiperplasi jinak sehingga dapat menyumbat uretra
posterior dan mengakibatkan terjadinya obstruksi saluran kemih
(Purnomo, 2011).

2. Fisiologi Prostat
Menurut Purnomo (2011) fisiologi prostat adalah suatu alat tubuh
yang tergantung kepada pengaruh endokrin. Pengetahuan mengenai sifat
endokrin ini masih belum pasti. Bagian yang peka terhadap estrogen
adalah bagian tengah, sedangkan bagian tepi peka terhadap androgen.
Oleh karena itu pada orang tua bagian tengahlah yang mengalami
hiperplasi karena sekresi androgen berkurang sehingga kadar estrogen
relatif bertambah. Sel-sel kelenjar prostat dapat membentuk enzim asam
fosfatase yang paling aktif bekerja pada pH 5.
Kelenjar prostat mensekresi sedikit cairan yang berwarna putih
susu dan bersifat alkalis. Cairan ini mengandung asam sitrat, asam
fosfatase, kalsium dan koagulase serta fibrinolisis. Selama pengeluaran
cairan prostat, kapsul kelenjar prostat akan berkontraksi bersamaa dengan
kontraksi vas deferen dan cairan prostat keluar bercampur dengan semen
yang lainnya. Cairan prostat merupakan 70% volume cairan ejakulat dan
berfungsi memberikan makanan spermatozon dan menjaga agar
spermatozon tidak cepat mati di dalam tubuh wanita, dimana sekret
vagina sangat asam (pH: 3,5-4). Cairan ini dialirkan melalui duktus
skretorius dan bermuara di uretra posterior untuk kemudian dikeluarkan
bersama cairan semen yang lain pada saat ejakulasi. Volume cairan
prostat kurang lebih 25% dari seluruh volume ejakulat. Dengan demikian
sperma dapat hidup lebih lama dan dapat melanjutkan perjalanan menuju
tuba uterina dan melakukan pembuahan, sperma tidak dapat bergerak
optimal sampai pH cairan sekitarnya meningkat 6 sampai 6,5 akibatnya
mungkin bahwa cairan prostat menetralkan keasaman cairan dan lain
tersebut setelah ejakulasi dan sangat meningkatkan pergerakan dan
fertilitas sperma ( Wibowo dan Paryana, 2009 ).

3. Definisi
Benigna Prostat hiperplasia adalah keadaan kondisi patologis yang
paling umum pada pria lansia dan penyebab kedua yang paling sering
ditemukan untuk intervensi medis pada pria di atas usia 50 tahun
(Wijaya. A & Putri. Y, 2013)
Benigna Prostat Hiperplasi ( BPH ) adalah pembesaran jinak kelenjar
prostat, disebabkan oleh karena hiperplasi beberapa atau semua
komponen prostat meliputi jaringan kelenjar / jaringan fibromuskuler
yang menyebabkan penyumbatan uretra pars prostatika (Purwanto, H,
2016)
Berdasarkan pengertian diatas dapat disimpulkan bahwa Benigna
Prostat Hiperplasi (BPH) merupakan penyakit pembesaran prostat yang
disebabkan oleh proses penuaan, yang biasa dialami oleh pria berusia 50
tahun keatas, yang mengakibatkan obstruksi leher kandung kemih, dapat
menghambat pengosongan kandung kemih dan menyebabkan gangguan
perkemihan.

4. Tahapan Perkembangan Penyakit BPH


Berdasarkan perkembangan penyakitnya menurut Sjamsuhidajat dan
De jong (2005) secara klinis penyakit BPH dibagi menjadi 4 gradiasi :
a. Derajat 1 : Apabila ditemukan keluhan prostatismus, pada colok
dubur ditemukan penonjolan prostat, batas atas mudah teraba dan
sisa urin kurang dari 50 ml
b. Derajat 2 : Ditemukan penonjolan prostat lebih jelas pada colok
dubur dan batas atas dapat dicapai, sedangkan sisa volum urin 50-
100 ml.
c. Derajat 3 : Pada saat dilakukan pemeriksaan colok dubur batas atas
prostat tidak dapat diraba dan sisa volum urin lebih dari 100ml.
d. Derajat 4 : Apabila sudah terjadi retensi urine total

5. Etiologi
Beberapa yang diduga sebagi penyebab timbulnya hyperplasia prostat
menurut Purnomo. B, (2011) adalah Teori Dehidrotestosteron (DHT),
teori hormon (ketidakseimbangan antara estrogen dan testosteron), faktor
interaksi stroma dan epitel-epitel, teori berkurangnya kematian sel
(apoptosis), teori sel stem.
a. Teori Dehidrotestosteron (DHT)
Dehidrotestosteron/ DHT adalah metabolit androgen yang sangat
penting pada pertumbuhan sel-sel kelenjar prostat. Aksis hipofisis
testis dan reduksi testosteron menjadi dehidrotestosteron (DHT) dalam
sel prostad merupakan factor terjadinya penetrasi DHT kedalam inti
sel yang dapat menyebabkan inskripsi pada RNA, sehingga dapat
menyebabkan terjadinya sintesis protein yang menstimulasi
pertumbuhan sel prostat. Pada berbagai penelitian dikatakan bahwa
kadar DHT pada BPH tidak jauh berbeda dengan kadarnya pada
prostat normal, hanya saja pada BPH, aktivitas enzim 5α –reduktase
dan jumlah reseptor androgen lebih banyak pada BPH. Hal ini
menyebabkan sel-sel prostat pada BPH lebih sensitive terhadap DHT
sehingga replikasi sel lebih banyak terjadi dibandingkan dengan
prostat normal.
b. Teori hormone ( ketidakseimbangan antara estrogen dan testosteron)
Pada usia yang semakin tua, terjadi penurunan kadar testosterone
sedangkan kadar estrogen relative tetap, sehingga terjadi perbandingan
antara kadar estrogen dan testosterone relative meningkat. Hormon
estrogen didalam prostat memiliki peranan dalam terjadinya poliferasi
sel-sel kelenjar prostat dengan cara meningkatkan jumlah reseptor
androgen, dan menurunkan jumlah kematian sel-sel prostat
(apoptosis). Meskipun rangsangan terbentuknya sel-sel baru akibat
rangsangan testosterone meningkat, tetapi sel-sel prostat telah ada
mempunyai umur yang lebih panjang sehingga masa prostat jadi lebih
besar.
c. Faktor interaksi Stroma dan epitel epitel.
Diferensiasi dan pertumbuhan sel epitel prostat secara tidak
langsung dikontrol oleh sel-sel stroma melalui suatu mediator yang
disebut Growth factor. Setelah sel-sel stroma mendapatkan stimulasi
dari DHT dan estradiol, sel-sel stroma mensintesis suatu growth factor
yang selanjutnya mempengaruhi sel-sel stroma itu sendiri intrakrin
dan autokrin, serta mempengaruhi sel-sel epitel parakrin. Stimulasi itu
menyebabkan terjadinya poliferasi sel-sel epitel maupun sel stroma.
Basic Fibroblast Growth Factor (bFGF) dapat menstimulasi sel stroma
dan ditemukan dengan konsentrasi yang lebih besar pada pasien
dengan pembesaran prostad jinak. bFGF dapat diakibatkan oleh
adanya mikrotrauma karena miksi, ejakulasi atau infeksi.
d. Teori berkurangnya kematian sel (apoptosis)
Progam kematian sel (apoptosis) pada sel prostat adalah
mekanisme fisiologik untuk mempertahankan homeostatis kelenjar
prostat. Pada apoptosis terjadi kondensasi dan fragmentasi sel, yang
selanjutnya sel-sel yang mengalami apoptosis akan difagositosis oleh
sel-sel di sekitarnya, kemudian didegradasi oleh enzim lisosom. Pada
jaringan normal, terdapat keseimbangan antara laju poliferasi sel
dengan kematian sel. Pada saat terjadi pertumbuhan prostat sampai
pada prostat dewasa, penambahan jumlah sel-sel prostat baru dengan
yang mati dalam keadaan seimbang. Berkurangnya jumlah sel-sel
prostat baru dengan prostat yang mengalami apoptosis menyebabkan
jumlah sel-sel prostat secara keseluruhan menjadi meningkat,
sehingga terjadi pertambahan masa prostat.
e. Teori sel stem
Sel-sel yang telah apoptosis selalu dapat diganti dengan sel-sel
baru. Didalam kelenjar prostat istilah ini dikenal dengan suatu sel
stem, yaitu sel yang mempunyai kemampuan berpoliferasi sangat
ekstensif. Kehidupan sel ini sangat tergantung pada keberadaan
hormone androgen, sehingga jika hormone androgen kadarnya
menurun, akan terjadi apoptosis. Terjadinya poliferasi sel-sel BPH
dipostulasikan sebagai ketidaktepatan aktivitas sel stem sehingga
terjadi produksi yang berlebihan sel stroma maupun sel epitel.

6. Patofisiologi
Pembesaran prostat menyebabkan terjadinya penyempitan lumen uretra
pars prostatika dan menghambat aliran urine sehingga menyebabkan
tingginya tekanan intravesika. Untuk dapat mengeluarkan urine, buli-buli
harus berkontraksi lebih kuat untuk melawan tekanan, menyebabkan
terjadinya perubahan anatomi buli-buli, yakni: hipertropi otot destrusor,
trabekulasi, terbentuknya selula, sakula, dan divertikel buli-buli.
Perubahan struktur pada buli-buli tersebut dirasakan sebagai keluhan pada
saluran kemih bagian bawah atau Lower Urinary Tract Symptoms (LUTS).
Tekanan intravesika yang tinggi diteruskan ke seluruh bagian buli-buli
tidak terkecuali pada kedua muara ureter. Tekanan pada kedua muara
ureter ini menimbulkan aliran balik dari buli-buli ke ureter atau terjadinya
refluks vesikoureter. Jika berlangsung terus akan mengakibatkan
hidroureter, hidronefrosis bahkan jatuh ke dalam gagal ginjal (Muttaqin,
2011).
7. Manifestasi klinis
Obstruksi prostat dapat menimbulkan keluhan pada saluran kemih
maupun keluhan diluar saluran kemih. Menurut Purnomo (2011) dan tanda
dan gejala dari BPH yaitu : keluhan pada saluran kemih bagian bawah,
gejala pada saluran kemih bagian atas, dan gejala di luar saluran kemih.
a. Keluhan pada saluran kemih bagian bawah
1) Gejala obstruksi meliputi : Retensi urin (urin tertahan dikandung
kemih sehingga urin tidak bisa keluar), hesitansi (sulit memulai
miksi), pancaran miksi lemah, Intermiten (kencing terputus-putus),
dan miksi tidak puas (menetes setelah miksi)
2) Gejala iritasi meliputi : Frekuensi, nokturia, urgensi (perasaan ingin
miksi yang sangat mendesak) dan disuria (nyeri pada saat miksi).
b. Gejala pada saluran kemih bagian atas
Keluhan akibat hiperplasi prostat pada saluran kemih bagian atas
berupa adanya gejala obstruksi, seperti nyeri pinggang, benjolan
dipinggang (merupakan tanda dari hidronefrosis), atau demam yang
merupakan tanda infeksi atau urosepsis.
c. Gejala diluar saluran kemih
Pasien datang diawali dengan keluhan penyakit hernia inguinalis atau
hemoroid. Timbulnya penyakit ini dikarenakan sering mengejan pada
saan miksi sehingga mengakibatkan tekanan intraabdominal. Adapun
gejala dan tanda lain yang tampak pada pasien BPH, pada pemeriksaan
prostat didapati membesar, kemerahan, dan tidak nyeri tekan, keletihan,
anoreksia, mual dan muntah, rasa tidak nyaman pada epigastrik, dan
gagal ginjal dapat terjadi dengan retensi kronis dan volume residual
yang besar.
8. Penatalaksaan medis dan keperawatan
Menurut Purwanto, H, (2016), Modalitas terapi BPH adalah :
a. Observasi
Yaitu pengawasan berkala pada klien setiap 3 – 6 bulan kemudian
setiap tahun tergantung keadaan klien
b. Medikamentosa
Terapi ini diindikasikan pada BPH dengan keluhan ringan, sedang, dan
berat tanpa disertai penyulit. Obat yang digunakan berasal dari:
phitoterapi (misalnya: Hipoxis rosperi, Serenoa repens, dll), gelombang
alfa blocker dan golongan supresor androgen.
c. Pembedahan
Indikasi pembedahan pada BPH adalah :
1) Klien yang mengalami retensi urin akut atau pernah retensi urin
akut.
2) Klien dengan residual urin > 100 ml.
3) Klien dengan penyulit.
4) Terapi medikamentosa tidak berhasil.\Flowmetri menunjukkan
pola obstruktif.
5) Pembedahan dapat dilakukan dengan :
a) TURP (Trans Uretral Reseksi Prostat ± 90 - 95 % )Retropubic
Atau Extravesical Prostatectomy
b) Perianal Prostatectomy
c) Suprapubic Atau Tranvesical Prostatectomy
6) Alternatif lain (misalnya: Kriyoterapi, Hipertermia, Termoterapi,
Terapi Ultrasonik .

9. Komplikasi
Menurut Sjamsuhidajat dan De Jong (2005) komplikasi BPH adalah :
a. Retensi urin akut, terjadi apabila buli-buli menjadi dekompensasi
b. Infeksi saluran kemih
c. Involusi kontraksi kandung kemih
d. Refluk kandung kemih
e. Hidroureter dan hidronefrosis dapat terjadi karena produksi urin terus
berlanjut maka pada suatu saat buli-buli tidak mampu lagi menampung
urin yang akan mengakibatkan tekanan intravesika meningkat.
f. Gagal ginjal bisa dipercepat jika terjadi infeksi
g. Hematuri, terjadi karena selalu terdapat sisa urin, sehingga dapat
terbentuk batu endapan dalam buli-buli, batu ini akan menambah
keluhan iritasi. Batu tersebut dapat pula menibulkan sistitis, dan bila
terjadi refluks dapat mengakibatkan pielonefritis.
10. Pathways Keperawatan

Etiologi

Penuaan

Mesenkim sinus
Perubahan keseimbangan
uragential
testosterone + estrogen
Mitrotrouma : trauma, Kebangkitan /
ejakulasi, infeksi Prod. Testosteron ↓ reawakening

↑ stimulasi sel stroma BPH Berproliferasi


yang dipengaruhi GH

Pre operasi Post operasi

Terjadi kompresi utera TURP. Prostatektomi

Trauma bekas Folley cateter


↑ resistensi leher V.U Kerusakan Penekanan
mukosa serabut-serabut insisi
dan daerah V.U
urogenital syaraf Obstruksi oleh
jendolan darah
↑ ketebalan otot Dekstrusor
post OP
(fase kompensasi) Nyeri

Terbentuknya sakula/
trabekula MK : MK : nyeri
intoleransi akut
Kelemahan otot aktivitas
Dekstrusor
Penurunan
↓ kemampuan pertahanan
fungsi V.U tubuh

Refluk urin Residu urin


berlebihan

Hidronefrosis Media pertumbuhan MK : resiko


kuman infeksi
B. Konsep Asuhan Keperawatan
1. Pengkajian Primer
a. Airway
Pada pasien BPH secara umum tidak ditemukan masalah pada jalan
napas atau airway bersih.
b. Breathing
Pada pasien BPH secara umum tidak ditemukan masalah pada
pernapasan.
c. Circulation
Hasil pengkajian pada circulation khusunya pada eliminasi didapatkan
disuria atau anuria, distensi kandung kemih, inkontinensia berlebih,
residu urine 150 ml atau lebih, keluhan dribbling dan sensasi penuh
pada kandung kemih.
d. Dissability
Pada pasien dengan BPH secara umum tidak ditemukan masalah pada
dissability.
2. Anamnesis  
Pengkajian fokus keperawatan yang perlu diperhatikan pada penderita
BPH merujuk pada teori menurut Smeltzer dan Bare (2002) , Tucker dan
Canobbio (2008) ada berbagai macam, meliputi :
a. Demografi
Kebanyakan menyerang pada pria berusia diatas 50 tahun. Ras kulit
hitam memiliki resiko lebih besar dibanding dengan ras kulit putih.
Status social ekonomi memili peranan penting dalam terbentuknya
fasilitas kesehatan yang baik. Pekerjaan memiliki pengaruh terserang
penyakit ini, orang yang pekerjaanya mengangkat barang-barang berat
memiliki resiko lebih tinggi.
b. Riwayat penyakit sekarang
Pada pasien BPH keluhan keluhan yang ada adalah frekuensi ,
nokturia, urgensi, disuria, pancaran melemah, rasa tidak puas sehabis
miksi, hesistensi ( sulit memulai miksi), intermiten (kencing terputus-
putus), dan waktu miksi memanjang dan akhirnya menjadi retensi
urine.
c. Riwayat penyakit dahulu
Kaji apakah memilki riwayat infeksi saluran kemih (ISK), adakah
riwayat mengalami kanker prostat. Apakah pasien pernah menjalani
pembedahan prostat / hernia sebelumnya.
d. Riwayat kesehatan keluarga
Kaji adanya keturunan dari salah satu anggota keluarga yang
menderita
penyakit BPH.
e. Pola kesehatan fungsional
1) Eliminasi
Pola eliminasi kaji tentang pola berkemih, termasuk frekuensinya,
ragu ragu, menetes, jumlah pasien harus bangun pada malam hari
untuk berkemih (nokturia), kekuatan system perkemihan. Tanyakan
pada pasien apakah mengedan untuk mulai atau mempertahankan
aliran kemih. Pasien ditanya tentang defikasi, apakah ada kesulitan
seperti konstipasi akibat dari prostrusi prostat kedalam rectum.
2) Pola nutrisi dan metabolisme
Kaji frekuensi makan, jenis makanan, makanan pantangan, jumlah
minum tiap hari, jenis minuman, kesulitan menelan atau keadaan
yang mengganggu nutrisi seperti anoreksia, mual, muntah,
penurunan BB.
3) Pola tidur dan istirahat
Kaji lama tidur pasien, adanya waktu tidur yang berkurang karena
frekuensi miksi yang sering pada malam hari ( nokturia ).
4) Nyeri/kenyamanan
Nyeri supra pubis, panggul atau punggung, tajam, kuat, nyeri
punggung bawah
5) Pola persepsi dan tatalaksana hidup sehat
Pasien ditanya tentang kebiasaan merokok, penggunaan
obatobatan, penggunaan alkhohol.
6) Pola aktifitas
Tanyakan pada pasien aktifitasnya sehari – hari, aktifitas
penggunaan waktu senggang, kebiasaan berolah raga. Pekerjaan
mengangkat beban berat. Apakah ada perubahan sebelum sakit dan
selama sakit. Pada umumnya aktifitas sebelum operasi tidak
mengalami gangguan, dimana pasien masih mampu memenuhi
kebutuhan sehari – hari sendiri.

7) Seksualitas
Kaji apakah ada masalah tentang efek kondisi/terapi pada
kemampua seksual akibat adanya penurunan kekuatan ejakulasi
dikarenakan oleh pembesaran dan nyeri tekan pada prostat.
8) Pola persepsi dan konsep diri
Meliputi informasi tentang perasaan atau emosi yang dialami atau
dirasakan pasien sebelum pembedahan dan sesudah pembedahan
pasien biasa cemas karena kurangnya pengetahuan terhadap
perawatan luka operasi.

f. Pemeriksaan Fisik
1) Dilakukan dengan pemeriksaan tekanan darah, nadi dan suhu. Nadi
dapat meningkat pada keadaan kesakitan pada retensi urin akut,
dehidrasi sampai syok pada retensi urin serta urosepsis sampai syok -
septik.
2) Pemeriksaan abdomen dilakukan dengan tehnik bimanual untuk
mengetahui adanya hidronefrosis, dan pyelonefrosis. Pada daerah
supra simfiser pada keadaan retensi akan menonjol. Saat palpasi
terasa adanya ballotemen dan klien akan terasa ingin miksi. Perkusi
dilakukan untuk mengetahui ada tidaknya residual urin.
3) Penis dan uretra untuk mendeteksi kemungkinan stenose meatus,
striktur uretra, batu uretra, karsinoma maupun fimosis.
4) Pemeriksaan skrotum untuk menentukan adanya epididimitis
5) Rectal touch / pemeriksaan colok dubur bertujuan untuk menentukan
konsistensi sistim persarafan unit vesiko uretra dan besarnya prostat.
Dengan rectal toucher dapat diketahui derajat dari BPH, yaitu :
a) Derajat I = beratnya ± 20 gram.
b) Derajat II = beratnya antara 20 – 40 gram.
c) Derajat III = beratnya > 40 gram.
(Purwanto, H, 2016)

g. Pemeriksaan Laboratorium
1) Pemeriksaan darah lengkap, faal ginjal, serum elektrolit dan kadar
gula digunakan untuk memperoleh data dasar keadaan umum klien.
2) Pemeriksaan urin lengkap dan kultur.
3) PSA (Prostatik Spesific Antigen) penting diperiksa sebagai
kewaspadaan adanya keganasan.
(Purwanto, H, 2016)
h. Pemeriksaan Uroflowmetri
Salah satu gejala dari BPH adalah melemahnya pancaran urin. Secara
obyektif pancaran urin dapat diperiksa dengan uroflowmeter dengan
penilaian :
1) Flow rate maksimal > 15 ml / dtk = non obstruktif.
2) Flow rate maksimal 10 – 15 ml / dtk = border line.
3) Flow rate maksimal < 10 ml / dtk = obstruktif.
(Purwanto, H, 2016)
i. Pemeriksaan Imaging dan Rontgenologik
1) BOF (Buik Overzich ) :Untuk melihat adanya batu dan metastase
pada tulang.
2) USG (Ultrasonografi), digunakan untuk memeriksa konsistensi,
volume dan besar prostat juga keadaan buli – buli termasuk residual
urin. Pemeriksaan dapat dilakukan secara transrektal, transuretral
dan supra pubik.
3) IVP (Pyelografi Intravena)
Digunakan untuk melihat fungsi exkresi ginjal dan adanya
hidronefrosis.
4) Pemeriksaan Panendoskop
Untuk mengetahui keadaan uretra dan buli – buli.
(Purwanto, H, 2016)

3. Diagnosa Keperawatan
a. Retensi urin berhubungan dengan peningkatan tekanan uretra.
b. Ansietas b.d. perubahan status kesehatan/ menghadapi prosedur bedah.
c. Resiko tinggi infeksi b.d prosedur infasif : alat selama pembedahan,
kateter, irigasi kandung kemih sering.
(Muttaqin, A. 2011)

4. Fokus Intervensi dan Luaran

Retensi urin berhubungan dengan peningkatan tekanan uretra


(D.0050)
Luaran utama yaitu eliminasi urin (L.04034)
Ekspektasi membaik dengan kriteria hasil sebagai berikut:
a. Sensasi berkemih meningkat
b. Desakan berkemih (urgensi) menurun
c. Distensi kandung kemih menurun
d. Berkemih tidak tuntas menurun
e. Volume residu urine menurun
f. Urine menetes (dribbling) menurun
g. Disuria menurun
h. Anuria menurun
i. Frekuensi BAK membaik
j. Karakteristik urine membaik
Intervensi
Kateterisasi Urine (I.04148)
Observasi
- Periksa kondisi pasien (mis. Kesadaran, tanda-tanda vital, daerah
perineal, distensi kandung kemih, inkontinensia urine, refleks
berkemih)
Terapeutik
- Siapkan peralatan, bahan-bahan dan ruangan tindakan
- Siapkan pasien: bebaskan pakaian bawah dan posisikan dorsal
rekumben (untuk wanita) dan supine (untuk laki-laki)
- Pasang sarung tangan
- Bersihkan daerah perineal atau preposium dengan cairan NaCl atau
aquades
- Lakukan insersi kateter urine dengan menerapkan prinsip aseptik
- Sambungkan kateter urine dengan urine bag
Edukasi
- Jelaskan tujuan dan prosedur pemasangan kateter urin
- Anjurkan menarik napas saat insersi selang kateter
ASUHAN KEPERAWATAN KASUS

A. Identitas Klien

Nama : Tn. Y

Umur : 62 tahun

Jenis Kelamin : Laki-laki

Diagnosa Medis : Benigna Prostate Hyperplasia (BPH)

Riwayat kesehatan sekarang :


Tn. Y, laki-laki, 62 tahun, datang dengan keluhan tidak dapat BAK sejak
kemarin malam (±48jam SMRS) disertai rasa nyeri pada perut dan punggung
bawah. Sebelumnya mengaku sering susah BAK juga sering mengejan saat
memulai BAK, BAK tidak tuntas, air kencing menetes pasca BAK, sering
anyang-anyangan serta frekuensi BAK meningkat beberapa bulan
sebelumnya dan kandung kemih terasa penuh. Riwayat beberapa kali
dipasang DC di puskesmas karena keluhan serupa. Riwayat kencing batu,
trauma, dan BAK disertai darah disangkal. Px Fisik: Vital Sign: TD:
130/90mmHg; N: 86x/menit, rr: 20x/menit, T: 36,2°C. Abdomen: Tampak
bulging pada regio suprapubik. BU (+) Normal, NT (+) suprapubik, H/L/R
tak teraba, nyeri ketok -/-. Teraba pembesaran prostat pada rectal toucher.

B. Pengkajian Fokus
Airway : clear
Breathing : tidak ada masalah
Circulation :
1. Sirkulasi Perifer
Nadi : 86 x/menit
Denyut : kuat
CRT : < 3 s
TD : 130/90 mmHg

2. Eliminasi dan Cairan


Tidak dapat BAK ± 48 jam
Mengejan saat memulai BAK
Tidak tuntas, disuria
Kencing menetes
Nyeri pada perut dan pinggang
Dissability : tidak ada masalah

DATA ETIOLOGI MASALAH


DS : Peningkatan tekanan Retensi urin (D.0050)
- Pasien mengeluh tidak uretra
dapat BAK ± 48 jam
- Sering mengejan saat
memulai BAK
- BAK tidak tuntas
- air kencing menetes
pasca BAK
- Sering anyang-anyangan
- Frekuensi BAK
meningkat beberapa
bulan sebelumnya
- Kandung kemih terasa
penuh
DO :
- Tampak bulging pada
regio suprapubik
- Teraba pembesaran
prostat pada rectal
toucher

C. Analisa Data
D. Diagnosa Keperawatan
Retensi urine berhubungan dengan peningkatan tekanan uretra (D.0050)
E. Fokus Inervensi dan Luaran

DX. Retensi urin berhubungan dengan peningkatan tekanan


uretra (D.0050)
Luaran utama yaitu eliminasi urin (L.04034)
Ekspektasi membaik dengan kriteria hasil sebagai berikut:
a. Sensasi berkemih meningkat
b. Desakan berkemih (urgensi) menurun
c. Distensi kandung kemih menurun
d. Berkemih tidak tuntas menurun
e. Urine menetes (dribbling) menurun
f. Disuria menurun
g. Frekuensi BAK membaik
Intervensi
Kateterisasi Urine (I.04148)
Observasi
- Periksa kondisi pasien (mis. Kesadaran, tanda-tanda vital, daerah
perineal, distensi kandung kemih, inkontinensia urine, refleks
berkemih)
Terapeutik
- Siapkan peralatan, bahan-bahan dan ruangan tindakan
- Siapkan pasien: bebaskan pakaian bawah dan posisikan dorsal
rekumben (untuk wanita) dan supine (untuk laki-laki)
- Pasang sarung tangan
- Bersihkan daerah perineal atau preposium dengan cairan NaCl
atau aquades
- Lakukan insersi kateter urine dengan menerapkan prinsip aseptik
- Sambungkan kateter urine dengan urine bag
Edukasi
- Jelaskan tujuan dan prosedur pemasangan kateter urin
- Anjurkan menarik napas saat insersi selang kateter

F. Implementasi dan Evaluasi

WAKTU IMPLEMENTASI EVALUASI


Tanggal 24 Memeriksa kondisi S:
November 2020 pasien (mis. Kesadaran, - Mengeluh tidak dapat
Jam 09.00 tanda-tanda vital, daerah BAK sejak kemarin malam
perineal, distensi - BAK tidak tuntas
kandung kemih, - Kandung kemih terasa
inkontinensia urine, penuh
refleks berkemih) O:
- Kesadaran : CM
- Teraba distensi kandung
kemih
- Teraba pembesaran prostat
- Nadi : 86 x/menit
- TD : 130/90 mmHg
A:
Masalah keperawatan retensi urine
belum teratasi
P:
- Lakukan pemasangan
kateter urine
Tanggal 24 Melakukan pemasangan S:
November 2020 kateter urine - Pasien mengatakan
Jam 09.30 mengeluh nyeri
O:
- Masih teraba distensi pada
kandung
- Terdapat residu urine 600
ml
- Kesadaran CM
A:
Masalah retensi urine teratasi
sebagian
P:
- Kolaborasi tindakan
pembedahan TURP
DAFTAR PUSTAKA

Muttaqin, A. 2011. Asuhan Keperawatan Gangguan Saluran Perkemihan. Jakarta


Salemba Medika

Purnomo B. Basuki. 2011. Dasar-dasar Urologi, Cetakan I. Jakarta: Sagung Seto


Purwanto, H. 2016. Keperawatan Medikal Bedah II. Jakarta: BPPSDMK
Kemenkes RI
Smeltzer, S.C., Bare, B.G. 2001. Buku Ajar Keperawatan Medikal Bedah. Jakarta:
EGC
Sjamsuhidajat, R. 2011, Buku Ajar Ilmu Bedah. Edisi 3. Jakarta: EGC
Wijaya, S. A. & Putri, M. Y. 2013. Keperawatan Medikal Bedah: Keperawatan
Dewasa, Teori, Contoh Askep. Yogyakarta: Nuha Medika.