Anda di halaman 1dari 5
PEMANFAATAN BENTONIT SEBAGAI PENJERNIH MINYAK PELUMAS BEKAS HASIL PROSES DAUR ULANG DENGAN BATUBARA Ika Monika dan Datin Fatia Umar Pusat Perelitian dan Pengembangan Teknologi Mineral dan Batubara JIn. Jenderal Sudirman no 623 Bandung 40211, Telp (022) 6030483 Fax (022) 6003373 Naskah masuk: 07 Juni 2007, revs ertama : 25 Maret 2008, ves! Kélua: 20 April 2008, dan revisiterakhi : 26 Apel 2008 SARI Bentonit sebagai salah satu produk bahan galian mineral dengan berbagai kegunaan dalam industri, terutama ‘sebagai penjernih atau pemucat warna, mampu meningkatkan kejernihan minyak pelumas hasil proses daur tlang dengan batubara. Proses penjernihan dilakukan dengan menambahkan sejumlah bentonit pada pelumas yang sebelumnya telah dipanaskan dan ditambah surfaktan alkilbenzensulfonat yang berfungsi membentuk sistem emulsi air-minyak. Berat bentonit yang ditambahkan adalah 3, 4, 5, 6, dan 7 g, sedangkan konsentrasi alkilbenzenasulfonat yang ditambahkan adalah 10, 12,5, 15, 17,5, 20, dan 25%. Hasil optimum yang diperoleh dari percobaan ini adalah penambahan berat bentonit 6 g dan konsentrasi alkilbenzenasulfonat 17,5%. Pengukuran tingkat kejernihan dilakukan dengan menggunakan spektrofotometer dengan nilai absorban yang diperoleh 0,295. Nilai absorban ini sudah sesuai dengan kisaran nilai absorban standar base oil. Kata kunci : Bentonit, alkilbenzensulfonat, dispersi, minyak pelumas, base. ABSTRACT Bentonite as one of the mineral product with some advantages in industrial use especially as purifier or discolorizer increases the purity of lubricating oil that was recycled by using coal. The purification process was ‘conducted by the addition of bentonite to the recycled lubricating oil that was fstly heated and was added by alkyl benzene sulphonate as surfactantto form water-oil emulsion system. The amount of bentonite was 3, 4, 5,6, and 7 g, whilst the concentration of alkyl benzene sulphonate was 10, 12.5, 15, 17.5, 20, and 25%. The experiment results show that the optimum condition of bentonite and alkyl benzene sulphonate addition was 6 gand 17.5% eespectively. The purity of recycled oll was measured by using spectrophotometer according to the absorbance value. Resuh indicates that the absorbance ofthe recycled lubricating oil was 0.295 that is in the range of based oil standard absorbance, Keywords: Bentonite, alky! benzene sulphonate, dispersion, lubricating oil, base oil 1. PENDAHULUAN pelumas bekas dengan menggunakan batubara peringkatrendah sebagai penyerap kontaminan logam Saat ini cadangan sumber energi minyak bumi yang ‘merupakan bahan dasar untuk pembuatan bahan bakuminyak pelumas semakin berkurang, Keadaan ini memacu untuk mengembangkan teknologi minyak ppelumas sintetis yang bahan bakunya bukan minyak bumi. Salah satu upaya mengatasi ketergantungan energi minyak bumi, dilakukan daur ulang minyak Pemanfaatan Sentonit sebagal Penjemin Minyak Pelumas... Ika Monika dan Datin Fatia Umar untuk menghasilkan pelumas dasar (base off}, Base oil adalah bahan baku untuk pembuatan minyak peluras yang urium digunakan pada industri otomotf. Penelitian proses daur ulang ini dikembangkan oleh Kobe Steel, Ltd. Jepang (Kobe Steel, 2000). Puslitbang Teknologi Minetal dan Batubara bekerjasama dengan Lemilgas dan Kobe Steel melakukan peneliian proses daur ulang pelumas bekas dengan batubara yang membuktikan bahwa batubara mampu menyerap kontaminan logam terutama Ca dan Zn di atas 90% (Umar dkk., 2002). Namun base oil yang dihasilkan_ dari proses ini belum memenuhi spesifikasi standar base ol. Salah satu persyaratan itu adalah kejernihan {wama). Warna menunjukkan terang gelapnya suatu ‘minyak pelumas yang diukur dari intensitas cahaya menyerap warna (Saifullah dkk., 1996). Nilai kejernihan/wama based oif hasil proses daur ulang masih cukup tinggi. Oleh karena itu, penelitian ini dilakukan sebagai salah satu upaya untuk rmeningkatkan kualitas base oil sehingga memenuhi spesifikasi yang diinginkan. Tabel 1 menunjukkan spesiikasi base oil hasil proses fraksinasi minyak bbumi dan proses daur ulang dengan batubara, Tabel 1, Spesifikasi base offhasil proses fraksinasi minyak bum dan proses daurulang dengan batubara peringkat rendah ( Lemigas, 2004). Base Oildari proses fraksinasi | Base Oildanl proses Sifatsifa’ | Spesifikasi | Spesifikasi minyak burt daur ulang dengan Karaktertik | Base Oil | PERTAMINA | HVI60 | HVI95 | HVET605 | batubaraperingkat SN-100 | SN-350, ‘SN-500, rendah Viskositas Kinematik 80-100, Min 4A4-4,9| 7,2 -8,0 | 10,7-11,8 9,64 @100°C Viskositas Indeks - Min 95 95 95 106 Titik Nyala - Min 204 210 228 206 Titik Bek = Min—[ 015-9 2 o Kadarait, % vol | Maks Nil [_Nil Nil Tidak terdeteksi Bahan bakar Maks Nl [ Nil Nil 12 terlarut, % vol Total Jura ‘Asam (TAN), - Maks 0,05 0,05 0,05 0,059 mg KOH/g Kadar abu, % wt - ‘Maks 0,01 0,01 0,01 ie Warna_ : Maks 2,0 3 3 >S Kadar Sulfur, % wt - >0,03 Maks 0.01 0.01 0,2561 Kejenuhan, % wt - > 90 Min - 7 96,07, yang dapat menembus sejumlah minyak tertentu 2. METODOLOGI ‘Terang atau gelapnya warna menunjukkan tingkat kontaminasi dan tinggi rendahnya viskositas. Bentonit sebagai salah satu mineral dikenal ‘mempunyai fungsi sebagai penjemih dalam proses ppenjernihan minyak kelapa sawit (Crude Palm Oil! CPO), dan tidak menyebabkan perubahan wama atau rasa pada minyak (Suhala dan Arifin, 1977). Jenis bentonit yang digunakan dalam proses penjernihan base oil adalah kalsium bentonit yang bila terdispersi dalam air akan mengendap cepat (membentuk koagulan), daya tukar ionnya cukup besar dan bersifat Sistim pembakaran pada suhu tinggi di dalam mesin kendaraan menyebabkan komposisi minyak pelumas terdegradasi dan menghasilkan senyawa-senyawa oksida yang bersifat polar dengan warna coklat kehitaman (Soewarjo, 1997). Senyawa polar tersebut harus dipisahkan dari senyawa yang tidak terdegradasi yang umumnya bersifat non polar. Untuk pemisahan senyawa polar dan non polar ditambahkan emulsi- fier yang mengandung alkilbenzenasulfonat yang merupakan surfaktan anionik dengan gugus yang terkandung di dalamnya berfungsi menstabilkan Jurnal Bahan Galian Indust Vel. 12 No. 93, April 2008 : 17-21 sistem dispersi pada suhutinggi dan sifat adsorpsinya tethadap air terbaik. Surfaktan akan larut dalam air yang bersifat polar dan terdispersi dalam sistem emulsi air minyak. Selain terjadinya pemisahan, alkilbenzenasulfonat bersifat sebagai zat aktif permukaan dalam medium cair dengan struktur molekul hidrokarbon bertipe minyak yang mudah larut dalam air (Wignyanto, 1997). Pemisahan dua fasa air—_minyak dilakukan dengan sistem adsorpsi selektif. Bahan pengadsompsi selektif tntuk fasa air dan komponen polar lain adalah bentonit karena permukaan bentonit juga bersifat polar dan dapat menstabilkan warna. Selain itu, bentonit secara luas digunakan untuk mereduksi ‘wama berbagai mineral, minyak nabati dan hewani. Faktor utara yang mempengaruhi reduksi warna pada proses penjernihan adalah bentonit yang pada -dasarnya mempunyai kemampuan menyerap warna. Reduksi atau pemucatan warna adalah suatu tahap proses penjemihan untuk menghilangkan warna yang tidak diinginkan, Kemampuan daya adsorpsi warna ini dapat ditingkatkan melalui aktivasi dengan menambahkan asam mineral. Dalam proses aktivasi bentonit akan terjadi pertukaran ion pada permukaannya terutama Ca dan Mg yang diganti kedudukannya oleh ion Ht. Pori-pori pada permukaan bentonit menjadi terbuka akibat terlarutnya oksida-oksida logam dalam struktur bentonit dan digantikan oleh ion H * dati aktivator. Sedangkan logam-logam yang terlarut akan cepat mengendap bila didispersikan dalam air dan mempunyai daya tukar ion yang cukup besar Gaefullah dkk, 1996). MINYAK a, PELUMAS BEKAS tT 300.350°C. BATUBARA (SERBUK) BASEOIL = 3. KEGIATAN PERCOBAAN Proses daur ulang minyak pelumas bekas menggunakan batubara sebagai penyerap kontarninan logam dilakukan dengan cara mencampur minyak pelumas bekas dan batubara yang dipanaskan pada suhu antara 100-140°C. Setelah pemanasan selarma + 2 jam, campuran disaring untuk memisahkan padatan dan cairan yang berupa minyak pelumas (base oi. Selanjutnya dilakukan proses penjernihan terhadap minyak pelumas hasil daur ulang dengan cara menambahkan alkilbenzenasulfonat ke dalam 10 ml minyak pelumas dan dipanaskan pada suhu 90°C selama 20 menit. Selanjutnya ditambah bentonit antara 3 dan 7 g dan dipanaskan kembali pada suhu 90°C selama 30 menit . Untuk mendapatkan minyak pelumas yang telah jernih dilakukan dekantasi atau pengendapan sehingga base oi! dapat dipisahkan dari bentot Percobaan dilakukan dengan variabel sebagai berikut: = Konsentrasialkilbenzensulfonat: 10, 12,5, 15, 17,5, 20 dan 25 % = Berat bentonit : 3, 4, 5, 6, dan 7 g. Peralatan yang digunakan untuk melakukan percobaan adalah spektrofotometer, cuvet, beaker glass, pipet ukur, timbangan analitik, pemanas, pengaduk gelas, alat penyaring Kejernihan contoh diukur dengan menggunakan spektrofotometer SHIMADZU pada panjamg gelombang 480 ¢m dan nilai absorbannya ddibandingkan dengan nilai absorban standar base oil. Bagan alir proses daur ulang dengan batubara dapat dilihatpada Gambar 1. 100-140°C. AIR DAN MINYAK RINGAN Gambar 5. Bagon Alir Proses Daur Ulang Minyak Pelumas Bekas dengan Batubara Pemanfaatan Bentonitsebagai Penjemih Minyak Pelumas tka Monika dan Datin Fatia Umar D 4. HASIL DAN PEMBAHASAN Hasil uj kejemihan base oil yang digunakan sebagai standar dan base oil yang diperoleh dari proses enjemihan ditunjukkan oleh Tabel 2. ‘Tabel 2. Hasil uji kejernihan standar base oil Jenis base oi! ‘Absorban Relatif Light neutral 0,356 Heavy neutral 0,431 4.1. Pengaruh konsentrasi alkilbenzenesulfonat Alkillenzensulfonat yang ditambahkan berpengarvh terhadap proses penjeminan minyak pelumas hasil proses daur ulang. Untuk melihat pengaruh alkilbenzensulfonat dapat dilihat pada Gambar 2. 4 tom hsm naom 20m 2am ndbotemeationat (5A Gambar 2. Pengaruh penambahan ‘alkiibenzenesuifonat tethadap ‘absorban minyak pelumas hasil penjemihan Penurunan absorban pada konsentrasi berbeda dari penambahan alkilbenzenasulfonat akibat adanya interaksi antara alkilbenzenasulfonat dengan senyawa-senyawa yang terkandung dalam minyak pelumas (base oil). Adanya interaksi juga mengidentifikasikan bahwa alkilbenzenasulfonat selain berfungsi menstabilkan sister dispersi, juga ‘menurunkan laju terserapnya wama (Asmuwahyu dkk,, 1993). Pada konsentrasi alkilbenzenasulfonat 17,5% reduksi wana menghasilkan absorban yang terbaik yaitu 0,295, sedangkan pada konsentrasi yang lebih kecil dari 17,5% nilai absorban lebih tinggi Begitu pula dengan penambahan alkilbenzensulfonat lebih besar dari 17,5%, nilai absorban naik. Artinya, pada penambahan konsentrasi tertentu dari alkilbenzensulfonat terjadi reaksi kesetimbangan yang mengakibatkan reaksi kembeli pada keadaan semula. Dengan demikian, penambahan konsentrasi alkilbenzenasulfonat sebagai surfaktan yang ‘mendispersikan sistim emnulsi minyak-air harus tepat. 4.2. Pengaruh berat bentonit terhadap absorban Pengaruh jumlah bentonit terhadap kejernihan minyak pelumas berdasarkan pengukuran absorban dengan menggunakan spektrofotometer, dapat dilihat pada Gambar 3. Gambar3. Pengaruh penambahan bentonit fethadap absorban minyak pelumas hasil penjerihan ‘Pembakaran di dalam mesin mengakibatkan struktur senyawa karbon di dalam minyak pelumas bekas teroksidasi menjadi senyawa-senyawa yang bersifat polar dan mengakibatkan warna minyak pelumas ‘menjadi hitam. Struktur permukaan bentonit yang bersifat polar sangat baik untuk mereduksi wama, tetapi untuk dapat menyerap warna dengan maksimal penambahan jumlah bentonit sangattergantung pada konsentrasi alkilbenzensulfonat yang ditambahkan. Dari Gambar 3, semakin besarjumlah penambahan bentonit dan alkilbenzensulfonat semakin keci! absorban relat, tetapi pada jumlah bentonittertentu nilai absorban relatif naik. Artinya, terjadi reaksi kesetimbangan tethadap proses reduksi yang mengakibatkan terjadinya tik jenubdi dalam proses tersebut. Pada penambahan berat bentonit 6 g dan alkilbenzensulfonat 77,5%, penyerapan warna memberikan basil absorban paling rendah. Pada Jurmal Bohan Galan Industi Vol. 12No. 33, April2008 17-21 kondisi ini, pori-pori pada permukaan bentonit terbuka maksimal dan senyawa polar dan non polar terpisah dengan baik dalam sistem dispersiairminyak akibat adanya penambahan alkilbenzensulfonat. Nilai absorban yang diperoleh pada kondisi ini adalah 0,295. Bila dibandingkan terhadap standar lightoil dengan absorban relat sebesar 0,356, nilai absorban telatif hasil proses penjernihan lebih rendah. Artinya kejernihan minyak pelumas hasil proses lebih jernih dibandingkan dengan standar base oil. 5. KESIMPULAN roses penjernihan optimum minyak pelumas bekas hasil proses daur ulang dengan batubara peringkat rendah dicapai pada penambahan konsenrasi alkilbenzenasulfonat 17,5% dan berat bentonit 6 g tethadap 10 mi minyak pelumas hasil proses daur tlang, yang menghasilkan nilaiabsorban 0,295. Nila absorban dan wama miinyak pelumas lebih kecildan lebih jernih dibandingkan rilai absorban dan warna standar base oil jenis light neutral. 6. DAFTAR PUSTAKA Asmuwahyu, S., S. Hartanto dan Kardi, 1993. Pengaruh Surfaktan Tethadap Fenomena Pemudaran ZatWarna Azo. Laporan Penelitian, Lembaga Penelitian Institut Teknologi indone- sia. Pemanfaatan Bentonitsebagai Penjernih Minyak Pelumas... ka Monika dan Datin Fatla Umar Kobe Steel, 2000. Recycle Used Oil Using Low Rank Coal, Kobe, Japan. Lemigas, 2004. Hasil Analisis Standar Base Oil dan Hasil Proses Daur Ulang dengan Menggunakan Batubara Peringkat Renda. jakarta. Saefullah, Mukhushien dan Syaubari, 196. Aktivasi Tanah Bentonit Kuala Dewa Aceh Utara dan Pemanfaatannya Untuk Peniernih Minyak Kelapa Sawit (CPO), Laporan Penelitian, Uni- versitas Syiah Kuala Darussaiam-Banda Aceh. Soewardjo, A.D.,1997. Daur Ulang Minyak Pelumas Bekas, Warta Insinyur Kimia. II(1): 6-8. Suhala, S. dan Arifin, M., 1997. Sifat dan Penggunaan Bentonit, Bahan Calian Industri Pusat Penelitian dan Pengembangan Teknologi Mineral dan Batubara, Bandung. Umar, D.F., Monika, |., Hernawati, T., Hanafiah, N. dan Rakayu, A., 2002. Daur Ulang Minyak Pelumas Bekas dengan Menggunakan Batubara Peringkat Rendah, Laporan Penelitian, Pusat Penelitian dan Pengembangan Teknologi Min- eral dan Batubara. Wignyanto, 1997. Teknik Baru Cara Peningkatan Efektifitas dan Efisiensi_ Kemampuan Biodegradasi Surfaktan Deterjen, Laporan Penelitian, Fakultas Pertanian, Universitas Brawijaya, Malang.