Anda di halaman 1dari 21

TERAPI MODALITAS

“ TERAPI LINGKUNGAN (MILLIU THERAPY)“

OLEH :
KELOMPOK :
TINGKAT 3.A / DIV KEPERAWATAN

1. NI PUTU OLLWAN ANTARI (P07120217008)


2. KADEK MEGA ASRINI (P07120217027)

KEMENTERIAN KESEHATAN REPUBLIK INDONESIA


POLITEKNIK KESEHATAN DENPASAR
JURUSAN KEPERAWATAN
TAHUN 2019
KATA PENGANTAR

Puji dan Syukur Penulis Panjatkan ke Hadirat Tuhan Yang Maha Esa karena
berkat limpahan Rahmat dan Karunia-Nya sehingga saya selaku penulis dapat
menyusun makalah ini yang berjudul "TERAPI MODALITAS, TERAPI
LINGKUNGAN " tepat pada waktunya.
Penulis menyadari bahwa didalam pembuatan makalah ini berkat bantuan dan
tuntunan Tuhan Yang Maha Esa dan tidak lepas dari bantuan berbagai pihak, untuk itu
dalam kesempatan ini penulis menghaturkan rasa hormat dan terima kasih yang sebesar-
besarnya kepada semua pihak yang membantu dalam pembuatan makalah ini.
Akhir kata semoga makalah ini dapat memberikan manfaat kepada para pembaca.
Penulis menyadari bahwa makalah ini masih jauh dari kesempurnaan baik dari bentuk
penyusunan maupun materinya. Kritik dan saran dari pembaca sangat penulis harapkan
untuk penyempurnaan makalah.

Denpasar, 7 Agustus 2019

Penulis

i
DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR........................................................................................................i

DAFTAR ISI.....................................................................................................................ii

BAB I PENDAHULUAN.................................................................................................1

1.1 LATAR BELAKANG.............................................................................................1

1.2 RUMUSAN MASALAH.........................................................................................2

1.3 TUJUAN PENULISAN...........................................................................................2

1.4 MANFAAT PENULISAN......................................................................................3

BAB II PEMBAHASAN...................................................................................................4

2.1 DEFINISI TERAPI LINGKUNGAN......................................................................4

2.2 TUJUAN TERAPI LINGKUNGAN.......................................................................4

2.3 KARAKTERISTIK TERAPI LINGKUNGAN.......................................................5

2.4 BENTUK LINGKUNGAN.....................................................................................7

2.5 MACAM - MACAM TERAPI LINGKUNGAN...................................................8

2.6. JENIS KEGIATAN DARI TERAPI LINGKUNGAN.........................................10

2.7 KONDISI PASIEN KHUSUS PADA TERAPI LINGKUNGAN........................12

2.8 KOMPONEN FUNGSIONAL TERAPI LINGKUNGAN...................................13

2.9 PERAN PERAN PERAWAT DALAM TERAPI LINGKUNGAN.....................14

BAB III PENUTUP.........................................................................................................17

3.1 KESIMPULAN......................................................................................................17

3.2 SARAN..................................................................................................................17

DAFTAR PUSTAKA......................................................................................................18

ii
BAB I
PENDAHULUAN

1.1 LATAR BELAKANG


Manusia tidak bisa dilepaskan dari lingkungan sehingga aspek lingkungan
harus mendapat perhatian khusus dalam kaitannya untuk menjaga dan memelihara
kesehatan manusia. Lingkungan dan situasi rumah sakit yang asing serta
pengalaman perawatan yang tidak menyenangkan akan memberi pengaruh yang
besar terhadap kemampuan adaptasi pasien dengan gangguan fisik dan gangguan
mental. Ada kecenderungan lingkungan rumah sakit menjadi stresor bagi pasien.
Oleh karena itu perhatian lingkungan sangat penting.
Perawatan klien pada rumah sakit jiwa dalam jangka waktu yang lama
mengkibatkan klien mengalami penurunan kemampuan berfikir dan bertindak secara
mandiri dan kehilangan hubungan dengan dunia luar, oleh karena itu diperlukan
pengembangan layanan keperawatan psikiatrik salah satunya dengan penerapan
terapi lingkungan di rumah sakit.
Terapi Lingkungan adalah tindakan penyembuhan pasien melalui manipulasi
dan modifikasi unsur -unsur yang ada pada lingkungan dan berpengaruh positif
terhadap fisik dan psikis individu serta mendukung proses penyembuhan (Farida
Kusumawati & Yudi Hartono, 2011). Menurut (Suliswati, 2005) terapi lingkungan
merupakan keadaan lingkungan yang ditata untuk menunjang proses terapi, baik
fisik, mental maupun sosial agar dapat membantu pemulihan dan pemulihan klien.
Faktor yang menentukan status kesehatan seseorang adalah kondisi lingkungannya.
Upaya terapi harus bersifat komprehensif, holistik, dan multidisipliner. Diperhatikan
adanya jenis dan penempatan perabot. Lingkungan yang terapeutik, menciptakan
suasana dimana pasien dapat menyadari dan mengenal diri sendiri.

1
1.2 RUMUSAN MASALAH
Dalam suatu karangan ilmiah haruslah disusun secara sistematis dan runtutan
sesuai dengan ketentuan yang ada. Maka dari itu perlu penyusunan suatu rumusan
masalah yang menjadi batu pijak untuk pembahasan makalah ini. Adapun rumusan
masalah ialah sebagai berikut:
1.2.1. Apa definisi dari terapi lingkungan ?
1.2.2. Apa tujuan dari terapi lingkungan ?
1.2.3. Apa karakteristik dari terapi lingkungan ?
1.2.4. Bagaimana bentuk dari lingkungan ?
1.2.5. Apa saja macam - macam terapi lingkungan ?
1.2.6. Apa saja jenis kegiatan terapi lingkungan ?
1.2.7. Bagaimana kondisi pasien pada saat terapi lingkungan ?
1.2.8. Apa saja komponen fungsional terapi lingkungan ?
1.2.9. Bagaimana peran perawat dalam terapi lingkungan ?
1.3 TUJUAN PENULISAN
Tujuan Umum
Diharapkan mahasiswa mampu untuk mengetahui bagaimana terapi lingkungan
dan cara untuk menerapkan terapai lingkungan di keperawatan jiwa.

Tujuan Khusus

Dari Rumusan Masalah dia atas adapaun tujuan dari pembuatan makalah
meliputi :
1. Mahasiswa dapat memahami definisi terapi lingkungan
2. Mahasiswa dapat memahami tujuan terapi lingkungan
3. Mahasiswa dapat mengetahui karakteristik terapi lingkungan
4. Mahasiswa dapat mengetahui bentuk lingkungan
5. Mahasiswa dapat mengetahui macam - macam terapi lingkungan
6. Mahasiswa dapat mengetahui jenis kegiatan terapi lingkungan
7. Mahasiswa dapat mengetahui kondisi pasien pada saat terapi lingkungan
8. Mahasiswa dapat memahami komponen fungsional terapi lingkungan
9. Mahasiswa dapat mengetahui peran peran perawat dalam terapi lingkungan

2
1.4 MANFAAT PENULISAN

Manfaat teoritis
Secara teoritis makalah ini bermanfaat untuk menambah wawasan
bagaimana terapi lingkungan dan cara untuk menerapkan terapai lingkungan di
keperawatan jiwa.

Manfaat praktis

Dapat dijadiakan sebagai bahan pertimbangan atau dikembangkan lebih


lanjut, serta referensi terhadap penelitian yang sejenisnya.

3
BAB II
PEMBAHASAN

2.1 DEFINISI TERAPI LINGKUNGAN


Terapi Lingkungan adalah tindakan penyembuhan pasien melalui
manipulasi dan modifikasi unsur -unsur yang ada pada lingkungan dan
berpengaruh positif terhadap fisik dan psikis individu serta mendukung proses
penyembuhan ( Kusumawati Farida & Yudi Hartono, 2011).
Milieu therapy merujuk pada terapi sosiolingkungan dimana sikap dan
tindakan staf dalam pemberian layanan perawatan pada pasien ditentukan berdasar
kebutuhan emosional dan interpersonal klien (Shives, 2008).
Menurut Wilson (1992) Milieu Therapy adalah penggunaan lingkungan
untuk tujuan terapeutik. Setiap interaksi dengan pasien dipandang dapat
memberikan hasil yang menguntungkan dalam meningkatkan fungsi yang optimal.

2.2 TUJUAN TERAPI LINGKUNGAN


Terapi lingkungan merupakan salah satu bentuk terapi klien gangguan jiwa
yang dapat membantu efektifitas pemberian asuhan keperawatan jiwa. (Schultz
danVidebek, 1989) menyebutkan bahwa pemindahan klien dan lingkungan
terapeutik akan memberi kesempatan untuk berfokus pada pengembangan dalam
hal dan kesempatan belajar, agar klien mampu mengidentifikasi alternatif dan
solusi masalah.
Menurut Stuart dan Sundeen (1998) tujuan terapi lingkungan antara lain:

1. Meningkatkan pengalaman positif pasien khususnya yang mengalami


gangguan mental, dengan cara membantu individu dalam mengembangkan
harga diri.
2. Meningkatkan kemampuan untuk berhubungan denagan orang lain
3. Menumbuhkan sikap percaya pada orang lain
4. Mempersiapkan diri kembali ke masyarakat, dan
5. Mencapai perubahan yang positif

4
Untuk melakukan pembatasan terhadap perilaku maladaptif, perlu
ditekankan penggunaan terapi lingkungan dengan mengembangkan empat
keterampilan psikososial.
1. Orientation
Pencapaian orientasi dan kesadaran terhadap realitayang lebih baik. Orientasi
tersebut berhubungan dengan pemahaman klien terhadap orang, waktu, tempat
dan situasi. Sedangkan kesadaran terhadap realita dapat dikuatkan melalui
interaksi dan hubungan dengan orang lain.
2. Asertation
Kemampuan mengekspresikan perasaan dengan tepat. Klien perlu dianjurkan
mengekspresikan diri secara efektif dengan tingkah laku yang dapat diterima
masyarakat.
3. Acupation
Kemampuan klien untuk dapat memupuk percaya diri dan berprestasi melalui
keterampilan. Hal ini dapat dilakukan dengan memberikan aktivitas dalam
bentuk positif dan disukai klien, misalnya melukis, bermain musik, merangkai
bunga dan lain sebagainya.
4. Recreation
Kemampuan menggunakan dan membuat aktifitas yang menyenangkan,
contoh menebak kata, senam dan jalan-jalan.

2.3 KARAKTERISTIK TERAPI LINGKUNGAN


Agar tujuan yang kita harapkan dapat tercapai dengan hasil yang maksimal
dan sesuai harapan maka diperlukan lingkungan bersifat terapeutik untuk
mendorong terjadinya proses penyembuhan maupun rehabilitasi yang paripurna.
Lingkungan tersebut harus memiliki karakteristik, antara lain:
1. Pasien merasa akrab dengan lingkungan yang diharapkan
2. Pasien merasa nyaman dan senang atau tidak merasa takut dengan lingkungan
3. Kebutuhan-kebutuhan fisik pasien mudah dipenuhi
4. Lingkungan rumah sakit yang bersih

5
5. Menciptakan lingkungan yang aman dari terjadinya luka akibat impuls-impuls
pasien
6. Personal dari lingkungan rumah sakit menghargai pasien sebagai individu
yang memiliki hak, dan kebutuhan serta menerima perilaku pasien sebagai
respons adanya stress
7. Lingkungan yang dapat mengurangi larangan dan memberikan kesempatan
pada pasien menentukan pilihan dan membentuk perilaku baru.
Abdul Nasir (2011)
Beberapa stratetegi yang dapat diterapkan pada milieu terapi agar tercapai
tujuannya menurut (Minde R,2006) adalah :
1. Pengurangan dominasi : keluarga memberikan kebebasan pasien untuk
memilih, mengungkapkan perasan dan menjadi dirinya sendiri agar pasien
merasa bahwa dia juga mempunyai otonomi sendiri
2. Komunikasi yang terbuka antara perawat, pasien, keluarga maupun lingkungan
sosial pasien sehingga tercipta interaksi sosial yang baik
3. Interaksi terstruktur yaitu selalu dimulai dari tahapan-tahapan awal pengkajian
sampai dengan evaluasi
4. Fokus dengan kegiatan yang ingin dilakukan oleh pasien
5. Jika klien harus dirawat di rumah sakit maka diharapkan lingkungan tempat
mereka dirawat sama dengan lingkungan mereka sehari-hari

Adaptasi lingkungan, setelah keluar dari rumah sakit pasien akan


menemukan lingkungan yang baru sehingga diharapkan dari pihak yang akan
menerima pasien kembali yaitu keluarga dan masyarakat dapat menerima dan
memperlakukan pasien sama seperti manusia normal lainnya dan tidak
menganggap bahwa pasien dengan gangguan jiwa tidak layak kembali
bersosialisasi dan tidak mungkin untuk sembuh.

6
2.4 BENTUK LINGKUNGAN

1. Lingkungan Fisik
Menurut Abdul Nasir (2011) aspek terapi lingkungan meliputi semua
gambaran yang konkrit yang merupakan bagian eksternal kehidupan rumah
sakit. Setting-nya meliputi :
a) Bentuk dan struktur bangunan.
b) Pola interaksi antara masyarakat dengan rumah sakit.
Tiga aspek yang mempengaruhi terwujudnya lingkungan fisik terapeutik:
a. Lingkungan fisik yang tetap
Mencakup struktur dari bentuk bangunan baik eksternal maupun
internal. Bagian eksternal meliputi struktur luar rumah sakit, yaitu lokasi dan
letak gedung sesuai dengan program pelayanan kesehatan jiwa, salah satunya
kesehatan jiwa masyarakat. Berada di tengah-tengah pemukiman penduduk
atau masyarakat sekitarnya serta tidak diberi pagar tinggi. Hal ini secara
psikologis diharapkan dapat membantu memelihara hubungan terapeutik
pasien dengan masyarakat. Memberikan kesempatan pada keluarga untuk tetap
mengakui keberadaan pasien serta menghindari kesan terisolasi.
Bagian internal gedung meliputi penataan struktur sesuai keadaan rumah
tinggal yang dilengkapi ruang tamu, ruang tidur, kamar mandi tertutup, WC,
dan ryang makan. Masing-masing ruangan tersebut diberi nama dengan tujuan
untuk memberikan stimulasi pada pasien khususnya yang mengalami
gangguan mental, merangsang memori dan mencegah disorientasi ruangan.
Setiap ruangan harus dilengkapi dengan jadwal kegiatan harian, jadwal
terapi aktivitas kelompok, jadwal kunjungan keluarga, dan jadwal kegiatan
khusus misalnya rapat ruangan.
b. Lingkungan fisik semi tetap
Fasilitas berupa alat kerumahtanggaan meliputi lemari, kursi, meja,
peralatan dapur, peralatan makan, mandi, dsb. Semua perlengkapan diatur
sedemikian rupa sehingga memungkinkan pasien bebas berhubungan satu
dengan yang lainnya serta menjaga privasi pasien.

7
c. Lingkungan fisik tidak tetap
Lebih ditekankan pada jarak hubungan interpersonal individu serta
sangat dipengaruhi oleh sosial budaya.
2. Lingkungan Psikososial
Lingkungan yang kondusif yaitu fleksibel dan dinamis yang
memungkinkan pasien berhubungan dengan orang lain dan dapat mengambil
keputusan serta toleransi terhadap tekanan eksternal. Beberapa prinsip yang
perlu diyakini petugas kesehatan dalam berinteraksi dengan pasien:
1. Tingkah laku dikomunikasikan dengan jelas untuk mempertahankan,
mengubah tingkah laku pasien.
2. Penerimaan dan pemeliharaan tingkah laku pasien tergantung dari tingkah
laku partisipasi petugas kesehatan dan keterlibatan pasien dalam kegiatan
belajar.
3. Perubahan tingkah laku pasien tergantung pada perasaan pasien sebagai
anggota kelompok dan pasien dapat mengikuti atau mengisi kegiatan.
4. Kegiatan sehari-hari mendorong interaksi antara pasien.
5. Mempertahankan kontak dengan lingkungan misalnya adanya kalender
harian dan adanya papan nama dan tanda pengenal bagi petugas kesehatan.

2.5 MACAM - MACAM TERAPI LINGKUNGAN


Model terapi rehabilitasi yang dapat digunakan untuk membantu seseorang
melepaskan diri dari kecanduan dan merubah perilakunya menjadi lebih baik.
1. Model terapi moral
Model ini sangat umum dikenal oleh masyarakat serta bisa dilakukan dengan
pendekatan agama atau moral yang menekankan tentang dosa dan kelemahan
individu. Model terapi seperti ini sangat tepat diterapkan pada lingkungan
masyarakat yang masih memegang teguh nilai-nilai keagamaan dan moralitas di
tempat asalnya, karena model ini berjalan bersamaan dengan konsep baik dan
buruknya yang diajarkan oleh agama. Maka tidak mengherankan apabila model

8
terapi moral inilah yang menjadi landasan utama pembenaran kekuatan hukum
untuk berperan melawan penyalahgunaan narkoba.
2. Model terapi sosial
Model ini memakai konsep dari program terapi komunitas, dimana adiksi
terhadap obat-obatan dipandang sebagai fenomena penyimpangan sosial. Tujuan
dari model terapi ini adalah mengarahkan perilaku yang menyimpang tersebut ke
arah perilaku sosail yang lebih layak. Hal ini didasarkan atas kesadaran bahwa
kebanyakan pecandu narkoba hampir selalu terlibat dalam tindakan sosial
termasuk tindakan kriminal. Kelebihan dari model ini adalah perhatiannya
kepada perilaku adiksi pecandu narkoba yang bersangkutan, bukan pada obat-
obatan yang disalahgunakan. Prakteknya dapat dilakukan melalui ceramah,
seminar, dan terutama terapi berkelompok.
3. Model terapi psikologis
Model ini diadabtasi dari teori psikologis Mc Lellin, dkk yang menyebutkan
bahwa perilaku adiksi obat adalah buah dari emosi yang tidak berfungsi
selayaknya karena terjadi konflik, sehingga pecandu memakai obat pilihannya
untuk meringankan atau melepas beban psikologis itu. Model terapi ini
mementingkan penyembuhan emosional dari pecandu narkoba yang
bersangkutan, dimana jika emosinya dapat dikendalikan maka mereka tidak akan
mempunyai masalah lagi dengan obat-obatan. Jenis dari terapi model psikologis
ini biasanya banyak dilakukan pada konseling pribadi, baik dalam pusat
rehabilitasi maupun terapi pribadi.
4. Model terapi budaya
Model ini menyatakan bahwa perilaku adiksi obat adalah hasil sosialisasi
seumur hidup dalam lingkungan sosial atau kebudayaan tertentu. Dalam hal ini,
keluarga seperti juga lingkungan dapat dikategorikan sebagai “lingkungan sosial
dan kebudayaan tertentu”.Dasar pemikirannya adalah bahwa praktek
penyalahgunaan narkoba oleh anggota keluarga tertentu adalah hasil akumulasi
dari semua permasalahan yang terjadi dalam keluarga yang bersangkutan.
Sehingga model ini banyak menekankan pada proses terapi untuk kalangan
anggota keluarga dari para pecandu narkoba tersebut. . (Videbeck, 2008)

9
2.6. JENIS KEGIATAN DARI TERAPI LINGKUNGAN
1. Terapi Rekreasi
Terapi rekreasi adalah suatu kegiatan yang dilakukan pada waktu luang,
bertujuan agar pasien dapat melakukan kegiatan secara konstruktif dan
menyenangkan juga mengembangkan kemampuan hubungan social. Contohnya,
kegiatan yang banyak mengeluarkan seperti bulu tangkis, berenang, basket, dan
lain-lain diberikan kepada pasien dengan tingkatan umur remaja, sedangkan
untuk kegiatan yang tidak banyak mengeluarkan tenaga seperti bermain catur,
karambol, kartu, dan sebagainya dapat diberika kepada pasien dengan tingkatan
umur dewasa (orangtua).
2. Terapi Kreasi Seni
Dalam terapi ini perawat berperan sebagai leader dan bekerja sama
dengan orang lain yang ahli dalam bidangnya karena harus disesuaikan dengan
bakat dan minat, beberapa diantaranya adalah :
a. Dance therapy/menari;
Terapi yang menggunakan bentuk ekspresi non verbal dengan
gerakan tubuh dengan tujuan mengkomunikasikan tentang perasaan dan
kebutuhan pasien. identifikasi tarian kesukaan pasien yang biasanya
dilakukan sebelum masuk rumah sakit.
b. Terapi music
Suatu terapi yang dilakukan melalui music dengan tujuan untuk
memberikan kesempatan kepada para pasien dalam mengekspresikan
perasaannya seperti kesepian, sedih, dan bahagia. Bahkan terapi musik ini
dapat merelaksasikan otot-otot dan meningkatkan kuantitas hormon
endorfin dalam tubuh.
c. Terapi menggambar/melukis
Terapi menggambar/melukis dapat memberikan kesempatan pada
pasien untuk mengekspresikan tentang apa yang sedang terjadi pada
dirinya. Selain itu terapi ini juga dapat membantu menurunkan keteganggan
dan pasien dapat memusatkan pikiran pada kegiatan.

10
d. Literatur/biblio therapy
Terapi ini bertujuan untuk mengembangkan wawasan diri pasien
dan merupakan cara untuk mengeksprasikan perasaan/pikiran sesuai dengan
norma yang ada. Kegiatan dalam terapi ini dapat berupa membaca seperti
novel, buku-buku, majalah, dan kemudian bahan bacaan didiskusikan
bersama oleh para pasien. milieu terapi jenis ini juga akan meningkatkan
keterikatan dengan peer grup, sehingga dapat meningkatkan pula
kemampuan pasien berinteraksi.
3. Pet therapy
Pet therapybertujuan menstimulasi respon pasien yang tidak mampu
melakukan hubungan interaksi dengan orang lain dan biasanya mereka merasa
kesepian, dan menyendiri. Terapi menggunakan sarana binatang yang dapat
memberikan respon menyenangkan kepada pasien dan sering kali digunakan
pada pasien anak dengan autistic. Binatang yang digunakan adalah juga binatang
yang sudah familiar dengan pasien serta pasien mengetahui bagaimana cara
merawat binatang peliharaan dengan benar. hal ini juga dapat menumbuhkan
rasa tanggung jawab dan kasih sayang dalam memelihara binatang. Sehingga
diharapkan dengan binatang yang dititipkan tersebut pasien dapat mengambil
keputusan terutama apa yang harus dilakukan untuk binatang peliharaannya
tersebut.

4. Plant therapy
Terapi ini mengajarkan pasien untuk memelihara mahluk hidup dan
membantu pasien membina hubungan yang baik antar pribadi yang satu dengan
yang lain. Objek yang digunakan dalam terapi ini adalah tanaman/tumbuhan.
Senada dengan pet teraphy hanya obyek yang digunakan adalah tumbuh-
tumbuhan, dapat menjadi alternatif bagi pasien yang mungkin takut atau
mempunyai alergi terhadap binatang. Namum pada prinsipnya sama harapannya
dapat menumbukan rasa tanggung jawab dan kasih sayang. (Towsend, 2010).

11
2.7 KONDISI PASIEN KHUSUS PADA TERAPI LINGKUNGAN
Menurut Abdul Nasir (2011) Penatalaksanaan terapi lingkungan pada
kondisi pasien khusus :
1) Pasien rendah diri (low self esteem) , depresi (depression) bunuh diri
(suicide) :
a) Syarat lingkungan secara psikologis harus memenuhi hal-hal sebagai
berikut:
1. Ruangan aman dan nyaman
2. Terhindar dari alat-alat yang dapat mencederai diri.
3. Alat-alat medis, obat-obatan, dan jenis cairan medis di lemari dalam
keadaan terkunci
4. Ruangan harus di lantai satu dan mudah dipantau
5. Tata ruangan menarik; menempelkan poster yang cerahwarna dinding
cerah, ada bacaan yang ringan, lucu dan memotifasi hidup
6. Warna dinding cerah
7. Adanya bacaan ringan, lucu, dan memotivasi hidup
8. Hadirkan musik ceria, tv, dan film komedi
9. Ada lemari khusus untuk barang-barang pribadi pasien
b) Lingkungan sosial:
1. Komunikasi terapeutik dengan cara semua petugas menyapa pasien
sesering mungkin.
2. Memberikan penjelasan setiap akan melakukan kegiatan keperawatan
atau kegiatan medis lainnya.
3. Menerima pasien apa adanya jangan mengejek serta merendahkan.
4. Meningkatkan harga diri pasien.
5. Membantu menilai dan meningkatkan hubungan social secara bertahap.
6. Membantu pasien dalam berinteraksi dengan keluarganya.
7. Sertakan keluarga dalam rencana asuhan keperawatan, jangan
membiarkan pasien sendiri terlalu lama di ruangannya.
2) Pasien dengan amuk :
a. Lingkungan Fisik:

12
1) Ruangan aman, nyaman, dan mendapat pencahayaan yang cukup.
2) Pasien satu kamar, satu orang, bila sekamar lebih dari satu jangan
dicampur antara yang kuat dengan yang lemah.
3) Ada jendela berjeruji dengan pintu dari besi terkunci.
4) Tersedia kebijakan dan prosedur tertulis tentang protocol pengikatan dan
pengasingan secara aman, serta protocol pelepasan pengikatan.
b. Lingkungan Psikososial:
1) Komunikasi terapeutik, sikap bersahabat dan perasaan empati.
2) Observasi pasien tiap 15 menit.
3)  Jelaskan tujuan pengikatan/pengekangan secara berulang-ulang.
4) Penuhi kebutuhan fisik pasien.
5) Libatkan keluarga.

2.8 KOMPONEN FUNGSIONAL TERAPI LINGKUNGAN


1) Containment
Fungsi : mendukung kesehatan fisik dan merubah perilaku berkuasa.
Tujuan : Memberi keamanan pasien serta lingkungan serta
menumbuhkan Kepercayaan
Bentuk terapi : Isolasi dan pengikatan.
Aktifitas : Memberikan perlindungan fisik dan mencegah cidera
pada diri sendiri dan orang lain.
2) Support
Fungsi : Membantu pasien merasa aman dan nyaman serta
mengurangi kecemasan.
Tujuan : Meningkatkan harga diri dan percaya diri pasien.
Bentuk terapi : Penggunaan komunikasi terapeutik, pemberian
perhatian dengan sikap empati edukasi.
Aktifitas : Meningaktkan hubungan dan interaksi.
3) Struktur
Fungsi : Membantu mendorong perilaku yang maladaptif menjadi
adaptif.

13
Tujuan : Meningkatkan tanggyng jawab terhadap perilaku dan
konsekuensinya, serta meningkatkan keterlibatan pasien
terhadap aktifitas yang terstruktur.
Bentuk terapi : Terapi aktifitas, terapi aktifitas sosian, terapi occupation.
Aktifitas : menentukan jenis kegiatan sesuai dengan kondisi dan
kemampuan pasien.
4) Involvement
Fungsi : Mendorong pasien untuk dapat bekerjasama, melakukan
kompromi dan konfrontasi untuk meningkatkan
keterlibatan \ sosial.
Tujuan : Menstimulasi pasien tuntuk berperan serta aktif dalam
lingkungan sosial dan interaksi serta mengembangkan
keterampilan.
 Bentuk terapi : Terapi kelompok.
Aktifitas : Melakukan aktifitas kelompok.
5) Validation
Fungsi : Membantu pasien mengambangakan kapasitas kedekatan
yang lebih besar dan menyatu identitasnya.
Tujuan : Membantu pasien memahami dan menerima keunikan
dirinya serta mendorong integrasi antara perasaan
senang
dan tidak senang.
Bentuk terapi : Psikodrama, stimulasi persepsi dan validasi.
Aktifitas : Bermain drama, menerima pikiran perasaan pasien dan
memberi reinforcemen.

2.9 PERAN PERAN PERAWAT DALAM TERAPI LINGKUNGAN


Perawat merupakan fasilitator dalam kegiatan tersebut. (Copel,2007)
mengatakan adapun peran perawat dalam milieu terapi adalah :
1. Pencipta lingkungan yang aman dan nyaman.

14
Perawat menciptakan dan mempertahankan iklim/suasana yang akrab,
menyenangkan, saling menghargai di antara sesama perawat, petugas
kesehatan, dan pasien dan keluarga. Perawat yang menciptakan suasana yang
aman dari benda-benda atau keadaan-keadaan yang menimbulkan terjadinya
kecelakaan/luka terhadap pasien atau perawat. Menciptakan suasana yang
nyaman di lingkungan tempat pasien akan kembali. Mengkondisikan bahwa
lingkungan yang akan di tinggali pasien telah kondusif
2. Penyelenggaraan proses sosialisasi
Membantu pasien belajar berinteraksi dengan orang lain, mempercayai
orang lain, sehingga meningkatkan harga diri dan berguna bagi orang lain.
Mendorong pasien untuk berkomunikasi tentang ide-ide, perasaan dan
perilakunya secara terbuka sesuai dengan aturan di dalam kegiatan-kegiatan
tertentu. Melalui sosialisasi pasien belajar tentang kegiatan-kegiatan atau
kemampuan yang baru, dan dapat dilakukannya sesuai dengan kemampuan
dan minatnya pada waktu yang luang. Perawat juga membantu menghilangkan
stigma negatif di masyarakat tentang gangguan jiwa, sehingga tercipta suasana
masyarakat yang stabil
3. Sebagai teknis perawatan,
Fungsi perawat adalah memberikan/memenuhi kebutuhan dari pasien,
mengamati efek obat dan perilaku-perilaku yang menonjol/menyimpang serta
mengidentifikasi masalah-masalah yang timbul dalam terapi
tersebut. Mengevaluasi dan mengontrol keadaan pasien setelah keluar dari
rumah sakit dan memotivasi untuk melakukan kegiatan yang disukai serta
dengan tetap melanjutkan interaksinya dengan masyarakat
4. Sebagai leader atau pengelola.
Perawat harus mampu mengelola sehingga tercipta lingkungan
terapeutik yang mendukung penyembuhan baik dari keluarga maupun
lingkungan sekitar, dan memberikan dampak baik secara fisik maupun secara
psikologis kepada pasien.
Kompetensi yang harus dimiliki oleh perawat (milliu therapy)adalah
1. Berkomunikasi dengan jujur

15
2. Mempunyai rasa empati
3. Hangat dan mendukung tanpa keterikatan yang berelbihan
4. Dapat memecahkan masalah secara mandiri
5. Melihat kontribusi pasien dalam kegiatan yang mereka pilih
6. Mudah beradaptasi untuk berubah
7. Dapat bertindak sebagai pemimpin atau pengikut sesuai dengan
situasi
8. Menerima konflik dan konfrontasi sebagai bagian dari perawatan
9. Dapat mencari umpan balik tenang kemauan dan kemampuan
pasien
10. Mempecayai pasien dapat berubah dan hidup sesuai fungsinya
(Kaiser and Roberts, 2013)

16
BAB III
PENUTUP

3.1 KESIMPULAN
Terapi Lingkungan adalah tindakan penyembuhan pasien melalui manipulasi
dan modifikasi unsur -unsur yang ada pada lingkungan dan berpengaruh positif
terhadap fisik dan psikis individu serta mendukung proses penyembuhan. Tujuan
dari terapi lingkungan yaitu: Membatasi gangguan dan perilaku maladaptif dan
mengajarkan keterampilan psikososial.
Jenis jenis dari kegiatan terapi lingkungan adalah terapi rekreasi, terapi
kreasi seperti dance therapy, terapi musik, terapi menggambar, literatur therapi, ada
juga pet therapy dan plant therapy.
Disini peran perawat juga dibutuhkan untuk terapi lingkungan anatar lain
sebagai teknis perawatan, sebagai leader atau pengelola, sebagai pencipta
lingkungan yang aman dan nyaman, dan juga sebagi penyelenggara proses
sosialisasi

3.2 SARAN
Sebagai seorang perawat yang bertugas dalam terapi lingkungan harus dapat
menilai diri tentang kesadaran diri, kekuatan, dan kemampuan dalam hal
pengetahuan dan kebudayaan karena itu sangat membantu untuk bertoleransi
terhadap perilaku-perilaku yang ditujukan oleh pasien. Dan semoga makalah ini
dapat bermanfaat bagi kalangan lain dan pembaca.

17
DAFTAR PUSTAKA

Copel, Linda Carman. 2007. Kesehatan Jiwa dan Psikiatri.edisi 2. EGC. Jakarta
Departemen Sosial RI. 1992. Pedoman Operasional Rehabilitasi Sosial Bagi
Penderita Cacat Mental. Temanggung: PRPCM.
e-e-journal.uajy.ac.id/153/3/2TA12720.pdf. 2012 ”Pusat Penyembuhan Penyakit
Jiwa danGangguan Kejiwaan di Yogyakarta”. oleh NJL Gaol. 07 Agustus 2019
Kaiser, A. P., & Roberts, M. Y. 2013. Parent Implemented Enhanced Milieu
Teaching With Preschool Children Who Have Intellectual Disabilities.
Journal of Speech, Language and Hearing Research, 56, 295-309
Kusumawati Farida, Yudi Hatono, 2011. Buku ajar keperawatan jiwa. Jakarta:
SalembaMedika
Minde R, Haynes E, Rodenberg M. 2006. The ward milieu and its effect on the
behavior of psychogenic patients. Candn jnl of psy. 35(2)
Nasir, Abdul,dkk.2011.Dasar – Dasar Keperawatan Jiwa.Jakarta: Salemba Medika.
Purwaningsih, Wahyu, dkk. 2008. Asuhan Keperawatan Jiwa. Jogjakarta : Nuha
Medika press
Stuart, G. W, and Sundeen.1998.Buku Saku Keperawatan Jiwa. Jakarta : EGC
Townsend, Mary C.2010.Diagnosis Keperawatan Psikiatri.EGC.Jakarta
Videbeck, Sheila.2008.Buku Ajar Keperawatan Jiwa. EGC .Jakarta
Wilson, H.S, dan Kneils, C.R. 1992. Psychiatric Nursing. California: Addison.
Yosep, Iyus. 2007. Keperawatan Jiwa (edisi revisi). Bandung : PT Refika Aditama,

18