Anda di halaman 1dari 23

MAKALAH KEPERAWATAN JIWA

“TERAPI MODALITAS: TAK (TERAPI AKTIVITAS KELOMPOK”

DISUSUN OLEH :
KELOMPOK VII
KELAS III A/D-IV KEPERAWATAN

1. LUH MADE MAS SWANDEWI (P07120217 014)


2. PUTU PEBY DEWA YANTHI (P07120217 030)

KEMENTERIAN KESEHATAN REPUBLIK INDONESIA


POLITEKNIK KESEHATAN DENPASAR
JURUSAN KEPERAWATAN
2019
2
KATA PENGANTAR

Dengan memanjatkan puji dan syukur kehadirat Tuhan Yang Maha Esa atas
berkat dan rahmat-Nya sehingga saya dapat menyelesaikan makalah ini tepat pada
waktunya. Makalah ini disusun untuk memenuhi tugas dari mata kuliah Keperawatan
Jiwa. Adapun makalah ini mengenai Terapi Modalitas: TAK ( Terapi Aktivitas
Kelompok).
Tak lupa pula kami mengucapkan terima kasih kepada pihak-pihak yang telah
mendukung dan memberikan bimbingan dalam penyusunan makalah ini, terutama
kepada Dosen serta teman-teman yang telah banyak membantu dalam penyusunan
makalah ini.
Kami menyadari bahwa dalam penulisan makalah ini masih terdapat banyak
kesalahan dan kekurangan karena faktor batasan pengetahuan penyusun, maka kami
dengan senang hati menerima kritik serta saran–saran yang bersifat membangun demi
kesempurnaan makalah ini.

Semoga hasil dari penyusunan makalah ini dapat dimanfaatkan bagi generasi
mendatang, khususnya mahasiswa/mahasiswi D-IV Keperawatan Poltekkes Kemenkes
Denpasar.

Akhir kata, melalui kesempatan ini kami penyusun makalah mengucapkan


terimakasih.

Denpasar, 7 Agustus 2019

Penyusun

i
DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR...........................................................................................................................i
DAFTAR ISI.........................................................................................................................................ii
BAB I.....................................................................................................................................................1
PENDAHULUAN.................................................................................................................................1
1.1 LATAR BELAKANG..........................................................................................................1
1.2 RUMUSAN MASALAH......................................................................................................2
1.3 TUJUAN................................................................................................................................2
1.4 MANFAAT............................................................................................................................2
1.5 METODE PENULISAN......................................................................................................2
BAB II...................................................................................................................................................3
PEMBAHASAN...................................................................................................................................3
2.1 KONSEP TERAPI MODALITAS......................................................................................3
2.2 TERAPI AKTIVITAS KELOMPOK.................................................................................6
BAB III................................................................................................................................................16
PENUTUP...........................................................................................................................................16
3.1 KESIMPULAN.......................................................................................................................16
3.2 SARAN....................................................................................................................................16
DAFTAR PUSTAKA.........................................................................................................................17

ii
iii
BAB I

PENDAHULUAN

1.1 LATAR BELAKANG


Menurut Jhonson (1997), kesehatan jiwa merupakan suatu kondisi sehat
emosional, psikologis dan sosial yang terlihat dari hubungan interpersonal yang
memuaskan, perilaku dan koping yang efektif, konsep diri yang positif dan kestabilan
emosional. Kesehatan jiwa juga dapat diartikan sebagai keadaan sejahtera yang
dikaitkan dengan kebahagiaan, kegembiraan, asan, pencapaian, optimisme, dan
harapan. Sedangkan Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) mendefeniskan kesehatan itu
sendiri sebagai sehat fisik, mental dan sosial bukan sematamata keadaan tanpa
penyakit atau kelemahan. Jadi Seseorang dapat dianggap sehat jiwa jika mereka
mampu bersikap positif terhadap diri sendiri, memiliki kestabilan emosi, memiliki
konsep diri yang positif dan memiliki rasa bahagia dan puas (Dalam Videbeck, 2008).

Videbeck (2008) mendefinisikan gangguan jiwa adalah sebagai suatu sindrom atau
pola psikologis atau perilaku yang penting secara klinik yang terjadi pada seseorang
dan dikaitkan dengan adanya distres (misalkan gejala nyeri) atau disabilitas (yaitu
kerusakan pada satu atau lebih area fungsi yang penting) atau disertai peningkatan
risiko kematian yang menyakitkan.

Terapi Modalitas merupakan terapi utama dalam keperawatan jiwa. Terapi ini
diberikan dalam upaya mengubah perilaku pasien dari perilaku yang maladaptif
menjadi perilaku yang adaptif ( Prabowo, 2014).
Terapi modalitas merupakan proses pemulihan fungsi fisik, mental-emosional,
dan sosial ke arah keutuhan pribadi yang dilakukan secara holistik. Pasien sebagai
manusia yang meliputi biologis, psikologis, sosial dan spritual tentu saja memiliki
masalah yang multikompleks, dengan demikian penanganannya pun tentu harus
multidisipliner. Pemberian terapi baik psikofarmakologi maupun keperawatan yang
tepat dan akurat saja tidak cukup, tetetapi harus disusul dengan terapi modalitas yang
dipilih secara teratur dan kontinu sampai berfungsinya kembali perilaku normatif yang
stabil atau perilakunya adaptif.(YUSUF, Rizki, Nursalam, & Iskandar, 2007)

1
TAK adalah terapi modalitas yang dilakukan perawat kepada sekelompok klien
yang mempunyai masalah keperawatan yang sama. Aktivitas yang digunakan sebagai
terapi, dan kelompok digunakan sebagai target asuhan. Di dalam kelompok terjadi
dinamika interaksi yang saling bergantung, saling membutuhkan dan menjadi
laboratorium tempat klien berlatih perilaku baru yang adaptif untuk memperbaiki
perilaku lama yang maladaptif.(Rahayuningsih & Muharyari, 2016)
1.2 RUMUSAN MASALAH
1.2.1 Apa yang di maksud Terapi Modalitas ?
1.2.2 Apa yang dimakud Terapi Aktivitas Kelompok ?
1.3 TUJUAN
1.3.1 Tujuan Umum
a. Mengetahui Konsep terapi Modalitas.
b. Mengetahui pengertian TAK.
c. Mengetahui Tujuan Terapi Aktivitas Kelompok
d. Mengetahui Kerangka Teoritis Terapi Aktivitas Kelompok
e. Mengetahui Tahap Perkembangan Kelompok
f. Mengetahui Jenis Terapi Aktivitas Kelompok (TAK)
1.3.2 Tujuan Khusus
a. Mengetahui Pengorganisasian Terapi Aktivitas Kelompok
b. Mengetahui Program Antisipasi Masalah Dalam Terapi Aktivitas
Kelompok (TAK)
1.4 MANFAAT
Manfaat makalah ini bagi mahasiswa atau yang membaca makalah ini agar
lebih memahami tentang terapi aktivitas kelompok yang termasuk dalam terapi
modalitas.
1.5 METODE PENULISAN
Dengan mengumpulkan materi dari buku-buku dan situs di internet yang
berakitan dengan Terapi Modalitas dan TAK.

2
BAB II

PEMBAHASAN

2.1 KONSEP TERAPI MODALITAS


2.1.1 Pengertian Terapi Modalitas

Terapi modalitas adalah berbagai macam alternatif terapi yang dapat


diberikan pada pasien gangguan jiwa. Gangguan jiwa merupakan berbagai
bentuk penyimpangan perilaku dengan penyebab pasti belum jelas. Oleh
karenanya, diperlukan pengkajian secara mendalam untuk mendapatkan faktor
pencetus dan pemicu terjadinya gangguan jiwa. Selain itu, masalah kepribadian
awal, kondisi fisik pasien, situasi keluarga, dan masyarakat juga memengaruhi
terjadinya gangguan jiwa.(Yusuf, A.H & ,R & Nihayati, 2015)

Terapi modalitas merupakan suatu pendekatan yang digunakan dalam


menangani pasien dengan gangguan jiwa. Terapi modalitas merupakan suatu
pendekatan yang digunakan oleh tenaga kesehatan dalam menangani pasien
dengan gangguan jiwa.(Handayani, Sriati, & Widianti, n.d.)

Terapi modalitas merupakan terapi yang memfokuskan cara pendekatan

dengan pasien gangguan jiwa yang bertujuan untuk mengubah prilaku pasien
gangguan jiwa yang tadinya berprilaku maladaptif menjadi adaptif.(Mutya,
Keperawatan, Kesehatan, & Surakarta, 2018)

Maramis mengidentifikasi penyebab gangguan dapat berasal dari


masalah fisik, kondisi kejiwaan (psikologis), dan masalah sosial (lingkungan).
Apabila gangguan jiwa disebabkan karena masalah fisik, yaitu terjadinya
gangguan keseimbangan neurotransmiter yang mengendalikan perilaku

3
manusia, maka pilihan pengobatan pada farmakologi. Apabila penyebab
gangguan jiwa karena masalah psikologis, maka dapat diselesaikan secara
psikologis. Apabila penyebab gangguan karena masalah lingkungan sosial,
maka pilihan terapi difokuskan pada manipulasi lingkungan.
Dengan demikian, berbagai macam terapi dalam keperawatan
kesehatan jiwa dapat berupa somatoterapi, psikoterapi, dan terapi lingkungan
(Maramis, 1998).

GAMBAR 2.1 (a) Terapi Modalitas

Konsep terapi modalitas dalam keperawatan kesehatan jiwa terus


mengalami perkembangan disesuaikan dengan masalah yang dialami pasien,
intervensi keperawatan disesuaikan dengan penyebab utama terjadinya masalah
keperawatan.
Pada kelompok psikoterapi, perawat dapat memberikan berbagai upaya
pencegahan dan penanganan perilaku agresif, intervensi krisis, serta
mengembangkan terapi kognitif, perilaku, dan berbagai terapi aktivitas
kelompok. Pada kelompok terapi lingkungan, perawat perlu mengidentifikasi
perlunya pelaksanaan terapi keluarga, terapi lingkungan, terapi okupasi, dan
rehabilitasi.

4
Bagan berikut menggambarkan sinkronisasi berbagai alternatif terapi medis
dan keperawatan, yang sering disebut dengan istilah terapi modalitas.

GAMBAR 2.1 (b) Terapi Modalitas

Pemilihan terapi yang akan dilaksanakan bergantung pada kondisi pasien


dengan berbagai macam latar belakang kejadian kasusnya. Pilihan salah satu
terapi dapat dikombinasikan dengan terapi lain. (Yusuf, A.H & ,R & Nihayati,
2015)

2.1.2 Tujuan Terapi Modalitas


Tujun dilaksanakannya terapi modalitas dalam keperawatan jiwa adalah:
1. Menimbulkan kesadaran terhadap salah satu perilaku pasien
2. Mengurangi gejala gangguan jiwa
3. Memperlambat kemunduran
4. Membantu adaptasi terhadap situasi sekarang
5. Membantu keluarga dan orang-orang yang berarti
5
6. Mempengaruhi keterampilan merawat diri sendiri
7. Meningkatkan aktivitas
8. Meningkatkan kemandirian (Prabowo,2014).

2.1.3 Peran perawat dalam terapi modalitas


Secara umum penan perawat dalam pelaksanaan terapi modalitas bertindak
sebagai leader,fasilitator,evaluator,dan motivator ( Nasir dan Muhits, 2011).
Tindakan tersebut meliputi:
1. Mendidik dan mengorientasi kembali seluruh anggota keluarga, misalnya
perawat menjelaskan mengapa komunikasi itu penting ,apa visi seluruh
keluarga,kesamaan harapan apa yang dimiliki semua anggota keluarga
2. Memberikan dukungan kepada klien serta sistem yang mendukung klien
untuk mencapai tujuan dan usaha untuuk berubah. Perawat menyakinkan
bahwa anggota keluarga klien mampu memecahkan masalah yang dihadapi
anggota keluarganya.
3. Mengkoodinasi dan mengintegrasi sumber pelayanan kesehatan. Perawat
menunjukkan institusi kesehatan mana yang harusbekerja sama dengan
keluarga dan siapa yang bisa diajak konsultasi
4. Memberi pelayanan prevensi primer, sekunder dan tersier melalui
penyuluhan, perawatan dirumah, pendidikan dan sebagainnya. Bila ada
anggota keluarga yang kurang memahami perilaku sehat didiskusikan
atau bila ada keluarga yang membutuhkan perawatan

2.2 TERAPI AKTIVITAS KELOMPOK


2.2.1 Pengertian Terapi Aktivitas Kelompok (TAK)
Kelompok adalah kumpulan individu yang mempunyai hubungan satu
dengan yang lain, saling bergantungan, serta mempunyai norma yang sama
(Stuart dan Sundeen, 1991). Manusia adalah makhluk sosial, hidup
berkelompok, dan saling berhubungan untuk memenuhi kebutuhan sosial.
Kebutuhan sosial dimaksud antara lain rasa menjadi milik orang lain atau
keluarga, kebutuhan pengakuan orang lain, kebutuhan penghargaan orang lain,
dan kebutuhan pernyataan diri. Penggunaan kelompok dalam praktik

6
keperawatan jiwa memberikan dampak positif dalam upaya pencegahan,
pengobatan atau terapi serta pemulihan kesehatan jiwa. Selain itu, dinamika
kelompok tersebut membantu pasien meningkatkan perilaku adaptif dan
mengurangi perilaku maladaptif. Secara umum fungsi kelompok adalah
sebagai berikut.
1. Setiap anggota kelompok dapat bertukar pengalaman.
2. Berupaya memberikan pengalaman dan penjelasan pada anggota lain.
3. Merupakan proses menerima umpan balik.
(Yusuf, A.H & ,R & Nihayati, 2015)
TAK adalah terapi modalitas yang dilakukan perawat kepada
sekelompok klien yang mempunyai masalah keperawatan yang sama. Aktivitas
yang digunakan sebagai terapi, dan kelompok digunakan sebagai target asuhan.
Di dalam kelompok terjadi dinamika interaksi yang saling bergantung, saling
membutuhkan dan menjadi laboratorium tempat klien berlatih perilaku baru
yang adaptif untuk memperbaiki perilaku lama yang maladaptive.
(Rahayuningsih & Muharyari, 2016)
Terapi Aktivitas Kelompok (TAK) merupakan terapi yang bertujuan
mengubah perilaku pasien dengan memanfaatkan dinamika kelompok. Cara ini
cukup efektif karena di dalam kelompok akan terjadi interaksi satu dengan
yang lain, saling memengaruhi, saling bergantung, dan terjalin satu persetujuan
norma yang diakui bersama, sehingga terbentuk suatu sistem sosial yang khas
yang di dalamnya terdapat interaksi, interelasi, dan interdependensi.(Yusuf,
A.H & ,R & Nihayati, 2015)

2.2.2 Tujuan Terapi Aktivitas Kelompok


1. Terapeutik
Meningkatkan kemampuan pasien, memfasilitasi proses interaksi,
membangkitkan motivasi untuk kemajuan fungsi kognitif dan afektif, serta
mempelajari cara baru dalam mengatasi masalah dan melakukan
sosialisasi.
2. Rehabilitatif

7
Meningkatkan kemampuan mengekspresikan diri, kemampuan berempati,
meningkatkan kemampuan sosial, serta tanggung jawabnya dalam
hubungan interpersonal.(Yusuf, A.H & ,R & Nihayati, 2015)
2.2.3 Kerangka Teoritis Terapi Aktivitas Kelompok
1. Model Fokal Conflict
Menurut Whitakers dan Liebermen, terapi kelompok lebih berfokus
pada kelompok daripada individu. Prinsipnya adalah terapi kelompok ini
dikembangkan berdasarkan konflik yang tidak disadari. Pengalaman
kelompok secara berkesinambungan muncul, yang kemudian konflik
dikonfrontir untuk pemecahan masalah. Tugas terapis membantu anggota
kelompok memahami konflik dan mencapai penyelesaian konflik. Menurut
model ini pimpinan kelompok (leader) harus memfasilitasi dan
memberikan kesempatan pada anggota untuk mengekspresikan perasaan
dan mendiskusikannya untuk penyelesaian masalah. Contohnya, adanya
perbedaan pendapat antaranggota, cara masalah (perbedaan) ditanggapi
anggota, dan pemimpin mengarahkan alternatif penyelesaian masalah.
2. Model Komunikasi
Model komunikasi menggunakan prinsip komunikasi dan komunikasi
terapeutik. Komunikasi terapeutik merupakan suatu komunikasi yang
sangat memperhatikan kemampuan berbahasa, karena sifatnya yang
ditujukan untuk memberi terapi kepada pasien/klien atau lawan bicara.
Komunikasi terapeutik sendiri merupakan bagian dari komunikasi
interpersonal dalam dunia kesehatan khususnya bidang keperawatan yang
membutuhkan rasa percaya/kepercayaan (trust), sikap suportif
(supportiveness), dan sikap terbuka (open mindedness) dari masing-
masing pihak.(Fasya & Supratman, 2018)
Diasumsikan bahwa disfungsi atau komunikasi tidak efektif dalam
kelompok akan menyebabkan ketidakpuasan anggota kelompok, umpan
balik tidak adekuat, dan kohesi atau keterpaduan kelompok menurun.
Dengan menggunakan model ini, pemimpin berperan memfasilitasi
komunikasi efektif, masalah individu atau kelompok dapat diidentifikasi
dan diselesaikan. Pemimpin mengajarkan pada kelompok bahwa:
a. Perlu komunikasi di dalam kelompok;

8
b. Anggota harus bertanggung jawab terhadap apa yang diucapkan;
c. Komunikasi berada dalam semua level, misalnya komunikasi verbal,
nonverbal, terbuka, dan tertutup;
d. Pesan yang disampaikan dapat dipahami orang lain;
e. Anggota dapat menggunakan teori komunikasi dalam membantu satu
dan yang lain untuk melakukan komunikasi efektif.
Model ini bertujuan membantu meningkatkan keterampilan
interpersonal dan social anggota kelompok. Selain itu, teori komunikasi
membantu anggota merealisasikan bagaimana mereka berkomunikasi
secara nonverbal dan mengajarkan cara berkomunikasi lebih efektif.
Selanjutnya, pemimpin juga perlu menjelaskan secara singkat prinsip-
prinsip komunikasi dan cara menggunakan di dalam kelompok, serta
menganalisis proses komunikasi tersebut
3. Model Interpersonal
Sullivan mengemukakan bahwa semua tingkah laku (pikiran, perasaan,
dan tindakan) digambarkan melalui hubungan interpersonal. Contohnya,
interaksi dalam kelompok dapat dipandang sebagai proses sebab akibat,
yang perasaan dan tingkah laku satu anggota merupakan akibat dari
tingkah laku anggota lain. Pada teori ini terapis bekerja dengan individu
dan kelompok.
Anggota kelompok belajar dari interaksi antaranggota dan terapis.
Melalui proses ini, kesalahan persepsi dapat dikoreksi dan perilaku sosial
yang efektif dipelajari. Perasaan cemas dan kesepian merupakan sasaran
untuk mengidentifikasi dan mengubah perilaku. Contohnya, tujuan salah
satu terapi aktivitas kelompok untuk meningkatkan hubungan
interpersonal.
Pada saat konflik interpersonal muncul, pemimpin menggunakan
situasi tersebut untuk mendorong anggota untuk mendiskusikan perasaan
mereka dan mempelajari konflik yang membuat anggota merasa cemas,
serta menentukan perilaku yang digunakan untuk menghindari atau
menurunkan cemas pada saat terjadi konflik.
4. Model Pesikodrama

9
Model ini memotivasi anggota kelompok untuk berakting sesuai
dengan peristiwa yang baru terjadi atau peristiwa yang lalu. Anggota
memainkan peran sesuai dengan peristiwa yang pernah dialami. Contoh,
pasien memerankan ayahnya yang dominan atau keras. Psikodrama ini
dilakukan secara spontan dan memberi kesempatan pada anggota untuk
berakting di luar situasi spesifik yang pernah terjadi.

2.2.4 Tahap Perkembangan Kelompok


Kelompok mempunyai kapasitas untuk tumbuh dan berkembang.
Pemimpin yang akan mengembangkan kelompok akan melalui empat fase atau
tahap, yaitu fase prakelompok, fase awal kelompok, fase kerja kelompok, dan
fase terminasi kelompok.
1. Fase Prakelompok
Hal penting yang harus diperhatikan saat mulai membangun kelompok
adalah merumuskan tujuan kelompok. Tercapai atau tidaknya suatu tujuan
sangat dipengaruhi oleh perilaku pemimpin kelompok. Pemimpin
kelompok harus melakukan persiapan dengan penyusunan proposal.
2. Fase Awal Kelompok
Fase ini ditandai dengan ansietas karena masuk kelompok yang baru dan
peran yang baru. Yalom (1995) dalam Stuart dan Laraia (2005) membagi
fase ini menjadi tiga fase lagi, yaitu fase orientasi, konflik, dan kohesif
a. Tahap orientasi
Pada tahap ini pimpinan kelompok lebih aktif dalam memberi
pengarahan. Pemimpin mengorientasikan anggota pada tugas utama
dan melakukan kontrak yang terdiri atas tujuan, kerahasiaan, waktu
pertemuan, struktur, dan aturan komuniksi (hanya satu orang bicara
pada satu saat). Norma perilaku dan rasa memiliki atau kohesif antara
anggota kelompok diupayakan terbentuk fase orientasi.
b. Tahap konflik

10
Peran dependen dan independen terjadi pada tahap ini. Sebagian
pemimpin ingin sebagai pengambil keputusan, serta ada pula yang
hanya mengarahkan dan anggota nantinya yang akan memutuskan.
Selain itu, ada pula anggota yang netral dan hanya membantu
penyelesaian konflik peran yang terjadi. Perasaan bermusuhan yang
ditampilkan baik antaranggota kelompok maupun antara anggota dan
pimpinan dapat terjadi pada tahap ini. Pimpinan perlu memfasilitasi
ungkapan perasaan baik positif maupun negatif dan membantu
kelompok mengenali penyebab konflik, serta mencegah perilaku yang
tidak produktif, misalnya saling mengambinghitamkan.
c. Tahap kohesif
Setelah melalui tahap konflik, anggota kelompok akan
merasakan ikatan yang kuat satu sama lain. Perasaan positif akan
semakin saling diungkapkan. Anggota merasa bebas membuka diri
tentang informasi dan lebih intim dengan anggota yang lain. Pemimpin
tetap berupaya memberdayakan kemampuan anggota kelompok dalam
penyelesaian masalah. Pada akhirnya, anggota kelompok akan belajar
bahwa perbedaan tidak perlu ditakutkan. Semua persamaan dan
perbedaan tetap dapat mewujudkan tujuan menjadi suatu realitas.
3. Fase kerja kelompok
Fase ini kelompok sudah menjadi sebuah tim yang stabil dan realistis.
Bekerja keras tetapi tetap menyenangkan dan menjadi suatu tantangan bagi
anggota dan pemimpin kelompok. Tugas pimpinan kelompok pada fase ini
membantu kelompok mencapai tujuan dan mengurangi dampak dari hal-hal
yang dapat menurunkan produktivitas kelompok. Pemimpin akan bertindak
sebagai konsultan. Beberapa anggota akan sangat akrab, berlomba
mendapatkan perhatian pemimpin kelompok, tidak ada lagi kerahasiaan, dan
keinginan untuk berubah. Hal inilah yang harus diperhatikan oleh pimpinan
kelompok agar segera melakukan strukturisasi. Di akhir fase, anggota akan
menyadari produktivitas dan kemampuan yang bertambah disertai percaya diri
dan kemandirian.
4. Fase terminasi kelompok

11
Terminasi dapat sementara atau permanen. Terminasi dapat pula terjadi
karena anggota kelompok atau pimpinan keluar dari kelompok. Pada fase ini
dilakukan evaluasi yang difokuskan pada pencapaian kelompok dan individu.
Terminasi yang sukses ditandai oleh perasaan puas dan pengalaman kelompok
dapat digunakan secara individual pada kehidupan sehari-hari.

2.2.5 Jenis Terapi Aktivitas Kelompok (TAK)

1. Terapi Aktivitas Kelompok (TAK) Stimulasi Sensori


Aktivitas digunakan untuk memberikan stimulasi pada sensori pasien.
Kemudian diobservasi reaksi sensori pasien berupa ekspresi
emosi/perasaan melalui gerakan tubuh, ekspresi muka, dan ucapan.
Biasanya pasien yang tidak mau berkomunikasi secara verbal akan
terangsang sensoris emosi dan perasaannya melalui aktivitas tertentu.
Aktivitas tersebut berupa:
a. TAK stimulasi sensori suara, misalnya mendengar musik,
b. TAK stimulasi sensori menggambar,
c. TAK stimulasi sensori menonton TV/video.

2. Terapi Aktivitas Kelompok (TAK) Orientasi Realitas


Orientasi Realitas Pasien diorientasikan pada kenyataan yang ada di
sekitar pasien yaitu diri sendiri, orang lain yang ada di sekeliling pasien
atau orang yang dekat dengan pasien, serta lingkungan yang pernah
mempunyai hubungan dengan pasien pada saat ini dan masa yang lalu.
Aktivitasnya adalah sebagai berikut.
a. Sesi I : : pengenalan orang
b. Sesi II : pengenalan tempat
c. Sesi III : pengenalan waktu

3. Terapi Aktivitas Kelompok (TAK) Sosialisasi


Pasien dibantu untuk melakukan sosialisasi dengan individu yang ada
di sekitar pasien. Sosialisasi dapat pula dilakukan secara bertahap dari
interpersonal, kelompok, dan massa. Aktivitas yang diberikan antara lain
sebagai berikut.
12
a. Sesi I : menyebutkan jati diri.
b. Sesi II : mengenali jati diri anggota kelompok.
c. Sesi III : bercakap-cakap dengan anggota kelompok.
d. Sesi IV : menyampaikan dan membicarakan topik percakapan.
e. Sesi V : menyampaikan dan membicarakan masalah pribadi
dengan orang lain.
f. Sesi VI : bekerja sama dalam permainan sosialisasi kelompok.
g. Sesi VII : menyampaikan pendapat tentang manfaat kegiatan
TAK sosialisasi yang telah dilakukan.
4. Terapi Aktivitas Kelompok (TAK) Stimulasi Persepsi
Terapi Aktivitas kelompok (TAK) stimulasi persepsi adalah terapi yang
menggunakan aktivitas mempersepsikan berbagai stimulus yang terkait
dengan pengalaman hidup untuk didiskusikan dalam kelompok. (Ellina,
2012)
Pasien dilatih untuk mempersepsikan stimulus yang disediakan atau
stimulus yang pernah dialami. Kemampuan persepsi pasien dievaluasi dan
ditingkatkan pada tiap sesi. Dalam proses ini diharapkan respons pasien
terhadap berbagai stimulus dalam kehidupan menjadi adaptif. Aktivitas
yang diberikan antara lain sebagai berikut.
a. Sesi I : nonton TV
b. Sesi I I : membaca majalah, artikel/koran
c. Sesi III : gambar
d. Sesi IV :
4.1 Mengenal perilaku kekerasan yang biasa dilakukan.
4.2 Mencegah perilaku kekerasan melalui kegiatan fisik.
4.3 Mencegah perilaku kekerasan melalui interaksi asertif.
4.4 Mencegah perilaku kekerasan melalui kepatuhan minum obat.
4.5 Mencegah perilaku kekerasan melalui kegiatan ibadah
5. Terapi Aktivitas Kelompok (TAK) Stimulasi Persepsi Peningkatan Harga
Diri
Pasien dilatih untuk mengidentifikasi hal-hal positif pada diri sehingga
mampu menghargai diri sendiri. Kemampuan pasien dievaluasi dan
ditingkatkan pada tiap sesi. Dalam proses ini, pasien diharapkan mampu

13
merumuskan suatu tujuan hidup yang realistis. Aktivitas yang diberikan
adalah sebagai berikut.
a. Sesi I : identifikasi hal positif diri.
b. Sesi II : menghargai hal positif orang lain.
c. Sesi III : menetapkan tujuan hidup yang realistis.
6. Terapi Aktivitas Kelompok (TAK) Stimulasi Persepsi Mengontrol
Halusinasi
Pasien dilatih untuk dapat mengenal halusinasi yang dialaminya dan
dilatih cara mengontrol halusinasi. Kemampuan persepsi pasien dievaluasi
dan ditingkatkan pada tiap sesi. Dalam proses ini, respons pasien terhadap
berbagai stimulus dalam kehidupan diharapkan menjadi adaptif. Aktivitas
yang diberikan yaitu sebagai berikut.
a. Sesi I : mengenal halusinasi
b. Sesi II : mengontrol halusinasi dengan menghardik
c. Sesi III : mengontrol halusinasi dengan menyusun jadwal kegiatan
d. Sesi IV : mengontrol halusinasi dengan minum obat yang benar
e. Sesi V: mengontrol halusinasi dengan bercakap-cakap

2.2.6 Pengorganisasian Terapi Aktivitas Kelompok


1. Pemimpin kelompok (leader)
Tugas pemimpin kelompok adalah sebagai berikut.
a. Menyusun rencana aktivitas kelompok (proposal).
b. Mengarahkan kelompok dalam mencapai tujuan.
c. Memfasilitasi setiap anggota untuk mengekspresikan perasaan,
mengajukan pendapat, dan memberikan umpan balik.
d. Sebagai “role model”.
e. Memotivasi setiap anggota untuk mengemukakan pendapat dan
memberikan umpan balik.
2. Pembantu pemimpin kelompok (co-leader)
Tugasnya adalah membantu pemimpin dalam mengorganisir anggota
kelompok.
3. Fasilitator
Tugasnya adalah sebagai berikut.

14
a. Membantu pemimpin memfasilitasi anggota untuk berperan aktif dan
memotivasi anggota.
b. Memfokuskan kegiatan.
c. Membantu mengoordinasi anggota kelompok.
4. Observer
Tugas observer antara lain sebagai berikut.
a. Mengobservasi semua respons pasien.
b. Mencatat semua proses yang terjadi dan semua perubahan perilaku
pasien.
c. Memberikan umpan balik pada kelompok.

Perawat dapat bertugas sebagai pimpinan, pembantu pimpinan, fasilitator, dan


observer. Namun untuk kelompok yang telah melakukan aktivitas secara teratur,
pasien yang sudah kooperatif dan stabil dapat berperan sebagai pembantu
pimpinan, fasilitator, observer bahkan sebagai pimpinan. Perawat sebagai terapis
perlu mengarahkan.
Jumlah anggota kelompok berkisar antara 7 sampai 10 orang sedangkan
lamanyaaktivitas 45 sampai 60 menit. Sebelum memulai terapi, aktivitas kelompok
perlu menyusun proposal sebagai pedoman pelaksanaan terapi aktivitas kelompok.
(Yusuf, A.H & ,R & Nihayati, 2015)

2.2.7 Program Antisipasi Masalah Dalam Terapi Aktivitas Kelompok (TAK)

Masalah yang mungkin timbul dalam TAK antara lain sebagai berikut.

1. Adanya subkelompok.
2. Keterbukaan yang kurang.
3. Resistansi baik individu maupun kelompok.
4. Adanya anggota kelompok yang drop out.
5. Penambahan anggota baru.

Cara mengatasi masalah ini bergantung pada jenis kelompok terapis, kontrak,
dan kerangka teori yang mendasari terapi aktivitas tersebut. Program antisipasi
masalah merupakan intervensi keperawatan yang dilakukan untuk mengantisipasi
15
keadaan yang bersifat gawat darurat dalam terapi yang dapat memengaruhi proses
pelaksanaan TAK. Misalnya, pasien meninggalkan permainan, maka intervensi
yang diberikan panggil nama pasien, serta tanyakan alasan meninggalkan tempat
dan beri penjelasan.(Yusuf, A.H & ,R & Nihayati, 2015)

BAB III

PENUTUP

3.1 KESIMPULAN
TAK adalah terapi modalitas yang dilakukan perawat kepada sekelompok klien yang
mempunyai masalah keperawatan yang sama. Aktivitas yang digunakan sebagai terapi,
dan kelompok digunakan sebagai target asuhan. Di dalam kelompok terjadi dinamika
interaksi yang saling bergantung, saling membutuhkan dan menjadi laboratorium tempat
klien berlatih perilaku baru yang adaptif untuk memperbaiki perilaku lama yang
maladaptive.

16
Tujuan Terapi Aktivitas Kelompok, yaitu terapeutik dan rehabilitatif. Kerangka
Teoritis Terapi Aktivitas Kelompok terdiri dari Model Fokal Conflict, model
komunikasi, model interpersonal, dan model psikodrama.

Jenis Terapi Aktivitas Kelompok, yaitu Terapi Aktivitas Kelompok (TAK) Stimulasi
sensori, Terapi Aktivitas Kelompok (TAK) orientasi realitas, Terapi Aktivitas Kelompok
(TAK) sosialisasi, Terapi Aktivitas Kelompok (TAK) stimulasi persepsi, Terapi Aktivitas
Kelompok (TAK) Stimulasi Persepsi Peningkatan Harga Diri, dan Terapi Aktivitas
Kelompok (TAK) Stimulasi Persepsi Mengontrol Halusinasi.

3.2 SARAN

Penulis berharap semoga makalah ini bermanfaat bagi para pembaca. Penulis juga
menyadari masih banyak kekurangan di dalam makalah yang kami buat. Untuk itu penulis
mohon maaf apabila terjadi kesalahan maupun kekurangan di dalam makalah ini. Sebagai
bahan perbaikan kami meminta kritik maupun saran kepada para pembaca agar menjadi
pertimbangan dalam penulisan makalah selanjutnya.

DAFTAR PUSTAKA

Ellina, A. D. (2012). Pengaruh Terapi Aktifitas Kelompok (Tak) Stimulasi Persepsi Sessi 1-3
terhadap Kemampuan Mengendalikan Halusinasi pada Pasien Skizofrenia Hebefrenik.
STRADA Jurnal Ilmiah Kesehatan, 1(1), 56–62.

Fasya, H., & Supratman, L. P. (2018). Komunikasi Terapeutik Perawat Pada Pasien
Gangguan Jiwa Therapeutic Communication of Nurses. 21(1), 15–28.

17
https://doi.org/10.20422/jpk.v21i1.491

Handayani, D., Sriati, A., & Widianti, E. (n.d.). Tingkat Kemandirian Pasien Mengontrol
Halusinasi setelah Terapi Aktivitas Kelompok The Independency Level of Patients in
Controlling Hallucination After Perceptual Stimulation Therapeutic Group Activity.
1(April 2013).

Mutya, E. K. A., Keperawatan, P. S., Kesehatan, F. I., & Surakarta, U. M. (2018).


PENGALAMAN PASIEN GANGGUAN JIWA KETIKA DIBERIKAN TERAPI GUIDED
IMAGERY ( NARATIVE INQUIRY ).

Nasir, Abdul dan, Abdul, Muhith. 2011. Dasar-dasar Keperawatan jiwa, Pengantar dan Teori.
Jakarta: Salemba Medika.

Prabowo, E. 2014. Konsep dan Aplikasi Asuhan Keperawatan Jiwa. Jakarta : Nuha Medika

Rahayuningsih, A., & Muharyari, W. (2016). Pengaruh Pemberian Terapi Aktivitas


Kelompok Sosialisasi Terhadap Perubahan Perilaku Klien Isolasi Sosial. NERS Jurnal
Keperawatan, 8(2), 105. https://doi.org/10.25077/njk.8.2.105-114.2012

Videbeck, Sheila L. (2008). Buku Ajar Keperawatan Jiwa, Jakarta : EGC.

Yusuf, A.H, F., & ,R & Nihayati, H. . (2015). Buku Ajar Keperawatan Kesehatan Jiwa. Buku
Ajar Keperawatan Kesehatan Jiwa, (May 2015), 1–366. https://doi.org/ISBN 978-xxx-
xxx-xx-x

YUSUF, A., Rizki, F., Nursalam, & Iskandar. (2007). Terapi Aktivitas Kelompok ( TAK)
Modifikasi Sebagai Alternatif Pengendalian Halusinasi Dengar Pada Klien Skizofrenia. Ners,
2(1), 1–4

18