Anda di halaman 1dari 21

LAPORAN PENDAHULUAN ASUHAN KEPERAWATAN PADA PASIEN

DENGAN GANGGUAN PERSEPSI SENSORI : HALUSINASI


DI RUANG DRUPADI UPTD RUMAH SAKIT JIWA
PROVINSI BALI

OLEH :
I GUSTI AYU INTAN SETYARI
P07120217016

TK. III / S.Tr KEPERAWATAN

KEMENTERIAN KESEHATAN REPUBLIK INDONESIA


POLITEKNIK KESEHATAN DENPASAR
JURUSAN KEPERAWATAN
TAHUN 2020

1
LAPORAN PENDAHULUAN ASUHAN KEPERAWATAN
PADA PASIEN DENGAN HALUSINASI

A. Konsep Dasar Penyakit

1. Definisi Halusinasi
Istilah halusinasi berasal dari bahasa latin hallucination yang
bermakna secara mental mengembara atau menjadi linglung. Halusinasi
adalah persepsi atau tanggapan dari panca indra tanpa adanya rangsangan
(stimulus) eksternal (Stuart & Laraia, 2005). Halusinasi adalah perubahan
persepsi terhadap stimulus baik internal maupun eksternal yang disertai
dengan respon yang berkurang, berlebihan, atau terdistrosi. (SDKI, 2016).
Halusinasi merupakan gangguan atau perubahan persepsi dimana klien
mempersepsikan sesuatu yang sebenarnya tidak terjadi. Suatu penerapan
panca indra tanpa ada rangsangan dari luar. Suatu penghayatan yang
dialami suatu persepsi melalui panca indra tanpa stimulus eksteren:
persepsi palsu (Maramis, 2005).
Halusinasi adalah gangguan penyerapan atau persepsi panca indera
tanpa adanya rangsangan dari luar yang dapat terjadi pada sistem
penginderaan dimana terjadi pada saat kesadaran individu itu penuh dan
baik. Maksudnya rangsangan tersebut terjadi pada saat klien dapat
menerima rangsangan dari luar dan dari dalam diri individu. Dengan kata
lain klien berespon terhadap rangsangan yang tidak nyata, yang hanya
dirasakan oleh klien dan tidak dapat dibuktikan (Nasution,
2003).Halusinasi adalah kesan, respon dan pengalaman sensori yang salah
(Stuart, 2013).
Kesimpulannya bahwa halusinasi adalah persepsi klien melalui panca
indera terhadap lingkungan tanpa ada stimulus atau rangsangan yang
nyata.

2
2. Penyebab atau Faktor predisposisi
Hal-hal yang dapat mempengaruhi terjadinya halusinasi adalah:
a. Faktor biologis
Hal yang dikaji pada faktor biologis, meliputi adanya faktor herediter
gangguan jiwa, adanya risiko bunuh diri, riwayat penyakit atau trauma
kepala, dan riwayat penggunaan NAPZA.
b. Faktor psikologis
pada klien yang mengalami halusinasi, dapat ditemukan adanya
kegagalan yang berulang, individu korban kekerasan, kurangnya kasih
sayang, atau overprotektif.
c. Sosio budaya dan lingkungan
Klien dengan halusinasi didapatkan sosial ekonomi rendah, riwayat
penolakan lingkungan pada usia perkembangan anak, tingkat
pendidikan rendah, dan kegagalan dalam hubungan sosial (perceraian,
hidup sendiri), serta tidak bekerja.

3. Pohon Masalah
Berikut ini merupakan pohon masalah diagnosis gangguan persepsi sensori
:

Risiko mencederai diri sendiri, orang lain, dan


Effect
lingkungan

Perubahan sensori persepsi : Halusinasi


(Pendengaran, penglihatan, pengecapan, Core
perabaan, dan penciuman)

Gangguan konsep diri: Harga diri Cause


rendah kronis

3
(Sumber : Keliat, 2006 dalam Sutejo, 2018)

4. Klasifikasi
Ada beberapa jenis halusinasi pada klien gangguan jiwa. Sekitar 70%
halusinasi yang dialami klien gangguan jiwa adalah halusinasi dengar atau
suara, 20% halusinasi penglihatan, dan 10% adalah halusinasi penghidu,
pengecapan, dan perabaan. Pengkajian dapat dilakukan dengan
mengobservasi perilaku klien dan menanyakan secara verbal apa yang
sedang dialami klien.
Halusinasi diklasifikasikan menjadi 5 jenis, yaitu halusinasi
pendengaran, halusinasi penglihatan, halusinasi pengecapan, halusinasi
penghidu, halusinasi perabaan. Data objektif dikaji dengan cara
mengobservasi perilaku klien, sedangkan data subjektif dikaji melalui
wawancara dengan klien. Berikut ini merupakan deskripsi kelima jenis
halusinasi:

Jenis Halusinasi Data Objektif Data Subjektif


Halusinasi Dengar atau  Mengarahkan telinga pada  Mendengar suara atau bunyi
Suara sumber suara gaduh
(Auditory hearing voices  Marah marah tanpa sebab  Mendengar suara yan
or sounds yang jelas menyuruh untuk melakukan
Hallucinations)  Bicara atau tertawa sendiri sesuatu yang berbahaya
 Menutup telinga  Mendengar suara yang
mengajak bercakap cakap
 Mendengar suara orang yang
sudah meninggal.

Halusinasi Penglihatan  Ketakutan pada sesuatu atau  Melihat makhluk tertentu,


(Visual Hallucinations) objek yang dilihat bayangan, seseorang yang
 Tatapan mata menuju tempat sudah meninggal, sesuatu yang
tertentu menakutkan atau hantu,
 Menuju kearah tertentu cahaya.

Halusinasi Pengecapan  Adanya tindakan mengecap  Klien seperti sedang


(Gustatory sesuatu, gerakan mengunyah, merasakan makanan atau rasa
Hallucinations) sering meludah atau muntah tertentu, atau mengunyah
sesuatu.

Halusinasi Penghidung  Adanya gerakan cuping  Mencium bau dari bau-bauan

4
(Olfactory hidung karena mencium tertentu, seperti bau mayat,
Hallucibnations) sesuatu atau mengarahkan makanan, feses, bayi atau
hidung pada tempat tertentu parfum
 Klien sering mengatakan
bahwa ia mencium suatu bau
 Halusinasi penciuman sering
menyertai klien demensia,
kejang, atau penyakut
serebrovaskular.

Halusinasi Perabaan  Menggaruk – garuk  Klien mengatakan ada sesuatu


(Tactile Hallucinations) permukaan kulit yang menggerayangi tubuh,
 Klien terlihat menatap seperti tangan, serangga, atau
tubuhnya dan terlihat makhluk halus
merasakan sesuatu yang  Merasakan sesuatu di
seputar tubuhnya permukaan kulit, seperti rasa
yang sangat panas dan dingin,
atau rasa tersengat aliran
listrik.

5. Tingkat Halusinasi
Intensitas halusinasi meliputi empat tingkat, mulai dari tingkat I hingga
tingkat IV.

Tabel. Tingkat, Karakteristik, dan Perilaku Halusinasi

Tingkat Karakteristik Halusinasi Perilaku Klien


Tingkat I  Mengalami ansietas  Tersenyum
Memberi rasa nyaman kesepian, rasa bersalah,  Menggerakkan bibir tanpa
Tingkat ansietas sedang dan ketakutan suara
Halusinasi merupakan  Mencoba berfokus pada  Menggerakkan mata dengan
suatu kesenangan pikiran yang dapat cepat
menghilangkan ansietas  Respons verbal yang lambat
 Pikiran dan pengalaman  Diam dan konsentrasi
sensori masih ada
dalam kontrol
kesadaran (jika ansietas
dikontrol)

5
Tingkat II  Pengalaman sensori  Peningkatan sistem saraf
Menyalahkan menakutkan otak, tanda-tanda ansietas,
Tingkat ansietas berat  Mulai merasa seperti peningkatan denyut
Halusinasi kehilangan kontrol jantung, pernapasan, dan
menyebabkan rasa  Merasa dilecehkan oleh tekanan darah
antipati pengalaman sensori  Rentang perhatian
tersebut menyempit
 Menarik diri dari orang  Konsentrasi dengan
lain pengalaman sensori
NON PSIKOTIK  Kehilangan kemampuan
membedakan halusinasi dari
realita
Tingkat III  Klien menyerah dan  Perintah halusinasi ditaati
Mengontrol tingkat menerima pengalaman  Sulit berhubungan dengan
ansietas berat sensorinya orang lain
pengalaman sensori  Isi halusinasi menjadi  Rentang perhatian hanya
tidak dapat ditolak lagi atraktif beberapa detik atau menit
 Kesepian bila  Gejala fisik ansietas berat
pengalaman sensori berkeringat, tremor, dan
berakhir tidak mampu mengikuti
PSIKOTIK perintah
Tingkat IV  Pengalaman sensori  Perilaku panik
Menguasai tingkat menjadi ancaman  Berpotensi untuk
ansietas panik yang  Halusinasi dapat membunuh atau bunuh diri
diatur dan dipengaruhi berlangsung selama  Tindakan kekerasan agitasi,
oleh waham beberapa jam atau hari menarik diri, atau katatonia
PSIKOTIK  Tidak mampu merespons
perintah yang kompleks
 Tidak mampu merespons
terhadap lebih dari satu
orang

6
6. Rentang Respon Neurobiologi Halusinasi
Halusinasi merupakan gangguan dari persepsi sensori, sehingga
halusinasi merupakan gangguan dari respons neurobiology. Oleh
karenanya, secara keseluruhan, rentang respons halusinasi mengikuti
kaidah rentang respons neurobiologi. Rentang respons neorobiologi yang
paling adaptif adalah adanya pikiran logis, persepsi akurat, emosi yang
konsisten dengan pengalaman, perilaku yang cocok, dan terciptanya
hubungan sosial yang harmonis. Sementara itu, respons maladaptif
meliputi adanya waham, halusinasi, kesukaran proses emosi, perilaku
tidak terorganisasi, dan isolasi sosial: menarik diri. Berikut adalah
gambaran rentang respons neorobiologi.

Gambar. Rentang Respons Neurobiologi Halusinasi

Adaptif Maladaptif

 Pikiran logis  Pikiran kadang  Gangguan proses pikir :


 Persepsi akurat menyimpang waham
 Emosi konsisten  Ilusi  Halusinasi
dengan pengalaman  Emosi tidak stabil  Ketidakmampuan untuk
 Perilaku sesuai  Perilaku aneh atau mengalami emosi
 Berhubungan sosial tidak biasa  Ketidakteraturan Isolasi
 Menarik diri sosial
(Sumber: Stuart, 2013)

7. Gejala Klinis
Tanda dan gejala halusinasi dinilai dari hasil observasi terhadap klien
serta ungkapan klien. Adapun tanda dan gejala klien halusinasi adalah:
a. Data subjektif
Berdasarkan data subjektif, klien dengan gangguan sensori persepsi
halusinasi mengatakan bahwa klien:
Data subjektif mayor
1) Mendengar suara bisikan atau melihat bayangan
2) Merasakan sesuatu melalui indera perabaan, penciuman,
perabaan, atau pengecapan.

7
Data subjektif minor
1) Menyatakan kesal
b. Data objektif
Berdasarkan data objektif, klien dengan gangguan sensori persepsi
halusinasi melakukan hal-hal berikut:
Data objektif Mayor
1) Distrosi sensori
2) Respon tidak sesuai
3) Bersikap seolah melihat, mendengar, mengecap, meraba, atau
mencium sesuatu
Data objektif Minor
1) Menyendiri
2) Melamun
3) Konsentrasi buruk
4) Disorientasi waktu, tempat, orang atau situasi
5) Curiga
6) Melihat ke satu arah
7) Mondar – mandir
8) Bicara

8. Pemeriksaan Diagnostik
Pemeriksaan diagnostik yang dapat di lakukan pada klien dengan
halusinasi adalah :
1) Pemeriksaan Jantung
Pada pemeriksaan ini di dapatkan abnormalitas seperti : pembesaran
ventrikel, penurunan darah kortikal, terutama di kortek prefrontal,
penurunan aktivitas metabolik di bagian-bagian otak tertentu dan
atropi serabri
2) Teskromosom
Pemeriksaan ini di lakukan jika salah satu anggota keluarga ada yang
mempunyai riwayat dengan gangguan jiwa. Pada tes ini di fokuskan
pada kromosom  6, 13, 18,dan 24. Di sebutkan oleh ( Ann Isaacs ) jika

8
ada yang punya riwayat gangguan jiwa kemungkinan keturunannya
mengalamigangguan jiwa adalah : suatu orang yang kena  : resiko 12-
15 %, kedua orangtuanya yang terkena : resiko 35-39%, saudara
sekandung terkena : resiko 8-10%, kembar dizigotik yang terkena :
resiko 50 %.
3) Test psikologi atau psikotes
Pada tes ini di temukan adanya kurang identitas diri, salah interprestasi
terhadap realita dan menarik diri.

9. Penatalaksanaan Medis
Penatalaksanaan klien skizofrenia yang mengalami halusinasi adalah
dengan pemberian obat – obatan dan tindakan lain, (Stuart, Lara-ia, 2005)
yaitu :
a. Psikofarmakologis , obat yang lazim digunakan pada gejala halusinasi
pendengaran yang merupakan gejala psikosis pada klien skizofrenia
adalah obat anti psikosis. Adapun kelompok yang umum digunakan
adalah Fenotiazin (Tindal), Klorpromazin (Thorazine), Flufenazine
(Prolixine, Permitil), Mesoridazin (Seren-til), Perfenazin (Trilafon),
Proklorperazin (Compazine), Promazin (Sparine), Tioridazin (Mellaril),
Trifluoperazin (Stelazine), Trifluopromazin (Vesprin) 60-120 mg,
Tioksanten Klorprotiksen (Tarac-tan), Tiotiksen (Navane) 75-600 mg,
Butirofenon Haloperidol (Haldol) 1-100mg, Dibenzodiazepin Klozapin
(Clorazil) 300-900 mg, Dibenzokasazepin Loksapin (Loxitane) 20-150
mg, Dihidroindolon Molindone (Moban) 15-225 mg.
b. Terapi kejang listrik/Electro Compulsive Therapy (ECT)
c. Terapi Aktivitas Kelompok (TAK)

10. Komplikasi
a. Muncul perilaku untuk mencederai diri sendiri dan lingkungan, yang di
akibatkan dari persapsi sensori palsu tanpa adanya stimulis eksternal.

9
b. Klien dengan halusinasi mengisolasi dirinya dengan orang lain karena
tidak peka terhadap sesuatu yang nyata dan tidak nyata.

B. Konsep Dasar Asuhan Keperawatan


1. Pengkajian Keperawatan
A. Data yang Perlu Dikaji

10
a. Alasan masuk RS
Umumnya klien halusinasi di bawa ke rumah sakit karena keluarga
merasa tidak mampu merawat, terganggu karena perilaku klien dan
hal lain, gejala yang dinampakkan di rumah sehingga klien dibawa
ke rumah sakit untuk mendapatkan perawatan.
b. Faktor prediposisi
1. Faktor perkembangan terlambat
a. Usia bayi tidak terpenuhi kebutuhan makanan, minum dan
rasa aman.
b. Usia balita, tidak terpenuhi kebutuhan otonomi.
c. Usia sekolah mengalami peristiwa yang tidak terselesaikan
2. Faktor komunikasi dalam keluarga
a. Komunikasi peran ganda
b. Tidak ada komunikasi
c. Tidak ada kehangatan
d. Komunikasi dengan emosi berlebihan
e. Komunikasi tertutup
f. Orangtu yang membandingkan anak-anaknya, orangtua
yang otoritas dan konflik dalam keluarga
3. Faktor sosial budaya
Isolasi sosial pada yang usia lanjut, cacat, sakit kronis, tuntutan
lingkungan yang terlalu tinggi.
4. Faktor psikologis
Mudah kecewa, mudah putus asa, kecemasan tinggi, menutup
diri, ideal diri tinggi, harga diri rendah, identitas diri tidak jelas,
krisis peran, gambaran diri negatif dan koping destruktif.
5. Faktor biologis
Adanya kejadian terhadap fisik, berupa : atrofi otak,
pembesaran vertikel, perubahan besar dan bentuk sel korteks
dan limbik.
6. Faktor genetik

11
Telah diketahui bahwa genetik schizofrenia diturunkan melalui
kromoson tertentu. Namun demikian kromoson yang keberapa
yang menjadi faktor penentu gangguan ini sampai sekarang
masih dalam tahap penelitian. Diduga letak gen skizofrenia
adalah kromoson nomor enam, dengan kontribusi genetik
tambahan nomor 4,8,5 dan 22. Anak kembar identik memiliki
kemungkinan mengalami skizofrenia sebesar 50% jika salah
satunya mengalami skizofrenia, sementara jika di zygote
peluangnya sebesar 15 %, seorang anak yang salah satu orang
tuanya mengalami skizofrenia berpeluang 15% mengalami
skizofrenia, sementara bila kedua orang tuanya skizofrenia
maka peluangnya menjadi 35 %.
c. Faktor presipitasi
Faktor –faktor pencetus respon neurobiologis meliputi:
1. Berlebihannya proses informasi pada system syaraf yang
menerima dan memproses informasi di thalamus dan frontal
otak.
2. Mekanisme penghataran listrik di syaraf terganggu (mekanisme
penerimaan abnormal).
3. Adanya hubungan yang bermusuhan, tekanan, isolasi, perasaan
tidak berguna, putus asa dan tidak berdaya.
Menurut Stuart (2013), pemicu gejala respon neurobiologis
maladaptif adalah kesehatan, lingkungan dan perilaku.

1) Kesehatan
Nutrisi dan tidur kurang, ketidakseimbangan irama sikardian,
kelelahan dan infeksi, obat-obatan sistem syaraf pusat,
kurangnya latihan dan hambatan untuk menjangkau pelayanan
kesehatan.
2) Lingkungan
Lingkungan sekitar yang memusuhi, masalah dalam rumah
tangga, kehilangan kebebasab hidup dalam melaksanakan pola
aktivitas sehari-hari, sukar dala, berhubungan dengan orang

12
lain, isolasi sosial, kurangnya dukungan sosialm tekanan kerja,
dan ketidakmampuan mendapat pekerjaan.
3) Sikap
Merasa tidak mampu, putus asam merasa gagal, merasa punya
kekuatan berlebihan, merasa malang, rendahnya kemampuan
sosialisasi, ketidakadekuatan pengobatan dan penanganan
gejala.
4) Perilaku
Respon perilaku klien terhadap halusinasi dapat berupa curiga,
ketakutan, rasa tidak aman, gelisah, bingung, perilaku merusak,
kurang perhatian, tidak mampu mengambil keputusan, bicara
sendiri. Perilaku klien yang mengalami halusinasi sangat
tergantung pada jenis halusinasinya. Apabila perawat
mengidentifikasi adannya tanda-tanda dan perilaku halusinasi
maka pengkajian selanjutnya harus dilakukan tidak hanya
sekedar mengetahui jenis halusinasinya saja. Validasi informasi
tentang halusinasi yang iperlukan meliputi :
a. Isi halusinasi
Menanyakan suara siapa yang didengar, apa yang
dikatakan.
b. Waktu dan frekuensi
Kapan pengalaman halusianasi munculm berapa kali sehari.
c. Situasi pencetus halusinasi
Perawat perlu mengidentifikasi situasi yang dialami
sebelum halusinasi muncul. Perawat bisa mengobservasi
apa yang dialami klien menjelang munculnya halusinasi
untuk memvalidasi pertanyaan klien.
d. Respon klien
Sejauh mana halusinasi telah mempengaruhi klien. Bisa
dikaji dengan apa yang dilakukan oleh klien saat
mengalami pengalamana halusinasi. Apakah klien bisa
mengontrol stimulus halusinasinya atau sebaliknya.

13
d. Pemeriksaan fisik
Yang dikaji adalah tanda-tanda vital (suhu, nadi, pernafasan dan
tekanan darah), berat badan, tinggi badan serta keluhan fisik yang
dirasakan klien.
1. Status mental
a. Penampilan  :  tidak rapi, tidak serasi
b. Pembicaraan : terorganisir/berbelit-belit
c. Aktivitas motorik : meningkat/menurun
d. Afek : sesuai/maladaprif
e. Persepsi : ketidakmampuan menginterpretasikan stimulus
yang ada sesuai dengan nformasi
f. Proses pikir : proses informasi yang diterima tidak
berfungsi dengan baik dan dapat mempengaruhi proses
pikir
g. Isi pikir : berisikan keyakinan berdasarkan penilaian
realistis
h. Tingkat kesadaran
i. Kemampuan konsentrasi dan berhitung
2. Mekanisme koping
a. Regresi : malas beraktifitas sehari-hari
b. Proyeksi : perubahan suatu persepsi dengan berusaha untuk
mengalihkan tanggungjawab kepada oranglain.
c. Menarik diri : mempeecayai oranglain dan asyik dengan
stimulus internal
3. Masalah psikososial dan lingkungan: masalah berkenaan
dengan ekonomi, pekerjaan, pendidikan dan perumahan atau
pemukiman.

Masalah dan Data yang Perlu Dikaji

Masalah Keperawatan Data yang Perlu Dikaji


Perubahan persepsi sensori : a. Data Subjektif
Halusinasi - Klien mengatakan
mendengar sesuatu

14
- Klien mengatakan
melihat bayangan
putih
- Klien mengatakan
merasakan dirinya
seperti tersengat listrik
- Klien mengatakan
mencium bau tidak
sedap
- Klien mengatakan
kepalanya melayang di
udara
- Klien mengatakan
merasakan sesuatu
yang berbeda pada
dirinya
b. Data Objektif
- Klien terlihat berbicara
atau tertawa sendiri
saat diuji
- Bersikap seperti
mendengarkan sesuatu
- Berhenti tiba- tiba
ditengah kalimat
seolah- olah
mendengarkan sesuatu
- Disorientasi
- Konsentrasi rendah
- Pikiran cepat berubah
- Kacau dalam alur
pikiran

15
Pada proses pengkajian, data penting yang perlu didapatkan adalah sebagai
berikut :

a) Jenis dan isi halusinasi


Data objektif dapat diperoleh melalui observasi perilaku pasien,
sedangkan data subjektif dapat dikaji melalui proses wawancara
dengan pasien
b) Waktu, frekuensi, dan situasi yang menyebabkan munculnya
halusinasi.
- Waktu: pagi, siang, sore, malam
- Frekuensi: terus-menerus, sekali-kali
- Situasi: sendiri, atau saat terjadi kejadian tertentu
c) Respons terhadap halusinasi. Untuk mengetahui apa yang dilakukan
saat halusinasinya muncul

2. Diagnosa Keperawatan yang mungkin muncul


Berdasarkan data yang diperoleh, ditetapkan bahwa diagnosa keperawatan
halusinasi adalah
a) Gangguan persepsi sensori : Halusinasi
b) Resiko prilaku kekerasan
c) Harga diri rendah kronis

16
3. Rencana Keperawatan

Rencana Tindakan Keperawatan


Tujuan Kriteria hasil Intervensi Rasional
TUM: Setelah dilakukan asuhan 1.1 Bina hubungan saling percaya dengan : Hubungan saling percaya
Klien dapat keperawatan 15 menit dalam 1 x - Beri salam setiap berinteraksi merupakan langkah awal untuk
mengontrol pertemuan diharapkan TUK dapat - Perkenalkan diri, nama panggilan perawat, melakukan interaksi.
halusinasi yang tercapai dengan kriteria hasil dan tujuan perawat berkenalan
dialaminya sebagai berikut: - Tanyakan dan panggil nama kesukaan
TUK 1: - Wajah cerah, tersenyum pasien
Klien dapat - Mau berkenalan - Tunjukan sikap jujur dan menepati janji
membina - Ada kontak mata setiap kali berinteraksi
hubungan saling - Bersedia menceritakan - Tanyakan perasaan dan masalah yang
percaya perasaan dihadapi pasien
- Bersedia mengungkapkan - Buat kontrak interaksi yang jelas
masalahnya - Dengarkan dengan penuh perhatian ekspresi
perasaan pasien
TUK 2: Setelah dilakukan asuhan 2.1 Adakah kontak matasering dan singkat secara Dengan mengenal
Pasien dapat keperawatan 15 menit dalam 1 x bertahap hasusinasi pasien kita dapat
mengenal pertemuan diharapkan TUK dapat 2.2 Observasi tingkah laku klien terkait memberikan tindakan yang
halusinasinya tercapai dengan kriteria hasil halusinasinya : bicara dan tertawa tanpa tepat untuk pasien
sebagai berikut: stimulus, memandang kekiri atau ke kanan atau
- Pasien dapat menyebutkan seolah-olah ada teman bicara
waktu, isi, frekuensi 2.3 Bantu klien mengenali halusinasinya
timbulnya halusinasi a. Apakah ada suara yang didengar
b. Jika klien menjawab ada, lanjutkan : apa
yang dikatakan
c. Katakana bahwa perawat percaya klien
mendengar suara itu, namun perawat sendiri
tidak mendengarnya (dengan nada

17
bersahabat tanpa menuduh atau
menghakimi)
2.4 Diskusikan dengan klien
a. Situasi yang menimbulkan atau tidak
menimbulkan halusinasinya
b. Waktu dan frekuensi terjadinya halusinasi
(pagi, siang , sore, dan malam atau jika
sendiri, jengkel,atau sedih)
2.5 Diskusikan dengan klien apa yang dirasakan
jika terjadi halusinasi (marah, takut, sedih
senang) beri kesempatan mengungkapkan
perasaannya
TUK 3: Setelah dilakukan asuhan 3.1 Identifikasi bersama klien cara tindakan yang Dengan ini pasien dapat
Pasien dapat keperawatan selama 15 menit dalam dilakukan jika terjadi halusinasi (tidur, marah, mengetahui bagai mana cara
mengontrol 2 x pertemuan diharapkan TUK menyibukkan diri, dll) mengontrol/mencegah
halusinasinya dapat tercapai dengan kriteria hasil : 3.2 Diskusikan manfaat cara yang dilakukan klien, halusinasinya
- Klien dapat menyebutkan cara jika bermanfaat beri pujian
baru untuk mengontrol 3.3 Diskusikan cara baru untuk memutus atau
halusinasinya mengontrol halusinasi :
- Klien dapat memilih cara a. Katakan “saya tidak mau dengar kamu”
mengatasi halusinasi seperti (pada saat halusinasi terjadi)
yang telah didiskusikan dengan b. Menemui orang lain
klien (perawat/teman/anggota/keluarga) untuk
bercakap-cakap atau mengatakan
halusinasi yang didengar
c. Melakukan kegiatan yang bisa dilakukan
sehari - hari
3.4 Bantu klien memilih dan melatih cara memutus
halusinasi secara bertahap
TUK 4: Setelah dilakukan asuhan 4.1 Anjurkan klien untuk memberitahu keluarga Dengan adanya dukungan

18
Klien dapat keperawatan selama 30 menit dalam jika mengalami halusinasi dari keluarga akan
dukungan dari 1 kali pertemuan, keluarga dapat membantu serta
4.2 Diskusikan dengan keluarga (pada saat
keluarga dalam membina hubungan dengan perawat mempercepat proses
mengontrol Keluarga dapat menyebutkan berkunjung/pada saat kunjungan rumah). penyembuhan pasien
halusinasi.
pengertian, tanda dan kegiatan a. Gejala halusinasi yang dialami pasien
untuk mengendalikan halusinasi. b. Cara yang dapat dilakukan klien dan
keluarga untuk memutus halusinasi
c. Cara merawat anggota keluarga untuk
memutus halusinasi di rumah, beri kegiatan,
jangan biarkan sendiri, makan bersama,
bepergian bersama.
TUK 5: Setelah dilakukan asuhan 5.1 Diskusikan dengan klien tentang manfaat dan Minum obat dapat
Klien dapat keperawatan selama 15 menit dalam membantu proses
kerugian tidak minum obat, nama, warna, dosis,
memanfaatkan 1 kali pertemuan diharapkan TUK 4 penyembuhkan penyakit
obat dengan baik tercapai dengan kriteria hasil : cara, efek terapi, dan efek samping penggunaan klien
- Klien dapat
obat
mendemonstrasikan
penggunaan obat secara 5.2 Pantau klien saat penggunaan obat
benar
5.3 Beri pujian jika klien menggunakan obat
- Klien dapat memahami
akibat berhenti minum obat dengan benar
- Klien dapat mengetahui Nama,
5.4 Diskusikan berhenti minum obat tanpa
warna, dosis, efek terapi, efek
samping obat konsultasi dengan dokter

19
4. Implementasi

Dilakukan sesuai dengan intervensi dan diagnose dari pasien tersebut.

5. Evaluasi

Evaluasi dibagi menjadi 2 yaitu evaluasi formatif dan evaluasi sumatif, dimana evaluasi formatif digunakan di bagian
implementasi dan tidak menyeluruh sedangkan evaluasi sumatif digunakan di bagian evaluasi dan bersifat menyeluruh
dalam mengevaluasi pasien.

20
DAFTAR PUSTAKA

Maramis, W. F. (2005). Ilmu Kedokteran Jiwa. Edisi 9. Surabaya: Airlangga

University Press.

Nasution, Saidah, S. 2003. Asuhan Keperawatan Pada Pasien Dengan

Perubahan Sensori Persepsi: Halusinasi

Stuart, GW, Laraia, M.T., 2005. Buku Saku Keperawatan Jiwa. Jakarta :

EGC

Stuart, Gail Wiscarz, Sandra J Sundeen. 2013. Buku Saku Keperawatan Jiwa

Edisi 5. Jakarta : EGC

Sutejo. 2018. Keperawatan Jiwa (Konsep dan Praktik Asuhan Keperawatan

Kesehatan Jiwa : Gangguan Jiwa dan Psikososial). Yogyakarta : PT.

Pustaka Baru.

SDKI. 2016. Standar Diagnosis Keperawatan Indonesia. Jakarta: DPP PPNI

21