Anda di halaman 1dari 55

LAPORAN PENDAHULUAN DAN ASUHAN KEPERAWATAN IBU

DENGAN MASALAH KESEHATAN REPRODUKSI


(GANGGUAN MESNTRUASI)

OLEH :

1. KETUT HERMAWAN (P07120217024)


2. NI LUH GEDE DIPA LINDAYANI (P07120217025)
3. I PUTU YOAN SUGIANTARA (P07120217026)
4. KADEK MEGA ASRINI (P07120217027)
5. I GEDE JUMENEK ARTA YASA (P07120217028)
6. PIA PERMATASARI (P07120217029)
7. PUTU PEBY DEWA YANTHI (P07120217030)

TINGKAT 2.A D IV KEPERAWATAN

KEMENTERIAN KESEHATAN RI
POLITEKNIK KESEHATAN DENPASAR
JURUSAN KEPERAWATAN
2018
KATA PENGANTAR

Puji syukur kami panjatkan kehadirat Tuhan Yang Maha Esa, karena atas
rahmat dan karunia-Nya kami dapat menyelesaikan tugas Makalah Maternitas
tentang Laporan Pendahuluan DanAsuhan KeperawatanIbu Postpartum Dengan
Komplikasi Perdarahan.
Kami mengucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada semua
pihak – pihak yang sudah terkait dalam penyusunan tugas makalah ini karena
telah memberikan kesempatan kepada kami untuk penyusunan makalah ini.
Dengan segala kerendahan hati kami menyadari sepenuhnya bahwa dalam
penyusunan makalah ini masih jauh dari kata sempurna baik dari segi penampilan
maupun dari segi kualitas penulisan. Oleh sebab itu, kami mengharapkan kritik
dan saran yang dapat membangun jika terdapat kesalahan, kekurangan, dan kata –
kata yang kurang berkenan dalam makalah ini, dan tentu saja dengan kebaikan
bersama dan untuk bersama.
Akhir kata kami mengucapkan terima kasih kepada semua pihak yang
telah membantu dalam penyusunan makalah ini dan semoga makalah ini dapat
bermanfaat bagi semua pihak dan pembaca.

Denpasar,30 Oktober 2018

Penulis

i
DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR.............................................................................................i
DAFTAR ISI..........................................................................................................ii
BAB I PENDAHULUAN.......................................................................................1
1.1 LATAR BELAKANG...................................................................................1

1.2 RUMUSAN MASALAH...............................................................................2

1.3 TUJUAN PENULISAN.................................................................................2

BAB II PEMBAHASAN........................................................................................3
2.1. MENSTRUASI..................................................................................................3

2.1.1. Definisi Menstruasi...............................................................................3


2.1.2. Fisiologi Siklus dan Fase Menstruasi..................................................4
2.1.3. Perubahan hormonal dalam siklus menstruasi normal..................10
2.2 MASA REMAJA...........................................................................................12

2.3. GANGGUAN MENSTRUASI.....................................................................14

2.3.1. Kelainan dalam banyaknya darah dan lamanya perdarahan pada


menstruasi......................................................................................................14
2.3.2. Kelainan siklus....................................................................................17
2.3.3. Perdarahan di luar menstruasi (Metroragia)..................................26
2.3.4. Dismenorea..........................................................................................31
2.3.5. Syndroma Pramenstruasi (Premenstrual Syndrome).....................33
BAB III PENUTUP..............................................................................................51
3.1 Simpulan.......................................................................................................51

3.2 Saran.............................................................................................................51

DAFTAR PUSTAKA...........................................................................................52

ii
BAB I

PENDAHULUAN

1.1 LATAR BELAKANG

Menstruasi atau haid mengacu kepada pengeluaran secara


periodik darah dan sel-sel tubuh dari vagina yang berasal dari dinding
rahim wanita. Menstruasi dimulai saat pubertas dan menandai
kemampuan seorang wanita untuk mengandung anak, walaupun
mungkin faktor-faktor kesehatan lain dapat membatasi kapasitas ini.
Menstruasi biasanya dimulai antara umur 10 dan 16 tahun, tergantung
pada berbagai faktor, termasuk kesehatan wanita, status nutrisi, dan
berat tubuh relatif terhadap tinggi tubuh. Menstruasi berlangsung kira-
kira sekali sebulan sampai wanita mencapai usia 45 – 50 tahun, sekali
lagi tergantung pada kesehatan dan pengaruh-pengaruh lainnya. Akhir
dari kemampuan wanita untuk bermenstruasi disebut menopause dan
menandai akhir dari masa-masa kehamilan seorang wanita.Panjang rata-
rata daur menstruasi adalah 28 hari, namun berkisar antara 21 hingga 40
hari.Panjang daur dapat bervariasi pada satu wanita selama saat-saat
yang berbeda dalam hidupnya, dan bahkan dari bulan ke bulan
tergantung pada berbagai hal, termasuk kesehatan fisik, emosi, dan
nutrisi wanita tersebut.

Menstruasi merupakan bagian dari proses reguler yang


mempersiapkan tubuh wanita setiap bulannya untuk kehamilan. Daur
ini melibatkan beberapa tahap yang dikendalikan oleh interaksi hormon
yang dikeluarkan oleh hipotalamus, kelenjar dibawah otak depan, dan
indung telur. Pada permulaan daur, lapisan sel rahim mulai berkembang
dan menebal.Lapisan ini berperan sebagai penyokong bagi janin yang
sedang tumbuh bila wanita tersebut hamil.Hormon memberi sinyal pada
telur di dalam indung telur untuk mulai berkembang.Tak lama
kemudian, sebuah telur dilepaskan dari indung telur wanita dan mulai

1
bergerak menuju tuba Falopii terus ke rahim. Bila telur tidak dibuahi
oleh sperma pada saat berhubungan intim (atau saat inseminasi buatan),
lapisan rahim akan berpisah dari dinding uterus dan mulai luruh serta
akan dikeluarkan melalui vagina. Periode pengeluaran darah, dikenal
sebagai periode menstruasi (atau mens, atau haid), berlangsung selama
tiga hingga tujuh hari. Bila seorang wanita menjadi hamil, menstruasi
bulanannya akan berhenti. Oleh karena itu, menghilangnya menstruasi
bulanan merupakan tanda (walaupun tidak selalu) bahwa seorang
wanita sedang hamil.Kehamilan dapat di konfirmasi dengan
pemeriksaan darah sederhana.

1.2 RUMUSAN MASALAH


1. Apa yang dimaksud dengan menstruasi ?
2. Apa yang dimaksud dengan masa remaja ?
3. Apa saja gangguan-gangguan yang ada dalam menstruasi ?
4. Bagaimanakah asuhan keperawatan pada pasien dengan gangguan
menstruasi (desminore)?

1.3 TUJUAN PENULISAN


1. Untuk mengetahui apa yang dimaksud dengan menstruasi
2. Untuk mengetahui apa yang dimaksud dengan masa remaja
3. Untuk mengetahui gangguan-gangguan apa saja yang terdapat
dalam menstruasi.
4. Untuk mengetahui asuhan keperawatan pada pasien dengan
gangguan menstruasi (desminore).

2
BAB II
PEMBAHASAN

2.1. MENSTRUASI

2.1.1. Definisi Menstruasi

Menstruasi adalah gejala periodik pelepasan darah dan mukosa


jaringan dari lapisan dalam rahim melalui vagina. Menstruasi
diperkirakan terjadi setiap bulan selama masa reproduksi, dimulai saat
pubertas (menarche) dan berakhir saat menopause, kecuali selama
masa kehamilan. Berdasarkan pengertian klinik, menstruasi dinilai
berdasarkan 3 hal : Siklus menstruasi, lama menstruasi, dan jumlah
darah yang keluar. (Sarwono, 2011)

1. Siklus Menstruasi
Siklus menstruasi merupakan daur menstruasi yang tiap
bulannya dialami wanita dihitung mulai dari hari pertama menstruasi
atau datang bulan, sampai hari pertama menstruasi di bulan
berikutnya. Menstruasi dikatakan normal bila didapati siklus
mentruasi tidak kurang dari 24 hari, tetapi tidak melebihi 35 hari,
kira-kira 24 – 35 hari dikatakan siklus menstruasi yang normal
(Sarwono, 2011).

2. Lama Menstruasi
Lama menstruasi adalah durasi atau lamanya darah yang
muncul saat menstruasi pada wanita (MedScape), atau jarak dari hari
pertama menstruasi (darah keluar dari vagina) sampai perdarahan
menstruasi berhenti. Biasanya lama menstruasi yang dapat dikatakan
normal berkisar antara 4 – 8 hari. (Sarwono, 2011)

3
3. Volume Menstruasi
Volume menstruasi merupakan jumlah darah yang keluar
selama masa menstruasi. Dikatakan volume yang normal jika jumlah
darah yang keluar selama menstruasi berlangsung tidak lebih dari 80
ml, atau dalam satu harinya ganti pembalut sebanyak 2 – 6 kali.
(Sarwono, 2011)

2.1.2. Fisiologi Siklus dan Fase Menstruasi

Siklus menstruasi dibedakan atas siklus ovarium dan siklus


uterus. Siklus ovarium menjelaskan perubahan yang terjadi pada
folikel ovarium sedangkan siklus uterus menggambarkan perubahan
dalam lapisan endometrium rahim. Kedua siklus tersebut dapat dibagi
menjadi tiga tahap. Siklus ovarium terdiri dari fase folikuler, ovulasi,
dan fase luteal, sedangkan siklus uterus terdiri dari menstruasi, fase
proliferasi, dan fase sekretori. (Sherwood, 2007).

1. Siklus Ovarium
Pada siklus ovarium, terjadi dua fase yang bergantian secara
terus-menerus antara fase folikular, yang ditandai dengan keberadaan
folikel matang, dan fase luteal yang ditandai dengan keberadaan
korpus luteum. Dalam keadaan Normal siklus ini dapat diinterupsi
jika terjadi kehamilan dan akhirnya berakhir dengan masa
menopause. (Sarwono, 2011)
Pada waktu tertentu sepanjang siklus, sebagian dari folikel
primer mulai berkembang. Namun, hanya beberapa yang melakukan
perkembangan selama fase folikular, ketika lingkungan hormonal
yang tepat untuk mempromosikan pematangan mereka, berlanjut
setelah tahap awal pengembangan. Pertama, lapisan sel granulosa
dalam folikel primer berproliferasi untuk membentuk beberapa

4
lapisan yang mengelilingi oosit. Sel granulosa ini mengeluarkan
sesuatu seperti gel "kulit" tebal, yang mencakup oosit dan
memisahkannya dari granulosa di sekitar sel. Membran intervensi ini
dikenal sebagai zona pelusida. (Sherwood, 2007)
Fase folikuler adalah bagian pertama dari siklus ovarium.
Selama fase ini, folikel ovarium matang dan siap untuk melepaskan
sel telur. Bagian akhir dari fase ini tumpang tindih dengan fase
proliferasi dari siklus uterus.
Pengaruh kenaikan folikel merangsang Folicle Stimulating
Hormone (FSH) pada hari-hari pertama dari siklus, beberapa folikel
ovarium dirangsang oleh FSH. Folikel ini, yang sudah ada pada saat
lahir dan telah berkembang menjadi yang lebih baik selama bertahun-
tahun dalam proses yang dikenal sebagai folikulogenesis, bersaing
satu sama lain untuk mendominasi. Di bawah pengaruh beberapa
hormon, satu dari folikel ini akan berhenti tumbuh, sementara satu
folikel dominan di ovarium akan terus tumbuh sampai matang.
Folikel yang mencapai kematangan disebut folikel tersier, atau folikel
de Graaf dan mengandung sel telur. (Sherwood, 2007)
Ovulasi adalah fase kedua dari siklus ovarium di mana telur
yang matang dilepaskan dari folikel ovarium ke dalam saluran telur.
Selama fase folikuler, estradiol menekan produksi Leutinizing
Hormone (LH) dari kelenjar hipofisis anterior. Ketika telur sudah
hampir matang, kadar estradiol mencapai ambang batas, efek ini akan
berbalik dan merangsang produksi sejumlah besar LH. Proses ini,
dikenal sebagai lonjakan LH, dimulai sekitar 12 hari dari siklus rata-
rata dan bisa berlangsung selama 48 jam.
Mekanisme yang tepat dari respon yang berlawanan dari
tingkat LH estradiol belum dipahami dengan baik. Pada hewan,
Gonadotropin Releasing Hormone (GnRH) menunjukkan
gelombangnya telah mendahului lonjakan LH, menunjukkan bahwa
efek utama estrogen berada pada hipotalamus. Sekresi GnRH ini
dapat diaktifkan oleh kehadiran dua reseptor estrogen di hipotalamus

5
yang berbeda : alpha reseptor estrogen, yang bertanggung jawab
untuk umpan balik negatif estradiol - LH, dan beta reseptor estrogen,
yang bertanggung jawab untuk hubungan positif estradiol – LH.
Namun pada manusia telah menunjukkan bahwa tingkat tinggi
estradiol dapat memicu peningkatan mendadak dalam LH, meskipun
tingkat dan frekuensi GnRH tetap konstan, menunjukkan estrogen
yang bekerja langsung pada hipofisis untuk memprovokasi lonjakan
LH. (Rigon F, 2012)
Pelepasan LH membuat matangnya telur dan melemahkan
dinding folikel dalam ovarium, sehingga folikel menonjol dan
dinding tempat menonjol itu melemah untuk melepaskan oosit
sekunder. Oosit sekunder segera matang menjadi ootid dan kemudian
menjadi sel telur matang. Ovum matang memiliki diameter sekitar
0.2 mm. Dua indung telur kiri dan kanan berovulasi secara acak, tidak
ada koordinasi kiri dan kanan. Kedua ovarium akan melepaskan telur,
dan jika kedua telurnya dibuahi, hasilnya adalah kembar fraternal.
(Rigon F, 2012)
Setelah dilepaskan dari ovarium, sel telur akan dibawa ke tuba
falopi dengan fimbria, yang merupakan lapisan paling pinggir dari
jaringan tuba fallopi. Setelah sekitar satu hari, telur yang tidak
dibuahi akan hancur atau larut dalam tuba fallopi.
Fase luteal adalah tahap akhir dari siklus ovarium dan
kejadian ini bersamaan dengan fase sekresi dari siklus uterus. Selama
fase luteal, hormon FSH dan LH menyebabkan bagian-bagian yang
tersisa dari folikel dominan untuk berubah menjadi korpus luteum,
yang memproduksi progesteron. Peningkatan progesteron akan
menginduksi produksi estrogen. Hormon yang diproduksi oleh korpus
luteum juga menekan produksi FSH dan LH agar korpus luteum
dapat mempertahankan dirinya. Akibatnya, tingkat FSH dan LH jatuh
dengan cepat dari waktu ke waktu, dan korpus luteum kemudian
mengalami atropi. Jatuhnya progesteron memicu menstruasi dan awal
dari siklus berikutnya. Dari waktu ovulasi sampai hilangnya

6
progesteron menyebabkan mulainya menstruasi, proses ini biasanya
memakan waktu sekitar dua minggu, dengan 14 hari dianggap
normal. Untuk seorang wanita individu, fase folikuler sering
bervariasi panjang dari siklus ke siklus. Sebaliknya, panjang fase
luteal nya akan cukup konsisten dari siklus ke siklus. (Sherwood,
2007)
Korpus luteum pada kehamilan adalah jika pembuahan dan
implantasi terjadi, korpus luteum terus tumbuh dan menghasilkan
peningkatan jumlah progesteron dan estrogen bukannya merosot. Hal
ini disebut korpus luteum kehamilan, struktur ovarium ini berlanjut
sampai kehamilan berakhir. Korpus ini menyediakan hormon penting
untuk menjaga kehamilan sampai plasenta berkembang dan dapat
mengambil alih fungsi penting ini. (Sherwood, 2007)

Gambar Siklus folikel pada ovarium


2. Siklus Uterus

Menstruasi adalah tahap pertama dari siklus uterus. Aliran


menstruasi biasanya berfungsi sebagai tanda bahwa seorang wanita
tidak hamil. Namun, ini tidak dapat diambil sebagai kepastian, karena
sejumlah faktor bisa menyebabkan perdarahan selama kehamilan,

7
beberapa faktor yang khusus untuk awal kehamilan, dan beberapa
dapat menyebabkan aliran deras. (Sarwono, 2011)
Eumenorrhea adalah menstruasi yang normal, menstruasi
reguler yang berlangsung selama beberapa hari (biasanya 3 sampai 5
hari, tetapi dari 2 sampai 7 hari juga dianggap normal). Hilangnya
darah rata-rata selama menstruasi adalah 35 mililiter dengan 10-80 ml
dianggap normal. Wanita yang mengalami Menorrhagia lebih rentan
terhadap kekurangan zat besi daripada rata-rata orang. Sebuah enzim
yang disebut plasmin menghambat pembekuan dalam cairan
menstruasi. (Sarwono, 2011)

Kram yang menyakitkan di perut, punggung, atau paha atas


merupakan hal yang umum selama beberapa hari pertama menstruasi.
Nyeri rahim yang parah selama menstruasi dikenal sebagai
dismenore, dan itu adalah yang paling umum di kalangan remaja
(sekitar 67.2 % mempengaruhi wanita remaja). Hal ini disebabkan
oleh karena prostaglandin ( PGF2α ), suatu stimulan miometrium
yang kuat dan vasokonstriktor, di endometrium sekretori. Respon
terhadap inhibitor prostaglandin pada pasien dengan dismenorea
mendukung pernyataan bahwa dismenorea dimediasi oleh
prostaglandin. Bukti substansial prostaglandin mempengaruhi
dismenore adalah dengan kontraksi uterus yang berkepanjangan dan
penurunan aliran darah ke miometrium. (Warner P, 2011)
Fase proliferasi endometrium dikaitkan dengan fase folikuler,
proses folikulogenesis di ovarium. Pada fase folikuler,
folikulogenesis menghasilkan estrogen. Kemudian estrogen memicu
pertumbuhan endometrium untuk menebal kembali, sembuh dari
perlukaan yang disebabkan menstruasi yang sebelumnya. Ketiga
komponen endometrium, kelenjar, stroma, dan endotel pembuluh
darah mengalami poliferasi dan mencapai puncaknya pada hari ke-8
sampai 10 siklus, sesuai dengan puncak kadar estrogen (estradiol)

8
serum dan kadar reseptor estrogen di endometrium. (Sherwood,
2007)
Pada fase proliferasi peran estrogen sangat menonjol.
Estrogen memacu terbentuknya komponen jaringan, ion, air dan asam
amino. Stroma endometrium yang kolaps/kempis pada saat
menstruasi, mengembang kembali, dan merupakan komponen pokok
pertumbuhan/penebalan kembali endometrium. Pada awal fase ini,
tebal endometrium hanya sekitar 0.5 mm kemudian tumbuh menjadi
3.5 – 5 mm. Di dalam stroma endometrium juga banyak tersebar sel
derivat sumsum tulang, termasuk limfosit dan makrofag, yang dapat
dijuampai setiap saat sepanjang siklus menstruasi. (Sherwood, 2007)
Seperti halnya fase folikuler di ovarium, fase proliferasi
endometrium mempunyai lama/durasi yang cukup lebar. Pada
perempuan normal yang subur, fase folikuler ovarium atau fase
proliferasi endometrium dapat berlangsung hanya sebentar 5 – 7 hari,
atau cukup lama sekitar 21 – 30 hari. (Sarwono, 2011)
Pascaovulasi ovarium memasuki fase luteal dan korpus
luteum yang terbentuk menghasilkan steroid seks yaitu estrogen dan
progesteron. Kemudian, estrogen dan progesteron korpus luteum
tersebut mempengaruhi pertumbuhan endometrium dari fase
proliferasi menjadi fase sekresi. Proliferasi epitel berhenti 3 hari
pascaovulasi, akibat dampak antiestrogen dan progesterone. Puncak
sekresi endometrium terjadi 7 hari pasca lonjakan gonadotropin
bertepatan dengan saat implantasi blastosis bila terjadi kehamilan.
Fase sekresi endometrium yang selaras dengan fase luteal
ovarium mempunyai durasi dengan variasi sempit. Durasi fase ini
kurang lebih tetap berkisar antara 12 - 14 hari.

9
Gambar Level hormon pada siklus menstruasi

2.1.3. Perubahan hormonal dalam siklus menstruasi normal

Pada siklus ovulasi, GnRH yang merangsang hipofisis untuk


melepaskan FSH. Hal ini, pada gilirannya, menyebabkan folikel
ovarium untuk tumbuh dan matang. Pada pertengahan siklus, lonjakan
hormon luteinizing (LH) terjadi dengan lonjakan FSH, sehingga
terjadi ovulasi. Perkembangan folikel menghasilkan estrogen, yang
merangsang endometrium untuk berkembang biak. Setelah sel telur

10
dilepaskan, tingkat FSH dan LH jatuh, korpus luteum berkembang di
lokasi folikel pecah, dan progesteron dilepaskan dari ovarium.
Progesteron menyebabkan endometrium berkembang biak untuk
berkembang dan stabil. Empat belas hari setelah ovulasi, menstruasi
terjadi dari pelepasan endometrium sekunder terhadap penurunan
cepat dalam tingkat estrogen dan progesteron dari korpus luteum yang
berinvolusi. (Guyton, 2006)

1. Perubahan hormon selama siklus anovulasi

Siklus anovulasi yang umum terjadi dalam 2 tahun pertama


setelah menarche karena ketidakmatangan sumbu HPO. Hal ini juga
dapat terjadi dalam berbagai kondisi patologis .
Dalam siklus anovulasi, pertumbuhan folikel terjadi dengan
rangsangan dari FSH, namun, karena kurangnya lonjakan LH, ovulasi
gagal terjadi. Akibatnya, tidak ada korpus luteum terbentuk dan tidak
ada progesteron disekresikan. Endometrium terus berada dalam fase
proliferasi yang berlebihan. Ketika involusi folikel, kadar estrogen
menurun dan terjadi pendarahan. Sebagian besar siklus anovulasi
teratur dan perdarahannya normal, namun, proliferasi dari
endometrium yang tidak stabil dapat meluruh secara tidak teratur,
mengakibatkan pendarahan hebat berkepanjangan. (Sherwood, 2007)

11
Gambar Fisiologi Hormon pada Wanita

2.2 MASA REMAJA

Masa remaja adalah masa peralihan dari pubertas ke dewasa,


yaitu pada umur 11 – 20 tahun. Pada masa ini mulai terbentuk
perasaan identitas individu, pencapaian emansipasi dalam keluarga,
dan usahanya untuk mendapatkan kepercayaan dari ayah dan ibu.
Pada masa peralihan tersebut, individu matang secara fisiologik dan
kadang-kadang psikologik. (Sarwono, 2011)

Dalam tumbuh kembangnya menuju dewasa, berdasarkan


kematangan psikososial dan seksual, semua remaja akan melewati
tahapan berikut :

• Masa remaja awal (early adolescence) :umur 11 – 13 tahun


• Masa remaja pertengahan (middle adolescence) : umur 14 – 16 tahun
• Masa remaja lanjut (Late adolescence) :umur 17 – 20 tahun

Menarche
Menstruasi pertama disebut menarche biasanya dimulai kira-
kira antara umur 11 dan 14. Tapi hal ini bisa terjadi sejak umur 9 atau
akhir 15. Menarche adalah tanda anak perempuan tumbuh dewasa dan
menjadi seorang wanita. Seiring dengan mulai menstruasi, tubuh akan
berubah. Tubuh sudah mulai mengembangkan payudara, rambut
kemaluan rambut ketiak dan pinggul mulai melebar. Menarche juga
berarti bahwa jika wanita berhubungan seks, bisa terjadi kehamilan.
Bahkan bisa hamil dalam satu bulan sebelum periode pertama dimulai.
(Sarwono, 2011)

12
Tidak ada sinyal hormonal spesifik untuk mengetahui
datangnya menarche. Menarche merupakan kejadian yang dianggap
relatif yang mungkin adalah penebalan bertahap dari endometrium
yang disebabkan oleh meningkatnya estrogen berfluktuasi saat
pubertas.

Cairan atau aliran, terdiri dari kombinasi dari darah segar dan
beku dari jaringan endometrium. Aliran awal menarche biasanya lebih
terang dari aliran menstruasi matang. Hal ini sering minim dalam
jumlah dan mungkin sangat singkat, bahkan satu contoh biasanya
hanya sebuah bercak. Sama seperti menstruasi lainnya, menarche
dapat disertai dengan kram perut. (Morris, 2011)

Beberapa pengaruh lingkungan pada waktu pubertas bersifat


sosial dan psikologis. Hampir semua penelitian tentang efek ini ada
pada gadis-gadis yang bersangkutan, sebagian karena pubertas
perempuan membutuhkan sumber daya yang lebih besar dan sebagian
karena melibatkan suatu peristiwa yang unik (menarche) yang
membuat penelitian survei ke pubertas perempuan lebih sederhana
daripada laki-laki. Dalam sebagian besar penelitian, menarche secara
khusus diperiksa dengan asumsi sebuah proses yang umum pada
pubertas. Dibandingkan dengan efek genetika, gizi dan kesehatan
umum, pengaruh sosial yang kecil, waktu bergeser oleh beberapa
bulan bukan tahun. Bagian paling penting dari lingkungan psikososial
anak adalah keluarga. (Morris D, 2010)
Beberapa aspek struktur dan factor yang terkait dengan
menarche, antara lain (Morris D, 2010) :
a. Obesitas di masa anak – anak
b. Tingginya konflik pada keluarga
c. Berat lahir rendah
d. RAS
e. Ada riwayat pre-eklampsi saat dikandungan

13
f. Terkena rokok
g. Tidak diberi ASI
h. Tidak olahraga saat masa anak-anak

2.3. GANGGUAN MENSTRUASI


Gangguan menstruasi adalah masalah yang umum selama
masa remaja. Gangguan ini dapat menyebabkan kecemasan yang
signifikan bagi pasien dan keluarga mereka. Faktor fisik dan
psikologis berkontribusi pada masalah ini. Dalam rangka untuk
mengobati gangguan menstruasi, mengetahui apa itu siklus menstruasi
yang normal itu penting. (Sarwono, 2011)

Gangguan menstruasi merupakan keluhan yang sering


menyebabkan seorang wanita datang berobat ke dokter atau ke tempat
pertolongan pertama. Keluhan gangguan menstruasi bervariasi dari
ringan sampai berat dan tidak jarang menyebabkan rasa frustasi baik
bagi penderita, keluarganya bahkan dokter yang merawatnya. Selain
menyebabkan gangguan kesehatan, gangguan menstruasi ternyata
berpengaruh pada aktivitas sehari-hari dan mengganggu emosional si
penderita. (Sarwono, 2011)

Klasifikasi gangguan menstruasi.


Klasifikasi luas yang ada adalah sebagai berikut (MedScape) :
1. Kelainan dalam banyaknya darah dan lamanya perdarahan
pada menstruasi.
2. Kelainan siklus.
3. Perdarahan di luar menstruasi (Metroragia).
4. Dismenorea (Nyeri Menstruasi).
5. Syndroma Pramenstruasi (Premenstual Syndrome).

2.3.1. Kelainan dalam banyaknya darah dan lamanya perdarahan


pada menstruasi
1. Hipermenorea (menoragia)

14
Perdarahan menstruasi yang berlangsung lebih dari 8-10
hari dengan kehilangan darah lebih dari 80 ml dianggap
berlebihan. Pada bentuk gangguan seperti ini siklus menstruasi
tetap teratur akan tetap jumlah darah yang dikeluarkan cukup
banyak. Penyebab terjadinya kemungkinan terdapat mioma
uteri (pembesaran rahim), polip endometrium, atau hiperplasia
endometrium (perubahan dinding rahim). Diagnosis kelainan
dapat ditetapkan pemeriksaan dalam, ultrasonografi (USG) dan
pemeriksaan terhadap kerokan. (Sarwono, 2011)

Menurut peneletian Sianipar pada siswi SMA di


Kecamatan Pulo Gadung tahun 2009, dari seluruh responden
yang berjumlah 57 siwi, terdapat 9 (15.8%) siswi yang
mengalami hipermenorea

Etiologi
1. Hipoplasia uteri, dapat mengakibatkan amenorea,
hipomenorea, menoragia. Terapi : uterotonika
2. Asthenia, terjadi karena tonus otot kurang. Terapi :
uterotonika, roborantia.
3. Myoma uteri, disebabkan oleh : kontraksi otot rahim kurang,
cavum uteri luas, bendungan pembuluh darah balik.
4. Hipertensi
5. Dekompensio cordis
6. Infeksi, misalnya : endometritis, salpingitis.
7. Retofleksi uteri, dikarenakan bendungan pembuluh darah
balik.
8. Penyakit darah, misalnya Werlhoff, hemofili

Patofisiologi

15
Pada siklus ovulasi normal, hipotalamus mensekresi
Gonadotropin releasing hormon (GnRH), yang menstimulasi
pituitary agar melepaskan Folicle-stimulating hormone (FSH).
Hal ini pada gilirannya menyebabkan folikel di ovarium tumbuh
dan matur pada pertengahan siklus, pelepasan leteinzing hormon
(LH) dan FSH menghasilkan ovulasi. Perkembangan folikel
menghasilkan esterogen yang berfungsi menstimulasi
endometrium agar berproliferasi. Setelah ovum dilepaskan kadar
FSH dan LH rendah. Folikel yang telah kehilangan ovum akan
berkembang menjadi korpus luteum, dan korpus luteum akan
mensekresi progesteron. Progesteron menyebabkan poliferasi
endometrium untuk berdeferemnsiasi dan stabilisasi. 14 hari
setelah ovulasi terjadilah menstruasi. Menstruasi berasal dari dari
peluruhan endometrium sebagai akibat dari penurunan kadar
esterogen dan progesteron akibat involusi korpus luteum. Siklus
anovulasi pada umumnya terjadi 2 tahun pertama setelah
menstruasi awal yang disebabkan oleh HPO axis yang belum
matang. Siklus anovulasi juga terjadi pada beberapa kondisi
patologis.
Pada siklus anovulasi, perkembangan folikel terjadi dengan
adanya stimulasi dari FSH, tetapi dengan berkurangnya LH,
maka ovulasi tidak terjadi. Akibatnya tidak ada korpus luteum
yang terbentuk dan tidak ada progesteron yang disekresi.
Endometrium berplroliferasi dengan cepat, ketika folikel tidak
terbentuk produksi esterogen menurun dan mengakibatkan
perdarahan. Kebanyakan siklus anovulasi berlangsung dengan
pendarahan yang normal, namun ketidakstabilan poliferasi
endometrium yang berlangsung tidak mengakibatkan pendarahan
hebat.

Manifestasi Klinis

16
Kram selama haid yang tidak bisa dihilangkan dengan obat-
obatan. Penderita juga sering merasakan kelemahan, pusing,
muntah dan mual berulang selama haid.

2. Hipomenorea
Perdarahan menstruasi yang lebih pendek atau lebih
kurang dari biasanya. Pada kelainan ini siklus menstruasi tetap
teratur sesuai dengan jadwal menstruasi akan tetapi jumlah
darah yang dikeluarkan relative sedikit. Penyebabnya
kemungkinan gangguan hormonal, kondisi wanita kekurangan
gizi, atau wanita dengan penyakit tertentu. Pada peneletian
sebelumnya sangat jarang terjadi hipomenorea, bahkan tidak ada
sama sekali siswi yang mengalami hal ini. (Sianipar, 2009).
Pada penelitian yang dilakukan di Gujarat hanya 2.8% yang
mengalami hipomenore. (Verma, Pandya, Ramanuj, Singh,
2011)

Etiologi:
1. Setelah dilakukan miomektomi/ gangguan endokrin
2. kesuburan endometrium kurang akibat dari kurang gizi,
penyakit menahun maupun gangguan hormonal.

Manifestasi klinis:
Waktu haid singkat, jumlah darah haid sangat sedikit
(<30cc), kadang-kadang hanya berupa spotting.

2.3.2. Kelainan siklus

1. Polimenorea
Siklus menstruasi yang lebih pendek dari biasa
(kurang dari 21 hari). Polimenorea dapat disebabkan oleh
gangguan hormonal yang mengakibatkan gangguan ovulasi,

17
atau menjadi pendeknya masa luteal. Sebab lain adalah
kongesti ovarium karena peradangan, endometriosis, dan
sebagainya. Pada penelitian sebelumnya didapati nol persen
kasus polimenore. (Sianipar, 2009)
Gangguan keseimbangan hormon dapat terjadi pada :
- Pada 3-5 tahun pertama setelah haid pertama
- Beberapa tahun menjelang menopause
- Gangguan indung telur
- Stress dan depresi
- Pasien dengan gangguan makan (seperti anorexia
nervosa, bulimia)
- Penurunan berat badan berlebihan
- Obesitas
- Olahraga berlebihan, misal atlit
- Penggunaan obat-obatan tertentu, seperti antikoagulan,
aspirin, NSAID, dll.

Pada umumnya, polimenorea bersifat sementara dan


dapat sembuh dengan sendirinya. Penderita polimenorea harus
segera dibawa ke dokter jika polimenorea berlangsung terus
menerus. Polimenorea yang berlangsung terus menerus dapat
menimbulkan gangguan hemodinamik tubuh akibat darah
yang keluar terus menerus. Disamping itu, polimenorea dapat
juga akan menimbulkan keluhan berupa gangguan kesuburan
karena gangguan hormonal pada polimenorea mengakibatkan
gangguan ovulasi (proses pelepasan sel telur). Wanita dengan
gangguan ovulasi seringkali mengalami kesulitan untuk
mendapatkan keturunan.

Etiologi
Polimenorea merupakan gangguan hormonal dengan umur
korpus luteum memendek sehingga siklus menstruasi juga

18
lebih pendek atau bisa disebabkan akibat stadium proliferasi
pendek atau stadium sekresi pendek atau karena keduanya.

Patofisiologi
Ketidakteraturan siklus haid disebabkan karena
gangguan hormon dalam tubuh. Atau bisa juga terjadi karena
penyakit di dalam organ reproduksi, contohnya tumor rahim,
tumor di indung telur. Selain itu gangguan haid disebabkan
juga karena faktor lainnya seperti stress, kelelahan, gangguan
gizi dan penggunaan kontrasepsi, Siklushaid yang tidak teratur
kebanyakan terjadi akibat faktor hormonal. Seorang wanita
yang memiliki hormon estrogen dan progesterone secara
berlebihan memungkinkan terjadinya haid dalam waktu yang
lebih cepat. Jika gangguan haid dikarenakan oleh faktor
hormonal maka dapat dipastikan wanita tersebut mengalami
gangguan kesuburan. Dan dapat diatasi dengan suntikan untuk
mempercepat pematangan sel telur.

Manifestasi klinis
• Gejala berupa siklus kurangdari 21 hari (lebih pendek dari 25
hari )
• Dalam satu bulan bisa mengalami 2 kali menstruasi
• Anemia dan stress

Terapi & Pencegahan


Tujuan terapi pada penderita polimenorea adalah
mengontrol perdarahan, mencegah perdarahan berulang,
mencegah komplikasi, mengembalikan kekurangan zat besi
dalam tubuh, dan menjaga kesuburan. Untuk polimenorea yang
berlangsung dalam jangka waktu lama, terapi yang diberikan

19
tergantung dari status ovulasi pasien, usia, risiko kesehatan,
dan pilihan kontrasepsi. Kontrasepsi oral kombinasi dapat
digunakan untuk terapinya. Pasien yang menerima terapi
hormonal sebaiknya dievaluasi 3 bulan setelah terapi diberikan,
dan kemudian 6 bulan untuk reevaluasi efek yang terjadi.
Stadium proliferasi dapat diperpanjang dengan hormon
estrogen dan stadium sekresi menggunakan hormon kombinasi
estrogen dan progesteron.

2. Oligomenorea
Siklus menstruasi lebih panjang (lebih dari 35 hari).
Perdarahannya biasanya berkurang. Pada kebanyakan kasus
oligomenorea kesehatan wanita tidak terganggu, dan fertilitas
cukup baik. Siklus menstruasi biasanya juga ovulator dengan
masa proliferasi lebih panjang dari biasa.
Terdapat 3.5 persen siswi pada penelitian yang
dilakukan sebelumnya. (Sianipar, 2009). Pada penelitian di
Gujarat, terdapat 8.8 persen siswi yang mengalami
oligomenore. (Verma, Pandya, Ramanuj, Singh, 2011)

Etiologi
Oligomenore biasanya berhubungan dengan anovulasi atau
dapat juga disebabkan kelainan endokrin seperti kehamilan,
gangguan hipofise-hipotalamus, dan menopouse atau sebab
sistemik seperti kehilangan berat badan berlebih.
Oligomenore sering terdapat pada wanita astenis. Dapat
juga terjadi pada wanita dengan sindrom ovarium polikistik
dimana pada keadaan ini dihasilkan androgen yang lebih tinggi
dari kadara pada wanita normal.
Oligomenore dapat juga terjadi pada stress fisik dan emosional,
penyakit kronis, tumor yang mensekresikan estrogen dan

20
nutrisi buruk. Oligomenorrhe dapat juga disebabkan
ketidakseimbangan hormonal seperti pada awal pubertas.
Oligomenore yang menetap dapat terjadi akibat perpanjangan
stadium folikular, perpanjangan stadium luteal, ataupun
perpanjang kedua stadium tersebut. Bila siklus tiba-tiba
memanjang maka dapat disebabkan oleh pengaruh psikis atau
pengaruh penyakit. Disamping itu, oligomenorea dapat juga
terjadi pada :
 Gangguan indung telur, misal : Sindrome Polikistik
Ovarium (PCOS).
 Stress dan depresi.
 Sakit kronik.
 Pasien dengan gangguan makan (seperti anorexia nervosa,
bulimia).
 Penurunan berat badan berlebihan.
 Olahraga berlebihan, misal atlet.
 Adanya tumor yang melepaskan estrogen.
 Adanya kelainan pada struktur rahim atau serviks yang
menghambat pengeluaran darah menstruasi.
 Penggunaan obat-obatan tertentu.
Umumnya oligomenorea tidak menyebabkan masalah,
namun pada beberapa kasus oligomenorea dapat menyebabkan
gangguan kesuburan. Pemeriksaan ke dokter kandungan harus
segera dilakukan ketika oligomenorea sudah berlangsung lebih
dari 3 bulan dan mulai menimbulkan gangguan kesuburan.

Manifestasi klinis
 Haid jarang, yaitu setiap 35 hari sekali
 Perdarahan haid biasanya berkurang

Komplikasi

21
Komplikasi yang paling menakutkan adalah terganggunya
fertilitas dan stress emosional pada penderita sehingga dapat
meperburuk terjadinya kelainan haid lebih lanjut. Prognosa
akan buruk bila oligomenore mengarah pada infertilitas atau
tanda dari keganasan.

Patofisiologi
Oligomenorea biasanya terjadi akibat adanya gangguan
keseimbangan hormonal pada aksis hipotalamus-hipofisis-
ovarium. Gangguan hormon tersebut menyebabkan lamanya
siklus menstruasi normal menjadi memanjang, sehingga
menstruasi menjadi lebih jarang terjadi. Oligomenorea sering
terjadi pada 3-5 tahun pertama setelah haid pertama ataupun
beberapa tahun menjelang terjadinya menopause. Oligomenorea
yang terjadi pada masa-masa itu merupakan variasi normal yang
terjadi karena kurang baiknya koordinasi antara hipotalamus,
hipofisis dan ovarium pada awal terjadinya menstruasi pertama
dan menjelang terjadinya menopause, sehingga timbul gangguan
keseimbaangan hormon dalam tubuh.
Oligomenorea dan amenorea sering kali mempunyai dasar
yang sama, perbedaannya terletak dalam tingkat. Pada
kebanyakan kasus oligomenorea kesehatan wanita tidak
terganggu, dan fertilitas cukup baik. Siklus haid biasanya juga
ovulatoar dengan masa proliferasi lebih panjang dari biasanya
Oligomenore yang terjadi pada remaja, seringkali
disebabkan karena kurangnya sinkronisasi antara hipotalamus,
kelenjar pituari & indung telur. Hipotalamus merupakan bagian
otak yang mengatur suhu tubuh, metabolisme sel & fungsi dasar
seperti makan, tidur & reproduksi. Hipotalamus mengatur
pengeluaran hormon yang mengatur kelenjar pituari. Kemudian
kelenjar pituari akan merangsang produksi hormon yang
mempengaruhi pertumbuhan & reproduksi. Pada awal & akhir

22
masa reproduksi wanita, beberapa hormon tersebut dapat menjadi
kurang tersinkronisasi, sehingga akan menyebabkan terjadinya
haid yang tidak teratur.
Pada PCOS (polycystic ovary syndrome), oligomenore dapat
disebabkan oleh kadar hormon wanita & hormon pria yang tidak
sesuai. Hormon pria diproduksi dalam jumlah yang kecil oleh
setiap wanita, tetapi pada wanita yang mengalami PCOS, kadar
hormon pria tersebut (androgen) lebih tinggi dibandingkan pada
wanita lain. Pada atlet wanita, model, aktris, penari ataupun yang
mengalami anorexia nervosa, oligomenore terjadi karena rasio
antara lemak tubuh dengan berat badan turun sangat jauh.

3. Amenorea
Amenore dapat bersifat primer (yaitu, tidak pernah
menstruasi) atau sekunder (yaitu, menarche, tetapi tidak ada
periode selama 3 bulan berturut-turut). Amenore primer adalah
tidak adanya menstruasi pada umur 16 tahun dengan adanya
perkembangan pubertas normal atau pada umur 14 tahun
dengan tidak adanya perkembangan pubertas normal.
Mengevaluasi payudara dan perkembangan rahim pada pasien
dengan gangguan menstruasi adalah hal yang penting.
Amenorea sekunder lebih sering daripada amenorea primer.
Etiologi yang paling umum adalah disfungsi dari aksis
hipotalamus – hipofisis – ovarium (HPO).

Klasifikasi

1. Amenorea Primer, apabila belum pernah datang haid


sampai umur 18 tahun.
2. Amenorea Sekunder, apabila berhenti haid setelah
menarche atau pernah mengalami haid tetapi berhenti
berturut-turut selama 3 bulan.

23
Etiologi
1. Gangguan di hipotalamus, hipofisis, ovarium (folikel),
uterus (endometrium), dan vagina
2. Adanya tanda-tanda maskulinisasi, adanya galaktore, cacat
bawaan, uji estrogen dan  progesteron negatif.
3. penyakit TB, penyakit hati, diabetes melitus, kanker,
infertilitas, stress berat.
4. kelainan kongenital
5. ketidastabilan emosi dan kurang zat makanan yang
mempunyai nilai gizi lebih.

Patofisiologi
Amenore primer dapat diakibatkan oleh tidak adanya uterus
dan kelainan pada aksis hipotalamus-hipofisis-ovarium.
Hypogonadotropic amenorrhoea menunjukkan keadaan dimana
terdapat sedikit sekali kadar FSH dan SH dalam serum. Akibatnya,
ketidakadekuatan hormon ini menyebabkan kegagalan stimulus
terhadap ovarium untuk melepaskan estrogen dan progesteron.
Kegagalan pembentukan estrogen dan progesteron akan
menyebabkan tidak menebalnya endometrium karena tidak ada
yang merasang. Terjadilah amenore. Hal ini adalah tipe
keterlambatan pubertas karena disfungsi hipotalamus atau
hipofosis anterior, seperti adenoma pitiutari.
Hypergonadotropic amenorrhoea merupakan salah satu
penyebab amenore primer. Hypergonadotropic amenorrhoea adalah
kondisi dimnana terdapat kadar FSH dan LH yang cukup untuk
menstimulasi ovarium tetapi ovarium tidak mampu menghasilkan
estrogen dan progesteron. Hal ini menandakan bahwa ovarium atau
gonad tidak berespon terhadap rangsangan FSH dan LH dari
hipofisis anterior. Disgenesis gonad atau prematur menopause

24
adalah penyebab yang mungkin. Pada tes kromosom seorang
individu yang masih muda dapat menunjukkan adanya
hypergonadotropic amenorrhoea. Disgenesis gonad menyebabkan
seorang wanita tidak pernah mengalami menstrausi dan tidak
memiliki tanda seks sekunder. Hal ini dikarenakan gonad
( oavarium ) tidak berkembang dan hanya berbentuk kumpulan
jaringan pengikat.
Amenore sekunder disebabkan oleh faktor lain di luar
fungsi hipotalamus-hipofosis-ovarium. Hal ini berarti bahwa aksis
hipotalamus-hipofosis-ovarium dapat bekerja secara fungsional.
Amenore yang terjadi mungkin saja disebabkan oleh adanya
obstruksi terhadap aliran darah yang akan keluar uterus, atau bisa
juga karena adanya abnormalitas regulasi ovarium sperti kelebihan
androgen yang menyebabkan polycystic ovary syndrome.

Intervensi yang dilakukan berdasarkan perubahan pada


lamanya siklus haid :
a. Polimenorea
Pemberian kontrasepsi oral yang dapat mengatur periode
menstruasi.
b. Oligomenorea
Dalam rangka terapi umum dilakukan tindakan
memperbaiki keadaan kesehatan, termasuk perbaikan gizi,
kehidupan dalam lingkungan yang sehat dan tenang,
pengurangan berat badan pada wanita yang obesitas serta
pemberian hormon gonadotropin.
c. Amenorea
Menetapkan gangguan penyebab amenorea karena kelainan
hormonal
1. Memberikan progestin

25
2. Kemungkinan gangguan ovarium
3. Dilakukan induksi ovulasi dangan pemeriksaan
hormonal
4. Prolaktin
5. Pada disfungsi karena hiperprolaktikemia menstrual
dapat diobati dengan bromokprit (pardoled).
6. Bila gagal menentukan sebab amenorea, dilakukan :
- Laparoskopi
- Foto kepala untuk mencari penyebab sentral

2.3.3. Perdarahan di luar menstruasi (Metroragia)


Perdarahan yang terjadi dalam masa antara 2 menstruasi
(metroragia). Pendarahan ini disebabkan oleh keadaan yang bersifat
hormonal dan kelainan anatomis. Pada kelainan hormonal terjadi
gangguan poros hipotalamus hipofisis, ovarium (indung telur) dan
rangsangan estrogen dan progesteron dengan bentuk pendarahan yang
terjadi di luar menstruasi, bentuknya bercak dan terus menerus, dan
pendarahan menstruasi berkepanjangan. Keadaan ini dipengaruhi oleh
ketidak-seimbangan hormon tubuh, yaitu kadar hormon progesteron
yang rendah atau hormon estrogen yang tinggi. Penderita hiposteroid
(kadar hormon steroid yang rendah) atau hipersteroid (kadar hormon
steroid yang tinggi) dan fungsi adrenal yang rendah juga bisa
menyebabkan gangguan ini. Beberapa gangguan organ reproduksi
juga dapat menyebabkan metroragia seperti infeksi vagina atau Rahim
endometriosis, kista ovarium, fibroid, kanker endometrium atau
indung telur, hiperplasia endometriosis, penggunaan kontrasepsi spiral
yang mengalami infeksi juga dapat menyebabkannya. Terdapat 36.4%
siswi yang mengalami hal ini pada penelitian yg dilakukan
sebelumnya. (Sianipar, 2009)

26
Klasifikasi

1. Metroragia oleh karena adanya kehamilan; seperti abortus,


kehamilan ektopik.
2. Metroragia diluar kehamilan.

Etiologi

1. Metroragia diluar kehamilan dapat disebabkan oleh luka yang tidak


sembuh; carcinoma corpus uteri, carcinoma cervicitis; peradangan
dari haemorrhagis (seperti kolpitis haemorrhagia, endometritis
haemorrhagia); hormonal.
2. Perdarahan fungsional : a) Perdarahan Anovulatoar; disebabkan oleh
psikis, neurogen, hypofiser, ovarial (tumor atau ovarium yang
polikistik) dan kelainan gizi, metabolik, penyakit akut maupun
kronis. b) Perdarahan Ovulatoar; akibat korpus luteum persisten,
kelainan pelepasan endometrium, hipertensi, kelainan darah dan
penyakit akut ataupun kronis.
Menurut Norwitz (2008), metroragia dapat disebabkan oleh :
1) Penyakit Sistemik
a. Penyakit defisiensi protrombin yang dapat timbul sebagai
perdarahan pervaginam.
b. Hipertiroidisme yang terkait dengan metroragia.
c. Sirosis yang menyebabkan ketidakteraturan perdarahan
pervaginam akibat berkurangnya kapasitas hati untuk
metabolisme esterogen.

2) Anovulatoris
Akibat dari tidak terjadinya ovulasi mengakibatkan esterogen
melimpah dan tidak seimbang mengarah pada proliferasi
endometrium terus menerus yang akhirnya menghasilkan suplai

27
darah berlebih yang dikeluarkan mengikuti pola iregular dan tidak
dapat diprediksi.

3) Ovulatoris
Bercak darah pada pertengahan siklus setelah lonjakan LH
biasanya bersifat fisiologis. Itu menandakan ovulasi. Namun fase
luteal mungkin memanjang akibat dari korpus luteum yang menetap.
Penyebab lain yang mungkin berdasarkan Varney (2007) :
a) Kehamilan : terjadi bercak darah saat proses nidasi.
b) Infeksi : benda asing dalam uterus.
c) Penggunaan AKDR.
d) Ovulasi.
e) Farmakologis : penggunaan obat-obatan.

Patofisiologi
Gangguan perdarahan yang dinamakan Metropatia Hemoragika
(Metroragia) terjadi karena persistensi folikel yang tidak pecah
sehingga tidak terjadi ovulasi dan pembentukan korpus luteum.
Akibatnya terjadi hiperplasia endometrium karena stimulasi esterogen
yang berlebihan dan terus menerus, skema terlampir (Wiknjosastro,
2010).

Faktor predisposisi
Perdarahan intermenstrual juga dapat diperparah oleh penebalan
endometrium oleh karena hormon esterogen. Esterogen yang sekresi
terus menerus akibat dari kegagalan ovulasi oleh folikel mengakibatkan
progesteron tidak dihasilkan karena tidak adanya korpus luteum. Oleh
karena itu endometrium menebal dengan pola ketebalan yang tidak
sama. Lapisan endometrium yang sangat tebal bisa ruptur sehingga
terjadilah spotting. Perdarahan terjadi dengan frekuensi yang tidak
teratur (Astarto, 2011).

28
Faktor risiko
Metroragia disebabkan oleh berbagai macam hal :
1) Oleh karena kehamilan : abortus, mola hidatidosa, kehamilan
ektopik.
2) Diluar kehamilan : pada wanita yang perdarahan kontak maupun
erosi dan polip (Nugroho, 2012).
Penggunaan AKDR dapat mengakibatkan efek samping metroragia
(Manuaba, 2008).

Keluhan
Pasien mengeluhkan tentang menstruasi yang terjadi dengan interval
tidak teratur atau terdapat insiden bercak darah atau perdarahan diantara
menstruasi (Varney, 2007).

Tanda klinis
1) Siklus menstruasi normal adalah 24 – 35 hari.
2) Perdarahan terjadi diantara dua kejadian menstruasi.
3) Perdarahan terjadi dengan konsistensi bercak-bercak (Dutton, 2011
dan Manuaba, 2008).

Prognosis
Keberhasilan pengobatan bergantung tindakan yang dilakukan pada
subjek. Terapi hormonal menggunakan pil kontrasepsi oral kombinasi
efektif dapat mengoreksi banyak sekali kasus ketidakteraturan
menstruasi yang sering ditemukan. Sedangkan dilakukan tindakan
kuretase efektif untuk wanita yang memiliki kelainan struktural
(Norwitz, 2008).

Penatalaksanaan dan pengobatan


Metroragia adalah perdarahan dengan konsistensi bercak-bercak
yang terjadi di luar menstruasi dan disebabkan oleh tidak seimbangya
hormonal maupun kelainan organ genitalia (Manuaba, 2008).

29
Pola perdarahan abnormal pada metroragia adalah perdarahan uterus
biasanya tidak banyak dan timbul pada interval yang tidak biasanya.
Maka dari itu penatalaksanaannya hampir sama dengan perdarahan
uterus disfungsional lainnya, skema terlampir (Manuaba, 2004).
Menurut Wiknjosastro (2010), setelah pemeriksaan ginekologik
menunjukkan bahwa perdarahan berasal dari uterus dan tidak ada
abortus inkompletus, perdarahan untuk sementara waktu dapat
dipengaruhi dengan hormon steroid :
1) Esterogen : valeras estradiol 20 mg IM. Esterogen yang tinggi kadar
darahnya mengakibatkan perdarahan berhenti.
2) Progesteron : kaproas hidroksi-progesteron 125 mg IM. Injeksi
progesteron bermanfaat untuk mengimbangi pengaruh esterogen
terhadap endometrium.
3) Androgen : propionas testosteron 50 mg IM. Hormon ini memiliki
umpan balik positif dari perdarahan uterus akibat hiperplasia
endometrium.
Pada pubertas, pengobatan bisa dilakukan dengan terapi hormonal.
Pemberian esterogen dan progesteron dalam kombinasi dapat
dianjurkan. Terapi dapat dilaksanakan pada hari ke-5 perdarahan uterus
untuk 21 hari. Dapat pula diberikan progesteron untuk 7 hari, mulai hari
ke-21 siklus haid (Astarto, 2011).
Kecuali pada pubertas, terapi yang baik dilakukan adalah dilatasi dan
kerokan (Wiknjosastro, 2010).
Ketika semua terapi sudah diberikan namun perdarahan masih belum
juga berhenti, langkah terakhir untuk metroragia adalah histerektomi
(Manuaba, 2008).

Manifestasi klinis
Adanya perdarahan tidak teratur dan tidak ada hubungannya
dengan haid namun keadaan ini sering dianggap oleh wanita sebagai
haid walaupun berupa bercak.

30
Terapi :
Kuretase dan hormonal.

2.3.4. Dismenorea
Dismenore adalah keluhan yang sangat umum dan ada yang
primer atau sekunder, meskipun dismenore primer yang lebih
menonjol. Gejala termasuk kram perut bagian bawah dan nyeri
panggul yang menjalar ke paha dan kembali tanpa terkait patologi
pelvis. Dismenore disebabkan oleh prostaglandin dan leukotrien
selama siklus ovulasi. Kadar prostaglandin endometrium meningkat
selama fase luteal dan siklus menstruasi, menyebabkan uterus
berkontraksi. Dismenorea sekunder jarang terjadi, dan rasa sakit yang
berhubungan dengan patologi pelvis (misalnya, bikornuata rahim,
endometriosis, penyakit radang panggul, fibroid rahim). Sebuah
patologi pelvis yang mendasari (misalnya, endometriosis) atau
anomali uterus (misalnya fibroid) mungkin ada dalam sekitar 10 %
kasus dismenore parah. (MedScape)

Derajat nyeri menstruasi (dismenorea) :


Derajat 0 : Tanpa rasa nyeri dan aktivitas sehari-hari tak
terpengaruhi.
Derajat 1 : Nyeri ringan dan memerlukan obat rasa nyeri,
namun
aktivitas jarang terpengaruhi.
Derajat 2 : Nyeri sedang dan tertolong dengan obat penghilang
nyeri,
tetapi mengganggu aktivitas sehari-hari.
Derajat 3 : Nyeri sangat hebat dan tak berkurang walaupun
telah menggunakan obat dan tak mampu bekerja. Kasus ini
harus segera ditangani oleh dokter.

31
Klasifikasi

1.Dismenorea Primer (dismenore sejati, intrinsik, esensial ataupun


fungsional); adalah nyeri     haid yang terjadi sejak menarche dan tidak
terdapat kelainan pada alat kandungan.
Karakteristik dismenorea primer menurut Ali Badziad (2003):

1. Sering ditemukan pada usia muda.


2. Nyeri sering timbul segera setelah mulai timbul haid teratur.
3. Nyeri sering terasa sebagai kejang uterus yang spastik dan sering
disertai mual, muntah,     diare, kelelahan, dan nyeri kepala.
4. Nyeri haid timbul mendahului haid dan meningkat pada hari
pertama atau kedua haid.
5. Jarang ditemukan kelainan genitalia pada pemeriksaan ginekologis.
6. Cepat memberikan respon terhadap pengobatan medikamentosa.

Etiologi :

Psikis; (konstitusionil: anemia, kelelahan, TBC); (obstetric : cervic


sempit, hyperanteflexio, retroflexio); endokrin (peningkatan kadar
prostalandin, hormon steroid seks, kadar vasopresin tinggi).

Manifestasi klinis

Beberapa gejala yang kerap menyertai saat menstruasi antara lain :


perasaan malas bergerak, badan lemas, mudah capek, ingin makan
terus, emosi jadi lebih labil, sensitif, mudah marah. Bukan itu saja,
pengaruh pelepasan dinding rahim selama menstruasi juga kerap
memunculkan rasa pegal dan sakit pada pinggang serta membuat kepala
terasa nyeri, kram perut bagian bawah yang menjalar ke punggung atau
kaki dan biasanya disertai gejala gastrointestinal dan gejala neurologis
seperti kelemahan umum.

32
Terapi : psikoterapi, analgetika, hormonal.

2. Dismenorea Sekunder;
Terjadi pada wanita yang sebelumnya tidak mengalami dismenore.
Hal ini terjadi pada kasus infeksi, mioma submucosa, polip corpus
uteri, endometriosis, retroflexio uteri fixata, gynatresi, stenosis kanalis
servikalis, adanya AKDR, tumor ovarium.

Manifestasi klinis

Berikut ini merupakan manifestasi klinis dismenorea sekunder (Smith,


1993; Smith, 1997):
1.  Dismenorea terjadi selama siklus pertama atau kedua setelah
menarche (haid pertama), yang merupakan indikasi adanya
obstruksi outflow kongenital.
2.  Dismenorea dimulai setelah berusia 25 tahun.
3.  Terdapat ketidaknormalan (abnormality) pelvis dengan pemeriksaan
fisik: pertimbangkan kemungkinan endometriosis, pelvic
inflammatory disease, pelvic adhesion (perlengketan pelvis), dan
adenomyosis.

Terapi :
causal (mencari dan menghilangkan penyebabnya), pemberian obat
analgetik (biasanya diberikan aspirin, fenasetin dan kafein), terapi
hormonal (Tujuannya untuk menekan ovulasi)

2.3.5. Syndroma Pramenstruasi (Premenstrual Syndrome)


Kadar sindroma pramenstruasi (PMS) dan waktunya pada
setiap wanita tidak selalu sama. Ada wanita yang merasa sangat sakit
sampai menderita kram dan tidak dapat beraktifitas. Beberapa ahli
mengatakan bahwa gejala tersebut berhubungan kadar hormon

33
estrogen dan progesteron pada siklus menstruasi. Menurut ahli lain
memperkirakan gangguan menjelang menstruasi berhubugan dengan
masalah psikis, misalnya wanita menganggap masa menstruasi
sebagai beban sehingga tanpa sadar ia menolaknya. Gangguan ini bisa
juga merupakan tanda dari penyakit yang serius seperti endometriosis,
kista atau angioma uteri dan adanya infeksi Rahim. Gejala yang
muncul akan terjadi pada separuh ahkir dari siklus menstruasi, yang
menghilang saat mulainya menstruasi. Manifestasi klinis dapat berupa
penuhnya payudara dan terasa nyeri, bengkak, kelelahan, sakit kepala,
peningkatan nafsu makan, iritabilitas dan ketidakstabilan perasaan dan
depresi, kesulitan dalam kosentrasi, keluar air mata dan
kecenderungan untuk melakukan kejahatan. Hampir sepertiga wanita
produktif menghidap PMS. Gejala yang muncul selain diatas juga ada.
(MedScape)

Gangguan menstruasi yang terbanyak dialami oleh responden


dalam penelitian sebelumnya adalah gangguan lain yang berhubungan
dengan menstruasi yang meliputi sindrom pramenstruasi (75.8%),
dismenorea (54.5%), dan perdarahan di luar menstruasi (36.4%). Hasil
ini lebih rendah dari yang ditemukan Vegas et al. Namun hampir sama
dengan literatur, bahwa prevalensi dismenorea bervariasi antara 15.8 –
89.5%. Penelitian Cakir et al. Pada mahasiswi di Turki
memperlihatkan dismenorea merupakan gangguan menstruasi dengan
prevalensi terbesar yaitu 89.5%. (Sianipar, 2009)
Disebabkan oleh :
 Sekresi estrogen yang abnormal
 Kelebihan atau defisiensi progesteron
 Kelebihan atau defisiensi kortisol, androgen, atau prolaktin
 Kelebihan hormon anti diuresis
 Kelebihan atau defisiensi prostaglandin

34
Etiologi:

Etiologi ketegangan prahaid tidak jelas, tetapi mungkin faktor


penting ialah ketidakseimbangan esterogen dan progesteron dengan
akibat retensi cairan dan natrium, penambahan berat badan, dan
kadang-kadang edema. Dalam hubungan dengan kelainan hormonal,
pada tegangan prahaid terdapat defisiensi luteal dan pengurangan
produksi progesteron.
 Faktor kejiwaan, masalah dalam keluarga, masalah sosial, dll.juga
memegang peranan penting. Yang lebih mudah menderita tegangan
prahaid adalah wanita yang lebih peka terhadap perubahan hormonal
dalam siklus haid dan terhadap faktor-faktor psikologis.

Patofisiologi
Meningkatnya kadar esterogen dan menurunnya kadar
progesteron di dalam darah, yang akan menyebabkan gejala depresi.
Kadar esterogen akan mengganggu proses kimia tubuh ternasuk
vitamin B6 (piridoksin) yang dikenal sebagai vitamin anti depresi.
Hormon lain yang dikatakan sebagai penyebab gejala
premenstruasi adalah prolaktin. Prolaktin dihasilkan sebagai oleh
kelenjar hipofisis dan dapat mempengaruhi jumlah esterogen dan
progesteron yang dihasilkan pada setiap siklus. Jumlah prolaktin yang
terlalu banyak dapat mengganggu keseimbangan mekanisme tubuh
yang mengontrol produksi kedua hormon tersebut. Wanita yang
mengalami sindroma pre-menstruasi tersebut kadar prolaktin dapat
tinggi atau normal.
Gangguan metabolisme prostaglandin akibat kurangnya gamma
linolenic acid (GLA). Fungsi prostaglandin adalah untuk mengatur
sistem reproduksi (mengatur efek hormon esterogen, progesterone),
sistem saraf, dan sebagai anti peradangan.

35
Manifestasi klinis
Perasaan malas bergerak, badan menjadi lemas, serta mudah
merasa lelah. Nafsu makan meningkat dan suka makan makanan yang
rasanya asam. Emosi menjadi labil. Biasanya perempuan mudah
uring-uringan, sensitif, dan perasaan negatif lainnya.

Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Siklus Menstruasi


Ada beberapa faktor yang bisa menyebabkan siklus
menstruasi pada wanita usia reproduktif menjadi ireguler termasuk
kehamilan, penyakit endokrin dan juga kondisi medik. Semua faktor
ini berhubungan dengan pengaturan fungsi endokrin hipotalamik-
pituitari. Paling sering adalah Polycystic Ovary Syndrome (PCOS)
yang menyebabkan perpanjangan interval antara dua siklus menstruasi
terutama pada pasien dengan gejala peningkatan endrogen (American
Academy of Pediatrics, 2006).
Selain itu terdapat faktor-faktor lain yang turut
mempengaruhi siklus menstruasi adalah gangguan pada sentral
Gonadotropin-releasing Hormone (GnRH), penurunan berat badan
yang nyata, aktivitas yang berlebihan, perubahan pada pemakanan dan
waktu tidur, dan tingkat stres yang berlebihan. Gangguan pada siklus
menstruasi juga dapat terjadi pada penyakit kronik seperti Diabetes
Mellitus yang tidak terkontrol, kondisi genetik atau kongenital seperti
Turner Syndrome dan disgenesis gonadal (American Academy of
Pediatrics, 2006).
Berdasarkan penelitian yang lain pula menyatakan bahawa
perubahan siklus menstruasi berhubungan dengan ketidakseimbangan
fisik atau hormonal. Berat badan yang rendah bisa menyebabkan
interval antara dua siklus menstruasi menjadi lebih lama. Berat badan
yang berlebihan pula bisa menyebabkan perdarahan abnormal.
Perubahan yang tiba-tiba pada aktivitas atau berat badan juga bisa
menyebabkan perubahan pada siklus menstruasi yang sementara.

36
Gangguan emosi atau stress dan keadaan fisik yang tidak sehat secara
optimal juga merupakan penyebab tersering iregularitas siklus
menstruasi walaupun perubahan siklus menstruasi yang dialami tidak
hanya pada saat wanita mengalami stres. Obat-obatan dan pengubatan
alternatif seperti obat herbal juga dapat menyebabkan perubahan pada
interaksi dan transmisi hormon pada tubuh sehingga dapat menganggu
siklus menstruasi (McKinley Health Centre, 2008).
Dari penelitian yang mengatakan bahwa stres sangat
berperan dalam regulasi hormonal di mana akan turut berpengaruh
pada menstruasi. Penelitian ini turut memberi contoh efek dari stres
terhadap sistem reproduksi wanita dikenal sebagai amenorhea yang
diinduksi oleh stres atau amenorhe hipotalamus fungsional. Selain itu,
didapatkan prevalensi amenorhea sekunder pada wanita muda adalah
sekitar 2% dan presentase ini meningkat pada stres yang kronik. Pada
stres yang melampau, kemungkinan akan menginhibisi sistem
reproduksi wanita secara komplit (Chrousos et al, 1998).

ASUHAN KEPERAWATAN PADA PASIEN DENGAN GANGGUAN


MENSTRUASI (DISMENORE)

I. PENGKAJIAN
1. Biodata klien:
Biodata klien berisi tentang : Nama, Umur, Pendidikan, Pekerjaan,
Suku, Agama, Alamat, No. Medical Record, Nama Suami, Umur,
Pendidikan, Pekerjaan , Suku, Agama, Alamat, Tanggal Pengkajian.
2. Alasan MRS

a. Keluhan utama  :

37
Merasakan nyeri yang berlebihan ketika haid pada bagian perut
disertai dengan mual muntah, pusing dan merasakan badan
lemas.

3. Riwayat haid
Umur menarchi pertama kali, lama haid, jumlah darah yang keluar,
konsistensi, siklus haid, hari pertama haid dan terakhir, perkiraan
tanggal partus
4. Riwayat Obstetris
Berapa kali dilakukan pemeriksaan, hasil laboraturium : USG ,
darah, urine, keluhan selama kehamilan termasuk situasi emosional
dan impresi, upaya mengatasi keluhan, tindakan dan pengobatan yang
diperoleh.
5. Riwayat penyakit dahulu
Penyakit yang pernah di diderita pada masa lalu, bagaimana cara
pengobatan yang dijalani nya, dimana mendapat pertolongan, apakah
penyakit tersebut diderita sampai saat ini atau kambuh berulang –
ulang.
6. Riwayat kesehatan keluarga
Adakah anggota keluarga yang menderita penyakit seperti yang
pasien alami.

7. Data bio-psiko-sosial-spiritual (Pola Kebutuhan Dasar Gordon)


a. Pola persepsi dan tata laksana hidup sehat
Pada kasus disminore akan timbul ketakutan karena
ketidaktahuan atau kurangnya informasi/pengetahuan mengenai
dismenore.
b. Pola nutrisi dan metabolisme
Pada umumnya klien dengan dismenore mengalami penurunan
nafsu makan, frekuensi minum klien juga mengalami penurunan
c. Pola eliminasi
Untuk kasus disminore tidak ada gangguan pada pola eliminasi
d. Pola tidur dan istirahat

38
Klien dengan dismenore mengalami nyeri pada daerah perut
sehingga pala tidur klien menjadi tterganggu, apakah mudah
terganggu dengan suara-suara, posisi saat tidur (mengalami
penekanan pada perineum)
e. Pola aktivitas
Kemampuan mobilitas klien dibatasi, karena klien dismenore di
anjurkan untuk istirahat.
f. Pola hubungan dan peran
Klien tidak akan kehilangan peran dalam keluarga dan ddalam
masyarakat. Karena klien tidak harus menjalani rawat inap.
g. Pola persepsi dan konsep diri
Pada kasus disminore akan timbul ketakutan karena
ketidaktahuan atau kurangnya informasi atau pengetahuan
mengenai dismenore
h. Pola sensori dan kognitif
Pada klien dismenore, daya rabanya tidak terjadi gangguan,
sedangkan pada indera yang lain tidak timbul gangguan, begitu
juga pada kognitif tidak mengalami gangguan. Namun timbul rasa
nyeri pada perut bagian bawah.
i. Pola reproduksi dan seksual
Kebiasaan penggunaan pembalut sangat mempengaruhi terjadinya
gangguan menstruasi.
j. Pola penanggulangan stress
Pada klien dismenore timbul rasa cemas tentang keadaan dirinya,
yaitu mengenai adanya kelainan pada sistem reproduksi.
k. Pola tata nilai dan keyakinan
Untuk klien dismenore tidak dapat melaksanakan kebutuhan
beribadah dengan baik terutama frekuensi dan konsentrasi. Hal ini
bisa disebabkan karena nyeri dan keterbatasan gerak klien.
8. Pemeriksaan fisik
a. Pemeriksaan kesadaran klie, BB / TB, tekanan darah, nadi,
pernafasan dan suhu

39
b. Head To Toe
a) Rambut    : warna rambut, jenis rambut, bau nya, apakah ada
luka lesi / lecet
b) Mata        : sklera nya apakah ihterik / tdk, konjungtiva
anemis / tidak, apakah palpebra oedema / tidak,bagaimana
fungsi penglihatan nya baik / tidak, apakah klien
menggunakan alat bantu penglihatan / tidak. Pada umu nya
ibu hamil konjungtiva anemis
c) Telinga     : apakah simetris kiri dan kanan, apakah ada
terdapat serumen / tidak, apakah klien menggunakan alt bantu
pendengaran / tidak, bagaimana fungsi pendengaran klien
baik / tidak
d) Hidung     : apakah klien bernafas dengan cuping hidung /
tidak, apakah terdapat serumen / tidak, apakah fungsi
penciuman klien baik / tidak
e) Mulut dan gigi       :  bagaimana keadaan mukosa bibir klien,
apakah lembab atau kering, keadaan gigi dan gusi apakah ada
peradangan dan pendarahan, apakah ada karies gigi / tidak,
keadaan lidah klien bersih / tidak, apakah keadaan mulut
klien berbau / tidak. Pada ibu hamil pada umum nya berkaries
gigi, hal itu disebabkan karena ibu hamil mengalami
penurunan kalsium
f) Leher       : apakah klien mengalami pembengkakan tyroid
g) Paru – paru
- Inspeksi  : warna kulit, apakah pengembangan dada nya
simetris kiri dan kanan, apakah ada terdapat luka
memar / lecet, frekuensi pernafasan nya
- Palpasi : apakah ada teraba massa / tidak , apakah ada
teraba pembengkakan / tidak, getaran dinding dada
apakah simetris / tidak antara kiri dan kanan

40
- Perkusi : bunyi Paru
- Auskultasi : suara nafas
h) Jantung
- Inspeksi : warna kulit, apakah ada luka lesi / lecet, ictus
cordis apakah terlihat / tidak
- Palpasi : frekuensi jantung berapa, apakah teraba ictus
cordis pada ICS% Midclavikula
- Perkusi : bunyi jantung
- Auskultasi : apakah ada suara tambahan / tidak pada
jantung klien
i) Abdomen
- Inspeksi : keadaan perut, warna nya, apakah ada / tidak
luka lesi dan lecet
- Palpasi : tinggi fundus klien, letak bayi, persentase
kepala apakah sudah masuk PAP / belum
- Perkusi : bunyi abdomen
- Auskultasi : bising usu klien, DJJ janin apakah masih
terdengar / tidak
j) Payudara : puting susu klien apakah menonjol / tidak,warna
aerola, kondisi mamae, kondisi ASI pasien, apakah sudah
mengeluarkan ASI /belum
k) Ekstremitas
- Atas : warna kulit, apakah ada luka lesi / memar, apakah
ada oedema / tidak
- Bawah : apakah ada luka memar / tidak , apakah
oedema / tidak
l) Genitalia : apakah ada varises atau tidak, apakah ada
oedema / tidak pada daerah genitalia klien
m) Intergumen : warna kulit, keadaan kulit, dan turgor kulit
baik / tidak

II. DIAGNOSA KEPERAWATAN 

41
1. Dx 1   : Nyeri akut b/d gangguan menstruasi
2. Dx 2   : Nutrisi kurang dari kebutuhan berhubungan dengan
mual,muntah,diare sekunder
3. Dx 3   : Intoleransi aktifitas b/d nyeri dismenore
4. Dx 4   : Ansietas b/d ineffektif koping individu

III. PERENCANAAN
No Hari/ Diagnosa Tujuan dan Intervensi (NIC) Rasional
Tanggal Keperawatan Kriteria Hasil
(NOC)
1. Nyeri akut Setelah diberikan NIC Label : 1. Pengkajian yang
berhubungan askep selama 1×24 Manajemen Nyeri (1400) optimal akan
dengan jam diharapkan nyeri 1. Lakukan pengkajian memberikan
gangguan pasien berkurang nyeri komprehensif perawat data yang
menstruasi dengan kriteria hasil : yang meliputi lokasi, obyektif untuk
NOC Label : karakteristik, mencegah
Kontrol Nyeri onset/durasi, frekuensi, kemungkinan
(1605) kualitas, intensitas atau komplikasi dan
1. Dapat beratnya nyeri dan melakukan
menggambarkan faktor pencetus intervensi yang
faktor penyebab 2. Ajarkan teknik non tepat.
nyeri famakologi (seperti, 2. Pendekatan dengan
2. dapat mengenali relaksasi, aplikasi menggunakan
apa yang terkait panas atau dingin dan relaksasi dan
dengan gejala pijatan, sebelum, nonfarmakologi
nyeri sesudah dan jika lainnya telah
3. melaporkan nyeri memungkinkan ketika menunjukkan
yang terkontrol melakukan aktifitas keefektifan dalam
Kepuasan Klien : yang menimbulkan mengurangi nyeri.
Manajemen Nyeri nyeri, sebelum nyeri 3. Dapat mengetahui
(3016) : terjadi atau meningkat, hal yang dapat
1. nyeri terkontrol dan bersamaan dengan menurunkan dan
2. tingkat nyeri tindakan penurun rasa memperberat rasa

42
terpantau secara nyeri lainnya). nyeri sehingga dapat
reguler 3. gali bersam pasien mengambil tindakan
faktor-faktor yang yang menghindari
dapat menurunkan dan memperberat nyeri
memperberat nyeri 4. Pengetahuan yang
4. Berikan informasi akan dirasakan
mengenai nyeri, seperti membantu
penyebab nyeri, berapa mengurangi
lama nyeri akan nyerinya. Dan dapat
dirasakan, dan membantu
anitisipasi mengembangkan
ketidaknyamanan kepatuhan klien
prosedur terhadap rencana
5. kolaborasi dengan teraupetik.
pasien, orang 5. Dukungan keluarga
terdekatnya, dan tim dapat membantu
kesehatan lainnya dalam terapi nyeri
untuk memilih dan nonfarmakologi
mengimplementasikan
tindakan penurun nyeri Pemberian Analgesik
nonfarmakologi, sesuai 1. Dapat memberikan
kebutuhan pengobatan yang
tepat tanpa adanya
Pemberian Analgesik reaksi alergi
(2210) : 2. Obat dapat bekerja
1. Cek adanya riwayat secara efektif
alergi obat 3. Dapat
2. Berikan analgesik mengaplikasikan
sesuai waktu paruhnya, analgesik
terutama pada nyeri 4. Analgetik memblok
yang berat lintasan nyeri,
3. Ajarkan tentang sehingga nyeri akan

43
penggunaan analgesik, berkurang.
strategi untuk Kontrasepsi oral
menurunkan efek dapat diberikan jika
samping, dan harapan klien menginginkan
terkait dengan kontrasepsi sebagai
keterlibatan dalam pembebas
keputusan pengurangan nyeri.OC’s
nyeri mencegah ovulasi,
4. Kolaborasi dengan menurunkan jumlah
dokter apakah obat, darah haid, yang
dosis, rute pemberian, mengurangi jumlah
atau perubahan interval prostaglandin dan
dibutuhkan, buat dysmenorrhea.  
rekomendasi khusus
berdasarkan prinsip
analgesik.

2. 1. Nutrisi Setelah diberikan NIC Label : Monitor Nutrisi


kurang dari askep selama 1×24 Monitor Nutrisi (1160) : 1. Agar dapat
kebutuhan jam diharakan pasien2. 1. Monitor mengetahui
berhubungan menunjukkan kecenderungan turun dan perubahan berat
dengan perbaikan nutrisi naiknya berat badan badan setiap harinya
mual,muntah dengan kriteria hasil3.: 2. Monitor mual muntah 2. Mengetahui
,diare NOC Label : kedaaan pasien
sekunder Status Nutrisi Manajemen Nutrisi apakah masih mual
(1004) : (1100) : dan muntah
1. Asupan gizi tidak 1. Monitor kalori dan Manajemen Nutrisi
menyimpang dari asupan makanan
rentang normal 2. tentukan apa saja 1. Mengetahui
2. Rasio berat preferensi makanan kecukupan asupan
badan/tinggi badan bagi pasien kalori pasien
tidak menyimpang 3. tentukan jumlah kalori 2. mengurangi rasa mual

44
dari rentang normal dan jenis nutrisi yang dan muntah yang
Keparahan Mual dibutuhkan untuk timbul saat makan
dan Muntah (2107) : memenuhi persyaratan dan meningkatkan
1. Frekuensi mual gizi. nafsu makan
ringan hingga tidak 4. Berikan arahan bila 3. Meningkatkan asupan
ada diperlukan energi
2. Intensitas mual
ringan hingga tidak 4. Agar pasien
ada memahami tindakan
3. Frekuensi muntah yang dilakukan
ringan hingga tidak
ada
4. Intensitas muntah
ringan hingga tidak
ada
5.ketidakseimbangan
elektrolit ringan
hingga tidak ada

45
3. Intoleransi Setelah diberikan NIC Label : Terapi
aktivitas askep selama 3×24 Terapi Aktivitas (4130) Aktivitas
berhubungan jam diharakan pasien
1. Monitor status 1. Mengkaji setiap
dengan nyeri menunjukkan
emosional, fisik dan aspek klien
dismenore perbaikan nutrisi
social serta spiritual terhadap terapi
dengan kriteria hasil :
klien terhadap latihan yang
NOC Label :
latihan/aktivitas. dierencanakan.
Toleransi Terhadap
2. Monitor hasil 2. EKG
Aktivitas (0005)
pemeriksaan EKG memberikan
1. Saturasi O2 klien saat istirahat gambaran yang
saat aktivitas dan aktivitas (bila akurat mengenai
dalam batas memungkinkan konduksi jantung
normal (95- dengan tes toleransi selama istirahat
100%) latihan). maupun
2. Nadi saat 3. Bantu klien aktivitas.
aktivitas memilih aktivitas 3. Aktivitas yang
dalam batas yang sesuai dengan teralau berat dan
normal (60- kondisi. tidak sesuai
100x/mnt) 4. Bantu klien untuk dengan kondisi
3. RR saat melakukan klian dapat
aktivitas aktivitas/latihan memperburuk
dalam batas fisik secara teratur. toleransi
normal (12- 5. Kolaborasi terhadap latihan.
20x/mnt) pemberian obat 4. Melatih kekuatan
antihipertensi, obat- dan irama
obatan digitalis, jantung selama
diuretic dan aktivitas.
4. Tekanan
vasodilator. 5. Pemberian obat
darah systole
6. Kolaborasi dengan antihipertensi
saat aktivitas
tim kesehatan lain digunakan untuk
dalam batas
untuk mengembalikan
normal (100-
merencanakan , TD klien dbn,

46
monitoring program obat digitalis
120mmHg)
aktivitasi klien. untuk
5. Tekanan
mengkoreksi
darah diastole Managemen Energi
kegagalan
saat aktivitas (0180)
kontraksi jantung
dalam batas
pada gambaran
1. Monitor efek dari
normal (60-
EKG, diuretic
pengobatan klien.
80mmHg)
dan vasodilator
2. Monitor intake nutrisi
6. Hasil EKG
digunakan untuk
yang adekuat sebagai
dalam batas
mengeluarkan
sumber energy.
normal
kelebihan cairan.
3. Monitor respon terapi
6. Mengetahui
Tingkat Kelelahan oksigen klien.
setiap
(0007) 4. Tentukan pembatasan
perkembangan
aktivitas fisik pada
1. Tidak nampak yang muncul
klien
kelelahan segera setelah
5. Tentukan persepsi
2. Tidak nampak terapi aktivitas.
klien dan perawat
lesu
mengenai kelelahan.
3. Tidak ada
6. Tentukan penyebab
penurunan
kelelahan (perawatan,
nafsu makan
nyeri, pengobatan)
4. Tidak ada sakit Managemen Energi
kepala
1. Mengetahui etiologi
5. Kualitas tidur
7. Anjurkan klien dan kelelahan, apakah
dan istirahat
keluarga untuk mungkin efek
dalam batas
mengenali tanda dan samping obat atau
normal
gejala kelelahan saat tidak.
aktivitas. 2. Mengidentifikasi
8. Anjurkan klien untuk pencetus klelahan
membatasi aktivitas 3. Mengetahui
yang cukup berat efektifitas terapi O2
seperti berjalan jauh, terhadap keluhan

47
berlari, mengangkat sesak selama
beban berat, dll. aktivitas.
9. Batasi stimuli 4. Mencegah
lingkungan untuk penggunaan energy
relaksasi klien. yang berlebihan
10. Batasi jumlah karena dapat
pengunjung. menimbulkan
kelelahan.
5. Menyamakan
persepsi perawat-
klien mengenai
tanda-tanda
kelelahan dan
menentukan kapan
aktivitas klien
dihentikan.
6. Memudahkan klien
untuk mengenali
kelelahan dan waktu
untuk istirahat.
7. Mengetahui sumber
asupan energy klien.
8. Mencegah timbulnya
sesak akibat aktivitas
fisik yang terlalu
berat.
9. Menciptakan
lingkungan yang
kondusif untuk klien
beristirahat.
10. Memfasilitasi waktu
istirahat klien untuk

48
memperbaiki kondisi
klien.

4. Ansietas Setelah diberikan NIC Label : Pengurangan


berhubungan askep selama ….×24 Pengurangan Kecemasan Kecemasan
dengan jam diharakan pasien (5820)
1. mengobservasi tanda
ineffektif menunjukkan
1. Observasi tanda verbal verbal dan non
koping perbaikan nutrisi
dan non verbal dari verbal dari
individu dengan kriteria hasil :
kecemasan klien kecemasan klien
NOC label : 2. Mendengarkan dapat mengetahui
penyebab kecemasan tingkat kecemasan
Tingkat Kecemasan
klien dengan penuh yang klien alami.
(1211) :
perhatian 2. Klien dapat
mengungkapkan
1. Perasaan gelisah
Teknik Menenangkan
penyebab
pada klien berkurang
(5880)
kecemasannya
dari skala 3 menjadi
sehingga perawat
skala 4 1. Menganjurkankeluarga
dapat menentukan
2. Wajah tidak tegang untuk tetap
tingkat kecemasan
mendampingi klien
klien dan
2. Mengurangi atau
menentukan
menghilangkan
intervensi untuk
rangsangan yang
klien selanjutnya
menyebabkan
kecemasan pada klien
Teknik Menenangkan

Peningkatan Koping
1. Dukungan keluarga
(5230)
dapat memperkuat
mekanisme koping
1. Menginstruksikan klien
klien sehingga
untuk menggunakan
tingkat ansietasnya
tekhnik relaksasi
berkurang
2. Meningkatkan
2. Pengurangan atau

49
pengetahuan klien penghilangan
mengenai penyakitnya. rangsang penyebab
kecemasan dapat
meningkatkan
ketenangan pada
klien dan
mengurangi tingkat
kecemasannya

Peningkatan Koping

1. Teknik relaksasi
yang diberikan pada
klien dapat
mengurangi ansietas
2. Peningkatan
pengetahuan tentang
penyakit yang
dialami klien dapat
membangun
mekanisme koping
klien terhadap
kecemasan yang
dialaminya

IV. PELAKSANAAN
Adalah pengelolaan dan perwujudan rencana keperawatan yang
telah disusun pada tahap perencanaan (Effendy, 1995), dan implementasi
disini disesuaikan dengan intervensi.

  V. EVALUASI

50
1. Pasien dapat mengindentifikasi aktivitas yang
2. meningkatkan/menurunkan nyeri, skala nyeri ringan.
3. Pasien dapat melakukan aktifitas
4.  Pasien tenang dan dapat mengekspresikan perasaannya
5. Pasien tahu, mengerti, dan patuh dengan program terapeutik dengan
kriteria hasil Ps mengerti tentang penyakitnya dan apa yang
mempengaruhinya

BAB III

PENUTUP

3.1 Simpulan
Menstruasi adalah gejala periodik pelepasan darah dan mukosa
jaringan dari lapisan dalam rahim melalui vagina. Menstruasi diperkirakan
terjadi setiap bulan selama masa reproduksi, dimulai saat pubertas
(menarche) dan berakhir saat menopause, kecuali selama masa kehamilan.
Berdasarkan pengertian klinik, menstruasi dinilai berdasarkan 3 hal :
Siklus menstruasi, lama menstruasi, dan jumlah darah yang keluar.
Terdapat gangguan pada menstruasi: Hipermenorea (menoragia),
Hipomenorea, Polimenorea, Oligomenorea, Amenorea, Metroragia

3.2 Saran
Gangguan pada saat menstruasi janganhanya didiamkan karena
dapat berdampak serius, haid yang tidak teratur misalnya dapat menjadi
pertanda seorang perempuan kurang subur (infertil).Gangguan yang terjadi
saat haid dinilai masih normal jika terjadi selama dua tahun pertama setelah
haid kali pertama. Artinya, bila seorang perempuan telah mendapatakan
haid pertamanya saat berusia 11 tahun, maka hingga usia 13 tahun haidnya
masih tidak teratur. Tapi bila setelah usia 13 tahun haidnya masih tidak
teratur juga, dipastikan ia mengalami gangguan haid.

51
DAFTAR PUSTAKA

Aisyaroh, N. 2010. Kesehatan Reproduksi Remaja.Jurnal Majalah Ilmiah


Sultan Agung, Universitas Sultan Agung. www.unissula.ac.id

Andira,D.,2010.Seluk Beluk Kesehatan Reproduksi Wanita.Yogyakarta: A


Plus Books

Manuaba,Chandranita,dkk.2008.Gawat Darurat Obstetri-Giekologi dan


Obstetri-Ginekologi Sosial Untuk Profesi Bidan.Jakarta : ECG

Badziat,Ali.2003.Endokrinologi Ginekologi.Jakarta : Media Aesculapius


Buku Panduan Praktikum Kesehatan Reproduksi

52