Anda di halaman 1dari 11

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Manusia sebagai makhluk hidup yang memiliki kebutuhan dasar manusia yaitu
kebutuhan biopsikososio dan spiritual, dalam memenuhi kebutuhan dasar tersebut
manusia membutuhkan interaksi antar sesama makhluk hidup lain dengan tetap
memperhatikan dan menyeimbangkan antara segala tingkah laku yang dilakukan.
Manusia sebagai makhluk hidup memiliki banyak keterbatasan ataupun kekurangan di
dalam dirinya sering kali mengalami peristiwa di dalam hidupnya yang dapat
menyebabkan manusia merasakan berbagai perasaan seperti senang, sedih, bimbang,
cemas, takut, bahkan merasa depresi. Di dalam psikologi, terdapat penyimpangan –
penyimpangan dalam tingkah laku, penyimpangan tersebut dapat terjadi karena
keberadaan psikis yang abnormal, atau penyakit kejiwaan yang diistilahkan sebagai
psikopatologi yang terdiri dari dua macam yaitu neurosis dan psikosis. Dalam makalah ini
akan dibahas mengenai psikosis.
1.2 Rumusan Masalah
1.2.1 Apakah pengertian dari psikosis?
1.2.2 Apa saja penyebab/faktor risiko dari psikosis?
1.2.3 Bagaimana patofisiologi dari psikosis?
1.2.4 Apa saja tanda dan gejala dari psikosis?
1.2.5 Bagaimana penanganan pada psikosis?
1.3 Tujuan
1.3.1 Untuk mengetahui pengertian dari psikosis
1.3.2 Untuk mengetahui penyebab/faktor risiko dari psikosis
1.3.3 Untuk mengetahui patofisiologi dari psikosis
1.3.4 Untuk mengetahui tanda dan gejala dari psikosis
1.3.5 Untuk mengetahui penanganan pada psikosis
1.4 Metode Penulisan
Metode penulisan yang digunakan dalam makalah ini adalah metode pustaka dimana
metode yang dilakukan dengan mempelajari dan mengumpulkan data dari pustaka yang
berhubungan dengan alat, baik berupa buku maupun informasi di internet.

1
BAB II

PEMBAHASAN

2.1 Pengertian Psikosis

Menurut Singgih D. Gunarsa (1998) psikosis adalah gangguan jiwa yang meliputi
keseluruhan kepribadian, sehingga penderita tidak bisa menyesuaikan diri dalam norma-
norma hidup yang wajar dan berlaku umum.

Menurut W.F. Maramis (2005), psikosis adalah gangguan jiwa dengan kehilangan
rasa kenyataan (sense of reality). Kelainan seperti ini dapat diketahui berdasarkan
gangguan-gangguan pada perasaan, pikiran, kemauan, motorik, dst. Sedemikian berat
sehingga perilaku penderitan tidak sesuai lagi dengan kenyataan. Perilaku penderita
psikosis tidak dapat dimengerti oleh orang normal sehinggaorang awam menyebut
penderita sebagai orang gila.

Menurut Zakiah Daradjat (1993) menyatakan, seorang yang diserang penyakit


jiwa (psikosis), kepribadiannya terganggu, dan selanjutnya menyebabkan kurang mampu
menyesuaikan diri dengan wajar dan tidak sanggup memahami problemnya. Seringkali
orang sakit jiwa tidak merasa bahwa dirinya sakit, sebaliknya ia merasa dirnya normal
saja, bahkan lebih baik, lebih unggul, dan lebih penting dari orang lain.

Dari tiga pendapat tersebut dapat diperoleh gambaran tentang psikosis yang
intinya sebagai berikut :

1. Psikosis merupakan gangguan jiwa yang berat, atau tepatnya penyakit jwa, yang
terjadi pada semua aspek kepribadian.
2. Bahwa penderita psikosis tidaka dapat lagi berhubungan dengan realitas, penderita
hidup dalam dunianya sendiri
3. Psikosis dapat dirasakan keberadaanya oleh penderita. Penderita tidak menyadari
bahwa dirinya sakit.
2.2 Jenis – Jenis Psikosis Berdasarkan Faktor Penyebabnya
Secara umum, psikosis dibedakan menjadi dua jenis berdasarkan faktor penyebabnya,
yaitu psikosis organic, yang disebabkan oleh faktor organic dan psikosis fungsional,
yang terjadi karena faktor kejiwaan. Kedua jenis psikosis dan yang termasuk di
dalamnya diuraikan sebagai berikut:

2
1. Psikosis Organik
Psikosis organik adalah penyakit jiwa yang disebabkan oleh faktor-faktor fisik
atau organik, yaitu jaringan otak, sehingga penderita mengalami inkompten secara
sosial, tidak mampu bertanggung jawab, dan gagal dalam menyesuaikan diri
terhadap realitas. Psikosis organis dibedakan menjadi beberapa jenis dengan
sebutan atau nama mengacu pada faktor penyebab terjadinya. Jenis psikosis yang
tergolong psikosis organic adalah sebagai berikut:
a. Alcohol psychosis, terjadi karena fungsi jaringan otak terganggu atau rusak
akibat terlalu banyak minum minuman keras.
b. Drug psychose atau psikosis akibat obat-obat terlarang (mariyuana, LSD,
kokain, sabu-sabu, dst)
c. Traumatic psychosi, yaitu psikosis yng terjadi akibat luka atau trauma pada
kepala karena kena pukul, tertembak, kecelakaan, dst.
d. Dementia paralytic, yaitu psikosis yang terjadi akibat infeksi syphilis yang
kemudian menyebabkan kerusakan sel-sel otak.
2. Psikosis fungsional
Psikosis fungsional merupakan penyakit jiwa secara fungsional yang bersifat
nonorganic, yang ditandai dengan disintegrasi kepribadian dan ketidakmampuan
dalam melakukan penyesuaian sosial. Psikosis jenis ini dibedakan menjadi
beberapa, yaitu :schizophrenia, psikosis mania-depresif, dan psikosisparanoid
(Kartini Kartono, 2005).
a. Schizophrenia
Arti sebenarnya dari schizophrenia adalah kepribadian yang terbelah
(split of personality). Sebutan ini diberikan berdasarkan gejala yang paling
menonjol dari penyakit ini, yaitu adanya jiwa yang terpecah belah. Antara
pikiran, perasaan, dan perbuatan terjadi disharmoni.
Menurut Carson dan Butcher (Wiramihardja, 2005), schizophrenia
merupakan kelompok psikosis atau psikotik yang ditandai terutama oleh
distorsi-distorsi mengenai realitas, juga sering terlihat adanya perilaku
menarik diri dari interaksi social, serta disorganisasi dan fragmentasi
dalam hal persepsi, pikiran dan kognisi.
1. Gejala-gejala schizophrenia
 Kontak dengan realitas tidak ada lagi, penderita lebih banyak
hidup dalam dunia khayal sendiri, dan berbicara serta
3
bertingkah laku sesuai dengan khayalannya, sehingga tidak
sesuai dengan kenyataan.
 Karena tidak ada kontak dengan realitas, maka logikanya tidak
berfungsi sehingga isi pembicaraan penderita sukar untuk
diikuti karena meloncat-loncat (inkoheren) dan seringkali
muncul kata-kata aneh yang hanya dapat dimengerti oleh
penderita sendiri.
 Pikiran, ucapan, dan perbuatannya tidak sejalan, ketiga aspek
kejiwaan ini pada penderita schizophrenia dapat bejalan
sendiri-sendiri, sehingga ia dapat menceritakan kejadian yang
menyedihkan sambil tertawa.
 Sehubungan dengan pikiran yang sangat berorientasi pada
khayalan sendiri, timbul delusi atau waham pada penderita
schizophrenia (bisa waham kerajaan dan kebesaran).
 Halusinasi sering dialami pula oleh penderita schizophrenia.
2. Faktor penyebab terjadinya schizophrenia
Pendapat para ahli menegnai faktor penyebab schizophrenia
ada bermacam-macam. Ada yang menyatakan bahwa penyakit ini
merupakan keturunan. Ada pula yang menyatakan bahwa
schizophrenia terjadi gangguan endokrin dan metabolism. Sedangkan
pendapat yang berkembang dewasa ini adalah bahwa penyakit jiwa ini
disebabkan oleh beberapa faktor, antara lain keturunan, pola asuh yang
salah, maladaptasi, tekakan jiwa,dan penyakit lain yang belum
diketahui (W. F. Maramis, 2005).
b. Psikosis mania-depresif
Psikosis mania-depresif merupakan kekalutan mental yang berat, yang
berbentuk gangguan emosi yang ekstrim, yaitu berubah-ubahnya
kegembiraan yang berlebihan (mania) menjadi kesedihan yang sangat
mendalam (depresi) dan sebaliknya dan seterusnya.
1. Gejala-gejala psikosis mania-depresif
a) Gejala-gejala mania antara lain :
 Euphoria (kegembiraan secara berlebihan)
 Waham kebesaran
 Hiperaktifitas
4
 Pikiran melayang
b) Gejala-gejala depresif antara lain :
 Kecemasan
 Pesimis
 Hipoaktifitas
 Insomnia
 Anorexia
2. Faktor penyebab psikosis mania-depresif
Psikosis mania-depresif disebabkan oleh faktor yang berhubungan
dengan dua gejala utama penyakit ini, yaitu mania dan depresi.
Aspek mani terjadi akibat dari usaha untuk melupakan kesedihan
dan kekecewaab hidup dalam bentuk aktivitas-aktivitas yang
sangat berlebihan. Sedangkan aspek depresinya terjadi adanya
penyesalan yang berlebihan.
c. Psikosis paranoid
Psikosis paranoid merupakan penyakit jiwa yang srius yang ditandai
dengan banyak delusi atau waham yang disistematisasikan dan ide-ide
yang salah yang bersifat menetap. Istilah paranoid dipergunakan pertama
kali oleh Kahlbaum pada tahun 1863, utntuk menunjukkan suatu
kecurigaan dan kebesaran yang berlebihan (W. F. Maramis, 2005).
1. Gejala-gejala psikosis paranoid
 System waham yang kaku, kukuh, dan sitematis, terutama
waham kejaran dan kebesaran baik sendiri-sendiri maupun
bercampura aduk.
 Pikirannya dikuasai ide-ide yang salah, kaku, dan paksaan
 Mudah timbul rasa curiga
2. Faktor penyebab psikosis paranoid
Faktor-faktor yang dapat menyebabkan psikosis paranoid (Kartini
Kartono, 2005), antara lain :
 kebiasaan berpikir yang salah
 terlalu sensitifdan sering kali dihinggapi rasa curiga
 adanya rasa percaya diri yang berlebihan (over confidence)
 adanya kompensasi terhadap kegagalan dan kompeks
inferioritas.
5
Faktor-faktor risiko yang dapat meningkatan terjadinya
psikosis, yaitu :

 Dibesarkan di kota besar


 Salah satu anggota dari etnis minoritas
 Penggunaan narkoba
 Kekerasan seksual (mengalami kejadiaan ekstrem)
 Mengalami kejadian hidup yang penuh stress
 Usia: dewasa muda dan dewasa
 Adanya penderita psikotik dalam keluarga
 Kepribadian yang rentan
 Dalam pemeriksaaan terdapat adanya lesi pada kepala
 IQ rendah
 Adanya komplikasi saat dilahirkan
 Penyakit fisik

6
2.3 Patofisiologi Psikosis

Patofisiologi psikosis terdiri dari peranan faktor biologis dan psikodinamik. Faktor
biologis berupa peningkatan respons sistem dopamin sedangkan faktor psikodinamik
berupa mekanisme adaptasi yang mengarah pada psikosis.

1. Faktor Biologis

Sistem dopamin berperan pada patofisiologi gangguan psikotik akut. Gangguan aktivitas
hippocampal dan peningkatan respons dopamin diikuti penurunan parvalbumin
interneuron di hippocampus dan hiperaktivitas regio hippocampal ventral yang
menyebabkan disinhibisi neuron firing dopamin di mesolimbik. Sehingga muncul
peningkatan dua kali lipat dopamin di area ventral tegmental. Stimulus eksternal
menyebabkan peningkatan respons sistem dopamin.

2. Faktor Psikodinamik

Sudut pandang psikodinamik menilai bahwa kondisi psikotik muncul sebagai respons
terhadap kondisi emosional yang penuh tekanan, disertai dukungan lingkungan yang
inadekuat atau tidak ada. Kedua hal ini menyebabkan munculnya mekanisme adaptasi
dominan yang mengarah pada gangguan psikotik. Seseorang dengan ketidakmampuan
menyelesaikan masalah mengarahkan pikiran pada fantasi, hilang kontak dengan realita
seolah hidup dalam dunianya sendiri (Grace, 2012)

7
2.4 Tanda dan Gejala Psikosis
Seseorang yang mengalami psikosis mungkin memiliki salah satu atau lebih dari hal
sebagai berikut;
a. Halusinasi
Menurut Direja (2011), halusinasi adalah hilangnya kemampuan manusia dalam
membedakan rangsangan internal dan rangsangan eksternal. Serta adapun halusinasi
menurut Maramis (2005), halusinasi adalah persepsi tanpa adanya rangsang apapun
pada panca indra seseorang yang terjadi pada keadaan sadar / bangun dasarnya
mungkin organik, fungsional, psikotik ataupun histerik. Yang secara singkat
halusinasi merupakan pengamatan palsu.
Adapun jenis – jenis halusinasi menurut Trimelia (2011), yaitu;
- Halusinasi pendengaran / auditori
Mendengar suara yang membicarakan, mengejek, mentertawakan, mengancam,
memerintahkan untuk melakukan sesuatu. Perilaku yang muncul adalah
mengarahkan telinga pada sumber suara, bicara atau tertawa sendiri, marah-marah
tanpa sebab menutup telinga, mulut komat-kamit, dan ada gerakan tangan.
- Halusinasi penglihatan / visual
stimulus penglihatan dalam bentuk pancaran cahaya, gambar, orang atau
panorama yang luas dan kompleks, bisa yang menyenangkan atau menakutkan.
Perilaku yang muncul adalah tatapan mata pada tempat tertentu, menunjuk ke arah
tertentu, ketakutan pada objek yang dilihat.
- Halusinasi pendengaran / olfaktori
mencium bau busuk, amis dan bau yang menjijikan, seperti bau darah, urine atau
feses atau bau harum seperti parfum. Perilaku yang muncul adalah ekspresi wajah
seperti mencium dengan gerakan cuping hidung, mengarahkan hidung pada
tempat tertentu, menutup hidung.
- Halusinasi pengecapan / gustatori
Merasa mengecap sesuatu yang busuk, amis dan menjijikan, seperti rasa darah ,
urine atau feses. Perilaku yang muncul adalah seperti mengecap, mulut seperti
gerakan mengunyah sesuatu sering meludah, muntah.
- Halusinasi perabaan / taktil
Mengalami rasa sakit atau tidak enak tanpa stimulus yang terlihat, seperti
merasakan sensasi listrik dari tanah, benda mati atau orang. Merasakan ada yang
menggerayangi tubuh seperti tangan, binatang kecil dan mahluk halus. Perilaku
8
yang muncul adalah mengusap, menggaruk-garuk atau meraba-raba permukaan
kulit, terlihat menggerak-gerakan badan seperti merasakan sesuatu rabaan.
- Halusinasi sinestetik
Merasakan fungsi tubuh, seperti darah mengalir melalui vena dan arteri, makanan
dicerna atau pemebentukan urine, perasaan tubuhnya melayang diatas permukaan
bumi. Perilaku yang muncul adalah klien terlihat menatap tubuhnya sendiri dan
terlihat seperti merasakan sesuatu yang aneh tentang tubuhnya.
b. Delusi
Delusi menurut Maramis (2005), menyatakan bahwa itu merupakan suatu keyakinan
tentang isi pikiran yang tidak sesuai dengan kenyataan atau tidak cocok dengan
intelegensia dan latar belakang kebudayaannya, keyakinan tersebut dipertahankan
secara kokoh dan tidak dapat diubah-ubah.
Adapun jenis – jenis delusi, yaitu;
 Erotomania: Seseorang dengan jenis gangguan delusi ini percaya bahwa orang
lain, (seringnya orang yang penting atau terkenal) jatuh cinta dengannya.
Penderita dapat mencoba untuk menghubungi objek khayalan dan menguntit
perilaku obyek khayalannya.
 Grandiose: Seseorang dengan jenis gangguan delusi ini merasa memiliki suatu
kekuatan, tenaga, pengetahuan, bahkan identitas yang lebih dari orang lain. Orang
ini dapat memercayai bahwa dirinya memiliki bakat besar atau telah membuat
penemuan penting.
 Cemburu: Seseorang dengan jenis gangguan delusi ini percaya bahwa
pasangannya tidak setia.
 Persecutory: Seseorang dengan jenis gangguan delusi ini percaya bahwa mereka
(atau seseorang yang dekat dengannya) sedang dianiaya, atau bahwa seseorang
memata-matai mereka atau berencana menyakiti. Namun, orang dengan gangguan
delusional ini tidak melaporkannya pada otoritas hukum.
 Somatik: Seseorang dengan jenis gangguan delusi ini percaya bahwa ia memiliki
cacat fisik atau masalah medis.
 Campuran: Orang dengan jenis gangguan delusi ini memiliki dua atau lebih jenis
delusi yang tercantum di atas
c. Gangguan berpikir

9
Menurut Kaplan (2010), proses berfikir yang normal mengandung arus ide, simbol dan asosiasi
yang terarah kepada tujuan. Proses berpikir dibangkitkan oleh suatu masalah atau tugas dan berpikir
berarti menghantarkan suatu penyelesaian yang berorientasi kepada kenyataan. Proses berpikir pada
manusia meliputi proses  pertimbangan, pemahaman, ingatan, serta penalaran. Berbagai macam
faktor dapat mempengaruhi proses berfikir manusia, misalnya faktor somatik (gangguan otak,
kelelahan), faktor psikologik (gangguan emosi), dan faktor sosial (kegaduhan dan keadaan
sosial yang lain). Distorsi pada proses berfikir dapat disebabkan karena gangguan organik maupun
gangguan psikologik terkait gangguan kecemasan, gangguan panik, gangguan depresi
maupun kondisi psikotik.
2.5 Penanganan Psikosis
Pengobatan psikosis tergantung pada penyebab atau diagnosis Pengobatan pertama
bagi banyak gangguan psikotik adalah obat antipsikotik (injeksi lisan atau intramuscular),
dan kadang-kadang diperlukan rawat inap. Penanganan gangguan psikotik singkat yaitu
melalui psikoterapi dan mungkin memerlukan obat obatan penekan gejala. Selain itu
dukungan keluarga merupakan faktor penting untuk penderita. Setelah fase akut teratasi,
orang orang disekitar penderita dapat membantu mengatasi stres, menyelesaikan konflik
dan juga meningkatkan harga diri dan percaya diri dari penderita.
Terapi perilaku kognitif dan terapi keluarga dapat mengelola gejala psikotik. Bila
pengobatan lain tidak efektif untuk psikosis, terapi electroconvulsive (ECT) (alias terapi
kejut) kadang-kadang digunakan untuk meringankan gejala yang mendasari psikosis
karena depresi sesuai dengan indikasi yang telah dientukan. Peran penting keluarga dalam
penanganan psikosis sangat dibutuhkan.

10
BAB III

PENUTUP

3.1 Simpulan
Psikosis adalah suatu penyakit kejiwaan berat yang bisa menyerang siapapun tidak
mengenal jenis kelamin, ras, ataupun usia. Gejala yang muncul adalah halusinasi ,
delusi, gangguan berpikir, mood swings, dan perubahan prilaku psikosa dibagi
menjadi 2 macam yakni psikosa organis yang disebabkan oleh faktor fisik seperti
alcoholic psychosis, psikosis akibat obat-obatan terlarang, traumatic psychosis, dan
dementia paralytic. Satu lagi adalah psikosa fungsional yang menyerang jiwa secara
fungsional nonorganic seperti schizophrenia, psikosis mania-depresif, dan psikosis
paranoid.

3.2 Saran
1. Kami menyarankan agar pembaca dapat mengetahui lebih dalam tentang makalah
yang kami sajikan.
2. Kami menyarankan agar pembaca bisa menambah wawasan pengetahuannya
tentang keperawatan jiwa psikosis.

11