Anda di halaman 1dari 41

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Dalam membina hubungan sosial, individu berada dalam rentang respon yang
adaptif sampai dengan maladaptif. Respon adaptif merupakan respon yang dapat
diterima oleh norma-norma sosial dan kebudayaan yang berlaku, sedangkan respon
maladaptif merupakan respon yang dilakukan individu dalam menyelesaikan masalah
yang kurang dapat diterima oleh norma-norma sosial dan budaya. Respon sosial dan
emosional yang maladaptif sering sekali terjadi dalam kehidupan sehari-hari,
khususnya sering dialami pada klien Kerusakan Interaksi Sosial.
Dari segi kehidupan sosial kultural, interaksi sosial adalah merupakan hal
yang utama dalam kehidupan bermasyarakat, sebagai dampak adanya Kerusakan
Interaksi Sosial akan menjadi suatu masalah besar dalam fenomen kehidupan,  yaitu
terganggunya komunikasi yang merupakan suatu elemen penting dalam mengadakan
hubungan dengan orang lain atau lingkungan disekitarnya. Karena pentingnya
berinteraksi dalam kehidupan sosial bagi individu, penulis membahas mengenai
kerusakan interaksi sosial dalam makalah ini.

1.2 Rumusan Masalah

1.2.1 Apa pengertian kerusakan interaksi sosial?

1.2.2 Bagaimana rentang respon sosial dari kerusakan interaksi sosial?

1.2.3 Bagaimana etiologi dari kerusakan interaksi sosial?

1.2.4 Apa batasan karakteristik dari kerusakan interaksi sosial?

1.2.5 Bagaimana pohon masalah dari kerusakan interaksi sosial?

1.2.6 Bagaiman pengkajian klien isolasi sosial?

1
1.2.7 Bagaimana diagnosis keperawatan dari klien dengan kerusakan interaksi sosial?

1.2.8 Apa tindakan keperawatan bagi klien dengan kerusakan interaksi sosial ?

1.2.9 Bagaimana evaluasi dari tindakan keperawatan pada klien dengan isolasi sosial?

1.3 Tujuan Penulisan

1.3.1 Untuk mengetahui pengertian kerusakan interaksi sosial

1.3.2 Untuk mengetahui rentang respon sosial dari kerusakan interaksi sosial

1.3.3 Untuk mengetahui etiologi dari kerusakan interaksi sosial

1.3.4 Untuk mengetahui batasan karakteristik dari kerusakan interaksi sosial

1.3.5 Untuk mengetahui pohon masalah dari kerusakan interaksi sosial

1.3.6 Untuk mengetahui pengkajian klien isolasi sosial

1.3.7 Untuk mengetahui diagnosis keperawatan dari klien dengan kerusakan interaksi
sosial

1.3.8 Untuk mengetahui tindakan keperawatan bagi klien dengan kerusakan interaksi
sosial

1.3.9 Untuk mengetahui evaluasi dari tindakan keperawatan pada klien dengan isolasi
sosial

2.4 Manfaat Penulisan

2.4.1 Manfaat Teoretis


Penulisan makalah ini dapat menambah kajian pustaka mengenai kerusakan
interaksi sosial.

2
2.4.2 Manfaat Praktis
Makalah ini dapat dijadikan sebagai pedoman awal bagi mahasiswa
keperawatan atau tenaga kesehatan (perawat) yang nantinya dapat dipraktikan di
lingkungan masyarakat.

3
BAB II

PEMBAHASAN

2.1 Pengertian

Kerusakan interaksi sosial atau isolasi sosial adalah keadaan dimana seorang
individu mengalami penurunan atau bahkan sama sekali tidak mampu berinteraksi
dengan orang di sekirarnya. Menurut Depkes RI (2000), kerusakan interaksi sosial
adalah suatu gangguan interpersonal yang terjadi akibat adanya kepribadian yang
tidak fleksibel menimbulkan perilaku maladaptif dan mengganggu fungsi seseorang
dalam kubungan sosial. Balitbang (2013) berpendapat, kerusakan interaksi sosial
merupakan upaya menghindari suatu hubungan komunikasi dengan orang lain karena
merasa kehilangan hubungan akrab dan tidak mempunyai kesempatan untuk berbagi
rasa, pikiran, dan kegagalan. Kemudian, menurut Stuart dan Sudeen (1998),
kerusakan interaksi sosial adalah satu gangguan kepribadian yang tidak fleksibel,
tingkah maladaptif, dan mengganggu fungsi individu dalam hubungan sosialnya.
Towsend mengemukakan, kerusakan interaksi sosial adalah suatu keadaan dimana
seseorang berpartisipasi dalam pertukaran sosial dengan kuantitas dan kualitas yang
tidak efektif. Klien yang mengalami kerusakan interaksi sosial mengalami kesulitan
dalam berinteraksi dengan orang lain, salah satunya mengarah pada menarik diri.

2.2 Rentang Respon Sosial

Dalam membina hubungan sosial, individu berada dalam rentang respon yang
adaptif sampai dengan maladaptif. Respon adaptif merupakan respon yang diterima
oleh norma-norma sosial dan kebudayaan yang secara umum berlaku. Sedangkan
respon maladaptif merupakan respon yang dilakukan individu dalam menyelesaikan
masalah yang kurang dapat diterima oleh norma sosial dan budaya setempat.

4
Adaptif Maladaptif

 Merasa sendiri  Impulsif


 Menyendiri
 Dependensi  Manipulasi
 Otonomi
 Menarik diri  narcisissm
 Bekerjasama
 Interdependen

Rentang Penjelasan
Respon
Menyendiri Merupakan respon yang dibutuhkan seseorang untuk merenungkan apa
(solitide) yang telah dilakukan di lingkungan sosialnya dan suatu cara untuk
mengevaluasi diri untuk menentukan langkah selanjtnya. Solitude
umumnya dilakukan setekah melakukan kegiatan.
Otonomi Kemampuan individu untuk menentukan dan menyampaikan ide-ide,
pikiran, perasaan dalam hubungan sosial.
Bekerja sama Suatu kondisi dalam hubungan interpersonal dimana individu tersebut
(mutualisme) mampu untuk saling memberi dan menerima
Saling Merupakan kondisi saling bergantung antara individu dengan yang
tergantung lainnya dalam membina hubungan interpersonal.
(interdependen)
Merasa sendiri Biasanya disebutjuga dengan kesepian. Dimanifestasikan dengan
(loneliness) merasa tidak tahan dan untuk satu alasan atau yang lain menganggap
bahwa dirinya sendirian dalam menghadapi masalah, cenderung
pemalu, sering merasa tidak percaya diri dan minder, atau merasa
kurang bisa bergaul.
Menarik diri Merupakan suatu keadaan dimana seseorang menemukan kesulitan
dalam membina hubungan secara terbuka dengan orang lain.
Tergantung Terjadi apabila seseorang gagal mengembangkan ras percaya diri atau
(dependens) kemampuannya untuk berfungsi secara sukses, gambaran utama dari
gangguan ini adalah kesulitan dengan “perpisahan”, gangguan cemas,
sehingga berkecenderungan berpikiran untuk bunuh diri.

5
Manipulasi Sebuah proses rekayasa dengan melakukan penambahan,
persembunyian, penghilangan atau pengkaburan terhadap bagian atau
keseluruhan sebuah realitas, kenyataan, fakta-fakta ataupun sejarah
yang dilakukan berdasarkan sistem perancangan sebuah tata sistem
nilai sehingga manipulasi adalah bagian terpenting dari tindakan
penanaman gagasan, sikap, sistem berpikir, perilaku dan kepercayaan
tertentu. Manipulasi merupakan gangguan hubungan sosial yang
terdapat pada individu yang menganggap orang lain sebagai objek.
Individu tersebut tidak dapat membina hubungan sosial secara
mendalam.
Impulsif Merupakan dorongan yang didasarkan keinginan atau untuk pemuasan
atau keinginan secara sadar maupun tidak sadar. Tindakan impulsif
berarti suatu tindakan yang didasarkan dengan adanya dorongan untuk
mengekspresikan keinginan atau bertindak tanpa berpikir terlebih
dahulu. Hal ini biasanya terjadi pada para pecandu.

2.3 Etiologi
2.3.1 Faktor Predisposisi

Beberapa faktor predisposisi (pendukung) terjadi gangguan hubungan sosial yaitu:

1. Faktor perkembangan, kemampuan membina hubungan yang sehat


tergantung dari pengalaman selama proses tumbuh kembang. Setiap tahap
tumbuh kembang memiliki tugas yang harus dialui individu dengan sukses,
karena apabila tugas perkembangan ini tidak dapat dipenuhi akan
menghambat masa perkembangan selanjutnya. Kurangnya stimulasi, kasih
sayang, perhatian, dan kehangatan dari orang tua/ pengasuh akan
memberikan rasa tidak aman yang dapat menghambat terbentuknya rasa
tidak percaya.

Tahap Perkembangan Tugas

6
Masa bayi Menetapkan rasa percaya
Masa bermain Mengembangkan otonomi dan awal perilaku
mandiri
Masa pra sekolah Belajar menunjukkan inisiatif, rasa tanggung
jawab, dan hati nurani.
Masa sekolah Belajar berkompetisi, bekerja sama, dan
berkompromi.
Masa pra remaja Menjalin hubungan intim dengan teman sesama
jenis kelamin
Masa remaja Menjadi intim dengan teman lawan jenis atau
tergantung.
Masa dewasa muda Menjadi saling bergantung antara orang tua dan
teman, mencari pasangan, menikah dan
mempunyai anak.
Masa tengah baya Belajar menerima hasil kehidupan yang sudah
dilalui
Masa dewasa tua Berduka karena kehilangan dan
mengembangkan perasaan keterikatan dengan
budaya.
Sumber : Stuart dan Sudeen (1998), dikutip dari Ade Hermawan (2011)

2. Faktor komunikasi dalam keluarga


Gangguan komunikasi dalam keluarga merupakan faktor pendukung isolasi
sosial. Dalam teori ini yang termasuk masalah berkomunikasi sehingga
menimbulkan ketidakjelasan (double bind) yaitu suatu keadaan dimana
seseorang anggora keluarga menerima pesan yang saling bertentangan dalam
waktu bersamaan dan ekspresi emosi yang tinggi dalam keluarga yang
menghambat untuk berhubungan dengan lingkungan di luar keluarga.
3. Faktor biologis, genetik merupakan salah satu faktor pendukung gangguan
jiwa. Kelainan struktur otak seperti atropi, pembesaran ventrikel, penurunan

7
berat dan volume otak serta perubahan limbik diduga dapat menyebabkan
skizofrenia.
4. Faktor sosial budaya, faktor sosial budaya dapat menjadi faktor pendukung
terjadinya gangguan dalam membina hubungan dengan orang lain. Hal ini
disebabkan oleh norma yang salah dianut oleh keluarga, misalnya anggota
keluarga yang tidak produktif seperti usia lanjut, menderita penyakit kronis,
dan penyandang cacat diasingkan dari orang lain.
2.3.2 Stressor Presipitasi
1. Stressor sosial budaya, stressor sosial budaya menyebabkan terjadinya
gangguan dalam membian hubungan dengan orang lain, misalnya anggota
keluarga yang labil yang dirawat di rumah sakit.
2. Stressor psikologis, tingkat kecemasan yang berat akan menyebabkan
menurunnya kemampuan individu untuk berhubungan dengan orang lain.
Intensitas kecemasan yang ekstrim dan memanjang disertai terbatasnya
kemampuan individu untuk mengatasi masalah diyakini akan menimbulkan
berbagai masalah berupa menarik diri.

2.4 Batasan Karakteristik (pakai NANDA/SDKI)

Menurut Towsend, M.C. (1998) yang dikutip dari Abdul Muhith (2015), tanda
dan gejala dari seseorang yang mengalami kerusakan interaksi sosial atau isolasi
sosial adalah sebagai berikut:

1. Kurang spontan
2. Apatis (acuh tak acuh terhadap lingkungan)
3. Ekspresi wajah kurang berseri (berekspresi sedih)
4. Afek tumpul
5. Tidak merawat dan memperhatikan kebersihan diri
6. Komunikasi verbal menurun atau tidak ada
7. Klien tidak bercakap-cakap dengan klien lain atau perawat

8
8. Mengisolasi diri (menyendiri)
9. Pemasukan makan dan minuman terganggu
10. Retensi urine dan feses
11. Aktivitas menurun
12. Kurang energi
13. Harga diri rendah
14. Posisi janin pada saat tidur
15. Menolak berhubungan dengan orang lain.

Perilaku ini biasanya disebabkan karena harga diri rendah, yang menyebabkan
timbulnya perasaan malu untuk berinteraksi dengan orang lain. Bila tidak dilakukan
intervensi lebih lanjut, maka akan menyebabkan perubahan persepsi sensori,
halusinasi dan risiko mencederai diri, orang lain, bahkan lingkungan.

2.5 Pohon Masalah

Halusinasi, Risti Membahayakan Diri


Sendiri

Isolasi Sosial : Menarik Diri

Harga Diri Rendah


2.6 Pengkajian Klien Isolasi Sosial (PAKAI YUSUF, UNAIR)

Pengkajian klien isolasi sosial dapat dilakukan melalui wawancara,


observasi, serta pemeriksaan fisik kepada klien dan keluarga. Data yang harus dikaji
adalah ; identitas klien, alasan masuk rumah sakit, faktor predisposisi, fisik,
psikolososial (berupa genogram, konsep diri, hubungan sosial, spiritual), status

9
mental, kebutuhan persiapan pulang, mekanisme koping, masalah psikososial dan
lingkungan, tingkat pengetahuan, dan aspek medis.

1. Identitas
2. Keluhan utama
Keluhan utama yang menyebabkan pasien dibawa ke rumah sakit
biasanya akibat adanya kemunduran kemauan dan kedangkalan
emosi.
3. Faktor presidposisi
Faktor predisposisi sangat erat kaitannya dengan faktor etiologi yakni
faktor perkembangan, komunikasi dalam keluarga, biologis dan
sosial budaya.
4. Psikososial
a. Genogram
Orang tua penderita skizofrenia salah satu kemungkinan
anaknya 7-16% juga mengidap skizofrenia.
b. Konsep diri
Kemunduran kemauan dan kedangkalan emosi yang
mengenai pasien akan memengaruhi konsep diri pasien.
c. Hubungan sosial
Klien cenderung menarik diri dari lingkungan pergaulan, suka
melamun, dan berdiam diri.
d. Spiritual
Aktivitas spiritual menurun seiring dengan kemunduran
kemauan.
5. Status mental
a. Penampilan diri
Pasien tampak lesu, tak bergairah, rambut acak-acakan,
penampilan tampak acak-acakan.

10
b. Pembicaraan
Nada suara rendah, lambat, kurang bicara, apatis.
c. Aktivitas motorik
Kegiatan yang dilakukan tidak bervariatif, kecenderungan
mempertahankan pada satu posisi yang dibuatnya sendiri
(katalepsia).
d. Emosi
Emosi dangkal.
e. Afek
Dangkal, tak ada ekspresi roman muka.
f. Interaksi selama wawancara
Cenderung tidak kooperatif, kontak mata kurang, tidak mau
menatap lawan bicara, diam.
g. Persepsi
Tidak terdapat halusinasi atau waham.
h. Proses berpikir
Gangguan proses berpikir jarang ditemukan.
i. Kesadaran
Kesadaran berubah, kemampuan mengadakan hubungan serta
pembatasan dengan dunia luar dan dirinya sendiri sudah
terganggu pada taraf tidak sesuai dengan kenyataan (secara
kualitatif).
j. Memori
Tidak ditemukan gangguan spesifk, orientasi tempat, waktu, dan
orang.

k. Kemampuan penilaian

11
Tidak dapat mengambil keputusan, tidak dapat bertindak dalam
suatu keadaan, selalu memberikan alasan meskipun alasan tidak
jelas atau tidak tepat.
l. Tilik diri
Tidak ada yang khas.
6. Kebutuhan sehari-hari
Pada permulaan, penderita kurang memperhatikan diri dan
keluarganya, makin mundur dalam pekerjaan akibat kemunduran
kemauan. Minat untuk memenuhi kebutuhannya sendiri sangat
menurun dalam hal makan, BAB/BAK, mandi, berpakaian, dan
istirahat tidur.

Tanda dan gejala isolasi sosial yang dapat ditemukan dengan


wawancara, adalah:
 Klien menceritakan perasaan kesepiam atau ditolak oleh
orang lain
 Klien merasa tidak aman berada dengan orang lain
 Klien mengatakan hubungan yang tidak berarti dengan
orang lain
 Klien merasa bosan dan lambat menghabiskan waktu
 Klien tidak mampu berkonsentrasi dan membuat keputusan
 Klien merasa tidak berguna
 Klien tidak yakin dapat melangsungkan hidup

Pertanyaan–pertanyaan berikut merupakan pertanyaan yang dapat


ditanyakan pada waktu wawancara untuk mendapatkan data
subjektif:

12
 Bagaimana pendapat Klien terhadap orang-orang di
sekitarnya? (keluarga atau tetangga)
 Apakah Klien mempunyai teman dekat? Bila punya, siapa
teman dekat itu?
 Apa yang membuat Klien tidak memiliki orang terdekat
dengannya?
 Apa yang Klien inginkan dari orang-orang di sekitarnya?
 Apakah ada perasaan tidak aman yang dialami oleh Klien ?
 Apa yang menghambat hubungan yang harmonis antara
Klien dengan orang sekitarnya?
 Apakah Klien merasakan bahwa waktu begitu lama berlaku?
 Apakah pernah ada perasaan ragu untuk bisa melanjutkan
kehidupan?

Tanda dan gejala isolasi sosial yang dapat ditemukan dengan


observasi, adalah:
 Klien banyak diam dan tidak mau bicara
 Klien menyendiri dan tidak mau berinteraksi dengan orang
yang terdekat
 Klien tampak sedih, ekspresi datar dan dangkal
 Kontak mata kurang

Contoh: Melakukan Pengkajian Klien Isolasi Sosial

Orientasi:
“Om Swastyastu Bapak/Ibu....Saya perawat dari puskesmas. Nama Bapak/Ibu
siapa? Senang dipanggil apa?”
“Bagaimana perasaan Bapak/Ibu hari ini?”
“Baiklah, sekarang kita mau diskusikan mengenai bagaimana hubungan

13
Bapak/Ibu dengan orang di sekitar sini. Berapa lama kita mau berdiskusi? Mau
dimana?”
Kerja:
“dengan siapa bapak/Ibu tinggal serumah? Siapa yang paling dekat?”
“Apa yang membuat Bapak/Ibu tidak dekat dengan orang lain?”
“apa saja kegiatan yang biasa Bapak/Ibu lakukan saat bersama keluarga?
Bagaimana dengan teman-teman yang lain?”
“Apakah ada pengalaman yang tidak menyenangkan ketika bergaul dengan orang
lain?”
“Apakah ada yang menghambat Bapak/Ibu dalam berteman atau bercakap-cakap
dengan orang lain?”
Terminasi:
“Baiklah, bagaimana perasaan Bapak/Ibu setelah kita bercakap-cakap?”
“Jadi apa saja tadi yang membuat Bapak/Ibu tidak senang bercakap-cakap
dengan orang lain?” (Perawat merangkum beberapa alasan Klien tidak mau
berinteraksi dengan orang lain melalui percakapan yang telah dilakukan)
”Coba dalam dua hari ini Bapak/Ibu mengingat hal-hal apa yang membuat tidak
ingin bercakap-cakap dengan orang lain.”
“Dua hari lagi saya akan kemari, jam....., kita akan bercakap-cakap tentang
keuntungan bercakap-cakap dengan orang lain dan kerugian tidak bergaul.”
“saya mohon pamit, Ibu/Bapak. Selamat pagi.”

2.7 Diagnosis Keperawatan


Diagnosis keperawatan yang dapat ditegakkan adalah:

Isolasi Sosial

14
Batasan Karakteristik:
Batasan Mayor
 Subjektif  Objektif
o Ingin sendirian o Menarik diri
o Merasa tidak aman di o Tidak berminat/menolak
tempat umum berinteraksi dengan orang lain
atau lingkungan.

Batasan Minor
 Subjektif  Objektif
o Merasa berbeda o Afek datar
dengan orang lain o Afek sedih
o Merasa asyik o Riwayat ditolak
dengan pikiran o Menunjukkan permusuhan
sendiri o Tidak mampu memenuhi
o Merasa tidak harapan orang lain
mempunyai tujuan o Kondisi difabel
yang jelas o Tindakan tidak berarti
o Merasa waktu
o Tidak ada kontak mata
berjalan lambat
o Perkembangan terlambat
(bosan).
o Tidak bergairah/lesu
o Sakit
o Tindakan tidak berani
o Tidak ada sistem pendukung
o Ketidaksesuaian budaya

15
Faktor yang berhubungan
 Keterlambatan perkembangan  Ketidaksesuaian nilai-nilai
 Gangguan kesehatan dengan norma budaya
 Ketidakmampuan menjalin  Perilaku sosial tidak sesuai
hubungan yang memuaskan norma
 Ketidaksesuaian minat terhadap  Perubahan penampilan fisik
tahap perkembangan  Perubahan status mental
 Ketidakadekuatan sumber daya
personal (mis., pencapaian
buruk, kesadaran diri buruk,
tidak ada afek dan pengendalian
diri buruk).

2.8 Perencanaan Keperawatan

Diagnosis Tujuan Tujuan Khusus Intervensi Rasional


Keperawata Umum
n
Isolasi Sosial Klien dapat TUK 1 : 1. Mengucapkan salam Hubungan
berinteraks Membina hubungan setiap kali saling percaya
i dengan saling bercaya (BHSP) berinteraksi dengan merupakan
orang lain Klien. landasan utama
Setelah diberikan 2. Perkenalkan diri untuk hubungan
asuhan keperawatan dengan sopan. selanjutnya.
selama .....x pertemuan, 3. Tanyakan nama dan
Klien dapat menerima nama panggilan
kehadiran perawat, dan Klien dengan sopan.
Klien dapat 4. Menanyakan
mengungkapkan perasaan dan

16
perasaan dan keluhan Klien saat
keberadaannya saat ini ini
secara verbal dengan 5. Jelaskan tujuan
memenuhi kriteria pertemuan.
hasil: 6. Buat kontrak asuhan
1. Mau menjawab yang jelas: apa yang
salam saudara akan
2. Ada kontak lakukan bersama
mata Klien, berapa lama
3. Mau berjabat akan dikerjakan, dan
tangan. tempatnya dimana.
4. Mau berkenalan 7. Bersikap jujur dan
5. Mau menjawab menepati janji.
pertanyaan 8. Ciptakan lingkungan
6. Mau duduk yang tenang dan
berdampingan bersahabat.
dengan perawat. 9. Jelaskan bahwa
7. Mau saudara akan
mengungkapka merahasiakan
n perasaannya. informasi yang
diperoleh untuk
kepentingan terapi.
10. Setiap saat
tunjukkan sikap
empati terhadap
Klien.
11. Beri perhatian dan
penghargaan: temani

17
Klien walau tidak
menjawab.
12. Dengarkan dengan
empati beri
kesempatan bicara,
jangan buru-buru,
tunjukan bahwa
perawat mengikuti
pembicaraan Klien.
13. Penuhi kebutuhan
dasar Klien bila
memungkinkan.
TUK 2 : 1. Kaji pengetahuan Memberi
Klien dapat Klien mengenai kesempatan
menyebutkan penyebab perilaku menarik utntuk
menarik diri. diri. mengungkapkan
2. Tanyakan pada perasaannya
Setelah diberikan Klien tentang: dapat
asuhan keperawatan orang yang tinggal mengurangi
selama .....x pertemuan, serumah/teman stres dan
Klien dapat sekamar Klien, penyebab
menyebutkan minimal orang terdekat di perasaan
satu penyebab menarik rumah/di ruang menarik diri.
diri yang berasal dari: perawatan, apa yang
a. Diri sendiri membuat Klien
b. Orang lain mendekati dan
c. Lingkungan menjauhi orang
tersebut, upaya yang
telah dilakukan

18
untuk mendekatkan
diri dengan orang
lain.
3. Tanyakan apa yang
menyebabkan Klien
tidak ingin
berinteraksi dengan
orang lain.
4. Beri kesempatak
klien untuk
mengungkapkan
perasaan penyebab
menarik diri atau
mau bergaul.
5. Diskusikan dengan
Klien perilaku
menarik diri, tanda-
tanda serta
penyebab yang
muncul.
6. Diskusikan
keuntungan bila
Klien memiliki
banyak teman dan
bergaul akrab
dengan mereka.
7. Diskusikan kerugian
bila Klien hanya

19
mengurung diri dan
tidak bergaul
dengan orang lain.
8. Jelaskan pengaruh
isolasi sosial
terhadap kesehatan
fisik Klien.
9. Berikan
pujian/reinforcemen
t positif terhadap
kemampuan Klien
dalam
mengungkapkan
perasaannya.
TUK 3 : 1. Kaji pengetahuan Untuk
Klien dapat klien tentang mengetahui
menyebutkan manfaat dan keuntungan dari
keuntungan keuntungan bergaul dengan
berhubungan dengan berhubungan dengan orang lain dan
orang lain dan kerugian orang lain. mengetahui
tidak berhubungan a. Beri kesempatan kerugian bila
dengan orang lain. kepada klien tidak
untuk berhubungan
Setelah diberikan mengungkapkan dengan orang
asuhan keperawatan perasaan tentang lain.
selama .....x pertemuan, keuntungan
Klien dapat: berhubungan
1. Menyebutkan dengan orang
keuntungan lain.

20
berhubungan b. Diskusikan
dengan orang lain, bersama klien
misal: tentang manfaat
a. Banyak teman berhubungan
b. Tidak kesepian dengan orang
c. Bisa diskusi lain
d. Saling c. Beri pujian
menolong terhadap
2. Menyebutkan kemampuan
kerugian tidak mengungkapkan
berhubungan perasaan tentang
dengan orang lain, keuntungan
misal: berhubungan
a. Sendiri dengan orang
b. Tidak punya lain.
teman, kesepian 2. Kaji pengetahuan
c. Tidak ada teman klien tentang
ngobrol kerugian bila tidak
berhubungan dengan
orang lain.
a. Beri kesempatan
kepada klien
untuk
mengungkapkan
perasaan dengan
orang lain.
b. Diskusikan
bersama klien

21
tentang kerugian
tidak
berhubungan
dengan orang
lain
c. Berikan pujian
terhadap
kemampuan
Klien
mengungkapkan
kerugian tidak
berhubungan
dengan orang
lain.
TUK 4 : 1. Kaji kemampuan klien Mengeksplorasi
Klien dapat membina hubungan perasaan Klien
melaksanakan dengan orang lain klien terhadap
hubungan sosial secara 2. Motivasi dan bantu perilaku
bertahap. Klien untuk menarik diri
berhubungan dengan yang biasa
Setelah diberikan orang lain melalui dilakukan serta
asuhan keperawatan tahap: untuk
selama .....x pertemuan, e. Klien-perawat mengetahui
Klien dapat f. Klien-perawat- perilaku
mendemonstrasikan perawat lain menarik diri dan
hubungan sosial secara g. Klien-perawat- dengan bantuan
bertahap, yaitu : perawat lain-klien perawat bisa
a. Klien-perawat lain membedakan
b. Klien-perawat- h. Klien-keluarga/ perilaku

22
perawat lain kelompok/ konstruktif dan
c. Klien-perawat- masyarakat. destruktif.
perawat lain- 3. Beri reinforcement
klien lain positif atas keberhasilan
d. Klien-keluarga/ yang telah dicapai.
kelompok/ 4. Bantu Klien unuk
masyarakat. mengevaluasi manfaat
berhubungan.
5. Diskusikan jadwal
harian yang dapat
dilakukan bersama
Klien dalam mengisi
waktu luang.
6. Memotivasi klien agar
melakukan kegiatan
sesuai dengan jadwal
yang telah dibuat.
7. Beri reinforcement
positif atas kegiatan
Klien sesuai jadwal
yang dibuat.
TUK 5 : 1. Dorong Klien untuk Klien dapat
Klien dapat mengungkapkan mengungkapkan
mengungkapkan perasaanya bila perasaannya
perasaannya setelah berhubungan dengan setelah
berhubungan dengan orang lain/kelompok. berhubungan
orang lain. 2. Diskusikan dengan dengan orang
Setelah diberikan Klien tentang perasaan lain.
asuhan keperawatan manfaat berhubungan

23
selama .....x pertemuan, dengan orang lain.
Klien dapat 3. Beri reinforcement
mengungkapkan positif atas kemampuan
perasaan setelah Klien mengungkapkan
berhubungan dengan perasaannya
orang lain untuk diri berhubungan dengan
sendiri dan orang lain orang lain.
untuk:
1. Diri sendiri
2. Orang lain
3. Kelompok
TUK 6 : 1. Bina hubungan Memberikan
Klien dapat saling percaya penanganan
memberdayakan sistem dengan keluarga: bantuan terapi
pendukung atau salam, perkenalan melalui
keluarga mampu diri, sampaikan pengumpulan
mengembangkan tujuan, buat kontrak, data yang
kemampuan klien eksplorasi perasaan lengkap dan
untuk berhubungan klien. akurat kondisi
dengan orang lain. 2. Diskusikan fisik dan non
pentinganya peranan fisik klien serta
Kriteria hasil: keluarga sebagai keadaan
1. Setelah diberikan pendukung untuk perilaku dan
asuhan keperawatan mengatasi perilaku sikap
selama .....x menarik diri. keluarganya.
pertemuan, keluarga 3. Diskusikan dengan
dapat menjelaskan anggota keluarga
tentang: tentang : perilaku
a. Pengertian menarik diri,

24
menarik diri termasuk penyebab,
dan tanda akibat jika perilaku
gejalanya menarik diri tidak
b. Penyebab dan ditangani, cara
akibat menarik keluarga
diri menghadapi Klien
c. Cara merawat menarik diri.
Klien dengan 4. Diskusikan potensi
menarik diri. keluarga untuk
2. Setelah ...x membantu
pertemuan keluarga mengatasi Klien
dapat menarik diri.
mendemonstrasikan 5. Latih keluarga
cara merawat Klien merawat Klien
dengan menarik menarik diri.
diri. 6. Tanyakan perasaan
keluarga setelah
mencoba cara yang
dilatih.
7. Anjurkan anggota
keluarga untuk
memberi dukungan
kepada Klien untuk
berkomunikasi
dengan orang lain.
8. Doronga anggota
keluarga secara rutin
dan bergantian

25
menjenguk klien
minimal satu kali
seminggu.
9. Beri reinforcement
atas hal-hal yang
telah dicapai
keluarga.
TUK 7 : 1. Diskusikan dengan Melatih klien
Klien dapat klien tentang mandiri dalam
menggunakan obat kerugian dan menggunakan
dengan benar dan tepat. keuntungan tidak obat dan
minum, serta menyadarkan
Kriteria hasil: karakteristik obat klien bahwa
1. Setelah diberikan yang diminum obat yang
asuhan keperawatan (nama, dosis, digunakannya
selama .....x frakuensi, efek harus diminum
interaksi, klien samping minum sesuai anjuran
mampu obat) dokter.
menyebutkan : 2. Bantu dalam
a. Manfaat minum menggunakan obat
obat dengan prinsip 6
b. Kerugian tidak benar.
minum obat 3. Anjurkan klien
c. Nama, warna, minta sendiri
dosis, efek obatnya kepada
samping obat perawat agar klien
2. Setelah ...x dapat merasakan
interaksi, klien manfaatnya.
mampu 4. Beri reinforcement

26
mendemonstrasikan positif bila klien
penggunaan obat menggunakan obat
dan menyebutkan dengan benar.
akibat terhenti 5. Diskusikan akibat
minum obat tanpa berhenti minum obat
konsultasi dokter. tanpa konsultasi
dengan dokter.
6. Anjurkan klien
untuk konsultasi
dengan
dokter/perawat
apabila terjadi hal-
hal yang tidak
diinginkan.

2.9 Implementasi Keperawatan


Implementasi dilakukukan sesuai dengan intervensi / perencanaan yang telah
ditetapkan

2.10 Evaluasi Keperawatan


Evaluasi keperawatan dilakukan dengan metode SOA, dan mengevaluasi
keadaan keadaan sebagai berikut :
1. Evaluasi kemampuan klien
 Klien menjelaskan kebiasaan interaksi.
 Klien menjelaskan penyebab tidak bergaul dengan orang lain.
 Klien menyebutkan keuntungan bergaul dengan orang lain.

27
 Klien menyebutkan kerugian tidak bergaul dengan orang lain.
 Klien memperagakan cara berkenalan dengan orang lain.
 Klien bergaul/berinteraksi dengan perawat, keluarga dan
tetangganya.
 Klien menyampaikan perasaan setelah interaksi dengan orang
lain.
 Klien menggunakan obat dengan patuh.
2. Evaluasi kemampuan keluarga
 Keluarga menyebutkan masalah isolasi sosial dan akibatnya.
 Keluarga menyebutkan penyebab dan proses terjasinya isolasi
sosial.
 Keluarga membantu klien berinteraksi dengan orang lain.
 Keluarga melibatkan klien melakukan kegiatan di rumah
tangga

Lampiran SP

SP 1 Klien: Membina Hubungan Saling Percaya (merupakan bagian orientasi dari


tiap percakapan), membantu pasien mengenal penyebab isolasi sosial.

Orientasi
“selamat pagi Bapak/Ibu”
“saya AK saya senang dipanggil A, saya perawat di ruang mawar ini. yang akan

28
merawat Ibu.”
“siapa nama ibu?”
“senang dipanggil siapa?”
“bagaimana perasaan S hari ini?”
“apa keluhan S hari ini?”
“bagaimana kalau kita bercakap-cakap tentang keluarga dan teman-teman S hari
ini?”
“mau dimana kita bercakap-cakap”
“mau berapa lama kita bercakap-cakap?”
“bagaimana kalau 15 menit?”
“Bagaimana kalau kita mengobrol selama setengah jam?”
Kerja:
“dengan siapa bapak/Ibu tinggal serumah? Siapa yang paling dekat?”
“siapa yang jarang bercakap-cakap dengan S”
“Apa yang membuat Bapak/Ibu tidak dekat dengan orang lain?”
“apa saja kegiatan yang biasa Bapak/Ibu lakukan saat bersama keluarga?
Bagaimana dengan teman-teman yang lain?”
“Apakah ada pengalaman yang tidak menyenangkan ketika bergaul dengan orang
lain?”
“Apakah ada yang menghambat Bapak/Ibu dalam berteman atau bercakap-cakap
dengan orang lain?”
Terminasi:
“Baiklah, bagaimana perasaan Bapak/Ibu setelah kita bercakap-cakap?”
“Jadi apa saja tadi yang membuat Bapak/Ibu tidak senang bercakap-cakap
dengan orang lain?” (Perawat merangkum beberapa alasan Klien tidak mau
berinteraksi dengan orang lain melalui percakapan yang telah dilakukan)
”Coba dalam dua hari ini Bapak/Ibu mengingat hal-hal apa yang membuat tidak
ingin bercakap-cakap dengan orang lain.”

29
“besok saya akan kemari, jam 10 pagi., kita akan bercakap-cakap tentang
keuntungan bercakap-cakap dengan orang lain dan kerugian tidak bergaul.”
“saya mohon pamit, Ibu/Bapak. Selamat pagi.”

SP 2 Klien: Membantu Klien Menyadari Masalah Isolasi Sosial Klien

Orientasi:
“selamat pagi bapak/ibu”
“bagaimana perasaan bapak/ibu hari ini? Masih ada hal-hal yang membuat
bapak/ibu tidak ingin bercakap-cakap dengan orang lain?”
“seperti janji seminggu yang lalu, hari ini kita akan diskusi tentang apa yang
menyebabkan bapak/ibu kurang suka bergaul, keuntungan bergaul, dan kerugian bila
tidak bergaul dengan orang lain. Mau berapa lama kita mengobrol bapak/ibu? Disini
saja ya Bapak/ibu?”
Kerja:
“menurut bapak/ibu apa saja keuntungan kalau kita mempunyai teman? Wah, benar,
ada teman bercakap-cakap. Apa lagi? (sampai Klien menyebutkan beberapa). Nah,
kalau kerugianya tidak mempunyai teman apa ya bapak/ibu? Ya, apa lagi? (sampai
Klien dapat menyebutkan beberapa). Jadi banyak juga ruginya tidak punya teman ya.
Kalau begitu inginkah bapak/ibu belajar bergaul dengan orang lain?
Terminasi:
“bagaimana perasaan bapak/ibu setelah kita tahu untungnya bergaul dan ruginya
tidak bergaul?”
“iya, ada 3 keuntungannya (sebutkan!) dan ada 4 kerugian tidak bergaul
(sebutkan!)”
“coba nanti diingat-ingat lagi apa untungnya bergaul dan ruginya tidak bergaul.”
“nah, dua hari lagi saya akan datang, dan kita akan bicarakan cara bergaul
dengan orang lain.”
“selamat pagi pak, sampai jumpa”

30
SP 3 Klien: Melatih Klien Beinteraksi Secara Bertahap (mengajarkan Klien
berkenalan)

Orientasi:
“selamat pagi bapak/ibu. Bagaimana perasaan hari ini? Masih ada untungnya
bergaul dengan ornga lain yang belum kita bicarakan? Bagaimana kegiatannya?
Masih ada? Bagus sekali.”
“hari ini kita akan belajar tentang bagaimana memulai berhubungan dengan
orang lain. Kita akan belajar berapa lama? Mau dimana bapak/ibu?”
Kerja:
“begini lho pak/ibu, untuk berkenalan dengan orang lain kita sebutkan dlu nama
kita dan nama panggilan yang kita sukai. Contoh: bama saya Pak Made Ranggi,
senang dipanggil Made.”
“selanjutnya Bapak/Ibu menanyakan nama orang yang diajak berkenalan.
Contohnya: nama bapak/ibu siapa? Senang dipanggil siapa?”
“ayo pak/bu dicoba! Misalnya saya belum kenal dengan bapak/ibu. Coba
berkenalan dengan saya!”
“ya, bagus sekali. Coba sekali lagi. Bagus sekali”
“setelah bapak/ibu berkenalan dengan orang tersebut, bapak/ibu bisa melanjutkan
percakapan tentang hal-hal yang menyenangkan Bapak/ibu bicarakan. Misalnya
tentang cuaca, tentang hobi, tentang keluarga, pekerjaan dan sebagainya.”
Terminasi
“bagaimana perasaan S setelah latihan berkenalan ini?”
“coba bapak/ibu peragakan lagi berkenalan dengan orang lain.”
“bagus sekali.”
“Selanjutnya S dapat mengingat-ingat apa yang kita pelajari tadi selama saya
tidak ada sehingga S lebih siap untuk berkenalan dengan orang lain. S mau
mempraktekkan ke orang lain? Mau jam berapa mencobanya? Mari kita masukkan
pada jadwal kegiatan hariannya.”

31
“besok saya akan kemari lagi untuk mengajak S berkenalan dengan teman saya,
Perawat N. Bagaimana, S mau kan?”
“baik kalau begitu saya undur diri, selamat pagi S”

SP 4 Klien: Melatih Klien Beinteraksi Secara Bertahap (berkenalan dengan


orang pertama, seorang perawat)

Oreintasi
“selamat pagi S, bagaimana perasaan S hari ini?”
“sudah diingat-ingat lagi pelajaran kita tentang berkenalan? Coba sebutkan lagi
sambil bersalaman dengan suster.”
“bagus sekali, S masih ingat. Nah, seperti janji saya, saya akan mengajak S
mencoba berkenalan dengan teman saya, perawat N. Tidak lama kok, sekitar 10
menit.”
“ayo kita temui perawat N.”
Kerja
(bersama-sama S, saudara mendekati perawat N)
“selamat pagi perawat N, S ingin berkenalan dengan anda.”
“baiklah S, S bisa berkenalan dengan peawat N seperti yang kita praktikkan
kemarin.”
(Klien mendemonstrasikan cara berkenalan dengan perawat N: memberi salam,
menyebutkan nama, menanyakan nama perawat, dan seterusnya)
“ada lagi yang S ingin tanyakan kepada perawat N? Coba tanyakan tentang
keluarga perawat N.”
“kalau tidak ada lagi yang ingin dibicarakan, S bisa sudahi perkenalan ini. Lalu S
bisa buat janji bertemu lagi dengan perawat N, misalnya jam 1 siang nanti.”
“baiklah perawat N, karena S sudah selesai berkenalan, saya dan S akan kembali
ke ruangan S. Selamat pagi.”
(bersama-sama Klien, saudara akan meninggalkan perawat N untuk melakukan

32
terminasi dengan S di tempat lain)
Terminasi
“bagaimana perasaan S setelah berkenalan dengan perawat N?”
“S tampak bagus sekali saat berkenalan tadi”
“Pertahankan terus apa yang sudah S lakukan tadi. Jangan lupa untuk
menanyakan topik lain supaya perkenalan berjalan lancar. Misalnya menanyakan
keluarga, hobi, dan sebagainya. Bagaimana? Mau coba dengan perawat lain?
Mari kita masukkan pada jadwlanya. Mau berapa kali sehari? Bagaimana kalau 2
kali? Baik, nanti S coba sendiri. Besok kita latihan lagi ya, mau jam berapa? Jam
10? Baik, sampai besok S.

SP 5 klien: Melatih Klien Beinteraksi Secara Bertahap (berkenalan dengan


orang kedua, seorang Klien)

Oreintasi
“selamat pagi S, bagaimana perasaan S hari ini?”
“Apakah S bercakap-cakap dengan perawat N kemarin siang?.”
(jika jawabannya ya, saudara bisa melanjutkan komunikasi berikutnya ke orang
lain)
“bagus sekali. Bagaimana perasaan S setelah bercakap-cakap dengan perawat N
kemarin siang?”
“Bagus sekali, S menjadi senang karena punya teman lagi.”
“kalau begitu, S ingin punya banyak teman lagi?”
“bagaimana kalau sekarang kita berkenalan lagi dengan orang lain, yaitu Klien
O?”
“mari kita temui dia di ruang makan”

Kerja
(bersama-sama S, saudara mendekati O)

33
“selamat pagi, ini ada Klien saya yang ingin berkenalan.”
“baiklah, S sekarang bisa berkenalan dengannya seperti yang telah S lakukan
sebelumnya.”
(Klien mendemnstrasikan cara berkenalan: memberi salam, menyebutkan nama,
nama panggilan, asal, dan hobi dan menyanyakan hal yang sama)
“ada lagi yang S ingin tanyakan kepada O?”
“kalau tidak ada lagi yang ingin dibicarakan, S bisa sudahi perkenalan ini. Lalu S
bisa buat janji bertemu lagi, misalnya bertemu lagi jam 4 sore nanti.”
(S membuat janji untuk bertemu kembali dengan O)
“baiklah O, karena S sudah selesai berkenalan, saya dan S akan kembali ke
ruangan S. Selamat pagi.”
(bersama-sama Klien, saudara meninggalkan perawat O untuk melakukan
terminasi dengan S di tempat lain.)
Terminasi
“bagaimana perasaan S setelah berkenalan dengan O?”
“dibandungkan kemarin pagi, N tampak lebih baik saat berkenalan dengan O.”
“Pertahankan apa yang sudah S lakukan tadi. Jangan lupa untuk bertemu kembali
dengan O jam 4 sore nanti.”
“delanjutnya, bagaimana jika kegiatan berkenalan dan bercakap-cakap dengan
orang lain kita tambahkan lagi di jadwal harian? Jadi satu hari S dapat
berbincang-bincang dengan orang lain sebanyak tiga kali, jam 10 pagi, jam 1
siang, dan jam 8 malam. S bida bertemu dengan N dan tambah dengan Klien yang
baru dikenal. Selanjutnya S bisa berkenalan dengan orang lain lagi secara
bertahap. Bagaimana S, apakah S setuju?”
“baiklah, besok kita bertemu lagi untuk membicarakan pengalaman S. Pada jam
yang sama dan tempat yang sama, ya. Sampai besok.”

34
SP 1 Keluarga: Memberikan penyuluhan kepada keluarga tentang masalah
isolasi sosial, penyebab isolasi sosial, dan cara merawat pasien dengan isolasi
sosial.

Orientasi
“selamat pagi, Bpk/Ibu! Bagaimana perasaan anda hari ini? Bagaimana keadaan anak
bapak/ibu sekarang?”
“hari ini kita berdiskusi tentang masalah tidak mau bergaul dengan orang lain yang
dialami oleh anak bapak/ibu dan cara mengatasinya. Kita diskusi disini saja ya? Barapa
lama bapak/ibu punya waktu? Bagaimana kalau satu jam?”
Kerja
“masalah yang dialami oleh anak bapak/ibu disebut isolasi sosial. Ini adalah salah satu
gejala penyakit yang juga dialami oleh Klien-Klien gangguan jiwa yang lain.”
“tanda-tandanya antara lain tidak mau bergaul dengan orang lain, mengurung diri,
kalaupun berbicara hanya sebentar dengan wajah menunduk dan tidak menatap.”
“biasanya masalah ini muncul karena memiliki pengalaman yang mengecewakan saat
berhubungan dengan orang lain, seperti sering ditolak, tidak dihargai atau berpisah
dengan orang-orang terdekat.”
“apabila masalah ini tidak diatasi, maka Klien bisa mengalami halusinasi, yaitu
mendengar suara atau melihat bayangan yang sebenarnya tidak ada.”
“untuk menghadapi keadaan Klien yang demikian keluarga harus sabar. Pertama
keluarga harus membina hubungan saling percaya dengan Klien yang caranya adalah
bersikap peduli dengan Klien dan jangan ingkar janji. Kedua, keluarga perlu memberikan
semangat dan dorongan kepada Klien untuk bisa melakukan kegiatan bersama-sama
dengan orang lain. Berilah pujian yang wajar dan jangan mencela kondisi Klien.”
“seperti ini cara memberikan pujian : bagus.... bagus. Kamu sudah mampu bergaul
dengan teman-teman di sekitar rumah ini!”
“coba bapak/ibu peragakan! Selanjutnya jangan biarkan Klien sendiri. Buat rencana
atau jadwal bercakap-cakap dengan Klien. Misalnya sembahyang bersama, makan
bersama, rekreasi bersama, melakukan kegiatan rumah tangga bersama.”
“nah, sekarang bagaimana kalau kita sekarang latihan untuk melakukan semua

35
cara tersebut?”
“begini contoh komunikasinya, Pak/Ibu : S, Bapak/Ibu lihat sekarang kamu sudah
bisa bercakap-cakap dengan orang lain. Perbincangannya juga lumayan lama.
Bapak dan ibu senang sekali melihat perkembangan kamu, Nak. Coba kamu
berbincang-bincang dengan saudara yang lain. Bagaimana kalau mulai sekarang
kamu sembahyang bersama? Kalau di rumah sakit ini kamu sembahyang dimana?
Kalau nanti di rumah kamu bisa sembahyang bersama keluarga atau bersama
teman-teman di pura. Bagaimana S, kamu mau coba?”
“nah, seperti itu contohnya Bapak/Ibu. Coba sekarang bapak/ibu praktikkan.”
“bagus, bapak/ibu. Bapak/Ibu sudah memperagakan dengan baik sekali.”
“bapak/ibu juga harus menjaga supaya Klien terus minum obat sesuai program.
Jangan menghentikan obat tanpa konsultasi dengan petugas kesehatan (perawat
atau dokter puskesmas)”
“apabila Klien tidak membaik dan sama skali tidak bisa mengurus dirinya sendiri,
Bapak/Ibu bisa membawanya ke RSJ untuk mendapatkan penanganan lebih lanjut.
Sampai disini apakah ada yang ingin ditanyakan?”

Terminasi
“baiklah karena waktunya sudah habis, bagaimana perasaan bapak/ibu setelah
kita bercakap-cakap?”
“coba bapak/ibu ulangi lagi cara menangani Klien yang tidak mau bergaul.”
“selanjutnya silakan bapak/ibu coba cara yang tadi kita bahas”
“minggu depan kita akan diskusi tentang pengalaman bapak/ibu mempraktikan
latihan kita hari ini dan hal-hal lain yang perlu dilakukan. Saya akan datang
kembali jam 10.00 Wita.”

36
SP 2 Keluarga: Melatih keluarga mempraktikkan cara merawat pasien dengan
masalah isolasi sosial langsung di hadapan pasien

ORIENTASI
“selamat pagi Pak/Bu”
“bagaimana perasaan Bapak/Ibu hari ini?”
“Bapak masih ingat dengan latihan merawat anak Bapak seperti yang kita pelajari
beberapa hari yang lalu?”
“kalau begitu, mari kita praktikkan langsung ke S! Kita akan mencobanya selama
30 menit.”
“sekarang, mari kita temui S”

KERJA
“ selamat pagi S, bagaimana perasaan S hari ini?”
“Bapak/Ibu S datang besuk. Beri salam! Bagus. Tolong S tunjukkan jadwal
kegiatannya.”
(kemudian saudara berbicarakepada keluarga S sebagai berikut)
“nah, Pak/Bu, sekarang bapak/ibu bisa mempraktikkan latihan yang sudah kita
lakukan pada pertemuan sebelumnya.”
(saudara mengobservasi kelarga mempraktikkan cara merawat pasien seperti
yang telah dilatihkan pada pertemuan sebelumnya)
“bagaimana perasaan S setelah berbincang dengan orang tua S?”
Baiklah, sekarang saya dan orang tua S ke ruang perawat dulu.”
(saudara bersama keluarga meninggalkan klien dan menuju ruang perawat untuk
melakukan terminasi)
TERMINASI
“bagaimana perasaan Bapa/Ibu setelah kita praktikkan tadi? Bapak/Ibu bagus
sekali.”
“mulai sekarang Bapak/Ibu sudah bisa melakukan cara merawat tadi kepada S”

37
“Tiga hari lagi kita akan bertemu untuk mendiskusikan pengalaman bapak/ibu
melakukan cara merawat yang sudah kita pelajari. Waktu dan tempatnya sama
seperti sekarang, ya Pak/Bu.”
“selamat pagi”

SP 3 Keluarga : Membuat Perencanaan Pulang Bersama Keluarga

Orientasi
“selamat pagi, Bapak/Ibu”
“karena besok S sudah boleh pulang, maka perlu kita bicarakanperawatan di
rumah.”
“bagaimana kalau kita membicarakan jadwal S tersebut disini saja?”
“berapa lama kita bisa bicara? Bagaimana kalau 30 menit?”

Kerja
“bapak/ibu, ini jadwal S selama di rumah sakit. Coba dilihat, mungkinkah
jadwalkan di rumah? Di rumah, bapak/ibu yang menggantikan perawat. Lanjutkan
jadwal ini di rumah, baik jadwal kegiatan maupun jadwal minum obatnya.”
“hal-hal yang perlu diperhatikan lebih lanjut adalah perilaku yang ditampilkan
oleh anak Bapak/Ibu selama di rumah. Misalnya kalau S terus menerus tidak mau
bergaul dengan orang lain, menolak minum obat atau memperlihatkan perilaku
membahayakan orang lain. Jika hal ini terjadi, segera hubungi perawat K di
puskesmas Indara Puri, Puskesmas terdekat di rumah Bapak. Ini nomor telepon
puskesmas tersebut (0361) xxxxx. Selanjutnya perawat K tersebut yang akan
memantau perkembangan S selama di rumah.”

Terminasi
“bagaimana Pak/Bu? Ada yang belum jelas? Ini jadwal kegiatan harian S untuk
dibawa pulang. Ini surat rujukan untuk perawat K di Puskesmas Indrapuri. Jangan

38
lupa kontrol ke puskesmas sebelum obat habis atau ada gejala yang tampak.
Silakan selesaikan administrasinya.”

39
BAB III

PENUTUP

3.1 Simpulan

Kerusakan interaksi sosial atau isolasi sosial adalah keadaan dimana seorang
individu mengalami penurunan atau bahkan sama sekali tidak mampu berinteraksi
dengan orang di sekirarnya. Menurut Depkes RI (2000), kerusakan interaksi sosial
adalah suatu gangguan interpersonal yang terjadi akibat adanya kepribadian yang
tidak fleksibel menimbulkan perilaku maladaptif dan mengganggu fungsi seseorang
dalam kubungan sosial. Dalam membina hubungan sosial, individu berada dalam
rentang respon yang adaptif sampai dengan maladaptif. Respon adaptif merupakan
respon yang diterima oleh norma-norma sosial dan kebudayaan yang secara umum
berlaku. Sedangkan respon maladaptif merupakan respon yang dilakukan individu
dalam menyelesaikan masalah yang kurang dapat diterima oleh norma sosial dan
budaya setempat. Beberapa faktor predisposisi (pendukung) terjadi gangguan
hubungan sosial yaitu faktor perkembangan, faktor komunikasi dalam keluarga,
faktor biologis, dan faktor sosial budaya. Kemudian stressor presipitasi terdiri dari
stresor sosial budaya dan Stressor psikologis. Menurut Towsend, M.C. (1998) yang
dikutip dari Abdul Muhith (2015), tanda dan gejala dari seseorang yang mengalami
kerusakan interaksi sosial atau isolasi sosial adalah sebagai berikut: kurang spontan,
apatis (acuh tak acuh terhadap lingkungan) , ekspresi wajah kurang berseri
(berekspresi sedih), afek tumpul, tidak merawat dan memperhatikan kebersihan diri,
komunikasi verbal menurun atau tidak ada, klien tidak bercakap-cakap dengan klien
lain atau perawat, mengisolasi diri (menyendiri), pemasukan makan dan minuman
terganggu, retensi urine dan feses, aktivitas menurun, kurang energi, harga diri
rendah, posisi janin pada saat tidur, menolak berhubungandengan orang lain.

40
3.2 Saran

Setelah mempelajari makalah ini diharapkan mahasiswa keperawatan dapat


menerapkannya dalam memberikan asuhan keperawatan kepada klien dengan
kerusakan interaksi sosial.

41