Anda di halaman 1dari 13

BAB 2

TINJAUAN TEORI

2.1 Abdominal Pain


2.1.1. Definisi
Abdominal pain adalah rasa sakit yang luar biasa parah yang timbul di area perut dan
membutuhkan perawatan segera (Abdullah & Firmansyah, 2012). Abdominal pain
merupakan kondisi penyakit ringan yang umumnya disebabkan oleh gastroenteritis,
sembelit, atau penyakit virus dan biasanya sembuh sendiri (Miranda, 2018). Sehingga
dapat dinyatakan bahwa abdominal pain merupakan kondisi yang terjadi akibat virus
atau penyakit lain yang menimbulkan rasa sakit yang luar biasa parah yang tibul di area
perut.

2.1.2. Etiologi
Abdominal pain dapat disebabkan oleh beberapa penyebab namun yang paling sering
adalah appendisitis, kolik bilier, kolesistitis, divertikulitis, obstruksi usus, perforasi
viskus, pankreatitis, peritonitis, salpingitis, adenitis mesenterika, dan kolik renal
(Abdullah & Firmansyah, 2012). Sedangkan menurut Patterson, dkk. (2021) penyebab
paling umum atau sering dari abdominal pain yaitu appendisitis, kolesistitis, pankreatitis,
dan divertikulitis. Berdasarkan 2 pendapat diatas dapat disimpulkan bahwa penyebab
dari abominal pain itu ada banyak sedangkan untuk penyebab paling sering adalah
appendisitis, kolesistitis, pankreatitis, dan divertikulitis.
Abdullah dan Firmansyah (2012) juga menyebutkan bahwa penyebab dari abdominal
pain dapat diprediksi berdasarkan lokasi, tipe nyeri dan keluhan tambahan lainnya seperti
mual, muntah, kurang nafsu makan, kembung, diare dan konstipasi. Sebagian besar
abdominal pain disebabkan oleh persyarafan ganda dibagian perut yaitu saraf viseral dan
saraf somatik. Saraf viseral seringkali muncul digaris tengah, tidak terlokalisir dengan
baik, dalam dan tumpul. Sedangkan saraf somatik memiliki rasa nyeri yang lebih tajam
dan terlokalisir (Patterson et al., 2021). Sehingga berdasarkan lokasi dan intensitas nyeri
kita mampu menentukan apa penyebab dari abdominal pain dan saraf mana yang
mengalami gangguan.
2.1.3. Patofisiologi
Abdominal Pain terjadi akibat stimulasi reseptor nosiseptif dan reseptor regangan
simpatis aferen (Miranda, 2018). Nyeri itu sendiri dibagi menjadi 2, yaitu visceral dan
parietal.
a. Visceral
Reseptor nyeri viseral terletak di permukaan serosa, di mesenterium, di dalam
otot usus, dan mukosa organ berongga. Serabut aferen yang terlibat dalam
pemrosesan nyeri viseral adalah serabut C tak bermielin yang memasuki sumsum
tulang belakang secara bilateral, menyebabkan nyeri tumpul dan tidak terlokalisir
dengan baik.
Nyeri dimulai ketika reseptor dirangsang oleh kontraksi berlebihan,
peregangan, ketegangan atau iskemia pada dinding rongga visera, kapsul organ
padat (hati, limpa, ginjal), atau mesenterium. Peningkatan kontraksi otot polos
visera berongga dapat disebabkan oleh infeksi, racun (bakteri atau agen kimiawi),
ulserasi, inflamasi, atau iskemia.
b. Parietal
Nyeri parietal ditularkan melalui serabut A-delta ke ganglia akar dorsal
spesifik. Nyeri parietal timbul dari stimulasi langsung (biasanya inflamasi) pada
peritoneum parietal yang berdekatan (misalnya, kuadran kanan bawah pada titik
McBurney, apendisitis) atau diafragma (ruptur limpa, abses subdiafragma).
Nyeri parietal biasanya tajam, dan lebih intens. Biasanya dapat diperburuk
oleh gerakan atau batuk, disertai dengan nyeri tekan di area iritasi, dan lateralisasi
ke salah satu dari empat kuadran.

2.1.4. Manifestasi Klinis


Gejala utama yang muncul pada abdominal pain adalah nyeri. Adapun keluhan –
keluhan lain yang mungkin muncul adalah : mual, kembung, diare, konstipasi, anoreksia,
demam, muntah berkepanjangan, sakit kepala dan sakit tenggorokan (Abdullah &
Firmansyah, 2012; Cartwright & Knudson, 2008; Miranda, 2018; Patterson et al., 2021).
2.1.5. Pemeriksaan Diagnostik
Anamnesis yang cermat dan pemeriksaan fisik yang sesuai memiliki peran utama
dalam menetapkan etiologi abdominal pain, namun peran pemeriksaan laboratorium dan
rontgent tidak dapat diabaikan. Abdullah & Firmansyah (2012) menyebutkan Semua
pasien dengan sakit perut akut harus menjalani hitung darah tepi lengkap (termasuk
hitung diferensial leukosit), penentuan elektrolit serum, ureum, kreatinin, glukosa darah
dan urin alisis.
Selain pemeriksaan darah, pemeriksaan kehamilan pada wamita usia produktif, tes fungsi
hati dan penentuan kadar serum amilase harus dilakukan pada pasien dengan nyeri perut
kuadran kanan atas, baik dengan atau tanpa ikterus klinis, begitu pula dengan pasien
diatas 40 tahun perlu dilakukan pemeriksaan EKG 12 lead untuk menyingkirkan
kemungkinan adanya infark miokard (Patterson et al., 2021). Pengujian untuk klamidia
dan gonore juga dianjurkan untuk wanita yang berisiko terhadap penyakit infeksi
menular seksual (Cartwright & Knudson, 2008).
Pemeriksaan penunjang lain yang dapat dilakukan untuk menentukan penyebab dari
abdominal pain adalah dengan radiografi. Rekomendasi untuk pemeriksaan radiografi
dapat ditentukan berdasarkan lokasi nyeri perut (Cartwright & Knudson, 2008). Rontgent
abdomen 3 posisi (menentukan adanya tanda perforasi, ileus dan obstruksi usus),
rontgent polos abdomen (membantu dalam mengevaluasi kalsifikasi pankreas, fraktur
vertebra, dan batu radioluscent dari kontur ginjal), dan USG abdomen (menunjukkan
gangguan sistem hepatobilier, saluran kemih dan saluran ginekologi serta apendisitis
akut) (Abdullah & Firmansyah, 2012; Patterson et al., 2021).

2.1.6. Penatalaksanaan
Secara umum penatalaksanaan pasien dengan abdominal pain mencakup penentuan
apakah kasus tersebut merupakan kasus bedah yang memerlukan penanganan bedah
ataukah cukup hanya penanganan farmakologis saja. Hipotensi dan takikardia
menunjukkan kehilangan darah, hipovolemia, atau sepsis dan memerlukan resusitasi
cairan agresif yang cepat dengan akses IV yang memadai. Antibiotik spektrum luas yang
mencakup organisme enterik gram negatif harus diberikan tepat waktu jika terdapat
infeksi, kotoran peritoneum, atau sepsis. Pasien yang mengeluh nyeri harus dipantau
tanda vital dan diberikan pereda nyeri yang memadai yang biasanya adalah opioid. Jika
keadaan darurat bedah dicurigai atau ditemukan saat dilakukan pemeriksaan maka dokter
bedah harus dihubungi segera sebelum pengujian yang berpotensi memakan waktu
dilakukan. Singkatnya, abdominal pain terjadi karena beberapa kasus yang memerlukan
intervensi cepat, baik dalam diagnosis maupun pengobatan dengan tujuan utama dari
manajemen nyeri adalah untuk memberikan pengobatan yang mengurangi rasa sakit
pasien dengan efek samping yang minimal sekaligus memungkinkan mereka untuk
mempertahankan fungsinya dengan penanganan awal dari abdominal pain adalah
pemberian medikasi analgetik dan antibiotik (Abdullah & Firmansyah, 2012; Hachimi-
Idrissi, 2020; Patterson et al., 2021).
Berikut adalah algoritma tindakan pada pasien dengan abdominal pain menurut
Patterson, dkk (2021) :

Gambar 2.1 Algoritma Pasien Abdominal Pain (Abdullah & Firmansyah, 2012)
2.2 Nyeri
2.2.1. Definisi
Nyeri adalah suatu pengalaman sensorik dan emosional yang tidak menyenangkan
yang berkaitan dengan kerusakan jaringan yang sudah atau berpotensi terjadi, atau
dijelaskan berdasarkan kerusakan tersebut (Price & Wilson, 2006). Nyeri didefinisikan
sebagai suatu kondisi perasaan yang tidak menyenagkan, bersifat sangat subyektif karena
perasaan nyeri berbeda pada setiap orang dalam hal skala atau tingkatannya (Potter &
Perry, 2009). Berdasarkan beberapa teori diatas maka nyeri dapat didefinisikan sebagai
pengalaman sensorik dan emosional seseorang yang tidak menyenangkan dan bersifat
subyektif yang terjadi karena adanya kerusakan jaringan.

2.2.2. Tipe Nyeri


Nyeri dapat dikategorikan berdasarkan durasi, lokasi, dan penyebabnya. Tiga kategori
dasar nyeri yang umum dikenal adalah nyeri akut, nyeri kronis, dan nyeri terkait kanker
(Smeltzer, Bare, Hinkle, & Cheever, 2010).
Berdasarkan durasi:
a. Nyeri akut
Biasanya timbul baru – baru ini dan umumnya terkait dengan cedera tertentu. Jika
tidak ada kerusakan permanen yang terjadi dan tidak ada penyakit sistemik, nyeri
akut biasanya berkurang seiring dengan penyembuhan. Untuk tujuan definisi, nyeri
akut dapat digambarkan berlangsung dari beberapa detik hingga 6 bulan.
b. Nyeri kronis
Nyeri kronis adalah nyeri konstan atau intermiten yang berlangsung melebihi waktu
penyembuhan yang diharapkan dan jarang dikaitkan dengan penyebab atau cedera
tertentu. Ini mungkin memiliki onset yang tidak jelas, dan seringkali sulit untuk
diobati karena penyebab atau asalnya mungkin tidak jelas. Nyeri kronis dapat
didefinisikan sebagai nyeri yang berlangsung selama 6 bulan atau lebih.
c. Nyeri terkait kanker
Nyeri yang berhubungan dengan kanker bisa akut atau kronis. Nyeri pada pasien
yang menderita kanker dapat berhubungan langsung dengan kanker, akibat
pengobatan kanker, atau tidak terkait dengan kanker. Kebanyakan nyeri yang terkait
dengan kanker adalah akibat langsung dari kanker itu sendiri.
Berdasarkan lokasi :
Pengkategorian nyeri berdasarkan lokasi biasanya bertujuan membantu dalam
mengkomunikasikan dan mengobati nyeri. Contoh penkategorian nyeri berdasarkan
lokasi yaitu nyeri panggul, nyeri kepala, nyeri dada.
Berdasarkan penyebab :
Pengkategorikan nyeri menurut etiologi adalah cara lain untuk memikirkan nyeri dan
penanganannya. Nyeri luka bakar dan neuralgia postherpetik adalah contoh nyeri
yang dijelaskan oleh etiologinya.

2.2.3. Patofisiologi
Nyeri adalah hasil aktivasi ujung saraf bebas oleh kerusakan jaringan atau penyakit.
Mediator mekanis, termal, atau kimiawi seperti bradikinin, zat P, histamin, dan
prostaglandin dilepaskan dari lokasi cedera, menghasilkan potensi aksi yang berjalan di
sepanjang saraf aferen ke tanduk dorsal sumsum tulang belakang. Di sana mereka
menghasilkan pelepasan neurotransmiter dan neuropeptida yang memungkinkan potensi
aksi untuk menyeberang ke saluran spinothalamic dan kemudian naik ke talamus dan
otak tengah. Sinyal nosiseptif dari talamus ditransmisikan ke area lain di otak termasuk
korteks, sistem limbik, dan lobus frontal dan parietal, dan di sinilah potensi aksi
dianggap sebagai nyeri (Hachimi-Idrissi, 2020; Smeltzer et al., 2010).

2.2.4. Pengkajian Nyeri


Pengkajian nyeri dimulai dengan mengamati pasien secara hati-hati, mencatat postur
tubuh pasien secara keseluruhan dan ada atau tidak adanya perilaku nyeri yang nyata dan
meminta orang tersebut untuk mendeskripsikan, dengan kata-katanya sendiri, spesifikasi
nyeri secara spesifik. Kata-kata yang digunakan untuk menggambarkan rasa sakit
mungkin mengarah pada etiologi. Ketika akan melakukan pengkajian nyeri terdapat
beberapa faktor yang perlu diperhatikan oleh perawat atau petugas kesehatan yaitu
pengalaman masa lalu dengan nyeri, kecemasan, budaya, usia, jenis kelamin, dan
ekspektasi tentang pereda nyeri (Smeltzer et al., 2010).
a. Pengalaman masa lalu dengan nyeri
Pengalaman seseorang terhadap nyeri membuat orang tersebut membentuk suatu
persepsi tentang apa yang akan dirasakan nantinya. Sebagian orang akan menjadi
lebih toleran terhadap rasa nyeri tersebut, namun sebagian lainnya dapat menjadi
lebih berat karena rasa trauma dari nyeri sebelumnya.
Orang yang mengalami nyeri selama berbulan-bulan atau bertahun-tahun mungkin
menjadi mudah tersinggung, menarik diri, dan depresi. Efek yang tidak diinginkan
yang mungkin timbul dari pengalaman sebelumnya menunjukkan perlunya perawat
menyadari pengalaman masa lalu pasien dengan nyeri. Jika rasa sakit hilang dengan
segera dan secara memadai, orang tersebut mungkin tidak terlalu takut akan rasa
sakit di masa depan dan lebih mampu untuk mentolerirnya (Smeltzer et al., 2010).
b. Kecemasan
Kecemasan yang relevan atau berhubungan dengan nyeri dapat meningkatkan
persepsi pasien tentang nyeri sehingga kecemasan dapat menyebabkan rasa sakit
yang meningkat. Sedangkan kecemasan yang bukan diakibatkan oleh nyeri dapat
menurunkan persepsi pasien tentang nyeri (Smeltzer et al., 2010).
c. Budaya
Keyakinan tentang rasa sakit dan cara menanggapinya sangat dipengaruhi oleh
budaya, orang dari budaya berbeda yang mengalami intensitas nyeri yang sama
mungkin tidak melaporkannya atau menanggapinya dengan cara yang sama
(Smeltzer et al., 2010).
d. Usia
Penilaian nyeri pada orang lanjut usia mungkin sulit karena perubahan fisiologis,
psikososial, dan kognitif yang sering terjadi akibat dari proses penuaan (Smeltzer et
al., 2010). Cara orang yang lebih tua merespons rasa sakit mungkin berbeda dengan
cara orang yang lebih muda merespons. Karena orang lanjut usia memiliki
metabolisme yang lebih lambat dan rasio lemak tubuh terhadap massa otot yang lebih
besar daripada orang yang lebih muda, dosis kecil agen analgesik mungkin cukup
untuk menghilangkan rasa sakit, dan dosis ini mungkin efektif lebih lama (Buffum &
Buffum, 2000).
e. Jenis kelamin
Laki-laki memiliki sensitifitas yang lebih rendah (kurang mengekspresikan nyeri
yang dirasakan secara berlebihan) dibandingkan wanita atau kurang merasakan nyeri
(Black & Hawks, 2014; Smeltzer et al., 2010).
f. Ekspektasi terhadap pereda nyeri
Harapan positif pasien tentang pengobatan dapat meningkatkan keefektifan
pengobatan atau intervensi lainnya. Semakin banyak imformasi yang diterima pasien
tentang keefektifan intervensi, maka semakin efektif intervensi tersebut (Smeltzer et
al., 2010). Seseorang yang mendapatkan edukasi atau informasi tentang kemampuan
obat untuk mengurangi atau menghilangkan nyeri, membuat orang tersebut lebih
mungkin mengalami pengurangan rasa nyeri daripada orang yang diberi tahu bahwa
obat tidak memiliki efek apa pun.

Adapun pengkajian terhadap karakteristik dari nyeri perlu menilai intensitas, waktu,
lokasi, kualitas, persepsi pasien, faktor yang memperberat ataupun mengurangi nyeri,
dan perilaku pasien ketika mengalami nyeri (Smeltzer et al., 2010).
a. Intensitas
Intensitas nyeri dimulai dari tidak ada, mengganggu hingga menyiksa. Intensitas
yang dilaporkan dipengaruhi oleh ambang nyeri dan toleransi nyeri dari orang
tersebut. Ambang batas nyeri adalah stimulus terkecil yang dilaporkan oleh
seseorang tentang rasa sakit, dan toleransi adalah jumlah maksimum rasa sakit yang
dapat ditoleransi oleh seseorang (Smeltzer et al., 2010)
b. Waktu
Terkadang etiologi nyeri dapat ditentukan saat aspek waktu diketahui. Oleh karena
itu, perawat perlu menanyakan tentang onset, durasi, hubungan antara waktu dan
intensitas, dan apakah terdapat perubahan pola ritmik (Smeltzer et al., 2010).
Kemungkinan penyebab terjadinya nyeri atau penyakit yang menyebabkan nyeri
dapat diketahui bila petugas melakukan pengkajian terhadap waktu terjadinya nyeri.
c. Lokasi
Pengkajian lokasi nyeri dapat membantu penilaian kefektifan dari pengobatan
ataupun perubahan nyeri dari waktu ke waktu (Smeltzer et al., 2010). Lokasi nyeri
paling baik ditentukan dengan meminta pasien menunjuk ke area tubuh yang terkena.
Beberapa formulir asesmen umum memiliki gambar figur manusia, dan pasien
diminta untuk membuat bayangan di area yang terlibat.
d. Kualitas
Kualitas nyeri didapatkan dari ungkapan atau penyampaian pasien tentang nyeri
yang dirasakan (Smeltzer et al., 2010). Penting untuk mendokumentasikan kata-kata
persis yang digunakan untuk mendeskripsikan nyeri. Perawat meminta pasien untuk
mendeskripsikan rasa sakit dengan kata-katanya sendiri tanpa memberikan petunjuk.
Jika pasien tidak dapat menggambarkan kualitas rasa sakit, kata-kata seperti terbakar,
sakit, berdenyut, atau ditusuk dapat ditawarkan.
e. Persepsi pasien
Setiap pasien mengalami nyeri secara berbeda, dan pengalaman nyeri dapat
mempengaruhi rasa nyeri tersebut (Smeltzer et al., 2010). Penting untuk menanyakan
bagaimana rasa sakit itu memengaruhi kehidupan sehari-hari orang tersebut.
Beberapa orang dapat terus bekerja atau belajar, sementara yang lain mungkin
menjadi tidak mampu melakukan apapun.
f. Faktor yang memperberat dan mengurangi
Pengetahuan tentang faktor-faktor yang meringankan nyeri membantu perawat dalam
mengembangkan rencana perawatan (Smeltzer et al., 2010). Perawat bertanya kepada
pasien apakah ada yang membuat rasa sakit menjadi lebih buruk dan apa yang
membuatnya lebih baik dan bertanya secara khusus tentang hubungan antara aktivitas
dan rasa sakit. Ini membantu mendeteksi faktor yang terkait dengan nyeri
g. Perilaku pasien ketika mengalami nyeri
Saat mengalami rasa sakit, orang mengekspresikan rasa sakit dengan berbagai
tingkah laku namun ekspresi nyeri nonverbal dan perilaku ini bukan merupakan
indikator kualitas atau intensitas nyeri yang konsisten atau dapat diandalkan, dan
tidak boleh digunakan untuk menentukan keberadaan atau derajat nyeri yang dialami.
Begitupula tidak adanya perilaku ini tidak menunjukkan tidak adanya nyeri.(Smeltzer
et al., 2010).

2.2.5. Instrumen Pengkajian Nyeri


Penggunaan instrumen nyeri dilakukan hanya pada pasien yang dapat
mendeskripsikan dan menilai rasa sakitnya secara akurat. Oleh karena itu, sejumlah
instrumen penilaian nyeri telah dikembangkan untuk membantu penilaian persepsi pasien
tentang nyeri (Smeltzer et al., 2010). Instrumen tersebut dapat digunakan untuk
mendokumentasikan kebutuhan intervensi, untuk mengevaluasi efektivitas intervensi,
dan untuk mengidentifikasi kebutuhan intervensi alternatif atau tambahan jika intervensi
awal tidak efektif dalam menghilangkan rasa sakit. Adapun syarat agar instrumen
penilaian nyeri dapat bermanfaat yaitu tidak mempersulit pasien atau mudah dikerjakan
oleh pasien, mudah dipahami dan digunakan, mudah dinilai, dan peka terhadap
perubahan kecil pada karakteristik yang diukur (Smeltzer et al., 2010).
Untuk menilai skala nyeri terdapat beberapa macam skala nyeri yang dapat digunakan
untuk mengetahui tingkat nyeri seseorang, antara lain :
a. Visual Analog Scales (VAS)
VAS adalah suatu instrument yang digunakan untuk menilai intensitas nyeri dengan
menggunakan tabel garis 10cm. VAS sebagai pengukur keparahan tingkat nyeri yang
lebih sensitif karena klien dapat menentukan setiap titik dari rangkaian yang tersedia
tanpa dipaksa untuk memilih satu kata (Potter & Perry, 2009). Orang tersebut diminta
untuk memberi tanda yang menunjukkan letak rasa sakit saat ini. Jangkar kiri
biasanya mewakili “tidak ada” atau “tidak ada rasa sakit,” sedangkan jangkar kanan
biasanya mewakili “rasa sakit yang parah” atau “paling mungkin sakit”. Untuk
menilai hasil, penggaris ditempatkan di sepanjang garis dan jarak orang yang ditandai
dari ujung kiri atau bawah diukur dan dilaporkan dalam milimeter atau sentimeter
(Smeltzer et al., 2010).

Skala nyeri pada skala 0 berarti tidak terjadi nyeri, skala nyeri pada skala 1-3 seperti
gatal, tersetrum, nyut-nyutan, melilit, terpukul, perih, mules. Skala nyeri 4-6
digambarkan seperti kram, kaku, tertekan, sulit bergerak, terbakar, ditusuk-
tusuk.Skala 7-9 merupakan skala sangat nyeri tetapi masih dapat dikontrol oleh klien,
sedangkan skala 10 merupakan skala nyeri yang sangat berat dan tidak dapat
dikontrol.
b. Numeric Rating Scales
Numeric Rating Scales (NRS) adalah skala numerik 11 poin tunggal yang divalidasi
secara luas di berbagai jenis pasien. Data yang diperoleh melalui NRS mudah
didokumentasikan, dapat diinterpretasikan secara intuitif, dan memenuhi persyaratan
peraturan untuk penilaian dan dokumentasi nyeri (Karcioglu, Topacoglu, Dikme, &
Dikme, 2018). NRS hanya mengevaluasi 1 komponen dari pengalaman nyeri,
intensitas nyeri, dan oleh karena itu tidak menangkap kompleksitas dan sifat
idiosinkratik dari pengalaman nyeri atau perbaikan karena fluktuasi gejala (Hawker,
Mian, Kendzerska, & French, 2011).

NRS adalah alat yang umum digunakan yang mengharuskan pasien menilai rasa
sakitnya dalam skala 0 sampai 10, dengan 0 menunjukkan tidak ada rasa sakit dan 10
menunjukkan kemungkinan rasa sakit yang paling buruk (Karcioglu et al., 2018).
Skor nyeri diartikan sebagai:
• 0 = tidak nyeri
• 1-3 = nyeri ringan
• 4-6 = nyeri sedang
• 7-10 = nyeri hebat

2.2.6. Relaksasi
Teknik relaksasi merupakan salah satu tindakan mandiri dari seorang perawat yang
termasuk kedalam manajemen nyeri non – farmalogikal. Teknik relaksasi dapat
digunakan saat individu dalam kondisi sehat maupun sakit dan merupakan upaya
pencegahan untuk membantu tubuh kembali segar dengan meminimalkan nyeri secara
efektif (Potter & Perry, 2009). Penggunaan pelatihan relaksasi dapat membantu pasien
untuk mengurangi stres dan ketegangan melalui teknik-teknik seperti memfokuskan pada
pola pernapasan, berkonsentrasi dengan membayangkan keadaan yang membuat rileks
dan secara bertahap melepaskan ketegangan otot ke seluruh tubuh (Hachimi-Idrissi,
2020). Menurut Smeltzer, et al (2010) terdapat beberapa jenis teknik relaksasi yang dapat
digunakan, antara lain : relaksasi nafas dalam, guided imaginary, latihan relaksasi
progresif, dan yoga.
Salah satu tindakan yang paling sering digunakan oleh perawat dalam mengurangi
nyeri adalah relaksasi nafas dalam. Keuntungan dari teknik relaksasi nafas dalam adalah
dapat dilakukan setiap saat dimana saja dan kapan saja, caranya sangat mudah dan dapat
dilakukan secara mandiri oleh pasien, tanpa suatu media, dan dapat merilekskan otot –
otot yang tegang. Namun kerugian teknik ini adalah teknik ini tidak efektif dilakukan
pada penderita penyakit pernafasan (Smeltzer et al., 2010).
Teknik relaksasi nafas dalam merupakan suatu bentuk asuhan keperawatan, dalam hal
ini perawat mengajarkan kepada klien bagaimana cara melakukan nafas dalam, nafas
lambat (menahan inspirasi secara maksimal) dan bagaimana menghembuskan nafas
secara perlahan. Selain dapat menurunkan intensitas nyeri, teknik relaksasi nafas dalam
juga dapat meningkatkan ventilasi paru, meningkatkan oksigenasi darah dan mengurangi
stress fisik maupun emosional sehingga tubuh dapat mencapai keadaan relaksasi
menyeluruh. Secara fisiologis, keadaan relaksasi ditandai dengan penurunan kadar
epinefrin dan non epinefrin dalam darah, penurunan frekuensi denyut jantung, penurunan
tekanan darah, penurunan frekuensi nafas, penurunan ketegangan otot, metabolisme
menurun, vasodilatasi dan peningkatan temperatur pada ektremitas (Patasik, Tangka, &
Rottie, 2013).
Adapun langkah – langkah teknik relaksasi nafas dalam adalah sebagai berikut :
a. Ciptakan lingkungan yang tenang
b. Atur posisi klien senyaman mungkin
c. Instruksikan klien tutup mata secara perlahan - lahan
d. Instruksikan klien untuk menarik nafas secara perlahan : Menarik nafas melalui
hidung agar mengisi paru – paru hingga maksimal melalui hitungan 1, 2, 3, 4
e. Tahan nafas selama beberapa detik
f. Perlahan – lahan udara dihembuskan melalui mulut sambil merasakan ekstremitas
atas dan ekstremitas bawah rileks
g. Instruksikan klien untuk menarik nafas lagi melalui hidung dan menghembuskan
kembali melalui mulut
h. Lakukan berulang selama kurang lebih 10 menit
i. Selingi istirahat singkat setiap 5 siklus

Lakukan prosedur ini sampai 2 -3 kali agar mendapatkan hasil yang optimal