Anda di halaman 1dari 6

BAB 4

PEMBAHASAN

4.1. Profil Lahan Praktik


Rumah Sakit Islam Bogor (RSIB) merupakan sebuah rumah sakit yang lahir dari
komitmen dan kepedulian para tokoh masyarakat Bogor, kaum Cendikiawan, Ulama dan
Dokter, yang terangkum dalam sebuah yayasan, yang bernama YARSIB (Yayasan
Rumah Sakit Islam Bogor). RSIB awal didirikan pada tahun 1984 sebagai sebuah balai
pengobatan yang dikelola oleh seorang dokter dan dibantu oleh seorang perawat, namun
karena kebutuhan masyarakat terhadap rumah sakit yang sangat tinggi maka pada tahun
1991 RSIB resmi menjadi sebuah rumah sakit dengan kapasitas tempat tidur 24 yang
hingga saat ini terus bertambah hingga memiliki 104 tempat tidur. RSIB bertempat di Jl.
Perdana Raya no 22 dengan luas wilayah 5855m2.
Visi dan Misi dari RSIB adalah terwujudnya rumah sakit islami yang terpercaya dan
berkualitas dengan mengusung 5 pilar utama yaitu (1) memberikan pelayanan kesehatan
berkualitas secara islami dengan mengutamakan keselamatan pasien, (2) meningkatkan
kualitas sumber daya insani sesuai dengan kompetensi, nilai – nilai dan norma –norma
islami, (3) meningkatkan kuantitas, kualitas sarana dan prasaranan sesuai standar rumah
sakit, (4) menjalin kerjasama dengan lembaga terkait dalam upaya meningkatkan derajat
kesehatan masyarakat, dan (5) menjadikan iman, islam dan ihsan sebagai budaya
organisasi.
RSIB bergerak dengan memberikan 20 jenis layanan yang dapat dimanfaatkan oleh
masyarakat dengan salah satu unggulan nya adalah layanan Instalasi Gawat Darurat
(IGD). IGD RSIB merupakan salah satu gerbang awal bagi masyarakat yang akan
menggunakan fasilitas layanan kesehatan RSIB. IGD RSIB terbagi menjadi 2 bagian
yaitu bagian umum dan ponek, dengan jumlah kapasitas 11 tempat tidur, dan pegawai 14
orang yang terbagi menjadi perawat D3 sebanyak 10 orang, perawat S1 1 orang, dan
bidan 3 orang.

4.2. Analisis Masalah Keperawatan Dengan Konsep Terkait Dan Konsep Kasus
Terkait
Berdasarkan diagnosa medis, kasus 1 didiagnosa yaitu gastritis dan kasus 2 adalah
appendisitis. Patterson et al (2021) menyebutkan penyebab paling umum atau sering dari
abdominal pain yaitu appendisitis, kolesistitis, pankreatitis, dan divertikulitis. Begitu pula
dengan penelitian lain yang menyebutkan abdominal pain dapat disebabkan oleh
beberapa penyebab namun yang paling sering adalah appendisitis, kolik bilier,
kolesistitis, divertikulitis, obstruksi usus, perforasi viskus, pankreatitis, peritonitis,
salpingitis, adenitis mesenterika, dan kolik renal (Abdullah & Firmansyah, 2012).
Sedangkan Miranda (2018) menyebutkan bahwa abdominal pain merupakan kondisi
penyakit ringan yang umumnya disebabkan oleh gastroentritis, sembelit atau penyakit
virus.
Berdasarkan pengkajian dari 2 kasus diatas didapatkan keluhan yang sama yaitu nyeri
dibagian perut. Kasus 1 mengeluhkan nyeri dibagian pada perut sebelah kiri dengan skala
nyeri 5 / 10, sedangkan kasus 2 mengeluhkan nyeri perut bagian kanan bawah dengan
skala nyeri 7 / 10. Adapun keluhan tambahan lainnya seperti lemas, mual dan muntah
pada kasus 1 dan badan terasa panas pada kasus 2. Sejalan dengan teori yang
disampaikan oleh Abdullah & Firmansyah (2012); Cartwright & Knudson (2008);
Miranda (2018); dan Patterson et al (2021) yang menyebutkan bahwa gejala utama yang
muncul pada abdominal pain adalah nyeri. Adapun keluhan – keluhan lain yang mungkin
muncul adalah mual, kembung, diare, konstipasi, anoreksia, demam, muntah
berkepanjangan, sakit kepala dan sakit tenggorokan.
Anamnesis yang cermat dan pemeriksaan fisik yang sesuai memiliki peran utama dalam
menetapkan etiologi abdominal pain, namun peran pemeriksaan penunjang tidak dapat
diabaikan. Radiologi memainkan peran penting dalam manajemen pengobatan pasien
karena hasil evaluasi klinis bisa jadi tidak akurat (Stoker, Van Randen, Laméris, &
Boermeester, 2009). Pada kasus 1 pemeriksaan penunjang yang dilakukan adalah
pemeriksaan laboratorium darah dan rotgent thoraks sedangkan pada kasus 2
pemeriksaan penunjang yang dilakukan adalah pemeriksaan laboratorium darah dan
USG. Abdullah & Firmansyah (2012) menyebutkan Semua pasien dengan sakit perut
akut harus menjalani hitung darah tepi lengkap (termasuk hitung diferensial leukosit),
penentuan elektrolit serum, ureum, kreatinin, glukosa darah dan urin alisis. Pemeriksaan
penunjang lain yang dapat dilakukan untuk menentukan penyebab dari abdominal pain
adalah dengan radiografi. Rekomendasi untuk pemeriksaan radiografi dapat ditentukan
berdasarkan lokasi nyeri perut (Cartwright & Knudson, 2008). Rontgent abdomen 3
posisi (menentukan adanya tanda perforasi, ileus dan obstruksi usus), rontgent polos
abdomen (membantu dalam mengevaluasi kalsifikasi pankreas, fraktur vertebra, dan batu
radioluscent dari kontur ginjal), dan USG abdomen (menunjukkan gangguan sistem
hepatobilier, saluran kemih dan saluran ginekologi serta apendisitis akut) (Abdullah &
Firmansyah, 2012; Patterson et al., 2021).
Secara umum penatalaksanaan pasien dengan abdominal pain mencakup penentuan
apakah kasus tersebut merupakan kasus bedah yang memerlukan penanganan bedah
ataukah cukup hanya penanganan farmakologis saja. Jika keadaan darurat bedah dicurigai
atau ditemukan saat dilakukan pemeriksaan maka dokter bedah harus dihubungi segera
sebelum pengujian yang berpotensi memakan waktu dilakukan. Pada kasus 1
penatalaksaan yang diberikan yaitu pemberian cairan infus RL 500cc/8jam, pemberian
therapi injeksi lansoprazole 30mg/12jam/IV, plasminex 5mg/8jam/IV, cedantron
4mg/8jam/IV, vit k 1mg/8jam/IV, dan therapi oral mediamer B6 1tab/8jam/Oral dan
antasida syrup 1cth/8jam/oral sedangkan pada kasus 2 penatalaksanaan yang diberikan
yaitu pemberian cairan infus Nacl 0,9% 500cc/8jam, pemberian therapi injeksi
ceftriaxone 1gram/12jam/IV dan ketorolac 30mg/8jam/IV. Sesuai dengan teori yang
menyebutkan abdominal pain terjadi karena beberapa kasus yang memerlukan intervensi
cepat, baik dalam diagnosis maupun pengobatan dengan tujuan utama dari manajemen
nyeri adalah untuk memberikan pengobatan yang mengurangi rasa sakit pasien dengan
efek samping yang minimal sekaligus memungkinkan mereka untuk mempertahankan
fungsinya dengan penanganan awal dari abdominal pain adalah pemberian medikasi
analgetik dan antibiotik (Abdullah & Firmansyah, 2012; Hachimi-Idrissi, 2020; Patterson
et al., 2021).

4.3. Analisis Salah Satu Intervensi Dengan Konsep Dan Penelitian Terkait
Masalah keperawatan yang menjadi fokus utama penulis adalah nyeri akut. Pemilihan
diagnosa ini karena nyeri akut merupakan keluhan utama pada pasien dengan abdominal
pain. Abdominal pain adalah rasa sakit yang luar biasa parah yang timbul di area perut
dan membutuhkan perawatan segera (Abdullah & Firmansyah, 2012). Pada pengkajian
terhadap 2 kasus diatas didapatkan penyebab dari nyeri pasien adalah cidera biologis
yaitu inflamasi pada kasus 1 dan infeksi pada kasus 2. Hal ini sesuai dengan teori yang
menyebutkan bahwa penyebab dari nyeri akut itu sendiri dapat bermacam – macam : (1)
agen cidera biologis, (2) agen cidera kimia, dan (3) agen cidera fisik (Herdman &
Kamitsuru, 2017). Intervensi utama yang penulis lakukan dalam mengatasi nyeri akut
pada kedua kasus diatas adalah relaksasi nafas dalam. Penulis ingin mengetahui
efektifitas dari relaksasi nafas dalam terhadap perubahan skala nyeri pada pasien
abdominal pain.
Pada kasus 1 intervensi relaksasi nafas dalam dapat dilakukan sejak pertemuan pertama
dan memberikan hasil yang signifikan yaitu penurunan angka nyeri dari 5/10 menjadi
4/10 dan akhirnya menurun kembali menjadi 2/10. Sedangkan pada kasus 2, intervensi
relaksasi nafas dalam walaupun dilakukan sejak awal namun tidak langsung memberikan
hasil atau dampak terhadap pasien sehingga perlu dilakukan tindakan kolaborasi yaitu
pemberian analgesik baru menunjukkan hasil yang signifikan. Syamsiah & Muslihat
(2015) yang menyebutkan bahwa kombinasi terapi relaksasi dengan analgetik lebih
efektif menurunkan skala nyeri pada pasien dengan abdominal pain.
Penurunan skala nyeri yang signifikan dari ke dua kasus diatas sejalan dengan penelitian
yang dilakukan oleh Patasik et al (2013) yang meneliti tentang efektifitas teknik relaksasi
terhadap penurunan nyeri pada pasien sectio caesare yang mendapatkan hasil adanya
penurunan tingkat nyeri dari nyeri hebat dan sangat hebat menjadi nyeri ringan dan
sedang. Namun adanya perbedaan hasil dari ke dua kasus tersebut bisa terjadi karena
adanya perbedaan tingkat nyeri dari tiap pasien. Karcioglu et al (2018) membagi nyeri
kedalam 4 kategori yaitu (1) 0 = tidak nyeri, (2) 1 – 3 = nyeri ringan, (3) 4 – 6 = nyeri
sedang, dan (4) 7 – 10 = nyeri hebat. Jika dilihat dari pembagian nyeri tersebut maka
kasus 1 termasuk kedalam kategori nyeri sedang dan kasus 2 termasuk kedalam kategori
nyeri hebat. Perbedaan kategori ini yang menjadi dasar perbedaan hasil awal dari
tindakan relaksasi nafas dalam. Prasetyo menyebutkan pada kasus nyeri berat tindakan
non farmakologis sebagai menjadi suatu pelengkap yang efektif untuk mengatasi nyeri
disamping tindakan farmakologis yang utama (Prasetyo, 2010).

4.4. Implikasi Asuhan Keperawatan Pada Klien Dengan Nyeri Akut


Berdasarkan studi kasus yang dilakukan terhadap dua klien abdominal pain, didapatkan
data bahwa masalah nyeri akut merupakan masalah utama dari kasus tersebut. Meskipun
ke dua kasus tersebut memiliki diagnosa keperawatan yang sama yaitu nyeri akut namun
pemberian perlakuan yang sama tidak terlalu efektif karena adanya perbedaan tingkat
nyeri dari ke dua kasus tersebut.
Oleh karena itu agar dapat memberikan intervensi yang sesuai, perawat perlu melakukan
pengkajian yang mendalam terlebih dahulu agar dapat mengetahui karakteristik dari nyeri
tersebut, baik itu penyebab nyeri, tingkatan nyeri, maupun hal lainnya yang berhubungan
dengan nyeri. Pengkajian nyeri pasien harus dilakukan serial atau berkesinambungan
sesuai dengan kondisi pasien atau sesuai dengan standar operasional prosedur yang
berlaku sehingga terjadi keseragaman bagi perawat dalam melakukan pengkajian.
Edukasi terhadap keluarga dan pasien juga termasuk hal penting yang perlu dilakukan
oleh perawat. Hal ini bertujuan agar dapat mengurangi rasa cemas dan meningkatkan rasa
tenang dan nyaman baik bagi pasien maupun keluarga. Adapun edukasi yang diberikan
dapat berupa tanda dan gejala dari nyeri dan tindakan apa saja yang bisa dilakukan oleh
pasien dan keluarga disaat nyeri tersebut muncul.