Anda di halaman 1dari 14

MAKALAH BUDAYA ORGANISASI

DISUSUN OLEH :

KELOMPOK 2

Shelly Purnama Simatupang 7183344011

Putri Annisa Tanjung 7183144029

Romanna Andaresta 7183344009

DOSEN PENGAMPU :

NELLY ARMAYANTI, S.Pd., M.Sp

MATA KULIAH :

BUDAYA ORGANISASI

KELAS B

PENDIDIKAN ADMINISTRASI PERKANTORAN

FAKULTAS EKONOMI

UNIVERSITAS NEGERI MEDAN

T.A 2021
KATA PENGANTAR

Segala puji dan syukur bagi TYE, pengatur dan pemelihara seluruh alam.Makalah ini
berisi tentang ‘KOMUNIKASI DALAM BUDAYA KERJA & BUDAYA
PEMBERDAYAAN’ mata kuliah ‘BUDAYA ORGANISASI’. Tujuan membuat makalah ini
agar seluruh mahasiswa dan mahasiswi dapat meninjau dan mengetahui tentang tantangan
msdm dengan melalui beberapa cara seperti, berdiskusi dan sebagainya. Karena itu sangat
diharapkan bagi Mahasiswa/i (Jurusan Pendidikan Administrasi Perkantoran) untuk
memahami semua yang berkaitan dengan pendidikan.

Terima kasih tak lupa kami haturkan untuk penulis artikel tersebut, karena
melancarkan tugas saya ini.Dan tak lupa pula saya haturkan terima kasih atas bantuan segala
pihak selama makalah ini dikerjakan.

Kami meyakini bahwa makalah ini, tidak terlepas dari kekurangan yang tentunya
masih dinanti kritik dan saran dari berbagai pihak untuk penyempurnaannya.

Medan , Februari 2021


BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar belakang masalah

Budaya organisasi kini sedang menjadi pembicaraan di mana-mana, baik di kalangan


para pakar maupun di kalangan para praktisi bisnis dan para eksekutif, karena budaya
organisasi tersebut banyak yang berhasil membuat suatu organisasi menjadi lebih stabil, lebih
maju, lebih antisipatif terhadap perubahan lingkungan.

Suatu budaya organisasi yang kuat dan telah berakar akan dapat memberikan
kontribusi yang cukup signifikan bagi anggota organisasi dalam hal pemahaman yang jelas
dan lugas tentang suatu persoalan yang diselesaikan. Budaya memiliki pengaruh yang berarti
pada sikap dan perilaku anggota-anggota organisasi.Banyak bukti yang menggambarkan
bahwa suksesnya suatu organisasi disebabkan karena budayanya yang begitu kuat yang
membuat organisasi itu lebih percaya diri dan akhirnya menjadi lebih efektif. Dalam era
globalisasi yang sangat sarat dengan perubahan, perubahan mana sering begitu cepat dan
sangat sulit diprediksi namun sangat besar dampaknya bagi masa depan organisasi, kehadiran
budaya organisasi yang fleksibel menjadi semakin relevan. Strategi dalam mengantisipasi
perubahan yang akan dilakukan oleh suatu organisasi juga perlu mempertimbangkan aspek
budaya yang telah ada selama ini, apakah strategi yang didesain tersebut cocok dengan nilai-
nilai yang ada, atau justru nilai-nilai yang ada justru itu menjadi kontra produktif bagi
organisasi dalam perjalanannya ke depan. Para manajer terutama yang berada pada level
puncak mesti sadar betapa pentingnya memahami budaya organisasinya karena pengaruhnya
yang begitu besar terhadap perilaku anggota. Budaya organisasi juga dapat dipakai sebagai
konsep dalam menyusun strategi perubahan atau pengembangan organisasi yang
dipimpinnya.

Kajian organisasi memberikan pemahaman tentang organisasi sebagai subjek dan


objek budaya.Jika studi perilaku keorganisasian berdasarkan anggapan bahwa organisasi
berperilaku sendiri, berbeda dengan perilaku orang-orang yang membentuknya, maka sejajar
dengan itu, organisasi juga mempunyai budaya sendiri (budaya organisasi), berbeda dengan
budaya orang-orang yang berkepentingan dengannya.Budaya organisasi terbentuk dari
karakteristik organisasi sebagai objek dan subjeknya.
Menurut Rita L. Atkinson, Richard C. Atkinson, dan Ernest R. Hilgard dalam
Pengantar Psikologi (1994), proses belajar berlangsung melalui peniruan atau ikut-ikutan,
pengkondisian atau rekayasa, dan pengujian hipotesis atau pembuktian. Nilai yang terbukti
manfaatnya akan tertanam menjadi basics. Selanjutnya, melalui learning process dalam
artimengajar, berarti komunikasi budaya, diseminasi budaya, sosialisasi budaya, dan
pewarisan budaya.Pada dasarnya dalam suatu organisasi atau perusahaan, budaya organisasi
merupakan faktor yang mempengaruhi kinerja seorang pegawai.Di mana berbagai pengaruh
perubahan yang terjadi akibat reformasi menuntut organisasi, baik organisasi swasta maupun
pemerintah untuk mengadakan inovasi-inovasi guna menghadapi tuntutan perubahan dan
berupaya menyusun kebijakan yang selaras dengan perubahan lingkungan. Suatu organisasi
harus mampu menyusun kebijakan yang tepat untuk mengatasi setiap perubahan yang akan
terjadi.

Setiap organisasi memiliki budaya yang berbeda-beda sehingga pemimpinpun harus


memahami budaya organisasi di tempatnya bekerja.Budaya organisasi pada konsep yang
paling dasar adalah pola-pola asumsi yang dimiliki bersama tentang bagaimana pekerjaan
diselesaikan dalam sebuah organisasi.

Dengan adanya budaya organisasi yang baik terhadap karyawan diharapkan dapat
meningkatkan tingkah laku yang menjunjung tinggi rasa hormat dan sopan santun di dalam
lingkungan kerjanya dan dapat meningkatkan kinerjanya.Dengan adanya pembentukan
budaya organisasi yang baik, diharapkan pekerjaan dapat dilaksanakan dengan baik dan tepat.

2. Rumusan Masalah

1. Bagaimana komunikasi dalam budaya kerja ?

2. Apa itu budaya pemberdayaan ?

3. Tujuan dan Manfaat

1. Agar mahasiswa mengerti dan tahu tentang bagaimana komunikasi budaya kerja
itu.

2. Agar mahasiswa tau apa dan bagaimana itu budaya pemberdayaan.


BAB II

PEMBAHASAN

BAB 3: Komunikasi dalam budaya kerja

A. Komunikasi, Komunikasi adalah “suatu proses ketika seseorang atau beberapa


orang, kelompok, organisasi, dan masyarakat menciptakan, dan menggunakan informasi agar
terhubung dengan lingkungan dan orang lain”.Pada umumnya, komunikasi dilakukan
secara lisan atau verbal yang dapat dimengerti oleh kedua belah pihak.Apabila tidak
ada bahasa verbal yang dapat dimengerti oleh keduanya, komunikasi masih dapat dilakukan
dengan menggunakan gerak-gerik tubuh atau menunjukkan sikap tertentu, misalnya
tersenyum, menggelengkan kepala, dan mengangkat bahu.Cara seperti ini disebut komunikasi
dengan bahasa nonverbal.

B. Fungsi Komunikasi

1. Untuk menyampaikan informasi

2. Sebagai penyampai pendapat agar dapat diterima oleh masyarakat luas atau yang
berkaitan.

3. Sebagai bentuk interaksi dengan orang lain.

4. Untuk menambah wawasan dan ilmu pengetahuan akan sesuatu hal. Jadi, melalui
komunkasi nantinya akan terjadi transfer ilmu antara pihak satu dengan pihak lainnya.

5. Pengisi waktu luang. Misalnya, dengan berbicara via telepon, chatting, ystem
media, video call dan sebagainya.

6. Sebagai cara untuk membujuk dan mempengaruhi orang lain. Biasanya komunikasi
semacam ini banyak mengandung unsur-unsur ystem ive.

7. Untuk dapat mengenal diri sendiri.

8. Guna mengurangi ketegangan atau mencairkan suasana. Misalnya, ketika ada


pertikaian atau perselisihan pendapat dalam rapat tertentu.

9. Sebagai hiburan. Misalnya, ketika Anda sedang jenuh kemudian menghubungi


teman jauh untuk sekadar mengobrol santai.
10. Untuk selalu menjalin hubungan yang baik dengan orang lain.

11. Sebagai benteng diri agar tidak terisolasi dalam lingkungan masyarakat.

12. Untuk mempelajari situasi yang terjadi.

13. Mengubah sikap maupun perilaku.

14. Mengawasi serta melakukan pengendalian atas suatu kegiatan.

15. Sebagai motivasi untuk orang lain.

16. Guna mengambil suatu keputusan yang tepat.

17. Untuk melakukan kegiatan tertentu.

18. Sebagai bentuk ekspresi.

19. Menghindari adanya kesalahpahaman.

20. Untuk tetap menjaga jalinan hubungan yang baik.

C. Dimensi Komunikasi

- Dimensi makro

Dimensi makro lebih menggambarkan hubungan antara media dengan berbagai


institusi, misalkan politik, ekonomi, pendidikan, agama, dan lain sebagainya.Atau kita bisa
mengatakan bahwa dimensi makro adalah dimensi yang memperhatikan dari sisi media
kepada masyarakat luas.

- Dimensi mikro

Dimensi mikro memperhatikan bagaimana pengaruh media terhadap suatu kelompok


atau individu. Teori dalam dimensi mikro mempelajari bagaimana hubungan antara media
dengan audiens, dimana di sini lebih ditekankan efek yang terlihat dari individu atau
kelompok sebagai hasil dari media massa. Kita bisa melihat perbedaannya dengan dimensi
makro, yaitu bahwa dimensi mikro memiliki ruang lingkup yang lebih kecil dan lebih detail.

D. Komunikasi dalam Organisasi

Pengertian Komunikasi Organisasi Menurut Para Ahli


Menurut Arnold dan Feldman (1986) komunikasi organisasi adalah suatu proses
pertukaran informasi diantara orang-orang dalam suatu organisasi. Dimana didalamnya
terdapat empat tahapan komunikasi yang meliputi.

- attention (Atensi/Perhatian)
- comprehension (Komprehensi)
- acceptance as true (Kebenaran/Fakta)
- retention (Retensi) 

Menurut Pace dan Faules (2001), mereka  berpendapat bahwa komunikasi organisasi


merupakan perilaku pengatur organisasi yang terjadi diantara orang-orang dalam organisasi.
Dan juga bagaimana mereka yang terlibat dalam proses itu berinteraksi dan memberi makna
atas apa yang terjadi.

Fungsi Komunikasi Organisasi

Menurut Sendjaja (1994),  fungsi komunikasi dalam organisasi yaitu ;

1. Fungsi Informatif – Organisasi diartikan sebagai suatu system pemrosesan informasi,


dimana setiap anggota organisasi diharapkan mampu memberi dan menerima informasi
dengan baik guna kelancaran dalam menjalankan apa yang menjadi tugasnya.

2. Fungsi persuasif – Berkaitan dengan peraturan-peraturan dan pedoman yang berlaku dalam
suatu organisasi. 

3. Fungsi regulatif – Merupakan cara lain dari perintah. Dimana kebanyakan pemimpin
organisasi lebih memilih menggunakan cara ystem ive dari pada perintah kepada
bawahannya. Hal ini dikarenakanasumsi terkait penggunaan cara yang lebih halus akan
menyebabkan seseorang lebih menghargai suatu tugas yang dibebankan kepadanya.

4. Fungsi Integratif – Berkaitan dengan penyediaan saluran yang memungkinkan setiap


anggota organisasi untuk dapat melaksanakan tugas dan pegerjaanya dengan baik.

Pendekatan Komunikasi Organisasi

Terdapat beberapa pendekatan komunikasi terhadap organisasi, diantaranya :

1. Pendekatan Sistem
Karl Weick merupakan salah satu ahli yang mempelopori pendekatan ystem dalam
studi komunikasi organisasi. Ia menganggap bahwa   ystem hierarki, garis komunikasi, dan
prosedur operasi standar merupakan musuh dari sebuah organisasi. Selain itu, Weick
berpandangan bahwa organisasi sebagai suatu kehidupan organis.Organisasi harus mampu
beradaptasi dalam berbagai kondisi dan perubahan.

2. Pendekatan Budaya

Clifort Greetz berpendapat bahwa organisasi merupakan bagian dari suatu budaya.


Organisasi adalah cara hidup bagi para anggota. Cara tersebut digunakan untuk membentuk
sebuah realita bersama serta menjadi pembeda dengan budaya lainya.

3. Pendekatan Kritik

Pandangan ini menganggap bahwa kepentingan organisasi sudah mendominasi


hampir disemua segi kehidupan dalam masyarakat.Pada hakikatnya, kehidupan kita banyak
ditentukan oleh keputusan yang menyangkut kepentingan-kepentingan organisasi seperti
perusahaan.Dimana komunikasi menjadi medium utama didalamnya.

Arah Komunikasi Organisasi

1.Komunikasi kebawah

Komunikasi kebawah merupakan alur komunikasi yang mengalir dari individu pada
tingkat hierarki atas kepada individu yang berada pada tingkat hierarki bawah.Dapat diartikan
pula sebagai alur komunikasi antara atasan dan bawahan.Bentuk komunikasi kebawah yang
paling umum adalah instruksi kerja.

2.Komunikasi keatas

Komunikasi keatas merupakan arah dan alur komunikasi yang membawa informasi
dari tingkat bawah ke tingkat atas dalam suatu organisasi, yang artinya komunikator berada
pada tingkat bawah dan komunikan merupakan tingkat atas.

3.Komunikasi Horizontal

Komunikasi horizontal merupakan komunikasi yang memiliki banyak fungsi dalam


organisasi.  Bentuk komunikasi ini diperlukan untuk mengintegrasikan dan
mengkoordinasikan berbagai fungsi dalam organisasi sehingga dapat berjalan sebagaimana
mestinya.

Bentuk Komunikasi Organisasi

A. Komunikasi Internal

Komunikasi internal merupakan komunikasi yang berlangsu dalam unit-unit, indiviu-


individu (anggota) didalam internal suatu organisasi. Komunikasi internal dibagi menjadi dua
yaitu :

1. Komunikasi Personal, komunikasi personal merupakan komunikasi yang terjadi


diantara individu dengan individu anggota orgabisasi. Dalam komunikasi personal ini
terdapat dua macam yaitu komunikasi tatap muka dan komunikasi bermedia

2. Komunikasi kelompok, Komunikasi kelompok adalah komunikasi antara seseorang


dengan suatu kelompok (bidang) tertentu, atau antar kelompok secara tatap muka dalam suatu
organisasi.

B. Komunikasi Eksternal

Komunikasi eksternal adalah komunikasi yang terjadi antara organisasi dengan


khalayak diluar organisasi. Komunikasi eklsternal ini dibagi menjadi dua yaitu :

1. Komunikasi dari organisasi kepada khalayak.

2. komunikasi dari khalayak kepada organisasi.


BAB 4 : Budaya Pemberdayaan

A. Menciptakan lingkungan pemberdayaan

Untuk menciptakan suatu pemberdayaan angkatan kerja, perusahaan perlu


mendukung karyawan untuk sharing gagasan dengan menginformasikan tentang bisnis,
pelatihan keterampilan baru, menentukan tujuan karyawan dan memberikan umpan balik
bagaimana para karyawan mencapai tujuan tersebut.

     Lingkungan organisasi seharusnya dapat mendukung para karyawannya untuk tetap
mau berpartisipasi dan mengelola manajemen yang  inovatif.

Lingkungan kerja yang mendukung pemberdayaan sumber daya manusia yang efektif
dapat tercipta dengan adanya keterbukaan komunikasi tentang kekuatan dan kelemahan
bisnis. Selain itu, juga memberikan tanggung jawab dan otoritas pada karyawan, prosedur
penyampain ide yang fleksibel, serta mempertahankan kualitas tim kerja untuk mengelola
proses pekerjaan. Untuk menerapkan program pemberdayaan menurut caudron (1995),
manajemen perlu menyediakan hal-hal sebagai berikut :

1.      Tim kerja dan sharing informasi sebagai dasar terciptanya lingkungan pemberdayaan.

2.      Pelatihan dan sumber daya yang diperlukan untuk melakukan pekerjaan dengan baik

3.      Pengukuran, umpan balik dan positive reinforment

Program pemberdayaan dalam organisasi merupakan program yang  rentan terhadap


kegagaalan. Dalam lingkungan pemberdayaan karyawan disediakan tujuan , informasi,
feedback, pelatihan, dan yang penting adanya reinforcement positif.

B. Model pemberdayaan Sumber Daya Manusia

Model pemberdayaan sumber daya manusia yang terintegrasi dan efektif menurut
Khan & Worldwide (1997) terdiri dari enam tahap, yaitu desire, trust, confidence, credibility,
accountability dan communication. Kesuksesan penerapan pemberdayaan dalam perusahaan
ini membutuhkan kombinasi the art of feeling, the art thinking, dan the art of doing melalui
penciptaan landasan yang kuat oleh individu maupun organisasi.

Dalam kenyataannya usaha pemberdayaan SDM mengalami kegagalaan, hal ini di


sebabkan karena kurangnya dukungan dan komitmen manajemen. Alasan kegagalan yang
lain karena pemberdayaan dijadikan alasan investasi dalam pelatihan keterampilan karyawan
serta kegagalan manajer umpan balik dan saran yang konstruktif.

C. Pemberdayaan sebagai Perubahan Budaya

Perubahan yang dilakukan oleh perusahaaan dalam menyikapi perubahan ligkungan


sering hanya menyentuh pada aspek-aspek yang nyata seperti perubahan pada aspek
perbuhan operasioanal.Melalui pemberdayaan SDM organisasi melakukan perubahan budaya
yang dilakukan lebih mudah diimplementasikan.

       Pemberdayaan orang lain pada hakikatnya merupakan perubahan budaya. Pemberdayaan


tidak akan jalan jika seluruh budaya organisasi tidak akan berubah secara mendasar (Steward,
1994). Sedikit saja budaya mampu mendukung beberapa jenis perubahan dalam sikap dan
praktik yang sangat diperlukan bagi pemberdayaan yang efektif.

       Pemberdayaan efektif yang dikomunikasikan pada seluruh organisasi akan meningkatkan


produktivitas kerja, mengembangkan sikap dan tanggung jawab serta pendelegasian otoritas
yang lebih besar pada bawahan. Tindakan Manager dapat mempengaruhi keberhasilan
pemberdayaan dalam organisasi (Khan & Worldwide, 1997):

1.      Mengembangkan suatu pemahaman yang menyeluruh dari pemberdayaan

2.      Mengembangkan suatu daftar kesempatan akan mendukung pemberdayaan dalam


organisasi

3.      Memilih masalah sebagai usaha awal memberikan kesempatan yang signifikansi bagi
keberhasilan

4.      Mengutamakan setiap pekerjaan memahami harapan terhadap kinerja dan tugasnya

5.      Menemukan prosedur tindak lanjut untuk kemajuan bersama dengan semua pekerja
baik secara individu maupun bersama

6.      Menciptakan, mempertahankan dan meningkatkan kepercayaan karyawan

7.      Praktik pemberdayaan manajer sebagai kompenen kritis dari gaya manajemen

8.      Melakukan tindak lanjut dengan menilai kemajuan pemberdayaan karyawan

D. Peran Intervensi Antar-personal dalam Pemberdayaan


Pemberdayaan sangat perlu untuk membangun hubungan interpersonal supaya terjalin
hubungan saling mempercayai antara para pemberi kerja dengan para karyawan. Hubungan
ini menekankan individu untuk berusaha melakukan perbaikan secara terus menerus baik
dalam kualitas, produktivitas, pelayanan kepada pelanggan dengan lebih baik dan negosiasi
pemasok dengan sedikit bersifat personal (Khan & Worldwide, 1997)

Intervensi interpersonal ini memang penting dalam pemberdayaan yang dilakukan


dalam perusahaan jika didukung dengan desain organisasi yang bersifat lebih pasrtisipastif.
Karakter desain partisipatif yang sukses dalam pendekatan birokrasi hendaknya melakukan
bauran desain (Schweltz et al.,1997) sebagai berikut :

1.      Pembagian otoritas dan tanggung jawab secara eksplisit dibutuhkan dalam perubahan
budaya organisasi menuju pada pemberdayaan sumber daya manusia

2.      Kelompok kerja yang memiliki multiskill

3.      Membangun mekanisme untuk menurunkan penolakan terhadap adanya perubahan

4.      Pengurangan waktu untuk mengembang tempat kerja

Pemberdayaan pada hakikatnya merupakan hubungan interpersonal yang saling


menguntungkan berdasarkan rasa kepercayaan dan keterbukaan antara manajemen dan
karyawan, untuk itu diperlukan desains partisipatif yang terintegrasi antara visi, struktur dan
perubahan budaya perusahaan dalam individu dan kelompok kerja sehingga terjadi efektivitas
manajerial.
BAB III

PENUTUP

KESIMPULAN BAB 3

Budaya organisasi adalah sebuah sistem yang mempunyai makna bersamayang dianut
oleh para anggota yang membedakan suatu organisasi dari organisasi-organisasi
lainnya.Sikap keberanian dalam mengambil resiko, perhatian terhadap
detail, berorientasi terhadap hasil dan tim adalah hal yang sangat diperlukan dalam sebuah
budaya organisasi.Budaya organisasi sangat penting di dalam sebuah perusahaan
dikarenakanterdapat manfaat yang sangat penting yaitu mementingkan tujuan bersama.Dalam
berkomunikasi sangat diutamakan pola komunikasi karena bersifatdibatasi oleh hierarki
kewenangan yang formal.

KESIMPULAN BAB 4

Perusahaan agar dapat mempertehankan iklim bisnis yang efektif perlu melakukan
pemberdayaan sumber daya manusia melalui desain partisipasi karyawan.Hal tersebut
menjadi sangat penting karena dapat membangun hubungan interpesonal supaya terjalin
hubungan saling memercayai antara manajemen dan karyawan.Huungan ini dapat mengarah
pada perbaikan yang berkesinambungan dalam bidang kualitas, produktifitas, pelayanan
kepada pelanggan yang lebih baik.

Perusahaan supaya dapat mempertahankan iklim bisnis yang efektif perlu melakukan
pemberdayaan sumber daya manusia melalui desain partisipatif karyawan.Untuk itu perlu
diciptakan lingkungan pemberdayaan yang kondusif untuk menjamin adanya keterbukaan
dan kepercayaan sehingga terjadi sharing informasi. Oleh karena itu, para manajer di seluruh
jenis perusahaan diharapkan untuk memasukkan pendekatan pemberdayaan sebagian dari
budaya organisasi karena dalam jangka panjang akan menghasilkan profitabilitas yang tinggi
untuk perusahaan.
DAFTAR PUSTAKA

Sembiring, Masana. 2012.Budaya dan Kinerja Organisasi. Bandung:Fokusmedia

Tika, Pabundu. 2014.Budaya Organisasi dan Peningkatan Kinerja Perusahaan.Jakarta: PT.


Bumi Aksara

Umam, Khaerul. 2012.Manajemen Organisasi. Bandung: CV Pustaka Setia

http://fatwarislani.blogspot.com/2015/04/resume-bo-bab-iv-v-vi.html