Anda di halaman 1dari 22

Nama Anggota : 1) Nurul Aulia Haryanti (18.05.52.

0158)

2) Risma Elsa Priyani (18.05.52.0164)

Kelas : F1 Akuntansi

Mata Kuliah : Praktik Akuntansi

Dosen Pengampu : Agung Anugerah Adhipratama, S.E.,M.Ak

1. Buatlah prosedur audit atas saldo kas secara lengkap

a) Definsi audit atas saldo kas


Saldo kas meliputi penerimaan ditangan yang belum disetor, kas di bank pada rekening
giro umum dan rekening tabungan serta akun impres seperti kas kecil dan rekening di
bank untuk gaji yang akan diperlukan untuk melunasi kewajiban serta membayar gaji dan
entitas dapat memindahkan kelebihan kas ke beberapa bentuk investasi yang
menghasilkan bunga. Saldo – saldo tertentu seperti sertifikat deposito, dana pelunasan
obligasi dana kun – akun yang lain yang mempunyai pembatasan dalam penggunaannya
harus diklasifikasikan sebagai investasi.

b) Uraian Prosedur audit Kas


1. Audit Kas Umum
Dalam menguji saldo akhir tahun pada akun kas umum auditor harus mengakumulasi
bukti yang cukup untuk mengevaluasi apakah kas telah dinyatakan secara wajar dan
diungkapakan secara layak sesuai dengan lima dari delapan tujuan audit yang
berkaitan dengan saldo yang digunakan untuk semua pegujian atas rincian saldo
(eksistensi, kelengkapan, keakuratan, pisah batas, dan detail tie-in)
 Tujuan audit  terkait saldo dan pengujian umum adalah (1) Prosedur audit
aktual tergantung pada materialitas dan pada resiko yang auditor telah
diidentifikasikan dalam bagian audit yang terkait dengan kas (2)  Karena ada
hubungan erat dalam audit yang berkaitan dengan kas yang tercatat di Bank, dan
(3) Karena ada hubungan erat dalam Keakuratan dan dimasukkannya Kas yang
ada (Kelengkapan)

 Mengidentifikasi Risiko Bisnis Klien Yang mempengaruhi Kas (Tahap I)


Banyak perusahaan yang tidak memiliki risiko bisnis yang cukup signifikan dalam
memengaruhi saldo kas. Risiko bisnis klien dapat muncul dari kebijakan
menajemen kas yang tidak memadai atau penanganan dana yang dilakukan pihak
luar.
Risiko bisnis klien lebih banyak muncul dari setara kas dan jenis investasi lainya.
Beberapa perusahaan yang menyediakan jasa keuangan mengalami kerugian besar
akibat aktivitas perdagangan oleh perorangan yang disembunyikan dengan salah
menyajikan saldo investasi dan kas. Auditor harus memahami risiko dari
kebijakan dan strategi investasi klien, sama halnya dengan pengendalian
manajemen yang dapat memperburuk risiko tersebut.

 Menetapkan Salah Saji yang Dapat Diterima dan Menilai Risiko Bawaan
(Tahap I)
Saldo kas tidak material dalam kebanyakan audit, tetapi transaksi kas yang
memengaruhi saldo ini sifatnya hampir selalu sangat material. Oleh karena itu,
sering muncul potensi salah saji material dalam kas. Oleh karena itu kas lebih
mudah dicuri dibandingkan aset lainya, terdapat risiko bawaan cukup tinggi untuk
tujuan keberadaan, kelengkapan dan akurasi. Tujuan ini biasanya akan berfokus
pada audit saldo kas. Risiko bawaan relatif kecil untuk tujuan lainya.

 Tahap I Menilai Risiko Pengendalian


Pembagian internal terhadap saldo kas akhir tahun dalam akun umum dapat dibagi
dalam dua kategori (1) Pengendalian terhadap siklus transaksi yang
mempengaruhi pencatatan penerimaan dan pengeluaran kas (2) Rekonsiliasi bank
independen. Pengendalian utama termasuk pemisahan tugas yang memadai antara
fungsi penandatanganan cek hanya oleh orang yang berwenang, penggunaan cek
yang telah dipranomori diatas kertas khusus, mereview dengan cermat dokumen
pendukung oleh penanda tangan cek sebelum cek ditandatangani, dan verifikasi
internal yang memadai. Jika pengendalian yang mempengaruhi transaksi yang
berhubungan dengan kas telah beroperasi secara efektif, risiko pengendalian akan
menurun sebagaimana pengujian audit untuk rekonsiliasi bank akhir tahun.
Rekonsiliasi bank yang cermat oleh personil klien yang kompeten meliputi
tindakan-tindakan berikut:
a) Membandingkan cek yang dibatalkan dengan catatan pengeluaran kas
menyangkut tanggal, payee atau pihak yang dibayar, dan jumlahnya
b) Memeriksa cek yang dibatalkan menyangkut tanda tangan, endorsement,
dan pembatalan
c) Membandingkan setoran di bank dengan penerimaan kas yang tercatat
menyangkut tanggal, pelanggan dan jumlah
d) Memeriksa urutan nomer cek, dan menyelidiki cek yang hilang
e) Merekonsiliasi semua item yang menyebabkan perbedaan antara nilai
buku dan saldo bank serta memverifikasi kesesuaiannya dengan bisnis
klien
f) Merekonsiliasi total debet pada laporan bank dengan total catatan
pengeluaran kas
g) Merekonsiliasi total kredit pada laporan bank dengan total catatan
penerimaan
h) Mereview transfer antarbank pada akhir bulan untuk melihat kesesuaian
dan pencatatan yang tepat
i) Menindaklanjuti cek yang beredar dan pemberitahuan penghentian
pembayaran.

 Tahap II Merancang dan Melakasanakan Pengujian Pengendalian serta


Pengujian Subtantif atas Transaksi
Karena saldo kas dipengaruhi oleh semua siklus lain kecuali persediaan dan
pergudangan, ada banyak sekali transaksi yang mempengaruhi kas. Sebagai
contoh, pengendalian terhadap penerimaan kas seperti transaksi kas diaudit
sepanjang pengujian siklus transaksi tersebut.

 Tahap III Merancang dan Melaksanakan Prosedur Analitis


Rekonsiliasi bank akhir tahun diaudit secara ekstensif. Karena itu, penggunaan
prosedur analitis untuk menguji kewajaran saldo kas menjadi kurang penting
dibandingkan untuk sebagian besar audit lainnya. Auditor membandingkan saldo
akhir pada rekonsiliasi bank, setoran dalam perjalanan, cek yang beredar, dan item
rekonsiliasi lainnya dengan rekonsiliasi tahun sebelumnya. Demikian juga, auditor
biasanya membandingkan saldo akhir kas dengan saldo bulan sebelumnya.
Prosedur analitis tersebut mungkin akan mengungkap salah saji dalam kas.

 Tahap III Merancang Pengujian atas Rincian Saldo Kas


Langkah awal dalam memverifikasi saldo akun bank umum adalah memperoleh
rekonsiliasi bank dari klien untuk dicantumkan dalam dokumentasi auditor. Untuk
mengaudit kas di bank, auditor memverifikasi apakah rekonsiliasi bank yang
diterima dari klien tersebut sudah benar. Tujuan audit yang berhubungan dengan
saldo dan pengujian atas rincian saldo adalah pengujian atas eksistensi,
kelengkapan, dan keakuratan.

 Pertimbangan perencanaan audit


 Materialitas
Bagi kebanyakan entitas, bagian dari aktiva lancar atau total aktiva pada suatu
titk waktu yang disajikan oleh saldo kas adalah sangat kecil dan seringkali
tidak material akan tetapi dalam kenyataanya, volume transaksi yang
memepengaruhi kas biasanya lebih besar dari pada setiap akun lainnya dalam
laporan keuangan.
 Resiko inheren
Volume transaksi yang tinggi dapat menimbulkan tingkat resiko inheren yang
signifikan untuk asersi saldo kas tertentu , terutama keberadaan dan
keterjadian serta kelngkapan. Selain itu, sifat saldo kas juga membuatnya
mudah unutk dicuri karena berbagai jenis kecurangan yang melibatkan kas
telah terbukti
 Resiko Prosedur Analitis
Saldo kas dipegruhi secara signifikan oleh  keptusan dan strategi operasi,
investasi, serta pembiayaan manajemen .perushaan yang dikelola dengan baik
secara teratur dapat mengembangkan anggaran kas yang memproyeksi kan
(1) penerimaan kas berdasarkan penagihan piutang yang diantisipasi (2)
pengeluaran kas untuk kebutuhan operasi, dan (3) aktivitas investasi serta
pembiayaan. Prosedur analitis yang efektif mencakup pembandingan saldo
kas dengan peramalan atau anggaran, atau dengan kebijakan perusahaan
mengenai saldo kas minimum dan investasi aktas kelebihan kas
 Resiko pengendalian
Penerimaan dan pengeluaran kas sering kali merupakan transaksi rutin yang
dapat dikendalikan oleh system pengendalian internal yang baik, sehingga
dapat memungkinkan auditor untuk menilai resiko pengendalian pada tingkat
yang rendah. Karena rawannya saldo kas terhadap pencurian , maka banyak
auditor akan mengevaluasi secara cermat pengendalian atas kas , dan
memastikan bahwa seiap kondisi yang dapat dilaporkan telah
dikomunikasikan dengan jelas kepada manajemen.

 Tiga Prosedur standar audit untuk setiap audit :


1) Penerimaan  Konfirmasi Bank
Meskipun tidak diharuskan, auditor meminta penerimaan konfirmasi
langsung dari setiap bank atau dari institusi keuangan lainnya dimana
klien melakukan bisnis, kecuali ada sejumlah besar akun yang tidak aktif.
Jika bank tidak merespons permintaan konfirmasi, auditor harus
mengirimkan permintaan kedua atau meminta klien untuk berkomunikasi
dengan bank untuk memintanya melengkapi dan mengembalikan
konfirmasi ke auditor. Untuk memudahkan auditor dan juga banker yang
diminta untuk mengisi konfirmasi bank, AICPA menyetujui penggunaan
formulir  konfirmasi bank standar.

2) Penerimaan Rekening Koran pada Titik Pisah Batas


Laporan pisah batas Bank (cutoff bank statement) adalah laporan bank
periode parsial dan cek yang dibatalkan yang terkait, salinan slip deposit,
dan dokumen lain yang tercantum dalam laporan dikirimkan langsung
oleh bank ke kantor akuntan publik. Tujuan dari laporan pisah batas bank
adalah untuk memverivikasi item rekonsiliasi pada rekonsiliasi bank akhir
tahun. Pengujian untuk salah saji yang disengaja, auditor melaksanakan
verifikasi berikut dalam bulan setelah tanggal neraca :
 Memfoot daftar semua cek yang dibatalkan, memo debet, setoran,
dan memo kredit
 Memverifikasi bahwa laporan bank dalam keadaan seimbang
ketika total footing digunakan
 Mereview item yang dilibatkan dalam footing untuk memastikan
bahwa hal itu telah dibatalkan oleh bank pada periode yang benar
dan tidak memasukan penghapusan atau perubahan

3) Pengujian  atas Rekonsiliasi Bank


Rekonsiliasi Bank Independen yang disiapkan dengan baik merupakan
pengendalian internal yang penting terhadap kas. Auiditor menguji
rekonsiliasi bank untuk menentukan apakah personil klien telah membuat
rekonsiliasi bank dengancermat dan untuk memverifikasi apakah saldo
bank yang tercatat milik klien sama jumlah ya dengan kas aktual di bank
kecuali setoran dalam perjalanan, cek yang beredar, dan item rekonsiliasi
lainya. Prodedur verifikasi atas rekonsiliasi :
 Memverifikasi bahwa rekonsilasi bank klien sudah akurat secara
matematis
 Menulusuri saldo pada konfirmasi bank dan/ atau saldo awal pada
laporan pisah batas ke saldo per bank pada rekonsiliasi bank untuk
memastikan saldo tersebut sama
 Menulusuri cek yang ditulis dan dicatat sebelum akhir tahun dan
dimasukan dengan laporan pisah batas bank ke daftar cek yang
beredar pada rekonsiliasi bank dan ke jurnal pengeluaran kas pada
periode itu atau periode-periode sebelum tanggal neraca
 Menyelidiki semua cek yang signifikan yang tercantum dalam
daftar cek yang beredar yang belum dikliring oleh bank pada
laporan pisah batas
 Menelusuri setoran dalam perjalanan ke laporan pisah batas bank
  Memperhitungkan item yang direkonsiliasi lainnya pada laporan
bank dan rekonsiliasi bank.

a. Prosedur yang berorientasi kecurangan


Perimbangan utama dalam audit saldo kas umum adalah kemungkinan
terjadinya kecurangan. Auditor harus memperluas prosedur dalam
audit kas akhir tahun untuk mentukan kemungkinan adanya
kecurangan yang material apabila pengendalian internaltidak
memadai, terutama pemisahan tugas yang tidak tepat antara
penanganan kas dan pencatatan transaksi kas dalam catatan akuntansi
serta tidak adanya rekonsiliasi bank bulanan yang disiapkan secara
independen. Prosedur yang dapat mengungkapkan kecurangan dalam
bidang penerimaan kas:
1) Konfirmasi piutang usaha
2) Pengujian yang dilaksanakan untuk mendeteksi lapping
3) Mereview ayat jurnal buku besar umum dalam akun kas untuk
pos-pos tidak biasa
4) Membandingkan pesanan pelanggan dengan penjualan dan
penerimaan kas selanjutnya
5) Memeriksa persetujuan dan dokumen pendukung piutang tak
tertagih dan retur penjualan serta pengurangan

b. Perluasan Pengujian atas Rekonsiliasi Bank


Jika rekonsiliasi bank dapat dengan sengaja salah saji, maka perlu
dilakukan perluasan pengujian atas rekonsiliasi bank akhir tahun.
Asumsi terdapat kelemahan pengendalian internal yang material dan
akhir tahun klien adalah 31 desember, dengan menggunakan
pendekatan umum auditor:
1) Memulai dengan rekonsiliasi bank bulan November  dan
membandingkan semua item yang direkondiliasi dengan cek yang
dibatalkan dan dokumen lain dalam laporan bank bulan Desember
2) Membandingkan semua cek yang dibatalkan yang tersisa dan slip
setoran dalam laoran bank bulan desember dengan jurnal
pengeluaran kas dan penerimaan kas
3)  Menelusuri semua item yang belum dikliring dalam rekonsiliasi
bank bulan November dan jurnal pengeluarandan penerimaan kas
bulan Desember ke rekonsiliasi bank tanggal 31 Desember untuk
memastikan bahwa item-item tersebut telah dimasukan
4) Memverifikasi bahwa semua item rekonsiliasi dalam rekonsiliasi
bank tanggal 31 desember menyajikan item dari rekonsiliasi bank
bukan November dan jurnal bulan Desember yang belum
dikliring oleh bank.

c. Bukti Kas
Auditor menggunakan bukti kas untuk menentukan apakah hal-hal
berikut dilakukan dengan semua kas yang tercatat telah disetor, semua
setoran telah dicatat, semua pengeluaran kas yang tercatat telah
dibayar oleh bank dan semua jumlah yang dibayarkan oleh bank telah
dicatat. Pembuktian kas (proof of cash) meliputi empat tugas
rekonsiliasi berikut ini:
1) Rekonsiliasi saldo pada laporan bank dengan saldo buku besar
pada awal periode pembuktian kas
2) Rekonsiliasi penerimaan kas yang disetorkan ke bank dengan
penerimaan yang tercatat dalam jurnal penerimaan kas pada
periode tertentu.
3) Rekonsiliasi kliring cek yang dibatalkan oleh bank dengan yang
dicatat dalam jurnal pengeluaran kas untuk periode tertentu
4) Rekonsiliasi saldo laporan bank dengan saldo buku besar umum
pada akhir periode pembuktian kas.
Saat melakukan pembuktian kas, auditor menggabungkan pengujian
susbtantif atas transaksi dan pengujian perincian saldo. Pembuktian
kas merupakan metode yang sangat baik dalam membandingkan
pencatatan penerimaan dan pengeluaran kas dengan akun bank dan
rekonsiliasi bank. Penerimaan buktu kas adalah pengujian atas
transaksi yang tercatat, sementara rekonsiliasi bank adalah pengujian
atasa saldo kas pada suatu waktu tertentu.

d. Pengujian Transfer Antarbank


Para penggelap biasanya menurupi pencurian kas dengan praktik yang
dikenal sebagai Kitting: mentransfer uang dari satu bank ke bank
lainnya dan mencatat transaksi tersebut dengan tidak benar.Untuk
menguji kitting, dan kesalahan tidak sengaja dalam mencatat transfer
antarbank, auditor dapat mendata semua transfer antarbank yang
dilakukan beberapa hari sebelum dan setelah tanggal neraca serta
menelusuri masing-masing ke catatan akuntansi agar pencatatannya
benar. Ada beberapa hal yang perlu diaudit atas jadwal transfer
antarbank, yaitu sebagai berikut:
- Ketepatan informasi pada jadwal transfer antarbank harus
diverifikasi
Auditor harus mempertimbangkan informasi pengeluaran dan
penerimaan pada skedul ke pencatatan pengeluaran dan
penerimaan kas untuk memastikan akurasinya
- Transfer antarbank harus dicatat, baik di bank penerima
maupun bank pengirim
Asumsikan terdapat Rp 10.000.000 dipindahkan dari bank A ke
bank B, tetapi hanya pengeluarannya yang dicatat, maka ini
adalah bukti pencurian uang yang ditutupi
- Tanggal pencatatan pengeluaran dan penerimaan untuk setiap
transfer harus dilakukan di tahun fiskal yang sama
Jika penerimaan kas dicatat pada tahun fiskal berjalan dan
pengeluaran kas dicatat setelah tanggal neraca, maka hal tersebut
bisa saja dilakukan untuk menutupi berkurangnya kas.
- Pengeluaran pada skedul transfer antarbank harus
dimasukkan atau dikeluarkan dengan benar dari rekonsiliasi
bank akhir tahun sebagai cek beredar
Dalam akun kas umum harus dimasukkan sebagai cek beredar
pada transfer rekonsiliasi bank. Kurang saji cek beredar pada
rekonsiliasi bank mengindikasikan adanya kemungkinan kiting
- Skedul tranfer antarbank harus dimasukkan atau dikeluarkan
dengan benar dari rekonsiliasi bank akhir tahun sebagai
setoran dalam perjalanan
Untuk akun tabungan dan penggajian harus mengindikasikan
setoran dalam perjalanan untuk transfer rekonsiliasi bank. Lebih
saji atas setoran dalam perjalanan pada rekonsiliasi bank
mengindikasikan adanya kemungkinan kiting
Meskipun pengujian audit atas transfer antarbank biasanya
dimaksudkan untuk menemukan kecurangan, tindakan ini juga
bisa dilakukan banyak transfer antarbank tanpa memerhatikan
pengendalian internal. Bila ada kemungkinan kiting, maka dapat
mengakibatkan salah perhitungan antara kas dan utang dagang

2. Audit atas akun bank penggajian impres


Pengujian atas rekonsiliasi bank untuk penggajian tidak akan memakan waktu jika
terdapat akun impres untuk penggajian dan rekonsiliasi independen atas akun bank,
seperti yang dijelaskan pada akun umum. Biasanya, bagian yang direkonsiliasi adalah
cek beredar. Cek beredar tersebut akan langsung jelas ketika cek diterbitkan. Dalam
pengujian saldo akun bank untuk penggajian, auditor harus mendapatkan rekonsiliasi
bank, konfirmasi bank, dan laporan bank atas pisah batas. Prosedur rekonsiliasi sama
dengan kas umum, kecuali pengujian pada cek beredar yang biasanya terbatas untuk
pengujian kewajarannya. Biasanya, diperlukan perluasan prosedur bila pengendalian
tidak memadai atau jika akun bank tidak direkonsiliasi dengan saldo kas impres pada
buku besar

3. Audit atas kas kecil impres


Kas kecil adalah akun yang unik. Meskipun jumlahnya tidak material, banyak auditor
melakukan verifikasi kas kecil karena terdapat potensi kecurangan dan klien
mengharapkan auditor memeriksa akun tersebut meski jumlahnya tidak material.
 Pengendalian Internal atas Kas Kecil
Pengendalian internal yang paling penting dalam kas kecil adalah penggunaan
dan impres yang merupakan tanggung jawab perorangan. Dana untuk kas
kecil tidak dapat digabungkan dengan penerimaan lainnya, dan dana harus
disimpan terpisah dari aktivitas lainnya. Pembatasan juga harus dilakukan atas
pengeluaran dari kas kecil, sama halnya dengan jumlah total dana. Jenis
pengeluaran yang dilakukan dari transaksi kas kecil harus jelas didefinisikan
sesuai kebijakan perusahaan. Saat pengeluaran kas dilakukan dari kas kecil,
pengendalian internal yang memadai mensyaratkan adanya tanda tangan
personel yang berwenang pada formulir kas kecil yang bernomor urut. Total
dari kas aktual dan cek dananya, ditambah total formulir kas kecil yang
disebut dalam buku besar. Perhitungan mendadak secara periodik dan
rekonsiliasi dana kas kecil harus dilakukan oleh auditor internal atau personel
lain  yang berwenang. Saat saldo kas kecil tinggal sedikit, cek dari akun kas
umum harus dibuat untuk mengisi kas kecil. Cek harus ditulis dengan jumlah
yang sama dengan voucher bernomor urut yang dijadikan bukti pengeluaran
aktual sebelumnya. Voucher ini harus diverifikasi oleh petugas utang dagang
dan dibatalkan agar tidak digunakan kembali
 Pengujian Audit atas Kas Kecil
Penekanan dilakukan pada verifikasi kas kecil atas pengujian transaksi kas
kecil dibandingkan saldo akhir tahun. Bahkan jika dana kas kecil jumlahnya
kecil, terdapat potensi kecurangan transaksi jika dana sering dikeluarkan atau
digunakan. Dalam pengujian kas kecil, auditor pertama kali harus menentukan
prosedur klien dalam menangani dana. Hal ini dilakukan dengan
mendiskusikan pengendalian internal bersama pemegang kas kecil dan
memeriksa dokumen atas beberapa transaksi. Saat hasil penilaian risiko
pengendalian adalah rendah dan hanya sedikit pengeluaran dilakukan selama
tahun berjalan, biasanya auditor tidak melakukan pengujian lebih lanjut
karena tidak material. Ketika auditor menguji kas kecil, dua prosedur
utamanya adalah menghitung saldo kas kecil dan melanjutkan dengan
pengujian terperinci atas satu atau dua transaksi pengeluaran. Prosedur utama
harus memasukkan (1) Footing voucher kas kecil yang menunjukkan jumlah
pengeluaran (2) Memperhatikan urutan voucher kas kecil (3) Memeriksa
otorisasi dan pembatalan voucher kas kecil (4) Memeriksa kewajaran
dokumen pendukung, biasanya terdiri atas gulungan register kas, faktur, dan
bukti penerimaan.

Pengujian kas kecil dapat dilakukan sewaktu-waktu selama tahun berjalan,


tetapi agar memudahkan, biasanya dilakukan pada tanggal interim. Jika saldo
dana kas kecil diperkirakan material, hal ini jarang terjadi, maka saldo
tersebut harus diperhitungkan pada akhir tahun. Pengeluaran yang belum
diganti harus diperiksa sebagai bagian dari penentuan apakah biaya yang
belum tercatat jumlahnya material

4. Pengujian Substantif atas Saldo Kas (lebih rinci)


a. Prosedur Awal
1. Mendapatkan pemahaman tentang bisnis dan industry serta menentukan :
- Signifikasi dari saldo dan transaksi kas bagi entitas
- Kebijakan entitas dalam meramalkan saldo kas dan
menginvestasikan kelebihan saldo kas
2. Melaksanakan prosedur awal atas saldo dan catatan kas yang akan
mendapat pengujian lebih lanjut.
- Menelusuri saldo awal kas di tangan dan di bank ke kertas kerja
tahun sebelumnya
- Menelaah aktivitas dalam akun buku besar kas dan menyelidiki
ayat jurnal yang tampak tidak biasa dari segi jumlah atau
sumbernya
- Mendapatkan ikhtisar kas di tangan dan di bank yang disiapkan
klien, memverifikasi ketepatan matematis, dan menentukan
kesesuaiannya dengan buku besar

b. Prosedur Analitis
1. Melaksanakan prosedur analitis
- Membandingkan saldo kas dengan jumlah yang dianggarkan, saldo
tahun sebeleumnya, atau jumlah yang diharapkan lainnya
- Menghitung kas sebagai persentase dari aktiva lancar dan
membandingkannya dengan pengharapan

c. Pengujian Rincian Transaksi


1. Melaksanakan pengujian pisah – batas kas (catatan yang telah
dilaksanakan sebagai bagian dari program audit atas piutang usaha dan
hutang usaha)
- Mengamati bahwa semua kas yang diterima menjelang penutupan
usaha pada hari terakhir tahun fiscal termasuk dalam kas yang ada
di tangan atau setoran dalam perjalanan dan tidak ada penerimaan
dari periode berikutnya yang telah dimasukkan
- Mereview dokumentasi seperti ikhtisar kas harian, slip deposito
duplikat, dan laporan bank yang mencakup beberapa hari sebelum
dan sesudah tanggal akhir tahun untuk menentukan pisah – batas
yang tepat
- Mengamati cek terakhir yang diterbitkan dan dikirimkan pada hari
bisnis terakhir dari tahun fiscal dan menelusuri ke catatan
akuntansi untuk menentukan ketepatan pisah batas pengeluaran kas
- Membandingkan tanggal – tanggal pada cek yang diterbitkan
beberapa hari sebelum dan sesudah akhir tahun ke tanggal
pencatatan cek untuk menentukan pisah batas yang tepat
2. Menelusuri transfer bank selama beberapa hari sebelum dan sesudah
tanggal akhir tahun untuk menentukan bahwa setiap transfer telah dicatat
dengan benar sebagai pengeluaran serta penerimaan dalam periode
akuntansi yang sama dan secara tepat dicerminkan dalam rekonsiliasi bank
apabila dapat dilakukan
3. Menyiapkan bukti atau proof kas untuk setiap akun bank di mana entitas
itu tidak mampu merekonsiliasi atau memikul risiko yang tinggi bahwa
transaksi yang tidak jujur telah terjadi

d. Pengujian Rincian Saldo


1. Menghitung kas di tangan yang belum disetorkan dan menentukan bahwa
jumlah tersebut telah dimasukkan dalam saldo kas
2. Mengkonfimasikan saldo setoran dan pinjaman bank dengan bank
3. Mengkonfirmasikan perjanjian lain dengan bank seperti lini kredit,
perjanjian saldo kompensasi, dan jaminan pinjaman atau pihak lainnya
4. Menscan, menelaah, atau menyiapkan rekonsiliasi bank sebagaimana
mestinya
5. Mendapatkan dan menggunakan laporan pisah batas bank untuk
memverifikasi pos – pos rekonsiliasi bank, mendeteksi semua cek yang
belum dicatat yang telah dikliring oleh bank dan mencari bukti tentang
window dressing

e. Penyajian dan Pengungkapan


1. Membandingkan penyajian laporan dengan GAAP
- Menentukan apakah saldo kas telah diidentifikasi dan
diklasifikasikan dengan tepat
- Menentukan bahwa overdraft bank telah direklasifikasi sebagai
kewajiban lancar
- Melakukan tanya jawab dengan manajemen, menelaah
korespondensi dengan bank, dan menelaah notulen rapat dewan
direksi untuk menentukan hal – hal yang memerlukan
pengungkapan seperti jaminan pinjaman, saldo kompensasi, atau
pembatasan lainnya atas saldo kas
2. Cari contoh kasus Lapping, Kitting, dan Window Dressing yang pernah terjadi baik
di Indonesia ataupun di luar. Jelaskan secara lengkap alur kejadiannya (masing –
masing satu kasus)
a) Kasus Lapping
Kasus Perusahaan di Luar Negeri terkait Lapping Perusahaan WorldCom
 Latar Belakang
Pertumbuhan perusahaan WorldCom yang paling utama didorong oleh
akuisisi terhadap perusahaan – perusahaan telekomunikasi lainnya yang
terjadi selama tahun 1990an dan mencapai puncaknya dengan dengan
mengakuisisi MCI pada tahun 1998. Diantaranya perusahaan yang bergabung
atau dibeli oleh WorldCom adalah Advanced Communications Corp pada
tahun 1992, Metromedia Communication Corp pada tahun 1993, Resurgens
Communications Group pada tahun 1993, IDB Communications Group, Inc
pada tahun 1994, Williams Technology Group, Inc pada tahun 1995, dan MFS
Communications Company pada tahun 1996. Akuisisi MFS termasuk UUNET
Technologies, Inc, yang telah diakuisisi oleh MFS lama sebelum merger
dengan WorldCom.Pada februari 1998, WorldCom melakukan pembelian
online CompuServe yang merupaka pelopor dari perusahaan induk Blok H &
R nya.WorldCom kemudian mempertahankan Compuserve. Divisi Layanan
Jaringan, menjual layanan online untuk America Online dan menerima
pembagian jaringan AOL & ANS.
Pada tanggal 10 November 1997, WorldCom dan MCI Communications
mengumumkan merger senilai $37 milyar untuk membentuk MCI WorldCom,
sehingga hal ini menjadi merger terbesar dalam sejarah Amerika Serikat. Pada
tanggal 15 September 1998 perusahaan baru MCI WorldCom mulai dibuka
untuk bisnis.Pada 5 Oktober 1999 Sprint Corporation dan MCI WorldCom
mengumumkan perjanjian merger antara dua perusahaan sebesar $ 129
milyar.Namun pada tanggal 13 Juli 2000 dewan direksi dari kedua pihak
perusahaan bertindak untuk mengakhiri merger.Hal ini karena mendapat
larang dari pemerintah Amerika Serikat, sebab perjanjian kerjasama dua
perusahaan telekomunikasi besar tersebut dianggap merupakan bagian praktik
monopoli.Kini MCI WorldCom menamai dirinya dengan WorldCom tanpa
Sprint Corp yang menjadi bagian dari perusahaan. Perusahaan dengan kode
saham Wcom di bursa Nasdaq ini telah memiliki sekitar hamper 80.000
pegawai yang tersebar diseluruh dunia dan sebanyak 8.300 diantaranya adalah
pegawai yang tinggal di Eropa, Timur Tengah dan Afrika.
 Kesalahan yang dilakukan
Skandal WorldCom
Pada awal tahun 2000 perusahaan komunikasi tersebut sudah mulai
mengalami kemerosotan yang disebabkan oleh pendapatan mengalami
penurunan dan utang semakin banyak.Nilai saham juga terus mengalami
penurunan. Melihat kondisi tersebut Bernard Ebbers sebagai CEO, Scott
Sullivan sebagai CFO dan David Myers sebagai auditor senior memutuskan
mengambil langkah keluar dengan cara mengubah laporan keuangan. Ada dua
cara yang mereka tempuh. Yang pertama, mereka membukukan ‘line cost‘
sebagai pemasukan, padahal pada kenyataannya merupakan pengeluaran. Dan
yang kedua, mereka meningkatkan pendapatan dengan entri akun palsu yang
ditulis sebagai “akun pendapatan perusahaan yang tidak teralokasi”. Dan
dilaporkan sekitar $ 3,005 milyar telah salah diklasifiksi pada tahun 2001,
sementara sisanya sekitar $ 797 juta pada triwulan pertama tahun 2002.
Berdasarkan data WorldCom $14,7 milyar pada tahun 2001 disajikan
sebagai biaya. Dengan memindahkan akun beban kepada akun modal,
WorldCom mampu menaikkan pendapatan atau laba. WorldCom mampu
menaikan laba karena akun beban dicatat lebih rendah, sedangkan akun aset
dicatat lebih tinggi karena beban kapitalisasi disajikan sebagai beban
investasi. Dalam laporannya pada 25 Juni Worldcom mengakui bahwa
perusahan mengklasifikasikan lebih dari $ 3,8 milyar untuk beban jaringan
sebagai pengeluaran modal. beban jaringan adalah beban yang dibayar oleh
Worldcom kepada perusahaan lain untuk jaringan telekomunikasi, seperti
biaya akses dan biaya pengiriman pesan bagi Worldcom. Dilaporkan sekitar $
3,005 milyar telah salah diklasifiksi pada tahun 2001, sementara sisanya
sekitar $ 797 juta pada triwulan pertama tahun 2002.berdasarkan data
Worldcom $14,7 milyar pad tahun 2001 disajikan sebagai biaya.
Kasus Penyimpangan Akuntansi WorldCom 5 Dengan memindahkan akun
beban kepada akun modal, Worldcommampu menaikkan pendapatan atau
laba.Worldcom mampu menaikan laba karena akun beban dicatat lebih
rendah, sedangkan akun aset dicatat lebih tinggi karena beban kapitalisasi
disajikan sebagai beban investasi. Kalau hal itu tidak terdeteksi praktek ini
akan berakibat pendapatan bersih yang lebih rendah dalam tahun-tahun
berikutnya.Karena beban kapitalisasi jaringan tersebut akan
didepresiasikan.secara esensi beban kapitalisasi jaringan akan memungkinkan
perusahaan untuk mengalokasikan biyanya dalam beberapa tahun dimasa
depan, mungkin antara 10 tahun bahkan lebih. Staf akuntan Worldcom telah
diwawancara sebelum tanggal 25 Juni. Pada Maret 2002 SEC meminta data
dari perusahaan berupa item-item yang berhubungan dengan Laporan
Keuangan. Termasuk didalamnya komisi penjualan dan tagihan-tagihan yang
bermasalah, sanksi administrsi terhadap pendapatan yang berhubungn dengan
pelanggan dalam skala besar dan kebijakan akuntansi untuk merger, Pinjaman
kepada CEO, Integrasi sistem komputer Worldcom dengan MCI serta Analisis
ekspektasi pendapatan saham WC Pada tanggal 1 Juli 2002 worldcom
mengumumkan bahwa akun cadangan di Worldcom juga diinvestigasi atau
diperiksa. Perusahaan membuat akun ini untuk mengantisipasi kejadian-
kejadian luar biasa yang tidak dapat diprediksi. Seperti utang pajak tahun
depan. Seharusnya akun ini tidak boleh dimanipulasi untuk memperoleh
pendapatan. Pada 8 Agustus, Worldcom mengakui bahwa mereka telah
menggunakan akun cadangan secara tidak benar. Dakwaan yang dilaporkan
pada tanggal 28 agustus adalah bahwa akun cadangan dikurangi untuk
menutupi biaya jaringan yang telah dikapitalisasi.

Skandal CEO Bernard Ebbers


CEO Bernard Ebbers menjadi sangat kaya dari kenaikan harga sahamnya
di saham WorldCom umum. Namun, pada tahun 2000, industri
telekomunikasi memasuki masa krisis yang menyebabkan WorldCom
mengalami kemunduran serius, menyebabkan pemerintah AS melalui
Departemen Kehakiman memaksa Kasus Penyimpangan Akuntansi
WorldCom 6 perusahaan ini untuk membatalkan rencana merger dengan
Sprint pada pertengahan 2000. Pada saat itu, saham WorldCom menurun dan
Ebbers berada di bawah tekanan tinggi dari bank untuk menutupi kewajiban
kekurangan margin pada saham WorldCom-nya yang digunakan untuk
membiayai jenis usaha yang lainnya, seperti kayu, kapal pesiar. Oleh karena
itu selama tahun 2001, Ebbers membujuk para dewan direksi WorldCom
untuk memberinya kredit korporasi dan jaminan lebih dari AS $ 400 juta
untuk menutupi kewajiban margin tersebut. Permohonan ini dikabulkan
karena para dewan direksi berharap bahwa pinjaman yang diminta CEP
Ebbers tersebut akan mencegah Ebbers untuk menjual sejumlah besar saham
WorldCom pada akhirnya akibat tekanan di harga pasar saham yang kian
anjlok. Namun, akhirnya strategi ini gagal dan Ebbers digulingkan sebagai
CEO pada bulan April 2002 dan digantikan oleh John Sidgmore, mantan CEO
UUNET Technologies, Inc. Skandal akuntansi di dalam tubuh perusahaan ini
sendiri dimulai sejak pertengahan tahun 1999 dan terus berlanjut hingga Mei
2002.
Di bawah Bernard Ebbers (CEO), Scott Sullivan (CFO), David Myers
(Pengawas) dan Buford "Buddy" Yates (Direktur Jenderal Akuntansi)
memanipulasi laporan akuntansi perusahaan, membuat laporan akuntansi
palsu untuk menutupi pendapatan WorldCom yang hakikatnya mengalami
penurunan dengan membuat gambar pertumbuhan keuangan dan profitabilitas
palsu untuk menopang harga saham WorldCom di pasar saham. Penipuan itu
dilakukan terutama dalam dua cara (1) Underreporting 'line cost` (biaya
interkoneksi dengan perusahaan telekomunikasi lainnya) dengan
memanfaatkan biaya-biaya pada neraca daripada fakta pengeluaran mereka
dan (2) Menggelembungkan pendapatan dengan memasukkan catatan
akuntansi palsu dari "alokasi dana perusahaan yang belum diisi".

Pada tahun 2002, sebuah tim audit internal WorldCom bekerja secara
rahasia, menyelidiki dan menggali kemana alokasi dana perusahaan yang
hilang sebesar $ 3,8 milyar. Hingga pada akhirnya, mereka menemukan
jawabannya bawa dana perusahaan tersebut telah diselewengkan oleh CEO
dan rekan-rekan kerjanya untuk memperkaya diri mereka sendiri diluar
standar pendapatan seharusnya. Segera kemudian komite audit perusahaan
dan dewan direksi | Kasus Penyimpangan Akuntansi WorldCom 7 diberitahu
oleh para audit mengenai masalah penipuan akuntansi ini. Tidak lama
kemudian, mereka segera memanggil dan memecat CFO Scott Sullivan, dan
David Myers segera mengundurkan diri.Kemudian pada tahun 2001, Arthur
Andersen dan US Securities and Exchange Commission (SEC) meluncurkan
sebuah investigasi masalah ini pada tanggal 26 Juni 2002. Sehingga pada
akhir tahun 2003, diperkirakan bahwa total aset perusahaan ini ternyata telah
diselewengkan oleh CEO mereka sekitar $ 11 miliar.

Akibat masalah besar yang diakibatkannya, pada 15 Maret 2005 Bernard


Ebbers dinyatakan bersalah dari semua tuduhan, karena telah terbukti
melakukan kecurangan, konspirasi dan pengajuan dokumen palsu dengan
regulator-semua terkait dengan skandal akuntansi AS $ 11 miliar di
perusahaan telekomunikasi yang dia dirikan. Dia dijatuhi hukuman 25 tahun
penjara.Pejabat WorldCom lainnya seperti mantan CFO Scott Sullivan
dituntut dengan hukuman pidana dalam kaitannya pada tanggal 2 Maret 2004
untuk tuduhan penipuan sekuritas, konspirasi dan mengajukan laporan palsu.
Sedangkan mantan pengawas keuangan David Myers juga telah mengaku
bersalah atas penipuan sekuritas, konspirasi untuk melakukan penipuan
sekuritas, dan mengajukan laporan palsu pada tanggal 27 September, 2002.
Mantan direktur akuntansi Buford Yates juga telah mengaku bersalah atas
konspirasi dan tuduhan penipuan pada 7 Oktober , 2002). Mantan-mantan
manajer akuntansi Betty Vinson dan Troy Normand juga mengaku bersalah
atas konspirasi dan penipuan sekuritas pada tanggal 10 Oktober 2002. Pada 13
Juli 2005 Bernard Ebbers menerima hukuman yang akan membuat dia
dipenjara selama 25 tahun. Pada saat vonis dijatuhkan, Ebbers telah berusia 63
tahun.Pada tanggal 26 September 2006, Ebbers menyerahkan diri ke Biro
Penjara Federal penjara di Oakdale, Louisiana, Federal Lembaga
Pemasyarakatan Oakdale untuk mulai menjalani hukuman.

 Pihak-pihak yang Terkait


1) Bernard Ebbers sebagai CEO WorldCom, Bernard Ebbers meminjam
uang kepada perusahaannya untuk membeli saham WorldCom.
Namun, kenyataannya uang perusahaan tersebut. Kasus Penyimpangan
Akuntansi WorldCom 8 digunkan untuk kepentingannya sendiri bukan
untuk membeli kembali saham WorldCom
2) Cynthia Cooper Salah satu auditor internal WorldCom danmenjabat
sebagai vice presiden yang mengetahui adanya sesuatu yang tidak
beres dengan laporan keuangan WorldCom
3) Arthur Endersen Sebagai Auditor Eksternal Independen merupakan
pihak yang seharusnya menjungjung tinggi independensi, dan
profesionalisme, telah melakukan pelanggaran kode etik profesi dan
ingkar dari tanggungjawab terhadap profesi maupun masyarakat
dengan tidak melaporkan temuan audit yang dimanipulasi oleh
WorldCom. Arthur Andersen sebagai Auditor Eksternal Worldcom.
Dia menyetujui tindakan manipulasi karena tidak adanya integritas
dalam praktik audit Arthur Andersen, sehingga kecurangan yang
dilakukan tidak diungkapkan dalam opini auditor. Kemudian adanya
hubungan antara Arthur Andersen dengan Sullivan dan Myers yang
merupakan pekerja di KAP Arthur Andrsen sebelum bergabung
dengan WorldCom. Arthur Andersen menyulap biaya sewa yang
seharusnya merupakan biaya operasional rutin yang akan mengurangi
pendapatan pada tahun yang sama menjadi biaya investasi, sehingga
bisa disebar untuk jangka 10 tahun. Biaya yang disulap oleh
WorldCom per kuartalnya sebesar US$ 500-800 juta. Dengan
manipulasi data seperti ini, WorldCom bisa melaporkan laba bersih
US$ 1,4 miliar pada kuartal I/2001 dan US$ 172 juta pada kuartal
I/2002. Padahal, kalau manajemen WorldCom melaporkan apa adanya,
selama lima kuartal rapornya akan merah. Inilah informasi yang
menyesatkan para investor dan kreditor.
4) Scott D. Sullivan Sebagai CFO WorldCom, dengan sengaja telah
memasukkan US$ 3,85 miliar (dari total biaya sewa jaringan yang
pada 2001 saja mencapai US$ 8,12 miliar) ke pos yang tak seharusnya
5) Dewan Direksi Menyetujui pemberian pinjaman dana lebih dari $408
juta kepada Ketua dan Mencegah manipulasi yang dilakukan
manajemen
6) Staff Akuntan WorldCom
Dalam hal ini akuntan WorldCom sangat berperan aktif dalam skandal
yang terjadi.Berikut adalah beberapa alasan akuntan Worldcom mau
diajak bekerja sama dalam memanipulasi laporan keuangan yaitu :
- Money : Adanya iming-iming uang dan bonus yang besar bagi para
akuntan jika mereka mau bekerja sama dengan pihak manajemen
untuk memanipulasi laporan keuangan.
- Pressure : Adanya tekanan dari atasan untuk memanipulasi laporan
kaunagan. Yangmana jika tidak dituruti akan mengakibatkan para
akuntan dipecat
- Culture : Budaya perusahaan, yang menghalalkan segala cara
untuk dapat memperoleh penghasilan, agar perusahaan tetap
terlihat baik dimata publik dan harga saham perusahaan tidak turun
drastic
- Internal Controll : Lemahnya pengendalian internal perusahaan,
sehingga tindakan manipulasi dan kecurangan dapat terjadi dalam
perusahaan
- Chance : Adanya kesempatan untuk memanipulasi LK worldcom,
dimana dalam hal ini semua pihak dari manajemen puncak hingga
staf akuntansi dapat diajak bekerja sama untuk memanipulasi LK
perusahaan
- Etika : Kurangnya etika profesi akuntansi, para akuntan yang
bekerja di worldcom tidak berpegang teguh pada etika profesi
akuntansi ataupun GAAP, sehingga mereka bersedia untuk
melakukan tindakan yang melanggar kegiatan kode etik profesi
akuntansi.

7) Mr Cooper Ketua komite audit mempertanyakan mengenai beban


operasi sebagai biaya modal. Bukan hanya biaya akan tetapi
pengakuan belanja modal digunakan untuk meningkatkan laba.
8) Mr Buford "Buddy" Yates Memasuki pengakuan bersalah untuk
penipuan sekuritas dan konspirasi dan setuju untuk bekerja sama
dalam pemalsuan laporan keuangan WorldCom | Kasus Penyimpangan
Akuntansi WorldCom
9) David F. Myers Memasuki pengakuan bersalah dengan tiga tuduhan
kejahatan penipuan di September 26, 2002 10) Wistle Blower Whistle
Blower berani maju untuk memberitahukan tentang kegiatan yang
terjadi pada skandal worldom tersebut, yaitu Whistle Blower
membocorkan kejahatan pihak internal perusahaan.
10) Manajemen WorldCom
berperan dalam menggelembungkan angka pada periode berjalan
dengan cara biaya jaringan yang telah dibayarkan pihak worldcom
kepada pihak ketiga dipertanggungjawabkan dengan tidak benar.
Dimana biaya jaringan yang seharusnya dibebankan dalam laporan
laba rugi, oleh perusahaan dibebankan ke rekening modal. Hal ini
mengakibatkan laba periode berjalan menjadi lebih besar dari laba
yang sebenarnya didapat oleh perusahaan. Dengan cara ini worldcom
mampu meningkatkan keuntungannya hingga $ 3.85 M serta dana
cadangan untuk beberapa biaya operasional dinaikkan oleh
perusahaan. Dana cadangan yang sudah terbentuk, nantinya akan
dikurangi secara tidak benar oleh perusahaan untuk memanipulasi
jumlah keuntungan yang diperoleh perusahaan pada periode berjalan.
Dengan praktik ini, Worldcom berhasil memanipulasi keuntungannya
sebesar $ 2 M

 Kode Etik yang dilanggar


- Dalam kasus WorldCom, Arhur Andersen selaku Auditor eksternal
tidak menjalankan tugasnya sesuai dengan prosedur, karena tidak
melaporkan laporan temuan audit yang telah dimanipulasi oleh
perusahaan WorldCom
- Adanya hubungan Arthur Andersen dengan Scott D. Sullivan dan
Myers yang merupakan pekerja KAP Arthur Andersen sebelum
bergabung dengan WorldCom
- Rekayasa laporan keuangan milyaran dollar AS dapat terealisasi
karena dibantu oleh pihak eksternal Arthur Andersen dan Staff
akuntansi perusahaan WorldCom
- Beberapa SPE digunakan untuk menghasilkan keuntungan palsu,
menyembunyikan kerugian, dan mengurangi biaya pada laporan
keuangan
- CEO WorldCom menggunakan uang perusahaan untuk
kepentingan pribadinya
b) Kasus Kitting
Contoh kasus transfer fiktif
PT Makmur Jaya Sentosa memiliki 2 anak perusahaan yaitu PT Lancar Jaya dan
PT Jaya Sentosa. Perusahaan melakukan penarikan cek yang dilakukan atas rekening
PT Jaya Sentosa sebesar Rp 500.000.000. , tetapi transaksi tersebut dicatat sebagai
pengeluaran di buku besar rekening PT Lancar Jaya. Hal ini mengakibatkan PT
Makmur Jaya Sentosa perputaran dananya seolah-olah seimbang karena kedua anak
perusahaan tersebut saling menutupi. PT Makmur Jaya Sentosa terindikasi melakukan
praktek kitting yang mempunyai maksud khusus guna menyembunyikan defalkasi
kas.

c) Kasus Window Dressing


Kasus Manajemen Laba Pada Laporan Keuangan Toshiba
 Kasus
Kasus ini bermula atas inisitif Pemerintahan Perdana Menteri Abe yang
mendorong transparansi yang lebih besar di perusahaan – perusahaan Jepang
untuk menarik lebih banyak investasi asing. Atas saran pemerintah tersebut,
Toshiba menyewa panel independen yang terdiri dari para akuntan dan
pengacara untuk menyelidiki masalah transparansi di perusahaannya. Beta
mengejutkan bahwa dalam laporan 300 halam yang diterbitkan panel
independe tersebut mengatakan bahwa tiga direksi telah berpenran aktif dalam
menggelembungkan laba usaha Toshiba sebesar ¥152 miliar (setara dengan
Rp 15, 85 triliun) sejak tahun 2008.
Ketiga direksi yang turut andil dalam skandal tersebut adalah CEO yang
memimpi pada tahun 2005-2009 yaitu Atsutoshi Nishida, CEO pada tahun
2009-2013 Norio Sasaki, dan CEO pada tahun 2013-2015 yaitu Hisao Tanaka.
Investigasi yang dilakukan oleh panel independen mengungkapkan bahwa tga
eksekutif terbaru Toshiba telah memberikan tekanan pada karyawan di semua
sub divisi perusahaan, agar ini mencapai keuntungan yang tidak realistis.
Manajemen telah mendorong para pemimpin divisi untuk memanipulasi
laporan keuangan secara ilegal sehingga laba pada laporan keuangan terlihat
melambung fantastis seseuai keinginan direksi.
 Analisis Kasus
Toshiba melakukan berbagai cara baik mengakui pendapatan lebih awal
atau menunda pengakuan biaya periode tertentu namun dengan metode yang
menurut investigator tidak sesuai dengan prinsip akuntansi. Seperti kesalahan
penggunaan percentage of completion untuk pengakuan pendapatan proyek,
cash based ketika penggunaan provisi yang seharusnya dengan metode akrual
memaksa supplier menunda penerbitan taguhan meski pekerjaan sudah
selesai. Manajemen biasanya mengeluarkan target yang besar itu sebelum
akhir kuartal/tahun fiksal.
Hal ini mendorong kepala unit bisnis untuk memodifikasi catatan
akuntansinya. Laporan itu juga mengatakan bahwa penyalahgunaan prosesdur
secara terus menurus dilakukan sebagai kebijakan resmi dari manajemen.
Skandal ini juga disebablan oleh budaya PT Toshiba yang kurang baik tidak
bisa melawan atasan. Maksudnya melawan adalah koreksi atas kesalahan
manajemen mengambil keputusan. Dari sini lah karyawan PT Toshiba
mengakal-akali laporan keuangan agar terlihat profit, padahal tidak
mencerminkan keuangan yang sebenarnya.

3. Bagaimana prosedur audit untuk menemukan Lapping, Kitting, dan Window


Dressing? Jelaskan secara lengkap menurut kelompok anda.

1) Prosedur audit untuk menemukan Lapping


Lapping merupakan penyimpangan yang disebabkan oleh penyalahgunaan secara
sengaja atas penerimaan kas. Lapping dapat melibatkan penggelapan penerimaan kas
secara sementara atau permanen untuk kepentingan pribadi dari seseorang yang telah
melakukan tindakan yang bukan wewenangnya. Kondisi yang kondusif untuk melakukan
lapping tersedia apabila seseorang yang menangani penerimaan kas juga memegang buku
besar piutang usaha. Pengujian untuk mendeteksi lapping hanya dapat dilaksanakan
apabila risiko pengendalian untuk transaksi penerimaan kas adalah sedang atau tinggi.
Terdapat 3 prosedur yang mendeteksi lapping :
a. Mengkonfirmasi Piutang Usaha
Pengujian akan menjadi lebih efektif jika dilaksanakan secara mendadak pada tanggal
interm. Dengan melakukan konfirmasi pada saat ini akan mencegah orang yang
terlibat dalam lapping membuat akun yang di lapped menjadi mutakhir. Konfirmasi
pada tanggal neraca mungkin tidak efektif karena pelaku lapping dapat
mengantisipasi prosedur dan menyesuaikan akun yang di lapped dengan saldo yang
benar pada tanggal yang bersangkutan.
b. Melakukan Perhitungan Kas secara mendadak
Perhitungan kas akan mencakup uang logam atau koin, uang kertas dan cek
pelanggan yang ada di tangan. Auditor harus mengawasi setoran dari dana – dana
tersebut. Berikutnya, rincian setoran yang ditunjukkan pada slip setoran duplikat
harus dibandingkan dengan ayat jurnal penerimaan kas dan posting kea kun
pelanggan
c. Membandingkan rincian ayat jurnal penerimaan kas dengan rincian slip
setoran harian yang berkaitan
Prosedur ini akan mengungkapkan perbedaan rincian seperti yang ditunjukkan dalam
ilustrasi kedua. Apabila pembagian tugas yang tepat dalam penanganan penerimaan
pos sudah ditetapkan, beberapa auditor lebih memilih untuk menggunakan daftar
pendahuluan dari prosedur ini. Dalam kasus diatas, tanggal penagihan actual
dibandingkan dengan tanggal posting penagihan ke buku besar piutang usaha.

2) Proses audit untuk menemukan Kitting


Kitting merupakan suatu penipuan yang dilakukan dengan menggunakan cek.
Cek tersebut ditarik dari suatu bank, kemudian disetorkan kepada bank lain. Penyetoran
tersebut diakui sebagai penerimaan bagi perusahaan, akan tetapi dengan sengaja tidak
mencatat penyetoran tersebut sebagai pengurangan dari bank darimana uang tersebut
berasal.
Kitting terdeteksi dengan mempersiapkan jadwal transfer bank, Transfer Bank
Jadwal adalah dokumen yang disiapkan oleh auditor untuk merekam semua transfer antar
rekening bank perusahaan selama beberapa hari sebelumnya, dan beberapa hari setelah
akhir tahun tanggal transfer dicairkan di bank dan tanggal mereka dicatat dalam buku
dasarnya auditor memeriksa apakah deposit dan penarikan dicatat dalam periode
akuntansi yang sama. Kiting ditunjukkan ketika tanggal distempel oleh bank penerima
mendahului tanggal pencairan dicatat.
Berikut ini cara untuk menemukan atau mendeteksi terjadinya kitting di perusahaan:
a. Membuat cut off bank statement untuk melihat cek yang di kliring dengan
daftar cek yang masih beredar.
b. Membuat cut off test untuk mengetahui pengeluaran terakhir sebelum tanggal
neraca, tidak akan dicatat dalam register cek.
c. Membuat mutasi keseluruhan bank disekitar tanggal neraca untuk mengecek
kemungkinan transfer antar bank.

3) Proses audit untuk menemukan Window Dressing


Window Dressing merupakan upaya membuat laporan keuangan perusahaan
terlihat lebih baik daripada realitas yang ada. Upaya tersebut untuk menarik hati dan
meyakinkan investor dalam menanamkan modal investasi yang menguntungkan bagi
perusahaan tersebut. Jika saja sang investor tidak cermat dan tidak kritis, sudah dapat
dipastikan bahwa ia akan masuk ke dalam perangkap yang dipasang oleh perusahaan.
Cara yang paling umum dilakukan perusahaan untuk menutupi manipulasi data,
yaitu dalam laporan keuangan perusahaan akan menyajikan informasi penjualan aset.
Namun, di saat bersamaan, perusahaan juga menyajikan informasi bahwa mereka baru
saja membeli aset baru atau melakukan operasional lainnya menggunakan dana dari
penjualan aset tersebut. Hal itu dilakukan untuk memengaruhi psikologis investor bahwa
perusahaan yang bersangkutan memutar keuangannya dengan baik.

Berikut prosedur audit untuk mendeteksi window dressing:

a. Lakukan prosedur konfirmasi baik untuk saldo bank, piutang, dan hutang.
b. Lakukan rekonsiliasi bank dengan fokus tujuan untuk menyelidiki semua cek
dengan jumlah yang signifikan yang termasuk dalam daftar cek yang belum
dikliring pada laporan pisah batas.
c. Telusuri setoran dalam perjalanan sampai laporan berikutnya. Seluruh penerimaan
kas yang belum disetorkan ke bank pada akhir tahun harus ditelusuri ke laporan
pisah sadar untuk menyakinkan bahwa semuanya disetorkan segara setelah awal
tahun baru.
d. Lakukan stock opname fisik terhadap invoice dan dokumen lainnya yang terkait
dalam satu siklus akuntansi.
e. Lakukan observasi pengujian internal control untuk mengetahui seberapa efektif
tingkat pengawasan yang dilakukan.
f. Lakukan pengujian dengan menggunakan sampling audit secara acak.