Anda di halaman 1dari 33

TATA CARA SUJUD SAHWI

Para ulama fiqih mendifinisikan shalat sebagai tindakan-tindakan dan ucapan-ucapan yang
dimulai dengan takbiratul ihram dan diakhiri dengan salam. Tindakan-tindakan dan ucapan-
ucapan itu selanjutnya dinamakan rukun dan pemenuhannya menjadi satu keharusan. Berarti,
bila tidak dikerjakan mengakibatkan shalatnya batal. Atau disebut sunnah jika berfungsi sebagai
pelengkap dan penyempurnaan saja. Sehingga, kalau ditinggalkan, tidak sampai berakibat
membatalkan shalat. Rukun shalat secara keseluruhan ada tujuh belas, yang merupakan satu
kesatuan utuh, sehingga pelaksanaannya harus berkesinambungan. Akibatnya, bila ada salah satu
saja dari rukun itu ditinggalkan atau dilaksanakan secara terpisah, seseorang belum dianggap
melaksanakan shalat. Dalam bahasa ahli ushul fikih, belum bebas dari uhdatul wujub, atau belum
bisa menggugurkan at-ta’abbud. Setiap rukun mempunyai aturan dan cara-cara tertentu. Mulai
dari cara membaca Fatihah, ruku’, sujud, I’tidal dan seterusnya semua itu berdasar pada cara
shalat Rasulullah saw semasa hidup. Sebagaimana perintah beliau dalam sebuah hadits: ‫صلوا كما‬
‫رواه البخاري‬- ‫ رأيتموني أصلي‬Artinya: shalatlah kamu seperti yang kamu lihat saat aku
mengerjakannya (HR. Bukhari, Muslim dan Ahmad) Cara dan aturan-aturan tersebut telah
diterangkan oleh ulama dengan panjang lebar, melalui proses ijtihad secara serius, dalam karya
mereka berupa kitab-kitab fiqih. Dalam berijtihad mereka senantiasa berpedoman pada Al-
Qur’an, hadits, ijma’ dan qiyas serta metode-metode istinbath yang lain. Karena itu dengan
berpedoman pada kitab-kitab fiqih, bukan berarti kita tidak atau kurang mengamalkan Al-Qur’an
dan hadits seperti anggapan minor sebagian kalangan tertentu. Dengan demikian shalat yang
dipraktikkan umat Islam, secara umum sama, karena berangkat dari sumber yang sama pula.
Semua berdiri, membaca Fatihah, ruku’ dan sebagainya. Tapi di balik kesamaan-kesamaan
tersebut, ada perbedaan-perbedaan kecil yang tidak begitu prinsip . Jangan sampai terjadi,
perbedaan kecil itu merusak ukhuwah islamiyah di kalangan muslimin. Misalnya dalam hal
sujud, para ulama sendiri terbagi dalam dua kelompok, antara yang mendahulukan tangan dan
yang mengakhirkannya setelah meletakkan lutut. Keduanya memiliki dasar masing-masing.
Kalau ditelusuri perbedaan pendapat tersebut berpangkal pada dua hadits yang termaktub dalam
Bulughul Maram, karangan Ibnu Hajar al-Asqalani.Hadits pertama riwayat dari sahabat Abu
Hurairah ra yang menyatakan bahwasannya Rasulullah saw bersabda; ‫إذا سجد أحدكم فاليبرك كمايبرك‬
‫ رواه أبوداود والترمذي والنسائي‬- ‫ البعير وليضع يديه قبل ركبتيه‬Artinya: jika salah satu dari kalian bersujud,
janganlah menderum seperti unta menderum, letakkanlah kedua tangan sebelum lutut. (HR. Abu
Dawud, Tirmidzi dan Nasa’i) Dalam hadits tersebut jelas kita diperintahkan untuk mendahulukan
tangan. Sebuah pengertian yang berlawanan dengan hadits kedua riwayat sahabat Wail bin Hajar
ra yang mengatakan: ‫رواه أبوداود والترمذي‬- ‫رأيت النبي صلى هللا عليه وسلم إذا سجد وضع ركبتيه قبل يديه ركبتيه‬
‫ والنسائي وابن ماجه‬Artinya: saya melihat Rasulullah saw ketika sujud meletakkan (menjatuhkan)
lutut sebelum tangannya. (HR. abu Dawud, Tirmidzi, Nasa’I dan Ibnu Majah) Ketika ada dua
hadits yang tampak bertentangan seperti itu, para ulama akan memilih mana yang lebih kuat;
yang sahih didahulukan dari pada yang dhaif. Kalau kedudukannya sama, sebisa mungkin
dikompromikan agar sejalan dan tidak saling bertentangan . Jika langkah tersebut tidak mungkin
dicapai, hadist yang terdahulu dirombak (dinasikh) oleh yang terakhir. Dengan catatan sejarah
keduanya diketahui. Bila waktunya tidak jelas, sikap yang mereka ambil adalah al-waaf.
Maksudnya kedua hadits tersebut tidak diamalkan, lalu beralih pada dalil lain. Solusi seperti itu
diketemukan dalam kitab-kitab ushul fikih, seperti Tashit Thuraqat, Irsayadul Fukhul dan al-
Luma’.Yang menjadi permasalahan adalah para ulama sering berbeda menilai sebuah hadits.
hadits yang dianggap sahih oleh seorang ahli (muhadditsun) tertentu, pada saat yang sama
kadang diklaim tidak sahih oleh ulama lain. Pada gilirannya, mereka cenderung berpendapat
sesuai dengan hasil ijtihad masing-masing. Pada kasus sujud Imam Malik dan Imam Auzai
memilih hadits yang pertama. Sedangkan mazhab Syafi’I dan Hanafi cenderung mengamalkan
hadits kedua. Dalam kaitan itulah mengapa khilaf tidak terelakkan. Apalagi jika hadits hanya
diketahui oleh satu pihak saja. Namun yang pasti, ulama terdahulu telah berupaya semaksimal
mungkin mendekati setiap kebenaran. Yang benar memperolehl dua pahala yang salah
memperoleh satu pahala. Dengan syarat mereka benar-benar mempunyai kompetensi untuk
berijtihad. Dalam arti, melengkapi diri dengan berbagai disiplin keilmuan yang diperlukan untuk
tugas mulia yang sangat berat itu. Sekarang kita tinggal pilih sesuai dengan kemantapan dan
keyakinan masing-masing. Kalangan pesantren yang akrab dengan kitab-kitab Imam syafi’I
dalam hal sujud mungkin mendahulukan lutut. Tetapi kalangan yang lain bisa saja
mendahulukan tangan. sumber: KH. Sahal Mahfudh, Solusi Problematika Umat. Catatan: Naskah
ini terbit pertama kali di NU Online pada Selasa, 14 Juni 2011 pukul 13:24. Redaksi
mengunggahnya ulang dengan sedikit penyuntingan.

Sumber: https://islam.nu.or.id/post/read/32556/cara-sujud-yang-benar

Sujud sahwi sunnah dilakukan ketika seseorang dalam shalatnya melakukan salah satu dari lima
hal. Pertama, ketika meninggalkan sunnah ab’ad. Sunnah ab’ad dalam shalat meliputi qunut,
tasyahud awal, shalawat pada Nabi pada saat tahiyyat, shalawat pada keluarga Nabi pada saat
tahiyyat akhir, dan duduk tasyahud awal. Ketika seseorang meninggalkan salah satu dari
berbagai macam sunnah ab’ad tersebut maka ia disunnahkan melaksanakan sujud sahwi. Kedua,
lupa melakukan sesuatu yang membatalkan shalat bila dilakukan dengan sengaja, seperti
seseorang lupa memperpanjang bacaan dalam i’tidal dan duduk di antara dua sujud. Sebab dua
rukun ini tergolong rukun qashir yang tidak boleh dipanjangkan. Ketiga, memindah rukun qauli
(ucapan) bukan pada tempatnya, sekiranya memindah rukun qauli ini bukan termasuk yang
membatalkan shalat. Seperti membaca Al-Fatihah pada saat duduk di antara dua sujud dan
contoh-contoh yang sama. Keempat, ragu dalam hal meninggalkan sunnah ab’ad. Seperti
seseorang ragu apakah telah melaksanakan qunut atau belum, maka dalam hal ini ia disunnahkan
sujud sahwi, sebab pada hakikatnya (hukum asal) ia dianggap tidak melaksanakan qunut
tersebut. Kelima, melakukan perbuatan yang berkemungkinan tergolong sebagai tambahan.
Seperti seseorang pada saat melaksanakan shalat isya’ ragu apakah telah sampai rakaat ketiga
atau sudah keempat. Maka dalam keadaan tersebut hitungannya harus berpijak pada rakaat
ketiga, sehingga ia wajib untuk menambahkan satu rakaat lagi dan sebelum salam ia disunnahkan
melaksanakan sujud sahwi, sebab shalatnya berkemungkinan terdapat tambahan satu rakaat.
Baca juga: • Lupa Sujud Sahwi • Saat Rasulullah Shalat Isya Dua Rakaat karena Lupa Kelima
sebab di atas secara lugas dijelaskan dalam kitab Hasyiyah al-Bujairami: ‫ أحدها ترك‬، ‫وأسبابه خمسة‬
‫ الشك في ترك بعض معين هل فعله أم ال ؟‬: ‫ رابعها‬. ‫ نقل قولي غير مبطل‬: ‫ ثالثها‬. ‫ سهو ما يبطل عمده فقط‬: ‫ثانيها‬. ‫بعض‬
‫ إيقاع الفعل مع التردد في زيادته‬: ‫“ خامسها‬Sebab kesunnahan melakukan sujud sahwi ada lima. Yaitu
meninggalkan sunnah ab’ad, lupa melakukan sesuatu yang akan batal jika dilakukan dengan
sengaja, memindah rukun qauli (ucapan) yang tidak sampai membatalkan, ragu dalam
meninggalkan sunnah ab’ad, apakah telah melakukan atau belum dan yang terakhir melakukan
suatu perbuatan dengan adanya kemungkinan hal tersebut tergolong tambahan” (Syekh Sulaiman
al-Bujairami, Hasyiyah al-Bujairami, juz 4, hal. 495) Khusus sebab disunnahkannya sujud sahwi
yang terakhir, Rasulullah menjelaskan hikmah dari pelaksanaan sujud sahwi dan penambahan
rakaat pada permasalahan tersebut: ‫إذا شك أحدكم فلم يدر أصلى ثالثا أم أربعا فليلق الشك وليبن على اليقين وليسجد‬
، ‫ وإن كانت ناقصة كانت الركعة تماما للصالة‬، ‫ والسجدتان نافلة له‬، ‫ فإن كانت صالته تامة كانت الركعة‬، ‫سجدتين قبل السالم‬
‫“ والسجدتان يرغمان أنف الشيطان‬Ketika kalian ragu, tidak ingat apakah telah melakukan shalat tiga
rakaat atau empat rakaat maka buanglah rasa ragu itu dan lanjutkanlah pada hal yang diyakini
(hitungan tiga rakaat) dan hendaklah melakukan sujud dua kali sebelum salam. Jika shalat
tersebut sempurna maka tambahan satu rakaat dihitung (pahala) baginya dan dua sujud
merupakan kesunnahan baginya, jika ternyata shalatnya memang kurang satu, maka tambahan
satu rakaat menyempurnakan shalatnya dan dua sujud itu untuk melawan kehendak syaitan.”
(HR. Abu Daud) Namun jika menelisik berbagai sebab-sebab dianjurkannya melaksanakannya
sujud sahwi, lantas apakah shalat yang dilakukan seseorang ketika melakukan salah satu dari
lima sebab di atas namun ia tidak melaksanakan sujud sahwi dalam shalatnya, apakah lantas hal
tersebut berpengaruh dalam keabsahan shalatnya, dalam arti shalatnya menjadi batal? Status
sujud sahwi sebagai sunnah muakkad (kesunnahn yang sangat dianjurkan) tidak lantas
menyebabkan shalat seseorang menjadi batal ketika tidak dilaksanakan. Sebab term kesunnahan
hanya berarti anjuran, bukan suatu kewajiban, sehingga bukan merupakan hal yang harus
dilakukan dan akan membatalkan shalat ketika tidak melaksanakannya. Berbeda halnya ketika
seseorang tidak melaksanakan kewajiban shalat dengan sengaja atau melakukan hal-hal yang
dilarang dalam shalat (mubthilat as-shalat) dengan sengaja, maka dua hal ini secara umum dapat
berpengaruh dalam keabsahan shalat yang dilakukannya. Dalam referensi kitab-kitab Syafi’iyah
banyak sekali yang menjelaskan bahwa sujud sahwi hanya sebatas kesunnahan, misalnya seperti
yang terdapat dalam kitab Dalil al-Muhtaj fi Syarh al-Minhaj: - ‫سجود السهو سنة) مؤكدة ولو في نافلة ما‬
‫“ عدا صالة الجنازة وهو دافع لنقص الصالة‬Sujud Sahwi tergolong sunnah muakkad, meskipun pada shalat
sunnah, selain pada shalat jenazah. Sujud sahwi ini berfungsi mencegah kekurangan dalam
shalat” (Syekh Abu Abdurrahman Rajab Nuri, Dalil al-Muhtaj fi Syarh al-Minhaj, juz 1, hal.
129) Bahkan Imam Asy-Syafi’i dalam qaul qadim yang tercantum dalam karya monumentalnya,
al-Um, menjelaskan bahwa orang yang meninggalkan sujud sahwi dalam shalat maka tidak wajib
mengulang kembali shalatnya, sehingga shalat yang ia lakukan tetap dihukumi sah dan
menggugurkan kewajibannya. Sebagaimana beliau jelaskan dalam referensi berikut: ‫وال أرى بينا أن‬
‫“ واجبا على أحد ترك سجود السهو أن يعود للصالة‬Aku tidak berpandangan bahwa wajib bagi orang yang
meninggalkan sujud sahwi untuk mengulangi shalatnya” (Muhammad bin Idris asy-Syafi’i, al-
Um, juz 1, hal. 214) Berbeda halnya ketika meninggalkan sujud sahwi diarahkan pada konteks
shalat jamaah. Misalnya seperti ketika imam melaksanakan sujud sahwi, namun makmum tidak
mengikuti imam dengan tidak melaksanakan sujud sahwi bersamaan dengan imamnya, maka
dalam keadaan demikian shalatnya menjadi batal ketika hal tersebut dilakukan dengan sengaja.
Sebab dalam permasalahan ini, batal shalatnya makmum bukan hanya karena ia tidak melakukan
sujud sahwi, tapi lebih karena faktor ia tidak mengikuti (mutaba’ah) imam yang merupakan salah
satu kewajiban dalam shalat jama’ah. Ketentuan ini sperti yang dijelaskan dalam kitab Kasyifah
as-Saja: ‫ فإن ترك‬،‫فإن سجد إمامه تابعه وجوبا ً وإن لم يعرف أنه سها حتى لو اقتصر على سجدة واحدة سجد المأموم أخرى‬
‫ وإن لم يسجد اإلمام وسلم المأموم آخر‬،‫ السجود مسبوق آخر صالته ألنه محل سجود السهو‬ž‫متابعته عمداً بطلت صالته ثم يعيد‬
‫( صالته جبراً لخلل صالته بسهو إمامه‬Syekh Muhammad an-Nawawi al-Bantani, Kasyifah as-Saja fi
Syarh as-Safinah an-Naja, juz 1, hal. 83) Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa tidak
melaksanakan sujud sahwi bukan merupakan hal yang berpengaruh dalam keabsahan shalat,
kecuali ketika hal tersebut terjadi pada shalat jamaah, saat imam melaksanakan sujud sahwi,
namun orang yang menjadi makmum tidak mengikutinya. Maka dalam keadaan tersebut
shalatnya menjadi batal. Wallahu a’lam. Ustadz Ali Zainal Abidin, Pengajar di Pondok Pesantren
Kaliwining, Rambipuji, Jember
Sumber: https://islam.nu.or.id/post/read/103099/sujud-sahwi-dianjurkan-dalam-lima-kondisi-ini

Tata Cara, Bacaan, dan Waktu Sujud Sahwi


 

LADUNI.ID, Sujud dilakukan dengan menempelkan dahi pada tempat sujudnya. Akan tetapi,
sujud sahwi dilaksanakan sebelum orang yang shalat mengucapkan salam.

Misalnya, ketika seseorang lupa membaca shalawat di tasyahud awal, maka ia tetap menjalankan
runtutan shalat sebagaimana mestinya hingga duduk pada tahiyat akhir. Kemudian, sesaat
sebelum salam, ia melakukan sujud sahwi.

Sujud sahwi dilakukan sebagaimana laiknya sujud pada umumnya. Sujud sahwi dikerjakan
sebanyak dua kali menjelang salam. Pada saat hendak sujud, orang yang melakukan sujud sahwi
disunnahkan mengucapkan takbir. Pun juga ketika hendak bangkit dari sujudnya.

Dalam melaksanakan sujud sahwi, seseorang tidak perlu mengawalinya dengan takbirotul ihram.
Ia cukup mengucapkan takbir saat ingin bersujud. Pendapat ini diamini mayoritas ulama.

Praktek sujud sahwi telah dicontohkan Rasulullah SAW. Imam Abdullah bin Buhainah
meriwayatkan hadis tentang waktu pelaksanaan sujud sahwi.

َ ُ‫س قَ ْب َل أَنْ ي‬
‫سلِّ َم‬ َ ‫س ْج َدتَ ْي ِن فَ َكبَّ َر فِي ُك ِّل‬
ٌ ِ‫س ْج َد ٍة َو ُه َو َجال‬ َ ‫فَلَ َّما أَتَ َّم‬
َ ُ‫صاَل تَه‬
َ ‫س َج َد‬

“Setelah beliau menyempurnakan shalatnya, beliau sujud dua kali. Ketika itu beliau bertakbir
pada setiap akan sujud dalam posisi duduk. Beliau lakukan sujud sahwi ini sebelum salam.” (HR.
Bukhari no. 1224 dan Muslim no. 570)

Sedangkan tata cara sujud sahwi dijelaskan sahabat Abu Hurairah di dalam hadis yang
diriwayatkannya. Adapun bunyi hadisnya sebagai berikut:
‫س َج َد ثُ َّم َكبَّ َر َو َرفَ َع‬
َ ‫س َج َد ثُ َّم َكبَّ َر فَ َرفَ َع ثُ َّم َكبَّ َر َو‬
َ ‫سلَّ َم ثُ َّم َكبَّ َر ثُ َّم‬ َ َ‫ف‬
َ ‫صلَّى َر ْك َعتَ ْي ِن َو‬

“Lalu beliau shalat dua rakaat lagi (yang tertinggal), kemudia beliau salam. Sesudah itu beliau
bertakbir, lalu bersujud. Kemudian bertakbir lagi, lalu beliau bangkit. Kemudian bertakbir
kembali, lalu beliau sujud kedua kalinya. Sesudah itu bertakbir, lalu beliau bangkit.” (HR.
Bukhari no. 1229 dan Muslim no. 573)

Ketika melakukan sujud, para ulama menganjurkan membaca doa sebagai berikut:

ْ ‫س ْب َحانَ َمنْ اَل يَنَا ُم َواَل َي‬


‫س ُهو‬ ُ

“Subhana man laa yanaamu wa laa yas-huw” (Maha Suci Dzat yang tidak mungkin tidur dan
lupa).

Dzikir sujud sahwi di atas merupakan yang layak dengan keadaan. Di mana seseorang
melakukan sujud sahwi karena lupa mengerjakan sesuatu di dalam shalat. Ya, meskipun tidak
ada bacaan khusus dari Rasulullah, karena beliau hanya menjelaskan tata cara sujud sahwi
seperti halnya sujud biasa ketika shalat.

Syek Ahmad bin Muhammad al-Khatib di dalam Mughnil Muhtaj menjelaskan, tata cara sujud
sahwi laiknya sujud ketika shlatat di dalam perbuatan wajib dan sunnahnya.
ْ ُّ ‫صاَل ِة) فِي َوا ِجبَاتِ ِه َو َم ْندُوبَاتِ ِه َك َوضْ ع ْال َج ْبهَ ِة َو‬
ِ ُ‫اش فِي ْال ُجل‬
  ‫وس بَ ْينَهُ َما‬ ِ ‫يس َوااِل ْفتِ َر‬
ِ ‫الط َمأنِينَ ِة َوالتَّ َحا ُم ِل َوالتَّ ْن ِك‬ ِ َّ ‫َو َك ْيفِيَّتُهُ َما ( َك ُسجُو ِد ال‬
‫صاَل ِة فِي ِه َما‬ ْ ْ
َّ ‫ك بَ ْع َدهُ َما َويَأتِي بِ ِذك ِر ُسجُو ِد ال‬ َّ
ِ ُّ‫َوالت َور‬

"Tata cara sujud sahwi seperti sujud shalat di dalam kewajiban dan kesunahannya. Misal,
meletakkan dahi, thuma'ninah, menahan dan menundukan ketika sujud, duduk iftirasy saat duduk
di antara sujud sahwi, duduk tawaruk ketika selesai melakukan sujud sahwi, dan membaca dzikir
seperti biasanya di dalam sujud shalat" (Mughnil Muhtaj, 438). 
Dalam melaksanakan shalat mungkin pula ada hal – hal yang dilupakan, misalnya:

1. Lupa melaksanakan yang fardlu.


2. Lupa melaksanakan sunat ab’adl.
3. Lupa melaksanakan sunat hai’at.

Jika yang dilupakan itu fardlu, maka tidak cukup diganti dengan sujud sahwi. Jika orang telah
ingat ketika ia sedang shklat, haruslah cepat-cepat ia melaksanakannya; atau ingat setelah salam,
sedang jarak waktunya masih sebentar, maka wajiblah ia menunaikannya apa yang terlupakan,
lalu sujud sahwi (sujud sunat karena lupa).

Jika yang dilupakan itu sunat ah’adi ; maka tidak perlu diu – langi, yakni kita meneruskan
shalat itu hingga selesai, dan se belum salam kita disunatkan sujud sahwi.

Jika yang terlupakan itu sunat hai’at ; maka tidak perlu di ulangi apa yang dilupakan itu, dan
tidak perlu sujud sahwi.

Lafazh sujud sahwi :


SUBHAANA MAN LAA YANAAMU WALAA YAS-HU.

Artinya :
“Mahasuci Allah yang tidak tidur dan tidak lupa”.

Sujud sahwi itu hukumnya sunat, dan letaknya sebelum salam, dikerjakan dua kali sebagaimana
sujud biasa.

Apabila orang bimbang atau ragu-ragu tentang jumlah bi langan raka’at yang telah dilakukan,
haruslah ia menetapkan yang yakin, yaitu yang paling sedikit dan hendaklah ia sujud sahwi.

Sumber: https://islam.nu.or.id/post/read/85302/tata-cara-sujud-tilawah

SUJUD TILAWAH

Tata Cara Sujud Tilawah yang Benar Sesuai


Syariat Islam, Lengkap Beserta Doa
ilustrasi sholat dhuha. ©2020 Merdeka.com

Merdeka.com - Sujud menjadi salah satu gerakan dalam ibadah ajaran Islam. Terdapat empat
macam sujud yang dilakukan sesuai keadaan tertentu, seperti sujud dalam salat, sujud syukur,
sujud sahwi, dan sujud Tilawah.

Sujud Tilawah dilaksanakan ketika seseorang membaca atau mendengar penggalan dari surah
Al-Quran yang termasuk ayat sajdah, baik ketika salat maupun tidak.

Lalu, apakah ada syarat lain untuk melakukan sujud Tilawah? Berikut merdeka.com telah
merangkum mengenai tata cara sujud Tilawah dari berbagai sumber,

1 dari 6 halaman

Pengertian Sujud Tilawah

Sujud Tilawah merupakan bentuk sujud ketika mendengar atau membaca salah satu penggalan
ayat SAJDAH dari kitab suci Al-Quran.

Mengenali ayat sajdah dalam Al-Quran biasanya ditandai dengan simbol seperti kubah atau tugu,
ada pula yang membuat tulisan kecil as-sajdah . Tanda tersebut bisa terletak di pinggir halaman
yang sebaris dengan ayat tersebut, bisa pula berada di ujung atau akhir ayat sajdah. Letak tanda
tergantung pada cetakan mushaf.

Sujud Tilawah dilakukan sebagai bentuk merendah atas kebesaran Allah SWT. Coba Anda
perhatikan seluruh arti dari setiap ayat Sajdah dalam Al-Quran, mengandung makna yang hampir
sama mengenai bentuk menyembah pada Allah.
2 dari 6 halaman

Hukum Sujud Tilawah

Hukum sujud Tilawah adalah sunnah. Sesuai dengan hadis shahih berikut,

Dari Ibnu Umar r.a, sesungguhnya Rasulullah SAW. suatu saat beliau pernah membaca al-
Quran di depan kami, maka ketika beliau sampai pada ayat sajdah, beliau takbir dan bersujud,
dan kamipun ikut bersujud bersama beliau (HR. Abu Dawud), hadits yang juga sama
diriwayatkan oleh Imam Bukhari.

Beberapa hadis lain yang mendasari umat muslim untuk melakukan sujud Tilawah sebagai
berikut :

Ia bertanya kepada Zaid bin Tsabit radhiyallahu anhu. Beliau mengaku pernah membacakan
kepada Nabi shallallahu alaihi wasallam surah an-Najm dan beliau tidak sujud. (HR. Bukhari,
Kitab Sujudul Quran, Bab Man Qaraa as-Sajdah wa lam Yasjud)

Abu Hurairah bahwa Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda: Ketika anak adam
membaca ayat As-Sajdah kemudian ia bersujud maka setan menyendiri dan menangis. Ia
berkata, celaka, anak adam diperintah untuk bersujud dan ia pun bersujud maka baginya surga.
Dan aku telah diperintah untuk bersujud namun aku menolak maka bagiku neraka. (HR.
Muslim)

Ibnu Umar berkata, Adalah nabi membacakan Al-Quran kepada kita, maka ketika melewati ayat
As-Sajdah beliau bertakbir dan bersujud, dan kami pun bersujud bersamanya. (HR. Abu
Dawud)

3 dari 6 halaman
Ayat Sajdah untuk Sujud Tilawah

2020 Merdeka.com

Melansir data dari Kemenag RI, berdasarkan indeks tematik Al-Quran, berikut beberapa ayat
sajdah dalam kitab suci :

Al-Araf (7) ayat 206


Ar-Rad (13) ayat 15
An-Nahl (16) ayat 50
Al-Isra (17) ayat 107 - 109
Maryam (19) ayat 58
Al-Hajj (22) ayat 18
Al-Hajj (22) ayat 77
Al-Furqan (25) ayat 60
An-Naml (27) ayat 2426
As-Sajdah (32) ayat 15
Shad (38) ayat 24
Fushshilat (41) ayat 37 38
An-Najm (53) ayat 62
Al-Insyiqaq (84) ayat 20 - 21
Al-Alaq (96) ayat 19
Tata Cara Sujud Tilawah

[Pertama] Para ulama bersepakat bahwa sujud tilawah cukup dengan sekali sujud.

[Kedua] Bentuk sujudnya sama dengan sujud dalam shalat.

[Ketiga] Tidak disyari’atkan -berdasarkan pendapat yang paling kuat- untuk takbiratul ihram
dan juga tidak disyari’atkan untuk salam.

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah mengatakan,

َ ‫ هَ َذا ه َُو ال ُّسنَّةُ ْال َم ْعرُوفَةُ ع َْن النَّبِ ِّي‬: ‫ع فِي ِه تَحْ ِري ٌم َواَل تَحْ لِي ٌل‬
‫م َو َعلَ ْي ِه‬žَ َّ‫صلَّى هَّللا ُ َعلَ ْي ِه َو َسل‬ ِ ْ‫َو ُسجُو ُد ْالقُر‬
ُ ‫آن اَل يُ ْش َر‬
ِ ‫ُوص ع َْن اأْل َئِ َّم ِة ْال َم ْشه‬
َ‫ُورين‬ žُ ‫ف َوه َُو ْال َم ْنص‬ ِ َ‫عَا َّمةُ ال َّسل‬
“Sujud tilawah ketika membaca ayat sajadah tidaklah disyari’atkan untuk takbiratul ihram, juga
tidak disyari’atkan untuk salam. Inilah ajaran yang sudah ma’ruf dari Nabi shallallahu ‘alaihi
wa sallam, juga dianut oleh para ulama salaf, dan inilah pendapat para imam yang telah
masyhur.” (Majmu’ Al Fatawa, 23/165)

[Keempat] Disyariatkan pula untuk bertakbir ketika hendak sujud dan bangkit dari sujud. Hal ini
berdasarkan keumuman hadits Wa-il bin Hujr, “Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam biasa
mengangkat kedua tangannya ketika bertakbir. Beliau pun bertakbir ketika sujud dan ketika
bangkit dari sujud.” (HR. Ahmad, Ad Darimi, Ath Thoyalisiy. Hasan)

[Kelima] Lebih utama sujud tilawah dimulai dari keadaan berdiri, ketika sujud tilawah ingin
dilaksanakan di luar shalat. Inilah pendapat yang dipilih oleh Hanabilah, sebagian ulama
belakangan dari Hanafiyah, salah satu pendapat ulama-ulama Syafi’iyah, dan juga pendapat
Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah.

Dalil mereka adalah:

ً‫إِ َذا يُ ْتلَى َعلَ ْي ِه ْم يَ ِخرُّ ونَ لِألَ ْذقَا ِن ُسجَّدا‬

“Sesungguhnya orang-orang yang diberi pengetahuan sebelumnya apabila Al Qur’an dibacakan


kepada mereka, mereka menyungkur atas muka mereka sambil bersujud.” (QS. Al Isro’: 107).
Kata mereka, yang namanya yakhirru (menyungkur) adalah dari keadaan berdiri.

Namun, jika seseorang melakukan sujud tilawah dari keadaan duduk, maka ini tidaklah
mengapa. Bahkan Imam Syafi’i dan murid-muridnya mengatakan bahwa tidak ada dalil yang
mensyaratkan bahwa sujud tilawah harus dimulai dari berdiri. Mereka mengatakan pula bahwa
lebih baik meninggalkannya. (Shahih Fiqih Sunnah, 1/449)

Apakah Disyariatkan Sujud Tilawah (Di Luar Shalat) Dalam Keadaan Suci (Berwudhu)?
Mayoritas ulama berpendapat bahwa dalam sujud tilawah disyari’atkan untuk berwudhu
sebagaimana shalat. Oleh karena itu, para ulama mensyariatkan untuk bersuci (thoharoh) dan
menghadap kiblat dalam sujud sahwi sebagaimana berlaku syarat-syarat shalat lainnya.

Namun, ulama lain yaitu Ibnu Hazm dan Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah mengatakan bahwa tidak
disyari’atkan untuk thoharoh karena sujud tilawah bukanlah shalat. Namun sujud tilawah
adalah ibadah yang berdiri sendiri. Dan diketahui bahwa jenis ibadah tidaklah disyari’atkan
thoharoh. Inilah pendapat yang dipilih oleh Ibnu ‘Umar, Asy Sya’bi dan Al Bukhari. Pendapat
kedua inilah yang lebih tepat.

Dalil dari pendapat kedua di atas adalah hadits dari Ibnu ‘Abbas. Beliau radhiyallahu ‘anhuma
mengatakan,

ُ‫األ ْنس‬ ِ ‫صلَّى هللاُ َعلَ ْي ِه َو َسلَّ َم َس َج َد بِالنَّجْ ِم َو َس َج َد َم َعهُ ال ُم ْسلِ ُموْ نَ َوال ُم ْش ِر ُكوْ نَ َو‬
ِ ‫الج ُّن َو‬ َّ ِ‫أَ َّن النَّب‬
َ ‫ي‬
“Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah melakukan sujud tilawah tatkala membaca surat An
Najm, lalu kaum muslimin, orang-orang musyrik, jin dan manusia pun ikut sujud.” (HR.
Bukhari)

Al Bukhari membawa riwayat di atas pada Bab “Kaum muslimin bersujud bersama orang-orang
musyrik, padahal kaum musyrik itu najis dan tidak memiliki wudhu.” Jadi, menurut pendapat
Bukhari berdasarkan riwayat di atas, sujud tilawah tidaklah ada syarat berwudhu. Dalam bab
tersebut, Al Bukhari juga membawakan riwayat bahwa Ibnu ‘Umar radhiyallahu ‘anhuma
berwudhu dalam keadaan tidak berwudhu.

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah mengatakan, “Sujud tilawah ketika membaca ayat sajadah
tidaklah disyari’atkan untuk takbiratul ihram, juga tidak disyari’atkan untuk salam. Inilah
ajaran yang sudah ma’ruf dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, juga dianut oleh para ulama
salaf, dan inilah pendapat para imam yang telah masyhur. Oleh karena itu, sujud tilawah
tidaklah seperti shalat yang memiliki syarat yaitu disyariatkan untuk bersuci terlebih dahulu.
Jadi, sujud tilawah diperbolehkan meski tanpa thoharoh (bersuci). Hal ini sebagaimana
dilakukan oleh Ibnu ‘Umar. Beliau pernah bersujud, namun tanpa thoharoh. Akan tetapi
apabila seseorang memenuhi persyaratan sebagaimana shalat, maka itu lebih utama. Jangan
sampai seseorang meninggalkan bersuci ketika sujud, kecuali ada udzur.” (Majmu’ Al Fatawa,
23/165)

Asy Syaukani mengatakan, “Tidak ada satu hadits pun tentang sujud tilawah yang menjelaskan
bahwa orang yang melakukan sujud tersebut dalam keadaan berwudhu. Nabi shallallahu ‘alaihi
wa sallam juga pernah bersujud dan di situ ada orang-orang yang mendengar bacaan beliau,
namun tidak ada penjelasan kalau Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam memerintahkan salah satu
dari yang mendengar tadi untuk berwudhu. Boleh jadi semua yang melakukan sujud tersebut
dalam keadaan berwudhu dan boleh jadi yang melakukan sujud bersama orang musyrik
sebagaimana diterangkan dalam hadits yang telah lewat. Padahal orang musyrik adalah orang
yang paling najis, yang pasti tidak dalam keadaan berwudhu. Al Bukhari sendiri meriwayatkan
sebuah riwayat dari Ibnu ‘Umar bahwa dia bersujud dalam keadaan tidak berwudhu. ” (Nailul
Author, 4/466, Asy Syamilah)
Apakah Sujud Tilawah Mesti Menghadap Kiblat?

Asy Syaukani rahimahullah mengatakan, “Adapun menutup aurat dan menghadap kiblat, maka
ada ulama yang mengatakan bahwa hal itu disyariatkan berdasarkan kesepakatan ulama.”
(Nailul Author, 4/467, Asy Syamilah)

Namun karena sujud tilawah bukanlah shalat, maka tidak disyari’atkan untuk menghadap kiblat.
Akan tetapi, yang lebih utama adalah tetap dalam keadaan menghadap kiblat dan tidak boleh
seseorang meninggalkan hal ini kecuali jika ada udzur. Jadi, menghadap kiblat bukanlah syarat
untuk melakukan sujud tilawah. (Lihat Shahih Fiqih Sunnah, 1/450)

Bagaimana Tata Cara Sujud Tilawah bagi Orang yang Sedang Berjalan atau
Berkendaraan?

Siapa saja yang membaca atau mendengar ayat sajadah sedangkan dia dalam keadaan berjalan
atau berkendaraan, kemudian ingin melakukan sujud tilawah, maka boleh pada saat itu berisyarat
dengan kepalanya ke arah mana saja. (Shahih Fiqih Sunnah, 1/450 dan lihat pula Al Mughni)

ž. ْ‫ ا ْس ُج ْد َوأَوْ ِمئ‬: ‫ال‬


َ َ‫ أَنَّهُ ُسئِ َل َع ِن ال ُّسجُو ِد َعلَى ال َّدابَ ِة فَق‬: ‫َو َع ِن ا ْب ِن ُع َم َر‬
Dari Ibnu ‘Umar: Beliau ditanyakan mengenai sujud (tilawah) di atas tunggangan. Beliau
mengatakan, “Sujudlah dengan isyarat.” (Diriwayatkan oleh Al Baihaqi dengan sanad yang
shahih)

Bacaan Ketika Sujud Tilawah

Bacaan ketika sujud tilawah sama seperti bacaan sujud ketika shalat. Ada beberapa bacaan
yang bisa kita baca ketika sujud di antaranya:

Pertama: Dari Hudzaifah, beliau menceritakan tata cara shalat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam
dan ketika sujud beliau membaca:

‫ُس ْب َحانَ َرب َِّى األَ ْعلَى‬

“Subhaana robbiyal a’laa” [Maha Suci Allah Yang Maha Tinggi] (HR. Muslim no. 772)

Kedua: Dari ‘Aisyah, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam biasa membaca do’a ketika ruku’ dan
sujud:

‫ اللَّهُ َّم ا ْغفِرْ لِى‬، َ‫ك اللَّهُ َّم َربَّنَا َوبِ َح ْم ِدك‬
َ َ‫ُس ْب َحان‬
“Subhaanakallahumma robbanaa wa bi hamdika, allahummagh firliy.” [Maha Suci Engkau Ya
Allah, Rabb kami, dengan segala pujian kepada-Mu, ampunilah dosa-dosaku] (HR. Bukhari no.
817 dan Muslim no. 484)

Ketiga: Dari ‘Ali bin Abi Tholib, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam ketika sujud membaca:
ُ‫ك هَّللا ُ أَحْ َسن‬ َ َ‫ص َرهُ تَب‬
َ ‫ار‬ َّ ‫ص َّو َرهُ َو َش‬
َ َ‫ق َس ْم َعهُ َوب‬ ُ ‫ك أَ ْسلَ ْم‬
َ ‫ت َس َج َد َوجْ ِهى لِلَّ ِذى خَ لَقَهُ َو‬ ُ ‫ك آ َم ْن‬
َ َ‫ت َول‬ ُ ‫اللَّهُ َّم لَكَ َس َج ْد‬
َ ِ‫ت َوب‬
َ‫ْالخَالِقِين‬
“Allahumma laka sajadtu, wa bika aamantu wa laka aslamtu, sajada wajhi lilladzi kholaqohu,
wa showwarohu, wa syaqqo sam’ahu, wa bashorohu. Tabarakallahu ahsanul kholiqiin.” [Ya
Allah, kepada-Mu lah aku bersujud, karena-Mu aku beriman, kepada-Mu aku berserah diri.
Wajahku bersujud kepada Penciptanya, yang Membentuknya, yang Membentuk pendengaran
dan penglihatannya. Maha Suci Allah Sebaik-baik Pencipta] (HR. Muslim no. 771)

Adapun bacaan yang biasa dibaca ketika sujud tilawah sebagaimana tersebar di berbagai buku
dzikir dan do’a adalah berdasarkan hadits yang masih diperselisihkan keshohihannya. Bacaan
tersebut terdapat dalam hadits berikut:

1. Dari ‘Aisyah, beliau mengatakan bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam biasa
membaca dalam sujud tilawah di malam hari beberapa kali bacaan:

َ‫ص َرهُ تَبَا َركَ هَّللا ُ أَحْ َسنُ ْالخَالِقِين‬ َ ‫َس َج َد َوجْ ِهى لِلَّ ِذى َخلَقَهُ َو‬
َّ ‫ص َّو َرهُ َو َش‬
َ َ‫ق َس ْم َعهُ َوب‬
“Sajada wajhi lilladzi kholaqohu, wa showwarohu, wa syaqqo sam’ahu, wa bashorohu.
Tabarakallahu ahsanul kholiqiin.” [Wajahku bersujud kepada Penciptanya, yang
Membentuknya, yang Membentuk pendengaran dan penglihatannya. Maha Suci Allah Sebaik-
baik Pencipta] (HR. Abu Daud, Tirmidzi dan An Nasa-i)

2. Dari Ibnu ‘Abbas, dia berkata bahwa ada seseorang yang pernah mendatangi Nabi shallallahu
‘alaihi wa sallam, lalu ia berkata, “Wahai Rasulullah, aku melihat diriku sendiri di malam hari
sedangkan aku tertidur (dalam mimpi). Aku seakan-akan shalat di belakang sebuah pohon.
Tatkala itu aku bersujud, kemudian pohon tersebut juga ikut bersujud. Tatkala itu aku mendengar
pohon tersebut mengucapkan:

َ‫ لِى ِع ْندَكَ ُذ ْخرًا َوتَقَب َّْلهَا ِمنِّى َك َما تَقَب َّْلتَهَا ِم ْن َع ْب ِدك‬ž‫ض ْع َعنِّى بِهَا ِو ْزرًا َواجْ َع ْلهَا‬
َ ‫ك أَجْ رًا َو‬
َ ‫اللَّهُ َّم ا ْكتُبْ لِى بِهَا ِع ْن َد‬
‫دَا ُو َد‬

“Allahummaktub lii bihaa ‘indaka ajron, wa dho’ ‘anniy bihaa wizron, waj’alhaa lii ‘indaka
dzukhron, wa taqqobbalhaa minni kamaa taqobbaltahaa min ‘abdika dawuda”. (HR. Tirmidzi
dan Ibnu Majah)

Kedua hadits di atas terdapat perselisihan ulama mengenai statusnya. Untuk hadits pertama
dikatakan shahih oleh At Tirmidzi, Al Hakim, An Nawawi, Adz Dzahabi, Syaikh Ahmad
Muhammad Syakir, Syaikh Al Albani dan Syaikh Salim bin ‘Ied Al Hilali. Sedangkan tambahan
“Fatabaarakallahu ahsanul kholiqiin” dishahihkan oleh Al Hakim, Adz Dzahabi dan An
Nawawi. Namun sebagian ulama lainnya semacam guru dari penulis Shahih Fiqih Sunnah,
gurunya tersebut bernama Syaikh Abi ‘Umair dan menilai bahwa hadits ini lemah (dho’if).

Sedangkan hadits kedua dikatakan hasan oleh At Tirmidzi. Menurut Al Hakim, hadits kedua di
atas adalah hadits yang shahih. Adz Dzahabi juga sependapat dengannya.
Sedangkan ulama lainnya menganggap bahwa hadits ini memang memiliki syahid (penguat),
namun penguat tersebut tidak mengangkat hadits ini dari status dho’if (lemah). Jadi, intinya
kedua hadits di atas masih mengalami perselisihan mengenai keshahihannya. Oleh karena
itu, bacaan ketika sujud tilawah diperbolehkan dengan bacaan sebagaimana sujud dalam shalat
seperti yang kami contohkan di atas.

Imam Ahmad bin Hambal -rahimahullah- mengatakan,

‫أَ َّما أَنَا فَأَقُو ُل ُس ْب َحانَ َربِّي اأْل َ ْعلَى‬

“Adapun (ketika sujud tilawah), maka aku biasa membaca: Subhaana robbiyal a’laa” (Al
Mughni, 3/93, Asy Syamilah)

Dan di antara bacaan sujud dalam shalat terdapat pula bacaan “Sajada wajhi lilladzi kholaqohu,
wa showwarohu, wa syaqqo sam’ahu, wa bashorohu. Tabarakallahu ahsanul kholiqiin”,
sebagaimana terdapat dalam hadits ‘Ali yang diriwayatkan oleh Muslim. Wallahu a’lam.

Akhi, ukhti, yuk baca tulisan lengkapnya di Rumaysho:


https://rumaysho.com/1050-panduan-sujud-tilawah-2-tata-cara-sujud-tilawah.html

Sujud Tilawah
May 16, 2020

Simak ulasan tentang √ sujud tilawah, √ bacaan sujud tilawah, √ niat sujud tilawah dan √ tata
cara sujud tilawah lengkap berikut ini.

Sujud adalah sesuatu yang sangat mulia disisi Allah Swt. Sebab dalam sujud ada pengakuan
kelemahan dan ketidakberdayaan seorang hamba di sisi Allah Swt. Dengan bersujud seorang
hamba akan merasa dekat dengan Allah Swt.

Dalam sujud seluruh kondisi anggota tubuh mengambil bagian untuk melaksanakan tunduknya
seorang hamba kepada-Nya.

Daftar Artikel

Sujud Tilawah

Disebutkan dalam sebuah hadist:


“Waktu yang terdekat antara seorang hamba dengan Rabb-Nya adalah ketika ia bersujud”,
(H.R. Muslim)

Diterangkan juga tentang keutamaan bersujud bagi orang-orang yang sering melakukannya
dengan ikhlas. Diterangkan juga bahwa bagi sesorang yang sering bersujud maka akan terbebas
dari api neraka, bahkan api neraka tidak akan mengenai bekas sujudnya.

Diantara sujud yang yang disyariatkan dan dianjurkan dalam Islam adalah sujud tilawah.

Sujud tilawah adalah sujud yang dilakukan seseorang karena membaca atau mendengar ayat-
ayat sadjah. Ayat sadjah adalah ayat yang menerangkan atau memerintahkan sujud.

Sebelum mengetahui apa itu sujud sajdah atau sujud tilawah, ada baiknya Anda mengetahui dan
memahami apa yang dimaksud dengan “ayat sajadah” atau “ayat sadjah”.

Ayat sajadah merupakan ayat dalam Al-Quran yang biasanya diberi tanda kubah seperti gambar
dibawah ini.
Ayat Sajdah Dalam Al Quran

Ayat sajadah diantaranya :

 Ayat ke-206 dari Surah Al-A’raf


 Ayat ke-15 dari Surah Ar-Ra’d
 Ayat ke-50 dari Surah An-Nahl
 Ayat ke-109 dari Surah Al-Isra’
 Ayat ke-58 dari Surah Maryam
 Ayat ke-18 dari Surah Al-Hajj
 Ayat ke-77 dari Surah Al-Hajj, termasuk ayat sajadah menurut Mazhab Syafi’i dan Mazhab
Hambali
 Ayat ke-60 dari Surah Al-Furqan
 Ayat ke-25 hingga Ayat ke-26 dari Surah An-Naml
 Ayat ke-15 dari Surah As-Sajdah
 Ayat ke-38 dari Surah Fussilat
 Ayat ke-62 dari Surah An-Najm
 Ayat ke-21 dari Surah Al-Insyiqaq
 Ayat ke-19 dari Surah Al-‘Alaq Ayat ke-19 dari surat Al-‘Alaq 96:19
 Ayat ke-24 dari Surah Sad, tidak termasuk ayat sajdah menurut mazhab syafi’i dan mazhab
Hambali,
 melainkan ayat yang disunnahkan untuk sujud syukur bila dibacakan.
Sujud tilawah dapat dilakukan di dalam sholat atau di luar sholat. Maksud dari di dalam dan di
luar sholat yaitu bahwa sujud tilawah dapat dilakukan ketika sedang melaksanakan sholat atau
ketika sedang tidak melaksanakan sholat.

Allah berfirman dalam surah Maryam ayat 58:

‫رُّوا ُس َّجدًا َّو بُ ِکیًّا‬ ُ ‫اِ َذا تُ ۡت ٰلی َعلَ ۡی ِہمۡ ٰا ٰی‬
ۡ ‫ت الر َّۡحمٰ ِن َخ‬

Artinya:

“…Apabila dibacakan ayat-ayat Allah Yang Maha Pemurah kepada mereka, maka mereka akan
bersujud dan menangis”, (QS. Maryam ayat 58).

Rasuluullah bersabda:

Apabila seseorang membaca ayat sajdah lalu bersujud, maka menyingkirlah setan dengan
menangis lalu berkata:

“Sungguh celaka manusia yang diperintah sujud lalu sujud, maka aku membangkang, maka
bagiku neraka.” (HR. Ahmad, Muslim, dan Inu Majah).

Bacaan Sujud Tilawah

Adapun bacaan sujud tilawah tidak seperti bacaan sujud dalam sholat. Ada beberapa bacaan
sujud tilawah yang bisa Anda baca.

Beberapa Bacaan Sujud Tilawah

Bacaan Sujud Tilawah Lengkap


Bacaan Sujud Tilawah Arab Lengkap

َ‫ك هَّللا ُ أَحْ َسنُ ْال َخالِقِين‬


َ ‫ص َرهُ بِ َحوْ لِ ِه َوقُ َّوتِ ِه تَبَا َر‬ َ ‫َس َج َد َوجْ ِهى لِلَّ ِذى خَ لَقَهُ َو‬
َّ ‫ص َّو َرهُ َو َش‬
َ َ‫ق َس ْم َعهُ َوب‬

Bacaan Sujud Tilawah Latin Lengkap

“Sajada wajhi lilladzi kholaqohu, wa showwarohu, wa syaqqo sam’ahu, wa bashorohu bi


khaulihi wa kuuwatihi fatabarakallahu ahsanul kholiqiin.”

Arti  Bacaan Sujud Tilawah Lengkap

“Wajahku bersujud kepada Dzat yang menciptakannya, yang membentuknya, dan yang memberi
pendengaran dan penglihatan, Maha berkah Allah sebaik-baiknya pencipta”. (HR. Ahmad, Abu
Dawud, Hakim, Tirmidzi dan nasa’i).

Makna dari doa sujud ini adalah dengan mensujudkan wajah (diri) kita kepada Dzat yang telah
menciptakannya. Kemudian membentuk rupa penampilannya lalu memberi penglihatan dan
pendengarannya. Ini mengsisyaratkan pada proses awal pembentukan atau penciptaan manusia.

Bacaan Sujud Tilawah


Bacaan sujud tilawah arab

‫ُس ْب َحانَ َربِّ َى األَ ْعلَى‬

Bacaan sujud tilawah latin

“Subhaana robbiyal a’laa”

Arti bacaan sujud tilawah pendek

“Maha Suci Allah Yang Maha Tinggi”

Makna dari sujud tilawah ini adalah Anda mengagungkan Allah sebagai Dzat yang Maha Tinggi,
Maha Tinggi Nama-Nya, Maha Tinggi Sifat-Sifat-Nya dan Maha Tinggi segalanya.

Dialah segala pemilik keluhuran, segala pemilik kemualiaan dan lebih tinggi dari segala yng
dipujikan.

Pos terkait
Herbal Glucoactive

Sponsored

Pelajar Indonesia temukan cara pulihkan diabetes secara permanen!

LEARN MORE
Intoxic

Sponsored

Bau mulut? Anda punya parasit! Baca metode darurat ini

LEARN MORE
Amaislim

Sponsored

Cara mudah menurunkan berat badan! Kurangi 10 kilo dalam 3 hari!

LEARN MORE
artrit

Sponsored

Rasa sakit di sendi akan hilang sekali dan untuk selamanya

LEARN MORE

Tata Cara Sujud Tilawah

1. Sujud Tilawah hanya Sekali Sujud

Sujud tilawah dilakukan hanya dengan sekali sujud saja.


2. Sujud tilawah sama persis dengan sujud dalam shalat

Cara melakukan sujud tilawah adalah sama persis ketika melakukan sujud dalam sholat.

Simak dan baca juga : Bacaan Sholat Wajib

3. Sujud Tilawah tidak Memakai takbiratul Ikhram

Menurut pendapat yang lebih kuat, sujud tilawah tidak harus memakai takhbiratul ikhram
(Takbir untuk memulai shalat). Sujud tilawah juga boleh tidak diakhiri dengan salam.

Jadi dalam praktiknya, jika Anda membaca atau mendengar ayat sadjah, Anda bisa langsung
sujud sebagaimana sujud dalam shalat dan tanpa takhbiratul ikhram terlebih dahulu.

4. Sujud Tilawah jika dalam perjalanan atau diatas tunggangan

Ketika diatas tunggangan atau dalam perjalanan, sujud tilawah dilakukan dengan isyarat
menggerakkan kepala.

Jika Anda mendengar ayat sajdah sedangkan Anda dalam keadaan berjalan atau berkendaraan,
maka Anda boleh melakukan sujud tilawah dengan isyarat menggerakkan kepala ke arah mana
saja. Misal dengan menundukkan kepala atau menolehkan kepala ke kanan atau ke kiri.

Di riwayatkan dari Ibnu Umar Ra, beliau pernah ditanya mengenai sujud tilawah diatas
tunggangan.

Beliau mengatakan, “Sujudlah dengan isyarat”. (HR. Baihaqi).

Syarat Sujud Tilawah

Ketika melakukan sujud tilawah, disyaratkan atau diutamakan dalam keadaan berikut:

 Dalam keadaan suci (Suci badan, pakaian dan tempat sujud).


 Menutup aurat.
 Menghadap kiblat (Diutamakan untuk menghadap kiblat)
 Sujud setelah selesai membaca ayat Sajadah atau mendengar ayat sajadah.
 Ketika sujud tilawahnya dilakukan dalam solat berjamaah, makmum wajib mengikuti Imam
bersujud Tilawah. Gugur keahlian solat berjamaah, jika tidak ikut bersujud.

Dua Jenis Sujud Tilwah

Sujud Tilawah disunnahkan untuk dilakukan, baik ketika dalam sholat atau di luar sholat.

1. Sujud Tilawah di Dalam Sholat


 Pada saat membaca ayat-ayat Sajadah, disunahkan untuk berniat melakukan sujud untuk
Tilawah. Mengucapkan Takbir kemudian melakukan sujud sekali dan membaca doa sujud
tilawah. Kemudian berdiri kembali dan melanjutkan bacaan ayat tersebut untuk melanjutkan
sholatnya sampai salam.
 Ketika dalam sholat berjamaah, sujud tilawah dilakukan secara berjamaah dengan mengikuti
imamnya. Jika imam tidak melakukannya, maka makmumnya juga tidak perlu bersujud. Jika
melakukan sujud tilawah sendiri, maka akan batal sholatnya, karena sholat berjamaah harus
mengikuti imam.

2. Sujud Tilawah di Luar Sholat

Sujud Tilawah disunnahkan untuk dilakukan jika mendengar atau membaca ayat sajadah. Jika
ingin melakukan sujud tilawah maka berniat sujud tilawah kemudian bertakbir seperti takbiratul
ihram dalam sholat.

Berniat dalam hati, di samping itu disunnahkan untuk membaca niat sujud tilawah.

Bacaan Niat Sujud Tilawah

Bacaan niat sujud tilawah arab

َ ‫ْت ُسجُوْ َد التِّالَ َو ِة ُسنَّةً ِهلل تَ َع‬


‫ال‬ ُ ‫نَ َوي‬

Bacaan niat sujud tilawah latin


“Aku melakukan Sujud Tilawah sunnah kerana Allah Ta‘ala”.

Arti bacaan niat sujud tilawah

“Aku melakukan Sujud Tilawah sunnah kerana Allah Ta‘ala”

 Ketika membaca Al-Quran dan sampai pada “ayat sajadah”, maka segera bertakbiratul-ihram
sambil berniat melakukan “Sujud Tilawah” tanpa mengangkat tangannya.
 Takbir iftitah hukumnya adalah wajib kerana merupakan syarat sujud tilawah.
 Tidak perlu berdiri dan membaca Al-Fatihah dan rukuk. Langsung saja melakukan sujud dan
membaca bacaan doa sujud tilawah.
 Perlu diperhatikan ketika melakukan sujud tilawah di luar sholat ini tidak disunnahkan bangun
dari duduk untuk berdiri. Karena dikerjakan dalam keadaan duduk.
 Namun jika dilkukan dalam keadaan berdiri maka setelah membaca takbiratul ihram dalam
keadaan berdiri tersebut itu kemudian langsung dilanjutkan dengan melakukan sujud.

Simak dan baca juga : Sujud Sahwi

Apakah Ketika Melakukan Sujud Tilawah Harus Berwudhu Terlebih Dahulu?

Hal yang perlu diperhatikan saat akan melakukan sujud tilawah adalah dalam keadaan suci dan
menghadap kiblat.
Mayoritas ulama berpendapat bahwa dalam sujud tilawah dianjurkan untuk berwudhu terlebih
dahulu atau dalam keadaan suci.

Namun ulama lain seperti Ibnu Hzm dan Ibnu Tamiyah tidak disyariatkan untuk bersuci atau
berwudhu terlebih dahulu. Hal ini dikarenakan bahwa sujud tilawah bukan bagian dari sholat.

Sujud tilawah adalah ibadah tersendiri yang bukan dari bagian sholat. Diketahui bahwa jenis
ibadah tidak disyariatkan untuk berwudhu atau bersuci terlebih dahulu.

Rasulullah bersabda:

ُ‫صلَّى هللاُ َعلَ ْي ِه َو َسلَّ َم َس َج َد بِالنَّجْ ِم َو َس َج َد َم َعهُ ال ُم ْسلِ ُموْ نَ َوال ُم ْش ِر ُكوْ نَ َوال ِج ُّن َوا ِأل ْنس‬ َّ ِ‫أَ َّن النَّب‬
َ ‫ي‬

Artinya:

“Bahwasanya beliau pernah melakukan sujud tilawah tatkala membaca surat An-najm, lalu
kaum muslimin juag ikut bersujud” (HR. Bukhari).

Asy Syukani dalam Nailul Authar mengatakan:

“Tidak ada satu hadist-pun tentang sujud tilawah yang menjelaskan orang yang melakukan
sujud tilawah dalam keadaan suci atau berwudhu terlebih dahulu”.

Apakah Ketika Melakukan Sujud Tilawah Harus Menghadap Kiblat?


Karena praktiknya sujud tilawah bukanlah bagian dari rukun shalat, maka tidak disyariatkan
untuk menghadap kiblat.

Namun yang lebih diutamakan adalah tetap menghadap kiblat dan tidak boleh seorang muslim
meninggalkan hal ini kecuali jika ada udzur. Jadi kesimpulannya ketika melakukan sujud
tilawah, menghadap kiblat bukanlah syarat dalam melakukan sujud tilawah.

Asy Syau

kani rahimahullah mengatakan:

“Menutup aurat serta menghadap kiblat, maka ada ulama yang mengatakan bahwa hal-hal
tersebut disyariatkan berdasarkan kesepakatan ulama.” (Nailul Author, Asy Syamilah)

Simak dan baca juga : Sujud Syukur

Demikian ulasan tentang sujud tilawah atau orang sering menyebutnya dengan sujud sajadah.
Walau sujud tilawah hukumnya sunnah muakkad, namun sujud ini sangat ditekankan untuk
dilakukan. Waktu yang paling dekat antara seorang hamba dengan Allah adalah ketika bersujud,
maka perbanyaklah berdoa.

Jika Anda ingin mengetahui tentang berbagai informasi tentang sholat, Anda dapat melihat
tulisan lainnya di kategori Sholat.

Kamu mungkin suka

SUJUD SYUKUR

Sujud Syukur Syariah Sabtu 21 Februari 2015 01:10 WIB Bagikan: Allah SWT suka betul terhadap mereka
yang mau mendekatkan diri (taqarrub) kepada-Nya. Kalau sudah suka, Allah SWT tidak segan
menganugerahkan apa saja bahkan yang ganjil atau yang tidak masuk akal sekalipun. Tetapi hati-hati,
taqarrub asal taqarrub seperti sujud syukur sembarangan bisa-bisa mendatangkan murka Yang Maha
Perkasa. <> Syekh Sulaiman dalam karyanya Hasyiyatul Bujairimi alal Khotib menyebutkan sebagai
berikut. ‫ولو تقرب إلى هللا بسجدة) أو بركوع (من غير سبب) أي من األسباب المذكورة وغيرها وهي سجدة التالوة والشكر والسهو‬
‫ ومثل السجدة ركوع منفرد ونحوه فيحرم التقرب به‬،‫( (حرم) أي ولو كانت السجدة بعد الصالة‬Kalau seseorang mendekatkan
diri kepada Allah dengan sebuah sujud) atau ruku’ (tanpa sebab)-sebab yang tersebut seperti sujud
tilawah, sujud syukur, dan sujud sahwi, (maka haramlah sujudnya) sekalipun sujud itu dilakukan usai
sembahyang kelar. Sujud begitu, ruku’ yang dikerjakan secara terpisah dari satu kesatuan rangkaian
sembahyang pun demikian. Maka haramlah bertaqarrub dengan itu semua. Pernyataan ini menunjukkan
bahwa taqarrub dalam konteks ini sujud syukur tidak bisa dilakukan hanya karena dagangan lagi rame,
laris manis, usaha lagi maju, pangkat naik, tambah istri lagi. Dengan semua itu, mana boleh secara
syari'ah seseorang langsung turun lalu sujud syukur mencium tanah. Pasalnya nikmat itu semua sudah
lazim, tidak bersifat mendadak. Wah bisa habis dong umur kita buat sujud melulu kalau dianjurkan juga
sujud syukur atas nikmat yang sudah lazim seperti nikmat iman, nikmat afiyah, dan nikmat lain yang
sehari-hari kita terima. Al-khotib dalam Iqna’-nya menyebutkan beberapa sebab sujud syukur. ‫وسجدة‬
‫الشكرال تدخل صالة وتسن لهجوم نعمة أو اندفاع نقمة أو رؤية مبتلى أو فاسق معلن ويظهرها للفاسق إن لم يخف ضرره ال لمبتلى لئال‬
‫ يتأذى وهي كسجدة التالوة‬Sujud syukur tidak masuk di dalam sembahyang. Ibadah ini disunahkan karena
datangnya nikmat mendadak, terhindar dari bahaya, melihat orang kena musibah (atau orang cacat),
atau orang fasiq yang terang-terangan. Seseorang disunahkan menyatakan sujud syukur di hadapan si
fasiq jika tidak menimbulkan mudarat. Tetapi jangan di depan orang yang cacat karena melukai
perasaan yang bersangkutan. Pelaksanaan sujud syukur sama saja dengan sujud tilawah. Perihal sujud
syukur berjamaah? Wallahu a'lam, belum ada keterangannya. Kalau dikerjakan masing-masing tetapi
secara beramai-ramai, ini boleh-boleh saja karena sama saja dengan sujud syukur sendiri. Sujud syukur
mengajarkan umat Islam untuk berbesar hati atas nikmat yang ia terima maupun orang lain. Jangan
dikira sujud syukur disunahkan kalau hanya kita yang lagi ketiban nikmat. Lalu dada terasa sesak kalau
orang lain dapat nikmat. Pasalnya Allah juga mensyariatkan kita sujud syukur saat diri sendiri, tetangga,
atau umat Islam pada umumnya menerima nikmat atau terhindar dari musibah. Artinya, sujud syukur
mengajarkan agar kita turut gembira lihat orang lain kejatuhan nikmat tidak terduga. Lagi pula selain
lahir, nikmat juga bisa berbentuk batin. Kalau menerima anugerah makrifatullah, ia atau orang lain yang
mengerti patut bersujud syukur. Persis dibilang Syekh Sulaiman dalam Hasyiyatul Bujairimi ala Fathil
Wahhab. ‫ والمعتمد أن النعم الباطنة كالظاهرة أي بشرط أن يكون لها وقع‬Menurut pendapat mu’tamad, nikmat batin
sama saja dengan nikmat lahir tetapi dengan syarat nikmat batin itu benar-benar terjadi. Syaratnya
gampang. Suci di badan, di pakaian, dan di tempat sujud. Perhatikan pula syarat yang diterangkan
Hasyiyatul Bujairimi alal Khotib berikut. ‫وشرطها كصالة فيعتبر لصحتها ما يعتبر في سجود الصالة كالطهارة والستر‬
‫واالستقبال وترك نحو كالم ووضع الجبهة مكشوفة بتحامل على غير ما يتحركك بحركته ووضع جزء من باطن الكفين والقدمين ومن‬
‫ الركبتين وغير ذلك‬Syarat sujud syukur ya sama saja dengan sembahyang. Sahnya sujud syukur dii’tibarkan
dengan sahnya sujud sembahyang seperti bersuci, menutup aurat, menghadap qiblat, jangan bicara,
meletakkan dahi terbuka dengan sedikit tekanan di atas tempat yang tidak ikut bergerak ketika fisiknya
bergerak, meletakkan telapak tangan, telapak kaki, lutut, dan syarat sujud lainnya. Adapun praktiknya,
pertama ia harus takbiratul ihrom. Kedua, mengucap takbir turun. Ketiga, turun sujud sambil takbir
turun. Keempat, bangun dari sujud lalu diam sejenak sebelum salam. Kelima, salam. Semua dilakukan
dengan tuma’ninah. Bacaannya cukup begini. ُ‫ك هللا‬ َ َ‫ص َرهُ بِ َحوْ لِ ِه َوقُ َّوتِ ِه فَتَب‬
َ ‫ار‬ َ َ‫ق َس ْم َعهُ َوب‬ َ ‫َس َج َد َوجْ ِه َي لِلَّ ِذي خَ لَقَهُ َو‬
َّ ‫صو ََّرهُ َو َش‬
َ‫ أَحْ َسنُ الخَالِقِ ْين‬Bagaimana kalau sebabnya banyak? Ada ini ada itu, cukup sujud sekali. Hasyiyatul Bujairimi
alal Fathil Wahhab menyebutkan. ‫أنها تتكر بتكرر النعمة أو اندفاع النقمة وأنه لو اجتمعا أو تكرر أحدهما أو رأي فاسقا ومبتلى‬
‫ كفا سجدة‬Sujud syukur dikerjakan kembali seiring datangnya kembali nikmat tak terduga atau terhindar
dari bahaya. Kalau sebab-sebab sujud itu datang berbarengan atau salah satu dari semua itu datang
berkali-kali misalnya melihat si fasiq atau orang kena musibah, cukup sujud syukur sekali. Kalau bisa,
sujud syukur diiringi dengan sedekah agar sujudnya tidak tampak polos. Sedekah ini sangat dianjurkan.
Demikian keterangan Al-Khotib dalam Iqna’. ‫ ويسن مع سجدة الشكر كما في المجموع الصدقة‬Bersamaan dengan
sujud syukur, disunahkan bersedekah seperti dikutip dari kitab Al-Majemuk. Bagaimana kalau alasan
untuk sujud syukur ada bahkan beberapa, tetapi keadaan tidak memungkinkan? Tidak perlu
memaksakan diri kalau tidak memenuhi syarat. Salah-salah murka Allah turun lantaran sujud
sembarangan. Sujud syukur bisa diganti dengan amalan lainnya. Syekh Said bin M Ba’asyin dalam
Busyrol Karim menyebutkan. َ‫ َواَل إِلَه‬،ِ ‫ َوال َح ْم ُد هلِل‬،ِ‫ولو لم يتمكن من التحية أو سجود التالوة أو الشكر قال أربع مرات " ُس ْبحَانَ هللا‬
‫ َواَل حَوْ َل َواَل قُ َّوةَ إِاّل بِاهللِ ال َعلِ ِّي ال َع ِظي ِْم" فإنها تقوم مقامها‬،ُ‫ َوهللاَ أَ ْكبَر‬،ُ‫ إِاَل هللا‬Artinya, kalau tidak bisa mengerjakan
sembahyang tahiyyatul masjid, sujud tilawah, atau sujud syukur, pihak yang bersangkutan cukup
membaca sebanyak 4 kali “Subhanallah, walhamdulillah, wala ilaha illallah, wallahu akbar, wala haula wa
la quwwata illa billahil ‘aliyyil azhim”. Karena, kedudukan fadhilah bacaan 4 kali itu setara dengan 3 amal
di atas (sembahyang tahiyyatul masjid, sujud tilawah, atau sujud syukur). Yang penting itu kan ridho-
Nya, bukan sujud syukur yang kurang syarat dan rukunnya. Bukankah yang kita maksud adalah ridho-
Nya? Terlebih lagi kalau bisa sekalian sujud syukur di tempat yang suci, syarat dan rukun terpenuhi.
Tentu bukan main ridho Allah Ta'ala kepadanya. Wallahu A’lam. (Alhafiz K) Tags: Sujud Syukur Syariah

Sumber: https://islam.nu.or.id/post/read/57730/sujud-syukur-syariah

Tata Cara, Bacaan, dan Waktu Sujud Syukur


 by Sidaq
 4.326 Views
 Rabu, 31 Juli, 2019

Tweet
Like

+1

Share

WhatsApp

 
LADUNI.ID, Sujud syukur termasuk sujud yang disyariatkan dalam Islam.  Dalam kondisi dan
sebab-sebab tertentu kita dianjurkan untuk melakukan sujud syukur sebagai bentuk rasa syukur
kita kepada Allah. Apa saja sebab-sebab kita disunahkan sujud syukur dan bagaimana tata cara
melakukannya?

Ada tiga sebab kita dianjurkan melakukan sujud syukur. Pertama, kita mendapatkan nikmat tak
terduga dari Allah, atau saudara dan kerabat kita yang mendapatkan nikmat dari-Nya. Kedua,
kita terhindar dari bahaya dan musibah yang hendak menimpa kita. Ketiga, kita melihat bahwa
diri kita bisa terhindar dari perbuatan dosa dan maksiat dan pada saat bersamaan kita melihat
banyak orang yang melakukan dosa dan maksiat tersebut.

Adapun tata cara melakukan sujud syukur adalah sebagai berikut;

Pertama, suci dari hadas besar dan kecil, dan juga dari najis.

Kedua, menutup seluruh aurat dan menghadap kiblat.

Ketiga, melakukan takbir dengan niat sebagai berikut;

‫سنَةَ هللِ تَ َعالَى‬


ُ ‫ش ْك ِر‬ ُ ُ‫نَ َو ْيت‬
ُّ ‫س ُج ْو َد ال‬

Nawaitu sujudas syukri sunnatan lillahi ta’ala

“Saya niat melakukan sujud syukur sunnah karena Allah Ta’ala.”

Keempat, sujud satu kali dengan membaca doa berikut;

َ ‫ص َرهُ بِ َح ْولِ ِه َوقُ َّوتِ ِه فَتَبَا َر َك هللاُ اَ ْح‬


َ‫سنُ ا ْل َخالِقِيْن‬ َ َ‫س ْم َعهُ َوب‬
َ ‫ق‬
َ ‫ش‬ َ ‫س َج َد َو ْج ِهى لِلَّ ِذى َخلَقَهُ َو‬
َ ‫ص َّو َرهُ َو‬ َ .

Sajada wajhi lillazi kholaqahu washowwarahu wasyaqqa sam’ahu wabashorahu bi


haulihi wa quwwatihi fatabaarakallaahu ahsanul kholiqina.

“Aku sujudkan wajahku kepada yang menciptakannya, membentuk rupanya,


dan membuka pendengaran serta penglihatan. Maha Suci Allah sebaik-baik
Pencipta.”

Kelima, kemudian duduk serta mengucapkan salam ke arah kanan dan kiri.