Anda di halaman 1dari 9

BAB IV

ANALISA DATA
PERKERASAN KAKU (RIGID PAVEMENT)
DENGAN METODE AASHTO

4.1 PENETAPAN VARIABEL PERSEN PERKERASAN TERKENA AIR


Penetapan variable ke-2 relatif sulit dan belum ada data rekaman pembanding dari jalan tol
lain, namun dengan beberapa pendekatan, pengamatan dan perkiraan seperti berikut, nilai
dari faktor tersebut dapat diketahui.
Penetapan CBR Subgrade untuk tanah jelek harus diganti dengan material Suitable (borrow)
setebal minimum 100 cm baik pada daerah galian maupun timbunan akan dapat mencegah
infiltrasi air ke bagian jalan relative kecil, dan kalaupun ada sebatas perembesan dari soft
shoulder pada sisi luarnya saja diman hal tersebut sudah diantisipasi dengan membuat
kemiringan permukaan Subgrade 2 % kea rah luar (side ditches)
Persentase struktur perkerasan jalan dalam waktu satu (1) tahun terendam air dapat dilakukan
dengan pendekatan dan asumsi sebagai berikut :

Pheff = Tjam/24 x Thari/365 x WL x 100

Dimana :
Pheff = persen dari efektif hujan dalam tahun yang akan
berpengaruh terhadap perkerasan (%)
Tjam = rata-rata hujan per hari (jam)
Thari = rata-rata jumlah hujan per tahun (hari)
WL = factor air hujan yang akan masuk ke pondasi jalan (%)

Pendekatan dan asumsi :


Tjam = 3 jam per hari
Thari = 40 % x 365 hari = 146 hari hujan dalam 1 tahun
WL = diambil 17.50 %, sehingga :
Pheff = 3/24 x 146/365 x 0.175 x 100 %, atau < 1 %

1
Dari angka di atas kemudian digunakan untuk Drainage Coefficient (Cd) pada table 4.8 di
bawah ini (AASHTO 1993, halaman II-26)

Table 4.8 drainage coefficient (Cd)

Percentage of time pavement structure is exposed to moisture


levels approaching saturation
Quality of < 1% 1% – 5% 5% – 25% >25%
drainage
Exellent 1.25 – 1.20 1.20 – 1.15 1.15 – 1.10 1.10
Good 1.20 – 1.15 1.15 – 1.10 1.10 – 1.00 1.00
Fair 1.15 – 1.10 1.10 – 1.00 1.00 – 0.90 0.90
Poor 1.10 – 1.00 1.00 – 0.90 0.90 – 0.80 0.80
Very poor 1.00 – 0.90 0.90 – 0.80 0.80 – 0.70 0.70

4.2 PENETAPAN PARAMETER DRAINAGE COEFFICIENT

 Berdasar kualitas drainase : Good-Exccellent


 Kondisi Time Pavement Structure is expose to moisture levels approaching
saturation dalam setahun : < 1 %
Dengan melihat mutu drainase antara Good – Excellent, maka pengambilan angka drainage
coefficient (Cd) = 1.20 pada kolom < 1 % dapat diterima.

4.3 PERSAMAAN PENENTUAN TEBAL PELAT

Rumus yang digunakan :


Log 10
[PSI/4.5 –
1.5)
Log 10 W18 = Zr So + 7.35 Log 10 (D + 1) – 0.06 + 1+ + (4.22 – 0.32 Pt) x
1.624 x
Log 10 = S’c Cd x (D^0.75 – 1.132) 10^7
215.63 x J (D^0.75 – 18.42/(Ec : k)^0.25 (D +
1)^8.46

4.4 PARAMETER DESAIN DAN DATA


Parameter desain dan data untuk perencanaan perkerasan jalan rigid pavement dapat dilihat
pada tabel 4.9

2
Tabel 4.9 parameter dan data yang digunakan untuk perencanaan
No Parameter AASHTO Desain
1 Umur rencana (UR) - 20 tahun
2 Lalu lintas, Esal - 148.303.766
3  Terminal serviceability (Pt) 2.0 – 3.0 2.5
 Initial serviceability (Po) 4.5 4.5
 Serviceability loss ( psi) Po – Pt 2
4  Realibility ® 80 – 99.9 90
 Standard normal deviation (-0.841) – (-3.090) - 1.282
(ZR)
5  Standard deviation (So) 0.30 – 0.40 0.30
6 Modulus reaksi tanah dasar (k) Berdasar CBR 6% 160 pci
Modulus elastisitas beton (Ec) f’c = 375 kg/cm² 4.200.000 psi
7 Flexural strength (S’c) S’c = 45 kg/ cm² 640 psi
8 Drainage coeff. (Cd) 1.15 – 1.25 1.20
9 Load transfer coeff. (J) 3.2 3.2

4.5 HASIL DISAIN TEBAL PERKERASAN DAN OVERLAYNYA


.5.1 Maximum Performance 12 tahun
Dari Hasil Survei maximum performance 12 tahun adalah tahun 2017 yang memiliki ESAL =
75.596.000 18KIP ESAL

Dengan grafik 3.7 BAGIAN II AASHTO dimasukkan :


k = 160 psi
SO = 0,3
W18 = 75.596.000 18KIP ESAL
load transfer ( J ) = 3,2
△PSI = 4,5 – 2,5 = 2

△PSItr = 2 – 0,2 = 1,8

Ec = 4.200.000 psi
Flextural Stregth (S’c) = 640 psi
Sehingga didapatkan nilai D = 13,2 inci =33,26 cm 〜 33 cm

3
4.5.2 Penetuan Desain Overlay
Sisa umur yang diperhitungkan adalah 8 tahun
Untuk sisa umur 8 tahun komulatif adalah :
ESAL 20 tahun – ESAL 12 tahun = 148.303.766 – 75.596.000 18KIP ESAL
= 72.707.766 18KIP ESAL
Dengan grafik 3.7 BAGIAN II AASHTO dimasukkan :
k = 160 psi
SO = 0,3
W18 = 75.596.000 18KIP ESAL
load transfer ( J ) = 3,2
△PSI = 4,5 – 2,5 = 2

△PSItr = 2 – (0,25 -0,2) = 1,95

Ec = 4.200.000 psi
Flextural Stregth (S’c) = 640 psi

Sehingga didapatkan nilai DY = 13,2 inci =33,26 cm 〜 33 cm


Dengan grafik 5.15 didapatkan RLX = 21%
NFY = 90.106 18 KIP ESAL (grafik 3.7)
Y = 90.106 18 KIP ESAL (grafik 3.7)
RLY = (NFY – Y)/ NFY = 0%
FRL = 0,63 (grafik 5.17)
CX = 0,764 (grafik 5.13)
DXeff = 0,764 x 13,2 = 10,08 inci = 25 cm
(DOL)2 = 13,22 – 0,63 x (10,08)2
DOL = 10,5 inci = 26,5 cm
Sehingga tebal overlay = 26,5 cm untuk periode selama 8 tahun

4. 6 REINFORCEMENT DESIGN
4.6.1 STEEL WORKING STRESS
Allowable working stress (fs) untuk grade 40 = 30.000 psi.
4.6.2 FRICTION FACTOR
Angka friction factor (F) mengacu pada table 8.1 di bawah ini :

4
Table 8.1 recommended friction factor (F)

Tipe material di bawah slab beton Friction factor (F)


Surface treatment 2.2
Lime stabilization 1.8
Asphalt stabilization 1.8
Cement stabilization 1.8
River gravel 1.5
Crushed stone 1.5
Sand stone 1.2
Natural sub grade 0.9

4.6.3 LONGITUDINAL & TRANSVERSE REINFORCING STEEL

Persentase longitudinal dan transverse steel yang diperlukan dapat dicari dengan
menggunakan rumus :

Pt = ((L x F)/(2 x fs)0 x 100

Dimana :
Pt = longitudinal dan transverse steel yang diperlukan (%)
L = panjang slab beton (feet)
F = friction factor
Fs = steel working stress (psi)

4.6.4 TIE BAR

Fungsi dari tie bar adalah untuk memasang segmen antar slab sehingga tetap teguh, tidak
bergeser dan juga direncanakan untuk menahan gaya-gaya tarik maksimm, namun tidak
untuk memindahkan beban. Jarak tie bar mengacu pada table 8.2 di bawah ini.

Table 8.2 diameter, panjang dan jarak tie bar pada perkerasan
beton.

5
Jenis & Tegangan Tebal Diameter batang ½ “ Diameter batang 5/8 “
mutu kerja perkerasan
baja (psi) (inch)
Panjan Jarak maks (inch), L = 25 Jarak maks (inch), L = 25
g (inc) Lebar Lebar Lebar Leba Lebar Lebar
lajur lajur lajur r lajur lajur
10 ft 11 ft 12 ft lajur 11 ft 12 ft
Grade 40 30.000 10 ft
6 25 48 48 48 48 48 48
7 25 48 48 48 48 48 48
8 25 48 44 40 48 48 48
9 25 48 40 38 48 48 48
10 25 48 38 32 48 48 48
11 25 48 32 29 48 48 48
12 25 48 29 26 48 48 48

4.6.5 DOWEL BAR

Dowel bar direncanakan sebagai alat pemindah beban pada setiap segmen slab perkerasan
beton dan menggunakan besi baja polos, dimana penggunaan besi dowelnya dapat mengacu
pada table 8.3 di bawah ini.

Table 8.3 rekomendasi penggunaan dowel

Tebal perkerasan Diameter dowel Panjang dowel Jarak dowel


(in) (in) (in) (in)
6 ¾ 18 12
7 1 18 12
8 1 18 12
9 1¼ 18 12
10 1¼ 18 12
11 1¼ 18 12
12 1¼ 18 12

6
Penentuan diameter dowel dapat juga dicari dengan menggunakan rumus :

D = D/B

Dimana :
d = diameter dowel (inch)
D = tebal pelat beton (inch)

4.6.6 PARAMETER DESAIN DAN DATA

Table 8.4 di bawah ini menunjukkan parameter desain dan data untuk perencanaan
penulangan (reinforcement) pada konstruksi perkerasan rigid rencana.

Table 8.4 parameter dan data perencanaan

No Parameter AASHTO Desain


1 Steel working stress (fs) : grade 40 30.000 psi 30.000 psi
2 Friction factor (F) 1.8 1.8
3 Tebal pelat - 27 cm
4 Panjang pelat arah longitudinal - 15 ft
5 Traffic lane & Shoulder wide - 23.85 ft
6 Jarak dari tepi bebas - 12 ft

4.6.7 HASIL PERHITUNGAN

7
Hasil perhitungan penulangan pada perkerasan rigid dapat dilihat pada ringkasan yang ada
pada table 8.5 di bawah ini,

Table 8.5 tulangan rigid pavement

No Uraian Hasil perhitungan


A. Tie Bar :
1 Diameter (inch) ½
2 Jarak (cm) 60
3 Panjang (cm) 80
B. Dowel Bar :
1 Diameter (inch) 1¼
2 Jarak (cm) 30
3 Panjang (cm) 70

BAB V
KESIMPULAN DAN SARAN

5.1 Kesimpulan
1. Didapatkan ketebalan lapisan perkerasan kaku sebagai berikut
Tebal Overlay = 26,5 cm
Tebal Plat = 33 cm
Lean concrete = 10 cm
2. Overlay dilakukan saat usia 12 tahun yaitu pada tahun 2017

5.2 Saran
1. Dalam perkerasan kaku yang harus diperhatikan adalah curing beton, jika curing
terlalu lama dilakukan maka akan terjadi cracking dan kerusakan lanjutan adalah merusak
tanah dasar.

8
2. Pemotongan betonpun tidak boleh terlalu lama dilakukan setelah pengecoran karena
jika sudah sangat keras proses pemotongan dapat mengakibatkan retak pada plat beton.