Anda di halaman 1dari 4

RASIO LAPORAN ARUS KAS

Pendahuluan
Para mahasiswa ..WFH tetap semangat ya…

Laporan arus kas ada 2 metode yaitu metode langsung dan tidak langsung. Saudara telah
mengumpulkan tugas membuat laporan Arus Kas dengan metode tidak langsung. Sedang pada
soal menghitung rasio laporan arus kas, diperlukan metode langsung. Tugas selanjutnya adalah
menghitung rasio untuk tahun 2015. Berikan interpretasi hasil perhitungan yang tahun 2015.

Investor menggunakan laporan arus kas untuk menentukan kekuatan keuangan suatu organisasi
bisnis. Tidak seperti laporan laba rugi, laporan arus kas akan memberikan informasi kas yang
dihasilkan. Apabila melihat dari aspek kesehatan suatu bisnis, maka sangat penting untuk
memiliki cukup uang tunai untuk membiayai pengeluaran dan membeli bahan atau aset yang
diperlukan dalam bisnis.

Beberapa rasio dalam menganalisis Laporan Arus kas organisasi


bisnis
Konsep arus kas berbeda dari konsep laba atau laba bersih. Perlu untuk fokus pada setiap istilah
yang berbeda dalam menganalisis laporan arus kas. Terdapat rasio keuangan yang membantu
pemilik bisnis yang fokus pada laba bersih dan fokus pada arus kas.

RASIO LIKUIDITAS

1.Operating Cash Flow Ratio (Current Cash Debt Coverage)

Rasio arus kas operasi adalah salah satu rasio arus kas yang paling penting. Arus kas operasi
berhubungan dengan arus kas yang diperoleh organisasi dari kegiatan operasionalnya, hingga
pelunasan hutangnya saat ini. Hal Ini berguna untuk mengukur bagaimana likuiditas suatu
perusahaan dalam jangka pendek karena berkaitan dengan utang lancar dan arus kas dari operasi.
Rumus OCFR adalah;

Operating Cash Flow Ratio = Arus Kas Dari Operasi / Kewajiban Lancar.

Nama lain:

Current Cash Debt Coverage= Cash flow from operation/Average Current Liabilities

Arus Kas dari Operasi berasal dari Laporan Arus Kas dan Kewajiban Lancar yang berasal dari
Neraca. Jika Rasionya kurang dari 1,0, berarti suatu organisasi bisnis tidak dapat menghasilkan
cukup uang untuk melunasi utang jangka pendeknya. Ada kemungkinan perusahaan mungkin
tidak dapat terus beroperasi.
2.Cash Dividend Coverage

Cash Dividend Coverage = Cash flow from operation/Dividen dibayar

RASIO SOLVABILITAS

Cash Long term Debt Coverage= Cash flow from operation(CFO)/Average Total Liabilities

Cash Interest Coverage = CFO+Interest Paid+Taxes Paid/Average Total Liabilities

RASIO CAPITAL EXPENDITURES DAN INVESTASI

Capital Acquisitions Ratio = CFO-Dividend Paid/Capital Expenditure

Investment/CFO plus finance ratio = Net Cash Flow for Investing (CFI)/Net Cash from CFO and
Financing activities (CFF)

Operations/Investment ratio = CFO/CFI

Cash Reinvestment Ratio = CFO-Divident Paid/Noncurrent Assets (gross) + Working Capital

Overall Cash Flow Ratio = CFO/Financing+Investting Cash Outflow

Cash Return on Sales Ratio = CFO/Penjualan

Cash Flow to Net Income Ratio = CFO/Laba bersih

Quality of Sales Ratio = Cash from Sales (kas diterima dari pelanggan)/Penjualan

Quality of Income Ratio = CFO/Operating Income (EBIT)

Cash Return on Assets Ratio = CFO before interest and taxes/Average Total Assets

Cash Return on Stockholder’Equity Ratio = CFO/Average Stockholder’Equity


Cash Flow per Share Ratio = CFO-Dividen Saham Preferen/Average number of share of
common Stock outstanding

2. Price/Cash Flow Ratio (PCFR)

Rasio ini sering dianggap sebagai sebuah indikasi yang lebih baik dari nilai suatu
organisasi bisnis apabila dibandingkan dengan rasio harga terhadap pendapatan. Rasio ini
berguna untuk membandingkan harga saham perusahaan dengan arus kas yang
dihasilkan perusahaan per basis. PCFR adalah sbb:

Price/cash flow ratio = Harga saham / Arus kas operasi per saham

Harga saham biasanya adalah harga saham pada hari tertentu, sedangkan nilai arus kas
operasi diambil dari Laporan Arus Kas. Beberapa pemilik bisnis menggunakan arus kas
bebas dalam hal ini. Namun sebagian besar analis masih menggunakan rasio ini dalam
analisis untuk menilai kekuatan keuangan organisasi.

3. Cash Flow Margin Ratio (CFMR)

Rasio ini mengungkapkan hubungan antara kas yang dihasilkan dari operasi dan
penjualan. Organisasi bisnis membutuhkan uang tunai untuk membayar dividen,
pemasok, utang, dan berinvestasi dalam aset modal baru, sehingga uang tunai sama
pentingnya dengan laba untuk perusahaan bisnis. Rasio ini juga mengukur kemampuan
perusahaan dalam mengubah penjualan menjadi uang tunai. Rumus CFMR adalah sbb:

Arus kas dari arus kas operasi / Penjualan bersih = _____%.

Pembilang persamaan berasal dari Laporan Arus Kas perusahaan. Penyebut berasal dari
Laporan laba rugi. Semakin besar persentasenya, semakin baik.

4. Cash Flow from Operations/Average Total Liabilities

Ini adalah rasio yang sama dengan rasio total utang / total aset yang umum diguna-kan.
Keduanya mengukur solvabilitas atau kemampuan perusahaan dalam mem-bayar
utangnya dan mempertahankan perusahaannya.  Rumus Rasio ini adalah sbb:
Arus kas dari Operasi / Rata-rata Total Kewajiban = _______%,

Arus kas dari operasi diambil dari Laporan Arus Kas dan total kewajiban rata-rata
adalah rata-rata total kewajiban dari beberapa periode yang diambil dari neraca. Semakin
tinggi rasio, semakin baik fleksibilitas keuangan perusahaan dan kemampuannya dalam
membayar hutang.

5. Current Ratio

Ini adalah rasio arus kas yang paling sederhana. Rasio ini akan memberikan informasi
bagi pemilik tentang bisnis kemampuan aset lancar dalam memenuhi utang saat ini. Rasio
dihitung sebagai berikut:

Current Ratio = Aktiva Lancar / Kewajiban Lancar = ______X

Hasil ini menunjukkan berapa kali suatu perusahaan dapat memenuhi utang jangka
pendeknya yang merupakan ukuran likuiditas perusahaan.

6. Quick Ratio (Acid-Test)

Ini merupakan tes likuiditas yang lebih spesifik daripada current ratio. Rasio ini
mengukur persediaan dan mengukur likuiditas perusahaan dalam menjual untuk
memenuhi kewajiban utang jangka pendeknya. Jika rasionya kurang dari 1,0 kali, maka
harus menjual persediaan untuk memenuhi utang jangka pendek, ini bukanlah posisi yang
baik bagi perusahaan. Rumus rasio ini adalah sbb:

Quick Ratio = Aktiva Lancar - Inventori / Kewajiban Lancar