Anda di halaman 1dari 3

1.

Pengertian

Sertifikat Bank Indonesia (SBI) adalah surat berharga yang dikeluarkan oleh Bank
Indonesia sebagai pengakuan utang berjangka waktu pendek (1-3 bulan) dengan sistem
diskonto/bunga.

SBI merupakan salah satu mekanisme yang digunakan Bank Indonesia untuk
mengontrol kestabilan nilai Rupiah. Dengan menjual SBI, Bank Indonesia dapat menyerap
kelebihan uang primer yang beredar.

Tingkat suku bunga yang berlaku pada setiap penjualan SBI ditentukan oleh
mekanisme pasar berdasarkan sistem lelang. Sejak awal Juli 2005, BI menggunakan
mekanisme "BI rate" (suku bunga BI), yaitu BI mengumumkan target suku bunga SBI yang
diinginkan BI untuk pelelangan pada masa periode tertentu. BI rate ini kemudian yang
digunakan sebagai acuan para pelaku pasar dalam mengikuti pelelangan.

Dalam penelitian, tingkat suku bunga SBI yang digunakan adalah dalam periode
bulanan. Oleh karena itu, data tingkat suku bunga SBI yang diperoleh dalam periode harian
akan diubah menjadi periode bulanan dengan rumus sebagai berikut:

Rata-rata tingkat suku bunga SBI =


Jumlah tingkat suku bunga periode harian selama 1 bulan
dengan jumlah periode waktu selama 1 bulan .

2. Tujuan Penerbitan SBI

Sebagai otoritas moneter, Bank Indonesia berkewajiban memelihara kestabilan nilai


rupiah. Dalam paradigma yang dianut, jumlah uang primer (uang kartal ditambah uang giral
di Bank Indonesia ) yang berlebihan dapat mengurangi kestabilan nilai rupiah. SBI
diterbitkan dan dijual oleh Bank Indonesia untuk mengurangi kelebihan uang tersebut.

3. Dasar Hukum Penerbitan SBI

Adapun dasar hukum penerbitan Sertifikat Bank Iindonesia adalah surat keputusan
Direksi Bank Indonesia No. 31/67/KEP/DIR tanggal 23 Juli 1998 tentang penerbitan dan
perdagangan SBI serta intervensi Rupiah.

4. Pihak yang Berhak Memiliki SBI

Sejalan dengan ide dasar penerbitan SBI sebagai salah satu piranti operasi pasar
terbuka, penjualan SBI diprioritaskan pada lembaga perbankan. Tetapi tidak tertutup
kemungkianan masyarakat baik perorangan maupun perusahaan untuk dapat memiliki SBI.
Pembelian SBI oleh masyarakat tidak dapat dilakukan secara langsung kepada Bank
Indonesia , melainkan harus melalui bank umum serta pialang pasar uang dan pialang pasar
modal yang ditunjuk Bank Indonesia .

5. Karakteristik SBI
a. Jangka waktu maksimum 12 bulan dan sementara waktu hanya diterbitkan untuk
jangka waktu 1 bulan dan 3 bulan.
b. Denominasi dari yang terendah Rp. 50 juta sampai tertinggi Rp. 100 Milyar.
c. Pembelian SBI oleh masyararakat minimal Rp. 100 juta dan selebihnya dengan
kelipatan Rp. 50 juta.
d. SBI diterbitkan dan diperdagangkan dengan sistem diskonto.
e. Nilai diskonto dihitung sebagai berikut:
Nilai diskonto: Nilai nominal – Nilai tunai

6. Tata Cara Transaksi Penjualan SBI


a. Penjualan SBI dilakukan melalui lelang.
b. BI mengumumkan rencana lelang selambat-lambatnya pada satu (1) hari kerja
sebelum pelaksanaan lelang SBI.
c. Jumlah SBI yang akan dilelang diumumkan setiap hari Selasa.
d. Lelang SBI dilakukan setiap hari rabu atau pada hari kerja berikutnya dan dapat
diikuti oleh seluruh Bank umum, pialang pasar uang, dan pialang pasar modal dengan
penyelesaian transaksi pada hari Kamis.
e. Dalam pelaksanaan lelang SBI, masing-masing peserta mengajukan penawaran
jumlah SBI yang ingin dibeli serta tingkat diskontonya. Pemenang lelang adalah
peserta yang mengajukan penawaran tingkat diskonto yang terendah sampai dengan
jumlah SBI lelang yang diumumkan tercapai.
f. Untuk menjaga keamanan dari kehilangan atau pencurian serta menghindari
pemalsuan, maka pihak SBI memperoleh Bilyet Depot simpanan sebagai bukti atas
penghimpunan fisik warkat SBI pada BI tanpa dipungut biaya penyimpanan.

7. Contoh Masalah dan Penyelesaian Kasus SBI


Tanggal lelang SBI 3 April 2009, tanggal setelmen 4 April 2009. Nilai nominal SBI
Rp 50.000.000,00 tingkat diskonoto 15% yang akan jatuh tempo pada 2009. Untuk SBI
dengan jangka waktu 1 bulan jangka waktu yang dinyatakan dalam hari dihitung dari
tanggal 5 April 2009 atau satu hari sejak tanggal setelmen transaksi sampai dengan tanggal
jatuh tempo atau 28 hari. Dengan demikian nilai tunainya dapat ditentukan sebagai berikut
:

( Nilai Nominal ) x 360


Nilai Tunai=
360+ ( Tingkat Diskonto ) x ( Jangka Waktu )

¿¿¿
Nilai Diskonto=Nilai Nominal−Nilai Tunai
¿ Rp500.000 .000,00−Rp 494.233.937,40
¿ Rp5.766 .062,40

8. Pengaruh Tingkat Suku Bunga SBI terhadap Inflasi dan Harga Saham:
Saat ini Bank Indonesia menggunakan tingkat suku bunga SBI sebagai salah satu
instrumen untuk mengedalikan inflasi. Apabila inflasi dirasakan cukup tinggi maka Bank
Indonesia akan menaikkan tingkat suku bunga SBI untuk meredam kenaikan inflasi.
Perubahan tingkat suku bunga SBI akan memberikan pengaruh bagi pasar modal dan pasar
keuangan.
Apabila tingkat suku bunga naik maka secara langsung akan meningkatkan beban
bunga. Perusahaan yang mempunyai leverage yang tinggi akan mendapatkan dampak yang
sangat berat terhadap kenaikan tingkat bunga. Kenaikan tingkat bunga ini dapat
mengurangi profitabilitas perusahaan sehingga dapat memberikan pengaruh terhadap
harga saham perusahaan yang bersangkutan.
Selain kenaikan beban bunga, tingkat suku bunga SBI yang tinggi dapat menyebabkan
investor tertarik untuk memindahkan dananya ke deposito. Hal ini terjadi karena kenaikan
tingkat suku bunga SBI akan diikuti oleh bank-bank komersial untuk menaikkan tingkat
suku bunga simpanan. Apabila tingkat suku bunga deposito lebih tinggi dari tingkat
pengembalian yang diharapkan oleh investor, tentu investor akan mengalihkan dananya ke
deposito. Terlebih lagi investasi di deposito sendiri merupakan salah satu jenis investasi
yang bebas resiko. Pengalihan dana oleh investor dari pasar modal ke deposito tentu akan
mengakibatkan penjualan saham besar-besaran sehingga akan menyebabkan penurunan
indeks harga saham.
9. Pengaruh SBI Terhadap Masyarakat dan Perusahaan:
Bagi masyarakat sendiri, tingkat suku bunga yang tinggi berarti tingkat inflasi di
negara tersebut cukup tinggi. Dengan adanya inflasi yang tinggi akan menyebabkan
berkurangnya tingkat konsumsi riil masyarakat sebab nilai uang yang dipegang
masyarakat berkurang. Ini akan menyebabkan konsumsi masyarakat atas barang yang
dihasilkan perusahaan akan menurun pula. Hal ini tentu akan mengurangi tingkat
pendapatan perusahaan sehingga akan mempengaruhi tingkat keuntungan perusahaan,
yang pada akhirnya akan berpengaruh terhadap harga saham perusahaan tersebut.
Penyesuaian Kepemilikan SBI  dan berlaku sejak 12 September 2013 BI akan
memperpendek jangka waktu minimum holding period (MHP) kepemilikan SBI dari enam
menjadi satu bulan. hal ini dilakukan untuk mengendalikan inflasi, stabilitas nilai tukar
rupiah, dan upaya penurunan deficit transaksi berjangka. BI melakukan penyempurnaan
ketentuan dengan menerbitkan Surat Edaran Bank Indonesia No. 15/38/DPM tanggal 10
September 2013 perihal Perubahan Ketujuh Surat Edaran Bank Indonesia No. 12/18/DPM
tanggal 7 Juli perihal Operasi Pasar Terbuka. Jika terjadi pelanggaran maka sanksi yang
diberikan kepada pemilik SBI adalah :
1. Teguran tertulis,
2. Wajib membayar denda sebesar 0.01% dari
10.

Sumber:

Shvoong ( 2011). Konsep Sertifikat Bank Indonesia (SBI). http://id.shvoong.com/social-


sciences/economics/2183416-konsep-sertifikat-bank-indonesia-sbi/#ixzz1pNxUk9Wq

Wikipedia (2011). Sertifikat Bank Indonesia.


http://id.wikipedia.org/wiki/Sertifikat_Bank_Indonesia