Anda di halaman 1dari 8

PRAKTIKUM KIMIA ANORGANIK

PEMBUATAN TETRAAMINTEMBAGA(II) SULFAT

Lilis Wahyuningsih
4301419092
Pendidikan Kimia 19-C
Kelompok 2

JURUSAN KIMIA
FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM
UNIVERSITAS NEGERI SEMARANG
2020
LAPORAN PRAKTIKUM
ALUMINIUM DAN SENYAWA-SENYAWA NYA

1. Pendahuluan
1.1. Tujuan Percobaan
Mempelajari pembuatan garam kompleks tetraamintembaga(II)sulfat sebagai hasil reaksi
antara kupri sulfat dengan amoniak dan sifat-sifatnya.

1.2. Tinjauan Pustaka


Tembaga merupakan logam merah muda, yang lunak, dapat ditempa, dan liat. Karena
potensial elektroda standarnya positif (+0,34 V untuk pasangan Cu/Cu 2+), ia tak larut dalam
asam klorida dan asam sulfat encer, meskipun dengan adanya oksigen ia bisa larut sedikit. Ia
melebur pada 10380C. Ada dua deret senyawa tembaga. Senyawa-senyawa tembaga (I)
diturunkan dari Tembaga (I) Oksida Cu2O yang merah, dan mengandung ion Tembaga (I), Cu 2+
(Svehla, 1985).
Unsur transisi adalah unsur yang memiliki kulit-kulit d dan f yang terisi sebagian juga dalam
senyawaan penting. Termasuk ke dalamnya adalah logam Cu, Ag dan Au. Unsur transisi
semuanya adalah logam, kebanyakan berupa logam keras yang menghantar panas dan listrik
yang baik. Mereka membentuk persenyawaan berwarna dan paramagnetik, karena kulit-
kulitnya yang terisi sebagian (Cotton dan Wilkinson, 1989).
Logam-logam transisi diklasifikasikan dalam blok d, yang terdiri dari unsur-unsur 3d dari Sc
sampai Cu, 4d dari Y ke Ag, dan 5d dari Hf sampai Au, dan blok f, yang terdiri dari unsur
lantanoid dari La sampai Lu dan aktinoid dari Ac sampai Lr (Saito, 1996).
Suatu ion kompleks terdiri dari satu atom pusat dan sejumlah ligan yang terikat erat dengan
atom (ion) pusat tersebut. Atom pusat ditandai dengan oleh bilangan koordinasi yang
menunjukkan jumlah ligan (monodentat) yang dapat membentuk kompleks yang stabil dengan
satu atom pusat (Svehla, 1985).
Senyawa-senyawa kompleks dari unsur-unsur di blok d memiliki kelebihan dibanding
senyawa lain karena memiliki orbital d yang kosong. Orbital d inilah yang umunya berperan
dalam proses katalisis. Senyawa kompleks dilaboratorium dapat disintesa dengan
mereaksikan ligan yang merupakan suatu basa dan mempunyai pasangan elektron bebas
dengan logam yang merupakan penerima pasangan elektron yang didonorkan oleh ligan.
Berdasarkan banyaknya elektron yang didonorkan oleh ligan maka ligan dapat diklasifikasikan
menjadi ligan monodentat, ligan bidentat dan ligan multidentat. Ligan monodentat hanya dapat
mendonorkan sepasang elektron yang dimilkinya ke logam. Ligan bidentat dapat mendonorkan
dua pasang elektron yang dimilikinya ke logam, sedangkan banyak elektron yang bisa
didonorkan ke logam pada ligan multidentat. Ligan-ligan multidentat ini pula yang dapat
membentuk struktur kelat dalam kimia koordinasi oleh karena banyaknya pasangan elektron
yang bisa didonorkan ke logam. Senyawa kompleks dapat bersifat diamagnetik atau
paramagnetik. Sifat paramagnetik suatu senyawa dapat berupa feromagnetik dan
antiferomagnetik. Senyawa yang bersifat feromagnetik atau antiferomagnetik disebabkan
adanya interaksi antar elektron tidak berpasangan yang terdapat pada orbital d dari ion logam
penyusun senyawa kompleks. Interaksi feromagnetik senyawa kompleks umumnya
ditunjukkan pada temperatur rendah (Swastika. 2012)
Beberapa senyawa yang dikristalkan dari larutan airnya, Kristal ionnya memebentuk hidrat.
Hidrat merupakan zat yang rumus molekulnya mengandung sejumlah molekul air. Pada hidrat
CuSO4.5H2O empat molekul H2O berhubungan dengan tembaga ion kompleks [Cu(H 2O)4]2+
dan yang kelimadengan SO42- melalui ikatan hydrogen. Kemungkinan lain untuk membentuk
hidrat ialah bahwa molekul air dapat bergabung dengan posisi tertentu pada Kristal pada tetapi
tidak berhubungan dengan kation dan anion tertentu (Petrucci, 1985).
2. Metode Percobaan

2.1. Alat Dan Bahan


Alat yang digunakan dalam praktikum pembuatan tetraamintembaga(II) sulfat yakni Gelas ukur
50 ml, gelas beker 100 ml, 1 set pompa vakum, kertas saring, tabung reaksi kecil. Sedangkan
bahan yang digunakan yakni kristal CuSO 4.5H2O, Ammonia pekat, Etil alcohol 96%, 1 set
pemanas buchner, tabung reaksi besar.

2.2. Skema Kerja


a. Pembuatan garam kompleks tetraamintembaga(II) sulfat

Tanpa diaduk
2,5 gr Ditambahkan 4 dan digoyang,
CuSO4.5H2O DItambahkan ml etil alkohol tutup beker
ditimbang dan 12,5 ml NH3 pada dinding dengan kaca
dilarutkan 10% dan diaduk beker sehingga arloji dan
dengan 5 ml hingga homogen larutan tertutupi didiamkan di
H2O alkohol kulkas selama
semalaman

kristal dipisahkan
dengan
kristal yang dihasilkan
kristal dikeringkan penyaringan dan
kemudian ditimbang
dalam oven hingga air dicuci dengan 2 ml
dan dihitung rendemen
nya hilang ammonia pekat,
hasil yang didapat
dengan etil alkohol
(1:1)

b. Mempelajari sifat-sifat garam kompleks tetraamintembaga(II) sulfat

Garam kering
Garam hasil hasil percobaan
Diencerkan dengan 20
percobaan dilarutkan dipanaskan
ml H2O dan dicatat
dalam 5 ml H2O dan pelan-pelan
perubahan warnanya
diamati warnanya dalam tabung
reaksi
c. Karakterisasi

0,1 M dari
Diamati
garam Mohr Kemudian
perubahan
hasil diukur 2 ml larutan
yang terjadi
praktikum spektrum tersebut
dan diukur
ditimbang absorbansi dilarutkan
spektrum
dan nya pada dengan 1 ml
absorbansi
dilarutkan daerah 300- NH4CN 0,5 M
pada daerah
dengan 10 800 nm
300-800 nm
ml aquades

Dibuat larutan
CuSO4, MgCl2,
Dan dibandingkan FeCl3 dan
Diukur
konduktivitas senyawa hasil
konduktivitasnya
sampelnya sintesis dengan
masing-masing
0,025 M 25 ml

2.3. Prosedur Kerja


a. Pembuatan garam kompleks tetraamintembaga(II) sulfat
2,5 gr CuSO4.5H2O ditimbang kemudian dilarutkan dengan 5 mL H2O dalam beker gelas.
Ditambahkan 12,5 mL NH3 10%, dan diaduk hingga homogen. Ditambahkan 4 ml etil
alkohol 96% secara perlahan-lahan melalui dinding beker sehingga larutan tertutupi oleh
alkohol. Jangan diaduk atau digoyang. Gelas beker ditutup dengan kaca arloji dan
didiamkan atau simpan dalam kulkas selama semalaman hingga terbentuk kristal.
Kristal dipisahkan dengan penyaringan. Kristal dicuci dengan 2 ml campuran ammonia
pekat dengan etil alkohol (1:1). Kristal dikeringkan dalam oven hingga kadar airnya
hilang (sekitar 15 menit). Kristal kering yang dihasilkan ditimbang dan ditentukan berapa
mol ammonia yang digunakan serta dihitung rendemen hasil yang didapat.

b. Mempelajari sifat-sifat garam kompleks tetraamintembaga(II) sulfat


Garam hasil percobaan dilarutkan dalam 5 ml H2O dan diamati warnanya. Lalu
diencerkan dengan 20 ml H2O dan dicatat perubahan warnanya. Sedikit garam kering
hasil percobaan dalam tabung reaksi dipanaskan pelan-pelan. Dicatat perubahan
warnanya.

c. Karakterisasi
Sejumlah massa 0,1 M dari garam Mohr hasil praktikum yang diperoleh kemudian
ditimbang dan dilarutkan dengan 10 mL akuades. Diukur Spektrum absorbansi pada
daerah 300-800 nm. Direaksikan 2 mL larutan tersebut dengan 1mL KCN 0,5M. Diamati
perubahan yang terjadi kemudian diukur spektrum absorbansi pada daerah 300-800 nm.
Selanjutnya diukur konduktivitas garam tersebut dengan pembanding CuSO4 0,025M
dan FeCl3 0,025M.
3. Hasil dan Pembahasan
3.1. Hasil
Tabel
No Larutan Suhu (C) Konduktivitas
1. Larutan standard 28,6 13,24 𝜇S/cm
2. Akuades 27,5 4,41 𝜇S/cm
3. CuSO4 0,025 M 27,4 22,3 𝜇S/cm
4. FeCl3 0,025 M 27,1 36,6 𝜇S/cm
5. Garam Tetraamintembaga (II) sulfat 0,025 M 28,8 53,0 𝜇S/cm

Perubahan yang terjadi :


1. Warna larutan mula-mula
CuSO4.5H2O : serbuk berwarna biru
NH3 : larutan tak berwarna
2. Setelah kedua larutan direaksikan : Warna larutan menjadi biru pekat
3. Setelah ditambahkan etil alcohol : Warna larutan biru pekat
4. Setelah proses penyaringan : Filtrat dan serbuk/endapan berwarna biru pekat
5. Setelah garam dilarutkan dalam
- Sedikit aquades : Warna biru tua
- Aquades berlebih : Warna menjadi biru muda
6. Setelah garam dipanaskan : Kristal garam menjadi warna putih

Analisis data
𝑔𝑟𝑎𝑚
Mol CuSO4.5H2O =
𝑀𝑟
2,5
=
249,5
= 0,01 mol
NH3
ρ x 10 x % 0,73 x 10 x 10
M= = = 4,29
𝑀𝑟 17

Mol = M . V
= 4,29 x 12,5
= 0,053 mmol

CuSO4.5H2O + 4NH3 → [Cu(NH3)4]SO4.5H2O


CuSO4.5H2O + 4NH3 → [Cu(NH3)4]SO4.5H2O
Mula-mula 0,01 0,053 0,01
Reaksi 0,01 0,04 0,01
Sisa - 0,013 -

Massa [Cu(NH3)4]SO4.5H2O = Mol . Mr


= 0,013 x 317,80
= 4,121
𝑔𝑟𝑎𝑚 𝑝𝑟𝑎𝑘𝑡𝑖𝑘𝑢𝑚
%= x 100%
𝑔𝑟𝑎𝑚 𝑡𝑒𝑜𝑟𝑖
1,0972
= x 100%
4,121
= 26,62 %
3.2. Pembahasan
Pembuatan garam kompleks tetraamintembaga(II) sulfat
Percobaan pembuatan tetraamintembaga(II) sulfat bertujuan untuk mempelajari
pembuatan garam kompleks sebagai hasil reaksi antara kupri sulfat dengan amonia dan
sifat-sifatnya.
2,5 gr CuSO4.5H2O ditimbang kemudian dilarutkan dengan 5 mL H2O dalam beker gelas.
Ditambahkan 12,5 mL NH3 10%, dan diaduk hingga homogen.
Reaksi yang terjadi yakni :
CuSO4.5H2O + 4NH3 → [Cu(NH3)4]SO4.5H2O (Fitrony, 2013)
Tujuan ditambahkan amonia adalah sebagai ligan pengganti H2O. Diaduk dengan homogen
agar reaksi berlangsung secara sempurna. Kemudian ditambahkan 4 ml etil alkohol 96%
secara perlahan-lahan melalui dinding beker sehingga larutan tertutupi oleh alkohol. Dengan
tidak mengaduk atau menggoyangkan gelas beker. Penambahan alcohol dimakudkan agar
amonia tidak mudah menguap. Etil alkohol adalah pelarut yang baik untuk senyawa yang
ionik karena tetapan dielektriknya rendah dan mengurangi energi solvasi ionion. Etil alkohol
tergolong sebagai pelarut yang mudah menguap, sama halnya dengan sifat alkohol lainnya.
Oleh karena itu, gelas beker ditutup dengan kaca arloji untuk mengurangi penguapan selama
pembentukan kristal. Saat penambahan etil alcohol, tidak dilakukan pengadukan agar
larutan tidak bereaksi dan akan mempengaruhi hasil. Agar pembentukan kristal dapat terjadi
lebih sempurna, maka didiamkan selama semalam di dalam kulkas.
Setelah semalaman, maka selanjutnya dilakukan penyaringan untuk mendapatkan
kristal. Kristal kemudian dicuci dengan 2 ml campuran ammonia pekat dengan etil alkohol
(1:1). Fungsi pencucian ini adalah agar kristal lebih bersih dari pengotor-pengotornya.
Setelah pencucian, dilanjutkan dengan mengeringkan kristal di dalam oven. Pengeringan ini
dilakukan untuk megurangi kadar air pada kristal tersebut. Setelah dikeringkan, lalu kristal
ditimbang dengan hasilnya sebanyak 1,0972 gram, dengan kadar 26,62 %

Mempelajari sifat-sifat garam kompleks tetraamintembaga(II) sulfat


Garam hasil percobaan dilarutkan dalam 5 ml H 2O dan hasilnya terbentuk larutan
berwarna biru. Lalu diencerkan dengan 20 ml H2O dan warna larutan berubah menjadi biru
yang lebih muda. Perubahan tersebut terjadi karena senyawa tersebut terurai menjadi
kation kompleks dan anion.
Reaksi yang terjadi :
[Cu(NH3)4]SO4.5H2O + H2O → [Cu(NH3)4]2+ + SO42- (Svehla, 1985)
Kemudian sedikit garam kering hasil percobaan dalam tabung reaksi dipanaskan pelan
pelan. Hasil yang terjadi adalah garam berubah warna menjadi putih. Perubahan warna
menjadi putih terjadi karena H2O semakin hilang pada proses pemanasan. Gas yang
dibebaskan dalam proses ini adalah gas NH3. Dengan reaksi nya :
Cu(NH3)4SO4.5H2O↑→ CuSO4(s) + H2O(l) + NH3(g)↑ (Elmila, 2011)
Karakterisasi
0,1 gram garam dilarutkan dalam 10 ml aquades. Diambil 2 ml, direaksikan dengan KCN.
Warna menjadi jernih. perubahan warna menjadi jernih menandakan bahwa adanya
pergantian ligan NH3 dengan CN-. Hal tersebut terjadi dikarenakan ligan CN- lebih kuat
daripada ligan NH3 sehingga dapat tergantikan. Urutan kekuatan ligan sebagai berikut : CO
> CN- > NO2 > OH- > NH3 > SCN. Kemudian larutan garam dan larutan garam yang sudah
dicampur KCN, diletakkan pada mikro plate untuk diukur spektrum absorbansi pada daerah
300-800 nm. Hasil yang didapatkan menunjukkan bahwa konduktivitas Garam
Tetraamintembaga (II) sulfat 0,025 M sebesar 53,0 𝜇S/cm. Lebih besar dari larutan
pembanding nya. Hal tersebut dapat terjadi karena nilai konduktivitas suatu
larutan dipengaruhi oleh zat yang terlarut didalamnya, semakin bnyak jumlah garam yang
terlarut maka konduktivitasnya semakin besar.

4. Penutup
4.1. Kesimpulan
- Pembuatan Tetraamintembaga(II) sulfat dapat dilakukan dengan mereaksikan kupri
sulfat dengan ammonia
- Massa Tetraamintembaga(II) sulfat yang diperoleh sebesar 1,0972 gram
- Kadar yang diperoleh sebesar 26,62%

4.2. Saran
Mempelajari materi sebelum adanya praktikum
Perlunya ketelitian yang tinggi dalam melakukan praktikum

5. Daftar Pustaka

Cotton, F. A., G. Wilkinson, 1989, Kimia Anorganik Dasar, UI-Press, Jakarta.


Elmila, Izza & Fahimah Martak. (2011) 'Peningkatan Sifat Magnetik Kompleks Polimer Oksalat
[N(C4H9)4][MnCr(C2O4)3] dengan Menggunakan Kation Organik Tetrabutil Amonium', Jurnal Prosiding
Skripsi Kimia FMIPA, SK-091304.
Fitrony., Rizqy F., Lailatul Q., dan Mahfud. (2013) 'Pembuatan Kristal Tembaga Sulfat Pentahidrat
(CuSO4.5H2O) dari Tembaga Bekas Kumparan', Jurnal Teknik Pomits, 2, pp. 1.
Petrucci, Ralp H, 1985, Kimia Dasar Prinsip dan Terapan Modern, Erlangga, Jakarta.
Saito, T., 1996, Kimia Anorganik, Iwanami Shoten Publisher, Tokyo.
Svehla, G., 1985, Analisis Anorganik Kualitatif Makro dan Semimikro, PT. Kaiman Media Pusaka,
Jakarta.
Swastika, Lexy Nindia dan Fahimah M., (2012) 'Sintesis dan SIfat Magnetik Kompleks Ion Logam Cu
(II) dengan Ligan 2-Feniletilamin', Jurnal Sains dan Seni Pomits, 1, pp. 1.
6. Lampiran
PERTANYAAN PRA PRAKTIKUM
1. Jelaskan hibridisasi yang terjadi dan gambarkan struktur geometri dari garam
rangkap dan garam kompleks yang diperoleh!
Jawab :
Struktur dari garam rangkap kupriammonium sulfat.

Struktur dari garam kompleks tetraamin tembaga(II)sulfat bentuk planar segitiga

2. Tuliskan semua reaksi yang terjadi pada pembuatan tetramin tembaga (II) sulfat!
Jawab :
CuSO4.5H2O + 4NH3 → [Cu(NH3)4]SO4.5H2O
[Cu(NH3)4]SO4.5H2O + H2O → [Cu(NH3)4]2+ + SO42-
Cu(NH3)4SO4.5H2O↑→ CuSO4(s) + H2O(l) + NH3(g)↑

3. Apakah fungsi alkohol pada reaksi redoks tersebut ?


Jawab :
Etil alkohol adalah pelarut yang baik untuk senyawa yang ionik karena tetapan dielektriknya
rendah dan mengurangi energi solvasi ion-ion. Penambahan alcohol dimakudkan agar amonia
tidak mudah menguap.

4. Sebutkan beberapa penggunaan dari tetramin tembaga (II) sulfat?


Jawab :
Dapat digunakan untuk kabel listrik, selain itu juga sebagai paduan logam.

5. Jenis ion apa saja yang ada apabila garam kompleks tetrammintembaga(II) sulfat
dilarutkan dalam sedikit air dan bagaimana perubahan yang terjadi jika dilarutkan
dalam air yang berlebih?
Jawab :
Kation kompleks [Cu(NH3)4]2+ dan anion sederhana SO42-
Warna larutan berubah menjadi biru yang lebih muda.

6. Bagaimana sifat-sifat garam kompleks?


Jawab :
Sifat dari garam kompleks yakni jika dilarutkan dalam air akan terurai menjadi kompleks dan
ionnya.

Anda mungkin juga menyukai