Anda di halaman 1dari 28

KEMENTERIAN LINGKUNGAN HIDUP DAN KEHUTANAN

REPUBLIK INDONESIA

KAJIAN
DAUR ULANG PLASTIK
DAN KERTAS DALAM
NEGERI
Pengarah : Rosa Vivien Ratnawati
Direktur Jenderal Pengelolaan Sampah, Limbah dan Bahan Beracun Berbahaya
Penanggungjawab : Novrizal Tahar
Direktur Sampah
Penyusun : Ari Sugasri
Tyasning Permanasari
Ana Suryana
Lina Herlina
Nadya Apriella
Suistainable Waste Indonesia
DAFTAR ISI

DAFTAR ISI .......................................................................................................... i


KATA PENGANTAR ............................................................................................... ii
PENDAHULUAN .................................................................................................... 1
1.1 Latar Belakang ........................................................................................ 1
1.2 Tujuan Daur Ulang Plastik Dan Kertas Pasca Konsumsi .............................. 1
1.3 Metodologi .............................................................................................. 2
IDENTIFIKASI EKOSISTEM DAUR ULANG .............................................................. 3
2.1 Pengumpulan (sisi hulu / upstream) .......................................................... 3
2.2 Agregasi (sisi tengah / midstream) ........................................................... 3
2.3 Proses (sisi hilir / downstream) ................................................................. 4
ESTIMASI KAPASITAS PENGUMPULAN SAMPAH DAUR ULANG ................................ 5
3.1 Plastik pasca konsumsi ............................................................................. 5
3.2 Kertas pasca konsumsi dan pasca industri ................................................. 5
KOMPOSISI SAMPAH DAUR ULANG DI TINGKAT PENGUMPUL ................................ 7
4.1 Jenis sampah plastik dan kertas di tingkat lapak ........................................ 7
4.2 Jenis sampah plastik dan kertas di tingkat bank sampah ............................ 8
PEMETAAN KAPASITAS BANK SAMPAH DAN INDUSTRI DAUR ULANG ................... 10
GAMBARAN UMUM KEBUTUHAN BAHAN BAKU INDUSTRI DAUR ULANG ................ 12
6.1 Industri Daur Ulang Plastik ..................................................................... 12
6.2 Industri Daur Ulang Kertas ..................................................................... 13
6.3 Tren Impor Bahan Baku Industri Daur Ulang Plastik dan Kertas ................ 13
TANTANGAN UNTUK MENINGKATKAN LAJU DAUR ULANG PASCA KONSUMSI ....... 15
PROYEKSI KAPASITAS BAHAN BAKU INDUSTRI DAUR ULANG .............................. 17
REKOMENDASI PENINGKATAN KAPASITAS DAUR ULANG PASCA KONSUMSI ......... 20
REFERENSI ........................................................................................................ 23

i
KATA PENGANTAR

Pertambahan jumlah penduduk dan perubahan konsumsi di masyarakat menyebabkan


bertambahnya volume, jenis dan karakteristik sampah yang semakin beragam. Untuk
mengatasi permasalahan persampahan, pemerintah telah mengeluarkan berbagai
macam kebijakan dalam upaya mengurangi maupun mengelola sampah. Berbagai
macam kebijakan yang telah dikeluarkan diantaranya adalah Undang-Undang No. 18
Tahun 2008 tentang Pengelolaan Sampah, Peraturan Pemerintah No. 81 Tahun 2012
tentang Pengelolaan Sampah Rumah Tangga dan Sampah Sejenis Sampah Rumah
Tangga, Peraturan Pemerintah No. 27 Tahun 2020 tentang Pengelolaan Sampah
Spesifik, Peraturan Presiden No. 97 Tahun 2017 tentang Kebijakan dan Strategi
Nasional Pengelolaan Sampah Rumah Tangga dan Sampah Sejenis Sampah Rumah
Tangga (Jakstranas) dan Permen LHK No. 75 Tahun 2019 tentang Peta Jalan
Pengurangan Sampah oleh Produsen.

Saat ini pengelolaan persampahan dituntut untuk dapat menuju pada ekonomi
sirkular. Ekonomi sirkular bertujuan untuk mempertahankan nilai dari produk,
material, dan sumber daya selama mungkin dengan mengembalikannya ke dalam
siklus produk di akhir penggunaannya, serta meminimalisir pembentukan limbah.
Perubahan pola pikir pengelolaan sampah yang dulunya menganut paradigma kumpul,
angkut, buang kini menjadi memandang sampah sebagai bahan baku yang bernilai
ekonomis. Pada tanggal 27 Mei 2020, pemerintah telah menetapkan Surat Keputusan
Bersama (SKB) 3 Menteri dan Kapolri melalui Surat Menteri Perdagangan Nomor : 482
Tahun 2020, Menteri Lingkungan Hidup Dan Kehutanan Nomor :
S.235/Menlhk/Pslb3/Plb.3/5/2020, Menteri Perindustrian Nomor : 715 Tahun 2020 dan
Kepala Kepolisian Negara Republik Indonesia Nomor : Kb/1/V/2020 tentang
Pelaksanaan Impor Limbah Non Bahan Berbahaya dan Beracun sebagai Bahan Baku
Industri. SKB ini diharapkan dapat mempercepat ketersediaan bahan baku industri
dalam negeri untuk kelompok kertas dan kelompok plastik sebagai pengganti bahan
baku impor limbah non berbahaya dan beracun.

Demikian disampaikan, besar harapan kami buku ini dapat memberikan gambaran
terkait dengan data ketersediaan bahan baku daur ulang sampah kertas dan plastik
dalam negeri dan peta sebaran usaha daur ulang di Indonesia.

Jakarta, 10 Februari
2021

Rosa Vivien Ratnawati


Direktur Jenderal PSLB3

ii
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Ekonomi sirkular merupakan salah satu prioritas Pemerintah RI dalam upaya
meningkatkan kualitas pengelolaan sampah dan mendorong pertumbuhan industri
daur ulang. Pendekatan ekonomi sirkular memiliki tujuan utama untuk
meminimalisasi beban sampah yang masuk ke lingkungan (solusi ekologi) –
sekaligus mengoptimalkan nilai recovery dari berbagai jenis sampah untuk
dimanfaatkan oleh industri (solusi ekonomi).

Salah satu tantangan utama mewujudkan ekonomi sirkular adalah kolaborasi.


Kementerian LHK menyadari bahwa pendekatan hulu hingga hilir sangat penting,
agar terjadi sinergi dari peran para pemangku kepentingan. Koordinasi dan
keterlibatan lintas sektor dan lintas lembaga juga merupakan langkah strategis
dalam mencapai tujuan bersama.

Pemerintah telah menetapkan Surat Keputusan Bersama (SKB) 3 Menteri dan


Kapolri melalui Nomor Menteri Perdagangan Nomor 482 Tahun 2020, Menteri
Lingkungan Hidup dan Kehutanan Nomor S.235/MENLHK/PSLB3/PLB.3/5/2020,
Menteri Perindustrian Nomor 715 Tahun 2020 dan Kepala Kepolisian RI Nomor
KB/1/V/2020 tentang Pelaksanaan Impor Limbah Non Bahan Berbahaya dan
Beracun sebagai Bahan Baku Industri pada tanggal 27 Mei 2020. SKB ini memuat
kesepakatan penyusunan bersama peta jalan (road map) dalam rangka
percepatan ketersediaan bahan baku industri dalam negeri sebagai pengganti
bahan baku impor limbah non bahan berbahaya dan beracun (B3), khususnya
kelompok plastik dan kertas.

Penyusunan peta jalan ini membutuhkan data dan informasi untuk menjadi
baseline dari rantai nilai daur ulang plastik dan kertas. Pemetaan terhadap
kapasitas, sebaran wilayah, dan para pelaku yang terlibat dalam rantai nilai juga
diperlukan, agar dapat menyusun proyeksi potensi ketersediaan bahan baku
dalam negeri serta langkah-langkah strategis dalam mencapainya. Fokus lingkup
kajian adalah rantai nilai daur ulang plastik dan kertas pasca konsumsi, agar
selaras dengan serangkaian regulasi1 dan program Pemerintah, khususnya
Kementerian LHK.

1.2 Tujuan Daur Ulang Plastik Dan Kertas Pasca Konsumsi


a. Memberikan estimasi baseline kapasitas pengumpulan plastik dan kertas pasca
konsumsi dari dalam negeri
b. Memberikan estimasi potensi recovery sampah daur ulang plastik dan kertas
pasca konsumsi sebagai bahan baku industri dalam negeri
c. Memberikan rekomedasi strategi percepatan daur ulang pastik dan kertas
pasca konsumsi untuk mengurangi impor sampah/scrap

1
Perpres 97/2017 tentan JAKSTRANAS, Permen LHK 75/2019 tentang EPR, Permen LH 13/2012 tentang Bank
Sampah

1
1.3 Metodologi
Metodologi yang digunakan dalam kajian ini adalah pengumpulan data dari studi
literatur, survey lapangan, dan wawancara dengan pihak terkait. Analisis data
dilakukan dengan melakukan rekapitulasi, pemetaan spasial, dan pemodelan.
Hasil analisis yang dilakukan juga telah didiskusikan dalam focus group discussion
(FGD) yang diadakan oleh Kementerian LHK bersama dengan para pemangku
kepentingan. Pengumpulan data, analisis dan diskusi hasil pembahasan kajian ini
dilakukan selama periode Agustus – November 2020 dengan bantuan tim tenaga
ahli dari Sustainable Waste Indonesia (SWI).

2
IDENTIFIKASI EKOSISTEM DAUR ULANG

Secara umum, kegiatan daur ulang sampah melibatkan 3 (tiga) kelompok besar yang
membentuk satu kesatuan ekosistem dari hulu hingga hilir. Aliran material yang
terjadi selama kegiatan daur ulang mengikuti urutan dari ekosistem ini.

Gambar 1. Ekosistem Daur Ulang Sampah2

2.1 Pengumpulan (sisi hulu / upstream)


Bagian awal atau hulu dari ekosistem daur ulang adalah sistem pengumpulan.
Untuk memperoleh kualitas daur ulang yang baik, pengumpulan juga erat
kaitannya dengan sistem pemilahan. Pelaku sistem pengumpulan dapat berupa
sektor formal, seperti misalnya pemerintah daerah sebagai pengelola Tempat
Pemrosesan Sampah Terpadu (TPST) dan Pusat Daur Ulang Sampah (PDU), atau
pihak swasta pengangkut sampah dari kawasan komersial. Pengumpul sampah
juga dapat bersifat semiformal, misalnya Bank Sampah Unit (BSU), atau Tempat
Pemrosesan Sampah (TPS) 3R. Di Indonesia, pengumpulan sampah daur ulang
juga melibatkan sektor informal, yang disebut juga sebagai para pemulung.
Beberapa teknologi aplikasi pengumpulan sampah juga semakin berkembang saat
ini, untuk menghubungkan langsung antara konsumen dan para pendaur ulang.

Beberapa industri pulp dan kertas membina penyuplai kertas daur ulang dengan
membentuk Bailing Station dan Pemulung Binaan. Asosiasi Pulp dan Kertas
Indonesia (APKI) mencatat hingga saat ini ada 100 penyuplai kertas daur ulang di
Indonesia, dimana para penyuplai tersebut mengumpulkan kertas daur ulang yang
berasal dari para pemulung dan lapak binaan maupun pemulung dan lapak
independen.

Berdasarkan data APKI, saat ini terdapat Klaster Industri Kertas (KITAS) yang
merupakan kolaborasi akademisi, pelaku industri dan pemerintah. KITAS
memperoleh kertas daur ulang dari pengumpul dan koperasi grafika (limbah
perusahaan grafika). Titik pengumpulan kertas daur ulang oleh KITAS saat ini
tersedia tiga titik, yakni di Bogor, Bandung dan Cirebon. Dua titik pengumpulan
KITAS yang baru direncanakan dibentuk di Priangan Timur dan Bekasi.

2.2 Agregasi (sisi tengah / midstream)


Sampah daur ulang yang telah terpilah dan terkumpul kemudian ditransfer ke
lokasi pengumpulan yang lebih besar (sistem agregasi) dan dilakukan proses
2
Darus, et. al. 2019.

3
penyortiran lanjutan, sebelum diserahkan ke fasilitas daur ulang. Pelaku sistem di
midstream ini umumnya adalah Bank Sampah Induk (BSI) dan
lapak/pengepul/bandar. Hampir seluruh jenis sampah daur ulang yang memiliki
nilai jual diproses oleh sistem agregasi, termasuk plastik dan kertas. Para aktor di
midstream ini masih ada yang bersifat sektor informal.

2.3 Proses (sisi hilir / downstream)


Setelah melalui proses pemilahan, pembersihan, agregasi, dan pengemasan lebih
lanjut di bagian midstream, aliran sampah daur ulang dilanjutkan ke bagian hilir
di mana pabrik daur ulang menjadi aktor utamanya. Para aktor di hilir ini
umumnya bersifat formal, karena telah memiliki legalitas sebagai pelaku bisnis.

Pabrik daur ulang plastik biasanya melakukan pelletizing, konversi ke bahan baku
sekunder (misalnya serat, film), atau produksi produk akhir (furnitur, peralatan
rumah tangga, kantong plastik, pengemasan, dll). Untuk plastik, selain pabrik daur
ulang, fasilitas pencacah (crusher) juga dikategorikan sebagai pendaur ulang.
Sedangkan untuk kertas, pendaur ulang adalah pabrik kertas yang memproses
sampah kertas menjadi kertas daur ulang.

4
ESTIMASI KAPASITAS PENGUMPULAN SAMPAH DAUR ULANG

3.1 Plastik pasca konsumsi


Dari berbagai data yang berhasil dikumpulkan, diperoleh hasil perhitungan bahwa
kapasitas daur ulang plastik dari pasca konsumsi atau PCR plastik adalah sekitar
0,421 juta ton/tahun yang terdiri dari sampah plastik daur ulang yang terkumpul
oleh sektor informal (pemulung) sebagai proporsi tertinggi yaitu sekitar 84,3%.
Hal ini mengkonfirmasi bahwa memang sektor informal masih menjadi kontributor
utama dalam rantai daur ulang.

Gambar 2. Kapasitas Sumber Plastik Daur Ulang3

Bank Sampah, meskipun memberikan kontribusi sekitar 2,7% saja, namun


memberikan kualitas plastik pasca konsumsi yang jauh lebih baik. Saat ini,
terdapat lebih dari 11 ribu bank sampah, baik unit maupun induk, yang tersebar
di seluruh Indonesia.
Fasilitas pengolahan sampah rumah tangga TPS 3R, TPST, PDU dan sistem lainnya
diperkirakan berkontribusi pada 13% dari kapasitas PCR plastik.

3.2 Kertas pasca konsumsi dan pasca industri


Perhitungan yang dilakukan untuk kertas memberikan hasil bahwa total kapasitas
pengumpulan sampah daur ulang kertas mencapai sekitar 3,2 juta ton/tahun.
Berbeda dengan plastik, angka ini adalah gabungan dari pasca konsumsi (PCR)
dan pasca industri (PI) kertas. Hal ini dikarenakan kurangnya data dan informasi
untuk membedakan komposisi masing-masing.

3
Analisis SWI dari data Bank Sampah Kementerian LHK, 2020, Darus et. al 2019, dan Studi SWI-Danone, 2017

5
Gambar 3. Kapasitas Sumber Kertas Daur Ulang4

Sama seperti ekosistem daur ulang plastik, sektor informal menjadi kontributor
pengumpulan terbesar, yaitu sekitar 80%. Bailling station dan KITAS menjadi
kontributor pengumpulan berikutnya yaitu sekitar 19%. Sedangkan bank sampah
memberikan kontribusi sekitar 1% dari total kapasitas daur ulang kertas.

4
Analisis SWI dari data Bank Sampah Kementerian LHK, 2020, APKI 2020, dan Darus et. al 2019

6
KOMPOSISI SAMPAH DAUR ULANG DI TINGKAT PENGUMPUL

4.1 Jenis sampah plastik dan kertas di tingkat lapak


Data terkait jenis dan komposisi sampah daur ulang yang dikumpulkan menjadi
hal yang penting untuk mengetahui tingkat keterdaurulangan atau recyclability
dari suatu material. Jenis yang memiliki nilai jual tinggi atau yang mengikuti
kebutuhan industri daur ulang, oleh karenanya memiliki tingkat pengumpulan
yang baik.

Berikut adalah data komposisi sampah plastik dan kertas yang dikumpulkan oleh
lapak dan bank sampah. Seperti telah dijelaskan sebelumnya, di tingkat lapak
dilakukan penyortiran lanjutan, sehingga komposisi jenis sampahnya lebih spesifik
daripada bank sampah.

Gambar 4. Komposisi Sampah Plastik dari Lapak5

Berdasarkan data dari studi sebelumnya terkait sampah plastik di Pulau Jawa,
diketahui bahwa 3 jenis paling banyak yang dikumpulkan adalah botol plastik PET,
yaitu sekitar 22,99%, disusul HDPE film atau kantong plastik sekitar 22,19%, dan
gelas plastik PP yaitu sekitar 14,72%. Jenis lainnya juga cukup banyak
dikumpulkan oleh para lapak, termasuk jenis HDPE dan PP rigid/kerasan, dan PP
dan LDPE film/lembaran. Hal ini memperlihatkan bahwa hampir seluruh jenis
plastik, khususnya yang bersifat monolayer, memiliki nilai jual dan terhubung
dengan rantai daur ulang.

5
Darus et.al 2019. Survey lapangan dilakukan sebelum Pandemi Covid-19.

7
Gambar 5. Komposisi Sampah Kertas dari Lapak6

Dari survey lapangan yang dilakukan terhadap 29 sampel lapak di Jabodetabek, 3


jenis sampah kertas paling banyak yang dikumpulkan oleh lapak adalah
kardus/karton sekitar 52,23%, sampah lainnya sekitar 22,74%, dan putihan
sekitar 19,45%. Selebihnya, koran dan majalah juga dikumpulkan oleh para lapak.
Sampah lainnya didominasi oleh jenis campuran/bonchos, dan juga terdapat
duplex, kones/selongsong kertas, dan kantong semen.

4.2 Jenis sampah plastik dan kertas di tingkat bank sampah


Di bank sampah, jenis sampah plastik terbanyak yang dikumpulkan yaitu botol
plastik sekitar 68,73%, gelas plastik sekitar 15,22%, dan plastik non botol 9,62%.
Urutan ini memiliki kesamaan dengan tingkat lapak, dimana PET botol atau yang
dikenal dengan botol plastik dan PP cup atau yang dikenal dengan gelas plastik
memang jenis yang paling banyak dikumpulkan oleh pelaku daur ulang, dan
mayoritas sumber sampah ini berasal dari rumah tangga.

Gambar 6. Komposisi Sampah Plastik dari Bank Sampah7

Komposisi sampah kertas yang dikumpulkan oleh bank sampah yang terbanyak
memiliki perbedaan dengan lapak, dimana tertinggi adalah kertas sekitar 78,77%,

6
Analisis SWI dari survey lapangan, 2020. Data yang digunakan adalah sebelum Pandemi Covid-19
7
Analisis SWI dari Database Bank Sampah Kementerian LHK, 2020

8
disusul kardus 13,82%, dan duplex 6,45%. Hal ini memperlihatkan bahwa sumber
sampah kardus yang sangat tinggi di lapak bukan berasal dari sumber rumah
tangga. Kemungkinan besar sampah kardus diperoleh langsung dari kawasan
komersial seperti pertokoan, mal, dan perkantoran.

Gambar 7. Komposisi Sampah Kertas dari Bank Sampah8

8
Analisis SWI dari Database Bank Sampah Kementerian LHK, 2020

9
PEMETAAN KAPASITAS BANK SAMPAH DAN INDUSTRI DAUR
ULANG

Informasi yang juga penting sebagai baseline kondisi eksisting adalah sebaran
kapasitas daur ulang, untuk mengetahui wilayah konsentrasi tinggi dan wilayah yang
belum atau sedikit memiliki tingkat pengumpulan dan pemrosesan. Untuk itu, kajian
ini melakukan pemetaan terhadap total 11.330 bank sampah, 241 industri daur ulang
plastik, dan 52 industri daur ulang kertas yang tersebar di seluruh Indonesia,
berdasarkan tonase per bulan dan batas wilayah propinsi. Pemetaan ini adalah
progress dari database Kementerian LHK dan Kementerian Perindustrian, sehingga
statusnya masih terus diperbaharui dari waktu ke waktu.

Gambar 8. Peta Sebaran Kapasitas Pengumpulan Plastik dan Kertas oleh Bank
Sampah9

Dari peta sebaran, dapat dilihat bahwa hampir seluruh wilayah Indonesia telah
memiliki jalur pengumpulan oleh bank sampah. Kapasitas pengumpulan, baik sampah
plastik maupun kertas, memiliki konsentrasi yang tinggi di Pulau Jawa dan Bali.

Adapun untuk sebaran industri, saat ini dari data yang diperoleh kapasitasnya, baik
industri daur ulang plastik dan kertas, masih terkonsentrasi di Pulau Jawa. Namun
untuk daur ulang plastik, konsentrasi yang cukup besar juga terdapat di Pulau
Sumatera bagian utara.

9
Analisis SWI dari Database Bank Sampah Kementerian LHK, 2020

10
Gambar 9. Peta Sebaran Kapasitas Industri Daur Ulang Plastik dan Kertas10

10
Analisis SWI dari data Kementerian Perindustrian 2020

11
GAMBARAN UMUM KEBUTUHAN BAHAN BAKU INDUSTRI DAUR
ULANG

6.1 Industri Daur Ulang Plastik


Ekosistem daur ulang plastik yang telah dijelaskan sebelumnya merupakan
kontributor penting pemenuhan kebutuhan bahan baku industri plastik nasional.
Daur ulang pasca konsumsi, atau post consumer recycling (PCR), adalah salah
satu dari tiga kelompok sumber bahan baku industri daur ulang. Kelompok lainnya
adalah plastik pasca industri, seperti reject kemasan plastik atau sisa potong
produk plastik dari hasil manufaktur dalam negeri, dan scrap/reja plastik yang
berasal dari impor.

Gambar 10. Kebutuhan Bahan Baku Industri dan Kapasitas Daur Ulang Plastik11

Berdasarkan hasil analisis dari berbagai data dan studi, nilai kapasitas PCR plastik
yang telah dihitung sebelumnya, yang berasal dari sektor informal, bank sampah
dan pengumpul lainnya, ternyata setara dengan 22% kebutuhan industri daur
ulang plastik tanah air. Proporsi terbesar bahan baku industri daur ulang yaitu
70% berasal dari pasca industri, sedangkan sisanya 8% berasal dari scrap impor.

Berdasarkan data Kementerian Perindustrian, resin plastik yang dihasilkan oleh


industri daur ulang tanah air, atau seringkali disebut sebagai bahan baku
sekunder, nilainya mencapai 1.65 juta ton/tahun. Nilai ini berkontribusi terhadap
29% pemenuhan kebutuhan domestik, yang totalnya mencapai 5,63 juta
ton/tahun. Kontributor terbesar konsumsi bahan baku plastik domestik adalah
virgin resin hasil produksi dalam negeri yaitu 41%, dan sisanya masih dipenuhi
dari virgin resin impor yaitu sebesar 30%.

11
Analisis SWI dari data Kementerian Perindustrian 2019, ITC Trademap 2020, Darus et.al 2019, KLHK IGES
2020

12
6.2 Industri Daur Ulang Kertas
Berbeda dengan plastik, kapasitas industri daur ulang kertas yang mencapai 7,2
juta ton/tahun merupakan kontributor terbesar pemenuhan kebutuhan bahan
baku industri, yaitu 56% dari total produksi kertas nasional yang mencapai 13,59
juta ton/tahun.

Berdasarkan hasil analisis dari berbagai data dan studi, sumber bahan baku
industri daur ulang kertas tertinggi berasal dari scrap impor sebanyak 50%,
disusul pasca industri sebesar 33%, dan daur ulang pasca konsumsi, atau PCR,
sebanyak 17%. Salah satu faktor tingginya impor scrap kertas adalah
dibutuhkannya pencampuran serat pendek dan serat panjang untuk menghasilkan
produk kertas yang berkualitas baik. Bahan baku dalam negeri umumnya memiliki
serat pendek, sedangkan serat yang lebih panjang dapat dipenuhi dari scrap
impor.

Gambar 11. Kebutuhan Bahan Baku Industri dan Kapasitas Daur Ulang Kertas12

Berdasarkan data Asosiasi Pulp dan Kertas Indonesia (APKI), kapasitas produksi
kertas tanah air ternyata mampu melebihi kebutuhan konsumsi bahan baku
domestik. 60% dari produksi tersebut digunakan untuk kebutuhan domestik,
sedangkan 40% nya adalah surplus yang diekspor keluar negeri. Indonesia
merupakan salah satu negara dengan pertumbuhan nilai ekspor kertas tertinggi
di dunia.

6.3 Tren Impor Bahan Baku Industri Daur Ulang Plastik dan Kertas
Dari penjelasan diatas, diketahui bahwa kebutuhan bahan baku industri daur
ulang, baik plastik maupun kertas, belum dapat dipenuhi sepenuhnya oleh sumber
dari dalam negeri. Faktor permintaan pasar juga menjadi penentu sehingga
proporsi sumber bahan baku industri daur ulang dapat bersifat dinamis. Impor
scrap material sebagai bahan baku menjadi sulit untuk dihindari, karena
dibutuhkan untuk memenuhi gap yang ada, dan oleh karenanya terdapat tren
peningkatan dari tahun ke tahun.

12
Analisis SWI dari data APKI 2020, ITC Trademap 2020, Darus et.al 2019

13
Gambar 12. Data Impor Sisa, Scrap, Reja Untuk Bahan Baku Daur Ulang Kertas dan
Plastik13

Data dari ITC Trademap untuk HS code terkait scrap plastik dan kertas
memperlihatkan terjadinya peningkatan dari tahun 2015 hingga 2018, bahkan
lonjakan tinggi terjadi dari tahun 2017 ke tahun 2018, baik untuk plastik maupun
kertas. Namun demikian di tahun 2019 terjadi sedikit penurunan yang
kemungkinan disebabkan oleh dikeluarkannya Permendag 84/2019 terkait
perlunya rekomendasi KLHK dalam impor scrap tersebut.

13
Analisis SWI dari data ITC Trademap 2020

14
TANTANGAN UNTUK MENINGKATKAN LAJU DAUR ULANG
PASCA KONSUMSI

Secara umum, bahan baku daur ulang plastik dan kertas di Indonesia cukup signifikan
dalam memenuhi kebutuhan industri dalam negeri, yaitu 29% untuk plastik dan 56%
untuk kertas. Bahkan daur ulang kertas telah mendongkrak nilai ekspor nasional.

Namun demikian, dari data yang terkumpul dan analisis yang dilakukan, diperoleh
hasil bahwa laju daur ulang pasca konsumsi atau PCR rate nasional hanya berada di
angka 7% untuk plastik dan 13,5% untuk kertas. Angka ini diperoleh dari rasio jumlah
daur ulang pasca konsumsi terhadap jumlah konsumsi bahan baku nasional, baik
plastik maupun kertas. Angka ini terbilang rendah mengingat potensi jumlah plastik
dan kertas pasca konsumsi yang cukup tinggi seiring dengan pertumbuhan ekonomi
di Indonesia.

Meningkatkan PCR rate menjadi penting bukan hanya untuk mengurangi jumlah
sampah pasca konsumsi dan menjadikannya sebagai bahan baku ( circular economy)
sehingga mengurangi beban lingkungan, namun juga untuk mengurangi
ketergantungan terhadap kebutuhan scrap impor.

Beberapa faktor berikut merupakan tantangan dalam meningkatkan laju daur ulang
pasca konsumsi.

a. Persebaran industri daur ulang yang belum merata


Seperti telah dipaparkan sebelumnya, keberadaan pendaur ulang plastik
khususnya pabrikan masih terkonsentrasi di Pulau Jawa. Hal ini juga
mempengaruhi tingkat pengumpulan yang terjadi, dimana wilayah yang memiliki
kapasitas tinggi umumnya berada di wilayah Jawa dan Bali. Demikian pula halnya
dengan kertas. Sumber kertas daur ulang masih terkonsentrasi di kota-kota besar
di Pulau Jawa, seperti Jakarta, Bandung, dan Surabaya.

b. Sistem pengumpulan sampah daur ulang yang masih perlu ditingkatkan kuantitas
dan kualitasnya.
Sampah tercampur mengakibatkan tingginya pengotor pada material plastik dan
kertas yang bisa didaur ulang. Hal ini mengakibatkan perlunya usaha lebih untuk
menyortir dan membersihkan. Pemilahan sampah di sumber menjadi kunci untuk
mencegah tingginya pengotor dari material daur ulang. Di Indonesia, sistem
pemilahan sampah masih menemui banyak tantangan dan kendala. Konektivitas
antar subsistem pengelolaan sampah masih sangat perlu ditingkatkan, disamping
juga edukasi kepada masyarakat, pengumpul sampah dan personil yang terlibat
dalam sistem pengelolaan sampah menjadi hal yang penting untuk mendukung
upaya pemilahan sampah.

c. Adanya ketidaksesuaian antara hasil pengumpulan material daur ulang dengan


kebutuhan industri.

15
Industri daur ulang memiliki kualifikasi material yang cukup ketat agar hasil atau
produk daur ulang sesuai dengan kriteria yang diharapkan. Kondisi pasar juga
seringkali mempengaruhi kualifikasi material yang dapat diterima dan tidak dapat
diterima oleh pabrik daur ulang. Botol plastik PET misalnya, memiliki fluktuasi
permintaan pasar yang berbeda untuk jenis bening, kebiruan dan warna lainnya.
Hal ini menyebabkan terkadang para pengumpul harus menerima penolakan atau
penundaan penerimaan barang, atau turunnya harga jual.

Contoh lain, untuk kertas jenis kones misalnya, sampai sekitar 10 tahun yang lalu
masih diterima oleh pabrikan, namun karena pabrikan lebih cenderung memilih
jenis kertas berwarna coklat lainnya, maka pabrikan yang menerima kones saat
ini sangat jauh berkurang. Oleh karena itu, perlu edukasi dan sosialisasi lebih luas
mengenai kualifikasi material daur ulang, agar sesuai dengan kebutuhan pabrik.
Salah satu acuan yang dapat digunakan misalnya standar internasional dari
Institute of Scrap Recycling Industry (ISRI).

16
PROYEKSI KAPASITAS BAHAN BAKU INDUSTRI DAUR ULANG

Dari berbagai data kondisi eksisting yang dihimpun, kajian ini melakukan proyeksi
kapasitas industri daur ulang untuk 10 tahun ke depan, dan bagaimana pemenuhan
baha bakunya, dengan menggunakan metode pemodelan. Fokus proyeksi ini adalah
pada kapasitas daur ulang pasca konsumi atau post consumer recycling (PCR).

Gambar 13. Proyeksi Kapasitas Bahan Baku Industri Daur Ulang Plastik (Skenario
BaU)

Dari grafik proyeksi di atas dapat dilihat bahwa dengan kondisi yang ada seperti saat
ini atau Business as usual (BaU), jumlah scrap plastik yang diimpor pada tahun 2030
diestimasi sekitar 0,39 juta ton/tahun dan jumlah plastik PCR sekitar 1,2 juta
ton/tahun. Proyeksi tahun 2021 – 2030 ini dihitung menggunakan asumsi kenaikan
konsumsi plastik nasional sekitar 10% per tahun14. Dengan demikian, jumlah kapasitas
daur ulang di Indonesia pada tahun 2030 diproyeksikan sekitar 4,95 juta ton/tahun,
sedangkan total konsumsi plastik diproyeksikan sekitar 16,79 juta ton/tahun di tahun
2030.

Jika scrap impor plastik akan digantikan oleh plastik PCR sepenuhnya di tahun 2030,
maka dibutuhkan kenaikan jumlah plastik PCR lebih dari 30% dari baseline, dengan
kondisi jumlah daur ulang plastik pasca industri (PI) konstan.

Peningkatan kapasitas pengumpulan PCR tersebut dipaparkan pada grafik berikut:

14
Peta Jalan Pengembangan Industri Plastik Nasional yang dikeluarkan oleh Kementerian Perindustrian (2019).

17
Gambar 14. Proyeksi Kapasitas Bahan Baku Industri Daur Ulang Plastik

Dilihat dari grafik di atas, jumlah plastik PCR (PCR-rate) pada kondisi BaU diestimasi
sekitar 7% jika dibandingkan dengan konsumsi bahan baku plastik nasional,
sedangkan berdasarkan perhitungan modeling, jika scrap impor sepenuhnya
disubtitusi oleh plastik PCR pada tahun 2030, diestimasi membutuhkan PCR-rate
sekitar 9,5%.

Peningkatan pengumpulan plastik PCR ini dapat dilakukan dengan meningkatkan


pengumpulan pada sektor informal maupun sektor formal dan semiformal. Sektor
informal merupakan sektor yang terbentuk karena adanya supply dan demand pada
industri daur ulang plastik, sehingga sektor ini bukanlah sektor yang dapat
dikendalikan jumlahnya, namun akan bergerak seiring dengan perubahan pada
industri terkait. Untuk modelling ini, sektor informal diasumsikan jumlahnya akan naik
di tahun 2030 sekitar 2 kali lipat dibandingkan tahun 2020.

Sedangkan sektor formal dan semiformal yang sebagian besar merupakan fasilitas
pemerintah maupun fasilitas yang didukung oleh pemerintah, seperti TPS 3R, TPST,
bank sampah, PDU, merupakan sektor yang lebih dapat dikendalikan jumlahnya.
Berdasarkan perhitungan modelling, jika scrap impor plastik akan disubtitusi
seluruhnya di tahun 2030 oleh plastik PCR, maka sektor formal harus ditingkatkan
secara signifikan antara 22% - 32% per tahun selama 10 tahun.

Dengan pendekatan serupa, dilakukan pemodelan proyeksi kapasitas untuk industri


daur ulang kertas. Dari grafik proyeksi di atas dapat dilihat bahwa dengan kondisi
Business as usual (BaU), jumlah scrap kertas yang diimpor pada tahun 2030 diestimasi
6,76 juta ton/tahun dan jumlah kertas PCR sekitar 2,32 juta ton/tahun. Proyeksi ini
dihitung menggunakan asumsi kenaikan konsumsi kertas nasional sekitar 7,09% per
tahun15. Dengan demikian, jumlah kapasitas daur ulang kertas tanah air pada tahun
2030 diproyeksikan sekitar 13,55 juta ton/tahun, sedangkan total konsumsi kertas
diproyeksikan sekitar 17,19 juta ton/tahun pada tahun yang sama.

15
Berdasarkan data APKI, 2020

18
Gambar 15. Proyeksi Kapasitas Bahan Baku Industri Daur Ulang Kertas (Skenario
BaU)

Berbeda dengan plastik daur ulang, untuk menggantikan scrap impor kertas
sepenuhnya di tahun 2030, dibutuhkan kenaikan jumlah kertas PCR yang sangat
singnifikan, yaitu sekitar 300% dari baseline, dengan kondisi jumlah daur ulang kertas
pasca industri (PI) konstan, seperti diperlihatkan oleh grafik berikut:

Gambar 16. Proyeksi Proyeksi Kapasitas Bahan Baku Industri Daur Ulang Kertas

PCR-rate kertas pada kondisi BaU diestimasi sekitar 13,5 % jika dibandingkan dengan
konsumsi bahan baku kertas nasional, sedangkan berdasarkan perhitungan modeling,
jika scrap impor disubtitusi sepenuhnya oleh kertas PCR pada tahun 2030, maka
diestimasi akan membutuhkan PCR-rate hingga 53%.

Peningkatan pengumpulan kertas PCR yang sangat signifikan ini dapat dilakukan
dengan meningkatkan pengumpulan pada sektor informal maupun sektor formal.
Seperti pada PCR plastik, sektor informal pada pengumpulan kertas PCR juga
diasumsikan akan naik di tahun 2030 sebanyak 2 kali lipat dibandingkan tahun 2020.
Sedangkan pengumpulan kertas PCR pada sektor formal berdasarkan hasil
perhitungan modelling harus meningkat tajam antara 69% - 144% per tahun pada 2
tahun pertama, dan 19% - 47% per tahun di 8 tahun berikutnya.

19
REKOMENDASI PENINGKATAN KAPASITAS DAUR ULANG PASCA
KONSUMSI

Peningkatan kapasitas pengumpulan sampah daur ulang pasca konsumsi bukan hanya
penting untuk mengurangi atau mensubstitusi kebutuhan impor scrap bahan baku
industri, namun juga mengendalikan dampak buruk terhadap lingkungan dari timbulan
sampah yang terus meningkat.

Dari berbagai tantangan yang telah diuraikan sebelumnya, diperlukan beberapa


strategi yang dapat berupa kebijakan dan program terutama dari pemerintah untuk
mendukung terbentuknya ekosistem daur ulang yang mendukung dan memberikan
motivasi kepada para pelaku di sepanjang rantai daur ulang.

Gambar 17. Rekomendasi Strategi

Akselerasi kapasitas pengumpulan di area yang kurang terjangkau. Sebaran jaringan


pengumpulan dan industri daur ulang yang belum merata masih menyisakan
banyaknya wilayah yang minim kapasitas, atau dapat disebut white space. Rendahnya
PCR rate saat ini, yaitu 7% untuk plastik dan 13,5% untuk kertas memperlihatkan
tingginya jumlah plastik dan kertas pasca konsumsi yang masih menjadi beban di TPA
atau bahkan ke lingkungan. Akselerasi kapasitas pengumpulan plastik dan kertas PCR
di lokasi-lokasi white space akan akan lebih mudah karena belum banyak persaingan,
namun hal tersebut juga membutuhkan fasilitas dan didukung oleh faktor-faktor
lainnya.

Insentif investasi recycling center. Wilayah yang termasuk white space biasanya
kurang memiliki fasilitas pengolahan sampah yang memadai, atau kurang difungsikan
sebagaimana mestinya. Keberadaan fasilitas daur ulang terpadu atau recycling center
akan sangat membantu pengumpulan sampah di lokasi white space karena walapun
sampah di wilayah tersebut dapat dikumpulkan tanpa banyak persaingan, namun akan
membutuhkan biaya logistik yang signifikan bila tidak ada fasilitas pemrosesan.
Recycling center membutuhkan investasi yang tidak sedikit, namun jika dilakukan
selain dapat membantu pengumpulan sampah daur ulang plastik dan kertas secara
signifikan, juga akan memberikan dampak-dampak positif lainnya, terutama untuk
perekonomian di sekitar lokasi.

20
Akselerasi pemilahan sampah di sumber. Rendahnya kualitas sampah plastik dan
kertas yang dikumpulkan menyebabkan perlunya upaya lebih untuk mengupayakan
sampah yang terpilah sejak di sumber. Seringkali meskipun telah dibersihkan di tingkat
pengumpulan, sampah tersebut kualitasnya masih sangat kurang bagi pendaur ulang
terutama di tingkat pabrikan. Pemilahan di sumber mensyaratkan konektivitas antara
subsistem pengelolaan sampah, oleh karena itu bukanlah suatu hal yang mudah.
Diperlukan setidaknya keseriusan dalam pengembangan model bisnis pengelolaan
yang berkelanjutan, peningkatan kapasitas pemerintah daerah sebagai
penanggungjawab utama pengelolaan sampah, dan peningkatan kualitas infrastruktur
pengumpulan dan pemilahan pendukung.

Kebijakan insentif dan standardisasi daur ulang. Tingkat kandungan daur ulang
(TKDU) untuk produk berbasis plastik dan kertas serta kebijakan insentif seperti green
purchasing dapat mendorong munculnya demand pasar daur ulang. Hal ini
membutuhkan dorongan kebijakan dari Pemerintah, agar pelaku usaha daur ulang
semakin bertumbuh dan penggunaan produk berbahan daur ulang semakin luas di
masyarakat, baik sebagai produk perangkat di rumah tangga, hingga aplikasi di
industri otomotif, infrastruktur dan sebagainya. Standardisasi juga diperlukan dalam
hal kualifikasi bahan baku yang dapat diterima oleh industri, untuk menghindari tidak
terserapnya sampah daur ulang, khususnya kertas, yang telah dikumpulkan di tingkat
hulu.

Inovasi dan scale up teknologi pemrosesan. Saat ini beberapa jenis plastik dan kertas
yang jumlahnya cukup banyak di masyarakat tidak dikumpulkan oleh para pengumpul
karena kurang diterima oleh industri daur ulang. Produk yang dimaksud misalnya
plastik saset/multilayer, kertas kones, kertas bonchos dan kertas Used Beverage
Cartons (UBC), dimana teknologi yang secara luas dipergunakan di Indonesia saat ini
kurang mampu untuk memproses, khususnya memisahkan antara beberapa lapisan
yang membentuk produk tersebut. Jika inovasi teknologi pemrosesan dapat
ditingkatkan, maka jenis produk yang dapat diolah oleh industri daur ulang akan
bertambah, sehingga akan berdampak positif juga pada pengurangan sampah ke
lingkungan.

Sinergi dan inklusivitas sektor informal. Pada bagian sebelumnya telah disampaikan
bahwa sektor informal mengumpulkan lebih dari 80% sampah plastik dan kertas.
Sinergitas dengan sektor informal sangat diperlukan dalam pengumpulan sampah,
diantaranya dengan menjembatani aspek sosial dan budaya yang sering melekat pada
pelaku pengumpul sampah informal, seperti marginalisasi dan kerawanan terhadap
kriminalitas yang dihadapi para pemulung saat bekerja di masyarakat.

Penguatan database dan tracability. Setiap program dan kebijakan tentunya perlu
didasari oleh data yang jelas dan dapat dipertanggungjawabkan. Database di sektor
daur ulang sangat penting utamanya untuk memantau kapasitas di tiap rantai nilai
dan capaian PCR rate, bukan hanya secara umum tetapi juga spesifik untuk tiap jenis
material. Ketertelusuran atau tracability juga penting dalam daur ulang, untuk
memastikan bahwa sumber bahan baku industri berasal dari sampah pasca konsumsi
yang dapat diverifikasi dan dipertanggungjawabkan.

21
Implementasi Extended Producer Responsibility (EPR) untuk mendukung sebaran
pengumpulan. UU 18/2008 Pasal 15 telah menyatakan bahwa produsen wajib
mengelola kemasan dan/atau barang yang diproduksinya, hal ini kemudian didukung
dengan dikeluarkannya PerMen KLHK 75/2019 tentang Peta Jalan Pengurangan
Sampah oleh Produsen. Tanggung jawab oleh produsen atau disebut juga dengan
Extended Producer Responsibility (EPR), dapat juga diartikan bahwa produsen akan
mengumpulkan kembali produk yang dihasilkannya, dimana produk-produk tersebut
tersebar ke berbagai lokasi, tidak hanya di sekitar lokasi produksi. Implementasi EPR
akan meningkatkan sebaran pengumpulan sampah yang menjadi bagian dari
kewajiban dan tanggung jawab produsen terhadap produknya.

22
REFERENSI

Asosiasi Pulp dan Kertas (APKI). (2020). Statistik Industri Kertas di Indonesia. Asosiasi
Pulp dan Kertas
Darus, N., Tamimi, M., Tirawaty, S., Muchtazar, M. Trisyanti, D., Akib, R., Condorini,
D., & Ranggi, K. (2019). An Overview of Plastic Waste Recycling in The Urban
Areas of Java Island in Indonesia. Journal of Environmental Science and
Sustainable Development, (Desember).
https://scholarhub.ui.ac.id/jessd/vol3/iss2/10/
Ikatan Pemulung Indonesia. (2018). Sirkulasi Ekonomi Pemulung di TPST Bantar
Gebang Kota Bekasi di Bidang Kantong Plastik Kresek. Ikatan Pemulung Indonesia
Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan Republik Indonesia. (2019). Sistem
Informasi Pengelolaan Sampah Nasional. Jakarta. Kementerian Lingkungan Hidup
dan Kehutanan Republik Indonesia. diambil dari http://sipsn.menlhk.go.id/
Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan Republik Indonesia dan Institute for
Global Environmental Strategies (2020). National Plastic Waste Reduction
Strategic Actions for Indonesia. Jakarta. Kementerian Lingkungan Hidup dan
Kehutanan Republik Indonesia, (Juni)
Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan Republik Indonesia. (2020). Data Bank
Sampah per Provinsi. Jakarta. Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan
Republik Indonesia.
Kementerian Perindustrian Republik Indonesia. (2019). Kebijakan Industri Plastik
Nasional. Jakarta. Kementerian Perindustrian Republik Indonesia. diambil dari
Lampiran Surat IKFT.3/IND/XI/2020
Kementerian Perindustrian Republik Indonesia. (2020). Data Industri Daur Ulang
Plastik dan Kertas Nasional. Jakarta. Kementerian Perindustrian Republik
Indonesia.
Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat. (2019). Informasi Dasar
Persampahan. Jakarta. Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat.
diambil dari http://ciptakarya.pu.go.id/plp/simpersampahan/baseline/.
Sustainable Waste Indonesia dan Danone Indonesia. (2018). Indonesia Waste Flow,
Value Chain, and Recycling Rate Analysis. Sustainable Waste Indonesia

23
DIREKTORAT JENDERAL PENGELOLAAN SAMPAH, LIMBAH DAN BAHAN BERACUN BERBAHAYA
KEMENTERIAN LINGKUNGAN HIDUP DAN KEHUTANAN
TAHUN 2021