Anda di halaman 1dari 19

MAKALAH ANALISIS

PERBEDAAN DAN PERSAMAAN


PEMIMPIN TRANSACTIONAL DAN PEMIMPIN TRANSFORMASIONAL

Oleh :
Dhesy Eka Santi
1901028022

PROGRAM STUDI MAGISTER MANAJEMEN


FAKULTAS EKONOMI BISNIS
UNIVERSITAS MULAWARMAN
2020
KATA PENGANTAR

Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh

Segala puji bagi Allah SWT yang telah memberikan penulis kemudahan dalam menyelesaikan
makalah tepat waktu. Tanpa rahmat dan pertolongan-Nya, penulis tidak akan mampu
menyelesaikan makalah ini dengan baik. Tidak lupa shalawat serta salam tercurahkan kepada
Nabi agung Muhammad SAW yang syafa’atnya kita nantikan kelak.

Penulis mengucapkan syukur kepada Allah SWT atas limpahan nikmat sehat-Nya, sehingga
makalah “Analisa perbedaan dan persamaan pimpinan transactional dan transformasional” dapat
diselesaikan. Makalah ini disusun guna memenuhi tugas mata kuliah Kepemimpinan.

Untuk itu, penulis sampaikan rasa terima kasih kepada semua pihak yang membantu yaitu Prof.
Dr. Sukisno S. Riadi selaku dosen mata kuliah Kepemimpinan.
Penulis menyadari makalah bertema kepemimpinan ini masih perlu banyak penyempurnaan
karena kesalahan dan kekurangan. Penulis terbuka terhadap kritik dan saran pembaca agar
makalah ini dapat lebih baik. Apabila terdapat banyak kesalahan pada makalah ini, baik terkait
penulisan maupun konten, penulis memohon maaf.

Demikian yang dapat penulis sampaikan. Akhir kata, semoga makalah ini dapat bermanfaat.
Wassalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh

Tenggarong, 13 Desember 2020

Dhesy Eka Santi

1
DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR..............................................................................................................1
DAFTAR ISI............................................................................................................................2

BAB I PENDAHULUAN.........................................................................................................3
1.1 Latar Belakang.....................................................................................................3
1.2 Rumusan Masalah................................................................................................6
1.3 Tujuan Penulisan..................................................................................................6

BAB II TINJAUAN PUSTAKA............................................................................................7


2.1 Dasar Teori...........................................................................................................7
2.2 Analisa Permasalahan ........................................................................................13

BAB III PENUTUP..............................................................................................................15


3.1 Kesimpulan.........................................................................................................15
3.2 Saran...................................................................................................................16

DAFTAR PUSTAKA..........................................................................................................17

2
BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Pada berbagai aspek dalam organisasi, manusia merupakan salah satu sumber daya yang
ada di setiap kegiatan organisasi. Organisasi atau perusahaan harus mampu mengelola
manajemennya untuk memenangkan persaingan pada era yang serba kompetitif supaya dapat
bertahan untuk tumbuh dan berkembang sesuai dengan tujuan perusahaan. Menurut Robbins &
Judge (2007) (dalam Burhanudi 2015) organisasi adalah suatu unit sosial yang terdiri dari dua
orang atau lebih, dikoordinasi secara sadar, dan berfungsi dalam suatu dasar yang relatif terus-
menerus untuk mencapai satu atau serangkaian tujuan.

Kerjasama tersebut muncul pada tata kehidupan sosial masyarakat atau kelompok-
kelompok manusia dalam rangka untuk mempertahankan hidupnya menentang kebuasan
binatang danmenghadapi alam sekitarnya. Berangkat dari kebutuhan bersama tersebut, terjadi
kerjasamaantar manusia dan mulai unsur-unsur kepemimpinan. Orang yang ditunjuk sebagai
pemimpindari kelompok tersebut ialah orang-orang yang paling kuat dan pemberani, sehingga
adaaturan yang disepakati secara bersama-sama misalnya seorang pemimpin harus lahir
dariketurunan bangsawan, sehat, kuat, berani, ulet, pandai, mempunyai pengaruh dan lain-
lain.Hingga sampai sekarang seorang pemimpin harus memiliki syarat-syarat yang tidak
ringan,karena pemimpin sebagai ujung tombak kelompok.

Gaya kepemimpinan seorang pemimpin diduga akan sangat mempengaruhi kondisi kerja,
dimana akan berhubungan dengan bagaimana karyawan menerima suatu gaya kepemimpinan,
senang atau tidak, suka atau tidak. Di satu sisi gaya kepemimpinan tertentu diduga dapat
menyebabkan peningkatan kinerja disisi lain dapat menyebabkan penurunan kinerja. Suatu
perilaku seseorang individu ketika melakukan kegiatan pengarahan suatu group ke arah
pencapaian tertentu. Teori gaya kepemimpinan menurut study Ohio State University dalam
Thoha (2012:279).

Gaya kepemimpinan adalah proses yang di dalamnya terdapat unsur mempengaruhi.


Dengan adanya gaya kepemimpinan akan terjalin kerjasama serta adanya visi dan misi untuk
mencapai tujuan bersama di dalam organisasi. Kepala sekolah merupakan sentral dari pemimpin
pendidikan yang memiliki sebuah kebijakan untuk dapat memimpin suatu sekolah guna

3
mencapai tujuan yang telah ditentukan sebelumnya. Sehingga gaya kepemimpinan sangat
menentukan bagaimana kedepan organisasi tersebut.

Kepemimpinan dibutuhkan manusia, karena adanya suatu keterbatasan dan kelebihan-


kelebihan tertentu pada manusia. Kepemimpinan ini akan timbul apabila ada orang yang
dipengaruhi, orang yang mengakhiri, dan pengarahan akan tercapainya suatu tujuan. Sehingga
dapat dikatakan seorang disebut pemimpin apabila orang tersebut dapat mengakhiri orang lain
untuk mencapai tujuan meskipun tidak ada ikatan yang formal dengan suatu organisasi.
Kepemimpinan juga merupakan hal penting yang terdapat dalam kehidupan kolektif.
Kepemimpinan mempunyai pengaruh yang sangat besar dalam kehidupan organisasi maupun
berkelompok untuk mencapai tujuan bersama, manusia didalam organisasi perlu membina
kebersamaan dengan mengikuti pengendalian dari pemimpinnya.

Dengan pengendalian tersebut, perbedaan keinginan, 5 kehendak, kemauan, perasaan,


kebutuhan dan lain-lain dipertemukan untuk digerakkan kearah yang sama oleh seorang
pemimpin untuk mencapai tujuan bersama. Gaya kepemimpinan merupakan usaha atau cara
seorang pemimpin untuk mencapai tujuan organisasi dengan memperhatikan unsur-unsur
falsafah, keterampilan, sifat, dan sikap karyawan. Sehingga gaya kepemimpinan yang paling
efektif adalah gaya kepemimpinan yang dapat mendorong atau memotivasi bawahannya,
menumbuhkan sikap positif bawahan pada pekerjaan dan organisasi, dan mudah menyesuaikan
dengan segala situasi.

Gagasan awal mengenai gaya kepemimpinan transformasional dan transaksional


dikembangkan oleh James MacFregor Burns yang menerapkannya dalam konteks politik.
Selanjutnya disempurnakan serta diperkenalkan ke dalam konteks organisasi oleh Bernard Bass.
Burn membedakan antara kepemimpinan transformasional dan kepemimpinan transaksional.
Menurut Burns dalam Yukl (2010) “Kepemimpinan transformasional menyerukan nilai-nilai
moral dari pengikut dalam upayanya untuk meningkatkan kesadaran mereka tentang masalah etis
dan untuk memobilisasi energi dan sumber daya mereka untuk mereformasi institusi”.
Sedangkan gaya kepemimpinan transaksional menurut Burn dalam Yukl (2010) adalah
“Kepemimpinan yang melakukan transaksi memotivasi para pengikut dengan menyerukan
kepentingan pribadi mereka”. Konsep kepemimpinan yang berkembang pesat adalah konsep

4
kepemimpinan transaksional dan tranformasional yang dipopulerkan oleh Bass pada tahun 1985
(Locander 2002).

Kedua konsep kepemimpinan tersebut 6 berbasiskan pada gaya, perilaku dan situasi yang
meliputi seorang pemimpin (Locander 2002). Kepemimpinan transaksional berdasarkan prinsip
pertukaran imbalan antara pemimpin dengan bawahan dimana pemimpin mengharapkan imbalan
berupa kinerja bawahan yang tinggi sementara bawahan mengharapkan imbalan dan
penghargaan secara ekonomis dari pemimpin. Sedangkan kepemimpinan tranformasional
mendasarkan diri pada prinsip pengembangan bawahan (follower development). Pemimpin
mengembangkan dan mengarahkan potensi dan kemampuan bawahan untuk mencapai bahkan
melampaui tujuan organisasi (Dvir, 2002).

New Public Management ditujukan untuk meningkatkan tercapainya tujuan yakni bawahan
lebih berkeahlian dan lebih mampu mempertanggungjawabkan kinerjanya. Kepemimpinan
mempunyai kaitan erat dengan hasil kinerja seseorang karena keberhasilan seorang kepala
sekolah sebagai pemimpin dalam menggerakan dan mempengaruhi bawahan untuk mencapai
tujuan sangat tergantung pada kewibawaan pemimpin itu sendiri dan bagaimana menciptakan
sebuah kerjasama yang baik dalam diri setiap bawahan maupun pimpinan itu sendiri. (Elgelal
K.S 2015).

5
1.2 Rumusan Masalah
1. Apa yang dimaksud dengan kepemimpinan transactional?
2. Apakah terdapat pengaruh yang signifikan kepemimpinan transactional terhadap
beberapa aspek?
3. Apa yang dimaksud dengan kepemimpinan transformasional?
4. Apakah terdapat pengaruh yang signifikan kepemimpinan transformasional terhadap
beberapa aspek?
5. Bagaimana analisan persamaan dan perbedaan dari pemimpin transformasional dan
pemimpin transactional?

1.3 Tujuan Penulisan


Berdasarkan latar belakang dan rumusan masalah yang telah diuraikan diatas, maka tujuan
penelitian ini antara lain :
1. Untuk mendeskripsikan apa itu kepemimpinan transactional
2. Untuk mengetahui pengaruh yang signifikan dari kepemimpinan transactional dalam
berbagai aspek
3. Untuk mendeskripsikan apa itu kepemimpinan transformasional
4. Untuk mengetahui pengaruh yang signifikan dari kepemimpinan transformasional dalam
berbagai aspek
5. Untuk menganalisan perbedaan dan persamaan dari kepemimpinan transformasional dan
kepemimpinan transactional

6
BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Dasar Teori

A. Kepemimpinan Transactional

Konsep mengenai kepemimpinan transaksional pertama kali diformulasikan oleh Burns


(1978) dalam Yukl (1994:350) berdasarkan penelitian deskriptifnya terhadap pemimpin-
pemimpin politik dan selanjutnya disempurnakan serta diperkenalkan ke dalam konteks
organisasi oleh Bass. Kepemimpinan transaksional menurut Burns dalam Yukl (1998:296)
memotivasi para pengikut dengan menunjukkan pada kepentingan diri sendiri. Para pemimpin
politik tukar-menukar pekerjaan, subsidi, dan kontrak-kontrak pemerintah yang menguntungkan
untuk memperoleh suara dan kontribusi untuk kampanye. Para pemimpin perusahaan sering
menukarkan upah dan status untuk usaha kerja.

Kepemimpinan transaksional menyangkut nilai-nilai, namun berupa nilai-nilai yang


relevan bagi proses pertukaran, seperti kejujuran, keadilan, tanggung jawab dan pertukaran.
Istilah transactional berasal dari bagaimana tipe pemimpin ini memotivasi pengikut untuk
melakukan apa yang ingin mereka lakukan. Pemimpin transaksional menentukan keinginan-
keinginan pengikut dan memberi sesuatu yang mempertemukan Pengaruh Kepemimpinan
Transaksional dan Kepemimpinan Transformasional 5 keinginan itu dalam pertukaran karena
pengikut melakukan tugas tertentu atau menemukan sasaran spesifik. Jadi, suatu transaction atau
exchange process antara pemimpin dan pengikut, terjadi pada saat pengikut menerima reward
dari job performance dan pemimpin memperoleh manfaat dari penyelesaian tugas-tugas.

Dalam kepemimpinan transaksional, hubungan pemimpin-pengikut berdasarkan pada suatu


rangkaian pertukaran atau persetujuan antara pemimpin dan pengikut (Howell dan Avolio,
1993). Kepemimpinan transaksional adalah pemimpin yang memandu atau memotivasi para

7
pengikut mereka menuju ke sasaran yang ditetapkan dengan memperjelas persyaratan peran dan
tugas (Robbins, 2008:472). Menurut Gibson et al. (1997:84) pemimpin transaksional
mengidentifikasikan keinginan atau pilihan bawahan dan membantu mereka mencapai kinerja
yang menghasilkan reward yang dapat memuaskan bawahan. Bass (1990:338) mendefinisikan
kepemimpinan transaksional sebagai model kepemimpinan yang melibatkan suatu proses
pertukaran (exchange process) di mana para pengikut mendapat reward yang segera dan nyata
setelah melakukan perintah-perintah pemimpin. Selanjutnya Mc Shane dan Von Glinow
(2003:429) mendefinisikan kepemimpinan transaksional sebagai kepemimpinan yang membantu
orang mencapai tujuan mereka sekarang secara lebih efisien seperti menghubungkan kinerja
pekerjaan dengan penghargaan yang dinilai dan menjamin bahwa karyawan mempunyai sumber
daya yang diperlukan untuk menyelesaikan pekerjaan.

B. Pengaruh signifikan oleh kepemimpinan transactional dalam berbagai aspek

Kepemimpinan transaksional berpengaruh terhadap kepuasan kerja pegawai. Dalam


kepemimpinan transaksional, pemimpin mengidentifikasi keinginan atau pilihan bawahan yang
akan membantu pegawai untuk mengidentifikasikan pekerjaannya secara memadai sehingga
pegawai akan merasakan adanya arahan atau petunjuk untuk menentukan perencanaan dan
prosedur pekerjaan yang akan diselesaikan. Pemimpin memandu atau memotivasi para
pengikut/bawahan menuju kepada sasaran yang ditetapkan dengan memperjelas peran dan tugas.
Hal ini akan meningkatkan kreativitas dan penggunaan semua kemampuan potensial yang
dimiliki oleh pegawai untuk mencapai prestasi yang terbaik, sehingga pegawai secara psikologis
akan merasa puas terhadap pekerjaan yang dilakukannya (Gibson et al.,1997:84).

Selanjutnya kemampuan potensial yang dimiliki oleh pegawai untuk mencapai prestasi
yang terbaik, pada akhirnya pegawai akan mendapatkan imbalan dari organisasi sehingga
pegawai secara psikologis akan merasa puas baik terhadap pemimpinnya maupun reward yang
diperoleh. Reward yang diperoleh dapat berupa kenaikan gaji, promosi, pekerjaan atau tugas
yang diinginkan, skedul kerja yang lebih baik, atau waktu istirahat yang lebih banyak (Yukl
dalam Bass, 1990:327). Menurut Gibson et al. (1997:84) pemimpin transaksional
mengidentifikasikan keinginan atau pilihan bawahan dan membantu mereka mencapai kinerja
yang menghasilkan reward yang dapat memuaskan bawahan.

8
Kepemimpinan transaksional berpengaruh terhadap kinerja pegawai karena pemimpin
yang mengidentifikasi keinginan atau pilihan bawahan akan membantu pegawai untuk
memperoleh arahan dalam melakukan pekerjaan yang memadai, mereka akan dapat melakukan
tindakan sesuai dengan arahan sehingga menghasilkan outcome yang diinginkan dan memilih
dari kemungkinan berbagai tindakan atau tugas yang diinginkan. Semua ini pada akhirnya akan
meningkatkan kinerja pegawai baik secara kualitas maupun kuantitas.

C. Kepemimpinan Transformasional

Burns dalam Usman (2009:333) mendefinisikan kepemimpinan transformasional sebagai


“a process in which leaders and followers raise to higher levels of morality and motivation”.
Gaya kepemimpinan semacam ini akan mampu membawa kesadaran para pengikut (followers)
dengan memunculkan ide-ide produktif, hubungan yang sinergikal, kebertanggungjawaban,
kepedulian edukasional, dan cita-cita bersama. Kepemimpinan transformasional adalah
kepemimpinan yang memiliki visi ke depan dan mampu mengidentifikasi perubahan lingkungan
serta mampu mentransformasi perubahan tersebut ke dalam organisasi; memelopori perubahan
dan memberikan motivasi dan inspirasi kepada individu-individu karyawan untuk kreatif dan
inovatif, serta membangun team work yang solid; membawa pembaharuan dalam etos kerja dan
kinerja manajemen; berani dan bertanggung jawab memimpin dan mengendalikan organisasi
(Bass dalam Usman, 2009:334).

Yukl (1994) menyimpulkan esensi kepemimpinan transformasional adalah


memberdayakan para pengikutnya untuk berkinerja secara efektif dengan membangun komitmen
mereka terhadap nilai-nilai baru, mengembangkan keterampilan dan kepercayaan mereka,
menciptakan iklim yang kondusif bagi berkembangnya inovasi dan kreativitas. House et al.
dalam Usman (2009) menyatakan bahwa kepemimpinan transformasional memotivasi bawahan
mereka. Bass (1990) selanjutnya menyatakan bahwa kepemimpinan transformasional adalah
kemampuan untuk memberi inspirasi dan memotivasi para pengikut untuk Rosnani mencapai
hasil-hasil yang lebih besar dari pada yang derencanakan secara orisinil dan untuk imbalan
internal.

Dengan mengungkapkan suatu visi, pemimpin transformasional membujuk para pengikut


untuk bekerja keras mencapai sasaran yang digambarkan. Visi pemimpin memberikan motivasi
bagi pengikut untuk bekerja keras, yakni memberikan penghargaan kepada diri sendiri.

9
Transformational leadership, menurut Bass (1985) dalam Muenjohn dan Armstrong (2008),
didefinisikan sebagai suatu proses dimana pemimpin mencoba untuk meningkatkan kesadaran
pengikut tentang apa yang benar dan penting dan untuk memotivasi pengikut untuk
menunjukkan harapan-harapan yang lebih besar.

Para pemimpin transformasional menaikkan kesadaran dari para pengikut dengan


menyerukan cita-cita dan nilai-nilai yang lebih tinggi seperti kebebasan, keadilan, perdamaian
dan persamaan (hak) (Sarros dan Santora, 2001). Pemimpin transformasional berusaha
mentransformasi dan memotivasi para pengikut dengan:

(a) membuat mereka lebih sadar mengenai pentingnya hasil-hasil suatu pekerjaan,

(b) meminta individu mementingkan kepentingan tim di atas kepentingan pribadi, dan

(c) mengubah tingkat kebutuhan (Hirarki Maslow) bawahan atau memperluas kebutuhan
bawahan.

Pemimpin yang transformasional mendapat komitmen lebih besar dari bawahan dan
mendorong mereka mendahulukan kepentingan organisasi di atas kepentingan pribadi bukan saja
dengan kharismanya tapi juga dengan berperan sebagai pelatih, guru atau mentor (Yukl, 1994).
Pada kepemimpinan transformasional menerapkan lebih dari sekedar pertukaran dan selalu
berusaha meningkatkan perhatian, memberi stimulasi intelektual dan memberi inspirasi pada
bawahan untuk lebih mementingkan kepentingan kelompok di atas kepentingan pribadi. Jenis
kepemimpinan ini lebih dari sekedar transaksi konstruktif dan korektif.

D. Pengaruh signifikan oleh kepemimpinan transformasional dalam berbagai aspek

Kepemimpinan transformasional berpengaruh terhadap kepuasan kerja. Dalam


kepemimpinan transformasional, pemimpin mempengaruhi pengikutnya dengan Pengaruh
Kepemimpinan Transaksional dan Kepemimpinan Transformasional menimbulkan emosi yang
kuat, mentransformasi nilai-nilai dengan bertindak sebagai pelatih, guru atau mentor, pemimpin
senantiasa mendorong bawahan untuk menggunakan pendekatan baru dalam melakukan
pekerjaan, pemimpin selalu mendengarkan dan penuh perhatian, membesarkan hati, dan
memberikan pengalamanpengalaman kepada pengikutnya untuk lebih berprestasi. Hal ini akan
meningkatkan kepercayaan, kekaguman, kesetiaan dan hormat terhadap pemimpin, yang

10
akhirnya dapat menciptakan perubahan ke arah yang lebih baik sehingga dapat menciptakan
produktivitas pegawai dan akhirnya menciptakan kepuasan terhadap pekerjaan (kepuasan kerja
intrinsik), (Pawar dan Eastman,1997; Utomo, 2001; Suharto, 2005).

Dalam kepemimpinan transformasional, pemimpin juga memberikan inspirasi untuk


menyelesaikan tujuan-tujuan yang lebih sulit, memecahkan masalah dengan cara baru,
meningkatkan kemampuan bawahan. Dengan menggunakan inspirasi, karismatik, perhatian
individual atau rangsangan intelektual, para pemimpin membantu pengikut menjadi lebih
percaya untuk mencapai sasaran-sasaran yang ada dan bekerja sesuai dengan arah yang akan
mengarah ke pencapaian sasaran-sasaran yang lebih tinggi.

Hal ini akan menghasilkan kepuasan bawahan. Kepuasan bawahan adalah menyangkut
perasaan bawahan terhadap harapan organisasi itu, misalnya mengenai besarnya imbalan,
kepemimpinan, pola penyelia dan lain-lain (Durbin pada Luthans, 2002:590). Yukl (1994) dalam
Usman, 2009 menyimpulkan esensi kepemimpinan transformasional adalah memberdayakan
para pengikutnya untuk berkinerja secara efektif dengan membangun komitmen mereka terhadap
nilai-nilai baru, mengembangkan keterampilan dan kepercayaan mereka, menciptakan iklim
yang kondusif bagi berkembangnya inovasi dan kreativitas.

Beberapa bukti penelitian yang telah terakumulasi menyimpulkan, bahwa jenis


kepemimpinan transformasional mempengaruhi kinerja karyawan dalam banyak cara yang
secara kuantitatif dan kualitatif berbeda dengan jenis kepemimpinan lainnya contohnya
kepemimpinan transaksional. Bass pada Waldman et al., (1987) mengatakan bahwa
kepemimpinan transformasional akan memiliki dampak yang lebih besar dibandingkan
kepemimpinan transaksional pada kinerja bawahan. Dengan membangun inspirasi dan
kepercayaan diri yang berhubungan dengan kepemimpinan transformasional, bisa diduga adanya
usaha dan kinerja yang melebihi apa yang telah ditetapkan atasan. Hal ini akan tercermin pada
evaluasi kinerja yang lebih tinggi yang diberikan kepada bawahan yang menganggap para
pemimpin mereka transformasional.

Disamping itu Bass pada Koh et al, (1995) juga berpendapat bahwa pemimpin
transformasional dapat menggunakan tiga komponennya (charisma, individual 10 Rosnani
consideration, dan intellectual stimulation) untuk mengubah motivasi karyawan dan
meningkatkan kinerja unit lebih dari apa yang telah diharapkan. Bukti-bukti empiris juga

11
menyimpulkan bahwa kepemimpinan transformasional dan komponen-komponennya
berhubungan positif dengan kinerja pada area penelitian yang berbeda-beda yaitu pada: studi
lapangan (Curphy, 1992; Hater dan Bass pada Howell & Merenda, 1999; Howell dan Avolio,
1993; Keller, 1992), penelitian historis (House, Spangler, dan Woycke pada Howell dan
Merenda, 1999), penelitian laboratorium (Howell dan Frost, 1989; Kirk patrick dan Locke pada
Howell dan Merenda, 1999), dan penelitian meta analisis (Lowe, Kroeck, dan Sivasubramaniam
pada Howell dan Merenda, 1999). Lebih dari 35 penelitian mengenai pengaruh kepemimpinan
menyimpulkan bahwa terdapat hubungan positif antara kepemimpinan transformasional dan
kinerja karyawan (Kirkpatrick dan Locke, 1996; Suharto, 2005). Sedangkan Shamir, House dan
Arthur (1993) berpendapat bahwa lebih dari 20 penelitian menemukan adanya hubungan positif
pemimpin karismatik atau kepemimpinan transformasional terhadap kinerja, sikap, dan persepsi
karyawan.

12
2.2 Analisa Permasalahan

Menurut para ahli setidaknya terdapat dua gaya kepemimpinan, kepemimpinan


transaksional dan kepemimpinan transformasional. Kedua jenis ini mempunyai cara pengertian
yang berbeda, yang pada gilirannya akan mewujud dalam sistem dan praktik yang berbeda.
Kepemimpinan transformasional adalah sebuah proses yang memotivasi orang dengan menarik
cita-cita dan nilai moral yang lebih tinggi, mendefinisikan dan mengartikulasikan visi masa
depan dan membentuk basis kredibilitas. Sebaliknya, kepemimpinan transaksional berdasarkan
pada standar birokrasi dan organisasi.

Kepemimpinan adalah panggilan atau kualitas diri, yang mana hubungan dengan pengikut
berdasarkan pengaruh, dengan tujuan memberikan arah dalam tindakan dan sikap, serta
melibatkan visi dan penilaian. Pemimpin memiliki kepekaan terhadap arah, kerja sama
kelompok, inspirasi, teladan dan penerimaan diri oleh orang lain. Jadi pemimpin melakukan hal
yang benar (Leaders do the right thing) sesuai visi sebagai sehingga terjadi transformasi bersama.

Kepemimpinan transformasional menyerukan nilai-nilai moral pengikut dalam upayanya


mereformasi institusi. Kepemimpinan transaksional memotivasi para pengikut dengan
menyerukan kepentingan pribadi mereka. kepemimpinan transaksional, memelihara atau
melanjutkan status quo. Sementara kepemimpinan transformasional menentang status quo.

Kepemimpinan transaksional, cocok untuk memenuhi kebutuhan karyawan yang lebih


rendah, seperti kebutuhan fisiologis dan rasa aman Sebaliknya, kebutuhan yang lebih tinggi,
seperti harga diri dan aktualisasi diri, dipenuhi melalui praktik gaya kepemimpinan
transformasional.

13
Perbedaan antara gaya kepemimpinan transfomasional dan transaksional dapat
didefinisikan dengan menyebut gaya transformasional sebagai pemimpin inovasi dan gaya
transaksional sebagai manajer perencanaan dan kebijakan. Pandangan lain adalah bahwa gaya
transformasional mencipakan jalur baru dalam sebuah organisasi, sementara gaya transaksional
tergantung pada struktur yang ada. Sedangkan gaya transaksional menggunakan kekuasaan dan
kewewenangan yang telah ada pada organisasi, pemimpin transformasional memotivasi orang
untuk bekerja demi tujuan baru yang lebih besar dan menciptakan perubahan. Kepemimpinan
transaksional sebaiknya berada pada jaringan kekuasaan; akan tetapi, kepemimpinan
transformasional memberikan motivasi yang lebih tinggi dan menambahkan kualitas hidup pada
orang dan organisasi. Kepemimpinan trasformasional memberikan karakteristik yang
menghasilkan tenaga yang memicu perubahan baru bagi organisasi, yang tidak dapat di hasilkan
pada kepemimpinan  transaksional. Pemimpin transformasional yang bagus menggunakan
kewenangan dan kekuasaan untuk memberikan semangat dan motivasi orang agar percaya dan
mengikuti teladannya.

Hasil analisis yang dilakukan dengan analisis regresi berganda menunjukkan hasil bahwa:
gaya kepemimpinan transformasional dan kepemimpinan transaksional berpengaruh signifikan
positif terhadap manajemen pengetahuan. Adapun peran budaya organisasi sebagai variabel
moderator menunjukkan bahwa ketika yang digunakan adalah kepemimpinan transformasional,
maka budaya dapat memperlemah pengaruh kepemimpinan transaksional terhadap manajemen
pengetahuan. Kepemimpinan transformasional punya peran yang kuat dalam mempengaruhi
manajemen pengetahuan yang berlangsung di perusahaan. Budaya yang dimaksud dalam hal ini
adalah budaya yang hirarkis dan misi yang kurang kuat. Kondisi ini tidak terjadi pada
kepemimpinan transaksional.

Temuan ini konsisten dan mendukung pendapat Bass (1985), bahwa perilaku
kepemimpinan transformasional dan kepemimpinan transaksional merupakan sesuatu yang
berbeda namun tidak sebagai proses yang mutually exclusive. Dengan demikian dimungkinkan
seorang pemimpin menerapkan kedua gaya tersebut pada situasi yang berbeda. Pendapat ini
diperkuat oleh Hughes, et al (2002) bahwa dalam prakteknya kepemimpinan transformasional
dan transaksional dapat ditampilkan oleh pemimpin yang sama, hanya kuantitas perilaku dan
intensitasnya saja yang berbeda. Implikasinya seorang komandan atau atasan di militer bisa

14
menerapkan atau menampilkan dua perilaku kepemimpinan pada saat yang berbeda sesuai situasi
dan kondisi yang dihadapi. Artinya pada saat dan situasi tertentu ia harus menerapkan gaya
kepemimpinan transformasional, tetapi pada saat dan situasi yang lain ia harus menerapkan gaya
kepemimpinan transaksional.

BAB III

PENUTUP

A. Kesimpulan
 Kepemimpinan Transaksional dapat diartikan sebagai cara yang digunakan
seorang pemimpin dalam menggerakkan anggotanya dengan menawarkan
imbalan/akibat terhadap setiap kontribusi yang diberikan oleh anggota kepada
organisasi.
 Kepemimpinan Transformasional adalah kepemimpinan yang membawa
organisasi pada sebuah tujuan baru yang lebih besar dan belum pernah dicapai
sebelumnya dengan memberikan kekuatan mental dan keyakinan kepada para
anggota agar mereka bergerak secara sungguh- sungguh menuju tujuan bersama
tersebut dengan mengesampingkan kepentingan/keadaan personalnya.
 Keduanya memiliki kesamaan dalam hal perlunya memberikan “sesuatu”
kepada anggota agar mereka bergerak sesuai tujuan organisasi, selain itu ada
juga tiga perbedaan antara jenis kepemimpinan ini, yakni :
i. Transaksional memberi imbalan berupa kebutuhan fisiologis bagi para
anggotanya sedangkan transformasional memberi inspirasi dan motivasi
untuk mendapatkan self esteem/harga diri dan aktualisasi diri.
ii. Dalam hal kepentingan yang didahulukan, kepemimpinan transaksional
mementingkan kepentingan pribadi anggota untuk ditukar dengan imbalan
agar ia mau bekerja demi kepentingan bersama sedangkan transformasional
mementingkan kepentingan bersama dengan menjelaskan betapa pentingnya

15
hal tersebut sehingga anggota rela mengesampingkan kepentingan
pribadinya.
iii. Dalam hal situasi internal dan eksternal organisasi, transaksional biasanya
dipakai dalam situasi yang stabil dan dalam hal-hal teknis yang telah baku
prosedurnya sedangkan Transformasional dipakai dalam keadaan tak stabil
dan atau terpuruk serta dalam hal-hal yang bersifat strategis dan tak baku.

B. Saran
Bagi pemimpin pada umumnya, hendaknya memperhatikan gaya kepemimpinan
yang diterapkan pada karyawan karena gaya kepemimpinan merupakan faktor yang
berpengaruh terhadap peningkatan kinerja. Bagi peneliti lain yang ingin mengetahui
pengaruh gaya kepemimpinan terhadap kinerja dapat menambahkan variabel bebas lain
yang dapat mempengaruhi kinerja seperti motivasi kerja karyawan, kemampuan
individu maupun lingkungan kerja.

16
DAFTAR PUSTAKA

Atika, A., Fristin, Y., & Suwandaru, A. (2017). Pengaruh Kepemimpinan Transformasional
dan Komunikasi Terhadap Kinerja Karyawan. Jurnal Bisnis dan Manajemen, Vol. 4,
No. 1.
Atmojo, M. (2015). The Influence of Transformational Leadership in Job Satisfaction,
Organizational Commitment, and Employee Performance. International research
journal of business studies, Vol. 5, No. 2.
Edison, E., Anwar, Y., & Komariyah, I. (2016). Manajemen Sumber Daya Manusia.
Bandung: Alfabeta.
Elgelal, K. S. K., & Noermijati, N. (2015). The Influences of Transformational Leaderships
on Employees Performance (A Study of the Economics and Business Faculty
Employee at University of Muhammadiyah Malang). Asia-Pacific Management and
Business Application, Vol. 3, No. 1,pp. 48-66.
Firda, (2015), Pengaruh Gaya Kepemimimpinan Transformasional dan Disiplin Kerja
terhadap Kinerja Karyawan pada Hotel Grand Victoria di Samarinda, Ilmu Adminitrasi
Bisnis, Vol. 3, No. 3.
Garini, A. P. P., Bagia, I. W., & Cipta, W. (2016). Pengaruh Kepemimpinan Transformasional
dan Budaya Organisasi Terhadap Kinerja Pegawai pada Perusahaan Daerah Air Minum
(PDAM). Bisma Universitas Pendidikan Ganesha Jurusan Manajemen, Vol. 4. Ghozali,
Imam. 2013, "Aplikasi Analisis Muktivariate dengan Program" (Edisi ketujuh),
Semarang, Badan Penerbit Universitas Diponegoro.
Hakim, L. (2017). Perilaku Keorganisasian. Surakarta: Muhammadiyah University Press.

17
Kurniawan, A. (2014). Metode Riset untuk Ekonomi dan Bisnis Teori, Konsep, dan Praktik
penelitian Bisnis (Dilengkapi Perhitunga Pengolahan Data dengan IBM SPSS 22.0).
Bandung:ALFABETA.
Kurniawan, H.(2011). Pengaruh Gaya Kepemimpinan Transformasional Terhadap Kinerja
Karyawan PT. Berau Karya Indah di Surabaya Melalui Motivasi Kerja. Fakultas
Ekonomi & Bisnis Universitas Airlangga.
Nasution, S. (2001). Metode Research (penelitian ilmiah): usul tesis, desain penelitian,
hipotesis, validitas, sampling, populasi, observasi, wawancara, angket. Bumi Aksara.
Putri, I. H. P., & Iskandar, D. (2016). Pengaruh Gaya Kepemimpinan Transformasional
Terhadap Kinerja Karyawan Di Pt. telkom Indonesia Witel Jakarta Utara. eProceedings
of Management, 3(2).
Ritawati, A. (2013). Pengaruh Kepemimpinan Transformasional dan Budaya Organisasi
terhadap Kepuasan Kerja dan Kinerja Karyawan PT. Jamsostek (Persero) Cabang
Surabaya. DIE, Jurnal, Ilmu Ekonomi dan Manajemen, Vol. 9, No. 1.
Salam, A. (2014). Manajemen Insani dalam Bisnis. Yogyakarta. Pustaka Pelajar. Sanusi, A.
(2011). Metodologi Penelitian Bisnis. Jakarta: Salemba Empat. Silvina, 2015. Makalah
Kepemimpinan SDM.
Simanjuntak, F. R., & Calam, A. (2012). Pengaruh Kepemimpinan Transformasional Dan
Motivasi Kerja Terhadap Kinerja Karyawan PT. PLN (Persero) Cabang Binjai Wilayah
Sumatera Utara. Jurnal Ilmiah Saintikom, Vol. 11, No. 2.
Sugiyono. (2009). Metode Penelitian Bisnis, Alfabeta. Sugiyono. 2016. Metode Penelitian
Kuantitatif, Kualitatif, dan R&D, Bandung:Alfabeta.
Surbakti, M. P., & Suharnomo. (2013). Analisis Pengaruh Kepemimpinan Transformasional
& Motivasi Terhadap Kinerja Karyawan (Studi pada PT. Kereta Api Indonesia Daop
IV Semarang), Diponergoro Journal of Management, Vol. 2, No. 3. Suryadana, M. L.
(2015). Pengelolaan SDM Berbasis Kinerja. Bandung: Alfabeta.
Suwatno, H., & Priansa, D. J. (2016). Manajemen SDM dalam Organisasi Publik dan Bisnis.
Bandung: Alfabeta. Umam, K. (2010). Perilaku Organisasi. Bandung: Pustaka Setia.
Usman, H. (2006). Manajemen: Teori, Praktik, dan Riset Pendidikan. Jakarta: bumi aksara.
Yukl, G. (2005). Kepemimpinan dalam Organisasi. Jakarta: PT Yudeks.

18