Anda di halaman 1dari 11

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar belakang

Aktifitas sehari – hari manusia banyak menggunakan kaki, sejak

dari bangun tidur, bekerja dan rutinitas sampai tidur lagi. Fungsi kaki

dalam aktivitas manusia sangat berperan penting. Apabila kaki

mengalami keterbatasan kemampuan fungsional atau disabilitas, maka

kualitas pekerjaan dan kemandirian manusia akan menurun.

Guru memiliki tingkat aktifitas berdiri dan berjalan yang tinggi.

Seiring berjalannya waktu, guru perempuan yang usia nya mendekati

masa pra lansia pun mengeluhkan berbagai keluhan muskuloskeletal.

Salah satu diantaranya adalah nyeri tumit.

Tumit dan telapak kaki adalah pusat dari tekanan, maka tumit dan

telapak kaki cenderung mengalami gangguan gerak dan fungsi yang

sangat beragam. Salah satu keluhan yang sering di jumpai adalah plantar

fasciitis. Plantar fasciitis adalah salah satu kondisi pada kaki yang

mempengaruhi kemampuan fungsional seseorang dalam aktifitas

mobilisasi.

Nyeri pada plantar fasciitis biasanya muncul saat bangun tidur di

pagi hari saat ingin menapakan atau menjejakan kaki pertama kali ke

lantai, berdiri lama,berjalan jauh, duduk terlalu lama saat ingin berdiri di

medial calcaneus pada saat berjalan maka nyeri akan meningkat. Hal ini
dikarenakan terjadinya penguluran atau adanya beban yang berlebihan

pada arkus longitudinal.

Plantar fasciitis dapat terjadi pada usia remaja hingga dewasa,

namun umumnya pada wanita usia 40-60 tahun hal ini kerap terjadi, hal

ini disebabkan oleh karena antara lain struktur kaki yang tidak normal,

perubahan fascia karena proses degenerative, obesitas, kehamilan,

pekerjaan atau aktifitas yang menggunakan posisi berdiri dalam waktu

lama maupun aktifitas fisik yang salah dalam waktu yang lama.

Masyarakat belum menyadari begitu pentingnya kasus plantar

fasciitis yang mengakibatkan masyarakat mengabaikan rasa nyeri

terhadap plantar / tumit. Rasa nyeri akan mengakibatkan terjadinya

penurunan fungsional, dan bahkan akan memunculkan gangguan lain

seperti calcaneus spur sebagai manifestasi lain dari plantar fasciitis

kronis yang tidak segera di tangani.

Calcaneus spur dan plantar fasciitis adalah dua hal yang berbeda

tetapi merupakan satu kesatuan sebab akibat yang saling berhubungan.

Calcaneus spur terjadi pada lebih dari 50% orang berusia diatas 50 tahun,

dengan atau tanpa keluhan nyeri. Mayoritas penderita calcaneus spur yang

disertai keluhan nyeri (atau terjadi plantarfasciitis) adalah pada wanita,

terutama yang berusia 40-60 tahun. Sementara itu, lebih dari 50%

pasien plantar fasciitis mempunyai calcaneus spur.

Calcaneus spur berasal dari traksi berulang dari penyisipan plantar

fascia ke kalkaneus yang menyebabkan peradangan serta pengerasan reaktif


enthesis. Peradangan yang terjadi biasanya karena kejutan atau stress konstan

pada aktifitas sehari-hari akan mengakibatkan endapan kalsium menumpuk di

bagian bawah tulang tumit (Toumi et al., 2014).

Dominansi musculosceletal disorder sebagai permasalahan kesehatan

mayor terkait dapat pula dilihat dari hasil penelitian di berbagai negara yang

menyatakan bahwa musculosceletal disorder menduduki posisi pertama.

Pernyataan ini didukung oleh data dari Labour Force Survey (LFS) U.K.,

yang menunjukkan musculosceletal disorder sangat tinggi yaitu sejumlah

1.144.000 kasus dengan distribusi kasus yang menyerang punggung sebesar

493.000 kasus, anggota tubuh bagian atas atau leher 426.000 kasus, dan

anggota tubuh bagian bawah 224.000 kasus. Hasil penelitian serupa di

Amerika adalah terdapat sekitar enam juta kasus musculosceletal disorder

pertahun atau rata-rata 300 - 400 kasus per- 100.000  orang. (Sekaaram et al,.

2017)

Berdasarkan hasil riset kesehatan dasar (Riskesdas, 2013) prevalensi

penyakit muskuloskeletal di Indonesia berdasarkan yang didiagnosis oleh

tenaga kesehatan yaitu 11,9% dan berdasarkan diagnosis atau gejala yaitu

24,7%. Prevalensi berdasarkan diagnosis nakes tertinggi di Bali (19,3%),

diikuti Aceh (18,3%), Jawa Barat (17,5%) dan Papua (15,4%). Prevalensi

tertinggi pada pekerjaan petani, nelayan, buruh baik yang didiagnosis tenaga

kesehatan (15,3%) maupun diagnosis tenaga kesehatan atau gejala (31,2%)

(Balitbang Kemenkes RI, 2013)

Berdasarkan survey di Klinik Fisioterapi Kalasan Yogyakarta,

pada periode bulan Januari – Maret tahun 2015, keluhan nyeri pada tumit
dan telapak kaki menempati posisi ke-3 dibawah nyeri pinggang bawah

dan lutut. Dari 26 orang pasien dengan keluhan nyeri pada tumit,

Sebanyak 18 orang pasien terdiagnosa nyeri tumit karena di sebabkan

oleh plantar fasciitis, selebihnya akibat dari calcaneus spur (Hendarto,

2015)

Berdasarkan data dari Direktur Jendral Pendidikan Dasar dan

Menengah Dinas Pendidikan Kabupaten Kulon Progo pada tahun 2019,

di kecamatan Pengasih terdapat 408 orang guru perempuan. hasil studi

pendahuluan pada hari Kamis, 14 Februari 2019 yang penulis lakukan di

4 SMPN di Kecamatan Pengasih yang mengikuti partisipasi penelitian

plantar fasciitis dari 22 orang guru perempuan di SMPN 1 Pengasih, 13

orang guru perempuan mengeluhkan nyeri tumit.

Berdasarkan pengamatan dan wawancara di SMPN 1 Pengasih hampir

semua guru perempun dengan rentang usia 40-53 tahun melakukan pekerjaan

dengan posisi berdiri dan berjalan dalam waktu yang lama. Dapat

disimpulkan 2,86% dari 22 orang jumlah guru perempuan di SMPN 1

Pengasih mengeluhkan nyeri tumit terbanyak dari 4 SMPN yang di

lakukan studi pendahuluan.

Dengan kondisi yang muncul pada plantar fasciitis, maka peran

tenaga kesehatan antara lain melakukan kegiatan promotif, preventif,

kuratif serta rehabilitatif. Khususnya peran fisioterapi sangat dibutuhkan

sesuai dengan peraturan yang tercantum dalam Peraturan Menteri

Kesehatan Republik Indonesia Nomor 80 Tahun 2013 tentang standar

profesi fisioterapi pasal 1c bahwa : “Fisioterapi adalah bentuk pelayanan


kesehatan yang ditujukan kepada individu dan kelompok untuk

mengembangkan, memelihara dan memulihkan gerak dan fungsi tubuh

sepanjang daur kehidupan dengan menggunakan penanganan secara

manual, peningkatan gerak, peralatan (fisik, elektroterapeutik dan

mekanis) pelatihan fungsi dan komunikasi. “

Allah ta’alla berfirman dalam Qs. An Nahl : 18

@‫ص@@@ و@هَ@ ا@ ۗ@ إِ@ @َّن هَّللا َ@ لَ@ َغ@ فُ@@@@و@ ٌر‬


@ُ @‫َو@ إِ@ ْ@ن@ تَ@ع@ُ@@@ ُّد@ و@ا@ نِ@ ْع@ َم@@@@ ةَ@ هَّللا ِ@ اَل تُ@ ْ@ح‬

@‫َ@ر@ ِ@ح@ ي@ ٌم‬

Yang artinya :  “Dan jika kamu menghitung-hitung nikmat Allah, niscaya

kamu tak dapat menentukan jumlahnya. Sesungguhnya Allah benar-benar

Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.”

Hal ini sesuai dengan peran fisioterapi yang bertujuan untuk

mengembangkan serta memelihara kemampuan fungsional manusia

semenjak dari dalam kandungan sampai lanjut usia. Dalam penanganan

plantar fasciitis, dapat dilakukan beberapa terapi latihan. Banyak sekali

modalitas fisioterapi dalam penanganan plantar fasciitis, antara lain

pendekatan konvensional dan pendekatan manual, akan tetapi penulis

memilih pendekatan manual yaitu transverse friction dan active

stretching.

Pemilihan metode transverse friction didasari pada penelitian

sebelumnya yang dilakukan oleh Trupti Chandrakant Rasal dan Dr. Kiran

Jeswani pada tahun 2018. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa


transverse friction efektif dalam menurunkan nyeri pada kasus plantar

fasciitis dalam kurun 4 minggu.

Sedangkan menurut survey yang di lakukan oleh Rob Grieve pada

tahun 2016 pada 257 fisioterapis klinis di United Kingdom, 237

responden menganjurkan penanganan plantar fasciitis dengan

menggunakan pendekatan manual terapi antara lain general stretching

exercise, soft tissue mobile serta myofascial trigger point sedangkan pada

penelitian David Sweating pada tahun 2011, stretching dapat menurunkan

intensitas nyeri yang signifikan dalam kurun waktu 4 minggu. Disamping

itu, kedua pendekatan manual ini dapat dilakukan secara efisien oleh

penderita plantar fasciitis kapanpun dan dimanapun tanpa memerlukan

banyak alat dan biaya.

Transverse friction adalah tekhnik massage yang dipopulerkan

oleh James Cyriax 1975 yang diaplikasikan pada jaringan spesifik soft

tissue dengan posisi jari membentuk tumpukan dan tegak lurus terhadap

jaringan yang akan ditreatment serta memberikan stretch di antara

jaringan untuk memisahkan antara individual fiber jaringan.

Transverse friction digunakan untuk treatment pada cedera jaringan

masa sub acut dan cronik (Alamsyah dkk, 2017)

Active stretching merupakan istilah umum yang digunakan untuk

menjabarkan manufer terapi yang dirancang/didesain untuk memanjangkan

struktur jaringan lunak yang memendek secara patologi dan dibenarkan untuk

meningkatkan LGS yang dilakukan sendiri oleh responden (Kisner dalam

Hendarto, 2015)
Karena nyeri bersifat objektif, maka dibuat alat ukur seperti VAS

(Visual Analog Scale) untuk mengetahui derajat nyeri seseorang. Didapatkan

hasil uji validitas penggunaan skala nyeri VAS menunjukkan reliabilitas lebih

dari 0,95 dan juga pada uji validitasnya VAS r = 0,62 sehingga dapat

disimpulkan bahwa instrument penelitian ini valid dan reliabel.

Dari beberapa penelitian terkait plantar fasciitis di atas ditemukan

hasil yang sama sama signifikan dalam menurunkan nyeri dengan kurun

waktu 4 minggu. Oleh sebab itu penulis tertarik untuk meneliti manakah

pendekatan yang paling efektif untuk penurunan nyeri plantar fasciitis dari

kedua pendekatan tersebut.

B. Rumusan masalah

Memperhatikan latar belakang masalah diatas maka, dapat

dirumuskan masalah dalam penelitian ini, yaitu :

1. Apakah ada pengaruh transverse friction terhadap penurunan nyeri

plantar fasciitis?

2. Apakah ada pengaruh active stretching terhadap penurunan nyeri

plantar fasciitis?

3. Apakah ada perbedaan pengaruh transverse friction dan active

stretching terhadap penurunan nyeri plantar fasciitis?

C. Tujuan penelitian

1. Tujuan umum
Untuk mengetahui perbedaan pengaruh transverse friction dan

active stretching terhadap penurunan nyeri plantar fasciitis

2. Tujuan kusus

a. Untuk mengetahui pengaruh transverse friction terhadap

penurunan nyeri plantar fasciitis

b. Untuk mengetahui pengaruh active stretching terhadap penurunan

nyeri plantar fasciitis

c. Untuk mengetahui perbedaan pengaruh transverse friction dan

active stretching terhadap penurunan nyeri plantar fascitis

D. Manfaat Penelitian

1. Bagi peneliti

Dengan adanya penelitian ini, diharapkan akan memberikan

manfaat dengan bertambahnya ilmu pengetahuan dan keterampilan

yang dimiliki dalam mengaplikasikan asuhan fisioterapi pada

penurunan nyeri kasus plantar fasciitis dengan metode transverse

friction dan active stretching

2. Bagi institusi

Dengan adanya penelitian ini diharapkan dapat menjadi

referensi tambahan dalam pengajaran metode penurunan nyeri dengan

transverse friction dan active stretching pada plantar fasciitis


3. Bagi pelayanan

Penelitian ini diharapkan dapat dijadikan sebagai sumber

informasi bagi fisioterapis tentang perbedaan pengaruh pemberian

transverse friction dan active stretching dalam menurunkan nyeri

pada plantar fasciitis. Serta diharapkan dengan adanya hasil penelitian

ini pasien dengan plantar fasciitis akan mendapatkan pelayanan

fisioterapi yang lebih baik dan sesuai.

4. Bagi responden

Dalam penelitian ini diharapkan pasien yang mengalami

plantar fasciitis merasa terbantu dalam mengatasi nyeri yang

dirasakan sehingga produktifitas kerja dapat meningkat dan

merasakan pergerakan bebas serta nyaman. Diharapkan serta agar

responden mulai peka dengan masalah gerak dan fungsi sehingga

kualitas hidup meningkat.

E. Ruang lingkup penelitian

1. Ruang lingkup materi

Dalam penelitian ini, peneliti mengambil ruang lingkup materi

fisioterapi pada muskuloskeletal non bedah serta manual therapy

2. Lingkup responden

Dalam penelitian ini, responden yang akan diambil adalah

guru perempuan yang mengalami plantar fasciitis di SMPN 1

Pengasih

3. Lingkup tempat
Penelitian ini di laksanakan di SMPN 1 Pengasih berdasarkan

jumlah terbanyak guru perempuan yang mengeluhkan plantar fasciitis

dari keseluruhan 4 SMPN di kecamatan Pengasih

4. Lingkup waktu

Waktu penelitian ini dilaksanakan mulai sejak penyusunan

proposal penelitian bulan Maret sampai dengan bulan April 2019.

Rencana hasil penelitian akan di paparkan pada sidang hasil

penelitian.

F. Keaslian penelitian

1. Trupti Chandrakant Rasal and Dr. Kiran Jeswani . 2018. The effect of

Cyriax (Transverse frictional massage) on pain and function in

patients with plantar fasciitis randomized controlled trial study.

International Journal of Applied Research. Dengan metode random

sampling 2 kelompok kontrol pre dan post test design. Subyek

kelompok pertama menerima transverse friction massage dan terapi

konvensional. Sedangkan kelompok kedua menerima terapi

konvensional. Evaluasi menggunakan VAS, FAAM dan skala ADL.

Didapatkan hasil bahwa transverse friction massage lebih efektif

menurunkan nyeri sedangkan terapi konvensional lebih meningkatkan

kemampuan fungsional pada pasien plantar fasciitis.

2. Sweeting.D et al.2011.The effectiveness of manual stretching in the

treatment of plantar heel pain: a systematic review. Journal of Foot

and Ankle Research. Dengan metode sistematic review randomized

control trial dan 30 responden plantar fasciitis random sampling yang

dibagi menjadi 2 kelompok penelitian. Kelompok pertama


mendapatkan perlakuan stretching dan intervensi alternatif.

Sedangkan kelompok kedua mendapatkan perlakuan stretching saja

namun dengan durasi dan teknik yang berbeda. didapatkan hasil

metode stretching lebih efektif menurunkan nyeri maupun

meningkatkan kemampuan fungsional pada penderita plantar fasciitis

dibandingkan dengan kelompok kontrol

3. Bae, Hyeon et al. 2015. The Influence Of Revised High-heeled Shoes

On Foot. J. Phys. Vol.27. No.12. dengan metode purposive sectional

study didapatkan hasil bahwa active release technique sama efektifnya

dengan myofascial release dalam menurunkan nyeri pada pasien

dengan keluhan plantar fasciitis