Anda di halaman 1dari 24

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

A. Tinjauan teoritis
1. Plantar fasciitis
a. Definisi plantar fasciitis
Plantar fasciitis adalah rasa sakit yang disebabkan oleh iritasi
degeneratif penyisipan plantar fasciitis pada proses medial
tuberositas calcaneus, rasa sakit disubstansial mengakibatkan
perubahan kegiatan sehari hari. Berbagai istilah telah digunakan untuk
menggambarkan plantar fasciitis termasuk tumit pelari, tumit petenis,
dan tumit polisis. Meskipun keliru, kondisi ini kadang kadang disebut
tumit taji oleh masyarakat umum (Young, 2014)
Plantar fasciitis adalah non-inflamasi sindrom degeneratif
plantar fascia yang dihasilkan dari trauma berulang pada asal usulnya
di calcaneus. Sampai saat ini, ada bukti bahwa kondisi ini mungkin
tidak ditandai dengan peradangan, melainkan oleh non-inflamasi
perubahan degeneratif di fascia (Prakash, Mirsa, 2014)
b. Anatomi
anatomi terapan kaki menurut Omar (2011) yaitu :
1) Osteologi
Anatomi kompleks terdiri dari 26 tulang, 33 sendi, otot,
tendon, ligamentum, pembuluh darah, saraf dan jaringan lunak.
Pergelangan kaki terdiri dari tiga tulang yang dilekati oleh otot
otot, tendon, ligamentum yang menghubungkan kaki ke kaki. Dari
kaki bagian bawah dua tulang disebut tibia dan fibula. Tulang ini
terhubung ke pergelangan kaki pada sendi tibiofibular
memungkinkan untuk kaki bergerak keatas dan ke bawah. Kaki
dapat dibagi menjadi tiga bagian anatomi disebut handfoot,
midfoot dindfoot forefoot. Midfoot berisi lima tulang tarsal :
gambar 2.1 Bones of the Foot and Ankle (Lilis, 2019)
a) Os. Talus

Terdapat facet artikularis pada permukaan superior, medial


dan lateral. Terdapat sulkus pada permukaan posterior korpus
untuk tendon flexor halusis longus. Di sisi lateral sulkus terdapat
tuberkulum posterior. Terdapat caput yang menonjol ke arah distal
yang berartikuasi dengan os.navicular

b) Os. Calcaneus
Memiliki dua facet artikularis di permukaan superior yang
turut membentuk artikulo subtalaris. Permukaan posterior
memiliki tiga area : bagian tengah yang kasar tempat insersi otot
tendokalkaneis, bagian atas yang halus yang dipisahkan dari otot
tendokalkaneis melalui bursa dan bagian bawah yang dilapisi oleh
bantalan fibrolipid yang membentuk tumit
c) Os. Kuboid
Memiliki permukaan bawah yang bersulkus untuk tendon
m.peroneus longus
d) Os. Navicular

Memilik fascet artikularis untuk artikulasi dengan carpal


talus di posterior dan tiga cuneifom di anterior. Memiliki
tuberositas pada aspek medial tempat perlekatan tibialis posterior

e) Os. Cuneiform
Os. Cunieform ada tiga yang disebelah anterior
berartikulasi dengan Os.metetarsal dan di posterior dengan
Os.navicular. Bentuknya seperti baji memudahkan
mempertahankan arkus transversal kaki

Midfoot menghubungkan kaki depan di lima sendi


tarsometatarsal. Kaki depan terdiri dari tulang kaki yang
disebut falang dan os.metatarsal. setiap jari memiliki 3 tulang
dan 2 sendi. Artikulasi pada caput metatarsal ke 1 besar dan
penting untuk keseimbangan. Caput memiliki sulkus pada
permukaan inferior untuk dua tulang sesamoid dan tendon
m.fleksor halusis brevis

2) Sistem persendian
Sendi sendi kaki terdiri dari :
a) Artikulasio subtalar

Sendi ini terdiri atas artikulasio talokalkaneus merupakan


artikulasio plana synovial yang terbentuk oleh artikulasi
permukaan atas calcaneus dengan permukaan bawah talus.
Artikulasio talokalkaneonavikular merupakan artikulasi
os.feroidea sinovial antara caput talus dan sustentakulum tali,
ligamentum kalkaneonavikularis plantar dan navicular. Gerakan
inversi dan eversi terjadi pada artikulasio subtalar.

b) Sendi midtarsal

Merupakan sendi campuran yang membantu gerakan inversi


dan eversi. Sendi ini terdiri dari artikulasio kalkaneonavikularis.
Artikulasio kalkaneo kuboidea merupakan artikulasi plana
synovial yang terbentuk antara permukaan anterior kalkaneus dan
permukaan posterior kuboid.

c) Sendi lain pada kaki

Sendi lain pada kaki diantaranya artikulasio tarsalis lain,


artikulasio tarso metatarsal (artikulasio plana sinovial)
intermetatarsalis (artikulasio plana sinovial)
metatarsophalangeal (sendi kondiloid sinovial) dan interphalang
(sendi glinglimus sinovial)

3) Ligamen

Setiap sendi di kaki didukung oleh daerah menebal dari


kapsul yang sering disebut dengan ligamen. Ligamen pada kaki
terdiri dari :

a) Ligamentum kalkaneonavikulare plantar (spring ligament)


Berjalan dari sustentakulum tali menuju tuberositas
navicular membentuk penyokong untuk caput talus
b) Ligamentum bifurkatum
Berbentuk Y dan berjalan dari bagian anterior
calcaneus menuju os.kuboid dan os.navicular. Ligamen ini
memperkuat kapsula pada artikulasio talo kalkaneonavikulare
c) Ligamentum plantare longum
Berjalan dari permukaan bawah calcaneus menuju
os.kuboid dan basis metetarsal lateralis. Ligamen ini berjalan
diatas tendon m.peroneus longus
d) Ligamentum plantare brevis
Berjalan dari permukaan bawah calcaneus menuju
os.kuboid
e) Ligamentum medial dan lateral
Memperkuat kapsula artikulasio talokalkaneus
f) Ligamentum talokalkaneus interosseum
Berjalan dalam sinus tarsi, suatu terowongan yang
dibentuk oleh sulkus profunda talus dan calcaneus
g) Ligamentum metatarsale transversum profundum
Bergabung dengan ligamentum plantar dari artikulasio
metatarsal phalangeal ke lima jari kaki
4) Arkus pedis
Integritas kaki dipertahankan oleh dua arkus longitudinal
(medial dan lateral) dan satu arkus transfersal. Semua arkus ini
dipersatukan oleh kombinasi faktor faktor tulang, ligamentum dan
muscular sehingga berat badan saat berdiri ditahan oleh bagian
posterior calcaneus dan caput metatarsal akibat integritas arkus
Arkus pedis terdiri dari :
a) Arkus longitudinal medial
Terdiri dari calcaneus, talus (aspek arkus),
os.navicular dan tiga cunieform serta tiga metatarsal medial.
Arkus ini dipersatukan oleh spring ligament, otot otot dan
didukung dari atas oleh m.tibialis anterior dan posterior

b) Arkus longitudinal lateral


Terdiri dari calcaneus, kuboid, dan dua metatarsal
lateralis. Arkus ini dipersatukan olah ligamentum transfersum
profunda, ligamentum plantare, dan m.interosei. Didukung
dari atas oleh m.peroneus longus dan brevis
c) Arkus transfersal
Terdiri dari os.cuneiform dan basis metatarsal. Arkus
ini dipersatukan oleh ligamentum transversum profunda,
ligamentum plantare, dan m.interosei. Didukung dari atas oleh
m.peroneus longus dan brevis
5) Otot dan persarafan dorsum pedis dan telapak kaki
a) Dorsum pedis
Kulit dorsum pedis dipersarafi oleh cabang cabang
cutaneus dari n.fibularis superficial, n.fibularis profunda,
n.safenus dan n.suralis. Arkus v.dorsalis terletak dalam
jaringan subkutan yang terletak diatas caput metatarsal. Arkus
vena ini menerima darah dari sebagian besar jaringan dalam
komunikans. V.safena magna berawal dari ujung medial arkus
dan v.safena parva dari ujung lateralnya
Struktur pada arkus pedis :
(1) Otot : m.ekstensor digitorum brevis keluar dari calcaneus.
Otot-otot yang berinsersi pada dorsum pedis namun
memiliki origo dari tungkai. Yang termasuk otot-otot ini
diantaranya : m.tibialis anterior, m.ekstensor halusis
longus, m.ekstensor digitorum longus, m.peroneus tertius,
dan m.peroneus brevis. Tendon m.ekstensor longus dan
m.peroneus tertius memiliki sinovial yang sama sedangkan
tendon lain memiliki selubung sendiri sendiri
(2) Pasokan darah
Dari a.dorsalis pedis sambungan dari a.tibialis anterior,
a.dorsalis pedis berakhir dengan melewati telapak kaki
dimana arteri ini membentuk arkus plantaris
(3) Persarafan
Dari n.fibularis profunda melalui cabang cabang
terminal medial dan lateral. Cabang lateralnya
mempersarafi m.ekstensor digitorum brevis sedangkan
cabang medial mendapat cabang cutaneus dari kulit
b) Telapak kaki
Telapak kaki digambarkan terdiri dari sebuah
aponeurosis dan empat lapisan otot. Kulit tampak dipersarafi
oleh cabang plantaris medial dan lateral dari n.tibialis. cabang
calcaneus medial dan n.tibialis mempersarafi area sempit pada
aspek medial tumit.
Struktur telapak kaki terdiri dari :
(1) Aponeurosis plantaris
Terletak disebelah dalam fascia superficial pada
telapak kaki dan melapisi lapisan otot pertama. Melekat ke
calcaneus di belakang dan mengirimkan potongan
profunda ke tiap jaringan kaki dan menyatu di superficial
dengan lipatan kulit pada basis jari kaki. Potongan yang
dikirim ke tiap jari kaki membagi menjadi dua bagian ke
tiap tendon fleksor dan menyatu dengan ligamentum
metatarsal transfersum profunda.
(2) Lapisan otot telapak kaki
(a) Lapisan ke-1 terdiri dari : m.abductor halusis,
m.fleksor digitorum brevis, m.abductor digiti minimi
(b) Lapisan ke-2 terdiri dari : m.fleksor digitorum
aksesorius, m.lumbrikalis dan tendon m.fleksor
digitorum longus dan m.fleksor digitorum longus
(c) Lapisan ke-3 terdiri dari : m.fleksor halusis brevis,
m.adductor halusis, m.fleksor digiti minimi brevis
(d) Lapisan ke-4 terdiri dari : m.iteroseri dorsal dan
plantar serta tendon m.peroneus longus dan m.tibialis
posterior
(3) Persarafan dari n.tibialis yang juga terbagi menjadi cabang
plantaris medial dan lateral
6) Calf muscle
Otot gastrocnemius adalah otot yang terletak di bagian
belakang kaki bagian bawah, menjadi salah satu dari otot utama
yang membentuk betis. Otot betis besar lainnya adalah otot soleus
aitu otot dasar yang terletak di bawah gastrocnemius. Otot
gastrocnemius dan soleus menghubungkan bagian belakang dari
lutut sampai tumit . otot gastrocnemius dan soleus bergabung di
tendon Achilles yang merupakan tendon terkuat dan paling tebal
dalam tubuh manusia (Healthline, 2015)
c. Biomekanika telapak kaki

Peran plantar fascia adalah untuk membantu mendukung


lengkungan kaki melalui rangka rangka yang dibentuk oleh kaki
belakang dan kaki depandan ditahan di sepanjang bagian bawah
oleh struktur aponeurotik. Kaki pes planus diperkirakan akan
menerapkan beban yang lebih besar ke plantar fascia dan ini
cocok dengan faktor risiko over-pronation di HPS. (Beeson,
2014)

Indeks massa tubuh yang tinggi (BMI) adalah faktor risiko


yang signifikan kelompok pasien usia lebih dari 40 tahun,
seringkali wanita, individu non atletik, dan risiko ini diperkuat
jika ada peningkatan berat badan aktivitas bantalan, seperti
bekerja menggunakan gunakan alas kaki yang kurang tepat

d. Etiologi
Pasien menderita plantar fasciitis umumnya terjadi karena
36% tidak diketahui penyebabnya, 16% oleh karena kegemukan,
43% oleh karena pekerja yang berdiri yang lebih dari 6 jam sehari
atau berjalan terlalu lama, berdiri yang bila bergerak terjadi
peningkatan tekanan yang besar secara tiba tiba pada telapak kaki
sehingga dapat mengakibatkan stress atau injury pada plantar
fascitisnya, 12% oleh karena berlari, 10% oleh karena perubahan
aktifitas, 5% terjadi karena kecelakaan, 74% oleh karena
overweight, 4% oleh karena sepatu (Subagyo, 2013)
e. Patofisiologi plantar fasciitis

Gambar 2.2 plantar fasciitis (Subagyo, 2013)


Plantar fasciitis merupakan peradangan pada plantar fascia
pada perlekatan apponeurosis plantaris yang terletak di anteromedial
dari tuberositas calcaneus kadang dapat juga terjadi pada bagian
posterior calcaneus. Secara garis besar patologi plantar fasciitis
berawal dari penguluran yang berlebihan (tarikan) dari plantar fascia
nya. Penguluran yang berlebihan dari plantar fascia akan
menyebabkan perubahan pada serabut collagen, dimana akan
menurunkan jarak antara serabut-serabut collagen dan menyebabkan
perubahan gerak yang bebas antar serabut. Menurunnya gerakan
diantara serabut collagen membuat jaringan cenderung menjadi
kurang elastis, sehingga akan terbentuk serabut collagen dengan pola
acak. Disamping itu produksi fibroblast yang berlebih pada fase
produksi akan membentuk jaringan fibrous yang tidak beraturan,
sehingga menciptakan terjadinya abnormal crosslink yang
menyebabkan perlengketan pada jaringan (Sari, 2009)
f. Tanda dan gejala klinis
Manifestasi klinis plantar fasciitis adalah nyeri pada telapak
kaki di daerah inferior tumit Pasien biasanya menggambarkan nyeri
pada tumit saat langkah pertama di pagi hari, dengan gejala
berkurang saat berjalan terus. menjadi sangat parah sehingga pasien
pincang atau berjalan pincang dengan tumit yang sulit atau sakit
ketika menapak.
Laporan awal nyeri tumit mungkin difus atau bermigrasi,
namun seiring waktu biasanya berfokus pada area tuberositas
kalkanealis medial. Umumnya rasa sakit lebih signifikan ketika
melibatkan aktivitas menahan berat badan, dan sering dapat
dikorelasikan dengan peningkatan jumlah atau intensitas aktivitas
fisik sebelum timbulnya gejala. (Nuhmani, 2012)

Gejala plantar fasciitis berkembang pelan pelan dalam


waktu seminggu sampai 2 tahun. Rasa sakit semakin berat dan rasa
semakin berfokus dibawah tumit. Pasien dengan kondisi plantar
fasciitis sering menggambarkan rasa sakit lebih buruk ketika
mereka bangun pagi hari atau setelah mereka duduk untuk jangka
waktu yang lama. Setelah beberapa menit berjalan rasa sakit,
karena berjalan membentangkan fascia nya (Subagyo, 2013)

g. Faktor resiko
Faktor yang menjadi resiko terhadap timbulnya penyakit
plantar fasciitis terbagi menjadi dua, yaitu faktor intrinsik meliputi
usia, obesitas dan terbatas dorsofleksi pergelangan kaki. Faktor
ekstrinsik meliputi berat tubuh kerja yang berkepanjangan,
penggunaan sepatu yang kurang tepat dan aktifitas yang meingkat.
Faktor yang terkait dengan plantar fasciitis adalah obesitas
sampai dengan 70% dari pasien plantar fasciitis. Ada hubungan yang
kuat antara peningkatan Indeks Massa Tubuh (BMI) dan plantar
fasciitis pada populasi non atletik. Obesitas adalah faktor pada pasien
dengan kasus plantar fasciitis. Pada obesitas dimana berat massa
tubuh pada seseorang meningkat akibat beban yang diterima oleh kaki
dan pergelangan kaki yang semakin besar sehingga dapat
mempengaruhi terjadinya suatu tekanan yang kuat pada plantar
fascia. Meningkatnya pembebanan pada kaki juga diikuti dengan
meningkatnya pembebanan pada arkus longitudinal sehingga akan
mempengaruhi plantar fascia mengalami cedera atau inflamasi
(Tahririan, 2012)
Usia terkait perubahan degeneratif hal itu dikarenakan adanya
perubahan muskuloskeletal pada usia lanjut sehingga mengakibatkan
fleksibilitas menurun. Dengan adanya penurunan fleksibilitas jaringan
maka dapat mempengaruhi elastisitas dan kelenturan plantar fascia.
Plantar fascia yang tidak lentur akan mengalami iritasi. Penekanan
berlebih akan menghasilkan tarikan atau peregangan pada insersio
medial tuberositas calcaneus. Hal ini dapat mengakibtkan kegagalan
pada periosteal dan selanjutnya avulse dari periosteum pada
tuberositas calcaneus kemudian avulse tersebut akan diikuti oleh
pengisian kalsium sehingga akan terbentuk calcaneus spur/heel spur,
berdasarkan pengalaman klinis, pekerjaan atau kegiatan yang
membutuhkan berdiri terlalu lama antara lain : guru, pelayan, perawat,
personil militer, dan koki.
Plantar fasciitis juga dapat terjadi pada seseorang yang gemar
atau berprofesi menggunakan sepatu hak tinggi karena adanya
penggunaan secara sering dan terus menerus maka tendon achilles
yankni tendon yang melekat pada tumit akan berkontraksi atau
tegang dan memendek, sehingga dapat menyebabkan terjadinya
inflamasi pada jaringan di sekitar tumit.

Faktor risiko plantar fasciitis termasuk kelainan struktural,


kelebihan berat badan, perubahan degeneratif terkait usia, pekerjaan
yang termasuk dalam kategori ini termasuk guru, pekerja konstruksi,
juru masak, perawat, personil militer, dan pelatihan atlet untuk acara
lari jarak jauh. atau kegiatan yang membutuhkan berdiri lama dan /
atau ambulasi, dan kesalahan latihan (Punia, 2015)

1. Nyeri
a. Definisi nyeri
Menurut The International Association for the Study of Pain
(IASP), nyeri merupakan pengalaman sensoris dan emosional tidak
menyenangkan yang disertai oleh kerusakan jaringan secara potensial
dan aktual. Nyeri sering dilukiskan sebagai suatu yang berbahaya
(noksius, protofatik) atau yang tidak berbahaya (non noksius,
epikritik) misalnya: sentuhan ringan, kehangatan, tekanan ringan.
Definisi tersebut menjelaskan konsep bahwa nyeri adalah hasil
kerusakan struktural, bukan saja tanggapan sensorik dari suatu proses
nosisepsi, tetapi juga merupakan tanggapan emosional (psikologik)
yang didasari atas pengalaman termasuk pengalaman nyeri
sebelumnya. Persepsi nyeri menjadi sangat subjektif tergantung
kondisi emosi dan pengalaman emosional sebelumnya. Toleransi
terhadap nyeri meningkat bersama pengertian, simpati, persaudaraan,
pengetahuan, pemberian analgesik, anisolitik, antidepresan dan
pengurang gejala. Sedangkan toleransi nyeri menurun pada keadaaan
marah, cemas, bosan, kelelahan, depresi, penolakan sosial, isolasi
mental dan keadaan yang tidak menyenangkan.
Nyeri pada dasarnya adalah reaksi fisiologis karena merupakan
reaksi perlindungan untuk menghindari stimulus yang membahayakan
tubuh. Tetapi bila nyeri tetap berlangsung walaupun stimulus
penyebab sudah tidak ada, berarti telah terjadi perubahan
patofisiologis yang justru merugikan tubuh dan membutuhkan terapi.
Nyeri akut dapat dideskripsikan sebagai suatu pengalaman sensori,
persepsi, dan emosional yang tidak nyaman yang berlangsung dari
beberapa detik hingga enam bulan, yang disebabkan oleh kerusakan
jaringan. Nyeri akut biasanya mempunyai awitan yang tiba-tiba dan
umumnya berkaitan dengan cedera spesifik.
Nyeri kronik merupakan nyeri berulang yang menetap dan terus
menerus yang berlangsung selama enam bulan atau lebih. Nyeri kronis
dapat tidak mempunyai awitan yang ditetapkan dengan tepat dan
sering sulit untuk diobati karena biasanya nyeri ini tidak memberikan
respon terhadap pengobatan yang diarahkan pada penyebabnya.
b. Alat ukur nyeri

Pengetahuan tentang nyeri sangat penting untuk menyusun


program penghilangan nyeri pasca pembedahan. Derajat nyeri dapat
diukur dengan macam-macam cara, misalnya tingkah laku pasien,
skala verbal dasar/ Verbal Rating Scales (VRS), dan yang umum
adalah skala analog visual/ Visual Analogue Scales (VAS).

Visual Analog Scale (VAS) adalah ukuran unidimensional


intensitas nyeri yang telah banyak digunakan pada populasi orang
dewasa yang beragam. Rasa sakit Vas adalah skala kontinu terdiri dari
horizontal (HVAS) atau vertikal (VVAS) line, biasanya panjang 10
cm (100 mm).

Untuk menghindari pengelompokan nilai sekitar nilai numerik


disukai, angka atau deskripsi lisan diantara poin tidak dianjurkan.
Pengukuran rasa sakit dengan menggunakan VAS dilakukan sendiri
oleh pasien. Pasien diminta untuk menempatkan garis tegak lurus
terhadap garis VAS pada titik yang mewakili intensitas nyeri mereka.
Menggunakan penggaris, skor ditentukan dengan mengukur jarak
(mm) pada baris 10 cm dan menyediakan berbagai nilai dari 0-100.
Sebuah skor yang lebih tinggi menunjukkan intensitas nyeri lebih
besar yang menggambarkan intensitas nyeri antara lain : tidak ada,
ringan, sedang atau berat. Titik nilai nyeri pada VAS telah di
rekomendasikan : tidak ada nyeri (0-4 mm), nyeri ringan (5-44 mm),
nyeri sedang (45-74 mm), dan sakit parah (75-100 mm) (Hawker,
2011)

Keandalan test-retest reability terbukti baik, tetap lebih tinggi


diantara penglihatan yang normal (r=0,94, P<0,001) dari pasien buta
huruf (r=0,71,P<0,001) sebelum dan sesudah pemeriksaan (Hawker,
2011)

Dengan tidak adanya standar untuk sakit, validitas kriteria


tidak dapat dievaluasi. Untuk validitas konstruk, pada pasien dengan
berbagai penyakit reumatik yang nyeri vas telah terbukti berkolerasi
dengan 5 point skala deskriptif verbal (“nihil”, “ringan”, “moderat”,
“parah”, dan “sangat parah”) dan peringkat numerik skala dengan
pilihan respon dari (“tidak sakit” sampai “sakit tak tertahankan”)
dengan koreasi antara 0,71-0,78 dan 0,62-0,91. Korelasi antara
vertical dan orientasi horizontal dari VAS adalah 0,99 (Hawker, 2011)
Gambar 2.3 Visual Analog Scale (Rustempasic et al, 2014)

c. Mekanisme nyeri plantar fasciitis

Plantar fascia (juga dikenal sebgai approneus plantar) adalah


band tebal jaringan ikat yang berjalan dibawah kaki dari tulang tumit
ke jari kaki, membentuk lengkungan kaki dan berfungsi sebagai
mekanisme bantalan menyerap beban tekanan tubuh. Plantar fascia
terdiri dari serat collagen yang berorientasi pada arah memanjang dari
jari kaki ke tumit (atau dari tumit ke jari kaki). Ada tiga bagian yang
terpisah : komponen medial (paling dekat dengan jempol kaki),
komponen utama, dan komponen lateral (di sisi jari lengkung kaki).
Tidak seperti jaringan otot, plantar fascia tidak sangat elastis dan oleh
karena itu sangat terbatas dalam kapasitasnya meregangkan atau
memanjang. Jika terlalu banyak tarikan pada plantar fascia karena
berbagai faktor maka akan terjadi kerobekan yang mengalami iritasi,
peradangan sehingga timbul nyeri (Anonim, 2004)

Mekanisme nyeri fasciitis plantaris diawali dengan adanya lesi


pada soft tissue disisi tempat perlengketan plantar aponeurosis yang
letaknya dibawah dari tuberositas calcaneus atau pada fascia plantar
bagian medial calcaneus akibat dari penekanan dan penguluran yang
berlebihan. Hal tersebut menimbulkan nyeri pada fascia plantarnya
dan terjadilah fasciitis plantaris (Siburian, 2008).
2. Transverse friction

Gambar 2.4 Transverse friction (Rasal, 2018)


a. Definisi
Transverse friction merupakan suatu teknik manipulasi yang
bertujuan untuk memperbaiki sirkulasi darah, menurunkan rasa nyeri
secara langsung, melepas perlengketan jaringan atau mencegah
pembentukan jaringan abnormal pada jaringan lunak dengan memberi
penekanan secara menyilang dengan ibu jari atau jari telunjuk pada
jaringan lunak yang cedera (Sugijanto, 2006)
Deep transverse friction merupakan sebuah teknik yang
dipopulerkan Dr. James Cyriax untuk kondisi nyeri dan inflamasi
muskuloskeletal (Brosseau dkk., 2009). Deep transverse friction
menggunakan aplikasi gesekan dan tekanan pada kedalaman lesi
tertentu yang dianggap menjadi penyebab rasa nyeri atau penurunan
fungsi yang digunakan untuk mengurangi perlengketan fibrosa yang
abnormal (Cyriax dalam Doley dkk., 2013).
b. Mekanisme penurunan nyeri

Transverse friction akan merangsang serabut afferen Aδ dan C


yang akan memicu pelepasan sistem analgesik endogen sehingga akan
terjadi modulasi nyeri pada level supraspinal sehingga nyeri akan
menurun. Adanya vasodilatasi akibat aplikasi transverse friction maka
akan meningkatkan aliran darah yang mengalami kerusakan sehingga
akan membersihkan area ini dari iritan kimia yang dihasilkan dari
proses radang, menghilangkan jaringan fibrous, melemaskan dan
melepaskan perlengketan pada jaringan lunak sehingga dapat
menyebabkan terjadinya sedative efek yang menurunkan nyeri. Serta
vasodilatasi yang terjadi juga akan meningkatkan transportasi
endogenous opiate (endorphine) sehingga dari proses ini akan
menghasilkan penurunan nyeri.

Transverse friction akan membantu menyesuaikan serabut kolagen


ke arah linear dan akan membebaskan serabut afferen Aδ dan C yang
tertekan oleh jaringan fibrous sehingga nyeri dapat berkurang.
Transvere friction cukup efektif digunakan untuk menghilangkan
jaringan ikat dan cross link (adhesion) pada plantar fascitis maka akan
memprovokasi timbulnya inflamasi baru. Karena inflamasi merupakan
bagian penting dari healing proses maka dicoba untuk meningkatkan
inflamasi ke tahap dimana proses inflamasi telah sempurna dan dapat
ditingkatkan ketahap selanjutnya dari healing proses, dengan
demikian setelah proses penyembuhan selesai maka hasil yang
diharapkan adalah nyeri berkurang pada kondisi fasciitis plantaris.
(Doley dkk., 2013).
c. Metode
Transverse friction diaplikasikan melintang pada jaringan lunak
dengan tekanan tegak lurus dengan jari tidak boleh bergeser dari kulit
sehingga jaringan lunak yang di intervensi dapat dirasakan oleh
fisioterapi. Intensitas: Sampai batas ambang nyeri, durasi 2 menit,
frekuensi 3 kali dalam seminggu dalam satu bulan. Tujuan transverse
friction yaitu untuk memperoleh efek traumatic hyperemia dengan
meningkatkan suplai darah di area otot yang spasme dengan cara
mengurangi nodule dan melemaskan struktur serat otot yang spasme.
Hal ini dapat mempengaruhi efektifitas gerakan dari serat otot seperti
memanjang dan otot akan mudah digerakan kembali sehingga
peredaran darah dan metabolisme disekitar otot tersebut dapat berjalan
lebih lancar dan membuat nyeri pada otot berkurang. (Alamsyah dkk,
2017)
Sebelum trensverse friction harus dilakukan sesuai prosedur
evaluasi yang tepat, yang harus diperhatikan antara lain :
1) friction melibatkan tekanan dari jari-jari terapis yang
diaplikasikan secara melintang ke jaringan yang terlibat. selain
menemukan tempat yang tepat, pijatan juga harus diberikan
secara efektif
2) Lokasi friction yang tepat harus ditemukan melalui prosedur
palpasi tendon, ligamen, atau otot tertentu
3) Transverse friction harus diberikan di seluruh serabut yang
mengalami crosslink
4) Jari terapis dan kulit pasien harus berkontak langsung
5) Transverse friction harus memiliki sapuan yang cukup dalam
6) Pasien harus dalam posisi yang nyaman
7) Pasien akan sedikit mengalami ketidaknyamanan yang
disebabkan oleh tekanan yang cukup dalam selama beberapa
menit, maka dari itu selalu tanyakan kepada pasien dan mulailah
untuk mengurangi tekanan secara lembut. (Rasal, 2018)
3. Active stretching
a. Definisi

Active stretching (peregangan aktif) adalah metode latihan


yang dilakukan pasien sendiri dengan diberitahukan terlebih dahulu
latihannya oleh fisioterapis (Kisner, 2007).

Active stretching adalah suatu metode penguluran atau


stretching yang biasa dilakukan pada otot-otot postural sebagai suatu
latihan fleksibilitas yang dilakukan secara active oleh klien atau
pasien (Evan,2010).

b. Mekanisme penurunan nyeri pada plantar fasciitis


Proses fisiologis active stretching otot plantar flexor ankle
terhadap mekanisme pengurangan nyeri plantar fasciitis dimulai
dengan terlepasnya perlengketan dalam appeneurosus plantaris dan
abnormal crosslink sehingga mengurangi iritasi terhadap serabut saraf
A delta dan tipe C yang menimbulkan nyeri regang serta
meningkatkan sel darah merah sehingga terjadi peningkatan kadar
hemoglobin darah yang mengakibatkan fasilitasi kapasitas darah
dalam membawa oksigen dan peningkatan aliran darah serta
metabolisme lokal. Sehingga akan mempercepat proses perbaikan
jaringan yang rusak akibat plantar fasciitis, serta dapat mempercepat
proses inflamasi menuju perbaikan jaringan. Dengan adanya
peningkatan kelenturan pada tendon maka pada plantar fasciitis
diharapkan fascia plantaris atau apponeurosis plantaris akan lebih
fleksibel sehingga nyeri dapat berkurang (Rica, 2011)
c. Metode
Dalam penerapan prosedur active stretching pasien menunjukkan
suatu kontraksi isotonik dari otot yang mengalami pemendekan,
secara akif otot memanjang. Kontraksi isotonik yang dilakukan saat
active stretching dari otot yang mengalani pemendekan akan
menghasilkan otot memanjang secara maksimal tanpa perlawanan.
Adanya kontraksi isotonik akan membantu menggerakan stretch
reseptor dari spindel otot untuk segera mengulur panjang otot yang
maksimal. Golgi tendon organ akan terlibat dan menghambat
ketegangan otot, bila otot sudah mengulur maksimal sehinga otot
dapat dengan mudah dipanjangkan dan meningkatkan fleksibilitas
otot.
Metode active stretching otot plantar flexor ankle yang digunakan
dalam penelitian ini menggunakan :
a. Latihan calf stretch
Posisi : pasien menghadap dinding, berdiri sekitar dua, tiga kaki
dari tembok, lakukan dorongan dengan tangan responden pada
tembok. Dengan kaki yang sakit dibelakang dan kaki lainnya didepan.
Dorong tembok, jadikan kaki yang didepan sebagai tumpuan,
sementara meregangkan kaki yang belakang, tumit kaki yang
belakang menempel dilantai. Dosis : tahan posisi selama 10 detik,
pengulangan 10 (sepuluh) kali, dan dilakukan 3 (tiga) kali sehari.
Gambar 2.5 Latihan calf stretch (Ordine dkk, 2011)
b. Latihan peregangan dengan counter top
Posisi : pasien menghadap depan dengan memegang counter top.
Letakkan kaki terpisah dengan satu kaki yang lain. Kemudian tekuk
lutut sampai dalam posisi jongkok tahan. Tahan posisi tumit dilantai
selama 10 detik. Dosis : Tahan posisi tumit dan kaki yang meregang
10 detik, kemudian rileks, luruskan kembali. Ulangi 10 (sepuluh) kali.
Lakukan 3 (tiga) kali sehari.

Gambar 2.6 Latihan peregangan dengan counter top (Belis, 2001)


c. Latihan Achilles tendon stretch
Posisi : posisikan ke-2 distal telapak kaki bertumpu pada anak
tangga. Tekan tumit pelan kebawah sampai terprovokasi nyeri
ditelapak kaki. Dosis : tahan posisi 10 (sepuluh) detik, istirahat, ulangi
gerakan 10 kali. Lakukan 3 (tiga) kali sehari.

Gambar 2.7 Latihan Achilles Tendon Stretch (Tumbull, 2017)


4. Pemeriksaan
Untuk mengetahui suatu proses pengumpulan data dengan cara
melakukan tanya jawab kepada subyek penelitian, data yang
diharapkan peneliti, dapat disimpulkan antara lain berupa :
a. Anamnesis
1) Informasi dasar berupa keterangan umum responden seperti
nama, usia, pekerjaan, serta alamat sebagai pendataan awal
2) Letak nyeri plantar fasciitis
3) Onset waktu dari nyeri dan gejala yang ada pada kasus plantar
fasciitis onset gejala cenderung ke arah kronis
4) Kualitas nyeri
b. Inspeksi

Pemeriksaan dengan cara melihat dan mengamati . inspeksi


dinamis cara berjalan pasien karena telapak kaki mengalami nyeri
akibat beban tubuh hanya mampu ditumpu pada ujung telapak kaki
(jinjit). Pada mulanya pasien berjalan jinjit menyebabkan ketegangan
pada otot gastrocnemius (Primanda, 2013)
c. Palpasi
Palpasi adalah cara pemeriksaan dengan cara memegang dan
menekan. Palpasi dilakukan pada plantar fascia dan otot
gastrocnemius sebagai kompensasi nyeri plantar fasciitis sehingga
timbul spasme pada otot tersebut.
d. Quick teset
Quick test atau tes cepat yang dilakukan adalah windlass test.
Windlass test merupakan pengetatan tali atau kabel plantar fascia
mensimulasikan kabel yang melekat pada kalkaneus dan sendi
metatarsophalangeal. Dorsofleksi selama fase proposisi dari gaya
berjalan memutar plantar fasia di sekitar kepala metatarsal. Belitan
plantar fascia ini memperpendek jarak antara calcaneus dan metatarsal
untuk meningkatkan lengkung longitudinal medial. Pemendekan plantar
fascia yang dihasilkan dari hallux dorsiflexion adalah inti dari prinsip
mekanisme windlass

Pemeriksaan dilakukan dengan posisi pasien terlentang dan rileks


dengan kaki terlentang. secara pasif angkat jari kaki pasien saat dia
duduk untuk melihat apakah ini menyebabkan rasa sakit.
Lutut pasien dilenturkan hingga 90 ° saat dalam posisi tidak
bantalan, peneliti menstabilkan pergelangan kaki (dengan satu tangan
ditempatkan tepat di belakang kepala metatarsal pertama) dan
memperpanjang sendi MTP sambil memungkinkan IP untuk melenturkan
(mencegah keterbatasan gerak karena hallucis longus pendek). Tes positif
jika nyeri diprovokasi pada kisaran akhir ekstensi MTP nyeri tumit
direproduksi dengan dorsofleksi pasif jari kaki.
Gambar 2.8 mekanisme windlass test (Physiostation physiotutors)
e. Stretch test

Stretch test dilakukan pada posisi dorsal fleksi ankle, dan hasil
didapat nyeri regang pada fascia plantaris. Palpasi dilakukan didaerah
fascia plantaris diperoleh titik nyeri tekan pada sisi medial atau
lateral dari tuberositas calcaneus (Wolf, 1994).

5. Prognosis nyeri plantar fasciitis


Menurut Wibowo, 2011 pada kebanyakan kasus, nyeri dari
plantar fasciitis ini akan menghilang dengan sendirinya tanpa
pembedahan atau pengobatan invasive lainnya.
Pada pasien dengan PF parah, risiko masih memiliki PF adalah
50,0% setelah 5 tahun, 45,6% setelah 10 tahun, dan 44,0% setelah 15
tahun sejak timbulnya gejala. Pasien wanita dan pasien dengan nyeri
tumit bilateral memiliki risiko signifikan lebih tinggi untuk mengalami
gejala yang berkelanjutan. BMI, usia, waktu dari timbulnya gejala
sampai awal, status merokok, gejala yang disebabkan oleh olahraga,
dan pekerjaan fisik tidak memiliki dampak yang signifikan terhadap
prognosis dalam penelitian ini. Para pasien mencoba, rata-rata, 3,8
perawatan yang berbeda, dan injeksi kortikosteroid yang dipandu AS
adalah pengobatan yang paling sering diterapkan (93%).
Pemeriksaan AS mengungkapkan bahwa hanya 24% dari
pasien tanpa gejala memiliki plantar fascia dengan penampilan
normal. Ketebalan fasia rata-rata menurun dari waktu ke waktu
terlepas dari gejala, dan ketebalan fasia dan adanya taji tumit pada
awal tidak memiliki dampak pada prognosis. (Hansen dkk, 2012)

Adanya radang atau inflamasi pada fasciia plantaris akan


mempengaruhi jaringan spesifik yang terlibat sehingga akan terjadi
tightness pada otot-otot sebagai kompensasi dari nyeri yang terjadi.
Selain itu juga akan terjadi kelemahan pada otot-otot tertentu yang
akan menyebabkan instabilitas sehingga dapat memicu terjadinya
strain. Proses radang juga akan mempengaruhi sistem sirkulasi
dimana akan terjadi mikro sirkulasi yang akan menurunkan suplai gizi
pada jaringan yang mengalami cidera sehingga dapat menyebabkan
penumpukan sisa metabolisme yang dapat mengiritasi jaringan
sehingga timbul nyeri. Iritasi kimiawi pada proses radang juga akan
mempengurahi konduktivitas saraf akibatnya terjadi hipersensitivitas
yang dapat menurunkan nilai ambang rangsang. Pada kasus fasciitis
plantaris sering berkembang menjadi heel spur. Spur pada tulang
berkembang karena fasciia plantaris yang mengalami injuri kemudian
mengalami inflamasi sehingga tumit menerima beban lebih banyak
dan dalam waktu yang lama akan menyebabkan deposit kalsium pada
tumit sehingga menimbulkan tulang tumbuh yang tidak normal
ditumit (Sari dan Irfan, 2009)

Tabel 2.1
Proses assasement fisioterapi

No. Jenis Pemeriksaan Temuan


1. Anamnesis Informasi dasar subyek penelitian, letak
nyeri plantar fascia, onset waktu dari
nyeri/gejala, kualitas nyeri
2. Inspeksi Gait analysis
3. Palpasi Palpasi m.gastrcnemius dan plantar fascia
4. Quick test Windlass test
5. Stretch test Nyeri regang pada fascia plantaris

B. Kerangka konsep
Plantar fasciitis

Faktor eksternal Faktor internal


Obesitas, flat foot, pes Degenerative, Jenis
capus, Tightness Kelamin, profesi
m.gastrocnemius, m.
soleus, Alas kaki
tinggi/high heel

Transverse friction dan Active stretching

Nyeri
Diukur dengan VAS terlalu banyaknya tarikan pada plantar fascia, maka
terjadi kerobekan yang mengalami
iritasi,peradangan sehingga timbul nyeri

Transverse friction Active stretching


Dapat membantu menurunkan Dapat membantu menurunkan
nyeri plantar fasciitis nyeri palantar fasciitis

Skema 2.1 Kerangka Konsep


C. Hipotesis
1. Ada pengaruh pemberian transverse friction terhadap penurunan nyeri pada
plantar fasciitis
2. Ada pengaruh pemberian active stretching terhadap penurunan nyeri pada
plantar fasciitis
3. Ada perbedaan pengaruh pemberian transverse fiction dan active stretching
terhadap penurunan nyeri pada plantar fasciitis