Anda di halaman 1dari 22

PRAKTIKUM PERBANYAKAN TANAMAN

PERBANYAKAN TANAMAN DENGAN ORGAN KHUSUS

EKA ALLISA SHALSABILLA

190301135/AET 3

F A K U L T A S P E R T A N I A N

UNIVERSITAS SUMATERA UTARA

2021
KATA PENGANTAR

Puji dan syukur penulis ucapkan kepada Tuhan Yang Maha Esa, karena atas

berkat dan rahmat-Nya penulis dapat menyelesaikan paper ini tepat pada waktunya.

Adapun judul dari laporan ini adalah “Perbanyakan Tanaman dengan

Organ Khusus” yang merupakan salah satu syarat untuk dapat memenuhi

komponen penilaian pada Labaoratorium Perbanyakan Tanaman Program Studi

Agroteknologi Fakultas Pertanian Universitas Sumatera Utara.

Pada kesempatan ini pula penulis mengucapkan terima kasih kepada

Ir. Irsal, MP ; Antonio Marro Sipayung, SP., M.Agr ; Dr. Ir. Mariati, M.Sc ;

Ir. Rosita Sipayung, MP ; Hafnes Wahyuni, SP., MP ; selaku dosen mata kuliah

Perbanyakan Tanaman yang telah membantu penulis dalam menyelesaikan

laporam praktikum ini.

Penulis menyadari bahwa didalam penulisan laporan ini masih banyak

terdapat kesalahan dan kekurangan. Oleh sebab itu, penulis mengharapkan adanya

masukan kritik dan saran yang bersifat membangun untuk kesempurnaan

penulisan berikutnya.

Akhir kata penulis mengucapkan terima kasih, semoga penulisan ini

bermanfaat bagi pihak yang membutuhkan.

Pekanbaru, Maret 2021

Penulis

i
DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR ........................................................................................... i

DAFTAR ISI ......................................................................................................... ii

PENDAHULUAN
Latar Belakang ............................................................................................ 1
Tujuan Praktikum ........................................................................................ 3
Kegunaan Penulisan .................................................................................... 3

TINJAUAN PUSTAKA

BAHAN DAN METODE


Tempat dan Waktu Praktikum .................................................................... 8
Alat dan Bahan ............................................................................................ 8
Prosedur Praktikum ..................................................................................... 8

HASIL DAN PEMBAHASAN


Hasil .......................................................................................................... 10
Pembahasan ............................................................................................... 14

KESIMPULAN

DAFTAR PUSTAKA

ii
PENDAHULUAN

Latar Belakang

Perbanyakan tanaman merupakan serangkaian kegiatan yang diperlukan

untuk menyediakan materi tanaman baik untuk kegiatan penelitian maupun

program penanaman secara luas. Kegiatan ini dapat dilakukan dengan cara

vegetatif. Dengan penerapan teknik pembiakan vegetatif akan diperoleh bibit yang

memiliki struktur genetik yang sama dengan induknya (Lakitan, 1996).

Tanaman merupakan salah satu organisme yang mampu melakukan

pembiakan guna mempertahankan diri dan memperbanyak diri. Tanaman dapat

melakukan pembiakan dengan cara vegetatif (tanpa perkawinan) dan dapat

melakukannya derngan cara generatif yaitu melalui perkawinan. Pembiakan pada

tanaman pada umumnya dapat terjadi secara alami maupun dengan bantuan

manusia (terutama untuk tanaman-tanaman yang dibudidayakan dan diambil nilai

ekonomi dan artistiknya). Pada pembiakan dengan cara vegetatif biasanya dan

sebagian besar dilakukan oleh manusia agar diperoleh anakan yang sesuai dengan

harapan (Kusumo,1984).

Perbanyakan secara vegetatif merupakan salah satu cara perbanyakan,

yang menjadi alternatif yang banyak dipilih orang karena caranya yang sederhana,

tidak memerlukan teknik yang rumit sehingga dapat dilakukan oleh siapa saja.

Salah satu perbanyakan tanaman secara vegetative yang dipilih adalah stek.

Perbanyakan secara vegetatif adalah cara perkembangbiakan tanaman dengan

menggunakan bagian-bagian tanaman seperti batang, cabang, ranting, pucuk,

daun, umbi, dan akar, untuk menghasilkan tanaman yang baru, sama seperti

induknya. Perbanyakan vegetatif dapat dilakukan dengan cara cangkok, rundukan,


2

kultur jaringan dan stek. Perbanayakan vegetatif ini merupakan cara perbanyakan

vegetatif buatan yaitu yang tidak terjadi secara alami, melainkan dibuat atau

disengaja dengan campur tangan manusia dengan tujuan untuk mendapat tanaman

baru dengan cepat (Redaksi Agro Media, 2007).

Cara pembiakan vegetatif ada yang secara alami dan secara buatan.

Perbanyakan tanaman secara vegetatif alamiah dapat terjadi melalui tunas, umbi,

rizoma, dan geragih (stolon). Perbanyakan tanaman secara vegetatif juga dapat

dilakukan secara buatan yaitu perbanykan tanaman tanpa melalui perkawinan atau

tidak menggunakan biji dari tanaman induk yang terjadi secara buatan dengan

bantuan campur tangan manusia. Pembiakan secara buatan dengan stimulasi akar

dan tunas adventif ialah layerage, cuttage atau setek, penyambungan tanaman, dan

kultur jaringan. Adapun perbanyakan secara vegetatif dilakukan menggunakan

bagian-bagian tanaman seperti cabang, ranting, pucuk, daun, umbi, dan akar.

Prinsipnya adalah merangsang tunas adventif yang ada di bagian-bagian tersebut

agar berkembang menjadi tanaman sempurna yang memiliki akar, batang, dan

daun sekaligus (Setyati, 2002).

Metode yang digunakan untuk perbanyakan secara vegetatif buatan

dengan menggunakan beberapa bagian dari organ tanaman seperti akar, batang,

daun, maupun tunas dengan tujuan agar organ tersebut membentuk akar yang

selanjutnya menjadi tanaman baru yang sempurna dengan akar, batang dan daun

dengan kualitas baik dalam waktu singkat serta memiliki sifat yang serupa dengan

induknya dengan tujuan untuk mengekalkan tanaman unggul dan untuk

memudahkan serta mempercepat perbanyakan tanaman merupakan tujuan dari


3

stek. Jenis tanaman mempunyai kemampuan yang berbeda-beda dalam

pembentukan akar meskipun stek dalam kondisi yang sama (Kusdiyanto, 2012)

Tujuan Praktikum

Adapun tujuan dari laporan ini adalah untuk mengetahui dan memahami

bagaimana cara memperbanyak tanaman secara vegetatif dengan organ khusus.

Kegunaan Penulisan

Adapun kegunaan dari penulisan laporan ini adalah sebagai salah satu

syarat untuk memenuhi komponen penilaian di praktikum Perbanyakan Tanaman

Program Studi Agroteknologi Fakultas Pertanian Universitas Sumatera Utara.


TINJAUAN PUSTAKA

Batang muncul pada permulaan tiap musim tumbuh dari umbi yang

dihasilkan pada tahun sebelumnya, atau dikenal dengan umbi induk. Umbi

kentang merupakan modifikasi batang yang berada di bawah tanah, bukan dari

pembengkakan akar. Tiap “mata” pada umbi kentang adalah tunas batang,

sama dengan tunas yang terdapat pada buku batang. Batang bisa berwarna hijau

hingga keunguan atau campuran bintik dari warna-warna tersebut dan seolah

memiliki “sayap” (mirip benjolan yang tumbuh keluar dari batang)

(Spooner dan Salas, 2006).

Tanaman kentang umumnya diperbanyak melalui umbi, perbanyakan

dengan umbi mempunyai rasio antara 1 : 3 sampai 1 : 15 , artinya satu umbi

kentang dapat menghasilkan 3 sampai 15 umbi. Perbandingan atau rasio ini

dipengaruhi oleh beberapa hal yaitu varietas, cara bertanam dan perlakuan pada

umbi (Singh et al. 2012).

Teknik perbanyakan tanaman ubi jalar yang sering dipraktekan adalah

dengan stek batang atau stek pucuk. Perbanyakan tanaman dengan stek batang

atau stek pucuk secara terus-menerus mempunyai kecenderungan penurunan hasil

pada generasi-generasi berikutnya. Oleh karena itu, setelah 3-5 generasi

perbanyakan harus diperbaharui dengan cara menanam atau menunaskan umbi

untuk bahan perbanyakan (Tim Penulis MIG Corp, 2010).

Umbi bawang merah merupakan umbi lapis, jika ditinjau dari asalnya

merupakan hasil metamorphosis batang beserta daunnya disebut umbi lapis karena

memperlihatkan susunan berlapis-lapis, yang terdiri atas daun-daun yang telah

menjadi tebal, lunak, dan berdaging, merupakan bagian umbi yang menyimpan
5

zat-zat makanan cadangan, sedangkan batangnya hanya merupakan bagian kecil

pada bagian bawah umbi lapis itu. Bagian-bagian dari umbi lapis adalah sebagai

berikut: 1. Subang atau Cakram (discus). Bagian ini merupakan batang yang

sesungguhnya, tetapi hanya kecil dengan ruas-ruas yang sangat pendek,

mempunyai bentuk seperti cakram, dan terdapat kuncup - kuncup. 2. Sisik-sisik

(tunica atau squama). Yaitu bagian yang merupakan metamorfosis daun yang

menjadi tebal, lunak, dan berdaging, dan tempat menyimpan zat-zat makanan

cadangan. 3. Kuncup (gemmae). Kuncup ini dapat dibedakan dalam: - Kuncup

Pokok (gemma bulbi), merupakan kuncup ujung yang terdapat pada bagian atas

cakram yang tumbuh ke atas mendukung daun-daun serta bunga. - Kuncup

Samping, merupakan umbi lapis kecil-kecil, berkelompok di sekitar umbi

induknya. Bagian ini disebut siung (bulbus) atau anak umbi lapis

(Nursaptia, 2015).

Faktor internal yang mempengaruhi pertumbuhan umbi adalah laju dan

kuantitas fotosintat yang dipasok dari tanaman. Pertumbuhan umbi akan terhenti

jika tajuk tanaman mati, karena pasokan fotosintat untuk menopang pertumbuhan

umbi terhenti. Laju pertambahan berat umbi lebih ditentukan oleh fotosintat yang

dihasilkan selama periode perkembangan umbi yang bersangkutan, sedangkan

asimilat yang disintesis sebelum inisiasi umbi yang disimpan pada batang hanya

memberikan kontribusi sekitar 10% (Lakitan, 1996).

Rimpang merupakan modifikasi dari batang. Rimpang biasanya dimiliki

oleh tumbuh-tumbuhan dari kelas Dicotyledoneae. Rimpang sesungguhnya adalah

batang sejati yang merambat di dalam tanah, karena merupakan modifikasi dari
6

batang, sifat-sifat batang juga nampak pada rimpang, seperti berbentuk bulat,

mendukung daun-daun, dan tumbuh menjauhi pusat bumi (Rosanti, 2013).

Umumnya tanaman jahe diperbanyak dengan cara vegetatif dengan

menggunakan potongan rimpang dengan beberapa mata tunas. Perbanyakan

dengan cara vegetatif ini memerlukan waktu yang lama untuk mendapatkan bakal

bibit yang bermutu dari rimpang yang sehat (umur 10-12 bulan), serta

memerlukan bahan tanam yang lebih banyak (2,5-7 cm/bibit). Selain itu

perbanyakan secara vegetatif ini menyebabkan tanaman mudah terinfeksi

penyakit, seperti penyakit layu bakteri (bacterial wilt) yang disebabkan oleh

Pseudomonas solanacearum. Lebih dari 200 spesies tanaman menjadi inang dari

P. Solanacearum, sehingga sulit dikendalikan. Dengan demikian, sangat penting

dilakukan upaya-upaya untuk mendapatkan bibit yang berasal dari rimpang yang

bebas penyakit layu bakteri. Dengan adanya diseases-free rhizome ini,

penyimpanan rimpang akan lebih tahan lama dan bibit yang dihasilkan terhindar

dari serangan penyakit (Weiss, 1997).

Pertumbuhan tanaman lengkuas tersebut di pengaruhi oleh air, unsur hara,

kelembaban, cahaya matahari, udara, jenis tanah, suhu, hormon pertumbuhan, dll.

Pertumbuhan tanaman lengkuas ± 2 bln di amati pertumbuhannya tinggi batang

setiap 10 hari sekali. pada 10 hari pertama tinggi batang lengkuas 3 cm. Pada

lengkuas berumur 20 hari tinggi batangnya 8 cm. Pada lengkuas berumur 30 hari

tinggi batangnya 15 cm. pada lengkuas berumur 40 hari tinggi batangnya 23 cm.

Pada lengkuas berumur 50 hari tinggi batangnya 30 cm. Pada lengkuas berumur

60 hari tinggi batangnya 36 cm. Pembiakan. Pembiakan herba ini adalah dengan
7

cara belahan rumpun. Rumpun berizom ini ditanam terus ke tanah. Tanah yang

sesuai ialah tanah yang lembap sedikit tetapi bersaliran baik. Herba ini tidak

memerlukan jagaan yang rapi. Pekebun hanya perlu membersihkan pangkalnya

dan membuang batang yang kering. Selain itu mengembangbiakkan tanaman ini

dapat dilakukan juga dengan potongan rimpang yang sudah memiliki mata tunas.

Selain itu dapat pula dengan memisahkan sebagian rumpun anakan.

Pemeliharaannya mudah, seperti tanaman lain dibutuhkan cukup air dengan

penyiraman atau menjaga kelembaban tanah dan pemupukan. Terutama pupuk

dasar (Afriastini, J.J, 2005)


BAHAN DAN METODE

Tempat dan waktu Praktikum

Adapun praktikum ini dilaksanakan pada hari Senin, 29 Maret 2021, pada

pukul 08.00 sampai dengan selesai yang dilaksanakan secara daring sesuai dengan

daerah pengamatan praktikum mahasiswa/i, lokasi perlakuan praktikum di Jl.

Kapau sari IX, Kelurahan Tangkerang Timur, Kecamatan Tenayan Raya, Kota

Pekanbaru, Provinsi Riau pada ketinggian ± 12 mdpl.

Alat dan Bahan

Adapun alat yang digunakan dalam praktikum ini adalah laptop sebagai

alat dalam mengerjakan laporan dan juga melakukan praktikum online, aplikasi

Microsoft Word untuk mengetik laporan, email untuk pengiriman laporan ke

dosen , kertas sebagai media dalam mencatat hal-hal yang ditentukan, polybag 3

kg sebagai tempat tumbuhnya tanaman, pisau sebagai alat untuk memotong,

handphone sebagai alat untuk mendokumentasikan kegiatan praktikum.

Adapun bahan yang digunakan dalam praktikum ini adalah jahe, bawang

merah, lengkuas, kentang, ubi jalar sebagai objek pengamatan, topsoil sebagai

media tanam, literatur sebagai sumber bacaan, Air berfungsi untuk menyiram

tanaman.

Prosedur Praktikum

A. Komoditi Jahe

• Dipersiapkan alat dan bahan

• Di buat lubang untuk tempat jahe di letakkan

• Di benamkan jahe ke dalam polybag

• Di tutup lubang dengan tanah sampai tidak ada bagian jahe yang nampak
9

B. Komoditi Lengkuas

• Dipersiapkan alat dan bahan

• Di buat lubang untuk tempat lengkuas di letakkan

• Di benamkan lengkuas ke dalam polybag.

• Di tutup lubang dengan tanah sampai tidak ada bagian lengkuas yang

nampak

C. Komoditi Kentang

• Dipersiapkan alat dan bahan

• Di buat lubang untuk tempat kentang di letakkan

• Di benamkan kentang ke dalam polybag

• Di tutup lubang dengan tanah sampai tidak ada bagian kentang yang

nampak

D. Komoditi Ubi Jalar

• Dipersiapkan alat dan bahan

• Di buat lubang untuk tempat ubi jalar di letakkan

• Di benamkan ubi jalar ke dalam polybag

• Di tutup lubang dengan tanah sampai tidak ada bagian ubi jalar yang

nampak

E. Komoditi Bawang Merah

• Dipersiapkan alat dan bahan

• Di potong sedikit bagian pucuk bawang merah

• Di benamkan jahe ke dalam polybag

• Di tutup lubang dengan tanah


HASIL DAN PEMBAHASAN

Hasil

Dipersiapkan media tanam

A. Komoditi Jahe

• Dipersiapkan alat dan bahan

• Di buat lubang untuk tempat jahe di letakkan

• Di benamkan jahe ke dalam polybag

• Di tutup lubang dengan tanah sampai tidak ada bagian jahe yang nampak
11

B. Komoditi Lengkuas

• Dipersiapkan alat dan bahan

• Di buat lubang untuk tempat lengkuas di letakkan

• Di benamkan lengkuas ke dalam polybag.

• Di tutup lubang dengan tanah sampai tidak ada bagian lengkuas yang

nampak

Komoditi Kentang

• Dipersiapkan alat dan bahan


12

• Di buat lubang untuk tempat kentang di letakkan

• Di benamkan kentang ke dalam polybag

• Di tutup lubang dengan tanah sampai tidak ada bagian kentang yang

nampak

C. Komoditi Ubi Jalar

• Dipersiapkan alat dan bahan

• Di buat lubang untuk tempat ubi jalar di letakkan


13

• Di benamkan ubi jalar ke dalam polybag

• Di tutup lubang dengan tanah sampai tidak ada bagian ubi jalar yang

Nampak

E. Komoditi Bawang Merah

• Dipersiapkan alat dan bahan

• Di potong sedikit bagian pucuk bawang merah

• Di benamkan bawang merah ke dalam polybag


14

• Di tutup lubang dengan tanah

Titik kordinat lokasi tanaman.

Pembahasan

Umbi kentang merupakan modifikasi dari batang dan bukan dari

pembengkakan akar. Hal ini sesuai dengan literatur Spooner dan Salas (2006)

yang menyatakan bahwa Batang muncul pada permulaan tiap musim tumbuh dari

umbi yang dihasilkan pada tahun sebelumnya, atau dikenal dengan umbi induk.

Umbi kentang merupakan modifikasi batang yang berada di bawah tanah, bukan

dari pembengkakan akar. Tiap “mata” pada umbi kentang adalah tunas batang,

sama dengan tunas yang terdapat pada buku batang.

Tanaman kentang biasanya diperbanyak melalui umbi. Hal ini sesuai


15

dengan literatur Singh et al (2012) yang menyatakan bahwa Tanaman kentang

umumnya diperbanyak melalui umbi, perbanyakan dengan umbi mempunyai rasio

antara 1 : 3 sampai 1 : 15 , artinya satu umbi kentang dapat menghasilkan 3

sampai 15 umbi. Perbandingan atau rasio ini dipengaruhi oleh beberapa hal yaitu

varietas, cara bertanam dan perlakuan pada umbi.

Perbanyakan ubi rambat yang baik adalah dengan menggunakan umbi. Hal

ini sesuai dengan literatur Tim penulis MIG Corp (2010) yang menyatakan bahwa

teknik perbanyakan tanaman ubi jalar yang sering dipraktekan adalah dengan stek

batang atau stek pucuk. Perbanyakan tanaman dengan stek batang atau stek pucuk

secara terus-menerus mempunyai kecenderungan penurunan hasil pada generasi-

generasi berikutnya. Oleh karena itu, setelah 3-5 generasi perbanyakan harus

diperbaharui dengan cara menanam atau menunaskan umbi untuk bahan

perbanyakan.

Bawang merah dapat diperbanyak secara vegetatif alami yaitu umbi lapis.

Hal ini sesuai dengan literatur Nursaptia (2015) yang menyatakan bahwa umbi

bawang merah merupakan umbi lapis, jika ditinjau dari asalnya merupakan hasil

metamorphosis batang beserta daunnya disebut umbi lapis karena memperlihatkan

susunan berlapis-lapis, yang terdiri atas daun-daun yang telah menjadi tebal,

lunak, dan berdaging, merupakan bagian umbi yang menyimpan zat-zat makanan

cadangan, sedangkan batangnya hanya merupakan bagian kecil pada bagian

bawah umbi lapis itu.

Faktor dalam yang mempengaruhi pertumbuhan umbi adalah laju

dan kuantitas fotosintat. Hal ini sesuai dengan literatur Lakitan (1996) yang
16

menyatakaan bahwa faktor internal yang mempengaruhi pertumbuhan umbi

adalah laju dan kuantitas fotosintat yang dipasok dari tanaman. Pertumbuhan

umbi akan terhenti jika tajuk tanaman mati, karena pasokan fotosintat untuk

menopang pertumbuhan umbi terhenti. Laju pertambahan berat umbi lebih

ditentukan oleh fotosintat yang dihasilkan selama periode perkembangan umbi

yang bersangkutan, sedangkan asimilat yang disintesis sebelum inisiasi umbi yang

disimpan pada batang hanya memberikan kontribusi sekitar 10%.

Rimpang merupakan organ khusus yang berasal dari modifikasi batang.

Hal ini sesuai dengan literatur Rosanti (2013) yang menyatakan bahwa Rimpang

merupakan modifikasi dari batang. Rimpang biasanya dimiliki oleh tumbuh-

tumbuhan dari kelas Dicotyledoneae. Rimpang sesungguhnya adalah batang sejati

yang merambat di dalam tanah, karena merupakan modifikasi dari batang, sifat-

sifat batang juga nampak pada rimpang, seperti berbentuk bulat, mendukung

daun-daun, dan tumbuh menjauhi pusat bumi.

Jahe biasanya diperbanyak dengan menggunakan rimpang. Hal ini sesuai

dengan literatur Weiss (1997) yang menyatakan bahwa umumnya tanaman jahe

diperbanyak dengan cara vegetatif dengan menggunakan potongan rimpang

dengan beberapa mata tunas. Perbanyakan dengan cara vegetatif ini memerlukan

waktu yang lama untuk mendapatkan bakal bibit yang bermutu dari rimpang yang

sehat (umur 10-12 bulan), serta memerlukan bahan tanam yang lebih banyak (2,5-

7 cm/bibit).

Lengkuas dapat diperbanyak dengan rimpang yang sudah memiliki mata

tunas. Hal ini sesuai dengan literatur Afriastini, J.J (2005) yang menyatakan
17

bahwa pertumbuhan tanaman lengkuas tersebut di pengaruhi oleh air, unsur hara,

kelembaban, cahaya matahari, udara, jenis tanah, suhu, hormon pertumbuhan, dll.

Pertumbuhan tanaman lengkuas ± 2 bln di amati pertumbuhannya tinggi batang

setiap 10 hari sekali. pada 10 hari pertama tinggi batang lengkuas 3 cm. Pada

lengkuas berumur 20 hari tinggi batangnya 8 cm. Pada lengkuas berumur 30 hari

tinggi batangnya 15 cm. pada lengkuas berumur 40 hari tinggi batangnya 23 cm.

Pada lengkuas berumur 50 hari tinggi batangnya 30 cm. Pada lengkuas berumur

60 hari tinggi batangnya 36 cm. Pembiakan. Pembiakan herba ini adalah dengan

cara belahan rumpun. Rumpun berizom ini ditanam terus ke tanah. Tanah yang

sesuai ialah tanah yang lembap sedikit tetapi bersaliran baik. Herba ini tidak

memerlukan jagaan yang rapi. Pekebun hanya perlu membersihkan pangkalnya

dan membuang batang yang kering. Selain itu mengembangbiakkan tanaman ini

dapat dilakukan juga dengan potongan rimpang yang sudah memiliki mata tunas.
KESIMPULAN

1. Umbi kentang merupakan modifikasi dari batang dan bukan dari

pembengkakan akar.

2. Tanaman kentang biasanya diperbanyak melalui umbi.

3. Perbanyakan ubi rambat yang baik adalah dengan menggunakan umbi.

4. Bawang merah dapat diperbanyak secara vegetatif alami yaitu umbi lapis.

5. Faktor dalam yang mempengaruhi pertumbuhan umbi adalah laju

dan kuantitas fotosintat.

6. Rimpang merupakan organ khusus yang berasal dari modifikasi batang.

7. Jahe biasanya diperbanyak dengan menggunakan rimpang.

8. Lengkuas dapat diperbanyak dengan rimpang yang sudah memiliki mata

tunas.
DAFTAR PUSTAKA

Afriastini, J.J. 2005. Bertanam lengkuas. Penebar Swadaya. Jakarta.

AgroMedia, Redaksi. 2007. Kunci Sukses Memperbanyak Tanaman. Jakarta


Selatan : Agromedia Pustaka

Kusdiyanto, W.B. 2012.Efektivitas Konsentrasi IBA (Indole Butyric Acid) dan


Lama Perendaman terhadap Pertumbuhan Stek Jeruk Nipis (Citrus
aurantifolia). Skripsi. Makassar: Fakultas Pertanian Universitas Sebelas
Maret, 2012.

Kusumo, S. 1984. Zat Pengatur Tumbuh Tanaman. CV Yasaguna, Jakarta

Lakitan, B. 1996. Fisiologi Pertumbuhan dan Perkembangan Tanaman. PT Raja


Grafindo Persada. Jakarta.

Nursaptia, Asmara. 2015. Morfologi tumbuhan. Erlangga. Jakarta

Rosanti, Dewi., 2013. Bawang Merah. CV. Yasaguna. Jakarta

Setyati, Sri. (2002). Pengantar Agronomi. PT. Gramedia Pustaka Utama. Jakarta.

Singh P.A., Bhadauria S., Vamil R., and Sharma. (2012). Comparative study of
potato cultivation through micropropagation and conventional farming
methods. African J. of Biotech 11 (48) 10882 – 10887

Spooner, D. M. dan A. Salas. 2006. Structure, Byosistematics, and Genetic


Resources, dalam J. Gopal dan S. M. P. Khurana (Ed.) Handbook of
Potato Production, Improvement, and Postharvest Management. The
Haworth Press, Inc. New York.

Tim Penulis MIG Corp. 2010. Ubi Jalar / Ketela Rambat (Ipomoea batatas).
Kantor Deputi Menegristek Bidang Pendayagunaan dan Pemasyarakatan
Ilmu Pengetahuan dan Teknologi MIG Crop.

Weiss, E.A, 1997. Essential Oil Crops. CAB International, United Kingdom:
Wallingford Oxon.