Anda di halaman 1dari 22

PRAKTIKUM PERBANYAKAN TANAMAN

PERBANYAKAN TANAMAN DENGAN CARA STEK DAUN DAN STEK

AKAR

EKA ALLISA SHALSABILLA

190301135/AET 3

F A K U L T A S P E R T A N I A N

UNIVERSITAS SUMATERA UTARA

2021
KATA PENGANTAR

Puji dan syukur penulis ucapkan kepada Tuhan Yang Maha Esa, karena atas

berkat dan rahmat-Nya penulis dapat menyelesaikan paper ini tepat pada waktunya.

Adapun judul dari laporan ini adalah “Perbanyakan Tanaman dengan

Cara Stek Daun dan Stek Akar” yang merupakan salah satu syarat untuk dapat

memenuhi komponen penilaian pada Labaoratorium Perbanyakan Tanaman

Program Studi Agroteknologi Fakultas Pertanian Universitas Sumatera Utara.

Pada kesempatan ini pula penulis mengucapkan terima kasih kepada

Ir. Irsal, MP ; Antonio Marro Sipayung, SP., M.Agr ; Dr. Ir. Mariati, M.Sc ;

Ir. Rosita Sipayung, MP ; Hafnes Wahyuni, SP., MP ; selaku dosen mata kuliah

Perbanyakan Tanaman yang telah membantu penulis dalam menyelesaikan

laporam praktikum ini.

Penulis menyadari bahwa didalam penulisan laporan ini masih banyak

terdapat kesalahan dan kekurangan. Oleh sebab itu, penulis mengharapkan adanya

masukan kritik dan saran yang bersifat membangun untuk kesempurnaan

penulisan berikutnya.

Akhir kata penulis mengucapkan terima kasih, semoga penulisan ini

bermanfaat bagi pihak yang membutuhkan.

Pekanbaru, Maret 2021

Penulis

i
DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR ........................................................................................... i

DAFTAR ISI ......................................................................................................... ii

PENDAHULUAN
Latar Belakang ............................................................................................ 1
Tujuan Praktikum ........................................................................................ 2
Kegunaan Penulisan .................................................................................... 3

TINJAUAN PUSTAKA

BAHAN DAN METODE


Tempat dan Waktu Praktikum .................................................................... 8
Alat dan Bahan ............................................................................................ 8
Prosedur Praktikum ..................................................................................... 8

HASIL DAN PEMBAHASAN


Hasil .......................................................................................................... 11
Pembahasan ............................................................................................... 15

KESIMPULAN

DAFTAR PUSTAKA

ii
PENDAHULUAN

Latar Belakang

Tanaman merupakan mata rantai utama dalam kehidupan manusia.

Kehidupan tidak akan berlangsung tanpa adanya tanaman. Jika dibudidayakan

dengan benar, tanaman akan bermanfaat bagi manusia, sehingga dapat

dimanfaatkan untuk sumber kebutuhan manusia, misalnya sebagai sumber

makanan, obat-obatan dan penyedia udara segar. Tanaman juga berfungsi

menahan penguapan air, sebagai hiasan rumah, atau bahan utama pembuatan

rumah tinggal.(Riyanto, 2008).

Tanaman merupakan salah satu organisme yang mampu melakukan

pembiakan guna mempertahankan diri dan memperbanyak diri. Tanaman dapat

melakukan pembiakan dengan cara vegetatif (tanpa perkawinan) dan dapat

melakukannya derngan cara generatif yaitu melalui perkawinan. Pembiakan pada

tanaman pada umumnya dapat terjadi secara alami maupun dengan bantuan

manusia (terutama untuk tanaman-tanaman yang dibudidayakan dan diambil nilai

ekonomi dan artistiknya). Pada pembiakan dengan cara vegetatif biasanya dan

sebagian besar dilakukan oleh manusia agar diperoleh anakan yang sesuai dengan

harapan (Kusumo,1984)..

Sejak revolusi pertanian, perkembangan pertanian terus mengalami

peningkatan. Manusia yang lebih modern mulai mengembangkan teknik

perbanyakan tanaman yang dipelajarinya dari kejadian-kejadian alam, seperti

setek, cangkok, okulasi dan merunduk. Sejak perkembangan ilmu pengetahuan

mulai maju, ditemukan teknik pebanyakan tanaman yang lebih modern seperti

teknik kultur jaringan. Melalui teknik kultur jaringan bagian tanaman yg kecil bisa
2

menghasilkan tanaman baru dalam jumlah besar hingga mencapai ribuan

(Lakitan, 1996).

Perbanyakan tanaman dengan stek merupakan salah satu cara terbaik

untuk jenis tanaman berumur panjang (tahunan) seperti tanaman buah-buahan.

Stek mempercepat diperolehnya tanaman baru yang mempunyai sifat sama

dengan induk. Bahan untuk membuat stek hanya sedikit tetapi akan dapat

diperoleh bibit tanaman dalam jumlah banyak. . Salah satu jenis stek adalah stek

daun yang biasanya diterapkan pada tanaman hias sukulencontohnya cocor bebek,

lidah mertua, begonia dan lain-lain (Samekto,1995).

Menyetek merupakan salah satu cara pembiakan vegetatif buatan yang

memperlakukan beberapa bagian dari tanaman seperti akar, batang, daun dan

tunas dengan maksud agar organ-organ tersebut membentuk akar yang selanjutnya

menjadi 2 tanaman baru yang sempurna. Menyetek bertujuan untuk mendapatkan

tanaman yang sempurna dengan akar, batang dan daun dalam waktu relative

singkat serta memiliki sifat yang serupa dengan induknya, serta dipergunakan

untuk mengekalkan klon tanaman unggul dan juga untuk memudahkan serta

mempercepat perbanyakan tanaman. Setiap jenis tanaman mempunyai

kemampuan yang berbeda-beda dalam pembentukan akar meskipun setek dalam

kondisi yang sama (Nugroho 1992).

Tujuan Praktikum

Adapun tujuan dari laporan ini adalah untuk mengetahui dan memahami

bagaimana cara memperbanyak tanaman secara vegetatif dengan stek daun dan

stek akar.
3

Kegunaan Penulisan

Adapun kegunaan dari penulisan laporan ini adalah sebagai salah satu

syarat untuk memenuhi komponen penilaian di praktikum Perbanyakan Tanaman

Program Studi Agroteknologi Fakultas Pertanian Universitas Sumatera Utara.


TINJAUAN PUSTAKA

Puring (Codiaeum variegatum) atau disebut juga croton termasuk keluarga

euphorbiaceae. Tanaman ini sangat banyak jenisnya, diduga diseluruh Asia dan

Pasifik jenis puring mencapai sekitar 1600 varietas. Di alam bebas puring tumbuh

di Amerika selatan, Asia selatan, Indonesia, pulau Pasifik dan kepulauan fiji.

Sebenarnya tanaman puring telah lama dikenal oleh masyarakat Indonesia. Di

Indonesia, tanaman yang memiliki daun dengan banyak corak warna ini ditanam

sebagai penghias taman, untuk pagar, atau sebagai tanaman peneduh di makam-

makam. Tapi keberadaan puring sempat di abaikan dan tidak bernilai ekonomis

oleh sebagian besar masyarakat. Pada awal 2007 puring mulai naik daun sebagai

tanaman hias eksotik yang diburu. Saat ini puring menjadi salah satu tanaman hias

yang diminati. Harga puring menjadi mahal, misalnya puring jengkol dan puring

kura yang harganya mencapai 100 ribu rupiah untuk ukuran 20 cm

(Chandra,2007).

Merawat puring tidak terlalu sulit, begitu juga cara perbanyakan puring

juga mudah dilakukan. Salah satu cara memperbanyak tanaman ini adalah dengan

cara perbanyakan vegetatif, kelebihan dari perbanyakan vegetatif adalah sifat

sama dengan induknya, sifat ini meliputi ketahanan terhadap serangan penyakit,

rasa, keindahan bunga, dan sebagainya. Stek merupakan salah satu cara

perbanyakan tanaman dengan cara vegetatif. Yang dimaksud dengan stek adalah

suatu perlakuan pemisahan, pemotongan beberapa bagian tanaman (akar, batang,

daun dan tunas) dengan tujuan agar bagian-bagian itu membentuk akar. Kelebihan

stek dari perbanyakanvegetatif lainnya adalah dengan kekuatannya sendiri akan

menumbuhkan akar dan daun sampai menjadi tanaman. sempurna dan mampu
5

menghasilkan bunga dan buah. Cara stek banyak dipilih orang, apalagi untuk

pengebun buah- buahan dan tanaman hias. Alasannya, karena bahan untuk

membuat stek ini hanya sedikit, tapi dapat diperoleh jumlah bibit tanaman dalam

jumlah yang banyak. Selain itu kita juga dapat memperoleh tanaman yang

sempurna yaitu tanaman telah mempunyai akar, batang dan daun dalam kurun

waktu yang relatif singkat (Widianto, 1994).

Tanaman lidah buaya (Aloe vera) merupakan tanaman asli Afrika, yang

termasuk golongan Liliaceae. Berkembangnya ilmu pengetahuan dan teknologi

sekarang ini, memperluas pemanfaatan khasiat lidah buaya. Pemanfaatan lidah

buaya kini tidak hanya terbatas pada tanaman hias saja tetapi juga sebagai obat

dan bahan baku pada industri kosmetika. Lidah buaya digunakan sebagai bahan

obat sejak ribuan tahun yang lalu untuk mengobati luka bakar, rambut rontok,

infeksi kulit, peradangan sinus, dan rasa nyeri pada saluran cerna. Beberapa

peneliti terdahulu telah membuktikan bahwa tanaman lidah buaya berkhasiat

sebagai antiinflamasi, antipiretik, antijamur, antioksidan, antiseptik, antimikroba,

serta antivirus ( Hariana, 2008).

Pada dasarnya, jeruk purut dapat diperbanyak secara generatif dengan biji.

Namun, tanaman yang berasal dari biji selalu memberikan keturunan yang

berbeda dengan induknya (segregasi), sehingga cara perbanyakan ini umumnya

hanya dilakukan dalam skala penelitian untuk menghasilkan varietas baru

(Rukmana, 2003).

Salah satu permasalahan yang dihadapi dalam budidaya jeruk purut adalah

kurang tersedianya bibit jeruk purut. Alternatif yang dapat digunakan untuk
6

masalah tersebut ialah menggunakan bibit dari perbanyakan vegetatif yaitu setek.

Setek (cutting) atau potongan adalah menumbuhkan bagian atau potongan

tanaman, sehingga menjadi tanaman baru. Keuntungan bibit dari setek adalah : 1)

tanaman buah-buahan tersebut akan mempunyai sifat yang sama persis dengan

induknya, terutama dalam hal bentuk buah, ukuran, warna, dan rasanya, 2)

tanaman asal setek ini bisa ditanam pada tempat yang permukaan air tanahnya

dangkal, karena tanaman asal setek tidak mempunyai akar tunggang, 3)

perbanyakan tanaman buah dengan setek merupakan cara perbanyakan yang

praktis dan mudah dilakukan, 4) setek dapat dikerjakan dengan cepat, murah,

mudah, dan tidak memerlukan teknik khusus seperti pada cara cangkok dan

okulasi (Prastowo et al., 2006).

Stek daun merupakan teknik baru dalam budidaya jeruk khususnya untuk

penyediaan batang bawah yang dapat diusahakan dalam jumlah besar, karena

dalam satu ranting memiliki banyak daun yang artinya akan banyak menyediakan

bahan tanaman. Selain itu stek daun merupakan alternatif dalam pemanfaatan

limbah jeruk tanaman batang bawah yang telah dilakukan penyambungan atau

okulasi (Samekto, 1995).

Metode stek daun juga memiliki kekurangan yaitu stek mudah busuk dan

pada kondisi tertentu sulit untuk berakar. Permasalahan ini dapat diatasi dengan

menggunakan zat pengatur tumbuh (ZPT) pada bahan stek. Penggunaan ZPT

berfungsi untuk menstimulasi pertumbuhan akar dan tunas pada. Salah satu ZPT

yang dapat digunakan untuk mempercepat pertumbuhan akar adalah Rootone-F.

Rootone-F merupakan ZPT yang mengandung beberapa bahan aktif senyawa


7

auksin seperti NAA dan IBA yang berfungsi dalam mempercepat pertumbuhan

akar (Payung dan Susilawati, 2014).

Akar dan tunas baru pada stek daun berasal dari jaringan meristem primer

atau meristem skunder. Masalah pada stek daun umumnya adalah pembentukan

tunas-tunas adventif, bukan akar adventif. Pembentukan akar adventif pada daun

lebih mudah di banding pembentukan tunas-tunas adventif. Secara teknis stek

daun dilakukan dengan cara memotong daun dengan panjan 7,5-10 cm atau

memotong daun beserta petiolnya kemudian ditanam pada media (Nugroho 1992).

Pembudidayaan jambu biji dapat dilakukan dengan dua cara, yaitu dengan

menggunakan biji atau benih dan dengan cara stek. Namun, dalam proses

pembudidayaan jambu biji yang berasal dari benih masih menemui hambatan,

yaitu musim berbuah dan berbunga lebat tidak terjadi setiap tahun tetapi bervariasi

antara 2-4 tahun dan rentan terhadap hama penyakit. Salah satu upaya untuk

meningkatkan produksi jambu biji melalui stek akar (Huik, 2004).

Umunya bahan stek akar yang diambil adalah akar sekunder yang terbuka

dan telah menumbuhkan tunas baru serta potongan akar sekunder. Cara yang

dilakukan adalah dengan menggali dan memotong bagian akar sekunder. Apabila

bahan stek yang diambil berasal dari bagian akar yang telah menumbuhkan tunas

yaitu dengan cara menggali tanah sekitar tegakan,setelah terubusan akar terlihat

baru dilakukan pemotongan bagian akar dengan menyisakan sebagian akar dan

sebagian akar, sehingga berbentuk stump yang siap ditanam dalam polybag

(Nugroho, 1992).
BAHAN DAN METODE

Tempat dan waktu Praktikum

Adapun praktikum ini dilaksanakan pada hari Senin, 15 Maret 2021, pada

pukul 08.00 sampai dengan selesai yang dilaksanakan secara daring sesuai dengan

daerah pengamatan praktikum mahasiswa/i, lokasi perlakuan praktikum di Jl.

Kapau sari IX, Kelurahan Tangkerang Timur, Kecamatan Tenayan Raya, Kota

Pekanbaru, Provinsi Riau pada ketinggian ± 12 mdpl.

Alat dan Bahan

Adapun alat yang digunakan dalam praktikum ini adalah laptop sebagai

alat dalam mengerjakan laporan dan juga melakukan praktikum online, aplikasi

Microsoft Word untuk mengetik laporan, email untuk pengiriman laporan ke

dosen Perbanyakan Tanaman, kertas sebagai media dalam mencatat hal-hal yang

ditentukan, cangkul untuk mengambil top soil, polybag 5 kg sebagai tempat

tumbuhnya stek, pisau dan gunting sebagai alat memotong daun dan akar,

penggaris sebagai alat ukur, handphone sebagai alat untuk mendokumentasikan

kegiatan praktikum.

Adapun bahan yang digunakan dalam praktikum ini daun tanaman puring,

lidah buaya, daun jeruk purut dan akar jambu biji sebagai objek pengamatan,

topsoil sebagai media tanam, e-book sebagai sumber bacaan, literatur sebagai

sumber pendahuluan dan tinjauan pustaka. Air berfungsi untuk menyiram stek.

Prosedur Praktikum

A. Stek Daun Tanpa Tangkai Daun

• Dipersiapkan alat dan bahan.

• Diambil bagian daun tanaman jeruk purut dengan menggunakan pisau.


9

• Direndam daun dengan larutan ZPT selama ± 3 jam.

• Ditanam daun ke dalam polybag.

• Diletakkan di bawah naungan.

• Di lakukan penyiraman secara rutin.

B. Stek Daun Dengan Tangkai

• Dipersiapkan alat dan bahan.

• Dipotong bagian daun tanaman puring sampai ke pangkal tangkai daun.

• Direndam daun dengan larutan ZPT selama ± 3 jam.

• Selanjutnya ditanam daun ke dalam polybag.

• Di letakkan dibawah naungan.

• Dilakukan penyiraman secara rutin.

C. Stek Potongan Daun

• Dipersiapkan alat dan bahan.

• Dipotong salah satu pelepah lidah buaya.

• Dipotong pelepah lidah buaya menjadi beberapa bagian, dengan panjang

sekitar 5 cm.

• Kemudian di bagian atas kanan dan kiri dikikis sehingga bagian tengah

atas agak runcing.

• Setelah di potong, direndam dengan larutan ZPT selama ± 3 jam.

• kemudian di tanam di dalam polybag.

• Diletakkan di bawah naungan.

• Dilakukan penyiraman secara rutin.


10

D. Stek Akar

• Dipersiapkan alat dan bahan

• Diambil bagian akar tanaman jambu biji sekunder yang memiliki

diameter ± 1 cm.

• Dipotong menjadi beberapa bagian, dengan panjang sekitar 10 cm

( kondisikan dengan luas polybag).

• Direndam dengan larutan ZPT selama ± 3 jam.

• Di tanam ke dalam polybag.

• Di letakkan di bawah naungan.

• Di lakukan penyiraman secara rutin.


HASIL DAN PEMBAHASAN

Hasil

Disiapkan media tanam polybag 5 kg diisi dengan top soil.

Disiapkan Larutan ZPT dengan air 10 liter

A. Stek Daun Tanpa Tangkai Daun

Diambil bagian daun tanaman daun jeruk purut.

Direndam daun dengan larutan ZPT selama ± 3 jam


12

Ditanam daun ke dalam polybag dan diletakan dibawah naungan.

B. Stek Daun Dengan Tangkai

Dipotong bagian daun tanaman puring sampai ke pangkal tangkai daun.

Direndam dengan larutan ZPT selama ± 3 jam.

Ditanam daun kedalam polybag dan diletakkan dibawah naungan.


13

C. Stek Potongan Daun

Dipotong salah satu pelepah lidah buaya.

Di potong pelepah lidah buaya menjadi beberapa bagian, dengan panjang sekitar 5
cm. Kemudian di bagian atas kanan dan kiri dikikis sehingga bagian tengah atas
agak runcing.

Direndam dengan larutan ZPT selama ± 3 jam.

Ditanam daun ke dalam polybag dan diletakkan dibawah naungan.


14

D. Stek Akar

Diambil bagian akar tanaman jambu biji sekunder yang memiliki diameter ± 1 cm.

Dipotong menjadi beberapa bagian, dengan panjang sekitar 10 cm ( kondisikan


dengan luas polybag).

Direndam dengan larutan ZPT selama ± 3 jam.

Ditanam ke dalam polybag dan diletakkan di bawah naungan.


15
Titik kordinat lokasi stek daun dan akar.

Pembahasan

Puring merupakan tanaman hias dari famili euphorbiaceae yang dapat

diperbanyak dengan cara stek daun dengan tangkai. Hal ini sesuai dengan literatur

Widianto (1994) yang menyatakan bahwa Merawat puring tidak terlalu sulit,

begitu juga cara perbanyakan puring juga mudah dilakukan. Salah satu cara

memperbanyak tanaman ini adalah dengan cara perbanyakan vegetatif, kelebihan

dari perbanyakan vegetatif adalah sifat sama dengan induknya, sifat ini meliputi

ketahanan terhadap serangan penyakit, rasa, keindahan bunga, dan sebagainya.

Lidah buaya merupakan tanaman yang termasuk kedalam golongan

liliceae dan umumnya diperbanyak dengan cara stek daun potong. Hal ini sesuai

dengan literatur Hariana (2008) yang menyatakan bahwa Tanaman lidah buaya

(Aloe vera) merupakan tanaman asli Afrika, yang termasuk golongan Liliaceae.

Berkembangnya ilmu pengetahuan dan teknologi sekarang ini, memperluas


16

pemanfaatan khasiat lidah buaya.

Kurang tersedianya bibit jeruk purut memberikan alternatif lain dalam

memperbanyak jeruk purut salah satunya dengan cara stek daun. Hal ini sesuai

dengan literatur Samekto (1995) yang menyatakan bahwa Stek daun merupakan

teknik baru dalam budidaya jeruk khususnya untuk penyediaan batang bawah

yang dapat diusahakan dalam jumlah besar, karena dalam satu ranting memiliki

banyak daun yang artinya akan banyak menyediakan bahan tanaman. Selain itu

stek daun merupakan alternatif dalam pemanfaatan limbah jeruk tanaman batang

bawah yang telah dilakukan penyambungan atau okulasi.

Salah satu kelebihan dari stek daun adalah dapat menghasilkan tanaman

yang sesuai dengan sifat induknya. Hal ini sesuai dengan literatur

Prastowo et al., (2006) yang menyatakan bahwa setek (cutting) atau potongan

adalah menumbuhkan bagian atau potongan tanaman, sehingga menjadi tanaman

baru. Keuntungan bibit dari setek adalah : 1) tanaman buah-buahan tersebut akan

mempunyai sifat yang sama persis dengan induknya, terutama dalam hal bentuk

buah, ukuran, warna, dan rasanya, 2) tanaman asal setek ini bisa ditanam pada

tempat yang permukaan air tanahnya dangkal, karena tanaman asal setek tidak

mempunyai akar tunggang, 3) perbanyakan tanaman buah dengan setek

merupakan cara perbanyakan yang praktis dan mudah dilakukan, 4) setek dapat

dikerjakan dengan cepat, murah, mudah, dan tidak memerlukan teknik khusus

seperti pada cara cangkok dan okulasi.

Kelemahan dari stek daun adalah daun mudah busuk dan akar sulit untuk

tumbuh. Hal ini sesuai dengan literatur Payung dan Susilawati (2014) yang
17

menyatakan bahwa Metode stek daun juga memiliki kekurangan yaitu stek mudah

busuk dan pada kondisi tertentu sulit untuk berakar. Permasalahan ini dapat

diatasi dengan menggunakan zat pengatur tumbuh (ZPT) pada bahan stek.

Penggunaan ZPT berfungsi untuk menstimulasi pertumbuhan akar dan tunas pada.

Salah satu ZPT yang dapat digunakan untuk mempercepat pertumbuhan akar

adalah Rootone-F.

Budidaya jambu biji dapat dilakukan secara vegetatif salah satunya dengan

stek akar. Hal ini sesuai dengan literatur Huik (2004) yang menyatakan bahwa

Pembudidayaan jambu biji dapat dilakukan dengan dua cara, yaitu dengan

menggunakan biji atau benih dan dengan cara stek. Namun, dalam proses

pembudidayaan jambu biji yang berasal dari benih masih menemui hambatan,

yaitu musim berbuah dan berbunga lebat tidak terjadi setiap tahun tetapi bervariasi

antara 2-4 tahun dan rentan terhadap hama penyakit. Salah satu upaya untuk

meningkatkan produksi jambu biji melalui stek akar.

Akar yang diambil pada stek akar biasanya adalah akar sekunder yang

terbuka. Hal ini sesuai dengan literatur Nugroho (1992) yang menyatakan bahwa

Umunya bahan stek akar yang diambil adalah akar sekunder yang terbuka dan

telah menumbuhkan tunas baru serta potongan akar sekunder. Cara yang

dilakukan adalah dengan menggali dan memotong bagian akar sekunder. Apabila

bahan stek yang diambil berasal dari bagian akar yang telah menumbuhkan tunas

yaitu dengan cara menggali tanah sekitar tegakan,setelah terubusan akar terlihat

baru dilakukan pemotongan bagian akar dengan menyisakan sebagian akar dan

sebagian akar, sehingga berbentuk stump yang siap ditanam dalam polybag.
KESIMPULAN

1. Puring merupakan tanaman hias dari famili euphorbiaceae yang dapat

diperbanyak dengan cara stek daun dengan tangkai.

2. Lidah buaya merupakan tanaman yang termasuk kedalam golongan

liliceae dan umumnya diperbanyak dengan cara stek daun potong.

3. Kurang tersedianya bibit jeruk purut memberikan alternatif lain dalam

memperbanyak jeruk purut salah satunya dengan cara stek daun.

4. Salah satu kelebihan dari stek daun adalah dapat menghasilkan tanaman

yang sesuai dengan sifat induknya.

5. Kelemahan dari stek daun adalah daun mudah busuk dan akar sulit untuk

tumbuh.

6. Budidaya jambu biji dapat dilakukan secara vegetatif salah satunya dengan

stek akar.

7. Akar yang diambil pada stek akar biasanya adalah akar sekunder yang

terbuka.
DAFTAR PUSTAKA

Chandra, L & Sitanggang, M.2007. Pesona Puring.Jakarta:Agro Media Pustaka.

Hariana A. Tumbuhan obat dan khasiatnya. Seri 2. Jakarta: Penebar Swadana ;


2008. p 5.

Huik, M. 2004 Pengaruh Rootone-F dan Ukuran Diameter Stek terhadap


Pertumbuhan dari Stek Batang Jati (Tectona grandis L.F). Skripsi tidak
dipublikasikan. Fakultas Pertanian, Universitas Patimura.

Kusumo, S. 1984. Zat Pengatur Tumbuh Tanaman. CV Yasaguna, Jakarta

Lakitan, B. 1996. Fisiologi Pertumbuhan dan Perkembangan Tanaman. PT Raja


Grafindo Persada. Jakarta.

Nugroho, A. 1992. Pertumbuhan Stek Pucuk dari Tunas Hasil Pemangkasan


Semai Jenis Eucalyptus pellita F. Muel di Persemaian. Jurnal Pemuliaan
Tanaman Hutan (Online)Vol.1 No.1

Payung, Damaris dan Susilawati. 2014. Pengaruh Zat Pengatur Tumbuh Rootone-
F dan Sumber Bahan Stek Terhadap Pertumbuhan Stek Tembesu (Fagraea
fragrans) di PT. Jorong Barutama Greston Kalimantan Selatan. Jurnal
EnviroScienteae 10 :140-149

Prastowo, N.H., J.M. Roshetko, G.E.S Maurung, E. Nugraha, J.M. Tukan dan F.
Harum. 2006. Tehnik Pembibitan dan Perbanyakan Vegetatif Tanaman
Buah.World Agroforestry Centre (ICRAF) & Winrock International,
Bogor.hal : 92

Riyanto, A. 2007.Peluang Bisnis Tanaman. Jakarta: Agro Media Pustaka.

Rukmana,R. 2003. Usaha Tani Jeruk Purut dalam Pot dan di Kebun. Kanisus.
Yogyakarta.

Samekto, H. 1995. Produksi Batang Bawah Jeruk yang Sesuai untuk Lahan
Pasang Surut. Jurnal Penelitian Hortikultura, 5 (2): 6-9.

Widianto, R. 1994. Membuat Stek, Cangkok, dan Okulasi.. Jakarta: Penebar


Swadaya.