Anda di halaman 1dari 18

PRAKTIKUM PERBANYAKAN TANAMAN

PERBANYAKAN TANAMAN SECARA SEKSUAL

FEREEN TASYA MAHARANI SIAHAAN

190301163/AET 3

F A K U L T A S P E R T A N I A N

UNIVERSITAS SUMATERA UTARA

2021
KATA PENGANTAR

Puji dan syukur penulis ucapkan kepada Tuhan Yang Maha Esa, karena atas

berkat dan rahmat-Nya penulis dapat menyelesaikan paper ini tepat pada waktunya.

Adapun judul dari laporan ini adalah “Perbanyakan Tanaman Secara

Seksual” yang merupakan salah satu syarat untuk dapat memenuhi komponen

penilaian pada Labaoratorium Perbanyakan Tanaman Program Studi

Agroteknologi Fakultas Pertanian Universitas Sumatera Utara.

Pada kesempatan ini pula penulis mengucapkan terima kasih kepada

Ir. Irsal, MP ; Antonio Marro Sipayung, SP., M.Agr ; Dr. Ir. Mariati, M.Sc ;

Ir. Rosita Sipayung, MP ; Hafnes Wahyuni, SP., MP ; selaku dosen mata kuliah

Perbanyakan Tanaman yang telah membantu penulis dalam menyelesaikan

laporam praktikum ini.

Penulis menyadari bahwa didalam penulisan laporan ini masih banyak

terdapat kesalahan dan kekurangan. Oleh sebab itu, penulis mengharapkan adanya

masukan kritik dan saran yang bersifat membangun untuk kesempurnaan

penulisan berikutnya.

Akhir kata penulis mengucapkan terima kasih, semoga penulisan ini

bermanfaat bagi pihak yang membutuhkan.

Medan, Februari 2021

Penulis

i
DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR ........................................................................................... i

DAFTAR ISI ......................................................................................................... ii

PENDAHULUAN
Latar Belakang ............................................................................................ 1
Tujuan Praktikum ........................................................................................ 2
Kegunaan Penulisan .................................................................................... 2

TINJAUAN PUSTAKA

BAHAN DAN METODE


Tempat dan Waktu Praktikum .................................................................... 5
Alat dan Bahan ............................................................................................ 5
Prosedur Praktikum ..................................................................................... 5

HASIL DAN PEMBAHASAN


Hasil ............................................................................................................ 7
Pembahasan ................................................................................................. 9

KESIMPULAN

DAFTAR PUSTAKA

ii
PENDAHULUAN

Latar Belakang

Mangga adalah anggota kingdom Plantae, Divisi Tracheophyta, klas

Magnoliopsida, ordo Sapindales, dan famili Anacardiaceae. Tanaman ini berasal

dari genus mangifera dengan nama spesies Mangifera indica L. Nama spesies

tanaman mangga memiliki arti “tanaman dari India berbuah mangga”. Lebih dari

1000 variasi mangga yang diketahui berasal dari dua galur biji mangga –

monoembrionik (embrio tunggal) dan poliembrionik (banyak embrio). Biji

monoembrionik berasal dari India, sedangkan polyembrionik berasal dari

Indochina (Mehta, 2017).

Durian (Durio zibethinus Murr.) merupakan tanaman buah asli yang

memiliki ciri berbentuk pohon besar seperti tumbuhan hutan dan tumbuh baik di

Indonesia. Menurut Sobir et al. (2010) durian diklasifikasikan sebagai berikut:

Kingdom: Plantae; Divisi: spermatophyta; Classis: Dikotil; Ordo: Malvales;

Famili: Malvaceae; Genus: Durio; Spesies: Durio zibethinus Murr.

Tanaman mangga memiliki potensi yang cukup baik untuk dikembangkan,

mengingat bahwa mangga memiliki tingkat keragam genetik yang tinggi dan

sesuai dengan keadaan agroklimat di Indonesia serta memiliki pangsa pasar yang

luas. Namun, produksi mangga di Indonesia saat ini masih terbilang cukup rendah

meskipun Indonesia menduduki peringkat kelima dari total produksi dunia setelah

India, Cina, Thailand dan Meksiko. Hal ini kerana belum adanya program

pemuliaan yang lebih terarah dan berkesinambungan, tingginya gugur buah yang

menyulitkan proses hibridisasi, hanya satu buah per biji serta sistem penanganan

pra dan pasca panen yang belum memadai ditingkat petani (Broto, 2003).
2

Sejak revolusi pertanian, perkembangan pertanian terus mengalami

peningkatan. Manusia yang lebih modern mulai mengembangkan teknik

perbanyakan tanaman yang dipelajarinya dari kejadian-kejadian alam, seperti

setek, cangkok, okulasi dan merunduk. Sejak perkembangan ilmu pengetahuan

mulai maju, ditemukan teknik pebanyakan tanaman yang lebih modern seperti

teknik kultur jaringan. Melalui teknik kultur jaringan bagian tanaman yg kecil bisa

menghasilkan tanaman baru dalam jumlah besar hingga mencapai ribuan (Lakitan,

1996).

Secara umum, terdapat 3 faktor utama yang mempengaruhi pembungaan

yaitu, (1) adanya hormon pembungaan atau florigen yang mengalihkan fase

vegetatif menjadi reproduktif, (2) adanya kondisi nutrisi yang optimum, (3)

adanya perubahan biokimia yang mengubah nutrisi sehingga terjadi induksi

pembungaan. Selain itu, Pembungaan juga dipengaruhi adanya suhu rendah,

kepekaan terhadap intensitas cahaya yang dapat diterima oleh tanaman (kepekaan

panjang hari) (Fahrianty, 2012).

Tujuan Praktikum

Adapun tujuan dari laporan ini adalah untuk mengetahui Perbanyakan

Tanaman Secara Seksual pada tanaman mangga.

Kegunaan Penulisan

Adapun kegunaan dari penulisan laporan ini adalah sebagai salah satu

syarat untuk memenuhi komponen penilaian di praktikum Perbanyakan Tanaman

Program Studi Agroteknologi Fakultas Pertanian Universitas Sumatera Utara.


TINJAUAN PUSTAKA

Perbanyakan tanaman buah-buahan terdiri dari dua cara, yakni

perbanyakan generatif dan vegetatif. Perbanyakan tanaman menggunakan biji

(bagian tanamanyang dibuahi) disebut pembibitan secara generatif atau seksual.

Disebut demikiankarena biji berasal dari pertumbuhan embrio basil penyerbukan

(perkawinan,pembuahan) antara putik dengan serbuk sari. Perbanyakan tanaman

yang tidakmenggunakan biji disebut perbanyakan vegetatif atau aseksual. Bagian

tanamanbuah yang dapat digunakan untuk perbanyakan ini adalah akar dan batang

atautunas. Perbanyakan tanaman yang dilakukan dengan teknologi kultur

jaringantermasuk perbanyakan tanaman secara vegetatif, karena bibit itu

ditumbuhkan daribagian sel tanaman yang tidak dibuahi (Harjadi et al., 2010)

Perbanyakan tanaman secara generatif memiliki kelebihan yaitu

penanganan yang praktis atau mudah dengan harga yang relatif murah dan tidak

memerlukan keahlian yang khusus. Namun, perbanyakan secara generatif

memiliki beberapa kelemahan seperti penanaman dilakukan pada saat musimnya,

keturunan yang dihasilkan kemungkinan tidak sama dengan induknya, persentase

berkecambah yang rendah dan membutuhkan waktu yang agak lama untuk

berkecambah. (Nursyamsi, 2010)

Faktor-faktor lingkungan yang mempengaruhi perkecambahan yaitu: 1.

Dalam kaitannya dengan ketersediaan air, perkecambahan biji berbeda antar

spesies. persentase perkecambahan cenderung sama pada kebanyakan kisaran

kelembaban tanah dari kapasitas lapang sampai persentase layu

permanan.perbedaan antar spesies menjadi nyata manakala ketersediaan air tanah

mendekati kekeringan. 2. Suhu merupakan faktor lingkungan yang paling penting


2

mengatur perkecambahan. Setiap spesies mempunyai batas suhu maksimum dan

minimum untuk perkecambahan. Tuntutan suhu selalu kostan tetapi dapat berubah

menurut waktu atau berinteraksi dengan faktor-faktor lingkungan yang lain seperti

cahaya. 3. Gas-gas yang dapat mempengaruhi perkecambahan adalah oksigen,

karbon dioksida, dan etilen. Oksigen sangat perlu untuk proses respiransi yang

apabila aerasi buruk dapat terakumulasi dan dapat menghambat parkecambahan.

Etilen berfungsi merangsang perkecambahan biji beberapa spesies dan juga

memecahkan dormansi. 4. Cahaya dapat merangsang atau menghambat

perkecambahan biji beberapa tanaman. Kebutuhan cahaya cenderung tidak ada

bila biji disimpan di ruang simpan bersuhu dingin, dan sering dapat diatasi oleh

pendinginan, pergantian suhu, atau perlakuan kimia KN03, kinetin, asam

giberelik. 5. Biasanya petani mendapatkan benih dari dua sumber, yaitu dari

pedagang yang berasal dari produsen benih dan dari petani itu sendiri. Keduanya

memerlukan penyimpanan dahulu sebelum ditanam di lapangan. Lingkungan

tempat 5 penyimpanan sangat berpengaruh terhadap viabilitas benih dan oleh

karena itu harus dikontrol sebaik-baiknya.Melalui pengaturan lingkungan yang

baik, benih dapat disimpan beberapa tahun tanpa harus kehilangan viabilitas yang

berarti. Faktor lingkungan yang paling berperan dalam mempengaruhi viabilitas

benih selama penyimpanan adalah temperatur dan kadar air benih. Penurunan

viabilitas dapat ditekan serendah mungkin bila benih disimpan pada temperatur

dan kadar air benih yang rendah (Purnomosidhi, Praktiknyo, 2002)

Perbanyakan generatif sudah sangat umum dijumpai, bahan yang

digunakan adalah biji. Biji disemaikan untuk dijadikan tanaman baru, ini bisa
3

dijadikan bibit. Tanaman baru dari biji meskipun telah diketahui jenisnya kadang

kadang sifatnya menyimpang dari pohon induknya, dan bahkan banyak tanaman

yang tidak menghasilkan biji atau jumlah bijinya yang sedikit (Suwandi, 2013).

Dalam siklus ini biji digunakan sebagai alat perbanyakan. Sifat turunan

merupakan sumbangan genetis tetuanya. Reproduksi dengan biji akan

meyebabkan variasi antar tanaman. Pertumbuhan dan perkembangan tanaman dari

kecambah terjadi dalam tiga fase. 1). Fase embrio dimulai dengan fusi antara

gamet jantan dan betina untuk membentuk zigot, 2) Fase Juvenil dimulai dengan

perkecambahan biji dan embrio tumbuh menjadi tanaman muda.Dalam fase ini

pertumbuhan vegetatif yang mendominasi morfologi tanaman berkembmg .secara

umum tanaman pada fase ini tidak respon terhadap zat perangsang pembungaan,

3) Pada fase dewasa tanaman mencapai ukuran maksimal dan memasuki stadia

yang di dominasi oleh pembentukan bunga buah dan biji, 4) fase transisi adalah

fase pada saat tanaman secara bertahap kehilangan sifat Juvenilitas nya dan

memasuki masa dewasa. Perubahan ini di tujukan pada perubahan morfogi seperti

hilangya kemampuan berkembang secara vegetatif, meningkatnya kemampuan

untuk memberikan respon kepada zat perangsang pembungaan ( Gunawan,

Endang, 2014)

Upaya yang harus dilakukan dalam menunjang keberhasilan produksi

tanaman selain penerapan zat pengatur tumbuh pemeliharaan dan perawatan

tanaman juga harus diperhatikan. Beberapa hal harus diperhatikan dalam

pembuahan di luar musim, mulai dari persiapan tanaman, proses pemacuan

pembungaan, dan pembuahan sampai pemeliharaan tanaman sesudahnya. Hal


4

tersebut diharapkan agar upaya memproduksi mangga diluar musim tidak

menimbulkan efek negatif bahkan kematian bagi tanaman mangga (Yuniastuti,

Suhardjo 2002)
BAHAN DAN METODE

Waktu dan Tempat Praktikum

Adapun praktikum ini dilaksanakan pada hari Senin, 22 Februari 2021,

pada pukul 08.00 sampai dengan selesai yang dilaksanakan secara daring di Jln

Abadi, kecamatan Medan Sunggal, kelurahan Tanjung Rejo, Medan, Provinsi

Sumatera Utara pada ketinggian ± 28 mdpl.

Alat dan Bahan

Adapun alat yang digunakan dalam praktikum ini adalah laptop sebagai

alat dalam mengerjakan laporan dan juga melakukan praktikum online, aplikasi

Microsoft Word untuk mengetik laporan, email untuk pengiriman laporan ke

dosen Perbanyakan Tanaman, kertas sebagai media dalam mencatat hal-hal yang

ditentukan, polybag 5 kg sebagai tempat tumbuhnya biji, gembor sebagai alat

penyiraman, handphone sebagai alat untuk mendokumentasikan kegiatan

praktikum.

Adapun bahan yang digunakan dalam praktikum ini adalah 3 biji mangga

dan 3 biji durian sebagai objek pengamatan, topsoil dan sekam padi sebagai media

tanam, e-book sebagai sumber bacaan, literatur sebagai sumber pendahuluan dan

tinjauan pustaka. Air berfungsi untuk membantu biji dalam perkembangan nya.

Prosedur Praktikum

1. Disiapkan alat dan bahan praktikum

2. Dicampurkan media tanam top soil dan sekam padi dengan rasio 1:1

3. Dimasukkan media tanam ke dalam polybag 5kg

4. Dikupas lalu dibersihkan biji mangga dan durian

5. Dikeringkan biji mangga dan durian dibawah sinar matahari


6

6. Dikupas biji mangga hingga bagian dalam

7. Diletakkan biji mangga dan durian ke dalam polybag yang telah di isi

media tanam

8. Diletakkan polybag dibawah paparan sinar matahari

9. Dilakukan penyiraman secara rutin


HASIL DAN PEMBAHASAN

Hasil

Pencampuran top soil dan sekam padi, lalu dimasukkan ke dalam polybag

Pengeringan biji durian dan mangga setelah di bersihkan

Diletakkan biji mangga dan durian ke dalam polybag


8

Penyiraman dilakukan dengan rutin

Titik Koordinat Lokasi Durian dan Mangga


9

Pembahasan

Perbanyakan tanaman ada dua yaitu generatif dan vegetatif. Hal ini sesuai

dengan literatur Harjadi et al (2010) yang menyatakan bahwa perbanyakan

tanaman buah-buahan terdiri dari dua cara, yakni perbanyakan generatif dan

vegetatif. Perbanyakan tanaman menggunakan biji (bagian tanaman yang dibuahi)

disebut pembibitan secara generatif atau seksual.

Kelebihan perbanyakan generatif ialah penanganan praktis dan harga

mudah, sedangkan kelemahannya persentase perkecambahan rendah. Hal ini

sesuai dengan literatur Nursyamsi (2010) yang menyatakan bahwa perbanyakan

tanaman secara generatif memiliki kelebihan yaitu penanganan yang praktis atau

mudah dengan harga yang relatif murah dan tidak memerlukan keahlian yang

khusus. Namun, perbanyakan secara generatif memiliki beberapa kelemahan

seperti penanaman dilakukan pada saat musimnya, keturunan yang dihasilkan

kemungkinan tidak sama dengan induknya, persentase berkecambah yang rendah

dan membutuhkan waktu yang agak lama untuk berkecambah.

Faktor lingkungan yang mempengaruhi perkecambahan yaitu ketersediaan

air, suhu, cahaya. Hal ini sesuai dengan literatur Praktiknyo (2002) yang

menyatakan bahwa faktor-faktor lingkungan yang mempengaruhi perkecambahan

yaitu: 1. Dalam kaitannya dengan ketersediaan air, perkecambahan biji berbeda

antar spesies. persentase perkecambahan cenderung sama pada kebanyakan

kisaran kelembaban tanah dari kapasitas lapang sampai persentase layu

permanan.perbedaan antar spesies menjadi nyata manakala ketersediaan air tanah

mendekati kekeringan. 2. Suhu merupakan faktor lingkungan yang paling penting


10

mengatur perkecambahan. Setiap spesies mempunyai batas suhu maksimum dan

minimum untuk perkecambahan. Tuntutan suhu selalu kostan tetapi dapat berubah

menurut waktu atau berinteraksi dengan faktor-faktor lingkungan yang lain seperti

cahaya. 3. Gas-gas yang dapat mempengaruhi perkecambahan adalah oksigen,

karbon dioksida, dan etilen. Oksigen sangat perlu untuk proses respiransi yang

apabila aerasi buruk dapat terakumulasi dan dapat menghambat parkecambahan.

Etilen berfungsi merangsang perkecambahan biji beberapa spesies dan juga

memecahkan dormansi. 4. Cahaya dapat merangsang atau menghambat

perkecambahan biji beberapa tanaman. Kebutuhan cahaya cenderung tidak ada

bila biji disimpan di ruang simpan bersuhu dingin, dan sering dapat diatasi oleh

pendinginan, pergantian suhu, atau perlakuan kimia KN03, kinetin, asam

giberelik. 5. Biasanya petani mendapatkan benih dari dua sumber, yaitu dari

pedagang yang berasal dari produsen benih dan dari petani itu sendiri. Keduanya

memerlukan penyimpanan dahulu sebelum ditanam di lapangan. Lingkungan

tempat 5 penyimpanan sangat berpengaruh terhadap viabilitas benih dan oleh

karena itu harus dikontrol sebaik-baiknya.Melalui pengaturan lingkungan yang

baik, benih dapat disimpan beberapa tahun tanpa harus kehilangan viabilitas yang

berarti. Faktor lingkungan yang paling berperan dalam mempengaruhi viabilitas

benih selama penyimpanan adalah temperatur dan kadar air benih. Penurunan

viabilitas dapat ditekan serendah mungkin bila benih disimpan pada temperatur

dan kadar air benih yang rendah

Perbanyakan melalui metode generatif menggunakan biji yang berasal

dari buah tersebut melalu proses penyemaian. Hal ini sesuai dengan literatur
11

Suwandi (2013) yang menyatakan bahwa perbanyakan generatif sudah sangat

umum dijumpai, bahan yang digunakan adalah biji. Biji disemaikan untuk

dijadikan tanaman baru, ini bisa dijadikan bibit.

Perkembangan tanaman dari kecambah mempunyai tiga fase yaitu fase

embrio, fase Junivel, fase dewasa, fase transisi. Hal ini sesuai dengan literatur

Gunawan, Endang (2013) yang menyatakan bahwa pertumbuhan dan

perkembangan tanaman dari kecambah terjadi dalam tiga fase. 1). Fase embrio

dimulai dengan fusi antara gamet jantan dan betina untuk membentuk zigot, 2)

Fase Juvenil dimulai dengan perkecambahan biji dan embrio tumbuh menjadi

tanaman muda.Dalam fase ini pertumbuhan vegetatif yang mendominasi

morfologi tanaman berkembmg .secara umum tanaman pada fase ini tidak respon

terhadap zat perangsang pembungaan, 3) Pada fase dewasa tanaman mencapai

ukuran maksimal dan memasuki stadia yang di dominasi oleh pembentukan bunga

buah dan biji, 4) fase transisi adalah fase pada saat tanaman secara bertahap

kehilangan sifat Juvenilitas nya dan memasuki masa dewasa. Perubahan ini di

tujukan pada perubahan morfogi seperti hilangya kemampuan berkembang secara

vegetatif, meningkatnya kemampuan untuk memberikan respon kepada zat

perangsang pembungaan

Keberhasilan dalam produksi tanaman dipengaruhi oleh penerapan zat

pengtur tumbuh dan perawatan tanaman. Hal ini sesuai dengan literatur

Yuniastuti, Suhardjo (2002) yang menyatakan bahwa upaya yang harus dilakukan

dalam menunjang keberhasilan produksi tanaman selain penerapan zat pengatur

tumbuh pemeliharaan dan perawatan tanaman juga harus diperhatikan.


KESIMPULAN

1. Perbanyakan tanaman ada dua yaitu generatif dan vegetatif.

2. Kelebihan perbanyakan generatif ialah penanganan praktis dan harga

mudah, sedangkan kelemahannya persentase perkecambahan rendah.

3. Faktor lingkungan yang mempengaruhi perkecambahan yaitu ketersediaan

air, suhu, cahaya.

4. Perbanyakan melalui metode generatif menggunakan biji yang berasal dari

buah tersebut melalu proses penyemaian.

5. Perkembangan tanaman dari kecambah mempunyai tiga fase yaitu fase

embrio, fase Junivel, fase dewasa, fase transisi.

6. Keberhasilan dalam produksi tanaman dipengaruhi oleh penerapan zat

pengtur tumbuh dan perawatan tanaman.


DAFTAR PUSTAKA

Broto, W. 2003. Mangga: Budidaya, pascapanen dan Tata Niaganya. Agromedia


Pustaka. Jakarta

Fahrianty, D. 2012. Peran Vernalisasi dan Zat Pengatur Tumbuh Dalam


Peningkatan Pembungaan dan Produksi Biji Bawang Merah di Dataran
Rendah dan Dataran Tinggi. Tesis. Institut Pertanian Bogor, Bogor.

Gunawan, Endang. 2014. Perbanyakan tanaman. Agromedia Pustaka, Jakarta.

Harjadi, Sri Setyati dan Winarso D, Ketty Suketi. 2010. Aspek – Aspek Penting
Budidaya Tanaman Buah– Buahan. Jakarta: Gramedia

Lakitan, B. 1996. Fisiologi Pertumbuhan dan Perkembangan Tanaman. PT Raja


Grafindo Persada. Jakarta.

Mehta, Indu. (2017). History of mango – ‘King of Fruits’. International Journal of


Engineering Science Invention. 6(7): 20-24.

Nursyamsi. 2010. Teknik Kultur Jaringan Sebagai Alternatif Perbanyakan


Tanaman Untuk Mendukung Rehabilitasi Lahan. Balai Penelitian
Kehutanan. Makasar.

Purnomosidhi, Pratiknyo. 2002. Perbanyakan dan Budidaya Tanaman


Buahbuahan., 979-3198-00-1, ICRAF & Winrock International, Bogor

Sobir dan Napitupulu, R. M. 2010. Bertanam Durian Unggul. Penebar Swadaya.


Jakarta.

Suhardjo. 2002. Perencanaan Pangan dan Gizi. Jakarta: Bumi Aksara Suwandi.
2013. Petunjuk Teknis Perbanyakan Tanaman. Yogyakarta.

Anda mungkin juga menyukai