Jelajahi eBook
Kategori
Jelajahi Buku audio
Kategori
Jelajahi Majalah
Kategori
Jelajahi Dokumen
Kategori
TUGAS AKHIR
KABUPATEN SRAGEN
Oleh :
UNIVERSITAS SEMARANG
2015
2
KATA PENGANTAR
Puji syukur saya panjatkan kehadirat Tuhan Yang Maha Esa yang telah
melimpahkan rahmat dan hidayah-Nya sehingga saya dapat menyelesaikan dan menyusun
Tugas Akhir dengan judul “ Detail Desain Embung Kwangen Kabupaten Sragen “.
Tugas Akhir ini merupakan salah satu mata kuliah yang wajib ditempuh oleh semua
mahasiswa Program S1 Jurusan Sipil Fakultas Teknik Universitas Semarang.
Dalam Tugas Akhir ini penyusun dibantu oleh banyak pihak oleh karena itu melalui
kesempatan ini penyusun menyampaikan ucapan terima kasih kepada:
DAFTAR ISI
DAFTAR PUSTAKA
LAMPIRAN
6
DAFTAR PUSTAKA
1. Balai Besar Wilayah Sungai Pemali Juana Tahun 2013 s/d sekarang
2. PT Mekar.2012.Detail Desain Embung Kwangen,
3. SNI 03-2415-1991, “ Tata Cara Perhitungan Debit Banjir “. BSN, Jakarta.
4. Anonim, 2008, Harga Satuan Pekerjaan Bahan dan Upah Pekerjaan
5. Kontruksi, Semarang : Pusat Informasi Bangunan.
6. Sediono, M. t.t, Buku Pedoman Perencanaan Irigasi dan Bangunan Air,
7. Semarang : Fakultas Teknik Universitas Semarang.
8. D. L. Wesley, 1997, Mekanika Tanah, Badan Penerbit Pekerjaan Umum,Jakarta
9. Cow. Ven Te, 1985, Hidrolika Saluran Terbuka, Penerbit Erlangga,Jakarta
10. Samarin, Irigasi dan Bangunan Air, Universitas.Gunadarma, Jakarta.
11. G. Kusuma, 1994, Grafik dan Tabel Perhitungan Beton Bertulang,Penerbit
Erlangga.Jakarta.
12. Sutarno, t.t, Materi Kuliah Gambar Teknik, Semarang : Fakultas Teknik
Universitas Semarang.
13. M. Mukumuka, Dasar Penyusunan Anggaran Biaya Bangunan, Penerbit Gaya
Media.
14. Kamiana, I Made. 2001. Teknik Perhitungan Debit Rencana Bangunan Air. Graha
Ilmu.Yogyakarta
15. Hidrologi Untuk Pengairan, Ir. Suyono Sosrodarsono , Kensaku Takeda, PT.
Pradnya Paramita, Jakarta , 1976.
16. Hydrotogi for Engineers, Ray K. Linsley Ir. Max. A. Kohler, Joseph L.H.
Apaulhus.Mc.Grawhill, 1986.
17. Mengenal dasar dasar hidrologi, fr. Joice Martha, Ir. Wanny Adidarma Dipl. H.
Nova, Bandung.
18. Hidrologi & Pemakaiannya, jilid I, Prof. Ir. Soemadyo, diktat kuliah ITS. 1976
19. Hidrologi Teknik Ir. CD. Soemarto, Dipl. HE
20. Banjir Rencana Untuk Bangunan Air, Ir.Joesron Loebis, M.Eng. hal: IV-3
7
BAB I
PENDAHULUAN
1.3 Permasalahan
Dalam rangka memenuhi kebutuhan pangan nasional dan meminimalkan
perbedaan distribusi pengembangan sumber daya air diantara daerah–daerah maka
Pemerintah Indonesia telah melaksanakan serangkaian usaha terus menerus dimana
salah satunya adalah pembangunan di bidang pengairan yang dapat langsung
8
nota desain yang meliputi kriteria yang dipergunakan dalam menyusun desain dan
perhitungan gambar teknis, berikut spesifikasi teknis, metode pelaksanaan, dokumen
tender, rencana anggaran biaya untuk dapat dilaksanakan pekerjaan konstruksinya.
BAB II
STUDI PUSTAKA
proses fotosintesis untuk mengubah bahan anorganik menjadi bahan organik dengan
bantuan sinar matahari. Hasil fotosintesis dari produsen akan digunakan bagi dirinya
sendiri dan oleh organisme lain.
Dengan adanya sebuah sungai yang mengaliri rencana embung kwangen, maka
akan menjadi salah satu media bagi masuknya bahan organik dan anorganik yang
berasal dari berbagai aktivitas di sekitar embung dan sungai tersebut. Beban masukan
ini akan memacu proses pengkayaan unsur hara (eutrofikasi), dimana eutrofikasi ini
menandakan bahwa perairan mengalami kerusakan, karena dari eutrofikasi ini akan
menyebabkan terjadinya proses sedimentasi bahkan bisa sampai membentuk daratan
baru. Selain itu eutrofikasi dapat memicu pertumbuhan berlebihan jenis fitoplankton
tertentu atau yang biasa dikenal dengan blooming fitoplankton.
Metode rata -rata aljabar dapat digunakan dengan hasil yang memuaskan
apabila daerahnya datar dan penempatan alat ukur tersebut tersebar merata.
Cara ini adalah cara yang paling sederhana, Metode rata-rata aljabar dihitung
dengan menjumlahkan curah hujan dari semua tempat pengukuran selama satu
periode tertentu dan membaginya dengan banyaknya tempat pengukuran. Jika
dirumuskan dalam suatu persamaan adalah sebagai berikut :
Di mana :
R = curah hujan rata-rata (mm)
R1,...,Rn = besarnya curah hujan pada masing-masing stasiun (mm)
n = banyaknya stasiu
15
Cara ini memberikan proporsi luasan daerah pengaruh pos penekar hujan
untuk mengakomodasi ketidakseragaman jarak. Cara ini cocok untuk daerah
datar dengan luas 500 – 5000 km2.
Di mana :
R = curah hujan rata-rata (mm)
R1, R2 ,...,Rn = curah hujan masing-masing stasiun (mm)
W1, W2,...,Wn = faktor bobot
3) Cara Isohyet
Isohyet adalah garis lengkung yang merupakan harga curah hujan yang
sama. Umumnya sebuah garis lengkung menunjukkan angka yang bulat. Iso-
hyet ini diperoleh dengan cara interpolasi harga-harga curah hujan yang ter-
Keterangan :
besaran curah hujan dan analisa statistik yang diperhitungkan dalam perhitungan
debit banjir rencana. Curah hujan rencana dihitung berdasarkan catatan hujan
maksimum pada stasiun pengamatan selama 10 tahun sejak tahun 2001 – 2010.
curah hujan rencana berdasarkan agihan atau distribusi data yang sesuai.
Perhitungan curah hujan rencana dengan periode ulang 5, 10, 20, 25, 50, dan 100
tahun ini yang akan digunakan dalam menentukan besarnya debit banjir rencana.
Dalam proses pengalihragaman hujan menjadi aliran ada beberapa sifat hujan
yang penting untuk diperhatikan, antara lain adalah intensitas hujan (I), lama
waktu hujan (t), kedalaman hujan (d), frekuensi (f) dan luas daerah pengaruh
17
hujan (A) (Soemarto 1987). Komponen hujan dengan sifat-sifatnya ini dapat
dianalisis berupa hujan titik maupun hujan ratarata yang meliputi luas daerah
Analisis hubungan dua parameter hujan yang penting berupa intensitas dan
Dalam statistik distribusi frekuensi yang banyak digunakan dalam hidrologi, yaitu
mempunyai sifat yang khas, sehingga data curah hujan harus diuji kecocokannya
yang tidak benar dapat menimbulkan kesalahan perkiraan yang cukup besar, baik
over estimated maupun under estimated (Sri Harto 1993). Kala ulang (return
period) diartikan sebagai waktu di mana hujan atau debit dengan satuan besaran
tertentu, rata-rata akan disamai atau dilampaui sekali dalam jangka waktu
tersebut. Dalam hal ini tidak berarti bahwa selama jangka waktu ulang itu
(misalnya T tahun) hanya sekali kejadian yang menyamai atau melampaui, tetapi
merupakan perkiraan bahwa hujan atau debit tersebut akan disamai atau dilampaui
K kali dalam jangka panjang L tahun, dimana K/L kira-kira sama dengan 1/T (Sri
Harto 1993),
= Harga rata – rata sampel data curah hujan (curah hujan harian maksi-
mum )
Dimana :
sampel
Yϫr = Reduced variate, mempunyai nilai yang berbeda pada setiap peri-
ode ulang
2) Distribusi Normal
tahunan
= Harga rata – rata sampel data curah hujan (curah hujan harian
maksimum )
periode ulang yang sudah tersedia yang sudah tersedia dalam ta-
5. Hitung Logariotma data curah hujan atau banjir dengan periode ulang T
Dimana :
(G)
Intensitas curah hujan adalah ketinggian curah hujan yang terjadi pada suatu
kurun waktu di mana air tersebut terkonsentrasi (Joesron Loebis 1992). Untuk
20
mendapatkan nilai intensitas hujan, alat penakar hujan harus mampu mencatat
besarnya volume hujan dan waktu mulai berlangsungnya hujan sampai hujan
tersebut berhenti. Alat penakar hujan yang dapat dimanfaatkan adalah alat penakar
hujan otomatis. Alat penakar hujan standar juga dapat digunakan asal waktu
waktu berlangsung dan berakhirnya hujan dengan jam dinding misalnya). Intensitas
hujan atau ketebalan hujan per satuan waktu lazimnya dilaporkan dalam satuan
milimeter per jam. Stasiun Pengukur Cuaca Otomatis dilengkapi dengan alat
penakar hujan yang dapat mencatat data intensitas hujan secara terus-menerus. Data
intensitas hujan tersebut umumnya dalam bentuk tabular atau grafik (hyetograph).
Jika tidak tersedia waktu untuk mengamati besarnya intensitas hujan atau
disebabkan oleh karena alatnya tidak ada, dapat ditempuh cara-cara empiris dengan
(Suyono dan Takeda 1993). Data intensitas hujan biasanya dimanfaatkan untuk
Data intensitas hujan (kejadian hujan tunggal) juga dapat dimanfaatkan untuk
hidrologi. Para pakar geomorfologi memerlukan data intensitas hujan karena proses
pembentukan tanah dari bahan induk (batuan) berlangsung pada saat terjadinya
I= a/t+b
daerah aliran.
2) Metode Mononobe
Seandainya data curah hujan yang ada adalah data curah hujan harian,
1 ). Metode Rasional
Sumber :http://engineersipil.blogspot.com/2013/01/debit-limpasan.html
dimana:
α = koefisien pengaliran
2
A = luas daerah pengaliran (km )
I = Gradien sungai
sebagai berikut:
2
A = Luas daerah pengaliran < 100 Km
dimana:
4. Intensitas Hujan
a. Untuk t < 2 jam
Das ( Km ) ARF
1 - 10 0,99
10 - 30 0,97
30 - 3000 1,52 – 0,0123 log A
Return
Period Luas cathment area (km )²
T <180 300 600 900 1200 >1500
Vj = 10 Cj x Rj x A
dengan :
Vj = aliran setengah bulanan dan seluruh daerah tangkapan hujan untuk
setengah bulan j (m3/ bulan),
Rj = curah hujan setengah bulanan untuk setengah bulanan j (mm/bulan),
Cj = Koefisien pengaliran untuk setengah bulan j
A = Luas daerah tangkapan hujan efektif (ha) yaitu luas daerah tangkapan
hujan setelah dikurangi luas embung
V = Aliran masuk ke embung selama musim hujan (m2)
uy
7787
Vn = Vu + Ve Vi + Vs ∑ yuy7878
ui
dengan :
Vn = kapasitas tampungan total yang diperlukan. (m3),
Vu = volume hidup untuk melayani berbagai kebutuhan (m3),
Ve = jumlah penguapan dari kolam selama musim kemarau (m3),
Vi = jumlah resapan melalui dasar, dinding dan tubuh embung selama
musim kemarau (m3),
Vs = ruangan yang disediakan untuk sedimen (m3).
Selain hal diatas perlu juga diperhatikan untuk menentukan kapasitas
tampungan total suatu embung (Vn) harus mempertimbangkan volume/debit air
yang tersedia (Vh) dan kemampuan topografi untuk menampung air (Vp). Hal ini
dimaksudkan agar kapasitas tampungan total yang diperlukan (Vn) benar-benar
dapat dipenuhi oleh volume/debit aliran yang tersedia selama musim hujan (Vn).
Demikian juga jika kondisi topografi (Vp) tidak memungkinkan menampung
volume air sebesar kapasitas tampungan total (Vn) maka biaya konstruksi akan
menjadi mahal, sehingga lebih baik untuk memenuhi kebutuhan maksimum suatu
desa dibangun lebih dari satu embung.
2. Ketersediaan Air
Air yang akan masuk embung terdiri dari 2 (dua) kelompok :
- Air permukaan dari seluruh daerah tadah hujan.
- Curah hujan efektif yang jatuh langsung di atas permukaan kolam.
Jumlah air yang masuk ke dalam kolam embung dinyatakan dalam persamaan
berikut :
Vh = Σ Vj + 10 Akt x Σ Rj
dengan :
28
di mana :
Ve = jumlah penguapan dari kolam embung selama musim kemarau (m3),
Akt = luas permukaan kolam embung pada setengah tinggi (ha),
Ekj = penguapan bulanan di musim kemarau pada bulan ke-j (mm/bulan).
10 = konversi satuan.
Air di dalam kolam embung akan meresap masuk kedalam pori atau rongga di
dasar dan dinding kolam. Besarnya resapan ini tergantung pada jenis butiran tanah
atau struktur batu pembentuk dasar dan dinding kolam. Sedangkan sifat ini
bergantung jenis butiran tanah atau struktur batu pembentuk dasar dan dinding
kolam. Rumus praktis yang digunakan untuk memperkirakan besarnya air di kolam
embung adalah :
Vi = K . Vu
dengan :
Vi = jumlah resapan tahunan (m3),
Vu = jumlah air tampungan hidup (m3),
K = faktor yang nilainya tergantung dari sifat lulus air material dasar dan
dinding kolam embung,
K = 10%, bila dasar dan dinding kolam embung praktis rapat air, (k< 10-5
cm/detik), termasuk penggunaan lapisan buatan (selimut lempung,
geomembran, „rubber sheet“, semen tanah)
K = 25%, bila dasar dan dinding kolam telaga bersifat semi lulus air,
(k = 10-3 - 10-4cm/detik).
7. Menentukan Kapasitas Tampung Desain (Vd)
Untuk menentukan/memilih kapasitas tampung desain suatu embung (Vd)
harus membandingkan ketiga hal, yaitu :
a. Volume tampungan yang diperlukan (Vn) untuk menyediakan :
- Kebutuhan penduduk, hewan dan kebun (Vu) di suatu desa.
- Volume cadangan untuk kehilangan air karena penguapan (Ve) dan
resapan (Vi).
- Ruangan untuk menampung sedimen (Vs).
b. Volume air yang tersedia (potensi) selama musim hujan (Vh), yang merupakan
jumlah air maksimum yang dapat mengisi kolam embung.
c. Daya tampung (potensi) topografi untuk menampung air (Vp), yaitu volume
maksimum kolam embung yang terbentuk karena dibangunnya suatu embung.
Dari ketiga besaran tersebut dipilih yang terkecil sebagai suatu kapasitas
tampung desain suatu embung (Vd). Bilamana Vh atau Vp yang menentukan, maka
kemampuan embung melayani penduduk akan berkurang yaitu tidak sebesar yang
30
diperlukan (Vn). Jadi kapasitas tampung yang diperlukan (Vn) untuk sebuah
embung adalah
Vn = Vu + Ve + Vi + Vs
Vn = kapasitas tampung total yang diperlukan suatu desa (m3)
Vu = volume kebutuhan air (m3)
Ve = jumlah penguapan dan kolam selama musim kemarau (m3)
Vi = jumlah resapan melalui dasar, dinding, dan tubuh embung selama
musim kemarau (m3)
Vs = ruangan yang disediakan untuk sedimen (m3)
8. Analisis Erosi Lahan
Analisa erosi dan sedimentasi dilakukan untuk mengetahui berapa besarnya
laju erosi yang terjadi (ton/ha/tahun) dan sedimentasi kolam tampung. Erosi lahan
dipengaruhi oleh jenis tanah, tumbuhan penutup lahan (land cover), topografi, in-
tensitas curah hujan serta teknik/cara pengelolaan tanah.
Persamaan yang dipergunakan untuk menghitung kehilangan tanah oleh proses erosi
lahan adalah persamaan USLE (Universal Soil Loss Equation) yang dikembangkan
oleh Departemen Pertanian Amerika Serikat yaitu :
A = R * K* L* S * C* P
dimana:
A = Besar erosi (ton/ha/tahun).
R = Faktor erosivitas hujan
K = adalah faktor erodibilitas tanah
Ls = Faktor kemiringan
C = Faktor pengelolaan tanaman
P = Faktor praktek pengendalian erosi secara mekanis
Tabel 2.5
Jenis Tanah dan Nilai Faktor Erodibilitas Tanah (K)
1
Lo =
2D
Dengan :
D = kerapatan operasi aktual yang dapat dihitung dengan persamaan
1,35 d + 0,26 S + 2,80
D = kerapatan operasi hasil perhitungan dari peta topografi
S = kemiringan lereng rata-rata (Eyles,1968)
d. Faktor Penggunaan Lahan, C, dan Pengelolaan Lahan, P
Faktor CP terdiri dari faktor pengelolaan lapangan (C) dan faktor
praktek pengendalian erosi secara mekanis (P). Faktor pengelolaan tanaman
menggambarkan perbandingan antara kehilangan tanah dari lahan yang
diusahakan untuk pertanaman dengan suatu sistem pengelolaan terhadap
kehilangan dari lahan terus-menerus diolah tetapi tanpa pertanaman, diatas jenis
tanah, topografi dan kondisi iklim yang sama sedangkan faktor praktek
pengendalian erosi secara mekanis menunjukkan perbandingan tanah yang
hilang dari lahan yang tidak berteras.
Adanya keragaman dalam sistem pengelolaan tanaman sulit dilakukan. Oleh
karena itu untuk penyederhanaan faktor pengelolaan tanaman (C) dan faktor
pengendalian erosi secara mekanis (P) diwakili oleh faktor CP.
transisi Apabila tanah bahan inti tidak dapat diperoleh di tempat, maka inti
dapat dibuat dari bahan substitusi, misalnya dari beton. Bila bahan substitusi
dipakai maka inti menjadi relatif tipis, tebal minimal 0,60 m, dan disebut
diafragma.
3). Embung Pasangan Batu/Beton
Apabila fondasi tubuh embung terdiri dari satuan batu, maka tubuh embung
dapat dibuat dari pasangan batu atau beton. Pada lembah yang sempit dan
curam, berbentuk V, tubuh embung tipe ini umumnya didesain menjadi satu
dengan bangunan pelimpah yang terbuat dari material yang sama. Agar
keamanan terhadap stabilitas dapat terpenuhi maka tubuh embung didesain
berbentuk gravitasi, sehingga stabilitasnya dapat diperoleh dari berat strukturnya
sendiri.
4). Embung Komposit
Embung tipe komposit dibangun pada fondasi yang terdiri dari satuan batu,
dengan lembah yang cukup panjang. Bangunan pelimah dibangun menjadi satu
dengan tubuh embung. Bangunan pelimpah didesain sebagai pelimpah dari
pasangan batu atau beton, sedang tubuh embung dapat dibangun di kiri kanan
pelimpah yang dapat didesain sebagai urugan homogen atau urugan majemuk.
Yang perlu diperhatikan disini yaitu hubungan antara pelimpah dengan urugan
tubuh embung karena bagian kontak ini merupakan tempat kritis rembesan.
Bidang kontak antara pasangan batu/beton dengan urugan inti perlu diberi tanah
lempung yang sangat plastik dan dipadatkan dalam keadaan basah.
5). Dinding Halang (Cut-Off)
Apabila fondasi tubuh embung terdiri dari material tanah yang lulus air
dibagian atas, sedangkan material yang kedap air terletak cukup dalam di
bawahnya, maka rembesan harus dikurangi agar tidak terjadi proses erosi buluh
maupun kehilangan air yang cukup besar. Umumnya diperlukan dinding
penghalang untuk menghubungan lapisan kedap air di fondasi dengan zona
kedap air dan urugan tubuh embung.
Dinding halang dibangun pada paritan yang digali sejajar dengan sumbu urugan
hingga mencapai lapisan fondasi kedap air, dan dibuat dari lembah sampai pada
kedua bukit tumpu. Lebar dasar paritan minimum 1,50 m dengan kemiringan
galian lereng tidak boleh lebih curam dari 1H : 1V. Paritan diisi dengan lapisan
35
urugan kedap air lempung yang dipadatkan pada kondisi air cukup tinggi
(basah).
6). Kemiringan Lereng Urugan
Kemiringan lereng urugan harus ditentukan sedemikian rupa agar stabil
terhadap longsoran. Hal ini sangat tergantung pada jenis material urugan yang
hendak dicapai. Kestabilan urugan harus diperhitungkan terhadap surut cepat
muka air kolam, dan rembesan langgeng, serta harus tahan terhadap gempa.
Dengan mempertimbangkan hal ini di atas dan mengambil koefisien gempa
sebesar 0,15 g diperoleh kemiringan yang didasarkan seperti Tabel 2.6
Stabilitas dihitung dengan menggunakan metode A.W Bishop, sedangkan
parameter urugannya diperoleh dengan pengujian di laboratorium.
Tabel 2.6
Kemiringan Lereng Urugan untuk Tinggi Maksimum 10 m
banjir. Tinggi jagaan tergantung tipe tubuh embung dan diambil seperti Tabel
2.7.
Tabel 2.7
Tinggi Jagaan Embung
Tipe Embung Tinggi Jagaan
1. Urugan homogen dan majemuk 0,50
2. Pasangan batu/beton 0,00
3. Komposit 0,50
Sumber : Kriteria Desain Embung Kecil Untuk Daerah Semi Kering di Indonesia
8). Tinggi Embung
Tinggi tubuh embung harus ditentukan dengan mempertimbangkan
kebutuhan tampungan air, dan keamanan terhadap peluapan oleh banjir. Dengan
demikian tinggi tubuh embung sebesar tinggi muka air kolam pada kondisi
penuh (kapasitas tampung desain) ditambah tinggi tampungan banjir, dan tinggi
jagaan.
Hd = Hk + Hb + Hf
dengan :
Hd = Tinggi tubuh embung desain (m)
Hk = Tinggi muka air kolam pada kondisi penuh (m)
Hb = Tinggi tampungan banjir (m)
Hf =Tinggi jagaan (m)
Pada tubuh embung tipe urugan diperlukan cadangan untuk penurunan
yang secara praktis dapat diambil sebesar 0,25 m. Cadangan penurunan ini perlu
ditambahkan pada puncak embung dibagian lembah terdalam. Untuk tubuh
embung tipe pasangan beton hal ini tidak diperlukan.
1. Selimut Lempung
Material lempung yang akan digunakan sebagai selimut paling baik yang
termasuk Klarifikasi CH, tetapi tanah yang mengandung lempung minimal 25%
berdasarkan berat cukup baik pula bila digunakan. Tebal selimut lempung
minimal 50 cm, terdiri dari atas tiga lapis yang dipadatkan dalam kondisi basah.
Untuk melindungi selimut lempung terhadap retakan pada waktu kering, maka
dilindungi dengan hamparan pasir kerikil setebal 30 cm di atasanya.
2. Selimut Semen-Tanah
Untuk menentukan prosentase semen yang akan digunakan dan ketebalan
yang diperlukan dilakukan percobaan terlebih dahulu. Namun untuk jenis tanah
berpasir semen yang digunakan minimal 5% berdasarkan berat. Semen tanah
yang digunakan sebagai selimut kedap air di kolam embung minimal harus
diterapkan setebal 30 cm yang dipadatkan sehingga menjadi 15 cm.
3. Selimut Sintetik
Membran fleksibel ini sangat tipis dengan tebal sampai beberapa mm.
Selimut dari bahan karet (butyl rubber) harus dilindungi dengan sinar matahari
dan cuaca. Lapisan pelindung membran karet dapat berupa hamparan tanah
(pasir kerikil), pasangan batu atau semen tanah. Beberapa jenis membran
fleksibel yang terbuat dari polyethylene (misalnya geomembrane) dapat
dipasang terbuka terhadap sinar matahari maupun cuaca sehingga tidak
diperlukan pelindung.
Daerah yang akan diberi selimut kedap air harus dibersihkan dari
tanaman dan akar-akarnya, batu-batu tajam, dan objek lain yang dapat
merusak atau merobek membran. Seluruh tebing galian, dan urugan di tempat
yang akan diberi lapisan membran harus mempunyai kemiringan yang
38
seragam dan tidak boleh lebih curam dari IV: IH untuk lapisan membran yang
terbuka dan IV: 3 H untuk lapisan membran yang diberi sistem pelindung.
Disamping itu pada kolam embung diperlukan juga pembuatan
bangunan jebakan air pada saat musim kemarau. Jebakan air ini dibuat dengan
menggali pada tempat-tempat tertentu dalam kolam embung baik memanjang
atau meluas sehingga masih menampung air pada waktu elevasi muka air pada
pintu pengambilan adalah minimum.
Tabel 2.8
Kriteria Desain Hidraulik Pelimpah
Tabel 2.9
Koefisien Kekasaran Manning
Untuk berbagai jenis pelindung pada pelimpah
3. Rip-rap 0,0250
4. Pasangan batu/ beton 0,0140
Sumber : Kriteria Perencanaan (KP-02)
D
VI = 2 g (z + D ) −
2
VI = 2 g (z + 0,5 D )
q
d1 =
V1
b. Nilai froude
V1
F1 =
gd1
c. Tinggi air sesudah loncatan
d. Panjang kolam peredam energi dapat diperoleh dengan menggunakan
grafik yang menggambarkan hubungan antara nilai Froude dan ratio L
dan dl. Rumus-rumus di bawah ini dapat pula menggunakan grafik yang
menggambarkan hubungan antara berbagai besaran aliran (Q) , lebar
mercu pelimpah (B), tinggi mercu dari lantai kolam peredam energi (D)
dan panjang kolam peredam energi.
D1
d1
=
1
2
(1 + 8F 2 − 1 )
Tabel 2.10
Hubungan Tinggi Kolam di Atas Mercu Pelimpah
Tipe Ogee, Debit dan Lebar Pelimpah
Tinggi air kolam di atas mercu pelimpah = H (m)
Lebar mercu Debit aliran (Q)
B (m) (m 3 /dt)
M 10 15 20 25 30 35 40 50
2
3
5 1,07
42
6 0,95
7 0,86
8 0,78 1,03
9 0,72 0,95
10 0,68 0,89 1,07
12 0,78 0,95
14 0,71 0,86 0,99
16 0,78 0,91 1,03
18 0,72 0,84 0,95 1,05
20 0,68 0,78 0,89 0,98 1,07 1,24
22 0,74 0,83 0,92 1,01 1,17
24 0,69 0,72 0,87 0,95 1,10
26 0,74 0,82 0,90 1,05
28 0,71 0,78 0,86 0,99
30 0,75 0,82 0,95
32 0,72 0,78 0,91
34 0.69 0,75 0,87
36 0,72 0,84
38 0,70 0,81
40 0,78
42 _ 0,76
44 0,74
Sumber : Kriteria Perencanaan (KP-02)
b. Pipa Utama
Terbuat dari bahan HDPE Ø 2" dipasang pada galian kemudian diurug
kembali. Di bawah tubuh embung pipa diberi lembaran karet 30 x 30 cm
setiap jarak 5,00 m kemudian diurug lempung plastik dipadatkan dim
keadaan basah.
c. Pipa Sekuder
Pipa sekunder ini terdiri dari 2 (dua) buah yang semuanya terbuat dari
bahan HDPE Ø 1 ¼”. Pipa ini dipasang dalam parit yang ditimbun
kembali, langsung disambungkan pada pipa utama dan masing-masing
menuju ke tiga buah bak air (periksa butir 4).
d. Bak Air
Bak air ini ada 3 (tiga) jenis, yaitu :
1. Bak air bersih untuk penduduk dibuat di pemukiman, berukuran
lebar 1,00 m, panjang 2,00 m dan tinggi 150 m
2. Bak air untuk hewan temak dibuat di tempat peenggembalaan,
berukuran lebar 1,00 m, panjang 2,00 m dan tinggi 0,60 m
3. Bak air untuk tanaman dibuat di kebun, berukuran lebar 0,80 m,
panjang 9,00 dan tinggi 0,60 m
e. Penguras
Penguras berupa pipa bercabang, dipasang sebuah di kaki hilir tubuh
embung dan selanjutnya dipasang di pipa utama pada setiap jarak
maksimal 100 m, dan minimal dipasang dua buah
3. Perencanaan Pipa
a. Persamaan energi pada aliran di pipa
Total energi pada garis potensial atau tinggi elevasi, tinggi tekanan dan
kecepatan ditunjukkan pada gambar di bawah ini. Konsepnya hampir
sama dengan persamaan hidrolika aliran pada saluran terbuka.
Persamaan energi pada saluran tertutup/ pipa sebagai berikut :
P1 αV1 P αV
2 2
Z1 + + = Z2 + 2 + 2 + hf
y 2g y 2g
44
dengan :
hf = kehilangan tinggi pada pipa akibat gesekan, m
f = faktor gesekan
I = panjang pipa, m
d = diameter dalam pipa, m
V = kecepatan dalam pipa, m/det
Koefisien Gesekan menurut Persamaan Darcy - Wiessbach
Koefisien gesekan berhubungan dengan kondisi aliran, yang
diklasifikasikan berdasarkan angka Reynolds lihat tabel 2.11 Untuk pipa,
diameter yang digunakan sebagai dimensi karakteristik dan angka
Reynolds sebagai berikut :
Vd
Re =
v
dengan :
V = Kecepatan rata-rata aliran, m2/det
d = Diameter dim pipa, m
v = Viskositas kinematik zat cair, m2/det
Tabel 2.11
Klasifikasi aliran menurut angka Reynold
45
1 2,51
= −2 log
f Re f
Persamaan untuk permukaan pipa yang sangat kasar :
1 ε
= −2 log
f 3,7d
Persamaan untuk semua tipe aliran di aliran turbulen :
1 ε 5,72
= −2 log + 0,9
f 3,7 d Re
Koefisien Gesekan menurut Persamaan Hazen - Williams :
V = 1, 318 C R0,63 S 0,5 4
dengan :
V = Kecepatan Aliran, m/det
C = Koefisien kekasaran Hazen - Williams
R = Jari-jari Hidrolis
S = Kemiringan energi gradien = hf/ L
46
Q π d
Untuk pipa, dimana V = = ( d 2 ), dan R = , maka :
A 4 4
Q = 0,278 Cd2,63 S0,54
Tabel 2.12
Harga kekerasan untuk pipa
Harga kekasaran,
Koefisien Hazen
Bahan pipa ε
William, C
(ft)
Brass, copper,
Smooth 140
alumunium
PVC, Plastik Smooth
Besi Cast
Baru 8,0 x 10-4 130
Lama - 100
Besi Galvanis 5,0 x 10-4 120
Besi Aspalt 4,0 x 10-4 -
Wrougth iron 1,5 x 10-4 -
Besi Las 1,5 x 10-4 120
Riveted Steel 60,0 x 10-4 110
Concrete 40,0 x 10-4 130
Wood Stave 20,0 x 10-4 120
Sumber : Kriteria Perencanaan (KP-02)
c. Kehilangan Tinggi Minor
Kehilangan minor disebabkan oleh penyempitan, percabangan,
sambungan dan lain-lain. Rumus yang digunakan untuk menghitung
kehilangan tinggi minor sebagai berikut :
KV 2
hm =
2g
dengan
hm = kehilangan tinggi minor
K = Koefisien kehilangan
47
P P
Hp = Z1 + 1 − Z 2 + 2 +h f +hm
y y
Hp = ∆ z + h loss
Dengan :
H p = Tinggi energi karena pompa, m
∆ Z = Perbedaan tinggi hulu dan hilir atau static head, m
Hf = Kehilangan Tinggi akibat gesekan, m
hm = Kehilangan tinggi minor, m
h loss =Total kehilangan tinggi akibat gesekan dan minor,m
Tinggi energi, HP dan kekuatan pompa dirumuskan sebagai berikut :
QHp
BHP =
550η
Dengan :
BHP = Kekuatan pompa
Q = Debit yang masuk ke pompa, m3 / det
HP = Tinggi pompa, m
η = Efisiensi pompa
e. Susunan pipa seri
Berdasarkan rumus kontinuitas dan energi maka susunan pipa seri dapat
dihitung sebagai berikut :
=Q = Q1 = Q2 = .......
H f = h f1 = h f2 = .......
LV0
∆h m =
g .tc
Dengan :
∆ hm = P e r b e d a a n tekanan maksimum
L = panjang pipa
Vo = Kecepatan awal aliran
tc = Waktu penutupan ( p e r u b a h a n kecepatan dari Vo
h. Penutupan Katub Tiba-tiba
Perbedaan tekanan maksimum karena pengaruh penutupan katub secara
tiba-tiba adalah :
cV0
∆ hm =
g
Dengan :
∆ hm = P e r b e d a a n tekanan maksimum
c = k o e f i s i e n kecepatan aliran
Vo = Kecepatan awal aliran
g = Percepatan gravitasi
i. Penutupan Katub Secara Pelan
Perbedaan tekanan maksimum karena pengaruh penutupan katub secara
pelan adalah
V 1 Cdi A1 hi
=
V0 Cd 0 V0 V0
Dengan :
A0, A; AP = Luas awal katub, dan waktu ke I
Ap = Luas pipa
Etc = kc x Eto
Dengan :
Etc = evapotranspirasi tanaman, mm/hari
Eto = evapotranspirasi tanaman acuan, mm/hari
Kc = koefisien tanaman
a. Evapotranspirasi
Evapotranspirasi tanaman acuan adalah evapotranspirasi tanaman yang
dijadikan acuan, yakni rerumputan pendek. Eto adalah kondisi evaporasi
berdasarkan keadaan-keadaan meteorologi seperti :
- temperatur
- sinar matahari (atau radiasi)
- kelembaban
- angin
Evapotranspirasi dapat dihitung dengan rumus-rumus teoritis-empiris
dengan mempertimbangkan faktor-faktor meteorologi di atas.
Bila evaporasi diukur di stasiun agrometeorologi, maka biasanya
digunakan pan kelas A. Harga-harga pan evaporasi (Epan) dikonversi ke
dalam angka-angka Eto dengan menerapkan faktor pan Kp antara 0,65 dan
0,85 bergantung kepada kecepatan angin, kelembaban relatif serta elevasi.
Eto = Kp.Epan
Harga-harga faktor pan mungkin sangat bervariasi bergantung kepada
lamanya angin bertiup, vegetasi di daerah sekitar dan lokasi pan. Evaporasi
pan diukur secara harian, demikian pula harga-harga Eto.
Untuk perhitungan evaporasi, dianjurkan untuk menggunakan rumus
Penman yang sudah dimodifikasi. Temperatur, kelembaban, angin dan sinar
matahari (atau radiasi) merupakan parameter dalam rumus tersebut. Data-
data ini diukur secara harian pada stasiun-stasiun (agro) meteorologi dan
dirata-rata sesudah jangka waktu 10 hari atau sebulan untuk perhitungan Eto
dengan rumus Penman.
Untuk rumus Penman yang dimodifikasi ada dua metode yang
digunakan :
- Metode Nedeco/Prosida yang lihat terbitan Dirjen Pengairan, Bina
Program PSA 010, 1985
50
- Metode FAO lebih umum dipakai dan dijelaskan dalam terbitan FAO;
Crop Water requirements, 1975.
Harga-harga Eto dari rumus Penman menunjuk pada tanaman acuan
apabila digunakan albedo 0,25 (rerumputan pendek). Koefisien-koefisien
tanaman yang dipakai untuk penghitungan ETc harus didasarkan pada ETo
dengan albedo 0,25.
Seandainya data-data meteorologi untuk daerah tersebut tidak tersedia,
maka harga-harga ETo boleh diambil sesuai dengan daerah-daerah di
sebelahnya. Keadaan-keadaan meteorologi hendaknya diperiksa dengan
seksama agar transposisi data demikian dapat dijamin keandalannya.
Keadaan-keadaan temperatur, kelembaban, angin dan sinar matahari
diperbandingkan. Penggunaan konsumtif dihitung secara tengah bulanan,
demikian pula harga-harga evapotranspirasi acuan. Setiap jangka waktu
setengah bulan harga ETo ditetapkan dengan analisis frekuensi. Untuk ini
distribusi normal akan diasumsikan.
b. Koefisien tanaman
Harga-harga koefisien tanaman padi yang akan dipakai diberikan pada
berikut ini, yaitu dari Nedeco/Prosida dengan varietas unggul.
Tabel 2.12
Harga-Harga Koefisien Tanaman Padi
Nedeco/Prosida FAO
Bulan Varietas Varietas Varietas Varietas
biasa Unggul Biasa unggul
0,5 1,20 1,2 1,10 1,10
1 1,20 1,27 1,10 1,10
1,5 1,32 1,33 1,10 1,10
2 1,40 1,30 1,10 1,05
2,5 1,35 1,15 1,10 0,95
3 1,24 0 1,05 0
3,5 1,12 0,95
51
4 0 0
IR = M ek/(ek-1)
dengan :
IR = kebutuhan air irigasi di tingkat persawahan, mm/hari
M = kebutuhan air untuk mengganti/mengkonsumsi kehilangan air
akibat evaporasi dan perkolasi di sawah yang sudah dijenuhkan M
= Eo + P, mm/hari
Eo = evaporasi air terbuka yang diambil 1,1 Eto selama penyiapan,
mm/hari
P = perkolasi
K = MT/S
T = jangka waktu penyiapan lahan, hari
S = kebutuhan air, untuk penjenuhan ditambah dengan lapisan air 50
mm, mm yakni 200 + 50 = 250 mm seperti yang diterangkan di
atas.
Tabel 2.13
Kebutuhan Air Irigasi Selama Penyiapan Lahan
BAB III
METODOLOGI
3.1. Pengumpulan Data
Data yang dijadikan bahan acuan dalam penyusunan Tugas Akhir ini dapat
diklasifikasikan menurut jenis jenis datanya menjadi dua, yaitu data primer dan data
sekunder.
1. Data Primer.
Data – data primer dapat dikumpulkan dengan metode survai ke obyek
yang bersangkutan. Survai lapangan adalah suatu metode survai yang langsung
dilakukan di lokasi perencanaan embung yang akan di buat, kemudian mencatat
dan mengumpulkan data serta informasi yang diperlukan nantinya sebagai
bahan perhitungan.
2. Data Sekunder.
Data Sekunder dikumpulkan dengan cara studi pustaka dari literature yang
sudah ada sebelumnya, kemudian mencari teori – teori yang dapat membantu
dalam melakukan analisa masalah.
56
BAB IV
PERHITUNGAN STRUKTUR EMBUNG
0,80
0,80 0,80
28,40-0,24H1
1,00
32,00 m
Gambar 4.1
Lebar Efektif Mercu
Tabel IV.1
60
No Keterangan Kp
1 Untuk pilar berujung segi empat dengan sudut-sudut yang bulat pada jari- 0,02
jari yang hampir sama dengan 0,1 dari tebal pilar
2 Untuk pilar berujung bulat 0,01
3 Untuk pilar berujung runcing 0,00
Sumber : Joetata dkk (1997)
Tabel IV.2
Harga-harga koefisien kontraksi pangkal bendung (Ka)
No Keterangan Ka
1 Untuk pangkal tembok segi empat dengan tembok hulu pada 90º ke arah 0,20
aliran
2 Untuk pangkal tembok bulat dengan tembok hulu pada 90º ke arah aliran 0,10
dengan 0,5 H1 > r > 0,15 H1
3 Untuk pangkal tembok bulat dimana r > 0,5 H1 dan tembok hulu tidak 0,00
lebih dari 45º ke arah aliran
Sumber : Joetata dkk (1997)`
- B Effektif = B – 2 (n.kp + ka ) H1
= 28,40 – 2 ( 2 * 0,01 + 0,1 ) H1
= 28,40 – 0,24 H1
\
Direncanakan dengan menggunakan mercu bulat
Debit banjir rencana adalah Q 100 = 35,687 m3/det, sedangkan debit yang melewati
mercu sebesar :
Q = Cd * 2 2 * g * Bef * H 11,5
3 3 f
dimana Cd = Co x C1 x C2
Sesuai dengan standar KP-02 maka didapatkan nilai-nilai untuk Co , C1, dan C2
yaitu sebesar :
- Co = 1,49
- C1 = 1,50
- C2 = 0,99
61
Maka :
Cd = 1,49 x 1,50 x 0,99 = 2,213
Dengan cara coba-coba didapat nilai H1 = 0,48 m. Untuk keamanan desa terhadap
bahaya banjir maka direncanakan atau diperkirakan H1 = 1 meter.
Untuk H1 = 1 m maka Q = 106,252 m3/det
Dimana Beff = ((28,40 – 0,24)*1) meter
= 28,20 meter
Gambar 4.2
Bendung Dengan Mercu Bulat
Z h kr
P
P
+ 126,00
+ 123,00
2
x
Z = h 1 − , dimana hkr = 0,70 m
L
h 2h
- Untuk ≥1⇒ L =
p i
h p+h
≤1⇒ L =
p i
p + hkr p + 0.70
L= =
i 0,006
Dimana :
L = panjang pengaruh pembendungan (m)
h = tinggi muka air banjir berhubung ada bendung di hulu embung
i = kemiringan dasar sungai
p = tinggi air banjir sebelum ada embung
Z = kedalaman air pada jarak X meter dari embung
x = jarak dari Embung
2
x
Z = h1 −
L
63
2
500
Z = 0 , 70 1 −
L
2
500 x 0 , 006
Z = 0 , 70 1 −
p + 0 , 70
2
3
Z = 0 , 70 1 −
p + 0 , 70
Ketinggian embung (P) dicoba-coba sedemikian sehingga elevasi muka air di bawah
jembatan berada di sekitar + 133,00 dikurangi 1 meter = +132,00 meter.
(direncanakan free board di bawah jembatan 1 meter )
Dengan ketinggian P = 6 m, maka Z = 0,214 m
Sehingga elevasi muka air di bawah jembatan adalah + 132,214
Dimana Elevasi = + 126,00 + 6,00 + 0,214
= + 132,214 m
1
V1 = 2 * g * * H 1 + z
2
g : Percepatan Gravitasi
Z : Tinggi embung
V1 = 19 ,61 * 6,50
V1 = 11,29 m/det
64
B M .K I
Gambar 4.3
Rencana As Embung
A 11,739 + (4,59 + h2 ) * h2
R= =
P 2,8284 * h2 + 10, 420
sehingga :
35,687 3
q= m / det/ m = 1,266 m 3 / det/ m
28,20
1,206
yu = m = 0,112 m
11,29
11,29
FR = = 10,77
9,81 * 0,112
1
y 2 = yu * 1 + 8 * FR − 1m
2
1
y 2 = 0,112 * 1 + 8 * 10,77 − 1m
2
y2 = 0,4108 m < H2 = 2,193 m
b. Stabilitas Lereng
Dengan menggunakan data-data parameter tanah, tinggi galian-galilan
maksimum hmax dapat dihitung dengan menggunakan Chart of Stability
Numbers dari Taylor.
Faktor keamanan yang diambil dalam perhitungan ini ialah sebesar :
Cd = (c) / (F.K) dan tg Ød = (tg Ø) / (F.K)
γ air (G + e) )
- γ sat =
1+ e
1(2,56 + 0,53) )
- γ sat = = 2,02 ton/m3
1 + 0,53
68
Cosθ o
-
1 + Sinθ o
25 o
- kp = tg 2 45 o +
2
PA1 = γ sat * h1 * ka
= 2,02 * 3 * 1 = 6,06 ton/m2 ( tekanan tanah aktif )
PA2 = γ air * h2
= 1 * 9 = 9,00 ton/m2 ( tekanan hidrostatis )
Pp = γ sat * h3 * kp
= 2,02 * 3 * 1 = 6,06 ton/m2 ( tekanan tanah pasif )
Uplift = γ air * h
= 1 * 9 = 9 ton/m2
69
Pa2
G1
G2
Pa G3 Pp
UP
Gambar 4.4
Stabilitas Pelimpah Pada Kondisi Muka Air Normal
Dari hasil perhitungan stabilitas dapat dilihat pada tabel V.1 berikut ini :
Tabel IV.1
Perhitungan Stabilitas Embung
Gaya-gaya Horisontal
Terhadap Titik G
No. Gaya (ton)
Lengan (m) Momen( tm)
PA1 (1/2)*Pa1*h1 = 5,790 1,000 5,790
PA2 (1/2)*Pa2*h2 = 40,500 3,000 121,500
PP (1/2)*Pp*h3 = - 22,393 1,000 - 22,393
ΣRH = 23,897 ΣMH 104,897
Gaya-gaya Vertikal
Terhadap Titik G
No. Gaya (ton) Lengan
(m) Momen( tm)
G1 γc*b1*h1 = 46,200 5,250 242,550
G2 (1/2)*γc*b2*h1 = 23,100 2,333 53,900
G3 γc*b3*h2 = 46,200 3,500 161,700
UL (1/2)*Ul*b3 = - 31,500 4,667 - 147,000
ΣRV = 84,000 ΣMV 311,150
70
Tabel IV.2
Koefisien Daya Dukung Tanah Terzaghi
Gambar 4.5
Pintu Aliran Bawah
Gambar 4.6
Koefisien K untuk debit tenggelam (dari Schmidt)
Gambar 4.7
Kooefisien debit µ untuk permukaan pintu dasar atau lengkung
73
Dari hasil perhitungan didapatkan debit yang melewati pintu sorong seperti dalam
tabel berikut :
Tabel IV.3
Perhitungan Debit yang Melalui Pintu Banjir ( H=6 m)
B g a Q 1 pintu Q 2 pintu
No. K µ
(m) (m/dt2) m (m3/det) (m3/det)
1 1,00 1,00 0,60 9,80 0,00 0,00 0,00
2 1,00 1,00 0,60 9,80 0,10 0,65 1,30
3 1,00 1,00 0,60 9,80 0,20 1,30 2,60
4 1,00 1,00 0,60 9,80 0,30 1,95 3,90
5 1,00 1,00 0,60 9,80 0,40 2,60 5,21
6 1,00 1,00 0,60 9,80 0,50 3,25 6,51
7 1,00 1,00 0,60 9,80 0,60 3,90 7,81
8 1,00 1,00 0,60 9,80 0,70 4,55 9,11
9 1,00 1,00 0,60 9,80 0,80 5,21 10,41
10 1,00 1,00 0,60 9,80 0,90 5,86 11,71
11 1,00 1,00 0,60 9,80 1,00 6,51 13,01
12 1,00 1,00 0,60 9,80 1,10 7,16 14,31
13 1,00 1,00 0,60 9,80 1,20 7,81 15,62
14 1,00 1,00 0,60 9,80 1,30 8,46 16,92
15 1,00 1,00 0,60 9,80 1,40 9,11 18,22
16 1,00 1,00 0,60 9,80 1,50 9,76 19,52
1.60
1.40
Bukaan Pintu (a) meter
1.20
1.00
0.80
0.60
0.40
0.20
0.00
00
65
30
95
60
25
90
55
21
86
51
16
81
46
11
76
0.
0.
1.
1.
2.
3.
3.
4.
5.
5.
6.
7.
7.
8.
9.
9.
Tabel IV.4
Perhitungan Debit yang Melalui Pintu Banjir ( H=7 m)
B g a Q 1 pintu Q 2 pintu
No. K
m (m/dt2) m (m3/det) (m3/det)
1.60
1.40
70
41
11
81
51
22
92
62
33
03
73
43
14
84
4
.5
0.
0.
1.
2.
2.
3.
4.
4.
5.
6.
7.
7.
8.
9.
9.
10
Debit (Q) m3/det
150 mm qu = 1.2 x qD
= 1.2 x 103.5
100 kg/m = 124.2 kg/m
10 Beban hidup : PL = 100 kg/m
Pu = 1.6 x 100
= 160 kg/m
40 Mmax = 2.Pu.L + 1/2.qu.L 2
= 2x 160 x 0.9 + 0.5 x 124.2
= 288 kg.m ~ 2.88 x 106 N.mm
40 Mmax 288 6
Mn = = = 360 kg.m ~ 3,6x10
Ø 0.8
a= 2. K
1- 1- .d
0,85 . f¹c
= 6.775 mm
0,85 . f¹c . a . b
As = = 74.47 mm²
fy
1,4. b . d
As,min =
fy
= 123.1 mm²
Digunakan As,u= 123.1 mm²
123.1
Jumah tulangan = = 1.567 ~ 2 tulangan
∏/4 x 10²
Digunakan tulangan 2D - 10mm = 157,079mm² ≥ 123,103 mm²
Kontrol :
ρ As x 100 %
=
b.d
= 0.483%
Syarat :
1.4
≤ ρ ≤ ρo
fy
1.4
≤ 0.483% ≤ 3.15%
290
MT = 1/12 x qu x L² + 1/8 x Pu x L
= 1/12 x 0.792 x 1.25² + 1/8 x 16 x 1.25
= 2.60 T.m
ML = 1/24 x qu x L² + 1/8 x Pu x L
= 1/25 x 0.792 x 1.25² + 1/8 x 16 x 1.25
= 2.55 T.m
- Perhitungan akibat beban merata : qu = 0.792 T/m
ML' = 1/11 x qu x L² = 0.792 x 1.25² x 1/11 = 0.113 T.m
MT' = 1/16 x qu x L² = 0.792 x 1.25² x 1/16 = 0.077 T.m
- Perhitungan akibat beban terpusat : Pu = 16 T
MD = 1/4 x P x L = 16 x 1.25 x 1/4 = 5.00 T.m
ML" = 0.65 x MD = 0.65 x 5.00 = 3.25 T.m
MT" = 0.35 x MD = 0.35 x 5.00 = 1.75 T.m
ML, total = ML' + ML" = 0.1125 + 3.25 = 3.3625 T.m
MT, total = MT' + MT" = 0.077 + 1.75 = 1.83 T.m
Dari perhitungan diatas, diambil nilai ML dan MT terbesar :
ML = 3.363 T.m
MT = 2.60 T.m
Perhitungan tulangan tumpuan :
Mu = 2.60 T.m
D= 20 mm ds = 20 + 1/2 x D = 30mm
d= h - ds = 200 - 30 = 170 mm
Mn = Mu/Ø = 2.603 = 3.254 T.m ~ 32.54 x 10⁶N.mm
0.8
Mn 32539063 kg.m 1.126 N/mm² < Ko = 7.170 N/mm²
K = = =
b x d² 1000 x 170² mm
Dihitung sebagai tulangan tunggal :
2xK
a = 1 - 1- x d
0.85 x f'c
a = 1- 1 - 2 x 1.126 x 170
0.85 x 25
a = 9.260 mm
0,85 . f¹c . a . b 0.85 x 25 x 9.260 x 1000
As = =
fy 290
= 678,5 mm²
1.4 x b x 1.4 x 1000 x 170
As, min = = = 820.69 mm²
78
1- 2xK
a = 1- x d
0.85 x f'c
a = 12.06 mm
ANALISA PEMBEBANAN
Beban Mati
1. Beban Mati primer (Mp) :
- Plat beton = 0.0025 x 20 x 125 = 6.25 kg/cm
- Profil (digunakan profil IWF 900 x 300) = 2.13 kg/cm
- Lain - lain = 0.75 kg/cm
q Mp = 9.13 kg/cm
Beban Angin
Beban Angin = w = 0.015 kg/cm²
Keadaan tanpa beban hidup
- Tinggi bidang yang terterpa angin = 20 + 89 = 109 cm
(sisi langsung kena angin)
- Sisi yang lain = 50% x 109 = 55 cm
R1 = w x (109 + 54.5) = 2.4525 kg/cm
80
MRM = RM x e
= 354782.1 kg.cm
PERENCANAAN GELAGAR
A. Data Jembatan :
1. Bentang = 34 m
2. Lebar Jembatan = 2m
3. Mutu Beton = 250 kg/cm²
4. Mutu Baja = 290 kg/cm²
6. Shear Connector = Stud connector h = 6" d = 1"
7. Beban Angin = 0.015 kg/cm²
8. Plat Beton = 20 cm
9. Air Hujan = 5 cm
B. Analisa Tampang
tw d
tf
beff = bf + 2 λ = 125 cm
Rasio moduler, n
f'c = 250 kg/cm² = 25 MPa
Ec = 4730. Öf'c = 23650 MPa = 236500 kg/cm²
Es 8.879
n = =
Ec
Dipakai n = 9
83
C. Irisan Baja
Is = 1/12x bf x d³-1/12 x (bf - tw) x (d - 2 tf)³
= 333680.3 cm⁴
Sbs = Sts = Is 7498.43467 cm³
=
d/2
Irisan Komposit, K = 1
beff
tp
Ytc
Ybc
gn
d
Y=Ybs
Ic1
Stc1 =
(d + tp - Y1)
= 20377.807 cm³
Ic1
Sbs1 =
Y1
= 10286.241 cm³
84
Irisan Komposit, K = 3
beff . tp 2500 92.59259 cm²
∆c3 = = =
k.n 27
Ic3
Stc3 =
(d + tp - Y3)
= 27922.2 cm³
Ic3
Sbs3 =
Y3
= 9214.717 cm³
gn
'+
Ϯtc = M
Sbs
Ϯtc = M
K . N . Stc
Ϯts = M
Sts
85
Kombinasi 2 = M + Gg + A +SR + TM
Tegangan ijin baja, Ϯs = 125% . Ϯa = 125% (fy/1.5) = 2416.67 kg/cm²
Kombinasi 3 = M + ( H + K ) + RM + Gg + A +SR + TM
Tegangan ijin baja, Ϯs = 140% . Ϯa = 140% (fy/1.5) = 2706.67 kg/cm²
Kombinasi 4 = M + Gh + Gg
Tegangan ijin baja, Ϯs = 150% . Ϯa = 150% (fy/1.5) = 2900 kg/cm²
Kombinasi 1 = M + (H+K)
1. Tanpa Penunjang
Bottom Steel Top Steel Top concrete
kg/cm² kg/cm² kg/cm²
Mmp Mmp = 608.797 - Mmp = -608.797 _
Sbs Sts
2. Dengan Penunjang
Bottom Steel Top Steel Top concrete
kg/cm² kg/cm² kg/cm²
Mmp +
K=3 Mms Mmp+Mms 783.855 - Mms -405.708 - Mms -9.581
= = =
Sbs3 Sts3 K.n.Stc3
Kombinasi 2 = M + Gg + A +SR + TM
1. Tanpa Penunjang
Bottom Steel Top Steel Top concrete
kg/cm² kg/cm² kg/cm²
Mmp Mmp 608.797 - Mmp -608.797 _
= =
Sbs Sts
2. Dengan Penunjang
Bottom Steel Top Steel Top concrete
kg/cm² kg/cm² kg/cm²
Mmp +
K = 3 Mms Mmp+Mms 783.855 - Mms -405.708 - Mms -9.581
= = =
Sbs3 Sts3 K.n.Stc3
Mgg+
K = 1 Ma+M Mgg+Ma+Msr+ 644.27 -(Mgg+Ma+Msr -147.326 -(Mgg+Ma+Msr -36.135
= = =
sr+Mtm Sbs1 Sts1 K.n.Stc1
Ϯbs = 1428.125 Ϯts = -553.034 Ϯtc = -45.716
< 2416.67 kg/cm² < 2416.67 kg/cm² < 140.63 kg/cm²
Kombinasi 3 = M + ( H + K ) + RM + Gg + A +SR + TM
1. Tanpa Penunjang
Bottom Steel Top Steel Top concrete
kg/cm² kg/cm² kg/cm²
Mmp Mmp 608.797 - Mmp -608.797 _
= =
Sbs Sts
2. Dengan Penunjang
Bottom Steel Top Steel Top concrete
kg/cm² kg/cm² kg/cm²
Mmp +
K = 3 Mms Mmp+Mms 783.855 - Mms -405.708 - Mms -9.581
= = =
Sbs3 Sts3 K.n.Stc3
Kombinas
Kombinasi 4 = M + Gh + Gg
1. Tanpa Penunjang
Bottom Steel Top Steel Top concrete
< < <
Mmp Mmp 608.797 - Mmp -608.797 _
= =
Sbs Sts
K = 1 MGg+ MGg + MGh 91.286 - MGg + MGh -20.875 -MGg + MGh -5.12
= = =
MGh Sbs1 Sts1 K.n.Stc1
Ϯbs = 988.535 Ϯts = -778.969 Ϯtc = -13.5273
< 2900 kg/cm² < 2900 kg/cm² < 168.75 kg/cm²
2. Dengan Penunjang
Bottom Steel Top Steel Top concrete
< < <
Mmp +
K = 3 Mms Mmp+Mms 783.855 - Mms -405.708 - Mms -9.581
= = =
Sbs3 Sts3 K.n.Stc3
KESIMPULAN :
Untuk berbagai kombinasi pembebanan tidak terjadi tegangan tarik dari balok sehingga
sistim sambungan tidak menggunakan angkur.
Beban Hidup
Beban Merata = 238 t/m
Beban Garis = 38.182 t/m
Koef. Kejut = 1+20/(50+L) = 1.238
Beban hidup pada 1 Abutment ( H+K ) = 166.273 ton
Akibat Gempa
Koefisien Gempa = 0.125
No. Gaya Gempa ( H = k *V) H y H*y
1 Pengaruh beban mati 3.118 6.30 19.644
2 Pengaruh berat sendiri abutmen 10.884 7.68 83.640
3 Pengaruh berat tanah 9.380 8.33 78.088
4 Pengaruh berat sumuran 0.000 0.00 0.000
23.382 181.372
Tekanan Tanah
Tekanan Tanah y M = P*y
No.
( ton ) (m) (tm)
1. P1 = 4.71744 7.750 36.560
2. P2 = 15.288 6.433 98.348
3. P3 = 0 2.000 0.000
4. P4 = 0.000 1.333 0.000
5. P5 = -923.167 1.600 -1477.067
-903.161 -1342.159
Rm = 8.314 ton
Jarak = 13.7 m
Mr = 113.90 tm
KOMBINASI PEMBEBANAN :
KOMBINASI I= M + ( H + K ) + Ta + Tu
KOMBINASI II= M + Ta + Ah + Gg + A + SR + Tm
KOMBINASI II= Kombinasi ( I ) + Rm + Gg + A + SR + Tm - S
KOMBINASI IV= M + Gh +Tag + Gg + AHg+ Tu
Keterangan :
A = Beban Angin
Ah = Gaya akibat aliran dan hanyutan
Ahg = Gaya akibat aliran dan hanyutan pada waktu gempa
Gg = Gaya gesek pada tumpuan bergerak
Gh = Gaya horisontal ekivalen akibat gempa bumi
(H+K) = Beban hidup dengan kejut
M = Beban mati
P1 = Gaya - gaya pada waktu pelaksanaan
Rm = Gaya rem
S = Gaya sentrifugal
SR = Gaya akibat susut dan rangkak
Tm = Gaya akibat perubahan suhu
Ta = Gaya tekanan tanah
Tag = Gaya tekanan tanah akibat gempa bumi
Tb = Gaya tumbuk
Tu = Gaya angkat ( Buoyancy )
Tegangan tanah
q = 7.870 t/m2 < qa = 99.06 t/m2
OK !
91
Kombinasi II : M + Ta + Ah + Gg + A + SR + Tm
Terhadap pusat berat dasar fondasi :
No. Beban V x H y Mv = V * x Mh = H * y
1. M:
- Struktur atas 24.95 -0.600 - - (14.967) -
- Berat Abutment 87.08 -0.569 - - (49.546) -
- Berat tanah 75.04 -1.583 - - (118.782) -
2. Ta - - -903.16 - - 703.600
3. Gg - - 0 0 - 0
4. A 11.48 11.15 127.946
Total 187.06 -891.686 -183.295 831.546
648.252
Tegangan tanah
q = 90.256 t/m2 < qa = 123.83 t/m2
OK !
Vu = 1868.390 kNm
Mu = 4111.3106 kNm
Beban mati :
PDL = 24.945125 ton
= 249.45125 kN
Beban hidup :
PLL = 166.272727 ton
= 1662.72727 kN
Pu = 2959.70514 kN
94
PEMBESIAN :
Pu = 2959.705 kN ds = d' = 60 mm2
Mu = 4111.302 kNm d = 740 mm2
fc' = 22.5 MPa Tul dia = 25 mm
fy = 390 MPa As,1tul = 491 mm2
b = 14000 mm Coba As = As'
h = 800 mm = 0,5 % Ag
β1 = 0.85
φ = 0.65 dipakai D25 - 150
e = 1389 mm As = As' = 45833 mm2
ρ = 0.0044 Ts = 0 N
m = 20.392 Cs = 0 N
cb = 448.48 mm Cc = 102069545 N
ab = 381.21 mm Pb = 102069545 N
fs' = 600.00 MPa φ Pb = 66345205 N
fs' < fy ? Mb = 21372744215 kNm
600 > 390 φ Mb = 13892283740 kNm
Digunakan fy ! eb = 209 mm
e < eb ?
1389.092 < 209.39
Hancur tarik !
Pn = 12016435 N
= 12016 kN
φ Pn = 7811 kN
φ Pn > Pu ?
7811 > 2959.71
OK !
TULANGAN GESER :
Pu = 2959.705 kN Dia tul = 13 mm
Vu = 1868.39 kN As,1tul = 133 mm2
fc' = 25 MPa ds = 60 mm
fy = 390 MPa d = 330 mm
bk = 14000 mm
hk = 800 mm
φ = 0.65
Vn = 2874446 N
Vc = 3922671 N
φ Vc = 2549736 N
Vu > φ Vc ?
1868390 < 2549736
Digunakan tul geser minimum !
95
BAB V
RKS DAN RAB
Pasal I.01
PERATURAN UMUM
Tata laksana dalam penyelenggaraan bangunan ini dilaksanakan berdasarkan peraturan-
peraturan sebagai berikut :
1. Sepanjang tidak ada ketentuan lain untuk melaksanakan pekerjaan bangunan
borongan di Indonesia, maka yang sah dan mengikat adalah syarat-syarat
umum untuk melaksanakan pekerjaan borongan bangunan di Indonesia No. 9
tanggal 28 Mei 1941 dan tambahan lembaran negara NP.14571.
2. Keputusan Presiden RI No. 16 tahun 1994, tanggal 22 Maret 1994, tentang
pedoman pelaksanaan APBN.
3. Keputusan Presiden RI No. 24 tahun 1995, tanggal 28 April 1995 tentang
perubahan Keppres No. 16, tanggal 22 Maret 1994 tentang pelaksanaan APBN.
4. Instruksi Presiden No. 1 tahun 1988, tentang tata cara pengadaan barang dan
jasa.
5. Keputusan Presiden RI No. 6 tahun 1988, tentang pencabutan beberapa
ketentuan mengenai pengadaan barang dan jasa.
6. . Peraturan Pemerintah daerah setempat.
7. Keputusan Menteri Sekretaris Negara selaku Ketua Tim Pengendali Pengadaan
barang/peralatan Pemerintah No. 3547/TPPBPP/XII/1985 tanggal 31 Desember
1985, tentang pedoman prakualifikasi.
8. . Keputusan Menteri Pekerjaan Umum RI No. 61/KPTS/1981, tentang Prosedur
Pokok Pengadaan Bangunan Gedung Negara.
96
Pasal I.02
PEMBERI TUGAS PEKERJAAN
Pemberi Tugas Pekerjaan Detail Desain Embung Kwangen Kabupaten Sragen dalam hal
ini bertindak sebagai penanggung jawab program.
Pasal I.03
DIREKSI
Direksi adalah Unsur Dinas / Instansi untuk melaksanakan pengelolaan proyek yang
ditunjukkan untuk :
a. Penanggung Jawab Program
• Penanggung Jawab Proyek
• Pemimpin Proyek
• Bendahara Proyek
Pasal I.04
PERENCANA
1. Perencana untuk pekerjaan ini adalah : PT. PERWIRA KARYA
97
Pasal I.05
PENGAWAS LAPANGAN
1. Didalam pelaksanaan sehari-hari ditempat pekerjaan, sebagai Pengawas Lapangan
adalah Konsultan Pengawas.
2. a. Konsultan Pengawas tidak dibenarkan merubah ketentuan-ketentuan pelaksanaan
pekerjaan sebelum mendapat ijin dari Pemimpin Bagian Proyek.
b. Bilamana Pengawas Lapangan menjumpai kejanggalan-kejanggalan dalam
pelaksanaan atau menyimpang dari Bestek upaya segera memberitahukan
kepada Pemimpin Bagian Proyek.
3. Konsultan Pengawas diwajibkan menyusun rekaman pengawasan.
Selama pelaksanaan proyek berlangsung dari 0% - 100%, disampaikan kepada
Pimpinan Bagian Proyek dan Unsur Teknis.
Pasal I.06
PEMBORONG / KONTRAKTOR
Perusahaan berstatus Badan Hukum yang usaha pokokya adalah melaksanakan pekerjaan
pemborong dengan kualifikasi CI (Kepres no.16 tanggal 22 Maret 1994) untuk bidang
Bangunan Gedung dan Pabrik yang memenuhi syarat-syarat bonafiditas, kualitas dan
kuantitas menurut Panitia Lelang yang ditunjuk oleh Pimpinan Bagian Proyek untuk
melaksanakan pekerjaan rehabilitasi gedung tersebut setelah memenangkan pelelangan ini
Pasal I.07
PEMBERIAN PENJELASAN
1. Pemberian penjelasan (Aanswijzing) akan dilaksanakan pada:
a. Hari : Jumat
98
Pasal I.08
PELELANGAN
1. Pelelangan akan dilakukan sesuai dengan keputusan Presiden No.24 tahun 1995
serta perubahannya pada saat pelelangan.
2. Pemasukan Syarat Penawaran dilakukan paling lambat pada :
a. Hari : Rabu
b. Tanggal : 7 Juli 2010
c. Waktu/jam : 08.00 – 10.00
d. Tempat : Ruang Sidang PJSA BBWS Pemali Juana
Jl. Brigjen Sudiarto 375 Semarang Semarang
3. Pembukuan Surat Penawaran akan dilakukan oleh Panitia Lelang dihadapan para
rekanan/pemborong pada :
a. Hari : Jumat
b. Tanggal : 9 Juli 2010
c. Waktu/jam : 08.00 – 12.00
d. Tempat : Ruang Sidang PJSA BBWS Pemali Juana
Jl. Brigjen Sudiarto 375 Semarang Semarang
Wakil Pemborong yang mengikuti/menghadiri pelelangan harus membawa
Surat Kuasa bermaterai Rp. 6.000,- dari Direktur Pemborong dan bertanggung
jawab penuh.
Pasal I.09
99
SAMPUL PENAWARAN
1. Sampul Surat Penawaran berukuran 25 cm X 40 cm berwarna putih dan tidak
tembus baca.
2. Sampul Surat Penawaran yang sudah berisi Surat Penawaran lengkap dilakukan
lima tempat dan tidak diberi kode cap cincin atau kop perusahaan dan kode-kode
lainnya.
3. Sampul Surat Penawaran disebelah kiri atas dan disebelah kanan atas supaya ditulisi
dan diketik langsung tidak boleh tempelan (periksa contoh sampul Surat
Penawaran), dengan huruf besar.
Hari/tanggal : …………………..
Waktu : …………………..
Tempat : …………………..
Kepada Yth :
Pengguna Anggaran
Kegiatan Pekerjaan Pembangunan Syphon Pada Sungai
Kamijoro Daerah Istimewa Yogyakarta
Tahun Anggaran 2010
Yogyakarta
Tempat Lak
100
Pasal I.10
SAMPUL SURAT PENAWARAN YANG TIDAK SAH
Sampul Surat Penawaran tidak sah dan dinyatakan gugur bilamana:
1. Sampul Surat Penawaran dibuat menyimpang dari atau tidak sesuai dengan syarat-
syarat dalam pasal I.09
2. Sampul Surat Penawaran terdapat nama penawar atau terdapat harga penawaran
atau terdapat tanda-tanda diluar syarat-syarat yang telah ditentukan dalam pasal
I.09.
Pasal I.11
PERSYARATAN PENAWARAN
1. Penawar yang diminta adalah penawaran yang sama sekali lengkap menurut
gambar, ketentuan-ketentuan RKS serta Berita Acara Aanwijzing.
2. Surat-surat yang dibuat oleh pemborong harus dibuat diatas kertas yang ada kop
stuk nama perusahaan (pemborong) dan harus ditandatangani oleh Direktur
Pemborong yang terangnya.
3. Bilamana Surat Penawaran tidak ditandatangani oleh Direktur Pemborong sendiri
harus dilampiri : Surat kuasa dari Direktur Pemborong.
4. Surat Penawaran supaya dibuat rangkap 5 (lima) lengkap dengan lampiran-
lampirannya dan Surat yang asli diberi materai Rp.6.000,00 dan materai supaya
diberi tanggal, terkena tandatangan dan cap perusahaan.
5. Surat Penawaran termasuk lampiran-lampirannya supaya dimasukkan ke dalam satu
amplop sampul surat penawaran yang tertutup.
6. Lampiran-lampiran Surat Penawaran tersebut antara lain seperti:
a. Foto copy Surat Undangan.
101
b. Surat Penawaran.
c. RAB dan Rekapitulasi.
d. Daftar Harga Satuan Pekerjaan.
e. Daftar/analisa harga.
f. Daftar Harga Satuan bahan dan upah kerja.
g. Jadwal kerja pelaksanaan / time schedule.
h. Daftar Tenaga Ahli yang ditugaskan untuk proyek ini.
i. Surat-surat kesanggupan bermaterai Rp. 6.000,- dibuat 1 (satu) lembar yaitu :
1. Membayar retribusi bahan galian Gol.C pada kantor Dipenda.
2. Mengasuransikan tenaga kerjanya pada Perum Astek.
3. Tunduk kepada Peraturan Daerah setempat.
4. Sanggup membayar jaminan Pelaksanaan bagi yang mengikuti
pelelangan.
j. Foto copy tanda keanggotaan Gapensi / yang masih berlaku
k. Foto copy sertifikasi dari LPJKN.
l. Foto copy akte Pendirian Perusahaan lengkap perubahannya.
m. Foto copy SIUJK dari Kanwil Departemen PU.
n. Foto copy NPWP (asli ditunjukkan saat lelang)
o. Foto copy tanda Pengusaha Kena Pajak.
p. Referensi Bank Pemerintah (bersifat khusus untuk mengikuti tender proyek
ini)
q. Foto copy Rekening Koran Tiga bulan.
r. Neraca perusahaan tahun terakhir.
s Struktur organisasi dan personil perusahaan.
YANG MENGGUNAKAN KERTAS KOP PERUSAHAAN
1. Surat Penawaran
2. Surat Pernyataan/kesanggupan
3. Daftar satuan bahan dan upah hal satu
4. Daftar Satuan Pekerjaan halaman satu.
5. RAB dan Rekapitulasi halaman satu
6. Daftar Analisa halaman pertama
7. Daftar Peralatan halaman pertama
8. Daftar Tenaga Ahli yang ditugaskan pada proyek ini.
Catatan:
102
Pasal I.12
SURAT PENAWARAN YANG TIDAK SAH
Surat Penawaran yang tidak sah dan dinyatakan gugur, bilamana:
1. Surat Penawaran tidak dimasukkan dalam sampul tertutup.
2. Surat Penawaran, surat pernyataan dan daftar analisa serta RAB, dibuat tidak
diatas kop nama dari pemborong yang bersangkutan.
3. Surat Penawaran tidak ditanda tangani oleh penawar.
103
4. Surat penawaran asli tidak bermaterai Rp. 6.000,- tidak diberi tanggal dan
tidak terkena tanda tangan penawaran/tidak ada cap perusahaan.
5. Harga penawaran yang tertulis dengan angka tidak sesuai dengan yang tertulis
dengan huruf.
6. Tidak jelas besarnya jumlah penawaran baik tertulis maupun dengan angka
atau dengan huruf.
7. Surat penawaran dari pemborong yang tidak diundang.
8. Surat penawaran yang tidak lengkap lampirannya seperti pada pasal I.10.6
atau terdapat lampiran surat penawaran yang tidak sah.
Pasal I.13
CALON PEMENANG
1. Apabila harga dalam penawaran telah dianggap wajar dan dalam batas ketentuan
mengenai harga satuan (harga standard) yang telah ditetapkan serta telah sesuai
dengan ketentuan yang ada, maka Panitia menetapkan 3 (tiga) peserta yang telah
memasukkan penawaran yang paling menguntungkan negara dalam arti:
a. Penawaran secara teknis dapat dipertanggung jawabkan.
b. Perhitungan harga ditawarkan dapat dipertanggung jawabkan.
c. Penawaran yang tersebut adalah yang terendah diantara penawaran yang
memenuhi syarat seperti tersebut pada no. 1a dan 1b diatas.
2. Jika 2 peserta atau lebih mengajukan harga penawaran sama, maka panitia memilih
peserta menurut pertimbangan mempunyai kecakapan dan kemampuan terbesar.
Jika bahan-bahan untuk menentukan pilihan tidak ada, maka penilaiannya dilakukan
dengan undian, hal mana harus dicatat dalam Berita Acara.
3. Panitia membuat laporan kepada pejabat yang berwenang mengambil keputusan
mengenai penetapan calon pemenang. laporan tersebut disertai usulan serta
penjelasan tambahan dan keterangan untuk mengambil keputusan.
Pasal I.14
PENETAPAN PEMENANG
Berdasarkan laporan yang disampaikan oleh Panitia, Pejabat yang berwenang menetapkan
pemenang pelelangan dan cadangan pemenang pelelangan diantara calon yang diusulkan
oleh Panitia.
104
Pasal I.15
PENGUMUMAN PEMENANG
1. Pengumuman pemenang dilakukan oleh Panitia setelah ada penetapan pemenang
pelelangan dari pejabat yang berwenang.
2. Kepada rekanan yang berkeberatan atas penetapan pemenang pelelangan diberikan
kesempatan untuk mengajukan sanggahan secara tertulis kepada pejabat yang
bersangkutan selambat-lambatnya dalam waktu 4 (empat) hari setelah pengumuman
/ penetapan pemenang. Sanggahan hanya dapat diajukan terhadap prosedur
pelaksanaan pelelangan.
3. Jawaban terhadap sanggahan diberikan secara tertulis selambat-lambatnya dalam
waktu 4 (empat) hari kerja setelah diterimanya sanggahan tersebut.
Pasal I.16
PEMBATALAN PELELANGAN
1. Peserta lelang yang memasukkan surat penawaran kurang dari 5 (lima) rekanan.
Penawaran yang memenuhi syarat-syarat (yang sah) kurang dari 3 (tiga) peserta dan
:
a. Harga Standard dilampaui.
b. Dana yang tersedia tidak cukup.
c. Harga-harga yang ditawarkan dianggap tidak wajar.
2. Apabila sanggahan dari rekanan dianggap benar
3. Berhubung berbagai hal tidak memungkinkan mengadakan penetapan pemenang
Pasal I.17
KEPUTUSAN PEMBERIAN PEKERJAAN
1. Pemimpin bagian proyek akan memberikan pekerjaan kepada pemborong sesuai
dengan peraturan yang berlaku.
2. SPK akan diberikan kepada Pemborong yang telah ditunjuk paling lambat dalam
waktu 10 (sepuluh) hari, paling lambat dalam waktu 10 (sepuluh) hari setelah
pengumuman pemenang pelelangan.
Pasal I.18
PELAKSANA PEMBORONG
105
Pasal I.19
SYARAT-SYARAT PELAKSANAAN
Kontraktor sebelum mulai pelaksana pekerjaan diharuskan mengadakan penelitian antara
lain:
1. Lapangan /lahan yang tersedia
2. Gambar-gambar secara menyeluruh
3. Penjelasan-penjelasan yang tertuang dalam Berita Acara Aanwijzing. Pekerjaan
harus dilaksanakan antara lain menurut:
a. RKS dan gambar-gambar detail untuk pekerjaan ini.
b. RKS dan segala perubahan – perubahannya dalam aanwijzing (Berita Acara
Aanwijzing)
c. Petunjuk-petunjuk dari Pemimpin Bagian Proyek Pengelola Proyek dan
Konsultan Pengawas.
Pasal I.20
KETETAPAN UKURAN-UKURAN DAN PERUBAHAN-PERUBAHANNYA
1. Pemborong harus bertanggung jawab atas tepatnya pekerjaan menurut ukuran-
ukuran yang tercantum dalam gambar dan bestek.
2. Pemborong diwajibkan mencocokkan ukuran satu sama lain, apabila ada perbedaan
ukuran dalam gambar dan RKS segera dilaporkan kepada Pimpinan Bagian Proyek.
3. Bilamana ternyata terdapat selisih atau perbedaan ukuran antara gambar dan RKS,
maka petunjuk Pimpinan Bagian Proyek yang dijadikan pedoman.
106
Pasal I.21
PENJAGAAN DAN PENERANGAN
1. Pemborong ikut bertanggung jawab atas keamanan dan harus mengurus penjagaaan
diluar jam kerja (siang dan malam) dalam komplek pekerjaan termasuk bangunan
yang sedang dikerjakan.
2. Untuk kepentingan keamanan dan penjagaan perlu diadakan penerangan/lampu
pada tempat tertentu, satu dan lain hal atas kehendak Proyek.
3. Pemborong bertanggung jawab sepenuhnya atas bahan dan alat-alat lain yang
disimpan dalam gudang dan halaman pekerjaaan Apabila terjadi kebakaran dan
pencurian, pemborong harus segera mendatangkan gantinya untuk kelancaran
pekerjaan.
4. Pemborong harus menjaga jangan sampai terjadi kebakaran atau alat bantu lain
untuk keperluan yang sama harus selalu berada di tempat pekerjaan.
5. Segala resiko dan kemungkinan kebakaran yang menimbulkan kerugian-kerugian
dalam pelaksanaan pekerjaan dan bahan-bahan material juga gudang dll,
sepenuhnya menjadi tanggung jawab pemborong.
Pasal I.22
KESEJAHTERAAN DAN KESELAMATAN KERJA
1. Bilamana terjadi kebakaran, kecelakaan Pemborong harus segera mengambil
tindakan dan segera memberitahukan kepada Pemimpin Bagian Proyek.
2. Pemborong harus memenuhi/mentaati peraturan-peraturan tentang perawatan
korban dan keluarganya.
107
Pasal I.23
PENGGUNAAN BAHAN BANGUNAN
1. Semua bahan-bahan bangunan untuk pekerjaan ini sebelum digunakan harus
mendapat persetujuan dari Direksi terlebih dahulu.
2. Semua bahan-bahan bangunan yang telah dinyatakan oleh Pemimpin Bagian
Proyek tidak dapat dipakai (afkeur) harus segera disingkirkan keluar lapangan
pekerjaan dan hal ini menjadi tanggung jawab pemborong.
3. Bilamana Pemborong melanjutkan pekerjaan dengan bahan-bahan bangunan yang
ditolak, maka proyek berhak menyuruh membongkar dan harus diganti dengan
bahan-bahan yang memenuhi syarat atas tanggung jawab Pemborong.
4. Bilamana Pemimpin Bagian Proyek sangsi akan mutu (kualitas) bahan bangunan
yang digunakan, Pemimpin Bagian Proyek berhak minta kepada Pemborong untuk
memeriksa bahan-bahan bangunan yang akan ditentukan atas biaya Pemborong.
5. Diutamakan menggunakan bahan produksi dalam negeri.
Pasal I.24
KENAIKAN HARGA DAN FORCE MAJEURE
1. Semua kenaikan harga yang bersifat biasa pemborong tidak dapat mengajukan
claim.
2. Semua kenaikan harga akibat Pemerintah Republik Indonesia di bidang moneter
yang bersifat nasional dapat mengajukan claim sesuai dengan keputusan Pemerintah
dan pedoman resmi dari Pemerintah RI.
3. Semua kerugian akibat Force Majeure berupa alam a.l : gempa bumi,angin topan,
hujan lebat, pemberontakan, perang dan lain-lain kejadian tersebut dapat dibenarkan
oleh Pemerintah dan berakibat menimbulkan kerusakan bangunan bukan menjadi
tanggungan pemborong.
Pasal I.25
108
LAIN-LAIN
1. Hal-hal yang belum tercantum dalam RKS ini dijelaskan didalam aanwijzing dan
akan diberikan petunjuk pengelola proyek.
2. Bilamana jenis pekerjaan yang telah tercantum didalam contoh daftar BQ ternyata
terdapat kekurangan, maka kekurangannya tersebut dapat ditambahkan menurut
pos-posnya masing-masing dengan menambahkan huruf alfabet pada nomor
tersebut dari pos yang bersangkutan, misalnya : pos persiapan nomor terakhir 4,
maka penambahannya tidak nomor 5, tetapi nomor 4a, 4b, 4c, dan seterusnya.
3. BQ (Bill of Quantity) yang volume mengikat dalam penawaran, tetapi tidak
mengikat dalam pelaksanaan.
4. Pemborong sebelum melaksanakan pembongkaran harus meminta ijin secara tertulis
terlebih dahulu kepada direksi/pengelola Proyek/user minimal 1 (satu) minggu
sebelumnya.
5. Bahan-bahan bangunan hasil bongkaran yang tidak dapat dipergunakan lagi harus
inventarisasir pemborong bersama pengawas.
6. Hasil bongkaran harus diserahkan kepada pihak proyek bagian Rumah Tangga Balai
Diklat Depag dan dibuatkan Berita Acara Penyerahan yang ditanda tangani oleh
pemborong, pengawas, user, dan Pemimpin Bagian Proyek.
7. Biaya untuk pemindahan hasil bongkaran dari lokasi proyek ke tempat
penampungan yang telah ditentukan, dibebankan kepada pemborong.
8. Kerusakan bagian bangunan yang diakibatkan oleh Pelaksanaan pekerjaan, menjadi
tanggung jawab pemborong sepenuhnya.
9. Penggunaan air, dan listrik kerja yang digunakan untuk melaksanakan pekerjaan ini
ditanggung oleh kontraktor/pemborong.
10. Sesuai Perda Dati I Jateng No.14 tahun 1995 sebelum penandatanganan kontrak /
perjanjian pekerjaan, supaya membayar leges Rp. 50.000,00
11. IMB merupakan tanggung jawab pemborong, surat-surat berasal dari bagian proyek.
Pasal II.02
JAMINAN PELAKSANAAN
1. Jaminan pelaksanaan ditetapkan sebesar 5% dari nilai kontrak.
2. Jaminan pelaksanaan diterima oleh Pimpinan Proyek pada waktu menandatangani
Surat Perjanjian Pemborongan.
3. Jaminan pelaksanaan dapat dikembalikan bilamana prestasi pelaksanaan mencapai
100% dan pekerjaan telah diserahkan untuk pertama kalinya dan diterima baik oleh
Direksi (disertai Berita Acara Penyerahan I).
Pasal II.03
RENCANA KERJA TIME SCHEDULE)
1. Pemborong harus membuat rencana kerja pelaksanaan yang diperiksa oleh
pengawas dan pengawas teknik proyek, dan disetujui oleh Pimpinan Proyek
selambat-lambatnya 1 minggu setelah SPK diterbitkan serta Daftar Nama Pelaksana
yang ditugaskan diserahkan untuk menyelesaikan Proyek ini.
2. Pemborong diwajibkan untuk melaksanakan pekerjaan merencana kerja tersebut.
Pasal II.04
LAPORAN HARIAN MINGGUAN
1. Konsultan pengawas tiap minggu diwajibkan mengirim laporan kepada Pemimpin
Proyek mengenai prestasi pekerjaan disertai laporan harian, Laporan Harian dan
Mingguan dibuat oleh Pengawas Lapangan dan dilegalisir oleh BBWS Pemali Jua-
na.
110
2. Penilaian prosentase kerja atas dasar pekerjaan yang sudah dikerjakan, tidak
termasuk bahan-bahan ditempat pekerjaan dan tidak atas dasar besar pengeluaran
uang oleh pembororng.
3. Contoh blangko laporan harian dan mingguan agar dikonsultasikan dengan Direksi.
Pasal II.05
PEMBAYARAN
1. Pembayaran akan diatur dalam kontrak (surat perjanjian pemborong).
2. Tiap mengajukan pembayaran angsuran (termin) dan penyerahan pertama harus
disertai Berita Acara Pemeriksaan, dilampiri daftar hasil kemajuan pekerjaan dan
foto berwarna.
Pasal II.06
SURAT PERJANJIAN PEMBORONG (KONTRAK)
1. Surat perjanjian pemborong (kontrak) dibuat rangkap 15 (lima belas) atas biaya
pemborong kesemuanya bermeterai Rp. 6.000
2. Kontrak dibuat Proyek, sedang lampiran-lampirannya disiapkan oleh pemborong
antara lain :
a. Bestek dan voorwaden / RKS yang disahkan
b. Berita Acara Aanwijzing yang disahkan.
c. Berita Acara pembukaan Surat Penawaran.
d. Berita Acara Evaluasi.
e. Usulan penetapan pemenang.
f. Penetapan Pemenang.
g. Pengumuman Pemenang.
h. SPK (Gunning).
i. Surat penawaran beserta lampiran-lampirannya.
j. Fotocopy jaminan pelaksanaan.
k. Gambar pelaksanaan.
Pasal II.07
PERMULAAN PEKERJAAN
111
Pasal II.08
PENYERAHAN PEKERJAAN
1. Jangka waktu pelaksanaan pekerjaan selama 100 hari kalender, termasuk hari
minggu, hari besar, hari raya.
2. Pekerjaan dapat diserahkan yang pertama kalinya bilamana pekerjaan sudah selesai
100% dan dapat diterima dengan baik oleh Pemimpin Proyek dengan disertai Berita
Acara dan dilampiri daftar kemajuan pekerjaan pada penyerahan pertama untuk
pekerjaan ini, keadaan halaman dan bangunan harus dalam keadaan rapi dan bersih.
3. Untuk memudahkan suatu penelitian sewaktu diadakan pemeriksaan teknis dalam
angka penyerahan pertama, maka surat permohonan pemeriksaan teknis yang
diajukan Pemimpin Proyek supaya dilampiri :
a. Daftar kemajuan pekerjaan 100%.
b. Tempat album berisi foto berwarna yang menyatakan prestasi dari 0%-
100%.
4. Surat permohonan pemeriksaan teknis yang dikirim kepada Pemimpin Proyek harus
sudah dikirimkan selambat-lambatnya tujuh hari sebelum batas waktu penyerahan
pertama kalinya berakhir.
5. Dalam penyerahan pekerjaan pertama kalinya dan bilamana terdapat pekerjaan
instalasi listrik, maka pihak pemborong harus menunjukkan kepada proyek syarat
pernyataan bermaterai Rp. 6000 bahwa instalatur terdaftar di PLN. Bilamana pihak
pemborong tidak dapat menunjukkan surat penyerahan pekerjaan yang pertama
kalinya ditangguhkan dahulu, agar tidak menjumpai kesulitan dikemudian hari
sewaktu akan menyambung aliran listrik.
6. Instalasi penangkal petir dengan data-datanya.
Pasal II.09
PEMELIHARAAN
112
Pasal II.10
PERPANJANGAN WAKTU PENYERAHAN
1. Surat permohonan perpanjangan waktu penyerahan pertama yang diajukan kepada
Pemimpin Proyek harus sudah diterima selambat-lambatnya 15 (lima belas) hari
sebelum batas waktu penyerahan pertama kalinya berakhir dan surat tersebut supaya
dilampiri :
a. Data-data yang lengkap.
b. Time schedule baru yang sudah disesuaikan dengan sisa
pekerjaan.
2. Surat permohonan waktu penyerahan pekerjaan tanpa ada data-data yang lengkap
tidak akan dipertimbangkan.
3. Permintaan perpanjangan waktu penyerahan pekerjaan pertama kalinya dapat
diterima oleh Pemimpin Proyek bilamana:
a. Adanya pekerjaan tambahan atau pengurangan (meer and minder) yang tidak
dapat dielakkan lagi setelah atau sebelum kontrak ditanda tangani oleh kedua
belah pihak.
b. Adanya surat perintah tertulis dari Pemimipin Proyek tentang pekerjaan
tambahan.
c. Adanya surat perintah tertulis dari Pemimpin Proyek bahwa pekerjaan untuk
sementara waktu dihentikan.
d. Adanya gangguan curah hujan yang terus menerus ditempat pekerjaan secara
langsung mengganggu pekerjaan, yang dilaporkan oleh konsultan Pengawas
dan dilegalisasi oleh unsur teknis yang bersangkutan.
e. Pekerjaan tidak dapat dimulai tepat pada waktunya yang telah ditentukan
karena lahan yang telah dipakai untuk bangunan masih ada permasalahan.
113
Pasal II.11
DENDA (Pasal 49 A.V)
1. Bilamana batas waktu penyerahan pekerjaan yang pertama kalinya dilampaui (tidak
dipenuhi), maka Pemborong dikenakan denda / diwajibkan membayar denda 2 (dua)
permil tiap hari keterlambatan, maksimal 5% dari nilai kontrak.
2. Menyimpang dari pasal 49 A.V terhadap segala kelalaian mengenai peraturan atau
tugas yang tercantum dalam bestek ini tidak ada ketetapan denda lainnya,
pemborong dapat dikenakan denda sebesar 2 permil tiap kali terjadi kelalaian
dengan tidak diperlukan pengecualian.
3. Berdasar pasal 1609 KUHP, Pemborong bertanggung jawab perihal struktur dan
konstruksi bangunan yang dikerjakan selama 10 (sepuluh) tahun.
4. Bilamana ada perintah untuk mengerjakan pekerjaan tambahan dan tidak disebutkan
waktu pelaksanaannya, tidak akan diperpanjang.
5. Bilamana untuk jangka waktu penyerahan kedua yang telah ditetapkan dilampaui
maka Pemborong akan dikenakan denda sama dengan sub 1.
Pasal II.12
PEKERJAAN TAMBAHAN PENGURANGAN
1. Harga untuk pekerjaan tambah yang diperintahkan secara tertulis oleh Pemimpin
Proyek, pemborong dapat mengajukan pembayaran tambahan.
2. Sebelum pekerjaan tambahan, pemborong supaya mengajukan kepada Pemimpin
Proyek dapat diperhitungkan apakah pekerjaan tambahan tersebut dapat dibayar
atau tidak.
3. Didalam mengajukan Daftar RAB pekerjaan tambahan ditambah 10% keuntungan
pemborong dari bousom dan pajak jasa 10% dari jumlah (Bousom tambah
keuntungan pemborong).
4. Untuk memperhitungkan pekerjaan tambahan dan pengurangan menggunakan harga
satuan yang telah dimasukkan dalam penawaran / kontrak.
5. Bilamana Harga Satuan Pekerjaan belum tercantum dalam Surat Penawaran yang
diajukan, maka akan disesuaikan secara musyawarah.
Pasal II.13
DOKUMENTASI
114
Pasal II.14
PENCABUTAN PEKERJAAN
1. Pada pencabutan pekerjaan, pemborong hanya dibayar pada pekerjaan Sesuai dengan
pasal 62 A.V sub 3b, pemimpin proyek berhak membatalkan atau mencabut
pekerjaan dari tangan pemborong apabila ternyata pihak pemborong telah
menyerahkan pekerjaan keseluruhannya atau sebagian pekerjaan kepada pemborong
lain, semata-mata untuk mencari keuntungan dari pekerjaan tersebut.
2. Pada pencabutan pekerjaan, pemborong hanya dibayar hanya pekerjaan yang telah
selesai dan telah diperiksa serta disetujui oleh Pemimpin Proyek, sedangka harga
bahan bangunan yang berada ditempatkan menjadi resiko pemborong sendiri.
3. Penyerahan bagian-bagian pekerjaan kepada pemborong lain (Onder aanemer) tanpa
seijin tertulis dari Pemimpin Proyek tidak diijinkan.
4. Bilamana terjadi pihak kedua menyerahkan seluruhnya maupun sebagian pekerjaan
kepada pihak ketiga tanpa seijin pihak kesatu maka akan diperingatkan oleh pihak
kesatu secara tertulis sampai 3 kali, dan selanjutnya akan dikenai sanksi.
Pasal III.02
TEKNIK KERJA UNTUK PELAKSANAAN
1. Sarana Bekerja
a. Untuk kelancaran pelaksaan pekerjaan, kontraktor harus menyediakan:
b. Tenaga kerja / tenaga ahli yang cukup memadai dengan jenis pekerjaan yang
akan dikerjakan.
c. Alat-alat Bantu seperti beton molen, vibrator, pompa air, alat-alat pengangkut,
mesin giling dan peralatan lain yang dipergunakan untuk pelaksanaan pekerjaan
ini.
d. Bahan-bahan bangunan dalam jumlah yang cukup untuk setiap pekerjaan yang
akan dilaksanakan tepat pada waktunya.
2. Cara Pelaksanaan
Pekerjaan dilaksanakan dengan penuh keahlian, sesuai dengan ketentuan-ketentuan
dalam Rencana Kerja dan Syarat (RKS) dan gambar rencana, serta Berita Acara
Penjelasan Pekerjaan serta mengikuti petunjuk Konsultan Pengawas / Direksi.
Pasal III.03
ALAT DAN MUTU BAHAN
Jenis dan mutu bahan yang dipakai diutamakan produksi dalam negeri sesuai dengan
keputusan Menteri Perdagangan dan Koperasi, Menterri Perindustrian dan Menteri
Penerangan :
Nomor : 472 / KPB / XII / 1980
Nomor : 813 / MENPEN / 1980
Nomor : 64 / MENPEN /1980
Tanggal : 23 Desember 1980
Pasal III.04
ALAT-ALAT PELAKSANAAN
116
1. Beton molen.
2. Waterpass/theodolith
3. Vibrator/penggetar beton.
4. Perlengkapan penerangan untuk kerja lambur.
5. Pompa air untuk pengadaan dan pengeringan air.
6. Stamper/mesin pemadat tanah.
7. Dan alat-alat lain yang diperlukan untuk proyek ini.
Pasal III.05
UKURAN-UKURAN
1. Ukuran satuan yang ada disini semuanya dinyatakan dalam cm, kecuali ukuran baja
dinyatakan dalam mm.
2. Ukuran-ukuran tersebut dalam pasal ini dimaksudkan sebagai garis besar pelaksanaan
dan pegangan kontraktor.
3. Kontraktor wajib meneliti situasi tapak, kondisi dan situasi lain yang dapat
mempengaruhi penawaran. Untuk membuat komponen pekerjaan yang baru,
pemborong diharuskan mengecek/mengukur terlebih dahulu di lapangan.
4. Kelalaian dan kekurang telitian kontraktor dalam hal ini tidak dapat dijadikan alasan
untuk mengajukan tuntutannya.
5. Untuk membuat komponen yang baru, pemborong harus mengadakan pengecekan di
lapangan.
Pasal III.06
SYARAT-SYARAT CARA PEMERIKSAAN BAHAN BANGUNAN
1. Semua bahan-bahan bangunan yang didatangkan harus memenuhi syarat-syarat yang
ditentukan dalam Pasal III.03
117
Pasal III.07
PEMERIKSAAN PEKERJAAN
1. Sebelum memulai pekerjaan lanjutan, dan apabila bagian pekerjaan ini telah selesai
akan tetapi belum diperiksa oleh konsultan pengawas, baru apabila konsultan
pengawas telah menyetujui bagian pekerjaan tersebut, kontraktor dapat meneruskan
pekerjaannya.
2. Bila permohonan pemeriksaan pekerjaan itu dalam waktu 2x24 jam (dihitung dari
jam diterimanya surat permohonan, tidak terhitung hari libur/hari raya) tidak dipenuhi
oleh Konsultan Pengawas, maka kontraktor dapat meneruskan pekerjaan dan bagian
pekerjaan yang seharusnya diperiksa dianggap telah disetujui Konsultan Pengawas,
hal ini dikecualikan apabila konsultan pengawas perpanjangan waktu.
3. Bila kontraktor melanggar pasal III.07 ini, kesalahan dan pembongkaran pekerjaan
atau bagian pekerjaan yang telah dilaksanakan menjadi tanggungan kontraktor.
Pasal III.08
PEKERJAAN PERSIAPAN
118
Pasal III.09
KEADAAN TANAH
1. Galian Tanah
a. Seluruh daerah yang akan terletak di bawah lantai bangunan harus dikupas
lapisan humusnya minimal 20 cm. Hasil kupasan dibuang ke tempat yang akan
ditunjuk oleh Direksi/PTP.
b. Galian tanah dilaksanakan untuk:
• Mendapat peil yang sesuai dengan peil permukaan lantai, sesuai dengan
gambar.
• Konstruksi pondasi.
• Saluran air hujan.
c. Jika terdapat tempat air menggenang dalam parit atau galian pondasi harus
dipompa keluar, sehingga pada waktu pemasangan pondasi parit/galian
pondasi dalam keadaan kering.
119
d. Jika terdapat tempat yang gembur pada dasar parit/galian pondasi, harus digali
dan ditimbun kembali dengan pasir urug, disiram air dan dipadatkan.
e. Galian harus mencapai kedalaman seperti tercantum dalam gambar bestek dan
cukup lebar untuk bekerja dengan leluasa.
f. Galian tanah tidak boleh melebihi kedalam yang ditentukan dan bila hal ini
terjadi pengukuran kembali harus dilakukan dengan pasangan atau beton
tumbuk tanpa biaya tambahan dari pemberi tugas.
2. Urugan Tanah
a. Untuk bagian-bagian rendah di luar bangunan dilakukan pengurugan tanah
sampai mencapai tebal sesuai dengan ketentuan gambar. Urugan tanah
dilakukan lapis demi lapis dan setiap 20 cm lapisan tersebut dipadatkan.
b. Tanah humus tidak diperkenankan untuk mengurug tanah yang berasal dari
tanah yang tidak dipakai untuk maksud-maksud penambahan/penimbunan
harus dibuang/ditimbun ditempat yang akan ditentukan Direksi.
c. Urugan tanah harus dilaksanakan segera setelah urugan kembali dari
parit/galian pondasi kaki kolom selesai dikerjakan agar cukup waktu untuk
dipadatkan.
Pasal III. 10
PEKERJAAN URUGAN
1. Urugan pasir dilaksanakan untuk :
a. Mengeruk kembali galian yang ada di bawah lantai setebal 20 cm.
b. Di bawah saluran-saluran pembuangan setebal 20 cm agar pipa dapat terletak
rata/stabil dan dibawah pemeriksaan/bak control.
c. Tempat-tempat lain yang dianggap perlu sebagai syarat teknis yang baik dan
sempurna (sesuai dengan bestek dan AV).
2. Urugan pasir dilaksanakan lapis setebal 20 cm dan tiap lapis harus ditumbuk dan
harus diairi sampai padat sebelum lapis berikutnya dipasang.
Pasal III. 11
PEKERJAAN PONDASI
120
8. Pemborong diwajibkan mengajukan contoh batu bata terlebih dahulu untuk disetujui
Direksi. Direksi berhak menolak batu bata tersebut bila tidak memenuhi syarat
seperti:
a. Pembakaran kurang matang/merata.
b. Banyak mengandung retak-retak/keropos.
c. Dan lain sebagainya.
Pasal III.13
PEKERJAAN BETON BERTULANG
Dengan campuran 1 PC : 3 Ps : 5 Kr dilaksanakan untuk :
- Lain-lain pekerjaan dimana dianggap perlu menurut syarat-syarat pelaksanaan yang
baik dengan sempurna dengan petunjuk Direksi diangap perlu.
- Bagian-bagian yang tercantum di dalam gambar kerja.
Pasal III. 14
PEKERJAAN PLESTERAN
Pada pemasangan batu bata sebelum diplester bidang tembok haruis dibasahi terlebih
dahulu sampai jenuh. Begitu selesai pemasangan batu bata siar-siar dikeruk sedalam
kurang lebih 1 cm, kemudian dilakukan pemlesteran. Dengan adukan 1 Pc : 3 Ps
dilakukan untuk semua plesteran sudut-sudut dan pinggir-pinggir tembok dan plesteran
beton termasuk pasangan bata tasram. Semua permukaan pasangan batu bata dan batu kali
yang terpendam di dalam tanah harus diplester kasar (beraben) dengan adukan yang
sama. Dengan adukan yang sama kuat 1 Pc : 3 Ps dilakukan untuk pasangan bata adukan
kuat atau trasram. Tebal plesteran tembok bata diambil maksimum 1,5 cm. plesteran
tembok boleh dilakukan apabila pemasangan pipa-pipa saluran air dan listrik dan lainnya
selesai dilaksanakan. Pembobokan plesteran untuk instalasi tersebut tidak diperkenankan.
Setelah pekerjaan-pekerjaan selesai maka dilakukan acian dengan PC.
Pasal III.15
PEKERJAAN BESI ATAU LOGAM LAINNYA
Angker, baut hanggel, dsb, harus disesuaikan dan dipasang perkuatan-perkuatan dari besi
pada tempet-tempat menurut sifat konstruksinya atau menurut pendapat direksi dianggap
perlu termasuk penggantung plafon.
122
Pasal III. 16
PEKERJAAN LAIN-LAIN
1. Kalau dianggap perlu maka pemborong diwajibkan membuat gambar-gambar revisi,
gambar bestek dan gambar detail yang telah dilaksanakan. Gambar tersebut dibuat
dalam 2 rangkap dan diserahkan pada Direksi atau Pimpinan Proyek pada waktu
penyerahan pertama pekerjaan, 1 copy gambar tersebut diserahkan pada perencana
pada waktu yang sama.
2. Jika pada RKS ini belum tercakup beberapa jenis pekerjaan atau persyaratan
lainnya, maka hal tersebut akan diatur dalam penjelasan pekerjaan dan akan
dituangakan dalam Berita Acara Penjelasan Pekerjaan.
Volume Pekerjaan dapat diketahui bila desain telah selesai dan termasuk juga
didalamnya metode dan pelaksanaan pekerjaan yang akan dilakukan di lapangan. Volume
pekerjaan dapat dilihat pada Tabel 5.1 s/d
2 Drainase Embung
2.a Pemasangan Pasir m3 147.92
2.b Batu Kerikil 3 870.15
m
2.c Pasangan Batu Kali m3 84.15
2.d Geotekstile m2 356.15
3 Jalan Inspeksi
3.a Jalan
3.a.a Makadam m3 84.49
3.a.b Pasir Krikil 3 42.24
m
3.a.c Aspal m2 21.12
3.b Dranase
3.b.a Pasir 3 3.94
m
3.b.b Pasangan Bata m2 6.43
3.b.c Buis Beton D 0.10 tebal 3 bh 0.92
3.b.d Plesteran m2 1.26
3.b.e Pipa PVC 2" m 32.61
3.c Parapet
3.c.a Beton m3 42.31
4 Pelimpah
4.a Galian 3 570.11
m
4.b Pas Batu Kali m3 169.64
4.c Batu Kosong 3 373.33
m
4.d Pemecah Gelombang
4.d.a. Beton m3 1.27
4.d.b. Tulangan D10 kg 27.98
4.d.c. Tulangan D16 kg 47.11
4.d.d. Bekisting m2 7.50
124
5 Jembatan Operasional
5.a Abutment
5.a.a. Beton 3 35.70
m
5.a.b. Tulangan D8 e 8.78
5.a.c. Tulangan D10 kg 555.28
5.a.d. Tulangan D16 kg 2,442.84
5.a.e. Bekisting m2 12.00
5.b Pilar
5.b.a. Beton 3 11.41
m
5.b.b. Tulangan D10 kg 223.39
5.b.c. Tulangan D16 kg 925.82
5.b.d. Bekisting 2 56.00
m
5.c Lantai Perletakan
5.c.a. Beton 3 2.94
m
5.c.b. Tulangan D10 kg 96.62
5.c.c. Tulangan D16 kg 329.29
5.c.c. Bekisting 2 1.20
m
5.d Lantai
5.d.a. Beton m3 11.00
5.d.b. Tulangan D8 kg 59.37
5.d.c. Tulangan D12 kg 236.54
5.d.d. Tulangan D19 kg 937.41
5.d.e. Bekisting 2 21.00
m
5.e Tiang Sandaran
5.e.a. Beton 3 1.08
m
5.e.b. Pipa GIV 3" m 68.40
5.e.c. Tulangan D6 kg 68.10
5.e.d. Tulangan D12 kg 272.39
5.e.d. Bekisting m2 8.96
6 Bangunan Intake
6.a Beton Bertulang
6.a.a. Lantai Hulu m3 7.98
6.a.b. Sayap m3 5.04
6.a.c. Dinding Tegak Tangga m3 14.28
6.a.d. Dinding Tegak di Pintu m3 12.99
6.a.e. Penahan Pintu m3 0.07
6.a.f. Dinding Tegak Ggorong-gorong (hul m3 17.14
3
6.a.g. Gorong-gorong m 22.14
3
6.a.h. Pengaku m 2.92
3
6.a.i. Dinding Tegak gorong2 (hilir) m 1.54
3
6.a.j. Lantai Hilir m 1.34
125
Rencana Anggaran dan Estimasi Biaya untuk konstruksi ini dapat diperoleh
dengan acuan terhadap Analisis Harga Satuan Pekerjaan dan Volume Pekerjaan itu
sendiri.
4 Pelimpah 214,337,985.40
3
4.a Galian m 570.11 36,504.00 20,811,440.85
3
4.b Pas Batu Kali m 169.64 582,989.00 98,896,698.55
3
4.c Batu Kosong m 373.33 245,398.50 91,615,440.00
4.d Pemecah Gelombang
4.d.a. Beton m3 1.27 600,856.50 763,628.53
4.d.b. Tulangan D10 kg 27.98 9,500.00 265,777.84
4.d.c. Tulangan D16 kg 47.11 9,500.00 447,499.64
4.d.d. Bekisting m2 7.50 205,000.00 1,537,500.00
4 Pelimpah 214,337,985.40
JUMLAH 2,655,272,464.45
DIBULATKAN 2,920,799,000.00
128
BAB VI
PENUTUP
6.1. KESIMPULAN
Dari hasil analisa hidrologi dan perhitungan Perencanaan Embung Kwangen Kabu-
paten Sragen dapat disimpulkan :
1. Untuk penentuan Daerah Aliran Sungai (DAS) pada daerah pembangunan Em-
bung Kwangen adalah sebesar 1.083,63 ha atau 10,8363 km2.
2. Debit banjir rencana periode ulang 100 tahunan (Q100) dengan menggunakan
metode Rasional sebesar 35,687 m3/det
3. Dari beberapa lokasi yang sudah diidentifikasi dan berdasarkan hasil pengukuran
topografi, embung Kwangen direncanakan berada pada elevasi +124,00 meter se-
dangkan elevasi puncak embung berada pada elevasi + 130,00 meter. Cekungan
tersebut mampu menampung air sejumlah + 61,550 m3
4. Pembangunan embung Kwangen ini dimanfaatkan sebagai air irigasi dan diharap-
kan dapat mengairi sawah seluas 125 ha. Selain itu dapat dimanfaatkan se-
bagai cadangan untuk mengairi sawah selama 1 musim tanam selama + 4 bulan.
5. Pada bangunan utama embung Kwangen, dilengkapi dengan 2 buah pintu banjir
yang dalam keadaan terbuka penuh mampu mengalirkan debit sebesar 9,76 m3/det
pada keadaan tinggi air di hulu 6,00 meter dan sebesar 10,54 m3/det pada saat
tinggi air di hulu 7,00 meter.
6. Fungsi kedua pintu banjir, selain untuk menurunkan muka air banjir pada saat deb-
it banjir melebihi debit banjir rencana juga dapat digunakan untuk membuang tim-
bunan sedimen yang mengendap di kolam tampungan.
6.2 REKOMENDASI
1. Bahwa dengan adanya embung Kwangen ini dapat menaikkan muka air sungai se-
hingga diharapkan dapat menaikkan juga muka air sumur di rumah-rumah
penduduk.
2. Dengan dibangunnya pintu banjir pada bangunan utama, di mana debit yang dial-
irkan melalui kedua pintu sebesar paling tidak 19 m3/det sehingga debit yang
dapat melewati bangunan utama sebesar Q = 35,687 m3/det + 197 m3/det = 54,687
m3/det, maka dapat dikatakan bahwa bangunan utama dapat atau mampu dilewati
dengan debit banjir rencana Q1000 = 42,108 m3/det atau bahkan QPMF = 1,2 Q1000
129
3. Dengan melihat pada bentuk konstruksi bangunan utama, maka bentuk bangunan
utama tersebut lebih tepat dikategorikan sebagai BANGUNAN BENDUNGAN
PELUAP dengan konstruksi seperti bangunan bendung tetap.