Anda di halaman 1dari 26

1

BAB I

PENDAHULUAN

Fibroadenoma merupakan tumor jinak pada payudara yang paling umum


ditemukan. Fibroadenoma terbentuk dari sel – sel epitel dan jaringan ikat, dimana komponen
epitelnya menunjukkan tanda – tanda aberasi yang sama dengan komponen epitel normal.
Etiologi penyakit ini belum diketahui secara pasti. Namun diperkirakan berkaitan dengan
aktivitas estrogen. Fibroadenoma pertama kali terbentuk setelah aktivitas ovarium dimulai dan
terjadi terutama pada remaja muda.
Fibroadenoma umumnya terjadi pada wanita muda, terutama dengan usia di bawah 30
tahun dan relatif jarang ditemukan pada payudara wanita postmenopause. Tumor ini dapat
tumbuh di seluruh bagian payudara, namun tersering pada quadran atas lateral. Penyakit ini
bersifat asimptomatik atau hanya menunjukkan gejala ringan berupa benjolan pada payudara
yang dapat digerakkan, sehingga pada beberapa kasus, penyakit ini terdeteksi secara tidak
sengaja pada saat pemeriksaan fisik. Penanganan fibroadenoma adalah melalui pembedahan
pengangkatan tumor. Fibroadenoma harus diekstirpasi karena tumor jinak ini akan terus
membesar.
Berdasarkan laporan dari NSW Breats Cancer Institute, fibroadenoma umumnya terjadi
pada wanita dengan usia 21-25 tahun, kurang dari 5% terjadi pada usia di atas 50, sedangkan
prevalensinya lebih dari 9% populasi wanita terkena fibroadenoma. Sedangkan laporan dari
Western Breast Services Alliance, fibroadenoma terjadi pada wanita dengan umur antara 15
dan 25 tahun, dan lebih dari satu dari enam (15%) wanita mengalami fibroadenoma dalam
hidupnya. Namun, kejadian fibroadenoma dapat terjadi pula wanita dengan usia yang lebih tua
atau bahkan setelah menopause, tentunya dengan jumlah kejadian yang lebih kecil dibanding
pada usia muda
2

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

A. Anatomi dan Fisiologi


Anatomi

Payudara terdiri dari jaringan kelenjar, fibrosa, dan lemak. Jaringan ikat memisahkan
payudara dari otot – otot dinding dada, otot pektoralis dan seratus anterior. Sedikit di bawah
pusat payudara dewasa terdapat puting (papila mamaria), tonjolan yang berpigmen dikelilingi
oleh areola. Puting mempunyai perforasi pada ujungnya dengan beberapa lubang kecil, yaitu
apertura duktus laktiferosa. Tuberkel – tuberkel Montgomery adalah kelenjar sebasea pada
permukaan areola.

Jaringan kelenjar membentuk 12 hingga 25 lobus yang tersusun radier di sekitar puting
dan dipisahkan oleh jaringan lemak yang bervariasi jumlahnya, yang mengelilingi jaringan ikat
(stroma) di antara lobus – lobus. Setiap lobus berbeda, sehingga penyakit yang menyerang satu
lobus tidak menyerang lobus lainnya. Drainase dari lobus menuju sinus laktiferosa, yang
kemudian berkumpul di duktus pengumpul dan bermuara ke puting. Jaringan ikat di banyak
tempat akan memadat membentuk pita fibrosa yang tegak lurus terhadap substansi lemak,
mengikat lapisan dalam dari fasia subkutan payudara pada kulit. Pita ini, yaitu ligamentum
Cooper merupakan ligamentum suspensorium payudara.

Jika dilihat melalui potongan sagital, maka struktur payudara terdiri atas beberapa
lapisan, dari luar ke dalam, yaitu : kulit, jaringan lemak subkutaneus, stroma (jaringan
fibroglandular) yang di dalamnya terdapat pula duktus laktiferus, fascia pektoralis, m. pektoralis
dan tulang iga.
3

Gambar 1. Anatomi Payudara. Potongan Sagital.

Gambar 2. Anatomi Payudara. Struktur Lobus Payudara.

Vaskularisasi kelenjar mamae terutama berasal dari cabang arteri aksilaris, ramus
perforata intercostalis 1 – 4 dari arteri mammaria interna dan ramus perforata arteri
intercostalis 3 – 7. Cabang arteri aksilaris dari medial ke lateral adalah arteri torakalis lateralis.
Agak ke lateral dari arteri torakalis lateralis terdapat arteri subskapularis. Vena dapat dibagi
menjadi 2 kelompok, yakni superfisial dan profunda. Vena superfisial terletak di subkutis,
mudah tampak, bermuara ke vena mammaria interna atau vena superfisial leher. Vena
4

profunda berjalan seiring dengan arteri yang senama, dan secara terpisah bermuara ke vena
aksilaris, vena mammaria interna dan vena azigos atau vena hemiazigos.

Saluran limfe kelenjar mammae terutama berjalan mengikuti vena kelenjar mammae,
drainasenya terutama melalui :

1. Bagian lateral dan sentral masuk ke kelenjar limfe fosa aksilaris


2. Bagian medial masuk ke kelenjar limfe memmaria interna.
3. Saluran limfe subkutis kelenjar mammae umumnya masuk ke pleksus imfatik subareolar.

Kelenjar mammae dipersarafi oleh nervi intercostal ke 2 – 6 dan 3 – 4 rami dari pleksus
servikalis. Sedangkan saraf yang berkaitan dengan terapi bedah adalah :

1. Nervus torakalis lateralis. Kira-kira di tepi medial m.pektoralis minor melintasi anterior vena
aksilaris, berjalan ke bawah, masuk ke permukaan dalam m. pektoralis mayor.
2. Nervus torakalis medialis. Kira – kira 1 cm lateral dari nervus torakalis lateralis, tidak melintasi
vena aksilaris, berjalan ke bawah masuk ke m. pektoralis minor dan m. pektoralis mayor.
3. Nervus torakalis longus dari pleksus servikalis. Menempel rapat pada dinding toraks berjalan ke
bawah, mempersarafi m. seratus anterior.
4. Nervus torakalis dorsalis dari pleksus brakhialis. Berjalan bersama pembuluh darah
subskapularis, mempersarafi m. subskapularis, m. teres mayor.

Fisiologi

Payudara mengalami tiga macam perubahan yang dipegaruhi oleh hormon. Perubahan
pertama ialah mulai dari masa hidup anak melalui masa pubertas, masa fertilitas, sampai ke
klimakterium, dan menopause. Sejak pubertas, pengaruh estrogen dan progesteron yang
diproduksi oleh ovarium dan juga hormon hipofise, telah menyebabkan duktus berkembang
dan timbulnya asinus.
Perubahan kedua adalah perubahan sesuai dengan daur haid. Sekitar hari ke – 8 haid,
payudara jadi lebih besar dan beberapa hari sebelum haid berikutnya terjadi pembesaran
5

maksimal. Kadang – kadang timbul benjolan yang nyeri dan tidak rata. Selama beberapa hari
menjelang haid, payudara menjadi tegang dan nyeri sehingga pemeriksaan fisik, terutama
palpasi, tidak mungkin dilakukan. Pada waktu itu, pemeriksaan foto mamografi tidak berguna
karena kontras kelenjar terlalu besar. Begitu haid mulai, semuanya berkurang.
Perubahan ketiga terjadi pada masa hamil dan menyusui. Pada kehamilan, payudara
menjadi besar karena epitel duktus lobus dan duktus alveolus berproliferasi, dan tumbuh
duktus baru.
Sekresi hormon prolaktin dari hipofisis anterior memicu laktasi. Air susu diproduksi oleh
sel – sel alveolus, mengisi asinus, kemudian dikeluarkan melalui duktus ke papilla

B. Definisi

Fibroadenoma mammae merupakan neoplasma jinak yang terutama terdapat pada


wanita muda, dan jarang ditemukan setelah menopause. Fibroadenoma adalah kelainan pada
perkembangan payudara normal dimana ada pertumbuhan berlebih dan tidak normal pada
jaringan payudara dan pertumbuhan yang berlebih dari sel-sel yang melapisi saluran air susu di
payudara. Fibroadenoma merupakan jenis tumor jinak mamma yang paling banyak ditemukan,
dan merupakan tumor primer yang paling banyak ditemukan pada kelompok umur muda.

C. Epidemiologi
Di Amerika Serikat, fibroadenoma merupakan lesi payudara yang paling umum, yang
terjadi pada wanita dengan usia di bawah 40 tahun. Fibroadenoma dapat terjadi pada wanita
segala usia, selama masa reproduksi aktif dan mengecil setelah menopause. Fibroadenoma
jarang terjadi pada wanita postmenopause. Prevalensi fibroadenoma pada wanita usia di atas
40 tahun kira-kira hanya 8 – 10 %. Sekitar 10 – 15 % kasus fibroadenoma merupakan multipel.
Pada wanita berkulit gelap, fibroadenoma lebih sering terjadi di usia lebih muda dibandingkan
wanita berkulit putih.
Fibroadenoma merupakan hasil biopsi yang paling sering ditemukan di Jamaica, yaitu
sekitar 39,4% dari seluruh biopsi yang dilakukan, yang diikuti oleh penyakit fibrokistik, sekitar
19, 3 %.
6

Menurut WHO 8-9% wanita akan mengalami kanker payudara. Ini menjadikan kanker
payudara sebagai jenis kanker yang paling banyak ditemui pada wanita. Setiap tahun lebih dari
250.000 kasus baru kanker payudara terdiagnosa di Eropa dan kurang lebih 175.000 di Amerika
Serikat. Masih menurut WHO, tahun 2000 diperkirakan 1,2 juta wanita terdiagnosis kanker
payudara dan lebih dari 700.000 meninggal karenanya. Belum ada data statistik yang akurat di
Indonesia, namun data yang terkumpul dari rumah sakit menunjukkan bahwa kanker payudara
menduduki ranking pertama di antara kanker lainnya pada wanita.

D. Etiologi

Penyebab pasti fibroadenoma tidak diketahui. Namun, terdapat beberapa faktor yang
dikaitkan dengan penyakit ini, antara lain peningkatan mutlak aktivitas estrogen, yang
diperkirakan berperan dalam pembentukannya. Selain itu, diperkirakan terdapat prekursor
embrional yang dormant di kelenjar mammaria yang dapat memicu pembentukan
fibroadenoma yang akan berkembang mengikuti aktivitas ovarium.

E. Patofisiologi

Fibroadenoma adalah tumor jinak yang menggambarkan suatu proses hiperplasia dan
proliferasi pada satu duktus terminal, perkembangannya dihubungkan dengan suatu proses
aberasi perkembangan normal. Penyebab proliferasi duktus tidak diketahui, diperkirakan sel
stroma neoplastik mengeluarkan faktor pertumbuhan yang memengaruhi sel epitel.
Peningkatan mutlak aktivitas estrogen, diperkirakan berperan dalam pembentukannya. Kira –
kira 10% fibroadenoma akan menghilang secara spontan tiap tahunnya dan kebanyakan
perkembangan fibroadenoma berhenti setelah mencapai diameter 2 – 3 cm. Fibroadenoma
hampir tidak pernah menjadi ganas.
Fibroadenoma jarang ditemukan pada wanita yang telah mengalami postmenopause
dan dapat terbentuk gambaran kalsifikasi kasar. Sebaliknya, fibroadenoma dapat berkembang
dengan cepat selama proses kehamilan, pada terapi pergantian hormon, dan pada orang –
7

orang yang mengalami penurunan kekebalan imunitas, bahkan pada beberapa kasus, dapat
menyebabkan keganasan. Pada pasien – pasien yang mengalami penurunan kekebalan tubuh,
perkembangan fibroadenoma berkaitan dengan infeksi virus Epstein-Barr.
Fibroadenoma terbagi atas Juvelline Fibroadenoma, yang terjadi pada wanita remaja dan
Myxoid Fibroadenoma yang terjadi pada pasien dengan Carney complex. Carney complex
merupakan suatu sindrom neoplasma autosomal dominan yang terdiri atas lesi pada kulit dan
mukosa, myxomas dan kelainan endokrin.

F. Gambaran Klinis
Gejala klinis yang sering terjadi pada fibroadenoma mammae adalah adanya bagian yang
menonjol pada permukaan payudara, benjolan memiliki batas yang tegas dengan konsistensi
padat dan kenyal. Ukuran diameter benjolan yang sering terjadi sekitar 1-4 cm, namun kadang
dapat tumbuh dan berkembang dengan cepat dengan ukuran benjolan berdiameter lebih dari 5
cm.Benjolan yang tumbuh dapat diraba dan digerakkan dengan bebas.Umumnya fibroadenoma
tidak menimbulkan rasa nyeri atau tidak sakit.

G. Diagnosis
1. Anamnesis
Pada pasien yang dicurigai dengan adanya benjolan pada payudara hal-hal yang harus
ditanyakan kepada penderita adalah letak benjolan, sejak kapan mulai timbul benjolan, dan
kecepatan tumbuhnya. Selain itu, perlu juga ditanya berbagai gejala penyerta, seperti ada
tidaknya nyeri, jenis dan jumlah cairan yang keluar dari puting, perubahan bentuk dan besar
payudara, hubungannya dengan haid, perubahan pada kulit, dan retraksi puting susu.
Faktor risiko yang perlu diketahui antara lain: riwayat keluarga yang terkena kanker
payudara dan atau kanker ovarium, riwayat obstetri dan ginekologi, terapi hormonal (termasuk
kontrasepsi hormonal), riwayat operasi/aspirasi benjolan di payudara sebelumnya.

2. Pemeriksaan Fisik
8

Secara klinik, fibroadenoma biasanya bermanifestasi sebagai massa soliter, diskret,


dan mudah digerakkan, selama tidak terbentuk jaringan fibroblast di sekitar jaringan payudara,
dengan diameter kira-kira 1 – 3 cm, tetapi ukurannya dapat bertambah sehingga membentuk
nodul dan lobus. Fibroadenoma dapat ditemukan di seluruh bagian payudara, tetapi lokasi
tersering adalah pada quadran lateral atas payudara. Tidak terlihat perubahan kontur payudara.
Penarikan kulit dan axillary adenopathy yang signifikan pun tidak ditemukan.
SADARI (Pemeriksaan payudara sendiri). Tujuan dari pemeriksaan payudara sendiri
adalah mendeteksi dini apabila terdapat benjolan pada payudara, terutama yang dicurigai
ganas, sehingga dapat menurunkan angka kematian. Meskipun angka kejadian kanker payudara
rendah pada wanita muda, namun sangat penting untuk diajarkan SADARI semasa muda agar
terbiasa melakukannya di kala tua. Wanita premenopause (belum memasuki masa menopause)
sebaiknya melakukan SADARI setiap bulan, 1 minggu setelah siklus menstruasinya selesai.

3. Pemeriksaan Pencitraan
MAMMOGRAFI
Pada pemeriksaan mamografi, fibroadenoma digambarkan sebagai massa berbentuk
bulat atau oval dengan batas yang halus dan berukuran sekitas 4 – 100 mm. Fibrodenoma
biasanya memiliki densitas yang sama dengan jaringan kelenjar sekitarnya, tetapi, pada
fibroadenoma yang besar, dapat menunjukkan densitas yang lebih tinggi. Kadang-kadang,
tumor terdiri atas gambaran kalisifikasi yang kasar, yang diduga sebagai infraksi atau involusi.
Gambaran kalsifikasi pada fibroadenoma biasanya di tepi atau di tengah berbentuk bulat, oval
atau berlobus – lobus. Pada wanita postmenopause, komponen fibroglandular dari
fibroadenoma akan berkurang dan hanya meninggalkan gambaran kalsifikasi dengan sedikit
atau tanpa komponen jaringan ikat.
9

Gambar 3. Gambaran mamografi fibroadenoma. Tampak massa yang berbentuk bulat dan berbatas tegas.

Gambar 4. Gambaran Mamografi Fibroadenoma. Tampak gambaran kalsifikasi fibroadenoma yang yang
kasar dan membentuk gambaran Pop-corn Appearence
10

Gambaran 5. Gambaran Mamografi Fibroadenoma. Tampak gambaran kalsifikasi Pop Corn Appearence

ULTRASONOGRAPHY (USG)
Dalam pemeriksaan USG, fibroadenoma terlihat rata, berbatas tegas, berbentuk
bulat, oval atau berupa nodul dan lebarnya lebih besar dibandingkan dengan diameter
anteroposteriornya. Internal echogenicnya homogen dan ditemukan gambaran dari
isoechoic sampai hypoechoic. Gambaran echogenic kapsul yang tipis, merupakan
gambaran khas dari fibroadenoma dan mengindikasikan lesi tersebut jinak.
Fibroadenoma tidak memiliki kapsul, gambaran kapsul yang terlihat pada pemeriksaan
USG merupakan pseudocapsule yang disebabkan oleh penekanan dari jaringan di
sekitarnya.
11

Gambar 6. Gambaran USG Fibroadenoma. Tampak massa hipoechoic yang rata, batas tegas pada sebagian
lobus merupakan khas dari fibroadenoma

MAGNETIC RESONANCES IMAGING (MRI)


Dalam pemeriksaan MRI, fibroadenoma tampak sebagai massa bulat atau oval
yang rata dan dibandingkan dengan menggunakan kontras gadolinium-based.
Fibroadenoma digambarkan sebagai lesi yang hypointense atau isointense, jika
dibandingkan dengan jaringan sekitarnya dalam gambaran T1-weighted dan
hypointense and hyperintense dalam gambaran T2-weighted.
12

Gambar 7. Seorang wanita 47 tahun, dengan lesi 1cm yang terlihat dari mamografi. Dari pemeriksaan
USG dan FNA, menujukkan gambaran fibroadenoma. Pemeriksaan dengan MRI post-contras,
memperlihatkan penyerapan yang cepat tanpa pembersihan, yang merupakan ciri khas dari
fibroadenoma.

4. Pemeriksaan Histopatologik
Secara makroskopis, semua tumor teraba padat dengan warna cokelat – putih pada
irisan, dengan bercak – bercak kuning – merah muda yang mencerminkan daerah
kelenjar.

Gambar 8. Makroskopik Fibroadenoma Payudara

Secara histologis, tumor terdiri atas jaringan ikat dan kelenjar dengan berbagai proporsi
dan variasi. Tampak storma fibroblastik longgar yang mengandung rongga mirip duktus berlapis
sel epitel dengan ukuran dan bentuk yang beragam. Rongga yang mirip duktus atau kelenjar ini
dilapisi oleh satu atau lebih lapisan sel yang reguler dengan membran basal jelas dan utuh.
Meskipun di sebagian lesi duktus terbuka, bulat hingga oval dan cukup teratur (fibroadenoma
perikanalikularis), sebagian lainnya tertekan oleh proliferasi ekstensif stroma sehingga pada
potongan melintang rongga tersebut tampak sebagi celah atau struktur ireguler mirip – bintang
(fibroadenoma intrakanalikularis).
13

Gambar 9 . Gambaran Mikroskopik Fibroadenoma

H. Penatalaksanaan
Operasi eksisi merupakan satu-satunya pengobatan untuk fibroadenoma. Operasi
dilakukan sejak dini, hal ini bertujuan untuk memelihara fungsi payudara dan untuk
menghindari bekas luka. Pemilihan tipe insisi dilakukan berdasarkan ukuran dan lokasi dari lesi
di payudara. Terdapat 3 tipe insisi yang biasa digunakan, yaitu
1. Radial Incision, yaitu dengan menggunakan sinar.
2. Circumareolar Incision
3. Curve/Semicircular Incision

Tipe insisi yang paling sering digunakan adalah tipe radial. Tipe circumareolar, hanya
meninggalkan sedikit bekas luka dan deformitas, tetapi hanya memberikan pembukaan yang
terbatas. Tipe ini digunakan hanya untuk fibroadenoma yang tunggal dan kecil dan lokasinya
sekitar 2 cm di sekitar batas areola. Semicircular incision biasanya digunakan untuk mengangkat
tumor yang besar dan berada di daerah lateral payudara.

Dengan pembiusan general, punggung penderita diganjal bantal tipis, sendi bahu
diabduksikan ke arah kranial. Lokasi tumor ditandai dengan spidol/tinta. Desinfeksi lapangan
operasi (dibawah klavikula), midsternal, linea aksilaris posterior sela iga torakal 8, dengan
larutan desinfektan povidone iodine 105. Lapangan operasi dipersempit dengan doek steril.
14

Bila memungkinkan insisi dikerjakan sirkumareolar, tetapi bila lokasi tumor cukup jauh
dari areola (>4 cm), maka insisi dikerjakan di atas tumor sesuai dengan garis Langer atau
diletakkan pada daerah-daerah yang tersembunyi. Untuk insisi sirkumarelar maka puting susu
dipegang dengan jari telunjuk dan ibu jari, dilakukan marker insisi.

Dengan pisau dilakukan insisi periareolar sampai fasia superfisialis subkutan. Flap kulit
diangkat ke atas dengan bantuan hak tajam, dengan gunting dilakukan undermining sepanjang
fasia superfisial kearah lokasi tumor. Rawat perdarahan lalu identifikasi tumor. Jepit jaringan
sekitar tumor pada 3 tempat dengan kocher, lalu dilakukan eksisi tumor sesuai tuntunan
kocher. Rawat perdarahan lagi, orientasi seluruh bed tumor lalu dipasang redon drain dengan
lubang di kuadran lateral bawah (bila menggunakan penrose drain, darin dikeluarkan di garis
insisi). Jahit subkutan fat dengan plain cat gut 3.0. Jahit kulit dengan prolene 4.0. Luka operasi
ditutup dengan kasa betadine. Dilakukan dressing luka operasi dengan teknik suspensi
payudara (BH buatan) tanpa mengganggu gerakan sendi bahu.
15

BAB III
LAPORAN KASUS

A. Identitas
 Nama : Nn.V
 Jenis kelamin : Perempuan
 Umur : 18 Tahun
 Alamat : Jl.Kelor
 Pendidikan Terakhir :-
 Tanggal Masuk RS : 06 Juni 2018
 Tanggal pemeriksaan : 07 Juni 2018
 Ruangan : Camar
B. Anamnesis
 Keluhan utama : Nyeri payudara kiri
 Riwayat penyakit sekarang :
Pasien masuk rumah sakit dengan keluhan nyeri pada benjolan payudara kiri. Nyeri
dirasakan sejak 1 minggu yang lalu dan benjolan dirasakan muncul sejak 2 bulan yang
lalu. Benjolan bersifat lunak,dapat digerakkan, permukaan halus, dan tidak terasa
panas saat perabaan. Pasien juga mengeluhkan pusing berputar,batuk sejak 4 hari
yang awalnya berlendir namun 2 hari terakhir batuk tidak disertai lendir, dan sesak
nafas. Ada keluhan nyeri ulu hati yang disertai mual tetapi tidak ada muntah,tidak ada
rasa panas di dada, serta rasa pahit ketika menelan.Keluhan lemas pada seluruh badan
juga ada. Keluhan demam tidak ada, BAB dan BAK lancar. Riwayat haid lancar,pertama
kali haid 2 tahun yang lalu.
 Riwayat Penyakit Dahulu:
Riwayat HT (-)
Riwayat DM (-)
ASMA (-)
16

Riwayat penyakit lain (-)


 Kebiasaan (Lifestyle)
Riwayat merokok (-)
Riwayat minum alkohol (-)
 Riwayat Penyakit Keluarga
Tidak diketahui
C. Pemeriksaan Fisis (Rg. Camar, 07/06/2018)
 Keadaan Umum:
Sakit sedang
Kesadaran : E4V5M6 (Composmentis)
Berat Badan : ±50 kg
 Tanda Vital
TD : 100/70 mmHg
Nadi : 80 x/menit
Pernafasan : 24 x/menit
Suhu : 37 C
Kepala
 Bentuk : Normocephal
 Rambut : hitam bergelombang
 Mata : Konjungtiva anemis (+/+), Sklera ikterik (-/-)
 Telinga : tidak ada keluhan
 Mulut : bibir Sianosis (-), bibir kering (-)

Leher
 KGB : Pembesaran (-)
 Tiroid : pembesaran (-)
 JVP : tidak ada peningkatan.
 Massa lain : tidak ada
17

Thoraks
Paru-paru
 Inspeksi : Bentuk dada kanan kiri simetris
 Palpasi : Krepitasi (-), vokal fremitus kanan sama dengan kiri
 Perkusi : Sonor pada kedua lapang paru
 Auskultasi : Vesikuler +/+, Ronkhi (-/-), Wheezing (-/-)
Jantung
 Inspeksi : iktus kordis tidak nampak
 Palpasi : iktus kordis teraba pada ICS 5-6 linea axillaris anterior
 Perkusi batas jantung : batas jantung normal
 Auskultasi : BJ S1 dan S2 murni Regular, murmur (-), Gallop (-)
Abdomen
 Inspeksi : perut kesan datar
 Auskultasi : Peristaltik (+) kesan meningkat
 Perkusi : timpani (+)
 Palpasi : Nyeri tekan Epigastrium (+)
Anggota gerak
 Atas : akral hangat (+/+) edema (-/-)
 Bawah : akral hangat (+/+) edema (-/-)

D. Hasil Pemeriksaan Penunjang


Laboratorium
DARAH LENGKAP
NILAI RUJUKAN
(06 Juni 2018)
WBC 9,8 x 103/mm3 4,8 – 10,8
RBC 4,4 x 106/uL 4,2 – 6,1
HGB 13 g/dL 14-18
HCT 35,6 % 42 – 52
18

MCV 82,5 fL 80-99


MCH 28,2 pg 27 – 31
MCHC 34,8 g/dL 33 – 37
PLT 415 x 103/uL 150 -450

PEMERIKSAAN DARAH HASIL NILAI RUJUKAN


06 Juni 2018
Glukosa sewaktu 121 mg/dL 80-199 mg/dL

Radiologi ( 9 Juni 2018 )


USG Mammae
 Mammae Dextra : Lapisan kutis dan subkutis dalam batas normal, tidak tampak lesi
hipoechoic maupun hiperechoic patologik, Ductus lactiferus tidak tampak dilatasi, echo
retro papiler dalam batas normal tak tampak retraksi & tidak tampak pembesaran kelenjar
getah bening pada axilla
 Mammae sinistra: Lapisan kutis dan subkutis dalam batas normal, tampak lesi hipoechoic
bntuk bulat batas tegas tepi regular ukuran 0,82 cm, tidak tampak vascularisasi intralesi,
ductus lactiferus tidak tampak dilatasi, echo retro papiler dalam batas normal tak tampak
retraksi & tidak tampak pembesaran kelenjar getah bening pada axilla
Kesan : - Terdapat massa pada mammae sinistra
- Mammae dextra kesan normal  

E. Resume
Pasien perempuan usia 18 tahun dibawa ke rumah sakit karena nyeri pada mammae
sinistra. Nyeri dirasakan sejak 1 minggu yang lalu dan benjolan mulai muncul sejak 2 bulan
yang lalu. Benjolan bersifat mobile, lunak, permukaan halus, kadang nyeri saat perabaan
19

dan tidak terasa panas. Keluhan lain berupa vertigo, batuk berlendir sejak 4 hari yang lalu,
dyspnea, malaise, nyeri epigastrium disertai nausea. Tanda – tanda vital: TD 100/70 mmHg,
Nadi: 80 x/menit, Suhu 37°C, dan Pernafasan: 24x/menit. Hasil laboratorium: RBC 4,4 x
106/uL, HGB: 13 mg/dL, HCT: 35,6%, PLT: 415 x 103/mm3

F. DIAGNOSA KERJA
Fibroadenoma Mammae
Dyspepsia
Vertigo Perifer
Anemia

G. Penatalaksanaan
Non medika mentosa :
Medikamentosa :
 IVFD RL 20 tpm
 O2 2-4 lpm
 Ranitidin inj. amp/ 12 jam iv
 Ketorolac inj. Amp/12 jam iv
 Ambroxol 3x 30 mg
 Vastigo 3x1 tab
 Domperidone 3x 20mg tab
 Neurosanbe 2x1 tab

FOLLOW UP
Camar (7 Juni 2018)
S O A P
- Nyeri pada KU: sakit sedang - Fibroadenoma - IVFD RL 20 tpm
benjolan di Kesadaran : Mammae - O2 2-4 lpm
20

payudara - E4M6V5 - Dyspepsia - Ranitidin inj. amp/ 12


- Nyeri ulu TD: 100/70 - Vertigo Perifer jam iv
hati mmHg - Anemia - Ketorolac inj.
- Mual N: 80x/m Amp/12 jam iv
- Batuk R: 24 x/m - Ambroxol 3x 30 mg
berlendir S: 37 C - Vastigo 3x1 tab
- Pusing Pem. Fisik: - Domperidone 3 x
- Lemas Kepala : anemis 20mg tab
- Sesak +/+, ikterus -/- - Neurosanbe 2x1 tab
dada:
vocal fremitus
kanan=kiri
Rh -/-,Wh(-/-)
bunyi nafas
vesikuler +/+
perut: Peristaltik
meningkat

Camar (8 Juni 2018)


S O A P
- Nyeri pada KU: sakit sedang - Fibroadenoma - IVFD RL 20 tpm
benjolan di Kesadaran : Mammae - O2 2-4 lpm
payudara - E4M6V5 - Dyspepsia - Ranitidin inj. amp/ 12
- Nyeri ulu TD: 100/70 - Vertigo Perifer jam iv
21

hati mmHg - Anemia - Ketorolac inj.


- Batuk N: 94x/m Amp/12 jam iv
berlendir R: 24 x/m - Ambroxol 3x 30 mg
- Pusing S: 36,7 C - Vastigo 3x1 tab
- Sesak Pem. Fisik: - Neurosanbe 2x1 tab
berkurang Kepala : anemis
+/+, ikterus -/-
dada:
vocal fremitus
kanan=kiri
Rh -/-,Wh(-/-)
bunyi nafas
vesikuler +/+
perut: Peristaltik
meningkat

Camar (9 Juni 2018)


S O A P
- Nyeri KU: sakit ringan - Fibroadenoma - IVFD RL 20 tpm
benjolan Kesadaran : Mammae - O2 2-4 lpm
22

payudara - E4M6V5 - Dyspepsia - Ranitidin inj. amp/ 12


kiri TD: 120/80 - Vertigo Perifer jam iv
- Nyeri ulu mmHg - Anemia - Ketorolac inj.
hati N: 120x/m Amp/12 jam iv
- Pusing R: 32x/m - Ambroxol 3x 30 mg
S: 36,4 C - Vastigo 3x1 tab
Pem. Fisik: - Neurosanbe 2x1 tab
Kepala : anemis
-/-, ikterus -/-
dada:
vocal fremitus
kanan = kiri
Rh -/-,Wh(-/-)
bunyi nafas
vesikuler +/+
perut: Peristaltik
normal

BAB IV
PEMBAHASAN
23

Pasien wanita usia 18 tahun masuk rumah sakit dengan keluhan nyeri pada benjolan
payudara kiri. Nyeri dirasakan sejak 1 minggu yang lalu dan benjolan dirasakan muncul sejak 2
bulan yang lalu. Benjolan bersifat lunak,dapat digerakkan, permukaan halus, dan tidak terasa
panas saat perabaan. Pasien juga mengeluhkan pusing berputar,batuk sejak 4 hari yang
awalnya berlendir namun 2 hari terakhir batuk tidak disertai lendir, dan sesak nafas. Ada
keluhan nyeri ulu hati yang disertai mual tetapi tidak ada muntah,tidak ada rasa panas di dada,
serta rasa pahit ketika menelan.Keluhan lemas pada seluruh badan juga ada.
Dari hasil pemeriksaan didapatkan Keadaan Umum: Sakit sedang, Kesadaran : E 4V5M6
(Composmentis). Tanda Vital: TD: 100/70 mmHg, Nadi: 80 x/menit, Pernafasan: 24 x/menit,
Suhu: 37 C. pada pemeriksaan fisik didapatkan konjungtiva anemis, benjolan pada payudara
kiri yang bersifat lunak, dapat digerakkan, permukaan halus dan berbatas tegas, nyeri tekan
pada ulu hati . Pada pemeriksaan laboratorium tanggal 06 Juni 2018 didapakan WBC: 9,8 x
103/mm3, RBC 4,4 x 106/uL, HGB: 13 mg/dL, HCT: 35,6%, PLT: 415 x 103/mm3. Pada
pemeriksaan radiologi pada tanggal 09 Juni 2018 didapatkan kesan tampak massa pada
mammae sinistra.
Dari hasil anamnesis pasien, didapatkan pasien mengeluh nyeri pada benjolan di payudara
kiri sejak 1 minggu dan benjolan sudah muncul sejak 2 bulan yang lalu . Benjolan dirasakan
bersifat mudah digerakkan, lunak, permukaan halus dan berbatas tegas Hal ini sesuai dengan
diagnosa klinik dari fibroadenoma mammae itu sendiri dimana didapatkan benjolan yang
bersifat mudah digerakkan, berbatas tegas .
Dari hasil anamnesis ini, kecurigaan terhadap fibroadenoma mammae bukanlah satu-satunya
diagnosis sesuai gejala. Perlu pemeriksaan-pemeriksaan lanjutan untuk menyingkirkan
kecurigaan-kecurigaan yang lainnya terhadap penyakit ini.. Maka dari itu diperlukanlah
pemeriksaan lainnya.
Dari pemeriksaan fisik, pada payudara kiri dapat teraba benjolan bersifat mudah di
gerakkan, berukuran kurang lebih 1 cm, berbatas tegas, permukaan halus, dan konsistensinya
padat dan kenyal.
Dari hasil USG abdomen yang dilakukan pada tanggal 09 Juni 2018, didapatkan kesan
tampak massa pada mammae sinistra. Akan tetapi USG abdomen belumlah cukup untuk
24

mengetahui adanya fibroadenoma pada penderita ini. Perlulah pemeriksaan seperti


mammografi, MRI , dan biopsy untuk menentukan dengan pasti bahwa pasien ini di diagnosa
fibroadenoma mammae.

DAFTAR PUSTAKA

1. Kuijper Arno., Mommers Ellen C.M., Van der Wall Elsken., Van Diest Paul J. Histopathology
of Fibroadenoma of The Breast. Available from : http://ajcp.ascpjournals.org/.
2. Crum Christoper P., Lester Susan C., Cotran Ramzi S. Sistem Genitalia Perempuan dan
Payudara. Dalam : Robbins, Stanley L., Kumar Vinay., Cotran Ramzi S. Robbins Buku Ajar
Patologi. Volume 2. Edisi 7. Penerbit Buku Kedokteran EGC. Jakarta. 2007. Hal. 793 – 794.
25

3. Farrow Joseph H. Fibroadenoma of The Breast. Available from :


http://caonline.amcancersoc.org/.
4. Roubidoux Marilyn A. Breast, Fibroadenoma. Available from :
http://emedicine.medscape.com/. Update on July 26, 2009.
5. Sjamsuhidajat, R., De Jong Wim. Dalam : Buku Ajar Ilmu Bedah. Edisi 2. Penerbit Buku
Kedokteran EGC. Jakarta. 2005. Hal. 388 – 393.
6. Zieve David., Wechter Debra G. Fibroadenoma – Breast. Available from :
http://www.nlm.nih.gov/medlineplus/. Update on December 17, 2009.
7. Shirley S.E., Mitchell D.I.G., Soares D.P., James M., Escoffery C.T., Rhodrn A.M., Wolff C.,
Choy L., Wilks R.J. Clinicopathologic Features of Breast Disease in Jamaica : Findings of the
Jamaican Breast Disease Study. 2000 – 2002. Available from : http://lib.bioinfo.pl/ .
8. Hillegas Kathleen Branson. Gangguan Sistem Reproduksi Perempuan. Dalam : Anderson,
Sylvia Price., Wilson Lorraine McCarty. Patofisiologi, Konsep Klinis Proses – Proses Penyakit.
Volume 2. Edisi 6. Penerbit Buku Kedokteran EGC. Jakarta. 2006. Hal. 1301 – 1302.
9. Ryan Stephanie., McNicholas Michelle., Eustace Stephen. In : Anatomy for Diagnostic
Imaging. Saunders, Elsevier Health. Philadephia. 2004. Hal. 308 – 310.
10. Desen Wan. Dalam : Buku Ajar Onkologi Klinis. Edisi 2. Balai Penerbit FKUI. Jakarta. 2008.
Hal. 366 – 369.
11. Fleischer Arthur C., Cullinan Jeanne A. Ultrasonography in Obsetrics and Gynaecology;
Obsetric Radiology. In : Grainger Ronald G., Allison David. Grainger & Allison’s Diagnostic
Radiology : A Textbokk of Medical Imaging. Third Edition. Churchill Livingstone. New York.
1997, Hal. 2003 – 2011.
12. Gravelle I.H. Mammography. In : Sutton David. A Textbook of Radiology and Imaging.
Volume 2. Churchill Livingstone. Great Britain. London. 1993, Hal. 1364 – 1366.
13. Eisenberg Ronald L. In : Clinical Imaging An Atlas of Differential Diagnosis. Fifth Edition.
Lippincott Williams & Wilkins. Philadelphia. 2010. Hal. 1392 – 1395.
14. Muttarak Malai. Breast Imaging : A Comprehensive Atlas. Booknet Company. Thailand.
2002. Hal. 33 – 177.
15. Kelcz Fred. Breast Imaging Using 3D-GRE. Available from : http://www.gehealthcare.com/.
26

16. Makes Daniel. Atlas Ultrasonografi Payudara dan Mamografi. Balai Penerbit FKUI. Jakarta.
1992. Hal 16 – 19.