Anda di halaman 1dari 15

LAPORAN PENDAHULUAN

FRAKTUR MANDIBULA

Oleh :

ADHITIA SHANDY ALMADANI


PO7120520040

PRODI PROFESI NERS KEPERAWATAN


POLTEKKES KEMENKES YOGYAKARTA
2021
LAPORAN PENDAHULUAN FRAKTUR MANDIBULA

A. Anatomi dan fisiologi

(sumber:http://catatanradiograf.com/2011/07/anatomi-tulang-mandibula.html)

Keterangan gambar:

1. Proc. condylaris
Proc. condylaris memiliki bentuk cembung dari belakang dan dari sisi ke sisi,
serta lebih meluas pada bagian posterior dibandingkan pada permukaan anterior. Dari
ujung lateral kondilus terdapat tuberkulum kecil untuk perlekatan ligamen
temporomandibula. Proc. condylaris bersendi dengan os temporale pada articulatio
temporomandibularis (TMJ).

2. Ramus mandibulae
Ramus mandibula pada permukaan lateralnya datar dan ditandai oleh tonjolan
miring pada bagian bawah, memberi perlekatan pada hampir seluruh messeter 3. Pada
permukaan medial terdapat foramen mandibula untuk pusat pembuluh dan saraf
alveolar inferior. Batasnya tidak teratur dan diatasnya terletak tulang tajam, lingula
mandibula yang berikatan pada sphenomandibular, pada bagian bawah dan belakang
terdapat alur mylohyoid yang berjalan ke bawah dan tempat dari perkumpulan
pembuluh dan saraf mylohyoid.
Kanalis mandibula membentang miring ke bawah dan ke depan dalam ramus. Kanalis
berisi pembuluh dan saraf alveolar inferior, dimana cabangnya didistribusikan ke gigi.
Batas bawah ramus tebal, lurus, dan berlanjut dengan batas posterior sudut mandibula.
Batas posterior tebal, halus, bulat, dan ditutupi oleh kelenjar parotis.
Ramus terdiri dari dua permukaan, yaitu :

a. Permukaan eksternus (lateralis)

Permukaan ini kasar dan datar. Bagian posterior atas licin yang berhubungan
dengan glandula parotis. Sisa dari permukaan merupakan insersio dari muskulus
masseter4.

b. Permukaan internus (medialis)

Pada permukaan ini terletak foramen mandibulae yang merupakan awal dari
kanalis mandibularis dan dilalui oleh oleh vena inferior alveolar, saraf inferior
alveolar dan arteri inferior alveolar.

3. Linea oblique externa


Dari ujung processus coronoideus, ujung anterior ramus akan menuju ke arah
corpus tulang dan bergabung dengan linea oblique externa pada permukaan luar
korpus. Linea ini menjadi makin samar dengan makin ke bawahnya permukaan
tersebut ke arah foramen mentale. Linea ini memisahkan prosessus alveolaris di
bagian atas dengan elemen basal dari tulang di bagian bawah
4. Juga alveolaris
Susunan gigi di mandibula yang menyerupai busur, berjumlah 16, dan
memiliki variasi kedalamannya sesui dengan jenis giginya.

5. Proc. coronoideus
Proc. coronoideus pada permukaan lateralnya datar dan ditandai oleh tonjolan
miring pada bagian bawah, tempat perlekatan pada hampir seluruh m. masseter. Pada
permukaan medial terdapat foramen mandibula untuk pusat pembuluh dan saraf
alveolar inferior, memiliki batas yang tidak teratur, dan diatasnya terdapat tulang
tajam. Selain itu, terdapat lingula mandibula yang berikatan pada sphenomandibular.
6. Symphysis mandibulae
Symphysis mandibulae memiliki kerutan yang samar, yang merupakan
salah satu simphisis yang paling menonjol yang memisahkan basis mandibula.
Terdapat dua muskulus yang berorigo pada simphisis mandibula yaitu geniohyoid
dan genioglossus.

7. Foramen mentale
Foramen mentale merupakan lubang di bagian bukal mandibula biasanya di
daerah bawah dan diantara gigi premolar. Saraf aferen dari bibir bawah dan gingiva
labial melewati foramen ini, bersama-sama dengan pembuluh darah dan menyatu
dengan cabang insisif dari saraf alveolaris inferior yang terletak di dalam tulang.
8. Basis mandibulae
Merupakan bagian dasar mandibula di sepanjang corpus mandibula.

9. Tuberculum mentale
Pada bagian garis median tepat di atas perlekatan mylohyoideus terdapat dua
tuberkulum kecil, tuberkulum mentale, yang akan bergabung untuk membentuk
sayap vertikal dari tulang. Daerah ini merupakan perlekatan m. geniohyoideus dan
genioglossus.

10. Protuberantia mentalis

Tonjolan tulang pada bagian terdepan dari basis mendibulae. Simfisis dari
permukaan luar mandibula dan membungkus suatu segitiga, tonjolan, yang tertekan di
pusat tapi dibesarkan di kedua sisi untuk membentuk tuberkulum mental. Tulang ini
berperan dalam pembentukan dagu seseorang.

11. Corpus mandibulae

Corpus adalah bagian horizontal tulang mandibula. Di anterior corpus kiri


dan kanan bergabung pada median line membentuk tulang berbentuk U dan
berbentuk seperti tapal kuda. Corpus mandibulae memiliki 2 permukaan, yakni:
a. Permukaan eksternus

Permukaan eksternus kasar dan cembung. Pada bagian ini terdapat suatu
linea oblikum yang meluas dari ujung bawah pinggir anterior ramus menuju
ke bawah dan ke muka serta berakhir pada tuberkum mentale di dekat garis
tengah. Selain itu, terdapat juga foramen mentale yang terletak di atas linea
oblikum.

b. Permukaan internus

Permukaan internus agak cekung. Pada permukaan ini terletak sebuah linea
milohyodea, yang meluas oblik dari di bawah gigi molar ke tiga menuju ke
bawah dan ke muka mencapai garis tengah, linea milohyodea ini merupakan
origo dari m. milohyodeus.

12. Angulus mandibulae

Terletak di belakang dan di bawah foramen mandibulae, permukaan dalam


ramus biasanya kasar karena merupakan daerah insersi m. pterygoideus medialis.
Daerah inilah yang disebut dengan angulus mandibulae.

13. Pars alveolaris

Merupakan bagian dari mandibula yang berdekatan dengan gigi yang berisi

alveolus gigi.

B. Definisi
Fraktur adalah patah tulang, biasanya disebabkan oleh trauma atau tenaga
fisik. Kekuatan otot dan sudut dari tenaga tersebut, keadaan tulang, dan jaringan lunak
di sekitar tulang akan menentukan apakah fraktur yang terjadi itu lengkap atau tidak
lengkap (Price dan Wilson, 2006).

Fraktur adalah terputusnya kontinuitas tulang dan ditentukan sesuai jenis dan
luasnya (Brunner & Suddarth, 2001).

Fraktur adalah hilangnya kontinuitas tulang, tulang rawan, baik yang bersifat
total maupun sebagian. (Muttaqin, Arif. 2008)
Mandibula adalah tulang rahang bawah, tulang yang tidak teratur dan
merupakan satu-satunya tulang kepala yang dapat bergerak (Watson,2002).

Fraktur mandibula adalah rusaknya kontinuitas tulang mandibula yang dapat


disebabkan oleh trauma baik secara langsung atau tidak langsung.

C. Etiologi

Klasifikasi Fraktur (Chairuddin, 2003)

Klasifikasi Etiologis:

1. Trauma langsung: benturan pada tulang mengakibatkan fraktur ditempat


tersebut.

2. Trauma tidak langsung: tulang dapat mengalami fraktur pada tempat yang jauh
dari area benturan.

3. Fraktur patologis: fraktur yang disebabkan trauma yamg minimal atau tanpa
trauma. Contohfraktur patologis: Osteoporosis, penyakit metabolik, infeksi
tulang dan tumor tulang.

Klasifikasi Klinis

1. Fraktur tertutup, merupakan fraktur tidak menyebabkan robek pada kulit

2. Fraktur terbuka, merupakan dengan luka pada kulit atau robek dan ujung tulang
menonjolsampai menembus kulit

3. Fraktur komplit adalah patah pada seluruh garis tengah tulang dan biasanya
mengalami pergeseran

4. Fraktur tidak komplit, patah hanya terjadi pada sebagian dari garis tengah tulang

Klasifikasi Radiologis

1. Lokalisasi/letak fraktur seperti diafisis, metafisis, intra-artikular.

2. Konfigurasi/sudut patah dari fraktur :

 Fraktur transversal

 Fraktur oblik
 Fraktur spiral

 Fraktur kominutif

 Fraktur segmental

 Fraktur Impaksi/kompresi

3. Menurut ekstensi:

 Fraktur total

 Fraktur tidak total (fracture crack)

 Fraktur buckle/torus

 Fraktur garis rambut

 Fraktur greenstick

 Fraktur avulse

 Fraktur sendi

4. hubungan antara fragmen dengan fragmen lainnya yaitu tidak bergeser dan
Bergeser (bersampingan, angulasi, rotasi, distraksi, overiding, impaksi)

Menurut R. Gustino Fraktur Terbuka dibagi atas 3 derajat yaitu:

Derajat I:

 Luka < 1 cm

 Kerusakan jaringan lunak sedikit, tidak ada tanda luka remuk

 Fraktur sederhana, transversal, atau kominutif ringan

 Kontaminasi minimal

Derajat II:

 Laserasi >1 cm

 Kerusakan jaringan lunak, tidak luas, flap/ avulsi

 Fraktur kominutif sedang


 Kontaminasi sedang

Derajat III:

 Terjadi kerusakan jaringan lunak yang luas meliputi struktur kulit, otot.

D. Manifestasi Klinik

 Tidak dapat menggunakan anggota gerak

 Nyeri pembengkakan

 Terdapat trauma

 Gangguan fungsi anggota gerak

 Deformitas

 Kelainan gerak

E. Patofisiologi

Penyebab fraktur diakibatkan oleh trauma minimal atau tanpa trauma berupa yang

disebabkan oleh suatu proses, yaitu :

· Osteoporosis Imperfekta (kelainan genetika langka pada remaja, tulang rapuh)

· Osteoporosis (penurunan kualitas dan kepadatan massa tulang)

· Penyakit metabolik (makanan, racun, infeksi, dan sebagainya)

Trauma, yaitu benturan pada tulang. Biasanya terjatuh dengan posisi dagu langsung

terbentur dengan benda yang lebih kuat/keras daripada tulang itu sendiri.
F. Pathway (Pohon Masalah)

Trauma langsung trauma tidak langsung kondisi patologis

FRAKTUR MANDIBULA

Diskontinuitas tulang pergeseran frakmen tulang Nyeri

Perub jaringan sekitar kerusakan frakmen tulang

Pergeseran frag Tlg laserasi kulit: spasme otot tek. Ssm tlg > tinggi dr kapiler
Kerusakan
integritas
jaringan putus vena/arteri tekanan kapiler reaksi stres klien

deformitas

perdarahan pelepasan histamin melepaskan katekolamin

gg. fungsi

protein plasma hilang memobilisai asam lemak

syok hipovolemik

Defisit edema bergab dg trombosit


perawatan diri
makan
penekanan pembuluh drh emboli
Kekurangan
Volume Cairan
Dalam Tubuh penurunan perfusi jar menyumbat pembuluh darah

Gangguan perfusi jaringan


G. Pemeriksaan Penunjang

 X.Ray

 Bone scans, Tomogram, atau MRI Scans

 Arteriogram : dilakukan bila ada kerusakan vaskuler.

 CCT kalau banyak kerusakan otot.

H. Penatalaksanaan Medik

 Konservatif : Immobilisasi, mengistirahatkan daerah fraktur.

 Operatif : dengan pemasangan Traksi, Pen, Screw, Plate, Wire ( tindakan


Asbarg)

I. Komplikasi

1. Malunion : tulang patah telahsembuh dalam posisi yang tidak seharusnya.

2. Delayed union : proses penyembuhan yang terus berjlan tetapi dengan kecepatan
yang lebih lambat dari keadaan normal.
3. Non union : tulang yang tidak menyambung kembali

J. Rencana Asuhan Keperawatan

I. Pengkajian

1. Pengkajian primer:

a. Airway

Adanya sumbatan/obstruksi jalan napas oleh adanya penumpukan sekret


akibat kelemahan reflek batuk

b. Breathing

Kelemahan menelan/ batuk/ melindungi jalan napas, timbulnya


pernapasan yang sulit dan / atau tak teratur, suara nafas terdengar ronchi
/aspirasi

c. Circulation

TD dapat normal atau meningkat , hipotensi terjadi pada tahap lanjut,


takikardi, bunyi jantung normal pada tahap dini, disritmia, kulit dan
membran mukosa pucat, dingin, sianosis pada tahap lanjut
2. Pengkajian sekunder

a. Aktivitas/istirahat

 kehilangan fungsi pada bagian yangterkena


 Keterbatasan mobilitas
b. Sirkulasi

 Hipertensi ( kadang terlihat sebagai respon nyeri/ansietas)


 Hipotensi ( respon terhadap kehilangan darah)
 Tachikardi
 Penurunan nadi pada bagiian distal yang cidera
 Cailary refil melambat
 Pucat pada bagian yang terkena
 Masa hematoma pada sisi cedera
c. Neurosensori

 Kesemutan
 Deformitas, krepitasi, pemendekan
 Kelemahan

d. Kenyamanan

 nyeri tiba-tiba saat cidera


 spasme/ kram otot

e. Keamanan

 laserasi kulit
 perdarahan
 perubahan warna
 pembengkakan lokal
II. Diagnosa keperawatan, tujuan, intervensi, rasional

No. Diagnosa Tujuan Intervensi Rasional


Keperawatan
1 Nyeri akut b/d Setelah dilakukan 1. Kaji ulang lokasi, intensitas 1. Mengetahui karakteristik
Agen cidera tindakan dan tipe nyeri nyeri
fisik keperawatan 2. Pertahankan imobilisasi bagian 2. Untuk mengurangi nyeri
(Nanda, 2013) selama 1x20 menit yang sakit dengan tirah baring
nyeri berkurang 3. Berikan lingkungan yang 3. Untuk menambahkan rasa
atau hilang tenang dan berikan dorongan nyaman
untuk melakukan aktivitas
KH: hiburan
Klien Mengatakan 4. Ganti posisi dengan 4. Untuk mengurangi nyeri
nyerinya berkurang bantuan bila ditoleransi
atau hilang 5. Dorong menggunakan tehnik 5. Untuk mengurangi
Skala nyeri (0-1) manajemen stress, contoh : sensasi nyeri
relasksasi, latihan nafas
dalam, imajinasi visualisasi,
sentuhan 6. Untuk mengetahui
6. Observasi tanda-tanda vital keadaan umum klien
7. Untuk mengurangi nyeri
7. Kolaborasi : pemberian
analgetik
2 Kerusakan Setelah dilakukan 1. Kaji ulang integritas luka dan 1. Mengetahui adanya
Integritas tindakan observasi terhadap tanda tanda2 infeksi
Jaringan b/d keperawatan infeksi atau drainae
Faktor selama 1 x60 menit 2. Monitor suhu tubuh 2. Mengetahui adanya
mekanik integritas kulit yang infeksi kalau suhu tubuh
(misal:koyakan baik tetap terjaga naik
/robekan) 3. Lakukan perawatan kulit, 3. Untuk mempertahankan
(Nanda, 2013) KH: dengan sering pada patah integritas kulit
Klien mengatakan tulang yang menonjol
badannya bugar 4. Lakukan alih posisi dengan 4. Untuk mencegah
Luka tampak bersih sering, dekubitus
5. Pertahankan seprei tempat 5. Mencegah kerusakan
tidur tetap kering dan bebas integritas kulit
kerutan
6. Masage kulit ssekitar akhir 6. Meningkatkan sirkulasi
gips dengan alkohol perifer dan meningkatkan
kelemasan kulit dan otot
terhadap tekanan yang
relatif konstan pada
imobilisasi.
7. Kolaborasi pemberian 7. Untuk mencegah infeksi
antibiotik.
3 Kekurangan Setelah dilakukan 1. Pertahankan catatan intake dan 1. Menjaga keseimbangan
Volume Cairan tindakan output yang akurat volume cairan
Dalam Tubuh keperawatan 2. Monitor status hidrasi 2. Mengetahui kualitas
b/d selama 1 x 6 jam, (kelembaban membran pemasukan volume
hilangannya masalah mukosa, nadi adekuat, tekanan cairan
volume cairan kekurangan volume darah ortostatik) 3. Mendapatkan nutrisi
secara aktif cairan dalam tubuh 3. Dorong keluarga untuk yang adekuat.
(Nanda, 2013) teratasi membantu pasien makan 4. Mengoptimalkan
4. Tawarkan minuman/makanan pemasukan volume
KH: ringan (snack, jus buah, buah cairan
1. Mempertahankan segar )
urine output
sesuai dengan
usia dan BB, BJ
urine normal, HT
normal
2. Tekanan darah,
nadi, suhu tubuh
dalam batas
normal
3. Tidak ada tanda
tanda dehidrasi,
Elastisitas turgor
kulit baik,
membran mukosa
lembab, tidak ada
rasa haus yang
berlebihan
4 Gangguan Setelah dilakukan 1. Monitor vital sign 1. Mengetahui perubahan
perfusi tindakan 2. Monitor adanya daerah yg sirkulasi
jaringan b/d keperawatan hanya peka terhadap 2. Mengetahui daerah yang
rasa nyeri selama 1xshift panas/dingin/tajam/tumpul mengalami gangguan
(Nanda, 2013) status sirkulasi baik 3. Observasi kulit 3. Mengetahui adanya lesi /
laserasi
KH: 4. Batasi gerakan pada rahang 4. Untuk menjaga sirkulasi
TTV dalam batas 5. Kolaborasi pemberian darah di rahang
normal analgetik

5 Defisit Setelah dilakukan 1. Monitor kemampuan pasien 1. Untuk mengetahui cara


perawatan diri tindakan untuk makan memberikan makanan
makan b/d keperawatan 2. Ciptakan lingkungan yang 2. Menambahkan rasa
gangguan selama 1x30 menit nyaman nyaman
muskuloskeleta ADL klien 3. Atur posisi pasien senyaman 3. Agar tidak terjadi aspirasi
l terpenuhi mungkin sebelum memberi
(Nanda, 2013) makan
KH: 4. Berikan alat bantu untuk 4. Memudahkan klien
Klien mengatakan makan, mis: sedotan, sendok. memakan makanan
bisa makan 5. Berikan makanan sesuai 5. Agar diet terpenuhi
Klien tampak bisa anjuran
makan
DAFTAR PUSTAKA

Brunner & Suddarth, 2001. Buku Ajar Keperawatan Medikal Bedah, edisi 8.
Jakarta : EGC

Muttaqin, Arif. 2008. Asuhan Keperawatan Klien Gangguan Sistem


Muskuloskeletal. Jakarta : EGC

Nurarif Amih Huda, 2013. Aplikasi Asuhan Keperawatan Berdasarkan Diagnosa


Medis dan Nanda Nic-Noc. Jakarta: EGC

Price S. A dan Wilson, Lorraine M. C, 2006, Patofisiologi Clinical Concepts of


Desiase Process, Edisi 6, Vol 2, Alih bahasa Brahm U, EGC : jakarta.