Anda di halaman 1dari 22

PENGARUH TERAPI SPIRITUAL EMOTIONAL FREEDOM

TECHNIQUE (SEFT) TERHADAP PERUBAHAN SKOR DEPRESI PADA


ORANG DENGAN HIV-AIDS (ODHA) DI RUMAH SAKIT JIWA
SUNGAI BANGKONG

Christina Dinda Permata Kasih1, Arina Nurfianti2,


Jaka Pradika3
1, 2
Universitas Tanjungpura.
3
Sekolah Tinggi Ilmu Keperawatan (STIK) Muhammadiyah.

ABSTRAK

Latar Belakang : Human Imunodeficiency Virus (HIV) adalah virus yang


menyerang sel-sel darah putih yang berperan pada sistem kekebalan tubuh
manusia. Permasalahan yang cenderung terjadi pada Orang dengan HIV-AIDS
(ODHA) salah satunya adalah depresi. Secara tidak langsung depresi pada ODHA
berdampak pada fungsi kekebalan tubuhnya dimana ditandai dengan penurunan
jumlah sel T-Helper (CD4) dan kepatuhan terhadap pengobatan ARV serta
mengakibatkan tekanan emosional (energi negatif) dalam tubuh. Depresi dapat
diatasi salah satunya dengan melakukan terapi SEFT.
Tujuan : Mengetahui pengaruh terapi SEFT terhadap perubahan skor depresi
pada ODHA di Rumah Sakit Jiwa Sungai Bangkong.
Metode : Penelitian ini adalah penelitian kuasi eksperimen dengan time series
design. Teknik pengambilan sampel menggunakan teknik purposive sampling
dengan sampel sebanyak 22 responden. Instrumen penelitian menggunakan
kuesioner Beck Depression Inventory (BDI)-II. Analisa data menggunakan paired
t-test.
Hasil : Analisa bivariat menggunakan paired t-test didapatkan nilai mean pada
pre test 17,32 dan post test 6,32 serta nilai p value sebesar 0.000 (< 0,05). Hasil
ini menunjukkan terdapat pengaruh terapi SEFT terhadap perubahan skor depresi
pada orang dengan HIV-AIDS (ODHA).
Kesimpulan : Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa hipotesis alternatif (Ha)
dalam penelitian ini diterima sehingga dapat disimpulkan terdapat pengaruh terapi
SEFT terhadap perubahan skor depresi pada ODHA di Rumah Sakit Jiwa Sungai
Bangkong. Terapi SEFT dapat direkomendasikan sebagai salah satu terapi
komplementer dalam memberikan asuhan keperawatan pada ODHA yang
mengalami depresi.

Kata Kunci : ODHA, SEFT, Depresi.

i
THE EFFECT OF SPIRITUAL EMOTIONAL FREEDOM
TECHNIQUE (SEFT) ON THE CHANGE OF DEPRESSION SCORE IN
PEOPLE WITH HIV-AIDS IN PSYCHIATRIC HOSPITAL OF
SEI. BANGKONG

Christina Dinda Permata Kasih1, Arina Nurfianti2,


Jaka Pradika3
1, 2
University Tanjungpura.
3
The Muhammadiyah Institute of Nursing.

ABSTRACT

Background : Human Immunodeficiency Virus (HIV) is a virus that attacks


white blood cells that play a role in the human immune system. The problems
that tend to occur in PLHA one of them is depression. Indirectly, depression in
has a direct impact on immune function characterized by a decrease in number
of T-Helper (CD4), adherence to antiretroviral treatment and emotional
pressure (negative energy) in human body. Depression can be coped as one of
them by doing SEFT. Objective : To examine the effect of SEFT on the change
of depression score in PLHA in Psychiatric Hospital of Sei. Bangkong.
Method : This was a quasi experiment study with time series design. The
purposive sampling technique was used with 22 respondents. The research
instruments used Beck Depression Inventory (BDI)-II questionnaire. Data
analysis involed the use of paired t-test.
Result : Bivariate analysis using paired t-test got mean value at pre test of 17,32
and post test 6,32 and value p value 0.000 (<0,05). It proved that there was
an effect of SEFT on the change of depression score in People with HIV-AIDS.
Conclusion : The results of this study indicate that the alternative hypothesis
(Ha) in this study is accepted so it can be concluded that there is influence of
SEFT therapy to change of depression score on people with HIV-AIDS in
psychiatric hospital of bangkong river. SEFT therapy can be recommended as
one of the complementary therapy in providing nursing care of people with
HIV-AIDS who are depressed.

Keywords : ODHA, SEFT, Depression.


Pendahuluan
Penyakit mematikan yang
Indonesia, Ditjen P2P, Kemenkes RI
menjadi wabah internasional sejak
dalam InfoDATIN (2016) terdapat
pertama kali muncul di dunia salah
10 Provinsi yang memiliki jumlah
satunya adalah HIV-AIDS (Arriza,
kasus AIDS terbanyak sejak tahun
Dewi & Kaloeti, 2011). HIV adalah
1987 sampai triwulan 2 pada tahun
virus yang menyerang sel-sel darah
2016 satu diantaranya adalah
putih yang berperan pada sistem
provinsi Kalimantan Barat yang
kekebalan tubuh manusia, seseorang
menduduki peringkat ke-9 dengan
yang terserang virus HIV tidak dapat
jumlah kumulatif AIDS sebanyak
melawan berbagai jenis penyakit
2.539 orang.
yang menyerang tubuhnya. HIV
Kasus HIV-AIDS yang terjadi
dapat menyebabkan AIDS
di Kalimantan Barat menurut Dinas
(Katiandagho, 2015).
Kesehatan Provinsi mencatat bahwa
Menurut Pusat Data dan
berdasarkan pelaporan tahun 1993
Informasi Kementerian Kesehatan
s/d Desember 2016 terdapat 5.908
RI (InfoDATIN) tahun 2016, jumlah
yang mengalami HIV dan 2.884
kasus HIV di dunia pada tahun 2015
yang mengalami AIDS serta 644
sebesar 36,7 juta (34,0-39,8 juta) dan
yang telah meninggal sedangkan
World Health Organization (WHO)
berdasarkan distribusi kasus
mencatat sejak AIDS ditemukan
Kabupaten/ Kota, peringkat pertama
hingga akhir 2015 terdapat 34 juta
diduduki oleh Kota Pontianak
orang meninggal. Jumlah kasus HIV
dengan jumlah penderita HIV+
di Indonesia cenderung mengalami
sebanyak 2.758 dan AIDS sebanyak
peningkatan dimana jumlah
1.442. Distribusi Kasus berdasarkan
kumulatif penderita HIV sampai Juni
kelompok beresiko paling tertinggi
2016 sebanyak 208.920 orang dan
terjadi pada kelompok heteroseksual
total kumulatif kasus AIDS
dengan jumlah 2.999 pada HIV+ dan
sebanyak 82.566 orang.
1.391 pada AIDS. Distribusi kasus
Berdasarkan laporan situasi
berdasarkan kelompok umur,
perkembangan HIV-AIDS & PMS di

1
pada umur 25-49 tahun adalah umur lapisan masyarakat tanpa
paling tertinggi terjadinya HIV- membedakan status sosial, ekonomi
AIDS. Distribusi kasus berdasarkan dan pendidikan. Indonesia menduduki
jenis kelamin, laki-laki berjumlah peringkat ke-empat di dunia, dengan
3.713 yang mengalami HIV+ dan perkiraan sebanyak 350 juta orang
1.911 yang mengalami AIDS dari segala usia dan 16,20% dari
sedangkan pada perempuan sebanyak populasi orang dewasa (Chatwin,
2.195 terjadi pada HIV+ dan 973 Stapleton, Porter, Devine & Sheldon,
terjadi pada AIDS. Studi pendahuluan 2016). Sekitar 20% juga terjadi pada
yang dilakukan peneliti di Rumah wanita dan 12% pada pria (Keliat,
Sakit Jiwa (RSJ) Sungai Bangkong Wiyono & Susanti, 2011).
juga didapatkan jumlah keseluruhan Berdasarkan rentang usia depresi,
Orang deng HIV-AIDS (ODHA) dari 50% terjadi pada rentang usia 20-50
tahun 2005 sampai bulan Januari tahun dengan usia awitan rata-rata 40
2017 sebanyak 525 orang. tahun (Setiawan, Sadeli & Sapiie,
Mencermati data distribusi 2013).
tersebut, jelas sekali banyaknya ODHA yang mengalami depresi
penyebaran HIV-AIDS di kota dapat terjadi karena masalah fisik dan
Pontianak, namun penyebaran berdampak langsung pada fungsi
penyakit HIV-AIDS di masyarakat kekebalan tubuh yang ditandai
layaknya fenomena gunung es. dengan penurunan jumlah sel darah
Permasalahan yang cenderung terjadi putih atau CD4+ dan kepatuhan
pada ODHA menurut Wahyu. Taufik terhadap pengobatan ARV (Hinkle &
& AsmidirIlyas (2012) yaitu masalah Cheever, 2014; Lombardi, Mizuno &
fisik maupun masalah psikologis. Thornberry, 2010).
Penyebab tekanan psikologis inilah Berbagai masalah yang dialami
yang dapat meningkatkan depresi ODHA tersebut maka peneliti
pada ODHA (Brandt, Gonzalez, melakukan studi pendahuluan
Grover & Zvolensky, 2013). terhadap 7 orang ODHA yang
Depresi adalah masalah yang menjalani rawat jalan di RSJ Sungai
serius dan dapat mengenai seluruh
Bangkong, hasilnya ditemukan 7 secara resmi terkait masalah
orang tersebut menunjukkan memiliki psikologis pada ODHA sehingga
tanda dan gejala depresi, selain untuk mendapatkan data status
ODHA peneliti juga mewawancarai ODHA yang mengalami depresi tidak
perawat di Care Support Treatment ditemukan secara pasti karena tidak
(CST) RSJ Sungai Bangkong, dicantumkan dalam rekam medik.
perawat mengatakan bahwa biasanya Perawat di CST hanya
ODHA datang dengan berbagai mencantumkan keluhan yang dialami
keluhan dan tindakan yang pertama dan mencatat pengambilan obat serta
dilakukan adalah pemeriksaan mencatat jumlah kunjungan pasien.
tekanan darah, timbang berat badan ODHA perlu diberikan perhatian
dan pengambilan obat namun ketika secara holistik termasuk gejala-gejala
diwawancari terkait dengan yang dialami, salah satu gejala
kolaborasi dengan psikiater untuk depresi menurut Beck Depression
menangani masalah psikologis, Inventory (1967) dalam Safitri dan
ODHA tidak pernah dilakukan Sadif (2013) yaitu gejala emosional
pemeriksaan psikologis kepada dan gejala kognitif dan gejala lainnya
psikiater dan untuk melakukan (Digiulio, Jackson & Keogh, 2014),
pemeriksaan ke dokter tidak hal ini juga sependapat dengan
dilakukan secara rutin, dokter hanya Wahyu, Taufik & AsmidirIlyas
menangani masalah infeksi (2012) yang mengatakan bahwa
oportunistik. depresi timbul akibat dari efek emosi
Berdasarkan hasil studi seseorang dimana jika efek tersebut
pendahuluan tersebut, peneliti tidak diatasi akan mengakibatkan
menyimpulkan bahwa kurangnya tekanan emosional (energi negatif)
kolaborasi dengan psikiater dan dalam tubuh. Energi negatif dalam
dokter dalam menangani ODHA tubuh dapat diatasi dengan
sehingga tidak diketahui secara pasti merangsang titik-titik kunci di
masalah psikologis seperti resiko sepanjang 12 jalur energi (energi
tinggi depresi pada ODHA dan tidak meridian). Teknik yang digunakan
pernah dilakukan uji skrining depresi
untuk merangsang energi meridian melakukan penelitian tentang
tersebut dikenal dengan terapi SEFT. pengaruh terapi SEFT terhadap
Terapi SEFT merupakan salah perubahan skor depresi pada ODHA.
satu terapi komplementer, dalam
psikologi SEFT diartikan sebagai METODE
suatu metode untuk mengelola Jenis penelitian ini adalah
potensi yang sistematis sehingga kuantitatif. Metode penelitian
dapat digunakan untuk beberapa eksperimen semu (quasi eksperiment
tujuan dalam meningkatkan design) dengan rancangantime series.
kesejahteraan jiwa (Putra, 2015; Lokasi penelitian di Rumah Sakit
Safitri & Sadif, 2013). Efektifnya Jiwa Sungai Bangkong, Pontianak
terapi SEFT tergantung dari spiritual Kalimantan Barat pada 03-31 Juli
power dan energy psychology (Putra, 2017. Populasi dalam penelitian ini
2015). adalah ODHA yang berjumlah 525
Teknik SEFT dibagi menjadi orang. Pengambilan sampel ini
versi lengkap dan versi inti, dimana dengan menggunakan purposive
teknik ini merangsang titik-titik kunci sampling. Sampel pada penelitian ini
disepanjang 12 jalur energi (enegi berjumlah 22 orang.
meridian) tubuh. Menstimulasi titik- Jenis data dalam penelitian ini berupa
titik meridian tubuh dengan intensitas data kuantitatif yang berupa skor
ketukan yang sama selama 10-15 dimana diperoleh dari perhitungan
menit dapat membantu mengurangi skor kuesioner yaitu skor depresi.
kecemasan dan membuat perasaan Teknik pengumpulan data primer
menjadi lebih tenang, nyaman dan dalam penelitian ini diperoleh dengan
menstimulasi pengeluaran hormon melaksanakan pre test yaitu tes
endorfin yang berfungsi sebagai sebelum terapi SEFT dan post test,
hormon kebahagiaan (Zakiyah, 2013; yaitu tes sesudah terapi SEFT.
Rofacky & Aini, 2016).
Berdasarkan latar belakang
tersebut, peneliti berkeinginan untuk
HASIL
1.1. Karakteristik Responden
Tabel 1.1. Karakteristik usia, jenis kelamin, pendidikan, pekerjaan dan jumlah CD4
Responden.
Karakteristik Responden 20Kategori
- 24 tahun Frekuensi Persentase (%)
Usia Responden 8 36
25 - 49 tahun 14 64
Laki - laki
Jenis Kelamin Responden 20 91
Perempuan 2 9
SD
SMP 2 9
Pendidikan Responden 4 18
SMA 12 55
Perguruan Tinggi 4 18
IbuTidak
RumahBekerja
Tangga 2 9
Pekerjaan Responden 1 4,5
PNS 1 4,5
Wiraswasta 18 82
< 200 sel/ mm3 5 23
Jumlah CD4
> 200 sel/ mm3 17 77
Sumber : Data primer, 2017

Tabel 1.1. menunjukkan sebanyak 20 orang (91%),


karakteristik responden pada 22 pendidikan responden terbanyak
sampel penelitian dimana pada SMA yaitu sebanyak 12 orang
berdasarkan pada karakteristik (55%), pekerjaan responden
usia responden terbanyak yaitu terbanyak pada wiraswasta yaitu
rentang usia 25-49 yaitu dengan sebanyak 18 orang (82%) dan
jumlah 14 orang (64%), jenis jumlah CD4 terbanyak > 200 sel/
kelamin terbanyak pada mm3 dimana terdapat 17 orang
responden yaitu laki-laki (77%).

1.2. Analisa Univariat


Tabel 1.2. Karakteristik Skor Depresi Sebelum dan Sesudah Terapi SEFT Responden

Variabel Kategori Skor n %


0 --13
14 19 4 18
Pre Test 12 54
20 - 28 6 27
29 -63 0 0
Skor Depresi
0 --13
14 19 12 54
Post Test 1 5 23
20 - 28 5 23
29 - 63 0 0
0 --13
14 19 15 68
Post Test 2 6 27
20 - 28 1 5
29 - 63 0 0
0 --13
14 19 20 91
Post Test 3 2 9
20 - 28 0 0
29 - 63 0 0
Sumber : Data primer, 2017

Tabel 1.2. menunjukkan hasil terbanyak yaitu pada post test 3,


skor depresi pada skor pre test dimana skor 0-13 mendapatkan
terbanyak pada skor 14-19 yaitu jumlah terbanyak yaitu terdapat 20
12 orang (54%) dan pada post orang (91%).
test yang mengalami peningkatan

Diagram 1.2.Karakteritik Skor Depresi Sebelum dan Sesudah Terapi SEFT Responden

Diagram Skor Depresi Pre Test & Post Test

20.00
15.00 17.32
10.00 13.41
5.00 9.05
0.00 6.32

PRE TESTPOST TEST 1POST TEST 2POST TEST 3

Sumber : Data primer, 2017

Diagram 1.2. menunjukkan yaitu 17,32 sedangkan pada post test


jumlah rata-rata hasil skor 3 memiliki nilai rata-rata terendah
depresi, didapatkan pre test yaitu 6,32.
memiliki nilai rata-rata tertinggi

1.3. Analisa Bivariat


Uji Pengaruh Sebelum dan
terhadap 22 responden dan
Sesudah Terapi SEFT
didapatkan hasil perubahan skor
Penelitian ini dilakukan uji
depresi, dimana didapatkan hasil
statistik yaitu paired t-test
sebagai berikut :
Tabel 1.3. Uji Pengaruh Sebelum dan Sesudah Terapi SEFT

N Mean SD p Value
Pre test 22 17,32 4,213
0,000
Post test 22 6,32 5,195
Sumber : Data primer, 2017

Tabel 1.3. menunjukkan bahwa 0,000. Berdasarkan nilai p value


hasil uji statistik paired t-test tersebut dapat disimpulkan bahwa
terhadap skor depresi, didapatkan terdapat pengaruh yang signifikan
nilai p value yaitu nilai p = pada skor depresi.

PEMBAHASAN
1.1. Analisa Univariat
Karakteristik usia responden
Berdasarkan hasil penelitian mengalami kerentanan pada
didapatkan bahwa usia responden kesehatan seksual dan
terbanyak berusia 25-49 tahun reproduksinya akibat ancaman
yaitu sebanyak 14 orang (64%). dari HIV-AIDS, hal ini menjadi
Usia tersebut sesuai dengan data sangat berbahaya bagi generasi
laporan situasi perkembangan muda kedepannya mengingat
HIV-AIDS & PMS di Indonesia, responden pada penelitian ini
Dirjen P2P, Kemenkes RI, dimana banyak tinggal di kos/ kontrakan
jumlah kasus HIV terbanyak dengan keterbatasan pengawasan
terjadi pada usia produktif yaitu dari orangtua.
usia 25-49 tahun (InfoDATIN, Kasus depresi di Indonesia
2016). menduduki peringkat keempat di
Menurut Tiniap (2012) usia dunia, dengan perkiraan sebanyak
produktif umumnya memiliki 50% terjadi pada rentang usia 20-
kebiasaan kesehatan yang lebih 50 tahun dengan usia awitan rata-
baik namun pada penelitian ini rata 40 tahun (Chatwin, Stapleton,
menunjukkan bahwa usia Porter, Devine & Sheldon, 2016;
produktif (25-49 tahun) Setiawan, Sadeli & Sapiie, 2013).
Rentang usia depresi tersebut, dengan jumlah 3.713 dan 1.911
berpengaruh pada kasus depresi pada AIDS sedangkan perempuan
pada seseorang dimana dapat sebanyak 2.195 mengalami HIV
disebabkan karena adanya dan 973 orang mengalami AIDS.
perbedaan hormonal dan Distribusi kasus HIV yang
perbedaan stressor psikososial terjadi pada laki-laki menurut
(Yaunin, Afriant & Hidayat, Tiniap (2012) disebabkan oleh
2014). Pengaruh psikososial pada karena laki-laki lebih bebas dan
penelitian ini sangat berpengaruh lebih permisif (bersifat terbuka)
pada ODHA dimana ketika termasuk dalam seks (budaya
terinfeksi HIV sebagian besar patriarki) walaupun secara biologis
ODHA menunjukkan perubahan perempuan lebih rentan untuk
karakter psikososial seperti stres, tertular secara seksual seperti hasil
tidak membuka status HIV pada wawancara pada perawat di CST
orang lain, mengalami tekanan didapatkan bahwa ODHA yang
emosional dan dihadapkan dengan terdiagnosa HIV dan penularan
stigma atau cap buruk dari HIV dikarenakan melakukan seks
masyarakat terhadap dirinya. anal dan onani bersama.
Kasus depresi pada ODHA
Karakteristik jenis kelamin menunjukkan bahwa berdasarkan
responden jenis kelamin perempuan lebih
Berdasarkan hasil penelitian tinggi terkena depresi
didapatkan bahwa laki-laki dibandingkan dengan laki-laki
memiliki jumlah terbanyak dimana yaitu sekitar 20% depresi terjadi
terdapat 20 orang (91%), data pada wanita dan 12% pada pria
tersebut sesuai dengan Pusat Data (Abdullah & Shukla, 2014; Keliat,
dan Informasi Kementrian Wiyono & Susanti, 2011).
Kesehatan RI (InfoDATIN) tahun Depresi terjadi pada
2016, dimana distribusi kasus perempuan disebabkan karena
berdasarkan jenis kelamin, laki- perempuan mempunyai sikap
laki lebih banyak mengalami HIV emosionalitas, sensivitas,

8
kehangatan, sikap hati-hati dan responden (55%) seperti dalam
konformitas yang lebih tinggi hasil penelitian yang dilakukan
daripada laki-laki yang lebih oleh Tiniap tahun 2012 yang
memiliki stabilitas emosi, menunjukkan bahwa pendidikan
dominasi dan impulsivitas SMP/ SMA beresiko 0,97 kali
(Yaunin, Afriant & Hidayat, lebih besar dibandingkan
2014). pendidikan SD atau tidak sekolah
Depresi yang dialami pada yang terinfeksi HIV. Banyaknya
responden dalam penelitian ini kejadian HIV-AIDS pada
juga disebabkan karena adanya pendidikan SMA dalam penelitian
kecemasan pada perjalanan ini dipengaruhi oleh proses
penyakit HIV dan efek samping bimbingan belajar yang diberikan
pengobatan ARV serta kebanyakan oleh responden kurang tepat
responden yang memiliki perilaku terhadap perkembangan
beresiko dimana melakukan seks kognitifnya sehingga tingkat
dengan sesama jenis pengetahuan dan informasi yang
(homoseksual) namun jika didapat mengenai HIV-AIDS
dikaitkan dengan depresi yang kurang.
dialami oleh ODHA dalam Kasus depresi pada penelitian
penelitian ini lebih didominasi oleh ini menunjukkan bahwa
laki-laki dikarenakan jumlah pendidikan SMA lebih banyak
populasi penelitian terbanyak pada mengalami depresi dibandingkan
jenis kelamin laki-laki. pendidikan SD, SMP dan
perguruan tinggi, hal ini
Karakteristik pendidikan disebabkan oleh kecenderungan
responden dalam pergaulan yang bebas saat
Berdasarkan hasil penelitian menjalani masa SMA hingga saat
didapatkan bahwa pendidikan ini, seperti halnya yang dialami
terbanyak pada ODHA yaitu responden yang memiliki
jenjang SMA sebanyak 12 orang pendidikan SD dan SMP
namun depresi yang terjadi pada adanya gejolak seksual yang tinggi
pendidikan tinggi lebih dikaitkan dan jika tidak dimbangi dengan
dengan masalah perkuliahan dan keimanan dan pengetahuan yang
pekerjaan yang sedang dijalani cukup akan berpotensi untuk
namun hal ini bertolakbelakang melakukan seks bebas, melakukan
pada penelitian Kurniasari (2014) seks tanpa kondom dan
yang menjelaskan bahwa tingkat menggunakan narkoba suntik
pendidikan rendah lebih banyak secara bergantian.
dari pada pendidikan menengah Pekerjaan beresiko yang
dan pendidikan tinggi. berkaitan dengan penularan HIV
pada penelitian ini juga lebih
Karakteristik banyak yang bekerja di cafe,
pekerjaan responden bekerja di salon, dan tenaga kerja
Berdasarkan hasil penelitian yang bekerja di luar negeri
didapatkan bahwa sebanyak 18 kemudian kembali lagi ke
orang (82%) memiliki pekerjaan Indonesia serta memiliki pasangan
wiraswasta. Pekerjaan merupakan yang bekerja sebagai anak buah
suatu kegiatan yang dilakukan oleh kapal dan sopir jarak jauh. Kasus
suatu individu untuk memenuhi depresi yang terjadi pada ODHA
kebutuhan sehari-hari, namun jika dikaitkan dengan pekerjaan
seseorang yang bekerja tidak disebabkan oleh karena tuntutan
menutup kemungkinan memiliki untuk mampu memenuhi
sikap dan perilaku yang beresiko kebutuhan keluarga dan memenuhi
seperti penelitian yang dilakukan kesejahteraan masa depan anak-
oleh Damalita (2014) yang anak, selain itu disebabkan oleh
menunjukkan bahwa seseorang penurunan fisik dan kesehatan
yang memiliki pekerjaan atau (Abdullah & Shukla, 2014).
memiliki penghasilan sendiri dan Depresi pada ODHA dalam
belum menikah terdapat penelitian ini juga mengalami hal
kecenderungan untuk melakukan yang sama dimana mereka
perilaku beresiko oleh karena khawatir untuk dapat memenuhi
kebutuhan hidupnya dan beberapa HIV di lingkungan kerja akibat
responden juga memiliki masalah stigma yang masih tinggi di
kesulitan didalam pekerjaannya lingkungan kerjanya.
karena ODHA menutupi status

menandakan bahwa ODHA


Karakteristik jumlah CD4 memiliki gejala yang parah dari
responden AIDS, meningkatkan masalah
Berdasarkan hasil penelitian kanker, kelainan paru dan sistem
didapatkan bahwa jumlah CD4 saraf pusat dan apabila jumlah
terbanyak pada ODHA yang CD4 pada nilai < 50 sel/ mm3
memiliki jumlah responden > 200 menandakan telah terjadinya
3
sel/ mm yaitu sebanyak 17 orang peningkatan probabilitas infeksi
(77%). Pemeriksaan jumlah CD4 oportunistik dan mortalitas
3
pada nilai < 200 sel/ mm (Reuwpassa, 2012).
Depresi pada ODHA salah dapat menyebabkan perubahan
satunya dapat disebabkan oleh mood (Widayati dan Murtaqib,
karena terjadinya penurunan CD4, 2016).
dimana sel imun menjadi menurun
sehingga menyebabkan semakin Karakteristik Skor Depresi
memburuknya infeksi HIV, seperti Sebelum dan Sesudah Terapi
yang dikemukakan oleh Widayati SEFT Responden
dan Murtaqib (2016) yaitu depresi Berdasarkan hasil penelitian
dan stres dapat terjadi dari menunjukkan skor depresi
implikasi klinis dalam perjalanan terbanyak sebelum terapi pada
penyakit. responden adalah 14-19 (depresi
Kejadian depresi pada ODHA ringan) yaitu sebanyak 12 orang
juga mungkin disebabkan oleh (54%) sedangkan setelah terapi
penyakitnya sendiri akibat adanya SEFT menjadi skor 0-13 (depresi
perubahan neurokognitif maupun minimal).
efek dari pengobatan HIV yang
Perbedaan perubahan rentang skor dengan skor 0 dan post test 3
pada responden dari hasil analisa dengan skor 0.
data pada setiap tes terdapat 2 Keberhasilan dalam
responden yang mengalami melakukan SEFT biasanya
kenaikan skor direntang skor 0-13 dipengaruhi oleh praktisi/ terapis
menjadi 14-19 yaitu pada yang menerapkan SEFT secara
responden 23-Ma yang tepat dan dapat mengenali
mengalami kenaikan skor pada beberapa aspek atau masalah yang
pre test skornya 10 namun saat dikeluhkan pasien walaupun
dilakukan post test 1 mengalami SEFT tidak dapat mengatasi
kenaikan skor menjadi 14 bertolak semua masalah sekaligus dalam
belakang dengan responden 31- satu sesi terapi tetapi SEFT dapat
IAS yang mengalami kenaikan mengatasi masalah yang
skor yaitu pada pre test skornya mendasari keluhan pasien karena
17 dan saat dilakukan post test 1 itu praktisi/ terapis perlu
mengalami kenaikan skor menjadi menganalisa hal mendasar yang
18 adapun berdasarkan analisa menjadi penyebab permasalahan
data juga yang tidak mengalami yang dialami pasien (Zainuddin,
perubahan rentang skor depresi 2011).
yaitu pada responden 18-TSP dan Penanganan spiritual pada
24-NA dimana skor post test 2 suatu individu jika dilakukan
dengan skor 1 dan post test 3 seiring berjalannya waktu akan
dengan skor 1 sedangkan pada memperbaiki multidimensi
responden 29-Y tidak mengalami dinamis dari sejumlah aspek
perubahan rentang skor yaitu post negatif seperti trauma pada
test 2 dengan skor 4 dan post ODHA (Kremer, H& Iroson, G
test 2014). Spiritualitas juga
3 dengan skor 4 dan pada membantu klien dalam
responden 39-B juga tidak menemukan kedamaian dalam diri
mengalami perubahan rentang mereka dan kematian.
skor dimana pada post test 2
Individu yang mengalami dikarenakan ketika dilakukan uji
penyakit terminal sering statistik paired t-
mendapati diri mereka dalam test menunjukkan nilai p < 0.05.
meninjau kembali kehidupan yang Terapi SEFT bermanfaat untuk
telah dijalani (Potter & Perry, membantu seseorang menjadi
2010). lebih rileks dan dapat menghadapi
Adanya unsur spiritual dalam situasi atau keadaan yang berat
terapi SEFT diharapkan mampu didalam kehidupannya, oleh
menjadi kunci keberhasilan dalam karena adanya aliran sistem energi
memberikan dukungan spiritual positif dan bentuk afirmasi yang
pada ODHA dan dapat memahami positif inilah yang membuat terapi
dimensi spiritual yang dialami SEFT dapat efektif (Rofacky &
ODHA. Aini, 2016). Sifat relaksasi pada
SEFT juga dapat mengurangi
1.2. Analisa Bivariat ketegangan dan kecemasan
Uji Pengaruh Terapi SEFT dimana sistem saraf parasimpatis
terhadap Perubahan Skor lebih dominan bekerja dari pada
Depresi sistem saraf simpatis kemudian
Analisa bivariat pada pada fase tune-in dalam SEFT
penelitian ini menggunakan uji juga mendukung proses relaksasi
paired t-test terhadap 22 dimana pada fase tersebut
responden, dimana dilakukan dilakukan dengan mengucapkan
pengukuran terhadap skor depresi doa, kepasrahan dan keikhlasan
dan didapatkan hasil bahwa nilai kepada Tuhan Yang Maha Esa
p serta bentuk kalimat afirmasi yang
= 0,000 sehingga dapat terus diucapkan beberapa kali
disimpulkan bahwa terdapat sehingga mampu meningkatkan
pengaruh terapi SEFT terhadap rasa percaya diri (Anwar &
perubahan skor depresi pada Niagara, 2011).
ODHA di Rumah Sakit Jiwa
Sungai Bangkong, hal ini
Tubuh manusia memiliki sistem menggabungkan unsur psikologi
energi dan setiap sel maupun dan spiritual serta terapi SEFT
organ dalam tubuhnya juga juga dapat membebaskan
memiliki energi elektrik. Energi gangguan sistem energi
elekttrik ini mengalir dalam (Zainuddin, 2011; Vangsapalo,
sistem saraf (Zainuddin, 2011). 2010). Penatalaksanaan SEFT
Sistem energi jika terganggu juga dilakukan dengan suatu
maka menyebabkan gangguan sugesti pikiran dan perkataan
emosi (alam perasaan). Salah satu pada hal-hal positif atau dikenal
contoh dari gangguan emosi ialah dengan bentuk afirmasi dan unsur
depresi (Prabowo, 2014). spiritual (Zainuddin, 2011;
Depresi pada penelitian ini Iskandar, 2010). Adanya sugesti
terbanyak pada skor 14-19 atau bentuk afirmasi pada terapi
(depresi ringan), dimana depresi SEFT dapat menstimulasi sistem
merupakan gangguan psikologis Hipotalamus, Pineal, Adrenal
yang ditandai dengan rasa sedih, (HPA) dimana hipotalamus
perubahan proses berpikir dan menghambat kerja kelenjar pituari
komunikasi sosial serta rasa tidak sehingga produksi adrenalin, non-
nyaman (Prabowo, 2014). adrenalin, kortisol menurun dan
Diagnosis episode depresi ringan terjadilah relaksasi (Mardjan,
dapat ditegakkan apabila terdapat 2016).
setidaknya 2 dari 3 gejala utama Berdasarkan pemaparan
(Katona, Cooper & Robertson, diatas, dapat disimpulkan bahwa
2008). terapi SEFT pada penelitian ini
Gangguan emosi terjadi dapat berpengaruh terhadap
karena terganggunya sistem depresi pada ODHA karena terapi
energi didalam tubuh dan SEFT dapat membuat ODHA
gangguan emosi tersebut dapat menjadi lebih rileks, nyaman,
diatasi, salah satunya dengan tenang dan menjadi termotivasi
terapi SEFT yang dalam menjalani
kehidupan sehari-hari serta ketika 14-19) yang berjumlah 12 orang
dilakukan pengukuran kembali (54%).
skor depresi pada ODHA terjadi 3. Skor depresi responden setelah
perubahan yang signifikan pada diberikan 3x terapi menjadi depresi
skor depresi, dimana sebelum minimal (skor 0-13) sebanyak 20
dilakukan terapi SEFT skor depresi orang (91%).
14-19 dan setelah dilakukan terapi 4. Terdapat pengaruh terapi SEFT
SEFT maka skor berubah menjadi terhadap perubahan skor depresi
0-13. pada pasien orang dengan ODHA.

Kesimpulan Saran
Berdasarkan hasil penelitian yang 1. Bagi ODHA
telah dilakukan maka dapat ODHA dapat melakukan terapi
disimpulkan sebagai berikut : SEFT secara mandiri di rumah
1. Karakteristik responden atau saat waktu luang dan sebagai
berdasarkan usia paling banyak salah satu terapi alternatif dalam
adalah berusia 25-49 tahun yaitu menurunkan masalah depresi.
14 orang (64%), jenis kelamin 2. Bagi Perawat di Ruang CST
paling banyak berjenis kelamin Sungai Bangkong
laki-laki yaitu 20 orang (91%), Diharapkan bagi perawat agar
pendidikan terbanyak adalah SMA mendapatkan pelatihan terapi
yaitu 12 orang (55%), pekerjaan SEFT sebagai terapi komplementer
terbanyak wiraswasta yaitu 18 dalam menjalankan praktik
orang (82%), jumlah CD4 keperawatan sehingga dapat
terbanyak adalah responden meningkatkan pelayanan
dengan jumlah CD4 > 200 sel/ kesehatan.
3
mm yaitu 17 orang (77%). 3. Bagi Peneliti Selanjutnya
2. Skor depresi responden sebelum Sebagai data dasar dan
diberikan terapi SEFT terbanyak pembanding untuk penelitian
mengalami depresi ringan (skor selanjutnya dalam melaksanakan
penelitian dan diharapkan bagi peneliti selanjutnya dapat
melakukan tindak lanjut dalam
menimbulkan depresi atau
observasi pada mekanisme koping
gangguan psikologis pada ODHA.
serta faktor-faktor lain yang

DAFTAR PUSTAKA
Abdullah, S. & Shukla, A. (2014). Relation Between Emotional
Depression, anxiety and stress Dysregulation and Anxiety and
among people living with Depressive Symptoms, Pain-
HIV/AIDs. Indian Journal of Related Anxiety and HIV-
Health and Wellbeing, Vol.5, p. Symptom Distress Among Adults
437-442.Diakses pada Jumat, 24 with HIV-AIDS. J Psychopathol
Februari 2017 Pukul 21.47 wib. Behav Assess, Vol. 35, p. 197-204.
Anwar, Z. & Niagara, S. T. (2011). Diakses pada Jumat, 24 Februari
Model Terapi SEFT (Spritual 2017 Pukul 21.54 wib.
Emotional Freedom Technique) Chatwin, H., Stapleton, P., Porter, B.,
untuk Mengatasi Gangguan Fobia Devine, S. & Sheldon, T. (2016).
Spesifik. Malang : Universitas The Effective of Cognitive
Muhammadiyah. Naskah Publikasi. Behaviour Therapy and Emotional
Diakses pada Jumat, 23 September Freedom Technique in Reducing
2016 Pukul 10.21 wib. and Anxiety Among Adults : A
Arriza, B. K., Dewi, E. K & Kaloeti, D. Pilot Study. Integrity Medicine,
V. (2011). Memahami Vol. 15, p. 27-34.
Rekonstruksi Kebahagiaan pada Darmalita, A. F. (2014). Analisa
Orang dengan HIV/AIDS (ODHA). Karakteristik dan Faktor-faktor
Jurnal Rekonstruksi Undip, Vol. yang mempengaruhi Stigma
10, p. 153-161. Diakses pada Rabu, Pengidap HIV (ODHA) di Kota
05 Oktober 2016 Pukul 05.03 wib. Yohyakarta. Naskah Publikasi.
Brandt, C. P., Gonzalez, A., Grover, K. Yogyakarta : STIK ‘ Aisyiyah
W. & Zvonlensky, M. J (2013). The
Digiulio, M. Jackson, D., & Keogh, J. Naskah Publikasi. Yogyakarta :
(2014). Medical-Surgical Nursing Universitas Muhamadiyah.
Second Edition. McGraw-Hill Lombardi, D., Mizuno, L. T. &
Education : United State. Thornberry, A. (2010). The Use of
Hinkle, J. L. & Cheever, K. H. (2014). the Zung Self-Rating Depression
Brunner & Suddarth's Textbook of Scale to Assist in the Case
Medical-Surgical Nursing 13 th Management of Patients Living
Edition Volume 2. China : Wolters With HIV/ AIDS. Care
Kluwer Health. Management Journals, Vol. 11, p.
InfoDATIn, P. D. (2016). Situasi 210-218.
Penyakit HIV AIDS di Indonesia. Mardjan. (2016). EFT (Emotional
Jakarta Selatan : Kementerian Freedom Techniques) untuk
Kesehatan RI. diakses pada Selasa, Mengatasi Kecemasan Ibu Hamil.
7 Februari 2017 Pukul 18.12 wib. (Abrori, Penyunt.) : PT. Mujahid,
Iskandar, E. (2010). The Miracle of Bandung Indonesia.
Touch. Bandung : Qanita. Potter & Perry. (2010). Buku Ajar
Katiandagho, D. (2015). Epidemiologi Fundamental Keperawatan :
HIV-AIDS. Bogor : In Media. Konsep, Proses dan Praktik Edisi 7.
Katona, C., Crooper, C & Roberson, Jakarta : EGC
M. (2008). At a Glance Psikiatri Prabowo, E. (2014). Konsep &
Edisi ke empat. Jakarta : Erlangga. Aplikasi Asuhan Keperawatan
Keliat, B. A., Wiyono, A. P. & Susanti, Jiwa. Yogyakarta : Nuha Medika
H. (2011). Manajemen Kasus Putra, A. A. (2015). Pengaruh Terapi
Gangguan Jiwa SMHN Spritual Emotional Freedom
(Intermedite Course). Jakarta : Technique (SEFT) terhadap
EGC. Penurunan Tingkat Depresi pada
Kurniasari, N. D. (2014). Faktor-faktor Pasien Hemodialisa di Rumah Sakit
yang Berhubungan dengan Depresi Umum Daerah Ungaran. Artikel
pada Lansia di Dusun Ilmiah. Ungaran : Sekolah Tinggi
Kamimanjung Ambarketawang Ilmu Kesehatan Ngudi Waluyo
Gamping Sleman Yogyakarta. Ungaran.
Rofacky, H. F. & Aini, F. (2016). Tiniap, A. (2012). Hubungan antara
Pengaruh Terapi Spiritual Usia Pertama Kali berhubungan
Emotional Freedom Technique Seks dengan Resiko Terinfeksi HIV
(SEFT) terhadap Tekanan Darah pada Klien Klinik VCT RSUD
Penderita Hipertensi. Jurnal Kabupaten Manokwari Provinsi
Keperawatan Soedirman (The Papua Barat. . Tesis. Depok :
Soedirman Journal of Nursing), Universitas Indonesia.
Vol. 10, p. 41-52. Vangsapalo, D. (2010). Emotional
Reuwpassa, J. O. (2012). Faktor-faktor Freedom Technique (EFT) Terapi
yang berhubungan dengan Keadaan Modern yang Mengubah Hidup.
Status Gizi Pasien HIV/AIDS Tangerang : Quantum Success.
Berdasarkan Indeks Massa Tubuh Wahyu, S., Taufik & AsmidirIlyas.
di Rumah Sakit Umum Pusat (2012). Konsep Diri dan Masalah
Nasional Cipto Mangunkusumo. yang dialami Orang Terinfeksi
Skripsi. Depok : Universitas HIV/AIDS. Jurnal Ilmiah
Indonesia. Konseling, Vol. 1, p. 1-12.
Safitri, R. P. & Sadif, R. S. (2013). Widayati, N & Murtaqib. (2016).
Spiritual Emotional Freedom Indentifikasi Status Psikologi
Technique (SEFT) to Reduce sebagai Upaya Pengembangan
Depression for Chronic Renal Model Rehabilitasi Kline
Failure Patients are in Cilacap HIV/AIDS Berbasis Komunitas.
Hospital to Undergo Hemodialysis. NurseLine Journal. Vol. 1. No. 1. p.
International Journal of Social 90-99.
Science and Humanity, Vol. 3, p. Yaunin, Y., Afriant, R. & Hidayat, N.
300-303. M. (2014). Kejadian Gangguan
Setiawan, C. J., Sadeli, H. A. & Sapiie, Depresi pada Penderita HIV/AIDS
T. W. (2013). Hubungan antara yang Mengunjungi Poli VCT RSUP
Gejala Gangguan Depresi dan Dr. M. Djamil Padang Periode
Tension-Type Headache (TTH) : Januari - September 2013. Artikel
Studi Eksploratif. MKB, Vol. 45, p. Ilmiah. Jurnal Kesehatan Andalas,
28-34. Vol. 3, p. 244-247.
Zainuddin, A. F. (2011). Spiritual Zakiyyah, M. (2013). Pengaruh
Emotional Freedom Technique Terapi Spiritual Emosional
(SEFT) Cara Tercepat dan Freedom Technique (SEFT)
Termudah Mengatasi Masalah terhadap Penanganan Nyeri
Fisik dan Emosi. Jakarta : PT. Dismenorea. Jurnal Sain Med,
Arga Publishing Vol. 5, p. 66-71.