Anda di halaman 1dari 20

MAKALAH

GAYA HIDUP DAN BUDAYA KONSUMEN

Disusun Guna Memenuhi Tugas


Mata kuliah : Kajian Budaya dan Media
Dosen Pengampu : Mansur Hidayat, M.A.

Disusun Oleh :
Kelompok 9
1. Laili Nur Khasanah (1740210115)
2. Mila Sa’ada (1740210120)
3. Najichatun Nur Zana (1740210128)

INSTITUT AGAMA ISLAM NEGERI KUDUS

FAKULTAS DAKWAH DAN KOMUNIKASI

PROGRAM STUDI KOMUNIKASI PENYIARAN ISLAM

TAHUN AKADEMIK 2019


BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Di tengah perkembangan masyarakat modern menuju post-modern,
selain ditandai dengan munculnya masyarakat informasi dan masyarakat
konsumsi, juga ditandai dengan perkembangan gaya hidup masyarakat yang
lebih banyak dikendalikan oleh banyaknya industri budaya yang muncul akhir-
akhir ini. Gaya hidup bisa diekspresikan melalui apa yang dikenakan
seseorang, apa yang dikonsumsi, dan bagaimana bersikap atau berperilaku
ketika berada dihadapan orang lain.
Budaya adalah seluruh hasil cipta, rasa, karsa manusia, dan budaya
terlihat pada hasil cipta manusia dalam bentuk benda. Wujud dari kebudayaan
adalah ide, benda, dan tindakan. Kebudayaan tidak bersifat statis tetapi
dinamis, masyarakat sebagai pencipta dan pendukung kebudayaan sangat
bertanggungjawab akan perubahan yang terjadi. Perubahan bisa saja membawa
dampak kebaikan dan juga dampak keburukan. Di era globalisasi ini membuat
lintas ruang dan waktu tidak terbatas. Sehingga masyarakat harus bisa
menyaring, memilah dan memanfaatan semua yang ada dalam kebudayaan
sesuai dengan kepribadian masyarakat.
Keberadaan perkembangan tekhnologi tidak mempertajam pengetahuan
yang dimiliki. Sebagaimana gadget yang tersambung dengan jaringan internet
dapat dimanfaatkan sebagai peluang ekonomi yang hasilnya dapat
meningkatkan perekonomian. Sehingga konsumen dapat mengakses segala
kebutuhan melalui gadget yang dimiliki. Seperti gadget yang merupakan salah
satu alat untuk mempengaruhi kebudayaan konsumen.

B. Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang di atas, dapat diambil rumusan masalah
sebagai berikut:
1. Apa pengertian dari gaya hidup konsumen?
2. Bagaimana pengukuran gaya hidup?

1
3. Apa pengertian dari budaya?
4. Apa saja unsur-unsur kebudayaan?
5. Bagaimana perilaku konsumen?
6. Bagaimana keputusan pembelian konsumen?

C. Tujuan Masalah
Berdasarkan rumusan masalah di atas, dapat diambil tujuan masalah
sebagai berikut:
1. Untuk mengetahui pengertian dari gaya hidup konsumen.
2. Untuk mengetahui bagaimana pengukuran gaya hidup.
3. Untuk mengetahui pengertian dari budaya.
4. Untuk mengetahui unsur-unsur kebudayaan.
5. Untuk mengetahui bagaimana perilaku konsumen.
6. Untuk mengetahui bagaimana keputusan pembelian konsumen.

2
BAB II
PEMBAHASAN

A. Pengertian Gaya Hidup Konsumen


Gaya hidup sangat berkaitan dengan perkembangan zaman dan teknologi.
Semakin canggih dan majunya teknologi, sering berdampak dengan gaya hidup
yang dijalani. Dalam arti lain, gaya hidup dapat memberikan pengaruh positif
atau negative bagi yang menjalaninya.
Konsep gaya hidup dan kepribadian seringkali disamakan, padahal
sebenarnya keduanya berbeda. Gaya hidup lebih menunjukkan bagaimana
individu menjalankan kehidupan, bagaimana membelanjakan uang dan
bagaimana memanfaatkan waktunya. Sedangkan kepribadian lebih merujuk
pada karekteristik
internal1.
Secara umum dapat diartikan sebagai suatu gaya hidup yang dikenali
dengan bagaimana orang menghabiskan waktunya (aktivitas), apa yang penting
orang pertimbangkan pada lingkungan (minat), dan apa yang orang pikirkan
tentang diri sendiri dan dunia di sekitar (opini).
Dari perspektif ekonomi, gaya hidup menunjukkan pada bagaimana
seseorang mengalokasikan pendapatannya, dan memilih produk atau jasa dan
berbagai pilihan lainnya ketika memilih alternatif dalam satu kategori jenis
produk yang ada. Dalam perspektif pemasaran, tampak jelas bahwa konsumen
yang meniliki gaya hidup yang sama akan mengelompok dengan sendirinya ke
dalam satu kelompok berdasarkan apa yang mereka minati untuk
menghabiskan waktu senggang, dan bagaimana mereka membelanjakan
uangnya, munculnya cafe-cafe di kota-kota besar di Indonesia, seperti
Hardrock, Sturbuks, Exleso dan cafe-cafe lain-lain yang semakin meluas tidak
terlepas dari munculnya gaya hidup yang berbeda dari generasi sebelumnya2.

1
Tatik Suryani, Prilaku Konsumen Implikasi pada Strategi Pemasaran, (Yogyakarta: Graha
Ilmu, 2008), 73.
2
Tatik Suryani, Prilaku Konsumen Implikasi pada Strategi Pemasaran, 74.

3
Gaya hidup lebih menggambarkan perilaku seseorang, yaitu bagaimana
dia hidup, menggunakan uangnya dan memanfaatkan waktu yang dimilikinya.
Gaya hidup berbeda dengan kepribadian. Kepribadian lebih menggambarkan
karakteristik terdalam yang ada pada diri manusia. Sering juga disebut sebagi
cara seseorang berpikir, merasa dan berpersepsi. Walaupun kedua konsep itu
berbeda, namun gaya hidup dan kepribadian saling berhubungan. Kepribadian
merefleksikan karakteristik internal dari konsumen, gaya hidup
menggambarkan manifestasi eksternal dari karakteristik tersebut, yaitu perilaku
seseorang.
Adanya perubahan gaya hidup dari generasi ke generasi karena adanya
perubahaan sosial di masyarakat dan lingkungan ekonomi yang berubah,
merupakan peluang bagi pemasar untuk menciptakan produk-produk dan
menyesuaikan produknya sesuai dengan gaya hidup yang dituju3.
Gaya hidup mencerminkan keseluruhan pribadi yang berinteraksi
dengan lingkungan. Maka dari itu dapat disimpulkan bahwa gaya hidup adalah
pola hidup seseorang yang dinyatakan dalam kegiatan, minat dan pendapatnya
dalam membelanjakan uangnya dan bagaimana mengalokasikan waktu.
Bedasarkan uraian di atas, penulis mengangkat tema gaya hidup dan budaya
masyarakat.

B. Pengukuran Gaya Hidup


Dalam pengukuran gaya hidup, teknik yang sering digunakan biasanya
adalah teknik AIO, yaitu : activities, Interest, dan Opinion, atau juga bisa
digunakan teknik VALS, value and lifestyle4.
Yang pertama, untuk mengetahui gaya hidup konsumen dapat
dipergunakan pengukuran psikografis yang berisi pernyataan-pernyataan yang
dirancang untuk menilai gaya hidup sasaran, karekteristik kepribadian dan
karekteristik demografi.

3
Ujang Sumarwan, Perilaku Konsumen (Teori dan Penerapannya dalam Pemasaran),
(Bogor: Ghalia Indonesia, 2004), 56- 73.
4
Ujang Sumarwan, Perilaku Konsumen (Teori dan Penerapannya dalam Pemasaran), 74.

4
Gaya hidup merupakan salah satu cara mengelompokkan konsumen
secara psikografis, pernyataan-pernyataan yang umumnya dipakai
mengungkapkan aktivitas (A=activities), minat (I=Interest) dan opini
(O=opinion) konsumen. Sehingga sering diistilahkan sebagai AIO statement.
Pernyataan aktivitas, menanyakan apa yang dilakukan konsumen, apa yang
dibeli konsumen, dan bagaimana konsumen menghabiskan waktunya.
Sedangkan pertanyaan minat menanyakan preferensi dan prioritas konsumen.
Adapun pertanyaan opini menanyakan pandangan dan perasaan konsumen
mengenai berbagai topik kejadian-kejadian yang berlangsung di lingkungan
sekitar, baik yang local maupun internasional, masalah-masalah ekonomi,
sosial dan moral5.
Josep Plumer menyatakan bahwa segmentasi gaya hidup mengukur
aktivitas-aktivitas manusia dalam:
1. Bagaimana mereka menghabiskan waktunya.
2. Minat mereka, apa yang dianggap penting di sekitarnya.
3. Pandangannya terhadap diri sendiri maupun terhadap orang lain.
4. Karakter-karakter dasar seperti daur kehidupan, penghasilan, pendidikan
dan tempat tinggal.
Nilai-nilai individu, gaya hidup, dan psikografis dalam ilmu-ilmu sosial
dianggap sebagai the softer side of science. Dalam meramal perilaku
konsumen, para ahli berpendapat bahwa nilai-nilai individu akan menentukan
gaya hidup seseorang, dan gaya hidup seseorang akan menentukan konsumsi
atau perilaku seseorang. Sebagian ahli memiliki pendapat yang sedikit berbeda.
Mereka berpendapat bahwa nilai-nilai individu mempunyai hubungan langsung
terhadap perilaku konsumen6. Mengartikan nilai individu sebagai sesuatu yang
dipercaya seseorang yang dalam beberapa hal lebih disukai dari hal-hal yang
berlawanan (preferable to its opposite).
Berbagai studi menemukan bahwa nilai-nilai yang dianut seseorang
menentukan pola konsumsinya. Kahle dalam studinya menemukan bahwa
5
Ujang Sumarwan, Perilaku Konsumen (Teori dan Penerapannya dalam Pemasaran), 74.
6
Rhenald Kasali, “Membidik Pasar Indonesia” Segmenting, Targeting dan Positioning,
(Jakarta: Gramedia, 2000), 260.

5
orang-orang yang menganut nilai kesenangan dan kenikmatan hidup banyak
mengkonsumsi alkohol, dan mereka yang menganut nilai pentingnya
berprestasi memiliki penghasilan yang tinggi.
Dalam beberapa studi-studi yang lain juga memberi hasil yang cenderung
konsisten. Dalam studinya para ahli menemukan bahwa human values dan
values systems menentukan perilaku-perilaku dalam kehidupan seperti
kontribusi-kontribusi karikatif/zakat, konsumsi media massa (konsumsi rokok,
dan kecanduan obat bius) 7.
Gaya hidup seseorang menunjukkan pola hidup seseorang yang
diperlihatkan dalam kegiatan. Gaya hidup seseorang mencerminkan
keseluruhan pribadi orang tersebut dalam pergaulan dengan lingkungannya.
Gaya hiduplah yang menggambarkan keseluruhan pola bertindak dalam pola
interaksi seseorang yang mempunyai ciri psikologis.
Dan dikuatkan lagi oleh kotler pengertian gaya hidup adalah pola hidup
seseorang di dunia yang diekspresikan dalam aktifitas, minat, dan opininya.
Gaya hidup menggambarkan “keseluruhan diri seseorang” yang berinteraksi
dengan lingkungannya8.
Ciri paling mencolok yang semakin banyak digunakan oleh
perusahaan/produsen dalam memproduksi adalah produsen selalu mengkaitkan
gaya hidup konsumen yang mengindikasikan bagaimana konsumen hidup,
berpikir, berperilaku, dan bertindak. Sisi psikografis (Gaya hidup) sebagai cara
untuk melakukan segmentasi pasar menunjukkan bahwa segmentasi
psikografis (gaya hidup) menjadi semakin populer sebagai alat dalam
pembuatan keputusan manajemen pemasaran. Penggunaan psikografis (gaya
hidup) sebagai kriteria segmentasi pasar terus menerus mengalami peningkatan
dengan harapan melalui segmentasi psikografis (gaya hidup) dapat
menjelaskan lebih banyak variasi perilaku/tindakan.
Semakin banyaknya penggunaan sisi psikografis (gaya hidup) untuk
melakukan segmentasi pasar karena nilai konsumen dan karakteristik gaya
7
Rhenald Kasali, “Membidik Pasar Indonesia” Segmenting, Targeting dan Positioning, 259.
8
Philip Kotler, Manajemen Pemasaran : Analisis, Perencanaan, Implementasi dan
Pengendalian, (Jakarta: Prentice Hall, 1997), 159.

6
hidup dapat menyediakan lebih banyak lagi pandangan bagi pemasar terhadap
potret kehidupan. Gaya hidup konsumen sebagai sebuah fungsi karakteristik
individual yang melekat pada konsumen dibentuk dan terbentuk melalui
interaksi sosial seperti pergerakan konsumen dan daur hidup keluarga. Gaya
hidup adalah pola-pola tindakan yang membedakan antara satu orang dengan
orang lainnya. Gaya hidup tersebut berkaitan dengan konsep diri dan dapat
merupakan sumber informasi yang kompleks yang berbeda yang dipegang oleh
seseorang tentang dirinya. Tujuan dari segmentasi psikografis (gaya hidup)
adalah mengklasifikasikan konsumen kedalam segmen pasar yang dapat
diidentifikasikan dengan pola gaya hidup yang spesifik9.
Yang kedua, VALS yang merupakan akronim dari “values and lifestyle”.
Sistem VALS ini adalah pendekatan yang umum digunakan untuk penelitian
tentang gaya hidup dalam menentukan segmentasi pasar. VALS dikembangkan
oleh Arnold Mitchell dari SRI (Stanford Research Institute) Consulting
Business Intelligence (sekarang SBI (Strategic Business Insights)).

C. Pengertian Budaya
Konsumen adalah makhluk sosial, yaitu makhluk yang hidup bersama
dengan orang lain, berinteraksi dengan sesamanya. Orang-orang sekeliling
itulah yang disebut sebagai lingkungan sosial konsumen. Konsumen saling
berinteraksi satu sama lain, saling mempengaruhi dalam bentuk perilaku,
kebiasan, sikap, kepercayaan, dan nilai-nilai yang dianggap penting. Salah satu
unsur lingkungan sosial adalah budaya (culture)10. Berikut disampaikan
beberapa definisi dari budaya.
Menurut Nugroho J Setiadi: Kebudayaan didefinisikan sebagai kompleks
simbol dan barang-barang buatan manusia (artifacts) yang diciptakan oleh
masyarakat tertentu dan diwariskan dari generasi satu ke generasi yang lain
sebagai faktor penentu (determinants) dan pengatur (regulator) perilaku
anggotanya.
9
Philip Kotler, Manajemen Pemasaran : Analisis, Perencanaan, Implementasi dan
Pengendalian,160.
10
Ujang Sumarwan, Perilaku Konsumen (Teori dan Penerapannya dalam Pemasaran), 227.

7
Menurut Wallendorf dan Reilly dalam Mowen dan Minor budaya adalah
seperangkat pola perilaku yang secara sosial dialirkan secara simbolis melalui
bahasa dan cara-cara lain pada anggota dari masyarakat tertentu.

Menurut Geert Hofsstede dalam Mowen dan Minor budaya adalah


kumpulan interaktif dari karakteristik umum yang mempengaruhi respons
kelompok terhadap lingkungannya.11 Menurut Engel, Blackwell dan Miniard
dalam Ujang Sumarwan, culture refers to a set of values, ideas, artifacts, and
other meaningful syimbol that help individuals communicate, interpret, and
evaluate as members of society.12
Menurut Solomon dalam Ujang Sumarwan, culture is the accumulation
of shared meaning, rituals, norms, and traditions among the member of an
organization or society.

Menurut Ujang budaya adalah segala nilai, pemikiran, simbol yang


mempengaruhi perilaku, sikap, kepercayaan, dan kebiasaan seseorang
masyarakat. Budaya bukan hanya bersifat abstrak seperti nilai, pemikiran,
kepercayaan, budaya bisa berbentuk objek material. Rumah, kendaraan,
peralatan elektronik, dan pakaian adalah contoh-contoh produk yang dianggap
sebagai budaya suatu masyarakat. Undang-undang, makanan, minuman, musik,
teknologi dan bahasa adalah beberapa contoh lain dari budaya suatu
masyarakat. Budaya akan memberikan petunjuk kepada seseorang tentang
perilaku yang bisa diterima oleh suatu masyarakat, dan budaya juga
memberikan rasa memiliki identitas bagi seseorang dalam suatu masyarakat.

Suatu nilai-nilai bisa dianggap budaya jika semua orang dalam sebuah
masyarakat memiliki pemahaman yang sama terhadap nilai-nilai tersebut.
Contoh, menghormati orang tua atau orang yang lebih tua usianya merupakan
nilai yang dianggap penting bagi masyarakat Sunda. Semua orang Sunda
memiliki pemahaman yang sama terhadap nilai penghormatan tersebut, maka
menghormati orang tua bisa dianggap memiliki makna budaya. Menurut Peter

11
John C. Mowen dan Michael Minor, Perilaku Konsumen (Jakarta: Erlangga, 2002), 263.
12
Ujang Surmawan, Perilaku Konsumen (Teori dan Penerapannya dalam Pemasaran), 227.

8
dan Olson dalam Ujang Sumarwan suatu arti/ makna adalah budaya jika
sebagian besar dari orang yang berada di dalam sebuah kelompok sosial
memiliki pemahaman mendasar yang sama terhadap makna tersebut.

D. Unsur-unsur Kebudayaan
Kebudayaan memiliki satu set atau perangkat nilai-nilai yang
menunjukan keadaan akhir apa yang harus dicapai manusia. Bila kita
membandingkan dan membedakan kebudayaan, kita akan melihat bagaimana
arti relatif dari berbagai nilai berbeda.
Budaya merupakan karakter yang penting dari suatu sosial yang
membedakannya dari kelompok kultur yang lainnya. Elemen yang perlu
digarisbawahi atas setiap kultur adalah nilai, bahasa, mitos, adat, ritual, dan
hukum yang mempertajam perilaku atas kultur. Kultur adalah suatu yang
diresapi. Apa yang dimakan oleh seseorang, bagaimana mereka berpakaian,
apa yang mereka pikirkan dan rasakan, bahasa apa yang mereka bicarakan
ialah dimensi kultur. Hal tersebut meliputi semua hal yang konsumen lakukan
tanpa sadar memilih karena nilai kultur mereka, adat istiadat, dan ritual mereka
telah menjadi kebiasaan mereka sehari-hari.
Adapun beberapa unsur yang ada dalam budaya yaitu:13
1. Nilai (Value)
Nilai adalah kepercayaan atau segala sesuatu yang dianggap penting
oleh seseorang atau masyarakat. Nilai bisa berarti sebuah kepercayaan
tentang suatu hal, namun nilai bukan hanya kepercayaan. Nilai biasanya
jumlahnya relatif lebih sedikit. Nilai mengarahkan seseorang untuk
berperilaku yang sesuai dengan budayanya. Nilai biasanya berlangsung
lama dan sulit berubah. Nilai tidak terkait dengan suatu objek atau situasi.
Nilai diterima oleh anggota masyarakat.
2. Norma (Norms)
Hampir semua masyarakat memiliki norma. Norma lebih spesifik dari
nilai, norma akan mengarahkan seseorang tentang perilaku yang diterima
dan yang tidak diterima. Norma adalah aturan masyarakat tentang sikap baik
13
Ujang Surmawan, Perilaku Konsumen (Teori dan Penerapannya dalam Pemasaran), 228.

9
dan buruk, tindakan yang boleh dan tidak boleh. Norma terbagi ke dalam
dua macam. Yang pertama adalah norma (enacted norms) yang disepakati
berdasarkan aturan pemerintah dan ketatanegaraan, biasanya berbentuk
peraturan, dan undang-undang. Norma ini harus dipatuhi oleh masyarakat
dan dalam banyak hal, jika norma tersebut dilanggar, akan dikenakan
sangsi, misalnya di dalam islam seorang wanita yang sudah baligh
diwajibkan untuk menutup aurat, maka jika seseorang wanita tidak
mengenakan jilbab akan mendapatkan dosa (ganjaran berupa neraka).
Norma kedua disebut cresive norm, yaitu norma yang ada dalam
budaya dan bisa dipahami dan dihayati jika orang tersebut berinteraksi
dengan orang-oang dari budaya yang sama.
3. Kebiasaan (Customs)
Kebiasaan adalah berbagai bentuk perilaku dan tindakan yang
diterima secara budaya. Kebiasaan tersebut diturunkan dari generasi ke
generasi secara turun temurun. Kebiasaan juga menyangkut berbagai jenis
perayaan yang terus menerus dilakukan secara rutin, seperti upacara
perkawinan, upacara pemakaman, upacara pelantikan pejabat, uapacara
ulang tahun, dan upacara keagamaan.
4. Larangan (Mores)
Larangan adalah berbagai bentuk kebiasaan yang mengandung aspek
moral, biasanya berbentuk tindakan yang tidak boleh dilakukan oleh
seseorang dalam suatu masyarakat. Pelanggaran terhadap larangan tersebut
akan mengakibatkan sanksi sosial.

5. Konvensi (Conventions)
Konvensi menggambarkan norma dalam kehidupan sehari-hari.
Konvensi menggambarkan anjuran atau kebiasaan bagaimana seseorang
harus bertindak sehari-hari dan biasanya berkaitan dengan perilaku
konsumen, yaitu perilaku rutin yang dilakukan oleh konsumen.
6. Mitos

10
Mitos adalah unsur penting budaya lainnya. Mitos menggambarkan
sebuah cerita atau kepercayaan yang mengandung nilai idealisme bagi suatu
masyarakat. Mitos seringkali sulit dibuktikan kebenarannya.

7. Simbol
Simbol adalah segala sesuatu (benda, nama, warna, dan konsep) yang
memiliki arti penting lainnya (makna budaya yang diinginkan). Sebagai
contoh bendera warna kuning yang dipasang di suatu tempat adalah simbol
atau memiliki arti bahwa ada warga yang meninggal di daerah tersebut.

D. Perilaku Konsumen
Semakin majunya perekonomian dan teknologi, berkembang pula strategi
yang harus dijalankan perusahaan, khususnya di bidang pemasaran.
Kesuksesan pemasaran produk sangat tergantung pada SDM yang dimiliki.
Apalagi untuk mencapai hasil yang optimal diperlukan keterlibatan langsung
antara penyedia produk dengan konsumennya14. Untuk itu perusahaan perlu
memahami atau mempelajari perilaku konsumen dalam hubungannya dengan
pembelian yang dilakukan oleh konsumen tersebut. Dalam menentukan jenis
produk atau jasa, konsumen selalu mempertimbangkan tentang produk atau
jasa apa yang dibutuhkan, hal ini dikenal dengan perilaku konsumen.

The American marketing Association mendefinisikan perilaku konsumen


sebagai berikut: Perilaku konsumen merupakan interaksi dinamis antara afeksi
dan kognisi, perilaku, dan lingkungannya dimana manusia melakukan kegiatan
pertukaran dalam hidup mereka…… (Americam Marketing Association).
Dari definisi tersebut terdapat tiga ide penting, yaitu (1) perilaku
konsumen adalah dinamis; (2) hal tersebut melibatkan interaksi antara afeksi
dan kognisi, perilaku dan kejadian di sekitar; serta (3) hal tersebut melibatkan
pertukaran.15
14
Rambat Lupiyoadi dan A. Hamdani, Manajemen Pemasaran Jasa, (Jakarta: Salemba
Empat, 2011), Ed. 2, 136.
15
Nugroho J. Setiadi, Perilaku Konsumen : Konsep dan Implikasi untuk Strategi da
Penelitian Pemasaran, (Bogor : Kencana, 2003), Ed. 1, Cet. 1, 3.

11
Perilaku konsumen (consumen behavior) didefinisikan sebagai studi
tentang unit pembelian (buying units) dan proses pertukaran yang melibatkan
perolehan, konsumsi, dan pembuangan barang, jasa, pengalaman, serta ide-
ide.16 Perilaku konsumen akan menentukan proses pengambilan keputusan
mereka. Proses tersebut merupakan sebuah pendekatan penyelesaian masalah
pada keinginan manusia untuk membeli suatu barang dan jasa untuk memenuhi
kebutuhannya. Proses pengambilan keputusan untuk membeli bagi semua
orang pada dasarnya adalah sama, hanya seluruh proses tidak selalu
dilaksanakan seluruhnya oleh semua konsumen.

F. Keputusan Pembelian Konsumen


Keputusan pembelian merupakan keputusan konsumen untuk membeli
suatu produk setelah sebelumnya memikirkan layak tidaknya membeli produk
itu dengan mempertimbangkan informasi-informasi yang ia ketahui dengan
realitas tentang produk itu setelah ia menyaksikannya.
Jadi dapat disimpulkan, keputusan pembelian adalah keputusan untuk
membeli atau tidak membeli suatu produk, sebelum membeli biasanya
konsumen mempertimbangkan harga, produk, merek, kualitas dan lain-lain.
Semakin majunya perekonomian dan teknologi, berkembang pula strategi
yang harus dijalankan perusahaan, khususnya di bidang pemasaran.
Kesuksesan pemasaran produk sangat tergantung pada SDM yang dimiliki.
Apalagi untuk mencapai hasil yang optimal diperlukan keterlibatan langsung
antara penyedia produk dengan konsumennya17. Untuk itu perusahaan perlu
memahami atau mempelajari perilaku konsumen dalam hubungannya dengan
pembelian yang dilakukan oleh konsumen tersebut. Dalam menentukan jenis
produk atau jasa, konsumen selalu mempertimbangkan tentang produk atau
jasa apa yang dibutuhkan, hal ini dikenal dengan perilaku konsumen.
The American marketing Association mendefinisikan perilaku konsumen
sebagai berikut:

16
John C. Mowen dan Michael Minor, Perilaku Konsumen, 6.
17
Rambat Lupiyoadi dan A. Hamdani, Manajemen Pemasaran Jasa, 136.

12
Perilaku konsumen merupakan interaksi dinamis antara afeksi dan
kognisi, perilaku, dan lingkungannya dimana manusia melakukan kegiatan
pertukaran dalam hidup mereka…… (Americam Marketing Association).
Dari definisi tersebut terdapat tiga ide penting, yaitu (1) perilaku
konsumen adalah dinamis; (2) hal tersebut melibatkan interaksi antara afeksi
dan kognisi, perilaku dan kejadian di sekitar; serta (3) hal tersebut melibatkan
pertukaran.18 Perilaku konsumen (Consumen behavior) didefinisikan sebagai
studi tentang unit pembelian (Buying units) dan proses pertukaran yang
melibatkan perolehan, konsumsi, dan pembuangan barang, jasa, pengalaman,
serta ide-ide.19
Perilaku konsumen akan menentukan proses pengambilan keputusan
mereka. Proses tersebut merupakan sebuah pendekatan penyelesaian masalah
pada keinginan manusia untuk membeli suatu barang dan jasa untuk memenuhi
kebutuhannya. Proses pengambilan keputusan untuk membeli bagi semua
orang pada dasarnya adalah sama, hanya seluruh proses tidak selalu
dilaksanakan seluruhnya oleh semua konsumen.
Keputusan pembelian dari pembeli sangat dipengaruhi oleh faktor factor
kebudayaan, sosial, pribadi, dan psikologi dari pembeli. Sebagian besar adalah
factor-faktor yang tidak dapat dikendalikan oleh pemasar, tetapi harus benar-
benar diperhitungkan.20
Faktor-faktor yang mempengaruhi perilaku konsumen yaitu:
1. Faktor Internal
a. Motif dan motivasi

Motif adalah suatu kebutuhan yang cukup kuat mendesak untuk


mengarahkan seseorang agar dapat mencari pemuasan kebutuhan itu.
Suatu kebutuhan harus diciptakan atau didorong sebelum memenuhi
suatu motif. Sedangkan motivasi adalah keadaan yang digerakkan

18
Nugroho J. Setiadi, Perilaku Konsumen : Konsep dan Implikasi untuk Strategi da
Penelitian Pemasaran, 4.
19
John C. Mowen dan Michael Minor, Perilaku Konsumen, 7.
20
Nugroho J. Setiadi, Perilaku Konsumen : Konsep dan Implikasi untuk Strategi da
Penelitian Pemasaran, 11.

13
dimana seseorang mengarahkan perilaku berdasarkan tujuan. Hal ini
termasuk “dorongan, keinginan, harapan, hasrat”. Motivasi dimulai
dengan timbulnya rangsangan yang memacu pengenalan kebutuhan.
Rangsangan ini berasal dari dalam diri konsumen. Perasaan lapar dan
keinginan untuk mengubah suasana adalah contoh rangsangan internal,
sedangkan rangsangan eksternal seperti iklan/ komentar teman tentang
suatu produk.

b. Persepsi

Persepsi merupakan proses individu memilih, mengorganisasikan,


dan menafsirkan masukan-masukan informasi untuk menciptakan sebuah
gambaran yang berarti dari dunia ini.
c. Kepribadian dan Konsep diri

Kepribadian adalah karakteristik psikologis yang berbeda dari


setiap orang yang memandang responnya terhadap lingkungan yang
relatif konsisten.21 Keputusan pembelian juga dapat dipengaruhi oleh
karakterisitik pribadi diantaranya usia dan tahap siklus hidup, pekerjaan,
keadaan ekonomi, gaya hidup, serta kepribadian dan konsep-diri pembeli.
d. Sikap

Sikap menempatkan mereka dalam suatu kerangka pikir, menyukai


atau tidak menyukai suatu objek/ide.
2. Faktor Eksternal
a. Kelompok Referensi

Kelompok referensi seseorang terdiri dari seluruh kelompok yang


mempunyai pengaruh langsung maupun tidak langsung terhadap sikap
atau perilaku seseorang.
b. Keluarga

21
Nugroho J. Setiadi, Perilaku Konsumen : Konsep dan Implikasi untuk Strategi da
Penelitian Pemasaran, 13.

14
Keluarga merupakan suatu komunitas masyarakat terkecil yang
perilakunya sangat mempengaruhi dan menentukan dalam pengambilan
keputusan.
c. Kebudayaan

Kebudayaan adalah hasil kreatifitas manusia dari satu generasi ke


generasi berikutnya yang sangat menentukan bentuk perilaku dalam
kehidupan sebagai anggota masyarakat.
d. Kelas sosial

Kelas sosial adalah sebuah kelompok yang relatif homogen dan


bertahan lama dalam sebuah masyarakat yang tersusun secara hierarki
dan keanggotaannya mempunyai nilai, minat, dan perilaku yang serupa.

Proses keputusan pembelian baik pada pemasar konsumen (tersusun dari


individu dan rumah tangga yang membeli barang dan jasa bagi penggunaan
pribadi) maupun pasar organisasi (terdiri dari bisnis, pemerintah, dan
organisasi nirlaba) dipandang sebagai serangkaian tahap yang dilalui pembeli
dalam membeli sebuah produk atau jasa.

Pengambilan Keputusan Pembelian22


Mengenali Pencarian Evaluasi Keputusan Perilaku
kebutuhan informasi alternatif membeli pasca
pembelian

Gambar III.2
1. Pengenalan kebutuhan
Proses dalam pembelian dimulai dengan adanya kesadaran konsumen atas
suatu masalah atau kebutuhan, sehingga kebutuhan tersebut mendorong
minat konsumen untuk melakukan pembelian.
2. Pencarian informasi

22
Philip Kotler, Manajemen Pemasaran : Analisis, Perencanaan, Implementasi dan
Pengendalian, 204.

15
Setelah menganalisis masalah-masalah yang dihadapi, konsumen akan
mencari informasi lebih lanjut mengenai barang yang dibutuhkan. Jika
dorongan dari dalam diri konsumen kuat maka proses pembelian akan
dilakukannya, tetapi jika tidak maka keinginan tersebut akan disimpan
dalam ingatannya.
3. Evaluasi alternatif
Setelah dilakukan pencarian informasi mengenai barang yang dibutuhkan
maka konsumen akan mengidentifikasi dan mengevaluasi cara-cara untuk
memenuhi kebutuhan dirinya maupun organisasinya, mencari pilihan yang
terbaik menangkut kualitas, harga, waktu, pengiriman, dan faktor-faktor lain
yang dianggap penting. Dalam tahap ini seruan-seruan periklanan yang
rasional dan emosional memainkan peran penting.
4. Keputusan pembelian
Tahap ini menentukan jadi tidaknya membeli, jika ya apa, dimana, kapan
dibeli.
5. Perilaku pasca pembelian
Setelah membeli sebuah produk, para konsumen secara resmi atau tidak
resmi mengevaluasi pembelian mereka. Kepuasan atau ketidakpuasan
konsumen kepada suatu produk akan mempengaruhi tingkah laku
berikutnya.23

23
http://www.google.com/url?
sa=t&source=web&rct=j&url=http:eprints.walisongo.ac.id/7509/3/1251120174_bab2.pdf&ved=2a
hUKEwjR15LZmNPIAhXplbcAHX-
4AGUQFjABeggQICRAB&usg=AOvVaw0IU18iAksAX_4tfvCM6pl1 Diakses Pada Selasa, 5
November 2019 Pukul 20:45 WIB.

16
Contoh Kasus
Seperti yang terjadi pada perkembangan teknologi saat ini, banyak sekali
masyarakat yang memanfaatkan kemajuan teknologi untuk mempermudah
mereka dalam melakukan proses jual beli. Gadget menjadi salah satu alat
komunikasi yang banyak diminati oleh masyarakat. Peran gadget sendiri
digunakan dalam melakukan komunikasi antar perorangan, dalam melakukan
akses mencari informasi, jual beli, dan lain sebagainya. Serta menjadikan
mereka terpengaruh dengan adanya gadget. Dan menyebabkan sifat kemalasan
yang muncul pada pribadi manusia.

Salah satu gaya hidup masyarakat ialah mereka memanfaatkan gadget


untuk memperingan atau mempermudah pekerjaan mereka. Misalnya, dalam
hal jual beli. Yang dulunya masyarakat lebih banyak memilih untuk melakukan
transaksi jual beli secara langsung dan pergi ke tempat perbelanjaan, misalnya
ke pasar. Tapi sekarang dengan adanya suatu sistem komunkasi yang lebih
maju dengan munculnya aplikasi, sehingga menjadikan masyarakat lebih
terpengaruh dengan gadget yang mereka miliki. Mereka lebih sering
memanfaatkan gadget untuk mempermudah pekerjaan mereka. Misalnya
dengan melakukan proses jual beli secara online, dengan cara melihat berbagai
produk di media sosial kemudian mereka melakukan pemesanan secara online
oleh penjual dan menransfer uangnya lalu menunggu pengiriman barang yang
dikirimkan sesuai dengan alamat rumah pembeli. Jadi, dengan adanya
perkembangan sekarang pekerjaan manusia jadi lebih ringan serta dapat
menghemat waktu dan tenaga.

Nah itu tadi merupakan contoh kasus gaya hidup dan perilaku konsumen
masyarakat sekarang. Gaya hidup mereka yang lebih mengikuti trend terkini
terpengaruh oleh gadget, karena munculnya berbagai trend-trend di berbagai
media sosial serta perilaku konsumen yang menjadikan mereka senantiasa
melakukn proses jual beli barang secara terus menerus seolah-olah kini sudah
melekat menjadi budaya konsumen.

17
BAB III
PENUTUP

Kesimpulan
Gaya hidup adalah pola hidup seseorang yang dinyatakan dalam kegiatan,
minat dan pendapatnya dalam membelanjakan uangnya dan bagaimana
mengalokasikan waktu.
Josep Plumer menyatakan bahwa segmentasi gaya hidup mengukur
aktivitas-aktivitas
manusia dalam: Bagaimana mereka menghabiskan waktunya, minat mereka,
apa yang dianggap penting di sekitarnya, pandangannya terhadap diri sendiri
maupun terhadap orang lain, dan mengenaik karakter-karakter dasar seperti daur
kehidupan, penghasilan, pendidikan
dan tempat tinggal.

Budaya adalah seluruh hasil cipta, rasa, karsa manusia, dan budaya terlihat
pada hasil cipta manusia dalam bentuk benda. Wujud dari kebudayaan adalah ide,
benda, dan tindakan.

Unsur yang ada dalam budaya diantaranya adalah, nilai (Value), norma
(Norma), kebiasaan (Customs), larangan (Mores), konvensasi (Conventions),
mitos, dan simbol.

Perilaku konsumen (consumen behavior) didefinisikan sebagai studi tentang


unit pembelian (buying units) dan proses pertukaran yang melibatkan perolehan,
konsumsi, dan pembuangan barang, jasa, pengalaman, serta ide-ide.

Keputusan pembelian merupakan keputusan konsumen untuk membeli suatu


produk setelah sebelumnya memikirkan layak tidaknya membeli produk itu
dengan mempertimbangkan informasi-informasi yang ia ketahui dengan realitas
tentang produk itu setelah ia menyaksikannya.

18
DAFTAR PUSTAKA
Suryani, Tatik. 2008. Prilaku Konsumen Implikasi pada Strategi Pemasaran.
Yogyakarta: Graha Ilmu
Sumarwan, Ujang. 2004. Perilaku Konsumen (Teori dan Penerapannya dalam
Pemasaran). Bogor: Ghalia Indonesia
Kasali, Rhenald. 2000. “Membidik Pasar Indonesia” Segmenting, Targeting dan
Positioning. Jakarta: Gramedia
Philip Kotler, Manajemen Pemasaran : Analisis, Perencanaan, Implementasi dan
Pengendalian, (Jakarta: Prentice Hall, 1997), 159.
Mowen, John C. dan Michael Minor. 2002. Perilaku Konsumen. Jakarta:
Erlangga
Lupiyoadi, Rambat dan A. Hamdani. 2011. Manajemen Pemasaran Jasa. Jakarta:
Salemba Empat
Setiadi, Nugroho J. 2003. Perilaku Konsumen : Konsep dan Implikasi untuk
Strategi da Penelitian Pemasaran. Bogor : Kencana
http://www.google.com/url?
sa=t&source=web&rct=j&url=http:eprints.walisongo.ac.id/7509/3/1251120
174_bab2.pdf&ved=2ahUKEwjR15LZmNPIAhXplbcAHX-
4AGUQFjABeggQICRAB&usg=AOvVaw0IU18iAksAX_4tfvCM6pl1.
Diakses Pada Selasa, 5 November 2019 Pukul 20:45 WIB.

19