Anda di halaman 1dari 14

LAPORAN PENDAHULUAN STASE GERONTIK KOMUNITAS

RESIKO JATUH (CEDERA) PADA LANSIA

OLEH:
Kurnia Hariani
NPM: 019.02.0947

SEKOLAH TINGGI ILMU KESEHATAN MATARAM


PROGRAM PROFESI NERS
TAHUN 2019
LEMBAR PENGESAHAN

Asuhan keperawatan pada di Dusun Banyumulek barat Wilayah kerja Puskesmas


Banyumulek guna melengkapi tugas Keperawatan gerontik komunitas

Laporan ini disusun dan disahkan pada :

Hari / tanggal :

Tempat :

Mahasiswa

Kurnia Hariani
NPM: 019.02.0947

Mengetahui,

Pembimbing Akademik

(Ageng Abdi Putra, S.Kep., Ners., M.Kep)


KATA PENGANTAR

Puji syukur kami panjatkan kehadirat Tuhan Yang Maha Esa karena dengan rahmat,
karunia, serta taufik dan hidayah-Nya kami dapat menyelesaikan tugas Keperawatan Gerontik
Komunitas dengan judul “Resiko jatuh pada lansia”. Kami berterima kasih kepada Bapak Ageng
Abdi Putra, S.Kep., Ners., M.Kep selaku pembimbing.
Kami sangat berharap resume ini dapat berguna dalam rangka menambah wawasan serta
pengetahuan. Kami juga menyadari sepenuhnya bahwa di dalam resume ini terdapat kekurangan
dan jauh dari kata sempurna. Oleh sebab itu, kami berharap adanya kritik, saran dan usulan demi
perbaikan resume yang telah kami buat di masa yang akan datang, mengingat tidak ada sesuatu
yang sempurna tanpa saran yang membangun.
Sekiranya resume yang telah disusun ini dapat berguna bagi kami sendiri maupun orang
yang membacanya. Sebelumnya kami mohon maaf apabila terdapat kesalahan kata-kata yang
kurang berkenan dan kami memohon kritik dan saran yang membangun demi perbaikan di masa
depan.

Mataram, September 2019

Penyusun
BAB I
PENDAHULUAN
A. LATAR BELAKANG
Lanjut Usia adalah fase menurunnya kemampuan akal dan fisik, yang di mulai
dengan adanya beberapa perubahan dalam hidup. Sebagai mana di ketahui, ketika
manusia mencapai usia dewasa, ia mempunyai kemampuan reproduksi dan melahirkan
anak. Ketika kondisi hidup berubah, seseorang akan kehilangan tugas dan fungsi ini, dan
memasuki selanjutnya, yaitu usia lanjut, kemudian mati. Bagi manusia yang normal,
siapa orangnya, tentu telah siap menerima keadaan baru dalam setiap fase hidupnya dan
mencoba menyesuaikan diri dengan kondisi lingkunganya (Darmojo, 2009).
Penyebab jatuh pada lansia adalah penyakit yang sedang diderita, seperti
hipertensi, stroke, sakit kepala/pusing, nyeri sendi, reumatik dan diabetes. Perubahan-
perubahan akibat proses penuaan seperti penurunan pendengaran, penglihatan, status
mental, lambatnya pergerakan, hidup sendiri, kelemahan otot kaki bawah, gangguan
keseimbangan dan gaya berjalan. Faktor lingkungan terdiri dari penerangan yang kurang,
bendabenda dilantai (tersandung karpet), tangga tanpa pagar, tempat tidur atau tempat
buang air yang terlalu rendah, lantai yang tidak rata, licin serta alat bantu jalan yang tidak
tepat. Jatuh (falls) merupakan suatu masalah yang sering terjadi pada lansia (Maryam,
2008).
Faktor risiko jatuh meliputi faktor intrinsik dan ekstrinsik, faktor intrinsik antara
lain sistem saraf pusat, demensia, gangguan sistem sensorik, gangguan sistem
kardiovaskuler, gangguan metabolisme, dan gangguan gaya berjalan. Faktor ekstrinsik
meliputi lingkungan, aktifitas, dan obat-obatan, selama proses menua, lansia mempunyai
konsekuensi untuk jatuh salah satu masalah kesehatan yang sering terjadi pada lansia
adalah instabilitas yaitu berdiri dan berjalan tidak stabil atau mudah jatuh. Jatuh dianggap
sebagai konsekuensi alami tetapi jatuh bukan merupakan bagian normal dari proses
penuaan (Stanley, 2006).
Upaya pencegahan perlu dilakukan untuk meminimalisir kejadian jatuh pada
lansia. Pencegahan yang dapat dilakukan untuk mencegah terjadinya jatuh pada lansia,
mengidentifikasi faktor risiko dilakukan untuk mencari adanya faktor intrinsik risiko
jatuh, keadaan lingkungan rumah yang berbahaya yang dapat menyebabkan jatuh harus
dihilangkan. Penilaian keseimbangan dan gaya berjalan dilakukan untuk berpindah
tempat dan pindah posisi, penilaian postural sangat diperlukan untuk mengurangi faktor
penyebab terjadinya risiko jatuh, serta mengatur atau mengatasi fraktur situasional dapat
dicegah dengan melakukan pemeriksaaan rutin kesehatan lansia secara periodik
(Mariyam, 2008).
B. RUMUSAN MASALAH
1. Bagaimana konsep teori resiko jatuh pada lansia?
2. Bagaimana konsep asuhan keperawatan resiko jatuh pada lansia?
C. TUJUAN
1. Mengetahui konsep teori resiko jatuh pada lansia
2. Mengetahui konsep asuhan keperawatan resiko jatuh pada lansia
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
A. KONSEP TEORI RESIKO JATUH
1. PENGERTIAN
Jatuh merupakan masalah keperawatan utama pada lansia, yang menyebabkan
cedera, hambatan mobilitas dan kematian (Sattin, 2004). Selain cedera fisik yang
berkaitan dengan jatuh, individu dapat mengalami dampak psikologis, seperti takut
terjatuh kembali, kehilangan kepercayaan diri, peningkatan kebergantungan dan isolasi
sosial (Downton dan Andrews, 2006).
Jatuh merupakan suatu kejadian yang dilaporkan penderita atau saksi mata yang
melihat kejadian, yang mengakibatkan seseorang mendadak terbaring/terduduk di lantai
atau tempat yang lebih rendah dengan atau tanpa kehilangan kesadaran atau luka (Ruben,
2005).
Berdasarkan beberapa pengertian jatuh di atas, dapat disimpulkan bahwa jatuh adalah
kejadian tiba-tiba dan tidak disengaja yang mengakibatkan seseorang terbaring atau
terduduk di lantai dengan atau tanpa kehilangan kesadaran atau luka.

2. ETIOLOGI
a. Osteoporosis menyebabkan tulang menjadi rapuh dan dapat mencetuskan fraktur.
b. Perubahan refleks baroreseptor
Cenderung membuat lansia mengalami hipotensi postural, menyebabkan pandangan
berkunang-kunang, kehilangan keseimbangan, dan jatuh.
c. Perubahan lapang pandang, penurunan adaptasi terhadap keadaan gelap dan
penurunan penglihatan perifer, ketajaman persepsi kedalaman, dan persepsi warna
dapat menyebabkan salah interpretasi terhadap lingkungan, dan dapat mengakibatkan
lansia terpeleset dan jatuh.
d. Gaya berjalan dan keseimbangan
berubah akibat penurunan fungsi sistem saraf, otot, rangka, sensori, sirkulasi dan
pernapasan. Semua perubahan ini mengubahpusat gravitasi, mengganggu
keseimbangan tubuh dan menyebabkan limbung, yang pada akhirnya mengakibatkan
jatuh. Perubahan keseimbangan dan properosepsi membua lansia sangat rentan
terhadap perubahan permukaan lantai (contoh lantai licin dan mengkilat). Akhirnya,
usia yang sangat tua atau penyakit parah dapat mengganggu fungsi refleks
perlindungan dan membuat individu yang bersangkutan berisiko terhadap jatuh (Lord,
2005).
3. PATHWAY

Faktor instrinsik: Faktor ekstrinsik:


1. Perubahan kondisi fisik 1. Obat-obatan yang diminum
2. Penurunan fisus penglihatan dan 2. Alat-alat bantu jalan
pendengaran 3. Situasional :
3. Keseimbangan dan gaya berjalan a. Lingkungan fisik rumah yang
4. Perubahan neuromuskuler membahayakan (di dalam
rumah, di luar rumah)

Kejadian jatuh

4. FAKTOR RISIKO
a. Faktor intrinsik
Faktor intrinsik yang dapat mengakibatkan insiden jatuh termasuk proses
penuaan dan beberapa kondisi penyakit, termasuk penyakit jantung, stroke dan
gangguan ortopedik serta neurologik.
Faktor intrinsik dikaitkan dengan insiden jatuh pada lansia adalah kebutuhan
eliminasi individu. Beberapa kasus jatuh terjadi saat lnsia sedang menuju,
menggunakan atau kembali dari kamar mandi. Perubahan status mental juga
berhubungan dengan peningkatan insiden jatuh.
Faktor intrinsik lain yang menimbulkan resiko jatuh adalah permukaan lantai
yang meninggi, ketinggian tmpat tidur baik yang rendah maupun yang tinggi dan
tidak ada susut tangan ditempat yang strategis seperti kamar mandi dan lorong.
b. Faktor Ekstrinsik
Faktor ekstrinsik juga memengaruhi terjadinya jatuh. Jatuh umumnya terjadi
pada minggu pertama hospitalisasi, yang menunjukkan bahaw megenali lingkungan
sekitar dapat mengurangi kecelakaan.
Obat merupakan agen eksternal yang diberika kepada lansia dan dapat
digolongkan sebagai faktor risiko eksternal.obat yang memengaruhi sistem
kardiovaskular dan sistem saraf pusat meningkatkan risiko terjadinya jatuh, biasanya
akibat kemungkina hipotensi atau karena mengakibatkan perubahan status ,emtal.
Laksatif juga berpengaruh terhadap insida jatuh.
Individu yang mengalami hambatan mobilitas fisik cenderung menggunakan
alat bantu gerak seperti kursi roda, tongkat tunggal, tongkat kaki empat dan walker.
Pasien yang menggunakan alat banu lebih mungkin jatuh dibandingkan dengan pasien
yang tidak menggunakan alat bantu.
Penggunaan restrain mengakibatkan kelemahan otot dan konfusi, yang
merupakan faktor ekstrinsik terjadinya jatuh.
5. KOMPLIKASI
Jatuh pada lansia menimbulkan komplikasi – komplikasi seperti : ( Kane, 2005; Van –
der – Cammen, 2000 )
a. Perlukaan ( injury )
1) Rusaknya jaringan lunak yang terasa sangat sakit berupa robek atau tertariknya
jaringan otot, robeknya arteri / vena.
2) Patah tulang ( fraktur ) : Pelvis, Femur ( terutama kollum ), humerus, lengan
bawah, tungkai bawah, kista.
3) Hematom subdural
b. Perawatan rumah sakit
1) Komplikasi akibat tidak dapat bergerak ( imobilisasi ).
2) Risiko penyakit – penyakit iatrogenik.
c. Disabilitas
1) Penurunan mobilitas yang berhubungan dengan perlukaan fisik.
2) Penurunan mobilitas akibat jatuh, kehilangan kepercayaan diri, dan pembatasan
gerak.

6. PENCEGAHAN TERHADAP JATUH


a. Mengindentifikasi faktor risiko, penilaian keseimbangan, gaya berjalan, diberikan
latihan fleksibilitas gerakan, latihan keseimbangan fisik, koordinasi keseimbangan
serta mengatasi faktor lingkungan. Setiap lansia harus dievaluasi bagaimana
keseimbangan badannya dalam melakukan gerakan pindah tempat dan pindah posisi.
Penilaian goyangan badan sangat diperlukan untuk mencegah terjadinya jatuh, begitu
pula dengan penilaian apakah kekuatan otot ekstremitas bawah cukup untuk berjalan
tanpa bantuan, apakah lansia menapakkan kakinya dengan baik, tidak mudah goyah,
dan mengangkat kaki dengan benar saat berjalan. Kesemuanya itu harus diperbaiki
bila terdapat penurunan.
b. Memperbaiki kondisi lingkungan yang dianggap tidak aman, misalnya dengan
memindahkan benda berbahaya, peralatan rumah dibuat yang aman (stabil, ketinggian
disesuaikan, dibuat pegangan pada meja dan tangga) serta lantai yang tidak licin dan
penerangan yang cukup.
c. Menanggapi adanya keluhan pusing, lemas atau penyakit yang baru. Apabila keadaan
lansia lemah atau lemas tunda kegiatan jalan sampai kondisi memungkinkan dan
usahakan pelan-pelan jika akan merubah posisi (Darmojo, 2009).

7. PENATALAKSANAAN
Tujuan penatalaksanaan ini untuk mencegah terjadinya jatuh berulang dan menerapi
komplikasi yang terjadi, mengembalikan fungsi AKS terbaik, mengembalikan
kepercayaan diri penderita.
a. Penatalaksanaan penderita jatuh dengan mengatasi atau meneliminasi faktor risiko,
penyebab jatuh dan menangani komplikasinya. Penatalaksanaan ini harus terpadu dan
membutuhkan kerja tim yang terdiri dari dokter (geriatrik, neurologik, bedah
ortopedi, rehabilitasi medik, psikiatrik, dll), sosiomedik, arsitek dan keluarga
penderita.
b. Penatalaksanaan bersifat individual, artinya berbeda untuk setiap kasus karena
perbedaan factor – factor yang bekerjasama mengakibatkan jatuh. Bila penyebab
merupakan penyakit akut penanganannya menjadi lebih mudah, sederhanma, dan
langsung bisa menghilangkan penyebab jatuh serta efektif. Tetapi lebih banyak pasien
jatuh karena kondisi kronik, multifaktorial sehingga diperlukan terapi gabungan
antara obat rehabilitasi, perbaikan lingkungan, dan perbaikan kebiasaan lansia itu.
Pada kasus lain intervensi diperlukan untuk mencegah terjadinya jatuh ulangan,
misalnya pembatasan bepergian / aktifitas fisik, penggunaan alat bantu gerak.
c. Untuk penderita dengan kelemahan otot ekstremitas bawah dan penurunan fungsional
terapi difokuskan untuk meningkatkan kekuatan dan ketahanan otot sehingga
memperbaiki nfungsionalnya. Sayangnya sering terjadi kesalahan, terapi rehabilitasi
hanya diberikan sesaat sewaktu penderita mengalami jatuh, padahal terapi ini
diperlukan terus – menerus sampai terjadi peningkatan kekuatan otot dan status
fumgsional. Penelitian yang dilakukan dalam waktu satu tahun di Amerika Serikat
terhadap pasien jatuh umur lebih dari 75 tahun, didapatkanpeningkatan kekuatan otot
dan ketahanannya baru terlihat nyata setelah menjalani terapi rehabilitasi 3 bulan,
semakin lama lansia melakukan latihan semakin baik kekuatannya.
d. Terapi untuk penderita dengan penurunan gait dan keseimbangan difokuskan untuk
mengatasi / mengeliminasi penyebabnya/faktor yang mendasarinya. Penderita
dimasukkan dalam program gait training, latihan strengthening dan pemberian alat
bantu jalan. Biasanya program rehabilitasi ini dipimpin oleh fisioterapis. Program ini
sangatmembantu penderita dengan stroke, fraktur kolum femoris, arthritis,
Parkinsonisme.
e. Penderita dengan dissines sindrom, terapi ditujukan pada penyakit kardiovaskuler
yang mendasari, menghentikan obat – obat yang menyebabkan hipotensi postural
seperti beta bloker, diuretik, anti depresan, dll.
f. Terapi yang tidak boleh dilupakan adalah memperbaiki lingkungan rumah / tempat
kegiatan lansia seperti di pencegahan jatuh (Reuben,2005).
B. KONSEP ASUHAN KEPERAWATAN RESIKO JATUH
1. PENGKAJIAN
a. Riwayat Penyakit ( Jatuh )
Anamnesis dilakukan baik terhadap penderita ataupun saksi mata jatuh atau
keluarganya ( Kane,2005).
Anamnesis ini meliputi :
1) Seputar jatuh : mencari penyebab jatuh misalnya terpeleset, tersandung, berjalan,
perubahan posisi badan, waktu mau berdiri dari jongkok, sedang makan, sedang
buang air kecil atau besar, sedang batuk atau bersin, sedang menoleh tiba – tiba
atau aktivitas lain.
2) Gejala yang menyertai : nyeri dada, berdebar – debar, nyeri kepala tiba-tiba,
vertigo, pingsan, lemas, konfusio, inkontinens, sesak nafas.
3) Kondisi komorbid yang relevan : pernah stroke, Parkinsonism, osteoporosis,
sering kejang, penyakit jantung, rematik, depresi, defisit sensorik.
4) Review obat – obatan yang diminum : antihipertensi, diuretik, autonomik bloker,
antidepresan, hipnotik, anxiolitik, analgetik, psikotropik.
5) Review keadaan lingkungan : tempat jatuh, rumah maupun tempat – tempat
kegiatanny.
b. Pemeriksaan Fisik
1) Tanda vital : nadi, tensi, respirasi, suhu badan ( panas / hipotermi )
2) Kepala dan leher : penurunan visus, penurunan pendengaran, nistagmus, gerakan
yang menginduksi ketidakseimbangan, bising
3) Jantung : aritmia, kelainan katup
4) Neurologi : perubahan status mental, defisit fokal, neuropati perifer, kelemahan
otot, instabilitas, kekakuan, tremor.
5) Muskuloskeletal : perubahan sendi, pembatasan gerak sendi problem kaki
( podiatrik ), deformitas.
2. DIAGNOSA KEPERAWATAN
1. Resiko jatuh (cedera)
2. Gangguan mobilitas fisik
3. INTERVENSI KEPERAWATAN

No. Diagnose Intervensi keperawatan (NOC) NIC


keperawatan
1. Resiko jatuh Setelah dilakukan intervensi Environmental
keperawatan selama 3x24 jam, pasien Manajement: Safety
Definisi: Peningkatan tidak mengalami jatu dengan indikator:
1. Identifikasi kebutuhan
Kerentanan untuk keamanan pasien
jatuh yang dapat berdasarkan kondisi
menyebabkan bahaya Falls prevention behavior fisik, fungsi kognitif
fisik dan riwayat perilaku
- pasien mampu berdiri, 2. Identifikasi lingkungan
Faktor Resiko: yang dapat
duduk, berjalan tanpa pusing membahayakan
- Riwayat jatuh
- Klien mampu menjelaskan 3. Singkirkan barang-
- Prostesis ekstremitas
jika terjadi serangan dan cara barang yang dapat
bawah membahayakan pasien
- Penurunan status mengantisipasinya
jika memungkinkan
mental 4. Modifikasi lingkungan
- Ruang yang tidak untuk meminimalkan
dikenal resiko
- Anemia 5. Sediakan peralatan
- Penurunan kekuatan yang adaptif untuk
meningkatkan
ekstremitas bawah
keamanan lingkungan
- Gangguan mobilitas 6. Gunakan peralatan
fisik untuk melindungi
- Neoplasma (letih/ seperti restrain dan side
mobilitas terbatas) rail untuk membatasi
mobilitas fisik atau
mengakses situasi yang
membahayakan

2. Gangguan mobilitas Exercise therapy :


fisik ambulation
1. Joint Movement : Active
Berhubungan dengan : 1. Monitoring vital sign
1. Gangguan 2. Mobility Level
sebelm/sesudah
metabolisme sel 3. Self care : ADLs latihan dan lihat
2. Keterlembatan respon pasien saat
4. Transfer performance
perkembangan latihan
3. Pengobatan Setelah dilakukan tindakan
2. Konsultasikan
4. Kurang keperawatan selama….gangguan dengan terapi fisik
support lingkungan mobilitas fisik teratasi dengan tentang rencana
5. Keterbatasan kriteria hasil: ambulasi sesuai
ketahan dengan kebutuhan
1. Klien meningkat dalam
kardiovaskuler 3. Bantu klien untuk
6. Kehilangan aktivitas fisik menggunakan
integritas struktur 2. Mengerti tujuan dari tongkat saat berjalan
tulang dan cegah terhadap
peningkatan mobilitas
7. Terapi cedera
pembatasan gerak 3. Memverbalisasikan perasaan 4. Ajarkan pasien atau
8. Kurang dalam meningkatkan kekuatan tenaga kesehatan
pengetahuan lain tentang teknik
dan kemampuan berpindah
tentang kegunaan ambulasi
pergerakan fisik 4. Memperagakan penggunaan 5. Kaji kemampuan
9. Indeks massa alat Bantu untuk mobilisasi pasien dalam
tubuh diatas 75 (walker) mobilisasi
tahun percentil 6. Latih pasien dalam
sesuai dengan usia pemenuhan
10. Kerusakan kebutuhan ADLs
persepsi sensori secara mandiri
11. Tidak nyaman, sesuai kemampuan
nyeri 7. Dampingi dan Bantu
12. Kerusakan pasien saat
muskuloskeletal mobilisasi dan bantu
dan neuromuskuler penuhi kebutuhan
13. Intoleransi ADLs ps.
aktivitas/penuruna 8. Berikan alat Bantu
n kekuatan dan jika klien
stamina memerlukan.
14. Depresi mood 9. Ajarkan pasien
atau cemas bagaimana merubah
15. Kerusakan posisi dan berikan
kognitif bantuan jika
16. Penurunan diperlukan
kekuatan otot,
kontrol dan atau
masa
17. Keengganan
untuk memulai
gerak
18. Gaya hidup
yang menetap,
tidak digunakan,
deconditioning
19. Malnutrisi
selektif atau umum

DAFTAR PUSTAKA

Kushariyadi. (2010). Askep pada Klien Lanjut Usia.  Jakarta: Salemba medika.


Marion Johnson, dkk. (2008). Nursing Outcomes Classification (NOC) Fifth Edition. Mosby.
Mc. Closkey dan Buleccheck. (2009). Nursing Interventions Classification (NIC) Sixth
Edition. Mosby.
Price,Sylvia Anderson. (2008). Patofisiologi;Konsep klinis proses-proses
penyakti.Jakarta;EGC,2008