Anda di halaman 1dari 29

MAKALAH PRINSIP PEMBERIAN MEDIKASI

Dosen Pembimbing:
Istichomah, S.Kep.,NS,M.Kes.

Disusun Oleh:
1. Angela Merici W.K (201100423)
2. Riski Wahyu Aji (201100442)
3. Trya Dwi Putri (201100445)
4. Via Dinda Rahayu (201100446)
5. Victory Prapgirano (201100467)

Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan Yogyakarta


2020/2021
AKP/II

i
KATA PENGANTAR

Dengan mengucapkan puji syukur kehadirat Tuhan YME, yang telah


melimpahkan rahmat dan hidayah-Nya sehingga penulis memperoleh kesehatan
dan kekuatan untuk dapat menyelesaikan “Makalah Prinsip Pemberian Medikasi”
ini.
            Penghargaan yang tulus dan ucapan terima kasih yang sebesar-besarnya
penulis sampaikan kepada seluruh pihak, khususnya kepada dosen pembibing atas
kebijaksanaan dan kesediaannya dalam membimbing sehingga “Makalah Prinsip
Pemberian Medikasi”  ini dapat terselesaikan.
            Penulis menyadari sepenuhnya atas keterbatasan ilmu maupun dari segi
penyampaian yang menjadikan “Makalah Prinsip Pemberian Medikasi”  ini masih
jauh dari sempurna. Oleh karena itu, kritik dan saran yang membangun sangat
diperlukan dari semua pihak untuk kesempurnaan makalah ini.

Yogyakarta, 4 Maret 2021

Penyusun

ii
DAFTAR ISI
HALAMAN JUDUL .............................................................................................................................
KATA PENGANTAR ..........................................................................................................................
DAFTAR ISI .........................................................................................................................................
BAB I PENDAHULUAN .....................................................................................................................
A. Latar Belakang .......................................................................................................................
B. Rumusan Masalah ..................................................................................................................
C. Tujuan ....................................................................................................................................
BAB II PEMBAHASAN ......................................................................................................................
A. Konsep dan Prinsip Pemberian Medikasi 6
1. Pengertian Obat 6
2. Reaksi Obat 6
3. Dosis, Efek, Reaksi, Teknik, Persiapan 8
4. Teknik Pemberian Obat 9
5. Persiapan Pemberian Obat 12
B. Macam-Macam medikasi 13
C. Macam-Macam Bentuk Obat 15
D. Prosedur Pemberian medikasi 18
1. Prosedur Pemberian Obat Oral 18
2. Tablet atau Kapsul 19
3. Obat dalam Bentuk Cair 19
4. Pemberian Obat Melalui Intravena 19
5. Pemberian Obat Melalui Intra Cutan 21
6. Pemberian Obat Melalui Sub Cutan 23
7. Pemberian Obat Melalui Intramuscular 24
8. Pemberian Obat Topical 25
9. Pemberian Obat Supisitoria 27
BAB III PENUTUP ..............................................................................................................................
A. Simpulan ................................................................................................................................
B. Saran ......................................................................................................................................
DAFTAR PUSTAKA ...........................................................................................................................

iii
BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Perawat memiliki tanggung jawab untuk memastikan dan


memberikan obat dengan benar. Selain sebagai pelaksana dalam
pemberian obat, perawat juga merupakan tenaga kesehatan yang paling
tepat untuk memberikan obat karena meluangkan sebagian besar waktunya
berada di samping pasien. Hal ini membuat perawat berada pada posisi
yang ideal untuk memantau respon obat pada pasien, memberikan
pendidikan bagi pasien dan keluarga tentang program pengobatan serta
menginformasikan kepada dokter tentang apakah obat efektif, tidak
efektif, atau obat tidak lagi dibutuhkan. Selain berperan memberikan obat
kepada pasien, perawat dituntut untuk menentukan apakah seorang pasien
harus mendapat obat pada waktunya dan mengkaji kembali kemampuan
pasien menggunakan obat secara mandiri dan perawat menggunakan
proses keperawatan untuk mengintegrasi terapi obat dalam perawatan
pasien (Potter & Perry, 2010).
Terapi obat yang diberikan kepada pasien memiliki jenis yang
berbeda, sehingga beresiko pada kekeliruan pengobatan, sedangkan jumlah
pasien cukup banyak dalam satu kali perawatan di bangsal dengan jenis
obat yang berbeda dari masing-masing pasien. Perbedaan jenis obat
tersebut memiliki resiko kesalahan pengobatan yang menimbulkan
dampak negatif kepada pasien. Dampak negatif terkait kesalahan
pemberian obat meliputi berkurangnya keselamatan pasien, adverse drug
event, dan adverse drug reaction (Kemenkes, 2011).
Dampak pemberian obat disebabkan karena kurang sesuainya
tindakan yang dilakukan perawat dengan Standar Operasional Prosedur
(SOP) yang berlaku dirumah sakit, sehingga memiliki potensi peningkatan
kejadian terkait kesalahan pengobatan dari tahun ke tahun. Karena
keberhasilan sebuah rumah sakit dalam penerapan sebuah prosedur
operasional yang berlaku dilihat dari kemampuan perawat bekerja secara
profesional sesuai panduan. Berdasarkan Kemenkes (2008) kesalahan
dalam pemberian obat menduduki peringkat pertama (24,8%) dari 10 besar
insiden yang dilaporkan. Kesalahan pemberian obat diperkirakan 1 dari 10
pasien diseluruh dunia (Hughes, 2010). Tipe kesalahan yang menyebabkan
kematian pada pasien meliputi 40,9%, salah dosis, 16% salah obat, dan
9,5% salah rute pemberian. Kejadian ini akan terus meningkat apabila
tidak adanya kesadaran perawat dalam melakukan pemberian obat sesuai
dengan prinsip pemberian yang berlaku dirumah sakit (Hughes, 2010).
Prinsip 7 benar pemberian obat oleh merupakan salah satu
pedoman yang berlaku dirumah sakit untuk mengevaluasi dan mencegah

4
kesalahan pemberian obat kepada pasien (CRNBC, 2015). Penelitian yang
dilakukan Elliot & Liu (2010) menyatakan bahwa setiap prinsip pemberian
obat memiliki kemungkinan terjadinya kesalahan, sehingga perlu adanya
evaluasi prinsip pemberian obat untuk mencegah terjadinya peningkatan
kesalahan pengobatan dan meningkatkan kesalamatan pasien.

B. Rumusan Masalah
1. Bagaimana konsep dan prinsip medikasi?
2. Bagaimana prosedur pemberian obat?
3. Apa saja macam macam obat?

C. Tujuan Penelitian
1. Untuk memenuhi tugas keperawatan dasar II tentang prinsip
pemberian medikasi.
2. Untuk mengetahui macam macam obat dan prosedur pemberian obat.
3. Untuk mengetahui bahaya obat jika salah melakukan prosedur
pemberian obat.
4. Untuk menambah wawasan dan pengetahuan tentang obat obatan.

5
BAB II
PEMBAHASAN
A. Konsep dan Prinsip Medikasi
1. Pengertian medikasi

Medikasi adalah cara utama terapi yang diprogramkan oleh


medis untuk mengobati masalah kesehatan atau masalah klien.
Meskipun obat menguntungkan, Obat bukan tanpa reaksi
merugikan. Perawat harus mengetahui tentang prinsip-prinsip
keamanan dalam pemberian medikasi serta pemantauan hasil
khusus obat (Perry, 2005).
Obat merupakan sebuah substansi yang diberikan kepada
manusia atau binatang sebagai perawatan atau pengobatan bahkan
pencegahan terhadap berbagai gangguan yang terjadi di dalam
tubuh (Kusyanti, 2012).
a. Standar obat
Obat yang digunakan sebaiknya memenuhi berbagai
standar persyaratan persyaratan obat diantaranya:
1) Kemurnian suatu keadaan yang dimiliki obat karena unsur
keasliannya
2) Tidak ada percampuran
3) Standar potensi yang baik
4) Memiliki bioavailabilitas berupa keseimbangan obat
5) Keamanan obat dan keefektivitasan obat
Standar-standar tersebut harus dimiliki obat agar
menghasilkan efek yang baik akan obat itu sendiri.
2. Reaksi obat
a. Farmakokinetik
Proses obat memasuki tubuh dan pada akhirnya akan keluar
dari tubuh.proses ini terdiri dari
absorpsi,distribusi,metabolisme,dan ekskresi obat dari tubuh
manusia.setiap obat mempunyai karakteristik khusus dalam
kecepatan dan bagaimana obat tersebut akan diserap oleh
jaringan,kemudian dihantarkan pada sel-sel tubuh dan berubah
menjadi zat yang tidak berbahaya bagi tubuh yang akhirnya
keluar dari tubuh kita.

6
b. Absorpsi
Proses zat-zat dari obat masuk kedalam aliran/pembuluh
darah. cara pemberian berdampak pada kecepatan dan
keseluruhan bagian obat yang akan diserap tubuh.
c. Distribusi
Proses pengiriman zat-zat dalam obat kepada jaringan dan
sel-sel target.Proses dipengaruhi oleh sistem sirkulasi
tubuh,jumlah zat obat yang dapat terikat dengan protein tubuh
serta jaringan atau sel tujuan dari obat tersebut.
d. Metabolisme
Proses diaktivasi /detoksifikasi zat-zat obat didalam
tubuh.Proses ini terutama berlangsung didalam hepar,namun
juga berlangsung didalam ginjal,plasma darah,mukosa,usus,dan
paru-paru.Gangguan pada fungsi hepar adalah penurunan
fungsi hepar akibat penuaan atau penyakit dapat mempengaruhi
kecepatan detoksifikasi obat yang berlangsung didalam tubuh.
e. Ekskresi
Adalah proses mengeluarkan obat atau zat-zat sisa
metabolismenya dari dalam tubuh. Ginjal berfungsi untuk
mengeluarkan sebagian besar sisa metabolisme tersebut,
sebagian yang lain dikeluarkan melalui paru-paru dan
intestinal. Penurunan fungsi ginjal akan sangat berpengaruh
buruk pada proses ini.
f. Farmakodinamik
Adalah proses yang berhubungan dengan fungsi fisiologis
dan biokimia dari obat didalam tubuh. Pemahaman tentang
proses ini sangat membantu perawat untuk mengevaluasi efek
terapeutik dan efek lainnya dari pengobatan. Reaksi kerja obat
adalah hasil dari reaksi kimia antara zat-zat obat dengan sel-sel
tubuh untuk menghasilkan respon biologis tubuh. Kebanyakan
obat bereaksi dengan komponen sel untuk menstimulasi
perubahan biokimia dan fisiological sehingga obat menjadi
efektif bagi tubuh.
Reaksi ini dapat terjadi secara lokal maupun sistemik
didalam tubuh. Contohnya adalah efek lokal terlihat terjadi
pada pemberian obat topikal pada kulit. Sedangkan pada
pemberian obat analgesik, efeknya akan meliputi beberapa
sistem, termasuk diantaranya yaitu sistem saraf (efek sedatif),

7
paru-paru (depresi pernafasan), gastrointenstinal (konstipasi)
walaupun efek yang diharapkan adalah pereda nyeri. Efek
medikasi dapat dimonitor melalui perubahan klinis yang terjadi
pada kondisi klien.
3. Dosis, efek, reaksi, teknik, persiapan
Dalam pemberian medikasi, kita tentu harus memperhatikan dosis obat,
efek obat, reaksi yang diberikan obat, dan sebagainya sehingga tidak terjadi
kesalahan dalam pemberian medikasi.
1. Dosis obat
Dosis obat adalah jumlah atau takaran tertentu dari suatu obat yang
memberikan efek tertentu terhadap suatu penyakit atau gejala sakit.Jika
dosis terlalu rendah (under dose) maka efek terapi tidak tercapai.
Sebaliknya jika berlebih (over dose) bisa menimbulkan efek
toksik/keracunan bahkan sampai kematian.
2. Efek obat
Ada 3 efek obat yang sangat perlu untuk diperhatikan oleh
perawat, yakni
a. Efek teurapeutik
Obat memiliki kesesuaian terhadap efek yang diharapkan sesuai
kandungan obatnya seperti paliatif (berefek untuk mengurangi gejala),
kuratif (memiliki efek pengobatan) dan lain-lain.
b. Efek samping.
Dampak yang tidak diharapkan, tidak bisa diramal, dan bahkan
kemungkinan dapat membahayakan seperti adanya alergi, toksisitas
(keracunan), penyakit nitrogenic, kegagalan dalam pengobatan, dan
lain-lain.
c. Efek toksik
Umumnya efek toksik terjadi setelah klien minum obat berdosis
tinggi dalam jangka waktu lama
3. Reaksi pemberian obat
a. Reaksi hipersensitivitas
Reaksi hipersensitivitas terjadi bila klien sensitif terhadap efek dari
pengobatan yang dilakukan. Hal ini dapat terjadi bila dosis yang
diberikan lebih dari kebutuhan klien sehingga menimbulkan efek lain
yang tidak diinginkan.
b. Toleransi
Adalah reaksi yang terjadi ketika klien mengalami penurunan
respon atau tidak berespon terhadap obat yang diberikan, dan
membutuhkan penambahan dosis obat untuk mencapai efek terapi

8
yang diinginkan. Beberapa zat yang dapat menimbulkan toleransi
terhadap obat adalah nikotin, etil alkohol, opiat dan barbiturat.
c. Reaksi alergi
Adalah akibat dari respon imunologik terhadap medikasi. Tubuh
menerima obat sebagai benda asing, sehingga tubuh akan membentuk
antibodi untuk melawan dan mengeluarkan benda asing tersebut.
Akibatnya akan menimbulkan gejala / reaksi alergi yang dapat berkisar
dari ringan sampai berat. Reaksi alergi yang ringan diantaranya adalah
gatal-gatal (urtikaria), pruritus, atau rhinitis, dapat terjadi dalam
hitungan menit sampai dengan 2 minggu pada klien setelah
mengkonsumsi obat.
d. Toksisitas
Reaksi yang terjadi karena dosis berlebih atau penumpukkan zat
dalam darah akibat dari gangguan metabolisme atau ekskresi.
Keracunan obat dapat mengakibatkan kerusakan pada fungsi organ.
Hal yang umum terjadi adalah nefrotoksisitas (ginjal), neurotoksisitas
(otak), hepatotosisitas (hepar), imunotoksisitas (sistem imun), dan
kardiotoksisitas (jantung).
e. Interaksi antar obat (reaksi inkompabilitas obat)
Hal ini terjadi ketika efek dari suatu obat terganggu akibat adanya
obat lain atau makanan yang mempengaruhi kerja obat didalam tubuh.
Interaksi ini dapat berbentuk saling menguatkan efek terapi dari obat
atau saling bertentangan dengan efek terapi. Kadang-kadang makanan
dapat juga mempengaruhi reaksi obat, contohnya adalah deaktivasi
antibiotik tetrasiklin akibat makanan yang berasal dari produk susu.
4. Teknik pemberian obat
a. Enteral
Cara pemberian obat memalului dengan tujuan mencegah,
mengobati,mengurangi rasa sakit sesuai efek terapi dari jenis obat
Seperti :
1) Sublingual
Adalah obat yang cara pemberiannya ditaruh di bawah
lidah. Tujuannya adalah agar efek yang ditimbulkan bisa lebih
cepat karena pembuluh darah di bawah lidah merupakan pusat dari
sakit. Kelebihan dari cara pemberian obat dengan sublingual adalah
efek obat akan terasa lebih cepat dan kerusakan obat pada saluran
cerna dan metabolisme di dinding usus dan hati dapat dihindari.
2) Bukal

9
Pemberian obat dengan cara obat diletakaan diantara pipi
dan gusi. Cara bukal ini memiliki keuntungan yaitu praktis, aman,
dan ekonomis. Namun juga ada kelemahannya yaitu efek yang
timbul biasanya lambat, tidak efektif jika pengguna sering muntah-
muntah, diare, tidak sabar, tidak kooperatif, kurang disukai jika
rasanya pahit (rasa jadi tidak enak), iritasi pada saluran cerna.
3) Parenteral
Penggunaan parenteral digunakan untuk obat yang
absorbsinya buruk melalui saluran cerna, dan untuk obat seperti
insulin yang tidak stabil dalam saluran cerna. Pemberian parenteral
juga digunakan untuk pengobatan pasien yang tidak sadar dan
dalam keadaan yang memerlukan kerja obat yang cepat.
Contoh kerja obat yang cepat antara lain :
a) Intravena (IV)
Memasukkan cairan obat langsung kedalam pembuluh
darah vena waktu cepat sehingga obat langsung masuk dalam
sistem sirkulasi darah. Pemberian obat yang dilakukan melalui
vena, diantaranya vena mediana cubiti/cephalika (lengan), vena
saphenous (tungkai), vena jugularis (leher), dan vena
frontalis/temporalis (kepala). Pemberian obat intravena bisa
secra langsung, bisa melalui wadah cairan intravena,ataupun
melalui selang intravena.
Tujuan: Memasukkan obat secara cepat, Mempercepat
penyerapan obat lokasi yang digunakan untuk penyuntikan
b) Intramuskular (IM)
Merupakan cara memasukkan obat ke dalam jaringan otot.
Tujuan: pemberian obat dengan absorbsi lebih cepat
dibandingkan dengan subcutan Lokasi penyuntikan dapat pada
daerah paha (vastus lateralis), ventrogluteal (dengan posisi
berbaring), dorsogluteal (posisi tengkurap), atau lengan atas
(deltoid), daerah ini digunakan dalam penyuntikan dikarenakan
massa otot yang besar, vaskularisasi yang baik dan jauh dari
syaraf.
Pemberian obat secara Intramusculer sangat dipengaruhi
oleh kelarutan obat dalam air yang menentukan kecepatan dan
kelengkapan absorpsi obat.
c) Subkutan (SC)
Subkutan Pemberian obat secara subkutan adalah
pemberian obat melalui suntikan ke area bawah kulit yaitu pada

10
jaringan konektif atau lemak di bawah dermis,Pemberian obat
melalui subkutan ini umumnya dilakukan dalam program
pemberian insulin yang digunakan untuk mengontrol kadar
gula darah.
d) Intracutan (IC)
Prinsipnya memasukan obat kedalam jaringan
kulit,Merupakan pemberian obat melalui jaringan intrakutan ini
dilakukan di bawah dermis atau epidermis, secara umum
dilakukan pada daerah lengan tangan bagian ventral. intracutan
biasa digunakan untuk mengetahui sensitivitas tubuh terhadap
obat yang disuntikan agar menghindarkan pasien dari efek
alergi obat (dengan skin test), menentukan diagnosa terhadap
penyakit tertentu (misalnya tuberculin tes).
4) Inhalasi
Inhalasi memberikan pengiriman obat yang cepat melewati
permukaan luas dari saluran nafas dan epitel paru-paru, yang
menghasilkan efek hampir sama dengan efek yang dihasilkan oleh
pemberian obat secara intravena. Rute ini efektif dan
menyenangkan penderita-penderita dengan keluhan pernafasan
seperti asma atau penyakit paru obstruktif kronis karena obat
diberikan langsung ke tempat kerja dan efek samping sistemis
minimal.
5) Intranasal
Desmopressin diberikan secara intranasal pada pengobatan
diabetes insipidus; kalsitonin insipidus; kalsitonin salmon, suatu
hormon peptida yang digunakan dalam pengobtana osteoporosis,
tersedia dalam bentuk semprot hidung obat
narkotik kokain, biasanya digunakan dengan cara mengisap.
6) Intratekal/ intraventrikuler
Kadang-kadang perlu untuk memberikan obat-obat secara
langsung ke dalam cairan serebrospinal, seperti metotreksat pada
leukemia limfostik akut.
7) Topikal
Pemberian secara topikal digunakan bila suatu efek lokal
obat diinginkan untuk pengobatan.
Misalnya, klortrimazol diberikan dalam bentuk krem secara
langsung pada kulit dalam pengobatan dermatofitosis
dan atropin  atropin diteteskan langsung ke dalam mata untuk
mendilatasi pupil dan memudahkan pengukuran kelainan refraksi.

11
8) Transdermal
Rute pemberian ini mencapai efek sistemik dengan
pemakaian obat pada kulit, biasanya melalui suatu “transdermal
patch”. Kecepatan absorbsi sangat bervariasi tergantun pada sifat-
sifat fisik kulit pada tempat pemberian. Cara pemberian obat ini
paling sering digunakan untuk pengiriman obat secara lambat,
seperti obat antiangina, nitrogliserin.
9) Rectal
Merupakan cara memberikan obat dengan memasukkan
obat melalui anus atau rektum, dengan tujuan memberikan efek
lokal dan sistemik.Tindakan pengobatan ini disebut pemberian obat
suppositoria yang bertujuan untuk mendapatkan efek terapi obat,
menjadikan lunak pada daerah feses dan merangsang buang air
besar.
10) Pemberian Obat Melalui Vagina
Merupakan pemberian obat yang dilakukan dengan cara
memasukkan obat melalui vagina yang bertujuan untuk
mendapatkan efek terapi obat dan mengobati saluran vagina atau
serviks.
5. Persiapan pemberian obat
Ada 12 persyaratan sebelum pemberian obat yaitu dengan
prinsip 12 benar. Tetapi yang umumnya dipakai minimal 6 benar.
a. Benar Obat
Sebelum mempersiapkan obat ketempatnya perawat harus
memperhatikan kebenaran obat sebanyak 3 kali yaitu ketika
memindahkan obat dari tempat penyimpanan obat, saat obat
diprogramkan, dan saat mengembalikan ketempat penyimpanan.
b. Benar Dosis
Untuk menghindari kesalahan pemberian obat, maka penentuan
dosis harus diperhatikan dengan menggunakan alat standar seperti obat
cair harus dilengkapi alat tetes, gelas ukur, spuit atau sendok khusus,
alat untuk membelah tablet dan lain-lain sehingga perhitungan obat
benar untuk diberikan kepada pasien.
c. Benar Pasien
Obat yang akan diberikan hendaknya benar pada pasien yang
diprogramkan dengan cara mengidentifikasi kebenaran obat dengan
mencocokkan nama, nomor register, alamat dan program pengobatan
pada pasien.
d. Benar Cara Pemberian Obat

12
Cara pemberian obat yaitu metode atau rute memberikan obat yang
disesuaikan dengan jenis obat, efek obat yang diharapkan dan keadaan
pasien. 

e. Benar waktu
Pemberian obat harus benar-benar sesuai dengan waktu yang
dprogramkan, karena berhubungan dengan kerja obat yang dapat
menimbulkan efek terapi dari obat.
f. Benar Pendokumentasian
Pendokumentasian harus sesuai dengan apa yang telah
diimplementasikan beserta reaksi setelah obat diberikan
g. Benar Pendidikan Perihal Kesehatan
Perawat harus memberikan penjelasan tentang prosedur, fungsi dan
efek dari pemberian obat dengan benar.
h. Benar Hak Pasien untuk Menolak
Perawat tidak boleh memaksakan pemberian terapi obat kepada
pasien apabila pasien menolak diberikan obat.
i. Benar Pengkajian
Sebelum maupun sesudah diberikan obat harus dilakukan
pengkajian dengan benar, sehingga pemberian terapi sesuai dengan apa
yang dibutuhkan klien.
j. Benar Evaluasi
Lakukan pemantauan pasien setelah diberikan obat. Untuk
menghindari terjadinya efek samping yang tidak diinginkan dari obat
yang diberikan.
k. Benar Reaksi Terhadap Makanan
Ada beberapa jenis obat yang bereaksi dengan beberapa jenis
makanan, misalnya obat pemacu jantung yang dapat menimbulkan
efek reaksi berlebihan apabila diberikan dengan kopi atau teh.
l. Benar Reaksi dengan Obat Lain
Kaji saat memberikan beberapa jenis obat sekaligus dalam waktu
yang bersamaan. Biasanya obat yang satu dengan yang lainnya
menimbulkan efek saling menguatkan atau bahkan saling meniadakan.

B. Macam-Macam Medikasi
1. Macam-macam jenis obat
a) Obat bebas

13
Obat bebas adalah obat yang dapat dibeli tanpa resep
dokter. Pada kemasan ditandai dengan lingkaran hitam,
mengelilingi bulatan berwarna hijau. Dalam obat disertai brosur
yang berisi nama obat, nama dan isi zat berkhasiat, indikasi , dosis
dan aturan pakai, nomor batch, nomor registrasi, nama dan alamat
pabrik serta cara penyimpanannya.
b) Obat bebas terbatas
Obat yang digunakan untuk mengobati penyakit ringan
yang dapat dikenali oleh penderita sendiri. Obat bebas terbatas
termasuk obat keras dimana pada setiap takaran yang digunakan
diberi batas dan pada kemasan ditandai dengan lingkaran hitam
mengelilingi bulatan berwarna biru serta sesuai dengan Surat
Keputusan Menteri Kesehatan No. 6355/Dirjen/SK/69 tanggal 5
November 1975 ada tanda peringatan P. No.1 sampai P.No.6 dan
harus ditandai dengan etiket atau brosur yang menyebutkan nama
obat yang bersangkutan, daftar bahan berkhasiat serta jumlah yang
digunakan, nomor batch, tanggal kadaluarsa, nomor registrasi,
nama dan alamat produsen, petunjuk penggunaan, indikasi, cara
pemakaian, peringatan serta kontraindikasi.
c) Obat keras
Obat keras adalah obat yang hanya boleh diserahkan
dengan resep dokter, dimana pada bungkus luarnya diberi tanda
bulatan dengan lingkaran hitam dengan dasar merah yang
didalamnya terdapat huruf "K" yang menyentuh lingkaran hitam
tersebut. Termasuk juga semua obat yang dibungkus sedemikian
rupa yang digunakan secara parenteral baik dengan cara suntikan
maupun dengan cara pemakaian lain dengan jalan merobek
jaringan.
d) Obat Narkotika dan Psikotropika
Narkotika adalah zat atau obat yang berasal dari tanaman
atau bukan tanaman baik sintetis maupun semi sintetis yang dapat
menyebabkan penurunan atau perubahan kesadaran, hilangnya
rasa, mengurangi sampai menghilangkan rasa nyeri dan dapat
menimbulkan ketergantungan, yang dibedakan kedalam golongan-
golongan.
Psikotropika adalah zat atau obat baik alamiah maupun
sintesis bukan narkotika yang berkhasiat psikoaktif melalui
pengaruh selektif pada susunan saraf pusat yang menyebabkan
perubahan khas pada aktivitas mental dan perilaku.

14
C. Macam macam bentuk obat
Macam- macam bentuk obat serta tujuan penggunaannya antara
lain adalah sebagai berikut:
a) Pulvis (Serbuk)
Merupakan campuran kering bahan obat atau zat kimia
yang dihaluskan, ditujukan untuk pemakaian oral atau untuk
pemakaian luar.
b) Pulveres
Merupakan serbuk yang dibagi dalam bobot yang lebih
kurang sama, dibungkus menggunakan bahan pengemas yang
cocok untuk sekali minum.
c) Tablet (Compressi)
Merupakan sediaan padat kompak dibuat secara kempa
cetak dalam bentuk tabung pipih atau sirkuler kedua
permukaan rata atau cembung mengandung satu jenis obat atau
lebih dengan atau tanpa bahan tambahan.
- Tablet Kempa: paling banyak digunakan, ukuran dapat
bervariasi, bentuk serta penandaannya tergantung
design cetakan.
- Tablet Cetak: dibuat dengan memberikan tekanan
rendah pada massa lembab dalam lubang cetakan.
- Tablet Trikurat: tablet kempa atau cetak bentuk kecil
umumnya silindris. Sudah jarang ditemukan
- Tablet Hipodermik: dibuat dari bahan yang mudah larut
atau melarut sempurna dalam air. Dulu untuk membuat
sediaan injeksi hipodermik, sekarang diberikan secara
oral.
- Tablet Sublingual: dikehendaki efek cepat (tidak lewat
hati). Digunakan dengan meletakkan tablet di bawah
lidah.
- Tablet Bukal: digunakan dengan meletakkan di antara
pipi dan gusi.
- Tablet Efervescen: tablet larut dalam air. Harus dikemas
dalam wadah tertutup rapat atau kemasan tahan lembab.
Pada etiket tertulis “tidak untuk langsung ditelan”.

15
- Tablet Kunyah: cara penggunaannya dikunyah.
Meninggalkan sisa rasa enak di rongga mulut, mudah
ditelan, tidak meninggalkan rasa pahit, atau tidak enak.
d) Pilulae (PIL)
Merupakan bentuk sediaan padat bundar dan kecil
mengandung bahan obat dan dimaksudkan untuk pemakaian
oral. Saat ini sudah jarang ditemukan karena tergusur tablet dan
kapsul. Masih banyak ditemukan pada seduhan jamu.
e) Kapsulae(Kapsul)
Merupakan sediaan padat yang terdiri dari obat dalam
cangkang keras atau lunak yang dapat larut. Keuntungan/tujuan
sediaan kapsul yaitu:
- Menutupi bau dan rasa yang tidak enak
- Menghindari kontak langsung dengan udara dan sinar
matahari
- Lebih enak dipandang dan mudah ditelan
- Dapat untuk 2 sediaan yang tidak tercampur secara fisis
(income fisis), dengan pemisahan antara lain
menggunakan kapsul lain yang lebih kecil kemudian
dimasukkan bersama serbuk lain ke dalam kapsul yang
lebih besar.
f) Solutiones (Larutan)
Merupakan sediaan cair yang mengandung satu atau lebih
zat kimia yang dapat larut, biasanya dilarutkan dalam air, yang
karena bahan-bahannya, cara peracikan atau penggunaannya,
tidak dimasukkan dalam golongan produk lainnya (Ansel).
Dapat juga dikatakan sediaan cair yang mengandung satu atau
lebih zat kimia yang larut, misalnya terdispersi secara
molekuler dalam pelarut yang sesuai atau campuran pelarut
yang saling bercampur. Cara penggunaannya yaitu larutan oral
(diminum) dan larutan topikal (kulit).
g) Suspensi
Merupakan sediaan cair yang mengandung partikel padat
tidak larut terdispersi dalam fase cair. Macam suspensi antara
lain: suspensi oral (juga termasuk susu/magma), suspensi
topikal (penggunaan pada kulit), suspensi tetes telinga (telinga
bagian luar), suspensi optalmik, suspensi sirup kering.
h) Emulsi

16
Merupakan sediaan berupa campuran dari dua fase cairan
dalam sistem dispersi, fase cairan yang satu terdispersi sangat
halus dan merata dalam fase cairan lainnya, umumnya
distabilkan oleh zat pengemulsi.
i) Galenik
Merupakan sediaan yang dibuat dari bahan baku yang
berasal dari hewan atau tumbuhan yang disari.

j) Extractum
Merupakan sediaan pekat yang diperoleh dengan
mengekstraksi zat dari simplisia nabati atau simplisia hewani
menggunakan pelarut yang sesuai, kemudian semua atau
hampir semua pelarut diuapkan dan massa atau serbuk yang
tersisa diperlakukan sedemikian sehingga memenuhi baku yang
ditetapkan.
k) Infusa
Merupakan sediaan cair yang dibuat dengan mengekstraksi
simplisia nabati dengan air pada suhu 90oC selama 15 menit.
l) Immunosera (Imunoserum)
Merupakan sediaan yang mengandung Imunoglobin khas
yang diperoleh dari serum hewan dengan pemurnian.
Berkhasiat menetralkan toksin kuman (bisa ular) dan mengikat
kuman/virus/antigen.
m) Unguenta (Salep)
Merupakan sediaan setengah padat ditujukan untuk
pemakaian topikal pada kulit atau selaput lendir. Dapat juga
dikatakan sediaan setengah padat yang mudah dioleskan dan
digunakan sebagai obat luar. Bahan obat harus larut atau
terdispersi homogen dalam dasar salep yang cocok.
n) Suppositoria
Merupakan sediaan padat dalam berbagai bobot dan bentuk,
yang diberikan melalui rektal, vagina atau uretra, umumnya
meleleh, melunak atau melarut pada suhu tubuh. Tujuan
pengobatan yaitu:
- Penggunaan lokal >> memudahkan defekasi serta
mengobati gatal, iritasi, dan inflamasi karena hemoroid.
- Penggunaan sistemik >> aminofilin dan teofilin untuk
asma, chlorprozamin untuk anti muntah, chloral hydrat

17
untuk sedatif dan hipnotif, aspirin untuk analgenik
antipiretik.
o) Guttae (Obat Tetes)
Merupakan sediaan cairan berupa larutan, emulsi, atau
suspensi, dimaksudkan untuk obat dalam atau obat luar,
digunakan dengan cara meneteskan menggunakan penetes yang
menghasilkan tetesan setara dengan tetesan yang dihasilkan
penetes beku yang disebutkan Farmacope Indonesia. Sediaan
obat tetes dapat berupa antara lain: Guttae (obat dalam), Guttae
Oris (tets mulut), Guttae Auriculares (tetes telinga), Guttae
Nasales (tetes hidung), Guttae Ophtalmicae (tetes mata).
p) Injectiones (Injeksi)
Merupakan sediaan steril berupa larutan, emulsi atau
suspensi atau serbuk yang harus dilarutkan atau disuspensikan
lebih dahulu sebelum digunakan, yang disuntikkan dengan cara
merobek jaringan ke dalam kulit atau melalui kulit atau selaput
lendir. Tujuannya yaitu kerja obat cepat serta dapat diberikan
pada pasien yang tidak dapat menerima pengobatan melalui
mulut.

D. Prosedur Pemberian Medikasi


1) Prosedur pemberian obat oral
a) Alat dan bahan
- Baki berisi obat
- Kartu atau buku berisi rencana pengobatan
- Pemotong obat (bila diperlukan)
- Martil dan lumpang penggerus (bila diperlukan)
- Gelas pengukur (bila diperlukan)
- Gelas dan air minum
- Sedotan
- Sendok
- Pipet
- Spuit sesuai ukuran untuk mulut anak-anak
b) Prosedur kerja
- Siapkan peralatan dan cuci tangan
- Kaji kemampuan klien untuk dapat minum obat per oral
(menelan, mual, muntah, adanya program tahan makan
atau minum, akan dilakukan pengisapan lambung dll)

18
- Periksa kembali perintah pengobatan (nama klien, nama
dan dosis obat, waktu dan cara pemberian) periksa
tanggal kedaluarsa obat, bila ada kerugian pada perintah
pengobatan laporkan pada perawat/bidan yang
berwenang atau dokter yang meminta.
- Ambil obat sesuai yang diperlukan (baca perintah
pengobatan dan ambil obat yang diperlukan)
- Siapkan obat-obatan yang akan diberikan. Siapkan
jumlah obat yang sesuai dengan dosis yang diperlukan
tanpa mengkontaminasi obat (gunakan tehnik aseptik
untuk menjaga kebersihan obat).
2) Tablet atau kapsul
(a) Tuangkan tablet atau kapsul ke dalam mangkuk
disposibel tanpa menyentuh obat.
(b) Gunakan alat pemotong tablet bila diperlukan untuk
membagi obat sesuai dengan dosis yang diperlukan.
(c) Jika klien mengalami kesulitan menelan, gerus obat
menjadi bubuk dengan menggunakan martil dan
lumpang penggerus, kemudian campurkan dengan
menggunakan air. Cek dengan bagian farmasi sebelum
menggerus obat, karena beberapa obat tidak boleh
digerus sebab dapat mempengaruhi daya kerjanya.
3) Obat dalam bentuk cair
(a) Kocok /putar obat/dibolak balik agar bercampur dengan
rata sebelum dituangkan, buang obat yang telah berubah
warna atau menjadi lebih keruh.
(b) Buka penutup botol dan letakkan menghadap keatas.
Untuk menghindari kontaminasi pada tutup botol
bagian dalam.
(c) Pegang botol obat sehingga sisa labelnya berada pada
telapak tangan, dan tuangkan obat kearah menjauhi
label. Mencegah obat menjadi rusak akibat tumpahan
cairan obat, sehingga label tidak bisa dibaca dengan
tepat.
(d) Tuang obat sejumlah yang diperlukan ke dalam
mangkuk obat berskala.
(e) Sebelum menutup botol tutup usap bagian tutup botol
dengan menggunakan kertas tissue. Mencegah tutup

19
botol sulit dibuka kembali akibat cairan obat yang
mengering pada tutup botol.
(f) Bila jumlah obat yang diberikan hanya sedikit, kurang
dari 5 ml maka gunakan spuit steril untuk
mengambilnya dari botol.
(g) Berikan obat pada waktu dan cara yang benar.
4) Pemberian obat melalui intra vena
- Alat
(a) Buku catatan pemberian obat atau kartu obat
(b) Kapas alcohol
(c) Sarung tangan
(d) Obat yang sesuai
(e) Spuit 2 ml – 5 ml
(f) Bak spuit
(g) Baki obat
(h) Plester
(i) Perlak pengalas
(j) Pembendung vena (torniquet)
(k) Kassa steril (bila perlu)
(l) Bengkok
- Prosedur kerja
(a) Cuci tangan
(b) Siapkan obat dengan prinsip 6 benar
(c) Salam terapeutik
(d) Identifikasi klien
(e) Beritahu klien dan jelaskan prosedur yang akan
diberikan
(f) Atur klien pada posisi yang nyaman
(g) Pasang perlak pengalas
(h) Bebaskan lengan klien dari baju atau kemeja
(i) Letakkan pembendung
(j) Pilih area penusukan yang bebas dari tanda
kekakuan, peradangan, atau rasa gatal. Menghindari
gangguan absorbsi obat atau cidera dan nyeri yang
berlebihan.
(k) Pakai sarung tangan
(l) Bersihkan area penusukan dengan menggunakan
kapas alkohol, dengan gerakan sirkuler dari arah
dalam keluar dengan diameter sekitar 5 cm. Tunggu

20
sampai kering. Metode ini dilakukan untuk
membuang sekresi dari kulit yang mengandung
mikroorganisme.
(m)Pegang kapas alkohol, dengan jari-jari tengah pada
tangan non dominan.
(n) Buka tutup jarum. Tarik kulit kebawah kurang lebih
2,5 cm dibawah area penusukan dengan tangan non
dominan. Membuat kulit menjadi lebih kencang dan
vena tidak bergeser, memudahkan penusukan.
Sejajar vena yang akan ditusuk perlahan dan pasti.
Pegang jarum pada posisi 30.
(o) Rendahkan posisi jarum sejajar kulit dan teruskan
jarum ke dalam vena
(p) Lakukan aspirasi dengan tangan non dominan
menahan barel dari spuit dan tangan dominan
menarik plunger.
(q) Observasi adanya darah pada spuit
(r) Jika ada darah, lepaskan terniquet dan masukkan
obat perlahan-lahan.
(s) Keluarkan jarum dengan sudut yang sama seperti
saat dimasukkan, sambil melakukan penekanan
dengan menggunakan kapas alkohol pada area
penusukan
(t) Tutup area penusukan dengan menggunakan kassa
steril yang diberi betadin
(u) Kembalikan posisi klien
(v) Buang peralatan yang sudah tidak diperlukan ke
dalam bengkok
(w) Buka sarung tangan
(x) Cuci tangan
(y) Dokumentasikan tindakan yang telah dilakukan
5) Pemberian obat melalui intracutan
- Alat
(a) Spuit dan jarum steril (spuit 1 cc, jarum nomor
25,26,27)
(b) Obat yang diperlukan (vial atau ampul)
(c) Bak spuit steril
(d) Kapas alkohol (kapas air hangat untuk vaksinasi)
(e) Kassa steril untuk membuka ampul (bila perlu)

21
(f) Gergaji ampul (bila perlu)
(g) 2 bengkok (satu berisi cairan desinfektan)
(h) Pengalas (bila perlu)
(i) Sarung tangan steril
(j) Daftar / formulir pengobatan

- Prosedur kerja
(a) Cek instruksi / order pengobatan
(b) Cuci tangan
(c) Siapkan obat, masukan obat dari vial atau ampul
dengan cara yang benar
(d) Identifikasi klien (mengecek nama)
(e) Beritahu klien / keluarga tentang tindakan yang
akan dilakukan serta tujuannya
(f) Bantu klien untuk posisi yang nyaman dan rileks
(lengan bawah bagian dalam, dada bagian atas,
punggung dibawah scapula)
(g) Membebaskan area yang akan disuntik dari pakaian
(h) Pilih area penyuntikan yang tepat (bebas dari
edema, massa, nyeri tekan, jaringan parut,
kemerahan / inflamasi, gatal)
(i) Memakai sarung tangan
(j) Membersihkan tempat penyuntikan dengan
mengusap kapas alkohol atau kapas lembab dari
tengah keluar secara melingkar sekitar 5 cm,
menggunakan tangan yang tidak untuk menginjeksi
(k) Siapkan spuit, lepaskan kap penutup secara tegak
lurus sambil menunggu antiseptik kering dan
keluarkan udara dari spuit
(l) Pegang spuit dengan salah satu tangan yang
dominan antara ibu jari dan jari telunjuk dengan
telapak tangan menghadap kebawah
(m)Pegang erat lengan klien dengan tangan kiri,
tegangkan area penyuntikan
(n) Secara hati - hati tusuk / suntikan jarum dengan
lubang menghadap keatas, sudut 15' pada epidermis
kemudian diteruskan sampai dermis

22
(o) Raih pangkal jarum dengan ibu jari tangan kiri
sebagai fiksasi, lalu dorong cairan obat. akan timbul
tonjolan dibawah permukaan kulit
(p) Cabut spuit / jarum, usap secara pelan area
penyuntikan dengan kapas alkohol / kapas lembab
tanpa melakukan massage
(q) Buang spuit tanpa harus menutup jarum dengan kap
nya (guna mencegah cidera pada perawat) pada
tempat pembuangan secara benar
(r) Melepas sarung tangan dan merapihkan pasien
(s) Membereskan alat – alat
(t) Mencuci tangan
(u) Catat pemberian obat yang telah dilaksanakan
(dosis, waktu, cara) pada lembar obat atau catatan
perawat
(v) Evaluasi respon klien terhadap obat (15 s.d 30
menit)
6)  Pemberian obat melalui sub cutan
- Alat
(a) Spuit 1 cc dengan jarum 24G
(b) Kapas, alkohol spray 70%
(c) Kupet injeksi
(d) Perlak
(e) Obat yang dibutuhkan
(f) Bengkok
(g) Sarung tangan bersih
(h) Catatan pemberian obat injeksi
(i) Alat tulis 
- Prosedur kerja
(a) Lakukan verifikasi program terapi ( benar pasien,
obat, dosis, waktu, tempat injeksi )
(b) Siapkan Alat
(c) Beri salam dan jelaskan tindakan yang akan
dikerjakan pada pasien / keluarga. 
(d) Pakai sarung tangan bersih.
(e) Masukkan obat ke dalam spuit sesuai program
dokter.
(f) Perhatikan prinsip 6 benar.

23
(g) Tentukan daerah yang akan diinjeksi dan lakukan
desinfeksi dengan kapas alkohol.
(h) Masukkan jarum dengan posisi 90° bila memakai
jarum kecil (panjangnya 1 cm), atau dibawah 45°
bila memakai jarum yang lebih panjang.
(i) Lakukan aspirasi dan pastikan jarum tidak masuk ke
pembuluh darah.
(j) Masukkan obat dengan perlahan-lahan.
(k) Observasi kondisi/reaksi pasien.
(l) Cabut jarum dan desinfeksi kulit dengan alkohol.
(m)Rapikan pasien dan alat-alat.
(n) Buka sarung tangan.
(o) Cuci tangan.
(p) Dokumentasikan pada catatan pemberian obat
injeksi.
7) Pemberian obat melalui intramuscular
- Alat dan bahan
(a) Catatan pemberian obat
(b) Obat dalam tempatnya
(c) Spuit dan jarum sesuai dengan ukuran
(d) Kapas alkohol dalam tempatnya
(e) Cairan pelarut
(f) Bak injeksi
(g) Bengkok
- Prosedur kerja
(a) Jelaskan prosedur yang akan dilakukan
(b) Cuci tangan
(c) Ambil obat dan masukan ke dalam spuit sesuai
dengan dosis, kemudian letakkan kedalam bak
injeksi
(d) Periksa tempat yang akan dilakukan penyuntikkan
(e) Desinfeksikan dengan kapas alcohol
(f) Lakukan penyuntikan:
 Pada daerah paha(vestuslateralis) 1/3 bagian
lateral arah ke pangkal paha.
 Pada ventrogluteal (posisi klen
telungkup,bagian bokong dibagi menjadi 4,
daerah injeksi adalah ¼ bagian atas luar)

24
 Pada dorsogluteal ( posisi sim kiri, ibu jari di
trochhanter mayor ,telunjuk di SIAS, jari
tengah menjauhi telunjuk sejauh mungkin,
area injeksi adalah daerah “V” yaitu anatara
jari telunjuk dan jari tengah)
 Pada deltoid (lengan atas) dengan meminta
pasien untuk duduk atau berbaring mendatar
dengan lengan atas fleksi (1/3 bagian atas
lateral)
 Lakukan penusukkan dengan jarum dengan
posisi tegak lurus.
 Setelah jarum masuk lakukan aspirasi spuit
bila tidak ada darah semprotkan obat secara
perlahan sehingga habis.
 Setelah selesai ambil spuit dengan menarik
spuitdan tekan daerah penyuntikkan dengan
kapas alkohol, kemudian spuit yang telah di
gunakan letakkan di bengkok.
 Cuci tangan setelah prosedur dilakukan
 Catat prosedur dan reaksi pemberian.
8) Pemberian obat topical
Pada kulit
- Alat dan bahan
(a) Obat dalam tempatnya losion, krim, spreai, aerosol,
dan bubuk
(b) Kain kasa
(c) Kertas tissue
(d) Balutan
(e) Pengalas
(f) Air sabun dan air hangat
- Prosedur kerja
(a) Jelaskan prosedur yang akan dilakukan
(b) Cuci tangan
(c) Gunakan sarung tangan
(d) Bersihkan daerah yang akan diberi obat dengan air
hangat atau air sabun
(e) Berikan obat sesuai dengan indikasi dan cara
pemakaian, seperti mengoleskan, mengompres.
(f) Cuci tangan setelah prosedur dilakukan.

25
(g) Catat prosedur dan respon pasien.
Pada mata
- Alat dan bahan
(a) Obat dalam tempatnya (tetes steril atau salep)
(b) Plester
(c) Kain kasa
(d) Kertas tisu
(e) Balutan
(f) Sarung tangan
(g) Air hangat atau kapas pelembab
- Prosedur kerja
(a) Jelaskan prosedur yang akan dilakukan
(b) Cuci tangan
(c) Atur posisi pasien dengan kepala menengadah dan
posisi perawat disamping kanan pasien
(d) Gunakan sarung tangan
(e) Bersihkan daerah kelopak
(f) Dan bulu mata dengan kapas lembab(atau tissu)dari
sudut luar mata kearah hidung bila sangat kotor
basuh dengan air hangat
(g) Buka mata dengan menekan perlahan bagian bawah
menggunaakan ibu jari atau jari telunjuk di atas
tulang orbita
(h) Teteskan obat mata diatas sakus konjungtiva sesuai
dosis.Minta pasien untuk menutup mata dengan
perlahan ketika menggunakan tetes mata. Bila
menggunakan obat mata jenis salep,pegang
aplikator di atas tepi kelopak mata.Kemudian tekan
tub hingga obat keluar dan berikan pada kelopak
mata bawah setelah selesai anjurkan pasien untuk
melihat kebawah secara bergantian,berikan obat
pada kelopak mata bagian atas dan biarkan pasien
untuk memejamkan mata dan menggosok kelopak
mata
(i) Tutup mata dengan kassa bila perlu
(j) Cuci tangan setelah prosedur dilakukan
(k) Catat prosedur dan respon pasien
Pada telinga
- Alat dan bahan

26
(a)Obat dalam tempatnya
(b)Penetes
(c)Spekulum telinga pinset anatomi dalam tempatnya
(d)Plester
(e)Kain kassa
(f)Kertas tissue
(g)Balutan
(h)Prosedur kerja
(i)Jelaskan prosedur yang akan dilakukan
(j)Cuci tangan
(k)Atur posisi pasien dengan kepala miring kekanan
atau kekiri sesuai dengan daerah yang akan diobati
upayakan telinga pasien ke atas
(l) Luruskan lubang telinga dengan menarik daun
telinga keatas atau kebelakang
(m)Bila obat berupa tetes, teteskan obat pada dinding
saluran untuk mencegah terhalang oleh gelembung
udara dengan jumlah tetesan sesuai dosis,bila obat
berupa salep, ambil kapas lidi dan oleskan
salep.Kemudian masukkan/oleskan pada liang
telinga
(n) Pertahankan posisi kepala selama 2-3 menit
(o) Tutup telinga dengen balutan dan plester (bila perlu)
(p) Cuci tangan setelah prosedur dilakukan
(q) Catat prosedur dan respon pasien
9) Pemberian obat supositoria
- Alat dan bahan
(a) Obat supositorium dalam tempatnya
(b) Sarung tangan
(c) Kain kassa
(d) Vaselin/jeli/pelumas
(e) Kertas tissue
- Prosedur kerja
(a) Jelaskan prosedur yang akan dilakukan
(b) Cuci tangan
(c) Gunakan sarung tangan
(d) Buka pembungkus obat dan pegang dengan kain
kassa
(e) Olesi ujung obot supositorium dengan pelumas

27
(f) Minta pasien mengambil posisi tidur miring lalu
regangkan bokong dengan perlahan melalui
anus,sfingter interna dan mengenai dinding rektal
kurang lebih 10 cm pada orang dewasa,dan kurang
lebih 5 cm pada anak/bayi
(g) Setelah selesai,tarik jari tangan dan bersihkan
daerah sekitar anal dengan tissue
(h) Anjurkan klien untuk tetap baring terlentang atau
miring selama kurang lebih 15 menit
(i) Kemudian lepaskan sarung tangan dan letakkan
dibengkok
(j) Cuci tangan setelah melakukan Tindakan
(k) Catat prosedur dan respon pasien.
BAB III
PENUTUP

A.   Kesimpulan
Obat merupakan komponen yang penting karena diperlukan dalam
sebagian besar upaya kesehatan baik untuk menghilangkan gejala/symptom dari
suatu penyakit, obat juga dapat mencegah penyakit bahkan obat juga dapat
menyembuhkan penyakit. Tetapi di lain pihak obat dapat menimbulkan efek yang
tidak diinginkan apabila penggunaannya tidak tepat.
Sebagai perawat, perlu kita ketahui dan selalu diingat bahwa dalam
pemberian obat dilakukan dengan akurat oleh perawat. Karena kita tahu bahwa
yang kita hadapi adalah manusia (makhluk hidup) bukan mesin, karena apabila
dalam pemberian obat salah itu akan berakibat fatal. Untuk itu Perawat
menggunakan “enam” benar pemberian obat untuk menjamin pemberian obat
yang benar, yaitu:
a. Benar obat
b. Benar dosis
c. Benar pasien
d. Benar cara pemberian
e. Benar waktu pemberian
f. Benar pendokumentasian
Dalam materi ini kami akan berbagi ilmu atas apa yang sudah kami ketahui
tentang macam- macam cara pemberian obat, yaitu:
a. Pemberian obat oral
b. Pemberian injeksiPemberian secara intracutan (IC)
c. Injeksi intravenaInjeksi subcutan (SC)

28
d. Intramuscular (IM)
e. Obat topikal
f. Inhalasi
g. Transdermal
h. Trantekal

B.     Saran
Pembaca diharapkan mampu mempelajari setiap materi yang sudah
dijelaskan dan dipahami dan mahasiswa mampu menerapkan atau
mengaplikasikan materi tersebut.

Daftar Pustaka
1. Hidayat, A.Aziz Alimul, 2006, Buku saku praktikumKebutuhan Dasar
Manusia, Jakarta: Salemba Medika.
2. Kohn, L.T., Janet M.C., & Molla, S.D. (Ed.). (2000). To err is human :
Building a safer health system. Washington DC: National Academis Press.
3. Page, A. (Ed.). (2004). Keeping Patients Safe: Transforming the work
environment of nurses. Washington DC: National Academies Press.
4. KKP-R. (2010). Laporan insiden keselamatan pasien: Periode Januari-
April 2010 (Kuartal I). Diperoleh dari http://www.inapatsafety-
persi.or.id/?show=data/triwulan12011/lap_ikpl22010
5. KKP-R. (2010). Laporan insiden keselamatan pasien: Periode Mei-
Agustus 2010 (Kuartal I). Diperoleh dari http://www.inapatsafety-
persi.or.id/?show=data/triwulan12011/lap_ikpl22010

29

Anda mungkin juga menyukai