Anda di halaman 1dari 16

JURNAL PRAKTIKUM BIOFARMASETIKA

ABSORBSI OBAT PERORAL (METODE IN VITRO)

Dosen : Dr. apt. Lina Winarti, S.Farm., M.Sc.

Kelompok A2-1
1. Fasya Nadhira Sariful (172210101030)
2. Talidah Alqibtiyah Roja (172210101141)
3. Ayu Mega Lestari (172210101142)
4. Amanda Della Yudatama (182210101008)
5. Karisa Erisna Sitorus (182210101009)

BAGIAN FARMASETIKA
FAKULTAS FARMASI UNIVERSITAS JEMBER
2021
1. Tujuan Percobaan
Percobaan ini bertujuan agar mahasiswa dapat memahami pengaruh pH terhadap
absorpsi obat melalui saluran percernaan secara in vitro

2. Teori Dasar
2.1 Absorbsi obat
Absorbsi obat adalah suatu proses pergerakan obat yang sudah terlarut dari tempat
pemberian ke dalam sirkulasi darah melalui membran pada tempat pemberian obat.
Mekanisme absorpsi terdiri dari tiga macam yaitu (1) difusi pasif, (2) transport
menggunakan protein yang dapat berupa saluran (channel), difusi terfasilitasi oleh
pembawa (carrier) dan transport aktif oleh sistem pompa (pumps). Sebagian besar obat
melalui meknisme difusi pasif, serta (3) pinositosis dan endositosis.
Absorpsi atau penyerapan zat aktif adalah masuknya molekul-molekul obat ke
dalam tubuh atau menuju ke peredaran darah tubuh setelah melewati sawar biologic.
Absorpsi obat adalah peran yang terpenting untuk akhirnya menentukan efektivitas obat
(Joenoes, 2002). Agar suatu obat dapat mencapai tempat kerja di jaringan atau organ, obat
tersebut harus melewati berbagai membran sel. Pada umumnya, membrane sel
mempunyai struktur lipoprotein yang bertindak sebagai membran lipid semipermeabel
(Shargel and Yu, 1988). Sebelum obat diabsorpsi, terlebih dahulu obat itu larut dalam
cairan biologis. Kelarutan serta cepat-lambatnya melarut menentukan banyaknya obat
terabsorpsi. Dalam hal pemberian obat per oral, cairan biologis utama adalah cairan
gastrointestinal, dari sini melalui membrane biologis obat masuk keperedaran sistemik
(Joenoes, 2002).
Penyusun membran sel (gambar 2) adalah dua lapis fospolipid (phospholipid
bilayer) yang terintegrasi juga dengan protein-protein fungsional yang bertanggung jawab
dalam mekanisme obat transport protein. Oleh karena penyusun membran sel adalah lipid
maka secara umum obat yang lebih larut lemak/lipid yang lebih mudah menembus
membran jika mekanisme absorpsinya melalui difusi pasif.
Sebagian besar obat merupakan asam atau basa organik lemah. Absorpsi obat
dipengaruhi oleh derajat ionisasinya pada waktu zat tersebut berhadapan dengan
membran. Membran sel lebih permeabel terhadap bentuk obat yag tidak terionkan
daripada bentuk terionkan, karena obat bentuk tak terion lebih larut lemak dibandingkan
dengan bentuk terion. Derajat ionisasi tergantung pada pH larutan dan pKa obat seperti
terlihat pada persamaan Henderson-Hasselbalch sebagai berikut :
𝑓𝑟𝑎𝑘𝑠𝑖 𝑜𝑏𝑎𝑡 𝑦𝑎𝑛𝑔 𝑡𝑒𝑟𝑖𝑜𝑛𝑘𝑎𝑛
Untuk suatu asam : pH = pKa + log
𝑓𝑟𝑎𝑘𝑠𝑖 𝑜𝑏𝑎𝑡 𝑦𝑎𝑛𝑔 𝑡𝑎𝑘 𝑡𝑒𝑟𝑖𝑜𝑛𝑘𝑎𝑛
𝑓𝑟𝑎𝑘𝑠𝑖 𝑜𝑏𝑎𝑡 𝑦𝑎𝑛𝑔 𝑡𝑒𝑟𝑖𝑜𝑛𝑘𝑎𝑛
Untuk suatu basa : pH = pKa - log
𝑓𝑟𝑎𝑘𝑠𝑖 𝑜𝑏𝑎𝑡 𝑦𝑎𝑛𝑔 𝑡𝑎𝑘 𝑡𝑒𝑟𝑖𝑜𝑛𝑘𝑎𝑛

dengan menyusun kembali persamaan untuk asam :


𝑓𝑟𝑎𝑘𝑠𝑖 𝑜𝑏𝑎𝑡 𝑦𝑎𝑛𝑔 𝑡𝑒𝑟𝑖𝑜𝑛𝑘𝑎𝑛
log = pKa-pH
𝑓𝑟𝑎𝑘𝑠𝑖 𝑜𝑏𝑎𝑡 𝑦𝑎𝑛𝑔 𝑡𝑎𝑘 𝑡𝑒𝑟𝑖𝑜𝑛𝑘𝑎𝑛

Maka secara teoritis dapat ditentukan jumlah relatif dari suatu obat dalam bentuk
tidak terionkan pada berbagai kondisi pH. Untuk obat yang ditranspor secara difusi pasif,
peranan dinding usus hanya sebagai membran difusi. Studi absorpsi in vivo dimaksudkan
untuk memperoleh informasi tentang mekanisme absorpsi suatu bahan obat, tempat
terjadinya absorpsi yang optimal, permeabilitas membran saluran pencernaan terhadap
berbagai obat, serta peranan berbagai factor terhadap absorpsi suatu obat. Absorbsi obat
melalui suatu membran dapat digambarkan melalui persamaan berikut:
𝑑𝑄 1
J= x
𝑑𝑡 𝐴
𝐷
J= x ( Cdonor – Cacceoptor )

J = K =Jumlah obat yang terabsorbsi/menembus membran dengan luas area tertentu
dalam waktu tertentu.
D = koefisien difusi obat
h= tebal membran
Cdonor = konsentrasi obat dalam pembawa
Cacceptor = konsentrasi obat dalammedia reseptor
Dalam kondisi sink, Cdonor > daripada Cacceptor, sehingga persamaan dapat
disederhanakan menjadi:
J = P x Cdonor
𝑑𝑄 1
P= x 𝐴 𝑥 𝐶𝑑𝑜𝑛𝑜𝑟
𝑑𝑡

P = D/H = permeabilitas

2.2 Faktor – faktor yang mempengaruhi absorbsi obat oral


a. Anatomi dan fisiologi tempat absorbsi obat
 Faktor fisiologi
 Fisiologi membrane, mempertimbangkan struktur membrane yaitu obat
harus bisa menembus membrane agar obat dapat masuk ke dalam jaringan
sistemik sehingga nantinya struktur membrane mempengaruhi absorbs
obat . struktur membrane yang memiliki lapisan sel lebih sulit untuk
ditembus oleh obat karena melewati lebih banyak membran sel . susunan
sel yang rapat akan sulit ditembus daripada sel yang mempunyai pori lebih
besar . sel yang kaku lebih sulit untuk ditembus oleh obat . luas pemukaan
membrane usus lebih lebar banyak yang kontak dengan obat sehingga
lebih banyak obat yang masuk
 Fisiologi gastrointestinal
 Kecepatan pengosongan lambung
Kecepatan pengosongan lambung besar >> penurunan proses absorpsi
obat yang bersifat asam
Kecepatan pengosongan lambung kecil >> peningkatan proses absorpsi
obat yang bersifat basa
 Motilitas usus
Jika motilitas usus besar pengosongan lambung cepat >> obat sulit
diabsorbsi
 Pengaruh makanan
Jika ada makanan maka motilitas semakin cepat sehingga sulit diabsorpsi
 Anatomi lambung dan usus
 Penyerapan / absorpsi obat di usus lebih besar daripada dilambung. Di
usus lebih besar karena lapisan transportnya lebih banyak
b. Faktor fisika kimia obat
 Kelarutan : Semakin cepat larut semakin mudah diabsorpsi
 Log P : Semakin besar log P semakin lipofil
 Ukuran partikel : Semakin kecil ukuran partikrl semakin besar luas
permukaan semakin cepat diabsorpsi
 pKa : menentukan bentuk molekulnya terinonisasi atau tidak
terinonisasi
Faktor yang Mempengaruhi Penyerapan Obat Tidak Sempurna
Obat yang diberikan secara oral harus menunjukkan sifat biofarmasi yang sesuai
dan menunjukkan konsentrasi terapeutik yang baik terhadap target obat. Untuk mencapai
sirkulasi darah, molekul obat harus larut dalam cairan gastrointestinal dan dapat
menembus membran sel epitel. Penyerapan obat yang tidak sempurna dapat disebabkan
oleh :
 Disolusi yang terbatas
Disolusi adalah suatu proses pelarutan atau pelepasan zat aktif dari sediaan dan
melarut dalam media pelarut. Ketersediaan suatu obat sangat bergantung pada
kemampuan zat tersebut melarut ke dalam media pelarut sebelum diserap oleh tubuh.
Semakin kecil zat aktif yang terlepas, maka penyerapan obat oleh tubuh juga dalam
jumlah kecil.
 Degradasi, presipitasi, dan kompleksasi obat di saluran cerna
Degradasi, presipitasi, dan kompleksasi obat akan menyebabkan obat tertahan dalam
cairan gastrointestinal. Obat akan sulit menembus membran sel epitel saluran cerna
karena pembentukan kompleks dan perubahan sifat molekul obat akibat degradasi.
 Permeasi terbatas pada mukosa gastrointestinal
Saluran gastrointestinal pada dasarnya adalah saluran epitel berlapis yang
membentang dari mulut ke anus. Saluran ini membatasi antara lumen gastrointestinal
dan sistem peredaran darah. Fungsi dari pembatasan oleh mukosa gastrointestinal
adalah melindungi tubuh dari xenobiotik.

2.3 Mukosa Gastrointestinal


Saluran pencernaan dilapisi oleh selaput lendir (mukosa). Mukosa terdiri atas sel
epitel yang dilapisi dengan mukus dan didukung dengan adanya jaringan ikat longgar
(lamina propia) yang mengandung darah, kapiler limfatik, serta lapisan tipis sel otot polos
(muscularis mucosae). Pada bagian GI yang mengalami penyerapan, mukosa terdiri dari
satu lapis sel epitel (enterosit) dengan lamina propia. Sel epitel ini terpolarisasi, memiliki
membran apical yang menghadap lumen intestinal dan membran basolateral yang
menghadap sisi serosal. Membran tersebut memiliki perbedaan dalam komposisi
fosfolipid dan ekspresi protein. Luas permukaan mukosa mengalami peningkatan dengan
adanya modifikasi seperti lipatan, vill (finger-like projections) dan mikrovili (pada
membrane sel apikal enterosit). Usus halus lebih besar dibandingkan lambung dan usus
besar. Hal ini juga menunjukkan bahwa penyerapan pada usus halus umumnya lebih
besar.
 Mukosa Gastrointestinal sebagai Penghalang untuk Permeasi Obat
a. Penghalang fisika
Untuk mencapai peredaran darah, obat-obatan yang terlarut harus
melewati penghalang fisik yaitu lapisan lendir dan monolayer usus dari enterosit.
Lapisan lendir yang dihasilkan oleh sel gobet bersifat hidrofilik, sehingga dapat
mebatasi proses difusi obat yang bersifat lipofilik kuat (log p >3) yang berakibat
pada penurunan permeabilitas obat. Ruang interseluler menempati < 0,1% dari
luas permukaan epitel total sehingga transport zat melalui rute tersebut juga
menghasilkan penyerapan yang rendah (Jennifer, 2009).
b. Penghalang biokimia
Yang berperan dalam penghalang biokimia adalah adanya proses
metabolism usus. Selain microflora usus, enzim juga berperan dalam proses
metabolism usus. Hal lain yang berperan dalam penghalang biokimia ini adalah
efflux usus juga dapat mempengaruhi penyerapan berbagai senyawa pada lumen
usus (Jennifer, 2009).
Terdapat beberapa mekanisme penembusan obat melalui gastrointestinal
yaitu transport paraseluler (pasif), transport transeluler (pasif), perantara
pembawa uptake (pasif/ aktif), efflux (aktif), dan metabolism intestinal. Beberapa
laporan mengatakan bahwa peran transporter efflux usus dalam memodulasi
penyerapan obat oral sangat penting untuk pengangkut CYP3A ganda/ efflux
ganda substrat. Karena metabolism dan efflux pada usus dapat berkontribusi
untuk mencegah eliminasi sistemik (efek first-pass metabolisme) xenobiotic. Lain
halnya dengan interaksi makanan-obat, eksipien-obat, dan obat-obatan yang dapat
meningkatkan variabilitas dalam penyerapan usus, karena timbul dari interaksi
intraluminal dengan enzim dari pembawa efflux.

 Pengukuran Permeabilitas
Penilaian permeabilitas sangat penting dalam pemilihan obat yang
dimaksudkan untuk pemberian oral dan untuk meningkatkan proses penyerapan
obat. Hal ini dapat tercermin dalam sistem klasifikasi biofarmasi (BCS), dimana
permeabilitas adalah parameter paling penting untuk mengklasifikasikan obat
sesuai dengan sifat biofarmasetikanya. Mengikuti definisi BCS, obat dianggap
sangat permeable bagi kelas I dan II ketika fraksi terserap setidaknya 90% dalam
gastrointestinal dengan syarat obat tersebut harus larut dan stabil. Karena fraksi
yang diserap manusia tidak bisa secara terus-menerus dinilai, maka pendekatan
yang lebih praktis adalah dengan menentukan permeabilitas usus dalam model
dengan sistem yang baik. Berbagai sistem dengan model tersedia untuk menilai
permeabilitas usus. Pada dasarnya, terdapat perbedaan dalam cara simulasi
penghalang gastrointestinal, yaitu terdapat membrane buatan, lapisan sel yang
dikultur, atau jaringan usus nyata. Secara umum bentuk obat tak terion lebih larut
dalam lemak daripada dengan bentuk terion. Derajat ionisasi tergantung pada pH
larutan dan pKa obat.

2.4 Metode Usus Terbalik (Everted Intestinal Rings/ Sacs)


Metode usus terbalik merupakan metode yang relatif sederhana untuk pengukuran
absorbsi. Pada metode ini, bagian usus segera diisolasi setelah hewan ditidurkan.
Kemudian usus dicuci dalam buffer dingin untuk menghilangkan kotoran dan produk
pencernaan. Salah satu ujung potongan usus diikat dengan sepotong jahitan dan ujung
yang tertutup didorong dengan hati-hati menggunakan batang kaca dan menghasilkan
segmen usus dalam-luar. Untuk mendapatkan cincin usus, jaringan dipotong menjadi
cincin sebesar 2-4 mm.
Cincin-cincin tersebut diinkubasi dalam larutan buffer beroksigen karbogen yang
mengandung senyawa yang diteliti dan dikocok dalam bak air. Setelah interval waktu
yang telah ditentukan, cincin diambil dari larutan, dikeringkan, ditimbang, dan dilarutkan/
diproses untuk analisis. Penyerapan senyawa dapat diukur dengan penghitungan
radiolabel/ uji fluorosensi.
Berbeda dengan cincin usus, pada model kantung usus hanya mukosa yang
bersentuhan dengan permeant. Kantung diisi dengan penyangga dan dimasukkan ke
dalam labu dengan penyangga yang mengandung O2 dan senyawa yang sedang diteliti.
Pada akhir percobaan, kantung dibuka dari satu ujung dan cairan serosal dikumpulkan.
Integritas jaringan selama percobaan dapat dapat dilihat dengan mengukur transportasi
penenda seperti pewarna biru trypan.
Meskipun sederhana, penggunaan metode cincin/ kantung usus terbalik untuk
penilaian permeabilitas relatif sangat jarang. Selain itu, penggunaannya relatif tidak
tergantung pada asal jaringan dan kosolven. Metode cincin usus terbalik dapat digunakan
untuk mempelajari perbedaan permeabilitas antara berbagai daerah usus. Berbeda dengan
cincin usus terbalik, difusi para- dan trans- seluler dapat dibedakan dengan model kantung
usus terbalik . Metode kantung usus terbalik juga telah diterapkan untuk penyelidikan
metabolisme obat.
Meskipun metode cincin usus terbalik memiliki beberapa keunggulan, seperti
penggunaannya sederhana dan dapat dibuat dari 1 bagian usus, tetapi metode ini juga
memiliki keterbatasan. Pengangkutan zat terlarut ke dalam cincin mencakup semua area,
bukan hanya melalui membran luminal tetapi jaringan ikat dan jaringan otot juga terkena
larutan obat dan termasuk dalam perhitungan serapan. Selain itu, rute transeluler dan
paraseluler tidak dapat dibedakan dengan metode cincin usus terbalik. Segmen cincin
usus terbalik diklaim hanya layak untuk jangka waktu 30 menit-60 menit meskipun sudah
dipertahankan dalam buffer fisiologis yang mengandung glukosa.
Mirip dengan cincin usus terbalik, metode kantung usus terbalik merupakan
teknik yang relatif murah, sederhana, dan memungkinkan beberapa percobaan dilakukan
menggunakan jaringan hanya dari 1 usus. Model ini digunakan untuk mempelajari
penyerapan secara mekanistik, terutama penyerapan dari berbagai bagian usus kecil dan
besar. Namun, pengikatan yang tidak spesifik, kondisi pengadukan suboptimal dan
kelangsungan hidup yang pendek dari segmen usus tetap menjadi batasan dalam metode
ini.

2.5 Asam Salisilat

Asetosal (asam asetil salisilat) dikenal dengan nama dagang Aspirin, merupakan
obat pereda nyeri golongan 'anti radang non steroid' (AINS), sering digunakan untuk
mengatasi nyeri reumatik, pereda nyeri (analgesik), dan penurun demam
(antipiretik). Asetosal juga mempunyai efek mengurangi daya beku darah, sehingga
dalam dosis rendah sering digunakan untuk penderita penyakit jantung koroner dan stroke
(Familiamedika, 2013).
Asam salisilat dikenal juga dengan asam 2-hidroksi benzoate atau asam
ortohidrobenzoat yang memiliki struktur kimia C7H6O3. Asam salisilat digunakan sebagai
bahan terapi topikal yang digunakan untuk terapi kalus, psoriasis, dermatitis seboroik
pada kulit kepala dan iktiosis. Berbagai penelitian mengumpulkan bahwa ada 3 faktor
penting dalam mekanisme keratolitik asam salisilat yaitu melarutkan ikatan korneosit,
menurunkan ikatan korneosit, melarutkan semen interselluler dan melonggarkan serta
mendisintegrasikan korneosit.
Pemerian : hablur putih, umumnya seperti jarum atau lempengan tersusun, atau
serbuk hablur putih; tidak berbau atau berbau lemah. Stabil di udara kering, di dalam
udara lembab secara bertahap terhidrolisa menjadi asam salisilat dan asam asetat.
Kelarutan : sukar larut dalam air, mudah larut dalam etanol, larut dalam kloroform
dan eter.
Secara umum penggunaan terapi topikal relatif lebih aman dan memiliki efek
samping minimal dibandingkan dengan rute pemberian secara oral. Pada pemberian oral,
sebagian salisilat diabsorpsi dengan daya absorpsi 70% dalam bentuk utuh dalam
lambung, tetapi sebagian besar absorpsi terjadi dalam usus halus bagian atas. Sebagian
asam salisilat dihidrolisis kemudian didistribusikan ke seluruh tubuh dan segera
menyebar ke seluruh tubuh dan cairan transeluler setelah diabsorpsi. Kecepatan absorpsi
tergantung dari kecepatan disintegrasi dan disolusi tablet, pH, permukaan mukosa, dan
waktu pengosongan lambung. Salisilat dapat ditemukan dalam cairan sinovial, cairan
spinal, liur, dan air susu. Kadar tertinggi dapat tercapai kira-kira 2 jam setelah pemberian.
Asam salisilat memiliki efek analgesik tetapi jarang digunakan oral karena
toksisitasnya relatif tinggi, sehingga yang sering digunakan adalah senyawa turunannya.
Tujuan modifikasi asam salisilat adalah untuk meningkatkan efek analgetik dan
mengurangi efek toksik.
Asam salisilat memiliki efek samping berupa iritasi mukosa lambung dengan
resiko tukak lambung dan perdarahan. Jika digunakan dalam dosis besar dapat
menyebabkan iritasi mukosa lambung karena hilangnya efek perlindungan prostaglandin
terhadap mukosa lambung yang sintesisnya dihalangi oleh blockade COX.

3. Alat dan bahan


Alat
- Tabung Crane and Wilson (yang telah dimodifikasi)
- Water bath
- Tabung gas oksigen
- Selang silicon
- Spektrofotometer UV-VIS
- Kuvet
- pH meter
- Timbangan analitik
- Peralatan bedah
- Alat-alat gelas lain yang biasa digunakan di laboratorium

Bahan
- Cairan Lambung Buatan tanpa pepsin pH 1,2 (CLB)
- Cairan Usus Buatan tanpa pankreatin pH 6,8 (CUB)
- Larutan NaCl 0,9% b/v
- Asam salisilat
- Eter
- Gas oksigen
- Alkohol
- Seng sulfat
- Barium hidroksida

Hewan : tikus putih jantan putih

4. Cara Kerja

4.1 Petunjuk Umum

Lakukan percobaan absorpsi obat (asam salisilat) per oral secara in vitro
menggunakan alat Tabung Crane and Wilson yang telah dimodifikasi yang
di dalamnya terpasang usus tikus yang sudah dibalik

Percobaan dilakukan dalam 2 (dua) kondisi pH cairan mukosal yang


berbeda yaitu menggunakan cairan lambung buatan (CLB) yang
mempunyai pH 1,2 dan cairan usus buatan (CUB) yang mempunyai pH 6,8
4.2 Petunjuk Khusus
a. Pembuatan cairan mukosal

Dibuat 2 macam cairan mukosal yaitu CLB dan CUB tanpa enzim sebanyak 1 L

Dibuat larutan CUB dengan melarutkan 6,8 g kalium fosfat monobasa P dalam
500 mL air. Aduk hingga homogen.

Ditambahkan 77 mL Natrium Hidroksida 0,2 N dan 500 mL air, dicampurkan


dan diatur pH hingga 6,8 ± 0,1 dengan penambahan natrum hidroksida 0,2 N
atau asam klorida 0,2 N. Lalu diencerkan dengan air ad 100 mL.

Dibuat larutan CLB tanpa enzim dengan melarutkan 2 g natrium klorida P dalam
7 mL HCL dan ditambahkan air ad 1000 mL.

Diatur pH larutan CLB ± 1,2 disesuaikan dengan pH lambung.

Dilarutkan 500 mg asam salisilat dalam larutan CLB dan CUB tanpa enzim
masing-masing 100 mL

b. Pembuatan Cairan Serosal

Cairan serosal dipresentasikan oleh larutan NaCl 0,9% (b/v) yang isotonis
dengan cairan darah.

Cara 1 : Ditimbang 0,9 g Natrium klorida (NaCl) dan dilarutkan dengan aquades
ad 100 mL.

Cara 2 : Cairan serosal dapat langsung menggunakan cairan infus.


c. Pembuatan Kurva Baku Asam Salisilat dalam NaCl 0,9%

Dibuat kurva baku asam salisilat dalam NaCl 0,9% dengan konsentrasi 5 ppm,
10 ppm, 15 ppm, 30 ppm dan 40 ppm.

Tentukan dua persamaan kurva kalibrasi yang didapat dari y = bx + a

d. Penyiapan Usus Halus Tikus Bagian Ileum yang Dibalik

Digunakan tikus putih jantan.

Tikus dipuasakan selama 20 - 24 jam dengan tetap memberinya minum.

Tikus dibunuh dengan menggunakan eter atau dengan cara lain.

Dibedah perut tikus di sepanjang linea mediana dan keluarkan usus halus.

Dibuang usus tikus sepanjang 15 cm di bawah pylorus dan gunaan usus tikus
sepanjanga 20 cm di bawahnya untuk percobaan.

Usus dibagi menjadi 2 bagian sama panjang. Kemudian dibersihkan.

Ujung kanal dan potongan usus tersebut diikat dengan benang, kemudian
dengan batang gelas yang berdiameter 22 mm dibalikkan usus tikus, sehingga
bagian dalam (mukosa) menjadi di luar dan bagian luar menjadi di dalam.

Usus tikus yang telah dibalik kemudian direndam dalam larutan NaCl 0,9%
sebelum digunakan.
e. Percobaan Absorbsi Obat

Waterbath diisi dengan menggunakan air kran dan diatur alat pada suhu 37 oC

Digunakan 2 tabung Crane dan Wilson, diatur jarak pipa pendek dan panjang
sebesar 15 cm.

Dipasang dua usus tikus yang telah dibalik pada kanula bagian tengah dari
masing-masing 2 tabung.

Diikat masing-masing kedua ujung usus tikus dengan hati-hati jangan sampai
usus putus atau bocor.

Dimasukkan cairan serosal ke dalam kanula tengah dan pastikan cairan


serosal masuk ke dalam usus dan pastikan usus tidak bocor dan dicatat
volume cairan serosal yang bisa masuk.

Setelah dipastikan cairan serosal masuk dan usus tidak bocor, diletakkan
kanula pada tabung Crane and Wilson yang sebelumnya telah diisi cairan
mukosal yaitu CUB dan CLB yang mengandung asam salisilat sebanyak 100
mL dan telah terbasang di waterbath yang bersuhu 37oC

Dialiri kanula pinggir dengan oksigen melalui selang silicon. Atur kecepatang
gelembung agar sama antara tabung 1 dan 2 (100 gelembung/menit).

Dipantau usus agar selama percobaan terendam cairan mukosal.

Diambil sampel dar kanula tengah (cairan serosal) sebanyak 1,5 mL pada
menit ke 5, 10, 20 dan 30.

Disetiap pengambilan sampel, ganti cairan serosal dengan jumlah volume


yang sama (1,5 mL).

Dipipet sebanyak 1,0 mL sampel dan dimasukkan ke dalam tabung reaksi.

Sampel kemudian ditambah dengan 2 mL larutan sengsulfat 5% dan 2 mL


barium hidroksida 0,3 N. Larutan dikocok dan disentrifuge selama 5 menit.

Bagian yang jernih diukur absorban sampel pada panjang gelombang


maksimum.
Dicatat hasil percobaan mengikuti format tabel hasil percobaan absorbsi asam
salisilat per oral secara in vitro.

Dibuat grafik hubungan Qb/cm2 (luas area usus) (sumbu Y) terhadap waktu
(sumbu X) untuk kedua kondisi percobaan dalam satu grafik sehingga didapat
dua garis. (Hitung jari-jari usus dan panjang usus sebagai data untuk menghitung
luas area usus).

Dari persamaan yang didapat, dihitung :


a. Tetapan absorbsi (K) --> (Tetapan absorpsi adalah nilai B dari persamaan)
b. Tetapan permeabilitas (Pm) --> ( Pm = B/konsentrasi asam salisilat dalam
cairan mukosal)
c. Lag time (X) untuk kedua kondisi percobaan dengan memasukkan nilai Y = 0

Dicatat hasil perhitungan mengikuti format tabel rekap hasil perhitungan


absorpsi dari percobaan.
5. Tugas Pendahuluan
Hitung penimbangan dan pengenceran untuk pembuatan kurva baku asam salisilat
dalam NaCl dengan rentang konsentrasi 5-40 ppm !
 Penimbangan
𝑥 𝑚𝑔
 1000 ppm = 200 𝑚𝐿 𝑥 1000

x = 200 mg

 Pengenceran
5 𝑝𝑝𝑚 1000 𝑝𝑝𝑚
 5 ppm ; =
𝑥 𝑚𝐿 200 𝑚𝐿
x = 1 mL
10 𝑝𝑝𝑚 1000 𝑝𝑝𝑚
 10 ppm ; =
𝑥 𝑚𝐿 200 𝑚𝐿
x = 2 mL
15 𝑝𝑝𝑚 1000 𝑝𝑝𝑚
 15 ppm ; =
𝑥 𝑚𝐿 200 𝑚𝐿
x = 3 mL
20 𝑝𝑝𝑚 1000 𝑝𝑝𝑚
 20 ppm ; =
𝑥 𝑚𝐿 200 𝑚𝐿
x = 4 mL
30 𝑝𝑝𝑚 1000 𝑝𝑝𝑚
 30 ppm ; =
𝑥 𝑚𝐿 200 𝑚𝐿
x = 6 mL
40 𝑝𝑝𝑚 1000 𝑝𝑝𝑚
 40 ppm ; =
𝑥 𝑚𝐿 200 𝑚𝐿
x = 8 mL
Daftar Pustaka

Dressman, J.B. 2010. Oral Drug Absorbtion Prediction and Assesmend 2nd Edition. New
York: Informa Health Care.
Joenoes, Z. N. 2002. Ars Prescribendi Jilid 3. Surabaya: Airlangga University Press.
Kim, Kwangjin and Carsten Ehr Hardt. 2011. Drug Absorbtion Studies: In Situ, In Vitro
and In Silico Models. Springer. Vol 7.
Shargel, L and yu, A. B. C. 1988. Biofarmasetika dan Farmakokinetika Terapan.
Surabaya: Airlangga University Press.

Anda mungkin juga menyukai