Anda di halaman 1dari 8

Jurnal AKSI (Akuntansi dan Sistem Informasi) Vol 3 Edisi 1 Mei 2018 p-ISSN : 2528-6145 dan e-ISSN : 254-

3198

ANALISIS KOREKSI FISKAL ATAS LAPORAN KEUANGAN


KOMERSIAL UNTUK MENENTUKAN PAJAK PENGHASILAN
TERUTANG: STUDI INTERPRETIVIST
Lely Kumalawati., SE., MSA., Ak., CA., AAP-B
Lelly@pnm.ac.id
Politeknik Negeri Madiun

Abstrak: Laporan keuangan komersial dan fiscal menuntut adanya penyesuaian karena adanya
perbedaan. Perbedaan yang ada antara lain perbedaan pengakuan biaya dan penyusutan aktiva tetap.
Berdasarkan perbedaan tersebut penelitian ini bertujuan untuk memberikan gambaran perbedaan
antara akuntansi komersial dana kuntansi perpajakan, menjelaskan, serta menghitung perbedaan
tersebut sehingga menghasilkan laporan keuangan yang sesuai dengan peraturan perpajakan. Koreksi
fiskal digunakan sebagai alat dalam perhitungan pajak penghasilan terutang. Metode yang digunakan
penulis dalam penelitian ini adalah dalam perhitungan penyusutan mengunakan garis lurus dan saldo
menurun ganda. Perhitungan pajak penghasilan dihitung berdasarkan regulasi undang-undang pajak
penghasilan pasal 31E. Hasil penelitian koreksi fiscal atas laporan keuangan komersial laba rugi
adalah laporan keuangan menunjukan bahwa perhitungan dan pelaporan pajak penghasilan belum
sesuai dengan undang- undang. Koreksi fiscal menunjukan ada beberapa biaya yang dikoreksi antara
lain biaya penyusutan bangunan dikoreksi negatif sebesar Rp2.874.500,00. Biaya penyusutan
peralatan dikoreksi positif sebesar Rp7.243.275,00. Biaya penyusutan kendaraan dikoreksi positif
sebesar Rp1.734.808,64. Biaya gaji direktur dikoreksi positif sebesar Rp54.000.000,00. Biaya
cadangan kerugian piutang dikoreksi positif sebesar Rp30.000.000,00. Biaya pajak dikoreksi positif
sebesar Rp69.590.000,00. Biaya promosi dikoreksi positif sebesar Rp9.400.000,00. Jumlah koreksi
positif sebesar Rp171.968.083,64 dan koreksi negatif sebesar Rp2.874.500,00. Akibat dari koreksi
tersebut mengakibatkan kenaikan dalam penghasilan kena pajak dari Rp2.241.427.939,36 menjadi
Rp2.518.021.523,00, dan pajak penghasilan yang harus dibayar sebesar Rp299.510.257,62 dikurangi
dengan beban pajak Rp69.590.000,00 sehingga jumlah pajak terutang kurang bayarsebesar
Rp229.920.257,62 dengan demikian perhitungan pajak penghasilan termasuk dalam PPh pasal 29
tentang pajak kurang bayar.

Commercial financial report and fiscal demanded the adjustment because the exsistence of the
differences as outcome and the decrease of the constant activa. Based on those differences, this
research was aimed to give the representation of the difference between the commercial accounting
and the taxation accounting, explain those differences and calculate those differences so that the
writer could arrange the financial report that was agree with the taxation’s rule. The fiscal correction
was used as a tool on calculating the unpaid income tax. In this research, the writer applied the
straight line method and the declining balance double on calculating the decrease of the constant
activa. The calculation of the income tax was calculated based on the regulation of the income tax
law, section 31E.
The resullt of the fiscal correction research on commercial financial report of the profit and loss
showed that its calculation and report had not been agreed with the income tax law yet. It showed that
there were some costs corrected, they were the cost of the building decrease that was corrected as
negative about 2.874.500,00 IDR. The cost of the equipments’ decrease that was corrected as positive
about 7.243.275,00 IDR. The cost of the vehicle’s decrease that was corrected as positive about
1.734.808,64 IDR. The cost of the director’s salary that was corrected as positive about
54.000.000,00 IDR. The back up cost for the loss of the credit that was corrected as positive about
30.000.000,00 IDR. The cost of the tax was corrected as positive about 69.590.000,00 IDR. The cost
of the promotion that was corrected as positive about 9.400.000,00 IDR. Total of the positive
corrections were about 171.968.083,64 IDR and the negative correction was about 2.874.500,00 IDR.
Because of those corrections, taxable income increased from 2.241.427.939,36 IDR to
2.518.021.523,00 IDR and the income tax that should be paid about 299.510.257,62 IDR minus the
tax expense about 69.590.000,00 IDR, so the tax underpayment about 229.920.257,62 IDR. So that,
the calculation of the income tax incuded into PPh section 29 about the tax underpayment.

21
Jurnal AKSI (Akuntansi dan Sistem Informasi) Vol 3 Edisi 1 Mei 2018 p-ISSN : 2528-6145 dan e-ISSN : 254-
3198

Keywords–Commercial Financial Report of Profit and Loss, Fiscal Correction

PENDAHULUAN Berdasarkan rumusan masalah di atas maka


penulis membatasi masalahnya, yaitu sebagai
Pajak merupakan alat bagi pemerintah di berikut:
dalam mencapai tujuan untuk mendapatkan 1. Pembahasan yang dilakukan hanya pada
penerimaan baik yang bersifat langsung koreksi fiskal atas laporan keuangan
maupun tidak langsung dari masyarakat. Pajak komersial yang difokuskan di laporan laba
yang menjadi sumber penerimaan Negara rugi.
salah satunya adalah pajak penghasilan. Pajak 2. Data yang digunakan adalah laporan
penghasilan adalah pajak yang dikenakan keuangan komersial yang terdiri dari:
terhadap subjek pajak atas penghasilan yang a. Neraca
diterima atau diperoleh pada tahun pajak. b. Laporan laba rugi
Pasal 28 ayat (1) dan (7) Undang-Undang c. Laporan perubahan ekuitas
Nomor 28 Tahun 2007 mewajibkan wajib d. Laporan arus kas
pajak dalam negeri untuk menyelenggarakan e. Catatan atas laporan keuangan
pembukuan. Sistem dan cara pembukuan yang
lazim di pakai di Indonesia sesuai dengan
ketentuan perpajakan juga dengan Prinsip METODE PENELITIAN
Akuntansi Indonesia 1984, yang telah diubah Penelitian ini dimulai dari pengumpulan,
menjadi Standar Akuntansi Keuangan per 1 pengolahan, dan analisis dan penyajian data
Oktober 2004, dan selanjutnya cukup disebut yang dilakukan secara sistematis dan objektif.
SAK yang mengalami pembaruan dari tahun
ke tahun. Terdapat perbedaan kepentingan dan Sumber Data
tujuan antara akuntansi dan pajak. Sehingga Dasar-dasar pemilihan data harus sesuai
perlu dilakukan koreksi fiskal dalam dengan permasalahan yang diteliti. Sumber
penentuan pajak penghasilan terutang, salah data harus berhubungan, relevan, dan dapat
satu tujuan cara yang dilakukanadalahkoreksi. dipertanggungjawabkan, karena sumber data
Koreksi yang dilakukan terhadap laba yang tidak tepat dapat mengakibatkan data
akuntansi untuk mendapat laba menurut pajak. yang terkumpul tidak relevan dan kesalahan
Laba pajak dihitung adalah dengan pemahaman pembaca dalam mengartikan
menggunakan konsep cara pengakuan dan maksud penelitian tersebut. Berikut
pengukuran menurut ketentuan perpajakan. merupakan data yang digunakan dalam
Cara yang digunakan untuk membantu penelitian berdasarkan cara memperolehnya
menyesuaikan laporan keuangan menurut antara lain:
standard akuntansi dengan peraturan 1. Data Primer
perpajakan adalah dilakukan penyesuaian Data primer yang digunakan dalam
dalam perhitungan penghasilan kena pajak penelitian ini diperoleh melalui
atau biasa disebut dengan rekonsiliasi fiscal wawancara dengan pihak-pihak yang
atau koreksi fiskal. Koreksi fiscal dibagi terkait dengan masalah yang diteliti
menjadi dua yaitu koreksi fiscal positif dan (informan). Data primer yang diperoleh
koreksi fiscal negatif. Koreksi fiskal dapat peneliti antara lain
menyebabkan laba kena pajak bertambah a. Standar akuntansi yang digunakan
(koreksi positif) dan menyebabkan laba kena b. Laporan keuangan yang terdiri dari
pajak berkurang (koreksi negatif). neraca, laporan laba rugi, laporan
perubahan ekuitas, laporan arus kas,
Adapun rumusan masalah berdasarkan latar dan catatan atas laporan keuangan
belakang diatas adalah bagaimana perlakuan 2. Data Sekunder
koreksi fiskal terhadap laporan keuangan Data sekunder yang digunakan dalam
komersial sesuai undang-undang pajak penelitian ini yaitu:
penghasilan untuk menentukan pajak a. Literatur yang ada di perpustakaan
penghasilan terutang?

22
Jurnal AKSI (Akuntansi dan Sistem Informasi) Vol 3 Edisi 1 Mei 2018 p-ISSN : 2528-6145 dan e-ISSN : 254-
3198

b. Buku – buku dan media internet yang yang digunakan sebagai dasar dari
ada kaitannya dengan topik yang penelitian antara lain:
diteliti a. Laporan keuangan komersial
Data dalam penelitian ini menurut sifatnya b. Standar Akuntansi Keuangan yang
dikelompokan menjadi: digunakan
1. Data Kuantitatif 4. Studi Pustaka
Data kuantitatif yang digunakan dalam Pengumpulan data yang dilakukan penulis
penelitian adalah laporan keuangan yang melalui studi pustaka adalah dengan
digunakan dalam perhitungan pajak membaca buku-buku yang berkaitan yang
penghasilan terutang terdiri dari: dapat dipertanggungjawabkan, antara lain:
a. Neraca a. Buku perpajakan terkait analisis
b. Laporan laba rugi koreksi fiskal
c. Laporan perubahan ekuitas b. Buku akuntansi
d. Laporan arus kas c. Standar akuntansi keuangan
e. Catatan atas laporan keuangan d. Peraturan perpajakan
2. Data Kualitatif e. Jurnal Penelitian
f. Literature tentang penulisan Tugas
Teknik Pengumpulan Data Akhir
Teknik pengumpulan data yang digunakan
untuk mengumpulkan data, mengimpun, Teknik Analisis Data
mengambil, atau menjaring data penelitian Teknik analisis data berikut merupakan
untuk memperoleh data yang diperlukan dalam langkah dan prosedur analisis data yang
penelitian ini adalah sebagai berikut: dilakukan dalam melakukan penelitian yang
1. Wawancara digunakan untuk meningkatkan pemahaman
Wawancara dilaksanakan dengan mengenai materi terkait koreksi fiskal atas
melakukan tanya jawab langsung terhadap laporan keuangan komersial, yaitu:
pihak-pihak yang bersangkutan seperti 1. Tahap pengumpulan data dilakukan
pemilik dan pegawai guna mendapatkan melalui tahapan wawancara, dokumentasi,
data dan keterangan mengenai sejarah observasi, dan studi pustaka. Data-data
perusahaan, penerapan akuntansi dan yang digunakan dalam penyusunan
penerapan atas perhitungan pajak atas laporan keuangan komersialnya
laporan keuangan komersial. Daftar berdasarkan standar akuntansi keuangan
pertanyaan wawancara adalah sebagai pada terdiri dari neraca, laporan laba rugi,
berikut: laporan perubahan ekuitas, laporan arus
1. Apakah memiliki laporan keuangan yang kas, dan catatan atas laporan keuangan.
sesuai dengan Standar Akuntansi 2. Tahap perumusan masalah dalam hal ini
Keuangan? peneliti mengangkat rumusan masalah
2. Bagaimana perhitungan pajak penghasilan yang didasarkan pada latar belakang yang
atas laporan keuangan komersialnya? telah diuraikan sebelumnya sesuai dengan
2. Dokumentasi permasalahan yang dihadapi.
Dokumentasi dalam hal ini merupakan 3. Tahap pengolahan data yaitu menentukan
pengambilan data mengenai hal-hal atau akun yang termasuk beda tetap (perbedaan
variabel. Penulis memperoleh data melalui yang tidak dapat diakui dalam laporan
data-data yang telah dibukukan dan keuangan fiskal) dan beda waktu
diarsipkan berupa: (perbedaan yang bersifat sementara).
a. Data keuangan 4. Tahap selanjutnya yaitu melakukan
b. Catatan keuangan koreksi fiskal atas akun yang telah diolah
c. Kebijakan antara beda tetap dan beda waktu kedalam
d. Profil perusahaan koreksi fiskal positif (laba kena pajak
3. Observasi bertambah) atau koreksi fiskal negatif
Observasi ini dilakukan penelitian (laba kena pajak berkurang) ke dalam
langsung di perusahaan bersangkutan. format koreksi fiskal.
Metode observasi ini digunakan penulis 5. Tahap perhitungan seperti menghitung
untuk mengamati dokumen dan catatan laba kena pajak yang akan digunakan
dalam perhitungan pajak terutang badan

23
Jurnal AKSI (Akuntansi dan Sistem Informasi) Vol 3 Edisi 1 Mei 2018 p-ISSN : 2528-6145 dan e-ISSN : 254-
3198

pada tahun tersebut yang didasarkan pada perpajakan memiliki beberapa perbedaan
format koreksi fiskal yang telah dilakukan untuk itu perlu dilakukan penyesuaian fiskal
pada tahap sebelumnya. Setelah diketahui berdasarkan peraturan perpajakan yang
maka langkah selanjutnya adalah berlaku. Penelitian akan dilakukan pada
menggolongkan tarif pajak yang sesuai laporan laba rugi komersial berdasarkan
dengan penghasilan kena pajak sesuai standar akuntansi. Fokus dalam penelitian ini
dengan peraturan pajak dan peraturan adalah untuk analisis koreksi fiskal dalam
pemerintah. Dasar pengenaan tarif dalam rangka perhitungan pajak penghasilan badan
perhitungan pajak penghasilan sesuai adalah laporan laba rugi komersial tahun 2016.
dengan penghasilan kena pajak dan Data-data pendukung terkait laporan laba-rugi
regulasi yang terkait adalahsebagai untuk tahun 2016 juga dapat diperoleh dan
berikut: dilampirkan, sehingga dapat dilihat rincian
a. Penghasilan Kena Pajakdibawah 4,8 penyesuaian fiskal dan dilakukan perhitungan
Milyar Tarif1% (Pajak Final). pajak penghasilan badan, untuk mengetahui
RegulasiPeraturan Pemerintah Nomor apakah perusahaan telah melakukan koreksi
46 Tahun 2013. fiskal sesuai peraturan pajak yang berlaku
b. Penghasilan Kena Pajakantara 4,8 dalam rangka perhitungan pajak penghasilan
Milyar - 50 Milyar Tarif Proporsional badan atau tidak. Laporan laba-rugi sebagai
Proporsi Subsidi50% × 25% acuan penulis untuk melakukan analisis
Proporsi Non Subsidi25%. koreksi fiskal laporan laba
RegulasiUndang-undang Pajak rugi.Berdasarkanhasilpenelitian,Laporanlabaru
Penghasilan Pasal 31E gitelahdibuatberdasarkanstandarakuntansikeua
c. Penghasilan Kena Pajak diatas 50 ngan (SAK)dengan perolehan pendapatan atau
Milyar Tarif25%. Regulasi Undang- omset sebesar Rp6.959.000.000,00.
undang Pajak Penghasilan Pasal 17 Seluruhpengeluaran yang
6. Penghasilan kena pajak terlebih dahulu terkaitdengankegiatanoperasionalperusahaanse
dibulatkan ke bawah dalam ribuan rupiah pertihargapokokpenjualan yang
penuh, selanjutnya menghitung besarnya didalamnyaterdapatperhitunganhargapokokpro
pajak terutang perusahaan dengan rumus: duksidanseluruhbiayaoperasi yang
PPh badan Terutang = Tarif Pajak x didalamnyaterdapatbiayaadministrasidanumu
Penghasilan Kena Pajak msertabiayapemasarantelahdiakumulasidalamp
Penghasilan kena pajak yang dimaksud erhitunganlabarugisehingga diperoleh laba
dalam Peraturan Pemerintah nomor 46 bersih usaha sebelum pajak sebesar
tahun 2013 adalah omset yang diperoleh, Rp2.241.427.939,36.
sedangkan untuk Undang-Undang nomor
36 tahun 2008 pasal 31E dan pasal 17 Hasil Analisis Koreksi Fiskal Terhadap
tentang pajak penghasilan dalam Laporan Laba Rugi
menghitung pajak penghasilan terutangnya Perbedaan pertimbangan dalam penyusunan
dengan mengalikan tarif dengan laba laporan keuangan komersial dengan aturan
sebelum pajak. perpajakan menghasilkan laba yang menjadi
7. Tahap terakhir yaitu menyimpulkan hasil dasar perhitungan pajak berbeda (laba
koreksi fiskal atas laporan keuangan komersial dan laba fiskal). Perbedaan tersebut
komersial dan jumlah pajak penghasilan terjadi karena perbedaan dalam pengakuan
terutang yang harus dibayar sesuai dengan penghasilan dan beban serta perbedaan dalam
peraturan pajak dan peraturan pemerintah penggunaan metode akuntansi sehingga
yang berlaku. menghasilkan biaya atau penghasilan menjadi
lebih kecil menurut fiscal atau sebaliknya.
Koreksi fiskal dibagi menjadi dua yaitu
HASIL DAN PEMBAHASAN koreksi fiscal positif (jika laba kena pajak
bertambah) dan koreksi fiscal negatif (jika laba
Analisis Koreksi Fiskal Terhadap Laporan kena pajak berkurang). Ketentuan perpajakan
Laba Rugi mempunyai criteria tertentu dalam laporan
Laporan Laba rugi komersial yang dibuat oleh keuangan dimana ukuran-ukuran tersebut
perusahaan berdasarkan standar akuntansi dibuat untuk menentukan besarnya pajak yang
yang berlaku. Standar akuntansi dan peraturan harus dibayar oleh wajib pajak kepada negara.

24
Jurnal AKSI (Akuntansi dan Sistem Informasi) Vol 3 Edisi 1 Mei 2018 p-ISSN : 2528-6145 dan e-ISSN : 254-
3198

Standar akuntansi mempunyai kriteria dalam adalah sebesar Rp18.308.465,00.


pengakuan dan pengukuran data penyusunan Perhitungan beban penyusutan yang
laporan keuangan yang ditujukan untuk dilakukan penulis adalah sebesar
menilai kinerja ekonomi dan keadaan financial Rp16.573.656,00. Perbedaan jumlah
suatu entitas. Laporan laba rugi diperoleh pembebanan yang dilakukan ini terjadi
informasi mengenai ketidak sesuaian antara karena perbedaan estimasi umur ekonomis
biaya-biaya dan pendapatan dengan ketentuan yang digunakan sebagai dasar dalam
perpajakan yang diatur dalam undang-undang perhitungan. Perhitungan tersebut dapat
nomor 36 tahun 2008 tentang pajak disimpulkan bahwa penyusutan komersial
penghasilan, maka perlu dilakukan koreksi lebih besar dibandingkan penyusutan
fiscal atas laporan laba rugi. Hasil penelitian untuk fiskal sebesar Rp1.734.809,00 yang
mengoreksi biaya – biaya penyusutan atas harus dikoreksi positif.
aktiva perusahaan, diantaranya:
a. Penyusutan b. Biaya Gaji Direktur
1. Beban Penyusutan Bangunan Biaya gaji direktur secara komersial dapat
Perhitungan penyusutan bangunan ini diakui sebagai biaya sedangkan dalam
dengan menggunakan metode garis lurus fiskal tidak dapat diakui sebagai biaya atau
(straight line method) sudah sesuai dengan termasuk dalam non deductible exspense
peraturan perpajakan. Biaya penyusutan yang diatur dalam pasal 9 undang-undang
bangunan yang diperhitungkan dan nomor 36 tahun 2008 tentang pajak
dibebankan oleh manajemen perusahaan penghasilan. Biaya gaji direktur harus
sebesar Rp11.498.000,00 sedangkan dikoreksi positif sebesar Rp54.000.000,00.
perhitungan peneliti terhadap penyusutan c. Biaya Cadangan Kerugian Piutang
bangunan ini adalah sebesar Biaya cadangan kerugian piutang yang
Rp14.372.500,00.Selisih biaya penyusutan telah dicadangkan sesuai dengan peraturan
bangunan terjadi karena penentuan umum yang berlaku adalah sebesar
ekonomis yang ditentukan perusahaan Rp30.000.000,00 dengan demikian
belum sesuai dengan peraturan perpajakan perusahaan harus melakukan koreksi
yang berlaku.Perhitungan tersebut dapat positif sejumlah biaya yang dicadangkan.
disimpulkan bahwa penyusutan komersial Akuntansi fiskal mengatur bahwa dalam
lebih kecil dibandingkan penyusutan untuk penghapusan piutang dilakukan pada saat
fiskal sebesar Rp2.874.500,00 yang harus piutangnya nyata-nyata tidak dapat ditagih
dikoreksi negatif. dengan syarat-syarat tertentu yang diatur
2. Beban Penyusutan Peralatan dalam peraturan perpajakan.
Metode yang digunakan dalam d. Biaya Pajak
perhitungan penyusutan peralatan adalah Pembebanan pajak yang dilakukan
metode saldo menurun yang sesuai dengan perusahaan harus dikoreksi karena beban
regulasi perpajakan yang berlaku. pajak yang diakui merupakan angsuran
Kebijakan perusahaan dalam perhitungan pajak yang telah dibayarkan oleh
dan pembebanan beban penyusutan ini perusahaan mulai bulan Januari sampai
adalah sebesar Rp54.896.400,00. Desember 2016. Sesuai dengan peraturan
Perhitungan beban penyusutan yang perpajakan bahwa pada akhir tahun harus
dilakukan penulis adalah sebesar dilakukan perhitungan kembali maka
Rp47.653.125,00. Perbedaan jumlah untuk angsuran pajak yang telah dibayar di
pembebanan yang dilakukan ini terjadi koreksi terlebih dahulu. Beban pajak yang
karena perbedaan estimasi umur ekonomis harus dikoreksi fiskal positif adalah
yang digunakan sebagai dasar dalam sebesar Rp69.590.000,00.
perhitungan. Perhitungan tersebut dapat e. Biaya Promosi
disimpulkan bahwa penyusutan komersial Biaya promosi yang diakui perusahaan
lebih besar dibandingkan penyusutan sesuai dengan peraturan yang berlaku
untuk fiskal sebesar Rp7.243.275,00 yang adalah sebesar Rp9.400.000,00 dengan
harus dikoreksi positif. demikian perusahaan harus melakukan
3. Beban Penyusutan Kendaraan koreksi positif sejumlah biaya promosi.
Kebijakan perusahaan dalam perhitungan Akuntansi fiskal mengatur bahwa dalam
dan pembebanan beban penyusutan ini pengakuan biaya promosi harus dilengkapi

25
Jurnal AKSI (Akuntansi dan Sistem Informasi) Vol 3 Edisi 1 Mei 2018 p-ISSN : 2528-6145 dan e-ISSN : 254-
3198

dengan daftar nominatif dengan syarat- telah dibayarkan, dengan demikian


syarat tertentu yang diatur dalam peraturan perusahaan harus membayar
perpajakan. kekurangannya membayar pajak sebesar
Rp229.920.257,62. Pajak yang terutang
Pajak Penghasilan oleh perusahaan tergolong dalam kurang
1. Pajak Terutang bayar yang diatur dalam undang-undang
Pajak penghasilan terutang adalah pajak nomor 36 tahun 2008 pasal 29 maka
yang harus dibayar pada suatu saat, dalam jumlah kurang bayar tersebut dilaporkan
masa pajak, dalam tahun pajak, atau dalam ke kantor pajak dengan menggunakan
bagian tahun pajak sesuai dengan aplikasi atau formulir kekurangan tersebut
ketentuan perundang-undangan yang dilaporkan di formulir induk (1771 atau
berlaku. Pajak penghasilan terutang yang 1771/$).
harus dibayar oleh perusahaan adalah
sebesar Rp299.510.257,62 KESIMPULAN DAN SARAN
(Rp104.208.944,96 + Rp195.301.312,66). Kesimpulan
Laba bersih setelah pajak yang diperoleh Hasil penelitian dan pembahasan pada bab
perusahaan tahun 2016 sebesar sebelumnya digunakan sebagai dasar dalam
Rp2.218.511.265,38 hasil ini dari menarik kesimpulan pada bab ini. Hasil
perhitungan laba kena pajak dikurangi penelitian terkait analisis koreksi fiskal atas
jumlah pajak terutang setelah dilakukan laporan keuangan komersial untuk
koreksi fiskal (Rp2.518.021.523,00 – menentukan pajak penghasilan terutang maka
Rp299.510.257,62). penulis dapat memberikan kesimpulan sebagai
2. Pajak Lebih Bayar Atau Kurang Bayar berikut:
Pajak lebih atau kurang bayar timbul 1. Perlakuan koreksi fiskal atas laporan
apabila pajak yang terutang dalam suatu keuangan komersial laba rugi. Perbedaan
tahun pajak lebih kecil atau lebih besar, perlakuan koreksi fiskal dengan
jika pajak terutang lebih kecil dari jumlah perhitungan laporan keuangan komersial
kredit pajak maka setelah dilakukan diantaranya adalah:
pemeriksaan, kelebihan pembayaran pajak a. Biaya penyusutan aktiva tetap dalam
dikembalikan setelah diperhitungkan perhitungan penyusutan disebabkan
dengan utang pajak berikut sanksi adanya perbedaan masa manfaat antara
sanksinya, namun apabila pajak yang komersial dan fiskal. Aktiva tetap
terutang lebih besar maka kekurangan yang perlu dikoreksi antara lain
pembayaran pajak yang terutang harus bangunan dikoreksi negatif sebesar
dilunasi sebelum Surat Pemberitahuan Rp2.874.500,00. Peralatan dikoreksi
Tahunan Pajak Penghasilan positif sebesar Rp7.243.275,00.
disampaikan.Pajak terutang setahun yang Kendaraan dikoreksi positif sebesar
seharusnya dibayar oleh perusahaan Rp1.734.808,64. Regulasi terkait
setelah dilakukan koreksi fiskal adalah dengan penyusutan dalam pajak diatur
sebesar Rp299.510.257,62. Beban pajak dalam undang-undang nomor 36 tahun
yang telah dibayarkan adalah 2008 tentang pajak penghasilan pasal
Rp69.590.000,00. 11 dan Peraturan Menteri Keuangan
Tabel 1. Perhitungan Pajak Lebih Bayar Atau Nomor 96/PMK.03/2009 tentang
Kurang Bayar jenis-jenis harta yang termasuk dalam
kelompok harta berwujud bukan
Perhitungan Pajak Lebih Atau Kurang bangunan untuk keperluan penyusutan.
Bayar Tahun 2016 b. Biaya gaji direktur yang secara
Pajak Terutang Rp299.510.257,62
komersial diakui sebagai biaya
Kredit Pajak Rp69.590.000,00 -
Pajak Kurang Bayar Rp299.920.257,62
sedangkan dalam fiskal tidak diakui
sebagai biaya (Non Deductible
Perhitungan diatas diperoleh hasil sebesar Exspense) yang diatur dalam undang-
Rp299.510.257,62 dan hasil tersebut undang nomor 36 tahun 2008 tentang
menyatakan bahwa pajak yang terutang pajak penghasilan pasal 9, sehingga
lebih besar dari pada kredit pajak yang biaya gaji direktur dikoreksi positif
sebesar Rp54.000.000,00.

26
Jurnal AKSI (Akuntansi dan Sistem Informasi) Vol 3 Edisi 1 Mei 2018 p-ISSN : 2528-6145 dan e-ISSN : 254-
3198

c. Biaya cadangan kerugian piutang Desember tahun 2016 sebesar


akuntansi komersial mengatur bahwa Rp229.920.257,62 (Rp299.510.257,62 –
penghapusan piutang ditentukan Rp69.590.000,00).
berdasarkan metode cadangan
sedangkan dalam fiskal penghapusan Saran
piutang dilakukan pada saat Saran yang dapat penulis berikan berdasarkan
piutangnya nyata-nyata tidak dapat kesimpulan yang dijadikan sebagai acuan
ditagih dengan syarat-syarat tertentu dalam penelitian ini adalah sebagai berikut:
yang diatur dalam undang-undang 1. Perusahaan memberikan pelatihan kepada
nomor 36 tahun 2008 tentang pajak karyawan terkait dengan keuangan yang
penghasilan pasal 6 yang diperjelas berkelanjutan terkait dengan
dalam Peraturan Menteri Keuangan perkembangan peraturan mengenai
Nomor 81/MK.03/2009 sehingga perpajakan yang berlaku.
biaya cadangan kerugian piutang 2. Perusahaan dalam melakukan
dikoreksi positif sebesar penghitungan penyusutan sebaiknya
Rp30.000.000,00. dilakukan sesuai dengan penyusutan fiskal
d. Biaya pajak yang diakumulasi selama dari sisi umur manfaat aset, agar tidak ada
masa Januari sampai Desember. perbedaan antara penyusutan komersial
Pembebanan biaya pajak pada masa dan fiskal ditahun berikutnya.
tersebut merupakan angsuran pajak 3. Perusahaan membuat daftar nominatif atas
yang dapat dikreditkan yang termasuk penghapusan piutang dan biaya promosi
dalam pajak penghasilan pasal 25. yang dilakukan dengan klien agar biaya
Periode desember dalam perhitungan cadangan kerugian piutang dan biaya
pajak penghasilan terutang badan promosi dapat diakui sebagai biaya dalam
beban pajak harus dikoreksi agar tidak fiskal.
ada pengenaan pajak ganda, sehingga 4. Perusahaan membuat koreksi fiskal atas
biaya pajak harus dikoreksi positif laporan keuangan komersial agar
sebesar Rp69.590.000,00. diperoleh laporan keuangan fiskal yang
e. Biaya promosi harus dikoreksi karena digunakan sebagai dasar dalam
dalam fiskal biaya promosi boleh perhitungan pajak penghasilan terutang
diakui jika disertai daftar nominatif. badan. Tujuan koreksi fiskal ini adalah
Regulasi yang terkait adalah undang- dapat diketahui laporan keuangan
undang nomor 36 tahun 2008 tentang berdasarkan peraturan perpajakan tanpa
pajak penghasilan pasal 6 dan merubah sistem akuntansi yang berlaku di
didukung degan Peraturan Menteri dalam perusahaan.
Keuangan Nomor 02/PMK.03/2010
tentang biaya promosi, sehingga harus DAFTAR PUSTAKA
dikoreksi positif sebesar
Rp9.400.000,00. [1] Agoes, Sukrisno dan Trinawati, Estralita.
2. Penerapan koreksi fiskal atas laporan 2013. Akuntansi Perpajakan Berbasis
keuangan komersial laba rugi menujukkan ETAP. Edisi 3. Jakarta: Salemba Empat.
hasil penghasilan kena pajak [2] Badriyah, Hurriyah. 2015. Praktis
Rp2.518.021.523,00 Terdapat selisih Menyusun Laporan Keuangan : Buku
antara fiskal dan komersial sebesar Praktis Step By Step Dalam Menguasai
Akuntansi. Jakarta: Vicosta Publising.
Rp276.593.583,64 (Rp2.518.021.523,00 –
[3] B. Ilyas, Wirawan, dan Suhartono Rudy.
Rp2.241.427.939,36). 2012. Perpajakan. Jakarta : Mitra Wacana
3. Pengenaan tarif pajak penghasilan terutang Media.
adalah UU PPh pasal 31E dengan dasar [4] Diana, Anastasia, dan Setiawati Lilis. 2014.
perhitungan pajak penghasilan kena pajak. Perpajakan Teori dan Peraturan Pajak
Pajak penghasilan terutang setelah koreksi Terkini. Yogyakarta : Andi.
fiskal adalah sebesar Rp299.510.257,62. [5] Direktorat Jendral Pajak (2007). Undang-
4. Perhitungan jumlah pajak kurang yang undang No.28 Tahun 2007 tentang
diakumulasi atas perhitungan pajak Perubahan Keempat atas Undang-undang
penghasilan terutang dikurangi dengan No.6 Tahun 1983 tentang Ketentuan Umum
beban pajak masa Januari sampai

27
Jurnal AKSI (Akuntansi dan Sistem Informasi) Vol 3 Edisi 1 Mei 2018 p-ISSN : 2528-6145 dan e-ISSN : 254-
3198

dan Tata Cara Perpajakan. Jakarta: [16] Peraturan Menteri Keuangan Nomor
Departemen Keuangan Republik Indonesia. 96/PMK.03/2009 Tentang Jenis-Jenis Harta
[6] Direktorat Jendral Pajak (2008). Undang- Yang Termasuk Dalam Kelompok Harta
undang No.36 Tahun 2008 tentang Berwujud Bukan Bangunan Untuk
Perubahan keempat atas Undang-undang Keperluan Penyusutan.
No.7 Tahun 1983 tentang Pajak [17] Peraturan Pemerintah Republik Indonesia
Penghasilan. Jakarta: Departemen Nomor 46 Tahun 2013 tentang Pajak
Keuangan Republik Indonesia. Penghasilan Atas Penghasilan Dari Usaha
[7] Emzir. 2012. Metodologi Penelitian Yang Diterima Atau Diperoleh Wajib Pajak
Kualitatif Analisis Data. Jakarta: Rajawali Yang Memiliki Peredaran Bruto Tertentu.
Pers. [18] Reeve, Warren. Duchac. Et al. 2013.
[8] Hery. 2016. Mengenal dan Memahami Pengantar Akuntansi-Adaptasi Indonesia.
Dasar-Dasar Laporan Keuangan. Jakarta : Jakarta : Salemba Empat.
PT.Grasindo. [19] Resmi, Siti. 2014. Perpajakan. Jakarta:
[9] Ikatan Akuntan Indonesia (IAI). 2014. Salemba Empat.
Standar Akutansi Keuangan. Jakarta : [20] Rudianto. 2012. Pengantar Akuntansi,
Jakarta. Konsep dan Teknik Penyusunan Laporan
[10] Lubis, Irsan. 2015. Mahir Akuntansi Pajak Keuangan. Jakarta: Erlangga.
Terapan Berbasis Standar Akuntansi dan [21] Siregar, Syofian. 2015. Metode Penelitian
Ketentuan Pajak Terbaru, Edisi 1. Kuantitatif: dilengkapi Dengan Perhitungan
Yogyakarta: Andi. Manual dan SPSS. Jakarta : Prenadamedia
[11] Mardiasmo. 2011. Perpajakan, Edisi Revisi. Grup.
Andi: Yogyakarta. [22] Sodikin, Slamet Sugiri dan Riyono, Bogat
[12] Nazir, Moh. 2013. Metode Penelitian. Agus. 2014. Akuntansi Pengantar 1.
Cetakan ke-8. Bogor : Ghalia Indonesia. Yogyakarta : Unit Penerbit dan Percetakan.
[13] Pandiangan, Liberti. 2014. Administrasi [23] Suandy, Erly. 2013. Perencanaan Pajak.
Perpajakan. Jakarta : Erlangga. Jakarta : Salemba Empat.
[14] Peraturan Menteri Keuangan Nomor [24] Sumarsan, Thomas. 2013. Perpajakan
02/PMK.03/2010 Tentang Biaya Promosi Indonesia, Edisi 3. Jakarta : PT.Indeks.
Yang Dapat Dikurangkan Dari Penghasilan [25] Syakur. 2015. Intermediate Accounting.
Bruto. Jakarta : AV. Publisher.
[15] Peraturan Menteri Keuangan Nomor [26] Waluyo. 2012. Akuntansi Pajak. Jakarta :
81/MK.03/2009 Tentang Pembentukan Atas Salemba Empat.
Pemupukan Dana Cadangan Yang Boleh
Dikurangkan Sebagai Biaya.

28

Anda mungkin juga menyukai