Anda di halaman 1dari 26

LAPORAN PENDAHULUAN

HIPOGLIKEMIA

DISUSUN OLEH:

IKA YUDANINGRUM, S.Kep


(200103068)

FAKULTAS KESEHATAN

PROGRAM STUDI PROFESI NERS

UNIVERSITAS AISYAH PRINGSEWU LAMPUNG

TAHUN 2020
LAPORAN PENDAHULUAN HIPOGLIKEMIA

A. DEFINISI HIPOGLIKEMIA
Hipoglikemia merupakan penyakit yang disebabakan oleh kadar gula darah
(glukosa) yang rendah. Dalam keadaan normal, tubuh mempertahankan kadar gula
darah antara 70-11- mg/dl ( Aina Abata, 2014).
Hipoglikemia merupakan salah satu komplikasi akut yang dialami oleh penderita
diabetes mellitus. Hipoglikemia disebut juga sebagai penurunan kadar gula darah
yang merupakan keadaan dimana kadar glukosa darah berada di bawah normal, yang
dapat terjadi karena ketidak seimbangan antara makanan yang dimakan, aktivitas fisik
dan obat-obatan yang digunakan. Sindrom hipoglikemia ditandai dengan gejala klinis
antara lain penderita merasa pusing, lemas, gemetar, pandangan menjadi kabur dan
gelap, berkeringat dingin, detak jantung meningkat dan terkadang sampai hilang
kesadaran (syok hipoglikemia) (Nabyl, 2009).
Hipoglikemia =Hipoglikemia murni=True hypoglicemy=gejala hipoglikemia apabila
gula darah < 60 mg/dl.(Dr Soetomo ,1998).
Definisi kimiawi dari hipoglokemia adalah glukosa darah kurang dari 2,2 m mol/l,
walaupun gejala dapat timbul pada tingkat gula darah yang lebih tinggi. (Petter
Patresia A,1997).
Hipoglikemia adalah batas terendah kadar glukosa darah puasa(true glucose) adalah
60 mg %,dengan dasar tersebut maka penurunan kadar glukosa darah di bawah 60 mg
%. (Wiyono ,1999).

Type hipoglikemi digolongkan menjadi beberapa jenis yakni:

1. Transisi dini neonatus ( early transitional neonatal ) : ukuran bayi yang besar

ataupun normal yang mengalami kerusakan sistem produksi pankreas sehingga

terjadi hiperinsulin.
2. Hipoglikemi klasik sementara (Classic transient neonatal) : tarjadi jika bayi

mengalami malnutrisi sehingga mengalami kekurangan cadangan lemak dan

glikogen.

3.  Sekunder (Scondary) : sebagai suatu respon stress dari neonatus sehingga terjadi

peningkatan metabolisme yang memerlukan banyak cadangan glikogen.

4. Berulang (Recurrent) : disebabkan oleh adanya kerusakan enzimatis, atau

metabolisme

B. ETIOLOGI

Hipoglikemia bisa disebabkan oleh:

a. Pelepasan insulin yang berlebihan oleh pancreas

b.  Dosis insulin atau obat lainnya yang terlalu tinggi, yang diberikan kepada

penderita diabetes untuk menurunkan kadar gula darahnya

c.  Kelainan pada kelenjar hipofisa atau kelenjar adrenal

d.  Kelainan pada penyimpanan karbohidrat atau pembentukan glukosa di hati.

Adapun penyebab Hipoglikemia yaitu :

1.    Dosis suntikan insulin terlalu banyak.

Saat menyuntikan obat insulin, anda harus tahu dan paham dosis obat yang anda

suntik sesuai dengan kondisi gula darah saat itu. Celakanya, terkadang pasien tidak

dapat memantau kadar gula darahnya sebelum disuntik, sehingga dosis yang

disuntikan tidak sesuai dengan kadar gula darah saat itu. Memang sebaiknya bila

menggunakan insulin suntik, pasien harus memiliki monitor atau alat pemeriksa gula

darah sendiri.
2.      Lupa makan atau makan terlalu sedikit.

Penderita diabetes sebaiknya mengkonsumsi obat insulin dengan kerja lambat dua

kali sehari dan obat yang kerja cepat sesaat sebelum makan. Kadar insulin dalam

darah harus seimbang dengan makanan yang dikonsumsi. Jika makanan yang anda

konsumsi kurang maka keseimbangan ini terganggu dan terjadilah hipoglikemia.

3.      Aktifitas terlalu berat.

Olah raga atau aktifitas berat lainnya memiliki efek yang mirip dengan insulin. Saat

anda berolah raga, anda akan menggunakan glukosa darah yang banyak sehingga

kadar glukosa darah akan menurun. Maka dari itu, olah raga merupakan cara terbaik

untuk menurunkan kadar glukosa darah tanpa menggunakan insulin.

4.      Minum alkohol tanpa disertai makan.

Alkohol menganggu pengeluaran glukosa dari hati sehingga kadar glukosa darah

akan menurun.

5.      Menggunakan tipe insulin yang salah pada malam hari.

Pengobatan diabetes yang intensif terkadang mengharuskan anda mengkonsumsi obat

diabetes pada malam hari terutama yang bekerja secara lambat. Jika anda salah

mengkonsumsi obat misalnya anda meminum obat insulin kerja cepat di malam hari

maka saat bangun pagi, anda akan mengalami hipoglikemia.

6.      Penebalan di lokasi suntikan.

Dianjurkan bagi mereka yang menggunakan suntikan insulin agar merubah lokasi

suntikan setiap beberapa hari. Menyuntikan obat dalam waktu lama pada lokasi yang

sama akan menyebabkan penebalan jaringan. Penebalan ini akan menyebabkan

penyerapan insulin menjadi lambat.


7.      Kesalahan waktu pemberian obat dan makanan.

Tiap tiap obat insulin sebaiknya dikonsumsi menurut waktu yang dianjurkan. Anda

harus mengetahui dan mempelajari dengan baik kapan obat sebaiknya disuntik atau

diminum sehingga kadar glukosa darah menjadi seimbang.

8.      Penyakit yang menyebabkan gangguan penyerapan glukosa.

Beberapa penyakit seperti celiac disease dapat menurunkan penyerapan glukosa oleh

usus. Hal ini menyebabkan insulin lebih dulu ada di aliran darah dibandingan dengan

glukosa. Insulin yang kadung beredar ini akan menyebabkan kadar glukosa darah

menurun sebelum glukosa yang baru menggantikannya.

9.      Gangguan hormonal.

Orang dengan diabetes terkadang mengalami gangguan hormon glukagon. Hormon

ini berguna untuk meningkatkan kadar gula darah. Tanpa hormon ini maka

pengendalian kadar gula darah menjadi terganggu.

10.   Pemakaian aspirin dosis tinggi.

Aspirin dapat menurunkan kadar gula darah bila dikonsumsi melebihi dosis 80 mg.

11.   Riwayat hipoglikemia sebelumnya.

Hipoglikemia yang terjadi sebelumnya mempunyai efek yang masih terasa dalam

beberapa waktu. Meskipun saat ini anda sudah merasa baikan tetapi belum menjamin

tidak akan mengalami hipoglikemia lagi.


C. PATOFISIOLOGI

Seperti sebagian besar jaringan lainnya, matabolisme otak terutama bergantung pada

glukosa untuk digunakan sebagai bahan bakar. Saat jumlah glukosa terbatas, otak

dapat memperoleh glukosa dari penyimpanan glikogen di astrosit, namun itu dipakai

dalam beberapa menit saja. Untuk melakukan kerja yang begitu banyak, otak sangat

tergantung pada suplai glukosa secara terus menerus dari darah ke dalam jaringan

interstitial dalam system saraf pusat dan saraf-saraf di dalam system saraf tersebut.

Oleh karena itu, jika jumlah glukosa yang di suplai oleh darah menurun, maka akan

mempengaruhi juga kerja otak. Pada kebanyakan kasus, penurunan mental seseorang

telah dapat dilihat ketika gula darahnya menurun hingga di bawah 65 mg/dl (3.6

mM). Saat kadar glukosa darah menurun hingga di bawah 10 mg/dl (0.55 mM),

sebagian besar neuron menjadi tidak berfungsi sehingga dapat menghasilkan koma.

Diabetes ketoasidosis disebabkan oleh tidak adanya insulin atau tidak cukupnya

jumlah insulin yang nyata, keadaan ini mengakibatkan gangguan pada metabolisme

karbohidrat, protein, lemak, ada tiga gambaran klinis yang penting pada diabetes

ketoasidosis.

1. dehidrasi

2. kehilangan elektrolit

3. asidosis

Apabila jumlah insulin berkurang jumlah glukosa yang memasuki sel akan

berkurang pula, di samping itu produksi glukosa oleh hati menjadi tidak terkendali,

kedua factor ini akan menimbulkan hipoglikemia. Dalam upaya untuk menghilangkan

glukosa yang berlebihan dalam tubuh, ginjal akan mengekskresikan glukosa bersama-
sama air dan elektrolit (seperti natrium dan kalium). Diuresis osmotic yang di tandai

oleh urinaria berlebihan (poliuria) ini akan menyebabkan dehidrasi dan kehilangan

elektrolit. penderita ketoasidosis diabetic yang berat dapat kehilangan kira-kira 6,5

liter air dan sampai 400 hingga mEq natrium, kalium serta klorida selama periode

waktu 24 jam.

Akibat defisiensi insulin yang lain adalah pemecahan lemak (liposis) menjadi

asam-asam lemak bebas dan gliseral.asam lemak bebas akan di ubah menjadi badan

keton oleh hati, pada keton asidosis diabetic terjadi produksi badan keton yang

berlebihan sebagai akibat dari kekurangan insulin yang secara normal akan mencegah

timbulnya keadaan tersebut, badan keton bersifat asam, dan bila bertumpuk dalam

sirkulasi darah, badan keton akan menimbulkan asidosis metabolic.

Pada hipoglikemia ringan ketika kadar glukosa darah menurun, sistem saraf

simpatik akan terangsang. Pelimpahan adrenalin ke dalam darah menyebabkan gejala

seperti perspirasi, tremor, takikardi, palpitasi, kegelisahan dan rasa lapar.

Pada hipoglikemia sedang, penurunan kadar glukosa darah menyebabkan sel-sel

otak tidak memperoleh cukup bahan bakar untuk bekerja dengan baik. Tanda-tanda

gangguan fungsi pada sistem saraf pusat mencakup ketidak mampuan berkonsentrasi,

sakit kepala,vertigo, konfusi, penurunan daya ingat, pati rasa di daerah bibir serta

lidah, bicara pelo, gerakan tidak terkoordinasi, perubahan emosional, perilaku yang

tidak rasional, penglihatan ganda dan perasaan ingin pingsan. Kombinasi dari gejala

ini (di samping gejala adrenergik) dapat terjadi pada hipoglikemia sedang.

Pada hipoglikemia berat fungsi sistem saraf pusat mengalami gangguan yang

sangat berat, sehingga pasien memerlukan pertolongan orang lain untuk mengatasi
hipoglikemia yang di deritanya. Gejalanya dapat mencakup perilaku yang mengalami

disorientasi, serangan kejang, sulit di bangunkan dari tidur atau bahkan kehilangan

kesadaran (Smeltzer. 2001).

Pathway Hipoglikemia

(Smeltzer. 2001)
D. MANIFESTASI KLINIK

Hipoglikemi terjadi karena adanya kelebihan insulin dalam darah sehingga

menyebabkan rendahnya kadar gula dalam darah. Kadar gula darah yang dapat

menimbulkan gejala-gejala hipoglikemi, bervariasi antara satu dengan yang lain.

Pada awalnya tubuh memberikan respon terhadap rendahnya kadar gula darah dengan

melepasakan epinefrin (adrenalin) dari kelenjar adrenal dan beberapa ujung saraf.

Epinefrin merangsang pelepasan gula dari cadangan tubuh tetapi jugamenyebabkan

gejala yang menyerupai serangan kecemasan (berkeringat, kegelisahan, gemetaran,

pingsan, jantung berdebar-debar dan kadang rasa lapar). Hipoglikemia yang lebih

berat menyebabkan berkurangnya glukosa ke otak dan menyebabkan pusing,

bingung, lelah, lemah, sakit kepala, perilaku yang tidak biasa, tidak mampu

berkonsentrasi, gangguan penglihatan, kejang dan koma. Hipoglikemia yang

berlangsung lama bisa menyebabkan kerusakan otak yang permanen. Gejala yang

menyerupai kecemasan maupun gangguan fungsi otak bisa terjadi secara perlahan

maupun secara tiba-tiba. Hal ini paling sering terjadi pada orang yang memakai

insulin atau obat hipoglikemik per-oral. Pada penderita tumor pankreas penghasil

insulin, gejalanya terjadi pada pagi hari setelah puasa semalaman, terutama jika

cadangan gula darah habis karena melakukan olah raga sebelum sarapan pagi. Pada

mulanya hanya terjadi serangan hipoglikemia sewaktu-waktu, tetapi lama-lama

serangan lebih sering terjadi dan lebih berat.

Tanda dan gejala dari hipoglikemi terdiri dari dua fase antara lain:

1. Fase pertama yaitu gejala- gejala yang timbul akibat aktivasi pusat autonom di

hipotalamus sehingga dilepaskannya hormone epinefrin. Gejalanya berupa palpitasi,


keluar banyak keringat, tremor, ketakutan, rasa lapar dan mual (glukosa turun 50 mg

%.)

2. Fase kedua yaitu gejala- gejala yang terjadi akibat mulai terjadinya gangguan

fungsi otak, gejalanya berupa pusing, pandangan kabur, ketajaman mental menurun,

hilangnya ketrampilan motorik yang halus, penurunan kesadaran, kejang- kejang dan

koma (glukosa darah 20 mg%).

E. PENATALAKSANAAN

1.  Glukosa Oral 
Sesudah diagnosis hipoglikemi ditegakkan dengan pemeriksaan glukosa darah

kapiler, 10-   20 gram glukosa oral harus segera diberikan. Idealnya dalam bentuk

tablet, jelly atau 150- 200 ml minuman yang mengandung glukosa seperti jus buah

segar dan nondiet cola. Sebaiknya coklat manis tidak diberikan karena lemak dalam

coklat dapat mengabsorbsi glukosa. Bila belum ada jadwal makan dalam 1- 2 jam

perlu diberikan tambahan 10- 20 gram karbohidrat kompleks.Bila pasien mengalami

kesulitan menelan dan keadaan tidak terlalu gawat, pemberian gawat, pemberian

madu atau gel glukosa lewat mukosa rongga hidung dapat dicoba.             

2.  Glukosa Intramuskular
Glukagon 1 mg intramuskuler dapat diberikan dan hasilnya akan tampak dalam 10

menit. Glukagon adalah hormon yang dihasilkan oleh sel pulau pankreas, yang

merangsang pembentukan sejumlah besar glukosa dari cadangan karbohidrat di dalam

hati. Glukagon tersedia dalam bentuk suntikan dan biasanya mengembalikan gula

darah dalam waktu 5-15 menit. Kecepatan kerja glucagon tersebut sama dengan
pemberian glukosa intravena. Bila pasien sudah sadar pemberian glukagon harus

diikuti dengan pemberian glukosa oral 20 gram (4 sendok makan) dan dilanjutkan

dengan pemberian 40 gram karbohidrat dalam bentuk tepung seperti crakers dan

biscuit untuk mempertahankan pemulihan, mengingat kerja    1 mg glucagon yang

singkat (awitannya 8 hingga 10 menit dengan kerja yang berlangsung selama 12

hingga 27 menit). Reaksi insulin dapt pulih dalam waktu5 sampai 15 menit. Pada

keadaan puasa yang panjang atau hipoglikemi yang diinduksi alcohol, pemberian

glucagon mungkin tidak efektif. Efektifitas glucagon tergantung dari stimulasi

glikogenolisis yang terjadi

3.  Glukosa Intravena
Glukosa intravena harus dberikan dengan berhati- hati. Pemberian glukosa dengan

konsentrasi 40 % IV sebanyak 10- 25 cc setiap 10- 20 menit sampai pasien sadar

disertai infuse dekstrosa 10 % 6 kolf/jam.

PENATALAKSANAAN KEGAWATDARURATAN HIPOGLIKEMIA

Gejala hipoglikemia akan menghilang dalam beberapa menit setelah penderita


mengkonsumsi gula (dalam bentuk permen atau tablet glukosa) maupun minum jus
buah, air gula atau segelas susu. Seseorang yang sering mengalami hipoglikemia
(terutama penderita diabetes), hendaknya selalu membawa tablet glukosa karena
efeknya cepat timbul dan memberikan sejumlah gula yang konsisten. Baik penderita
diabetes maupun bukan, sebaiknya sesudah makan gula diikuti dengan makanan yang
mengandung karbohidrat yang bertahan lama (misalnya roti atau biskuit). Jika
hipoglikemianya berat dan berlangsung lama serta tidak mungkin untuk memasukkan
gula melalui mulut penderita, maka diberikan glukosa intravena untuk mencegah
kerusakan otak yang serius. Seseorang yang memiliki resiko mengalami episode
hipoglikemia berat sebaiknya selalu membawa glukagon. Glukagon adalah hormon
yang dihasilkan oleh sel pulau pankreas, yang merangsang pembentukan sejumlah
besar glukosa dari cadangan karbohidrat di dalam hati. Glukagon tersedia dalam
bentuk suntikan dan biasanya mengembalikan gula darah dalam waktu 5-15 menit.
Tumor penghasil insulin harus diangkat melalui pembedahan. Sebelum pembedahan,
diberikan obat untuk menghambat pelepasan insulin oleh tumor (misalnya diazoksid).
Bukan penderita diabetes yang sering mengalami hipoglikemia dapat menghindari
serangan hipoglikemia dengan sering makan dalam porsi kecil.

F. KOMPLIKASI

Komplikasi dari pada gangguan tingkat kesadaran yang berubah selalu dapat
menyebabkan gangguan pernafasan, selain itu hipoglikemia juga dapat
mengakibatkan kerusakan otak akut, hipoglikemia berkepanjangan parah bahkan
dapat menyebabkan gangguan neuropsikologis sedang sampai dengan gangguan
neuropsikologis berat karena efek hipoglikemia berkaitan dengan system saraf pusat
yang biasanya ditandai oleh perilaku dan pola bicara abnormal (jevon, 2010) dan
menurut Kedia (2011) hipoglikemia yang berlangsung lama bisa menyebabkan
kerusakan otak yang permanen, hipoglikemia juga dapat menyebabkan koma sampai
kematian.

G. PENGKAJIAN PADA HIPOGLIKEMIA

Pengkajian Primer

1. Airway

Menilai jalan nafas bebas. Apakah pasien dapat bernafas dengan bebas,ataukah ada

secret yang menghalangi jalan nafas. Jika ada obstruksi, lakukan : Chin lift/ Jaw

thrust, Suction, Guedel Airway, Instubasi Trakea.


2. Breathing

Bila jalan nafas tidak memadai, lakukan :

Beri oksigen, Posisikan semi Flower.

3. Circulation

a) Menilai sirkulasi / peredaran darah

b) Cek capillary refill

c) Auskultasi adanya suara nafas tambahan

d) Segera Berikan Bronkodilator, mukolitik.

e) Cek Frekuensi Pernafasan

f) Cek adanya tanda-tanda Sianosis, kegelisahan

g) Cek tekanan darah

h) Penilaian ulang ABC diperlukan bila kondisi pasien tidak stabil

4.  Disability

Menilai kesadaran pasien dengan cepat, apakah pasien sadar, hanya respon terhadap

nyeri atau sama sekali tidak sadar. Kaji pula tingkat mobilisasi pasien. Posisikan

pasien posisi semi fowler, esktensikan kepala, untuk memaksimalkan ventilasi.

Segera berikan Oksigen sesuai dengan kebutuhan, atau instruksi dokter.

Pengkajian sekunder
Data dasar yang perlu dikaji adalah :

1. Keluhan utama :

sering tidak jelas tetapi bisanya simptomatis, dan lebih sering hipoglikemi merupakan
diagnose sekunder yang menyertai keluhan lain sebelumnya seperti asfiksia, kejang,
sepsis.
2. Riwayat :

o    ANC

o    Perinatal

o    Post natal

o    Imunisasi

o    Diabetes melitus pada orang tua/ keluarga

o    Pemakaian parenteral nutrition

o    Sepsis

o    Enteral feeding

o    Pemakaian Corticosteroid therapi

o    Ibu yang memakai atau ketergantungan narkotika

o    Kanker

3.   Data fokus

Data Subyektif:

o  Sering masuk dengan keluhan yang tidak jelas

o  Keluarga mengeluh bayinya keluar banyak keringat dingin

o  Rasa lapar (bayi sering nangis)

o  Nyeri kepala

o  Sering menguap

o  Irritabel

Data obyektif:

o  Parestisia pada bibir dan jari, gelisah, gugup, tremor, kejang, kaku,
o  Hight—pitched cry, lemas, apatis, bingung, cyanosis, apnea, nafas cepat irreguler,

keringat dingin, mata berputar-putar, menolak makan dan koma

o  Plasma glukosa < 50 gr/

Pengkajian head to toe


                                    Data subyektif :

1. Riwayat penyakit dahulu

2. Riwayat penyakit sekarang

3. Status metabolik : intake makanan yang melebihi kebutuhan kalori,infeksi atau

penyakit-penyakit akut lain, stress yang berhubungandengan faktor-faktor psikologis

dan social, obat-obatan atau terapi lainyang mempengaruhi glikosa darah,

penghentian insulin atau obat antihiperglikemik oral.

 Data Obyektif

a. Aktivitas / Istirahat

Gejala : Lemah, letih, sulit bergerak/berjalan, kram otot, tonus ototmenurun,

gangguan istrahat/tidur Tanda : Takikardia dan takipnea pada keadaan istrahat atau

aktifitasLetargi/disorientasi, koma.

b. Sirkulasi

Gejala : Adanya riwayat hipertensi, IM akut, klaudikasi, kebas dankesemutan pada

ekstremitas, ulkus pada kaki, penyembuhan yanglama, takikardia.Tanda : Perubahan

tekanan darah postural, hipertensi, nadi yangmenurun/tidak ada, disritmia, krekels,

distensi vena jugularis, kulit panas, kering, dan kemerahan, bola mata cekung.

c. Integritas/ Ego
Gejala : Stress, tergantung pada orang lain, masalah finansial yang berhubungan

dengan kondisi

Tanda : Ansietas, peka rangsang

d. Eliminasi

Gejala : Perubahan pola berkemih (poliuria), nokturia, rasanyeri/terbakar, kesulitan

berkemih (infeksi), ISK baru/berulang, nyeritekan abdomen, diare.Tanda : Urine

encer, pucat, kuning, poliuri ( dapat berkembangmenjadi oliguria/anuria, jika terjadi

hipovolemia berat), urin berkabut, bau busuk (infeksi), abdomen keras, adanya asites,

bising usus lemahdan menurun, hiperaktif (diare)

e. Nutrisi/Cairan

Gejala : Hilang nafsu makan, mual/muntah, tidak mematuhi diet, peningkatan

masukan glukosa/karbohidrat, penurunan berat badanlebih dari beberapa hari/minggu,

haus, penggunaan diuretik (Thiazid)Tanda : Kulit kering/bersisik, turgor jelek,

kekakuan/distensiabdomen, muntah, pembesaran tiroid (peningkatan

kebutuhanmetabolik dengan peningkatan gula darah), bau halisitosis/manis, bau buah

(napas aseton)

f. Neurosensori

Gejala : Pusing/pening, sakit kepala, kesemutan, kebas, kelemahan pada otot,

parestesi, gangguan penglihatanTanda : Disorientasi, mengantuk, alergi, stupor/koma

(tahap lanjut),gangguan memori (baru, masa lalu), kacau mental, refleks tendondalam

menurun (koma), aktifitas kejang (tahap lanjut dari DKA).


g. Nyeri/kenyamanan

Gejala : Abdomen yang tegang/nyeri (sedang/berat)Tanda : Wajah meringis dengan

palpitasi, tampak sangat berhati-hati

h. Pernapasan

Gejala : Merasa kekurangan oksigen, batuk dengan/tanpa sputum purulen (tergantung

adanya infeksi/tidak)Tanda : Lapar udara, batuk dengan/tanpa sputum purulen,

frekuensi pernapasan meningkat

i.  Keamanan

Gejala : Kulit kering, gatal, ulkus kulitTanda : Demam, diaphoresis, kulit rusak,

lesi/ulserasi, menurunnyakekuatan umum/rentang gerak, parestesia/paralisis otot

termasuk otot-otot pernapasan (jika kadar kalium menurun dengan cukup tajam)

j. Seksualitas

Gejala : Rabas vagina (cenderung infeksi)Masalah impoten pada pria, kesulitan

orgasme pada wanita

k. Penyuluhan/pembelajaran

Gejala : Faktor resiko keluarga DM, jantung, stroke, hipertensi.Penyembuhan yang

lambat, penggunaan obat sepertii steroid, diuretik (thiazid), dilantin dan fenobarbital

(dapat meningkatkan kadar glukosa darah). Mungkin atau tidak memerlukan obat

diabetik sesuai pesanan. Rencana pemulangan : Mungkin memerlukan bantuan dalam

pengaturan diit, pengobatan, perawatan diri, pemantauan terhadap glukosa darah.

PEMERIKSAAN PENUNJANG HIPOGLIKEMIA

1. Gula darah puasa


Diperiksa untuk mengetahui kadar gula darah puasa (sebelum diberi glukosa 75 gram

oral) dan nilai normalnya antara 70- 110 mg/dl.

2. Gula darah 2 jam post prandial

Diperiksa 2 jam setelah diberi glukosa dengan nilai normal < 140 mg/dl/2 jam

3. HBA1c

Pemeriksaan dengan menggunakan bahan darah untuk memperoleh kadar gula darah

yang sesungguhnya karena pasien tidak dapat mengontrol hasil tes dalam waktu 2- 3

bulan. HBA1c menunjukkan kadar hemoglobin terglikosilasi yang pada orang normal

antara 4- 6%. Semakin tinggi maka akan menunjukkan bahwa orang tersebut

menderita DM dan beresiko terjadinya komplikasi.

4.  Elektrolit, tejadi peningkatan creatinin jika fungsi ginjalnya telah terganggu.

5.  Leukosit, terjadi peningkatan jika sampai terjadi infeksi.

H. DIAGNOSA KEPERAWATAN
1. Ketidakefektifan bersihan jalan nafas b.d inflamasi, obstruksi jalan nafas
2. Gangguan perfusi jaringan serebral b.d disfungsi system saraf pusat akibat
hipoglikemia
I. PERENCANAAN

DIAGNOSA TUJUAN DAN


NO INTERVENSI RASIONAL
KEPERAWATAN KRITERIA HASIL

1. Ketidakefektifan Setelah dilakukan Intervensi mandiri: 1. Adanya bunyi ronchi

bersihan jalan nafas tindakan 1. Auskultasi bunyi menandakan terdapat

b.d inflamasi, keperawatan…X24 nafas tambahan : penumpukan secret

obstruksi jalan nafas jam diharapkan jalan ronchi, berlebihan di jalan

nafas normal dengan wheezing. nafas.

kriteria hasil : 2. Berikan posisi 2. Posisi

1. Frekuensi dan nyaman untuk memaksimalkan

irama nafas dalam mengurangi ekspansi paru dan

batas normal (16- dispnea. menurunkan upaya

20x/mnt) 3. Bersihkan secret pernapasan.

2. Tidak ada sputum dari mulut dan 3. Mencegah obtruksi

3. Klien mampu trakea : lakukan atau aspirasi.

mengeluarkan penghisapan Penghisapan dapat

sputum secara sesuai keperluan. diperlukan bila klien

efektif 4. Anjurkan asupan tak mampu

cairan adekuat mengeluarkan sekret

5. Ajarkan batuk sendiri.

efektif 4. Mengoptimalkan

Intervensi keseimbangan cairan

kolaborasi : dan membantu


6 .kolaborasi mengencerkan secret

pemberian sehingga mudah di

oksigen keluarkan.

7. kolaborasi 5. Fisioterapi dada/back

pemberian massage dapat

broncodilator membantu

sesuai indikasi. menjatuhkan secret

yang ada di jalan

nafas.

6. Meringankan kerja

paru untuk memenuhi

kebutuhan oksigen

serta memenuhi

kebutuhan oksigen

dalam tubuh.

7. Broncodilator

meningkatkan ukuran

lumen percabangan

trakeobronkial

sehingga menurunkan

tahanan terhadap

aliran udara.
Gangguan perfusi
jaringan serebral b.d 1.   Agar pasien lebih
2. Setelah dilakukan Intervensi mandiri:
disfungsi system kooperatif
saraf pusat akibat 1.   Jelaskan kepada
tindakan keperawatan
hipoglikemia 2.   Perubahan tekanan CSS
pasien tentang tindakan
selama…x24 jam merupakan potensi resiko
yang akan dilakukan
herniasi batang otak
diharapkan gangguan 2.  Pertahankan posisi
3.   aktivitas seperti ini akan
tirah baring dengan posisi
perfusi jaringan
meningkatkan intra thorak dan
kepala head up
cerebral normal abdomen yang dapat
3.   Bantu pasien untuk
meningkatkan TIK
dengan kriteria hasil : berkemih, membatasi
4.   Pengkajian kecenderungan
1.Tingkat kesadaran batuk, muntah, mengejan,
adanya perubahan tingkat
komposmentis anjurkan pasien napas
kesadaran dan potensial
2.   2 .Disorientasi tempat, dalam selama pergerakan
peningkatan TIK sangat
waktu, orang secara 4.   Pantau status
berguna dalam menentukan
tepat neurologis dengan teratur
lokalisasi
3.   3. TTV dalam batas 5.   Pantau TTV
5.   Perubahan pada frekuensi
normal (suhu 35,5ºC –
jantung mencerminkan
37,5ºC, nadi 60-100
trauma/tekanan batang otak
x/menit, tekanan darah
120/80 mmHg)
DAFTAR PUSTAKA

Herdman,  Heather.  2010.  Nanda International  Diagnosis Keperawatan 


Definisi  dan Klasifikasi  2009-  2011.  Jakarta: EGC

Jevon,  Philip.  2010.  Basic  Guide  To Medical  Emergencies  In  The


Dental  Practice.  Inggris:  Wiley Blackwell

Kedia, Nitil. 2011. Treatment of Severe Diabetic  Hypoglycemia  With


Glucagon:  an  Underutilized Therapeutic  Approach.  Dove Press Journal

McNaughton,  Candace  D.  2011. Diabetes  in  the  Emergency


Department:  Acute  Care  of Diabetes  Patients.  Clinical Diabetes

RA, Nabyl. 2009. Cara mudah Mencegah Dan Mengobati Diabetes


Mellitus. Yogyakarta : Aulia Publishing

Setyohadi,  Bambang.  2011. Kegawatdaruratan  Penyakit Dalam.


Jakarta: Pusat Penerbitan Ilmu Penyakit Dalam