Anda di halaman 1dari 5

Pengertian transpirasi

Transpirasi merupakan suatu proses penyerapan sejumlah air tanah yang digunakan untuk
memenuhi kebetuhan fisiologisnya yang kemudian dilepaskan ke atmosfer melalui proses
transpirasi (Chakraborty et al., 2018). Transpirasi tanaman juga dapat didefinisikan sebagai
proses pergerakan air melalui tanaman dan penguapannya dari bagian udara sebagai proses dasar
yang diatur dalam periode waktu singkat oleh konduktansi stomata (Wang and Jin, 2015).
Dengan kata lain transpirasi dapat diartikan sebagai pelepasan air yang ada dalam tumbuhan
yang diserap dari tanah dan dilepaskan ke atmosfer.

Chakraborty, S., A. R. Belekar, A. Datye and N. Sinha. 2018. Isotopic study of intraseasonal
variations of plant transpiration : an alternative means to characterise the dry phases of
monsoon. Scientific Reports. 8 (8647) : 1-11.

Wang, Q. and J. Jin. 2015. Leaf transpiration of drought tolerant plant can be captured by
hyperspectral reflectance using PLSR analysis. iForest. 9:30-37.

Peran Transpirasi
Transpirasi memiliki peran yang penting bagi tumbuhan yaitu untuk mengontrol keseimbangan
energi permukaan tanah, menetukan respon hidrologi daerah tangkapan air dan mempengaruhi
iklim regional dan global. Secara struktural dan fisiologis, tanaman melakukan penyesuaian
terhadap lingkungannya untuk mempertahankan integritas hidrolik dan fungsi metabolisme
ketika berada pada cekaman kekeringan dengan berbagai dengan berbagai skala waktu dan
kondisi lingkungan. Penyesuaian yang dilakukan oleh tumbuhan ini menentukan tanaman dalam
mengatur transpirasi pada kondisi ketersediaan air yang tidak tetap (Poyatos et al., 2016).

Poyatos, R., V. Granda, R. M-Horas, M. Mencuccini, K. Steppe, and J. M-Vilalta. 2016.


SAPFLUXNET : towards a global database of sap flow measurements. Tree Physiology.
36 : 1449-1455.
Dampak negatif

Proses transpirasi mengakibatkan penarikan air melawan gaya gravitasi bumi dan panas
matahari. Hal ini karena melalui proses transpirasi terjadi penguapan air dan penguapan yang
akan membantu menurunkan suhu tanaman. Melalui proses transpirasi, tanaman juga akan terus
mendapatkan air yang cukup untuk melakukan fotosintesis sehingga keberlangsungan hidup
tanaman dapat terus terjamin (Papuangan et al., 2014). Transpirasi dapat membahayakan
tanaman jika lengas tanah terbatas, penyerapan air tidak mampu mengimbangi laju transpirasi,
Ψw sel turun, Ψp menurun, tanaman layu, layu permanent, mati, hasil tanaman menurun.

Papuangan, N., Nurhasanah, dan M. Djurumudi. 2014. Jumlah dan distribusi stomata pada
tanaman penghijauan di Kota Ternate. Jurnal Bioedukasi. 3(1) : 287-29.

Mekanisme transpirasi

Mekanisme transpirasi dimulai ketika air diangkut dari akar. Air diserap ke dalam
akar secara osmosis melalui rambut akar, sebagian besar bergerak menurut gradien potensial
air melalui xilem. Air dalam pembuluh xilem mengalami tekanan besar karena molekul air
polar menyatu dalam kolom berlanjut akibat dari penguapan yang berlangsung di bagian atas.
Sebagian besar ion bergerak melalui simplas dari epidermis akar ke xilem, dan kemudian ke
atas melalui arus transportasi.
Faktor-faktor yang Mempengaruhi Transpirasi
1. Faktor internal
Faktor internal adalah faktor yang mempengaruhi kecepatan transpirasi tersebut
disebabkan oleh kondisi tanaman itu sendiri:
a. Penutupan stomata
Stomata berperan penting dalam adaptasi tumbuhan untuk menyesuaikan dengan ketersediaan air
dimana stomata akan mengatur pembukaan dan penutupan stomata dalam pengaturan laju
transpirasi (Kalsumy dan Nihayati, 2018). Sebagian besar transpirasi terjadi melalui stomata
karena kutikula secara relatif tidak tembus air dan hanya sedikit transpirasi yang terjadi apabila
stomata tertutup. Jika stomata terbuka lebih lebar, lebih banyak pula kehilangan air tetapi
peningkatan kehilangan air ini lebih sedikit untuk mesing-mesing satuan penambahan lebar
stomata. Faktor utama yang mempengaruhi pembukaan dan penutupan stomata dalam kondisi
lapangan ialah tingkat cahaya dan kelembaban.
Kalsumy, U. dan E. Nihayati. 2018. Pengaruh interval fertigasi dan perbedaan media tanam
terhadap pertumbuhan dan hasil tomat cherry (Lycopersicum cerasiformae Mill.) dengan
sistem hidroponik. Jurnal Produksi Tanaman. 6 (1) : 2903-2909.
b. Jumlah dan ukuran stomata
Jumlah dan ukuran stomata dipengaruhi oleh genotipe dan lingkungan. Jumlah dan ukuran
stomata mempunyai pengaruh yang lebih sedikit terhadap transpirasi total dari pada pembukaan
dan penutupan stomata.
c. Jumlah dan kondisi morfologis daun
Semakin banyak jumlah daun, maka makin banyak jumlah stomata, sehingga makin besar
transpirasinya (Papuangan et al., 2014). Makin luas daerah permukaan daun, makin besar
evapotranspirasi. Kondisi morfologis, seperti luas daun, ketebalan, ada tidaknya lapisan lilin atau
kutikula, banyak sedikitnya bulu di permukaan daun, juga mempengaruhi kecepatan transpirasi
suatu tanaman. Semakin tinggi indeks luas daun maka semakin tinggi laju transpirasi. Hal ini
karena transpirasi dikontrol oleh membuka dan menutupnya stomata, dimana pembukaan dan
penutupan stomata pada tiap jenis tumbuhan berbeda-beda.
d. Kedalaman dan proliferasi akar
Ketersedian dan pengambilan kelembapan tanah oleh tanaman budidaya sangat tergantung pada
kedalaman dan proliferasi akar. Perakaran yang lebih dalam meningkatkan ketersediaan air, dari
proliferasi akar (akar per satuan volume tanah ) meningkatkan pengambilan air dari suatu satuan
volume tanah sebelum terjadi pelayuan permanen.

2. Faktor eksternal
Faktor eksternal yang mempengaruhi kecepatan transpirasi adalah faktor yang berasal dari
lingkungan antara lain (Dwijoseputro, 1986) :
Dwidjoseputro. 1986. Pengantar Fisiologi Tumbuhan. Grafindo Persada. Jakarta.
a. Kelembaban
Gerakan uap air ke udara dalam daun akan menurunkan kecepatan bersih dari air yang hilang,
sehingga transpirasi akan menurun seiring dengan meningkatnya kelembababan udara. Apabila
stomata dalam keadaan terbuka maka kecepatan difusi dari uap air keluar tergantung pada
besarnya perbedaan tekanan uap air yang ada di dalam rongga antarsel dengan tekanan uap air di
atmosfer, Jika tekanan uap air di udara rendah, maka kecepatan difusi dari uap air di daun keluar
akan bertambah besar, begitu pula sebaliknya. Pada kelembaban uadara relatif 50% perbedaan
tekanan uap air di daun dan atmosfer 2 kali lebih besar dari kelembaban relatif 70%
(Jayamiharja dan Ahmad, 1977).
Jayamiharja, dan J. B. Ahmad. 1977. Diktat Fisiologi Tumbuhan Jilid I. Unsoed University
Press. Purwokerto.
b. Suhu
Kenaikan suhu dari 180-200 F cenderung meningkatkan penguapan air sebesar dua kali lipat.
Suhu daun di dalam naungan kurang lebih sama denga suhu udara, tetapi daun yang terkena sinar
matahari mempunyai suhu 100 – 200F lebih tinggi daripada suhu udara. Suhu berpengaruh
terhadap membuka menutupnya stomata. Pada banyak tanaman, stomata tidak membuka jika
suhu sekitar 00C.
c. Cahaya
Cahaya mempengaruhi kecepatan transpirasi melalui dua cara, yaitu: 1) sehelai daun yang
terkena sinar matahari langsung akan mengabsorbsi energi radiasi, dan 2) cahaya yang tidak
berbentuk cahaya langsung dapat pula mempengaruhi transpirasi melalui pengaruhnya terhadap
membuka-menutupnya stomata dengan mekanisme tertentu.
d. Angin
Angin cenderung untuk meningkatkan kecepatan transpirasi baik di dalam naungan atau di dalam
cahaya melalui penyapuan uap air. Akan tetapi, di bawah sinar matahari, pengaruh angin
terhadap penurunan suhu daun akan menurunkan kecepatan transpirasi.
e. Kandungan air tanah
Jika kandungan air tanah menurun akibat penyerapan oleh akar, gerakan air melalui tanah ke
dalam akar menjadi lebih lambat. Hal ini cenderung untuk meningkatkan defisit air pada daun
sehingga menurukan kecepatan transpirasi lebih lanjut.