Anda di halaman 1dari 8

LAPORAN PRAKTIKUM

SITOHISTOTEKNOLOGI

Disusun Oleh

ADAMALAY WARDIWIRA

P1337434318042

Dosen Pengampu

Hadi Suryono S.Tr Ak

PRODI TEKNOLOGI LABORATORIUM MEDIK

JURUSAN ANALIS KESEHATAN

POLITEKNIK KESEHATAN SEMARANG

2021
I. Judul
Proses pengeblokan dan proses pemotongan menggunakan mikrotom

II. Praktikum ke-


11

III. Hari, tanggal


Kamis, 1 april 2021

IV. Tujuan
Dapat mengetahui cara pengeblokan dan pemotongan jaringan menggunakan
mikrotom

V. Dasar Teori
Sitohistoteknologi merupakan ilmu yang mempelajari tentang preparasi sel-sel
dan jaringan tubuh sampai menjadi sediaan mikroskopis yang digunakan untuk
mendiagnosa adanya kelainan-kelainan dalam tubuh. Diagnosa histopatologi, sampai
saat ini masih merupakan kunci dalam diagnosa sebagian besar penyakit.
Diagnosa penyakit secara histologi dan sitologi dilakukan secara makroskopis
dan mikroskopis. Untuk mendapatkan sediaan mikroskopis diperlukan metode
pewarnaan tertentu. Ada beberapa teknik pewarnaan yang dilakukan di laboratorium
Sitohistoteknologi, antara lain: pewarnaan Hematoksilin Eosin, pewarnaan
Papanicolaou, pewarnaan khusus imunohistokimia, dll. Laboratorium ini memiliki
kekhasan dibandingkan laboratorium kesehatan lainnya. Hal ini terlihat dari instrumen
dan reagen yang berbeda dan spesifik.
Mikrotom adalah mesin untuk mengiris spesimen biologi menjadi bagian yang
sangat tipis untuk pemeriksaan mikroskop. Beberapa mikrotom menggunakan pisau
baja dan digunakan untuk mempersiapkan sayatan jaringan hewan atau tumbuhan
dalam histologi.
VI. Cara Kerja
 Prosedur Blocking
1. Keluarkan jaringan yang telah di embedding bersamaan dengan nomor
laboratorium dengan menggunakan pinset.
2. Tata dan tekan jaringan diatas logam persegi.
3. Sambungkan logam L disekeliling jaringan hingga membentuk cetakan
blok kubus.
4. Tambahkan parafin cair (suhu 60oC – 65oC) ke dalamnya.
5. Setelah agak dingin tempelkan nomor laboratorium pada permukaan atas
blok.
6. Lepaskan cetakkan logam L jika blok telah dingin dan mengeras.
7. Masukkan blok ke dalam air es.

 Prosedur Pemotongan
1. Pasang dan jepit kaset jaringan, pastikan roda pemutar dalam keadaan
terkunci
2. Pasang dan atur sudut kemiringan pisau, kencangkan.
3. Potong kasar:
 Tempatkan blok jaringan pada posisi yang tepat dengan mengatur
tuas pemotong kasar.
 Buka pengunci tuas pemutar.
 Gerakan roda pemutar secar perlahan sampai blok jaringan sedikit
mengenai permukaan pisau.
 Tekan tuas pemotong kasar
 Mulai proses pemotongan dengan memutar roda pemutar searah
jarum jam.
 Hentikan proses pemotongan ketika permukaan jaringan sudh
terbuka.
 Lepaskan tuas pemotong kasar.
4. Potong halus
 Atur ketebalan jaringan yang diinginkan dengan memutar knop
pengatur ketebalan dan memperhatikan skala ketebalan.
 Gunakan sisi pisau yang berbeda untuk proses potong kasar dan otong
halus dengan menggeser posisi pisau, pastikan pisau sudah terpasang
dengan kuat.
 Mulai proses pemotongan dengan memutar roda pemutar searah
jarum jam.
 Ambil pita jaringan yang terbentuk dengan pinset sesuai kebutuhan
dan pindahan ke atas waterbath untuk selanjutnya ditempelkan pada
kaca objek.
 Posisikan kembali blok jaringan ke belakang pisau, kunci tuas
pemutar.
 Lepaskan blok jaringan dari penjepit, dang anti dengan blok lain yang
akan dipotong.

VII. Pembahasan

Saat ini seringkali diperlukan adanya pemeriksaan pada potongan jaringan


atau organ untuk menegakkan diagnosis suatu penyakit. Jaringan tersebut haruslah
diolah melalui serangkaian proses untuk dapat diamati secara mikroskopis. Untuk
pengamatan mikroskopis sediaan jaringan harus dipotong dengan ketebalan tertentu
menggunakan suatu teknik dan instrument khusus untuk memperoleh suatu sediaan
jaringan yang representatif. Instrument yang digunakan untuk memperoleh hasil
potongan jaringan yang tipis dan dapat teramati secara mikroskopis adalah
mikrotom. Namun sangat disayangkan seringkali proses ini tidak diperhatian dengan
baik. Padahal pada proses ini dapat terjadi banyak kesalahan penggunaan yang
menyebabkan sediaan seolah mengalami banyak kelainan dan kerusakan akibat
melainkan dari kurangnya ketelitian pada saat pemotongan. Kesalahan proses
pemotongan dengan mikrotom ini juga dapat menyulitkan proses penggamatan
sediaan nantinya, yang pada akhirnya berimbas pada kesalahan interpretasi sediaan.
Oleh karenanya menjadi penting untuk mengenali lebih mendalam mengenai
mikrotom ini.

Mikrotomi merupakan bagian dari jaringan yang dipotong dan ditempelkan


pada suatu kaca objek yang kemudian akan diproses sehingga menghasilkan suatu
sediaan yang dapat teramati secara mikroskopis. Umumnya mikrotomi ini diperoleh
dari jaringan yang ditanam dalam paraffin, sehingga didapat blok jaringan yang
bersifat padat dan keras. Untuk memotong jaringan ini diperlukan mikrotom.
Mikrotom akan memotong jaringan tersebut menggunakan pisau khusus secara
vertikal, sehingga didapatkan pita jaringan dengan ketebalan tertentu.
Pengeblokan (Blocking) adalah proses pembuatan blok preparat agar dapat
dipotong dengan mikrotom menggunakan parafin. Pengeblokan bertujuan mengganti
parafin cair disertai dengan pengerasan jaringan.

Parafin yang digunakan untuk pengeblokan titik cairnya sama dengan parafin
yang digunakan untuk infiltrasi parafin. Proses pengeblokan ini dilakukan dengan
menuangkan sedikit cairan parafin ke dalam cetakan berbahan plastik atau piringan
logam bentuk L. Secepatnya jaringan dimasukkan dengan menggunakan pinset yang
telah dipanaskan (agar parafin tak beku) dan diatur posisinya di dalam cetakan.
Parafin cair kemudian dituangkan kembali hingga menutupi seluruh cetakan tersebut
(Suntoro, 1983).

Pemotongan (Sectioning) adalah proses pemotongan blok preparat dengan


menggunakan mikrotom. Tujuan dari pemotongan blok adalah untuk mendapatkan
potongan jaringan yang tipis dengan ketebalan 3 – 8 µm. Mikrotom adalah alat yang
dapat mengiris potongan blok dengan tipis dan sesuai dengan ukuran ketebalan yang
diinginkan. Terdapat berbagai jenis mikrotom misalnya yaitu sliding microtome,
rotary microtome dan freezing microtome (Suntoro, 1983; Paulsen, 2000).

Untuk mendapatkan pita jaringan yang baik harus melalui dua tahap
pemotongan yang harus dilakukan secara berurutan. Tahap tersebut ialah, tahap
potong kasar dan potong halus. Kedua tahap ini harus dilakukan secara teliti jika tidak
dapat menyebabkan artefak pada pita jaringan yang dapat mempersulit proses
pengamatan.

Proses potong kasar atau trimming merupakan proses awal pemotongan blok
jaringan yang bertujuan untuk membuang kelebihan paraffin yang menutupi jaringan
sehingga permukaan jaringan dapat terbuka dan bisa dihasilkan pita jaringan yang
utuh. Dikatakan potong kasar, dikarenakan pada proses ini mikrometer diatur pada
ketebalan yang cukup tinggi yaitu pada 15-30μm. Pada proses ini perlu dilakukan
dengan teliti karena jika tidak dapat mengakibatkan artefak pada pita jaringan.
Pastikan blok jaringan sudah diseting di belakang pisau sehingga blok tidak langsung
terpotong tebal, karena dapat menyebabkan blok pecah dan merusak jaringan di
dalamnya.

(Hasil pemotongan yang terlalu kasar pada awal pemotongan sehingga


menimbulkan banyak lubang pada jaringan)
(Sumber http://www.leicabiosystems.com)

Proses potong halus ini bertujuan untuk menghasilkan pita jaringan dengan
ketebalan tertentu. Blok jaringan yang akan dipotong harus didinginkan terlebih
dahulu untuk memberikan suhu yang stabil pada blok paraffin dan jaringan. Ketebalan
pita jaringan untuk jaringan hasil pembedahan rutin ialah 3-4μm. Idealnya hasil
pemotongan yang baik akan saling menempel satu sama lain membentuk pita dengan
ketebalan yang sama. Namun pita yang terbentuk dapat memiliki ketebalan yang
bervariasi meskipun dipotong pada skala yang sama. Variasi ketebalan pita jaringan
ini dipengaruhi banyak factor seperti suhu, sudut penempatan pisau, dan kecepatan
pemotongan, juga pengalaman teknisi. Perlu dilakukan pelatihan berulang-ulang
untuk dapat konsisten meghasilkan pita jarigan yang baik secara dan efisien.

VIII. Simpulan
Instrument yang digunakan untuk memperoleh hasil potongan jaringan yang
tipis dan dapat teramati secara mikroskopis adalah mikrotom. Pengeblokan (Blocking)
adalah proses pembuatan blok preparat agar dapat dipotong dengan mikrotom
menggunakan parafin. Pengeblokan bertujuan mengganti parafin cair disertai dengan
pengerasan jaringan. Pemotongan (Sectioning) adalah proses pemotongan blok
preparat dengan menggunakan mikrotom. Tujuan dari pemotongan blok adalah untuk
mendapatkan potongan jaringan yang tipis dengan ketebalan 3 – 8 µm. Mikrotom
adalah alat yang dapat mengiris potongan blok dengan tipis dan sesuai dengan ukuran
ketebalan yang diinginkan. Terdapat berbagai jenis mikrotom misalnya yaitu sliding
microtome, rotary microtome dan freezing microtome (Suntoro, 1983; Paulsen, 2000).

IX. Daftar Pustaka


 Khristian, Erick dan Dewi Inderiati. 2017. Bahan Ajar Teknologi
Laboratorium Medis TLM Sitohistoteknologi. Badan PPSDM
KEMENKES RI.
 http://www.poltekkes-
denpasar.ac.id/analiskesehatan/fasilitas/laboratorium/laboratorium-
kimia/#:~:text=Sitohistoteknologi%20merupakan%20ilmu%20yang
%20mempelajari,adanya%20kelainan%2Dkelainan%20dalam
%20tubuh. Pengertian Sitohistologi. Diakses pada tanggal 5 April 2021
 https://id.wikipedia.org/wiki/Mikrotom. Pengertian Mikrotom. Diakses
pada tanggal 5 April 2021
 https://medlab.id/blocking/. Prosedur Blocking. Diakses pada tanggal 5
April 2021

 Indrawati, A. (2017). Teknik Pembuatan Dan Evaluasi Preparat Histologi


Dengan Pewarnaan Hematoksilin Eosin Di Laboratorium Histologi Dan
Biologi Sel Fakultas Kedokteran UGM Dan National Laboratory Animal
Center (NLAC) Mahidol University (Doctoral dissertation, Universitas
Gadjah Mada).

X. Lampiran