Anda di halaman 1dari 44

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

A. Kajian Teoritis

Setelah rumusan masalah ditentukan dalam penelitian tersebut, maka langkah

selanjutnya yaitu mengadakan pengkajian terhadap beberapa teori-teori dan konsep-

konsep, yang merupakan hasil dari sebuah penelitian agar dapat digunakan sebagai

suatu kajian teoritis dalam melaksanakan penelitian tersebut. Seperti yang dikemukakan

oleh Creswell (2019: 84) yang menyatakan bahwa “Dalam penelitian kualitatif, teori

sering kali digunakan sebagai penjelasan atas perilaku dan sikap tertentu”.

Kajian teoritis dapat digunakan sebagai suatu pedoman bagi seorang peneliti

untuk menggunakan tolak ukur dalam mempersempit ruang lingkup masalah yang

diteliti dan untuk memudahkannya dalam mengidentifikasi arah dalam penelitian yang

akan diambil. Hal tersebut sejalan dengan teori yang dikemukakan oleh Cooper and

Schindler dalam Sugiyono (2018: 78) yang menyatakan bahwa :

A theory is a set of systematically interrelated concepts, definition, and


proposition that are advanced to explain and predict phenomena (fact). Teori
adalah seperangkat konsep, definisi dan proposisi yang tersusun secara
sistematis sehingga dapat digunakan untuk menjelskan dan meramalkan
fenomena”.

Pada penelitian tentang studi kelayakan bisnis pada pengrajin gerabah di

Desa Kebur Kecamatan Merapi Barat Kabupaten Lahat ini, peneliti akan melakukan

pengkajian terhadap beberapa teori yang akan mendukung terhadap penelitian ini,

antara lain yaitu :

1. Teori Fakta Sosial

Dalam mengkaji fakta sosial dari masyarakat, kita harus dapat lebih

mendalami akan kegiatan sehari-hari dari anggota masyarakat tersebut dan akan
13
14

lebih baik lagi, apabila kita dapat memahami faktor-faktor yang mendukung maupun

yang menghambat dari aspek fisik maupun psikologis dari anggota masyarakat

tersebut secara seksama.

Kehidupan sosial dalam masyarakat di Kabupaten Lahat adalah kehidupan

yang majemuk, karena penduduk yang tinggal di Kabupaten Lahat sudah beragam,

berdasarkan perbedaan dari segi ras atau suku, maupun dari tarap ekonomi

masyarakat, pengetahuan maupun tingkat pendidikannya.

Dampak dari adanya pengolahan hasil bumi seperti batu bara, dapat

memberikan kontribusi yang sangat besar dalam perubahan dinamika sosial di dalam

kehidupan masyarakat di Kabupaten Lahat, baik dari segi ekonomi maupun perilaku

masyarakat. Hal tersebut sesuai dengan teori yang dikemukakan oleh Sunyoto (2014:

325) yang menyatakan bahwa “Dampak sosial suatu proyek ataupun investasi bagi

masyarakat meliputi 1). Perubahan kesehatan masyarakat. 2). Perubahan budaya

masyarakat. 3). Perubahan demografi”.

Penyerapan tenaga kerja yang masih kurang, menyebabkan masih banyaknya

pengangguran yang belum mendapatkan lowongan kerja di Kabupaten Lahat.

Pemanfaatan sumber daya alam yang kaya, belum sepenuhnya di eksplorasi oleh

masyarakat di Kabupaten Lahat karena tidak didukung oleh dana dan kepedulian dari

pihak terkait. Kebutuhan para generasi milenial akan teknologi dan gaya hidup,

membuat para orang tua harus lebih bekerja keras dalam mencari nafkah untuk

menghidupi mereka.

Kerajinan gerabah merupakan suatu peluang yang sangat tinggi untuk

memberikan kontribusi bagi peningkatan sosial ekonomi bagi masyarakatnya.


15

Namun dikarenakan pengkaderisasian dari keahlian tersebut tidak ada, maka usaha

tersebut menjadi langka di Kabupaten Lahat. Fenomena tersebut didukung oleh teori

yang dikemukakan oleh Ranjabar (2015: 2) yang menyatakan bahwa “Perubahan

sosial merupakan perubahan dalam segi struktur sosial dan hubungan sosial,

sedangkan perubahan budaya mencakup perubahan dalam segi budaya masyarakat”.

Di era ini, dapat kita sadari, bahwa kebutuhan akan diakuinya dan

dihormatinya harkat serta martabat bagi seseorang sangatlah tinggi apalagi pada

kesempatan untuk berkarya. Pekerjaan dan penghasilan sesorang sangat

mempengaruhi dalam aktualisasi diri di kehidupan sosial masyarakat. Semakin tinggi

jabatan dan penghasilan seseorang, maka semakin tinggi pula penghormatan yang

diberikan oleh masyarakat kepadanya.

Dalam hal kerajinan gerabah di Desa Kebur Kecamatan Merapi Barat

Kabupaten Lahat ini, masyarakat setempat sudah lama meninggalkan usaha ini,

karena dianggap tidak dapat menghasilkan pendapatan yang banyak, dibandingkan

dengan usaha kerja yang lainnya. Padahal dengan adanya sosial media, produk

mereka dapat dipasarkan secara online dan dapat menjangkau dunia luar, sehingga

pendapatan mereka dapat meningkat pula. Seperti yang diungkapkan oleh Siagian

(2018: 17) yang menyatakan bahwa “Nilai-nilai sosial budaya menetukan yang baik,

tidak baik, benar, salah, wajar, tidak wajar dan sebagainya. Nilai-nilai tersebut

digunakan untuk menilai perilaku seseorang, baik sebagai individu maupun sebagai

anggota kelompok, termasuk kelompok kerja dimana seseorang bekarya”.

Kelompok masyarakat yang berstrata, terdiri dari kelompok-kelompok sosial

yang dibentuk dari individu-individu yang berlatar belakang tertentu. Setiap anggota
16

masyarakat yang sudah bertransisi akan menunjukkan pola dan perkembangan yang

dipengaruhi oleh gejala dan masalah yang khusus. Hal tersebut berkaitan dengan

sosial ekonomi, letak geografi dan politik. Dalam usaha kerajinan gerabah di Desa

Kebur Kecamatan Merapi Barat Kabupaten Lahat ini, kelompok sosialnya sudah

terbentuk, berdasarkan visi bersama untuk meningkatkan kehidupan sosial ekonomi

mereka. Hal tersebut sesuai dengan teori yang dikemukakan oleh Hanafie (2016:

149) yang menyatakan bahwa “Kelompok sosial adalah kumpulan orang yang

memiliki kesadaran bersama akan keanggotaan dan saling berinteraksi. Kelompok

diciptakan oleh anggota masyarakat. Kalompok juga dapat mempengaruhi perilaku

para anggotanya”.

Perkembangan pada suatu masyarakat bisa dilihat dari perubahan mata

pencaharian, dari tradisional menuju moderen, meningkatnya pendidikan serta

pengetahuan mereka, sehingga dapat menambah wawasan dan cakrawala baru bagi

mereka. Dengan adanya semangat dari anggota usaha kerajinan gerabah di Desa

Kebur Kecamatan Merapi Barat Kabupaten Lahat ini, dalam meningkatkan

pengetahuan dan keahlian mereka tentang membuat kerajinan gerabah, melalui

belajar dengan ahli gerabah di Yogyakarta, sudah mengartikan bahwa ada keinginan

mereka untuk hidup lebih maju lagi Hal tersebut sesuai dengan pendapat dari

Hanafie (2016: 169) yang menyatakan bahwa “Moderenisasi menunjuk pada suatu

proses dari serangkaian upaya untuk menuju atau menciptakan nilai-nilai (fisik,

material, dan sosial) yang bersifat kualifikasi universal, rasional dan fungsional”.

Dengan adanya media massa di kalangan masyarakat, terutama pengaruh dari

media sosial, dapat menjadi suatu peluang bagi pemasaran bisnis kerajinan gerabah
17

di Desa Kebur Kecamatan Merapi Barat Kabupaten Lahat ini. Media massa yang

merupakan sebuah lembaga sosial masyarakat adalah bagian dari subsistem

kehidupan dalam bermasyarakat yang akan mempengaruhi harmonisasi dalam

kehidupann sosialnya, dimanfaatkan untuk mengenalkan produk mereka ke

masyarakat lokal, maupun di luar Kabupaten Lahat dan hal tersebut sudah berhasil,

dengan adanya peningkatan permintaan produk mereka. Sesuai dengan teori yang

dikemukakan oleh Locker dalam Suranto (2018: 211) yang menyatakan bahwa

“Media massa sebagai lembaga sosial dalam operasionalnya dipengaruhi oleh norma

sosial, budaya, politik, hukum dan ekonomi yang bersumber dari national culture,

organizational culture dan personal culture”.

Berdasarkan beberapa teori dari fakta sosial di atas dapat disimpulkan bahwa,

kehidupan sosial pada masyarakat di Kabupaten Lahat sangatlah majemuk. Hal itu

terlihat pada adanya kelompok dan lapisan sosial masyarakat yang berbeda sehingga

dampak yang diberikan menjadi majemuk juga. Tidak adanya pengkaderisasian

terhadap kerajinan gerabah tersebut menjadi salah satu faktor penyebab terjadinya

pelapisan sosial ekonomi pada masyarakatnya. Padahal usaha ini adalah peluang

yang sangat baik dalam meningkatkan sosial ekonomi masyarakat di Kabupaten

Lahat dengan memanfaatkan sumber daya alam dan sumber daya manusia yang ada

disana.

2. Teori Sosial

Adanya perubahan status sosial pada masyarakat di Kabupaten Lahat

khususnya di Kecamatan Merapi Barat, dengan adanya pergantian lahan yang

diambil untuk proyek-proyek pada perusahaan batu bara menyebabkan adanya strata
18

sosial bagi masyarakatnya. Yang dulu masyarakatnya hidup dalam keadaan yang

pas-pasan, sekarang menjadi hidup serba berkecukupan. Namun tidak semua

penduduk yang mendapatkan peluang tersebut, masih ada penduduk yang

menjalankan kehidupannya seperti biasa. Seperti yang diungkapkan oleh Gilin dan

Gilin dalam Amirulkamar (2017: 34) yang menyatakan bahwa “Perubahan sosial

sebagai suatu variasi dari cara-cara hidup yang telah diterima, baik karena perubahan

-perubahan kondisi geografis, kebudayaan material, komposisi penduduk, ideologi

maupun karena adanya difusi ataupun penemuan baru dalam masyarakat.

Kepentingan masyarakat yang berbeda merupakan dasar bagi timbulnya

tingkah laku individu yang berbeda pula. Hal tersebut didorong oleh keinginan untuk

memenuhi segala kepentingannya, jika ia berhasil, maka akan merasa puas, namun

bila tidak berhasil maka akan menyebabkan masalah bagi dirinya maupun orang di

sekitarnya.

Demikian pula dalam menjalankan usaha kerajinan gerabah ini, masyarakat

di Desa Kebur Kecamatan Merapi Barat membentuk usaha tersebut dikarenakan

adanya kepentingan untuk memenuhi kebutuhan hidup mereka. Yang akhirnya

mereka mendapatkan kepuasan ketika produk mereka dapat dinikmati oleh

masyarakat lainnya dan mendapatkan penghasilan dari kerja keras mereka.Seperti

teori yang dikemukakan oleh Young dalam Amirulkamar (2017: 36) menyatakan

bahwa :

Interaksi sosial adalah kunci dari semua kehidupan sosial oleh karena
tanpa interaksi sosial tak akan mungkin ada kehidupan bersama, Interaksi
ini terjadi pada mereka bila adanya berkomunikasi, saling bekerjasama
untuk mencapai suatu tujuan bersama, mengadakan persaingan, pertikaian
dan sebagainya.
19

Adapun teori-teori sosial yang peneliti ambil untuk kajian teori dalam

penelitian ini adalah teori perilaku konsumen dan teori dampak sosial dan

lingkungan.

a. Teori Perilaku Konsumen

Untuk mengetahui kebutuhan pasar, para penggiat usaha harus lebih

memahami akan perilaku konsumen yang menjadi sasaran dari hasil produknya.

Seperti teori yang dikemukakan oleh Zaldman dan Wallendof dalam Sudaryono

(2017:301) yang menyatakan bahwa :

Consumer behavior are acts, process and social relationship exhibited


by individuals, groups and organization in the obtainment, use of, and
consequent experience with products, services and other resourches.
Perilaku konsumen adalah tindakan-tindakan, proses dan hubungan sosial
yang dilakukan individu, kelompok dan organisasi dalam mendapatkan,
menggunakan produk atau lainnya sebagai suatu akibat dari
pengalamannya dengan produk, pelayanan dan sumber-sumber lainnya.

Selama masa pandemi corona yang juga terjadi di Kabupaten Lahat, dan

timbul perilaku sosial baru pada masyarakat dengan maraknya peminat bunga dan

tumbuhan lainnya, menjadikan hal ini sebagai peluang bagi pengrajin gerabah di

Desa Kebur Kecamatan Merapi Barat untuk membuat pot-pot bunga dari gerabah.

Hasil produk mereka dititipkan di toko-toko gerabah yang ada di Kota

Lahat dan Kabupaten Muara Enim untuk dijual kepada konsumen. Namun

permintaan tertinggi adalah melalui media online, karena konsumen dapat

berinteraksi langsung dalam menentukan desain pilihan mereka kepada pengrajin

gerabah tersebut. Seperti yang diungkapkan oleh Engel, Blackwell dan Miniard

dalam Sunyoto (2014: 82) yang menyatakan bahwa “Perilaku konsumen sebagai

tindakan yang langsung terlibat dalam mendapatkan, mengkonsumsi dan


20

menghabiskan produk dan jasa, termasuk proses keputusan yang mendahului dan

menyusuli tindakan ini”.

Untuk memenuhi keinginan konsumen akan produk gerabah mereka,

pengrajin gerabah di Desa Kebur Kecamatan Merapi Kabupaten Lahat ini, dapat

memberikan jasa pengiriman secara online ke alamat masing-masing para

konsumen, dengan pengepakan barang yang dijamin tidak rusak sampai kealamat

yang dituju. Seperti teori yang dikemukakan oleh Schiffman dan Kanuk dalam

Sudaryono (2017: 300) yang menyatakan bahwa :

The term consumer behavior refers to the behavior that consumer


display in searching for purchasing, using evaluating and disposing of
product and services that they expect will satisfy their needs. Istilah
perilaku konsumen diartikan sebagai perilaku yang diperlihatkan
konsumen dalam mencari, membeli, menggunakan, mengevaluasi dan
menghabiskan produk dan jasa yang mereka harapkan akan memuaskan
kebutuhan mereka.

Untuk menambah estetika bagi pot-pot gerabah mereka, pengrajin

gerabah di Desa Kebur Kecamatan Merapi Barat ini juga memfasilitasi usaha

kecil dan menengah (UKM) yang ada di desa mereka, berupa kerajinan bagi ibu-

ibu rumah tangga di desa tersebut agar dapat berjalan juga, dengan memproduksi

kerajinan tangan dari tali “Makrame” untuk aksesoris dalam menggantung pot-pot

gerabah tersebut agar terlihat lebih indah. Yang kesemuanya itu bisa dibeli secara

langsung maupun menggunakan jasa pengiriman online. Seperti yang

didefinisikan oleh American Marketing Association (AMA) dalam Sunyoto (2014:

82) yang menyatakan bahwa “Perilaku konsumen (consumer behavior) sebagai

interaksi dinamis antara pengaruh dan kognisi, perilaku dan kejadian di sekitar

kita, dimana manusia melakukan aspek dalam hidup mereka”.


21

Konsumen yang membeli produk gerabah dari pengrajin gerabah di Desa

Kebur Kecamatan Merapi Barat Kabupaten Lahat ini, jarang sekali yang

memberikan keluhan, karena nilai jual dan estetika bunga yang memakai pot

gerabah ini menjadi semakin tinggi dan cantik, malah terkesan mahal dan elegan

dibandingkan dengan memakai pot-pot dari plastik atau semen. Mereka sudah

biasa menghadapi para konsumen yang datang atau membeli secara online.

Seperti pendapat dari Schiffman dan Kanuk dalam Sudaryono (2017: 302) yang

menyatakan bahwa :

Tahapan-tahapan langkah yang dimaksudkan adalah : (1). Need


recognition (mengenali kebutuhan). (2). Pre-purchase search (mencari
informasi sebelum membeli). (3). Purchase trial and repeat purchase
(melakukan pembelian dengan cara mencoba-coba dan melakukan
pembelian ulang). (4). Post purchase evaluation (melakukan evaluasi
pasca membeli).

Adanya faktor-faktor yang mempengaruhi konsumen dalam membeli

hasil produk mereka harus juga dipahami oleh para pengrajin gerabah di Desa

Kebur Kecamatan Merapi Barat Kabupaten Lahat ini. Karena tidak semua

konsumen yang datang langsung membeli produk mereka, karena keterbatasan

dana atau desain yang ada tidak sesuai dengan keinginan mereka. Namun mereka

akan menawarkan alternatif lain, seperti menerima order sesuai dengan desain

yang dibutuhkan sehingga konsumen tidak kecewa. Seperti teori yang

dikemukakan oleh Engel, Blakcwell & Miniard dalam Sunyoto (2014: 85) yang

menyatakan bahwa :

Tujuan kegiatan pemasaran adalah mempengaruhi konsumen untuk


bersedia membeli barang atau jasa perusahaan pada saat mereka
membutuhkan, oleh karena itu perusahaan harus memahami faktot-faktor
yang dapat mempengaruhi perilaku konsumen untuk melakukan
22

pembelian. Faktor-faktor tersebut adalah pengaruh lingkungan,


perbedaan dan pengaruh individual, dan proses psikologi.

Dengan mengkaji teori perilaku konsumen diatas, maka dapat

disimpulkan bahwa pentingnya bagi para pelaku bisnis atau usaha dalam

memahami perilaku dari konsumen yang menjadi sasarannya, sebagai landasan

dalam menyusun strategi dalam pemasaran dan penjualan bagi produk mereka.

Hal tersebut juga terjadi pada pengrajin gerabah di Desa Kebur Kecamatan

Merapi Barat Kabupaten Lahat.

b. Teori Dampak Sosial dan Lingkungan

Setiap usaha atau bisnis yang dilakukan, akan memiliki dampak

terhadap sosial dan lingkungan yang ada di sekitarnya. Keadaan tersebut

merupakan suatu hal yang lumrah di semua tempat, tergantung bagaimana cara

kita dalam menyikapinya. Demikian juga untuk kesehatan dan keselamatan para

pekerja sangatlah diutamakan, karena dengan menurunnya kesehatan dari para

pekerja tersebut, maka akan menurun pula hasil dari kinerja yang telah

dilaksaanakan dan biaya yang dikeluarkan akan meningkat. Seperti teori yang

dikemukakan oleh Megginson dalam Hamali (2016: 164) yang menyatakan

bahwa :

Keselamatan kerja menunjukkan kondisi yang aman atau selamat dari


penderitaan, kerusakan atau kerugian di tempat kerja. Risiko
keselamatan merupakan aspek-aspek dari lingkungan kerja yang dapat
menyebabkan kebakaran, ketakutan aliran listrik, terpotong, luka
memar, keseleo, patah tulang, kerugian alat tubuh, penglihatan dan
pendengaran.

Adanya dampak perubahan kesehatan bagi pekerja maupun masyarakat

di sekitar lokasi usaha yang berasal dari pencemaran lingkungan ataupun


23

berpotensi terjangkitnya suatu penyakit merupakan suatu hal yang harus dicegah

dan diatasi. Seperti teori yang dikemukakan oleh Irianto (2014: 399) yang

menyatakan bahwa :

Berdasarkan penyebabnya, penyakit dapat terjadi akibat beberapa


kelompok faktor yaitu : (1). Faktor fisik, faktor mekanik, suhu, tekanan
udara, suara, cahaya/radiasi, getaran, listrik. (2). Faktor kimiawi,
termasuk antara lain : asap rokok, zat kimia industri, obat-obatan. (3).
Faktor biologik, termasuk jasad renik, rekayasa genetik.

Dengan adanya mobilitas dari kinerja usaha atau bisnis tersebut, dapat

menimbulkan limbah yang berupa limbah padat, limbah cair maupun limbah gas.

Yang kesemuanya itu dapat diolah dalam penanganan masalahnya. Seperti teori

yang dikemukakan Irianto (2014: 400) yang menyatakan bahwa “Setiap limbah

ini dapat mencemari lingkungan sehingga dapat menimbulkan penyakit

lingkungan. Bila terjadi pemajanan terhadap faktor pengganggu/perusak yang

spesifik di tempat kerja tertentu, maka penyakit/kelainan yang terjadi digolongkan

dalam penyakit kerja (okupasional)”.

Dalam memproduksi kerajinan gerabah ini, dapat dipastikan tidak

memiliki dampak polusi yang berarti terhadap lingkungan sekitarnya, karena

tungku yang digunakan untuk proses pembakaran gerabah juga dilakukan di

dalam tanah dan fungsinya cuma untuk menghangatkan gerabah-gerabah tersebut.

Jadi polusi asap yang ditimbulkan kepada pekerja maupun masyarakat di sekitar

lokasi hampir tidak ada. Seperti teori yang dikemukakan oleh Notoatmodjo (2009:

153) yang menyatakan bahwa “Diterminan kesehatan dan keselamatan kerja yang

antara lain mencakup : beban kerja, beban akibat dari lingkungan kerja dan

kemampuan kerja”.
24

Namun dalam hal ini, dampak sosial ekonomi dapat terlihat pada

masyarakat di sekitarnya, dengan adanya produksi pot-pot bunga dari gerabah

tersebut, antara lain masyarakat di desa tersebut sudah banyak yang menjual

bunga-bunga dan tanaman hias lainnya serta ada juga yang menjual tanah yang

sudah diolah untuk media tanam bunga-bunga tersebut. Bahkan usaha kecil

menengah (UKM) bagi ibu-ibu rumah tangga di desa tersebut dapat berjalan,

dengan memproduksi kerajinan tangan dari tali “Makrame” untuk aksesoris dalam

menggantung pot-pot gerabah tersebut agar terlihat lebih indah. Seperti teori yang

dikemukakan oleh Kasmir dalam Sunyoto (2014: 326) yang menyatakan bahwa

“Perubahan budaya masyarakat meliputi terjadinya proses sosial baik proses

asosiatif/kerjasama, konflik sosial, akulturasi, asimilasi dan integrasi”.

Dari beberapa teori tentang dampak terhadap sosial dan lingkungan

di atas, dapat kita simpulkan bahwa setiap adanya bisnis atau usaha, akan

menimbulkan dampak bagi kehidupan sosial masyarakat dan lingkungan di

sekitarnya.

3. Teori Kelayakan Bisnis

Suatu usaha bisnis, merupakan sebuah kegiatan yang sudah direncanakan,

yang memerlukan sejumlah pembiayaan dan faktor-fakor lain sebagai pendukung

dari kinerjanya. Dikarenakan keadaan yang tidak pasti, maka diperlukan

pertimbangan-pertimbangan sebelum memulai bisnis tersebut yang dapat diperoleh

dari studi terhadap aspek kelayakan bisnis tersebut sebelum dijalankan. Hal tersebut

sesuai dengan teori yang dikemukakan oleh Sunyoto (2014: 2) yang menyatakan

bahwa :
25

Studi kelayakan bisnis adalah penelitian yang menyangkut berbagai aspek


baik itu dari aspek hukum, aspek keuangan, aspek sosial ekonomi dan
budaya, aspek pasar dan pemasaran, aspek perilaku konsumen, aspek
teknis dan teknologi, aspek sumber daya manusia dan organisasi, dimana
itu semua digunakan untuk dasar penelitian studi kelayakan dan hasilnya
digunakan untuk mengambil keputusan apakah suatu proyek atau bisnis
dapat dikerjakan atau ditunda dan bahkan tidak dijalankan.

Sedangkan menurut Umar dalam Sunyoto (2014: 2) mengartikan bahwa

“Studi kelayakan bisnis merupakan penelitian terhadap rencana bisnis yang tidak

hanya menganalisis layak atau tidak layak bisnis di bangun, tetapi juga saat

dioperasionalkan secara rutin dalam rangka pencapaian keuntungan yang maksimal

untuk waktu yang ditentukan, misalnya rencana peluncuran produk baru”.

Studi kelayakan bisnis dianggap penting untuk dilakukan pada usaha baru,

maupun bagi pengembangan usaha yang telah ada, yang kesemuanya itu digunakan

sebagai masukan bagi usaha tersebut, apakah memiliki nilai finansial dengan

memanfaatkan sumber daya dan sumber dana yang ada. Seperti yang dikemukan

oleh Ibrahim dalam Sunyoto (2014: 8) yang menyatakan bahwa :

Sebab bagi penanam modal, studi kelayakan merupakan gambaran tentang


usaha atau proyek yang akan dikerjakan dan melalui studi kelayakan,
mereka akan dapat mengetahui prospek perusahaan dan kemungkinan-
kemungkinan keuntungan yang diterima. Dengan studi kelayakan mereka
akan dapat mengetahui jaminan keselamatan dari modal yang ditanam dan
berdasarkan studi kelayakan ini pula mereka akan mengambil keputusan
terhadap penanaman modal.

Untuk melakukan studi kelayakan bisnis, diperlukan tahap-tahap dalam

pelaksanaannya. Seperti yang dikemukakan oleh Sunyoto (2014: 9) antara lain “(1).

Penemuan ide. (2). Tahap penelitian. (3). Tahap evaluasi. (4). Tahap pengurutan

usulan yang layak. (5). Tahap rencana pelaksanaan proyek bisnis. (6). Tahap

pelaksanaan proyek bisnis”.


26

Sedangkan untuk aspek-aspek dalam studi kelayakan bisnis, Sunyoto

(2014: 10) mengemukakan bahwa diperlukan “(1). Aspek pemasaran dan pasar. (2).

Aspek perilaku konsumen. (3). Aspek Sumber Daya Manusia. (4). Aspek Organisasi.

(5). Aspek Akuntansi. (6). Aspek manajemen operasional dan teknologi. (8). Aspek

Hukum. (9). Aspek politik, ekonomi, sosial dan lingkungan hidup”.

Untuk kriteria kelayakan bisnis memiliki kriteria yang berbeda yaitu

menurut keberhasilan yang dicapai oleh usaha atau bisnis tersebut. Menurut Sunyoto

(2014: 13) yang menyatakan bahwa :

Kalau perusahaan swasta dikatakan sudah memiliki kelayakan yaitu pada


saat perusahaan tersebut sudah dianggap mampu untuk memberikan
keuntungan yang maksimum kepada para pemegang saham secara
sistematis setiap tahunnya. Namun kriteria menurut pemerintah baik di
tingkat provinsi maupun kabupaten/kota, adalah pada saat publik telah
terlayani saat melakukan berbagai urusan di lembaga tersebut secara baik
dan cepat tanpa mengalami hambatan diluar ketentuan pemerintah.

Untuk studi kelayakan bisnis yang dilakukan pada pengrajin gerabah di

Desa Kebur Kecamatan Merapi Barat Kabupaten Lahat ini, diharapkan dapat

memenuhi aspek-aspek yang dibutuhkan sehingga para investor dapat tertarik dalam

menanamkan modal bagi usaha mereka dan studi ini juga dapat menjadi referensi

bagi masyarakat lainnya untuk menggeluti usaha ini.

4. Teori Manajemen Keuangan

Keuangan sangat mempengaruhi di segala sisi dan lini kehidupan

bermasyarakat maupun sebuah usaha ataupun bisnis. Yunus & Harnanto dalam

Sudaryono (2017: 338) mengemukakan bahwa :

Ada tiga area yang saling berkaitan, yaitu (1). Money and capital markets,
termasuk di dalamnya pasar sekuritas dan lembaga keuangan. (2).
Investment, baik yang dibuat oleh investor individual maupun lembaga
27

dalam memilih portofolio sekuritas. (3). Financial management, yang


mencakup pembuatan keputusan keuangan dalam perusahaan.

Untuk menjaga keberlangsungan dari suatu bisnis atau usaha tersebut

diperlukan sutu manjemen dalam pengaturan keuangan agar usaha tersebut dapat

berjalan dengan lancar. Fungsi manajemen keuangan menurut Sunyoto (2014: 273)

adalah :

(1). Perencanaan keuangan, membuat rencana pemasukan dan pengeluaran


serta kegiatan-kegiatan lainnya untuk periode tertentu. (2). Penganggaran
keuangan, tindak lanjut dari perencanaan keuangan dengan membuat detail
pengeluaran dan pemasukan. (3). Pengelolaan keuangan, menggunakan
dana perusahaan untuk memaksimalkan dana yang ada dengan bebagai cara.
(4). Pencarian keuangan, mencari dan mengeksploitasi sumber dana yang
ada untuk operasional kegiatan perusahaan. (5). Penyimpanan keuangan,
mengumpulkan dana perusahaan serta menyimpan dan mengamankan dana
tersebut. (6). Pengendalian keuangan,melakukan evaluasi serta perbaikan
atas keuangan dan sistem keuangan perusahaan. (7). Pemeriksaan keuangan,
melakukan audit internal atas keuangan perusahaan yang ada agar tidak
terjadi penyimpangan. (8). Pelaporan keuangan, penyediaan informasi
tentang kondisi keuangan perusahaan sekaligus sebagai bahan evaluasi.

Pentingnya peran manajemen keuangan pada suatu badan usaha yang

mempelajari tentang penggunaan dana, bagaimana cara memperoleh dana dan

adanya upaya pembagian hasil yang adil sesuai dengan tugasnya masing-masing,

merupakann bagian yang fungsional dalam bisnis maupun usaha tersebut.

Sudaryono (2017: 339) menyatakan bahwa “Tugas pokok manajemen keuangan

antara lain meliputi : keputusan tentang investasi, pembiayaan kegiatan saham dan

pembagian dividen suatu perusahaan”.

Selanjutnya Sunyoto (2014: 274) menyatakan bahwa “fungsi manajemen

keuangan dimaksudkan merupakan proses perencanaan anggaran dimulai dengan

peramalan sumber pendanaan (source fund), pengorganisasian kegiatan penggunaan

dana secara efektif dan efisien serta mengantisifasi semua resiko”.


28

Untuk masalah keuangan, setiap bisnis maupun usaha memiliki strategi dan

kebijakan sendiri dalam mengurus usahanya. Hal tersebut seperti yang dinyatakan

Sudaryono (2017: 339) bahwa “Peranan strategi dan kebijaksanaan aspek

pembelanjaan atau keuangan ini adalah untuk mengarahkan penggunaan sumber

daya-sumber daya ekonomis perusahaan dalm membantu secara paling efektif

pencapaian tujuan dan strategi perusahaan”.

Dalam hal pendanaan, sebuah perusahaan memiliki sumber-sumber dana

sendiri tergantung dari mana sumber dana tersebut berasal. Seperti pada usaha

kerajinan gabah di Desa Kebur Kecamatan Merapi Barat ini, untuk modal kerja,

terdiri dari dana modal awal kerja mereka sendiri dan dibantu oleh sarana dari PT.

Muara Alam Sejahtera (MAS) site Merapi melalui dana corporate social

responsibility (CSR) berupa 3 tatap batu dan roda putar serta pengangkutan bahan

baku tanah liatnya. Seperti teori yang dikemukakan oleh Sunyoto (2014: 274) yang

menyatakan bahwa:

Dana jangka pendek antara lain pinjaman dari bank jangka pendek seperti
cerukan atau overdraft, anjak piutang atau factoring dan kredit dari supplier
atau supplier’s credit. Sumber dana jangka panjang berupa pinjaman bank,
obligasi (bonds), leasing debetures, dan warrants. Modal sendiri dapat
berupa modal yang disetor oleh para pemilik saham, laba ditahan atau
tambahan modal melalui penjualan saham di pasar modal. Selanjutnya dana-
dana dari sumber dana jangka pendek itu dialokasikan untuk investasi
jangka pendek dalam bentuk kas, piutang, sekuritas dan persediaan.
Sedangkan dana jangka panjang diinvestasikan dalam bentuk harta tetap
atau fixed assets seperti tanah, bangunan, mesin-mesin, peralatan pabrik dan
alat-alat angkutan. Disamping itu, dana jangka panjang dapat diinvestasikan
dalam bentuk royalti, hak paten dan goodwill atau yang disebut dengan
harta tidak berwujud (intangible assets).

Menurut Sudaryono (2017: 341) sasaran dari manajemen keuangan yang

dilakukan oleh suatu perusahaan antara lain menyangkut dua hal berikut ini :
29

(1). Creating Value. Tujuan daripada perusahaan adalah untuk


meningkatkan kekayaan pemiliknya semaksimal mungkin (to create value
of it stakeholders). Value dalam konteks ini dinyatakan dengan harga pasar
dari saham (market price of the company’s common stock). (2). Profit
maximization versus value creation. Provit maximization dianggap sebagai
sasaran yang tepat dari perusahaan, Dalam konteks ini provit maximization
dicerminkan dengan total keuntungan.

Menurut Tampubolon dalam Sunyoto (2014: 275), di samping perannya, tugas

manajer keuangan juga harus mampu mengantisipasi hal berikut :

(1). Risiko likuiditas apabila korporasi itu tidak cukup likuiditasnya maka
korporasi dapat meminjam kepada bank melalui pinjaman jangka pendek,
cerukan dan anjak piutang. (2). Default risk, jika kemungkinan dimana
korporasi itu tidak dapat membayar pinjaman dalam obligasi pada saat jatuh
tempo, untuk mengatasinya diperlukan dana taktis sinking fund. (3). Risiko
keuangan. Yaitu dimana penghasilan operasional bersih atau net operating
income atau EBIT (earning before interest and tax). (4). Resiko operasional
merupakan risiko inflasi dan risiko perubahan kurs yang tedapat dalam
capital budgeting technique di bawah resiko.

Dari beberapa teori manajemen keuangan di atas, dapat disimpulkan bahwa

tanpa adanya manajemen keuangan yang baik, maka suatu usaha tidak akan berjalan

dengan baik pula. Demikian juga pada usaha kerajinan gerabah di Desa Kebur

Kecamatan Merapi Barat Kabupaten Lahat ini, tanpa adanya manajemen keuangan

yang baik, maka usaha tersebut tidak akan berjalan dengan lancar.

5. Teori Manajemen Sumber Daya Manusia

Di era ini, teknologi mendominasi informasi yang dijadikan sebagai bagian

dari infrastruktur yang dapat menjadi andalan bagi para pelaku usaha atau bisnis.

Sosial ekonomi akan lebih didasari oleh ilmu pengetahuan, bukan lagi hanya tanah

atau mesin yang bersifat tradisional. Aset-aset ekonomi bukan hanya bersifat fisik,

seperti bangunan, mesin dan alat-alat kerja lainnya, akan tetapi lebih bersifat kearah

intelektual, seperti permintaan pasar, mitra kerja, citra perusahaan, citra merek, hak
30

paten, kualitas produk, keahlian khusus dan penegakan visi dari usaha tersebut. Hal

tersebut berlaku juga dalam bisnis usaha kerajinan gerabah di Desa Kebur

Kecamatan Merapi Barat Kabupaten Lahat ini. Sehingga sumber daya manusianya

dituntut untuk selalu mengembangkan kemampuan diri secara aktif, belajar dan

bekerja keras sehingga dapat meningkatkan potensi dirinya. Hal tersebut selaras

dengan pendapat yang dikemukakan oleh Sutrisno (2013: 4) yang menyatakan bahwa

“Sumber daya manusia sebagai sumber dari kekuatan yang berasal dari manusia-

manusia yang dapat didayagunakan oleh organisasi”.

Sumber daya manusia yang sanggup menguasai teknologi dengan cepat dan

dapat mengadopsinya dengan baik sangatlah dibutuhkan, agar bisnis ataupun usaha

dapat berjalan dengan baik pula. Seperti halnya dalam bisnis usaha kerajinan gerabah

di Desa Kebur Kecamatan Merapi Barat Kabupaten Lahat ini, dengan meningkatnya

kebutuhan pot bunga di masyarakat, merupakan titik peluang untuk menciptakan

inovasi desain dari gerabah yang berupa pot bunga, sehingga dapat memiliki estetika

yang lebih tinggi dimata konsumen pasar.Dan hal tersebut juga harus didukung oleh

sumber daya manusia yang handal dalam menyikapinya, karena sesuai dengan

pendapat dari Bangun (2012: 112) yang menyatakan bahwa “Sumber daya manusia

adalah manusia yang bekerja di lingkungan suatu organisasi atau sering disebut

tenaga kerja, pekerja atau karyawan”.

Agar suatu usaha atau bisnis dapat bersaing dan terus bertahan dengan

kondisi dunia luar, sumber daya manusia dalam bisnis atau usaha tersebut harus siap

dengan tantangan dan perubahan-perubahan yang terjadi di sekitarnya, demikian juga

pada bisnis kerajinan gerabah di Desa Kebur Kecamatan Merapi Barat Kabupaten
31

Lahat ini. Para anggota dari usaha bisnis tersebut, harus melihat peluang yang unggul

di pasaran, seperti pot bunga yang sedang marak-maraknya berlangsung di dalam

kehidupan masyarakat kita. Kondisi di atas sesuai dengan teori yang dikemukakan

oleh Faida (2019: 25) yang menyatakan bahwa “Kompentensi sumber daya manusia

di suatu organisasi mempengaruhi organisasi tersebut secara keseluruhan”.

Dalam suatu bisnis atau usaha, menempatkan seseorang pada tempat yang

tepat sesuai dengan keahliannya sangatlah diperlukan, karena analisis jabatan

sebelum merekrut anggota organisasi tersebut harus dijalankan dengan cermat, agar

tidak merugikan kinerja dari bisnis atau usaha tersebut. Demikian pula pada bisnis

kerajinan gerabah di Desa Kebur Kecamatan Merapi Barat Kabupaten Lahat ini.

Anggota dari organisasi bisnis tersebut, masih direkrut dari anggota keluarga mereka

sendiri, yang dari kecil sudah belajar secara turun-temurun mengenai kerajinan

gerabah tersebut. Keadaan ini didukung oleh pendapat dari Siagian (2018: 40) yang

menyatakan bahwa :

Manusia merupakan unsur terpenting dalam setiap dan semua organisasi,


keberhasilan organisasi mencapai tujuan dan berbagai sasarannya serta
kemampuannya menghadapi berbagai tantangan, baik yang sifatnya ekternal
maupun internal, sangat ditentukan oleh kemampuan mengelola sumber
daya manusia dengan setepat-tepatnya.

Dengan adanya kemauan untuk belajar lebih baik mengenai kerajinan

gerabah tersebut, maka anggota dari bisnis usaha kerajinan gerabah di Desa Kebur

Kecamatan Merapi Barat Kabupaten Lahat ini, mengikuti pelatihan di Yogyakarta,

guna meningkatkan mutu dan desain bagi produk yang dihasilkan oleh mereka.

Sehinga keuntungan yang diperoleh akan lebih besar dan juga dapat meningkatkan

tarap ekonomi mereka. Fenomena ini sejalan dengan teori yang dikemukakan oleh
32

Notoatmodjo (2009: 2) yang menyatakan bahwa “Kualitas sumber daya manusia

sebuah bangsa ditentukan oleh 3 faktor utama, yakni pendidikan, kesehatan dan

ekonomi”.

Karena manusia pada hakikatnya adalah individu sosial, dimana secara

naluri, ada keinginan untuk hidup berkelompok, yang mempunyai berbagai

kebutuhan hidup masing-masing baik fisik maupun psikologis. Sehingga mereka

memerlukan sarana untuk meningkatkan penghasilan mereka, melalui penerapan dari

keahlian mereka di lapangan. Demikian juga dalam hal membuat kerajinan gerabah

di Desa Kebur Kecamatan Merapi Barat Kabupaten Lahat ini, para anggota dari

usaha tersebut sangat berharap bahwa dengan eksistensi kinerja mereka, dapat

menghasilkan kompensasi yang dapat menunjang finansial dari keluarga mereka

masing-masing. Hal tersebut sesuai dengan teori yang dikemukakan oleh Hamali

(2016: 3) yang menyatakan bahwa :

Sumber daya manusia merupakan satu-satunya sumber daya yang memiliki


akal, perasaan, keinginan, kemampuan, keterampilan, pengetahuan, dorongan,
daya dan karya. Sumber daya manusia adalah satu-satunya sumber daya yang
memiliki rasio, rasa dan karsa. Semua potensi sumber daya manusia tersebut
sangat berpengaruh terhadap upaya organisasi dalam pencapaian tujuannya.

Dari sejumlah teori diatas, dapat disimpulkan bahwa kualitas sumber daya

dari individu tersebut, dapat menunjang kinerja bagi bisnis atau usaha yang

digelutinya serta dapat pula menunjang finansial dari masing-masing anggotanya.

Demikian juga yang terjadi pada peningkatan sumber daya dari anggota pengrajin

gerabah di Desa Kebur Kecamatan Merapi Barat Kabupaten Lahat ini. Karena tanpa

adanya sumber daya manusia yang baik, maka produk yang dihasilkan dari usaha

yang digeluti oleh mereka tidak akan baik pula.


33

6. Teori Organisasi

Di sekitar kita, banyak terdapat organisasi. Organisasi-organisasi tersebut

ada yang berukuran kecil maupun besar, baik itu milik pemerintah, swasta maupun

lembaga swadaya masyarakat. Usaha pengrajin gerabah di Desa Kebur Kecamatan

Merapi Barat Kabupaten Lahat, merupakan sebuah bisnis ataupun usaha dari

masyarakat yang memiliki stuktur organisasi juga. Hal tersebut selaras dengan teori

yang dikemukakan oleh Robbins dan Judge dalam Sunyoto (2014: 194) yang

menyatakan bahwa “Organisasi adalah suatu unit sosial yang terdiri dari dua orang

atau lebih, dikoordinasi secara sadar dan berfungsi dalam suatu dasar yang relatif

terus-menerus untuk mencapai satu atau serangkaian tujuan”.

Dalam proses pembuatan gerabah tersebut, anggota dari bisnis kerajinan

gerabah di Desa Kebur Kecamatan Merapi Barat Kabupaten Lahat ini sudah

memiliki pembagian tugas dan fungsinya masing-masing. Seperti pengadaan bahan

baku tanah liat, pencampuran dan penggilingan tanah liat, pembuatan desain dan

bentuk, penjemuran, pembakaran, pengecatan maupun pemasarannya pada

konsumen pasar. Seperti yang diungkapkan oleh Schein dalam Suranto (2018: 8)

yang menyatakan bahwa “Organisasi adalah suatu koordinasi rasional kegiatan

sekelompok orang yang bekerja sama untuk mencapai tujuan melaui pembagian

pekerjaan dan fungsi hierarki otoritas”.

Dalam pembuatan kerajinan gerabah tersebut, untuk pemilihan desain

produk yang akan diproduksi, para pengrajin akan membuat gerabah sesuai dengan

pesanan konsumen pasar, tanpa mengenyampingkan produk yang sudah ada.

Kapasitas dari produksi gerabah tersebut paling banyak sekitar 200 gerabah per
34

bulannya, hal ini terkendala pada jumlah sumber daya manusianya yang terbatas,

alat yang masih sedikit, tempat penyimpanan bahan mentah dan produk yang sudah

jadi yang masih sempit, serta proses pembuatannya yang lama. Seperti yang

disampaikan oleh Kreitner dan Kinicki dalam Sunyoto (2014: 195) yang

menyatakan bahwa “Cara menilai efektivitas organisasi dapat dilakukan dengan

empat kriteria, yaitu pencapaian tujuan, akuisisi sumberdaya, proses internal dan

kepuasan konstituensi”.

Masih adanya kendala pada jumlah sumber daya manusianya yang terbatas,

alat produksi yang masih sedikit, tempat penyimpanan bahan mentah dan produk

yang sudah jadi yang masih sempit, serta proses pembuatannya yang lama pada

produksi gerabah tersebut, menjadikan jumlah hasil produksi dari gerabah tersebut

masih terbatas juga. Seperti yang dikemukakan oleh Solihin dalam Fatmah (2014:

87) bahwa “Monitoring merupakan proses pengumpulan dan analisis informasi

(berdasarkan indikator yang telah ditetapkan) secara sistematik dan berkelanjutan

tentang kegiatan/program, sehingga dapat dilakukan tindakan koreksi untuk

menyempurnakan kegiatan/program selanjutnya”.

Tidak adanya pengkaderisasian terhadap usaha pengrajin gerabah tersebut,

menjadikan organisasi di bidang usaha kerajinan gerabah pada masyarakat di

Kabupaten Lahat semakin berkurang dan target produksi belum mencapai hasil yang

diinginkan. Selanjutnya Solihin dalam Fatmah (2014: 89) menyatakan bahwa

“Evaluasi adalah proses penilaian pencapaian tujuan dan mengungkapkan masalah

kinerja program/kegiatan untuk memberikan umpan balik bagi peningkatan kualitas

kinerja program/kegiatan”.
35

Usaha kerajinan gerabah di Desa Kebur Kecamatan Merapi Barat

Kabupaten Lahat ini, merupakan suatu bentuk organisasi masyarakat yang

memanfaatkan sumber daya alam dan sumber daya manusia yang ada didesa

tersebut, yang didukung oleh pihak swasta dalam segi pengadaan bahan baku, sarana

maupun prasarananya. Kegiatan tersebut selaras dengan teori yang dikemukakan

Suranto (2018: 13) yang menyatakan bahwa “Organisasi adalah wadah bagi orang-

orang untuk berkumpul, berserikat dan bekerjasama secara sistematis, terencana dan

terkoordinasi dalam memanfaatkan sumber daya yang tersedia (manusia, dana,

material, teknologi, metode dan lingkungan) untuk mencapai tujuan bersama”.

Dalam hal pemasarannya, pengrajin masih menitipkan produk mereka pada

toko yang ada di Kabupaten Lahat dan Kabupaten Muara Enim dan khusus untuk

pembuatan pot bunga, mereka menggunakan reseller untuk memasarkannya melalui

media sosial, yang pesanan mereka berasal dari penduduk lokal maupun penduduk

luar pulau Sumatera. Hal ini sesuai dengan teori yang dikemukakan oleh Suranto

(2018: 14) yang menyatakan bahwa “Dinamika di suatu organisasi menunjukkan

adanya suatu aktivitas, tugas atau jasa pelayanan sebagai sarana berkoordinasi antar

kolega membentuk kesatuan sistem dari bagian-bagian yang saling bergantung”.

Di era moderen ini gerabah yang dihasilkan dari kerajinan tangan

masyarakat di Desa Kebur, selain dibuat dengan teknik tangan biasa, pembuatan

gerabah ini juga sudah menggunakan teknik yang lebih maju, yaitu dibuat dengan

menggunakan tatap batu dan roda putar, sehingga desain serta bentuk produksi yang

dihasilkan akan lebih baik. Seperti teori yang dikemukakan oleh Sudaryono (2017:

11) yang menyatakan bahwa “Kinerja organisasi (organizational performance)


36

adalah ukuran seberapa efisiensi dan efektif organisasi dapat mencapai sasaran yang

diinginkan”.

Dari sejumlah teori yang telah dikaji diatas dapat disimpulkan bahwa

Sebuah organisasi dalam melaksanakan usahanya sangat dipengaruhi oleh sumber

daya manusianya, sarana dan prasarana, efektifitas kinerja maupun usaha dalam

pencapaian tujuannya. Demikian juga pada usaha kerajinan gerabah di Desa Kebur

Kecamatan Merapi Barat Kabupaten Lahat ini, yang kesemuamya faktor tersebut

sangat mendukung untuk keberlangsungan berjalannya organisasi usaha tersebut.

7. Teori Manajemen Operasi dan Produksi

Dengan semakin majunya peradaban dunia, maka akan semakin ketat juga

terjadi persaingan bisnis diantara para pengusaha. Ditunjang oleh adanya

perkembangan teknologi komunukasi yang semakin cepat, telah banyak merubah

gaya hidup masyarakat, transfer informasi maupun karakteristik dari sebuah bisnis.

Kebijakan dalam mengambil keputusan tentang manajemen operasi dari sebuah

perusahan harus memperhatikan beberapa hal antara lain seperti yang dikemukakan

oleh Sunyoto (2014: 231) yang menyatakan bahwa :

(1). Desain produk dan jasa. Desain produk yang dibuat hendaknya menarik
bagi konsumen dan efektif biaya. Fleksibilitas dan inovasi perlu terus
dilakukan agar dapat menghasilkan desain produk yang menarik. (2).
Perencanaan proses produksi. Keputusan ini menyangkut bagaimana
memperoleh bahan, menentukan tenaga kerja yang diperlukan, peralatan
dan teknologi yang digunakan serta manajemen proses yang diperlukan. (3).
Layout fasilitas. Penyusunan layout meliputi penataan mesin, tempat
penyimpanan bahan bakar, tempat penyimpanan produk jadi, penataan
ruang kantor dan sebagainya. (4). Penentuan lokasi dan material handling.
Berbagai faktor yang diperhatikan, antara lain: kedekatan dengan
konsumen, ketersediaan bahan baku, fasilitas yang diperlukan dalam proses
produksi, lingkungan yang mendukung, fasilitas transportasi, iklim dan
sebagainya. (5). Desain tugas dan pekerjaan. Keputusan operasi juga
dikaitkan dengan desain tugas dan pekerjaan dengan menyesuaikan dengan
37

kebutuhan proses dengan seefisien mungkin, juga mempertimbangkan


kinerja yang diinginkan, serta mesin yang digunakan. (6). Peramalan produk
dan jasa. Peramalan digunakan sebagai dasar penentuan jumlah produksi,
serta jumlah bahan baku yang akan dibutuhkan. (7). Penjadwalan dan
perencanan produk. Penjadwalan diperlukan untuk menentukan jadwal
kapan dimulai dan kapan produksi diakhiri.

Pada zaman dahulu, gerabah di desa ini dibuat secara sederhana, dibentuk

hanya dengan menggunakan tangan saja, yang berciri-ciri antara lain bentuk

adonannya terlihat kasar dan bagian pecahannya juga dipenuhi oleh jejak-jejak dari

tangan maupun dari sidik jari, bentuknya juga kadang tidak simetris. yang

digunakan sebagai hanya sebagai pekakas keperluan rumah tangga dan untuk

digunakan dalam acara religius. Dalam proses produksi suatu usaha ataupun bisnis,

Render dalam Sunyoto (2014: 232) menawarkan tiga alternatif yaitu :

(a). Fokus proses. Produk dengan jumlah sedikit dan tetapi jenisnya
beraneka ragam, menggunakan proses produksi yang fokus pada proses atau
sering disebut juga proses yang terputus-putus (intermittent processes). Bila
peralatan produksinya diatur diseputar proses, hal ini menunjukkan bahwa
perusahaan tersebut memiki fokus proses. (b). Fokus produk. Proses dengan
jumlah produk besar namun variasinya sedikit adalah proses yang fokus
produk. Peralatan produksinya diatur diseputar produk. Proses ini disebut
pula proses yang terus-menerus (continous process). Contoh perusahaan
pembuat kertas, dimana perusahaan membuat produknya dari hari kehari
selalu sama dapat mengatur peralatan produksinya di seputar produk.
Perusahaan yang berfokus pada produk, biasanya produknya telah
distandarisasi dan dalam pengendaliannya memakai pengendalian mutu
statistik. (c). Fokus proses berulang. Produksi dapat berupa proses yang
berulang, dimana dalam proses ini menggunakan modul. Modul adalah suku
cadang atau komponen yang sebelumnya telah disiapkan. Penggunaan
proses berulang ini misalnya pada perakitan mobil dan perlengkapan
elektronik, juga perusahaan fast food. Perusahaan yang menggunakan proses
berulang ini memungkinkan diadakannya penyesuaian yang lebih banyak
dibandingkan pada proses kontinu.

Dalam perencanaan proses diputuskan tentang komponen mana yang akan

dibuat sendiri oleh suatu usaha ataupun bisnis atau dapat dibeli dari para pemasok

bahan, memilih proses dan peralatan khusus ataupun baru, serta mengembangkan
38

dokumen yang diperlukan untuk pabrik dan pendistribusiannya di lapangan.

Krajewski, Maholtra dan Ritzman dalam Sunyoto (2014: 235) menjelaskan bahwa

“Dokumen yang menjelasakan secara detail spesifikasi proses pabrikasi dan

distribusi suatu produk disebut rencana proses”.

Saat ini, gerabah yag dihasilkan dari pengrajin di Desa Kebur tersebut

sudah memiliki banyak peningkatan, baik dari segi desain, jumlah produksi maupun

mutu dari gerabah tersebut. Gerabah yang dihasilkan saat ini sudah banyak

variasinya antara lain berupa perendangan/tempat untuk mengsangrai biji kopi

mentah, belanga untuk memasak gulai atau sayur, periuk untuk memasak nasi,

cuwek atau cobek, kendi air minum, kendi tempat ari-ari, kendi untuk ziarah, asbak,

anglo, tungku masak, celengan, guci, dupa menyan, pot bunga dan tempayan

wudhu. Saat ini orderan gerabah dari desa ini bukan hanya dari dalam Kabupaten

Lahat saja, tetapi juga telah menjalar ke luar Kabupaten Lahat.

Di era moderen ini gerabah yang dihasilkan dari kerajinan tangan

masyarakat di Desa Kebur, selain dibuat dengan teknik tangan biasa, pembuatan

gerabah ini juga sudah menggunakan teknik yang lebih maju, yaitu dibuat dengan

menggunakan tatap batu dan roda putar. Untuk pemilihan desain produk yang akan

diproduksi, para pengrajin membuat gerabah tersebut sesuai dengan pesanan

konsumen pasar, tanpa mengenyampingkan produk yang sudah ada. Kapasitas dari

produksi gerabah tersebut paling banyak sekitar 200 gerabah per bulannya, hal ini

terkendala pada jumlah sumber daya manusianya yang terbatas, alat yang masih

sedikit, tempat penyimpanan bahan mentah dan produk yang sudah jadi yang masih
39

sempit, serta proses pembuatannya yang lama. Seperti yang dikemukakan Sunyoto

(2014: 236) yang menyatakan bahwa :

Apabila teknologi produksi sederhana, biasanya memiliki kapasitas


rendah, investasi awalnya rendah, bersifat padat karya (labour intensive),
biaya produksinya tetap rendah, tetapi biaya variabelnya mahal. Apabila
perusahaan menggunakan teknologi yang canggih, biasanya investasi
awalnya mahal, bersifat padat modal (capital intensive), biaya produksinya
tetap mahal, tetapi biaya variabel/unitnya rendah.

Dari beberapa teori manajemen operasi dan produksi diatas dapat

disimpulkan bahwa adanya manajemen operasional pada sebuah badan usaha,

berdampak pada keputusan dalam membuat perencanaan, pelaksanaan produksi,

perencanaan kapasitas, perencanaan lokasi, perencanaan layout dan perencanaan

sistem kerja akan mempengaruhi desain dan kafasitas produk yang dihasilkan. Yang

kesemuanya itu terjadi pula pada usaha kerajinan gerabah di Desa Kebur Kecamatan

Merapi Barat Kabupaten Lahat.

8. Teori Manajemen Pemasaran

Pemasaran sebuah produk merupakan ujung tombak bagi sebuah usaha

ataupun bisnis. Dengan adanya persaingan yang ketat, maka sebuah usaha dituntut

untuk tetap bertahan dan mengembangkan kegiatannya semaksimal mungkin.

Permintaan terhadap produk maupun jasa yang diperlukan konsumen dipengaruhi

oleh berbagai faktor antara lain seperti yang disampaikan oleh Vitale dalam

Sudaryono (2017: 263) yaitu ”(1). Harga barang itu sendiri. (2). Harga barang lain

yang memiliki hubungan (barang pengganti atau barang pelengkap). (3). Pendapatan,

(4). Selera. (5). Jumlah penduduk. (6). Faktor khusus (akses).


40

Teknik pemasaran yang baik akan membuka peluang bagi pengusaha

untuk mengembangkan produk yang dimilikinya, baik kualitas maupun kuantitasnya.

Menurut Stanton dalam Sunyoto (2014: 32) yang menyatakan bahwa :

Marketing is a total system business design to plan, price, promote and


distribute want satisfying products to target market to achieve
organizational objective. (Pemasaran adalah suatu sistem total dari
kegiatan bisnis yang dirancang untuk merencanakan, menentukan harga,
promosi dan mendistribusikan barang-barang yang dapat memuaskann
keinginan dan mencapai pasar sasaran serta tujuan perusahaan).

Untuk dapat mengetahui serta menilai apakah produk tersebut dapat

diterima dan diserap oleh konsumen pasar, maka para usahawan harus lebih

memahami tentang analisis permintaan serta penawaran dari konsumen, mencari

pasar yang cocok serta memiliki potensial produk tersebut dapat dipasarkan, menilai

apakah ada persaingan sehingga dapat memilih strategi pemasaran yang cocok untuk

produknya.

Demikian juga pada pengrajin gerabah di Desa Kebur Kecamatan Merapi

Barat Kabupaten Lahat, mereka belum memiliki persaingan pasar di daerah tersebut

dan mereka sudah memiliki reseler tetap untuk memasarkan produk mereka. Seperti

teori yang dikemukakan oleh Kotler dalam Sudaryono (2017: 265) yang menyatakan

bahwa “Pemasaran adalah suatu proses sosial dan manajerial dimana individu dan

kelompok memperoleh apa yang mereka butuhkan dan inginkan dengan cara

menciptakan serta mempertukarkan produk dan nilai dengan pihak lain”.

Untuk pemasaran gerabah dari produksi Desa Kebur Kecamatan Merapi

Barat Kabupaten Lahat ini, pengrajin masih menitipkan produk mereka pada toko

yang ada di Kabupaten Lahat dan Kabupaten Muara Enim dan khusus untuk

pembuatan pot bunga, mereka menggunakan reseller untuk memasarkannya melalui


41

media sosial, yang pesanan mereka berasal dari penduduk lokal maupun keluar pulau

Sumatera. Seperti teori yang dikemukakan oleh Deliyanti dalam Sudarsono (2017:

265) yang menyatakan bahwa :

Suatu produk berupa barang atau jasa untuk dapat dikenal, dimengerti,
dipahami dan disukai oleh masyarakat atau konsumen perlu dipasarkan.
Untuk itu setiap wirausahawan harus memahami konsep pemasaran,
karena di dalamnya terdapat hubungan yang erat antara wirausahawan
dan konsumen terkait kebutuhan, keinginan, permintaan, produk, jasa,
nilai, kepuasan, kualitas, pertukaran, transaksi, hubungan dan pasar, yang
terikat satu sama lain.

Dari beberapa teori pemasaran di atas dapat diambil kesimpulan bahwa

pemasaran adalah suatu kegiatan yang dilakukan untuk mengalirkan atau produk

atau jasa dari produsen kepada konsumen, baik secara langsung maupun tidak

langsung.

8. Teori Aspek Hukum

Dalam mendirikan sebuah usaha, analisis aspek hukum harus dilakukan

secara teliti dan cermat, baik dari segi persiapan maupun pelaksanaannya. Seperti

teori yang dikemukakan oleh Permana dalam Sunyoto (2014: 304) yang menyatakan

bahwa “Kebiasaan-kebiasaan dalam mendirikan perusahaan dagang yang diikuti oleh

terus-menerus sehingga menjadi hukum dan diikuti serta dipatuhi”.

Usaha dagang merupakan sebuah perusahaan yang dimiliki serta

didirikan oleh seseorang secara pribadi. Adapun syarat-syarat yang harus dimiliki

dalam mendirikan sebuah usaha dagang menurut Sunyoto (2014: 310) adalah

“Fotocopy kartu tanda penduduk pengelola usaha, fotokopy kartu keluarga, nama

usaha, alamat tempat usaha, surat keterangan dari pemerintah setempat (RT, RW,
42

Kelurahan), semua dokumen di atas dapat diurus di kantor notaris di wilayah operasi

usaha yang akan dibuka”.

Adapun syarat-syarat lain yang penting untuk kelengkapan dokumen

izin usaha menurut Sunyoto (2014: 314) antara lain “Surat izin lokasi, surat izin

usaha perdagangan, surat izin tempat usaha, penerimaan sewa tanah, tanda daftar

perusahaan, surat izin gangguan, surat izin prinsip, nomor pokok wajib pajak”.

Badan Hukum

Tanda Daftar Perusahaan

NPWP

Surat Izin Usaha

Izin Domisili

Izin Mendirikan

Bukti Diri

Izin lainnya

Skema 2.1
Dokumen yang diperlukan dalam aspek hukum
Sumber : Kasmir & Jakfar dalam Sunyoto (2014: 321)

Dalam hal izin usaha, usaha kerajinan gerabah di Desa Kebur Kecamatan

Merapi Barat Kabupaten Lahat ini


43

Dari beberapa teori aspek hukum diatas dapat disimpulkan bahwa setiap

unit usaha perdagangan harus memenuhi aspek-aspek hukum yang telah ditetapkan

sebelum memulai usaha tersebut dan selalu berkoordinasi dengan pihak-pihak yang

terkait dengan aspek hukum tersebut, sehingga kelancaran dari usaha tersebut dapat

berjalan dengan baik.

B. Definisi Konsep

Definisi konsep adalah suatu istilah yang digunakan untuk menggambarkan

suatu keadaan secara abstrak dari sebuah ide atau gagasan yang dapat ditampilkan

melalui sebuah kata, kode maupun simbol, sehingga para pembacanya akan lebih

mudah mengerti tentang apa yang dibacanya. Adapun dalam penelitian ini, Peneliti

mengambil judul “Studi Kelayakan Bisnis Pada Pengrajin Gerabah di Desa Kebur

Kecamatan Merapi Barat Kabupaten Lahat”. Adapun konsep dari istilah yang

digunakan adalah :

1. Studi

Menurut kamus besar bahasa Indonesia (KBBI), makna dari kata studi adalah

penelitian ilmiah, kajian, telaahan. Sedangkan menurut Sunyoto (2014: 2) bahwa

“Studi mempunyai arti kata untuk mencari tahu sesuatu melalui pembelajaran

tertentu”.

2. Kelayakan

Menurut kamus besar bahasa Indonesia (KBBI), makna kelayakan adalah

perihal layak (patut, pantas), kepantasan, kepatutan. Sedangkan kelayakan seperti

teori yang dikemukakan oleh Sunyoto (2014: 2) adalah “Mempunyai arti kata sesuai
44

atau baik, dalam hal ini karena berkaitan dengan usaha maka dapat pula diartikan

sebagai laba”.

3. Bisnis

Menurut kamus besar bahasa Indonesia (KBBI), makna bisnis adalah usaha

komersial dalam dunia perdagangan, bidang usaha, usaha dagang. Sedangkan

menurut Sunyoto (2014: 2) dapat diartikan sebagai “Kegiatan atau usaha untuk

menghasilkan barang untuk memenuhi kebutuhan konsumen dan mendapatkan laba

dari kegiatan tersebut”.

4. Kerajinan

Menurut kamus besar bahasa Indonesia (KBBI), makna kerajinan adalah

perihal rajin, kegiatan, kegetolan.

5. Gerabah

Menurut kamus besar bahasa Indonesia (KBBI), makna gerabah ialah alat-

alat dapur (untuk masak-memasak dan sebagainya) yang dibuat dari tanah liat yang

kemudian dibakar (misal kendi, belanga).

6. Desa Kebur

Merupakan sebuah desa yang berada di Kecamatan Merapi Barat, Kabupaten

Lahat, Sumatera Selatan. Desa

7. Kecamatan Merapi Barat

Kecamatan Merapi Barat merupakan pecahan dari Kecamatan Merapi di

Kabupaten Lahat .

8. Kabupaten Lahat
45

Kabupaten Lahat merupakan salah satu kabupaten di Sumatera Selatan, yang

secara geografis terletak antara 3, 25 derajat sampai dengan 4, 15 derajat Lintang

Selatan, 102, 37 derajat sampai dengan 103, 45 derajat Bujur Timur. Kabupaten

Lahat memiliki luas wilayah seluas 4.361, 83 km kuadrat, dengan batasan wilayah

sebagai berikut :

- Sebelah Utara : Kabupaten Muara Enim dan Musi Rawas.

- Sebelah Selatan : Kota Pagar Alam dan Kabupaten Bengkulu Selatan.

- Sebelah Timur : Kabupaten Muara Enim.

- Sebelah Barat : Kabupaten Empat Lawang.

Secara umum, Kabupaten Lahat merupakan dataran tinggi yang termasuk

pada alur bukit barisan, dengan iklim tropis basah, dengan penduduk yang majemuk,

baik suku, ras, agama, pekerjaan, penghasilan maupun pendidikan, yang terdiri dari 7

kecamatan induk, yaitu Kecamatan Lahat, Kecamatan Kikim, Kecamatan Kota

Agung, Kecamatan Jarai, Kecamatan Tanjung Sakti, Kecamatan Pulau Pinang

dan Kecamatan Merapi, namun pasca pemekaran daerah, jumlah kecamatan di

Kabupaten Lahat bertambah menjadi 22 kecamatan, dengan luas 5.312 km2, dengan

14 kelurahan, 509 desa definitif dan 4 desa persiapan. Mata pencaharian penduduk

asli di Kabupaten Lahat adalah bertani dan berkebun.

C. Penelitian Terdahulu Yang Relevan

Untuk melengkapi literatur dalam penelitian ini, peneliti mengambil beberapa

penelitian terdahulu yang relevan dengan pokok permasalahan yang sedang diteliti

untuk dijadikan sebagai bahan kajian. Penelitian terdahulu yang relevan dengan
46

penelitian yang penulis lakukan saat ini, antara lain seperti yang ada dalam tabel di

bawah ini :

Tabel 2.1
Penelitian Terdahulu Yang Relevan

N Nama Judul Metode Hasil Penelitian Persamaan dan


o Penelitian Perbedaan
1. Davit The Principles Kualitatif Strategi dan taktik Persamaan :
Pelletier, and practices prestasi dari a. Memiliki kesamaan
et al. of Nutrion pembelajaran dijelaskan tema penelitian
(2013) Advocacy: untuk tiga studi kasus di yaitu mengenai
Evidence, Uganda, Vietnam dan penurunan stunting.
Experience Bangladesh, terhadap b Memiliki kesamaan
and The Way kasus-kasus ini dan dari metode penelitian
Forward For pengalaman tempat yaitu pendekatan
Stunting lain, menunjukkan kualitatif dan studi
Reduction bahwa dengan adanya kasus.
(Prinsip dan advokasi yang terpadu, Perbedaan :
Praktik terencana dengan baik a. Peneliti meneliti
Advokasi Gizi, dan diimplementasikan tentang inovasi
Melalui dengan baik, maka akan implementasi
Pengalaman dapat membawa kebijakan Peraturan
dan Tujuan pencapaian penurunan Bupati Pidie nomor
Jangka stunting yang signifikan 77 tahun 2017
Panjang Dalam dalam waktu yang tentang penurunan
Penurunan singkat. stunting,
Stunting) sedangkan
penelitian
sebelumnya
meneliti tentang
prinsip dan praktik
advokasi gizi
melalui
pengalaman dan
tujuan jangka
panjang dalam
penurunan stunting.
b. Peneliti
menggunakan
analisa komparasi
untuk menegaskan
pemilihan lokasi
penelitian, yaitu
satu gampong
47

untuk menjadi satu


lokasi penelitian,
sedangkan
penelitian
sebelumnya
mengambil tiga
negara sebagai
lokasi penelitian.
2. Kelley Mixed- Kualitatif Hambatan utama untuk Persamaan :
Brown, Methods Study Kuantitatif program komunitas a. Sama-sama meneliti
et al . Identifies Key seputar stunting adalah tentang stunting.
(2014) Strategies for persepsi bahwa b. Sama-sama
Improving malnutrisi hanya terjadi menggunakan
Infant and di komunitas yang lain pendekatan
Young Child dan disebabkan oleh kualitatif.
Feeding kekurangann nutrisi Perbedaan :
Practices in a yang akut atau kronis. a. Penelitian
Highly Stunted Makanan komersial sebelumnya
rural termasuk junk food menambahkan
indigenous dikonsumsi secara pendekatan
Population in teratur, sehingga kuantitatif untuk
Guatemala sebagian pendapatan mendukung
(Studi Metode keluarga di habiskan kajiannya.
Campuran untuk membeli hal b. Penelitian
Dalam tersebut dari pada sebelumnya
Mengidentifika membeli makanan yang menggunakan
si Strategi bergizi. Melihat kondisi teknik
Kunci Untuk tersebut perlu adanya pengumpulan data
Meningkatkan peran serta dari focus group
Praktik pemangku kepentingan discussion (FGDs)
Pemberian untuk mengarahkan untuk pendekatan
Makanan yang inisiatif perubahan kualitatifnya,
Bergizi pada perilaku bagi anggota sedangkan peneliti
bayi dan pada keluarga untuk menggunakan
populasi yang mengkonsumsi teknik wawancara,
Tinggi stunting makanan yang bergizi. observasi, studi
di Pedesaan dokumentasi dan
Pribumi triangulasi.
Guatemala)
3. Ty Beal, A Review of Kualitatif Bukti yang konsisten Persamaan :
et al. Child Stunting menunjukkan bahwa a. Sama-sama meneliti
(2018) Determinants pemberian ASI non tentang masalah
in Indonesia ekslusif selama 6 bulan stunting.
( Review pertama, rendahnya b. Sama-sama
Determinan status sosial ekonomi, melakukan
Anak Stunting kelahiran prematur, pendekatan
48

di Indonesia) bayi lahir pendek, berat kualitatif.


badan lahir rendah dan Perbedaan :
pendidikan ibu a. Penelitian
merupakan faktor sebelumnya
penentu terjadinya menggunakan studi
kasus stunting pada literatur, sedangkan
anak di Indonesia. peneliti
Anak-anak dari rumah menggunakan studi
tangga dengan jamban kasus dan analisis
yang tidak bagus dan komparatif.
tidak dirawat ditunjang
dengan sanitasi air
minum yang tidak baik
juga dapat beresiko
tinggi dalam penentu
terjadinya kasus
stunting.
4. Nurbiah, The Potency of Kualitatif, Prevalensi kasus Persamaan :
et al. Socio- Kuantitatif stunting di suku Muna a. Memiliki tema
(2019) Economic lebih tinggi dari yang sama dalam
Family and prevalensi stunting penelitian, yaitu
Cultur Faktor tingkat nasional, faktor meneliti tentang
in Affecting budaya seperti masalah stunting.
Stunting of prelactal feeding b. Penelitian sama-
Muna Ethnik merupakan faktor yang sama dilakukan
in paling berpengaruh dengan
Batalaiworu, terhadap terjadinya menggunakan
Southeast stunting. pendekatan
Sulawesi kualitatif.
(Potensi Sosial c. Penelitian sama-
Ekonomi sama
Keluarga dan menggunakan
Faktror tekhnik wawancara
Budaya Dalam dan triangulasi
Mempengaruhi dalam
Stunting Pada pengumpulan data.
Suku Muna di Perbedaan :
Batalaiworu, a. Penelitian
Sulawesi sebelumnya
Tenggara) menggabungkan
pendekatan
kuantitatif dalam
melakukan
pengkajian
penelitian,
sedangkan peneliti
49

melakukan studi
kasus dan analisa
komparatif dalam
menentukan lokasi
penelitian.
5. Rini Environmental Kualitatif Peran perempuan secara Persamaan :
Archda Sanitation and produktif, reproduktif a. Memiliki kesamaan
Saputri, Stunting dalam sosial sangatlah tema penelitian
et al. (Study of the strategis dalam yaitu mengenai
(2020) Role of Women menentukan terhadap stunting.
in Stunting terjadinya kasus b Memiliki kesamaan
Intervention) stunting, namun untuk metode penelitian
Sanitasi dapat menjalankan yaitu pendekatan
Lingkungan peran tersebut secara kualitatif.
dan Stunting maksimal, diperlukan Perbedaan :
(Study Tentang akses dan kontrol bagi a. Penelitian
Peran perempuan tersebut. sebelumnya
Perempuan Dukungan dari sisi menggunakan
Dalam kebijakan, ekonomi, analisa gender
Intervensi sosial, budaya dan sedangkan peneliti
Stunting) hukum merupakan menggunakan
faktor-faktor yang analisa komparatif
sangat dibutuhkan oleh dalam menentukan
perempuan, baik lokasi penelitian
sebagai ibu maupun dan analisa data
sebagai calon ibu. Agar dari Miles,
dapat menjalankan Huberman and
perannya secara Saldana.
maksimal dan
sepenuhnya, oleh
karena itu diperlukan
kebijakan afirmatif
yang dapat mendukung
akses dan kontrol pada
perempuan sehingga
angka stunting dapat
diturunkan.

1. Davit Pelletier, et al, 2013, Jurnal, dengan judul “The Principles and practices of

Nutrion Advocacy: Evidence, Experience and The Way Forward For Stunting Reduction

(Prinsip dan Praktik Advokasi Gizi, Melalui Pengalaman dan Tujuan Jangka Panjang

Dalam Penurunan Stunting)”. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif.


50

Dengan hasil penelitian menunjukkan bahwa strategi dan taktik prestasi dari

pembelajaran dijelaskan untuk tiga studi kasus di Uganda, Vietnam dan Bangladesh,

terhadap kasus-kasus ini dan dari pengalaman tempat lain, menunjukkan bahwa dengan

adanya advokasi yang terpadu, terencana dengan baik dan diimplementasikan dengan

baik, maka akan dapat membawa pencapaian penurunan stunting yang signifikan dalam

waktu yang singkat.

Persamaan :

a. Memiliki kesamaan tema penelitian yaitu mengenai penurunan stunting.

b. Memiliki kesamaan metode penelitian yaitu pendekatan kualitatif dan studi kasus.

Perbedaan :

a. Peneliti meneliti tentang inovasi implementasi kebijakan Peraturan Bupati Pidie

nomor 77 tahun 2017 tentang penurunan stunting, sedangkan penelitian sebelumnya

meneliti tentang prinsip dan praktik advokasi gizi melalui pengalaman dan tujuan

jangka panjang dalam penurunan stunting.

b. Peneliti menggunakan analisa komparasi untuk menegaskan pemilihan lokasi

penelitian, yaitu satu gampong untuk menjadi satu lokasi penelitian, sedangkan

penelitian sebelumnya mengambil tiga negara sebagai lokasi penelitian.

2. Kelley Brown, et al. (2014). Jurnal. Dengan Judul “Mixed- Methods Study Identifies

Key Strategies for Improving Infant and Young Child Feeding Practices in a Highly

Stunted rural indigenous Population in Guatemala (Studi Metode Campuran Dalam

Mengidentifikasi Strategi Kunci Untuk Meningkatkan Praktik Pemberian Makanan

yang Bergizi pada bayi dan pada populasi yang Tinggi Stunting di Pedesaan Pribumi

Guatemala). Penelitian ini menggunakan pendekatan campuran yaitu kualitatif dan


51

kuantitatif. Dengan hasil penelitian adalah hambatan utama untuk program komunitas

seputar stunting adalah persepsi bahwa malnutrisi hanya terjadi di komunitas yang lain

dan disebabkan oleh kekurangann nutrisi yang akut atau kronis. Makanan komersial

termasuk junk food dikonsumsi secara teratur, sehingga sebagian pendapatan keluarga

di habiskan untuk membeli hal tersebut dari pada membeli makanan yang bergizi.

Melihat kondisi tersebut perlu adanya peran serta dari pemangku kepentingan untuk

mengarahkan inisiatif perubahan perilaku bagi anggota keluarga untuk mengkonsumsi

makanan yang bergizi.

Persamaan :

a. Sama-sama meneliti tentang stunting.

b. Sama-sama menggunakan pendekatan kualitatif.

Perbedaan :

a. Penelitian sebelumnya menambahkan pendekatan kuantitatif untuk mendukung

kajiannya.

b. Penelitian sebelumnya menggunakan teknik pengumpulan data focus group

discussion (FGDs) untuk pendekatan kualitatifnya, sedangkan peneliti menggunakan

teknik wawancara, observasi, studi dokumentasi dan triangulasi.

3. Ty Beal, et al. (2018). Jurnal. Dengan Judul “A Review of Child Stunting Determinants

in Indonesia” (Review Determinan Anak Stunting di Indonesia). Penelitian ini

menggunakan pendekatan kualitatif, dengan hasil penelitian menunjukkkan bahwa bukti

yang konsisten menunjukkan bahwa pemberian ASI non ekslusif selama 6 bulan

pertama, rendahnya status sosial ekonomi, kelahiran prematur, bayi lahir


52

pendek, berat badan lahir rendah dan pendidikan ibu merupakan faktor penentu

terjadinya kasus stunting pada anak di Indonesia. Anak-anak dari rumah tangga dengan

jamban yang tidak bagus dan tidak dirawat ditunjang dengan sanitasi air minum yang

tidak baik juga dapat beresiko tinggi dalam penentu terjadinya kasus stunting di

Indonesia.

Persamaan :

a. Sama-sama meneliti tentang masalah stunting.

b. Sama-sama melakukan pendekatan kualitatif.

Perbedaan :

a. Penelitian sebelumnya menggunakan studi literatur, sedangkan peneliti menggunakan

studi kasus dan analisis komparatif.

4. Nurbiah, et al, (2019), Jurnal, dengan judul “The Potency of Socio-Economic Family

and Cultur Faktor in Affecting Stunting of Muna Ethnik in Batalaiworu, Southeast

Sulawesi (Potensi Sosial Ekonomi Keluarga dan Faktror Budaya Dalam Mempengaruhi

Stunting Pada Suku Muna di Batalaiworu, Sulawesi Tenggara)”. Penelitian ini

menggabungkan pendekatan kualitatif dan kuantitatif. Dengan hasil penelitian

menunjukan bahwa prevalensi kasus stunting di suku Muna lebih tinggi dari prevalensi

stunting tingkat nasional, faktor budaya seperti prelactal feeding merupakan faktor yang

paling berpengaruh terhadap terjadinya stunting.

Persamaan :

a. Memiliki tema yang sama dalam penelitian, yaitu meneliti tentang masalah stunting.

b. Penelitian sama-sama dilakukan dengan menggunakan pendekatan kualitatif.


53

c. Penelitian sama-sama menggunakan tekhnik wawancara dan triangulasi dalam

pengumpulan data.

Perbedaan :

a. Penelitian sebelumnya menggabungkan pendekatan kuantitatif dalam melakukan

pengkajian penelitian, sedangkan peneliti melakukan studi kasus dan analisa

komparatif dalam menentukan lokasi penelitian.

5. Rini Archda Saputri, et al, (2020), Jurnal, dengan judul “Environmental Sanitation and

Stunting (Study of the Role of Women in Stunting Intervention) Sanitasi Lingkungan

dan Stunting (Study Tentang Peran Perempuan Dalam Intervensi Stunting)”.

Pendekatan dalam penelitian ini adalah kualitatif, dengan menggunakan analisa gender

Penelitian ini merupakan kritik pada teori feminis untuk memperkuat kerangka analisa

gender. Dengan hasil penelitian menunjukkan bahwa peran perempuan secara

produktif, reproduktif dalam sosial sangatlah strategis dalam menentukan terhadap

terjadinya kasus stunting, namun untuk dapat menjalankan peran tersebut secara

maksimal, diperlukan akses dan kontrol bagi perempuan tersebut. Dukungan dari sisi

kebijakan, ekonomi, sosial, budaya dan hukum merupakan faktor-faktor yang sangat

dibutuhkan oleh perempuan, baik sebagai ibu maupun sebagai calon ibu. Agar dapat

menjalankan perannya secara maksimal dan sepenuhnya, oleh karena itu diperlukan

kebijakan afirmatif yang dapat mendukung akses dan kontrol pada perempuan sehingga

angka stunting dapat diturunkan.

Persamaan :

a. Memiliki kesamaan tema penelitian yaitu mengenai stunting.

b Memiliki kesamaan metode penelitian yaitu pendekatan kualitatif.


54

Perbedaan :

a. Penelitian sebelumnya menggunakan analisa gender sedangkan peneliti

menggunakan analisa komparatif dalam menentukan lokasi penelitian dan analisa

data menggunakan analisa data dari Miles, Huberman and Saldana.

D. Kerangka Konseptual

Kerangka konseptual dibuat untuk memberikan gambaran atau memberi arah

terhadap asumsi yang akan di dapat pada saat melakukan penelitian. Secara konseptual,

peneliti akan melihat latar belakang, rumusan masalah, tinjauan pustaka dan

melaksanakan proses pada metode penelitian, menghubungkan hasil penelitian dengan

teori-teori yang sudah agar dapat melahirkan konsep baru.

1. Judul : Studi Kelayakan Bisnis Pada Pengrajin Gerabah di Desa Kebur

Kecamatan Merapi Barat Kabupaten Lahat

2. Latar Belakang : Di Kabupaten Lahat, menunjukkkan fenomena bahwa

berkurangnya pengrajin gerabah yang ada di daerah tersebut

dan hanya ada satu desa yang masih memproduksinya yaitu

Desa Kebur Kecamatan Merapi Barat.

3. Rumusan Masalah : Berdasarkan identifikasi masalah yang telah peneliti

paparkan di atas, maka rumusan masalah dalam penelitian

ini adalah untuk mengkaji antara lain tentang :

1). Apakah pengrajin gerabah di Desa Kebur Kecamatan

Merapi Barat Kabupaten Lahat sudah memenuhi aspek

kelayakan bisnis ?
55

2). Bagaimana keperdulian pihak terkait pada pelaksanaan

pelestarian kerajinan gerabah di Kabupaten Lahat ?

4. Tinjauan Pustaka :

a. Teori Utama : 1. Teori Fakta Sosial

2. Teori Sosial

a. Teori Perilaku Konsumen

b. Teori Dampak Sosial dan Lingkungan

3. Teori Kelayakan Bisnis

b. Teori Penunjang : 1. Teori Manajemen Keuangan

2. Teori Manajemen Sumber Daya Manusia

3. Teori Organisasi

4. Teori Manajemen Operasi dan Produksi

5. Teori Manajemen Pemasaran

6. Teori Aspek Hukum

5. Pendekatan Penelitian : - Pendekatan Kualitatif

- Metode Deskriptif

6. Temuan

7. Proposisi
56

STUDI KELAYAKAN BISNIS PADA PENGRAJIN GERABAH DI DESA


KEBUR KECAMATAN MERAPI BARAT KABUPATEN LAHAT

Di Kabupaten Lahat, menunjukkkan fenomena bahwa berkurangnya pengrajin


gerabah yang ada di daerah tersebut dan hanya ada satu desa yang masih memproduksinya yaitu Desa Kebur Kecamatan
Merapi Barat.

da tahun 2017, pad

RUMUSAN MASALAH
1). Apakah pengrajin gerabah di Desa Kebur Kecamatan Merapi Barat
Kabupaten Lahat sudah memenuhi aspek kelayakan bisnis ?
2). Bagaimana keperdulian pihak terkait pada pelaksanaan pelestarian
kerajinan gerabah di Kabupaten Lahat ?

TEORI PENUNJANG
TEORI UTAMA
1. Teori Manajemen Keuangan
2. Teori Manajemen Sumber
11. Teori Fakta Sosial Daya Manusia
22. Teori Sosial 3. Teori Organisasi
a.Teori Perilaku Konsumen 4. Teori Manajemen Operasi
b.Teori Dampak Sosial dan Lingkungan FOKUS PENELITIAN
dan Produksi
3. Teori Kelayakan Bisnis 5. Teori Manajemen Pemasaran
1). Aspek kelayakan bisnis pada pengrajin
6. Teori Aspek Hukum
gerabah di Desa Kebur Kecamatan Merapi
Barat Kabupaten Lahat
2). Keperdulian pihak terkait pada pelaksanaan
pelestarian kerajinan gerabah di Kabupaten
Lahat

PENDEKATAN PENELITIAN
Pendekatan Kualitatif, Metode Deskriptif

TEMUAN

PROPOSISI

Skema 2.2 : Kerangka Konseptual Penelitian