Anda di halaman 1dari 9

LAPORAN PRAKTIKUM

FARMAKOGNOSI 2
“EKSTRASI SOKLETASI”

Dosen pengampu : 1. Dra Ike Yulia Wiendarlina,M. Farm., Apt


2. Yulianita M. Farm., Apt

3. Novi Fajar Utami, M. Farm., Apt

4. Merybet Tri R.H, M. Farm., Apt

5. Fitria Dewi Sulistyono, M.Si

Asisten dosen : Rani Meilana Wulandari

Disusun Oleh :

Nama : Cyltriani Lase

NPM : 066119127

Kelas : D Farmasi 19

LABOLATORIUM
FARMASI
PROGRAM STUDI
FARMASI
FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM
UNIVERSITAS PAKUAN
BOGOR
2021

BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Tujuan
Melakukan metode ekstraksi Sokletasi simplisia rimpang Oleoresin Jahe
(Zingiber officinale, Rosc.)
1.2 Dasar Teori

Ekstraksi adalah proses pemisahan berdasarkan perbedaan kelarutan bahan.


Proses ekstraksi memiliki dua perbedaan kelarutan bahan (Berk, 2009). Ekstrak disaring
dengan kain saring agar terpisah antara ampas dengan filtratnya (Anditasari dkk, 2014).
Menurut Rahayu (2009), ekstraksi adalah pemisahan suatu zat dari campurannya dengan
pembagian sebuah zat terlarut antara dua pelarut yang tidak dapat tercampur untuk
mengambil zat terlarut tersebut dari satu pelarut ke pelarut lain
Metode ekstraksi yang umum digunakan adalah metode maserasi. Metode
tersebut sering digunakan karena prosedur dan peralatannya sederhana. Tapi
permasalahan pada ekstraksi oleoresin jahe dengan metode ini adalah diperlukan pelarut
yang banyak dan waktu yang cukup lama untuk dapat mengekstraksi bahan baku
(Simanjuntak, 2008). Metode ekstraksi sokletasi adalah metode ekstraksi lebih lanjut
yang dapat menyempurnakan kelemahan dari metode ekstraksi maserasi dan perkolasi.
Menurut Sirait (2008), menyatakan bahwa keunggulan ekstraksi sokletasi yaitu
menggunakan pelarut yang selalu baru menggunakan alat khusus sehingga terjadi
ekstraksi kontinyu dengan jumlah pelarut relatif konstan dengan adanya pendingin balik.
Irianty dkk, (2012) menambahkan, proses ekstraksi dipengaruhi oleh suhu, ukuran
partikel, jenis pelarut, waktu ekstraksi, dan metode ekstraksi. Metode ekstraksi sokletasi
merupakan suatu metode dengan pemanasan, pelarut yang digunakan akan mengalami
sirkulasi, dibandingkan dengan cara maserasi, ekstraksi sokletasi memberikan hasil
ekstrak yang lebih tinggi.
Jahe (Zingiber officinale, Rosc.) termasuk famili Zingiberaceae yang dapat
tumbuh di daerah tropis dan sub tropis. Berdasarkan hasil penelitian para ahli, baik dari
dalam negeri maupun luar negeri, jahe berkhasiat sebagai obat dan mampu memperkuat
khasiat obat lain yang dicampurkannya. Ada tiga jenis varian jahe di Indonesia, yaitu jahe
gajah (Zingiber officinale var officinarum), jahe emprit (Zingiber officinale var amarum),
dan jahe merah (Zingiber officinale var rubrum). Salah satu jenis jahe yang dimanfaatkan
sebagai obat-obatan yaitu jahe emprit. Hal ini dikarenakan rimpang jahe emprit berserat
lembut, beraroma tajam, dan berasa pedas meskipun ukuran rimpangnya kecil tetapi
memiliki kandungan gizi cukup tinggi (Rukmana, 2000).
Jahe memiliki kandungan minyak atsiri dan oleoresin yang ampuh dalam
penyembuhan berbagai penyakit. Menurut Tama dan Mulyadi (2014), solusi
mendapatkan kandungan tersebut adalah dengan melakukan ekstraksi. Oleoresin jahe
mempunyai keunggulan dibandingkan dengan produk olahan yang lain dari jahe yaitu
mempunyai keseragaman aroma dan tidak mengandung mikroba sehingga lebih awet
(Paimin dan Murhananto, 2008).

BAB II
METODE KERJA
2.1 Alat dan Bahan
2.1.1 Alat
a. Ayakan
b. Bejana kaca
c. Corong
d. Spatula

2.1.2 Bahan
a. Etanol 70%
b. Simplisia serbuk Jahe merah

2.2 Cara Kerja


1. Disiapkan alat dan bahan
2. Disiapkan simplisia serbuk jahe merah 100 gr
3. Diayak simplisia serbuk dengan ayakan
4. Disiapkan bejana kaca dan etanol 70% sebanyak 1 L
5. Dimasukkan simplisia serbuk kedalam wadah
6. Dimasukkan pelarut Etanol 70% sebanyak 750mL
7. Diaduk menggunakan spatula selama 10 menit
8. Dilakukan pengadukan selama 5 hari berturut-turut selama 10 menit
9. Disaring ampas maserasi menggunakan corong yang dilapisi kain atau
kertas saring
10. Dilakukan penguapan filtrate dengan Rotary Evaporator

BAB III
HASIL DAN PENGAMATAN

3.1 Hasil Pengamatan


NPM Berat simplisia Berat ekstrak %Rendemen
(gram) (gram)
7 500 52,8 10,56%

3.2 Perhitungan
Dik : berat ekstrak = 52,8 gr
Berat simplisia 500 gr
Dit : %Rendemen ?
Jawab
berat ekstrak
%Rendemen = x 100 %
berat simplisia
52,8 gr
= x 100 %
500 gr
= 0,1056% = 10,56%

3.3 Pembahasan
Pada praktikum kali ini melakukan percobaan ekstrasi “MASERASI” jahe
merah. Maserasi berasal dari Bahasa latin Macerare yang artinya merendam.
Maserasi merupakan proses pengekstrakan simplisia dengan menggunakan pelarut
dengan beberapa kali pengocokan atau pengadukan pada temperatur ruangan
(kamar). Prinsip ekstrasi maserasi yaitu ekstraksi zat aktif yang dilakukan dengan
cara merendam seluruh serbuk simplisia dengan pelarut etanol 70% bukan hanya
dibasahi. Pada saat pelaut etanol 70% masuk kedalam sel tanaman melewati
dinding sel. Dinding sel akan pecah kemudian akan terjadi proses pertukaran
difusi, dari konsentrasi yang tinggi ke konsentrasi rendah. Pelarut merupakan
konsentrasi tinggi sedangkan serbuk simplisia merupakan konsentrasi rendah
sehingga akan mengalami perpindahan.
Proses difusi atau proses perpindahan konsentrasi tinggi ke konsentrasi rendah
akan terus terjadi di dalam wadah sampai titik keseimbangannya tercapai atau
tidak ada lagi perbedaan konsentrasi jadi antara pelarut dan sel sudah seimbang.
Pada ekstrasi maserasi harus digunakan wadah atau bejana yang tidak
berpengaruh atau inert terhadap zat aktifnya. Bejana atau wadah yang inert terbuat
dari kaca, jika menggunakan bejana atau wadah plastic dengan menggunakan
pelarut organic (etanol 70%) maka senyawa yang ada dalam wadah tersebut akan
ikut terekstrasi atau tertarik kedalam pelarutnya dan lebih baik lagi jika
menggunakan wadah atau bejana yang hitam atau tidak tembus cahaya matahari
langsung.
Modifikasi ekstrasi maserasi terdiri dari metode Digesti (menggunakan
pemanasan lemah yaitu pada suhu 400–500C, cara maserasi ini hanya dapat
dilakukan untuk simplisia yang zat aktifnya tahan terhadap pemanasan), metode
maserasi dengan mesin pengaduk, metode remaserasi, metode maserasi
melingkar, maserasi melingkar bertingkat.
Modifikasi yang sering atau yang umum digunakan yaitu metode Remaserasi
yaitu Cairan penyari dibagi menjadi dua, seluruh serbuk simplisia di maserasi
dengan cairan pelarut etanol 70% pertama, sesudah diendapkan di tuangkan dan
diperas, ampas dimaserasi lagi dengan cairan penyari yang kedua kemudian di
peras lagi dan ditambahkan dengan pelarut ke tiga. Pada metode remaserasi pada
umumnya pelarutnya dibagi menjadi 3 bagian, etanol 70% 1L dibagi menjadi
pelarut pertama 400ml, pelarut ke dua 300ml, dan pelarut ketiga 300ml.
Keuntungan matode esktraksi maserai yaitu Unit alat yang dipakai sederhana
yaitu bejana atau wadah kaca hanya dibutuhkan bejana perendam, biaya
operasionalnya relatif rendah dan tanpa pemanasan sehingga tidak perlu energy
lagi. Metode ekstraksi juga memiliki kerugian yaitu proses penyariannya tidak
sempurna karena zat aktif hanya mampu terekstraksi sebesar 50% saja karna tanpa
menggunakan pemanas dan biasanya ada zat aktif yang belum terekstrasi ,
prosesnya lama membutuhkan waktu beberapa hari ( 3-5 hari) serta perlu pelarut
yang banyak.
Secara kualitatif cara menentukan hasil esktrasi maserasi bagus atau tidak
dapat dilihat dari baud an warnanya. Warna hasil esktrasi tidak akan jauh berubah
dari warna serbuk simplisia, begitu juga dengan baunya.
%Rendemen yang dihasilkan sesuai hasil praktikum dan data pengamatan
didapatkan %Rendemennya sebesar 10,56%. Sedangkan hasil %Rendeman pada
jurnal esktrasi maserasi jahe merah yaitu 10,21%.
BAB IV
KESIMPULAN

Dari hasil praktikum “ EKSTRASI MASERASI” dapat disimpulkan bahwa:


1. Maserasi berasal dari Bahasa latin Macerare yang artinya merendam
2. Proses difusi atau proses perpindahan konsentrasi tinggi ke konsentrasi
rendah akan terus terjadi di dalam wadah sampai titik keseimbangannya
tercapai atau tidak ada lagi perbedaan konsentrasi jadi antara pelarut dan
sel sudah seimbang
3. %Rendemen yang dihasilkan sesuai hasil praktikum dan data pengamatan
didapatkan %Rendemennya sebesar 10,56%. Sedangkan hasil
%Rendeman pada jurnal esktrasi maserasi jahe merah yaitu 10,21%.
4. Secara kualitatif cara menentukan hasil esktrasi maserasi bagus atau tidak
dapat dilihat dari baud an warnanya. Warna hasil esktrasi tidak akan jauh
berubah dari warna serbuk simplisia, begitu juga dengan baunya
DAFTAR PUSTAKA

Departemen Kesehatan RI. 1989. Materia Medika Indonesia. Jilid V. Cetakan


Pertama. Jakarta: Direktorat Jenderal Pengawasan Obat dan Makanan RI.
Departemen Kesehatan RI. 2008. Farmakope Herbal Indonesia Edisi I. Jakarta:
Departemen Kesehatan Republik Indonesia. 
Noshirma M., dan  Ruben W.W. 2016. Larvasida Hayati Yang Digunakan Dalam
Upaya Pengendalian Vektor Penyakit Demam Berdarah Di
Indonesia. SEL, Vol. 3(1), hal. 31-40.
Suharto, M.A.P., H.J. Edy dan J.M. Dumanauw. 2016. Isolasi dan identifikasi
senyawa saponin dari ekstrak metanol batang pisang ambon (Musa
paradisiaca var. sapientum L.). Jurnal Sains. 3(1):86-92.
Yulianingtyas, A. dan B. Kusmartono. 2016. Optimasi volume pelarut dan waktu
maserasi pengambilan flavonoid daun belimbing wuluh (Averrhoa bilimbi
L.). Jurnal Teknik Kimia. 10(2):58-64.
Wahyuni, D.T. dan S.B. Widjanarko. 2015. Pengaruh jenis pelarut dan lama
ekstraksi terhadap ekstrak karotenoid labu kuning dengan metode
gelombang ultrasonik. Jurnal Pangan dan Agroindustri. 3(2):390-401.
Lampiran jurnal

Anda mungkin juga menyukai