Anda di halaman 1dari 42

Metalurgi Fisik

Ms:2162, MK ,Wajib 2 sks


Materi Kuliah : Toto Triantoro

Pengertian kekuatan logam sempurna, jenis-


jenis cacat kristal seperti vacancy,
substitusi, intertisi, pengertian larutan
padat.
Pemeriksaan struktur mikro:
Pengertian dasar mikroskopik, mikroskopik
optik, dan konsep dasar metalografi &
penentuan ukuran butir
Peb 2010 Triantoro 1
Austenit
KETIDAK MURNIAN
DALAM BAHAN PADAT.
Benda yang asli selalu Iebih digemari madu asli, gula murni
& emas 24 karat. Meskipun benda sempurna, murni / asli baik
ada kalanya karena faktor harga, pengadaan / sifat-sifat
tertentu, diperlukan adanya ketidak murnian. Sebagai
contoh, perak yang mengandung tembaga 7,5% & perak
92,5%.
Bahan yang memang unggul, dapat saja dimurnikan
menjadi perak dengan kadar 99% lebih. Harga akan Iebih
mahal, sedang kualitas lebih rendah. Tanpa merubah rupa,
campuran tembaga 7,5% membuat perak lebih kuat, keras
dengan harga yang murah.
Dengan sendirinva sifat-sifat harus sesuai dengan
rancangan kita sendiri. Seng yang dipadu dengan tembaga
menghasilkan kuningan yang lebih murah dari pada tembaga
murni.
Peb 2010 Triantoro 2
Austenit
KETIDAK MURNIAAN
DALAM BAHAN PADAT.
Kuningan lebih keras, kuat & ulet dibandingkan tembaga.
tembaga mempunyai konduktivitas listrik yang lebih rendah
dari pada tembaga, sehingga kita tetap menggunakan
tembaga murni untuk penghantar listrik & penggunaan
sejenis Iainnya dimana konduktivitas listrik diutamakan.
Paduan adalah kombinasi dari dua/lebih jenis logam.
Kombinasi ini dapat merupakan campuran dari dua struktur
kristalin / paduan dapat merupakan larutan padat.

Meskipun istilah paduan digunakan secara umum,


kombinasi dari dua / lebih komponen oksida dapat digunakan
dalam produk keramik contoh, badan pesawat telepon terdiri
dari kombinasi beberapa jenis molekul.

Peb 2010 Triantoro 3


Austenit
LARUTAN PADAT DALAM LOGAM
Larutan padat mudah terbentuk bila pelarut dan atom
yang larut memiliki ukuran yang sama dan struktur
elektron yang serupa. Sebagai contoh dapat diambil
logam dalam kuningan tembaga dan seng yang masing-
masing mempunyai jari-jari atom 0,1278nm & 0,139nm.
Keduanya mempunyai 28 elektron subvalensi dan
membentuk struktur kristal dengan bilangan koordinasi
12. Jadi, bila seng ditambahkan pada tembaga, maka
dengan mudah seng dapat menggantikan kedudukan
tembaga dalam kisi kps, sampai maksimal
menggantikan 40% dari atom tembaga.

Dalam larutan padat tembaga dan seng ini, distribusi


dari seng terjadi secara acak
Peb 2010 Triantoro 4
Austenit
LARUTAN PADAT DALAM LOGAM
Larutan padat substitusi. Larutan padat yang telah
diuraikan diatas disebut larutan padat substitusi oleh
karena atom seng menggantikan atom tembaga dalam
struktur kristal.
Larutan padat seperti ini sering dijumpai dalam
berbagai sistem logam. Contoh lain larutan tembaga
dan nikel yang membentuk monel. Pada monel, nikel
dapat menggantikan atom tembaga dalam struktur
tembaga semula dalam perbandingan jumlah manapun.
Larutan padat tembaga nikel berkisar dari 0% nikel
dan 100% tembaga sampai 100% nikel dan 0%
tembaga. Semua paduan tembaga nikel berstruktur
kubik pemusatan sisi.
Peb 2010 Triantoro 5
Austenit
LARUTAN PADAT SUBTITUSI
Seng Faktor pembatasan ini adalah
jumlah dari atom subtitusi
bukannya dari berat atom.
subtitusi. Umumnya, ahli
teknik menyatakan komposisi
dalam persentage berat. Oleh
karena itu maka perlu kita
Tembaga membiasakan diri merubah
persentage dari berat menjadi
persentage dari atom dan
sebaliknya
Larutan padat tertata gambar ini memperlihatkan suatu
substitusi acak atom dalam struktur kristal lain. Pada larutan
demikian, kemungkinan bahwa suatu unsur akan menempati
kedudukan atom tertentu dalam kristal sebanding dengan
persentase atom unsur tersebut dalam paduan tadi.
Dalam keadaan demikian, dikatakan bahwa tidak ada tata
substitusi kedua elemen tadi.
Peb 2010 Triantoro 6
Austenit
LARUTAN PADAT SUBTITUSI

Sebaliknya, timah putih secara terbatas sekali


menggantikan tembaga, membentuk perunggu, dan
tetap mempertahankan struktur mula tembaga yaitu
kubik pemusatan sisi. Timah putih melebihi daya larut
padat maksimal akan membentuk fasa lain.

Untuk dapat menggantikan atom lainnya dengan


jumlah yang cukup banyak dan membentuk larutan
padat substitusi, ukuran dari atom harus sama atau
hampir sama.

Peb 2010 Triantoro 7


Austenit
LARUTAN PADAT SUBTITUSI
Nikel & tembaga mempunyai jangkau larut yang besar
karena keduanya mempunyai struktur kps dan jari-jari
atomnya masing-masing 0,1246 nm dan 0,1278 nm.
Dengan meningkatnya perbedaan ukuran, menurunlah
kemampuan substitusinya.

Hanya 20% atom tembaga dapat digantikan oleh


aluminium karena jari-jari aluminium adalah 0,1431 nm
sedang jari-jari tembaga hanya 0,1278 nm. Pelarutan
padat menjadi terbatas bila terdapat selisih ukuran jari-
jari atom melebihi 15%.

Pelarutan akan lebih terbatas lagi bila kedua


komponennya mempunyai struktur kristal yang berbeda
atau valensi yang berlainan.
Peb 2010 Triantoro 8
Austenit
LARUTAN PADAT INTERTISI
Larutan padat substitusi
tertata. Kebanyakan atom
(tidak semua) terletak
diantara dari atom bukan
sejenis. Bila penataan
telah selesai terbentuklah
senyawa.
Akan tetapi sering dijumpai penataan kedua jenis
atom sehingga membentuk pengaturan khusus.
Gambar diatas memperlihatkan struktur tertata dimana
kebanyakan "atom hitam" dikelilingi oleh atom ”kelabu“
Penataan seperti ini jarang terjadi pada suhu yang
Iebih tinggi oleh karena agitasi termal yang Iebih besar
cenderung mengacaukan susunan yang tertata.
Peb 2010 Triantoro 9
Austenit
LARUTAN PADAT INTERTISI
larutan padat interstisi. Jenis larutan padat lainnya,
digambarkan pada gambar dibawa ini disini atom yang
kecil dikelilingi oleh atom yang Iebih besar. Contoh:
karbon dalam besi. Pada suhu dibawah 912°C, besi
murni mempunyai struktur kubik pemusatan ruang atau
kpr.
Diatas 912°C, terdapat daerah temperatur tertentu
dimana besi mempunyai struktur kubik pemusatan sisi.
Pada kisi kubik pemusatan sisi terdapat ruang sisipan /
"lubang" yang agak besar pada pusat sel satuan.
Karbon, sebagai atom yang sangat kecil, dapat
menduduki lubang tersebut & membentuk larutan padat
besi & struktur kubik pemusatan ruang, ruang sisipan

Peb 2010 Triantoro 10


Austenit
CONTOH LARUTAN PADAT INTERTISI.
Pada suhu yang Iebih rendah, dimana besi mempunyai
atom-atom besi jauh Iebih kecil. Akibatnya, daya larut
karbon dalam besi kubik pemusatan ruang sangat
terbatas.

larutan padat interstisi


karbon dalam besi kps
Peb 2010 Triantoro 11
Austenit
CONTOH SOAL
Perunggu adalah larutan padat tembaga & timah putih dimana kurang
lebih 3% dari atom tembaga digantikan oleh atom timah putih. Sel satuan
kps tembaga tetap ditetapkan, terjadi pemuaian sedikit oleh karena atom
timah putih mempunyai jari-jari 0,151 nm.

(a) Hitung % (berat) bila terdapat 3% (atom) timah putih dalam perunggu
(b) Bila konstanta kisi meningkat secara linier dengan fraksi atom timah
putih, beberapa berat jenis perunggu

Peb 2010 Triantoro 12


Austenit
CONTOH SOAL
Daya larut maksimal dari timah putih dalam perunggu, pada
suhu 5860C adalah 15.8% (berat). Berat % (atom) timah putih.
Jawab : Sebagai dasar perhitungan diambil 100.000 sma.
100.000 sma = 15.800 sma Sn + 84.200 sma Cu Jumlah atom
Cu:84.200/63,54 =1325 atau 90,9% atom Cu Jumlah
atomSn:15.800/118,69 =133/1458 atau 9,1% atom Sn

Pada suhu 1000°C - 1,7% (berat) karbon, membentuk


larutan padat dengan besi kps Hitunglah jumlah atom karbon
dalam 100 sel satuan.
Jawab : Dasar perhitungan :100 sel satuan = 400 atom Fe
(400 Fe) (55,85 sma / Fe) = 22.340 sma untuk 1,7% C.
22,340 (1,7 / 98,3) = 386,3 sma C. 386,3 sma (12,01 sma /
atom C) = 32 atom karbon

Peb 2010 Triantoro 13


Austenit
LARUTAN PADAT DALAM SENYAWA
Larutan padat substitusi terdapat dalam fasa ionik
maupun logam. Dalam fasa ionik sama halnya dengan
logam padat, ukuran atom / ion merupakan faktor yang
penting. Gambar dibawah adalah contoh larutan padat
ionik. Strukturnya ialah MgO dimana ion Mg2⁺ digantikan
oleh ion Fe2⁺.
Karena. jari-jari kedua ion tersebut masing-masing
0,066 nm & 0,074 nm, substitusi sempurna mungkin
terjadi. Sebaliknya, ion Ca²⁺ tidak dapat digantikan begitu
saja oleh ion Mg2⁺ karena jari-jari nya yaitu 0,097 nm, lebih
besar.
Persyaratan tambahan yang berlaku lebih ketat untuk
larutan padat senyawa keramik dari pada untuk larutan
padat logam, ialah syarat bahwa muatan valensi ion yang
digantikan harus sama dengan muatan valensi ion baru.
Peb 2010 Triantoro 14
Austenit
STRUKTUR CACAT PADA SENYAWA

Larutan padat substitusi


dalam senyawa. Mg2+
digantikan oleh Fe2+
dalam struktur MgO

Sangat sulit menggantikan Mg2⁺ dalam MgO dengan Li⁺


meskipun keduanya mempunyai jari-jari yang sama karena
akan terdapat selisih muatan. Substitusi semacam ini hanya
mungkin terjadi bila diiringi perubahan yang dapat menjadikan
selisih muatan senyawa bukan stoikiometrik.
Berbagai senyawa memiliki perbandingan elemen yang pasti
(seperti : H2O, CH4, MgO, Al2O3, Fe3C dsb). Senyawa tersebut
memiliki perbandingan atom yang tetap disebut stokiometrik.
Antara atom yang tak sejenis terbentuk ikatan. Akibatnya,
strukturnya lebih sempurna pada struktur
Triantoro
Peb 2010 15
Austenit
SENYAWA BUKAN STOKIOMETRI
Senyawa lain menyimpang dari perbandingan utuh
untuk kedua (atau lebih) elemen yang ada. Jadi kita
jumpai “ Cu2Al ” dengan perbandingan mulai dari 31%
atom sampai 37% atom Al (atau 16% (berat) sampai 20%
(berat) dan bukan tepat 33 1/3 % (atom) Al.

Hal serupa kita jumpai pada "FeO", pada 1000°C,


terdapat kadar oksigen dari 51 sampai 53% (atom) dan
bukan tepat 50% (atom).

Senyawa serupa ini dinamakan senyawa bukan


stoikiometrik karena tidak memiliki perbandingan atom
yang tetap.

Peb 2010 Triantoro 16


Austenit
IKATAN BUKAN STOKIOMETRI
Ikatan bukan stoichio metrik selalu mencakup larutan
padat. Dalam contoh Cu2Al tersebut diatas, atom-atom
memiliki ukuran dan sifat-sifat elektron yang hampir
sama sehingga dengan adanya kelebihan aluminium,
beberapa atom tembaga digantikan oleh atom
aluminium (maksimum 37% atom Al)

Sebaliknya, dengan adanya kelebihan tembaga,


perbandingan atom Cu / AI mencapai 69/31, dengan
pergantian beberapa atom aluminium dalam Cu2Al oleh
atom tembaga.

Peb 2010 Triantoro 17


Austenit
LARUTAN PADAT SUBTITUSI
Fe1-x O yang bukan stoikhiometrik disebabkan oleh hal lain.
Ion besi & ion oksigen sangat besar bedanya sehingga
substitusi kurang mungkin. Senyawa besi selalu mengandung
ion ferri (Fe3+) disamping ion ferro (Fe2+). Sehingga untuk
keseimbangan muatan selalu harus ada lebih dari 50% (atom)
oksigen.
Sesungguhnya, tiap pasangan ion Fe3+- memerlukan ion 0²¯
tambahan / setiap pasang ion Fe³⁺ harus disertai kekosongan
kation. lni disebut struktur cacat, karena ketidak teraturan
dalam tumpukan atom. Pada suhu 1000°C &dengan adanya
kejenuhan besi, komposisi adalah Fe0,980; dgn kejenuhan
oksigen, komposisi menjadi Fe0880, Struktur cacat ini penting
dan akan kita bahas dalam bab berikutnya dimana dibahas
konduktivitas, listrik. Akan kita lihat nanti bahwa atom / ion
lebih mudah berdifusi dalam suatu bahan padat bila terdapat
kekosongan didalamnya.
Peb 2010 Triantoro 18
Austenit
GAMBAR STRUKTUR CACAT

Struktur cacat (Fe1-x,) Struktur ini sama dengan


struktur Na CI (Gambar diatas) hanya disini terdapat
Kekosongan ion besi. Karena sebagian dari ion besi
adalah Fe3+ dan bukan Fe 2+, kekosongan perlu ada
untuk mengimbangi muatan.
Harga X berkisar antara 0,04 dan 0,16, tergantung
pada suhu dan jumlah oksigen.
Peb 2010 Triantoro 19
Austenit
COTOH SOAL
Contoh: Oksigen besi (Gambar 4-3.2) mengandung
oksigen 52% (atom) dan konstanta kisi 0.429 nm.
(a) Berapa perbandingan ion Fe2+/ Fe3+
(b) Berapa berat jenisnya ? (struktur ini menyerupai
struktur Na CI, kecuali ada kekosongan ❑ )

Peb 2010 Triantoro 20


Austenit
KETIDAK SEMPURNAAN DALAM KRISTAL
Telah kita kenal, jenis ketidak, sempurnaan dalam kristal,
di mana diperlukan kekosongan untuk mengimbangi
kepincangan muatan. Bila ketidak sempurnaan seperti
kekosongan meliputi sebuah atau beberapa atom kita sebut:
cacat titik. Ketidak sempurnaan lain dalam kristal berujud
garis; oleh karena itu disebut cacat garis.
Cacat jenis ini penting pada waktu kristal mengalami
deformasi plastik oleh gaya geser. Sejumlah kecil cacat
dapat menyebabkan kristal logam menjadi 1000 kali lebih
ulet dibandingkan dengan keadaan tanpa cacat. Bila banyak
sekali jumlahnya, cacat garis ini dapat meningkatkan
kekuatan logam.
Akhirnya, cacat lainnya berbentuk dua dimensi dan
mencakup permukaan luar atau batas-batas intern.

Peb 2010 Triantoro 21


Austenit
CACAT TITIK

Cacat titik. Cacat titik yang paling sederhana


adalah kekosongan, disini ada atom yang “
hilang " dalam kristal.

Cacat demikian merupakan hasil dari


penumpukkan yang salah sewaktu kristalisasi,
atau dapat juga terjadi pada suhu tinggi oleh
karena energi termal meningkat. Bila energi
termal tinggi, kemungkinan bagi atom-atom
untuk melompat meninggalkan tempatnya
(dimana energi terendah) akan naik pula.

Peb 2010 Triantoro 22


Austenit
CACAT TITIK

Cacat titik (a) kekosongan tunggal (b) kekosongan


ganda (dua atom hilang) (c) kekosongan pasangan
ion (cacat Sehottky), (d) sisipan, (e) ion terpisah
(cacat Frenkel)
Peb 2010 Triantoro 23
Austenit
CACAT TITIK

CACAT TITIK : (a) vacancy, (b) interstitial,


(c) substitusi kecil, (d) substitusi besar,
(e) Frenkel, (f) schottky

Peb 2010 Triantoro 24


Austenit
KEKOSONGAN PASANGAN ION
Kekosongan pasangan ion (disebut juga cacat Schottky)
terdapat dalam senyawa yang harus mempunyai
keseimbangan muatan. Cacat ini mencakup kekosongan
pasangan ion dengan muatan berlawanan. Kekosongan
pasangan ion dan kekosongan tunggal mempercepat
difusi atom. Suatu atom tambahan dapat berada dalam
struktur kristal, khususnya bila faktor tumpukan atom
rendah.
Cacat semacam ini disebut sisipan, mengakibatkan
distorsi atom. Perpindahan ion dari kisi ketempat sisipan
gambar disebut cacat Frenkel, struktur tumpukan padat
Iebih sedikit sisipan dan ion pindahannya dari pada
kekosongan, karena diperlukan energi tambahan untuk
menyisipkan atom.
Peb 2010 Triantoro 25
Austenit
CACAT GARIS
Cacat garis (dislokasi) Cacat garis yang paling banyak dijumpai
didalam kristal adalah dislokasi. Dislokasi garis dapat dilihat pada
gambar di bawah Dislokasi ini dapat digambarkan sebagai sisipan
satu hidang atom tambahan dalam struktur kristal.
Disekitar suatu dislokasi garis terdapat daerah yang mengalami
tekanan dan tegangan pada gambar sehingga terdapat energi
tambahan sepanjang dislokasi tersebut. Jarak geser atom disekitar
dislokasi disebut vektor geser, b. Vektor ini tegak lurus pada garis
dislokasi. Dislokasi ulir menyerupai spiral dengan garis cacat
sepanjang sumbu ulir.
Vektor gesernya sejajar dengan garis cacat. Atom-atom disekitar
dislokasi ulir mengalami gaya geser, oleh karena itu terdapat energi
tambahan disekitar dislokasi tersebut.
Kedua jenis dislokasi garis terjadi karena ada ketimpangan dalam
orientasi bagian-bagian yang berdekatan dalam kristal yang
tumbuh sehingga ada suatu deretan atom tambahan ataupun
deretan yang kurang.
Peb 2010 Triantoro 26
Austenit
DISLOCATION

Peb 2010 Triantoro 27


Austenit
DISLOCATION

Peb 2010 Triantoro 28


Austenit
DISLOCATION

Peb 2010 Triantoro 29


Austenit
DISLOKASI ULIR
Dislokasi ulir memudahkan pertumbuhan
kristal karena atom dan sel satuan tambahan
dapat tertumpuk pada setiap anak tangga ulir.
Istilah ulir sangat tepat karena anak tangga
melingkari sumbu pada proses pertumbuhan.
Dislokasi mudah terjadi sewaktu deformasi.
Hal ini dapat dilihat pada gambar dimana cacat
pergeseran mengakihatkan terjadinya dislokasi
garis dan dislokasi ulir.
Keduanya menghasilkan deformasi akhir yang
sama dan sebetulnya dihubungkan satu dengan
Iainnya oleh garis dislokasi yang terjadi.
Peb 2010 Triantoro 30
Austenit
DISLOCATION

Peb 2010 Triantoro 31


Austenit
DISLOKASI PERMUKAAN
Permukaan. Ketidak sempurnaan kristal dalam dua
dimensi merupakan suatu batas. Batas yang paling nyata
adalah permukaan luar. Permukaan dapat dilukiskan
sebagai akhir atau batas struktur kristal, kita dapat
memahami kenyataan bahwa koordinasi atom pada
permukaan tidak sama dengan koordinasi atom dalam
kristal.
Atom permukaan hanya mempunyai tetangga pada
satu sisi saja lihat gambar oleh karena itu memiliki
energi yang lebih tinggi dan ikatannya kurang kuat.
Energi ini dapat dijelaskan dengan bantuan gambar
bila kita tambahkan atom pada permukaan, maka akan
dilepaskan energi yang sama dengan energi
penggabungan dua atom tunggal. Bukti yang paling jelas
dijumpai pada tetes cairan
Peb 2010 Triantoro 32
Austenit
BATAS BUTIR
Butir yang berbentuk bulat agar luas permukaan per satuan
volum minimal (demikian pula energi permukaannya).
Penyerapan permukaan merupakan bukti tambahan adanya
perbedaan energi pada permukaan.
Batas butir, meskipun bahan seperti tembaga dalam kawat
listrik terdiri dari satu fasa saja, yaitu satu struktur (kps),
Benda tersebut terdiri dari banyak sekali kristal dengan
orientasi yang berbeda. Kristal-kristal ini disebut butir.
Bentuk butir dalam bahan padat biasanya diatur oleh adanya
butir-butir lain disekitarnya. Dalam setiap butir, semua sel
satuan teratur dalam satu arah dan satu pola tertentu. Pada
batas butir, antara dua butir yang berdekatan terdapat daerah
transisi yang tidak searah dengan pola dalam kedua butiran
tadi.
Peb 2010 Triantoro 33
Austenit
BATAS BUTIR
Meskipun kita tidak dapat meliat atom-atom itu satu-
persatuan, lihat gambar dengan mudah kita dapat melihat
batas butir dibawah mikroskop. Untuk ini logam perlu dietsa.
Awal logam dipolis sampai terbentuk permukaan yang halus
seperti cermin kemudian diberi zat kimia tertentu selama
beberapa detik. Atom-atom didaerah transisi diantara
butiran akan lebih mudah larut dibandingkan atom-atom
lainnya & akan meninggalkan garis yang tampak oleh
mikroskop lihat gambar. Batas butir yang dietsa tidak lagi
merupakan permukaan yang halus sebagai bagian lainnya
dari butiran.
Batas butir dapat kita anggap berdimensi dua, bentuknya
mungkin melengkung & sesungguhnya memiliki ketebalan
tertentu yaitu 2 - 3 jarak atom. Ketidak seragaman orientasi
antara butiran yang berdekatan menghasilkan tumpukan
atom yang kurang efisien sepanjang batas.
Peb 2010 Triantoro 34
Austenit
BENTUK BATAS BUTIR

Oleh karena itu atom


sepanjang batas butir memiliki
energi yang lebih tinggi
dibandingkan dengan yang
terdapat dalam butir.

Peb 2010 Triantoro 35


Austenit
MIKROSKOPE OPTIK

Peb 2010 Triantoro 36


Austenit
TERJADINYA STRUKTURMIKRO
Hal ini yang menyebabkan mengapa daerah
perbatasan lebih mudah terkikis. energi atom batas
butir yang lebih tinggi juga penting bagi proses
nukleasi selama perubahan fasa polimorfi.
Tumpukan atom yang lebih sedikit, pada batas butir
memperlancar difusi atom dan ketidak seragaman
dentasi pada butir yang berdekatan mempengaruhi
kecepatan gerak dislokasi pada gambar.
Jadi batas butir merubah regangan plastik dalam
bahan. Daerah batas butir dan besar butir. Struktur
mikro pada gambar, berbeda butir-butir pada gambar
(a) lebih besar dari butir pada gambar (b). MgO
mempunyai daerah batas-butir yang besar dari pada
molibden (keduanya dibesarkan 250 x).
Peb 2010 Triantoro 37
Austenit
MENENTUKAN BATAS BUTIR
Karena batas butir berpengaruh atas bahan dalam
berbagai hal, perlu diketahui besar daerah batas butir per
satuan volum Sy. Besarnya dapat dihitung dengan mudah
dengan menarik suatu garis pada gambar struktur mikro.
Garis ini akan memotong lebih banyak batas butir pada
bahan berbutir halus dibandingkan dengan bahan berbutir
kasar. Hubungannya adalah
dimana PL merupakan jumlah titik potong antara garis dengan
panjang satuan & batas butir. Hubungan tersebut diatas tidak
akan dibuktikan disini, akan tetapi kebenarannya dapat dilihat
pada gambar. Suatu lingkaran berdiameter 50mm ditempatkan
secara acak diatas foto mikro molibden. Kita hitung, 11
perpotongan pembesarannya 250 x keliling lingkaran sebetulnya
50 π /250= 0,63 mm & harga PL = 11/0,63 mm = 17,5 mm.
Berdasarkan rumus luas permukaan persatuan volum : Sy = 2 PL
= 35 mm2/mm3
Peb 2010 Triantoro 38
Austenit
MENENTUKAN BATAS BUTIR
Meskipun batas butir merupakan ciri mikrostruktur yang
berhubungan dengan sifat bahan, kita biasanya
menggunakan ukuran butir sebagai patokan. Cara
penentuan besar butir telah distandardisir oleh
American Society for Testing and Materials.
Meskipun empiris, indeks ini adalah kualitatip & dapat
direproduksi. Bilangan dua dipakai sebagai dasar indeks: N
adalah jumlah butir yang terdapat dalam daerah seluas (
0,0645 mm2 ) = 2ⁿ¯¹. Harga N adalah bilangan besar butir.
Pada contoh diperlihatkan cara menghitung BB # untuk
molibden lihat gambar.
Pada gambar terlihat dua seri jaringan besar butir yang
dapat dipergunakan untuk membandingkan & memberikan
nomor besar butir pada gambar mikro dengan pembesaran
100 x. Bilangan besar butir penting pada lakupanas baja &
suhu transisi baja
Peb 2010 Triantoro 39
Austenit
CONTOH PERHITUNGAN
Contoh soal. Hitunglah daerah batas butir persatuan
volum dalam MgO, lihat Gambar (b)
Jawab: Letakkan jaringan berukuran 50mm secara acak
diatas gambar tersebut dan hitunglah batas butir yang
dipotongnya. Ulangi sebanyak 5 kali. Diperoleh hasil: 13,
17, 12, 14 dan 12 perpotongan. Jumlah seluruhnya: 68
per 250 mm. Pembesaran adalah : 250 x oleh karena itu
diperoleh 68/mm -Sv = 2 (68/mm) =140/mm (atau 140
mm2/mm 3) Contoh: Dalam Mg0 terdapat kira-kira empat
kali lebih banyak daerah batas butir persatuan volume
dibandingkan dengan molibden.
Cara perhitungannya hanya merupakan pendekatan saja.
Bila kita cukup berhati-hati, kita dapat memperoleh
ketelitian pengukuran sekitar 10%, yang sudah
mencukupi untuk berbagai keperluan.
Peb 2010 Triantoro 40
Austenit
CONTOH PERHITUNGAN
Luas ini sama dengan 1 inci persel pada pembesaran
100 x Prosedur ini sebermula distandarisir untuk
mikroskope dengan pembesaran 100x dan untuk
menghitung jumlah butir dalam daerah seluas 1 inci x 1
inci (0,0001 in2 )

Peb 2010 Triantoro 41


Austenit
Terima Kasih
Sampai pertemuan berikutnya

Trians65@yahoo.co.id

Peb 2010 Trian's65 42