Anda di halaman 1dari 20

PENGANTAR SEJARAH SASTRA

Critical Book Review (CBR)

Dosen Pengampu : Muharrina Harahap, S.S., M.Hum

Disusun Oleh :

Kristin Monika Sirait – 2203210024

Sastra Indonesia B-2020

PROGRAM STUDI SASTRA INDONESIA

JURUSAN BAHASA DAN SASTRA INDONESIA

FAKULTAS BAHASA DAN SENI

UNIVERSITAS NEGERI MEDAN

MEDAN

2020
KATA PENGANTAR
Puji dan syukur penulis ucapkan atas kehadirat Tuhan Yang Maha Esa, karena dengan
rahmat dan kasih karunia-Nya penulis dapat menyelesaikan tugas Critical Book Review
dalam mata kuliah Pengantar Sejarah Sastra

Penulis sangat berharap makalah ini dapat berguna dalam rangka menambah wawasan
serta pengetahuan kita mengenai sastra dan bagaimana sejarah dari sastra

Mengingat berbagai kendala dan kesulitan penulis saat menyelesaikan makalah ini,
penulis menyadari bahwa makalah ini jauh dari kata sempurna. Oleh karena itu, saran dan
kritik yang membangun dari pembaca sangat dibutuhkan untuk penyempurnaan makalah ini.

Akhir kata penulis mengucapkan terima kasih.

Medan, 2020

Kristin Monika Sirait

DAFTAR IS

i
KATA PENGANTAR................................................................................................................i
DAFTAR ISI..............................................................................................................................ii
BAB I PENDAHULUAN..........................................................................................................1
A. Latar Belakang...............................................................................................................1
B. Tujuan............................................................................................................................1
C. Manfaat..........................................................................................................................1
BAB II PEMBAHASAN...........................................................................................................2
A. Identitas Buku................................................................................................................2
B. Ringkasan Isi Buku Utama.............................................................................................3
C. Ulasan Isi Buku............................................................................................................13
1. Buku Utama................................................................................................13
2. Buku Pembanding.......................................................................................13
BAB III PENILAIAN BUKU..................................................................................................14
A. Buku Utama.................................................................................................................14
1. Kelebihan....................................................................................................14
2. Kekurangan.................................................................................................14
B. Buku Pembanding........................................................................................................14
1. Kelebihan....................................................................................................14
2. Kekurangan.................................................................................................14
BAB IV PENUTUP.................................................................................................................15
A. Kesimpulan..................................................................................................................15
B. Saran.............................................................................................................................15
DAFTAR PUSTAKA..............................................................................................................16

ii
1

BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Sastra Indonesia adalah sebuah istilah yang melingkupi berbagai macam karya sastra
yang berda di Indonesia. Sastra Indonesia sendiri dapat merujuk pada sastra yang di buat di
wilayah kepulauan Indonesia. Sering juga secara luas dirujuk pada sastra yang bahasa
akarnya berdasarkan bahasa Melayu (dimana Bahasa Indonesia adalah turunannya).

       Periodisasi sastra adalah pembabakan waktu terhadap perkembangan sastra yang ditandai
dengan ciri-ciri tertentu. Maksudnya tiap babak waktu (periode) memiliki ciri tertentu yang
berbeda dengan periode yang lain. Dalam periodisasi sastra Indonesia di bagi menjadi dua
bagian besar, yaitu lisan dan tulisan.  Secara urutan waktu terbagi atas angkatan Pujangga
Lama, angakatan Balai Pustaka, angkatan Pujangga Baru, angkatan 1945, angkatan 1950-
1960-an, angkatan 1966-1970-an, angkatan 1980-1990-an, angkatan Reformasi, angkatan
2000-an.

B. Tujuan
1. Untuk memenuhi tugas Critical Book Riview mata kuliah Pengantar Sejarah Sastra.
2. Untuk menambah kemampuan dalam menganalisa buku.
3. Untuk menambah pemahaman dalam mengkritisi buku.

C. Manfaat
1. Menambah wawasan mengenai sejarah sastra.
2. Mengetahui kelebihan dan kekurangan buku.
3. Sebagai bahan pertimbangan pembaca dalam memilih buku.
2

BAB II

PEMBAHASAN

A. Identitas Buku
Buku Pertama (Buku Utama)

1. Judul buku : Pengantar Sejarah Sastra Indonesia


2. Penulis : Yudiono K.S
3. Penerbit : PT Grasindo
4. Tahun terbit : 2007
5. Kota terbit : Jakarta
6. Tebal buku : 380 halaman
7. ISBN : 9789797598495

Buku Kedua (Buku Pembanding)

1. Judul buku : Sejarah Sastra Indonesia


2. Penulis : Rosida Erowati dan Ahmad Bahtiar
3. Penerbit : Lembaga Penelitian UIN Syarif Hidayatullah Jakarta
4. Tahun terbit : 2011
5. Kota terbit : Jakarta
6. Tebal buku : 97 halaman
7. ISBN : 9786028606981
B. Ringkasan Isi Buku Utama

Sejarah Sastra Indonesia

Teeuw menjelaskan bahwa pembicaraan awal tentang sastra Indonesia pasti


terkait dengan sejarah pertumbuhan bahasa Melayu yang bermula pada abad ke-7 hingga
kemudian menjadi bahasa Indonesia pada awal abad ke-20. Dapat dibayangkan bahwa
masalah pada zaman itu terbilang rumit karena disamping bahasa Melayu ada bahasa-
bahasa daerah yang penting, seperti Jawa dan Sunda, dan sudah diperkenalkan juga
bahasa Belanda di kalangan kaum terpelajar. Menurut pendapat Teeuw, proses kelahiran
bahasa Indonesia dari bahasa Melayu disebabkan oleh tangan para tokoh pergerakan
nasional dan pemuda terpelajar, seperti Muhammad Yamin, Rustam Effendi, S. Takdir
Alisjahbana, Amir Hamzah, Sanusi Pane, Armijn Pane, dan J.E. Tatengkeng. Mereka itu
kemudian disebut sebagai perintis dan pembuka jalan lahirnya sastra Indonesia karena
dari tangan merekalah terlahir karya sastra yang bentuk dan semangatnya sudah berbeda
dari tradisi sastra Nusantara, bahkan terbentuk gerakan kebudayaan pujangga baru.

Dalam zaman penjajahan Belanda abad ke-19 belum ada bahasa Indonesia. Yang
berkembang adalah bahasa-bahasa daerah, seperti bahasa Melayu, Sunda, Jawa, dan Bali.
Dengan sendirinya sastra yang berkembang pun berasal dari berbagai bahasa daerah itu,
sedangkan yang berperan penting adalah bahasa Jawa, Melayu, dan Sunda. Di samping
itu, ada juga bahasa yang dipergunakan oleh penduduk kota-kota besar Indonesia, yaitu
bahasa Melayu Rendah dengan pemakai terbanyak adalah golongan Tionghoa. Sejarah
menunjukkan pesatnya perkembangan sastra golongan Tionghoa yang memakai bahasa
Melayu Rendah, baik di kalangan mereka sendiri maupun di kebanyakan masyarakat
nusantara yang telah mengenal pendidikan. Sementara itu, Sastra daerah yang mulai
bersentuhan dengan kebudayaan Barat tidak dapat menjangkau masyarakat yang luas
karena kendala bahasa. simpulan singkatnya adalah pertumbuhan sastra Indonesia
sungguh tak terpisahkan dari dinamika sosial budaya masyarakat pemangkunya pada
akhir abad ke-19 dan awal abad ke-20. Dinamika itu dapat ditelaah dari berbagai sudut
pandang, seperti politik, kebudayaan, kebahasaan, kemasyarakatan, dan penerbitan.

Masa Pertumbuhan Sastra Indonesia Tahun 1900-1945

3
Jejak pengaruh Islam di Nusantara harus dipandang penting, khususnya di bidang
kesusastraan sebagaimana tampak pada tumbuhnya tradisi penulisan sastra keislaman
mulai abad ke-17 yang mendesak jejak pengaruh Hindu dan Budha yang telah
berkembang pada beberapa abad sebelumnya. Kebanyakan sastra keislaman itu ditulis
dengan huruf Arab-Melayu atau huruf Jawi. Yang perlu dicatat bahwa sastra keislaman
itu pun termasuk sastra Nusantara atau sastra klasik Indonesia yang merupakan khazanah
budaya masyarakat pemangkunya, dan dengan sendirinya sekarang harus disebut sebagai
khazanah budaya bangsa Indonesia.

Masyarakat nusantara yang kemudian menjadi bangsa Indonesia telah memiliki


tradisi sastra yang hebat selama berabad-abad dan terus berlangsung sejalan dengan
perubahan zaman hingga memasuki abad ke-20. Perubahan zaman itu ditandai dengan
munculnya sekolah-sekolah umum yang diselenggarakan oleh pemerintah kolonial
Belanda dengan sistem dan isi yang berbeda dengan pesantren dan sekolah-sekolah
Kristen. Dari buku Ajip Rosidi, Masa Depan Budaya Daerah: Kasus Bahasa dan Sejarah
Sunda (2006: 20-21), diperoleh catatan bahwa sekolah-sekolah yang didirikan pemerintah
kolonial Belanda pada zaman itu adalah sekolah untuk orang Belanda, sekolah untuk
orang asing timur, dan sekolah untuk orang pribumi. Setelah tersebarnya sekolah-sekolah
umum itu terjadi perubahan sosial pada masyarakat nusantara yang akhirnya
menimbulkan kekhawatiran pemerintah kolonial yang merasa terancam ke mapannya,
lebih-lebih setelah muncul surat kabar atau pers pribumi dan peranakan Cina yang
ternyata besar pengaruhnya terhadap berkembangnya nasionalisme dan sastra modern.
Menurut Yuliati, sejarah pers di Indonesia bermula ketika VOC memerlukan media cetak
untuk keperluan administrasinya. gambaran kehidupan sastra Melayu Rendah pada awal
abad ke-20 yang telah ditulis jakob sumardjo menegaskan besarnya kontribusi sekolah
dan pers terhadap pertumbuhan sastra modern sebagai dunia baru yang semangatnya
sudah berbeda dengan tradisi sastra klasik yang secara perlahan terdesak ke dunia lama
masyarakat pribumi. Kalaupun kemudian segala macam cerita itu disebut gejala awal
sastra modern, urusannya lebih banyak berada di tangan para pakar sastra. Tidak ada
kasus ataupun tindakan keras seperti pelarangan yang dianggap menimbulkan kerugian di
bawah di pihak pemerintah sehingga dipilih kebijakan baru di bidang pengajaran dan
bacaan berupa pengadaan bacaan yang semangatnya dapat menjamin kesetiaan dan
kepercayaan terhadap segala yang baik-baik dari pemerintah kolonial Belanda. dengan

4
kebijakan itulah pada tahun 1908 didirikan Komisi untuk Sekolah Bumiputra dan Bacaan
Rakyat yang kemudian menjadi Balai Pustaka.

Balai Pustaka merupakan salah satu penerbit besar yang banyak memproduksi
berbagai jenis buku. Nama Balai Pustaka telah bertahan lama selama lebih dari 90 tahun.
secara teoritis dapat dikatakan banyak masalah yang dapat diungkapkan dari Balai
Pustaka selama ini. yang jelas ada beberapa masalah esensial Balai Pustaka yang secara
historis tidak terbantahkan. Kapan pun harus ditulis bahwa Balai Pustaka didirikan oleh
pemerintah kolonial Belanda dengan keputusan gubernemen pada 14 September 1908 dan
pada tahun 1917 dikukuhkan menjadi balai pustaka. Kapan pun harus dicatat bahwa balai
pustaka telah mengorbitkan sejumlah roman, seperti Azab dan Sengsara karangan Merari
Siregar, Siti Nurbaya karangan Marah Rusli, dan Salah Asuhan karangan Abdul Muis,
yang kemudian terbaca banyak orang. Teeuw memandang balai pustaka sebagai lembaga
penerbitan yang besar jasanya bagi para pengarang Indonesia meskipun di sana sini ada
juga keberatannya. pada zaman itu sasaran balai pustaka adalah anak sekolah rakyat dan
guru yang tersebar di kota-kota kecil dan daerah, para pegawai rendahan, dan para petani.
itulah sebabnya penerbitannya menggunakan bahasa Jawa, Sunda, dan Melayu. Pada
tahun 1930-an Balai pustaka dapat menjadi besar karena didukung oleh kekuasaan
pemerintah sehingga mampu menyebarluaskan produksinya ke seluruh pelosok
Nusantara.

Seperti halnya Balai Pustaka, Pujangga Baru pun merupakan sebuah momentum
penting dalam perjalanan sejarah sastra Indonesia. Kata itu dapat diartikan sebagai
majalah yang aslinya tertulis Poedjangga Baroe, Dan dapat juga diartikan gerakan
kebudayaan Pujangga Baru tahun 1930 an yang tidak terpisahkan dari tokoh-tokoh
pemuda terpelajar. sebenarnya usaha menyebutkan suatu majalah kesusastraan sudah
muncul pada tahun 1921, tetapi selalu gagal. Baru pada tahun 1933 atas usaha S. Takdir
Alisjahbana, Amir Hamzah, dan Armijn Pane dapat diterbitkan majalah bernama
Pujangga Baru. Majalah ini pun mendapat sambutan hangat dari sejumlah terpelajar.
Namun, di sisi lain, majalah itu tidak ditanggapi oleh kaum bangsawan Melayu, dan
bahkan dikritik keras oleh para guru yang setia kepada pemerintah kolonial Belanda.
Majalah itu bertahan terbit hingga tahun 1942, kemudian dilarang oleh penguasa militer
Jepang karena dianggap ke barat-baratan dan progresif. Sumbangan Pujangga Baru
terhadap perkembangan pemikiran kebudayaan Indonesia pantas dihargai tinggi karena
memberikan kesempatan para sastrawan dan budayawan untuk menyalurkan pendapat

5
pendapatnya sehingga berkembang polemik yang semarak sebagaimana tampak pada
buku Polemik Kebudayaan. Tokoh-tokoh angkatan pujangga baru adalah S. Takdir
Alisjahbana, Amir Hamzah, Armijn Pane, Sanusi Pane, Muhammad Yamin, Rustam
Effendi, J.E. Tatengkeng, Asmara Hadi, dan lain-lain.

Keimin Bunka Shidoso adalah sebuah lembaga atau organisasi dibentuk


pemerintah pendudukan Jepang yang bertugas memobilisasi berbagai potensi seni dan
budaya untuk kepentingan Perang Asia Timur Raya yang dikobarkan Jepang. pada
mulanya aja kan itu mendapat sambutan baik dari kalangan seniman karena Jepang
menjanjikan kemerdekaan. Di antara mereka tampilah armijn pane, nur Sutan Iskandar,
Karim Halim, usmar Ismail, dan lain-lain. namun tidak lama kemudian setelah mereka
bahwa janji janji manis Jepang itu hanya tipuan belaka. Sementara itu banyak seniman
yang tidak terpikat pada Keimin Bunka Shidoso dan akibatnya mereka tidak dapat
menerbitkan karyanya pada masa itu sehingga baru muncul setelah kemerdekaan. Pola
kehidupan masyarakat pada masa itu serba sulit, ternyata semangat dan kreativitas
pengarang tidak menghilang. Rosihan Anwar kemudian terkenal sebagai tokoh jurnalis
atau wartawan, usmar Ismail terkenal sebagai perintis perfilman Indonesia, Chairil Anwar
disebut sebagai pelopor Angkatan 45, Idrus dikenal sebagai pelopor kesederhanaan
pengucapan sastra Indonesia, dan Jassin dikenal sebagai dokumentator. Sementara itu,
karya para pengarung pada masa pendudukan Jepang yang berserakan di beberapa
majalah telah dihimpun oleh Jassin dalam Kesusasteraan Indonesia di Masa Jepang dan
Gema Tanah Air I.

Masa Pergolakan Sastra Indonesia Tahun 1945-1965

Maraknya pemikiran kebudayaan dan kesusastraan tampak pada penerbitan


majalah-majalah yang segera bermunculan setelah proklamasi kemerdekaan. Yang jelas,
hal itu membuktikan betapa besar semangat kang seniman dan budayawan untuk ikut
serta mengisi kemerdekaan dengan pembangunan kebudayaan yang tidak kalah
pentingnya dibandingkan dengan pembangunan politik dan militer yang sangat mendesak
pada waktu itu. Seperti halnya kelompok Pujangga Baru yang telah berpolemik mengenai
konsep kebudayaan Indonesia baru, para seniman dan budayawan pada masa awal
revolusi pun sempat memikirkan konsep kebudayaan Indonesia sebagai landasan
pemikiran. Mereka tidak lagi berpolemik, tetapi sempat merumuskan suatu konsep yang

6
kemudian terkenal dengan sebutan “Surat Kepercayaan Gelanggang”. Disebut demikian
karena konsep atau rumusan itu diumumkan dalam ruang kebudayaan “Gelanggang”
dalam majalah Siasat tanggal 22 Oktober 1950. Yang jelas, penerbitan sastra Indonesia
tahun 1945 sampai 1950-an hanyalah sepenggal perjalanan sejarah yang kelanjutannya
semakin seru dengan hadirnya Lembaga Kebudayaan Rakyat dan Manifes Kebudayaan
hingga pecah tragedi nasional 30 September 1965.

Peristiwa penting yang besar pengaruhnya terhadap dinamika kehidupan sastra


Indonesia adalah berdirinya Lembaga Kebudayaan Rakyat (Lekra) pada 17 Agustus 1950
di tangan tokoh-tokoh Partai Komunis Indonesia (PKI). Walaupun di balik organisasi itu
adalah PKI, namanya tidak berpredikat komunis. Lekra sendiri baru pada tahun 1961
dinyatakan sebagai organisasi kebudayaan yang memperjuangkan slogan “politik adalah
panglima” dan membela realisme sosialis atau seni untuk rakyat. Lekra didirikan 5 tahun
setelah pecah revolusi Agustus, di saat revolusi tertahan oleh rantangan hebat berupa
persetujuan Konferensi Meja Bundar. Lekra didirikan untuk mencegah kemerosotan lebih
lanjut karena menyadari tugas revolusi bukan hanya milik kaum politisi, tetapi juga tugas
pekerja kebudayaan. Dari cuplikan itu tampaklah Lekra melaksanakan ideologi seni untuk
rakyat. Akan tetapi, konotasi rakyat itu terbatas pada konsep ideologi mereka sendiri,
bukan rakyat yang seluas-luasnya. Dengan demikian, jelaslah Lekra memang tidak
terpisahkan dari PKI. Mikro menggalang kekuatan bersama serikat buruh, petani,
organisasi pemuda, mahasiswa, sarjana, dan lain-lain secara demonstratif untuk
melemahkan kekuatan lawan politiknya. Mereka pun secara demonstratif menerbitkan
buku-buku sastra seperti kumpulan sajak, kumpulan cerpen, dan drama sehingga memikat
perhatian banyak pengarang. Cara lain yang dilakukan Lekra adalah menghancurkan
kredibilitas tokoh-tokoh yang berbeda pandangan atau berseberangan politiknya. Situasi
politik pada waktu itu menyulitkan orang untuk bersikap independen atau nonpartisan.
Namun, masih banyak pengarang dan cendekiawan yang bertahan independen melalui
majalah bulanan Kisah sebagai penerbitan sastra yang mengutamakan cerita pendek.

Majalah Kisah menjadi penting dalam sejarah sastra Indonesia karena merupakan
majalah sastra yang pertama kali mengutamakan cerita pendek (cerpen). Majalah itu
dapat bertahan hampir 5 tahun, mulai juli 1953 hingga Maret 1957 dan berhasil menjadi
tolak ukur kepengarangan seseorang. Semangatnya adalah memberikan bacaan yang baik
kepada masyarakat sehingga pengarang pun terdorong untuk menciptakan karangan yang
bermutu dengan penuh tanggung jawab. Kalaupun majalah itu hanya dapat bertahan 5

7
tahun, penyebabnya antara lain menjamurnya bacaan hiburan yang cenderung cabul
dengan akibat Kisah tidak dapat bersaing secara komersial. apapun yang telah terjadi
pada masa itu akan tampak baru apabila dikaji kembali dalam perspektif sejarah, tidak
terkecuali masalah manifes kebudayaan.

Berbeda dengan Lekra, Manifes Kebudayaan bukanlah sebuah organisasi


kebudayaan, melainkan sebuah konsep atau pemikiran di bidang kebudayaan seperti Surat
Kepercayaan Gelanggang. Kemunculannya tidak terkait dengan partai politik atau
ideologi tertentu, tetapi merupakan reaksi terhadap teror budaya yang pada waktu itu
dilancarkan oleh orang-orang Lekra. Dalam waktu singkat Manifes Kebudayaan
memperoleh sambutan hangat dan dukungan dari berbagai pihak yang merasa terancam
dan terdesak oleh agresivitas kelompok Lekra. Akan tetapi, di sisi lain justru merupakan
alasan yang kuat bagi Lekra untuk menghancurkan siapa pun yang berseberangan paham.
Manifes Kebudayaan dituduh anti manipol dan kontra revolusioner sehingga harus
dihapuskan dari muka bumi Indonesia. Sementara itu, tokoh-tokoh Manifes Kebudayaan
menggelar Konferensi karyawan Pengarang se-Indonesia (KKPI) di Jakarta pada Maret
1960 dan menghasilkan Persatuan Karyawan Pengarang Indonesia (PKPI). Namun,
organisasi tersebut tidak sempat berkegiatan, karena pada 8 Mei 1964 Manifes
Kebudayaan dilarang oleh presiden Soekarno. Pelarangan Manifes Kebudayaan diikuti
tindakan politik semakin memojokkan orang-orang Manifes Kebudayaan, yaitu
pelarangan buku karya pengarang pengarang yang berada di barisan Manifes, terlepas
apapun isi dan kapan penulisannya. sementara itu makin maratua sastra bernapaskan
realisme sosialis dari sejumlah pengarang Lekra.

Masa Pemapaman Sastra Indonesia 1965-1998

Setelah melewati bulan-bulan ketegangan untuk penumpasan PKI maka pada


bulan juli 1966 mulailah kegiatan budaya berupa penerbitan majalah Horison di bawah
pimpinan Mochtar Lubis, sedangkan redaksinya adalah H.B. Jassin, Zaini, Taufik Ismail,
Soe Hok Djin, dan D.S. Moeljanto. Penerbitnya adalah Yayasan Indonesia yang didirikan
pada 31 Mei 1966, sedangkan semangat atau visinya adalah mengembalikan krisis budaya
yang telah terjadi selama belasan tahun dengan harapan tumbuh semangat baru untuk
memperjuangkan demokrasi dan martabat manusia Indonesia. Majalah Horison
mengutamakan sastra dengan kesadaran penuh bahwa bidang sastra berkedudukan
strategis sebagai pendorong kreativitas pemikiran, baik perseorangan maupun antar

8
bangsa. Artikel penting pada awal terbitnya Horison adalah deklarasi Angkatan 66 oleh
H.B. Jassin yang dimuat Horison Nomor 2, Agustus 1966. Dengan demikian, kelahiran
Angkatan 66 adalah klimaks perlawanan terhadap tirani yang berkepanjangan. Polemik
yang terjadi berdasarkan ideologi politik dan latar belakang partai seperti pada masa
jayanya Lekra. Demokrasi pun telah dimanipulasi menjadi diktatur, sedangkan
kemanusiaan yang adil dan beradab telah menimbulkan permusuhan dengan bangsa-
bangsa lain. Akan tetapi, di bidang kesusastraan ada ukuran tersendiri, karena semangat
itu dituangkan dalam hasil kesenian atau kesusastraan. Terlepas dari polemik dan kajian
ilmiahnya, nama atau sebutan Angkatan 66 dalam sastra Indonesia yang sudah terlanjur
populer, seperti halnya Angkatan 45, Angkatan Pujangga Baru, dan Angkatan Balai
Pustaka. Ciri khas angkatan tersebut adalah bersemangat Pancasila yang membawa
kesadaran manusia untuk memperjuangkan kebenaran, keadilan, kesadaran moral, dan
agama.

Kemujuran Horison ternyata tidak berlaku bagi majalah Sastra yang boleh
diibaratkan saudara kandung apabila dilihat dari semangat dan redaksinya yang tidak
terlepas dari nama besar H.B. Jassin. Majalah Sastra diterbitkan pertama kali pada 1 Mei
1961 dan berjalan hingga Maret 1964. Sejak terbit pertama kali menjual tersebut sudah
menjadi bulan-bulanan, hasutan dan fitnah dan kelompok Lekra yang berkehendak segala
kegiatan kebudayaan, termasuk sastra, berada di bawah pengaruh dan kekuasaannya.
Tekanan itu semakin keras setelah deklarasi Menifes Kebudayaan pada 17 Agustus 1963
sehingga majalah Sastra terpaksa berhenti terbit setelah edisi maret 1964. Secara historis,
majalah Sastra tidak terpisahkan dengan nama besar H.B. Jassin, seorang tokoh yang jasa
dan sumbangannya terhadap sastra Indonesia sungguh luar biasa. Warisannya bukan
hanya gagasan-gagasan yang tertuang dalam sejumlah buku kritik dan esai, melainkan
juga dokumentasi sastra yang kemudian dikelola oleh Yayasan Pusat Dokumentasi Sastra
H.B. Jassin di Jakarta. Kenyataannya perjalanan Sastra yang terakhir ini tidak seperti
yang diharapkan banyak orang karena hanya terbit Mei s.d Oktober 2000; harapan-
harapan segar terus berkembang di sejumlah kalangan dengan maraknya beragam
kegiatan yang semakin memapankan dinamika sastra Indonesia, bagi jalur penciptaan,
pengajaran, dan penelitian. Salah satu lembaga atau institusi yang penting di bidang
penelitian itu adalah Pusat Bahasa.

Pusat Bahasa adalah pelaksana tugas di bidang penelitian dan pengembangan


bahasa yang berada di bawah Menteri Pendidikan Nasional. Namanya pernah populer

9
dengan Pusat Pembinaan dan Pengembangan Bahasa yang merupakan kelanjutan sebuah
instansi kecil bernama Lembaga Bahasa pada tahun 1950-an. Kantornya yang terbilang
sederhana beralamat di Jalan Daksinapati Barat IV, Rawamangun, Jakarta Timur,
bertetangga dengan kampus Universitas Negeri Jakarta yang dahulu bernama IKIP Negeri
Jakarta. Pusat Bahasa terus mendorong staf di pusat dan daerah untuk meningkatkan
derajat akademik melalui program studi pasca sarjana di dalam dan luar negeri.

Salah satu lembaga kesenian kampus yang dalam 30 tahun terakhir ini terbilang
besar kontribusinya terhadap sastra Indonesia adalah Dewan Kesenian Jakarta (DKJ).
DKJ diresmikan oleh gubernur DKI Jakarta Ali Sadikin pada 3 Juni 1968, terdiri atas 25
orang seniman-budayawan terkemuka. Tujuannya adalah merumuskan konsep
pembangunan budaya yang memberi ruang gerak leluasa bagi seniman untuk
menyuarakan pencerahan bangsa. DKJ adalah lembaga atau organisasi kesenian yang
menjadi mitra kerja gubernur DKI Jakarta dalam perencanaan pembangunan kesenian.
Tugasnya antara lain menyiapkan usulan program pengembangan kesenian, memantau
perkembangan kehidupan kesenian, mengevaluasi pelaksanaan program tahunan, dan
menjalin kerjasama dengan pihak-pihak lain. Langkah gubernur Ali Sadikin pada waktu
itu dipandang sebagai angin segar bagi pengembangan kebudayaan yang hingga akhir
tahun 1965 telah diwarnai perdebatan dan perseteruan yang berlatar belakang politik.
Langkah itupun sejalan dengan harapan masyarakat kebudayaan yang mulai merasakan
tersisihnya pembangunan kebudayaan di tangan orde baru yang menjanjikan modernisasi
dan industrialisasi. Peranan dikaji semakin penting pada awal tahun 1980 sebagai model
pembentukan dewan kesenian di sejumlah provinsi setelah terjadi kontak dan pendekatan
melalui musyawarah dewan kesenian se-Indonesia di Malang dan Makassar.

Majalah Horison, Sastra, Pusat Bahasa, fakultas sastra, dan Dewan Kesenian
Jakarta mengisyaratkan lingkungan yang serius dan resmi untuk kegiatan sastra yang
berupa penciptaan, penelitian, dan pengembangan, sedangkan di luar lingkungan tersebut
berkembang pesat penciptaan sastra yang kemudian disebut sastra populer sejalan dengan
maraknya penerbitan koran dan majalah umum yang terbit di kota-kota besar Indonesia.
Maraknya penerbitan surat kabar di banyak kota besar Indonesia telah memberikan
kontribusi yang besar terhadap perkembangan kuantitas sastra Indonesia. Apabila
dipandang dari segi komersial atau sambutan masyarakat pembaca maka tampaklah
riwayat sastra koran yang dengan sendirinya berkonotasi sastra populer itu telah
berlangsung lama dengan pasang dan surut pada masa-masa tertentu.

10
Melimpahnya novel populer mengaburkan batasnya dengan novel sastra yang
telah menjadi jalur tersendiri. masalah itu dibahas oleh kritik sastra yang bertugas menilai
baik buruknya karya sastra. Sejumlah tulisan kritik sastra Indonesia yang sudah
dibukukan sekarang terbilang puluhan judul dengan warna, gaya, dan aliran yang
beragam. setelah meninjau sejumlah buku kritik sastra Indonesia dari masa ke masa,
Rachmat Djoko Pradopo berpendapat bahwa selama ini belum ada buku kritik sastra yang
membicarakan dasar-dasar kritik sastra secara sistematis dan lengkap. Oleh karena itu,
perlu disusun dasar-dasar kritik sastra Indonesia modern yang mencakup teori dan wujud
terapannya, termasuk perdebatan atau volume yang pernah terjadi sepanjang
sejarahnya.selamatan 1985 masyarakat sastra Indonesia disebut hipotermi kritik sastra
kontekstual yang berawal dari gagasan Arif Budiman yang mengharapkan sastra
Indonesia kontekstual terhadap kehidupan bangsa Indonesia yang sebagian besar masih
hidup menderita. tidak lama kemudian muncul tawaran sosiologi sastra sebagai sebuah
pendekatan baru dalam kritik sastra Indonesia. Sementara itu, pantas juga dicatat gagasan
mencari model kritik sastra Indonesia yang diperdebatkan dalam seminar sastra di
Universitas Bung Hatta Padang (1988), kemudian terbaca berbagai tawaran teori seperti
psikoanalisis, feminisme, strukturalisme genetik, semiotik, dan lain-lain yang berbaur
dengan maraknya kritik sastra populer di koran dan majalah terbitan kota-kota besar di
Indonesia. Banyaknya seminar sastra yang telah menghasilkan ratusan makalah kritik
sastra dengan sendiri memperkaya khazanah kritik dan esai sastra Indonesia yang
merupakan lahan tersendiri bagi para peneliti sastra.

Perlu dicatat bahwa dunia pengarang sastra Indonesia selama ini boleh dikatakan
tumpang tindih atau berbaur dengan dunia esais dan kritikus. Terbukti banyak pengarang
yang dikenal juga sebagai esai dan kritikus; bahkan kadang lebih populer daripada para
sarjana sastra di kampus-kampus universitas. Biasanya kehebatan atau keterkenalan pakar
terkait dengan karya-karyanya yang dianggap sebagai ikon pakar yang bersangkutan atau
terkait dengan jabatan dan kegiatan-kegiatan yang berpengaruh terhadap dinamika sastra
pada masanya. Lazimnya pula, nama-nama yang terlanjur mapan selalu disebut-sebut
orang, sedangkan ratusan nama yang baru muncul cenderung tersisih sampai pada suatu
saat tampil dengan kehebatan tertentu. Sebutkan nama-nama besar itu: Ajip Rosidi,
Goenawan Mohamad, H.B. Jassin, Mochtar Lubis, Nh. Dini, Sapardi Djoko Damono,
Subagio Sastrowardojo, Taufik Ismail, Rendra, dan lain-lain. Sementara itu, ratusan
penyair, esais, dan kritikus terus bermunculan di koran dan majalah yang terbit di Jakarta

11
dan kota-kota besar di Indonesia. Lewat penerbitan koran dan majalah tercatat sejumlah
nama yang potensial. sebagian dari mereka terus berproduksi dijaga sastra dan banyak
yang kemudian bergeser ke bidang-bidang lain.

Masa Pembebasan Sastra Indonesia Tahun 1998-

Krisis multidimensi merupakan istilah yang populer pada dewasa ini yang
menunjuk pada berbagai masalah yang melilit kehidupan masyarakat, bangsa dan negara
Indonesia setelah reformasi Mei 1998 sehingga terjadi kemerosotan dalam hampir segala
aspek kehidupan. Sumbernya adalah krisis ekonomi dan politik yang terjadi pada sekitar
tahun 1998 seperti sudah ditulis para ahli dalam puluhan judul buku. Keprihatinan
masyarakat luas itu telah terekam juga dalam Pertemuan Sastrawan Indonesia 1997 di
Bukittinggi dan Padang yang secara garis besar menyatakan rasa malu atas kemandulan
sastra Indonesia di tengah-tengah kemandulan raya seluruh sektor dan bidang kehidupan
masyarakat. Renungan dan himbauan sastrawan Indonesia dalam pertemuan Sastrawan
Indonesia 1997 itu memperlihatkan benang halus yang terjalin pada semangat Pujangga
Baru 1930-an, Surat Kepercayaan Gelanggang 1940-an, dan Manifes Kebudayaan 1960-
an.

Istilah Sastra Pembebasan muncul sebagai ancar-ancar bahwa sastra pasca


reformasi dapat dianggap sebagai salah satu jalan pembebasan terhadap berbagai
kekurangan dan pembatasan yang terjadi di akhir Orde Baru. Sementara itu, kehidupan
kampus mahasiswa pun terkekang oleh sejumlah aturan, sedangkan pers dan kesenian di
sana-sini terkena juga tekanan dan pembatasan. Gejala itu menghapus kan banyak
kegiatan yang sudah mapan sebelum reformasi, tetapi menambah kesemarakan dinamika
sastra Indonesia di banyak tempat dan penerbitan. Semangat baru pun tampak pada
kegiatan berkala Hiski yang terus berjalan dari tahun ke tahun. semangat yang bergolak di
kalangan mereka adalah membebaskan publik dari kebekuan bacaan yang selama puluhan
tahun dibayangi pelarangan dan pembredelan. Di celah maraknya penerbitan sastra dari
generasi mutakhir itu munculnya fenomena yang menarik dari pengarang terkemuka
Pramoedya Ananta Toer. Fenomena Pramoedya Ananta Toer boleh jadi menarik
perhatian publik, karena dianggap sebagai ikon perlawanan terhadap Orde Baru justru
berkas karya sastra yang ditulis selama terasing di Pulau Buru.

Tampaknya masa depan sastra Indonesia tidak lagi terbatas di Jakarta dan kota-
kota besar di Jawa, tetapi tersebar ke seluruh pelosok tanah air. Pada masa yang akan

12
datang harus dikembangkan pengkajian sastra Indonesia lokal. Sementara itu, tercatat
komunitas penerbitan sastra yang memperlihatkan trend tersendiri di samping penerbitan
yang sudah lazim berlangsung di penerbit-penerbit sebelumnya.

13
C. Ulasan Isi Buku

1. Buku Utama
Buku ini memaparkan tentang sejarah sastra di Indonesia, periodisasinya dan
bagaimana perkembangannya secara detail dan mendalam. Buku ini dengan jelas
menerangkan awal mula suatu angkatan terbentuk dan berbagai hal lain yang
mempengaruhi angkatan tersebut bisa ada. Buku ini banyak memasukkan sumber-
sumber, tokoh, dan contoh karya di dalam isiannya.

2. Buku Pembanding
Buku ini memaparkan tentang sejarah sastra Indonesia dan periodisasinya secara
umum juga menjelaskan banyak jenis karya sastra baru yang bermunculan. Buku ini
mengikutsertakan banyak pendapat para pakar yang ahli di dunia kesusastraan sebagai
penunjang materi yang dijelaskan agar semakin lengkap. Secara keseluruhan buku ini
telah berhasil memaparkan periodisasi sastra Indonesia secara singkat dan padat.

14
15

BAB III
PENILAIAN BUKU

A. Buku Utama

1. Kelebihan
a. Penjelasan buku sangat mendetail sehingga dapat jelas diketahui proses yang
dialami suatu angkatan, tokoh-tokohnya, dan karya-karyanya.
b. Buku ini sangat banyak memasukkan pendapat-pendapat tokoh tertentu dan
kutipan dari buku terkenal sehingga semakin memperjelas kebenaran isi buku.
c. Di setiap akhir bab buku selalu ada soal yang diberikan untuk menguji
pemahaman pembacanya.

2. Kekurangan
a. Buku ini terlalu banyak memuat contoh karya sehingga buku ini semakin tebal
dan pencetakannya pun lebih mahal.
b. Buku ini banyak terfokus pada momen-momen tertentu yang dinilai tidak terlalu
penting untuk dipaparkan.
c. Di dalam buku ini banyak kalimat yang tidak efektif sehingga dapat membuat
pembacanya salah paham dan sulit mengartikan bacaan yang sedang dibacanya.

B. Buku Pembanding

1. Kelebihan
a. Buku ini menjelaskan materinya secara ringkas dan padat sehingga tidak terjadi
pemborosan terhadap tebal buku.
b. Buku ini banyak memuat catatan kaki sehingga ketika membaca bagian tertentu
dari materi yang ada di dalam buku, maka pembaca dapat mengetahui sumber
yang lebih jelas.
c. Contoh-contoh karya yang dipaparkan cukup sesuai dengan kebutuhan
pemahaman pembaca.

2. Kekurangan
a. Buku ini secara keseluruhan berisi dengan teks sehingga mudah membuat bosan
pembacanya.
b. Masih ada banyak typo dan kalimat yang tidak efektif sehingga mengganggu
kenyamanan membaca dan menyebabkan kesalahpahaman makna.
16

BAB IV
PENUTUP

A. Kesimpulan
Kesusastraan di Indonesia telah ada sejak lama dan diawali dengan sastra lama yang
karya-karyanya berupa sastra lisan (dari mulut ke telinga). Periodisasi sastra Indonesia
dimulai dari Angkatan Pujangga Lama dan kemudian terus berkembang pesat sehingga
lahirlah angkatan-angkatan sastra yang baru dengan aspek-aspek kehidupan sebagai
pendukungnya. Di tiap-tiap angkatan pula ada ciri khas tertentu yanag menjadi pembeda
antarangkatan.

B. Saran
Banyak penulis, penyair, dan profesi lainnya yang bergerak di dunia kepenulisan namun
tidak mengetahui sejarah dari bidang yang digelutinya itu. Jadi, alangkah baiknya bila sejarah
sastra Indonesia ini semakin disebar luaskan dan semakin sering diperkenalkan pada orang-
orang agar mereka tahu bahwa banyak karya kepenulisan yang sering mereka nikmati
merupakan hasil pejuang-pejuang satsra Indonesia.
17

DAFTAR PUSTAKA
Yudiono K.S. 2010. Pengantar Sejarah Sastra Indonesia. Jakarta: Grasindo.

Erowati, Rosida & Ahmad Bahtiar. 2011. Sejarah Sastra Indonesia. Jakarta: Lembaga
Penelitian UIN Syarif Hidayatullah Jakarta.

Anda mungkin juga menyukai