Anda di halaman 1dari 18

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

A. Konsep Keperawatan Lintas Budaya


Keperawatan transkultural adalah suatu pelayanan keperawatan yang
berfokus pada analisis dan studi perbandingan tentang perbedaan budaya
(Leininger, 1978). Keperawatan transkultural adalah ilmu dan kiat yang humanis,
yang difokuskan pada perilaku individu atau kelompok, serta proses untuk
mempertahankan atau meningkatkan perilaku sehat atau  perilaku sakit secara fisik
dan psikokultural sesuai latar belakang budaya (Leininger, 1984). Pelayanan
keperawatan transkultural diberikan kepada klien sesuai dengan latar belakang
budanyanya. Menurut Dr. Madeline Leininger, studi praktik pelayanan kesehatan
transkultural adalah berfungsi untuk meningkatkan pemahaman atas tingkah laku
manusia dalam kaitan dengan kesehatannya. Dengan mengidentifikasi praktik
kesehatan dalam berbagai budaya (kultur), baik di masa lampau maupun zaman
sekarang akan terkumpul persamaan – persamaan. Leininger berpendapat,
kombinasi pengetahuan tentang pola praktik transkultural dengan kemajuan
teknologi dapat menyebabkan makin sempurnanya pelayanan perawatan dan
kesehatan orang banyak dan berbagai kultur.
Konsep yang diterapkan dalam keperawatan transkultural yaitu :
a. Budaya
Adalah norma atau aturan tindakan dari anggota kelompok yang
dipelajari, dan dibagi serta memberi petunjuk dalam berfikir, bertindak
dan mengambil keputusan.
b. Nilai Budaya
adalah keinginan individu atau tindakan yang lebih
diinginkanatau sesuatu tindakan yang dipertahankan pada suatu waktu
tertentu dan melandasi tindakan dan keputusan.
c. Perbedaan Budaya
Dalam asuhan keperawatan merupakan bentuk yang optimal dari
pemberian asuhan keperawatan, mengacu pada kemungkinan variasi
pendekatan keperawatan yang dibutuhkan untuk memberikan asuhan
budaya yang menghargai nilai budaya individu, kepercayaan dan
tindakan termasuk kepekaan terhadap lingkungan dari individu yang
datang dan individu yang mungkin kembali lagi (Leininger, 1985).
d. Etnosentris
Diantara budaya-budaya yang dimiliki oleh orang lain ada
persepsi yang dimiliki oleh individu yang menganggap bahwa budayanya
adalah yang terbaik.
e. Etnis
Berkaitan dengan manusia dari ras tertentu atau kelompok budaya
yang digolongkan menurut ciri-ciri dan kebiasaan yang lazim.
f. Ras
Perbedaan macam-macam manusia didasarkan pada mendiskreditkan
asal muasal manusia.
g. Etnografi
Ilmu yang mempelajari budaya. Pendekatan metodologi pada penelitian
etnografi memungkinkan perawat untuk mengembangkan kesadaran yang tinggi
pada perbedaan budaya setiap individu, menjelaskan dasar observasi untuk
mempelajari lingkungan dan orang-orang, dan saling memberikan timbal balik
diantara keduanya.
h. Care
Fenomena yang berhubungan dengan bimbingan, bantuan, dukungan
perilaku pada individu, keluarga, kelompok dengan adanya kejadian untuk
memenuhi kebutuhan baik actual maupun potensial untuk meningkatkan kondisi
dan kualitas kehidupan manusia.
i. Caring
Tindakan langsung yang diarahkan untuk membimbing,mendukung dan
mengarahkan individu, keluarga atau kelompok pada keadaan yang nyata atau
antisipasi kebutuhan untuk meningkatkan kondisi kehidupan manusia.
j. Cultural Care
Berkenaan dengan kemampuan kognitif untuk mengetahui
nilai,kepercayaan dan pola ekspresi yang digunakan untuk mebimbing,
mendukung atau memberi kesempatan individu, keluarga atau kelompok untuk
mempertahankan kesehatan, sehat, berkembang dan bertahan hidup, hidup
dalam keterbatasan dan mencapai kematian dengan damai.
k. Cultural Imposition.
Berkenaan dengan kecenderungan tenaga kesehatan untuk memaksakan
kepercayaan, praktik dan nilai diatas budaya orang lain karena percaya bahwa
ide yang dimiliki oleh perawat lebih tinggi daripada kelompok lain.

1. Trend dan Issue


Banyak hal dalam budaya Indonesia termasuk dalam cara mereka
mempercayai dan menilai diri mereka untuk membuat hidup mereka
mampu menangani sakit yang mereka alami, sebagai contoh budaya jawa,
disini budaya jawa yang sering kami ketahui, cara yg mereka percayai
untuk mengobati diri saat sakit adalah dengan kerokan , kerokan bukan hal
yang asing bagi budaya jawa, hampir sebagian dari orang jawa masih
menggunakan kerokan untuk mengobati sakit mereka sampai saat ini.
Mereka meyakini bahwa dengan kerokan dapat mengeluarkkan angin yang
ada dalam tubuh, serta dapat menghilangkan nyeri atau sakit badan yang
dialami, dengan hal tersebut mampu membantu penyembuhan yang
mungkin telah dirasakan sebelumnya. Telah diketahui akibat dari
kerokanyaitu menyebabkan pori-pori kulit melebar, warna kulit memerah,
yang menunjukan adanya pembuluh darah dbawah permukaan kulit pecah
sehingga menambah arus darahkepermukaan kulit.
Ketika melakukan komunikasi untuk memberikan informasi tentang
akibat yang terjadi dar kerokan tidak membuat para klien berhenti melakukan
tradisi seperti itu karena telah menjadi kebiasaan yang secara terus menerus
dilakukan. Budaya merupakan faktor yang dapat mempengaruhi asuhan
keperawatan. Asuhan keperawatan harus terus dilakukan bagaimana caranya
menangani klien tanpa menyinggung perasaan klien dan mengkritik tradisi
yang telah ada yang mungkin sulit untuk kita ubah. Tujuan kita bukan untuk
mengubah atau mengkritik tradisi tersebut naun bagaimana perawat mampu
melakukan semua tugasnya dalam membantu kebutuhan pasien.
2. Paradigma
Leininger (1995) mengartikan paradigma keperawatan transkultural adalah
cara pandang, persepsi, keyakinan, nilai-nilai, dan konsep-konsep dalam
pelaksanaan asuhan keperawatan yang sesuai dengan latar belakang budaya
terhadap empat konsep sentral, yaitu manusia, kesehatan, lingkungan, dan
keperawatan.
1) Manusia
Manusia adalah individu atau kelompok yang memiliki nilai-nilai dan
norma-norma yang diyakini berguna untuk menetapkan pilihan dan melakukan
tindakan (Leininger, 1984). Menurut Leininger (1984), manusia memiliki
kecenderungan untuk mempertahankan budayanya setiap saat dan dimana
pun dia ber/ada.
Klien yang dirawat di rumah sakit harus belajar budaya baru, yaitu
budaya rumah sakit, selain membawa budayanya sendiri. Klien secara aktif
memilih budaya dari lingkungan, termasuk dari perawat dan
semua pengunjung di rumah sakit. Klien yang sedang dirawat belajar agar
cepat pulih dan segeera pulang ke rumah untuk memulai aktivitas hidup yang
lebih sehat.
2) Kesehatan
Kesehatan adalah keseluruhan aktivitas yang dimiliki klien dalam
mengisi kehidupannya, yang terletak pada rentang sehat-sakit (Leininger,
1978). Klien dan perawat mempunyai tujuan yang sama, yaitu ingin
mempertahankan keadaan sehat dan dalam rentang sehat-sakit yang adaptif
(Leininger, 1978). Asuhan keperawatan yang diberikan bertujuan untuk
meningkatkan kemampuan klien memilih secara aktif budaya yang sesuai
dengan status kesehatannya. Untuk memilih secara aktif budaya yang sesuai
dengan status kesehatanya, klien harus mempelajari lingkungannya. Sehat yang
akan dicapai adalah kesehatan yang holistic dan humanistik karena
melibatkan peran serta klien yang lebih dominan.
3) Lingkungan
Lingkungan adalah keseluruhan fenomena yang memengaruhi
perkembangan, keyakinan, dan perilaku klien. Lingkungan dipandang
sebagai suatu totalitas kehidupan klien dengan budayanya. Ada tiga bentuk
lingkungan yaitu :
a. Lingkungan Fisik adalah lingkungan alam atau lingkungan yang diciptakan
oleh manusia, seperti daerah khatulistiwa, pegunungan, pemukimam padat
dan iklim tropis.
b. Lingkungan Sosial adalah keseluruhan struktur sosial yang  berhubungan
dengan sosialisasi individu atau kelompok ke dalam masyarakat yang lebih
luas seperti keluarga, komunitas, masjid atau gereja.
c. Lingkungan simbolik adalah keseluruhan bentuk atau simbol yang
menyebabkan individu atau kelompok merasa bersatu, seperti music, seni,
riwayat hidup, bahasa atau atribut yang digunakan.
4) Keperawatan
Asuhan keperawatan adalah suatu proses atau rangkaian kegiatan
pada praktik keperawatan yang diberikan kepada klien sesuai dengan
latar belakang budayanya. Asuhan keperawatan ditujukan memandirikan
individu sesuai dengan budaya klien. Strategi yang digunakan dalam
melaksanakan asuhan keperawatan adalah :
Strategi I, Perlindungan/mempertahankan budaya.
Mempertahankan budaya dilakukan bila budaya pasien tidak
bertentangan dengan kesehatan. Perencanaan dan implementasi
keperawatan diberikan sesuai dengan nilai-nilai yang relevan yang telah
dimiliki klien sehingga klien dapat meningkatkan atau
mempertahankan status kesehatannya,misalnya budaya berolahraga
setiap pagi

Strategi II, Mengakomodasi/negoasiasi budaya.


Intervensi dan implementasi keperawatan pada tahap ini
dilakukan untuk membantu klien beradaptasi terhadap budaya tertentu
yang lebih menguntungkan kesehatan. Perawat membantu klien agar
dapat memilih dan menentukan budaya lain yang lebih
mendukung peningkatan kesehatan, misalnya klien sedang hamil
mempunyai pantangan makan yang berbau amis, maka ikan dapat diganti
dengan sumber protein hewani.
Strategi III, Mengubah/mengganti budaya klien
Restrukturisasi budaya klien dilakukan bila budaya yang dimiliki
merugikan status kesehatan. Perawat berupaya merestrukturisasi gaya
hidup klien yang biasanya merokok menjadi tidak merokok. Pola
rencana hidup yang dipilih biasanya yang lebih menguntungkan dan
sesuai dengan keyakinan yang dianut.

3. IPTEK
Dalam transkultural ilmi pengetahuan adalah seluruh usaha sadar untuk
menyelidiki, menemukan dan meningkatkan pemahaman mausia dari berbagai
segi kenyatan dalam alam manusi. Ilmu memberikan kepastian dengn
membatasi lingkup pandangannya, dan kepastian ilmu-ilmu diperoleh dari
keterbatasannya. Teknologi adalah metode ilmiah untuk mencapai tujuan
praktis; ilmu pengetahuan terapan atau dapat pula diterjemahkan sebagai
keseluruhan sarana untuk menyediakan barang-barang ang diperlukan bagi
elangsungan dan kenyamanan hidup manusia. Sebagian beranggapan
teknologi adalah barang atau sesuatu yang baru
Nilai nilai budaya bersifat kompleks, karena stiap manusia
menjadi pasien mempunyai latar belakang, lingkungan hidp, pengalaman
hidup, tidak sama. Pengembangan iptek mempunyai dampak dalam dinamika
nilai-nila,
nilai budaya, yang mempengaruhi paradigma seseorang terhadap
persepsi sesuatu yang dihadapinya . realitas yang seperti itu menurut seorang
perawat yang selalu berhadapan dengan pasien harus banyak memahami model
pemenuhan harapan pasien bukan hanya dai sisi metode pelayanan klinis teknis
keperawatan namun pendekatan nilai-nilai budaya yang beraneka ragam yang
menjadi milik pasien harus dimengerti dan dipahami. Agar harapan pasien
sebagai manusia dapat dipenuhi secra komprehensif dan holistic
4. Pandangan Agama
Peran agama dalam keperawatan adalah topik yang jarang untuk
dibahas, padahal kita tahu hal ini sangat berpengaruh didalam pelayanan, hal
ini terbukti dengan didalam keperawatan kita juga mengenal tentang kebutuhan
spiritual (walaupun tidak benar-benar dapat disamakan dengan agama). Tapi
kali ini saya hanya ingin membagi ide atau pemikiran saya, bukan tentang
pemenuhan kebutuhan spiritual, tetapi yang berhubungan dengan pendidikan
agama bagi keperawatan.
Adapun peran agama dalam transkultural nursing adalah sebagai berikut :
a. Memberikan pandangan dari penanganan kesehatan.
b. Budaya akan memengaruhi bagaimana orang menyebutkan dan
mengkomunikasikan masalahnya.
c. Mempersepsikan pelayanan kesehatan jiwa.
d. Menggunakan atau merespon penanganan kesehatan jiwa.
e. Mengatasi masalah bahasa dan menciptakan dialog yang
sensitive budaya.
f. Mengatasi masalah-masalah kesehatan mental. ( Perry AG dan Potter
PA,2009)

5. Tradisi Kepercayaan
Tradisi dalam masyarakat mempengaruhi paradigma sehat dan
sakit yang berkembang di masyarakat. Misalnya pada masyarakat Bali
sering melakukan ritual ketika mengalami musibah atau penyakit.
Mereka beranggapan setelah melakukan ritual tersebut mereka
akan terhindar dari musibah tersebut dan mempercepat penyembuhan.
Begitu pula daerah lain masyarakat masih cenderung mempercayai hal-
hal yang bersifat gaib karena adanya tradisi yang sudah ada sejak
dahulu dan turun-temurun. 

6. Pengaruh Budaya Sunda terhadap proses keperawatan


Konsep sehat sakit tidak hanya mencakup aspek fisik saja , tetapi juga
bersifat sosial budaya . Istilah lokal yang biasa dipakai oleh masyarakat Jawa
Barat ( orang sunda ) adalah muriang untuk demam , nyerisirah untuk sakit
kepala , yohgoy untuk batuk dan salesma untuk pilek / flu. Penyebab sakit
umumnya karena lingkungan , kecuali batuk juga karena kuman . Pencegahan
sakit umumnya dengan menghindari penyebabnya. Pengobatan sakit umumnya
menggunakan obat yang terdapat di warung obat yang ada di desa tersebut ,
sebagian kecil menggunakan obat tradisional . Pengobatan sendiri sifatnya
sementara , yaitu penanggulangan pertama sebelum berobat ke puskesmas atau
mantri.
a. Pengertian Sehat Sakit
Menurut orang sunda , orang sehat adalah mereka yang makan terasa
enak walaupun dengan lauk seadanya, dapat tidur nyenyak dan tidak ada yang
dikeluhkan , sedangkan sakit adalah apabila badan terasa sakit , panas atau
makan terasa pahit , kalau anak kecil sakit biasanya rewel , sering menangis ,
dan serba salah / gelisah . Dalam bahasa sunda orang sehat disebut cageur,
sedangkan orang sakit disebut gering.
Ada beberapa perbedaan antara sakit ringan dan sakit berat . Orang
disebut sakit ringan apabila masih dapat berjalan kaki , masih dapat bekerja ,
masih dapat makan – minum dan dapat sembuh dengan minum obat atau obat
tradisional yang dibeli di warung . Orang disebut sakit berat , apabila badan
terasa lemas , tidak dapat melakukan kegiatan sehari – hari , sulit tidur , berat
badan menurun , harus berobat ke dokter / puskesmas , apabila menjalani rawat
inap memerlukan biaya mahal.
Konsep sakit ringan dan sakit berat bertitik tolak pada keadaan fisik
penderita melakukan kegiatan sehari – hari , dan sumber pengobatan yang
digunakan. Berikut beberapa contoh sakit dengan penyebab , pencegahan dan
pengobatan sendiri. :
a) Sakit Kepala
Keluhan sakit kepala dibedakan antara nyeri kepala ( bahasa sunda =
rieut atau nyeri sirah , kepala terasa berputar / pusing / bahasa sunda = Lieur
) , dan sakit kepala sebelah / migran ( bahasa sunda = rieut jangar ) .
Penyebab sakit kepala adalah dengan menghindari terkena sinar matahari
langsung , dan jangan banyak pikiran . Pengobatan sendiri , sakit kepala
dapat dilakukan dengan obat warung yaitu paramek atau puyer bintang tujuh
nomor 16.
b) Sakit Demam
Keluhan demam ( bahasa sunda = muriang atau panas tiris ) ditandai
dengan badan terasa pegal – pegal , menggigil , kadang – kadang bibir biru .
Penyebab demam adalah udara kotor , menghisap debu kotor . pergantian
cuaca , kondisi badan lemah , kehujanan , kepanasan cukup lama , dan
keletihan . Pencegahan demam adalah dengan menjaga kebersihan udara
yang dihisap , makan teratur , olahraga cukup , tidur cukup , minum cukup ,
kalau badan masih panas / berkeringat jangan langsung mandi , jangan
kehujanan dan banyak makan sayuran atau buah . Pengobatan sendiri
demam dapat dilakukan dengan obat tradisional , yaitu kompres badan
dengan tumbukan daun melinjo , daun cabe atau daun singkong , atau dapat
juga dengan obat warung yaitu Paramek atau Puyer bintang
c) Keluhan Batuk
Batuk TBC , yaitu batuk yang sampai mengeluarkan darah dari
mulut , batuk biasa (bahasa sunda = fohgoy ) , dan batuk yang terus menerus
dengan suaranya melengking (bahasa sunda = batuk bangkong ) dengan
gejala tenggorokan gatal , terkadang hidung rapet , dan kepala sakit ) .
Penyebab batuk TBC adalah karena orang tersebut menderita penyakit TBC
paru , sedangkan batuk biasa atau batuk bangkong adalah menghisap debu
dari tanah kering yang baru tertimpa hujan , alergi salah satu makanan ,
makanan basi , masuk angin, makan makanan yang digoreng dengan
minyak yang tidak baik , atau tersedak makanan / keselek . Pencegahan
batuk dilakukan dengan menjaga badan agar jangan kedinganan , jangan
makan makanan basi , tidak kebanyakan minum es , menghindari makanan
yang merangsang tenggorokan , atau menyebabkan alergi . Pengobatan
sendiri batuk dapat dilakukan dengan obat warung misalnya konidin atau
oikadryl . Bila batuk ringan dapt minum obat tradisional yaitu air perasan
jeruk nipis dicampur kecap , daun sirih 5 lembar diseduh dengan air hangat
setengah gelas atau rebusan jahe dengan gula merah.
d) Sakit Pilek
Keluhan pilek ringan ( bahasa sunda = salesma ) , yaitu hidung
tersumbat atau berair , dan pilek berat yaitu pilek yang disertai sakit kepala ,
demam , badan terasa pegal dan tenggorokan kering . Penyebab pilek adalah
kehujanan menghisap debu kotor , menghisap asap rokok , menghisap air ,
pencegahan pilek adalah jangan kehujanan , kalau badan berkeringat jangan
langsung mandi , apabila muka terasa panas ( bahasa sunda = singhareab ) ,
jangan mandi langsung minum obat , banyak minum air dan istirahat .
Pengobatan sendiri , pilek dapat dilakukan dengan obat warung yaitu
mixagrib diminum 3x sehari sampai keluhannya hilang . Dapat juga
digunakan obat tradisional untuk mengurangi keluhan , misalnya minyak
kelapa dioleskan di kanan dan kiri hidung.
e) Sakit Panas
Sakit panas adalah sakit yang menyebabkan sekujur tubuh seseorang
terasa panas biasanya yang disertai demam ( menggigil ). Untuk
mengobatinya , orang sunda biasa dengan menggunakan labu ( waluh ) yang
diparut ( dihaluskan ) , kemudian dibungkus kain dan di kompreskan ke
tubuh orang yang sakit panas tersebut hingga panasnya turun. Selain itu juga
bisa dengan menggunakan kompres air dingin
Pengobatan sakit umumnya menggunakan obat yang terdapat di
warung . obat yang ada di desa tertentu, sebagian kecil menggunakan obat
tradisional . Masyarakat melakukan pengobatan sendiri dengan alasan sakit
ringan , hemat biaya dan hemat waktu . Pengobatan sendiri sifatnya
sementara , yaitu penanggulanan pertama sebelum berobat ke puskesmas
atau Mantri . Tindakan Pengobatan sendiri yang sesuai dengan aturan masih
rendah karena umumnya masyarakat membeli obat secara eceran sehingga
tidak dapat memaca keterangan yang tercantum pada setiap kemasan obat.

B. Konsep Kompetensi Budaya Dalam Keperawatan Kesehatan Komunitas


Indonesia merupakan negara kepulauan yang didiami oleh berbagai macam
suku bangsa dengan budaya berbeda satu dengan yang lainnya. Setiap budaya
tentunya memiliki masalah kesehatan dan cara menyelesaikan masalah kesehatan
yang unik. Selain itu, telah dicanangkannya MEA dan globalisasi juga turut
membuat penting bagi perawat untuk mempelajari kompetensi budaya, terlebih
dalam pelaksanaan asuhan keperawatan kesehatan komunitas.
Budaya dalam KBBI diartikan sebagai 1) pikiran; 2) akal budi; 3) adat
istiadat; 4) sesuatu mengenai kebudayaan yang sudah berkembang (beradab, maju);
dan 5) sesuatu yang sudah menjadi kebiasaan yang sudah sukar diubah. Budaya
suatu komunitas terbentuk dari interaksi antara komunitas tersebut dengan
lingkungannya. Budaya menggambarkan cara seseorang mempersepsikan sesuatu,
bertingkah laku, dan menilai sesuatu yang ada di sekitar mereka, sehingga budaya
juga menentukan perilaku kesehatan seseorang. Oleh karena itu, untuk memberikan
asuhan keperawatan yang tepat dan berkualitas pada suatu komunitas, maka
perawat harus memahami budaya komunitas tersebut.
Leininger (1984) dengan teorinya transcultural nursing menggagas bahwa
proses asuhan keperawatan untuk mempertahankan/meningkatkan perilaku sehat
atau perilaku sakit secara fisik dan psikokultural sesuai latar belakang budaya klien.
Asuhan keperawatan komunitas dengan pendekatan transkultural memungkinkan
perawat sebagai petugas kesehatan mengelola secara utuh elemen-elemen
pelayanan kesehatan di komunitas, termasuk mengelola hambatan atau tantangan di
tingkat institusional. Kompetensi budaya yang harus dikuasai oleh perawat
kesehatan komunitas antara lain cultural awareness, knowledge, skill, encounters,
dan desire (Darmastuti & Sari. 2011).
1. Definisi Kompetensi Budaya
Cultural competence merupakan pengembangkan kesadaran akan
eksistensi, sensasi, pikiran, dan lingkungan diri seseorang tanpa terpengaruh
oleh hal –hal yang tidak semestinya pada seseorang dari latar belakang yang
berbeda. Cultural Competence perawat menunjukkan pengetahuan dan
pemahaman tentang budaya pasien; menerima dan menghormati perbedaan
budaya; menyesuaikan perawatan agar selaras dengan budaya pasien (Flower,
2017).
Cultural competence memiliki sejarah panjang dalam keperawatan.
Leininger sebagai seorang pelopor keperawatan di bidang keperawatan
transkultural, mendefinisikan perawatan yang kongruen secara budaya adalah
tindakan atau keputusan yang berdasarkan kognitif, suportif, fasilitatif atau
dukung yang disesuaikan dengan nilai-nilai budaya, kepercayaan, dan budaya
individu, kelompok atau institusional untuk memberikan atau mendukung
layanan kesehatan atau layanan kesejahteraan yang bermakna, bermanfaat dan
memuaskan (Leininger 1991, dalam Hart & Mareno,2017).
Giger dan Davidhizar dalam Karabudak, Aslan & Basbakkal, (2013)
mengungkapkan bahwa cultural competence perawat merupakan perawat yang
memiliki pengetahuan, pemahaman, dan keterampilan tentang kelompok
budaya yang beragam yang memungkinkan penyedia layanan kesehatan
memberikan perawatan budaya yang dapat diterima.
Cultural competence adalah proses yang berkelanjutan yang melibatkan
tidak hanya perawat yang memperoleh pengetahuan dan keterampilan untuk
bekerja dengan pasien dan keluarga yang beragam secara budaya, tetapi
kemampuan untuk memberikan perawatan dalam konteks budaya pasien dan
keluarga (Campinha-Bacote 2007).
Cultural competence merupakan aplikasi dari trankultural nursing yang
dikemukakan oleh Leininger tahun 1950. Transkultural keperawatan sekarang
dianggap sebagai area keperawatan yang penting baik untuk penelitian dan
praktik. Teori ini terpengaruh dari ilmu antropologi dan psikologi kemudian
para ahli teori ini mulai menentukan dasar teoritis keperawatan transkultural
untuk mendefinisikan budaya pada asuhan keperawatan, lingkungan
keperawatan, intervensi keperawatan, dan peran perawat.
2. Factor-Faktor Yang Mempengaruhi Kompetensi Budaya Dalam Keperawatan
Kesalahan umum yang harus dihindari agar perawat memiliki cultural
competence adalah dengan tidak sengaja membuat stereotip pada pasien dengan
budaya tertentu atau kelompok etnis berdasarkan karakteristik seperti
penampilan luar, ras, negara asal, atau preferensi keagamaan yang dinanut
pasien. Stereotip didefinisikan sebagai konsepsi, opini, atau keyakinan yang
terlalu disederhanakan tentang beberapa aspek individu atau sekelompok orang.
Menurut Purnell (2002) dalam Schime at. al, (2007) mendeskripsikan 12
domain budaya yang mempengaruhi keperawatan diantaranya :
a. Warisan
b. Komunikasi
c. peran dan organisasi keluarga
d. masalah tenaga kerja
e. ekologi biokultural
f. perilaku berisiko tinggi
g. nutrisi
h. kehamilan dan praktik melahirkan
i. ritual kematian
j. spiritualitas
k. praktik perawatan kesehatan
l. peran praktisi kesehatan
Domain tersebut terbangun diantara paradigma masyarakat global, komunitas,
keluarga dan personal, yang memiliki budaya yeng berbeda, akan tetapi budaya
harus dipandang sama karena tidak ada budaya yang lebih baik dari budaya
yang lain. Perawat berhak mendapat informasi yang sama terkait keragaman
budaya agar dapat meningkatkan cultural competence.
Model lain dari cultural competence menurut Giger dan Davidhizar dalam
Karabudak, Aslan & Basbakkal, (2013) adalah mode yang memberikan metode
sistematis untuk menilai orang yang beragam secara budaya dan etnis. Unsur-
unsur model ini adalah komunikasi, ruang, organisasi sosial, waktu, control
lingkungan, dan variasi biologis. Model ini dapat digunakan dalam melakukan
asuhan keperawatan peka budaya, dimana model ini disederhanakan dari
model-model asuhan peka budaya sebelumnya. Perawat penting memiliki
pemahaman budaya, sikap dan prilaku yang beragam baik dari klien atau
petugas kesehatan lainnya untuk meningkatkan pelaksanaan cultural
competence (Karabudak, Aslan & Basbakkal, 2013)
Perawat kritis harus mengembangkan cultural competence agar efektif untuk
menjaga kestabilan hubungan perawat kritis dengan pasien, dan dapat menilai,
mengembangkan, dan menerapkan intervensi keperawatan yang dirancang
untuk memenuhi kebutuhan pasien, selain itu perawat perawatan kritis harus
dapat mensiasati keputusan yang dibuat oleh pasien atau keluarga pasien yang
mungkin mencerminkan perspektif budaya yang bertentangan dengan praktik
kesehatan (Flower, 2004). Pada perkembangan masyarakat saat ini, perawatan
kritis harus kompeten secara budaya, dapat memahamani tentang latar belakang
budaya yang beragam, mengembangkan kompetensi budaya, menyajikan model
untuk pengembangan kompetensi budaya, dan menggambarkan atau
menampilkan perawat yang terampil dalamcultural competence.
Setiap perawat kritis harus berperan aktif dalam memperoleh basis informasi
untuk mengembangkan cultural competence. Kemampuan untuk memberikan
asuhan keperawatan yang efektif dalam interaksi dan pengembangan keputusan
yang tepat untuk pasien -pasien dari beragam budaya, ras, dan latar belakang
etnis (Flower, 2004). Lima rekomendasi utama untuk meningkatkan cultural
competence perawat kritis yakni :
a. melibatkan keluarga selama proses perawatan
b. menggunakan juru bahasa untuk interpretasi yang akurat penyakit dan rasa
sakit
c. mempertahankan tim yang beragam secara budaya sehingga mampu
menjelaskan prosedur
d. diagnosis pada pasien
e. mengakui keragaman budaya

3. Hambatan-hambatan dalam Kompetensi Budaya


Tantangan utama dalam penyediaan perawatan yang kompeten secara budaya
a. Hambatan bahasa
Hambatan dalam komunikasi dan merupakan berasal dari budaya klien
adalah bahasa. Bahasa yang dimiliki di suatu wilayah bisa sangat berbeda
satu dengan yang lain selain dari pemahaman yang sulit dalam
penerjemahan, bahasa yang sama dengan berbeda makna akan
menimbulkan salah faham, pada penelitian di Amerika, rumah sakit yang
menerima pasien imigran dari Meksiko dengan perbedaan bahasa banyak
menimbulkan konflik terutama para imigran yang tidak dapat mengikuti
aturan rumah sakit karena tidak menemukan perawat dengan bahasa yang
mereka fahami dan para keluarga yang cemas ketika di rawat oleh perawat
yang berbeda bahasa (Hendson et. al, 2015).
Perawat mengatakan bahwa kemampuan berbicara bahasa yang
sama dengan pasien memungkinkan hubungan yang lebih besar dengan
pasien dan keluarga.Dalam penelitian sebelumnya, perawat telah
melaporkan bahwa kemampuan untuk berbicara dalam banyak bahasa
meningkatkan perawatan yang kompeten secara budaya (El-Amouri &
O'Neill 2011; Starr & Wallace 2009). Beberapa perawat dalam penelitian ini
berkomentar bahwa kursus bahasa perlu menjadi prioritas yang lebih tinggi
dalam program gelar keperawatan. Davis dan Smith (2013) mengemukakan
bahwa pengawas individu yang memberikan perawatan langsung kepada
pasien dan keluarga dengan beragam budaya mempertimbangkan kursus
bahasa yang berfokus pada pembelajaran bahasa profesional dan sehari-hari
sebagai prioritas.
b. Perbedaan generasi antara perawat dan pasien/keluarga
Persepsi intuitif tentang kebutuhankeluarga. Kemampuan perseptif
terhadap norma-norma budaya yang beragam seperti kesopanan, privasi,
kontak mata, dan sentuhan digambarkan memiliki pengaruh signifikan pada
kemampuan penyedia layanan kesehatan untuk menyampaikan
penghormatan terhadap budaya klien Persepsi intuitif ini salah satu
hambatan dalam berkomunikasi dan membutuhkan kompetensi budaya dari
perawat dalam menangani hal ini, ketika pelaksanaan cultural competence
baik maka persepsi intuitif menjadi hal yang baik karena perawat dapat
memahamni budaya yang dianut klien dengan benar.
c. Sikap berbasis budaya kuno atau leluhur.
Sikap merupakan hambatan komunikasi yang terkait perbedaan
budaya dimana sikap berhubungan dengan waktu terbatas untuk melakukan
kegiatan dalam memahami anatara pasien dan perawat. Tuntutan tugas yang
berorientasi pada tindakan dan waktu tambahan yang diperlukan untuk
membangun hubungan dengan keluarga dan pasien sebagai memaksakan
peningkatan beban kerja dan tekanan emosional pada penyedia layanan
kesehatan, terutama perawat, namun merupakan aspek penting untuk
memberikan perawatan yang tepat dan memuaskan klien

4. Komponen Utama Kompetensi Budaya di Tenaga Kesehatan


Menurut Schime at. al, (2007) konstruksi dasar yang merupakan bagian
utama dari Cultural competence di tingkat penyedia layanan kesehatan :
a. Kesadaran budaya
Kesadaran budaya merupakan komponen kopetensi budaya dimana
melibatkan pemeriksaan diri dan eksplorasi mendalam tentang latar
belakang budaya dan profesional seseorang. kesadaran budaya harus
dimulai dengan wawasan tentang keyakinan dan nilai kesehatan budaya
seseorang. Catalano (2003) dalam Flower (2018) menyatakan bahwa “hanya
belajar tentang budaya orang lain tidak menjamin perawat akan memiliki
kesadaran budaya, perawat pertama-tama harus memahami latar belakang
budaya mereka sendiri dan mengeksplorasi asal usul prasangka mereka
sendiri dan pandangan bias orang lain”.
b. Pengetahuan budaya
Pengetahuan budaya, melibatkan proses pencarian dan memperoleh
basis informasi pada kelompok budaya dan etnis yang berbeda. Perawat
dapat mengembangkan dan memperluas basis pengetahuan budaya mereka
dengan mengakses informasi yang ditawarkan melalui berbagai sumber,
termasuk artikel jurnal, buku teks, seminar, presentasi lokakarya, sumber
daya Internet, dan program universitas.
c. Keterampilan budaya
Keterampilan budaya, melibatkan kemampuan perawat untuk
mengumpulkan data budaya yang relevan terkait dengan masalah yang ada
pada pasien secara akurat dan melakukan pengkajian fisik yang spesifik
secara budaya.
d. Pertemuan budaya
Pertemuan budaya merupakan proses yang mendorong perawat untuk
secara langsung terlibat dalam interaksi lintas budaya dengan pasien dari
latar belakang budaya yang beragam. Langsung berinteraksi dengan pasien
dari latar belakang budaya yang berbeda membantu perawat meningkatkan
cultural competence mereka. Pengembangan cultural competence adalah
proses berkelanjutan yang terus menerus sepanjang karier perawat dan terus
berkembang tanpa ada batas akhir.
e. Keinginan budaya
Keinginan budaya merupakan komponen yang mengacu pada
motivasi untuk menjadi sadar budaya dan untuk mencari pertemuan budaya.
Kemelekatan dalam keinginan budaya adalah kesediaan untuk bersikap
terbuka kepada orang lain, menerima dan menghormati perbedaan budaya,
dan mau belajar dari orang lain

5. Hal Yang Dilakukan Perawat Dalam Mengatasi Permasalahan Budaya


Keyakinan dalam organisasi perawatan kesehatan, komunikasi lintas-
budaya yang tidak ditangani dengan baik dapat menyebabkan konsekuensi
sosial dan klinis yang negatif, lingkungan yang tidak pasti atau
kesalahpahaman, kebingungan bagi pasien dan keluarga, adanya asuhan yang
tidak efisien, ketidakpatuhan pasien, keterlambatan dalam memperoleh
informed consent dan penurunan kualitas perawatan
Menurut Schim, et. al (2007) agar budaya dapat kongruen dengan asuhan
keperawatan maka diperlukan :
a. evaluasi hasil asuhan yang berbasis budaya dilakukan dari sudut pandang
penerima dan penyedia perawatan
b. perawat harus memiliki kompetensi spesifik (kognitif, afektif, dan
psikomotor) kemudian diaplikasikan, dipelajari, dan diidentifikasi dalam
praktek asuhan keperawatan
c. ruang lingkup cultural competence harus meliputi pemahaman jumlah dan
ragam kelompok orang yang ditemui dalam konteks komunitas, sosial dan
layanan
d. kedalaman kompetensi terkait dengan jumlah keterpaparan dan jenis
interaksi dengan kelompok masyarakat yang ditemui dalam konteks
komunitas, sosial, dan layanan.

REFERENSI :
Flowers, D. 2004. Culturally Competent Nursing Care
Karabudak. S. S, Tas. F, & Basbakkal, Z 2013. Giger and Davidhizar’s Transcultural
Assessment Model: A Case Study in Turkey
Campinha-bacote, J. 2002. The Process of Cultural Competence in the Delivery of
Healthcare Services : A Model of care
Leininger. M & McFarland. M.R. 2002. Transcultural Nursing : Concepts, Theories,
Research and Practice, 3rd Ed. USA : Mc-Graw Hill Companies
Schim, S. M., & Miller, J. 2007. Culturally Congruent Care : Putting the Puzzle
Together
Darmastuti & Sari. 2011. Kekuatan kearifan lokal dalam komunikasi kesehatan. Jurnal
Komunikator. Vol. 3 No. 2, November 2011, pg 233-244.
Pratiwi, Arum. 2011. Buku Ajar Keperawatan Transkultural. Yogyakarta:
Gosyen Publishing.
Perry and Poter 2009. Fundamental of Nursing: Concept, Process, and
Practice, Philadelpia: Mosby.