Anda di halaman 1dari 29

OUTLINE PROPOSAL SKRIPSI

FAKTOR-FAKTOR YANG BERHUBUNGAN


DENGAN KEJADIAN PNEUMONIA
(Studi Kasus di RSUD Ungaran Tahun 2013)

Untuk Memperoleh Gelar Sarjana Kesehatan Masyarakat

Pada Universitas Negeri Semarang

Oleh

Deni Rizkiyandani

NIM 6411410082

JURUSAN ILMU KESEHATAN MASYARAKAT


FAKULTAS ILMU KEOLAHRAGAAN
UNIVERSITAS NEGERI SEMARANG
2014
BAB 1
PENDAHULUAN
1.1 LATAR BELAKANG

Salah satu tujuan Millennium Development Goal (MDGs) yang keempat


yakni mengurangi angka kematian anak. Hal itu dapat dicapai melalui
upaya-upaya intensif yang fokus pada penyebab utama kematian anak, yaitu
pneumonia, diare, malaria, kekurangan gizi, dan masalah neonatal. Menurut
WHO, diperkirakan dari 8,8 juta kematian anak di dunia pada tahun 2008, 1,6
juta adalah akibat pneumonia. Lebih dari 98% kematian diare dan pneumonia
pada anak terjadi di 68 negara berkembang. WHO memperkirakan insidens
pneumonia anak balita di negara berkembang adalah 0,29 episode per
anak-tahun atau 151,8 juta kasus pneumonia per tahun, 8,7%(13,1 juta)
dianataranya merupakan pneumonia berat dan perlu rawat inap( Kementerian
Kesehatan RI,2010).
Pneumonia adalah peradangan parenkim paru dimana asinus terisi cairan
dan sel radang, dengan atau tanpa disertai infiltrasi sel radang ke dalam
dinding alveoli dan rongga interstisium. Pneumonia dapat disebabkan karena
infeksi berbagai bakteria, virus dan jamur (Mukty , 2010).
Terdapat 15 negara dengan prediksi kasus baru dan insidens pneumonia
anak-balita paling tinggi, mencakup 74% (115,3 juta) dari 156 juta kasus di
seluruh dunia. Indonesia merupakan salah satu dari 15 negara tersebut dan
menduduki tempat keenam dengan jumlah kasus sebanyak 6
juta(Rudan,2008).
Menurut Riskesdas tahun 2007, pneumonia merupakan penyakit penyebab
kematian kedua tertinggi(15,5%) setelah diare diantara balita. Sehingga
jumlah kematian balita akibat pneumonia tahun 2007 adalah 30.470 balita atau
rata-rata 83 orang balita meninggal setiap hari akibat pneumonia. Prevalensi
pneumonia pada bayi di Indonesia berada pada rentang 0-13,2% dan rata-rata
nasional sebesar 0,76 %. Sedangkan prevalensi pada anak balita berada pada
rentang 0,1-14,8% dan rata-rata nasional sebesar 1,00%.
Menurut Survei Demografi Kesehatan Indonesia, prevalensi pneumonia
balita di Indonesia meningkat dari 7,6% pada tahun 2002 menjadi 11,2% pada
tahun 2007.
Insiden pneumonia balita berobat berdasarkan laporan rutin program pada
tahun 2000 hingga 2009 berada pada rentang 2,2 hingga 4,9. Proporsi kasus
pneumonia pada balita pada tahun 2007-2009 lebih besar dibandingkan
proporsi kelompok umur > 5 tahun. Menurut data statistik rumah sakit, angka
kematian(CFR) penderita yang disebabkan pneumonia untuk semua kelompok
umur menurun dari tahun 2004 ke tahun 2005, akan tetapi dari tahun 2005
sampai tahun 2008 belum terlihat penurunan angka kematian(Kementerian
Kesehatan Republik Indonesia,2011).
Dari tahun 2000 sampai tahun 2009 cakupan penemuan kasus pneumonia
belum pernah mencapai target yang ditetapkan, meskipun target sudah
beberapa kali disesuaikan. Cakupan penemuan pneumonia baliat selama 10
tahun berkisar antara 22,16-35,9%. Pneumonia merupakan urutan ke-10 dalam
10 besar penyakit rawat inap di rumah sakit Tahun 2010. Kasus laki-laki
sebesar 9.340, perempuan 7.971, sedangkan jumlah pasien keluar 17.311.
Jumlah meninggal 1.315 dengan CFR 7,60%( Profil Kesehatan Republik
Indonesia, 2011).
Menurut Riskesdas 2013, terjadi kecenderungan yang meningkat untuk
period prevalence pneumonia semua umur dari 2,1 persen (2007) menjadi 2,7
persen (2013). Insiden dan prevalensi pneumonia Indonesia tahun 2013 adalah
1,8% dan 4,5%. Balita pneumonia yang berobat hanya 1,6 per mil.
Berdasarkan karakteristik, kelompok umur penduduk, period prevalence
pneumonia yang tinggi terjadi pada kelompok umur 1-4 tahun, kemudian
mulai meningkat pada umur 45-54 tahun dan terus meninggi pada kelompok
umur berikutnya. Period prevalence tertinggi pneumonia balita terdapat pada
kelompok umur 12-23 bulan (21,7‰). Pneumonia balita lebih banyak dialami
pada kelompok penduduk dengan kuintil indeks kepemilikan terbawah
(27,4‰). Jateng merupakan salah satu provinsi yang prevalensinya tinggi
yakni 2 %.
Menurut Profil kesehatan Provinsi Jawa Tengah Tahun 2012, cakupan
penemuan penderita pneumonia balita 28% dari target 100 % tahun 2012.
Persentase penemuan dan penanganan penderita pneumonia pada balita tahun
2012 sebesar 24,74% lebih sedikit dibanding tahun 2011 (25,5%). Jumlah
kasus yang ditemukan sebanyak 64.242 kasus, angka ini masih sangat jauh
dari target Standar Pelayanan Minimal (SPM) tahun 2010 yakni 100%.
Presentase penemuan dan penanganan pneumonia pada tahun 2008 yakni
23,63%, tahun 2009 sebesar 25,96%, tahun 2010 sebesar 40,63%, tahun
2011 sebesar 25,50%, sedangkan tahun 2012 sebesar 24,74%. .Jumlah kasus
yang ditemukan 64.242 kasus pada tahun 2012, sedangkan tahun 2011
sebanyak 66.702 kasus.
Kabupaten semarang merupakan salah satu kabupaten di Jawa Tengah
dengan perkiraan kasus pneumonia tahun 2012 sebanyak 7.373 kasus.
Sedangkan kasus pneumonia yang ditemukan dan ditangai sebanyak 1.579
kasus atau 21,41 % dari target (Profil Kesehatan Jawa tengah, 2013).
Menurut penelitian Igor Rudan et all(2008), faktor risiko yang
berhubungan dengan host dan lingkungan yang mempengaruhi kejadian
pneumonia klinis masa kanak-kanak dalam masyarakat di negara berkembang
dibagi menjadi 3 yakni, faktor risiko yang pasti meliputi malnutrisi, berat
badan lahir rendah, ASI non-eksklusif (selama 4 bulan pertama kehidupan),
kurangnya imunisasi campak, polusi udara dalam ruangan, kesesakan; faktor
kemungkinan meliputi parental merokok, kekurangan zinc, pengalaman ibu
sebagai pengasuh, penyakit penyerta (misalnya diare, penyakit jantung,
asma); faktor risiko yang mungkin meliputi pendidikan ibu, kehadiran
penitipan , curah hujan (kelembaban) , ketinggian tinggi (udara dingin),
kekurangan vitamin A, urutan kelahiran, polusi udara di luar ruangan.
Sejak pertengahan tahun 2007, pengendalian ISPA telah mengembangkan
Surveilans Sentinel Pneumonia di 10 provinsi masing-masing 1
Kabupaten/kota (10 Puskesmas, 10 RS). Pada tahun 2010 telah dikembangkan
menjadi 20 provinsi masing-masing 2 kabupaten/kota (40 RS, 40 Puskesmas).
Kabupaten Semarang merupakan salah satu Kabupaten di Jawa Tengah yang
memiliki rumas sakit dan puskesmas sentinel. Adapun tujuan dibangunnya
sistem surveilans sentinel pneumonia yakni mengetahui gambaran kejadian
pneumonia dalam distribusi epidemiologi, mengetahui ukuran epidemiologi
pneumonia, tersedianya data faktor risiko dan terpantaunya pelaksanaan
program ISPA. Dalam pelaksanaannya, kendala utama yang dihadapi adalah
ketepatan dan kelengkapan laporan. Disamping itu, pengiriman laporan masih
bulanan dan hanya beberapa lokasi sentinel yang menggunakan fasilitas
internet dan fax sehingga berdampak pada kelambatan deteksi dini, analisis
data dan umpan balik(Kementerian Kesehatan RI, 2011).
Di Jawa Tengah, Rumah sakit sentinal berada di Kabupaten Semarang
yakni RSUD Ungaran dan di Kabupaten Kendal yakni RSUD Kabupaten
Kendal. Oleh karena sebab di atas, maka penelitian mengenai faktor risiko
pneumonia balita di RSUD Kabupaten Semarang perlu dilakukan.

1.2 RUMUSAN MASALAH

Berdasarkan latar belakang yang telah diuraikan di atas, maka yang menjadi

perumusan masalah dalam penelitian ini adalah “Faktor-faktor apa sajakah yang

berhubungan dengan terjadinya pneumonia di RSUD Ungaran Tahun 2013?”.

1.3 TUJUAN PENELITIAN


Untuk mengetahui faktor-faktor yang berhubungan dengan kejadian

pneumonia di RSUD Ungaran Tahun 2013.

1.4 MANFAAT HASIL PENELITIAN

1.4.1 Bagi Masyarakat

Memberikan informasi mengenai faktor-faktor yang berhubungan dengan

kejadian pneumonia.

1.4.2 Bagi Instansi Terkait

Memberikan masukan dan pertimbangan bagi perumusan kebijakan atau

progam kesehatan masyarakat, khususnya yang menyangkut progam

pengobatan pneumonia.

1.4.3 Bagi Peneliti Selanjutnya

Penelitian ini dapat dijadikan referensi untuk melakukan peneliian

mengenai pneumonia dengan variabel yang lainnya.


1.5 Keaslian Penelitian

Tabel 1.1 Penelitian-penelitian yang Relevan dengan penelitian ini

No Judul Nama Tahun & Metode Variabel Hasil


. penulis Tmpt Penelitian
penelitia
n
Faktor risiko Rony 2009, Kasus ● Status Faktor
1 infeksi Antonius RSUP Dr kontrol ekonomi risiko
Respiratorik Pandapota Kariadi rendah IRA:
Akut bawah u Tamba ● BBLR status
Pada Anak ● ASI tdk ekonomi
di RSUP Dr eksklusif rendah dan
Kariadi ● Malnutrisi hunian
● Hunian padat
padat
● Polusi
udara
Analisis Heriyana 2005, Kasus ● ASI tdk Faktor
2 faktor risiko dkk Kota kontrol eksklusif risiko: ASI
kejadian Makassar ● Jenis tdk
pneumonia kelamin eksklusif
pada anak ● BBLR dan polusi
umur kurang ● polusi rokok
1 tahun di rokok
RSUD
Labuang
Baji Kota
Makassar
Risk factors Victora et 1994 Case ● ASI tdk Faktor
3 for al Control eksklusif risiko:
pneumonia ● BBLR BBLR,
among ● Malnutrisi malnutrisi,
children in a ● Kepadatan ASI tdk
Brazilian rumah ekslusif
metropolitan ● Keberadaa dan
area n keluarga kepadatan
merokok rumah

Beberapa hal yang membedakan peneltian ini dengan penelitian sebelumnya

yakni:

1. Variabel yang berbeda dengan penelitian sebelumnya yaitu askes

pelayanan kesehatan, pekerjaan orang tua.

2. Penelitian ini menggunakan design penelitian kasus kontrol.

1.6 Ruang Lingkup Penelitian

1.6.1 Ruang Lingkup Tempat

Penelitian ini dilakukan di RSUD Ungaran

1.6.2 Ruang Lingkup Waktu

Waktu yang dilakukan untuk penelitian ini yaitu bulan April-Agustus 2014

1.6.3 Ruang Lingkup Materi

Penelitian ini termasuk dalam lingkup Ilmu kesehatan Masyarakat

khususnya di bidang epidemiologi penyakit menular.


BAB II
LANDASAN TEORI

2.1 LANDASAN TEORI

2.1.1 Pengertian Pneumonia


Pneumonia adalah proses infeksi akut yang mengenai jaringan
paru-paru(alveoli). Pneumonia balita ditandai dengan adanya gejala batuk dan
atau kesukaran bernafas seperti napas cepat, tarikan dinding dada bagian
bawah ke dalam(TDDK), atau gambaran radiologi foto thorax/dada
menunjukan indiltrat paru akut. Demam bukan merupakan tanda spesifik
pada balita. Dalam pelaksanaan pemberantasan penyakit infeksi saluran
pernafasan akut(ISPA), semua bentuk pneumonia seperti brokopneumonia,
bronkiolitis disebut pneumonia saja( Kementerian Kesehatan RI,2011:vii).
Pneumonia adalah suatu proses peradangan dimana terdapat konsolidasi
yang disebabkan pengisian rongga alveoli oleh eksudat. Pertukaran gas tidak
dapat berlangsung pada daerah yang mengalami konsolidasi dan darah
dialirkan ke sekitar alveoli yang tidak berfungsi. Hipoksemia dapat terjadi
tergangtung banyaknya jaringan paru yang sakit (Soemantri Irman, 2008:67).
Pneumonia adalah peradangan parenkim paru dimana asinus terisi cairan
dan sel radang, dengan atau tanpa disertai infiltrasi sel radang ke dalam
dinding alveoli dan rongga interstisium(Mukty , 2010:12).

2.1.2 Epidemiologi Pneumonia


Menurut UNICEF dan WHO (tahun 2006), pneumonia merupakan
pembunuh anak paling utama yang terlupakan. Pneumonia merupakan
penyebab kematian yang lebih tinggi bila dibandingkan dengan total kematian
akibat AIDS, malaria, dan campak. Setiap tahun, lebih dari 2 juta anak
meninggal karena pneumonia, berarti 1 dari 5 orang balita meninggal di
dunia. Pneumonia merupakan penyebab kematian yang paling sering,
terutama di negara dengan angka kematian tinggi. Diperkirakan setiap tahun
lebih dari 95% kasus baru pneumonia terjadi di negara berkembang. Menurut
laporan WHO, lebih dari 50% kasus pneumonia berada di Asia Tenggara dan
Sub-Sahara Afrika. Dilaporkan pula bahwa tige per empat kasus pneumonia
pada balita di seluruh dunia berada di 15 negara. Indonesia merupakan salah
satu diantara ke-15 negara tersebut dan menduduki tempat ke-6 dengan
jumlah kasus sebanyak 6 juta( Kementerian Kesehatan RI,2010:22).
WHO memperkirakan insidens pneumonia anak-balita di negara
berkembang adalah 0,29 episode per anak per tahun atau 151,8 juta kasus
pneumonia/ tahun, 8,7%(13,1 juta) di antaranya merupakan pneumonia berat
dan perlu rawat inap( Kementerian Kesehatan RI,2010:16).
Survey Kesehatan Rumah Tangga (SKRT) dari Departemen Kesehatan
tahun 1992, 1995 dan 2001 menunjukan bahwa pneumonia mempunyai
kontribusi besar terhadap kematian bayi dan anak. Sedangkan pada penelitian
kesehatan dasar (Riskesdas) tahun 2007, pneumonia menduduki tempat ke-2
sebagai penyebab kematian bayi dan balita setelah diare dan menduduki
tempat ke-3 sebagai penyebab kematian pada neonatus ( Kementerian
Kesehatan RI,2010:22).

2.1.3 Etiologi Pneumonia


Pneumonia dapat disebabkan karena infeksi berbagai bakteria, virus dan
jamur. Namun, penyakit pneumonia yang disebabkan jamur sangatlah jarang.
Kematian pada pneumonia berat, terutama disebabkan karena infeksi
bakteria. Bakteri penyebab pneumonia tersering adalah Haemophilus
influenzae (20%) dan Streptococcus pneumoniae (50%). Bakteri penyebab
lain adalah Staphylococcus aureaus dan Klebsiella pneumoniae. Sedangkan
virus adalah respiratory syncytial virus (RSV) dan influenza. Jamur yang
biasanya ditemukan sebagai penyebab pneumonia pada anak dengan AIDS
adalah Pneumocystis jiroveci (PCP) (Kementerian Kesehatan Republik
Indonesia, 2010:23).
Pada Bayi baru lahir, pneumonia seringkali terjadi karena aspirasi, infeksi
virus Varicella-zoster dan infeksi berbagai bakteri gram negatif seperti
bakteri Coli, TORCH, Streptokokus dan Pneumokokus. Pada Bayi,
pneumonia biasanya disebabkan oleh berbagai virus, yaitu Adenovirus,
Coxsackie, Parainfluenza, Influenza A or B, Respiratory Syncytial Virus
(RSV), dan bakteri yaitu B. streptococci, E. coli, P. aeruginosa, Klebsiella, S.
pneumoniae, S. aureus, Chlamydia. Pneumonia pada batita dan anak
pra-sekolah disebabkan oleh virus, yaitu: Adeno, Parainfluenza, Influenza A
or B, dan berbagai bakteri yaitu: S. pneumoniae, Hemophilus influenzae,
Streptococci A, Staphylococcus aureus, Chlamydia. Pada anak usia sekolah
dan usia remaja, pneumonia disebabkan oleh virus, yaitu Adeno,
Parainfluenza, Influenza A or B, dan berbagai bakteri, yaitu S. pneumoniae,
Streptococcus A dan Mycoplasma (Kementerian Kesehatan Republik
Indonesia, 2010:23).
2.1.4 Patogenesis Pneumonia
Terjadinya kuman yang masuk bersama sekret bronkus kedalam alveoli
menyebabkan reaksi radang berupa sembab seluruh alveoli yang terkena
disusul dengan infiltrasi sel-sel radang. Sebagai awal pertahanan tubuh,
terjadi fagositosis kuman penyakit oleh sel-sel radang melalui proses psedopi
sitoplasmik yang mengelilingi dan "memakan" bakteri tersebut. Pada waktu
terjadi proses infeksi, akan tampak empat zona pada daerah keradangan
tersebut, adapun zona tersebut adalah sebagai berikut :
1. Zona luar :
Alveoli yang terisi kuman pneumokokus (streptococcus pneumonia) dan
cairan sembab.
2. Zona permukaan konsolidasi
Terdiri dari PMN dan beberapa eksudasi sel darah merah
3. Zona konsolidasi yang luas
Daerah terjadinya fagositosis yangaktif dengan jumlah PMN yang banyak.
4. Zona resolusi
Daerah terjadinya resolusi dengan banyak bakteri yang mati, lekosit dan
makrofak alveolar. (Mukty danAlsagaff, 2010:25).
2.1.5 Klasifikasi pneumonia
Pembagian pneumonia berdasarkan anatomi:
1. Pneumonia labaris
2. Pneumonia lobularis (broncopneumonia)
3. Pneumonia interstitralis (bronkialilitis)
Pembagian pneumonia berdasarkan etiologi :
a. Pneumonia bakterial : diplococcus pneumonia, haemophilus influenza,
mycrobacterium tuberculosis.
b. Virus : virus influenza.
c. Mycoplasma pneumonia.
d. Cryptococcus neoformans blastomyces dermatitis, makanan. kerosene
(bensin dan minyak tanah).
e. Aspirasi (makanan, kerosene, amnion, dan sebagainya).
f. Pneumonia hipostatik (Ngastiyah, 2005:57).
2.1.6 Faktor risiko Pneumonia
2.1.6.1. Malnutrisi
Berdasarkn penelitian Victora (1999) dalam Tony (2009), Bayi dengan
skor WAZ di bawah -2 SD lima kali lebih besar kemungkinannya untuk
menderita pneumonia daripada bayi dengan skor WAZ di atas -1 SD. Anak
yang mengalami anemia 5, 57 kali labih rentan terhadap infeksi saluran nafas
bawah. Anak dengan malnutrisi mengalami gangguan sistem inum yang
mengakibatkan anak lebih meudah terkena infeksi. Kurang energi dan protein
berdampak pada mekanisme pertahanan tubuh baik sistem imun non spesifik
maupun spesifik.
2.1.6.2 Berat Badan Lahir Rendah
Berdasarkan penelitian Victora (1999) dalam Tony (2009) berat
badan lahir rendah merupakan faktor risiko terjadinya infeksi saluran nafas
dengan menurunkan sistem imun bayi dan juga terjadi kerusakan paru seperti
diameter saluran nafas yang mengecil, penyumbatan saluran nafas.
2.1.6.3 ASI non-eksklusif
Berdasarkan penelitian Victora (1999) dalam Tony (2009), anak yang
tidak mendapatkan ASI mempunyai risiko mortalitas akibat infeksi saluran
nafas bawah 3,6 kali lebih besar daripada anak yang mendapatkan ASI.
Pemberian ASI dapat menurunkan beratnya derajat penyakit hingga 50%.
ASI memiliki mekanisme anti infeksi, melalui proteksi terhadap bakteri dan
anti viral seperti immunoglobulin A, laktoferin, makrofag, limfosit dan
netrofil.
2.1.6.4 Kurang imunisasi campak
Imunisasi campak merupakan program pengembangan imunisasi PPI yang
diwajibkan yang diberikan pada umur 9 bulan lalu dilakukan pengulangan
pada umur 6 tahun ( SD kelas 1 ) ( Cahyono, 2010 ) . Beberapa hasil studi
menunjukkan bahwa pneumonia dapat dicegah dengan imunisasi campak.
Hasil pengamatan di Indramayu menunjukkan anak-anak yang belum pernah
menderita campak dan belum mendapat imunisasi campak mempunyai
risiko meninggal yang lebih besar (Rizanda, 2006). Hal itu disebabkan belum
adanya antibodi spesifik yang terbentuk di dalam tubuh, sehingga anak lebih
mudah terserang

.
2.1.6.5 Polusi udara dalam dan luar ruangan
Berdasarkan penelitin Kum- Nji dkk (2006) dalam Tony (2009) bahwa
polusi udara meningkatkan risiko dengan menurunkan kemampuan
pertahanan imun spesifik dan nonspesifik. Polusi udara dapat menyebabkan
eksaserbasi penyakit saluran nafas dengan perusak pertahanan paru. Partikel
dalam polusi udara menyebabkan penumpukan di saluran nafas bawah dan
akan menyebabkan kerusakan fungsi mukosiliar, meningktakan perlekatan
kuman ke sel epitel, meningkatkan permiabilitas sel epitel maupun alveolus
dan pada akhirnya mempengaruhi sel inflamasi di paru.
2.1.6.6. Status ekonomi dan kepadatan penghuni
Berdasarkan penelitian Cardoso( 2004) dalam Tony (2009)Status
ekonomi rendah dan keadaan rumah yang padat secara signifikan berkaitan
dengan pneumonia. Keluarga dengan dua atau lebih orang dalam satu kamar
mempunyai risiko 44% lebih besar untuk menderita pneumonia. Adanya tiga
atau lebih anak berumur dibawah 5 tahun dalam sebuah keluarga mempunyai
risiko 2,5 kali lebih besar terhadap kematian akibat pneumonia. Kepdatan
penghuni rumah khususnya sekamar, dapat meningkatkan risiko dengan
meningkatkan kemungkinan terhadap infeksi silang dengan orang lain yang
tinggal bersama. Patogen pneumonia dapat ditularkan melalui udara dalam
bentuk partikel droplet, khususnya dalam rumah yang padat, dimana banyak
orang yang bersin, batuk atau bahkan komunikasi biasa.
2.1.6.7 Parental merokok
Asap rokok diketahui dapat merusak ketahanan lokal paru, seperti
kemampuan pembersihan mukosiliaris. Maka adanya anggota keluarga yang
merokok terbukti merupakan faktor risiko yang dapat menimbulkan
gangguan pernafasan pada anak balita ( Rizanda, 2006 ).
2.1.6.8.Kekurangan Zink
2.1.6.9 Penyakit penyerta
2.1.6.10 Pengetahuan ibu
Tahu (know) diartikan sebagai mengingat sustu materi yang telah
dipelajari sebelumnya. Termasuk dalam pengetahuan tingkat ini adlaah mengingat
kembali terhadap suatu yang spesifik dari seluruh bahan yang dipelajari atau
rangsangan yang telah diterima. Pengetahuan kesehatan akan berpengaruh kepada
perilaku sebagai hasil jangka menengah dari pendidikan kesehatan(Soekidjo,
2007)
2.1.6.11 Kekurangan vitamin A
Vitamin A sangat berhubungan dengan berat ringannya infeksi.
Kekurangan vit.A akan meningkatkan risiko terhadap penyakit infeksi,
seperti penyakit saluran nafas. Karena salah satu f ungsi vit.A adalah
mempengaruhi fungsi kekebalan tubuh, yaitu mempengaruhi pertumbuhan
dan diferensiasi limfosit B. Vit. A juga mempengaruhi diferensiasi sel. Sel-sel
yang paling nyata mengalami diferensiasi ad alah sel-sel epitel khusus,
terutama sel-sel goblet, yaitu sel kelenjar yang mensintesis dan
mengeluarkan mukus atau lendir. Sehingga bila terjadi defisiensi vit.A sel-sel
kelenjar tidak mengeluarkan mukus dengan sempurna, sehingga mudah
terkena infeksi. Disamping itu defisiensi vit A juga menyebabkan
keterlambatan dan pertumbuhan anak ( Almatsier, 2001 ).

2.1.6.13 Akses pelayanan kesehatan


2.1.7 Gejala Klinis Pneumonia
Secara umum dapat dibedakan menjadi :
a. Manifestasi nonspesifik dan laksitas berupa :
● Demam Sakit kepala
● Gelisah
● Malas
● Nafsu makan berkurang
● Keluhan gastro intestinal seperti mual, muntah dan diare
b. Gejala gastrointestinal berupa :
● Batuk
● Tekhipnea
● Ekspesterasi sputum
● Sesak nafas
● Merintih
● Seanisis
● Hipoksia meruapakan tanda klinis pneumonia berta. Anak pneumonia
dengan hipoksia 5 kali lebih sering meninggal dibandingkan dengan
pneumonia tanpa hipoksia.
Anak yang lebih besar dengan pneumonia akan lebih suka berbaring
pada posisi yang sakit dengan lutut ditekuk karena nyeri pada
dada(Mansjoer. dkk, 2000).

2.1.8 Diagnosis dan Penatalaksanaan Pneumonia


Kriteria klinik WHO berdasarkan „kelompok umur dan laju-napas‟
((age-specific and respiratory rate) pada penerapan di lapangan dirasakan
masih kurang spesifik. Kriteria yang dipakai sebagai dasar Pedoman
Tatalaksana Baku Pneu monia WHO masih relevan dan cukup bermanfaat
diterap kan di Pelayanan Kesehatan Primer dan sebagai pendidikan kesehatan
di negara berkembang. Tujuan Pedoman ini ialah menyederhanakan kriteria
diagnosis berdasarkan tanda klinis sederhana yang langsung dapat dideteksi,
menetapkan klasifikasi penyakit dan menentukan dasar pemakaian anti biotik
agar lebih tepat dan sekaligus mencegah pemakaian yang berlebihan dan
tidak rasional (abuse and irrationale) (Kementerian Kesehatan Republik
Indonesia,2010).
Tanda klinis sederhana tersebut meliputi napas cepat, napas sesak, sianosis
dan pengenalan tanda bahaya agar segera dirujuk. Napas cepat dikenal
dengan menghitung frekwensi napas 1 menit penuh pada waktu anak dalam
keadaan tenang. Napas sesak ditentukan dengan melihat adanya cekungan
dinding dada bagian bawah waktu menarik napas (retraksi epigastrium atau
retraksi subkosta), sianosis dideteksi dengan melihat warna kebiruan di
sekitar mulut atau puncak hidung anak. Patokan frekwensi napas bervariasi
tergantung kelompok umur ditetapkan berdasar kan keseimbangan antara
deteksi sebanyak-banyaknya kasus pneumonia (high sensitivity) dan menjaga
agar tidak terlalu banyak anak dengan batuk pilek biasa (bukan pneumonia)
dianggap pneumonia (high specificity). (Kementerian Kesehatan Republik
Indonesia,2010).

Tabel 2.1 Penatalaksanaan Pneumonia


Gejala Diklasifikasikan sebagai Pengobatan
● Napas cepat (*) Pneumonia berat ● Segera rujuk ke

● Tarikan dinding rumah sakit untuk

dada bagian bawah pemberian suntikan

kedalam antibiotika dan

● Stridor pada anak pemberian oksigen

dalam keadaan bila diperlukan

tenang
● Berikan 1 dosis

antibiotika yang

tepat

Nafas cepat (*) Pneumonia tidak berat ● Berikan antibiotika

yanng tepat untuk

diminum

● Nasihat ibu dan

beritahu bila harus

kembali untuk

kunjungan kontrol

Tidak ada napas cepat Bukan pneumonia Nasihati ibu dan


(penyakit paru lain) beritahu kapan harus
kembali bila gejala
menetap atau keadaan
memburuk

(*) Disebut napas cepat, apabila:


Anak usia < 2 bulan bernapas 60 kali atau lebih per menit
Anak usia 2 bulan sampai 11 bulan bernapas 50 kali atau lebih per menit
Anak usia 12 bulan sampai 5 tahun bernapas 40 kali atau lebih per menit
Umumnya terapi antibiotik yang diberikan pada pneumonia berdasarkan
empiris. Antibiotik yang dianjurkan untuk pneu monia berobat-jalan adalah
antibiotik sederhana dan tidak mahal seperti kotrimoksazol atau amoksisilin
yang diberikan secara oral, dosis amoksisilin 25 mg/kg BB dan kotrimok
sazol (4 mg trimetoprim: 20 mg sulfometoksazol) /kgBB (Kementerian
Kesehatan Republik Indonesia,2010).
Diagnosis selanjutnya dapat menggunakan pemeriksaan darah untuk
menunjukan leukotosis dengan predomeran PMN dandapat ditemukan
leukopenia yang mendekat progresis buruk dapatditemukan animea ringan
atau sederhana.
1. Pemeriksaan radiologis memberigambaran bervariasi:
● Bercak konsolidasi merata pada bronkopneumonia
● Bercak konsolidasi satu lobus pada pneumonia loans
● Gambaran bronkopneumonia difa data imflitratintastisialis pada
pneumonia stafilokal.
2. Pemeriksaan cairan Pleura
3. Pemeriksaan mikrobiologi/speslmen usap tenggorokan. Sekrasi
nasoparing,bilasan bronkus, atau sputum, darah. aspirasitrakea.fungsi
pleira atau aspirasi paru (Mansjoer,dkk, 2000).

2.1.9 Komplikasi Pneumonia


Komplikasi pneumonia antaralain:
● syok septik
● Hipoksemia
● Gagal nafas
● Empiema
● Bakteremia
● Endokarditis
● Perikarditis
● Meningitis
● Abses paru
▪ Efusi pleura(Kapita Selekta penyakit,2006)
2.1.10 Pencegahan Pneumonia
Pencegahan pneumonia selain dengan menghindarkan atau
mengurangi faktor risiko dapat dilakukan dengan beberapa pendekatan, yaitu
dengan pendidikan kesehatan di komunitas, perbaikan gizi, pelatihan petugas
kesehatan dalam hal memanfaatkan pedoman diagnosis dan pengobatan
pneumonia, penggunaan antibiotika yang benar dan efektif, dan waktu untuk
merujuk yang tepat dan segera bagi kasus yang pneumonia berat. Peningkatan
gizi termasuk pemberian ASI eksklusif dan asupan zinc, peningkatan cakupan
imunisasi, dan pengurangan polusi udara didalam ruangan dapat pula
mengurangi faktor risiko. Penelitian terkini juga menyimpulkan bahwa
mencuci tangan dapat mengurangi kejadian pneumonia.
Usaha Untuk mencegah pneumonia ada 2 yaitu:
1. Pencegahan Non spesifik, yaitu:
● Meningkatkan derajat sosio-ekonomi
● Penurunkan Kemiskinan
● Meningkatkan tingkat pendidikan
● Mengurangi angka kekurang gizi
● Meningkatkan derajat kesehatan
● Menurunkan morbiditas dan mortalitas
● Menciptakan lingkungan yang bersih, bebas polusi

2. Pencegahan Spesifik

● Cegah BBLR
● Pemberian makanan yang baik/gizi seimbang
● Berikan imunisasi
Vaksinasi yang tersedia untuk mencegah secara langsung
pneumonia adalah vaksin pertussis (ada dalam DTP), campak, Hib
(Haemophilus influenzae type b) dan Pneumococcus (PCV) ( Kementerian
Kesehatan RI,2010:25).
Pneumonia merupakan radang paru-paru yang disebabkan bakteri,
virus, jamur. Faktor risiko tiggi ada pada balita, lansia dan penderia
penurunan sistem imun. Perkiraan jumlah penderita pneumonia
2.2 KERANGKA TEORI
BAB III
METODOLOGI PENELITIAN

3.1 KERANGKA KONSEP

3.2 VARIABEL PENELITIAN

Dalam penelitian ini variabel yang gunakan adalah:

1) Variabel Bebas

Variabel bebas adalah variabel yang mempengaruhi variabel lain atau

disebut juga independen variabel. Varibel bebas dalam penelitian ini adalah
2) Variabel Terikat

Variabel terikat adalah variabel sebagai akibat atau disebut juga dependent

variabel. Variabel dalam penelitian ini adalah terjadinya

3.3 HIPOTESIS PENELITIAN

3.4 DEFINISI OPERASIONAL DAN SKALA PENGUKURAN

Definisi Operasional berdasarkan variabel penelitian (Tabel 4)

No. Variabel Penelitian Definisi Skala Instrumen

Operasioanl Pengukuran

3.5 JENIS DAN RANCANGAN PENELITIAN

Jenis penelitian yag digunakan dalam penelitian ini adalah survei analitik,

dengan rancangan atau desain kasus-kontrol (case-control study) secara

restrospektif. Survei analitik adalah survei atau penelitian yang mencoba menggali
bagaimana dan mengapa fenomena kesehatan itu terjadi (Soekidjo Notoatmojo,

2005: 145).

3.6 POPULASI DAN SAMPEL PENELITIAN

3.6.1 Populasi

Semua penderita Hepatitis B Kronik (kasus) dan bukan penderita Hepatitis B

Kronik (kontrol) yang tercatat di Rekam Medik RSUD Kota Semarang Tahun

2013

3.6.2 Sampel:

Menurut Sudigdo Sastroatmojo dan Sofyan Ismael (2002:68), sampel

adalah bagian dari populasi yang dipilih dengan cara tertentu hingga dianggap

mewakili populasinya. Penelitian ini menyingkirkan variabel perancu dengan

retriksi menggunakan kriteria inklusi dan eksklusi. Teknik pengambilan sampel

dengan sampling. Sampel penelitian ini terdiri dari 2 kelompok sampel yaitu,

3.6.2.1 Sampel Kasus

Sampel kasus merupakan bagian dari populasi kasus. Kelompok sampel

pada penelitian ini adalah balita usia 2 bulan sampai dengan < 5 tahun menderita

pneumonia yang berobat di RSUD Ungaran antara bulan Januari sampai dsember

2013 yang memenuhi kriteria inklusi dan eksklusi.

Kriteria inklusi sampel kasus:

Kriteria eksklusi sampel kasus:

1. Tidak bertempat tinggal tetap di wilayah kerja Kabupaten Semarang

2. Tidak bersedia untuk mengikuti penelitian


3.6.2.2 Sampel Kontrol

Sampel kontrol merupakan bagian dari populasi kontrol. Kelompok

sampel kontrol pada penelitian ini adalah balita yang berkunjung ke RSUD

dengan sakit batuk atau pilek tanpa percepatan nafas antara Januari sampai

Desember 2013 yang memenuhi kriteria inklusi dan eksklusi.

Kriteria inklusi sampel kontrol:

Kriteria eksklusi sampel kontrol:

1. Tidak bertempat tinggal tetap di wilayah Kabupaten Semarang

2. Tidak bersedia untuk mengikuti penelitian

3.6.3 Cara Perolehan sampel

3.7 SUMBER DATA

3.7.1 Sumber data primer

Sumber data primer penelitian ini meliputi hasil pengisian kuesioner dari

responden.

3.7.2 Sumber data sekunder

Sumber data sekunder penelitian ini meliputi data dari rumah sakit.

3.8 INSTRUMENT PENELITIAN DAN TEKNIK PENGAMBILAN

DATA

3.9 PROSEDUR PENELITIAN

3.10 TEKNIK ANALISIS DATA

Adapun langkah-langkah dari pengolahan data meliputi :


3.10.1.1 Editing data.
Pada tahap ini dilakukan pemeriksaan pada cheklist yang dikembalikan oleh
responden diperiksa kebenaran dan kelengkapannya jika ada yang belum lengkap, maka
responden diminta untuk melengkapinya
3.10.1.2 Skoring
Setiap item pertanyaan tingkat pengetahuan favorable dijawab benar bernilai 1
dan dijawab salah bernilai 0, setiap respon memiliki total skor pengetahuan untuk
kemudian dihitung persen benar.(Arikunto,2002).
3.10.1.3 Entry data
Data yang didapat dari penelitian kemudian dimasukkan ke dalam komputer
dengan menggunakan program SPSS for window release 16.
3.10.1.4 Tabulating
Setelah entry data kemudian data tersebut dikelompokkan dan ditabulasikan,
sehingga diperoleh frekuensi dari masing-masing variabel.
3.10.2 Analisis data.
Data yang telah dikumpulkan univariat dan bivariat akan dianalisis dan
diinterpretasikan lebih lanjut untuk menguji hipotesa. Dalam penelitian ini, untuk
menganalisa data yang telah dikumpulkan. Analisis data dilakukan dengan komputer
menggunakan program SPSS. Analisis data yang akan dilakukan:
a. Univariat.

Unit ini digunakan untuk mendiskripsikan frekuensi dari masing masing variabel,
baik variabel bebas maupun variabel terikat melalui prosentase dan distribusi
frekuensi. Data disajikan dalam bentuk table distribusi frekuensi sebagai bahan
informasi (Notoatmodjo, 2003). Penelitian ini menggunakan analisis univariat untuk
mendeskripsikan karakteristik responden, penyuluhan hipertensi sebagai variable
independen dan tingkat pengetahuan pada penderita hipertensi sebagai variabel
dependen.
b. Bivariat.
Analisis Bivariat dilakukan terhadap dua variabel yang diduga berkorelasi
Soejidjo Notoatmojo, 2002:188). Korelasi yang digunakan adalah uji Chi Square
yang merupakan teknik statistik yang digunakan untuk menguji hipotesis bila dalam
populasi terdiri atas dua atau lebih kelas, data berbentuk nominal dan sampel besar
(Sugiyono, 2002:104).
Untuk mengetahui hubungan 2 variabel (bebas dan terikat) secara sendiri-sendiri
dengan menggunakan uji Chi Square dan menghitung Odds Ratio (OR)
berdasarkan tabel 2 x 2 pada tingkat kepercayaan 0,05 dan confidence interval
95% (α=0,05).
DAFTAR PUSTAKA

Somantri, Irman, 2008, Asuhan Keperawatan pada Pasien dengan Gangguan


Sistem Pernafasan, Salemba Medika, Jakarta.

Direktorat Jenderal Pengendalian Penyakit dan Penyehatan Lingkungan, 2011,


Pedoman Pengendalian Infeksi Saluran pernafasan Akut, Kementerian
Kesehatan Republik Indonesia, Jakarta.

Pusat Data dan Surveilans Epidemiologi, 2010, Buletin Jendela Epidemiologi


Volume 3, September 2010, Kementerian Kesehatan Republik Indonesia,
Jakarta