Anda di halaman 1dari 11

PAPER HUBUNGAN TANAH, AIR, TANAMAN, DAN

ATMOSFER
RESPIRASI TUMBUHAN

Raka Taqwa
05021381823081

PROGRAM STUDI TEKNIK PERTANIAN


JURUSAN TEKNOLOGI PERTANIAN
FAKULTAS PERTANIAN
UNIVERSITAS SRIWIJAYA
2021
BAB 1
PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang


Indonesia adalah negara yang memiliki banyak kekayaan alam. Salah satunya
ialah berbagai macam tumbuhan yang memiliki jenis berbeda-beda. Tumbuhan
memiliki ciri khas yaitu adanya klorofil atau zat hijau daun yang digunakan untuk
proses fotosintesis. Setiap makhluk hidup pasti memiliki ciri adanya kehidupan, salah
satunya yaitu bernapas atau respirasi. Sama halnya dengan makhluk hidup yang lain,
tumbuhan pun melakukan proses bernapas.
Respirasi tidak hanya terdapat pada hewan dan manusia, tetapi juga terdapat
pada tumbuhan. Tumbuhan juga menyerap O2 untuk pernafasannya, umumnya
diserap melalui daun (stomata). Pada keadaan aerob, tumbuhan melakukan respirasi
aerob. Bila dalam keadaan anaerob atau kurang oksigen, jaringan melakukan respirasi
secara anaerob. Pada respirasi aerob, terjadi pembakaran (oksidasi) zat gula (glukosa)
secara sempurna, sehingga menghasilkan energi jauh lebih besar (36 ATP) daripada
respirasi anaerob (2 ATP). Demikian pula respirasi yang terjadi pada jazad renik
(mikroorganisme).
Respirasi berasal dari kata latin respirare, yang secara harfiah berarti
bernapas. Semua sel yang aktif terus menerus melakukan respirasi. Respirasi bukan
hanya sekedar pertukaran gas, tetapi merupakan reaksi oksidasi-reduksi yaitu
senyawa (substrat respirasi) dioksidasi menjadi CO2, sedangkan O2 yang diserap
direduksi membentuk H2O. Respirasi merupakan bagian penting di dalam kehidupan
tumbuhan untuk beradaptasi dengan lingkungannya. Dengan demikian diharapkan
dapat mengetahui bagaimana tahapan respirasi sebenarnya pada tumbuhan.

1.2. Tujuan
Adapun tujuan dari paper ini yaitu untuk mengetahui respirasi pada tumbuhan,
faktor-faktor yang mempengaruhi respirasi, dan tahap-tahap respirasi pada tumbuhan.

2 Universitas Sriwijaya
BAB 2
TINJAUAN PUSTAKA

2.1. Pengertian Respirasi


Respirasi adalah suatu proses pengambilan O2 untuk memecah senyawa
senyawa organik menjadi CO2, H2O dan energi. Respirasi ini pada hakikatnya adalah
reaksi redoks, dimana substrat dioksidasi menjadi CO2 sedangkan O2 yang diserap
sebagai oksidator mengalami reduksi menjadi H2O. Adapun yang disebut substrat
respirasi adalah setiap senyawa organik yang dioksidasikan dalam respirasi, atau
senyawa-senyawa yang terdapat dalam sel tumbuhan yang secara relatif banyak
jumlahnya dan biasanya direspirasikan menjadi CO2 dan air. Respirasi pada
tumbuhan terjadi di seluruh bagian tubuh tumbuhan. Pada tumbuhan tingkat tinggi
respirasi terjadi baik pada akar, batang maupun daun dan secara kimia pada respirasi
aerobic pada karbohidrat (glukosa) adalah kebalikan fotosintesis (Azizah et al, 2007).
Ditinjau dari kebutuhan oksigennya, respirasi dapat dibedakan menjadi dua
yaitu respirasi aerob dan respirasi anaerob. Respirasi Aerob yaitu respirasi yang
menggunakan oksigen bebas untuk mendapatkan energi. Sedangkan Respirasi
Anaerob atau biasa disebut dengan proses fermentasi yaitu respirasi yang tidak
menggunakan oksigen namun bahan bakunya adalah seperti karbohidrat, asam lemak,
asam amino sehingga hasil respirasi berupa karbondioksida, air dan energi dalam
bentuk ATP (Nurjanah, 2002).

2.2. Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Respirasi


Adapun faktor-faktor yang mempengaruhi respirasi yaitu :
 Ketersediaan Substrat
Tersedianya substrat pada tanaman merupakan hal yang penting dalam melakukan
respirasi. Tumbuhan dengan kandungan substrat yang rendah akan melakukan
respirasi dengan laju yang rendah pula. Demikian sebaliknya bila substrat yang
tersedia cukup banyak maka laju respirasi akan meningkat.

3 Universitas Sriwijaya
 Ketersediaan Oksigen
Ketersediaan oksigen akan mempengaruhi laju respirasi, namun besarnya
pengaruh tersebut berbeda bagi masing-masing spesies dan bahkan berbeda antara
organ pada tumbuhan yang sama. Fluktuasi normal kandungan oksigen di udara
tidak banyak mempengaruhi laju respirasi, karena jumlah oksigen yang
dibutuhkan tumbuhan untuk berrespirasi jauh lebih rendah dari oksigen yang
tersedia di udara.
 Suhu
Pengaruh faktor suhu bagi laju respirasi tumbuhan sangat terkait dengan faktor
Q10, dimana umumnya laju reaksi respirasi akan meningkat untuk setiap
kenaikan suhu sebesar 10o C, namun hal ini tergantung pada masing-masing
spesies.
 Tipe dan Umur Tumbuhan.
Masing-masing spesies tumbuhan memiliki perbedaan metabolsme, dengan
demikian kebutuhan tumbuhan untuk berespirasi akan berbeda pada masing-
masing spesies. Tumbuhan muda menunjukkan laju respirasi yang lebih tinggi
dibanding tumbuhan yang tua. Demikian pula pada organ tumbuhan yang sedang
dalam masa pertumbuhan.
 Kadar CO2 dalam Udara
Kurangnya O2 atau kelebihan CO2 tampak pada kegiatan respirasi biji-bijian,
akar maupun batang yang terpendam dalam tanah. Jika kadar CO2 naik sampai 10
% dan kadar O2 turun sampai 0 % maka respirasi akan terhenti.
 Persediaan Air
Jika kadar air sedikit maka respirasi kecil. Jika biji (direndam air) maka respirasi
menjadi lebih giat. Pada daun yang layu maka respirasi lebih giat ++ gula
(timbunan tepung/KH).
 Cahaya
Cahaya fotosintesis + substrat repirasi. Cahaya menambah panas , panas
menambah kegiatan respirasi.

4 Universitas Sriwijaya
2.3. Tahap-Tahap Respirasi pada Tumbuhan
Tahap respirasi dapat dibedakan menjadi dua macam tahap yaitu tahap
respirasi aerob dan tahap respirasi anaerob.
2.3.1. Respirasi Aerob
Respirasi aerob yaitu respirasi yang menggunakan oksigen-oksigen bebas
untuk mendapatkan energi (Lestari et al, 2008). Reaksi yang terjadi pada respirasi
aerob adalah sebagai berikut :
C6H12O6 + 6H2O >> 6H2O + 6CO2 + 675 kal
Namun reaksi yang terjadi tidak sesederhana itu. Ada beberapa tahapan yang terjadi
dari awal hingga terbentuknya energi. Tahapan reaksi tersebut adalah sebagai berikut:
 Glikolisis
Glikolisis terjadi didalam sitoplasma sel. Pada tahap glikolisis terjadi dua langkah
reaksi, yaitu langkah memerlukan energi dan langkah melepaskan energi. Saat
langkah memerlukan energi, 2 molekul ATP diperlukan untuk mentransfer gugus
fosfat ke glukosa sehingga gukosa memiliki simpanan energi yang lebih tinggi.
Energi ini akan diperlukan untuk reaksi pelepasan energi.
 Dekarboksilasi Oksidatif
Senyawa hasil glikolisis akan masuk ke tahapan dekarboksilasi oksidatif, yaitu
tahapan pembentukan CO2 melalui reaksi oksidasi reduksi (redoks) dengan O2
sebagai penerima elektronnya. Dekarboksilasi oksidatif ini terjadi di dalam
mitokondria sebelum masuk ke dalam siklus krebs. Oleh karena itu tahapan ini
disebut sebagai tahapan lanjutan antara glikolis dengan siklus krebs. Pada tahapan ini
asam piruvat hasil glikolisisdari sitosol diubah menjadi asetil KoA di dalam
mitokondria. Pada tahap 1 molekul piruvat melepaskan elektron (oksidasi)
membentuk CO2 (piruvat pecah menjadi CO2 dan molekul berkarbon 2). Pada tahap
2, NAD+ direduksi (menerima elektron menjadi NADH + H+. Pada tahap 3 molekul
berkarbon 2 di dioksidasi dan mengikat KoA sehingga terbentuk asetil KoA. Hasil
akhir tahapan ini adalah asetik KoA, CO2 dan 2NADH.

5 Universitas Sriwijaya
 Siklus Krebs
Nama siklus ini berasal dari orang yang menemukan secara rinci tahap ketiga
respirasi aerob ini, yaitu Hans Krebs (tahun 1930-an). Siklus ini disebut juga siklus
asam sitrat. Tahap awal siklus kreb adalah 2 molekul asam piruvat yang dibentuk
pada glikolisis meninggalkan sitoplasma dan memasuki mitokondria. Siklus kreb
terjadi di dalam mitokondria. Selama reaksi tersebut dilepaskan 3 molekul karbon
dioksida, 4 NADH, 1 FADH2 dan 1 ATP. Reaksi ini terjadi 2 kali karena pada
glikolisis, glukosa di pecah menjadi 2 molekul asam piruvat. Jadi siklus krebs
menghasilkan 8 NADH, 2 FADH2 DAN 2 ATP.
 Transport Elektron
Transport elektron terjadi di membran dalam mitokondria. Pelepasan atom H
pada waktu glikolisis, dan siklus Kreb’s jika tdak ditangkap oleh NAD atau FAD
akan menyebabkan peningkatan ion H di bagian dalam sel dan akan menyebabkan sel
keracunan. NAD ataupun FAD bisa berikatan dengan atom H adalah karena sifat dari
kedua molekul tersebut (NAD/FAD) bersifat sebagai oksidator yang kuat sehingga
sangat mudah untuk berikatan dengan H.
Dalam bentuk transport elektron, yaitu NADH (Nikotin Adenin Dinokleutida) dan
FAD (Flafin adenine dinukleotida) dalam bentuk FADH2. Kedua macam sumber
elektron ini dibawa kesistem transfer elektron. Proses transfer elektron ini sangat
komplek, pada dasarnya, elektron dan H+ dan NADH dan FADH2 dibawa dari satu
substrak ke substrak yang lain secara berantai. Setiap kali dipindahkan, energi yang
terlepas digunakan untuk mengikatkan fosfat anorganik (P) kemolekul ADP sehingga
terbentuk ATP. Pada bagian akhir terdapat oksigen sebagai penerima, sehingga
terbentuklah H2O. katabolisme 1 glukosa melalui respirasi aerobik menghasilkan 3
ATP. Setiap reaksi pada glikolisis, siklus krebs dan transport elektron dihasilkan
senyawa-senyawa antara. Senyawa itu digunakan bahan dasar anabolisme (Paramita,
2010).

6 Universitas Sriwijaya
2.3.2. Respirasi Anaerob
Respirasi anaerob adalah reaksi pemecahan karbohidrat untuk mendapatkan
energi tanpa menggunakan oksigen. Respirasi anaerob menggunakan senyawa
tertentu misalnya asam fosfoenol piruvat atau asetal dehida, sehingga pengikat
hidrogen dan membentuk asam laktat atau alcohol. Respirasi anaerob terjadi pada
jaringan yang kekurangan oksigen, akan tumbuhan yang terendam air, biji-biji yang
kulit tebal yang sulit ditembus oksigen, sel-sel ragi dan bakteri anaerob. Bahan baku
respirasi anaerob pada peragian adalah glukosa. Selain glukosa, bahan baku seperti
fruktosa, galaktosa dan malosa juga dapat diubah menjadi alkohol. Hasil akhirnya
adalah alcohol, karbon dioksida dan energi. Glukosa tidak terurai lengkap menjadi air
dan karbondioksida, energi yang dihasilkan lebih kecil dibandingkan respirasi aerobik
(Sholikah et al, 2018). Reaksinya adalah :

C6H12O6 Ragi >> 2C2H5OH + 2CO2 + 21Kal

Dari persamaan reaksi tersebut terlihat bahwa oksigen tidak diperlukan.


Bahkan bakteri anaerob seperti klostidrium tetani (penyebab tetanus) tidak dapat
hidup jika berhubungan dengan udara bebas. Infeksi tetanus dapat terjadi jika luka
tertutup sehingga member kemungkinan bakteri tambah subur (Paramita, 2010).
Respirasi anaerob merupakan proses fermentasi. Beberapa organisme yang
melakukan fermentasi diantaranya adalah bakteri dan protista yang hidup di rawa,
lumpur, makanan yang diawetkan atau tempat-tempat lain yang tidak mengandung
oksigen. Beberapa organisme dapat menggunaka oksigen untuk respirasi tetapi juga
melakuka fermentasi. Organisme ini melakukan fermentasi jika lingkungannya
miskin oksigen. Sel-sel otot juga dapat melakukan fermentasi jika sel-sel otot
kekuranga oksigen.

7 Universitas Sriwijaya
BAB 3
PEMBAHASAN

3.1. Pembahasan
Tumbuhan merespirasikan hampir setengah dari hasil fotosintesis. Laju
respirasi tumbuhan secara keseluruhan umumnya lebih rendah dibanding laju
respirasi jaringan hewan. Perbedaan ini dikarenakan volume sel tumbuhan terisi oleh
vakola yang besar dan dinding sel yang keduanya tidak memiliki mitokondria. Akan
tetapi, laju respirasi pada beberapa jaringan tumbuhan sama tingginya dengan laju
respirasi jaringan hewan. Pada kenyataannya, mitokondria tumbuhan berespirasi lebih
cepat dari mitokondria hewan. Mitokondria terlibat dalam metabolisme dari organ
fotosintetik, baik melalui respirasi cahaya maupun respirasi gelap. Fotorespirasi
menghasilkan mengoksidasi hasil fotosintesis menjadi glisin yang kemudian
dioksidasi menjadi serin di dalam mitokondria. Pada saat yang bersamaan,
mitokondria juga melakukan respirasi melalui siklus asam sitrat (respirasi gelap).
Laju respirasi jaringan bergantung pada aktifitas metabolik dari jaringan
tersebut. Secara umum semakin tinggi aktifitas metabolisme dari suatu jaringan,
semakin tinggi laju respirasi dari jaringan tersebut. Jaringan tumbuhan yang telah
dewasa, biasanya laju respirasinya tetap atau menurun dengan lambat dengan
bertambahnya umur dan tingkat penuaan. Kekecualian terjadi pada kondisi
klimakterik, dimana peningkatan laju respirasi terjadi pada proses pemasakan buah
dan penuaan daun yang gugur/lepas dan bunga potong. Hal ini dikarenakan adanya
produksi etilen endogenous yang dapat meningkatkan aktifitas lintasan alternatif
resisten sianida pada membran dalam mitokondria.
Fungsi mitokondria sangat penting selama perkembangan polen. Pada jumlah
mitokondria dan ekspresi protein respirasi di dalam anter yang sedang berkembang
sangat tinggi. Hal ini dikarenakan proses perkembangan polen adalan proses yang
memerlukan banyak energi. Karakter fisiologis yang berkaitan langsung dengan
mitokondria tumbuhan adalah karakter sterilitas jantan sitoplasma (cytoplasmic male

8 Universitas Sriwijaya
sterility atau cms). Tanaman yang memiliki karakter cms tidak dapat menghasilkan
polen yang viabel, oleh karenanya tumbuhan seperti itu disebut tanaman jantan steril.
Istilah sitoplasma menunjukkan pada pola pewarisan sifat ini tidak mengikuti pola
pewarisan mendel, tetapi sifat ini diwariskan secara maternal dari genom
mitokondria. Karakter cms pada tanaman disebabkan oleh adanya mutasi pada DNA
mitokondria yang menyandikan subunit kompleks protein yang terlibat dalam
fosforilasi oksidatif.

9 Universitas Sriwijaya
BAB 4
PENUTUP

4.1. Kesimpulan
Adapun kesimpulan dari paper ini adalah :
1. Respirasi pada hakikatnya adalah reaksi redoks, dimana substrat dioksidasi
menjadi CO2 sedangkan O2 yang diserap sebagai oksidator mengalami reduksi
menjadi H2O.
2. Pada tumbuhan tingkat tinggi respirasi terjadi baik pada akar, batang maupun
daun dan secara kimia pada respirasi aerobic pada karbohidrat (glukosa) adalah
kebalikan fotosintesis.
3. Ditinjau dari kebutuhan oksigennya, respirasi dapat dibedakan menjadi dua yaitu
respirasi aerob dan respirasi anaerob.
4. Laju respirasi tumbuhan secara keseluruhan umumnya lebih rendah dibanding
laju respirasi jaringan hewan.
5. Pada kenyataannya, mitokondria tumbuhan berespirasi lebih cepat dari
mitokondria hewan.
6. Jaringan tumbuhan yang telah dewasa, biasanya laju respirasinya tetap atau
menurun dengan lambat dengan bertambahnya umur dan tingkat penuaan.

10 Universitas Sriwijaya
DAFTAR PUSTAKA

Azizah, R., Subagyo., & Rosanti, E., 2007. Pengaruh Kadar Air Terhadap Laju
Respirasi Tanah Tambak pada Penggunaan Katul Padi sebagai Priming Agent.
Jurnal Ilmu Kelautan, 12(2), pp. 67-72.

Lestari, W. G., Solichatun., Sugiyarto., 2008. Pertumbuhan, Kandungan Klorofil, dan


Laju Respirasi Tanaman Garut (Maranta arundinacea L.) setelah Pemberian
Asam Giberelat (GA3). Jurnal Bioteknologi, 5(1), pp. 1-9.

Nurjanah, S., 2002. Kajian Laju Respirasi dan Produksi Etilen sebagai Dasar
Penentuan Waktu Simpan Sayuran dan Buah-Buahan. Jurnal Bionatura, 4(3),
pp. 148-156.

Paramita, Octavianti., 2010. Pengaruh Memar terhadap Perubahan Pola Respirasi,


Produksi Etilen dan Jaringan Buah Mangga (Mangifera Indica L) Var Gedong
Gincu pada Berbagai Suhu Penyimpanan. Jurnal Kompetensi Teknik, Vol.2,
No.1.

Sholikah, N., Rahmawati, K. W., & Prajoko, S., 2018. Pengembangan Respirometer
Sederhana dari Bahan Daur Ulang. Jurnal Pendidikan Ilmu Pengetahuan
Alam Indonesia, 1(1), pp. 41-47.

11 Universitas Sriwijaya

Anda mungkin juga menyukai