Anda di halaman 1dari 46

Kata Pengantar

Puji syukur dipanjatkan kehadapan Tuhan Yang Maha Esa, atas rahmat-
Nya laporan ini dapat disusun tepat pada waktunya.

Laporan ini disusun berdasarkan hasil praktikum uji sondir dan bor tangan
yang telah dilakukan di Jalan Raya Anggungan, Lukluk, Mengwi, Kabupaten
Badung (SD Negeri 1 Lukluk) dan uji laboratorium. Laporan ini juga disusun
untuk memenuhi tugas mata kuliah Mekanika Tanah 2 yang merupakan salah satu
mata kuliah yang wajib ditempuh di Fakultas Teknik Universitas Warmadewa.

Seperti pepatah mengatakan “Tiada Gading Yang Tak Retak” Dari itulah
disadari sepenuhnya bahwa menyusun laporan ini bukanlah hal yang mudah,
sehingga masih banyak kekurangannya. Itu berarti laporan ini masih jauh dari
sempurna. Untuk itu saran dan kritik yang bersifat kontsruktif sangat diharapkan
dari para pembaca demi sempurnanya laporan ini. Dan akhir kata diucapkan
terima kasih kepada :

1. Ir. I Wayan Jawat, MT selaku dosen pembimbing dalam


menyelesaikan laporan ini.
2. Ir. I Wayan Jawat, MT selaku dosen pengampu mata kuliah Mekanika
Tanah 2.
3. Semua pihak yang telah membantu mulai dari proses penyusunan
hingga laporan ini selesai dibuat.

Denpasar, 13 Desember 2017

Tim Penulis

i
Daftar Isi

Kata Pengantar................................................................................................................i
Daftar Isi........................................................................................................................ii
BAB I PENDAHULUAN..............................................................................................1
1.1 Latar Belakang..................................................................................................1
1.2 Rumusan Masalah............................................................................................2
1.3 Tujuan Praktikum.............................................................................................2
1.4 Manfaat Praktikum...........................................................................................2
BAB II TINJAUAN PUSTAKA....................................................................................3
2.1 Uji Sondir (Dutch Cone Penetration Test).......................................................3
2.2 Uji Bor Tangan (Hand Boring)........................................................................5
2.3 Penentuan Berat Jenis Butir Tanah (specific gravity)......................................6
2.4 Penentuan Batas-batas Atterberg (tterberg limit).............................................7
2.5 Analisis Ukuran Butir (grain size analysis)...................................................10
BAB III METODELOGI.............................................................................................11
3.1 Waktu dan Tempat Praktikum........................................................................11
3.2 Metode Pengumpulan Data............................................................................12
3.3 Alat dan Bahan Praktikum..............................................................................12
3.5 Prosedur Kerja................................................................................................14
3.5.1 Prosedur Kerja Uji Sondir......................................................14
3.5.2 Prosedur Kerja Uji Bor Tangan..............................................16
3.5.3 Prosedur Kerja Uji Berat Jenis Butir Tanah...........................17
3.5.4 Prosedur Kerja Uji Analisis Ukuran Butir.............................20
BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN....................................................................22
4.1 Uji Sondir dan Uji Bor Tangan......................................................................22
4.2 Uji Berat Jenis Butir Tanah dan Ukuran Butir Tanah....................................26
BAB V PENUTUP......................................................................................................34
5.1 Kesimpulan.....................................................................................................34
5.2 Saran...............................................................................................................34
Daftar Pustaka..............................................................................................................35

ii
Lampiran I....................................................................................................................36
Lampiran II...................................................................................................................39

iii
BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang.

Dalam dunia konstruksi, tanah menduduki peran yang sangat vital


dalam sebuah kontruksi bangunan. Tanah berguna sebagai bahan
bangunan dalam berbagai macam pekerjaan teknik sipil. Fungsi paling utama
dari tanah adalah sebagai pendukung pondasi dari sebuah bangunan.
Fungsi tanah sebagai pendukung pondasi bangunan memerlukan kondisi
tanah yang stabil, sehingga apabila ada sifat tanah yang kurang mampu
mendukung bangunan harus diperbaiki terlebih dahulu agar mencapai daya
dukung tanah yang diperlukan. Bangunan yang berdiri nantinya diharapkan
akan kokoh dan tidak rusak karena penurunan yang tidak merata ataupun
longsoran. Dengan kata lain, kuat tidaknya bangunan atau konstruksi itu juga
dipengaruhi oleh kondisi tanah yang ada.

Mengingat pentingnya tanah di bidang konstruksi tersebut, maka perlu


adanya penyelidikan tanah yang bertujuan menentukan jenis dan sifat- sifat tanah
(soil properties) pada lokasi yang akan dibangun pondasi suatu konstruksi,
sehingga dapat didesain jenis pondasi yang aman dan efektif sesuai dengan
karakteristik tanah dari konstruksi yang akan dibangun. Salah satu cara yang
umum digunakan dalam penyelidikan tanah tersebut adalah uji sondir (dutch cone
penetration test) dan uji bor tangan (hand boring).

Pada praktikum ini, dilakukan uji sodir dan uji bor tangan untuk
memperoleh sampel tanah di lokasi yang akan dibangun Rumah Sakit
Warmadewa, Jalan Sidan Astina Timur, Banjar Sidan Kelod, Desa Sidan,
Kecamatan Gianyar, Kabupaten Gianyar, Bali. Sampel tanah yang didapat
selanjutnya diuji di laboratorium untuk menentukan berat jenis butir tanah serta
ukuran butir tanah dengan uji saringan.

1
Pada laporan ini, penulis mepaparkan hasil uji sondir, uji bor tangan, dan
uji saringan sampel tanah yang diperoleh dari lokasi Jalan Raya Anggungan,
Desa Lukluk, Kecamatan Mengwi, Kabupaten Badung tepatnya di SD Negeri 1
Lukluk. Selanjutnya hasil pengujian ini, akan menjadi dasar untuk perencanaan
pondasi sesuai dengan karakteristik tanah di lokasi tersebut.

1.2 Rumusan Masalah.

1. Bagaimana hasil uji sondir dan bor tangan untuk sampel tanah yang
didapat di lokasi praktikum?
2. Bagaimana hasil uji laboratorium terkait berat jenis butir tanah dan
ukuran butir tanah untuk sampel tanah yang didapat di lokasi
praktikum?

1.3 Tujuan Praktikum.

1.3.1 Tujuan Umum.


1. Untuk mengetahui hasil uji sondir dan bor tangan untuk sampel tanah
yang didapat di lokasi praktikum
2. Untuk mengetahui hasil uji ukuran butir terkait berat jenis butir tanah
dan ukuran butir tanah untuk sampel tanah yang didapat di lokasi
praktikum
1.3.2 Tujuan Khusus.
1. Untuk memenuhi tugas mata kuliah Mekanika Tanah 2 yang
merupakan salah satu mata kuliah yang wajib ditempuh di Fakultas
Teknik Universitas Warmadewa.

1.4 Manfaat Praktikum.

1. Menambah wawasan mengenai uji sondir dan bor tangan tangan untuk
sampel tanah yang didapat di lokasi praktikum
2. Menambah wawasan mengenai berat jenis butir tanah dan ukuran butir
tanah untuk sampel tanah yang didapat di lokasi praktikum

2
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Uji Sondir (Dutch Cone Penetration Test).

Dutch Cone Penetration Test atau sering disebut dengan sondir adalah
salah satu survey lapangan yang berguna untuk memperkirakan letak lapisan
tanah keras. Tes ini baik dilakukan pada lapisan tanah lempung. Dari tes ini
didapatkan nilai perlawanan penetrasi konus. Perlawanan penetrasi konus adalah
perlawanan tanah terhadap ujung konus yang dinyatakan dalam gaya per satuan
luas. Sedangkan hambatan lekat adalah perlawanan geser tanah terhadap selubung
bikonus dalam gaya per satuan panjang. Nilai perlawanan penetrasi konus dan
hambatan lekat dapat diketahui dari bacaan pada manometer.

Komponen utama sondir adalah konus yang dimasukkan kedalam tanah


dengan cara ditekan. Tekanan pada ujung konus pada saat konus bergerak
kebawah karena ditekan, dibaca pada manometer setiap kedalaman 20 cm.
Tekanan dari atas pada konus disalurkan melalui batang baja yang berada didalam
pipa sondir (yang dapat bergerak bebas, tidak tertahan pipa sondir). Demikian
juga tekanan yang diderita konus saat ditekan kedalam tanah, diteruskan melalaui
batang baja didalam pipa sondir tersebut ke atas, ke manometer. [ CITATION
Bra00 \l 1033 ]

1. Persamaan Hambatan Lekat (HL)


Ft x qt=Fc x qc+ Fm x f
( Ft x qt−Fc x qc )
f=
Fm
(10 qt−10 qc )
f=
150
(qt−qc)
f=
15

HL=L x f ……………………………………………………………(2.1)

3
4
Keterangan:

Ft = Fc : luas penampang bikonus (10 cm²)


qt : jumlah perlawanan.
qc : perlawanan penetrasi konus.
f : gaya friksi tanah terhadap mantel.
Fm : luas mantel bikonus (150 cm²).
L : panjang lekatan = 20 cm (sondir ditekan setiap 20 cm).

2. Jumlah Hambatan Lekat (JHL)


1
JHL i=∑ HL ……………………………………………………….(2.2)
0

Keterangan:

i : kedalaman lapisan yang ditinjau.

3. Grafik Untuk Menentukan Jenis Tanah.

Grafik 2.1 Local Friction (QS) vs Friction Ratio (FR).

5
Sumber: Buku MEKANIKA TANAH. Jilid 2 : Prinsp-prinsip rekayasa geoteknis.

2.2 Uji Bor Tangan (Hand Boring).

Uji bor tangan (hand boring) adalah pekerjaan pengambilan sampel tanah
asli untuk mengetahui kondisi tanah perlayer dan jika memungkinkan sampai ke
tanah keras. Penyelidikan tanah dengan metode ini bertujuan menentukan jenis
dan sifat-sifat tanah (soil properties) pada lokasi yang akan dibangun pondasi dari
tiap tebal lapisannya. Pengambilan sample tanah ini dikenal dengan sebutan
undisturbed soil sample (pengambilan tanah tidak terganggu). Pengambilan
sampel tanah ini adalah dengan cara mengebor sampai kedalaman tertentu dengan
menggunakan tabung (pipa) logam berongga kedalam tanah.

Tanah adalah material yang terbentuk dari himpunan mineral, bahan


organik/anorganik, dan endapan-endapan yang relatif lepas. Deposit tanah dapat
terdiri dari butiran-butiran dengan berbagai jenis bentuk dan ukuran. Ikatan antara
butiran tanah disebabkan oleh karbonat, zat organik, atau oksida-oksida yang
mengendap diantara butiran-butiran. [ CITATION Bra00 \l 1033 ]

Partikel tanah dapat dibagi menjadi beberapa dua kelompok utama, yaitu:

1. Berbutir kasar.
Kelompok berbutir kasar terdiri dari:
a. Batu Kerikil (gravel).
b. Pasir (sand).
Golongan batu kerikil (gravel) dan pasir (sand) terdiri dari pecahan batu
dengan berbagai ukuran dan bentuk. Butiran batu kerikil biasanya terdiri dari
pecahan batu, atau terdiri dari satu macam zat mineral tertentu, seperti kwartz.
Butiran pasir hampir selalu terdiri dari satu macam zat mineral, terutama
kwartz.
2. Berbutir halus.
Kelompok berbutir kasar terdiri dari:
a. Lanau (silt).

6
Lempung terdiri dari butiran-butiran yang sangat kecil dan menunjukkan
sifat-sifat kohesi dan plastis. Kohesi menunjukkan kenyataan bahwa
bagian-bagian bahan itu melekat satu sama lain. Plastisitas adalah sifat
yang memungkinkan bentuk bahan itu dirubah-rubah tanpa perubahan isi
atau kembali ke bentuk asalnya tanpa terjadi retak-retakan atau terpecah-
pecah.
b. Lempung (clay).
Lanau merupakan peralihan antara lempung dan pasir halus. Lanau
memperlihatkan sifat kurang plastis, lebih mudah ditembus air dari pada
lempung, serta adanya sifat dilatasi yang tidak terdapat pada lempung.
Dilatasi adalah gejala perubahan isi apabila dirubah bentuknya. Lanau
sebagaimana juga pasir menunjukkan sifat “quick” (hidup) apabila
diguncang atau digetarkan.

Pengambilan contoh tanah dilapangan untuk pengujian lebih lanjut


dilaboratorium yang terdiri dari:

1. Contoh tanah permukaan, diperlukan untuk contoh tanah uji laboratorium,


yang menggunakan tanah permukaan sebagai contoh tanah terganggu (misal
uji pemadatan).
2. Contoh tanah dari pekerjaan boring:
a. Contoh tanah tidak terganggu (undisturbed).
Contoh tanah ini diambil untuk melindungi struktur asli tanah tersebut.
Contoh ini dibawa ke laboratorium dalam tempat tertutup, sehingga kadar
airnya tidak berubah.
b. Contoh tanah terganggu (disturbed).

Hasil-hasil pengamatan melalui pengeboran divisualisasikan dalam bentuk


gambar propil tanah, yang menyajikan gambar struktur lapisan-lapisan tanah
terhadap kedalaman tanah dibawah titik bor. Propil tanah menjelaskan mengenai
jenis tanah, warna, tekstur, kelembaban, atau sifat-sifat lain yang dapat diamati
langsung di lapangan.

7
2.3 Penentuan Berat Jenis Butir Tanah (specific gravity).

Untuk menentukan berat jenis tanah (specific gravity) dapat menggunakan


persamaan: [ CITATION Bra00 \l 1033 ]

W3
Gs ( Pada T ° C ) =
( W 1+W 3 ) −W 2

γw ( pada .T ℃ )
Gs ( Pada 20 ℃ )=Gs(Pada T ℃ ) { γw ( pada .T ℃ ) }
¿ Gs ( Pada T ℃ ) . a ………………………………….....................….(2.3)

Dimana:

γw ( pada. T ℃ )
a= { γw ( pada. T ℃ )}………………………………………………….....

(2.4)

Keterangan:

W1 : berat piknometer + aquades.


W2 : berat piknometer + aquades + tanah.
W3 : berat tanah kering.
a : koreksi temperature.
γw : berat jenis air.

Tabel 2.1 Nilai koreksi temperature (α)

Temperatur (T) ᵒC α

18 1,004

19 1,002

20 1,000

8
22 0,9996

24 0,9991

26 0,9986

28 0,9980
Sumber: Buku MEKANIKA TANAH. Jilid 2 : Prinsp-prinsip rekayasa geoteknis.

2.4 Penentuan Batas-batas Atterberg (tterberg limit).

Penentuan batas-batas Atterberg (tterberg limit) terdiri dari tiga macam


yaitu sebagai berikut: [ CITATION Bra00 \l 1033 ]

9
1. Penentuan Batas Cair (Liquid Limit).

Hasil-hasil yang diperoleh berupa jumlah pukulan dan kadar air dari
masing-masing sample, kemudian digambar dalam bentuk grafik. Jumlah ketukan
(pukulan) sebagai sumbu mendatar dengan skala logaritma, sedangkan nilai kadar
air sebagai sumbu tegak dengan skala biasa. Dengan membuat garis lurus
melalaui titik-titik tersebut atau jika diperoleh titik-titik tersebut tidak pada satu
garis lurus, maka garis lurus dibuat sebagai garis regresi linear dari ketiga titik
tersebut. Kadar air pada batas cair ditentukan pada jumlah ketukan (pukulan) 25.
Kadar air inilah yang disebut Batas Cair (Liquid Limit). Kadar air dapat
ditentukan dengan persamaan berikut sesuai dengan uji penentuan kadar air dalam
buku pedoman praktikum mekanika tanah ini. Penentuan kadar air dapat
ditentukan dengan persamaan berikut:

W 2−W 3
w= x 100 % …………………………………………...........(2.5)
W 3−W 1

Keterangan:

w : kadar air.
W1 : berat cawan susut.
W2 : berat cawan + tanah basah.
W3 : berat cawan + tanah kering.

2. Penentuan Batas Plastis (Plastic Limit).

Batas Plastis merupakan batas terendah dari tingkat keplastisan suatu tanah
yang merupakan kadar air pada batas keadaan plastis dan keadaan semi solid.
Batas ini didefinisikan sebagai kadar air yang dinyatakan dalam persen (%)
dimana tanah apabila digulung sampai mencapai diameter 1/8 inch (3.2 mm)
menjadi retak-retak. Ukuran keplastisan tanah disebut Indeks Plastis (PI), yaitu:

PI =¿−PL …………………………………………….…………...(2.6)

10
Keterangan:

PI : Indeks Plastisitas (Plasticity Index).


LL : Batas Cair (Liquid Limit).
PL : Batas Plastis (Plastic Limit).

3. Penentuan Batas Susut (Shrinkage Limit).

Tanah akan menyusut apabila air yang dikandung secara perlahan-lahan


hilang dari dalam tanah. Dengan hilangnya air secara terus-menerus tanah akan
mencapai suatu tingkat keseimbangan dimana penambahan kehilangan air tidak
akan mengakibatkan perubahan volume. Kadar air dinyatakan dalam persen,
dimana perubahan volume suatu massa tanah berhenti didefinisikan sebagai batas
susut. Batas susut dapat dihitung dengan menggunakan persamaan berikut:
[ CITATION Bra00 \l 1033 ]

SL= {WoVo − Gs1 x 100 % }, atau ………………………………...…….(2.7)


V −Vo
[
SL= W −
Wo ]
x 100 % …………………………………………..(2.8)

Dimana:
SL : Batas susut tanah (kadar air batas susut)
Wo : Berat benda uji setelah kering
Vo : Volume benda uji setelah kering
Gs : Berat jenis tanah
w : Kadar air tanah basah yang diisi pada container
V : Volume tanah basah

Jadi angka susut (Srinkage Ratio = SR) dapat dihitung dengan rumus:

Wo
SR= ……………………………………………….……………(2.9)
Vo

11
2.5 Analisis Ukuran Butir (grain size analysis).

Secara umum tanah terdiri atas tiga bagian, yaitu butiran, air, dan udara.
Sifat-sifat suatu macam tanah tertentu banyak tergantung pada ukuran butirannya.
Ukuran butiran menentukan klasifikasi macam tanah tersebut. Untuk butiran kasar
dipakai cara penyaringan dalam penentuan ukiran butiran tanah. Tanah
dikeringkan dan disaring pada serangkaian saringan dengan ukuran diameter kisi
saringan tertentu dari mulai yang kasar hingga yang halus. Dengan demikian
butiran tanah terpisah menjadi beberapa bagian dengan batas ukuran yang
diketahui. [ CITATION Bra00 \l 1033 ]

Perhitungan

1. Jumlah butiran tanah tertinggal dalam saringan dibagi berat mula-mula


seluruh dikalikan 100%.
Wtertahan
Presentase tanah tertahan (tertahan) ¿ × 100 %...........................(7.1)
Wtotal

2. W Tertahan =W Tanah−W Tanah−Total−sesudah −pernyataan n

3. Presentase tanah lolos(%lolos) =100% - %tertahan

4. Kesalahan penimbangan contoh tanah sebelum dan sesudah penyaringan tidak

W d −W t
boleh melebihi 2% = ×100 %............................................................
Wd
(7.2)

Keterangan :

W d = Berat butir tanah sebelum lewat saringan

W t = Berat butiran tanah setelah disaring

12
BAB III
METODELOGI

3.1 Waktu dan Tempat Praktikum.

Kegiatan praktikum Mekanika Tanah dilaksanakan pada:

3.1.1 Uji Sondir dan Bor Tangan:


Waktu : Pukul 08.00 WITA – selesai.
Tanggal : 27 Oktober 2017
Tempat : Jalan Raya Anggungan, Desa Lukluk, Kecamatan Mengwi,
Kabupaten Badung, Bali (SD Negeri 1 Lukluk)

Lok
asi
Prak

Gambar 3.1 Lokasi Praktikum


Sumber: Google Map

3.1.2 Uji Berat Jenis Butir Tanah dan Analisis Ukuran Butir:
a. Tahap 1 dilakukan pada:
Waktu : Pukul 15.00 WITA – selesai.
Tanggal : 6 November 2017.
Tempat : Laboratorium Teknik Sipil Universitas Warmadewa.

13
b. Tahap 2 dilakukan pada:
Waktu : Pukul 12.00 WITA – selesai.
Tanggal : 7 November 2016.
Tempat : Laboratorium Teknik Sipil Universitas Warmadewa.

3.2 Metode Pengumpulan Data

3.2.1 Studi Kepustakaan.


Studi kepustakaan yang dilakukan pada penelitian ini bertujuan untuk
mendapatkan informasi atau data yang berkenaan dengan tujuan penelitian
ini yaitu melalui telaah terhadap beberapa sumber di internet (media
elektronik).
3.2.2 Observasi.
Pada penelitian ini, teknik observasi atau pengamatan langsung bertujuan
untuk memperoleh informasi dengan cara mengamati langsung ke objek
penelitian sehingga didapat gambaran yang nyata mengenai keadaan
objek.

3.3 Alat dan Bahan Praktikum.

3.3.1 Alat dan Bahan Uji Sondir.


a. Alat:
1. Mesin sondir.
2. Satu set batang sondir lengkap dengan stang dalam yang
panjangnya 1 meter.
3. Manometer 2 buah
- Kapasitas 0-50   kg/cm²
- Kapasitas 0-250 kg/cm²
4. Satu buah Bikonus dan satu buah paten konus.
5. Pelat persegi 2 batang.
6. Satu set (2) buah angker.
b. Bahan :

14
1. Minyak Hidrlolik.
2. Tanah.
3.3.2 Alat Uji Bor Tangan.
a. Alat:
1. Mata bor.
2. Stang bor.
3. Kunci T pemutar.
4. Stang Pemutar.
5. Tabung contoh.
6. Stick apparatus.
7. Kop penahan.
8. Palu dengan berat 10 kg.
9. Kunci pipa.
10. Meteran.
3.3.3 Alat dan Bahan Uji Berat Butir Tanah di Laboratorium.
a. Alat:
1. Piknometer dengan volume 500 ml.
2. Timbangan dengan ketelitian 0,001 gr.
3. Saringan no. 40 ASTM.
4. Oven.
5. Kompor listrik.
6. Termometer.
7. Alat pembersih.
8. Cawan.
b. Bahan:
1. Aquades.
2. Sample tanah lolos saringan no. 40 sebanyak 500 gr kering oven.
3.3.4 Alat dan Bahan Uji Ukuran Butir di Laboratorium.
a. Alat:
1. Nomor saringan standar yang digunakan adalah nomor saringan 4,
10, 20, 40, 60, 100, 200 dan pan.

15
2. Timbangan dengan ketelitian 0,1 gram.
3. Oven.
4. Mesin pengguncang saringan.
5. Talam, kuas, sikat kuningan, sendok.
b. Bahan:
1. Tanah yang telah didapatkan pada saat praktikum.

3.5 Prosedur Kerja

3.5.1 Prosedur Kerja Uji Sondir.

1. Menentukan lokasi yang permukaannya datar.


2. Memasang empat buah angker ke dalam tanah dengan memutarnya
menggunkan kunci pemutar angker (kunci T). kemudian memasang 2
pelat persegi yng memanjang di saming angker. Jarak antar angker dan
jarak kedua pelat disesuaikan dengan ukuran mesin sondir.

Gambar 3.2 Pemasangan Angker


Sumber: Foto diambil 27 Oktober 2017
3. Memasang mesin sondir tegak lurus dan perlengkapannya pada lokasi
pengujian, yang diperkuat dengan pelat besi pendek untuk menjepit
mesin dan diperkuat dengan mor pengunci angker yang dipasang ke
dalam tanah.

16
Gambar 3.3 Pemasangan Alat Sondir
Sumber: Foto diambil 27 Oktober 2017
4. Memasang Traker, tekan stang dalam. Pada penekanan pertama ujung
konus akan bergerak ke bawah sedalam 4 cm, kemudian manometer
dibaca yang menyatakan perlawanan ujung.
5. Menekan stang luar sampai kedalaman baru, penekanan stang dilakukan
sampai setiap kedalaman tambahan sebanyak 20 cm.

Gambar 3.4 Penekanan Stang Luar


Sumber: Foto diambil 27 Oktober 2017
6. Mencatat perlawanan konus dan jumlah perlawanan sesuai dengan
kedalaman tanah.

17
Gambar 3.5 Pencatatan Perlawanan Konus
Sumber: Foto diambil 27 Oktober 2017
7. Melakukan hal yang sama dengan langkah kerja di atas sampai
pembacaan manometer tiga kali berturut-turut menunjukkan nilai ≥150
kg/cm2 dan jika penekanan mesin sondir sudah mencapai maksimalnya
atau dirasa telah mencapai tanah keras, maka pengujian ini dapat
dihentikan.

3.5.2 Prosedur Kerja Uji Bor Tangan.

1. Sambung mata bor dengan stang bor dengan kuat.


2. Gunakan stang pemutar untuk mulai pengeboran tanah.

Gambar 3.6 Pemutaran Stang


Sumber: Foto diambil 27 Oktober 2017

18
3. Lakukan pengangkatan setelah dirasa mata bor penuh kurang lebih 10
sampai 15 cm.

Gambar 3.7 Pengangkatan Tanah


Sumber: Foto diambil 27 Oktober 2017

4. Catat kedalaman pengeboran dan lakukan diskripsi tanah secara visual.

Gambar 3.8 Sampel Tanah pada Kedalaman yang Berbeda


Sumber: Foto diambil 27 Oktober 2017
5. Lakukan pekerjaan ini berulang kali sampai kedalaman yang
diinginkan.

19
3.5.3 Prosedur Kerja Uji Berat Jenis Butir Tanah.

A. Persiapan Pengujian Penentuan Berat Jenis Butir Tanah:


1. Disiapkan 5 buah picnometer yang telah dibersihkan dan dikeringkan.

Gambar 3.9 Picnometer


Sumber: Foto diambil 7 November 2017
2. Untuk bahan uji digunakan sampel tanah sebanyak 500 gram yang lolos
saringan no. 40 dan sudah dikeringkan dalam oven selama ± 24 jam.
B. Pelaksanaan Pengujian Penentuan Berat Jenis Butir Tanah:
1. Piknometer kosong dan kering dibersihkan dengan kain bersih.
2. Piknometer diisi dengan aquades sampai pada tanda 500ml kemudian
dibersihkan lalu ditimbang, (W1) gr.
3. Temperatur aquades dalam piknometer diukur dengan menggunakan
thermometer, misalkan T.
4. Masukkan contoh tanah dalam piknometer.
 Untuk tanah kohesif.

20
Tanah terlebih dahulu diaduk dengan aquades sampai menyerupai
pasta, kemudian rendam dengan tambahan aquades selama ½ sampai
1 jam, dan masukkan ke dalam piknometer.
 Untuk tanah pasir/nonkohesif.
Tanah dapat langsung dimasukkan ke dalam piknometer.
5. Piknometer berisi pasta tanah atau tanah kering tersebut diberi aquades
sampai di bawah leher piknometer, udara yang terperangkap dalam
tanah pada piknometer dihilangkan dengan cara dipanaskan sambil
digoyang-goyang selama ± 15 menit, sampai gelembung udara tidak
ada dan air diatas tanah bersih, kemudian diisi aquades sampai tanda
500ml dan ditimbang (W2) gr. Temperatur aquades dalam piknometer
diukur dan digunakan nilai koreksi temperatur (α) seperti dalam tabel
2.1 di tinjauan pustaka.

Gambar 3.10 Tanah yang Diberi Aquades


Sumber: Foto diambil 7 November 2017

21
6. Tuangkan campuran tanah dan aquades dari dalam piknometer kedalam
cawan sampai semua butir-butir tanah benar-benar bersih dari
piknometer dengan cara membilasnya.

Gambar 3.11 Penuangan Campuran Tanah


Sumber: Foto diambil 7 November 2017
7. Masukkan cawan berisi campuran tanah dan aquades tersebut kedalam
oven selama ± 24 jam atau sampai beratnya konstan.

Gambar 3.12 Cawan berisi Tanah di Dalam Oven


Sumber: Foto diambil 7 November 2017
8. Timbang berat tanah kering (W3) gr.
9. Kemudian tentukan besarnya Specific Gravity (Gs).

3.5.4 Prosedur Kerja Uji Analisis Ukuran Butir.

A. Persiapan Pengujian Analisis Ukuran Butir:


1. Nomor saringan standar yang digunakan adalah nomor saringan 4, 10,
20, 40, 60, 100, 200 dan pan.

22
2. Timbangan dengan ketelitian 0,1 miligram.
3. Oven.
4. Mesin pengguncang saringan.
5. Talam, kuas, sikat kuningan, sendok.
B. Pelaksanaan Pengujian Analasis Ukuran Butir:
1. Contoh tanah yang sudah dioven, disaring
dengan saringan nomor 4 dengan diameter 4,75 mm ditempatkan paling
atas, dilanjutkan dengan saringan-saringan nomor 10, 20, 40, 60, 100,
200, dan pan.

Gambar 3.13 Penyusunan Saringan.


Sumber: Foto diambil 7 November 2017
2. Contoh tanah disaringan diguncang dengan tangan (manual) atau
dengan mesin pengguncang selama ±15 menit.

23
Gambar 3.14 Penyaringan Tanah dengan Mesin
Sumber: Foto diambil 7 November 2017
3. Contoh tanah yang tertinggal pada masing-masing saringan ditimbang.

Gambar 3.15 Penimbangan Tanah


Sumber: Foto diambil 7 November 2017

24
BAB IV
HASIL DAN PEMBAHASAN

4.1 Uji Sondir dan Uji Bor Tangan.

4.1.1 Uji Sondir.


A. Menentukan jenis tanah berdasarkan perbandingan local friction (qs)
dengan friction ratio (fr) sesuai dengan grafik 2.1:
1. Pada tekanan pertama perlawanan konus dan jumlah perlawanan
konus adalah 0, local friction sebesar 0, dan frixtion ratio sebesar 0%
sehingga termasuk jenis tanah lempung.
2. Pada tekanan ke-2 dengan kedalaman 0,2 m menghasilkan jumlah
perlawanan konus sebesar 25 kg /cm2, menghasilkan perlawanan konus
sebesar 20 kg / cm2, local friction sebesar 0,5 kg /cm2 dan frixtion ratio
sebesar 2,5% sehingga termasuk jenis tanah lempung.
3. Pada tekanan ke-3 dengan kedalaman 0,4 m menghasilkan jumlah
perlawanan konus sebesar 45 kg/cm2, menghasilkan perlawanan konus
sebesar 40 kg/cm2, local friction sebesar 0,5 kg /cm2 dan frixtion ratio
sebesar 1,25% sehingga termasuk jenis tanah lanau berpasir.
4. Pada tekanan ke-4, dengan kedalaman 0,6 m menghasilkan jumlah
perlawanan konus sebesar 60 kg /cm2, menghasilkan perlawanan konus
sebesar 40 kg/cm2, local friction sebesar 2 kg /cm2 dan frixtion ratio
sebesar 5% sehingga termasuk jenis lempung.
5. Pada tekanan ke-5 dengan kedalaman 0,8 m menghasilkan jumlah
perlawanan konus sebesar 60 kg /cm2, menghasilkan perlawanan konus
sebesar 50 kg /cm2 , local friction sebesar 1 kg /cm2 dan frixtion ratio
sebesar 2% sehingga termasuk jenis tanah lanau berpasir.
6. Pada tekanan ke-6 dengan kedalaman 1 m menghasilkan jumlah
perlawanan konus sebesar 50 kg /cm2 , menghasilkan perlawanan konus

25
sebesar 40 kg/cm 2, local friction sebesar 1 kg /cm2 dan frixtion ratio
sebesar 2,5% sehingga termasuk jenis tanah lempung
7. Pada tekanan ke-34 dengan kedalaman 6,3 m menghasilkan jumlah
perlawanan konus sebesar 140 kg /cm2 , menghasilkan perlawanan
konus sebesar 130 kg /cm2 , local friction sebesar 1 kg /cm2 dan frixtion
ratio sebesar 0,77% sehingga termasuk jenis tanah lanau berpasir.
8. Pada tekanan ke-35 dengan kedalaman 6,4 m menghasilkan jumlah
perlawanan konus sebesar 1 50 kg/ cm2, menghasilkan perlawanan
konus sebesar 1 40 kg /cm2, local friction sebesar 1 kg /cm2 dan frixtion
ratio sebesar 0,71% sehingga termasuk jenis tanah lanau berpasir.
9. Pada tekanan ke-36 dengan kedalaman 6,5 m menghasilkan jumlah
perlawanan konus sebesar 1 60 kg/cm2, menghasilkan perlawanan
konus sebesar 150 kg /cm2 , local friction sebesar 1 kg /cm2 dan frixtion
ratio sebesar 0,67% sehingga termasuk jen6is tanah lanau berpasir.
10. Sampai pada tekanan terakhir dengan kedalaman 6,6 m menghasilkan
jumlah perlawanan konus sebesar 200 kg /cm 2, menghasilkan
perlawanan konus sebesar 200 kg /cm2, local friction sebesar 0 kg /cm2
dan frixtion ratio sebesar 0% sehingga termasuk jenis tanah lempung.
Untuk lebih jelas dapat dilihat dalam tabel hasil perhitungan data
sondir pada lampiran II.
B. Menentukan tingkat kekerasan dan hambatan lekat tanah:

Nilai perlawanan penetrasi konus semakin besar menunjukkan bahwa


tanah semakin keras. Hal tersebut dapat dilihat dari grafik 4.1. Dari data hasil
percobaan sondir, nilai perlawanan penetrasi konus sangat bervariatif. Pada
kedalaman 0 - 0,6 meter tanah cenderung lunak, pada kedalaman 0,6 – 1 meter
tanah cenderung keras, dari kedalaman 1,2 – 6 meter tanah cenderung lunak, dari
6,1 – 6,5 meter tanah cenderung keras, pada kedalaman 0,6 meter didapat nilai
perlawanan penetrasi konus yang paling tinggi.

26
25

Perlawanan Penetrasi Konus


20

15

10

0
1 3 5 7 9 11 13 15 17 19 21 23 25 27 29 31 33 35 37 39 41

Kedalaman Tanah

Grafik 4.1 Perlawanan Penetrasi Konus Terhadap Kedalaman Tanah.


Sumber: Hasil Analisis

Secara umum perubahan nilai hambatan lekat komulatif terhadap


kedalaman adalah mendekati konstan. Ini terlihat dari grafik 4.2 yang
menunjukkan jumlah hambatan lekat terhadap kedalaman tanah yang mendekati
garis lurus.

500
Jumlah Hambatan Lekat

450
400
350
300
250
200
150
100
50
0

Kedalaman Tanah

Grafik 4.2 jumlah hambatan lekat terhadap kedalaman tanah


Sumber: Hasil Analisis

4.1.2 Uji Bor Tangan.

Menentukan jenis tanah berdasarkan warna tanah:

27
1. Pada Pengeboran pertama dengan kedalaman 0,2 m didapat tanah-
tanah berwarna coklat kehitaman sehingga termasuk jenis tanah
lempung.
2. Pada Pengeboran kedua dengan kedalaman 0,4 m didapat tanah-tanah
berwarna hitam ke abuan sehingga termasuk jenis tanah lanau berpasir.
3. Pada Pengeboran pertama dengan kedalaman 0,6 m didapat tanah-
tanah berwarna coklat kemerahan sehingga termasuk jenis lempung.
4. Pada Pengeboran pertama dengan kedalaman 0,8 m didapat tanah-
tanah berwarna hitam ke abuan sehingga termasuk jenis tanah lanau
berpasir.
5. Pada Pengeboran pertama dengan kedalaman 1 m didapat tanah-tanah
coklat kehitaman sehingga termasuk jenis tanah lempung

Untuk lebih jelas dapat dilihat pada tabel 4.1 Hasil Uji Bor Tangan.

Tabel 4.1 Hasil Uji Bor Tangan.

Kedalaman (m) Warna Tanah Jenis Tanah

0,00-0,20 Coklat kehitaman Lempung

0,20-0,40 Hitam keabuan Lanau berpasir

0,40-0,60 Coklat kemerahan Lempung

0,60-0,80 Hitam keabuan Lanau berpasir

0,80-1,00 Coklat kehitaman Lempung


Sumber: Hasil Analisis

4.2 Uji Berat Jenis Butir Tanah dan Ukuran Butir Tanah.

4.2.1 Hasil dan Pembahasan Pengujian Berat Jenis Butir Tanah.

28
Untuk pengujian berat butir tanah (specific gravity) pada no pengujian 1
sampai 5 memiliki kode / no piknometer yang sama yakni 11, selain itu berat
piknometer + aquadesh (W1) dari sampel 1 sampai 5 juga memiliki berat yang
sama yakni 664 gram. Kemudian berat piknometer + aquadesh + tanah (W2)
untuk no pengujian 1 memiliki berat 845 gram, untuk no pengujian 2 memiliki
berat 865 gram, no pengujian 3 seberat 795 gram, untuk no pengujian 4 seberat
837 gram no pengujian 5 seberat 770 gram. Berikutnya untuk berat tanah kering
(W3) pada no pengujian 1 seberat 232 gram, no pengujian 2 seberat 272 gram,
lalu untuk no pengujian 3 seberat 139,2 gram, no pengujian 4 seberat 232 gram
yang terakhir no pengujian 5 seberat 192,6 gram. Untuk suhu (T°C) dari no
pengujian 1 sampai 5 memiliki suhu yang sama yakni 25°C.

Berikutnya dilakukan perhitungan untuk mencari Gs pada (T°C) dengan

W3
menggunakan rumus Gs (pada T° C) = dan mendapatkan hasil
( W 1+W 3 )−W 2
pada no pengujian 1 sebesar 4,549, no pengujian 2 sebesar 3,831, no pengujian 3
sebesar 16,976, no pengujian 4 sebesar 3,932 no pengujian 5 sebesar 2,224.

γ w ( pada , T ° C )
Kemudian untuk mencari α digunakan rumus α = { }
γ w ( pada , 20 T ° C )
dari no

pengujian 1, 2, 3, 4 5 dengan hasil yang sama yakni 0,05. Berikutnya dilakukan


perhitungan untuk mencari Gs (pada 20° C) dapat dilakukan dengan cara Gs (pada
20° C) = Gs pada (T° C).α dengan hasil dari no pengujian 1 sebesar 0,227, no
pengujian 2 sebesar 0,192, no pengujian 3 sebesar 0,849, no pengujian 4 sebesar
0,197 yang terakhir no pengujian 5 sebesar 0,144. Untuk yang terakhir mencari
Gs rata-rata dapat dilakukan dengan cara menjumlahkan seluruh Gs (pada 20° C)
dari no pengujian 1 sampai 5 kemudian dibagi 5, maka akan didapatkan hasil
0,3218. Untuk lebih jelas dapat dilihat pada tabel 4.2.

29
Tabel 4.2 Hasil Berat Butir Tanah.

Sumber: Hasil Analisis

4.2.2 Hasil dan Pembahasan Analisis Ukuran Butir.


A. Untuk tanah 1 dengan berat 300 gram dilakukan uji:
1. Saringan no 4, dengan diameter 4,750 mm menghasilkan berat butir
yang tertinggal sebesar 2,2 gram dengan persentase berat butir yang
tertinggal sebesar 0,72% lalu persentase komulatif berat butir tertinggal
sebesar 0,72% dan persentase finer sebesar 99,28%.
2. Saringan no 10, dengan diameter 2,000 mm menghasilkan berat butir
yang tertinggal sebesar 131,6 gram dengan persentase berat butir yang
tertinggal sebesar 43,29% lalu persentase komulatif berat butir
tertinggal sebesar 44,01% dan persentase finer sebesar 56,71%.
3. Saringan no 20, dengan diameter 0,850 mm menghasilkan berat butir
yang tertinggal sebesar 109,3 gram dengan persentase berat butir yang
tertinggal sebesar 35,95% lalu persentase komulatif berat butir
tertinggal sebesar 79,24% dan persentase finer sebesar 64,05%.
4. Saringan no 40, dengan diameter 0,425 mm menghasilkan berat butir
yang tertinggal sebesar 50,3 gram dengan persentase berat butir yang
tertinggal sebesar 16,55% lalu persentase komulatif berat butir
tertinggal sebesar 52,50% dan persentase finer sebesar 83,45%.

30
5. Saringan no 60, dengan diameter 0,250 mm menghasilkan berat butir
yang tertinggal sebesar 2,8 gram dengan persentase berat butir yang
tertinggal sebesar 0,92% lalu persentase komulatif berat butir tertinggal
sebesar 17,47% dan persentase finer sebesar 99,08%.
6. Saringan no 100, dengan diameter 0,106 mm menghasilkan berat butir
yang tertinggal sebesar 0,16 gram dengan persentase berat butir yang
tertinggal sebesar 0,05% lalu persentase komulatif berat butir tertinggal
sebesar 0,97% dan persentase finer sebesar 99,95%.
7. Saringan 200, dengan diameter 0,075 mm menghasilkan berat butir
yang tertinggal sebesar 6,63 gram dengan persentase berat butir yang
tertinggal sebesar 2,18% lalu persentase komulatif berat butir tertinggal
sebesar 2,23% dan persentase finer sebesar 97,82%.
8. Pan menghasilkan berat butir yang tertinggal sebesar 1,04 gram dengan
persentase berat butir yang tertinggal sebesar 0,34% lalu persentase
komulatif berat butir tertinggal sebesar 2,52% dan pesentase finer
sebesar 99,66%. Untuk lebih jelas lihat tabel hasil uji ukuran butir tanah
1 dengan berat 300 gram pada lampiran I.
B. Untuk tanah 2 dengan berat 150 gram dilakukan uji:
1. Saringan no 4, dengan diameter 4,750 mm menghasilkan berat butir
yang tertinggal sebesar 0 gram dengan persentase berat butir yang
tertinggal sebesar 0% lalu persentase komulatif berat butir tertinggal
sebesar 0% dan persentase finer sebesar 100%.
2. Saringan 10, dengan diameter 2,000 mm menghasilkan berat butir yang
tertinggal sebesar 22,05 gram dengan persentase berat butir yang
tertinggal sebesar 21,13% lalu persentase komulatif berat butir
tertinggal sebesar 21,13% dan persentase finer sebesar 78,87%.
3. Saringan no20, dengan diameter 0,850 mm menghasilkan berat butir
yang tertinggal sebesar 50 gram dengan persentase berat butir yang
tertinggal sebesar 47,92% lalu persentase komulatif berat butir
tertinggal sebesar 69,05% dan persentase finer sebesar 52,08%.

31
4. Saringan no 40, dengan diameter 0,425 mm menghasilkan berat butir
yang tertinggal sebesar 30,60 gram dengan persentase berat butir yang
tertinggal sebesar 29,33% lalu persentase komulatif berat butir
tertinggal sebesar 77,25% dan persentase finer sebesar 70,67%.
5. Saringan no 60, dengan diameter 0,250 mm menghasilkan berat butir
yang tertinggal sebesar 1,25 gram dengan persentase berat butir yang
tertinggal sebesar 1,20% lalu persentase komulatif berat butir tertinggal
sebesar 30,53% dan persentase finer sebesar 98,80%.
6. Saringan no 100, dengan diameter 0,106 mm menghasilkan berat butir
yang tertinggal sebesar 0 gram dengan persentase berat butir yang
tertinggal sebesar 0% lalu persentase komulatif berat butir tertinggal
sebesar 1,20% dan persentase finer sebesar 100%.
7. Saringan no 200, dengan diameter 0,075 mm menghasilkan berat butir
yang tertinggal sebesar 0 gram dengan persentase berat butir yang
tertinggal sebesar 0% lalu persentase komulatif berat butir tertinggal
sebesar 0% dan persentase finer sebesar 100%
8. Pan menghasilkan berat butir yang tertinggal sebesar 0,44 gram dengan
persentase berat butir yang tertinggal sebesar 0,42% lalu persentase
komulatif berat butir tertinggal sebesar 0,42% dan pesentase finer
sebesar 99,58%. Untuk lebih jelas lihat tabel hasil uji ukuran butir tanah
2 dengan berat 150 gram pada lampiran I.
C. Untuk tanah 3 dengan berat 300 gram dilakukan uji:
1. Saringan no4, dengan diameter4,750 mm menghasilkan berat butir yang
tertinggal sebesar 12,71 gram dengan persentase berat butir yang
tertinggal sebesar 6,47% lalu persentase komulatif berat butir tertinggal
sebesar 6,47% dan persentase finer sebesar 93,53%.
2. Saringan no10, dengan diameter2,000 mm menghasilkan berat butir
yang tertinggal sebesar 82,7gram dengan persentase berat butir yang
tertinggal sebesar 42,11% lalu persentase komulatif berat butir
tertinggal sebesar 48,58% dan persentase finer sebesar 57,89%.

32
3. Saringan no20, dengan diameter0,850 mm menghasilkan berat butir
yang tertinggal sebesar 59,68 gram dengan persentase berat butir yang
tertinggal sebesar 30,39% lalu persentase komulatif berat butir
tertinggal sebesar 72,50% dan persentase finer sebesar 69,61%.
4. Saringan no40, dengan diameter0,425 mm menghasilkan berat butir
yang tertinggal sebesar 31,65 gram dengan persentase berat butir yang
tertinggal sebesar 16,12% lalu persentase komulatif berat butir
tertinggal sebesar 46,51% dan persentase finer sebesar 83,88%.
5. Saringan no60, dengan diameter0,250 mm menghasilkan berat butir
yang tertinggal sebesar 2,6 gram dengan persentase berat butir yang
tertinggal sebesar 1,32% lalu persentase komulatif berat butir tertinggal
sebesar 17,44% dan persentase finer sebesar 98,68%.
6. Saringan no100, dengan diameter0,106 mm menghasilkan berat butir
yang tertinggal sebesar 0,2 gram dengan persentase berat butir yang
tertinggal sebesar 0,10% lalu persentase komulatif berat butir tertinggal
sebesar 1,43% dan persentase finer sebesar 99,90%.
7. Saringan no200, dengan diameter 0,075 mm menghasilkan berat butir
yang tertinggal sebesar 1,98 gram dengan persentase berat butir yang
tertinggal sebesar 1,01% lalu persentase komulatif berat butir tertinggal
sebesar 1,11% dan persentase finer sebesar 98,99%.
8. Pan menghasilkan berat butir yang tertinggal sebesar 4,86 gram dengan
persentase berat butir yang tertinggal sebesar 2,47 % lalu persentase
komulatif berat butir tertinggal sebesar 3,48% dan pesentase finer
sebesar 97,53%. Untuk lebih jelas lihat tabel hasil uji ukuran butir tanah
3 dengan berat 300 gram pada lampiran I.
D. Untuk tanah 4 dengan berat 300 gram dilakukan uji:
1. Saringan no4, dengan diameter4,750 mm menghasilkan berat butir yang
tertinggal sebesar 3,4gram dengan persentase berat butir yang tertinggal
sebesar 1,43% lalu persentase komulatif berat butir tertinggal sebesar
1,43% dan persentase finer sebesar 98,57%.

33
2. Saringan no10, dengan diameter2,000 mm menghasilkan berat butir
yang tertinggal sebesar 90 gram dengan persentase berat butir yang
tertinggal sebesar 37,89% lalu persentase komulatif berat butir
tertinggal sebesar 39,32% dan persentase finer sebesar 62,11%.
3. Saringan no20, dengan diameter0,850 mm menghasilkan berat butir
yang tertinggal sebesar 91 gram dengan persentase berat butir yang
tertinggal sebesar 38,31% lalu persentase komulatif berat butir
tertinggal sebesar 76,19% dan persentase finer sebesar 61,69%.
4. Saringan no40, dengan diameter0,425 mm menghasilkan berat butir
yang tertinggal sebesar 45,3 gram dengan persentase berat butir yang
tertinggal sebesar 19,07% lalu persentase komulatif berat butir
tertinggal sebesar 57,37% dan persentase finer sebesar 80,93%.
5. Saringan no60, dengan diameter0,250 mm menghasilkan berat butir
yang tertinggal sebesar 2,0 gram dengan persentase berat butir yang
tertinggal sebesar 0,84% lalu persentase komulatif berat butir tertinggal
sebesar 19,91% dan persentase finer sebesar 99,16%.
6. Saringan no100, dengan diameter0,106 mm menghasilkan berat butir
yang tertinggal sebesar 0,32 gram dengan persentase berat butir yang
tertinggal sebesar 0,13% lalu persentase komulatif berat butir tertinggal
sebesar 0,98% dan persentase finer sebesar 99,87%.
7. Saringan no200, dengan diameter 0,075 mm menghasilkan berat butir
yang tertinggal sebesar 1,85 gram dengan persentase berat butir yang
tertinggal sebesar 0,78% lalu persentase komulatif berat butir tertinggal
sebesar 0,91% dan persentase finer sebesar 99,22%.
8. Pan menghasilkan berat butir yang tertinggal sebesar 3,69gram dengan
persentase berat butir yang tertinggal sebesar 1,55 % lalu persentase
komulatif berat butir tertinggal sebesar 2,33% dan pesentase finer
sebesar 98,45%. Untuk lebih jelas lihat tabel hasil uji ukuran butir tanah
4 dengan berat 300 gram pada lampiran I.

34
E. Untuk tanah 5 dengan berat 200 gram dilakukan uji:
1. Saringan no4, dengan diameter4,750 mm menghasilkan berat butir yang
tertinggal sebesar 0 gram dengan persentase berat butir yang tertinggal
sebesar 0% lalu persentase komulatif berat butir tertinggal sebesar 0%
dan persentase finer sebesar 100%.
2. Saringan no10, dengan diameter2,000 mm menghasilkan berat butir
yang tertinggal sebesar 0,2 gram dengan persentase berat butir yang
tertinggal sebesar 0,23% lalu persentase komulatif berat butir tertinggal
sebesar 0,23% dan persentase finer sebesar 99,77%.
3. Saringan no20, dengan diameter0,850 mm menghasilkan berat butir
yang tertinggal sebesar 0,5 gram dengan persentase berat butir yang
tertinggal sebesar 0,57% lalu persentase komulatif berat butir tertinggal
sebesar 0,80% dan persentase finer sebesar 99,43%.
4. Saringan no40, dengan diameter0,425 mm menghasilkan berat butir
yang tertinggal sebesar 0,5 gram dengan persentase berat butir yang
tertinggal sebesar 0,57% lalu persentase komulatif berat butir tertinggal
sebesar 1,15% dan persentase finer sebesar 99,43%.
5. Saringan no60, dengan diameter0,250 mm menghasilkan berat butir
yang tertinggal sebesar 18,4 gram dengan persentase berat butir yang
tertinggal sebesar 21,10% lalu persentase komulatif berat butir
tertinggal sebesar 21,67% dan persentase finer sebesar 78,90%.
6. Saringan no100, dengan diameter0,106 mm menghasilkan berat butir
yang tertinggal sebesar 10,3 gram dengan persentase berat butir yang
tertinggal sebesar 11,81% lalu persentase komulatif berat butir
tertinggal sebesar 32,91% dan persentase finer sebesar 88,19%.
7. Saringan no200, dengan diameter 0,075 mm menghasilkan berat butir
yang tertinggal sebesar 26,7 gram dengan persentase berat butir yang
tertinggal sebesar 30,62% lalu persentase komulatif berat butir
tertinggal sebesar 42,43% dan persentase finer sebesar 69,38%.
8. Pan menghasilkan berat butir yang tertinggal sebesar 30,6gram dengan
persentase berat butir yang tertinggal sebesar 35,09 % lalu persentase

35
komulatif berat butir tertinggal sebesar 65,71% dan pesentase finer
sebesar 64,91%. Untuk lebih jelas lihat tabel hasil uji ukuran butir tanah
5 dengan berat 200 gram pada lampiran.

36
BAB V
PENUTUP

5.1 Kesimpulan.

Dari hasil dan pembahasan yang kita peroleh dapat disimpulkan bahwa:

1. Uji Sondir dan Uji Bor :


Secara umum jenis tanah pada uji sondir dan uji bor tangan tersebut
adalah lempung.
2. Uji Berat Jenis Butir Tanah dan Analisi
Ukuran Butir :
Berdasarkan dari uji saringan yang dilakukan didapatkan hasil,uji
saringan tanah 1 berat butir yang tertinggal di pan adalah 1,04 gram
kemudian dari uji saringan tanah 2, berat butir tanah yang tertinggal di
pan adalah 0,44 gram sedangkan dari uji saringan tanah 3, berat butir
tanah yang tertinggal di pan adalah 4,86 gram lalu dari uji saringan
tanah 4, berat butir tanah yang tertinggal di pan adalah 3,69 gram dan
yang terakhir dari uji saringan tanah 5, berat butir tanah yang tertinggal
di pan adalah 30,6 gram.

5.2 Saran.

Sebaiknya ikuti langkah-langkah praktikum dan instruksi-instruksi dari


teknisi dengan baik, sehingga tidak menemukan hambatan pada saat praktikum
dan pada saat menganalisis hasil praktikum.

37
Daftar Pustaka

Das, B. M. (2000). MEKANIKA TANAH. Jilid 2 : Prinsp-prinsip rekayasa


geoteknis. Jakarta: Erlangga.

Anonim, Buku Pedoman Praktikum : Prosedur uji berat butir jenis tanah dan
analisis ukuran butir.

38
Lampiran I

Tabel Hasil uji ukuran butir tanah 1 dengan berat 300 gram.

Sumber: Hasil Analisis


Tabel Hasil uji ukuran butir tanah 2 dengan berat 150 gram.

Sumber: Hasil Analisis

39
Tabel Hasil uji ukuran butir tanah 3 dengan berat 300 gram.

Sumber: Hasil Analisis


Tabel hasil uji ukuran butir tanah 4 dengan berat 300 gram.

40
Sumber: Hasil Analisis

Tabel hasil uji ukuran butir tanah 5 dengan berat 200 gram.

Sumber: Hasil Analisis

41
42
Lampiran II

43