Anda di halaman 1dari 22

ASUHAN KEPERAWATAN JIWA PADA Ny.

I
DENGAN MASALAH UTAMA RESIKO PERILAKU KEKERASAN
DI RUANG CENDERAWASIH

DISUSUN OLEH :
PUTRI ANANDA DINI ILHANI N 1808088

PROGRAM STUDI D3 KEPERAWATAN


FAKULTAS PENDIDIKAN OLAHRAGA DAN KESEHATAN
UNIVERSITAS PENDIDIKAN INDONESIA
BANDUNG
2020
ASUHAN KEPERAWATAN JIWA PADA NY. I
DENGAN GANGGUAN RESIKO PERILAKU KEKERASAN

RUANG RAWAT : Cendrawasih


TANGGAL DIRAWAT : 21 September 2019

I. IDENTITAS KLIEN
Inisial : Ny. I (P)
Umur : 60 Tahun
Sumber Data : klien sendiri
Tanggal Pengkajian : Rabu, 02 Oktober 2019
No. RM : 053730

II. ALASAN MASUK


a. Data pada saat masuk RS
Klien mengatakan tidak tahu kenapa klien dirawat di Rumah Sakit
Jiwa
b. Data pada saat dikaji
Klien mengatakan mudah tersinggung dengan perkataan orang lain jika
menyangkut suaminya
 Masalah Keperawatan : Resiko perilaku kekerasan

III. FAKTOR PREDISPOSISI


1. Pernah mengalami gangguan jiwa di masa lalu ?
Klien pernah dirawat di Rumah Sakit Jiwa Cisarua pada tanggal 30
Januari 2019 dan keluar pada tanggal 14 Februari 2019
2. Pengobatan Sebelumnya
Pengobatan sebelumnya kurang berhasil karena klien kembali dirawat
di Rumah Sakit Jiwa Provinsi Jawa Barat
3. Kekerasan Dalam Keluarga
Klien mengatakan dirinya berselisih dengan adiknya sampai dianiaya
4. Adakah anggota keluarga yang mengalami gangguan jiwa ?
Ya, Klien mengatakan adiknya pernah mengalami gangguan jiwa
dengan gejala sering mengobrol sendiri dan mondar mandir, klien
mengatakan adiknya sudah mendapatkan perawatan dan sudah sembuh
2 tahun lalu.
5. Pengalaman masa lalu yang tidak menyenangkan
Klien mengatakan tidak pernah mengalami masa lalu yang tidak
menyenangkan, namun menurut klien hal yang paling tidak
menyenangkan adalah jauh dari suaminya
 Masalah Keperawatan :

IV. PEMERIKSAAN FISIK


1. Tanda Vital : TD : 110/80 mmHg N : 96x/menit S : 36,5 C
RR : 20x/menit
2. Ukur : TB : 145 cm BB : 42 Kg
3. Keluhan Fisik : tidak terdapat keluhan fisik

V. KELUARGA
1. Genogram

Keterangan :
Klien tidak mengetahui saudaranya, klien tinggal dengan suaminya,
adik klien juga sama mengalami gangguan jiwa, klien anak ke 5 dari 6
bersaudara, klien tidak mengetahui saudara-saudaranya.

VI. PSIKOSOSIAL
1. Konsep Diri
a. Gambaran diri
klien mengatakan anggota tubuhnya baik dan klien menyukai
tubuhnya apa adanya
b. Identitas Diri
klien mengatakan anak ke 5 dari 6 bersaudara, klien bersekolah
sampai SD dan hanya bekerja sebagai ibu rumah tangga.
c. Peran
klien mengatakan berperan sebagai anak ke 5 dalam keluarga, klien
sudah menikah dan menjadi ibu dari 1 orang anak, biasanya klien
melakukan kegiatan seperti mencuci piring, menyapu, dan kegiatan
rumah tangga lainnya.
d. Ideal diri
Klien mengatakan sudah sembuh dan ingin segera pulang untuk
bertemu suaminya.
e. Harga diri
Klien mengatakan tidak merasa malu dengan orang lain

2. Hubungan Sosial
a. Orang yang berarti
Klien mengatakan orang yang berarti dalam hidupnya adalah
suaminya.
b. Peran serta dalam kegiatan kelompok atau masyarakat
Klien tidak aktif dalam kelompok
c. Hambatan dalam berhubungan dengan orang lain
Klien tidak mengalami hambatan dalam berhubungan dengan
orang lain. Hanya terkadang klien menjawab pertanyaan dengan
judes.

3. Spiritual
a. Nilai dan Keyakinan
Klien menganut agama islam, klien mengatakan bahwa Allah itu
satu dank lien mengatakan sholat itu wajib
b. Kegiatan Ibadah
Klien selalu sholat 5 waktu dan tak pernah lalai

VII. STATUS MENTAL


1. Penampilan
Penampilan klien rapi, klien tidak pernah melepas kerudungnya
sekalipun sampai klien tidur, klien menggunakan pakaian yang
seharusnya, klien mandi 2 kali dalam 1 hari
2. Pembicaraan
Klien berbicara dengan cepat dengan suaranya yang pelan dan alis
yang berkerut
 Masalah Keperawatan : Resiko perilaku kekerasan
3. Aktivitas Motorik
Klien tampak sehat dan selalu mengikuti kegiatan di Rumah Sakit Jiwa
4. Alam Perasaan
Klien mengatakan sedih harus dirawat di Rumah Sakit Jiwa, klien
ingin segera pulang
5. Afek
Klien mudah tersinggung dan labil
6. Interaksi Selama Wawancara
Selama wawancara, sikap klien baik tetapi terkadang sorot matanya
tajam dan alisnya mengkerut
 Masalah Keperawatan : Resiko Perilaku kekerasan
7. Persepsi
Klien mengatakan tidak mendengar bisikan aneh ataupun melihat
bayangan aneh
8. Proses Pikir
Proses pikir klien sirkumtansial (pembicaraan berbelit-belit tapi
sampai pada tujuan pembicaraan) klien dapat fokus pada pertanyaan
9. Isi Pikir
Klien mengatakan dirinya hanya orang biasa, ciptaan Allah, diciptakan
untuk beribadah, dan untuk saling menyayangi sesame tidak boleh ada
rasa dendam
10. Tingkat Kesadaran
Kesadaran klien composmentis yaitu klien sadar akan dirinya,
kesadarannya baik, dibuktikan dengan klien masih ingat tanggal masuk
Rumah Sakit Jiwa dan dirinya mengetahui ruangan tempat dirawatnya
yaitu ruang Cenderawasih
11. Memori
Klien tidak mengalami gangguan daya ingat karena klien mampu
menjelaskan kegiatan sehari-hari dan juga menceritakan pengalaman
sebelum masuk Rumah Sakit Jiwa
12. Tingkat Konsentrasi dan Berhitung
Klien dapat berhitung dan klien dapat menjawab perhitungan
sederhana dari perawat.
13. Kemampuan Penilaian
Klien mampu mengambil keputusan saat diberikan 2 pilihan
14. Daya Tilik Diri
Klien mengatakan dirinya sehat dan seharusnya tidak berada di Rumah
Sakit Jiwa

VIII. Kebutuhan Persiapan Pulang


1. Makan
Klien makan 3 kali sehati tanpa bantuan
2. BAB/BAK
Klien dapat melakukan eliminasi tanpa bantuan
3. Mandi
Klien mandi 2 kali dalam sehari yaitu pada pagi hari dan sore hari
tanpa bantuan
4. Berpakaian/ berhias
Klien dapat berpakaian dengan rapi tanpa bantuan orang lain
5. Istirahat dan tidur
Klien tidak mengalami gangguan tidur. Klien tidur siang 4-5 jam dan
untuk tidur malam 8-9 jam. Sebaleum tidur biasanya klien berjalan-
jalan dan mengobrol dengan teman sekamar ataupun perawat. Klien
juga aktif mengikuti kegiatan di ruangan seperti membaca asmaul
husna, senam, program rehabilitasi
6. Pengobatan
Untuk penggunaan obat, klien tidak membutuhkan bantuan dan sudah
mengetahui obat apa saja yang harus dikonsumsi
7. Pemeliharaan Kesehatan
Klien mengatakan jarang pergi ke pusat kesehatan untuk
memeriksakan diri
8. Aktivitas di Dalam Rumah
Klien selalu menjaga kebersihan rumah. Mencuci pakaian dan
menyiapkan makanan oleh diri sendiri.
9. Aktivitas di Luar Rumah
Klien lebih sering bermain bersama cucu jika beraktivitas di luar

IX. ASPEK MEDIK


Diagnosa Medis : Skizofrenia Paranoid
Terapi Medik : Haloperidol 5 mg 1 tablet/12 jam
Depavate 250 mg 1 tablet/24 jam
Diazepam 5 mg 0-0/1 tab/24 jam
X. ANALISA DATA

No Analisa Data Masalah Keperawatan


1. Data Subjektif : Resiko perilaku kekerasan
 Klien mengatakan mudah
tersinggung dengan perkataan
orang lain jika menyangkut
suaminya
 Klien mengatakan dirinya
berselisih dengan adiknya
sampai dianiaya
Data Objektif :
 Klien mudah tersinggung dan
labil
 Klien berbicara dengan cepat
 Sorot mata tajam
 Alis mengkerut

XI. DIAGNOSA KEPERAWATAN


1. Resiko Perilaku Kekerasan

XII. INTERVENSI

No Diagnosa Tujuan Intervensi


1 Risiko perilaku Setelah dilakukan Manajemen
kekerasan intervensi selama …X pengendalian marah
24 jam, risiko perilaku (I.09290)
kekerasan teratasi 1. identifikasi
dengan kriteria hasil : penyebab/ pemicu
1. kontrol diri : kemarahan
 perilaku 2. identifikasi harapan
merusak diri perilau terhadap
sendiri dan ekspresi kemarahan
orang lain 3. gunakan pendekatan
menurun (5) yang tenang dan
 perilaku meyakinkan
merusak 4. cegah aktivitas
lingkungan pemicu agresif
sekitar seperti mondar-
menurun(5) mandir, berolahraga
 perilaku berlebih.
amuk/agresif 5. fasilitasi
menurun (5) megekspresikan
 verbalisasi marah secara adaptif
kehilangan 6. ajarkan strategi
hubungan yang untuk mencegah
penting ekspresi marah
meningkat (1) maladaftif

Manajemen perilaku (I.


12463)
1. identifikasi harapan
untuk
mengendalikan
perilaku
2. jadwalkan kegiatan
terstruktur
3. ciptakan dan
pertahankan
lingkungan dan
kegiatan perawatan
konsisten
4. lakukan kegiatan
pengalihan terhadap
sumber agitasi

XIII. STRATEGI PELAKSANAAN


STRATEGI PELAKSANAAN
RESIKO PERILAKU KEKERASAN

 STRATEGI PELAKSANAAN 1 (SP 1)


A. Proses Keperawatan
1. Kondisi Klien
Data Subjektif :
 Klien mengatakan mudah tersinggung dengan perkataan orang lain jika
menyangkut suaminya
 Klien mengatakan dirinya berselisih dengan adiknya sampai dianiaya
Data Objektif :
 Klien mudah tersinggung dan labil
 Klien berbicara dengan cepat
 Sorot mata tajam
Alis mengkerut
2. Diagnosa Keperawatan
Resiko perilaku kekerasan
3. Tujuan
1. Klien dapat mengidentifikasi perilaku kekerasan
2. Klien dapat mengidentifikasi tanda-tanda perilaku kekerasan
3. Klien dapat menyebutkan jenis perilaku kekerasan yang pernah
dilakukannya
4. Klien dapat menyebutkan akibat dari perilaku kekerasan yang
dilakukannya
5. Klien dapat menyebutkan cara mencegah atau mengendalikan perilaku
kekerasan
4. Tindakan Keperawatan
1. Membina hubungan saling percaya
2. Mengidentifikasi penyebab marah
3. Mengidentifikasi tanda dan gejala yang dirasakan
4. Mengidentifikasi perilaku kekerasan yang dilakukan
5. Mengidentifikasi akibat dan cara mengendalikan perilaku kekerasan
dengan cara fisik pertama (Latihan nafas dalam)
5. Strategi Pelaksanaan
1. Fase Orientasi
1) Salam Terapeutik
“Assalamualaikum Ibu, selamat Pagi. Perkenalkan nama saya Putri
Ananda Dini, ibu bisa panggil saya suster putri ya bu. Saya mahasiswa
keperawatan UPI yang sedang praktik disini, saya disini bertugas dari
pukul 07.00 pagi sampai pukul 02.00 sore bu. Kalau boleh tahu nama
ibu siapa? ibu senangnya dipanggil apa?.”
2) Evaluasi/validasi
“Bagaimana perasaan ibu saat ini? Apakah masih ada perasaan kesal
atau marah?”
3) Kontrak
a. Topik
“Baik ibu, bagaimana jika hari ini kita berbincang-bincang
mengenai perasaan marah dan kesal yang sedang ibu rasakan saat
ini? Apakah ibu bersedia?”
b. Waktu
“Baik jika ibu bersedia, ibu mau kita berbincang-bincang berapa
lama bu? Bagaimana kalau 15 menit bu?”
c. Tempat
“ibu maunya kita berbincang bincang dimana bu? Bagaimana jika
di ruang tamu saja?”

2. Fase Kerja
“ bu, apa yang menyebabkan ibu kesal dan marah? Apakah sebelumnya
ibu juga pernah merasakan hal seperti ini? Penyebabnya apa bu? Apakah
penyebabnya sama dengan yang sekarang? Pada saat ibu marah atau kesal,
kemudian ibu merasa dadanya bergetar getar, dengan matanya yang
melotot, dan tangan yang mengepal, apa yang ibu lakukan selanjutnya bu?
Apakah dengan ibu marah-marah keadaannya menjadi lebih baik?
Menurut ibu apakah ada cara lain yang lebih baik selain ibu marah marah?
Apakah ibu mau belajar mengungkapkan marah dengan baik tanpa
menimbulkan kerugian? Ada banyak sekli cara untuk mengendalikan
marah bu, tapi untuk hari ini kita belajar satu cara dulu ya bu?. Begini bu,
jika tanda tanda marah dan kesal mulai dirasakan oleh ibu, ibu bisa
langsung berdiri kemudian Tarik nafas dari hidung tahan sebentar, lalu
keluarkan secara perlahan-lahan dari mulut bu seperti ibu mengeluarkan
kemarahan dan kekesalan ibu. Sekarang ibu paham? Kalau begitu coba ibu
lakukan sesuai dengan yang yang saya contohkan barusan bu. Iyaa bagus
sekali ya bu, coba lakukan lagi sebanyak 3 sampai 5 kali bu. Iya bagus
sekali ya bu, ibu sudah bisa melakukannya dengan baik.
“ sebaiknya latihan nafas dalam ini ibu lakukan secara rutin ya sehingga
apabila sewaktu-waktu rasa marah dan kesal itu muncul ibu sudah bisa
mengendalikannya menggunakan teknik nafas dalam ini dengan terbiasa
ya bu.”

3. Fase terminasi
1) Evaluasi Objektif dan Subjektif
“ bagaimana perasaan ibu setelah kita berbincang-bincang mengenai
kemarahan dan kekesalan yang ibu alami? Coba ibu sebutkan lagi
penyebab ibu marah dan sebutkan bagaimana cara mengendalikan rasa
marah tersebut supaya tidak menimbulkan kerugian. Iya benar sekali
bu bagus ya bu, ibu sudah bisa menjelaskan kembali. Sekarang coba
ibu lakukan sekali lagi latihan nafas dalam untuk mngendalikan rasa
marah ibu. Bagus sekali bu.
2) Rencana Tindak Lanjut
“Kalau begitu bagaimana jika latihan nafas dalam ini saya masukan ke
jadwal harian ibu, apakah ibu mau? Baik kalau begitu saya masukan
yaa bu. ibu mau melakukan berapa kali latihan ini dalam sehari? baik
bu 3 kali dalam sehari yaa. ibu nanti jangan lupa diberikan tanda
dicatatan hariannya ya bu, jika ibu melakukannya sendiri tanpa disuruh
atau diingatkan ibu bisa berikan tanda M (mandiri), jika ibu melakukan
kegiatan tersebut dibantu ibu berikan tanda B (bantuan), dan jika ibu
tidak melakukan kegiatan latihan tersebut ibu berikan tanda T (tidak)
begitu ya bu, apakah ibu sudah paham?.”
3) Kontrak yang akan datang
a. Topik
“ibu, bagaimana jika besok kita bertemu lagi untuk berbincang
bincang mengenai cara lain yang dapat dilakukan oleh ibu untuk
mencegah dan mengendalikan rasa marah ibu dan melakukan
latihannya ? Apakah ibu mau?”
b. Waktu
“baik jika ibu mau, kira kira ibu mau kita besok bertemu pukul
berapa? Bagaimana jika pukul 10.00 pagi bu?”
c. Tempat
“untuk tempatnya ibu maunya kita berbincang bincang dimana bu?
Baik kalau begitu besok kita bertemu dikamar ibu jam 10.00 pagi
ya bu. Sekarang bu boleh istirahat kembali, sampai jumpa besok
bu. Assalamualaikum?.”

 STRATEGI PELAKSANAAN 2 (SP 2)


Klien latihan mengontrol perilaku kekerasan secara fisik ke 2 dengan evaluasi
latihan nafas dalam, latih cara fisik ke 2 yaitu pukul Kasur dan bantal, dan
susun jadwal kegiatan harian cara kedua.

1. Fase Orientasi
“assalamualaikum ibu, selamat pagi? Ibu masih ingat saya bu? betul sekali
bu. bagaimana perasaan ibu hari ini apakah masih ada perasaan kesal atau
marah?. sesuai dengan janji saya kemarin hariini kita akan berbincang
bincang dan akan latihan cara mencegah dan mengendalikan rasa marah
ibu dengan cara yang kedua ya bu. untuk waktunya ibu maunya berapa
lama bu? baik sesuai janji kita kemarin kita akan berbincang bincang di
kamar ibu ya bu.”

2. Fase Kerja
“ibu sekarang kita berbincang-bincang tentang cara kedua untuk
mengendalikan rasa kesal dan marah ibu ya , ibu tau tidak cara keduanya
apa ? baik ibu untuk cara kedua yaitu ibu bisa melampiaskan rasa kesal
dan marah ibu dengan memukul Kasur ataupun bantal. jadi jika nanti ada
sesuatu yang membuat ibu marah atau kesal ibu bisa memukul Kasur dan
bantal supaya amarah ibu dapat tersampaikan tanpa menimbulkan
kerugian. sekarang mari kita latihan cara melampiaskan marah dengan
memukul Kasur dan bantal ya bu. akan saya contohkan terlebih dahulu
caranya nanti ibu bisa mengikuti apa yang saya contohkan. Begini
caranya, ibu bisa memukul Kasur atau bantal sambil mengeluarkan unek
unek yang ada didalam hati ibu, ibu paham? Baik kalau begitu sekarang
coba ibu lakukan. Ya bagus sekali, coba sekali lagi bu. wah iya bagus
sekali ya bu, ibu melakukannya dengan baik. Jangan lupa setelah itu ibu
rapikan kembali tempat tidurnya ya. Nah cara inipun bisa ibu lakukan
secara rutin jika ibu sedang marah atau kesal.

3. Fase Terminasi
1) Evaluasi objektif dan subjektif
“bagaimana perasaan ibu setelah kita berbincang-bincang dan latihan
cara yang kedua utuk mengendalikan rasa marah ibu? Coba ibu
sebutkan cara kedua yang bisa ibu lakukan jika ibu merasa marah? Ya
betul bu, coba sekarang ibu contohkan bagaimana cara melampiaskan
marah dengan memukul Kasur atau bantal? Iya bagus sekali ya bu
berarti ibu sudah paham ya.
2) Rencana Tindak Lanjut
Kalau begitu bagaimana jika kita masukan latihan ini kedalam jadwal
kegiatan harian ibu, apakah ibu mau? Ibu mau melakukannya berapa
kali dalam sehari? baik saya masukan ya bu. ibu nanti jangan lupa
diberikan tanda dicatatan hariannya ya bu, jika ibu melakukannya
sendiri tanpa disuruh atau diingatkan ibu bisa berikan tanda M
(mandiri), jika ibu melakukan kegiatan tersebut dibantu ibu berikan
tanda B (bantuan), dan jika ibu tidak melakukan kegiatan latihan
tersebut ibu berikan tanda T (tidak) begitu ya bu, apakah ibu sudah
paham?.”
3) Kontrak yang Akan Datang
a. Topik
“baik ibu untuk latihan hari ini di cukupkan ya bu, bagaimana
kalau besok kita bertemu lagi untuk melakukan latihan cara
mengontrol marah dengan berbicara yang baik, apakah ibu
bersedia?”
b. Waktu
“baik jika ibu bersedia, ibu maunya kita besok bertemu jam
berapa? Baik bu, jam 10 pagi ya bu”
c. Tempat
“Untuk tempatnya ibu maunya dimana bu? baik bu, berarti besok
kita bertemu jam 10 di ruang tamu ya bu. sekarang ibu boleh
beristirahat kembali, sampai jumpa besok ibu. Assalamualaikum?

 STRATEGI PELAKSANAAN 3 (SP 3)


Klien latihan mengontrol perilaku kekerasan secara sosial atau verbal dengan
evaluasi jadwal harian untuk du acara fisik, latihan mengungkapkan rasa
marah secara verbal seperti menolak dengan baik, meminta dengan baik,
mengungkapkan perasaan dengan baik, dan susun jadwal latihan
mengungkapkan marah secara verbal

1. Fase Orientasi
“Assalamualaikum, selamat pagi ibu? Ibu masih ingat dengan saya kan
bu? bagaimana perasaan ibu hariini? Ohiya, bagaimana bu sudah
dilakukan latihan Tarik nafas dalam dan pukul Kasur bantalnya? Apa yang
ibu rasakan setelah melakukan latihan tersebut secara teratur? Coba saya
lihat jadwal kegiatan hariannya ya bu. ya bagus sekali bu, disini ibu
menuliskan M untuk teknik nafas dalam dan memukul bantal berarti itu
artinya ibu sudah melakukannya secara mandiri ya bu.
Bagaimana kalau sekarang kita latihan cara berbicara untuk mencegah
marah? Untuk waktunya ibu maunya kita berbincang-bincang berapa lama
bu? baik 20 menit ya bu, untuk tempatnya sesuai dengan kesepakatan
kemarin kita di ruang tamu ya bu.

2. Fase Kerja
“ baik ibu, sekarang kita latihan cara berbicara yang baik untuk mencegah
marah ya. Kalau marah sudah disalurkan melalui Tarik nafas dalam atau
pukul Kasur dan bantal dan ibu sudah merasa lega, maka kita perlu bicara
dengan orang yang membuat kita marah. Ada 3 caranya bu
1. Meminta dengan baik tanpa marah dengan nada suara yang rendah
serta tidak menggunakan kata-kata kasar. Ibu bilang penyebab ibu
marah karena ibu berselisih dengan adik ibu ya. Karena sekarang ibu
sedang berada disini sekarang kita coba latihan berbicara dengan
baiknya kepada perawat saja ya bu misalnya ibu ingin meminta obat
kepada perawat ibu bisa meminta nya dengan Bahasa yang baik seperti
“ suster, bolehkah saya meminta obat?” seperti itu ya bu, coba ibu
lakukan. Iya bagus sekali bu, ibu dapat melakukannya dengan baik ya
bu.
2. Cara yang kedua yaitu menolak dengan baik, jika ada yang menyuruh
ibu tetapi ibu tidak ingin melakukannya ibu bisa menolaknya dengan
baik, ibu bisa bilang “maaf saya tidak bisa melakukannya karena saya
sedang ada pekerjaan.” Seperti itu ya bu. coba ibu lakukan. Ya bagus
sekali bu
3. Cara ketiga yaitu mengungkapkan perasaan kesal. jika ada perlakuan
orang lain yang membuat ibu kesal ibu dapat mengatakan “kamu tidak
boleh begitu, jika kamu begitu saya jadi ingin marah” coba lakukan bu.
nah bagus sekali ya bu.

3. Fase Terminasi
1) Evaluasi Objektif dan Subjektif
“bagaimana perasaan ibu setelah kita berbincang bincang dan
melakukan latihan berbicara yang baik? Coba ibu sebutkan kembali 3
cara nya dan lakukan cara cara tersebut ? ya bagus sekali ya bu.
berarti ibu sudah paham.
2) Rencana Tindak Lanjut
“karena ibu sudah paham, bagaimana kalau saya masukan latihan ini
ke jadwal kegiatan harian ibu? Ibu mau melakukan ini berapa kali
dalam sehari bu, baik 3 kali ya bu saya masukan ke jadwal kegiatan
harian ya. Seperti biasa ya ibu nanti jangan lupa diberikan tanda
dicatatan hariannya ya bu, jika ibu melakukannya sendiri tanpa
disuruh atau diingatkan ibu bisa berikan tanda M (mandiri), jika ibu
melakukan kegiatan tersebut dibantu ibu berikan tanda B (bantuan),
dan jika ibu tidak melakukan kegiatan latihan tersebut ibu berikan
tanda T (tidak) begitu ya bu, apakah ibu sudah paham?.”
3) Kontrak yang Akan Datang
a. Topik
“baik ibu untuk latihan hari ini cukup ya, besok kita akan bertemu
lagi ya bu untuk mengatasi marah ibu dengan cara ibadah. apakah
ibu bersedia?”
b. Waktu
“baik jika ibu bersedia, ibu besok mau kita bertemu jam berapa
bu? baik pukul 11 siang ya bu.”
c. Tempat
“untuk tempatnya ibu mau kita besok bertemu dimana bu ? baik
jadi besok kita akan bertemu di kamar ibu jam 11 siang ya bu.
sekarang ibu boleh istirahat kembali. Sampai jumpa besok ibu,
assalamualaikum?.”

 STRATEGI PELAKSANAAN 4 (SP 4)


Klien latihan mengontrol perilaku kekerasan secara spiritual dengan
a. Diskusikan hasil latihan mengontrol perilaku kekerasan secara fisik
secara sosial atau verbal
b. Latihan sholat dan berdoa
c. Buat jadwal latihan sholat dan berdoa
1. Fase Orientasi
“Assalamualaikum ibu, selamat siang? Bagaimana perasaan ibu hari ini
bu? bagaimana latihan berbicara baik yang sudah ibu lakukan? Apa yang
ibu rasakan setelah melakukan latihan tersebut secara teratur? Baik, bagus
sekali ya bu bagaimana rasa marahnya apakah berkurang bu?
Sesuai janji kita kemarin ya bu, bagaimana kalau hari ini kita latihan cara
lain untuk mencegah dan mengendalikan rasa marah ibu yaitu dengan
melakukan ibadah, apakah ibu bersedia? Baik jika ibu bersedia ibu mau
kita melakukan latihannya berapa lama bu? baik kalau begitu 15 menit ya
bu, untuk tempatnya sesuai kesepakatan kemarin kita dikamar ibu saja ya
bu.”
2. Fase Kerja
“coba ceritakan kegiatan ibadah yang biasa ibu lakukan bu? baik bagus ya
bu kalau begitu mana yang mau dicoba hariini bu? baik kalau begitu kita
akan melakukan sholat 5 waktu ya bu. nah jika ibu sedang marah ibu
sudah melakukan Tarik nafas dalam dan marahnya tidak mereda ibu bisa
merebahkan badan ibu supaya rileks tetapi jika marahnya tidak reda juga,
ibu ambil air wudhu kemudian ibu sholat ya. Ibu bisa melakukan sholat 5
waktu untuk meredakan rasa marah ibu. Coba ibu sebutkan sholat 5 waktu
? bagus bu, ibu mau coba praktekan yang mana? Baik bu coba ibu
sebutkan caranya bagaimana sambal di praktekan ya Bu, bagus sekali
ibu.”
3. Fase Terminasi
1. Evaluasi Subjektif dan Objektif
“Bagaimana perasaan ibu setelah kita bercakap cakap tentang latihan
ini bu? jadi ada berapa cara mengendalikan marah yang sudah kita
pelajari ? coba sebutkan. Iya bagus ya bu
Coba sebutkan lagi bagaimana cara ibadah yang dapat ibu lakukan
jika ibu sedang merasa marah, wah bagus sekali ya bu, ibu sudah
melakukannya dengan sangat baik ya bu.”
2. Rencana Tindak Lanjut
“ibu karena ibu sudah paham, bagaimana kalau kegiatan latihan ini
saya masukan ke jadwal kegiatan harian ibu? ibu mau berapa kali
dalam sehari melakukannya? Baik ibu 5 kali ya sesuai dengan waktu
sholat. kalau begitu saya masukan ya Bu. ibu nanti jangan lupa
diberikan tanda dicatatan hariannya ya bu, jika ibu melakukannya
sendiri tanpa disuruh atau diingatkan ibu bisa berikan tanda M
(mandiri), jika ibu melakukan kegiatan tersebut dibantu ibu berikan
tanda B (bantuan), dan jika ibu tidak melakukan kegiatan latihan
tersebut ibu berikan tanda T (tidak) begitu ya bu, apakah ibu sudah
paham?.”
3. Kontrak yang akan datang
a. Topik
“ibu untuk kegiatan hariini dicukupkan ya bu, bagaimana kalau
besok kita bertemu lagi untuk berbincang bincang mengenai cara
mengendalikan rasa marah ibu dengan cara yang selanjutnya yaitu
dengan patuh minum obat, apakah ibu bersedia?
b. Waktu
“baik jika ibu bersedia, ibu mau kita besok bertemu jam berapa?
Baik jam 9 pagi ya bu.”
c. Tempat
“untuk tempatnya ibu maunya dimana bu? bagaiman kalau disini
saja? Baik kalau begitu besok kita bertemu disini jam 9 pagi ya bu.
sekarang ibu boleh istirahat kembali, sampai jumpa besok ibu.
Assalamualaikum?.”

 STRATEGI PELAKSANAAN 5 (SP 5)


Klien melakukan latihan mengontrol perilaku kekerasan menggunakan obat,
dengan :
a. Evaluasi jadwal kegiatan harian klien untuk cara mengendalikan marah
yang sudah dilatih
b. Latih klien minum obat secara teratur dengan prinsip enam benar obat
(benar pasien, benar obat, benar dosis, benar waktu pemberian, benar
cara pemberian, benar dokumentasi)
c. Susun jadwal minum obat secara teratur
1. Fase Orientasi
“Assalamualaikum, selamat pagi ibu? Bagaimana perasaan ibu hari ini,
ibu masih ingat saya kan bu? sesuai janji kita kemarin hari ini kita
bertemu lagi ya bu untuk berbincang-bincang tentang cara mengendalikan
marah dengan minum obat secara teratur tapi sebelum itu coba saya lihat
dulu jadwal kegiatan harian ibu ya. Bagaimana bu apakah sudah
dilakukan latihan Tarik nafas dalam, pukul Kasur dan bantal, bicara yang
baik dan sholat? Bagus kalau begitu bu, apa yang dirasakan setelah
melakukan latihannya secara teratur bu. baik kalau begitu bagaimana
kalau hari ini kita berbincang-bincang dan latihan cara minum obat yang
benar untuk mengontrol rasa marah, apakah ibu bersedia? Kalau ibu
bersedia ibu mau kita berbincang bincang berapa lama? Baik 15 menit ya
bu. untuk tempatnya bagaimana kalau disini saja ya bu.
2. Fase Kerja
“ibu sudah dapat obat dari dokter? Berapa macam obat yang ibu minum?
Warnanya apa saja? Bagus bu! jam berapa ibu minum obat? Iya bagus bu!
“obatnya ada 3 macam ya bu, yang ini namanya obat haloperidol untuk
mengobati kondisi gugup, gangguan emosional seperti perilaku yang
parah yaitu perilaku agresif obat ini harus ibu minum 2 kali dalam sehari
yaitu jam 8 pagi dan jam 8 malam, kemudian ini obat depavate yang harus
ibu minum satu kali dalam sehari yaitu jam 8 pagi dan ini obat diazepam
sebagai obat penenang untuk mengatasi kejang atau kecemasan yang
harus ibu minum 1 kali dalam sehari ya bu yaitu jam 8 malam atau jam 8
pagi. Bila nanti setelah minum obat mulut ibu terasa kering, untuk
mengatasinya ibu harus minum yang banyak ya bu, bila mata terasa
berkunang kunang ibu sebaiknya istirahat dan jangan melakukan aktivitas
dulu, ibu paham? Nanti sebelum minum obat ibu harus lihat dulu label di
kotak obatnya apakah benar nama ibu tertulis disitu, berapa dosis yang
harus diminum, jam berapa saja harus diminum, baca juga ya bu apakah
nama obatnya sudah benar? Disini minta obatnya pada suster ya bu
kemudian cek lagi apakah obatnya sudah benar.
“jangan pernah menghentikan minum obat sebelum berkonsultasi dengan
dokter ya bu, karena ditakutkan dapat memicu terjadinya
kekambuhan.apakah ibu sudah paham?”
3. Fase Terminasi
1) Evaluasi subjektif dan objektif
“baik kalau ibu sudah paham. Bagaimana perasaan ibu setelah kita
berbincang bincang mengenai cara minum obat yang benar untuk
mengendalikan rasa marah ibu? Coba ibu sebutkan lagi jenis obat
yang ibu minum? Bagaimana cara minum obat yang benar bu? baik
bagus sekali ya bu.
2) Rencana Tindak lanjut
karena ibu sudah bisa melakukannya dengan baik saya akan masukan
kedalam jadwal kegiatan harian ibu ya? Untuk waktunya ibu
sesuaikan dengan yang dianjurkan oleh dokter ya bu. jangan lupa
untuk melaksanakan semuanya secara teratur ya bu. ibu nanti jangan
lupa diberikan tanda dicatatan hariannya ya bu, jika ibu melakukannya
sendiri tanpa disuruh atau diingatkan ibu bisa berikan tanda M
(mandiri), jika ibu melakukan kegiatan tersebut dibantu ibu berikan
tanda B (bantuan), dan jika ibu tidak melakukan kegiatan latihan
tersebut ibu berikan tanda T (tidak) begitu ya bu, apakah ibu sudah
paham?.”
3) Kontrak yang akan datang
“untuk kegiatan hariini dicukupkan sekian ya bu, besok kita akan
bertemu lagi untuk melihat sejauh mana ibu melaksanakan kegiatan
dan sejauh mana ibu dapat mencegah dan mengendalikan rasa marah.
Apakah ibu bersedia? Baik kalau begitu besok kita akan bertemu lagi
disini ya bu pukul 09.00 kalau begitu ibu boleh beristirhat kembali,
sampai jumpa ibu. Assalamualaikum?”

Anda mungkin juga menyukai