Anda di halaman 1dari 45

SEJARAH BERDIRINYA DESA BANGBAYANG

Karya Tulis

Disusun untuk Memenuhi Tugas Akhir


Sebagai Syarat dalam Mengikuti Ujian Akhir Sekolah

Oleh :
Kelompok 14
Kelas XII IPS 4
1. Aditia
2. Ardi Permana
3. Indah Melasari
4. Ilham Permana
5. Nunung Nurjanah
6. Nopi Puspitasari
7. Tyar Oktaviana Sasmita
8. Wawa

SEKOLAH MENENGAH ATAS NEGERI 1 BANTARUJEG


Alamat: Jalan Siliwangi No. 119 Bantarujeg, Majalengka 45464
2021
HALAMAN PESEMBAHAN

Alhamdulillah segala puji bagi Allah SWT, kita memuji-Nya, dan

meminta pertolongan, pengampunan serta petunjuk kepada-Nya. Kita berlindung

kepada Allah dari kejahatan diri kita dan keburukan amal kita. Barang siapa

mendapat dari petunjuk Allah, maka tidak akan ada yang menyesatkannya dan

barang siapa yang sesat maka tidak akan ada pemberi petunjuk baginya. Aku

bersaksi bahwa tiada Tuhan selain Allah dan Muhammad adalah hamba dan

Rasul-Nya. Semoga doa, shalawat serta salam tetap tercurah limpahkan kepada

junjungan dan suri tauladan kita yaitu kepada Nabi Muhammad SAW, kepada

keluarganya, sahabatnya dan kita selaku umatnya Amiin.

Dengan segala kerendahan hati penulis ucapkan terimakasih, pada setiap pihak

terkait atas terselesaikannya karya tulis ilmiah yang berjudul, “Sejarah Berdirinya

Desa Bangbayang“. Tanpa mengurangi rasa hormat, penulis persembahkan karya

tulis ilmiah ini untuk:

1. Bapak Drs. Rostiyana, M.Pd. selaku Kepala Sekolah SMA Negeri 1

Bantarujeg yang telah memberi kesempatan pada penulis dalam

menyelesaikan karya tulis ilmiah ini.

2. Bapak Ading Rochendy, S.Pd., M.Pd. selaku koordinator tugas karya tulis

ilmiah ini yang telah memberikan kesempatan pada penulis untuk

membuat karya tulis ilmiah ini sebagai tugas akhir.

3. Bapak Drs Muhlisin, M.M., selaku Guru pembimbing 1 selama penulis

membuat karya ilmiah ini. Terimakasih atas kritik dan saran yang

i
membangun, dukungan, nasihat yang berarti, serta ilmu dan pengetahuan

yang sangat berguna demi terselesaikannya karya ilmiah ini.

4. Bapak Dadi Wigandi, S.Pd., M.Pd., selaku Guru pembimbing 2 selama

penulis membuat karya ilmiah ini. Terimakasih atas kritik dan saran yang

membangun, dukungan, nasihat yang berarti, serta ilmu dan pengetahuan

yang sangat berguna demi terselesaikannya karya ilmiah ini.

5. Kepada Orang tua penulis ucapkan terimakasih karena berkat doa dan

dukungannya penulis bisa menyelesaikan tugas karya ilmiah ini dengan

baik.

6. Kepada teman-teman penulis yang berada di SMA Negeri 1 Bantarujeug

yang juga selalu memberi saran yang berguna untuk karya tulis ini serta

dukungan yang tak henti penulis ucapkan terimakasih.

7. Orang-orang yang secara tidak langsung telah membantu saya dalam

menyelesaikan penelitian ini.

8. Terimakasih juga untuk seluru pembaca, semoga tulisan ini senantiasa

memberi manfaat dan berguna.

ii
HALAMAN PENGESAHAN

Makalalah ini disahkan dan disetujui oleh :

Pembimbing I Pembimbing II

Drs. MUHLISIN, M.M. DADI WIGANDI, S.Pd., M.Pd.


NIP. 19620221 199212 1001 NIP 19170509 200501 1 004

Disetujui oleh,

Koordinator Wali Kelas,

ADING ROCHENDY, S.Pd., M.Pd. RESI ATRIAWATI S.Pd.


NIP 197110929 199512 1 002

Kepala Sekolah

Drs. ROSTIYANA M.Pd.


NIP 19651212 199003 1 017

iii
KATA PENGANTAR

Puji syukur kami panjatkan ke hadirat Allah Swt., yang telah memberikan

rahmat-Nya, sehingga kami dapat menyelesaikan Karya Tulis ini.

Karya Tulis ini membahas tentang “Sejarah Berdirinya Desa

Bangbayang”. Adapun tujuan penyusunan Karya Tulis ini yaitu untuk mengetahui

sejarah berdirinya Desa Bangbayang, keadaan seni dan budaya masyarakat Desa

Bangbayang bagi dunia pendidikan di Indonesia.

Karya Tulis ini tidak akan selesai tanpa adanya bantuan dari berbagai

pihak, maka dari itu kami selaku penulis menyampaikan ucapan terima kasih

kepada :

1. Bapak Drs. Rosdiana, M.Pd., selaku Kepala SMA Negeri 1 Bantarujeg.

2. Bapak Drs. Muhlisin, M.M., sebagai Pembimbing I yang telah banyak

membimbing kami.

3. Bapak Dandi Wigandi, S.Pd. M.Pd., sebagai Pembimbing II.

4. Ibu Resi Atriawati, S.Pd., sebagai wali kelas XII IPS 4 dan

5. Semua pihak yang telah membantu sehingga karya tulis ini dapat

diselesaikan.

Penulis menyadari bahwa dalam pembuatan Karya Tulis ini masih banyak

kekurangan. Hal tersebut disebabkan oleh keterbatasan pengetahuan dan sumber

yang dimiliki. Oleh karena itu, penulis mohon maaf yang sebesar-besarnya.

Besar harapan bagi kami semoga Karya Tulis ini ada manfaatnya

khususnya bagi kami dan umumnya bagi pembaca.

iv
Bantarujeg, Maret 2021

Penulis,

DAFTAR ISI

HALAMAN PESEMBAHAN................................................................................i

HALAMAN PENGESAHAN..............................................................................iii

KATA PENGANTAR...........................................................................................iv

DAFTAR ISI...........................................................................................................v

BAB I PENDAHULUAN.......................................................................................1

A. Latar Belakang..............................................................................................1

B. Rumusan Masalah.........................................................................................3

C. Tujuan Penelitian..........................................................................................3

D. Sistematika Penulisan...................................................................................3

BAB II KAJIAN TEORETIS................................................................................5

A. Pengertian Sejarah.........................................................................................5

B. Pengertian Desa.............................................................................................6

C. Asal Usul Berdirinya Desa Bangbayang.......................................................8

D. Kedaan Penduduk.........................................................................................9

E. Pendidikan...................................................................................................11

F. Kondisi Geografis Desa Bangbayang.........................................................14

G. Kesehatan Masyarakat Desa Bangbayang..................................................15

H. Kesejahteraan Sosial Desa Bangbayang.....................................................16

v
I. Kondisi Perekonomian Desa Bangbayang..................................................18

BAB IV PENUTUP..............................................................................................27

A. Simpulan.....................................................................................................27

B. Saran............................................................................................................29

DAFTAR PUSTAKA...........................................................................................30

DAFTAR RIWAYAT HIDUP............................................................................32

vi
BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Sejarah merupakan bukti nyata bahwa Indonesia mulai kerajaan

majapahit, mataram, kerajaan sriwijaya, kerajaan Islam Demak sampai pada

lahirnya Negara Indonesia merupakan bangsa yang kaya akan budaya, suku,

bahasa daerah, keyakinan dan agama. Masyarakat telah meyakini sesuatu

yang berada di luar diri manusia dan berpengaruh terhadap hidup manusia

yaitu kepercayaan animisme, dinamisme dan agama Hindu dan Budha yang

dating dari India. Islam masuk dengan ajaran-ajaran pembebasan, pencerahan,

tidak ada perbedaan kasta dan dengan damai islam terbesar di Indonesia

sedangkan di lain pihak agama Budha dan Hindu telah mewaranai

kebudayaan masyarakat saat itu.

Lambat laun kultur masyarakat yang telah diwarnai oleh hinduisme

dan budisme mengalami proses akulturasi. Proses akulturasi budaya dan

agama yang dalam waktu panjang menyebabkan kesulitan untuk memisahkan

mana unsur budaya dan mana unsur agama, hal ini dikarenakan keduannya

saling mengisi. Manusia tidak dapat beragama tanpa budaya, karena

kebudayaan merupakan kreativitas manusia yang bisa menjadi salah satu

bentuk ekspresi keberagamaan inilah yang di maksud dengan plurarlisme.

1
2

Fluralisme merupakan upaya menyikapi keberagaman masyarakat

dengan perbedaan budaya, agama, etnik, bahasa, warna kulit dan ideologi-

ideologi dari manusia satu dengan yang lainnya.

Keberagam agama inilah yang menjadikannya banyaknya perselisihan

antara masyarakat yang kurang mengerti akan arti suatu toleransi, seperti

halnya kasus-kasus yang terjadi di Aceh, Sambas, Poso, Ambon, dan Papua

serta peristiwa-peristiwa pembakaran gereja akan menjadi sejarah kelam

dalam perkembangan bangsa Indonesia ke depan. Isu SARA (Suku, Agama,

Ras, dan Antar golongan) yang menjadi khasanah bernegara bisa menjadi

ragam mutu manikam yang menggiurkan. Sebaliknya SARA juga bisa

menjadi ancaman untuk kekokokohan NKRI.

Masyarakat Indonesia yang plural, dengan ragam budaya, suku, etnis

dan agama serta ideologi merupakan kekayaan tersendiri oleh karena itu,

keragaman agama, warna kulit, status sosial dan etnis. Tanpa sikap saling

curiga dan berperasangka buruk terhadap kelompok lain, kita sebagai bangsa

sudah terlanjur majemuk dan konsekuensinya adalah adanya penghormatan

atas pluralitas masyarakat itu.

Sebuah desa kecil yang berada di Kecamatan Lemahsugih, Kabupaten

Majalengka merupakan salah satu bentuk atau gambaran dari keberagaman

agama yang ada di Indonesia. Di desa Bangbayang setiap blok terdapat

tempat peribadatan seperti surau (tempat kecil yang menyerupai masjid) yang

letaknya berada di sebelah selatan atau kanan masjid yang hanya dipisahkan

jalan dengan lebar 4 M atau dengan bahasa lain jarak antara masjid dan surau
3

hanya berjarak 4 M. Adapun budaya masyarakat desa Bangbayang masih

menganut kepercayaan yang turun temurun dari nenek moyang seperti

berjiarah ke makam Eyang Dalem yang ada di blok gintung, Buyut Senen

yang ada di blok wetan, dan Buyut Bagi yang ada di blok tengah.

Maka dari itu peneliti tertarik untuk merumuskan karya tulis ilmiah ini

dengan judul “Sejarah Berdirinya Desa Bangbayang.”

B. Rumusan Masalah

Adapun masalah yang akan dibahas dalam penulisan ini adalah

sebagai berikut.

1. Bagaimana Sejarah berdirinya Desa Bangbayang?

2. Bagaimana keadaan seni dan budaya masyarakat Desa Bangbayang?

C. Tujuan Penelitian

Berdasarkan rumusan masalah di atas, penulis menyusun karya tulis

ilmiah ini dengan bertujuan:

1. Untuk mengetahui sejarah berdirinya Desa Bangbayang

2. Untuk mengetahui keadaan seni dan budaya masyarakat Desa

Bangbayang

D. Sistematika Penulisan

Adapun sistematika penulisan karya ilmiah ini yaitu sebagai berikut.

HALAMAN SAMPUL
4

HALAMAN PERSEMBAHAN

HALAMAN PENGESAHAN

KATA PENGANTAR

DAFTAR ISI

BAB 1 PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

B. Rumusan Masalah

C. Tujuan Penelitian

D. Sistematika Penulisan

BAB II KAJIAN TEORETIS

A. Pengertian Sejarah

B. Pengertian Desa

C. Asal Usul Berdirinya Desa Bangbayang

D. Keadaan Penduduk

E. Pendidikan

F. Kondisi Geografis Desa Bangbayang

G. Kesehatan Masyarakat Desa Bangbayang

H. Kesejahteraan Sosial Desa Bangbayang

I. Kondisi Perekonomian Desa Bangbayang

BAB III PEMBAHASAN

A. Sejarah Berdirinya Desa Bangbayang

B. Keadaan Seni dan Budaya Masyarakat Desa Bangbayang

BAB IV PENUTUP

A. Kesimpulan
5

B. Saran
BAB II

KAJIAN TEORETIS

A. Pengertian Sejarah

Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), sejarah dapat

diartikan sebagai silsilah, asal-usul (keturunan), atau kejadian yang terjadi

pada masa lampau. Sedangkan para ahli mengemukakan definisi sejarah

antara lain sebagai berikut:

1. Menurut Abdurahman (2007:14) sejarah berasal dari bahasa Arab


“syajarah”, yang artinya pohon dalam bahasa asing lainnya istilah
sejarah disebut histore (Prancis), geschichte (Jerman),
histoire/geschiedemis (Belanda) dan history (Inggris).
2. Sejarah adalah studi yang telah dialami manusia diwaktu lampau dan
telah meninggalkan jejak diwaktu sekarang, di mana tekanan perhatian
diletakkan, terutama dalam pada aspek peristiwa sendiri. Dalam hal ini
terutama pada hal yang bersifat khusus dan segi-segi urutan
perkembangannya yang disusun dalam cerita sejarah (I Gede Widja,
1989: 9).
3. Sejarah adalah gambaran tentang masa lalu manusia dan sekitarnya
sebagai makhluk sosial yang disusun secara ilmiah dan lengkap. Meliputi
urutan fakta masa tersebut dengan tafsiran dan penjelasan yang
memberikan pengertian pemahaman tentang apa yang telah berlalu
(Sartono Kartodirdjo, 1982: 12).
4. Sejarah adalah gambaran masa lalu tentang manusia dan sekitarnya
sebagai makhluk sosial yang disusun secara ilmiah dan lengkap,
meliputi urutan fakta masa tersebut dengan tafsiran dan penjelasan, yang
memberi pengertian tentang apa yang telah berlalu (Gazalba, 1981: 13).
5. Sedangkan menurut Abd Rahman Hamid dan Muh. Saleh Madjid
(2011:10) sejarah adalah bidang kajian yang memahami manusia dan
tindakannya yang selalu berubah dalam ruang dan waktu sejarahnya. Dari
beberapa pendapat para ahli di atas maka dapat disimpulkan bahwa
sejarah adalah ilmu yang mempelajarikejadian kejadian atau peristiwa
pada masa lalu manusia serta merekontruksi apa yang terjadi pada masa
lalu. Dengan adanya pembelajaran sejarah pada siswa maka dapat
membantu siswa dalam memahami perilaku manusia pada masa lalu
maupun masa yang akan datang.

6
7

B. Pengertian Desa

Desa adalah kesatuan masyarakat hukum yang memiliki kewenangan

untuk mengatur dan mengurus kepentingan masyarakat setempat berdasarkan

asal-usul dan adat istiadat setempat yang diakui dalam system pemerintahan

nasional dan berada di daerah kabupaten. Desa juga dapat dikatakan sebagai

suatu hasil perpaduan antara kegiatan sekelompok manusia dengan

lingkungannya. Hasil dari perpaduan itu ialah suatu wujud atau kenampakan

di muka bumi yang ditimbulkan oleh unsur-unsur fisiografi, social, ekonomi,

politik dan cultural yang saling berinteraksi antar unsur tersebut dan juga

dalam hubungannya dengan daerah-daerah lain. Desa dalam arti umum juga

dapat dikatakan sebagai permukiman manusia yang letaknya di luar kota dan

penduduknya bermata pencaharian dengan bertani atau bercocok tanam.

Sedangkan Desa menurut para ahli dapat diartikan sebagai berikut.

1. Menurut Wikipedia. Desa adalah sebuah aglomerasi permukiman di area


perdesaan (rural). Di Indonesia, istilah desa adalah pembagian wilayah
administratif di Indonesia dibawah kecamatan, yang dipimpin oleh
Kepala.
2. Pengertian desa menurut “R.H Unang Soenardjo” adalah suatu kesatuan

masyarakat berdasarkan adat dan hukum adat yang menetap dalam suatu

wilayah yang tertentu batas-batasannya, memiliki ikatan lahir dan batin

yang sangat kuat, baik karena seketurunan maupun karena sama-sama

memiliki kepentingan politik, ekonomi, sosial, dan keamanan; memiliki

susunan pengurus yang dipilih bersama; memiliki kekayaan dalam

jumlah tertentu dan berhak menyelenggarakan urusan rumah tangga

sendiri.
8

3. Pengertian desa menurut “P.J. Bournen” adalah salah satu bentuk kuno

dari kehidupan bersama sebanyak beberapa ribu orang yang hampir

semuanya saling mengenal. Kebanyakan dari mereka hidup dari sektor

pertanian, perikanan, dan usaha-usaha lainya yang dapat dipengaruhi

oleh hukum alam. Dalam tempat tinggal itu terdapat banyak ikatan-ikatan

keluarga.

4. Pengertian desa menurut KBBI adalah kesatuan wilayah yang dihuni oleh
sejumlah keluarga yang mempunyai sistem pemerintahan sendiri
(dikepalai oleh seorang kepala desa) atau desa merupakan kelompok
rumah di luar kota yang merupakan kesatuan agraris.
5. Pengertian desa menurut “Paul H Landis” adalah suatu wilayah yang
jumlah penduduknya kurang dari 2.500 jiwa dengan ciri-ciri sebagai
berikut:
a. Mempunyai pergaulan hidup yang saling kenal mengenal antara ribuan
jiwa.
b. Ada pertalian perasaan yang sama tentang kesukuan terhadap
kebiasaan.
c. Cara berusaha (ekonomi) adalah agraris yang paling umum yang
sangat dipengaruhi alam sekitar seperti iklim, keadaan alam, kekayaan
alam, sedangkan pekerjaan yang bukan agraris adalah bersifat
sambilan.
6. Pengertian desa menurut “Rifhi Siddiq” adalah suatu wilayah
yangmempunyai tingkat kepadatan rendah yang dihuni oleh penduduk
dengan interaksi sosial yang bersifat homogen, bermata pencaharian di
bidang serta mampu berinteraksi dengan wilayah lain di sekitarnya.
7. Pengertian desa menurut “Saniyanti Nurmuharimah” adalah wilayah yang
dihuni oleh masyarakat yang memiliki sistem pemerintahan sendiri.
8. Pengertian desa menurut “Sutarjo Kartohadikusumo” adalah kesatuan
hukum tempat tinggal suatu masyarkat yang berhak menyelenggarakan
rumah tangganya sendiri merupakan pemerintahan terendah di bawah
camat.
9. Pengertian desa menurut “Bambang Utoyo” adalah tempat sebagian besar
penduduk yang bermata pencaharian di bidang pertanian dan
menghasilkan bahan makanan.

Dari beberapa pendapat para ahli diatas penulis menyimpulkan

bahwa pengertian Desa adalah wilayah yang penduduknya bermata


9

pencaharian petani dan mempunyai pergaulan hidup yang saling kenal

mengenal antar ribuan jiwa.

C. Asal Usul Berdirinya Desa Bangbayang

Bangbayang adalah Desa yang terletak disebelah selatan ibukota

kabupaten Majalengka kira-kira berjarak 50 KM, desa ini juga merupakan

daerah perbatasan antara kabupaten Majalengka dengan Ciamis.

Adapun yang pertama masuk wilayah tersebut adalah Eyang Kanjeng

Dalem alias She Abdurohim Jaksa Tani Pemutusan(seorang ulama dari

cirebon) kira-kira tahun 1619 M yang pada waktu itu Eyang tidak mau dijajah

oleh Belanda sehingga lari dikejar oleh Baja (Algo Belanda) dari Cirebon

sampai ke Desa Bangbayang yang hanya terdiri dari 30 KK (Buku potensi

Desa Bangbayang).

Beberapa tahun kemudian kampung itu (sekarang Desa Bangbayang)

bertambah penduduknya, sehingga berubah menjadi Desa yang diperintahkan

oleh seorang Ratu yang masyur, serta sangat sakti dan fanatik terhadap agama

yang dipeluknya, namanya adalah Nyai Rundai Kasih kakak adik dengan

Nyai Rambut Kasih.

Setelah Eyang dalem merasa aman berada di Bangbayang, maka

Eyang Dalem itu sering pergi ke Cirebon untuk mempelajari macam-macam

ilmu, terutama ilmu pertanian dan kesaktian sehingga Eyang Dalem ada di

wilayah Bangbayang tidak pernah kesulitan makanan terutama padi. Dengan

ilmu kesaktiannya, setiap padi yang pernah ditumbuk cangkangnya dapat


10

berisi kembali sehingga tidak pernah kekurangan padi, bahkan cukup untuk

beberapa kampung dan Desa.

Maka dari sejak itu wilayah tersebut diberi nama Bangbayang yang

mengandung arti BANG yang artinya tempat, dan BAYANG yang

artinya penguyangan atau peminjaman ilmu pertanian atau ada yang

mengartikan tinggi cita-cita.

D. Kedaan Penduduk

Penduduk adalah warga negara Indonesia dan orang asing yang

bertempat tinggal di Indonesia. Sedangkan kependudukan adalah hal ikhwal

yang berkaitan dengan jumlah, struktur, pertumbuhan, persebaran, mobilitas,

penyebaran, kualitas dan kondisi kesejahteraan yang menyangkut politik,

ekonomi, sosial budaya, agama serta lingkungan penduduk. Sedangkan

penduduk menurut para ahli dapat didefinisikan sebagai berikut:

1. Menurut Jonny Purba, penduduk adalah orang yang matranya sebagai


diri pribadi, anggota keluarga, anggota masyarakat, warga negara, dan
himpunan kuantitas yang bertempat tinggal di suatu tempat dalam batas
wilayah negara pada waktu tertentu.
2. Menurut Srijanti & A. Rahman, penduduk adalah orang yang mendiami
suatu tempat dalam wilayah tertentu dengan tanpa melihat status
kewarganegaraan yang dianut oleh orang tersebut.
3. Menurut Ahmad Yani & Mamat Rahmat, penduduk merupakan
komponen yang sangat penting dalam suatu wilayah atau negara.
4. Menurut Waluyo, Suwardi, Agung Feryanto, Tri Harhanto, penduduk
merupakan potensi, tetapi sekaligus beban bagi suatu daerah.
5. Menurut P.N.H Simanjuntak, penduduk adalah mereka yang bertempat
tinggal atau berdomisili di dalam suatu wilayah negara.
6. Menurut Dr. Kartomo, penduduk adalah semua orang yang mendiami
suatu wilayah tertentu pada waktu tertentu, terlepas dari warga negara
atau bukan warga negara.
11

7. Menurut AA Nurdiman, penduduk adalah mereka yang menetap dan


berdomisili dalam suatu negara.
8. Menurut Sri Murtono, Hassan Suryono, Martiyono, penduduk adalah
setiap orang yang berdomisili atau bertempat tinggal di dalam wilayah
suatu negara dalam waktu yang cukup lama. Dari beberapa pendapat
diatas dapat disimpulkan bahwa penduduk adalah warga atau masyarakat
yang bertempat tinggal di daerah tersebut.

Kehidupan penduduk desa Bangbayang umumnya memiliki

kehidupan yang sama seperti penduduk desa pada umumnya. Kehidupan

didasarkan pada norma-norma agama dan nilai-nilai luhur Pancasila. Budaya

serta adat istiadat juga tidak dapat dipisahkan, karena memiliki peranan yang

penting dalam kehidupan penduduk desa Bangbayang. Sedangkan Jumlah

penduduk Desa Bangbayang sampai dengan akhir tahun 2008 sebesar 1.804

jiwa dengan kepadatan rata-rata 2,0 jiwa/Kilometer persegi. Jumlah

penduduk, laju pertumbuhan penduduk dan kepadatan penduduk di Desa

Bangbayang selama kurun 2004-2008 dapat dilihat pada table berikut :

Jumlah Penduduk, Desa Bangbayang Tahun 2016-2020

Penduduk 2016 2017 2018 2019 2020

Jumlah
1629 1695 1762 1804 1846
(Jiwa)

Laki-Laki
802 823 866 885 898
(Jiwa)
Perempua
827 872 896 919 948
n (Jiwa)

Dari perbandingan diatas dapat dilihat bahwa jumlah perempuan

lebih banyak dibandingkan dengan laki-laki, jumlah selisih perbedaannya

yaitu kurang lebih 50 orang. Beragamnya penduduk dilihat dari latar


12

belakang suku bangsa, agama, kebudayaan, dan adat istiadat, merupakan

salah satu pengaruh dari perkawinan. Dimana penduduk asli desa

Bangbayang kawin mawin dengan penduduk dari luar yang berasal dari suku

bangsa yang berbeda. Juga migrasi dari penduduk luar yang memilih tinggal

dan menetap di desa Bangbayang Meskipun penduduk desa Bangbayang

terdiri dari latar belakang yang berbeda-beda,namun dalam kehidupan sehari-

hari terlihat adanya kerja sama yang baik. memiliki rasa tolong menolong

yang besar juga toleransi antara sesama anggota masyarakat.

Kegiatan tolong menolong atau gotong royong dilakukan dalam

peristiwa duka maupun suka. Jika salah satu anggota masyarakat mengadakan

pesta ataupun acara syukuran, anggota masyarakat lain pun dengan sukarela

membantu baik yang pria dalam membuat bangsal atau tenda maupun wanita

dalam membantu memasak. Seperti halnya jika anggota masyarakat

mengalami kedukaan, masyarakat lainnya juga ikut membantu dalam

berbagai hal sampai pemakaman. Bentuk bentuk kerja sama seperti itu masih

terpelihara dengan baik karena masing-masing anggota masyarakat juga

beranggapan bahwa mereka juga akan mengalami peristiwa duka maupun

suka yang nantinya akan membutuhkan bantuan.

E. Pendidikan

Pendidikan merupakan pembelajaran pengetahuan, keterampilan,dan

kebiasaan sekelompok orang yang diturunkan dari satu generasi ke generasi


13

berikutnya melalui pengajaran,pelatihan, atau penelitian. Sedangkan

pendidikan menurut para ahli dapat didefinisikan sebagai berikut :

1. M.J. Langeveld: Pendidikan merupakan upaya dalam membimbing


manusia yang belum dewasa kearah kedewasaan. H. Horne : Menyatakan
bahwa pendidikan adalah proses yang dilakukan secara terus menerus
dari penyesuaian yang lebih tinggi bagi manusia yang telah berkembang
secara fisik dan mentalnya.
2. Menurut Redja Mudyahardjo (dalam Sulistiawan,2008:18) pengertian
pendidikan dapat dibagi menjadi tiga, yakni secara sempit, luas dan
alternatif. Definisi pendidikan secara luas adalah mengartikan pendidikan
sebagai hidup. Pendidikan adalah segala pengalaman belajar yang
berlangsung dalam lingkungan dan sepanjang hidup (long life education).
Pendidikan adalah segala situasi hidup yang mempengaruhi pertumbuhan
individu. Secara simplistik pendidikan didefinisikan sebagai sekolah,
yakni pengajaran yang dilaksanakan atau diselenggarakan di sekolah
sebagai lembaga pendidikan formal. Pendidikan adalah segala pengaruh
yang diupayakan terhadap anak dan remaja yang diserahkan kepadanya
agar mempunyai kemamapuan yang sempurna dan kesadaran penuh
terhadap hubungan-hubungan dan tugas sosial mereka.
3. Disamping itu Jhon Dewey (2003:69) menjelaskan bahwa “Pendidikan
adalah proses pembentukan kecakapan-kecakapan fundamental secara
intelektual dan emosional kearah alam dan sesama manusia”.

Dari beberapa pendapat para ahli diatas dapat disimpulkan bahwa

pendidikan adalah usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana

belajar dan proses pembelajaran untuk peserta didik agar secara aktif

mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual

keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia, serta

keterampilan.

Peningkatan pembangunan bidang pendidikan dilaksanakan dalam

upaya pencapaian program Wajib Belajar 9 tahun melalui pendidikan formal

maupun non formal, serta terus mendorong dan meningkatkan kesadaran


14

warga masyarakat untuk terus melanjutkan sekolah baik SLTA atau ke

jenjang pendidikan yang lebih tinggi/ perguruan tinggi.

Komposisi penduduk berdasarkan jenjang pendidikan yang

ditamatkan, pendidikan Sekolah Dasar (SD) yaitu sebanyak 41 orang atau 100

%, SLTP sebanyak 41 orang atau 100 % SLTA sebanyak 18 orang atau 45%,

D1/D3 sebanyak 5 orang atau 10%, dan Universitas atau perguruan tinggi

sebanyak 12 orang atau 22%.

Persentase Penduduk Desa Bangbayang


Menurut Jenjang Pendidikan Yang Ditamatkan
Tahun 2016-2020

Penduduk Menurut Jenjang Pendidikan Yang


Jenjang Ditamatkan(%)
Pendidikan
2016 2017 2018 2019 2020
Tidak punya 96 48 12 3 3
SD 250 427 969 930 930
SLTP 96 39 52 71 171
SLTA 65 35 48 48 48
D1/D2 3 5
Universitas 12

Berdasarkan kelompok umur yang harus mendapatkan jenjang


pendidikan mulai dari Sekolah Dasar sampai dengan Perguran Tinggi. Usia 7-
12 tahun yaitu sebanyak 41 orang, yang diikuti oleh usia 13-15 tahun
sebanyak 121 orang dan usia 16-18 tahun sebanyak 119 orang.

Jumlah Penduduk Desa Bangbayang Menurut Kelompok Usia Sekolah


Tahun 2016-2020
15

Kelompok Penduduk Menurut Usia Sekolah (Jiwa)


Usia Sekolah
2016 2017 2018 2019 2020
7-12 tahun 73 162 211 236 257
13-15 tahun 83 85 87 109 96
16-18 tahun 72 77 81 88 90
19-24 tahun 79 122 166 173 174
Jumlah 307 446 545 606 617

Sarana prasarana dan tenaga pengajar sebagai pendukung

peningkatan pendidikan, pada tahun 2009 jumlah bangunan TK/Kober

sebanyak 1 buah, bangunan SD/MI sebanyak 2 buah, sedangkan SMP/MTs

berada diluar desa berjarak sekitar 3 km dari Desa Bangbayang.

Untuk sarana pendidikan SMU terdekat 10 km yang letaknya berada

di luar desa, untuk pendidikan agama, tersedia 6 kobong atau tempat anak-

anak mengaji dengan 6 ustad atau guru ngaji dan untuk masyarakat umum,

dilaksanakan pengajian rutin di 4 mesjid atau mushola.

F. Kondisi Geografis Desa Bangbayang

Desa Bangbayang adalah merupakan bagian dari wilayah administrasi

Kecamatan Lemahsugih Kabupaten Majalengka dengan luas wilayah 80,7

hektar yang terdiri atas 2 dusun, 2 RW dan 8 RT. Batas wilayah administrasi

Desa Bangbayang adalah :

1. Sebelah barat Desa Borogojol

2. Sebelah utara Desa Cibulan

3. Sebelah selatan Desa Girimukti


16

4. Sebelah timur Desa Sukadan

Sedangkan jarak dari Desa Bangbayang ke Ibu Kota Kecamatan ± 8

km, ke Ibu Kota Kabupaten ± 50 km, dan ke Ibu Kota Provinsi ± 75 km.

Secara geografis, Desa Bangbayang adalah merupakan wilayah

pegunungan dengan ketinggian 800 m diatas permukaan laut yang terdiri dari

pesawahan dan perkebunan serta hutan dengan disuplay oleh tiga mata air

yang mengalir yaitu mata air Cihieum, mata air Cijolok dan mata air

Cikencong.

G. Kesehatan Masyarakat Desa Bangbayang

1. Pemuda dan Olahraga

Pemuda sebagai tulang punggung Negara dan merupakan

generasi penerus perjuangan kearah yang lebih baik, maka kualitasnya

perlu terus disiapkan dan dikembangkan melalui peningkatan aspek

pendidikan, kesejahteraan hidup dan tingkat kesehatan. Untuk mewadahi

aktivitas dan kreativitas generasi muda yang lebih berkualitas dan

mandiri, serta memiliki produktivitas, terdapat berbagai wahana yang

dikembangkan oleh pemerintah Desa yaitu Karang Taruna.

Sebagai wadah atau tempat pengembangan bakat dan kreativitas

pemuda di Desa Bangbayang, terdapat beberapa perkumpulan olahraga

diantaranya perkumpulan bela diri pencak sepak bola sebanyak 2 team,

bulu tangkis sebanyak 1, tenis meja 4 dan 2 perkumpulan silat, sebagai


17

tempat pengembangan olahraga terdapat 2 lapang sepak bola, 3 buah

lapang voli bal, 1 gedung/aula bulu tangkis dan 2 buah lapang tenis meja.

2. Kesehatan

Kesehatan merupakan faktor yang sangat perlu diperhatikan

dalam upaya mewujudkan masyarakat yang handal, dimana kesehatan

bukan hanya kesehatan jasmani saja akan tetapi harus didukung pula oleh

kesehatan lingkungan. Kesehatan masyarakat dipengaruhi oleh

keasadaran dan akses atau fasilitas yang teredia. Untuk memenuhi

peningkatan pelayanan kesehatan masyarakat, terdapat 2 posyandu, 1

bidan desa. Untuk pelayanan kesehatan bagi masyarakat yang sakit,

tersedis puskesmas yang berlokasi di kota kecamatan dengan jarak

tempuh 8 km, dan bagi yang memerlukan perawatan Rumah Sakit

tersedia rumah sakit daerah dengan jarak tempuh 60 km dari desa.

Untuk menjaga kesehatan lingkungan, setiap hari jum’at

masyarakat selalu melaksanakan gerakan kebersihan dengan dilengkapi

10 tong bak sampah dan 1 dorongan sampah yang pengelolaannya

dilaksanakan oleh RT/Karang Taruna. Untuk memenuhi kebutuhan

masyarakat dalam hal mandi, cuci dan buang air besar bagi sebagian

besar masyarakat mereka memiliki MCK di rumah masing-masing

dengan menggunakan air pipa dari situ Cikencong dan Sunagara.

H. Kesejahteraan Sosial Desa Bangbayang

1. Penyandang Masalah Kesejahteraan Sosial


18

Kesejahteraan sosial masyarakat dapat diidentikan dengan jumlah

Penyandang Masalah Kesejahteraan Sosial (PMKS). Sampai dengan

tahun 2010 jumlah PMKS di Desa Bangbayang diantaranya meliputi

keluarga fakir miskin sebanyak 188 kk, anak balita terlantar 26 orang,

anak nakal 6 orang, lanjut usia terlantar sebanyak 3 orang, penyandang

cacat 12 orang, keluarga berumah tidak layak huni sebanyak 40 kk,

pekerja migran sebanyak 360 orang.

2. Ketenagakerjaan

Jumlah tenaga kerja sebanyak 1387 orang dan tenaga kerja

produktif sebanyak 988 orang yang tersebar dalam berbagai

sector,deiantaranya pertanian merupakan serktor yang menampung

paling banyak tenaga kerja 988 orang atau 70%, perdagangan 360 orang

atau 25%, dan industry pengolahan 23 orang atau 3%. Secara kuantitatif

apabila diabanding dengan tahun 2008, jumlah pengangguran menurun

sebanyak 21/2%. Selain beraktifitas dalam hal penggemukan sapi da

pertanian, sebagian masyarakat Desa Bangbayang juga punya

keterampilan dalam membodil.

3. Perumahan dan Pemukiman

Rumah dan fasilitasnya merupakan faktor kebutuhan dasar

masyarakat yang harus terpenuhi. Karena itu aspek kesehatan dan

kenyamanan sangat menentukan dalam pemilikan rumah tinggal terkait

dengan kesejahteraan penghuninya. Di Desa Bangbayang terdapat 130

rumah dengan kondisi permanen, 232 rumah semi permanen da nada 90


19

rumah kurang layak huni. Untuk fasilitas kehidupannya telah dibangun

beberapa gang dalam kondisi cukup baik dan di plur, air bersih/air pipa

terdapat 2 saluran yakni yang bersumber dari mata air Cikencong dan

Sunagara.

I. Kondisi Perekonomian Desa Bangbayang

Peningkatan perekonomian masyarakat dapat dilihat dari pola hidup

dan sarana penunjang kehidupan sehari-hari, dimana untuk menunjang

aktifitas kehidupan sehari-hari di Desa Bangbayang terdapat peningkatan

yang cukup signifikan pemilik kendaraan roda dua maupun roda empat.

Kendaraan roda dua sampai saat ini tercatat 24 motor dan 11 buah mobil.

Dalam bidang peternakan, pada saat ini di desa Bangbayang terdapat 680

ekor kambing, 8 ekor kerbau, 19 ekor sapi dan 2400 ayam kampung.

Sementara untuk ternak domba saat ini sedang dikembangkan 4 kelompok

ternak domba dengan jumlah sekitar 860 ekor domba.

Sebagai penunjang perekonomian dan sosial budaya masyarakat

tersedia jalan desa sepanjang 5 km dengan kondisi yang kurang baik, terdapat

pula jalan tanah menuju wilayah pertanian sekitar 1,5 km, serta jalan

penghubung antar blok/dudun sepanjang 2200 m dengan kondisi cukup baik.

Luas Lahan Sawah Desa Bangbayang Menurut Klasifikasi

Tahun 2016-2020

Klasifikasi Luas Lahan Sawah(ha)


Tanah 2016 2017 2018 2019 2020
20

Irigasi
- - - - -
Teknis
Irigasi 1/2
37 37 45 55 45
Teknis
Irigasi
88 89 90 95 98
Sederhana

Tadah Hujan - - - - -

JUMLAH 125 126 135 150 140


Produksi Padi Desa Bangbayang

Tahun 2016-2020

Produksi (Ton)
Komoditas
2016 2017 2018 2019 2020
Padi - - - - -
Padi sawah 180 124,4 223 360 326

Produksi Palawija Desa Bangbayang

Tahun 2016-2020

Produksi (Ton)
Komoditas
2016 2017 2018 2019 2020

Jagung 210 230 335 437 490

Kedelai - - - - -
Kacang
80 950 120 135 950
Tanah
Ubi kayu 550 700 700 850 250

Ubi jalar 250 300 650 350 200

Produksi Sayuran Desa Bangbayang


21

Tahun 2016-2020

Produksi (Ton)
Komoditas
2016 2017 2018 2019 2020
Bawang
70 825 165 950 850
Daun
Bawang
- - - - -
Merah
Cabai
750 110 175 850 700
Besar
Kacang
165 170 210 225 250
Merah
Kacang
170 155 200 215 220
Panjang
Kentang 153 160 167 170 200

Produksi Buah-Buahan Desa Bangbayang

Tahun 2016-2020

Produksi (Ton)
Komoditas
2016 2017 2018 2019 2020
Pisang 80 90 95 95 105
Ranbutan - - - - -
Alpukat 30 40 45 55 85
Lengkeng 30 43 47 50 55

Produksi Perkebunan Desa Bangbayang

Tahun 2016-2020

Produksi (Ton)
Komoditas
2016 2017 2018 2019 2020
22

Bambu
5000 5000 7000 8000 10.000
(Batang)
Cengkeh 150 30 325 35 425
Kelapa
40 65 80 95 150
dalam
Kopi 15 30 45 75 80
Kayu
Teh 30 45 55 70 85
Produksi Peternakan Desa Bangbayang

Tahun 2016-2020

Produksi (Ton)
Komoditas
2016 2017 2018 2019 2020
Telur Ayam
100 125 150 152 160
kampung
Daging
126 130 145 150 252
Ayam sayur
Daging Sapi 5 10 15 20 30
Daging
13 25 30 33 36
Kerbau
Daging
60 75 87 100 114
Domba
Daging
28 34 59 77 80
Kambing

Produksi Perikanan Desa Bangbayang

Tahun 2016-2020

Produksi (Ton)
Komoditas
2016 2017 2018 2019 2020
Ikan mas 2 4 7 9 10
Ikan mujair - - - 10 15
Ikan lele jumbo 6 7 9 11 12
Ikan nilem 40 55 67 110 125
23
BAB III

PEMBAHASAN

A. Berdirinya Desa Bangbayang

Menurut alkisah yang diceritakan oleh orang tua bahwa kira-kira

tahun 1619 M abad ke 15 masehi, berdirilah sebuah kampung (tambahan)

yang sekarang menjadi desa Bangbayang yang terletak disebelah selatan

ibukota kabupaten Majalengka kira-kira berjarak 50 KM, desa ini juga

merupakan daerah perbatasan antara kabupaten Majalengka dengan Ciamis.

Adapun yang pertama masuk wilayah tersebut adalah Eyang Kanjeng

Dalem alias She Abdurohim Jaksa Tani Pemutusan(seorang ulama dari

cirebon) kira-kira tahun 1619 M yang pada waktu itu Eyang tidak mau dijajah

oleh Belanda sehingga lari dikejar oleh Baja (Algojo Belanda) dari Cirebon

sampai ke Desa Bangbayang yang hanya terdiri dari 30 KK (Buku potensi

Desa Bangbayang). Beberapa tahun kemudian kampung itu (sekarang Desa

Bangbayang) bertambah penduduknya, sehingga berubah menjadi Desa yang

diperintahkan oleh seorang Ratu ya urangan padi, bahkan cukup untuk

beberapa kampung dan Desa. Maka dari sejak itu wilayah tersebut diberi

nama Bangbayang yang mengandung arti BANG yang artinya tempat, dan

BAYANG yang artinya penguyangan atau peminjaman ilmu pertanian atau

ada yang mengartikan tinggi cita-cita. Pada tahun 1630 M kepengurusan

diteruskan oleh Eyang Sacamanggala, pada kala itu Eyang Sacamanggala

24
dianggap memberontak ng masyur, serta sangat sakti dan fanatik terhadap

agama yang

25
26

dipeluknya, namanya adalah Nyai Rundai Kasih kakak adik dengan Nyai

Rambut Kasih.

Setelah Eyang dalem merasa aman berada di Bangbayang, maka

Eyang Dalem itu sering pergi ke Cirebon untuk mempelajari macam-macam

ilmu, terutama ilmu pertanian dan kesaktian sehingga Eyang Dalem ada di

wilayah Bangbayang tidak pernah kesulitan makanan terutama padi. Dengan

ilmu kesaktiannya, setiap padi yang pernah ditumbuk cangkangnya dapat

berisi kembali sehingga tidak pernah kek dan melawan terhadap

pemerintahan Belanda sehingga Eyang Sacamanggala selalu diburu oleh

serdadu Belanda. Ketika Beliau diburu dan dikepung di wilayah Bangbayang,

beliau masuk kesebuah hutan tiba-tiba saja terbanglah seekor ayam hutan

terbang begitu jauh sehingga Eyang Sacamanggala selamat dari kejaran

serdadu Belanda. Maka sejak itu, Eyang Sacamanggala mengucap sumpahnya

“Saya sumpah tidak akan makan daging ayam hutan sampai tujuh turunan.

Kira-kira-kira tahun 1800 M, dibentuk suatu desa walaupun saat itu belum

sempurna dan dipimpin oleh Eyang Sacamanggala (Pemimpin Pemerintahan

Nomor Satu di Desa Bangbayang) dan pada tahun 1820 M, dibentuklah

Badan Hukum suatu Ketetapan Wilayah, para leluhur Desa Bangbayang

Menetapkan Desa Bangbayang dengan luas wilayah 87,3 Ha Setelah

kepengurusan Eyang Sacamanggala diteruskan kembali oleh Eyang Bungsu

dan kemudian setelah Eyang Bungsu diturunkan kembali oleh Buyut Demang

kemudian, pada tahun 1865 M diturunkan kembali oleh Buyut Senen. Pada

Pemerintahan Buyut Senen lahan potensi Desa Bangbayang sebagian besar


27

digunakan untuk lahan pertanian dan produk unggulan Desa Bangbayang

pada saat itu adalah Gula Aren. Sehingga, para petani hamper semua KK

memiliki gudang padi untuk Pemasaran Gula Aren untuk wilayah Majalengka

antara lain : Jatiwangi, Jatitujuh, Kadipaten, Majalengka, Rajagaluh, Maja,

Talaga, hingga sampai keluar wilayah Majalengka, Tasik dan Ciamis.

Adapun tokoh pembuka sejarah di desa Bangbayang yaitu sebagai

berikut.

1. Eyang Dalem Syeh Abdurohim jaksa tani pemutusan (putra Embah Kuwu

Sangkan Buana dari Cirebon)

2. Eyang Bayu Pati

3. Eyang Sanca Mangala

4. Eyang Bungsu

5. Eyang Demang dan

6. Buyut Senen

Sejak itulah para pemangku jabatan Kepala Desa Bangbayang dari

waktu ke waktu silih berganti diantaranya sebagai berikut:

1. Daraji Sidik (sejak zaman Belanda)

2. Aminah

3. Endun Rana

4. Ali Musa

5. Inteng Naska

6. Karnu

7. Sarwi Jaya Sadam


28

8. Ahmad Samsuri

9. Ardi Wijaya

10. Tuhin

11. Saripudin Hidayat

12. Toha Taufik

13. Siom

14. Solehudin

15. Sudarta

16. Toha

17. Semon

18. Mustari (Pj.S)

19. Sudarta

20. Doni Gupron

21. Mustari (Pj.S)

22. Doni Gupron

23. Nunu Nugraha

24. Satjan Ahmad Ripai (Pj.S)

25. Nunu Nugraha

B. Keadaan Seni dan Budaya Masyarakat

Keanekaragaman budaya merupakan kekayaan bangsa kita setiap

sukun bangsa di Indonesia memiliki bentuk dan keragaman adat istiadat,

budaya, dan kebiasaan yang berbeda. Tetapi antara satu dengan yang lain
29

harus bisa saling menghormati. Janganlah kita saling mengganggu dan saling

menghina. Dengan jalan saling menghormati, kita akan mampu menghadapi

berbagai bentuk perbedaan itu semua.

1. Agama

Seperti halnya penduduk Desa Bangbayang mayoritas sebagai

pemeluk agama islam, hal itu tercermin dalam kehidupan sehari-hari

yang agamis. Kehidupan agamis masyarakat bukan hanya tercermin dalri

kegiatan ibadah sholat lima waktu, pelaksanaan puasa dan ibadah zakat

saja, akan tetapi tercermin dari sikap tolong menolong diantara warga

masyarakat da terciptanya kerukunan dalam kehidupan sebagai bentuk

kesalehan sosial. Sarana ibadah, terdapat 4 mesjid, 4 langaar, dan 5

kelompok pengajian/kobong tempat anak-anak mengaji.

2. Budaya

Untuk melestarikan dan mengembangkan kebudayaan leluhur serta

mengembangkan kreatifitas seni, maka di kembangkan dua kelompok

seni yaitu seni pencak silat dan seni sholawatan. Sedangkan budaya yang

masih terpelihara dengan baik dalam kehidupan masyarakat Desa

Bangbayang yaitu diantaranya setiap tanggal 12 mulud dilaksanakan

jiaroh bersama kemakam leluhur, dan budaya gotong royong dalam

membangun sarana umum.


BAB IV

PENUTUP

A. Simpulan

Berdasarkan pembahasan yang telah diuraikan pada bab-bab

sebelumnya memberikan simpulan mengenai sejarah desa Sarani Matani.

Desa Sarani Matani merupakan suatu desa yang terbentuk dari perjalanan

sejarah yang panjang. Dimana terbentuknya desa ini atas dasar Eyang kanjeng

Dalem atau biasa juga disebut dengan syekh Abdurohim jaksa tani pemutusan

seorang ulama dari Cirebon kira-kira tahun 1619 M yang pada waktu itu

Eyang tidak mau dijajah oleh Belanda sehingga lari dikejar oleh Baja (Algojo

Belanda) dari Cirebon sampai ke desa Bangbayang yang hanya terdiri dari 30

KK (Buku Potensi Desa Bangbayang ) Beberapa tahun kemudian kampung

itu (sekarang Desa Bangbayang) bertambah penduduknya, sehingga berubah

menjadi Desa yang diperintahkan oleh seorang Ratu yang masyur, serta

sangat sakti dan fanatik terhadap agama yang dipeluknya, namanya adalah

Nyai Rundai Kasih kakak adik dengan Nyai Rambut Kasih.

Setelah Eyang dalem merasa aman berada di Bangbayang, maka

Eyang Dalem itu sering pergi ke Cirebon untuk mempelajari macam-macam

ilmu, terutama ilmu pertanian dan kesaktian sehingga Eyang Dalem ada di

wilayah Bangbayang tidak pernah kesulitan makanan terutama padi. Dengan

ilmu kesaktiannya, setiap padi yang pernah ditumbuk cangkangnya dapat

berisi

30
31

kembali sehingga tidak pernah kekurangan padi, bahkan cukup untuk

beberapa kampung dan Desa.

Maka dari sejak itu wilayah tersebut diberi nama Bangbayang yang

mengandung arti BANG yang artinya tempat, dan BAYANG yang

artinya penguyangan atau peminjaman ilmu pertanian atau ada yang

mengartikan tinggi cita-cita.

Kehidupan agama di desa Bangbayang juga sangat agamis, hal itu

tercermin dari kehidupan sehari-hari masyarakat seperti ibadah sholat lima

waktu, pelaksanaan puasa di bulan Ramadhan, zakat dan lain-lain. Bukan

hanya tercermin dari kegiatan ibadah saja tetapi tercermin dari sikap saling

tolong menolong diantara masyarakat dan terciptanya kerukunan dalam

kehidupan sebagai bentuk kesalehan sosial.

Keadaan seni dan budaya masyarakat desa Bangbayang pun

terpelihara dengan baik sampai sekarang seperti dilaksanakannya jiarah

bersama ke makam leluhur pada tanggal 12 Maulid, diadakannya pencak silat

dan seni shalawat, serta gotong royong dalam membangun sarana umum.

Bebagai aspek kehidupan di desa Bangbayang terus mengalami

perkembangan kearah kemajuan. Ditengah perkembangan zaman yang

semakin maju dan ilmu pengetahuan serta teknologi didalamnya yang tidak

terbendung, masyarakat tetap memelihara kehidupan sosial dan budaya

dengan baik.

Masyarakat yang memiliki jiwa kebersamaan dan semangat gotong

royong, mampu mempertahankan nilai-nilai tradisional yang ada. Kehidupan


32

masyarakat yang selaras itu membuat desa ini terus maju dan berkembang

dan dalam perjalanannya memiliki prestasi yang membanggakan..

B. Saran

Penulisan karya tulis ilmiah ini dilakukan untuk memberikan

informasi mengenai sejarah desa Bangbayang karena memahami tentang

sejarah tempat dimana kita tinggal itu sangat penting dan perlu untuk kita

kembangkan. Dalam penyusunan skripsi ini, penulis mengalami berbagai

halangan serta kesulitan dalam menyelesaikannya karena keterbatasan waktu

juga dalam mengumpulkan sumber-sumber, dan kurangnya pemahaman

penulis.

Berdasarkan hal yang dialami penulis, maka penulis menyarankan

bahwa pada masa yang akan datang para peneliti akan lebih memahami

tentang sejarah desa yang merupakan bagian dari sejarah lokal yang perlu

dilestarikan melalui tulisan agar generasi selanjutnya bisa mengetahui tentang

keadaan desa sebelumnya. Dan dalam penelitiannya agar para peneliti lebih

mendalam untuk mengkaji data-data serta sumber-sumber yang diperoleh.

Harapan dari penulis bahwa generasi selanjutnya untuk tetap

mempertahankan nilai-nilai tradisional serta adat istiadat dan tidak

meremehkan serta meninggalkannya.


DAFTAR PUSTAKA

Abdurahman dan Muhidin. (2007). Analisis Korelasi, Regresi, dan Jalur dalam

Penelitian. Bandung Pustaka Setia.

I Gde Widja. (1989). Sejarah Lokal Suatu Perspektif Dalam Pengajaran Sejarah.

Jakarta: Departemen Pendidikan dan Kebudayaan.

Sartono Kartodirjo. (1986). Lembaran Sejarah Segi-segi Strukturil Historiografi

Indonesia. Yogyakarta : Seksi Penelitian Jurusan Sejarah UGM.

Yani Ahmad. Dkk (2007). Geografi: Menyingkap Fenomena Geosfer. Jakarta:

Grafindo.

Sartono Kartodirjo. (1986). Lembaran Sejarah : Segi-segi Strukturil Historiografi

Indonesia. Yogyakarta Seksi Penelitian Jurusan Sejarah UGM.

Sidi Gazalba, (1981). Pengantar ilmu sejarah. Jakarta. Bharata Martodirdjo,

Sartono. 2014 Pemikiran dan Perkembangan Historiografi Indonesia.

Yogyakarta : penerbit ombak

Rifi siddiq. Antopologi Sosial Jakarta : Pustaka setia, (2006). Nurmuharimah,

Daniyanto (2007). Get Smart Pendidikan Kewarganegaraan. Bandung :

Grafindo Media Pratama

Sutardjo, Kartono dikusumo, (1953), Desa, Yogyakarta : Indonesia monographs

Bambang, Utoyo (2009) Geografi membuka Cakrawala Dunia 3. Pusat

Pembukaan Departemen Pendidikan Nasional

Purba, Jonny, Pengelolaan Lingkungan Sosial , Jakarta : Yayasan Obor Indonesia

P.N.H Simanjuntak, (2010), pendidikan kewarganegaraan Grasindo Jakarta

33
34

Kartono Wirosuhardjo, (2000). Dasar-dasar Demografi. Jakarta : FEUL

Kamus Besar Bahasa Indonesia. kamus besar bahasa Indonesia http :

KBBI.co.id/arti-kata/bangsa

Murtono, Sri, Hasan Suryono, dan Martiyono. (2006). pendidikan

kewarganegaraan. Quadrat

Langeveld, M.d (1980) bekhopte Theoritische paedogejek. (terj.Simanjuntak)

Mudyahardjo Redza,(2008), Pengantar Pendidikan Sebuah Studi Awal Tentang

Dasar-Dasar Pendidikan pada umumnya dan Pendidikan di Indonesia

Jakarta. Raja Grafindo Persada

Https : id :m. Wikipedia org


DAFTAR RIWAYAT HIDUP

1. Aditia

Nama : Aditia

Kelas : XII IPS 4

Alamat : Cikondang, Ds. Sukamaju, Kec. Lemahsugih,

Kab. Majalengka

Nama ibu : Nining

Nama ayah : Marheli (Alm)

Riwayat Pendidikan

- SDN Kalapadua 3

- SMP Negeri 3 Lemahsugih

- SMA Negeri 1 Bantarujeg

2. Ardi Permana

Nama : Ardi Permana

Kelas : XII IPS 4

Alamat : Kuluwut, Mekarmulya

Nama Ibu : Nining

Nama Ayah : Cecep

Riwayat Pendidikan

- SDN Bank Jabar

- SMP Negeri 1 Bantarujeg

35
36

- SMA Negeri 1 Bantarujeg

3. Ilham Permana

Nama : Ilham Permana

Kelas : XII IPS 4

Alamat : Cidomas, Cikidang

Nama Mamah : Emay

Nama Bapa : Abud Budiana

Riwayat Pendidikan

- SDN Cikidang 1

- SMP Negeri 1 Bantarujeg

- SMA Negeri 1 Bantarujeg

4. Indah Melasari

Nama : Indah Melasari

Kelas : XII IPS 4

Alamat : Cipancur, Desa Kalapadua

Nama Ayah : Ahridin

Nama Ibu : Kuswati

Riwayat Pendidikan

- SDN Kalapadua 1

- SMPN 3 Lemahsugih

- SMAN 1 bantarujeg
37

5. Nopi Puspitasari

Nama : Nopi Puspitasari

Kelas : XII IPS 4

Alamat : Desa Bangbayang

Nama Ayah : Nuri

Nama Ibu : Entit

Riwayat pendidikan

- SDN Bangbayang 2

- SMPN 1 Bantarujeg

- SMAN 1 Bantarujeg

6. Nunung Nurjanah

Nama : Nunung Nurjanah

Kelas : XII IPS 4

Alamat : Desa Bangbayang

Nama Ayah : Nanang

Nama Ibu : Isoh

Riwayat pendidikan

- SDN Bangbayang 2

- SMPN 1 Bantarujeg

- SMAN 1 Bantarujeg
38

7. Tyar Oktaviana Sasmita

Nama : Tyar Oktaviana Sasmita

Kelas : XII IPS 4

Alamat : Desa Bantarujeg, Kecamatan Bantarujeg

Kabupaten Majalengka

Nama Ayah : Encas

Nama Ibu : Yayat

Riwayat pendidikan

- SDN Bantarujeg 1

- SMPN 1 Bantarujeg

- SMAN 1 Bantarujeg

8. Wawa

Nama : Wawa

Kelas : XII IPS 4

Alamat : Cinangka Desa Babakan Sari

Nama Ibu : Ilah

Nama Ayah : Salam

Riwayat pendidikan

- SDN Babakansari 1

- SMP Negeri 1 Bantarujeg

- SMA Negeri 1 Bantarujeg