Anda di halaman 1dari 14

LAPORAN PRAKTIKUM MIKROBIOLOGI FARMASI

PERCOBAAN 2
CARA INOKULASI MEMBUAT PEREMAJAAN BIAKAN DALAM MEDIA PADAT DANA
CAIR

DI SUSUN OLEH :

Tiara Rahma Dhesti

190106061

Dosen Pengampu:

Apt. Anis Puji Rahayu, M.Si.

Apt. Maulidwina Bethasari, M.S.Farm.

FAKULTAS SAINS DAN TEKNOLOGI


PROGAM STUDI FARMASI
UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH BANDUNG 2021
Cara Inokulasi Membuat Peremajaan Biakan Dalam Media Padat Dana Cair

I. Tujuan
1.1 Menentukan inokulasi dan peremajaan biakan secara goresan maupun tusukan pada
media padat maupun media cair
1.2 Menentukan pengaruh suhu terhadap pertumbuhan masing-masing bakteri
II. Prinsip Percobaan

Inokulasi adalah pemindahan bakteri dari medium yang lama ke medium yang baru
dengan tingkat yang sangat tiggi. Untuk melakukan penanaman beteri terlbih dahulu
diusahakan agar semua alat agar tetap steril, hal ini agar menghindari terjadinya
kontaminasi. Inokulasi merupakan menanam inokula secara aseptis ke dalam media
sterril baik pada media padat maupun cair. Inokula yaitu bahan yang mengandung
mikroba atau biakan mikroba baik dalam keadaan cair maupun padat (Dwijoseputra,
1998).

Inokulum digoreskan pada media nutrien agar dalam cawan petri dengan jarum
pindah atau lup inokulasi. Garis-garis goresan akan terdapat sel-sel yang cukup terpisah
sehingga dapat tumbuh menjadi koloni (Winarni, 1997).
Metode tusuk yaitu dengan cara menusukkan ujung jarum ose yang didalamnya
terdapat inokulum, kemudian dimasukkan pada media (Winarni, 1997).
III. Alat dan Bahan

3.1 Alat

No Alat Gambar Fungsi


1 Bunsen Untuk pemanasa, sterilisasi, dan
pembakaran

2 Cawan petri Untuk membiakkan sel

3 Inkubator Untuk menginkubasi


mikroorganisme

4 Jarum ose Untuk memindahkan biakan untuk


ditanam/ditumbuhkan ke media
baru

5 Pinset Untuk menjepit benda kecil atau


pun yang sangat lembek

6 Pipet ukur Untuk mengambil larutan dengan


ukuran tertentu
7 Rak tabung reaksi Tempat untuk meletakkan tabung
reaksi yang berjumlah banyak

8 Tabung reaksi Untuk mencampur bahan kimia.


Untuk perkembangbiakkan
mikroorganisme daam media cair
3.2 Bahan

No Bahan Fungsi
1 Agar miring NA Sebagai pengembangan mikroba
2 Agar tegak NA Sebagai pengembangan mikroba
3 Inokula Sebagai mikroba
4 Kapas Sebagai penutup tabung reaksi
5 Larutan NaCl 0,9% Sebagai pengencer
6 Nutrien agar Sebagai media
7 Nutrien broth Sebagai media
8 Plat agar Sebagai pengembangan mikroba

IV. Prosedur Percobaan

Atur nyala api bunsen sehingga diperoleh nyala api biru. Biarkan api menyala
selama kurang lebih 10 menit sebelum bekerja. Pinset diflambir, kapas penutup
tabung reaksi yang akan digunakan ditarik perlahan-lahan dengan pinset
sedemikian rupa, sehingga cukup untuk ditarik dengan cara menjepit di antara jari
kelingking dan telapak tangan kanan. Tabung reaksi tadi diletakkan pada rak
tabung di sebelah kiri praktikan. Jarum Ose diflambir sampai ujungnya pijar, lalu
pemanasan diteruskan perlahan-lahan ke arah pegangan jarum sampai batas
kawat. Pekerjaan ini dilakukan sebanyak tiga kali. Dengan tangan kiri diambil
tabung reaksi yang berisi inokula. Kapas penutup tabung ditarik dengan cara
menjepit di antara jari kelingking dan telapak tangan kanan. Mulut tabung yang
telah terbuka diflambir dengan cepat. Jarum Ose dimasukkan ke dalam tabung
reaksi inokula tanpa menyentuk dinding untuk mengambil inokula. Lalu, jarum
Ose ditarik keluar dan dipegang tetap pada jarak 10 cm sekitar nyal api bunsen.
Mulut tabung reaksi diflambir, kemudian tutup kapasnya dimasukkan kembali ke
dalam mulut tabung. tabung dikembalikan ke dalam raknya. Tabung yang berisi
media steril yang akan diinokulasikan, diambil dengan tangan kiri. Sumbat
kapasnya ditarik dengan tangan kanan, dengan cara menjepit diantara kelingking
dan telapak tangan. Sementara itu, jarum Ose yang telah memuat inokula tetap
dipegang dengan tangan kanan pula. Mulut tabung diflambir. Jarum Ose
dimasukkan ke dalam tabung reaksi yang berisi media steril dan dilakukan
inokulasi (goresan atau tusukan). Jarum Ose ditarik keluar, mulut tabung
diflambir kemudian sumbat kapasnya dimasukkan kembali dan selanjutnya
tabung diletakkan kembali ke raknya. Jarum Ose diflambir sampai pijar sebanyak
tiga kali, sebelum disimpan lagi di rak.
Nyalakan bunsen dan atur api bunsen sehingga diperoleh nyala api biru untuk
memperoleh daerah “steril”. Biarkan menyala selama 10 menit. Siapkan dan
letakkan tabung reaksi pada rak tabung reaksi dan cawan petri steril di antara
nyala dua api bunsen. Pembuatan plat agar: pipet 20 mL media nutrien agar yang
telah cair dan suhunya 50 C ke dalam cawan petri steril, lalu biarkan padat.
Pembuatan agar miring: pipet 3 mL media nutrien agar yang telah cair dan
suhunya 50 C ke dalam tabung reaksi steril, lalu letakkan miring pada papan
pembentuk agar miring dan biarkan padat. Pembuatan agar tegak: pipet 5 mL
media nutrien agar yang telah cair dan suhunya 50 C ke dalam tabung reaksi
steril, lalu letakkan tegak pada rak tabung reaksi dan biarkan padat. Pembuatan
media cair siapkan pipet 5 mL media nutrien Broth yang suhunya telah sama
dengan suhu kamar ke dalam tabung reaksi. Pekerjaan di atas dilakukan dengan
memperhatikan prosedur kerja aseptik.

V. Hasil Pengamatan

Pertumbuhan Pada Media


Nama Bakteri
Agar Miring Agar Tegak Plat Agar Media Cair

Setelah
Terbentuk
Terbentuk diinkubasi
bakteri
koloni bakteri berbentuk Terbentuk
dibekas
di atas kolono bakteri kolobi bakteri
tusukan jarum
permukaan di atas dibawah
ose tegak dia
meedia NA permukaan permukaan
Staphylococcus atas
yang berbentuk media sesuai media NB,
aureus permukaan
bulatan- goresan yang warna koloni
media NA,
bulatan, warna dibentuk, bskteri yang
warna koloni
koloni bakteri warna koloni terbentuk
bateri yang
yang terbentuk yang adalah putih
terbentuk
adalah putih terbentuk
adalah putih
adalah krem
Pseudomonas Terbentuk Terbentuk Setelah Terbentuk
aeruginosa koloni bakteri bakteri di atas diinkubasi kolobi bakteri
dengan goresan permukaan berbentuk di atas
zig-zag agak media NA, kolono bakteri permukaan
melebar di atas warna koloni di atas media NB,
permukaan bateri bekas permukaan warna koloni
media NA,
koloni yang media sesuai
terbentuk tusukan goresan yang
berbentuk jarung ose dibentuk,
bskteri yang
bulatan- tegak yang warna koloni
terbentuk
bulatan, warna terbentuk yang
adalah putih
koloni bakteri adalah hijau terbentuk
yang terbentuk keputihan adalah putih
adalah hijau kehijauan
kebiruan
Terbentuk Setelah
koloni bakteri Terbentuk diinkubasi
dengan goresan bakteri di atas berbentuk Terbentuk
zig-zag di atas permukaan kolono bakteri kolobi bakteri
permukaan media NA, di atas dibawah
media NA, warna koloni permukaan permukaan
Bacillus subtilis koloni yang bateri bekas media sesuai media NB,
terbentuk tusukan goresan yang warna koloni
berbentuk jarung ose dibentuk, bskteri yang
bintang, warna tegak yang warna koloni terbentuk
koloni bakteri terbentuk yang adalah putih
yang terbentuk adalah putih terbentuk
adalah putih adalah krem
Terbentuk
Terbentuk Setelah
koloni bakteri
bakteri di atas diinkubasi
dengan goresan
permukaan berbentuk Terbentuk
zig-zag di atas
media NA, kolono bakteri koloni bakteri
permukaan
warna koloni di atas dibawah
media NA,
bateri bekas permukaan permukaan
Streptococcus koloni yang
tusukan media sesuai media NB,
thermophyllus terbentuk
jarung ose goresan yang warna koloni
berbentuk
tegak yang dibentuk, bskteri yang
seperti bunga,
terbentuk warna koloni terbentuk
warna koloni
adalah putih yang adalah putih
bakteri yang
dan cairan terbentuk
terbentuk
keruh adalah krem
adalah putih
VI. Pembahasan

Pada praktikum ini dilakukan dengan memperhatikan teknik kerja aseptis. Kerja
aseptis dilakukan dengan nyala api bunsen dengan jarak 10 cm. Hal ini dilakukan untuk
meminimalisir kontaminasi. Sebelum melakukan kerja aseptis, alat-alat harus diflambir
untuk menjaga kesterilan, sedangkan bunsen dinyalakan selama 10 menit sebelum bekerja
bertujuan agar terjadi radiasi sehingga mikroorganisme menjauh.

Pada percobaan pertama, membuat plat agar dengan cara flambir pipet volume dan
cawan petri steril kemudian ambil 20 mL media nutrien agar cair 50℃ ke dalam cawan
petridan biarkan hingga memadat. Untuk membuat plat agar dibutuhkan media NA.
Media NA pada labu erlenmeyer yang telah disterilkan, dipanaskan selama 15 menit.
Tujuan pemanasan untuk mencairkan media sehingga dapat dituangkan untuk mebuat
media agar datar pada cawan petri. Media NA ini berwarna kuning bening. Dituangkan
media NA dengan suhu 50℃ ke dalam cawan petri steril. Media NA berfungsi sebagai
tempat menggoreskan bakteri dan tempat pertumbuhan koloni bateri. Cawan petri yang
sudah dimasukkan media NA 50℃ didiamkan selama beberapa menit. Pendiaman ini
berfungsi agar media NA enjadi padat seperti agar. Setelah media NA padat, ambil
bakteri yang akan digoreskan pada permukaan agar menggunakan jarum ose bundar.
Sebelum mengambil bateri, jarum ose bundar harus dipanaskan berfungsi untuk
mensterilisasi jarum sehingga tidak ada mikroorganime lain yang menempel. Sumbat
tabung yang berisi bakteri dilepaskan lalu bibir tabung dipanaskan berfungsi untuk
mensterilkan tabung dan biakan dari mikroorganisme. Masukkan jarum ose bundar pada
bakteri lalu goreskan jarum ose bundar untuk mengambil bakteri. Setelah bakteri
terambil, mulut tabung reaksi diflambir kembali dan tutup dengan kapas. Setiap perlakuan
diusahakan dilakukan dengan prosedur telnik kerja aseptis. Teknik aseptis ini berfungsi
agar saat inokulasi bahan dan alat gelas yang digunakan tetap steril.

Bakteri digoreskan di atas pemukaan media NA yang ada di dalam cawan petri yang
telah disediakan menggunakan metode gores mulai dari samping secara merata. Alasan
menggunakan media NA kerena komposisinya terdapat adanya faktor pertumbuhan yang
tidak mampu disintesis mikroorganismme dan supaya koloni yang terbentuk sersebar
merata, tampak jelas dan tidak bertumpukkan. Setelah itu cawan petri ditutup dan
diflambir kembali, fungsinya untuk mensterilisasi cawan petri dan biakan dari mikroba
lain. Cawan petri diinkubasi di inkubator pada suhu 37℃. Inkubator yaitu sebagai tempat
penyimpanan streril cawan petri dengan suhu optimum bakteri untuk tumbuh. Saat
dimasukkan kedalam inkubator, posisi cawan harus terbaik untuk menghindari uap air
hasil metabolisme bakteri yang menetes dari tutup cawan ke permukaan media.
Percobaan kedua yang dilakukan adalah membuat agar miring dengan cara flambir
pipet volume dan tabung reaksi kemudian ambil 3 mL media nutrien agar cair 50℃ ke
dalam tabung reaksi steril, lalu letakkan miring pada papan miring dan biarkan memadat.
Untuk membuat plat agar dibutuhkan media NA. Media NA pada labu erlenmeyer yang
telah disterilkan, dipanaskan selama 15 menit. Media NA ini berwarna kuning bening.
Dituangkan media NA dengan suhu 50℃ ke dalam tabung reaksi. Media NA berfungsi
sebagai tempat menggoreskan bakteri dan tempat pertumbuhan koloni bateri. Setelah
media NA padat, ambil bakteri yang akan digoreskan pada permukaan agar menggunakan
jarum ose bundar. Sebelum mengambil bateri, jarum ose bundar harus dipanaskan
berfungsi untuk mensterilisasi jarum sehingga tidak ada mikroorganime lain yang
menempel. Sumbat tabung yang berisi bakteri dilepaskan lalu bibir tabung dipanaskan
berfungsi untuk mensterilkan tabung dan biakan dari mikroorganisme. Masukkan jarum
ose bundar pada bakteri lalu goreskan jarum ose bundar untuk mengambil bakteri. Setelah
bakteri terambil, mulut tabung reaksi diflambir kembali dan tutup dengan kapas. Setiap
perlakuan diusahakan dilakukan dengan prosedur telnik kerja aseptis. Teknik aseptis ini
berfungsi agar saat inokulasi bahan dan alat gelas yang digunakan tetap steril.

Bakteri digoreskan di atas pemukaan media NA yang ada di dalam tabung reaksi yang
telah disediakan menggunakan metode gores mulai dari sisi samping arah zig-zag secara
merata. Diagunakan arah zig-zag agar memugkinkan koloni yang terbentuk sersebar
merata, tampak jelas dan tidak bertumpukkan. Sekeliling mulut dipanaskan kembali lalu
ditutup dengan menggunakan kapas. Lalu disimpan ke dalam diinkubasi di inkubator
pada suhu 37℃ dan amati bentuk koloni yang terbentuk setelah diinkubasi selama sehari.
Inkubator yaitu sebagai tempat penyimpanan streril cawan petri dengan suhu optimum
bakteri untuk tumbuh.

Bentuk, warna, serta morfologi bakteri yang diamati pada media.

A. S. Aureus
 Pada plat agar bakterinya tumbuh membentuk bulatan-bulatan yang bersatu
mengikuti goresan-goresan yang dibuat saat praktikum. Bakteri yang berwarna
krem yang berada di atas permukaan media. Bkteri ini bersifat anaerob
fakulatatif adalah orgaanism yang masih bisa hidup ditempat yang mengandung
oksigen. Karena itu bakteri ini dapat tumbuh baik dimedia plat, media miring,
media tegak dan media cair.
 Pada agar miring bakteri ini tumbuh di atas permukaan agar sesuai dengan
goresan yang dibuat dan tidak ada bakteri yang tembus ke bawah permukaan
agar. Karena itu bakteri ini bersifat aerob.
 Pada agar tegak tumbuh di atas permukaan agar sampai ke dasar tabung sesuai
dengan tusukan yang dibuat. Karena bersifat anaerob fakultatif.
 Pada media cair bakteri tumbuh hamper diseluruh media cair tetapi banyak
koloni bakteri yang mengendap di bawah permukaan media. Warna media
berubah menjadi agak keruh menandakan bahwa bakteri tumbuh dalam media.
Di media vcair pun bakteri akan tetap tumbuh. Bakteri ini tidak bergerak
mendekati permukaan media, karena bersifat anaerob fakultatif.
B. P. Aeryginosa
 Pada plat agar tumbuh bentukan warna hijau kebiruan yang tumbuh di atas
permukaan plat. Bakteri ini bersifat aerob.
 Pada agar miring tumbuh di atas permukaan miring sesuai dengan goresan yang
dibuat dan berwarna hijau kebiruan. Ini menandakan bahwa bakteri bersifat
aerob.
 Pada agar tegak tumbuh dipermukaan atas agar sampai dasar tabung yang diberi
tusukan warna bakteri ini hijau kebiruan tetapi dibekas tusukan bakteri berwarna
putih. Bakteri ini tidak menyebar keseluruhan pada agar. Bakteri ini bersifat
aerob
 Pada media cair menyebar keseluruhan dari atas permukaan hingga dasar tabung
tetapi banyak koloni bakteri yang terbentuk di atas permukaan media NB. Warna
bakteri putih dan memiliki sifat aerob.
C. B. subtilis
 Pada plat agar tumbuh di atas permukaan media, ini ditunjukkan bahwa bakteri
bersifat aerob. Pertumbuhan bakteri ini lebih banyak dibandingkan dengan
pertumbuhan bakteri di media lain disebabkan karena luas permukaan sentuh
media plat dengan oksigen lebih banyak.
 Pada agar miring tumbuh di atas permukaan agar miring sesuai degan goresan
yang dibuat. Warna bakteri ini putih dan memiliki sifat aerob. Pertumbuhan
bakterinya banyak sama halnya dengan pertumbuhan pada media plat karena
agar miring ini memungkinkan tersentuh oleh oksigen untuk mendapat nutrisi.
 Pada agar tegak lebih sedikit dibanding dengan pertumbuhan pada media plat
dan agar miring. Bakteri ini tumbuh melintang ke dalam media tegak hingga
hampir dasar tabung tetapi pertumbuhan bakteri pada permukaan agar lebih
banyak. Karena bakteri bersifat aerob yang bergerak ke atas untuk mendapatkan
oksigen sehingga pertumbuhan bakteri lebih banyak di atas permukaan media
tegak.
 Pada media cair bakterinya banyak tumbuh di atas permukaan media cair
dikarenakan bakteri bergerak ke atas untuk mendapatkan lebih banyak oksigen.
Warna media NB menjadi keruh setelah dimasukkan bakteri, menunjukkan
bahwa bakteri tumbuh di media cairn secara menyebar.
D. S. Thermophyllus
 Pada plat agar terbentuk koloni bakteri dengan goresan zig-zag di atas
permukaan media NA, koloni yang terbentuk berbentuk seperti bunga, warna
koloni bakteri yang terbentuk adalah putih.
 Pada agar miring terbentuk bakteri di atas permukaan media NA, warna koloni
bateri bekas tusukan jarung ose tegak yang terbentuk adalah putih dan cairan
keruh.
 Pada agar tegak setelah diinkubasi berbentuk kolono bakteri di atas permukaan
media sesuai goresan yang dibentuk, warna koloni yang terbentuk adalah krem.
 Pada media cair terbentuk koloni bakteri dibawah permukaan media NB, warna
koloni bskteri yang terbentuk adalah putih dan bersifat anaerob

S. Thermophilus pada semua media jumlahnya sedikit di suhu 37℃. Pengaruh suhu
inkubasi terhadap ketahanan panas bakteri ditentukan dengan mengukur jumlah sel awal
setelah proses fermentasi dan setelah perlakuan pemanasan sehingga dapat diketahui tingkat
penurunan jumlah sel. Pada S. thermophilus suhu inkubasi (37℃ dan 42℃) berbeda nyata
(α=5%) terhadap ketahanan panas bakteri, ini dilihat dari penurunan jumlah sel pada sel yang
diinkubasi 370C lebih besar dibanding yang diinkubasi 42℃, demikian juga dengan lama
inkubasi (6, 8 dan 10 jam) berbeda sangat nyata (α=1%) terhadap ketahanan panas.
Penurunan jumlah sel pada sel yang diinkubasi selama 6 dan 10 jam lebih besar dibanding
yang diinkubasi 8 jam.

B. Subtilis di semua media tidak tumbuh, Bakteri Bascillus subtilis dapat dilihat
bahwa pertumbuhan bakterinya tidak merata, karena disebabkan kurang teliti saat menarik
goresan. Tidak ada kontaminan, dan bakteri tersebut diketahui bersifat aerob.

VII. Kesimpulan

Teknik inokulasi merupakan penanaman inokuasi secara aseptis ke dalam media steril
baik pada media padat maupun cair. Inokulasi dapat dilakukan pada media padat media
plat agar, media agar miring, media agar tegak dan media cair. Hasil dari inokulasi yaitu
Staphlococcus aureus bersifat aerob, pada Pseudomonas aeruginosa bersifat aerob,
pada Bacillus subtilis bersifat aerob dan pada Streptococcus thermophyllus bersifat
anaerob. Proses inokulasi harus benar-benar aseptis atau steril tanpa mikroba lain.
Metode yang dilakukan dalam proses inokulasi adalah metode gores dan tusuk.
VIII. Daftar Pustaka

Dwidjoseputro, D. 1998. Dasar-Dasar Mikrobiologi. Djambatan: Malang.

Winarni, D. 1997. Diktat Tenik Fermentasi. Program Studi D3 Teknik Kimia FTI-ITS:
Surabaya.