Anda di halaman 1dari 5

POLA KEHIDUPAN MASYARAKAT KOTA DAN MASYARAKAT

DESA BESERTA CONTOH SEDERHANA


Aprilia Prahesti
1709035011
Teknik Industri, Fakultas Teknik, Universitas Mulawarman

Pengertian Masyarakat

Masyarakat sebagai terjemahan istilah society adalah sekelompok orang yang membentuk
sebuah sistem semi tertutup atau semi terbuka, dimana sebagian besar interaksi adalah antara
individu-individu yang berada dalam kelompok tersebut Masyarakat adalah sebuah komunitas
yang interdependen (saling tergantung satu sama lain). Umumnya, istilah masyarakat
digunakan untuk mengacu sekelompok orang yang hidup bersama dalam satu komunitas yang
teratur.

Pengertian masyarakat terbagi atas dua yaitu pengertian masyarakat dalam arti luas dan
pengertian masyarakat dalam arti sempit. Pengertian masyarakat dalam arti luas adalah
keseluruhan hubungan hidup bersama tanpa dengan dibatasi lingkungan, bangsa dan
sebagainya. Sedangkan pengertian masyarakat dalam arti sempit adalah sekelompok individu
yang dibatasi oleh golongan, bangsa, teritorial, dan lain sebagainya. Pengertian masyarakat
juga dapat didefinisikan sebagai kelompok orang yang terorganisasi karena memiliki tujuan
yang sama. Pengertian Masyarakat secara Sederhana adalah sekumpulan manusia yang saling
berinteraksi atau bergaul dengan kepentingan yang sama. Terbentuknya masyarakat karna
manusia menggunakan perasaan, pikiran dan keinginannya memberikan reaksi dalam
lingkungannya.

Masyarakat pedesaan dan perkotaan bukanlah dua komunitas yang terpisah satu sama lain.
Bahkan dalam keadaan yang wajar diantara keduanya terdapat hubungan yang erat. Bersifat
ketergantungan, karena diantara mereka saling membutuhkan. Kota tergantung pada dalam
memenuhi kebutuhan warganya akan bahan bahan pangan seperti beras sayur mayur , daging
dan ikan. Desa juga merupakan sumber tenaga kasar bagi bagi jenis jenis pekerjaan tertentu
dikota. Misalnya saja buruh bangunan dalam proyek proyek perumahan. Tidak dapat
dipungkiri bahwa masyarakat pedesaan dan masyarakat perkotaan memiliki hubungan timbal
balik yang saling  menguntungkan satu sama lain

Masyarakat Desa

Menurut Sutardjo Kartodikusuma mengemukakan desa adalah suatu kesatuan hukum dimana
bertempat tinggal suatu masyarakat pemerintahan tersendiri. Dalam UU Nomor 32 Tahun
2004 disebutkan pengertian desa sebagai kesatuan masyarakat hukum yang memiliki batas
wilayah, yang berwenang untuk mengatur dan mengurus kepentingan masyarakat setempat,
berdasarkan asal-usul dan adat istiadat setempat yang diakui dan dihormati dalam system
pemerintahan Negara Kesatuan Republik Indonesia.

Masyarakat pedesaan ditandai dengan pemilikan ikatan perasaan batin yang kuat sesama
warga desa, yaitu perasaan setiap warga atau anggota masyarakat yang amat kuat yang
hakikatnya, bahwa seseorang merasa merupakan bagian yang tidak dapat dipisahkan dari
masyarakat di mana ia hidup dicintai serta mempunyai perasaan bersedia untuk berkorban
setiap waktu demi masyarakat atau anggota masyarakat.

Ciri-Ciri Masyarakat Desa


1. Afektifitas, ada hubungannya dengan perasaan kasih sayang, cinta , kesetiaan dan
kemesraan. Perwujudannya dalam sikap dan perbuatan tolong menolong, menyatakan
simpati terhadap musibah yang diderita orang lain dan menolongnya tanpa pamrih.
2. Orientasi Kolektif, sifat ini merupakan konsekuensi dari Afektifitas, yaitu mereka
mementingkan kebersamaan , tidak suka menonjolkan diri, tidak suka akan orang yang
berbeda pendapat, intinya semua harus memperlihatkan keseragaman persamaan.
3. Partikularisme, pada dasarnya adalah semua hal yang ada hubungannya dengan
keberlakuan khusus untuk suatu tempat atau daerah tertentu. Perasaan subyektif, perasaan
kebersamaan sesungguhnya yang hanya berlaku untuk kelompok tertentu saja.(lawannya
Universalisme)
4. Askripsi, yaitu berhubungan dengan mutu atau sifat khusus yang tidak diperoleh
berdasarkan suatu usaha yang tidak disengaja, tetapi merupakan suatu keadaan yang
sudah merupakan kebiasaan atau keturunan.
5. Kekabaran (Diffuseness), Sesuatu yang tidak jelas terutama dalam hubungan antara
pribadi tanpa ketegasan yang dinyatakan eksplisit. Masyarakat desa menggunakan bahasa
tidak langsung, untuk menunjukkan sesuatu. Dari uraian tersebut (pendapat Talcott
Parson) dapat terlihat pada desa-desa yang masih murni masyarakatnya tanpa pengaruh
dari luar.

Masyarakat Kota

Masyarakat perkotaan sering disebut Urban Community. Pengertian masyarakat kota lebih


ditekankan pada sifat kehidupannya serta ciri-ciri kehidupannya yang berbeda dengan
masyarakat pedesaan. Masyarakat perkotaan biasanya tidak mencampur adukan antara hal-hal
yang bersifat emosional dengan hal-hal yang bersifat rasional. Alur kehidupan yang berjalan
cepat di daerah perkotaan membuat masyarakat perkotaan sangat menghargai waktu, hal ini
membuat masyarakat perkotaan mampu memanage waktunya dengan baik dan teliti.

Ciri-Ciri Masyarakat Kota


1. Kehidupan keagamaan berkurang bila dibandingkan dengan kehidupan keagamaan di
desa.
2. Orang kota pada umumnya dapat mengurus dirinya sendiri tanpa harus bergantung pada
 

orang lain.
3. Pembagian kerja diantara warga-warga kota juga lebih tegas dan mempunyai batas-batas
yang nyata.
4. Kemungkinan-kemungkinan untuk mendapatkan pekerjaan juga lebih banyak diperoleh
 

warga kota daripada warga desa.


5. Jalan pikiran rasional yang pada umumnya dianut masyarakat perkotaan, menyebabkan
 

bahwa interaksi-interaksi yang terjadi lebih didasarkan pada faktor kepentingan daripada
faktor pribadi.
6. Perubahan-perubahan sosial tampak dengan nyata di kota-kota, sebab masyarakat kota
biasanya lebih terbuka dalam menerima hal-hal baru.

Contoh Pola Kehidupan Masyarakat Desa dan Masyarakat Kota

Pola hidup antara masyarakat desa dan kota pada umumnya sangat terlihat jelas berbeda.
Selain faktor lingkungan dimana mereka tinggal dalam melakukan kegiatan sehari-hari, faktor
etika dan budaya juga sangat memperlihatkan perbedaan yang ada. Pada dasarnya berbagai
pola hidup yang tercermin dalam kehidupan bermasyarakat antara masyarakat kota dan
masyarakat desa tergantung kepada individu masing-masing yang menjalaninya. Karena di
jaman globalisasi seperti ini, pola kehidupan berubah begitu drastis mengikuti perkembangan
jaman yang ada.

Masyarakat Kota
1. Pola Kehidupan Individualistik, yang mana masyarakat perkotaan ini tidak menggantungkan
dirinya pada bantuan orang lain, sebab masyarakat perkotaan seperti ini biasanya tidak saling
mengenal dengan orang-orang di lingkungan tempat ia tinggal bahkan dengan tetangganya
sendiripun tidak saling kenal. Sebagai contoh, apabila masyarakat kota mengadakan sebuah acara,
ia tidak melibatkan tetangganya sama sekali untuk membantu berlangsungnya acara, dan juga
kemungkinan orang-orang yang mereka undang hanya kerabat yang memang dekat saja dengan
mereka.
2. Pola Kehidupan Matrealistik, yang mana masyarakat perkotaan  hanya berfokus
mengejar kehidupan didunia saja, hal ini menimbulkan dampak pada sisi spiritual
masyarakat perkotaan yang rendah bahkan mungkin ada yang sama sekali tidak
memperdulikan lagi hal-hal yang berbau religi. Sebagai contoh, menghabiskan waktunya
berjam-jam untuk bekerja, mengumpulkan materi sebanyak-banyaknya tanpa memikirkan
kehidupannya di akhirat kelak.
Masyarakat Desa
1. Pola Kehidupan Gotong Royong, tanpa dimintai pertolongan, dengan suka rela
masyarakat pedesaan akan membantu tetangga mereka yang butuh pertolongan. Gotong
royong dapat mempererat hubungan satu sama lain antara masyarakat. Gotong royong ini
dilakukan masyarakat pedesaan tanpa mengharap balasan. Dengan gotong royong, berbagai
permasalahan kehidupan bersama bisa terpecahkan secara mudah. Sebagai contoh dari gotong
royong yaitu gotong royong membangun masjid di suatu daerah untuk kepentingan bersama.
2. Pola Kesederhanaan, sebagian masyarakat desa terbiasa hidup dalam kesederhanaan.
Hal tersebut bisa disebabkan karena pada dasarnya secara ekonomi mereka memang tidak
mampu dan secara budaya memang tidak senang menyombongkan diri. Sebagai contoh
bahwa masyarakat desa sederhana adalah, tetap menjadi diri sendiri dengan tidak
menyombongkan apa yang ia miliki.

Sumber :

http://file.upi.edu/Direktori/FPIPS/JUR._PEND._GEOGRAFI/197210242001121-
BAGJA_WALUYA/GEOGRAFI_DESAKOTA/masyarakat_desa-kota.pdf . Diakses pada
tanggal 22 Oktober 2018 pukul 20.14 di Samarinda

http://pramunditodito.blogspot.com/2010/02/perbedaan-pola-hidup-masyarakat-desa.html
Diakses pada tanggal 22 Oktober 2018 pukul 20.30 di Samarinda