Anda di halaman 1dari 54

LAPORAN PENDAHULUAN

GANGGUAN SISTEM MUSKULOSKELETAL : FRAKTUR


DI RUANG BEDAH RSUD CIMACAN CIANJUR

Diajukan Untuk Memenuhi Tugas Mata Kuliah Keperawatan Gawat


Darurat

Disusun Oleh :
KELOMPOK 3
DEDE PURI PURWANDI
RUSLANDI
SYAPUR YUSUP
OGI SAPUTRA
MUHAMMAD AKBAR FAWZI
MAYA LASMAYATI
SITI RUKOYAH

PROGRAM STUDI PENDIDIKAN NERS


SEKOLAH TINGGI ILMU KESEHATAN BUDI LUHUR CIMAHI
2020/2021
LAPORAN PENDAHULUAN
GANGGUAN SISTEM MUSKULOSKELETAL : FRAKTUR
DI RUANG BEDAH RSUD CIMACAN CIANJUR

1. DEFINISI
Fraktur atau patah tulang adalah terputusnya kontinuitas jaringan tulang
dan atau tulang rawan yang umumnya disebabkan oleh radupaks
(Sjamsuhidajat, 2010).
Fraktur adalah setiap retak atau patah pada tulang yang utuh. Kebanyakan
fraktur disebabkan oleh trauma dimana terdapat tekanan yang berlebihan paa
tulang, baik berupa trauma langsung dan trauma tidak langsung (Sjamsuhidajat
& Jong, 2014).
Fraktur adalah terputusnya kontnuitas jaringan tulang, yang biasanya
disertai dengan luka sekitar jaringan lunak, kerusakan otot, ruptur tendon,
kerusakan pembuluh darah, dan luka organ-organ tubuh dan ditentukan sesuai
jenis dan luasnya, terjadinya raktur jika tulang dikenal stress yang lebih besar
dari yang besar dari yang dapat diabsorbsinya (Smeltzer, 2014).
Fraktur adalah terputusnya kontinuitas tulang dan ditentukan sesuai jenis
dan luasnya fraktur terjadi jika tulang dkenal stress yang lebih besar dari yang
dapat diabsorpsinya. Fraktur dapat disebabkan pukulan langsung, gaya
meremuk, gerakan punter mendadak, dan bahkan kontraksi otot ekstrem
(Brunner & Sudarth, 2012).

2. ETIOLOGI
Fraktur disebabkan oleh trauma dimana terdapat tekanan yang berlebihan
pada tulang yang biasanya diakibatkan secara langsung dan tidak langsug dan
sering berhubungan dengan olahraga, pekerjaan atau luka yang disebabkan
oleh kendaraan bermotor.
Menurut (Aragon, 2000) adapun penyebab fraktur antara lain :
a. Trauma langsung/direct trauma
Yaitu apabila fraktur terjadi ditempat dimana bagian tersebut mendapat
rua paksa (misalnya benturan, pukulan yang mengakibatkan patah
tulang).
b. Trauma yang tak langsung/indirect trauma
Misalnya penderita jatuh dengan lengan dalam keadaan ekstensi dapat
terjadi farktur pada pergelangan tangan.
c. Trauma ringan pun dapat menyebabkan terjadinya fraktur bila tulang
itu sendiri rapuh/ ada resiko terjadinya penyakit yang mendasari dan
hal ini disebut dengan fraktur patologis.
d. Kekerasan akibat tarikan otot
Patah tulang akibat tarikan otot sangat jarang terjadinya, kekuatan
dapat berupa pemuntir
3. PATOFISIOLOGI (PATHWAYS) (mencakup pre dan post operatif)
4. MANIFESTASI KLINIS
Menurut Black (2014) mendiagnosis fraktur harus berdasarkan manifestasi
klinis klien, riwayat, pemeriksaan fisik, dan temuan radiologi. Beberapa fraktur
sering langsung tampak jelas: beberapa lainnya terdeteksi hanya dengan
rontgen (sinar-x).
Lewis (2006) menyampaikan manifestasi klinik fraktur adalah sebagai
berikut :
a. Nyeri
Nyeri dirasakan langsung setelah terjadi trauma. Hal ini dikarenakan
adanya spasme otot, tekanan dari patahan tulang atau kerusakan
jaringan sekitarnya.
b. Bengkak /edema
Edema muncul lebih cepat dikarenakan cairan serosa yang terlokalisir
pada daerah fraktur dan extravasasi daerah di jaringan sekitarnya.
c.   Memar/ekimosis
Merupakan perubahan warna kulit sebagai akibat dari extravasasi
daerah di jaringan sekitarnya.
d.   Spasme otot
Merupakan kontraksi otot involunter yang terjadi di sekitar fraktur.
e. Penurunan sensasi
Terjadi karena kerusakan syaraf, terkenanya syaraf karena edema.
f. Gangguan fungsi
Terjadi karena ketidakstabilan tulang yang fraktur, nyeri atau spasme
otot. Paralysis dapat terjadi karena kerusakan syaraf.
g. Mobilitas abnormal
Adalah pergerakan yang terjadi pada bagian-bagian yang pada kondisi
normalnya tidak terjadi pergerakan. Ini terjadi pada fraktur tulang
panjang.
h. Krepitasi
Merupakan rasa gemeretak yang terjadi jika bagian-bagian tulang
digerakkan.
i. Deformitas
Abnormalnya posisi dari tulang sebagai hasil dari kecelakaan atau
trauma dan pergerakan otot yang mendorong fragmen tulang ke posisi
abnormal, akan menyebabkan tulang kehilangan bentuk normalnya.
j. Shock hipovolemik
Shock terjadi sebagai kompensasi jika terjadi perdarahan hebat.
k. Gambaran X-ray menentukan fraktur
Gambaran ini akan menentukan lokasi dan tipe fraktur.

5. KLASIFIKASI
Penampilan fraktur sangat bervariasi tetapi untuk alasan yang praktis, dibagi
menjadi beberapa kelompok, yaitu :
a. Berdasarkan fraktur
1) Raktur tertutup (Closed), bila tidak terdapat hubungan antara fragmen
tulang dengan dunia luar, disebut juga fraktur bersih (karena kulit
masih utuh) tanpa komplikasi.
2) Fraktur terbuka (Open/compound), bila terdapat hubungan antara
hubungan antara fragmen tulang dengan dunia luar karena adanya
perlukaan kulit.
b. Berdasarkan komplit atau ketidakkomplitan fraktur
1) Fraktur komplit, bila garis patah melalui seluruh penmpang tulang atau
melalui kedua korteks tulang seperti terlihat pada foto.
2) Fraktur Inkomplit, bila garis patah tidak melalui seluruh penampang
tulang, seperti :
a) Hair line Fraktur (patah retidak rambut)
b) Buckle atau Torus Fraktur, bila terjadi lipatan dari satu korteks
dengan kompresi tulang spongiosa dibawahnya.
c) Green stick Fraktur, mengenai satu korteks dengan angulasi korteks
lainnya yang terjadi pada tulang panjang.
c. Berdasarkan bentuk garis patah dan hubungannya dengan mekanisme
trauma
1) Fraktur Transversal : fraktur yang arahnya melintang pada tulang dan
merupakan akibat trauma angulasi atau langsung.
2) Fraktur Oblik : fraktur yaarah garis patahnya membentuk sudut
terhadap sumbu tulang dan merupakan akibat trauma angulasinya.
3) Fraktur Spiral : fraktur yang terjadi karena trauma aksial fleksi yang
mendorong tulang ke arah permukaan lain.
4) Fraktur Kompresi : fraktur yang terjadi karena trauma aksial fleksi yang
mendorong tulang ke arah permukaan lain.
5) Fraktur Avulsi : fraktur yang diakibtkan karena trauma tarikan atau
traksi otot pada insersinya pada tulang.
d. Berdasarkan jumlah garis patah
1) Fraktur Komunitif : fraktur dimana garis patah lebih dari satu dan
saling berhubungan.
2) Fraktur Segmental : fraktur dimana garis patah lebih dari satu tapi tidak
berhubungan.
3) Fraktur Multiple : fraktur dimana garis patah lebih dari satu tapi tidak
pada tulang yang sama.
e. Berdasarkan Pergeseran Fragmen Tulang
1) Fraktur Undisplaced (tidak bergeser) : garis patah lengkap tetapi kedua
fragmen tidak bergeser dan periosteum masih utuh.
2) Fraktur Displaced (bergeser) : terjadi pergeseraan fragmen tulang yang
juga disebut lokasi fragmen, terbagi atas :
a) Dislokasi ad longitudinam cum contractionum (pergeseran searah
sumbu dan overlapping).
b) Dislokasi ad axim (pergeseran yang membentuk sudut).
c) Dislokasi ad latus (pergeseran dimana kedua fragmen saling
menjauh).
f. Fraktur kelelahan : fraktur akibat tekanan yang berulang-ulang.
g. Fraktur patologis : fraktur yang diakibatkan karena proses patologis tulang.
h. Pada fraktur tertutup ada klasifikasi tersendiri yang berdasarkan keadaan
jaringan lunak sekitar taruma, yaitu :
a) Tingkat 0 : fraktur biasa dengan sedikit atau tanpa cedera jaringan
lunak sekitarnya.
b) Tingkat 1 : fraktur dengan abrasi dangkal atau memar kulit dan jaringan
subkutan.
c) Tingkat 2 : fraktur yang lebih berat dengan kontusio jaringan lunak
bagian dalam dan pembengkakan.
d) Tingkat 3 : cedera berat dengan kerusakan jaringan lunak yang nyata
dan ancaman sindroma kompartemen.

6. PENGKAJIAN
a. Pengkajian primer
1. Airway
Adanya sumbatan/obstruksi jalan napas oleh adanya penumpukan
sekret akibat kelemahan reflek batuk
2. Breathing
Kelemahan menelan/ batuk/ melindungi jalan napas, timbulnya
pernapasan yang sulit dan atau tak teratur, suara nafas terdengar
ronchi /aspirasi
3. Circulation
TD dapat normal atau meningkat , hipotensi terjadi pada tahap
lanjut, takikardi, bunyi jantung normal pada tahap dini, disritmia,
kulit dan membran mukosa pucat, dingin, sianosis pada tahap
lanjut.
b. Pengkajian Sekunder
1. Identitas klien
Meliputi : nama, jenis kelamin, umur, alamat, agama, bahasa yang dipakai,
status perkawinan, pendidikan, pekerjaan, asuransi, golongan darah, no.
Register, tanggal MRS, diagnosa medis.
2. Keluhan utama
Pada umumnya keluhan utama pada kasus fraktur adalah rasa nyeri. Nyeri
tersebut bisa akut atau kronik tergantung dan lamanya serangan. Untuk
memperoleh pengkajian yang lengkap tentang rasa nyeri klen digunakan :
1) Provoking insiden : apakah ada peristiwa yang menjadi faktor prepitasi
nyeri.
2) Quality of pain : seperti apa rasa nyeri yang dirasakan atau
digambarkan klien. Apakah seperti terbakar, berdenyut atau menusuk.
3) Region : radiation, relief : apakah rasa sakit bisa reda, apakah rasa sakit
menjalar dan dimana rasa sakit terjadi.
4) Severity (scale) of pain : seberapa jauh rasa nyeri yang dirasakan klien,
bisa berdasarkan skala nyeri atau klien menerangkanseberapa jauh rasa
sakit mempengaruhi kemampuan fungsinya.
5) Time : berapa lama nyer berlangsung, kapan, apakah bertambah buruk
pada malam hari atau siang hari.
3. Riwayat penyakit sekarang
Pengumpulan data yang dilakukan untuk menentukan sebab dar fraktur,
yang nantinya membantu dalam membuat rencana tindakan terhadap klien.
Ini bisa berupa kronologi terjadinya penyakit tersebut sehingga nantinya
bisa ditentukan kekuatan yang terjadi dan bagan tubuh mana yang terkena.
Selain itu, dengan mengetahui mekanisme terjadinya kecelakaan bisa
diketahui luka kecelakaan yang lain.
4. Riwayat penyakit dahulu
Pada pengkajian ini ditemukan kemungkinan penyebab fraktur dan
memberi petunjuk berapa lama tulang tersebut akan menyambung.
Penyakit-penyakit tertentu seperti kanker tulang dan penyakit paget’s yang
menyebabkan fraktur patologis yeng sering sulit untuk menyambung.
Selain itu, penyakit diabetes dengan luka dikaki sangat beresiko terjadinya
osteomyelitis akut maupun kronik dan juga diabetes menghambat proses
penyembuhan tulang.
5. Riwayat penyakit keluarga
Penyakit keluarga yang berhubungan dengan penyakit tulang merupakan
salah satu faktor predisposisi terjadinya fraktur, seperti diabetes,
osteoporosis yang sering terjadi pada beberapa keturunan, dan kanker
tulang yang cenderung diturunkan secara genetik.
6. Riwayat psikososial
Merupakan respon emosi klien terhadap penyakit yang dideritanya dan
peran klien dalam keluarga dan masyarakat serta respon atau pengaruhnya
dalam kehidupan sehari-harinya baik dalam keluarga ataupun dalam
masyarakat
7. Aktivitas/istirahat
a. Kehilangan fungsi pada bagian yang terkena
b. Keterbatasan mobilitas
8. Sirkulasi
a.   Hipertensi (kadang terlihat sebgai respon nyeri/ansietas)
b. Hipotensi (respon terhadap kehilangan darah)
c.   Tachikardia
d.   Penurunan nadi pada bagian distal yang cedera
e.   Capillary refill melambat
f.   Pucat pada bagian yang terkena
g.   Masa hematoma pada sisi cedera
9. Neurosensori
a. Kesemutan
b. Deformitas, krepitasi, pemendekan
c. Kelemahan
10. Kenyamanan
a. Nyeri tiba-tiba saat cedera
b. Spasme/kram otot
11.   Keamanan
a. Laserasi kulit
b. Perdarahan
c. Perubahan warna
d. Pembengkakan lokal
(Musliha, 2010)
7. PEMERIKSAAN FISIK
a. Gambaran umum
Perlu menyebutkan keadaan umum : baik atau buruknya yang dicatat
adalah tanda-tanda seperti :
1) Kesadaran penderita : apatis, sopor, koma, gelisah, komposmentis,
tergantung pada keadaan klien.
2) Kesakitan keadaan penyakit : akut, kronik, ringan, sedang, berat dan
pada kasus fraktur biasanya akut.
3) Tanda-tanda vital tidak normal karena gangguan baik fungsi maupun
bentuk.
b. Sistem integumen
Biasanya terdapat erytema, suhu sekitar daerah trauma meningkat,
bengkak, oedema, nyeri tekan.
c. Mata
Terdapat gangguan seperti konjungtiva anemis akibat terjadi perdarahan.
d. Keadaan lokal
Harus diperhitungkan kedaan proksimal serta bagian distal terutama
mengenai status neurovaskuler (untuk status neurovaskuler ; 5 P yaitu Pain,
Palor, Parestesia, Pulse, Pergerakan). Pemeriksaan pada sistem
muskuloskeletal adalah :
1) Look (Inspeksi)
Perhatikan apa yang dapat dilihat antara lain :
a) Cicatriks (jaringan parut baik yang dialami maupun buatan seperti
bekas operasi)
b) Cape au lait spot (birth mark)
c) Fistulae
d) Warna kemerahan atau kebiruan (livide) atau hyperpigmentasi
e) Benjolan, pembengkakan atau cekungan dengan hal-hal yang tidak
biasa (abnormal)
f) Posisi dan bentuk dari ekstremitas (deformitas)
g) Posisi jalan
2) Feel (palpasi)
pada waktu palpasi, terlebih dahulu posisi penderita diperbaiki mulai
dari posisi netral (posisi anatomi). Pada dasarnya ini merupakan
pemeriksaan yang memberikan informasi dua arah, baik pemeriksa
maupun klien.
Yang perlu dicatat adalah :
a) Perubahan suhu disekitar trauma (hangat) dan kelembaban kulit
capilary reffil time : normal >3 detik
b) Apabila ada pembengkakan, apakah terdapat fluktuasi atau oedema
terutama disekitar persendian.
c) Nyeri tekan (tenderness), krepitasi, catat letak kelainan (1/3
proksimal, tengah atau distal).
Otot tonus pada wkatu relaksasi atau kontraksi, benjolan yang
terdapat dipermukaan atau melekat pada tulang. Selain itu juga
diperiksa status neurovaskuler. Apabila ada benjolan, maka sifat
benjolan perlu dideskripsikan permukaannya, konsistensinya,
pergerakan terhadap dasar atau permukaannya, nyeri atau tidak, dan
ukuranny.
3) Move (pergerakan terutama lingkup gerak)
Setelah melakukan pemeriksaan feel, kemudian diteruskan dengan
menggerakkan ekstremitas dan dicatat apakah terdapat keluhan nyeri
pada pergerakan. Pencatatan lingkup gerak ini perlu, agar dapat
mengevaluai keadaan sebelum dan sesudahnya. Gerakan sendi dicatat
dengan ukuran derjat, dari tiap arah pergerakan mulai dari titik o(posisi
netral) atau dalam ukuran metrik. Pemeriksaan ini menentukan apakah
ada gangguan gerak (mobilisasi) atau tidak. Pergerakan yang dilihat
gerakan aktif dan pasif.
8. PEMERIKSAAN DIAGNOSTIK
a. Pemeriksaan Radiologi
1) X-Ray
Sebagai penunjang, pemeriksaan yang penting adalah “pencitraan”
menggunakan sinar rontgen (x-Ray), untuk mendapatkan gambaran 3
dimensi keadaan dan kdudukan tulang yang sulit, maka diperlukan 2
proyeksi yaitu AP atau PA dan lateral. Dalam keadaan tertentu
diperlukan proyeksi tambahan (khusus) aa indikasi untuk
memperlihatkan pathologi yang dicari karena adanya superposisi. Perlu
disadari bahwa permintaan x-ray harus atas dasar indikasi kegunaan
pemeriksaan penunjang dan hasilnya dibaca sesuai dengan permintaan.
Hal yang harus dibaca pada x-ray : bayangan jaringan lunak. Tipis
tebalnya korteks sebagai akibat reaksi periosteum atau biomenik atau
juga rotasi. Trobukulasi ada tidaknya rare fraction. Sela sendi serta
bentuknya arsitektur sendi.
2) Tonografi
Menggambarkan tidak satu struktur saja tapi struktur yang lain tertutup
yang sulit divisualisasi. Pada kasus ini ditemukan kerusakan struktur
yang kompleks dimana tidak pada satu struktur saja tapi pada struktur
lain juga mengalaminya.
3) Myelografi
Menggambarkan cabang-cabang saraf spinal dan pembuluh darah
diruang tulang vertebrae tang mengalami kerusakan akibat trauma.
4) Arthrografi
Menggambarkan jaringan-jaringan yang rusak karena ruda paksa.
5) Computed Tomografi-Scanning
Menggambarkan patogen secara transversal dari tulang dimana
didapatkan suatu struktur tulang yang rusak.
b. Pemeriksaan Laboratorium
1) Kalsium serum dan fosfor serum meningkat pada tahap penyembuhan
tulang.
2) Alkalin fosfat meningkat pada kerusakan tulang dan menunjukkan
kegiatan osteoblastik dalam membentuk tulang.
3) Enzim otot seperti Kreatinin Kinase, lakta Dehidrogenase (LDH-5),
Asparpat Amino Transferase (AST), Aldolase yang meningkat pada
tahap penyembuhan tulang.
c. Pemeriksaan lain-lain
1) Pemeriksaan mikroorganisme kultur dan test sensitivitas : didapatkan
mikroorganisme penyebab infeksi.
2) Biopsi tulang dan otot : pada intinya pemeriksaan ini sama dengan
pemeriksaan diatas tapi lebih diindikasikan bila terjadi infeksi.
3) Elektromyografi : terdapat kerusakan konduksi saraf yang diakibatkan
fraktur.
4) Arthoscopy : didapatkan jaringan ikat yang rusak atau sobek karena
trauma yang berlebihan.
5) Indium imaging : pada pemeriksaan ini didapatkan adanya infeksi pada
tulang.
6) MRI : menggambarkan semua kerusakan akibat fraktur.

9. PENATALAKSANAAN KLINIS
Fraktur biasanya menyertai trauma. Untuk itu sangat penting untuk
melakukan pemeriksaan terhadap jalan napas (airway), proses pernafasan
(breathing) dan sirkulasi (circulation), apakah terjadi syok atau tidak. Bila
sudah dinyatakan tidak ada masalah lagi, baru lakukan anamnesis dan
pemeriksaan fisis secara terperinci.
Penatalaksanaan kegawatdaruratan meliputi:
a. Inspeksi bagian tubuh yang fraktur
1) Inspeksi adanya laserasi, bengkak dan deformitas
2) Observasi angulasi, pemendekan dan rotasi
3) Palpasi nadi distal untuk fraktur dan pulsasi semua perifer
4)  Kaji suhu dingin, pemucatan, penurunan sensasi atau tidak adanya
pulsasi; hal tersebut menandakan cedera pada saraf atau suplai
darah terganggu
5) Tangani bagian tubuh dengan lembut dan sesedikit mungkin
gerakan yang kemungkinan dapat menyebabkan gerakan pada
tulang yang fraktur
b.   Berikan bebat sebelum pasien dipindahkan; bebat dapat mengurangi nyeri,
memperbaiki sirkulasi, mencegah cedera lebih lanjut, dan mencegah
fraktur tertutup menjadi fraktur terbuka.
1) Imobilisasi sendi diatas dan dibawah daerah fraktur. Tempatkan
satu tangan distal terhadap fraktur dan berikan satu penarikan
ketika menempatkan tangan lain diatas fraktur untuk menyokong.
2) Pembebatan diberikan diberikan meluas sampai sendi dekat
fraktur.
3) Periksa status vaskuler ekstremitas setelah pembebatan;
periksawarna, suhu, nadi dan pemucatan kuku.
4) Kaji untuk adanya deficit neurologi yang disebabkan oleh fraktur.
5)   Berikan balutan steril pada fraktur terbuka.
c. Kaji adanya keluhan nyeri atau tekanan pada area yang mengalami 
cedera.
d.  Pindahkan pasien secara hati-hati dan lembut, untuk meminimalisasi
gerakan yang dapat menyebabkan gerakan pada patahan tulang.
e. Lakukan penanganan pada trauma yang spesifik (trauma femur)
Femur biasanya patah pada sepertiga tengah, walaupun pada orang tua
selalu dipikirkan patah pangkal tulang paha (collum femoris). Fraktur ini
dapat menjadi fraktur terbuka dan kalau hal ini terjadi harus ditangani
sebagai fraktur terbuka. Banyak otot disekeliling femur dan perdarahan
massif dapat terjadi pada paha. Fraktur femur bilateral dapat menyebabkan
kehilangan sampai dari 50% volume sirkulasi darah.
(Paula Kristanty, 2009)

Selain itu, Empat tujuan utama dari penanganan fraktur adalah :


a. Untuk meghilangkan nyeri
Nyeri yang timbul pada fraktur bukan karena frakturnya sendiri, namun
karena terluka jaringan disekitar tulang yang patah tersebut. Untuk
mengurangi nyeri tersebut, dapat diberikan obat penghilang rasa nyeri dan
juga dengan teknik imobilisasi (tidak menggerakkan daerah yang fraktur).
Teknik imobilisasi dapat dicapai dengan cara pemasangan bidai atau gips.
1) Pembidaian : benda keras yang ditempatkan di daerah sekeliling tulang

2) Pemasangan gips
Merupakan bahan kuat yang dibungkuskan disekitar tulang yang patah.
Gips yang ideal adalah yang membungkus tubuh sesuai dengan bentuk
tubuh. Indikasi dilakukan pemasangan gips adalah :
a) Immobilisasi dan penyangga fraktur
b) Istirahatkan dan stabilisasi
c) Koreksi deformitas
d) Mengurangi aktifitas
e) Membuat cetakan tubuh orthotik
Sedangkan hal-hal yang perlu diperhatikan dalam pemasangan gips
adalah :
a) Gips yang pas tidak akan menimbulkan perlukaan
b) Gips patah tidak bisa digunakan
c) Gips yang terlalu kecil atau terlalu longgar sangat membahayakan
klien
d) Jangan meruak atau menekan gips
e) Jangan pernah memasukkan benda asing ke dalam gips/menggaruk
f) Jangan meletakkan gips lebih rendah dari tubuh terlalu lama
b. Untuk menghasilkan dan mempertahankan posisi yang ideal dari fraktur
Bidai dan gips tidak dapat mempertahankan posisi dalam waktu yang lama.
Untuk itu diperlukan lagi teknik yang lebih mantap seperti pemasangan
traksi kontinyu, fiksasi eksternal, atau fiksasi internal tergantung dari jenis
frakturnya sendiri.
1) Penarikan (traksi)
Secara umum trakssi dilakukan dengan menempatkan beban dengan tali
pada ekstremitas pasien. Tempat tarikan disesuaikan sedemikian rupa
sehingga arah tarikan segaris dengan sumbu panjang tulang yang patah.
Metode pemasangan traksi antara lain :
a) Traksi manual : tujuanya adalah perbaikan dislokasi, mengurangi
fraktur dan pada keadaan emergency.
b) Traksi mekanik, ada 2 macam :
- Traksi kulit (skin traction)
Dipasang pada dasar sistem skeletal untuk struktur yang lain
misal otot. Digunakan dalam waktu 4 minggu dan beban <5 kg.
- Traksi skeletal
Merupakan traksi definitif pada orang dewasa yang merupakan
balanced traction. Dilakukan untuk menyempurnakan luka
operasi dengan kawat metal/penjepit melalui tulang/jaringan
metal.
Kegunaan pemasangan traksi antara lain :
a) Mengurangi nyei akibat spasme otot
b) Memperbaiki & mencegah deformitas
c) Immobilisasi
d) Difraksi penyakit (dengan penekanan untuk nyeri tulang sendi)
e) Mengencangkan pada perlekatannya
Prinsip pemasangan traksi :
a) Ali utama dipasang di pin rangka sehingga menimbulkan gaya tarik
b) Berat ekstremitas dengan alat penyokong harus seimbang dengan
pemberat agar reduksi dapat dipertahankan
c) Pada tulang-tulang yang menonjol sebaiknya diberi lapisan khusus
d) Traksi dapat bergerak bebas dengan katrol
e) Pembera harus cukup tinggi di atas permukaan lantai

2) Dilakukan pembedahan untuk menempatkan piringan atau batang


logam pada pecaan-pecahan logam.
Pada saat ini metode penatalaksnaan yang paling banyak
keunggulannya mungkin adalah pembedahan. Metode perawatan ini
disebut fiksasi interna dan reduksi terbuka. Pada umumnya insisi
dilakukan pada tempat yang mengalami cedera dan diteruskan
sepanjang bidang anatomik menuju tempat yang mengalami fraktur.
Hematoma fraktur dan fragmen-fragmen tulang yang telah mati
diirigasi dari luka. Fraktur kemudian direposisi dengan tangan agar
menghasilkan posisi yang normal kembali. Sesudah direduksi, fragmen-
fragmen tulang ini dipertahankan dengan alat-alat ortopedik berupa
pen, skrup, pelat dan paku.
Keuntungan perawatn fraktur dengan pembedahan antara lain :
a. Ketelitian reposisi fragmen tulang yang patah
b. Kesempatan untuk memeriksa pembuluh darah dan saraf yang
berada didekatnya
c. Dapat mencapai stabilitas fiksasi yang cukup memadai
d. Tidak perlu memasang gips dan alat-alat stabilitas yang lainnya
e. Perawatan di RS dapat ditekan seminimal mungkin, terutama pada
kasus-kasus yang tanpa komplikasi dan dengan kemampuan
mempertahankan fungsi sendi dan fungsi otot hampir normal
selama penatalaksanaan dijalankan
1) Fiksasi Interna
Intramedullary nail ideal untuk fraktur transversal, tetapi untuk
fraktur lainnya kuran cocok. Fraktur dapat dipertahankan lurus dan
terhadap panjangnya dengan nail, tetapi fiksasi mungkin tidak cukup kuat
untuk mengontrol rotasi. Nailing diindikasikan jika hasil pemeriksaan
radiologi memberi kesan bahwa jaringan lunak mengalami interposisi di
antara ujung tulang karena hal ini hampir selalu menyebabkan non-union.
Keuntungan intra medullary nailing adalah dapat memberikan
stabilitas longitudinal serta kesejajaran (alignment) serta membuat
penderita dapat dimobilisasi cukup cepat untuk meninggalkan rumah sakit
dalam waktu 2 minggu setelah fraktur. Kerugian meliputi anestesi, trauma
bedah tambahan dan resiko infeksi.
closed nailing memungkinkan mobilisasi yang tercepat dengan
trauma yang minimal, tetapi pasing sesuai untuk fraktur transversal tanpa
pemendekan. Comminuted fracture paling baik dirawat dengan locking
naik yang dapat mempertahankan panjang dan rotasi.

2) Fiksasi Eksterna
bila fraktur yang dirawat dengan traksi stabil dan massa kalus
terlihat pada pemeriksaan radiologis, yang biasanya pada minggu ke enam,
cast brace dapat dipasang. Fraktur dengan intramedullary naik yang tidak
memberi fiksasi yang rigid juga cocok untuk tindakan ini.

3. agar terjadi penyatuan tulang kembali


Biasanya tulang yang patah akan mulai menyatu dalam waktu 4
minggu dan akan menyatu dengan sempurna dalam waktu 6 bulan.
Namun terkadang terdapat gangguan dalam penyatuan tulang,
sehingga dibutuhkan graft tulang.
4. untuk mengembalikan fungsi seperti semula
Mobilisasi yang lama dapat mengakibatkan mengecilnya otot dan
kakunya sendi
Maka dari itu diperlukan upaya mobilisasi secepat mungkin.

10. FISIOLOGI PENYEMBUHAN TULANG


Tulang beregenerasi sama seperti jaringan tubuh yang lain. Fraktur
merangsang tubuh untuk menyembuhkan tulang yang patah dengan jalan
membentuk tulang baru diantara ujung patahan tulang. Tulang baru
dibentuk oleh aktivitas sel-sel tulang. Ada lima stadium penyembuhan
tulang, yaitu :
a. Stadium 1 pembentukan hematoma
Pembuluh darah robek dan terbentuk hematoma disekitar daerah
fraktur. Sel-sel darah membentuk fibrin guna melindungi tulang yang
rusak dan sebagai tempat tumbuhnya kapiler baru dan fibroblast.
Stadium ini berlangsung 24-48 jam dan perdarahan berhenti sama
sekali.

b. Stadium 2 Proliferasi Seluler


Pada stadium ini terjadi proliferasi dan differensiasi sel menjadi fibro
kartilagi yang berasal dari periosteum, endosteum dan bone marrow
yang telah mengalami trauma. Sel-sel yang mengalami proliferasi ini
terus masuk kedalam lapisan yang lebih dalam dan disanalah
osteoblast beregenerasi dan terjadi proses osteogenesis. Dalam
beberapa hari terbentuklah tulang baru yang menggabungkan kedua
fragmen tulang yang patah. Fase ini berlangsung selama 8 jam setelah
fraktur sampai selesai, tergantung frakturnya.

c. Stadium 3 Pembentukan Kallus


Sel-sel yang berkembang memiliki potensi yag kondrogenik dan
osteogenik, bila diberikan keadaan yang tepat, sel itu akan mulai
membentuk tulang dan juga kartilago. Populasi sel ini dipengaruhi oleh
kegiatan steoblast dan osteoklast mulai berfungsi dengan
mengabsorbsi sel-sel tulang yang mati. Massa sel yang tebal dengan
tulng yang imatur dan kartilago, membentuk kallus atau bebat pada
permukaan endosteal dan periosteal. Sementara tulang yang imatur
(anyaman tulang) menjadi lebih padat sehingga gerakan pada tempat
fraktur berkurang pada 4 minggu setelah fraktur menyatu.

d. Stadium 4-Konsolidasi
Bila aktivitas osteoclast dan osteoblast berlanjut, anyaman tulang
berubah menjadi lamellar. Sistem ini sekarang cukup kaku dan
emungkinkan osteoclast menerobos melalui reruntuhan pada garis
fraktur, dan tepat dibelakangnya osteoclast mengisi celah-celah yang
tersisa diantara fragmen dengan tulang yang baru. Ini adalah proses
yang lmbat dn mungkin perlu beberapa bulan sebelum tulang kuat
untuk membawa beban yang normal.

e. Stadium 5-Remodelling
Fraktur telah dijembatani oleh suatu manset tulang yang padat. Selama
beberapa bulan atau tahun, pengelaan kasar ini dibentuk ulang oleh
proses resorbsi dan pembentukan tulang yang terus-menerus. Lamellae
yang telah tebal diletakkan pada tempat yang tekanannya lebih tinggi,
dinding yang tidak dikehendaki dibuang, rongga sumsum dibentuk,
dan akhirnya dibentuk struktur yang mirip dengan normalnya. (Black,
J. M, et al, 1993 dan Apley. A. Graham, 1993).

11. KOMPLIKASI
a. Komplikasi awal
1) Kerusakan Arteri
Pecahnya arteri karena trauma bisa ditandai dengan tidak adanya nadi,
CRT menurun, cyanosis bagian distal, hematoma yang lebar, dan
dingin pada ekstremitas yang disebabkan oleh tindakan emergensi
splinting, perubahan posisi pada yang sakit, tindkan reduki dan
pembedahan.
2) Kompartement Syndrom
Kompartement syndrom merupakan komplikasi serius yang terjadi
karena terjebaknya otot, tulang, saraf, dan pembuluh darahdalam
jaringan parut. Ini disebabkan oleh oedema atau perdarahan yang
menekan otot, saraf dan pembuluh darah. Selain itu karena tekanan
dari luar seperti gips dan pembebatan yang terlalu kuat.
3) Fat embolism Syndrom
Fat Embolism Syndrom (FES) adalah komplikasi serius yang sering
terjadi pada kasus fraktur tulang panjang. FES terjadi karena sel-sel
lemak yang dihasilkan bone morrow kuning masuk ke aliran darah
dan menyebabkan tingkat oksigen dalah darah rendah yang ditandai
dengan gangguan pernafasan, takikardi, hipertensi, takipneu, demam.
4) Infeksi
Sistem pertahanan tubuh rusak bila ada trauma pada jaringan. Pada
trauma ortopedi infeksi dimulai pada kulit (superficial) dan masuk ke
dala. Ini biasanya terjadi pada kasus fraktur terbuka, tapi bisa juga
karena penggunaan bahan lain dalam pembedahan seperti pin dan plat.
5) Avaskuler Nekrosis
Avaskuler Nekrosis (AVN) terjadi karena aliran darah ke tulang rusak
atau terganggu yang bisa menyebabkan nekrosis tulang dan diawali
dengan adanya Volkman’s Iskemik.
6) Shock
Shock terjadi karena kehilangan banyak darah dan meningkatnya
permeabilitas kapiler yang bisa menyebabkan menurunnya oksigen.
Ini biasanya terjadi pada fraktur.
b. Komplikasi Dalam Waktu lama
1) Delayed Union
Delayed Union merupakan kegagalan fraktur berkonsolidasi sesuai
dengan waktu yang dibutuhkan tulang untuk menyambung. Ini
disebabkan karena penurunan suplai darah ke tulang.
2) Nonunion
Nonunion merupakan kegagalan fraktur berkonsolidasi dan
memproduksi sambungan yang lengkap, kuat dan stabil setelah 6-9
bulan. Nonunion ditandai dengan adanya prgerakan yang berlebih
pada sisi fraktur yang membentuk sendi palsu atau pseudoarthrosis.
Ini juga disebabkan karena aliran darah yang kurang.
3) Malunion
Malunion adalah suatu keadaan dimana tulang yang patah telah
sembuh dalam posisi yang tidak pada seharusnya, membentuk sudut
atau miring. Malunion dilakukan dengan pembedahan dan
reimobilisasi yang baik.

12. ANALISA DATA


PRE OPERATIF
N Masalah
Data Etiologi
O Keperawatan
1 DS : Kondisi patologis, osteoporosis, Gangguan
- Pasien mengeluh neoplasma mobilitas fisik
sulit
menggerakkan Absorbsi calsium
ekstremitas
- Pasien mengeluh Rentan fraktur
nyeri saat bergerak
- Pasien mengatakan Fraktur
enggan melakukan
pergerakan Konservatif
- Pasien mengatakan
merasa cemas saat Bidai, gips, traksi
bergerak
DO : Gangguan mobilitas fisik
- Kekuatan otot
menurun
- Rentang gerak
menurun
- Sendi kaku
- Gerakan tidak
terkoordinasi
- Gerakan terbatas
N Masalah
Data Etiologi
O Keperawatan
- Fisik lemah

2 DS : - Kondisi patologis, osteoporosis, Perfusi


DO : neoplasma jaringan perifer
- Pengisian kapiler tidak efektif
>3 detik Absorbsi calsium
- Nadi perifer
menurun atau tidak Rentan fraktur
teraba
- Akral teraba dingin Fraktur
- Warna kulit pucat
- Turgor kulit Konservatif
menurun
Bidai, gips, traksi

Perfusi jaringan perifer tidak


efektif
3 DS : Trauma langsung/tidak langsung hipovolemia
- Merasa lemah dan
haus Fraktur
DO :
- Frekuensi nadi perdarahan
meningkat
- Nadi teraba lemah Hipovolemia
- TD menurun
- Tekanan nadi
menyempit
- Turgor kulit
menurun
- Membran mukosa
kering
- Volume urine
menurun
4 DS ; Trauma langsung/tidak langsung ansietas
- Pasien mengatakan
merasa bingung Fraktur
- Pasien meras
khawatir dengan tindakan bedah
akibat dari kondisi
yang dihadapi pre op
N Masalah
Data Etiologi
O Keperawatan
- Psien sulit
berkonsentrasi defisit pengetahuan
DO :
- Pasien tampak ansietas
gelisah
- Pasien tampak
tegang dan sulit
tidut
5 DS : fraktur Defisit
- Menanyakan pengetahuan
masalah yang perubahan status kesehatan
dihadapi
DO : kurang informasi
- Menunjukkan
prilaku tidak sesuai defisit pengetahuan
anjuran
- Menunjukkan
persepsi yang
keliru terhadap
masalah
6 DS : fraktur Nyeri akut
- Mengeluh nyeri
DO : cedera sel
- Tampak meringis
- Bersikap protektif degranulasi sel mast
- Gelisah
- Frekuensi nadi pelepasan mediator kimia
meningkat
- Sulit tidur nociceptor

medulla spinalis

korteks serebri

nyeri akut
7 DS : fraktur Gangguan
- Pasien mengeluh pertukaran gas
sesak diskontinuitas fragmen tulang
DO :
- PCO2 lepasnya lipid pada sumsum tulang
N Masalah
Data Etiologi
O Keperawatan
meningkat/menuru
n terabsorbsi masuk ke aliran darah
- PO2 menurun
- Takikardia emboli
- pH arteri
meningkat/menuru oklusi arteri paru
n
- adanya bunyi nafas nekrosisi jaringan paru
tambahan
- sianosis luas permukaan paru menurun
- adanya nafas
cuping hidung penutunan laju difusi

gangguan pertukaran gas

8 DS : - fraktur Gangguan
DO : integritas kulit
- kerusakan luka terbuka
jaringan/lapisan
kulit gangguan integritas kulit
- nyeri
- perdarahan
- kemerahan
- hematoma
9 DS : - Penyakit kronis Resiko infeksi
DO : -
efek prosedur invasif

peningkatan paparan organisme


patogen lingkungan

Ketidakadekuatan pertahanan
tubuh primer

Ketidakadekuatan pertahanan
tubuh sekunder

resiko infeksi
N Masalah
Data Etiologi
O Keperawatan

10 DS : - Hiperglikemia Resiko
DO : - disfungsi
Obstruksi vaskuler neurovaskuler

fraktur

Imobilisasi

penekanan mekanis (tornikuet,


gips, balutan, restrain)

pembedahan ortopedi

trauma

luka bakar

POST OPERATIF
N Masalah
Data Etiologi
O Keperawatan
1 Post op. pemasangan plat Nyeri Akut
¯
Kerusakan periosteum dan
DS :
pembuluh darah di cortex
- Mengeluh nyeri
sumsum tulang
DO :
¯
- Tampak meringis
Merangsang pengeluaran
- Bersikap protektif
zat bradikinin dan
- Gelisah
histamin
- Frekuensi nadi
¯
meningkat
Rangsang diterima oleh
Sulit tidur
nociceptor
¯
Nyeri dipersepsikan
2 DS : Fraktur Gangguan
- Pasien mengeluh ¯ mobilitas fisik
sulit menggerakkan Post op pemasangan plat
ekstremitas ¯
- Pasien mengeluh
N Masalah
Data Etiologi
O Keperawatan
nyeri saat bergerak
- Pasien mengatakan
enggan melakukan
pergerakan
- Pasien mengatakan
merasa cemas saat
bergerak Immobilisasi
DO : ¯
- Kekuatan otot Kelemahan anggota gerak
menurun ¯
- Rentang gerak Keterbatasan gerak
menurun ¯
- Sendi kaku Gangguan mobilitas fisik
- Gerakan tidak
terkoordinasi
- Gerakan terbatas
- Fisik lemah

3 Perubahan struktur tubuh/ Gangguan citra


bentuk tubuh tubuh

DS: Perubahan fungsi tubuh


- Mengungkapakan
kehilangan/ Perubahan fungsi Kognitif
kecatatan tubuh
DO: ketidaksesuaian budaya,
- Kehilangan bagian keyakinan atau sistem nilai
tubuh
- Fungsi /struktur Transisi perkembangan
tubuh berubah/hilang
gangguan psikososial

Prosedur pembedahan
4 DS: Gangguan musculoskeletal Defisit
- Menolak melakukan perawatan diri
perawatan diri gangguan neuromuskuler
DO:
- Tidak mampu mandi/ Kelemahan
- mengenakan
N Masalah
Data Etiologi
O Keperawatan
gangguan psikologis dan/
pakaian/makan/ ke atau psikotik
toilet/ berhias secara
mandiri penurunan motivasi/ minat
- Minat melakukan
perawatan diri Ketidak mampuan untuk
kurang melakukan aktivitas

5 DS : Trauma langsung/tidak Defisit Nutrisi


- nafsu makan langsung
menurun
- kram/nyeri abdomen Fraktur
DO :
- berat badan menurun tindakan bedah
minimal 10% di
bawah rentang ideal post op

efek anestesi

mual muntah

defisit nutrisi

13. DIAGNOSIS KEPERAWATAN PRIORITAS


PRE OPERATIF
a. Nyeri akut berhubungan dengan spasme otot, gerakan fragmen tulang,
edema, cedera jaringan lunak, pemasangan traksi
b. Gangguan mobilitas fisik berhubungan dengan kerusakan rangka
neuromuskuler, nyeri, imobilisasi
c. hipovolemia berhubungan dengan perdarahan
d. Gangguan integritas kulit berhubungan dengan fraktur terbuka
e. perfusi jaringan perifer tidak efektif berhubungan dengan tindakan
konservatif (pemasangan bidai, gips, traksi)
f. Gangguan pertukaran gas berhubungan dengan perubahan aliran darah,
emboli, perubahan membran alveolar/kapiler (interstisial, edema paru,
kongesti)
g. cemas berhubungan dengan kurangnya pengetahuan
h. Kurang pengetahuan berhubungan dengan kurang terpajan atau salah
interpretasi terhadap informasi, keterbatasan kognitif, kurang
akurat/lengkapnya informasi yang ada.
i. risiko infeksi ditandai dengan penyakit konis (diabetes melitus), efek
prosedur invasive, malnutrisi, peningkatan paparan organisme pathogen
lingkungan, ketidakadekuatan pertahanan tubuh primer (gangguan
peristaltic, kerusakan integritas kulit, perubahan sekresi pH, penurunan
kerja siliaris, ketuban pecah lama, ketuban pecah sebelum waktunya,
merokok, statis cairan tubuh), ketidakadekuatan pertahanan tubuh
sekunder (penurunan hemoglobin, imunosupresi, leukopenia, supresi
respon inflamasi, vaksinasi tidak adekuat)
j. resiko difungsi neurovaskuler ditandai dengan hiperglikemia, obstruksi
vaskuler, fraktur, imobilisasi, penekanan mekanis (torniket, gips, balutan,
restrain)

POST OPERATIF
a. Nyeri berhubungan dengan terputusnya kontinuitas tulang post opp dari
agen cedera fisik (prosedur operasi)
b. Gangguan mobilitas fisik berhubungan dengan kelemahan, kerusakan
integritas struktur tulang, gangguan moskuloskeletal, program
pembatasan gerak.
c. Gangguan citra tubuh berhubungan dengan perubahan struktur/ bentuk
tubuh, perubahan fungsi tubuh, perubahan fungsi kognitif,
ketidaksesuaian budaya, keyakinan atau sistem nilai, dan prosedur
pembedahan
d. Defisit perawatan diri berhubungan dengan gangguan musculoskeletal,
gangguan nueromuskular, kelemahan, penurunan motivasi/ minat
e. defisit nutrisi berhubungan dengan efek anestesi, ketidakmanpuan
menelan makanan, mencerna makanan, peningkatan kebutuhan
metabolisme.
14. RENCANA ASUHAN KEPERAWATAN
PRE OPERATIF
DIAGNOSIS TUJUAN DAN KRITERIA
NO INTERVENSI RASIONAL
KEPERAWATAN HASIL
1 Nyeri akut Setelah dilakukan tindakan Manajemen Nyeri
berhubungan dengan keperawatan selama 3x24 jam Observasi Agar dapat memberikan terapi
spasme otot, gerakan diharapkan tingkat nyeri 1. Identifikasi lokasi, karakteristik, durasi, frekuensi, kualitas, intensitas yang sesuai
fragmen tulang, menurun. nyeri.
edema, cedera Dengan kriteria hasil : 2. Identifikasi skala nyeri
jaringan lunak, - Pasien melaporkan nyeri 3. Identifikasi respon nyeri non verbal
pemasangan traksi terkontrol (meningkat) 4. Identifikasi faktor yang memperberat dan meringankan nyeri.
- Kemampuan mengenali 5. Identifikasi pengetahuan dan keyakinan tentang nyeri.
onset nyeri (cukup 6. Identifikasi pengaruh budaya terhadap respon nyeri.
meningkat) 7. Identifikasi pengaruh nyeri pada kualitas hidup Menekan stimulus terhadap
- Kemampuan menggunakan 8. Monitor keberhasilan terpai komplementer yang sudah diberikan nyeri sehingga nyeri berkurang
teknik non-farmakologi 9. Monitor efek samping penggunaan analgetik
(meningkat) Teurapeutik Menurunkan ketegangan otot
- Dukungan dari orang 1. Berikan teknik non farmakologis untuk mengurangi rasa nyeri (mis. dan memfokuskan kembali
terdekat (meningkat) TENS, kompres hangat atau dingin) perhatian pasien
2. Kontrol lingkungan yang memperberat rasa nyeri ( suhu ruangan,
kebisingan)
DIAGNOSIS TUJUAN DAN KRITERIA
NO INTERVENSI RASIONAL
KEPERAWATAN HASIL
3. Fasilitasi istirahat tidur
4. Pertimbangkan jenis dan sumber nyeri dalam pemilihan strategi
meredakan nyeri.
Edukasi
1. Jelaskan penyebab, periode, dan pemicu nyeri
2. Jelaskan strategi meredakan nyeri
3. Anjurkan memonitor nyeri secara mandiri
4. Anjurkan menggunakan analgetik secara tepat
5. Ajarkan teknik non farmakologis untuk mengurangi rasa nyeri.
Kolaborasi
Kolaborasi pemberian analgetic
2 Gangguan mobilitas Setelah dilakukan tindakan Dukungan Ambulasi Melatih latihan gerak
fisik berhubungan keperawatan selama 3x24 jam Observasi ekstremitas pasien serta
dengan kerusakan diharapkan mobilitas fisik 1. Identifikasi adanya nyeri atau keluha fisik lainnya mencegah adanya kontraktur
rangka meningkat 2. Identifikasi toleransi fisik melakukan ambulasi sendi dan atropi otot
neuromuskuler, nyeri, Dengan krieria hasil ; 3. Monitor frekuensi jantung dan tekanan darah sebelum memuai
imobilisasi - Pergeraakan ekstremitas ambulasi
meningkat 4. Monitor kondisi umum selama melakukan ambulasi
- Kekuatan otot meningkat Terapeutik
DIAGNOSIS TUJUAN DAN KRITERIA
NO INTERVENSI RASIONAL
KEPERAWATAN HASIL
Rentang gerak (ROM) 1. Fasilitasi aktivitas ambulasi dengan alat bantu (mis. Tongkat)
meningkat 2. Fasilitasi melakukan mobilisasi fisik
3. Libatkan keluarga untuk membantu pasien dalam meningkatkan
ambulasi
Edukasi
1. Jelaskan tujuan dan prosedur ambulasi
2. Anjurkan melakukan ambulasi dini
3. Ajarkan ambulasi sederhana yang harus dilakukan
3 hipovolemia Setelah dilakukan tindakan Manajemen Hipovolemia -mengetahui keadaan umum
berhubungan dengan keperawatan selama` 3x24 jam Observasi pasien
perdarahan diharapkan status cairan 1. periksa tanda dan gejala hipovolemia (mis. Frekuensi nadi -untuk mengetahui tanda-tanda
membaik meningkat, nadi teraba lemah, tekanan darah menurun, tekanan nadi dehidrasi
Dengan kriteria hasil : menyempit, turgor kulit menurun, membran mukosa kering, volume -untuk mendapatkan cairan yang
- integritas kulit dan jaringan urine menurun, hematokrit meningkat, haus dan lemah) seimbang
membaik 2. monitor intake dan output cairan
- keseimbangan cairan
seimbang terapeutik
- perfusi perifer meningkt 1. hitung kebutuhan cairan
2. berikan posisi modified trendelenberg
DIAGNOSIS TUJUAN DAN KRITERIA
NO INTERVENSI RASIONAL
KEPERAWATAN HASIL
3. berikan asupan cairan oral
edukasi
1. anjurkan memperbanyak asupan cairan oral
2. anjurkan menghindari perubahan posisi mendadak
kolaborasi
1. kolaborasi pemberian cairan IV issotonis (mis. Cairan NaCl, RL)
2. kolaborasi pemberian cairan IV hipotonis (mis. Glukosa 2,5%,
NaCl 0,4%)
3. kolaborasi pemberian cairan koloid (mis. Albumin, plasmanate)
4. kolaborasi pmberian produk darah

4 Gangguan integritas Setelah dilakukan tindakan Perawatan Integritas Kulit  meningkatkan aliran darah
kulit berhubungan keperawatan selama 3x24 jam Observasi kesemua daerah
dengan fraktur terbuka diharapkan integritas kulit 1. Identifikasi penyebab gangguan integritas kulit (mis. Perubahan  menghidari tekanan dan
meningkat sirkulasi, perubahan status nutrisi, penurunan kelembaban, suhu meningkatkan aliran darah
Dengan kriteria hasil : lingkungan ekstrem, penurunan mobilitas)  menghindari tekanan yang
- Elastisitas kulit meningkat Terapeutik berlebih pada daerah yang
- Hidrasi kulit meningkat 1. Ubah posisi setiap 2 jam jika tirah baring menonjol
- Perfusi jaringan meningkat 2. Lakukan pemijatan pada area penonjolan tulang, jika perlu  menghindari kerusakan-
DIAGNOSIS TUJUAN DAN KRITERIA
NO INTERVENSI RASIONAL
KEPERAWATAN HASIL
- Suhu kulit membaik 3. Bersihkan perineal dengan air hangat kerusakan kapiler-kapiler
- Sensasi membaik 4. Gunakan produk berbahan petrolium atau minyak pada kulit kering  hangat dan pelunakan adalah
- Tekstur membaik 5. Gunakan produk berbahan ringan/alami dan hipoalergik pada kulit tanda kerusakan jaringan
sensitif  mempertahankan keutuhan
6. Hindari produk berbahan dasar alkohol pada kulit kering kulit
Edukasi
1. Anjurkan menggunakan pelembab (mis. Lotion, serum)
2. Anjurkan minum air yang cukup
3. Anjurkan meningkatkan asupan nutrisi
4. Anjurkan meningkatkan asupan buah dan sayur
5. Anjurkan menghindari terpapar suhu ekstrem
5 Gangguan pertukaran Setelah dilakukan tindakan Pemantau Respirasi  pola pernafasan yang cepat
gas berhubungan keperawatan selama 3x24 jam Observasi dan dangkal hipoventilasi
dengan perubahan diharapkan gangguan pertukaran 1. Monitor frekuensi, irama, kedalaman, dan upaya nafas mempengaruhi pertukaran
aliran darah, emboli, gas teratasi 2. Monitor pola nafas (seperti bradipnea, takipnea, hiperventilasi, gas
perubahan membran Dengan kriteria hasil : kussmaul, Cheyne-Stokes, Biot, ataksik)  setiap iregularitas suara nafas
alveolar/kapiler - Tingkat kesadaran meningkat 3. Monitor kemampuan batuk efektif dapat mengungkapkan
(interstisial, edema - Dispneu menurun 4. Monitor adanya produksi sputum penyebab gangguan
paru, kongesti) - Bunyi nafas tambahan 5. Monitor adanya sumbatan jalan nafas pertukaran gas
DIAGNOSIS TUJUAN DAN KRITERIA
NO INTERVENSI RASIONAL
KEPERAWATAN HASIL
menurun 6. Palpasi kesimetrisan ekspansi paru  Sekresi yang ditahan
- Pusing, penglihatan kabur, 7. Auskultasi bunyi nafas memperlemah pertukaran gas
diaphoresis, gelisah, nafas 8. Monitor saturasi oksigen
cuping hidung menurun 9. Monitor nilai AGD
- PCO2, PO2, Takikardia, pH 10 Monitor hasil x-ray torak
arteri, sianosis, pola nafas Terapeutik
dan warna kulit membaik. 1. Bersihkan secret pada mulut, hidung dan trakhea jika perlu
2. Pertahankan kepatenan jalan nafas
3. Berikan oksigen tambahan jika perlu
4. Tetap berikan oksigen saat pasien ditrnsportasi
5. Gunakan perangkat oksigen yang sesuai dengan tingkat mobilisasi
pasien

Kolaborasi
1. Kolaborasi penentuan oksigen
2. Kolaorasi penggunaan oksigen saat aktivitas dan/atau tidur
Edukasi
1. Jelaskan tujuan dan prosedur pemantauan
2. Informasikan hasil pemantauan, jika perlu
DIAGNOSIS TUJUAN DAN KRITERIA
NO INTERVENSI RASIONAL
KEPERAWATAN HASIL
6 Perfusi jaringan Setelah dilakukan tindakan Perawatan Sirkulasi -mengupayakan TTv pasien
perifer tidak efektif keperawatan selama 3x24 jam Observasi tetap stabil
berhubungan dengan diharapkan perfusi jaringan 1. Periksa sirkulasi perifer (nadi perifer, edema, pengisian kapiler, -mengetahui kestabilan
tindakan konservatif perifer meningkat warna, suhu, angkle brachial index) pernafasan klien
(pemasangan bidai, Dengan kriteria hasil : 2. Identifikasi faktor resiko gangguan sirkulasi Mengetahui ada tidaknya tanda-
gips, traksi) - Denyut nadi perifer 3. Monitor panas, kemerahan, nyeri, atau bengkak pada ekstremitas tanda dari dehidrasi dari klien
meningkat Terapeutik -
- Penyembuhan luka 1. Hindari pemasangan infus atau pengambilan darah di area
meningkat keterbatasan perifer
- Sensasi meningkat 2. Hindari pengukuran tekanan darah pada ekstremitas pada
- Edema perifer menurun keterbatasan perfusi
- Nyeri ekstremitas menurun 3. Hindari penekanan dan pemasangan torniquet pada area yang
- Akral membaik cedera
- Turgor kulit membaik 4. Lakukan pencegahan infeksi
5. Lakukan perawatan kaki dan kuku
6. Lakukan hidrasi
Edukasi
1. Anjurkan berhenti merokok
2. anjurkan melakukan perawatan kulit yang tepat (mis. Melembabkan
DIAGNOSIS TUJUAN DAN KRITERIA
NO INTERVENSI RASIONAL
KEPERAWATAN HASIL
kulit kering)
3. anjurkan program rehabillitasi vaskuler
4. anjurkan program diet untuk memperbaiki sirkulasi (rendah lemak
jenuh, minya ikan, omega3)
5. informasikan tanda dan gejala darurat yang harus dilaporkan (mis.
Rasa sakit yang tidak hilang sat istirahat, luka tidak sembuh,
hilangnya sensasi)
7 Resiko infeksi Setelah dilakukan tindakan Pencegahan Infeksi -meminimalkan invasi
berhubungan dengan keperawatan selama 3x24 jam Observasi mikroorganisme penyebab
fraktur luka terbuka diharapkan tingkat infeksi dapat 1. pemantauan tanda vital infeksi
berkurang 2. kaji tanda-tanda infeksi : suhu tubuh, nyeri dan perdarahan -mencegah adanya infeksi
Dengan kriteria hasil : 3. monitor tanda dan gejala infeksi sistemik dan lokal lanjutan
- kemampuan mencari 4. mencuci tangan sebelum dan sesudah setiap melakukan kegiatan
informasi tentang factor perawatan pasien
resiko, kemampuan 5. mengajarkan pasien dan keluarga tentang tanda dan gejala infeksi
mengidentifikasi factor risiko 6. mengajarkan pasien dan keluarga bagaimana menghindari infeksi
meningkat Edukasi
- kemampuan melakukan 1. rawat luka (inspeksi kondisi luka)
strategi kontrol resiko, 2. mengajarkan pasien merawat luka
DIAGNOSIS TUJUAN DAN KRITERIA
NO INTERVENSI RASIONAL
KEPERAWATAN HASIL
kemampuan mengubah
perilaku, komitmen terhadap
strategi, kemampuan
memodifikasi gaya hidup,
kemampuan menghindari
factor resiko meningkat
- kemampuan mengenali
perubahan status Kesehatan,
kemampuan berpartisifasi
dalam skrining risiko,
penggunaan fasilitas
Kesehatan, penggunaan
sistem pendukung,
pemantauan perubahan status
Kesehatan, imunisasi
meningkat
8 Resiko difungsi Setelah dilakukan tindakan Manajemen Sensasi Perifer -agar mengetahui adanya resiko
neurovaskuler keperawatan selama 3x24 jam Observasi disfungsi neurovaskuler
berhubungan dengan diharapkan status neurovaskuler 1. identifikasi penyebab perubahan sensasi -meningkatkan sirkulasi darah
DIAGNOSIS TUJUAN DAN KRITERIA
NO INTERVENSI RASIONAL
KEPERAWATAN HASIL
penurunan aliran meningkat 2. identifikasi penggunaan alat pengikat, prosthesis, sepatu, dan pakaian dan mencegah kekakuan sendi
darah pada jaringan Dengan kriteria hasil : 3. periksa perbedaan sensasi panas atau dingin -mencegah statis vena dan
vaskuler - nadi dalam batas normal 4. periksa kemampuan mengidentifikasi lokasi dan tekstur benda sebagai petunjuk perlunya
- suhu tubuh dalam batas 5. monitor terjadinya parastesia, jika perlu penyesuaian keketatan bebat
normal 6. monitor perubahan kulit -meningkatkan drainase vena
- warna kulit membaik 7. monitor adanya tromboflebitis dan trombemboli vena dan menurunkan edema kecuali
- sirkulasi arteri membaik terapeutik pada adanya keadan hambatan
1. hindari pemakaian benda-benda yang berlebihan suhunya (terlalu aliran arteri yang menyebabkan
panas atau dingin) penurunan perfusi
kolaborasi -mungkin diberikan sebagai
1. kolaborasi pemberian analgesic, jika perlu upaya profilaktik untuk
2. kolaborasi pemberian kortikosteroid, jika perlu menurunkan trombus vena
-mengevaluasi perkembangan
masalah klien dan perlunya
intervensi esuai keadaan klien
9 Ansietas berhubungan Setelah dilakukan tindakan Reduksi Ansietas -menurunkan stimulasi yang
dengan kurangnya keperawatan selama 3x24 jam Observasi berlebihan dapat mengurangi
pengetahuan diharapkan tingkat ansietas 1. identifikasi saat tingkat anxietas berubah (mis. Kondisi, waktu, kecemasan
menurun stressor -emahaman bahwa perasaan
DIAGNOSIS TUJUAN DAN KRITERIA
NO INTERVENSI RASIONAL
KEPERAWATAN HASIL
Dengan kriteria hasil : 2. identifikasi kemampuan mengambil keputusan normal dapat membantu klien
- dukungan sosial meningkat 3. monitor tanda ansietas meningkatkan beberapa perasaan
- harga diri meningkat terapeutik control emosi
- kesadaran diri dan kontrol 1. ciptakan suasana terapeutik untuk menumbuhkan kepercayaan  peran serta keluarga sangat
diri meningkat 2. temani pasien untuk mengurangi kecemasan, jika memungkinkan membantu dalam menentukan
- tingkat pengetahuan 3. pahami situasi yang membuat ansietas koping
meningkat 4. dengarkan dengan penuh perhatian  menunjukkan kepada klien
5. gunakan pendekatan yang tenang dan meyakinkan bahwa dia dapat berkomuniasi
6. motivasi mengidentifikasi situasi yang emicu kecemasan dengan efektif tanpa
7. diskusikan perencanaan realistis tentang peristiwa yang akan datang menggunakan alat khusus,
edukasi sehingga dapat mengurangi
1. jelaskan prosedur, termasuk sensasi yang mungkin dialami rasa cemasnya
2. informasikan secara factual mengenai diagnosis, pengobatan dan  dukungan daari beberapa
prognosis orang yang memiliki
3. anjurkan keluarga untuk tetap bersama pasien, jika perlu pengalaman yang sama akan
4. anjurkan melakukan kegiatan yang tidak kompetitif, sesuai sangat membantu klien
kebutuhan  agar klien menyadari sumber-
5. anjurkan mengungkapkan perasaan dan persepsi sumber apa saja yang ada
6. latih kegiatan pengalihan, untuk mengurangi ketegangan disekitarnya yang dapat
DIAGNOSIS TUJUAN DAN KRITERIA
NO INTERVENSI RASIONAL
KEPERAWATAN HASIL
7. latih penggunaan mekanisme pertahanan diri yang tepat mendukung dia berkomunikasi
8. latih teknik relaksasi
kolaborasi
1. kolaborasi pemberian obat ansietas, jika perlu
10 Defisit pengetahuan Setelah dilakukan tindakan Edukasi Kesehatan  efktifitas proses pembelajaran
berhubungan dengan keperawatan selama 3x24 jam Observasi dipengaruhi oleh kesiapan fisik
kurang terpajan atau diharapkan pengetahuan 1. identifikasi kesiapan dan kemampuan menerima informasi dan mental klien untuk
salah interpretasi meningkat 2. identifikasi faktor-faktor yag dapat meningkatkan dan menurunkan mengikuti program
terhadap informasi, Dengan kriteria hasil : motivasi prilaku-prilaku hidup bersih dan sehat pembelajaran
keterbatasan kognitif, - tingkat pengetahuan terapeutik  meningkatkan partisifasi dan
kurang meningkat 1. sediakan materi dan media pendidikan kesehatan kemandirian klien dalam
akurat/lengkapnya 2. jadwalkan pendidikan kesehatan sesuai kesepakatan perencanaan dan pelaksanaan
informasi yang ada. edukasi program terapi fisik
1. jelaskan faktor resiko yang dapat mempengaruhi kesehatan  meningkatkan kewaspadaan
2. ajarkan prilaku hidup bersih dan sehat klien untuk megenali
3. ajarkan strategi yang dapat digunakan untuk meningkatkan tanda/gejala dini yang
pengetahuan memerlukan intervensi lebih
lanjut
 upaya pembedahan mungkin
DIAGNOSIS TUJUAN DAN KRITERIA
NO INTERVENSI RASIONAL
KEPERAWATAN HASIL
diperlukan untuk mengatasi
masalah sesuai kondisi pasien

POST OPERATIF
DIAGNOSIS TUJUAN DAN KRITERIA
NO INTERVENSI RASIONAL
KEPERAWATAN HASIL
1 Nyeri berhubungan Setelah dilakukan tindakan Manajemen Nyeri
dengan terputusnya keperawatan selama 3x24 jam Observasi Agar dapat memberikan terapi
kontinuitas tulang post diharapkan nyeri menurun. 1. Identifikasi lokasi, karakteristik, durasi, frekuensi, kualitas, yang sesuai
opp Dengan kriteria hasil : intensitas nyeri.
- Pasien melaporkan nyeri 2. Identifikasi skala nyeri
terkontrol (meningkat) 3. Identifikasi respon nyeri non verbal
- Kemampuan mengenali 4. Identifikasi faktor yang memperberat dan meringankan nyeri.
onset nyeri (cukup 5. Identifikasi pengetahuan dan keyakinan tentang nyeri.
meningkat) 6. Identifikasi pengaruh budaya terhadap respon nyeri.
- Kemampuan menggunakan 7. Identifikasi pengaruh nyeri pada kualitas hidup Menekan stimulus terhadap nyeri
DIAGNOSIS TUJUAN DAN KRITERIA
NO INTERVENSI RASIONAL
KEPERAWATAN HASIL
teknik non-farmakologi 8. Monitor keberhasilan terpai komplementer yang sudah diberikan sehingga nyeri berkurang
(meningkat) 9. Monitor efek samping penggunaan analgetik
- Dukungan dari orang Teurapeutik
terdekat (meningkat) 1. Berikan teknik non farmakologis untuk mengurangi rasa nyeri (mis.
TENS, kompres hangat atau dingin)
2. Kontrol lingkungan yang memperberat rasa nyeri ( suhu ruangan, Menurunkan ketegangan otot dan
kebisingan) memfokuskan kembali perhatian
3. Fasilitasi istirahat tidur pasien
4. Pertimbangkan jenis dan sumber nyeri dalam pemilihan strategi
meredakan nyeri.
Edukasi
1. Jelaskan penyebab, periode, dan pemicu nyeri
2. Jelaskan strategi meredakan nyeri
3. Anjurkan memonitor nyeri secara mandiri
4. Annjurkan menggunakan analgetik secara tepat
5. Ajarkan teknik non farmakologis untuk mengurangi rasa nyeri.
Kolaborasi
Kolaborasi pemberian analgetic
Pemberian Analgesik
DIAGNOSIS TUJUAN DAN KRITERIA
NO INTERVENSI RASIONAL
KEPERAWATAN HASIL
Observasi
1. Identifikasi karakteristik nyeri (misalnya: pencetus, pereda,
kualitas, lokasi, intensitas, frekuensi, durasi)
2. Identifikasi Riwayat alergi obat
3. Identifikasi kesesuaian jenis analgesic (misalnya narkotika, non
narkotika, atau NSAID) dengan tingkat keparahan nyeri
4. Monitor TTV sebelum dan sesudah pemberian analgetic
5. Monitor efektifitas analgetik
Terapeutik
1. Diskusikan jenis analgesic yang disukai untuk mencapai analgesic
optimal jika perlu
2. Pertmbangkan penggunaan infus continue, atau bolus oploid
untuk mempertahankan kadar dalam serum
3. Tetapkan target efektifitas analgesic untuk mengoptimalkan
respon pasien
4. Dokumentasikan respon terhadap efek analgesic dan efek yang
tidak diinginkan
Edukasi
Jelaskan efek terapi dan efek samping obat
DIAGNOSIS TUJUAN DAN KRITERIA
NO INTERVENSI RASIONAL
KEPERAWATAN HASIL
Kolaborasi
kolaborasi pemberian dosis dan jenis analgesic sesuai indikasi
Gangguan mobilitas Setelah dilakukan tindakan Dukungan Ambulasi Melatih latihan gerak ekstremitas
fisik berhubungan keperawatan selama 3x24 jam Observasi pasien serta mencegah adanya
dengan kerusakan diharapkan mobilitas fisik 1. Identifikasi aanya nyeri atau keluha fisik lainnya kontraktur sendi dan atropi otot
rangka meningkat 2. Identifikasi toleransi fisik melakukan ambulasi
neuromuskuler, nyeri, Dengan krieria hasil ; 3. Monitor frekuensi jantung dan tekanan darah sebelum memuai
imobilisasi - Pergerakan ekstremitas ambulasi
meningkat 4. Monitor kondisi umum selama melakukan ambulasi
- Kekuatan otot meningkat Terapeutik
2
Rentang gerak (ROM) 1. Fasilitasi aktivitas ambulasi dengan alat bantu (mis. Tongkat)
meningkat 2. Fasilitasi melakukan mobilisasi fisik
3. Libatkan keluarga untuk membantu pasien dalam meningkatkan
ambulasi
Edukasi
1. Jelaskan tujuan dan prosedur ambulasi
2. Anjurkan melakukan ambulasi dini
3. Ajarkan ambulasi sederhana yang harus dilakukan
3 Gangguan citra Setelah dilakukan tindakan Promosi Citra Tubuh - Menentukan keperawatan yang
DIAGNOSIS TUJUAN DAN KRITERIA
NO INTERVENSI RASIONAL
KEPERAWATAN HASIL
tubuh / body emage keperawatan selama 3x24 jam Observasi akan dilakukan
berhubungan dengan diharapkan citra tubuh 1. Identifikasi harapan citra tubuh berdasarkan tahap perkembangan - Meningkatkan partisipasi klien
luka post opp meningkat 2. Identifikasi budaya, agama, jenis kelamin, dan umur terkait citra dalam pelaksanaan tindakan
Dengan krieria hasil: tubuh keperawatan
- Klien melihat bagian tubuh, 3. Identifikasi perubahan citra tubuh yang mengakibatkan isolasi - Membantu klien menyadari
menyentuh bagian tubuh, sosial potensi/ kemampuan yang
verbalisasi kecacatan bagian 4. Monitor frekuensi pernyataan kritik terhadap diri sendiri dimiliki
tubuh, verbalisasi kehilangan 5. Monitor apakah pasien bisa melihat bagian tubuh yang berubah - Keluarga merupakan faktor
bagian tubuh meningkat Teurapeutik pendukung utama klien
- Verbalisai perasaan negative 1. Diskusikan perubahan tubuh dan fungsinya
tentang perubahan tubuh, 2. Diskusikan perubahan penampilan fisik terhadap harga diri
verbalisasi kekhawatiran 3. Diskusikan penuaan akibat pubertas, kehamilan dan penuaan
pada penolakan/ reaksi orang 4. Diskusikan kondisi stres yang mempengaruhi citra tubuh
lain, verbalisasi perubahan 5. Diskusikan cara mengembangkan harapan citra tubuh secara
gaya hidup, realitas
menyembunyikan bagian 6. Diskusikan persepsi pasien dan keluarga tentang perubahan citra
tubuh berlebihan, tubuh
menunjukkan bagian tubuh
berlebihan, focus pada bagian Edukasi
DIAGNOSIS TUJUAN DAN KRITERIA
NO INTERVENSI RASIONAL
KEPERAWATAN HASIL
tubuh, focus pada 1. Jelaskan kepada keluarga tentang perawatan perubahan citra tubuh
penampilan masa lalu, focus 2. Anjurkan mengungkapkan gambirin diri terhadap citra tubuh.
pada kekuatan masa lalu 3. Anjurkan menggunakan alat bantu
meningkat 4. Latih fungsi tubuh yang dimiliki
- Respon nonverbal pada 5. Latih peningkatan penampilan diri
perubahan tubuh, hubungan 6. Latih pengungkapan kemampuan diri kepada orang lain.
sosial membaik
4 Defisit perawatan diri Setelah dilakukan tindakan Dukungan Perawatan Diri - Meningkatkan pengetahuan
berhubungan dengan keperawatan selama 3x24 jam Observasi kliententang tanda-tanda
post operasi diharapkan perawatan diri 1. Identifikasi kebiasaan aktivitas perawatan diri sesuai usia perawatan diri yang baik.
meningkat 2. Monitor tingkat kemandirian - Klien dapat menjaga kebersihan
Dengan krieria hasil: 3. Indentifikasi kebutuhan alat bantu kebersihan diri, berpakaian, dirinya secara mandiri.
- Kemampuan mandi, berhias, dan makan - Membantu klien meningkatkan
kemapuan mengenakan Teurapeutik harga dirinya.
pakaian, kemampuan makan, 1. Sediakan lingkungan yang terapeutik - Menghindari adanya perubahan
kemapuan ke toilet 2. Siapkan keperluan pribadi peran akibat perasaan HDR.
(BAB/BAK), verbalisasi 3. Dampingi dalam melakukan perawatan diri sampai mandiri
keinginan melakukan 4. Fasilitas untuk menerima keadaan ketergantungan
perawatan diri, minat 5. Fasilitasi kemandirian, bantu jika tidak mampu melakukan
DIAGNOSIS TUJUAN DAN KRITERIA
NO INTERVENSI RASIONAL
KEPERAWATAN HASIL
melakukan perawatan diri, perawatan diri
mempertahankan kebersihan 6. Jadwalkan rutinitas perawatan diri
diri, mempertahankan Edukasi
kebersihan mulut meningkat. - Anjurkan melakukan perawatan diri secara konsisten sesuai
kemampuan.
5 Defisit nutrisi Setelah dilakukan tindakan Manajemen Nutrisi  untuk mengetahui kekurangan
berhubungan dengan keperawatan selama 3x24 jam Observasi nutrisi klien
efek anestesi diharapkan status nutrisi 1. identifikasi status nutrisi  agar dapat dilakukan intervensi
membaik 2. Identifikasi alergi dan intoleransi makanan dalam pemberian makanan pada
Dengan kriteria hasil : 3. Identifikasi makanan yang disukai klien dengan pengetahuan yang
- berat badan meningkat 4. Identifikasi kebutuhan kalori dan jenis nutrient baik tentang nutrisi akan
- fungsi gastrointestinal 5. Identifikasi perlunya penggunaan selang nasogastrik memotivasi untuk meningkatkan
membaik 6. Monitor asupan makanan pemenuhan nutrisi
- nafsu makan meningkat 7. Monitor berat badan  membantu dalam identifikasi
- status menelan baik 8. Monitor hasil pemeriksaan laboratorium malnutrisi protein-kalori,
Terapeutik khususnya bila berat badan
1. Lakukan oral hygiene sebalum makan, jika perlu kurang dari normal
2. Fasilitasi menentukan pedoman diet  mengidentifikasi
3. Sajikan mmakanan selagi hangat ketidakseimbangan kebutuhan
DIAGNOSIS TUJUAN DAN KRITERIA
NO INTERVENSI RASIONAL
KEPERAWATAN HASIL
4. Berikan makanan tinggi serat untuk mencegah konstipasi nutrisi
5. Berikan makanan tinggi kalori dan tinggi protein  untuk meningkatkan nafsu
6. Berikan suplemen makanan, jika perlu makan
Edukasi
1. Anjurkan posisi duduk, jika mampu
2. Ajarkan diet yang diprogramkan
Kolaborasi
1. kolaborasi pemberian medikasi sebelum makan (mis. Antiemetik)
2. Kolaborasi dengan ahli gizi untuk menentukan jumlah kalori dan
jenis nutrient yang dibutuhkan, jika perlu
15. DAFTAR PUSTAKA

Sjamsuhidajat, R. Dkk. (2014). Buku Ajar Ilmu Bedah. Edisi 3. Jakarta : EGC

Sjamsuhidajat R. De Jong W, Editors. Buku Ajar Ilmu Bedah Sjamsuhidajat-De


Jong. Sistem Organ dan Tindakan Bedahnya (1). Jakarta. Buku kedokteran EGC.
2014

Tm Pokja SDKI DPP PPNI. 2017. Standar Diagnosis Keperawatan Indonesia.


Edisi I. Jakarta : PPNI

Tim Pokja SLKI DPP PPNI. 2019. Standar Luaran Keperawatan Indonesia.
Edisi I. Jakarta : PPNI

Tim Pokja SIKI DPP PPNI. 2018. Standar Intervensi Keperawatan Indonesia.
Edisi 1. Jakarta : PPNI

Smeltzer, Susan C. 2014. Keperawatan Medikal Bedah. Jakarta : EGC

Sudarth & Brunner. 2012. Buku Ajar Keperawatan Medikal Bedah. Edisi 8.
Jakarta : EGC

Black. J dan Hawks, J. 2014. Keperawatan Medikal Bedah : Manajemen Klinis


untuk Hasil yang Diharapkan. Dialihbahasakan oleh nampira R. Jakarta :
Salemba Emban Patria