Anda di halaman 1dari 25

BAHAN AJAR

3.6 Menjelaskan berbagai zat aditif dalam makanan dan minuman, zat adiktif, serta
dampaknya terhadap kesehatan

 Pengertian dan jenis-jenis zat Aditif pada makanan dan minuman

Gambar. Makanan
Apakah kamu menyukai makanan dengan warna yang mencolok ? Lalu apakah zat warna
pada makanan tersebut diperlukan oleh tubuh? Sebenarnya, bahan tambahan dalam
makanan tersebut bertujuan untuk meningkatkan kualitas, keawetan, kelezatan, dan
kemenarikan makanan. Selain itu, ada pula bahan yang ditambahkan pada makanan
sebagai pewarna, pemutih, pengatur keasaman, penambah zat gizi dan anti penggumpal.
Bahan tambahan pada makanan tersebut dinamakan, zat aditif. Zat aditif yang umum
digunakan masyarakat, antara lain garam dapur, rempah-rempah, asam cuka, dan lain-lain

Zat aditif pada makanan adalah zat atau bahan kimia yang ditambahkan ke produk
makanan. Manfaatnya untuk menjaga makanan agar tetap segar serta meningkatkan
warna, aroma, dan teksturnya. Zat aditif makanan disebut juga dengan istilah Bahan
Tambahan Pangan (BTP). Semua produk makanan yangg d menggunakan zat aditif harus
melalui persetujuan Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) Republik Indonesia.
Semua bahan yang dicampurkan pada produk makanan selama proses pengolahannya,
proses penyimpanannya, dan proses pengemasannya bisa disebut sebagai zat aditif pada
makanan. Zat aditif makanan dibagi menjadi beberapa, diantaranya yaitu:
1. Zat pewarna

Gambar. Pewarna pada kue

Bahan pewarna secara sederhana dapat didefinisikan sebagai suatu benda berwarna
yang memiliki afinitas kimia terhadap benda yang diwarnainya. Bahan pewarna pada
umumnya memiliki bentuk cair dan larut di air. Pada berbagai situasi, proses
pewarnaan menggunakan mordant untuk meningkatkan kemampuan menempel bahan
pewarna. Bahan pewarna dan pigmen terlihat berwarna karena mereka menyerap
panjang gelombang tertentu dari cahaya. Berlawanan dengan bahan pewarna, pigmen
pada umumnya tidak dapat larut, dan tidak memiliki afinitas terhadap substrat.
Bukti arkeologi menunjukkan bahwa, khususnya di India dan Timur Tengah, pewarna
telah digunakan selama lebih dari 5000 tahun. Bahan pewarna dapat diperoleh dari
hewan, tumbuhan, atau mineral. Pewarna yang diperoleh dari bahan-bahan ini tidak
memerlukan proses pengolahan yang rumit. Sampai sejauh ini, sumber utama bahan
pewarna adalah tumbuhan, khususnya akar-akaran, beri-berian, kulit kayu, daun, dan
kayu. Sebagian dari pewarna ini digunakan dalam skala komersil.
Pemberian zat warna pada makanan agar makanan terlihat segar dan menarik
sehingga menimbulkan orang untuk memakannya. Jenis zat pewarna ada dua, yaitu
pewarna alami dan pewarna sintetis.
 Pewarna Alami
Pewarna alami adalah pewarna yang dapat diperoleh dari alam, misalnya dari
tumbuhan dan hewan. Banyak sekali bahan-bahan di sekitarmu yang dapat
dipakai sebagai pewarna alami. Daun suji dan daun pandan dipakai sebagai
pewarna hijau pada makanan. Selain memberi warna hijau, daun pandan juga
memberi aroma harum pada makanan. Kakao sering digunakan untuk
memberikan warna cokelat pada makanan. Pewarna alami mempunyai
keunggulan, yaitu umumnya lebih sehat untuk dikonsumsi daripada pewarna
buatan. Namun, pewarna makanan alami memiliki beberapa kelemahan, yaitu
cenderung memberikan rasa dan aroma khas yang tidak diinginkan, warnanya
mudah rusak karena pemanasan, warnanya kurang kuat (pucat), dan macam
warnanya terbatas.
 Pewarna Sintetis (Buatan)
Bahan pewarna buatan dipilih karena memiliki beberapa keunggulan dibanding
pewarna alami, yaitu harganya murah, praktis dalam penggunaan, warnanya lebih
kuat, macam warnanya lebih banyak, dan warnanya tidak rusak karena
pemanasan. Penggunaan bahan pewarna buatan untuk makanan harus melalui
pengujian yang ketat untuk kesehatan konsumen. Pewarna yang telah melalui
pengujian keamanan dan yang diijinkan pemakaiannya untuk makanan
dinamakan permitted colour atau certified colour. Penggunaan pewarna buatan
secara aman sudah begitu luas digunakan masyarakat sebagai bahan pewarna
dalam produk makanan. Namun, di masyarakat masih sering ditemukan
penggunaan bahan pewarna buatan yang tidak sesuai dengan peruntukannya.
Pewarna buatan (sintetis) adalah zat warna yang mengandung bahan kimia yang
biasanya digunakan di dalam makanan untuk mewarnai makanan.
2. Zat pemanis
Zat pemanis berfungsi untuk menambah rasa manis pada makanan dan minuman.
Jenis-jenis zat pemanis ada 2, yaitu pemanis alami dan pemanis buatan. Pemanis
alami dapat berasal dari kelapa, tebu, dan aren. Selain itu juga terdapat dari buah-
buahan dan madu. Zat pemanis juga berfungsi sebagai penghasil energi. Namun,
konsumsi yang berlebihan dapat menimbulkan kegemukan dan penyakit kencing
manis (diabetes) karena pemanis alami mengandung kalori lebih tinggi. Untuk itu,
batasi penggunaan zat pemanis alami. Pemanis sintetik tidak dapat dicerna tubuh
karena tidak menghasilkan energi. Contonya yaitu: sakarin, natrium siklamat,
magnesium siklamat, kalsium siklamat, aspartam, dan dulsin. Walaupun pemanis
sintetik memiliki kelebihan dibandingkan pemanis alami, namun kita tidak boleh
menggunakan secara berlebihan karena dapat menimbulkan efek samping. Misalnya,
penggunaan sakarin yang berlebihan dapat menimbulkan rasa pahit dan menyebabkan
tumor pada syaraf kandung kemih.

Tabel 1. Pewarna yang diijinkan dan Pewarna yang tidak diijinkan

Pewarna yang Pewarna yang tidak diizinkan


diizinkan
Biru berlian Auramine Fast Yellow AB Orange G
Cokelat HT Orange RN Black 7984 Magenta
Eritrosin Metanil Yellow Ponceau SX Chrysoine
Hijau FCF Chocolate Oil Yellow AB Sudan 1
Brown FB
Hijau S Alkanet Guinea Green B Orange GGN
Indigotin Orchil and Orcein Burn Umber Violet 6 B
Karmoisin Oil Orange SS Ponceau 6R Citrus Red
No. 2
Kuning FCF Fast Red E Oil Yellow OB
Kuning Kuinolin Butter Yellow Indanthrene Blue
RS
Merah Alura Ponceau 3 R Chrysoidine

3. Zat pengawet
Zat pengawet adalah zat-zat yang sengaja ditambahkan pada makanan dan minuman
agar tetap segar, tidak rusak, tidak busuk dan terkena jamur, dan bakteri. Karena
penambahan zat aditif, maka makanan dan minuman akan tahan selama seminggu,
sebulan, hingga beberapa tahun. Jenis-jenis zat pengawet ada 2, yaitu pengawet alami
dan pengawet sintetis. Pengawet alami, misalnya gula (sukrosa) untuk mengawetkan
buah-buahan dan garam dapur untuk mengawetkan ikan. Pengawet sintetis misalnya
asam cuka sebagai pengawet acar, natrium propionat sebagai pengawet roti atau kue
kering. Natrium benzoat, asam sitrat dan asam tartrat untuk mengawetkan makanan.
Natrium nitrit untuk menjaga tampilan daging agar tetap merah. Dan asam fosfat
sebagai pengawet minuman penyegar. Selain itu, ada beberapa pengawet yang tidak
diperbolehkan untuk mengawetkan makanan dan minuman seperti formalin dan
boraks. Bahan tersebut selain menghambat pertumbuhan mikroorganisme juga
membuat tekstur makanan menjadi lebih kenyal. Namun, efek samping yang
diperoleh dari kedua pengawet berbahaya tersebut adalah:
 Gangguan pada sistem syaraf, ginjal, hati, dan kulit
 Gejala pendarahan di lambung dan gangguan stimulan syaraf pusat
 Terjadinya komplikasi pada otak dan hati
 Menyebabkan kematian jika ginjal mengandung boraks sebanyak 3-6 gram
Walaupun tersedia pengawet sitetis, namun di negara maju tetap menggunakan
pengawet alami seperti sinar Ultra Violet (UV), ozon atau pemanasan dengan
suhu tinggi dalam waktu singkat agar makanan steril tanpa merusak kualitas
makanan.
A. Pengawet Alami
Bahan pengawet alami yang sering digunakan adalah garam, cuka, dan gula.
Bahan pengawet alami ini digunakan untuk mengawetkan makanan agar selalu
berada dalam kondisi baik. Metode pengawetan menggunakan garam dapur
(NaCl) telah dilakukan masyarakat luas selama bertahun-tahun. Larutan garam
yang masuk ke dalam jaringan diyakini mampu menghambat pertumbuhan
aktivitas bakteri penyebab busuk, sehingga makanan tersebut jadi lebih awet.
Pengawetan dengan garam ini memungkinkan daya simpan yang lebih lama
dibanding dengan produk segarnya yang hanya bisa bertahan beberapa hari atau
jam saja. Contoh ikan yang hanya tahan beberapa hari, bila diasinkan dapat awet
selama berminggu-minggu. Tentu saja prosedur pengawetan ini perlu mendapat
perhatian karena konsumsi garam secara berlebihan dapat memicu penyakit darah
tinggi. Selain itu, garam digunakan untuk membuat telur asin dan ikan asin. Cuka
digunakan agar sayuran dapat bertahan lama. Gula digunakan dalam pembuatan
kecap yang berfungsi sebagai bahan pengawet.
Gambar. Pengawet alami

B. Pengawet Buatan

Gambar. Pengawet Buatan


Daya tahan bahan makanan dapat diperpanjang melalui pengawetan bahan
pangan. Pengawetan bahan makanan dapat dilakukan secara fisik, kimia, dan
biologi. Pengawetan bahan makanan secara fisik dapat dilakukan dengan
beberapa cara, yaitu pemanasan, pendinginan, pembekuan, pengasapan,
pengalengan, pengeringan, dan penyinaran. Pengawetan secara biologis dapat
dilakukan dengan fermentasi atau peragian, dan penambahan enzim, misalnya
enzim papain dan enzim bromelin. Pengawetan secara kimia dapat dilakukan
dengan penambahan bahan pengawet yang diijinkan. Pengawet yang diijinkan
oleh Badan POM Indonesia adalah sebagai berikut.

Tabel 2. Daftar pengawet yang diizinkan oleh Badan POM Indonesia

Bahan Bahan Bahan


No No No
Pengawet Pengawet Pengawet
1 Asam Benzoat 10 Metil p-hidroksi 19 Kalium nitrit
Benzoat
2 Kalsium Benzoat 11 Kalium Benzoat 20 Natrium propionat
3 Asam propinat 12 Natrium bisulfit 21 Kalium propionat
4 Kalsium 13 Kalium bisulfit 22 Natrium sulfit
propionat
5 Asam sorbat 14 Natrium 23 Kalium sorbat
metabisulfit
6 Kalsium sorbat 15 Kalium 24 Nisin
metabisulfit
7 Belerang 16 Natrium nitrat 25 Kalium sulfit
dioksida
8 Natrium benzoat 17 Kalium nitrat 26 Propil p-hidroksi-
benzoat
9 Etil p-hidroksi 18 Natrium nitrit
benzoat
4. Zat penyedap cita rasa

Gambar. Penyedap Rasa


Zat penyedap rasa ada 2 macam, yaitu penyedap rasa alami dan penyedap rasa
sintetis. Penyedp rasa alami contohny: cengkeh, pala, merica, ketumbar, laos, cabai,
kunyit, bawang, dll. Penyedap rasa sintetis contohnya: oktil asetat (aroma jeruk), etil
butirat (aroma nanas), amil asetat (aroma pisang), dan amil valerat (aroma apel).
Selain itu juga ada monosodium glutamat (MSG) sebagai penyedap rasa pada
makanan. Jika MSG dikonsumsi berlebihan akan menyebabkan “Chines Restaurant
Syndrome” yaitu gangguan kesehatan dimana kepala terasa pusing dan berdenyut,
sakit pada dada dan sesak napas.
5. Pemberi Aroma

Gambar. Pemberi Aroma

Pemberi aroma adalah zat yang memberikan aroma tertentu pada makanan.
Penambahan zat pemberi aroma dapat menyebabkan makanan memiliki daya tarik
tersendiri untuk dinikmati. Zat pemberi aroma ada yang bersifat alami dan sintesis.
Zat pemberi aroma yang berasal dari bahan segar atau ekstrak dari bahan alami,
misalnya dari ekstrak buah strawberry, ekstrak buah anggur, minyak atsiri atau vanili
disebut pemberi aroma alami.

Pemberi aroma yang merupakan senyawa sintetis / buatan, misalnya amil kaproat
(aroma apel) amil asetat (aroma pisang ambon), etil butirat (aroma nanas), vanilin
(aroma vanili), dan metil antranilat (aroma buah anggur) disebut pemberi aroma
sintetis. Selai merupakan salah satu contoh bahan makanan yang menggunakan zat
pemberi aroma.

6. Pengental

Gambar. Pengental

Pengental adalah bahan tambahan yang digunakan untuk menstabilkan, memekatkan,


atau mengentalkan makanan yang dicampur dengan air, sehingga membentuk tingkat
kekentalan tertentu. Contohnya agar kuah capcai menjadi kental biasanya ketika
memasak capcai diberikan larutan pati. Selain pada capcai, pengental biasa
ditambahkan pada pembuatan permen karet yang umumnya menggunakan pengental
gum.
Pengental dibagi menjadi dua jenis, yaitu pengental alami dan sintetis/buatan.
Pengental alami menggunakan bahan asli dari alam. Bahan pengental alami misalnya
pati, gelatin, putih dan kuning telur.
Sementara pengental sintetis/buatan adalah pengental yang dihasilkan dari perpaduan
bahan-bahan kimia pabrikan. Berikut adalah macam-macam pengental buatan, yaitu:
1. Xantha gum, berfungsi sebagai bahan pengental, memperbaiki tekstur, mencegah
pemisahan emulsi
2. CMC-na, berfungsi sebagai bahan pengental, pengikat pada formula tablet,
meningkatkan viskositas, memperbaiki tekstur. Laruan dalam air, stabil terhadap
panas adalah salah satu keunggulan CMC. Cukup dengan kosentrasi kecil, larutan
sudah mengental dibandingkan dengan produk lainnya.
3. Keragenan, merupakan polisakarida yang didapat dari hasil ekstrasi red seaweeds.
Zat ini digunakan pada makanan dan insustri lain sebagai pengental, lubricants,
suspending agent, dan stabilizing agent.
4. Konjac gum, memiliki keistimewaan tanpa pemanis, perasa, pewarna, dan
pengawet makanan serta stabil terhadap pemanasan dan pendinginan. Zat ini
sering digunakan untuk pengental dan memperbaiki tekstur.
7. Pengemulsi

Gambar. Pengemulsi

Pengemulsi adalah bahan tambahan yang dapat mempertahankan penyebaran


(dispersi) lemak dalam air atau sebaliknya. Minyak dan air tidak saling bercampur,
namun jika ditambahkan sabun, keudian seluruh bahan tersebut diaduk maka
keduanya dapat tercampur. Demikianlah cara kerja pengemulsi dengan sabun sebagai
contoh bahan pengemulsi. Berikut adalah daftar pengemusi alami :
 Kuning dan putih telur, gelatin dan albumin pada putih telur adalah protein yang
bersifat sebagai emulsifier dengan kekuatan biasa dan kuning telur merupakan
emulsifier yang paling kuat.
 Gelatin, adalah suatu jenis protein yang diekstraksi dari jaringan kolagen kulit,
tulang atau ligamen (jaringan ikat) hewan Nilai gizinya yang tinggi yaitu
terutama akan tingginya kadar protein khususnya asam amino dan rendahnya
kadar lemak. Penggunaan gelatin sangatlah luas dikarenakan gelatin bersifat serba
bisa, yaitu bisa berfungsi sebagai bahan pengisi, pengemulsi (emulsifier),
pengikat, pengendap, pemerkaya gizi, sifatnya juga luwes yaitu dapat membentuk
lapisan tipis yang elastis, membentuk film yang transparan dan kuat, kemudian
sifat penting lainnya yaitu daya cernanya yang tinggi.
 Kedelai, sebagai bahan makanan memunyai nilai gizi cukup tinggi. Di antara
jenis kacang-kacangan, kedelai merupakan sumber protein, lemak, vitamin,
mineral dan serat yang paling baik. Di dalam biji kedelai terdapat minyak yang
cukup tinggi, di samping air. Keduanya dihubungkan oleh suatu zat yang disebut
lecithin. Bahan inilah yang kemudian diambil atau diekstrak menjadi bahan
pengemulsi yang bisa digunakan dalam produk-produk olahan
 Lesitin (Fosfatidil Kolina) ialah suatu fospolipid yang menjadi komponen utama
fraksi fospatida pada ekstrak kuning tel atau kacang kedelai yang diisolasi secara
mekanik, maupun kimiawi dengan menggunakan heksana. Lesitin digunakan
secara komersil untuk keperluan pengemulsi dan/atau pelumas, dari farmasi
hingga bahan pengemas.Sebagai contoh, lesitin merupakan pengemulsi yang
menjaga cokelat dan margarin pada permen tetap menyatu.
 Tepung kanji, tapioka, tepung singkong, atau aci adalah tepung yang diperoleh
dari umbi akar ketela pohon. Tepung kanji merupakan salah satu emulsifier yang
bagus untuk makanan.
 Susu bubuk adalah bubuk yang dibuat dari susu kering yang solid. Susu bubuk
mempunyai daya tahan yang lebih lama dari pada susu cair dan tidak perlu
disimpan di lemari es karena kandungan uap airnya sangat rendah. Susu bubuk
selain sebagai pelengkap gizi, dapat pula berperan sebagai emulsifier dalam
proses emulsi suatu bahan pangan yang sangat bagus.Susu bubuk merupakan
emulsifier yang baik dari segi tekstur, kemantapan emulsi, ukuran dispersi,
maupun rasa.

 Zat Adiktif dan Psikotropika

Gambar. Zat Adiktif


Zat adiktif adalah zat-zat yang pemakaiannya menimbulkan ketergantungan fisik yang
kuat dan psikologis yang panjang (drug dependece). Kelompok zat adiktif adalah
narkotika (zat atau obat yang berasal dari tanaman) atau bukan tanaman, baik sintetis
maupun semisintetis yang menyebabkan penurunan atau perubahan kesadaran,
mengurangi dan menghilangkan rasa sakit dan menimbulkan ketergantungan.
Psikotropika menurut undang-undang Republik Indonesia Nomor 5 Tahun 1997 adalah
bahan atau zat baik alami maupun buatan yang bukan tergolong narkotika yang berkhasiat
psikoaktif pada susunan saraf pusat. Yang dimaksud berkhasiat psikoaktif adalah
memiliki sifat mempengaruhi otak dan perilaku sehingga menyebabkan perubahan pada
aktivitas mental dan perilaku pemakainya. Narkotika menurut tujuan penggunaannya
terbagi menjadi 3 yaitu:
1. golongan I, narkotika hanya digunakan untuk ilmu pengetahuan dan tidak untuk terapi
serta memiliki potensi sangat tinggi untuk mengakibatkan sindrom ketergantungan
2. golongan II, narkotika untuk pengobatan yang digunakan sebagai pilihan terakhir dan
dapat digunakan dalam terapi atau tujuan ilmu pengetahuan serta memiliki potensi
kuat untuk mengakibatkan sindrom ketergantungan
3. golongan III, narkotika untuk pengobatan dan banyak digunakan dalam terapi dan
tujuan ilmu pengetahuan serta berpotensi ringan mengakibatkan sindrom
ketergantungan.

Zat adiktif dibedakan menjadi tiga kelompok, yaitu (1) zat adiktif bukan narkotika dan
psikotropika, (2) zat adiktif narkotika, dan (3) zat adiktif psikotropika. Contoh zat adiktif
kelompok kesatu yang ada pada bahan, antara lain teh, kopi, rokok, minuman beralkohol,
inhalan (lem, aerosol, pengharum ruangan, dan gas), obat bius, dan lain-lain. Contoh zat
adiktif kelompok dua antara lain candu, heroin, kokain, morfin, lisesic acid diethylamid,
dan ganja. Contoh zat adiktif kelompok ketiga antara lain ekstasi, sabu-sabu, diazepam,
dan LSD (Lysergic Acid Diethylaimide). Mari pelajari lebih lanjut !

1. ZAT ADIKTIF BUKAN NARKOTIKA DAN PSIKOTROPIKA


Zat adiktif bukan narkotika dan psikotropika sering kamu jumpai dalam kehidupan
sehari-hari, bahkan kamu juga sering mengonsumsi makanan atau minuman yang
mengandung bahan tersebut. Zat adiktif alami ini adalah zat yang diperoleh dari
alam dan dapat menimbulkan kecanduan namun dalam skala yang masih dapat
ditoleransi oleh tubuh dan aktivitas mengonsumsinya bukan merupakan tindakan
melanggar hukum.
Bahan makanan atau minuman yang mengandung zat adiktif yang kamu kenal antara
lain pada kopi, teh, dan cokelat. Berikut ini adalah bahan yang mengandung zat
adiktif nonpsikotropika yang ada di sekitar kamu.
a. Kafein dalam Teh

Gambar. Kafein dalam Teh


Apakah kamu sering mengonsumsi teh? Tahukah kamu teh termasuk ke dalam
kelompok bahan yang mengandung zat adiktif karena mengandung theine dan kafein.
Itulah sebabnya sebagian dari kamu menjadi terbiasa mengonsumsi teh setiap hari.
Teh aman dan baik untuk dikonsumsi dalam jumlah tidak berlebihan. Teh juga
mengandung kafein, teofilin, dan teobromin dalam jumlah sedikit.
b. Kafein dalam kopi

Gambar. Kopi
Gambar. Kafein

Kopi adalah minuman yang terbuat dari biji kopi yang telah disangrai dan
dihancurkan menjadi bubuk kopi. Kopi memiliki kandungan kafein yang lebih tinggi
dari teh. Umumnya kopi dikonsumsi orang dengan tujuan agar mereka tidak
mengantuk.
Kopi dapat membuat orang tidak mengantuk karena kafein dalam kopi dapat
meningkatkan respons kewaspadaan pada otak. Meskipun bahan adiktif dalam kopi
tidak dianjurkan untuk dikonsumsi secara berlebihan, tetapi kopi memiliki manfaat
pada beberapa terapi kesehatan.
Kopi dapat mencegah penyakit Parkinson, kanker usus, kanker lambung, dan kanker
paru-paru. Dalam beberapa kejadian, kopi dapat menjadi obat untuk sakit kepala,
tekanan darah rendah, dan obesitas.
c. Nikotin dalam Rokok

Gambar. Rokok
Rokok dibuat dari daun tembakau melalui proses tertentu dan telah dicampur dengan
bunga cengkeh serta berbagai macam bahan aroma. Rokok mengandung nikotin dan
tar. Nikotin dapat menyebabkan orang menjadi berkeinginan untuk mengulang dan
terus menerus merokok.Merokok dapat menyebabkan dampak yang merugikan bagi
organ-organ tubuh, baik organ luar maupun organ dalam. Pengaruh pada organ luar
dapat berupa perubahan warna gigi dan kulit, sedangkan pengaruh pada organ dalam
dapat memicu kanker paru-paru.

Gambar. Tembakau
Nikotin yang diisap pada rokok tidak semuanya murni, hal ini dapat menyebabkan
meningkatnya denyut jantung dan tekanan darah, berisiko terkena kanker paru-paru,
kaki rapuh, katarak, gelembung paru-paru melebar (emphysema), jantung koroner,
kemandulan, dan gangguan kehamilan.

Gambar. Rokok
Rokok mengandung kurang lebih 4000 elemen-elemen, dan setidaknya 200
diantaranya dinyatakan berbahaya bagi kesehatan. Racun utama pada rokok adalah
tar, nikotin, dan karbon monoksida. Tar adalah substansi hidrokarbon yang ersifat
lengket dan menempel pada paru-paru. Nikotin adalah zat adiktif yang mempengaruhi
syaraf dan peredaran darah. Zat ini bersifat karsinogen, dan mampu memicu kanker
paru-paru yang mematikan. Karbon monoksida adalah zat yang mengikat hemoglobin
dalam darah, membuat darah tidak mampu mengikat oksigen. Seseorang yang
mencoba merokok biasanya akan ketagihan karena rokok bersifat candu yang sulit
dilepaskan dalam kondisi apapun. Seorang perokok berat akan memilih merokok
daripada makan jika uang yang dimilikinya terbatas.

Gambar. Nikotin
d. Alkohol

Gambar. Alkohol
Alkohol diperoleh melalui proses fermentasi sejumlah bahan seperti beras ketan,
singkong, dan anggur. Minuman yang mengandung alkohol biasanya berasal dari
fermentasi perasan anggur dan disebut minuman keras, alkohol dikelompokkan
menjadi golongan:
 Berkadar alkohol 1-5% (bir)
 Berkadar alkohol 5-20% (anggur)
 Berkadar alkohol 20-50% (wishky)

Akibat pemakaiannya yaitu, gembira, pengendalian diri turun, dan muka kemerahan.
Jika overdosis akibatnya yaitu gelisah, berfikir kacau, kendali turun dan berbicara
sendiri. Tanda-tanda putus minum yaitu gemetar, muntah, sukar tidur, kejang-kejang,
dan gangguan jiwa.

Minuman keras atau minuman beralkohol juga termasuk zat adiktif. Minuman
beralkohol ini dibedakan menjadi 3 (tiga) golongan, yaitu :

 Golongan A, yaitu minuman keras yang berkadar alkohol 1% - 5%. Contoh : bir.
 Golongan B, yaitu minuman keras yang berkadar alkohol 5% - 20%. Contoh :
anggur / wine.
 Golongan C, yaitu minuman keras yang berkadar alkohol 20% - 45%. Contoh :
arak, wiski, vodka.
Terdapat zat organik didalam alkohol yaitu etanol atau etil alkohol (C 2H5OH).
Alkohol berupa cairan bening, tidak berwarna, berbau khas, dan mudah menguap.
Alkohol dapat diperoleh dari hasil fermentasi atau peragian madu, gula, sari buah,
atau umbi – umbian oleh mikroorganisme. Minuman dari hasil peragian dapat
menghasilkan kadar alkohol sampai 15%, tetapi dengan proses penyulingan atau
destilasi dapat dihasilkan alkohol dengan kadar yang lebih tinggi, bahkan dapat
mencapai 100%. Senyawa alkohol yang dihasilkan dari peragian merupakan
komponen aktif dalam minuman bir, anggur, dan wiski.

Gambar. Minuman beralkohol


2. ZAT ADIKTIF TERLARANG

Gambar. Zat Adiktif Terlarang


Baru-baru ini terdengar bahwa anak tingkat sekolah dasar mulai mengkonsumsi obat
terlarang? Bagaimana hal itu bisa terjadi? Karena mereka belum mengenal hal-hal
seperti itu? Hal itu mungkin juga bisa terjadi pada kita, dengan diiming-imingi bahwa
ini bukan obat terlarang tapi vitamin, atau obat flu atau obat yang akan membuat otak
kita jadi pintar untuk menghadapi ulangan atau semacamnya. Karena para pengedar
berupaya mengubah bentukbentuk dari tampilan obat terlarang tersebut, sehingga kita
tidak dapat mengenalinya dengan baik dan tampak seperti pil obat biasa atau vitamin.

Zat adiktif terlarang ini adalah istilah untuk zat-zat yang pemakaiannya dapat
menimbulkan ketergantungan fisik yang kuat dan ketergantungan psikologis yang
panjang (drug dependence) yang penggunaannya merupakan tindakan melanggar
hukum. Kelompok zat adiktif adalah narkotika (zat atau obat yang berasal dari
tanaman) atau bukan tanaman, baik sintetik maupun semisintetik, yang dapat
menyebabkan penurunan atau perubahan kesadaran, mengurangi sampai
menghilangkan rasa sakit, dan menimbulkan ketergantungan.

A. Narkotika
Narkotika merupakan zat adiktif yang sangat berbahaya dan penggunaannya
dilarang di seluruh dunia. Menurut Undang-Undang yang berlaku, pengertian
narkotika adalah zat atau obat yang berasal dari tanaman atau bukan tanaman, baik
sintetis maupun semi sintetis yang dapat menyebabkan penurunan atau perubahan
kesadaran, hilangnya rasa, mengurangi sampai menghilangkan rasa nyeri, dan
dapat menimbulkan ketergantungan. Narkotika dapat dibedakan ke dalam
golongan-golongan tertentu.
Narkotika menurut tujuan penggunaan dan tingkatan risiko ketergantungannya
terbagi dalam 3 golongan, yaitu:

 Golongan I, narkotika hanya digunakan untuk tujuan ilmu pengetahuan dan


tidak digunakan dalam terapi serta memiliki potensi sangat tinggi untuk
mengakibatkan sindrom ketergantungan.
 Golongan II, narkotika untuk pengobatan yang digunakan sebagai pilihan
terakhir dan dapat digunakan dalam terapi atau untuk tujuan ilmu
pengetahuan serta memiliki potensi kuat untuk mengakibatkan sindrom
ketergantungan.
 Golongan III, narkotika untuk pengobatan dan banyak digunakan dalam
terapi atau media juga obat dalam proses rehabilitasi bagi pecandu narkoba
golongan 1 dan 2
B. Psikotropika

Gambar. Psikotropika

Kelompok zat adiktif ketiga adalah psikotropika. Psikotropika merupakan zat atau
obat baik alamiah maupun sintetis yang bukan merupakan narkotika, yang
berkhasiat psikoaktif, berpengaruh selektif pada saraf pusat yang menyebabkan
perubahan khas pada aktivitas mental dan perilaku seseorang. Zat psikotropika
dapat menurunkan aktivitas otak atau merangsang susunan saraf pusat dan
menimbulkan kelainan perilaku, disertai halusinasi, ilusi, gangguan cara berpikir,
dan perubahan alam perasaan.

Penggunaan psikotropika juga dapat menyebabkan ketergantungan serta


berefek merangsang pemakainya. Pemakaian zat psikotropika yang
berlebihan dapat menyebabkan kematian. Contoh psikotropika, antara lain
ekstasi, sabu-sabu, diazepam, dan LSD.
Psikotropika menurut tujuan penggunaan dan tingkatan risiko ketergantungannya
terbagi dalam 4 golongan, yaitu:

 Golongan I, psikotropika yang hanya digunakan untuk tujuan ilmu


pengetahuan dan tidak digunakan dalam terapi serta memiliki potensi kuat
mengakibatkan sindrom ketergantungan.
 Golongan II, psikotropika yang berkhasiat sebagai obat dan dapat digunakan
dalam terapi dan tujuan ilmu pengetahuan serta memiliki potensi kuat
mengakibatkan sindrom ketergantungan.
 Golongan III, psikotropika yang berkhasiat sebagai obat dan banyak
digunakan dalam terapi dan tujuan ilmu pengetahuan serta memiliki potensi
sedang mengakibatkan sindrom ketergantungan.
 Golongan IV, psikotropika yang berkhasiat sebagai obat dan sangat luas
digunakan dalam terapi dan tujuan ilmu pengetahuan serta memiliki potensi
ringan mengakibatkan sindrom ketergantungan.
Macam-macam psikotropika, diantaranya yaitu:
 Ganja

Gambar. Daun Ganja


Ganja atau mariyuana merupakan zat adiktif narkoba dari golongan
kanabinoid, terbuat dari daun, bunga, biji, dan ranting muda tanaman
mariyuana (Cannabis sativa) yang sudah kering. Ganja dipakai dalam bentuk
rokok lintingan, campuran tembakau dan damar ganja. Akibat
penyalahgunaan hganja yaitu, gembira dan tertawa tanpa sebab, santai dan
lemah, berbicara sendiri, pengendalian diri menurun, menguap atau
mengantuk tapi susah tidur, mata merah dan tak tahan terhadap cahaya.
Tanda-tanda gejala overdosis yaitu, ketakutan, daya pikir menurun, denyut
nadi tak teratur, napas tak teratur/tertekan dan gangguan jiwa. Tanda-tanda
putus obat yaitu, sukar tidur, hiperatif, dan hilangnya napsu makan.
 Opium

Gambar. Getah Opium


Opium merupakan narkotika golongan opoioida da dikenal dengan sebutan
candu, morfin, heroin, dan putau. Berasal dari buah Pavaper Sommiverum
dan mengandung lebih dari 20 senyawa. Morfin, sebenarnya digunakanuntuk
menghilangkan rasanyeri penderita kanker. Pemakaian dosis yang berlebihan
dapat mengakibatkan kematian. Heroin, merupakan senyawa turunan
(sintesis) dari morfin yang dikenal dengan nama putau. Kodein, merupakan
senyawa turunan dari morfin namun kemampuan menghilangkan rasa
nyerinya lebih kecil dari efek ketergantungan juga kecil. Kodein biasanya
dipakai dalam obat batuk dan penghilang rasa nyeri. Akibat
penyalahgunaannya yaitu, rasa sering mengantuk, perasaan gembira
berlebihan, berbicara sendiri, cenderung melakukan kerusuhan, merasakan
nafas berat dan lemah, pupil mata mengecil, mual, susah buang air besar dan
sulit berfikir. Jika overdosis, akan menyebabkan: tertawa tidak wajar, kulit
lembab, nafas tersengal-sengal dan menyebabkan kematian. Tanda-tanda
putus obat yaitu, sering menguap, kepala terasa berat, hidung berar, nafsu
makan hilang, cepat lelah, badan menggil, dan kejang-kejang.
 Kokain

Gambar. Tanaman Kokain


Kokain berasal dari ekstasi daun Erythroxylum coca. Zat ini dipakai sebagai
anataestik (pembius) dan efek rangsangan jaringan otak bagian sentral.
Akibat pemakaian kokain yaitu, suka berbicara, gaduh, gelisa, detak jantung
bertambah, demam, nyeri perut, bahakan menimbulkan kematian.

 Sedativa dan Hipnotika (penenang)


Beberapa contoh narkotika jenis ini adalah pil KB dan magadon. Akibat
pemakaiannya yaitu, gelisah, mengantuk, mengamuk, malas, daya fikir
menurun, bicara dan tindakan lamban. Jika overdosis akibatnya yaitu,
gelisah, kendali diri turun, berbicara yang tidak jelas, sempoyongan, suka
bertengkar, nafsu lambat, kesadaran turun, pingsan bahkan kematian. Tanda-
tanda putus obat, yaitu gelisah, sukar tidur, gemetar, muntah, berkeringat,
denyut nadi cepat, tekanan darah naik dan kejang-kejang.
C. DAMPAK PENGGUNAAN ZAT ADITIF DAN ZAT ADIKTIF BAGI
KESEHATAN
Zat aditif alami tidak menyebabkan efek buruk pada penggunanya. Itu semua
disebabkan karena bahan-bahan yang terkandung pada zat aditif alami dapat
dicerna dengan baik oleh tubuh.
Sementara bahan-bahan pada zat aditif sintetis / buatan tidak dapat dicerna oleh
tubuh. Sehingga pada proses metabolisme dalam tubuh dapat menghasilkan
senyawa sikloheksamina yang bersifat karsinogenik (senyawa yang dapat
menimbulkan penyakit kanker). Bahan-bahan ini memberikan efek samping
berupa gangguan pada sistem pencernaan terutama pada pembentukan zat dalam
sel.
Secara spesifik penggunaan MSG yang berlebihan telah menyebabkan “Chinese
restaurant syndrome” yaitu suatu gangguan kesehatan di mana kepala terasa
pusing dan berdenyut. Begitu juga dengan zat aditif lainnya, terlalu banyak
makan makanan yang mengandung zat pengawet akan mengurangi daya tahan
tubuh terhadap serangan berbagai penyakit dan menyebabkan kanker.
 Dampak penggunaan zat adiktif alami
Mengonsumsi kafein terlalu banyak dalam kopi atau teh dapat menyebabkan
efek yang tidak baik bagi tubuh kita. Efek – efek tersebut, yaitu :
 Insomnia, kandungan kafein bisa membuat otak terjaga. Tapi
mengonsumsinya berlebihan bisa menyebabkan insomnia atau susah tidur.
Akibatnya, tubuh  gampang capek karena malam harinya kurang tidur,
sementara pada siang hari jadi ketergantungan dengan asupan kafein.
Rutinitas pun jadi terganggu.
 Tekanan darah meningkat, kebanyakan konsumsi kafein bisa
meningkatkan tekanan darah. Bila jumlah kafein yang masuk ke dalam
tubuh melebihi batas normal, maka bisa membuat pembuluh arteri
mengkerut, akibatnya tekanan darah meningkat.
 Gangguan haid, nyeri perut dan haid yang nggak teratur bisa disebabkan
oleh konsumsi kafein yang berlebihan. Karena kafein memengaruhi
retensi garam dan cairan dalam tubuh, pembuluh darah bisa mengerut dan
meningkatkan risiko nyeri haid.
 Obesitas, minuman berkafein kaya akan polifenol yang bila dikonsumsi
berlebihan bisa menyebabkan obesitas. Jadi kalau kebanyakan konsumsi
kafein, berat badan tubuh bisa meningkat.
 Minuman beralkohol yang bila dikonsumsi secara berlebihan, apalagi
dalam kadar yang tinggi akan menyebabkan pembengkakan jantung, gagal
jantung, impotensi, kerusakan syaraf dan bahkan menimbulkan kematian.
Penggunaan rokok secara berlebihan dapat juga menimbulkan efek buruk pada
tubuh. Selain nikotin, didalam rokok juga terdapat 4.000 senyawa kimia,
termasuk tar dan karbon monoksida (CO) yang berbahaya bagi tubuh. Nikotin
yang diisap pada saat merokok dapat menyebabkan meningkatnya denyut
jantung dan tekanan darah, bersifat karsinogenik sehingga dapat meningkatkan
risiko terserang kanker paru-paru, kaki rapuh, katarak, gelembung paru-paru
melebar (emphysema), risiko terkena penyakit jantung koroner, kemandulan,
dan gangguan kehamilan bahkan kematian.
 Dampak penggunaan zat adiktif sintetis
Penggunaan heroin, morfin, opium, dan kodein dalam jangka pendek dapat
menghilangkan rasa nyeri, ketegangan berkurang, rasa nyaman, diikuti
perasaan seperti bermimpi dan mengantuk. Penggunaan jangka panjang dapat
menyebabkan ketergantungan, meninggal dunia akibat overdosis,
menyebabkan sembelit, gangguan siklus menstruasi, dan impotensi. Jika
dalam pemakaiannya menggunakan jarum suntik yang tidak steril, maka dapat
tertular berbagai penyakit berbahaya seperti Hepatitis dan HIV / AIDS.
Efek jangka pendek penggunaan ganja yaitu akan timbul perasaan cemas dan
gembira sekaligus, banyak berbicara, tertawa berlebihan, halusinasi, dan
perubahan perasaan yang drastis dan cepat. Penggunaan ganja jangka panjang
dapat menyebabkan daya pikir berkurang, motivasi belajar menurun drastis,
perhatian pada lingkungan menjadi berkurang, radang paru-paru, daya tahan
tubuh menurun, dan gangguan sistem peredaran darah.
Efek jangka pendek penggunaan kokain yaitu rasa percaya diri meningkat,
banyak berbicara, rasa letih hilang, kebutuhan untuk tidur berkurang, dan
halusinasi pada penglihatan dan perabaan. Efek jangka panjang
penggunaannya yaitu kurang gizi, anemia, kerusakan pada hidung, dan
gangguan jiwa.
Selain itu adanya kecanduan terhadap obat terlarang ini membuat seorang
pecandu sukar meninggalkan kebiasaannya. Untuk mengatasi penderitaannya,
para pecandu itu akan berusaha untuk mendapatkan zat/obat yang
dibutuhkannya dengan cara apapun. Bahkan seringkali ditempuh dengan jalan
kekerasan antara lain mencuri, merampok, menodong, dan sebagainya.
Sehingga penyalah gunaan narkotika ini menimbulkan efek buruk tidak hanya
untuk penggunanya tetapi juga menjadi ancaman bagi masyarakat sekitar.

Penggunaan ekstasi (metilen dioksi metamfetamin / MDMA) dan sabu-sabu


(metamfetamin) dalam jangka pendek dapat menyebabkan terjaga lebih lama
(tidak tidur), perasaan gembira yang berlebihan, rasa nyaman, dan
meningkatkan keakraban. Namu setelah itu akan menimbulkan kecemasan,
murung, nafsu makan hilang, berkeringat, rasa haus, badan gemetar, jantung
berdebar lebih kencang, dan tekanan darah meningkat. Dalam jangka panjang
dapat menyebabkan kurang gizi, anemia, penyakit jantung, gangguan jiwa
(psikotik), pecahnya pembuluh darah di otak sehingga mengalami stoke dan
gagal jantung yang dapat memicu kematian.
Setelah menggunakan obat nipam / nitrazepam dalam dosis tertentu, pengguna
akan merasa tenang dan otot-otot tubuh mengendur. Jika dosis pengguannya
tinggi, maka dapat menyebabkan gangguan bicara, gangguan persepsi dan
berjalan sempoyongan. Jika dosis kembali dinaikkan, akan menyebabkan
penghambatan pada pernapasan bahkan kematian.

HUKUMAN BAGI PECANDU NARKOTIKA DAN PSIKOTROPIKA


Merujuk pada Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), pengedar adalah orang yang
mengedarkan, yakni orang yang membawa (menyampaikan) sesuatu dari orang yang satu
kepada yang lainnya. Undang-Undang No. 35 Tahun 2009 Tentang Narkotika (UU
Narkotika) Pasal 35 hanya menjelaskan soal pengertian Peredaran Narkotika yakni :
“Meliputi setiap kegiatan atau serangkaian kegiatan penyaluran atau penyerahan Narkotika,
baik dalam rangka perdagangan, bukan perdagangan maupun pemindahtanganan, untuk
kepentingan pelayanan kesehatan dan pengembangan ilmu pengetahuan dan teknologi”
Pengguna Narkotika menurut UU Narkotika dibagi menjadi dua sebagai berikut:
a. Pecandu Narkotika yaitu orang yang menggunakan atau menyalahgunakan Narkotika
dan dalam keadaan ketergantungan pada Narkotika, baik secara fisik maupun psikis.
(lihat Pasal 1 angka 13) jo Pasal 54 jo Pasal 127);
b. Penyalah Guna yaitu orang yang menggunakan Narkotika tanpa hak atau melawan
hukum (lihat Pasal 1 angka 13 UU Narkotika) Penyalahguna Narkotika (Pasal 1 angka
15 jo Pasal 54 jo Pasal 127).
Pada intinya, khusus bagi orang mengedarkan, menyalurkan, memiliki, menguasai,
menjadi perantara, menyediakan, memperjual-belikan, mengekspor-impor narkotika tanpa
izin pihak berwenang dapat dikenakan sanksi pidana penjara antara 2 (dua) sampai 20 (dua
puluh) tahun, bahkan sampai pidana mati, atau pidana penjara seumur hidup tergantung dari
jenis dan banyaknya narkotika yang diedarkan, disalurkan atau diperjual belikan. (lebih detail
bisa dilihat dalam Ketentuan Pidana dari Pasal 111 sampai Pasal 126 UU Narkotika)
Sementara, bagi pecandu dan penyalahguna Narkotika wajib mendapatkan rehabilitasi
baik rehabilitasi medis maupun rehabilitasi sosial, sebagaimana diatur dalam Pasal 54 UU
Narkotika yaitu: “Pecandu Narkotika dan korban penyalahgunaan Narkotika wajib
menjalani rehabilitasi medis dan rehabilitasi sosial.”
DAFTAR PUSTAKA

Henry. Kuswanto. Hartiningsih, Tuti. 2009. IPA untuk SMP / MTs Kelas VIII. Jakarta : Pusat
Perbukuan

Fauziah, Nenden. Nurcahya, Berlian. Nurlaeli, Naeli. 2009. Ilmu Pengetahuan Alam untuk
Siswa SMP / MTs Kelas VIII. Jakarta : Pusat Perbukuan

Karim, Saeful. Kaniawati, Ida. Fauziah, Yuli Nurul. Sopandi, Wahyu. 2008. Belajar IPA
Membuka Cakrawala Alam Sekitar untuk Kelas VIII SMP / MTs. Jakarta : Pusat
Perbukuan

Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan. 2017. Ilmu Pengetahuan Alam SMP / MTs Kelas
VIII Semester 1. Jakarta : Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan

Puspita, Diana. Rohima, Iip. 2009. Alam Sekitar IPA Terpadu untuk SMP / MTs Kelas VIII.
Jakarta : Pusat Perbukuan

Susanti, Ervina. 2016. Zat Aditif dan Zat Adiktif Kelas VIII Semester 1. Semarang :
Universitas Negeri Semarang

Tim Abdi Guru. 2006. IPA Terpadu untuk SMP / MTs Kelas VIII. Jakarta : Erlangga

Website :

https://beautynesia.id/2788

https://www.fimela.com/beauty-health/read/3773236/kebanyakan-konsumsi-kafein-ini-yang-
akan-terjadi-pada-tubuhmu

https://hellosehat.com/hidup-sehat/apa-itu-aspartam/

https://id.wikipedia.org/wiki/Asesulfam

https://id.wikipedia.org/wiki/Bahan_pewarna

https://kumparan.com/dnt-lawyers/beda-pemakai-dan-pengedar-narkoba-di-mata-hukum-
1535629173769064766

http://mahotsyan.blogspot.com/2018/11/pengental-alami-dan-buatan.html

http://prassmuchu2123.blogspot.com/2014/03/emulsifier.html

http://repository.usu.ac.id/bitstream/handle/123456789/34608/Chapter%20II.pdf?
sequence=3&isAllowed=y